Posts

Dalam Badai

Kamis, 2 Oktober 2014

Dalam Badai

Baca: Markus 4:35-41

4:35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang."

4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.

4:37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.

4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?"

4:39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.

4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"

4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?"

[Yesus] berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” —Markus 4:39

Dalam Badai

Badai sedang mengancam—tidak hanya di langit, tetapi juga dalam keluarga dari seorang teman. “Saat aku berada di Hong Kong,” ceritanya, “dinas meteorologi setempat mengumumkan bahwa badai hebat sedang mendekat. Namun lebih dari badai yang sedang mengancam di luar jendela, ada badai lain yang lebih besar mengancam di keluarga kami. Ketika ayahku dirawat di rumah sakit, anggota keluarga lainnya sedang kerepotan menyeimbangkan tanggung jawab di rumah dengan pekerjaan mereka, sambil juga mengatur waktu untuk pulang-pergi ke rumah sakit. Mereka merasa begitu lelah sehingga kesabaran makin menipis, dan keadaan di rumah kami sedang tegang-tegangnya.”

Kehidupan bisa terasa bagaikan badai yang melontarkan kita ke sana-kemari dalam pusaran angin kemalangan, kesedihan, atau stres. Ke mana kita dapat berlindung? Ketika murid-murid Yesus terperangkap dalam badai hebat dan mempertanyakan kepedulian-Nya, mereka tetap tahu kepada siapa mereka harus mencari pertolongan. Yesus menunjukkan kuasa- Nya dengan menenangkan badai yang menderu itu (Mrk. 4:38-39).

Namun sering kali Dia tidak langsung menenangkan badai tersebut. Dan, seperti para murid, kita mungkin merasa bahwa Dia tidak peduli. Untuk meredakan ketakutan yang kita rasakan, kita dapat berpegang teguh dalam keyakinan pada diri dan kesanggupan Allah. Kita dapat berlindung dalam naungan-Nya (Mzm. 91:1). Kita dapat memohon pertolongan-Nya untuk dapat mempunyai sikap penuh kasih dalam hubungan kita dengan sesama. Kita dapat berserah kepada Allah yang Mahakuasa, Mahabijak, dan Mahakasih. Allah menyertai kita di tengah badai dan membopong kita menembus badai itu. —PFC

Entah amukan samudra yang diterjang badai,
Atau perbuatan iblis atau manusia, apa pun juga
Tiada ombak yang bisa tenggelamkan bahtera saat
Sang Penguasa lautan, bumi, dan langit hadir di dalamnya. —Baker

Tak perlu kita berseru kencang; Dia lebih dekat daripada yang kita pikirkan. —Brother Lawrence

Sekokoh Batu Karang

Sabtu, 14 Juni 2014

Sekokoh Batu Karang

Baca: Mazmur 34:16-23

34:16 Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;

34:17 wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi.

34:18 Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.

34:19 TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.

34:20 Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;

34:21 Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah.

34:22 Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman.

34:23 TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.

Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong. —Mazmur 34:16

Sekokoh Batu Karang

Pada bulan Mei 2003, terjadi sebuah peristiwa yang tragis ketika “Si Pria Tua di Gunung” terbelah, runtuh dan terguling ke lereng gunung. Pahatan alam berbentuk wajah pria tua setinggi 12 meter itu terukir di pegunungan White Mountains di New Hampshire, Amerika Serikat. Wajah itu telah lama menjadi daya tarik bagi para wisatawan, kebanggaan bagi penduduk lokal, dan lambang resmi negara bagian tersebut. Nathaniel Hawthrone menulis tentang ukiran alam ini dalam cerita pendeknya yang berjudul The Great Stone Face (Wajah Batu yang Agung).

Sejumlah penduduk yang tinggal di sekitar daerah tersebut merasa sangat terpukul ketika Si Pria Tua itu runtuh. Seorang wanita berkata, “Saya tumbuh besar dengan perasaan bahwa seseorang selalu menjaga saya. Saya merasa kurang mendapat perhatian lagi sekarang ini.”

