Pos

Renungkanlah

Senin, 24 Desember 2018

Renungkanlah

Baca: Lukas 2:8-20

2:8 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.

2:9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.

2:10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:

2:11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.

2:12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”

2:13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:

2:14 “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

2:15 Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”

2:16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.

2:17 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.

2:18 Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.

2:19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

2:20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

 

Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. —Lukas 2:19

Renungkanlah

Selama mengajar di Bible Training College di London (1911-15), Oswald Chambers sering mengejutkan mahasiswa dengan ucapan-ucapannya di depan kelas. Seorang mahasiswi bercerita bahwa karena diskusi baru diizinkan di acara makan bersama berikutnya, Chambers pun diberondong dengan beragam pertanyaan dan keberatan. Mendapat tanggapan yang begitu banyak, Oswald sering kali hanya tersenyum dan berkata, “Jangan dipikirkan sekarang, nanti juga kamu akan mengerti dengan sendirinya.” Ia mendorong mereka untuk merenungkan hal-hal tersebut dan menunggu Allah menyingkapkan kebenaran-Nya pada waktu-Nya.

Merenung berarti berkonsentrasi dan memikirkan sesuatu secara mendalam. Setelah mengalami berbagai peristiwa menjelang kelahiran Yesus di Betlehem, lalu diikuti dengan penampakan malaikat dan gembala yang datang untuk melihat Sang Mesias, “Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (luk. 2:19). Seorang pakar Perjanjian Baru, W. E. Vine, berkata bahwa “merenungkan” di ayat itu berarti “mengumpulkan [berbagai pertimbangan], berhitung, membandingkan satu hal dengan yang lain dalam menilai keadaan yang ada” (Expository Dictionary of New Testament Words).

Tatkala kita berusaha memahami makna di balik peristiwa yang menimpa kita, ikutilah teladan Maria yang mencari Allah serta hikmat-Nya.

Seperti Maria, bila kita menerima pimpinan Allah dalam hidup ini, kita akan menemukan banyak hal baru tentang penyertaan kasih-Nya untuk disimpan dan direnungkan dalam hati. —David C. McCasland

Bapa, bimbinglah kami oleh Roh Kudus-Mu sembari kami merenungkan kebesaran kasih-Mu dan mengikuti rencana-Mu dalam kehidupan kami.

Ambillah waktu teduh di tengah kesibukan untuk merenung dan menyimak apa yang mungkin sedang Allah sampaikan kepadamu.

Bacaan Alkitab Setahun: Habakuk 1-3; Wahyu 15

Jangan Takut!

Jumat, 21 Desember 2018

Jangan Takut!

Baca: Lukas 2:42-52

2:42 Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.

2:43 Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya.

2:44 Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka.

2:45 Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia.

2:46 Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka.

2:47 Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya.

2:48 Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.”

2:49 Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?”

2:50 Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.

2:51 Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

2:52 Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.

 

Kerajaan Allah sudah dekat. —Markus 1:15

Jangan Takut!

Hampir semua kemunculan malaikat dalam Alkitab didahului dengan perkataan “Jangan takut!” Ini tak mengherankan, sebab ketika makhluk supernatural menampakkan diri, biasanya manusia yang melihatnya akan tersungkur gemetar. Namun, Lukas menceritakan kemunculan Allah dalam rupa yang tidak menakutkan. Allah hadir dalam rupa Yesus yang lahir di antara hewan dan terbaring dalam palungan. Allah mengambil cara yang tak menakutkan. Adakah yang menakutkan dari sosok bayi baru lahir?

Di bumi, Yesus adalah Allah sekaligus manusia. Sebagai Allah, Dia sanggup mengadakan mukjizat, mengampuni dosa, mengalahkan kematian, dan mengetahui masa depan. Namun, bagi orang Yahudi yang terbiasa dengan rupa Allah dalam bentuk awan terang atau tiang api, Yesus menyebabkan kebingungan. Bagaimana mungkin sang bayi di Betlehem, anak tukang kayu asal Nazaret, adalah Mesias dari Allah?

