Pos

Ulasan Buku: Just Do Something! (Lakukanlah Sesuatu!)

ulasan-buku-just-do-something
Judul: Just Do Something! (Lakukanlah Sesuatu!)

Penulis: Kevin DeYoung

Tahun Terbit: 2013

Jumlah Halaman: 160 halaman

Penerbit: Literatur Perkantas Jatim


Ulasan oleh Inike Lamria Siregar

Kebanyakan orang pernah mendengar ungkapan “Hidup ini adalah pilihan”. Ada begitu banyak pilihan dan keputusan yang harus dibuat, terutama yang berkaitan dengan masa depan, seperti “Jurusan apa yang harus saya ambil?”, “Di mana saya harus bekerja?”, “Apakah ini pasangan yang dikehendaki Tuhan?”, atau “Di gereja mana saya harus beribadah?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terkadang membuat kita menjadi khawatir, bahkan putus asa untuk mengetahui kehendak Allah dalam hidup kita. Selain itu, kebanyakan orang Kristen pada akhirnya tidak melakukan apa-apa dan hanya menunggu arahan langsung yang jelas, karena mereka tidak ingin menghadapi segala risiko.

Buku ini ingin menjelaskan apa yang dimaksud dengan “kehendak Allah” dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, namun tetap bersifat Alkitabiah. Allah tidak hanya merencanakan hal yang besar saja dalam hidup kita. Ia juga mengatur sampai hal-hal yang terkecil. Puji Tuhan, Ia mengenal burung pipit yang kecil dan sehelai rambut kita (Matius 10:30-31).

Seperti judul buku ini, “Just Do Something!” (“Lakukanlah Sesuatu!”), Kevin DeYoung ingin menyampaikan bahwa untuk mengetahui kehendak Allah, tidak selamanya kita harus menunggu, tetapi justru harus bertindak. Di dalam tindakan itulah kita meminta bimbingan Tuhan, sehingga kita dapat mengerti apakah pilihan tersebut merupakan kehendak Tuhan atau tidak.

DeYoung mengangkat berbagai contoh permasalahan manusia, bahkan kisah nyata untuk membantu kita mengerti apa yang ingin beliau bahas dalam buku ini. Oleh karena itu, kita dapat merasa bahwa buku ini sepertinya sedang berbicara tentang kehidupan kita. Marilah kita berusaha untuk hidup sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki!

Pertanyaan yang paling dipedulikan Allah bukanlah “Di mana seharusnya saya tinggal?” tetapi “Apakah saya mengasihi Allah dengan segenap hati saya?” (Kevin DeYoung)

Menemukan Diriku Di Dalam-Nya (bagian 5)

menemukan-diriku-5

Entah kenapa tempat ini terasa tidak nyaman lagi. Di mana seharusnya aku berada? Apakah ini kehendak Allah bagiku? Aku bertanya pada diriku setiap hari.

Hatiku serasa ada di dua tempat, dua dunia yang terpisah ribuan kilometer jaraknya. Aku merasa seperti selembar daun yang tertiup angin, melayang tanpa tujuan. Mengapa? Seharusnya tidak seperti ini.

Kemarin, aku merasa sangat yakin. Aku pikir aku berada di tempat yang tepat. Tentu saja, Tuhan yang memanggilku ke tempat ini. Aku mendapatkan pekerjaan yang kusukai. Aku punya teman-teman dekat. Aku bisa melayani di gereja. Aku merasa Tuhan sedang menyuruhku “tetap tinggal” dan tidak “pergi”. Memang aku jadi jauh dari keluarga, tetapi mungkin itulah pengorbanan yang harus aku berikan.

Hari ini, keraguan itu datang lagi. Dan, aku lelah dengan perasaanku yang serba tidak pasti.

Mungkin Tuhan sedang mengajarku, “Aku memberimu kebebasan untuk memilih”. Aku harus melangkah dalam iman, bergerak maju dan menantikan apa yang telah Tuhan siapkan bagiku.