Adakalanya yang selama ini kita andalkan tidak lagi berada bersama kita. Sesuatu atau seseorang yang kita andalkan telah pergi, dan hidup kita pun terguncang. Mungkin kehilangan itu berupa seseorang yang kita cintai, atau sebuah pekerjaan, atau kesehatan yang baik. Rasa kehilangan itu membuat kita merasa goyah dan tidak stabil. Kita mungkin sampai berpikir bahwa Allah tidak lagi menjaga dan memperhatikan kita.

Namun “mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong” (Mzm. 34:16). Dia “dekat kepada orang-orang yang patah hati” (ay.19). Dialah Gunung Batu yang selalu dekat dan dapat kita andalkan (Ul. 32:4).

Kehadiran Tuhan memang nyata. Dia terus-menerus menjaga kita. Dia sekokoh batu karang. —AMC

Batu Karangku berdiri teguh,
Dia akan selalu hadir;
Menjaga semua milik-Nya
Menenangkan hati yang cemas. —Keith

Pertanyaannya bukanlah di manakah Allah, melainkan, adakah tempat di mana Dia tidak hadir?

Kristus Di Tengah Badai

Selasa, 29 April 2014

Kristus Di Tengah Badai

Baca: Markus 4:33-41

4:33 Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka,

4:34 dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

4:35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.”

4:36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.

4:37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.

4:38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”

4:39 Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.

4:40 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

4:41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”

Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya? —Markus 4:40

Kristus Di Tengah Badai

Dalam usianya yang ke-27, Rembrandt menghasilkan karya lukisan pemandangan laut yang diberi judul Kristus di Tengah Badai di Danau Galilea berdasarkan kisah dalam Injil Markus pasal 4. Dengan penggunaan perbedaan cahaya dan bayangan yang sangat tegas, lukisan Rembrandt menggambarkan sebuah perahu kecil yang terancam hancur di tengah badai yang sedang mengamuk kencang. Ketika para murid sedang berjuang melawan angin dan ombak, Yesus tidak terganggu sama sekali. Akan tetapi, aspek yang paling tidak biasa dari lukisan tersebut adalah kehadiran seorang murid ke-13 di dalam perahu tersebut yang menurut para ahli seni menyerupai sosok Rembrandt sendiri.

Injil Markus menggambarkan pelajaran gamblang yang diterima oleh para murid mengenai siapa diri Yesus dan apa yang bisa diperbuat-Nya. Sementara para murid dengan panik mencoba untuk menyelamatkan perahu yang akan tenggelam tersebut, Yesus justru tidur. Tidak pedulikah Dia bahwa mereka semua akan mati? (ay.38). Setelah Yesus menenangkan badai itu (ay.39), Dia mengajukan sebuah pertanyaan yang tajam, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (ay.40). Para murid justru menjadi semakin takut, dan mereka berkata seorang kepada yang lain, “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada- Nya?” (ay.41).

Kita juga dapat menempatkan diri kita dalam kisah tesebut dan, sama seperti para murid, mengetahui bahwa kepada setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, Dia akan menyatakan kehadiran, belas kasihan, dan kendali-Nya atas setiap badai dalam hidup kita. —DCM

Tenanglah hatiku, karena Allah setia,
Firman kudus-Nya murni, teruji, dan benar;
Walaupun badai menerjang dan laut menggelora,
Janji-Nya bagaikan batu pijakan yang kuat. —NN.

Allah adalah tempat perlindungan yang aman di tengah terjangan badai kehidupan.

Melampaui Batas Kemampuan

Selasa, 8 April 2014

Melampaui Batas Kemampuan

Baca: 2 Korintus 3:7-18

3:7 Pelayanan yang memimpin kepada kematian terukir dengan huruf pada loh-loh batu. Namun demikian kemuliaan Allah menyertainya waktu ia diberikan. Sebab sekalipun pudar juga, cahaya muka Musa begitu cemerlang, sehingga mata orang-orang Israel tidak tahan menatapnya. Jika pelayanan itu datang dengan kemuliaan yang demikian

3:8 betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh!

3:9 Sebab, jika pelayanan yang memimpin kepada penghukuman itu mulia, betapa lebih mulianya lagi pelayanan yang memimpin kepada pembenaran.

3:10 Sebenarnya apa yang dahulu dianggap mulia, jika dibandingkan dengan kemuliaan yang mengatasi segala sesuatu ini, sama sekali tidak mempunyai arti.