Mengapa Allah mengambil rupa manusia? Peristiwa ketika Yesus yang berumur 12 tahun berdebat dengan para rabi di Bait Allah memberikan satu petunjuk. “Semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya,” tulis Lukas (2:47). Untuk pertama kalinya, manusia dapat bercakap-cakap langsung dengan Allah dalam wujud kasatmata.

Yesus bisa berbicara dengan siapa saja—orangtua-Nya, seorang rabi, seorang janda miskin—tanpa harus didahului dengan ucapan ”Jangan takut!” Dalam Yesus, Allah mendekat kepada kita. —Philipi Yancey

Bapa Surgawi, pada Natal kali ini, kami mengingat Anak-Mu yang telah datang ke dunia dalam rupa seorang bayi tak berdaya. Kami menyembah dengan kagum dan takjub karena Allah datang mendekat kepada kami.

Yesus adalah Allah yang menjadi manusia supaya Allah dan manusia dapat kembali berbahagia bersama. —George Whitefield

Bacaan Alkitab Setahun: Mikha 4-5; Wahyu 12

Sepucuk Surat Natal

Rabu, 19 Desember 2018

Sepucuk Surat Natal

Baca: Yohanes 1:1-14

1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

1:2 Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.

1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

1:5 Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.

1:6 Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes;

1:7 ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya.

1:8 Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu.

1:9 Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.

1:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.

1:11 Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.

1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

1:13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. —Yohanes 1:14

Sepucuk Surat Natal

Setiap Natal, seorang teman menulis surat panjang untuk istrinya dengan menceritakan kembali peristiwa-peristiwa yang telah dilalui sepanjang tahun dan impian masa depannya. Di dalamnya ia mengungkapkan cinta beserta pujian kepada istrinya. Demikian pula ia menulis surat untuk setiap anaknya. Kata-kata cintanya menjadi hadiah Natal yang tak terlupakan.

Yesus bagaikan surat cinta Natal yang pertama—Firman yang menjadi manusia. Yohanes menekankan kebenaran itu dalam Injil yang ditulisnya: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (yoh. 1:1). Kata “Firman” dalam bahasa Yunani adalah logos, dan dalam filsafat kuno dipahami sebagai pikiran atau tatanan ilahi yang menyatukan alam realitas. Namun, Yohanes memperluas definisi kata logos untuk mengungkapkan Firman itu sebagai pribadi: Yesus, Anak Allah yang “pada mulanya bersama-sama dengan Allah” (ay.2). Firman itu, “Anak Tunggal Bapa,” “telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (ay.14). Melalui Yesus sang Firman, Allah menyingkapkan diri-Nya dengan sempurna.

Selama berabad-abad, para teolog telah bergumul dengan misteri yang indah tersebut. Meski sukar dipahami, kita dapat meyakini bahwa Yesus adalah Firman pembawa terang ke dalam dunia kita yang gelap (ay.9). Jika kita percaya kepada-Nya, kita akan memperoleh kuasa untuk menjadi anak-anak kesayangan Allah (ay.12).

Yesus, surat cinta Allah kepada kita, telah datang dan berdiam di antara kita. Itulah hadiah Natal yang mengagumkan! —Amy Boucher Pye

Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Firman Allah yang menghadirkan terang ke dalam hidupku. Kiranya aku memancarkan kebaikan dan rahmat-Mu sehingga nama-Mu dipermuliakan.

Bagaimana kamu membagikan Yesus, pemberian terindah itu, kepada orang lain hari ini?

Bacaan Alkitab Setahun: Yunus 1-4; Wahyu 10

Natal yang Sepi

Kamis, 6 Desember 2018

Natal yang Sepi

Baca: Mazmur 25:14-22

25:14 TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.

25:15 Mataku tetap terarah kepada TUHAN, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring.