Mungkin aku terlalu kuatir dengan banyak hal. Tuhan, penuhiku dengan damai-Mu. Yang penting bukan di mana aku berada, tetapi apa yang aku lakukan dan dengan siapa aku memilih melakukannya. Hanya Engkau yang dapat menyempurnakanku.

 
Serial Perjalanan Hati: Menemukan Diriku Di Dalam-Nya
Material: Foto digital, Photoshop
Penulis: Jude Dias, Shawn Quah, Joanna Hor, Vania Tan, Michele Ong, Abigail Lai
Penerjemah: Jonathan Chandranegara, Elisabeth Ch

Salah satu pencarian terbesar dalam hidup ini adalah pencarian jati diri. Siapakah diri kita? Apa saja yang menentukan identitas kita? Jalan mana yang akan membawa kita menemukan jawabannya? Mengapa identitas itu sangat penting bagi kita? Bulan ini kami berbicara dengan sejumlah anak muda, mendengarkan cerita dan pergumulan hati mereka saat berusaha mengejar yang esensi dalam hidup ini. Apakah kamu mendapati dirimu mengalami hal yang sama dengan mereka? Bagikan apa yang kamu alami dalam kolom komentar di bawah ini.

Seri Lukisan Natal: Sebuah Pemberitahuan yang Tidak Terduga

lukisan-natal-warungsatekamu-maria

Karena Sang Bayi, Maria berjumpa utusan surgawi
Ia ‘kan mengandung Anak Kudus dari Allah yang Mahatinggi
“Tiada yang mustahil bagi Allah,” sang perawan takjub berserah
“Jadilah padaku menurut sabda-Nya.”

Sang Bayi Kudus, Yesus namanya
Apakah kamu pun takjub berserah saat mengenal-Nya?

Baca: Lukas 1:26-38

Pelukis: @galihsuseno
Tahun: 2015
Bahan: Acrylic on Canvas
Ukuran: 120 x 160 cm

CeritaKaMu: Jadilah Kehendak-Mu (bagian 3 – tamat)

Oleh: Ecclesias Elleazer

Cerita sebelumnya

Jadilah-KehendakMu3

Perlahan namun pasti, aku mulai menata kehidupanku lagi. Aku menyadari betul itu bukan karena kekuatanku sendiri, namun karena kasih karunia Tuhan. Pak Yudi dan teman-teman gereja membantuku untuk bangkit lagi. Dengan kemampuan lukisku, aku mulai bekerja untuk menyambung hidup. Aku juga mulai aktif melayani di gereja. Sungguh aku sangat bersyukur bisa kembali menjalani hidup dengan pikiran yang jernih.

Meski begitu, ada satu hal yang masih terus menghantui hidupku. Aku masih sulit sekali melepaskan pengampunan bagi orangtuaku. Setiap kali ada pembicaraan yang menyinggung tentang mereka, nada suaraku berubah menjadi ketus. Pak Yudi pernah menegurku, mengingatkanku pada firman Tuhan.

Neng, dalam Matius 6:14-15 Tuhan mengatakan ‘jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.’ Bapak dulu juga susah mengampuni orang yang menabrak istri dan anak Bapak, tapi percayalah Neng, hidup Neng gak akan tenang kalau Neng tidak mau mengampuni. Kalau orangtua Neng tetap keras hati dan tidak mau hidup bersama lagi itu urusan mereka dengan Tuhan. Bagian Neng adalah mengampuni dan menghormati mereka. Bukankah Tuhan juga sudah mengampuni Neng?”

Aku terdiam, memilih untuk tidak mendebat Pak Yudi yang sudah kuanggap seperti bapakku sendiri. Namun, hatiku masih protes. Mengampuni dan menghormati kedua orangtuaku? Apakah mereka masih merasa menjadi orangtua dari seorang Ellea? Mungkin saja mereka sudah tidak ingat kalau mereka pernah punya seorang anak perempuan yang mereka sia-siakan. Meski firman Tuhan sangat jelas menyatakan bahwa aku harus mengampuni, praktiknya bagiku tidak semudah itu.