3:11 Sebab, jika yang pudar itu disertai dengan kemuliaan, betapa lebihnya lagi yang tidak pudar itu disertai kemuliaan.

3:12 Karena kami mempunyai pengharapan yang demikian, maka kami bertindak dengan penuh keberanian,

3:13 tidak seperti Musa, yang menyelubungi mukanya, supaya mata orang-orang Israel jangan melihat hilangnya cahaya yang sementara itu.

3:14 Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya.

3:15 Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka.

3:16 Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya.

3:17 Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.

3:18 Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.

Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan . . . kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya. —2 Korintus 3:18

Melampaui Batas Kemampuan

Saya mempunyai seorang teman yang rasanya lebih baik dari saya hampir dalam segala hal. Ia lebih pintar; berpikir lebih dalam; dan tahu buku-buku yang lebih baik untuk dibaca. Ia bahkan sering mengalahkan saya dalam permainan golf. Menghabiskan waktu bersamanya menantang saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih peduli kepada sesama. Keunggulannya atas saya telah mendorong saya untuk meraih dan melakukan hal-hal yang lebih baik.

Hal itu sejalan dengan prinsip rohani ini: Alangkah pentingnya menyediakan waktu merenungkan firman Allah agar kita dapat menjadi serupa dengan pribadi Kristus. Saat membaca tentang dampak kasih Yesus yang tak bersyarat bagi kita, saya pun tergerak untuk mengasihi sesama tanpa syarat. Belas kasihan dan anugerah-Nya yang cuma-cuma kepada manusia yang sungguh tidak layak menerimanya telah membuat saya malu pada keengganan saya mengampuni dan niat saya untuk membalas dendam.

Saya pun menjadi pribadi yang lebih bersyukur ketika menyadari bahwa meskipun hidup saya bobrok dan memalukan, Tuhan telah mengenakan keindahan dari kebenaran-Nya yang sempurna pada diri saya. Jalan-jalan-Nya yang ajaib dan hikmat-Nya yang tak tertandingi telah memotivasi dan mengubah diri saya. Rasanya sulit merasa puas dengan keberadaan diri saya sekarang ketika dalam hadirat-Nya saya didorong untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya.

Rasul Paulus mendorong kita untuk menikmati sukacita ketika memandang Kristus. Ketika melakukan hal itu, kita akan “diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2Kor. 3:18). —JMS

Tuhan, tolong kami untuk datang ke hadirat-Mu dengan mata hati
yang terbuka untuk menyadari keberadaan-Mu dan kehendak-Mu
atas hidup kami. Terima kasih untuk penyataan diri-Mu kepada kami
dan sukacita yang kami nikmati dari agungnya kemuliaan-Mu.

Perubahan pasti terjadi ketika kamu hidup selalu dekat dengan Tuhan.

Kamu Punya Sahabat

Rabu, 2 April 2014

Pindah

Cerita & Ilustrasi oleh Heri Kurniawan

Baca: Mazmur 23

23:1 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

23:2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;

23:3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

23:5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.

23:6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

[Yesus berkata,] “Aku menyebut kamu sahabat.” —Yohanes 15:15

Kamu Punya Sahabat

Salah satu konsekuensi ironis dari pesatnya pertumbuhan media sosial adalah kita justru sering merasa semakin terasing dan sendirian. Sebuah artikel online memperingatkan: “Orang-orang yang menolak untuk mengutamakan atau semata-mata menjalani kehidupan melalui dunia maya mengakui bahwa teman-teman di dunia maya tidaklah sebanding dengan para sahabat di dunia nyata, dan . . . orang-orang yang menjadikan teman-teman di dunia maya sebagai pengganti dari sahabat-sahabat di dunia nyata justru lebih merasa kesepian dan lebih mengalami depresi daripada sebelumnya.”

Terlepas dari teknologi, setiap dari kita pernah berjuang melawan masa-masa kesepian dan bertanya-tanya apakah ada seorang pun yang mengenal, mengerti, atau bahkan mempedulikan berbagai beban yang sedang kita tanggung dan perjuangan yang sedang kita hadapi. Akan tetapi, para pengikut Kristus mendapatkan jaminan yang memberikan penghiburan pada hati kita yang gelisah. Kehadiran Sang Juruselamat yang memberikan penghiburan telah dijanjikan dalam kata-kata yang tidak dapat disangkal lagi, seperti yang dituliskan oleh Daud sang pemazmur, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Mzm. 23:4).