25:16 Berpalinglah kepadaku dan kasihanilah aku, sebab aku sebatang kara dan tertindas.

25:17 Lapangkanlah hatiku yang sesak dan keluarkanlah aku dari kesulitanku!

25:18 Tiliklah sengsaraku dan kesukaranku, dan ampunilah segala dosaku.

25:19 Lihatlah, betapa banyaknya musuhku, dan bagaimana mereka membenci aku dengan sangat mendalam.

25:20 Jagalah kiranya jiwaku dan lepaskanlah aku; janganlah aku mendapat malu, sebab aku berlindung pada-Mu.

25:21 Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau.

25:22 Ya Allah, bebaskanlah orang Israel dari segala kesesakannya!

Mataku tetap terarah kepada Tuhan. —Mazmur 25:15

Natal yang Sepi

Natal paling sepi yang pernah saya alami adalah ketika berada di pondok milik kakek saya di dekat Sakogu, wilayah utara Ghana. Saat itu, saya baru berusia lima belas tahun, sementara orangtua dan saudara-saudara saya tinggal seribu kilometer jauhnya. Tahun-tahun sebelumnya, ketika tinggal bersama mereka dan teman-teman sekampung, Natal selalu terasa ramai dan mengesankan. Namun, Natal kali ini begitu sunyi dan sepi. Sembari berbaring di atas tikar pada pagi harinya, saya teringat lagu daerah: Tahun telah berakhir; Natal telah tiba; Anak Allah lahir; damai dan sukacita bagi semua. Dengan sedih, saya menyanyikan lagu itu berulang-ulang.

Nenek saya datang dan bertanya, “Lagu apa itu?” Kakek dan nenek saya tidak tahu apa-apa tentang Natal, apalagi tentang Kristus. Jadi, saya pun menceritakan apa yang saya ketahui tentang Natal kepada mereka. Saat itulah kesepian saya terasa sirna.

Sendirian di padang, dengan hanya ditemani domba dan hewan liar yang sesekali muncul, Daud sang gembala muda mengalami kesepian. Bukan kali itu saja ia mengalaminya. Di kemudian hari, ia menulis, “Aku kesepian dan sengsara” (mzm. 25:16 BIS). Namun, Daud tak membiarkan dirinya putus asa ditelan rasa sepi. Sebaliknya, ia bernyanyi: “Aku berharap kepada-Mu” (ay.21 BIS).

Dari waktu ke waktu, kita semua pasti mengalami kesepian. Di mana pun kamu berada pada Natal tahun ini, baik dalam kesepian maupun kehangatan, Kristus senantiasa menemanimu. —Lawrence Darmani

Tuhan, terima kasih karena bersama-Mu aku tidak sendirian meski didera kesepian. Natal kali ini, tolonglah aku untuk menikmati persekutuan dengan Engkau dan juga melayani orang lain yang membutuhkan kasih-Mu.

Bersama Yesus di hari Natal, kita takkan pernah sendirian.

Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 3-4; 1 Yohanes 5

Artikel Terkait:

Natalku yang Berpohon

Pertanyaan di Hari Natal

Selasa, 4 Desember 2018

Pertanyaan di Hari Natal

Baca: Matius 16:13-21

16:13 Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?”

16:14 Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.”

16:15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”

16:16 Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

16:17 Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.

16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

16:19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

16:20 Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias.

16:21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” —Matius 16:15

Pertanyaan di Hari Natal

Jauh sebelum kalender menunjukkan bulan Desember, kemeriahan Natal mulai tampak di kota kami yang terletak di wilayah utara. Pepohonan dan semak-semak di halaman sebuah klinik digantungi lampu hias warna-warni sehingga pada malam hari cahayanya berpendar memukau. Kantor lain menghias bangunannya seperti sebuah kado Natal raksasa yang megah. Ke mana pun mata memandang, terlihat jelas adanya semangat Natal—atau setidaknya kegiatan berbagai usaha yang menjajakan produknya menjelang Natal.