Ellea, kami sangat menyesal…..” sosok di depanku mengulangi pernyataannya dengan wajah penuh air mata.

Maafkan kami karena kami begitu egois dan tidak memikirkan masa depanmu. Kamu pasti sangat menderita…”

Badanku terasa kaku, tanganku bergetar memegangi pinggir sofa yang mulai mengelupas. Aku tidak mengerti keajaiban apa gerangan yang telah membawa papa dan mamaku ke tempat ini. Aku melihat mamaku terisak-isak dalam pelukan papaku. Bertahun-tahun aku ingin melihat mereka berangkulan seperti itu. Wajah mereka tampak letih dan makin tua, meski sebenarnya baru dua tahun kami berpisah.

Ada banyak hal yang terjadi setelah kamu pergi dari rumah, Ellea…” papaku angkat bicara dengan suaranya yang berat. Desahannya juga terdengar sangat berat.

Kami tidak jadi bercerai. Memang belum semua masalah kami bisa dibereskan, tetapi satu hal yang pasti, kami tidak ingin kehilangan kamu. Kalau kamu bersedia Ellea, kembalilah pulang. Kita mulai kembali lembaran baru untuk keluarga kita…”

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Air mataku tak terbendung. Seharusnya aku bahagia. Namun, entah kenapa aku masih ragu. Apa jaminannya mereka tidak akan bertengkar dan menyakitiku lagi? Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Ayat-ayat firman Tuhan yang kubaca dalam beberapa bulan terakhir bermunculan di kepalaku. Aku tertegun menyadari Roh Kudus tengah mengingatkanku tentang apa yang Tuhan ingin aku lakukan sebagai anak-Nya.

“ … sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:13)

“… hendaklah kamu … saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:32)

Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.” (Lukas 17:4)

… ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami…” (Matius 6:12)

Aku tahu ini bukan masalah orangtuaku lagi. Ini masalah hatiku sendiri di hadapan Tuhan. Aku ingat begitu seringnya aku berdoa “jadilah kehendak-Mu, Tuhan, di dalam hidupku.” Dan kini, aku diperhadapkan pada pilihan, apakah aku akan membiarkan kehendak Tuhan itu dinyatakan dalam tindakanku atau tidak. Aku menarik napas dalam-dalam. Saatnya mengambil keputusan. Sekarang atau tidak sama sekali. Mengikuti kehendak Tuhan, atau kehendak hatiku sendiri.

Papa tahu, kamu mungkin butuh waktu untuk memaafkan papa dan mama…” sosok gagah di hadapanku berujar pelan sambil menundukkan kepala seperti seorang prajurit kalah perang.

Papa…mama… aku…. memaafkan kalian,” kalimat itu akhirnya terucap mantap meski banjir air mata kembali tidak terhindarkan membasahi wajahku. Aku menghambur memeluk mama, lalu papa, dengan kelegaan yang luar biasa.

Terima kasih Ellea…” mama berbisik lirih. Papa menggenggam tanganku erat-erat.

***

Sabtu pagi yang cerah. Kemilau matahari yang menembus celah jendela mendesakku untuk membuka mata. Aku melompat dari tempat tidurku dengan penuh semangat, membuka jendela lebar-lebar. Tidak ada sawah. Yang ada hanya pekarangan luas penuh pepohonan rindang dan bunga-bunga. Aku kembali berada di kamarku sendiri, asyik membayangkan memindahkan lukisan alam yang indah itu ke dalam salah satu kanvasku. Ah, indahnya!

Sudah bangun? Ayo turun sini, ikut papa potong rumput!” Aku tertawa lepas. Belum pernah merasa sebahagia ini. Dulu, hampir mustahil melihat papa ada di rumah pada hari Sabtu.