Ketika kita merasa sendirian, baik sebagai akibat dari pilihan hidup kita sendiri, atau oleh tren budaya yang ada di sekitar kita, atau oleh penderitaan hidup yang menyakitkan, percayalah bahwa semua orang yang mengenal Kristus dapat berharap pada kehadiran Sang Gembala hati kita. Sungguh, Yesus adalah Sahabat kita yang sejati! —WEC

Kutemukan Sahabat; sungguh Sahabat sejati!
Dia mengasihiku sebelum kukenal Dia;
Dia menarikku dengan dawai-dawai kasih
Sehingga kutertambat pada-Nya. —Small

Setiap orang yang mengenal Yesus sebagai Sahabatnya tidak akan pernah sendirian.

Di Tengah Ketakutan Kita

Selasa, 11 Februari 2014

Di Tengah Ketakutan Kita

Baca: 1 Raja-Raja 17:17-24

17:17 Sesudah itu anak dari perempuan pemilik rumah itu jatuh sakit dan sakitnya itu sangat keras sampai tidak ada nafasnya lagi.

17:18 Kata perempuan itu kepada Elia: “Apakah maksudmu datang ke mari, ya abdi Allah? Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?”

17:19 Kata Elia kepadanya: “Berikanlah anakmu itu kepadaku.” Elia mengambilnya dari pangkuan perempuan itu dan membawanya naik ke kamarnya di atas, dan membaringkan anak itu di tempat tidurnya.

17:20 Sesudah itu ia berseru kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, Allahku! Apakah Engkau menimpakan kemalangan ini atas janda ini juga, yang menerima aku sebagai penumpang, dengan membunuh anaknya?”

17:21 Lalu ia mengunjurkan badannya di atas anak itu tiga kali, dan berseru kepada TUHAN, katanya: “Ya TUHAN, Allahku! Pulangkanlah kiranya nyawa anak ini ke dalam tubuhnya.”

17:22 TUHAN mendengarkan permintaan Elia itu, dan nyawa anak itu pulang ke dalam tubuhnya, sehingga ia hidup kembali.

17:23 Elia mengambil anak itu; ia membawanya turun dari kamar atas ke dalam rumah dan memberikannya kepada ibunya. Kata Elia: “Ini anakmu, ia sudah hidup!”

17:24 Kemudian kata perempuan itu kepada Elia: “Sekarang aku tahu, bahwa engkau abdi Allah dan firman TUHAN yang kauucapkan itu adalah benar.”

Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu. —Mazmur 56:4

Di Tengah Ketakutan Kita

Setelah kami menikah selama 12 tahun, saya dan istri merasa kecewa karena terombang-ambing oleh pasang-surutnya harapan kami untuk memiliki anak. Seorang teman kami berusaha membantu untuk “menjelaskan” maksud Allah. “Mungkin Allah tahu kalau kau akan menjadi ayah yang buruk,” katanya. Teman saya ini tahu betul bahwa ibu saya pernah bergumul dengan sifatnya yang pemarah.

Kemudian pada Natal tahun 1988, kami mendapat kabar gembira bahwa istri saya sedang mengandung anak kami yang pertama! Namun setelah itu saya kembali dihantui oleh perasaan takut gagal.

Pada Agustus 1989, Kathryn pun hadir di tengah keluarga kami. Ketika para perawat dan dokter sedang menangani istri saya, Kathryn menangis di atas ranjang penghangatnya. Saya mengulurkan tangan untuk menghiburnya, dan jari-jari mungilnya menggenggam erat jari saya. Segera pada saat itu, Roh Kudus menjamah hati saya untuk meyakinkan diri saya tentang apa yang menjadi keraguan saya belakangan ini—keraguan bahwa saya akan dapat menunjukkan kasih kepada anak kami yang mungil ini!