Ada yang menyukai tampilan mewah itu, ada pula yang memandang sinis. Namun, pertanyaan terpenting bukanlah bagaimana pandangan orang tentang Natal. Sebaliknya, kita perlu merenungkan apa makna perayaan itu bagi kita masing-masing.

Tiga puluh tahun lebih setelah kelahiran-Nya, Yesus bertanya kepada para murid, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (mat. 16:13). Mereka pun melaporkan perkataan orang lain: Yohanes Pembaptis, Elia, atau salah satu dari para nabi. Kemudian, pertanyaan Yesus menjadi lebih pribadi sifatnya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (ay.15). Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (ay.16).

Banyak orang merayakan Natal tanpa memikirkan siapa sesungguhnya Bayi yang kelahirannya dirayakan itu. Ketika berbincang dengan mereka, kita dapat menolong mereka memikirkan pertanyaan penting ini: Apakah Natal hanya sebuah kisah mengharukan tentang bayi yang lahir di kandang, ataukah Pencipta kita benar-benar datang kepada ciptaan-Nya dan menjadi manusia seperti kita? —Tim Gustafson

Bapa di surga, kiranya perayaan Natal tahun ini, baik mewah maupun sederhana, dapat memuliakan Sang Mesias yang datang untuk menebus ciptaan-Nya.

Menurutmu, siapakah Yesus?

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 47-48; 1 Yohanes 3

Hadiah dari Orang Majus

Sabtu, 6 Januari 2018

Hadiah dari Orang Majus

Baca: Matius 2:1-12

2:1 Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem

2:2 dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”

2:3 Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.

2:4 Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.

2:5 Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:

2:6 Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.”

2:7 Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.

2:8 Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.”

2:9 Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.

2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.

2:11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.

2:12 Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia. —Matius 2:2

Hadiah dari Orang Majus

Alkisah sepasang anak muda yang saling mencintai tetapi tidak mempunyai banyak uang. Menjelang Natal, keduanya bersusah-payah mencari hadiah yang akan menunjukkan besarnya cinta mereka kepada pasangannya. Akhirnya, pada malam Natal, Della menggunting rambutnya yang sepanjang lutut dan menjualnya agar dapat membeli rantai berbahan platinum untuk arloji milik Jim yang diwarisinya dari ayah dan kakeknya. Namun sayang sekali, ternyata Jim telah menjual arlojinya agar dapat membeli seperangkat sisir yang mahal untuk rambut Della.

Penulis O. Henry memberikan judul The Gift of the Magi (Hadiah dari Orang Majus) untuk cerita tentang pasangan muda itu. Cerita tersebut menunjukkan bahwa meskipun hadiah Natal mereka tidak berguna dan mungkin terlihat bodoh, perbuatan mereka yang penuh kasih menjadikan pemberian itu terlihat sangat bijaksana.

Orang-orang majus di Alkitab mungkin juga terlihat bodoh dengan hadiah berupa emas, kemenyan, dan mur yang mereka bawa ke Betlehem (Mat. 2:11). Sebagai orang non-Yahudi, mereka tidak menyadari bahwa mereka telah mengusik ketenangan di kota Yerusalem ketika mereka bertanya tentang raja orang Yahudi yang baru lahir (ay.2).

Seperti pengalaman Jim dan Della dalam cerita fiksi di atas, rencana orang-orang majus itu tidak berjalan seperti harapan mereka. Meski demikian, mereka telah memberikan sesuatu yang tidak terbeli dengan uang. Mereka memang datang membawa hadiah, tetapi mereka kemudian bersujud menyembah Pribadi yang pada akhirnya akan memberikan diri-Nya dalam perbuatan kasih yang terbesar—berkorban untuk mereka dan untuk kita semua. —Mart DeHaan

Bapa di surga, tolonglah kami di masa-masa sekarang ini untuk belajar artinya memberikan hal-hal yang tidak terbeli dengan uang.