“Papa belum cerita, bagaimana caranya bisa menemukanku di rumah itu,” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Papa tersenyum lebar, “Ada teman papa yang bekerja di panti rehabilitasi asuhan gereja itu.” Aku terpana. Wow! Tuhan punya cara yang tak terduga dalam mempertemukan kami kembali. Bayangan Pak Yudi dan teman-teman gereja yang pernah membantuku, melintas di pikiranku.

Kita manusia, selalu ingin menyelesaikan masalah dengan cara kita sendiri, namun kenyataannya, cara kita menyelesaikan masalah seringkali malah membawa masalah baru, Neng. Hanya Tuhan yang paling tahu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah kita. Bagian kita adalah percaya dan mengikuti apa kata firman-Nya,” kata-kata Pak Yudi kembali terngiang di telingaku.

Ayo turun! Tunggu apa lagi?” aku tersenyum lebar dan mengacungkan kedua jempolku. Sembari menuruni tangga, hatiku spontan bersenandung.

Bersama-Mu Bapa, kulewati semua…
PerkenananMu yang teguhkan hatiku…
Engkau yang bertindak memb’ri pertolongan…
AnugerahMu besar melimpah bagiku…

Aku tidak tahu apa yang akan kami hadapi sebagai keluarga ke depan. Namun, aku tahu bersama Tuhan, kami akan melewati semua dan bertumbuh di dalamnya. Bagian kami adalah belajar menjalani hidup sesuai dengan firman-Nya, bukan mengikuti kehendak kami sendiri, karena kehendak-Nya jelas yang terbaik bagi kami semua.

CeritaKaMu: Jadilah Kehendak-Mu (bagian 2)

Oleh: Ecclesias Elleazer

Cerita sebelumnya

Jadilah-KehendakMu2

Suara itu lagi. Teriakan itu lagi. Bunyi keras itu lagi. Hampir setiap hari hanya itu yang dapat ku dengar. Papa dan mamaku selalu bertengkar setiap hari, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Umpatan kasar sering terlontar dari mulut mamaku, menuduh papa tidak lagi memperhatikan keluarganya. Bantahan papa tidak kalah kasarnya, terutama bila ia kelihatan sangat lelah sepulang kantor. Kadang ia sampai menggebrak meja atau membanting barang. Aku yang mendengarkan mereka, merasa lebih lelah lagi. Tidak ada yang menemaniku belajar. Tidak ada yang mendengarkan ceritaku, apalagi keluh kesahku.

Kedua orangtuaku sebenarnya adalah orang Kristen, namun menurutku, kehidupan mereka tidak ada bedanya dengan orang yang tidak kenal Tuhan. Mereka jarang berdoa, apalagi ke gereja dan membaca Alkitab. Sepertinya mereka tidak pernah berpikir panjang, apalagi mempertimbangkan apa kata firman Tuhan, dalam mengambil keputusan-keputusan. Termasuk keputusan untuk bercerai.

Aku menjadi seperti orang yang yang kehilangan separuh nyawa. Sebelum sidang perceraian itu dilakukan, aku memutuskan untuk pergi dari rumah dengan membawa seluruh tabunganku, menghilang dari kehidupan kedua orangtuaku. Dalam keadaan depresi, aku mulai terjerumus pergaulan bebas karena pengaruh seorang teman kos. Aku ikut menggunakan narkoba dan minuman keras sebagai pelampiasan rasa kecewa atas keluargaku. Singkat cerita, hidupku berantakan, gara-gara kedua orangtuaku!

Ellea, kami sangat menyesal….” sosok di hadapanku kini ikut bersimbah air mata melihatku melangkah mundur di belakang sofa, menjaga jarak dengan mereka.

Menyesal! Aku tertegun. Momen-momen tertentu dalam hidupku seolah berulang.

