Posts

Mengapa Kita Resah dengan Razia Barang Impor, SNI, dan Pajak?

Penulis: Handoyo Lim

mengapa-resah-dengan-razia

Kondisi keuangan dan dunia usaha di Indonesia belakangan ini banyak menghadapi perubahan, tekanan dan ketidakpastian. Faktor eksternal yang berkaitan dengan mata uang, regulasi pemerintah, dan penegakan aturan hukum menimbulkan reaksi yang berbeda dari setiap kalangan usaha. Ada yang senang, ada yang tidak senang, ada yang pro, ada yang kontra.

Beberapa isu yang banyak menarik perhatian adalah tentang razia perizinan barang impor, legalitas produk (mendapat sertifikasi SNI atau tidak), dan pengetatan aturan perpajakan. Reaksi yang timbul dari para pengusaha menurut pengamatanku, lebih besar dibandingkan faktor-faktor eksternal lainnya. Yang jelas terlihat misalnya kegelisahan para pemilik toko yang kemudian menutup tempat usaha mereka karena khawatir kena razia, juga ungkapan kekhawatiran sejumlah pengusaha tentang kondisi produk impor melalui jalur tertentu yang entah kapan akan tiba.

Beragam pertanyaan mengusik benakku sebagai seorang muda Kristen yang berprofesi sebagai pengusaha. Bagaimana bila isu pemeriksaan dan pengetatan pajak tersebut sengaja dilakukan pemerintah untuk menguji mental dan integritas pasar? Bila yang muncul adalah keresahan yang berlebihan, apakah ini menunjukkan bahwa selama ini banyak usaha kita jalankan dengan cara yang “belum tentu benar”? Atau, bisa jadi usaha-usaha kita dijalankan dengan cara yang “belum tentu salah” juga, tetapi kita tidak terlalu peduli mencari tahu “yang benar”, dan ketika aturan mulai ditegakkan, kita pun mulai paranoid sendiri sebagai para pelaku usaha.

Mungkin kita adalah orang-orang Kristen yang dikenal rajin melayani, rajin memberi persembahan, suka berbuat baik dan menolong orang yang membutuhkan. Namun, begitu bersentuhan dengan urusan uang dan bisnis, sepertinya kita hidup dalam alam yang berbeda. Tiba-tiba saja kita memikirkan segala cara untuk membelokkan aturan demi mengurangi kewajiban kita kepada negara dan mengembangkan kekayaan kita. Ironisnya, kita bisa menggunakan alasan yang terdengar sangat rohani untuk membenarkan diri: kita ingin menggunakan kekayaan itu untuk melayani dan melakukan pekerjaan Tuhan.

Namun, sesungguhnya Tuhan tidak perlu uang kita! Dia adalah Allah, Pemilik segala yang ada. Dia amat sangat kaya! Yang menyenangkan hati Tuhan bukanlah besarnya persembahan kita, tetapi ketaatan kita pada apa yang dikatakan-Nya. Menyadari kebenaran ini, pemazmur berkata, “Engkau [Tuhan] tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku … aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku” (Mazmur 40:7-9).

Masalahnya, bukankah hati kita seringkali lebih menyukai uang daripada kehendak Allah? Tak heran, Yesus memberi peringatan keras kepada para pengikut-Nya, “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Lukas 16:13). Saingan Tuhan di hati kita bukanlah iblis, tetapi uang!

Dalam Lukas 16, ada catatan menarik ketika Yesus mengajar para pengikut-Nya agar bisa dipercaya dalam hal uang.

Orang-orang Farisi mendengar semua yang dikatakan oleh Yesus. Lalu mereka menertawakan-Nya, sebab mereka suka uang. Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Kalianlah orang yang di hadapan orang lain kelihatan benar, tetapi Allah tahu isi hatimu. Sebab apa yang dianggap tinggi oleh manusia, dipandang rendah oleh Allah (Lukas 16:14-15, terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari)

Tuhan tahu isi hati setiap kita. Ketika hati kita tertuju pada Tuhan, kita akan rindu menyenangkan-Nya dengan melakukan apa kata firman-Nya, termasuk bila itu berarti kita harus memperbaiki cara bisnis kita dan memberikan kepada negara apa yang memang seharusnya menjadi milik negara. Sebaliknya, ketika hati kita tertuju pada uang, kita akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, termasuk bila itu berarti kita harus melanggar firman Tuhan.