Janda di Sarfat juga merasa ragu. Putranya telah menderita penyakit yang mematikan. Dalam keputusasaan, ia berseru, “Singgahkah engkau kepadaku untuk mengingatkan kesalahanku dan untuk menyebabkan anakku mati?” (1Raj. 17:18). Namun Allah memiliki rencana lain!

Kita melayani Allah yang jauh lebih berkuasa daripada pergumulan yang kita hadapi. Allah sangat rindu untuk mengampuni, mengasihi, serta memulihkan kehancuran yang ada di antara kita dengan-Nya. Allah hadir di tengah rasa takut yang mencekam kita. —RKK

Bapa, nyatakanlah diri-Mu kepada kami di tengah kelemahan kami
dan dalam ketakutan kami yang terbesar. Ajarilah kami menerima
kasih-Mu dengan satu cara yang memampukan kami untuk menyatakannya
kepada sesama, terutama mereka yang terdekat dengan kami.

Kasih memberi kekuatan untuk menghadapi segala ketakutan yang semu dalam hidup.

Tidak Akan Merasa Hampa

Rabu, 18 Desember 2013

Tidak Akan Merasa Hampa

Baca: Mazmur 107:1-9

Sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan. —Mazmur 107:9

Cucu kami, Julia, pernah menghabiskan musim panas dengan melayani di panti asuhan di Busia, Uganda. Di hari terakhirnya di sana, ia menemui setiap anak untuk mengucapkan salam perpisahan. Seorang gadis kecil bernama Sumaya menjadi sangat sedih dan berkata padanya, “Besok kau akan meninggalkan kami, dan minggu depan bibi-bibi (para pekerja) yang lain juga akan pergi.”

Ketika Julia mengiyakan kepergiannya, Sumaya berpikir sejenak dan berkata, “Kami merasa benar-benar hampa karena kalian semua akan pergi!” Sekali lagi, Julia mengiyakan ucapannya. Gadis kecil itu lanjut berpikir beberapa saat, lalu berkata, “Tetapi Allah akan menyertai kami, jadi kami tidak akan merasa benar-benar hampa.”

Bila jujur pada diri sendiri, kita juga tahu perasaan “benar-benar hampa” itu. Inilah kehampaan yang tak akan pernah dipuaskan oleh persahabatan, cinta, seks, uang, kuasa, ketenaran, atau kesuksesan. Inilah keinginan akan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, sesuatu yang sangat berharga tetapi yang kini hilang. Setiap hal yang baik dapat mengingatkan, mengisyaratkan, dan membangkitkan kerinduan besar dalam diri kita untuk meraih “sesuatu yang lebih” itu. Yang bisa kita nikmati hanyalah bayangan, indahnya wajah seseorang, suatu lukisan, sebuah pemandangan yang dapat hilang dalam sekejap. C. S. Lewis berkata, “Kerinduan adalah milik kita yang terbaik.”

Kita telah diciptakan untuk Allah, dan pada akhirnya, tidak ada satu hal pun yang dapat memuaskan kita. Tanpa Dia, kita memang benar-benar hampa. Hanya Dia yang dapat memuaskan jiwa yang lapar dengan berbagai kebaikan (Mzm. 107:9). —DHR

Ya Tuhan, penuhilah aku dengan kebaikan dan kasih-Mu.
Tidak ada yang kuingini di bumi dan surga selain Engkau.
Tanpa Engkau, aku tidak memiliki apa-apa. Terima kasih untuk
kepuasan abadi yang dapat kami temukan di dalam Engkau.

Allah takkan memberi kita kebahagiaan dan damai terlepas dari diri-Nya, sebab hal itu memang tidak ada. —C. S. Lewis

Pahlawan Kita Yang Tak Kenal Rasa Takut

Jumat, 15 November 2013

Pahlawan Kita Yang Tak Kenal Rasa Takut

Baca: Matius 8:23-34

Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya? —Matius 8:26

Sewaktu saya masih kanak-kanak, saya pernah merasa sangat takut untuk tidur di malam hari. Segera setelah orangtua saya mematikan lampu kamar tidur, saya membayangkan tumpukan baju kotor di atas kursi akan berubah bentuk menjadi seekor naga yang ganas. Saya juga membayangkan ada sesosok makhluk mengerikan di bawah tempat tidur, dan itu membuat saya panik dan tidak berani memejamkan mata.