Hari itu aku juga merasakan penyesalan yang luar biasa. Hidupku terasa kosong dan sia-sia. Duduk sendiri di teras kos, aku bertanya-tanya apakah masih ada harapan bagiku. Tadi malam aku baru saja menggadaikan handphone kesayanganku demi bisa membeli sepaket shabu. Kedengarannya mungkin konyol, namun apa daya, sekujur tubuhku sudah meronta dan menyiksaku sepanjang hari. Air mataku meleleh. Aku merasa sangat lemah. Aku menyesal, tetapi tidak tahu harus mulai darimana memperbaiki hidupku.

Tuhan, jika Engkau ada, tunjukkan jalan-Mu untuk aku bisa bangkit lagi…” bisikku lirih dalam hati.

Pagi, Neng!”

Aku buru-buru mengeringkan pipiku yang basah. Seorang bapak tua berkemeja batik tersenyum lebar sembari berjalan tertatih-tatih melintasi jalan di depan kosku. Pak Yudi. Pengusaha tahu berdarah Sunda yang juga membuka warung di ujung gang. Ia tinggal sendirian. Anak dan isterinya meninggal dalam sebuah kecelakaan tragis. Entah apa yang membuat bapak itu begitu tegar. Ia sangat ramah kepada anak-anak kos sepertiku.

Ada apa Neng?” Pak Yudi tampak khawatir melihatku. Ia menghentikan langkahnya dan mendekati pagar. Tangannya yang sudah mulai keriput memegang sebuah tas Alkitab dari kulit. Aku tahu ia baru pulang dari gereja yang berjarak sekitar 1,5 km dari rumahnya. Sebuah perjalanan yang terbilang jauh, apalagi untuk orang seusianya. Setiap yang melihatnya bisa merasakan betapa berartinya Tuhan dalam kehidupan Pak Yudi. Biasanya ia mengikuti kebaktian paling pagi, sehingga pukul 10 seperti sekarang ia sudah dalam perjalanan pulang.

Aku tidak bisa menahan tangis. Sosok Pak Yudi mengingatkanku pada papaku sendiri. Papa yang aku rindukan sekaligus kubenci setengah mati.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Pak.. aku merasa hidupku sangat kosong dan sia-sia.” ujarku lirih di sela derai tangisku, ketika Pak Yudi duduk di sebelahku. Entah bagaimana, cerita hidupku mengalir begitu saja. Ketika selesai, aku merasa tak percaya baru saja membuka segala kebobrokanku dan keluargaku di depan seorang yang tidak terlalu kukenal. Aku merasa sangat malu. Namun, sorot mata Pak Yudi sama sekali tidak melecehkanku. Ia menepuk pundakku dengan lembut.

Tidak ada jalan keluar selain datang pada Tuhan, Neng. Jangan ditunda lagi,” katanya pelan namun tegas.

Tapi Pak, apa Tuhan masih mau menerimaku yang seperti ini?” aku masih terisak-isak.

Pak Yudi mengangguk sambil tersenyum. Tangannya yang keriput membuka Alkitab di pangkuannya.

Tuhan berkata kepada umat-Nya: ‘…engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau.’” Lalu ia kembali menatapku dalam-dalam.

Dosa memang membuat hidup kita berantakan Neng. Tetapi, bagaimanapun keadaan kita, Tuhan mau menerima kita. Dia mengasihi kita dan memandang kita berharga. Dia menciptakan kita menurut gambar-Nya, dan Dia ingin memulihkan hidup kita untuk dapat kembali mencerminkan kemuliaan-Nya.”

Aku tidak sepenuhnya memahami apa yang dimaksud Pak Yudi. Namun, kata-katanya menyejukkan hatiku.

Kita manusia, selalu ingin menyelesaikan masalah dengan cara kita sendiri, namun kenyataannya, cara kita menyelesaikan masalah seringkali malah membawa masalah baru, Neng. Hanya Tuhan yang paling tahu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah kita. Bagian kita adalah percaya dan mengikuti apa kata firman-Nya.”