Kupikir kita tidak perlu menunggu situasi yang ideal untuk mulai melatih diri hidup dalam kebenaran. Kita bisa memulainya hari ini juga. Aku sendiri menyadari banyak hal yang harus aku evaluasi dan perbaiki dalam hidupku. Mari kita sama-sama belajar hidup dalam integritas. Jalan yang tidak mudah dan mungkin kelihatan bodoh bagi sebagian orang, namun akan membebaskan kita dari berbagai keresahan yang tidak perlu. Dengan anugerah Tuhan, kita pasti dapat melakukannya dan menjadi terang bagi komunitas di mana Tuhan menempatkan kita.

Mitos Kesempurnaan

Kamis, 3 September 2015

Mitos Kesempurnaan

Baca: 1 Yohanes 1:5-2:2

1:5 Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.

1:6 Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.

1:7 Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.

1:8 Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.

1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

1:10 Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.

2:1 Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.

2:2 Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.

Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. —1 Yohanes 1:8

Mitos Kesempurnaan

Dr. Brian Goldman terobsesi untuk mengobati pasiennya secara sempurna. Namun, dalam suatu acara televisi, ia mengaku pernah melakukan kesalahan. Suatu waktu ia merawat seorang wanita di ruang gawat darurat, lalu memulangkannya. Kemudian, di hari yang sama, seorang perawat bertanya, “Kamu ingat dengan pasien yang kamu pulangkan? Ia dibawa lagi ke sini.” Pasien itu kembali dirawat di rumah sakit dan akhirnya meninggal. Kejadian itu menghancurkan hati Dr. Goldman. Ia mencoba lebih keras lagi untuk menjadi dokter yang sempurna, tetapi akhirnya menyadari bahwa kesempurnaan itu mustahil untuk dicapai.

Sebagai orang Kristen, bisa saja kita secara tidak realistis mendambakan kesempurnaan atas diri kita sendiri. Namun, sekalipun kita mampu memperlihatkan kehidupan yang tidak bercela, segala pikiran dan motivasi kita takkan pernah murni sepenuhnya.

Rasul Yohanes menulis, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita” (1Yoh. 1:8). Solusinya bukanlah dengan menyembunyikan dosa kita dan berusaha lebih keras, melainkan dengan melangkah menuju terang kebenaran Allah dan mengakui dosa kita. “Jika kita hidup di dalam terang,” kata Yohanes, “sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (ay.7).

Apa yang terjadi seandainya orang Kristen bukan dikenal karena menyembunyikan dosa, tetapi karena mereka saling mengasihi dan mendukung dalam kasih karunia dan kebenaran Allah? Apa yang terjadi seandainya kita jujur dan terbuka terhadap satu sama lain dan juga terhadap dunia yang memperhatikan gerak-gerik kita? —Tim Gustafson

Ya Bapa, sulit bagi kami untuk saling mengakui kesalahan, tetapi Engkau memanggil kami dalam kesatuan sebagai umat-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, mampukan kami menjalani hidup dengan berani untuk jujur dan mengasihi.

Pengakuan dosa yang jujur kepada Allah akan membawa pengampunan.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 140-142; 1 Korintus 14:1-20

Sistem Kepercayaan

Jumat, 12 April 2013

Sistem Kepercayaan

Baca: Lukas 16:1-10

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” —Lukas 16:10

Banyak rumah di daerah kami yang menjual hasil kebun bunga, buah dan sayur-mayur dengan memajangnya di tepi jalan. Sesekali kami mampir untuk berbelanja di suatu kedai penjualan yang tidak diawasi dan dijalankan dengan “sistem kepercayaan”. Setelah memilih apa yang ingin kami ambil, kami menaruh uang pembayarannya ke dalam sebuah kotak atau kaleng kopi bekas yang tersedia. Lalu kami pun pulang untuk menikmati buah-buahan dan sayuran segar yang baru dipetik itu.