Saya telah menyadari bahwa rasa takut yang melumpuhkan itu tidak hanya terjadi pada waktu saya kecil. Sekarang, rasa takut juga menghalangi kita untuk mau mengampuni, untuk mempunyai sikap yang benar di tengah pekerjaan, untuk menyerahkan harta bagi Kerajaan Allah, atau untuk berani menolak dosa dan tidak terbawa oleh arus yang menyesatkan. Jika kita menghadapi semua itu seorang diri, kita akan berhadapan dengan banyak “naga yang ganas” dalam hidup ini.

Dalam kisah tentang para murid yang berada dalam perahu yang diombang-ambingkan badai, saya tertegun saat menyadari bahwa satu-satunya pribadi yang tidak diliputi ketakutan hanyalah Yesus. Dia tidak takut terhadap angin ribut, terhadap orang gila di pekuburan, ataupun kepada sepasukan setan yang merasuki orang tersebut (Mat. 8:23-34).

Ketika dihadapkan dengan rasa takut, kita perlu mendengar pertanyaan Yesus, “Mengapa kamu takut?” (ay.26). Kita diingatkan kembali bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan ataupun meninggalkan kita (Ibr. 13:5-6). Tak ada satu hal pun yang tak dapat diatasi-Nya, sehingga tak ada satu hal pun yang ditakuti-Nya. Jadi, ketika kelak Anda dicekam rasa takut, ingatlah bahwa Anda dapat mengandalkan Yesus, Pahlawan kita yang tak kenal rasa takut! —JMS

Tuhan, terima kasih karena Engkau mengingatkanku bahwa Engkau
takkan membiarkan atau meninggalkanku. Saat aku takut, aku tahu
aku dapat mengandalkan penyertaan-Mu dan kuasa-Mu
untuk menenangkan hatiku dan mengatasi ketakutanku.

Ketika rasa takut mencekam, berserulah kepada Yesus, Pahlawan kita yang tak kenal rasa takut.

Keyakinan Di Masa Sulit

Senin, 23 September 2013

Keyakinan Di Masa Sulit

Baca: Mazmur 91

Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa. —Mazmur 91:1

Ada anak-anak yang suka membual tentang ayah mereka. Jika Anda kebetulan mendengarkan percakapan di antara mereka, Anda akan mendengar anak kecil berkata, “Ayahku lebih jago dari ayahmu!” atau “Ayahku lebih pintar dari ayahmu!” Akan tetapi bualan terbesar yang bisa diucapkan adalah, “Ayahku lebih kuat dari ayahmu!” Bualan ini biasanya diucapkan dengan niat untuk memperingatkan anak-anak lain; andai kata mereka mengancam anak ini, mereka harus siap-siap menghadapi ayahnya yang lebih kuat dan yang bisa mengalahkan mereka semua, termasuk ayah mereka!

Mempercayai bahwa ayah Anda adalah yang terkuat di antara ayah-ayah lainnya dapat mengilhami rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi suatu bahaya. Inilah mengapa saya menyukai kenyataan bahwa Allah Bapa kita itu Mahakuasa. Ini berarti tidak seorang pun dapat menandingi kekuatan dan kuasa-Nya. Lebih hebatnya lagi, itu berarti Anda dan saya “bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa” (Mzm. 91:1). Jadi, tidaklah mengherankan jika sang pemazmur dapat dengan yakin mengatakan bahwa ia “tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang” (ay.5).

Terlepas dari apa yang akan terjadi hari ini atau masalah yang sedang Anda hadapi saat ini, janganlah lupa bahwa Allah lebih kuat daripada apa pun yang terjadi di dalam hidup Anda. Jadi, yakinlah! Naungan kehadiran-Nya yang senantiasa menyertai Anda telah menjamin bahwa kuasa-Nya dapat mengubah situasi seburuk apa pun menjadi sesuatu yang baik. —JMS

Bapa surgawi, di tengah masalah yang kuhadapi,
ajarku untuk bersandar pada kenyataan bahwa Engkau
Mahabesar. Terima kasih atas keyakinan yang kumiliki bahwa
Engkau jauh lebih kuat dari apa pun yang mengancam hidupku.

Allah lebih besar daripada masalah kita yang terbesar.