Anugerah yang diberikan Allah sungguh tak ternilai harganya.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 16–17; Matius 5:27-48

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Oei Kristina

Natal dan Tradisi

Senin, 25 Desember 2017

Natal dan Tradisi

Baca: Lukas 2:1-10

2:1 Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.

2:2 Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.

2:3 Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.

2:4 Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, —karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud—

2:5 supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.

2:6 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin,

2:7 dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

2:8 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.

2:9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.

2:10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:

Sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat. —Lukas 2:10-11

Natal dan Tradisi

Jika kamu menikmati sebatang candy cane (permen berbentuk tongkat bergaris-garis merah dan putih dengan rasa mint), kamu patut mengucapkan “danke schön” (terima kasih) kepada bangsa Jerman, sebab merekalah yang pertama kalinya menciptakan permen itu di kota Cologne. Saat kamu mengagumi tanaman poinsettia, ucapkan “gracias” kepada bangsa Meksiko, tempat asal tanaman itu. Kamu juga bisa mengucapkan “merci beaucoup” kepada bangsa Prancis untuk istilah noel, dan ucapkan “cheers” kepada bangsa Inggris untuk tanaman mistletoe. Semua itu adalah bagian dari tradisi dalam perayaan Natal, terutama di dunia Barat.

Akan tetapi, di saat kita menikmati tradisi dan kemeriahan Natal di mana pun kita berada di dunia ini, marilah kita juga dengan tulus mengucapkan “terima kasih” kepada Allah kita yang Mahabaik, Mahakasih, dan Maha Pemurah. Karena Dialah, kita mempunyai alasan untuk merayakan Natal—pemberian-Nya dalam rupa seorang bayi yang lahir di palungan Yudea lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Malaikat mengumumkan kedatangan dari pemberian Allah bagi manusia itu dengan mengatakan, “Sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat” (Luk. 2:10-11).

Mungkin pada Natal kali ini kamu merasa senang melihat pohon Natal yang terang dan menerima beragam hadiah yang indah. Namun, ingatlah bahwa sukacita sejati kita alami ketika kita mengarahkan perhatian kita kepada sang Bayi bernama Yesus, yang datang untuk “menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat. 1:21). Kiranya itu menjadi fokus utama kita sembari kita bersyukur kepada Allah atas pemberian Natal dari-Nya yang luar biasa. —Dave Branon

Tuhan, terima kasih karena Engkau telah datang ke dunia ini di Natal yang pertama. Di tengah segala tradisi dan perayaan kami, tolonglah kami tetap mengutamakan-Mu.

Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu. —Roma 15:13

Bacaan Alkitab Setahun: Zefanya 1-3 dan Wahyu 16

Kabar Pengharapan

Minggu, 24 Desember 2017

Kabar Pengharapan

Baca: Lukas 2:11-20

2:11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.

2:12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”

2:13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:

2:14 “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

2:15 Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”

2:16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.

2:17 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.

2:18 Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.

2:19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

2:20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. —Lukas 2:11

Kabar Pengharapan

Reginald Fessenden telah berupaya selama bertahun-tahun untuk dapat menyiarkan komunikasi lewat gelombang radio nirkabel. Para ilmuwan lain menganggap idenya radikal dan tidak lazim. Mereka tidak yakin bahwa Fessenden akan berhasil. Namun, ia berhasil melakukannya pada tanggal 24 Desember 1906, dengan menjadi orang pertama yang memainkan musik melalui gelombang radio.

Fessenden mempunyai kontrak dengan sebuah perusahaan buah-buahan yang telah memasang sistem nirkabel di sekitar selusin kapal untuk mengabarkan tentang cara memanen dan menjual pisang. Pada malam Natal itu, Fessenden mengatakan bahwa ia meminta para operator sistem nirkabel di semua kapal untuk mendengar baik-baik siarannya. Tepat jam 9, mereka pun mendengar suaranya.