Namun sistem kepercayaan seperti itu tidak selalu berhasil. Teman saya Jackie memiliki kedai penjualan bunga di depan rumahnya. Suatu hari, ketika melihat ke luar jendela, ia melihat seorang wanita berpakaian rapi dengan topi besar sedang memasukkan berpot-pot bunga ke bagasi mobilnya. Jackie tersenyum sambil memperkirakan akan mendapat keuntungan sebesar $50 dari kerja kerasnya dalam berkebun. Namun ketika memeriksa kotak uangnya, ternyata kotak itu kosong! Sistem kepercayaan menyingkapkan bahwa wanita tadi tidak dapat dipercaya.

Mungkin bagi wanita itu, mengambil sejumlah bunga merupakan hal sepele. Namun bersikap jujur dalam hal-hal yang kecil menunjukkan bagaimana kita akan bertindak dalam hal-hal yang besar (Luk. 16:10). Kejujuran di seluruh bidang kehidupan kita adalah salah satu cara bagi kita untuk dapat memuliakan Yesus Kristus, Juruselamat kita.

“Sistem kepercayaan” terbaik bagi pengikut Kristus adalah Kolose 3:17, “Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus.” —CHK

B’ri yang terbaik pada Raja,
B’ri hatimu pada-Nya;
Layani Dia terutama,
Kuduskan s’mua bagi-Nya. —Grose
(Pujian Bagi Sang Raja, No. 433B)

Seorang yang jujur tidak perlu merasa was-was.

Keterbukaan Yang Menyegarkan

Minggu, 3 Maret 2013

Keterbukaan Yang Menyegarkan

Baca: Yohanes 4:7-26

Barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, . . . ia akan berbahagia oleh perbuatannya. —Yakobus 1:25

Di antara sekian banyak hal yang saya sukai dari ibu saya, yang paling saya sukai adalah keterbukaannya. Saya sering menelepon untuk meminta pendapatnya tentang suatu hal, dan ia selalu menanggapi dengan kata-kata berikut, “Jangan tanya pendapatku kecuali kau mau mendengarnya. Aku takkan mengatakan apa yang ingin kau dengar. Aku mengatakan kepadamu apa yang kupikirkan.”

Di tengah budaya di mana kata-kata diucapkan dengan hati-hati, ucapannya yang blak-blakan tersebut sungguh menyegarkan. Ini juga menjadi salah satu ciri seorang sahabat sejati. Sahabat sejati mengucapkan kebenaran kepada kita di dalam kasih— bahkan ketika kebenaran itu bukanlah hal yang ingin kita dengar. Dalam kitab Amsal tertulis, “Seorang kawan memukul dengan maksud baik” (27:6).

Inilah salah satu alasan mengapa Yesus adalah sahabat yang terbaik. Ketika bertemu seorang perempuan Samaria di tepi sumur (Yoh. 4:7-26), Yesus menolak untuk terseret ke dalam perdebatan mengenai hal-hal yang tidak terlalu penting. Dia memilih untuk menggali masalah dan kebutuhan hati yang terdalam dari sang perempuan. Yesus menantangnya untuk mengenal sifat Bapa yang sejati dan juga berbicara tentang impiannya yang hancur dan kekecewaannya yang mendalam dengan penuh kasih.

Ketika kita berjalan bersama Tuhan, biarlah kita mengizinkan-Nya untuk berbicara secara terbuka melalui Kitab Suci tentang kondisi hati kita yang sesungguhnya. Tujuannya adalah supaya kita datang kepada Allah dan menemukan kasih karunia-Nya yang dapat menolong kita pada waktunya. —WEC

Bapa, terima kasih Engkau telah mengirim Putra-Mu untuk menjadi
Juruselamat dan Sahabatku yang terbaik. Tolong aku agar belajar
dari-Nya untuk berbicara dengan penuh kejujuran sehingga aku
sanggup menolong orang-orang yang terluka di sekelilingku.

Yesus selalu mengatakan kebenaran kepada kita.