Dan dalam firman-Nya, Dia mengundang kita untuk datang kepada-Nya, Neng. Yesus berkata, ‘Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.’”

Aku mengangguk pelan dan tidak menolak ketika kemudian diajak Pak Yudi berdoa.

Minggu itu sangat berat untuk kulalui, namun aku akhirnya membulatkan tekad untuk pergi ke gereja. Aku ingin memulai babak baru dalam hidupku. Pak Yudi menunjukkan informasi tentang sebuah panti rehabilitasi yang ada di bawah asuhan gereja. Mereka juga menyediakan bantuan dana bagi yang benar-benar membutuhkan. Dengan yakin aku segera mendaftarkan diri. Aku tahu bila aku tetap tinggal di kos, akan sulit bagiku untuk menghindari pengaruh narkoba. Mereka yang telah menjerumuskanku jelas tidak akan melepaskanku dengan mudah. Aku juga meminta bantuan pak Yudi untuk mencarikan aku tempat kontrakan yang baru setelah rehabilitasiku berakhir.

 
Bersambung …

Kehendak Siapa?

Kamis, 19 Februari 2015

Kehendak Siapa?

Baca: Kejadian 39:1-6,20-23

39:1 Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ.

39:2 Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.

39:3 Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya,

39:4 maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.

39:5 Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang.

39:6 Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri. Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya.

39:20 Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana.

39:21 Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.

39:22 Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.

39:23 Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.

“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” —Matius 26:39

Kehendak Siapa?

Kiranya segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakmu.” Itulah salam yang sering diucapkan selama perayaan Tahun Baru Tionghoa. Seindah-indahnya ucapan itu, peristiwa-peristiwa yang terbaik justru terjadi saat segalanya sesuai dengan kehendak Allah dan bukan menurut kehendak saya sendiri.

Seandainya bisa memilih, Yusuf tentu tidak ingin menjadi budak di Mesir (Kej. 39:1). Akan tetapi, meski diperbudak, ia “berhasil” karena “TUHAN menyertai [dirinya]” (ay.2). Tuhan bahkan memberkati rumah tuannya “karena Yusuf” (ay.5).

Yusuf tentu tidak akan memilih untuk dipenjara di Mesir. Namun hal itu terjadi ketika dengan semena-mena, ia dituduh berbuat kejahatan seksual. Akan tetapi, untuk kedua kalinya kita membaca: “TUHAN menyertai Yusuf” (ay.21). Di dalam penjara, ia memperoleh kepercayaan dari kepala penjara (ay.22) sehingga “apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil” (ay.23). Pengalaman Yusuf mendekam di penjara ternyata menjadi awal dari proses hidupnya yang menanjak hingga menduduki posisi penting di Mesir. Tidak banyak orang yang rela ditinggikan dengan cara yang digunakan Allah untuk meninggikan Yusuf. Namun Allah sanggup memberkati Yusuf, sekalipun ada, dan bahkan melalui keadaan-keadaan yang tidak mengenakkan.

Allah memiliki maksud atas keberadaan Yusuf di Mesir, dan Dia memiliki maksud atas kita di mana pun kita ditempatkan-Nya sekarang. Alih-alih berharap segala sesuatu terjadi menurut kehendak kita, kita bisa mengatakan, sebagaimana diucapkan Juruselamat kita sebelum Dia melangkah ke kayu salib, “Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat. 26:39). —CPH

Ya Tuhan, aku cenderung mengejar hasratku sendiri. Ampuni
keegoisanku dalam mengejar aktivitas yang berpusat pada diriku
sendiri. Tolong aku untuk mengutamakan-Mu dan untuk mengenali
karya-Mu dan kehendak-Mu yang patut kulakukan dalam hidupku.

Sering kali, menunggu dengan sabar merupakan cara terbaik untuk melakukan kehendak Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 25; Markus 1:23-45

Pilihlah Hidup

Minggu, 6 April 2014

Pilihlah Hidup

Baca: Ulangan 30:11-20

30:11 “Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh.