Kabarnya, Fessenden memainkan rekaman sebuah nyanyian aria, kemudian ia mengambil biola untuk memainkan lagu “O Holy Night” (Malam Kudus), dan menyanyikan semua baitnya sembari menggesek biolanya. Selanjutnya, ia menyampaikan salam Natal dan membacakan Lukas 2 tentang kisah para malaikat yang memberitakan kelahiran seorang Juruselamat kepada para gembala di Betlehem.

Para gembala di Betlehem lebih dari 2.000 tahun yang lalu maupun para pelaut di atas kapal-kapal milik United Fruit Company pada tahun 1906 sama-sama mendengar kabar pengharapan yang mengejutkan dan tak terduga di tengah kegelapan malam. Dan Allah masih menyampaikan kabar pengharapan yang sama kepada kita hari ini. Telah lahir bagi kita Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan! (Luk. 2:11). Kita dapat bergabung dengan paduan suara malaikat dan orang percaya di sepanjang abad yang merespons kabar itu dengan menyatakan “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (ay.14). —Amy Peterson

Ya Allah, kami meninggikan Engkau dan bersyukur karena Engkau telah mengutus Anak-Mu, Yesus Kristus, untuk menjadi Juruselamat kami!

Tanpa Kristus tidak akan ada pengharapan. —Charles Spurgeon

Bacaan Alkitab Setahun: Habakuk 1-3 dan Wahyu 15

Allah Menyertai Kita

Sabtu, 23 Desember 2017

Allah Menyertai Kita

Baca: Matius 1:18-23

1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.

1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:

1:23 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” —yang berarti: Allah menyertai kita.

Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel. —Matius 1:23

Allah Menyertai Kita

“Kristus ada besertaku, Kristus ada di depanku, Kristus ada di belakangku, Kristus ada di dalamku, Kristus ada di bawahku, Kristus ada di atasku, Kristus ada di kananku, Kristus ada di kiriku . . .” Lirik himne itu ditulis oleh Santo Patrick, seorang Kristen asal Irlandia dari abad ke-5. Himne tersebut bergema di dalam benak saya ketika membaca tulisan Matius tentang kelahiran Yesus. Membaca bagian itu terasa seperti sebuah pelukan hangat yang mengingatkan bahwa saya tidak pernah sendiri.

Injil Matius menceritakan kepada kita bahwa inti Natal adalah tentang Allah yang berdiam bersama umat-Nya. Matius mengutip nubuat Nabi Yesaya tentang seorang anak yang akan dinamakan Imanuel, yang berarti “Allah menyertai kita” (Yes. 7:14). Lewat kutipan itu, Matius menyatakan bahwa penggenapan utama dari nubuat tersebut adalah Yesus, Pribadi yang dilahirkan oleh kuasa Roh Kudus untuk menjadi Allah yang menyertai kita. Kebenaran itu begitu penting sehingga Matius memulai catatan Injilnya dengan pernyataan itu, lalu menutupnya dengan perkataan Yesus kepada murid-murid-Nya: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).

Lirik himne karya Santo Patrick mengingatkan saya bahwa Kristus selalu menyertai orang percaya melalui Roh-Nya yang hidup di dalam mereka. Ketika gelisah atau takut, saya dapat memegang teguh janji-Nya bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan saya. Ketika sulit untuk tidur, saya bisa meminta Dia memberikan damai sejahtera-Nya. Ketika sedang dipenuhi sukacita, saya bisa bersyukur kepada-Nya atas semua karya-Nya yang indah dalam hidup saya.

Yesus adalah Imanuel—Allah menyertai kita. —Amy Boucher Pye

Allah Bapa, terima kasih Engkau telah mengutus Anak-Mu untuk menjadi Imanuel, Allah yang menyertai kami. Kiranya kami merasakan penyertaan-Mu hari ini.

Kasih Allah menjelma dalam rupa manusia di Betlehem.

Bacaan Alkitab Setahun: Nahum 1-3 dan Wahyu 14

Artikel Terkait:

Damai Natal di Media Sosial