30:12 Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?

30:13 Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?

30:14 Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan.

30:15 Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan,

30:16 karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.

30:17 Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya,

30:18 maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.

30:19 Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu,

30:20 dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.”

Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya. —Ulangan 30:19-20

Pilihlah Hidup

Apa kehendak Allah bagi hidup saya? Pertanyaan itu pernah menghantui saya ketika saya beranjak dewasa. Apa jadinya jika saya tidak dapat menemukannya? Bagaimana jika saya tidak mengetahuinya? Kehendak Allah itu bagai jarum dalam tumpukan jerami. Tersembunyi, tersamar, dan banyak kepalsuan.

Namun pandangan saya tentang kehendak Allah itu salah karena pandangan saya tentang Allah juga salah. Allah tidak menghendaki kita tersesat, berkelana ke sana kemari, dan terus mencari-cari. Dia ingin supaya kita mengetahui kehendak-Nya. Dia menyatakannya secara jelas dan sederhana. Dia bahkan tidak memberikan banyak pilihan. Dia hanya memberikan dua pilihan: “kehidupan dan keberuntungan” atau “kematian dan kecelakaan” (Ul. 30:15). Andaikata kita tidak paham juga pilihan mana yang terbaik, Dia menyatakan mana yang harus kita pilih: “Pilihlah kehidupan” (ay.19). Memilih kehidupan berarti memilih Allah sendiri dan menaati firman-Nya.

Ketika Musa memberikan pesan kepada bangsa Israel untuk terakhir kalinya, ia mendesak mereka untuk membuat pilihan yang benar dengan memperhatikan “segala perkataan hukum Taurat ini. . . . Sebab . . . itulah hidupmu” (32:46-47). Kehendak Allah bagi kita, itulah hidup. Firman-Nya, itulah hidup. Dan Yesus adalah Firman itu. Allah mungkin tidak memberikan resep khusus untuk setiap keputusan yang perlu kita ambil, tetapi Dia telah memberi kita teladan sempurna untuk kita ikuti, yaitu Yesus. Terkadang membuat keputusan yang benar tidaklah mudah, tetapi ketika firman-Nya menjadi petunjuk bagi kita dan kemuliaan-Nya menjadi tujuan kita, Allah akan memberikan hikmat kepada kita untuk membuat keputusan hidup yang benar. —JAL

Tuhan Yesus, kami tahu bahwa hikmat sejati diperoleh ketika kami
bersandar kepada-Mu. Tolonglah kami untuk mempercayai
Engkau dan untuk mencari wajah-Mu dan mengikuti kehendak-Mu
yang kami temukan dalam firman-Mu yang memberikan hidup.

Kita melihat bukti tuntunan Allah secara lebih jelas dengan melihat karya-Nya bagi kita di masa lalu.

Tempat Yang Sulit

Jumat, 20 September 2013

Tempat Yang Sulit

Baca: Kisah Para Rasul 8:4-8,26-35

Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. —Ibrani 13:5

Seorang ilmuwan yang sangat cakap dalam bidangnya memutuskan untuk bekerja di sebuah restoran cepat saji ketika ia harus mundur dari pekerjaannya karena adanya suatu perkembangan teknologi yang membuat tenaganya tidak lagi dibutuhkan. Suatu malam, seusai kegiatan pendalaman Alkitab yang kami ikuti, ia menceritakan bahwa keadaan tersebut memang menyulitkan, tetapi sekaligus menyadarkan dirinya. Ia berkata, “Ada satu hal baik yang dapat kulihat, yaitu anak-anak muda di tempat aku bekerja sekarang kelihatannya sangat tertarik dengan imanku.” Seorang anggota kelompok kami menanggapi, “Aku mengagumimu karena kerendahan hatimu. Aku yakin imanmu yang telah membuatmu dapat bersikap demikian.”

Seperti halnya kenalan saya ini, Filipus mungkin bertanya-tanya mengapa Allah menariknya dari tugas pelayanan di Samaria (Kis 8:4-8) untuk kemudian membawanya ke tengah-tengah padang gurun (ay.26). Namun Filipus kemudian bertemu dengan seseorang asal Etiopia yang membutuhkan bantuannya untuk memahami Kitab Suci (ay.27-35). Kini ia pun dapat mengerti mengapa ia ditempatkan di sana.

Ketika Yesus berjanji bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita (Mat. 28:20; Ibr. 13:5), Dia bermaksud mengatakan bahwa Dia akan senantiasa menyertai kita di masa senang maupun sulit. Tugas kita di masa-masa sulit dalam hidup ini adalah bekerja atau melayani dengan mengingat bahwa kita melakukannya untuk Allah, lalu menyaksikan bagaimana Allah bekerja menggenapi segala maksud-Nya.

Carilah Allah di tengah kesulitan Anda dan temukanlah apa yang sedang dikerjakan-Nya di dalam dan melalui Anda di sana. —RKK

Kekecewaan itu bagian dari rencana-Nya,
Tak ada hal baik yang tak diberikan-Nya;
Dari penolakan yang dialami kita menerima
Harta kasih-Nya yang tak terkira limpahnya. —Young

Apa yang lebih baik daripada jawaban Allah? Percaya kepada Allah yang baik dan maksud-Nya yang terbaik.

Allah Memiliki Rencana Lain

Rabu, 18 September 2013

Allah Memiliki Rencana Lain

Baca: 1 Petrus 1:1-9

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya. —Amsal 16:9

Sejak kecil, sahabat saya Linda, bercita-cita ingin menjadi misionaris dalam bidang medis. Ia sungguh mengasihi Tuhan dan ingin melayani-Nya sebagai seorang dokter sembari memberitakan Injil kepada orang-orang sakit di berbagai belahan dunia yang sangat membutuhkan bantuan medis. Namun Allah memiliki rencana lain. Linda memang menjadi misionaris dalam bidang medis, tetapi tidak melalui cara yang diharapkannya.

Pada usia 14 tahun, Linda mengalami suatu masalah kesehatan kronis yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit dan menjalani beberapa operasi dalam satu tahun. Ia pernah menderita meningitis (peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang) yang disebabkan oleh bakteri dan membuatnya koma selama 2 minggu serta buta selama 6 bulan. Ia pernah merayakan ulang tahunnya dua kali berturut-turut di rumah sakit—tanpa sempat pulang ke rumah sama sekali. Ia pernah mengalami beberapa peristiwa yang membuat orang tidak yakin ia masih dapat bertahan hidup. Namun demikian, Linda adalah pribadi yang paling bersemangat, penuh syukur, dan riang yang pernah Anda temui. Ia pernah bercerita kepada saya bahwa ia berharap dan berencana untuk menjadikan rumah sakit sebagai ladang misinya. Namun bukannya melayani Allah sebagai seorang dokter, ia kini melayani-Nya sebagai seorang pasien. Sesakit apa pun penderitaan yang dirasakannya, terang Tuhan terus terpancar dari dirinya.

Linda menunjukkan teladan dari pengajaran Rasul Petrus. Meski mengalami pencobaan, Linda tetap bersukacita, dan kemurnian imannya membawa “puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan” bagi Yesus Kristus (1Ptr. 1:6-7). —JAL

Tuhan, kami sangat bersyukur karena di mana pun kami berada,
kami dapat melayani-Mu. Tolonglah diriku untuk mencerminkan
citra-Mu di tengah keadaan yang kami hadapi saat ini, sekalipun
kami mungkin tidak berada pada keadaan yang kami harapkan.

Susunlah rencana-rencana Anda, tetapi ingatlah, Allah menentukan rencana yang terbaik bagi Anda.