Posts

4 Rumus untuk Menyampaikan Teguran

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

“Dia berbuat salah. Kamu dong yang tegur dia.”

“Eh, kok aku? Jangan aku lah. Kamu saja. Kan kamu temannya.”

Percakapan di atas adalah secuplik pengalamanku ketika aku tidak berani untuk menegur seseorang. Sebagai seorang yang tidak suka terlibat konflik, menegur seseorang adalah hal yang cukup menakutkan buatku. Aku takut kalau-kalau relasi dengan temanku yang baik-baik saja jadi rusak karena sebuah teguran yang kulayangkan. Acap kali ketika aku melihat temanku berbuat salah, aku malah meminta orang lain saja yang menegurnya.

Kurasa aku tidak sendirian menghadapi hal seperti itu. Mungkin ada banyak dari kita juga yang enggan apabila harus menegur seseorang, meski kita tahu betul bahwa apa yang orang itu perbuat tidak benar. Kita ingin berada di posisi aman. Sehingga, kalaupun harus menegur, orang lain saja deh yang memberi teguran itu.

Namun, pemikiran mencari “damai” tersebut bukanlah pilihan yang paling tepat. Sebagai orang Kristen, kita memang dipanggil untuk mengusahakan perdamaian dengan sesama manusia (Roma 12:18), tapi panggilan ini tidak bisa diartikan juga sebagai berdiam diri atau membiarkan. Alkitab memberikan kita beberapa contoh mengenai hal ini.

Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus pernah terlibat pertentangan dengan Kefas. Paulus mengetahui bahwa Kefas telah berbuat salah dengan bertindak seperti orang munafik. Paulus pun menegur Kefas dengan keras, “Kalau Saudara sebagai orang Yahudi sudah hidup seperti orang bukan Yahudi, mengapa Saudara sekarang mau memaksa orang-orang lain hidup seperti orang Yahudi?” (Galatia 2:14 BIS).

Contoh lainnya dapat kita temukan dalam Matius 14:1-10. Pada masa itu, Yohanes Pembaptis pernah menegur Herodes, katanya: “Tidak halal engkau mengambil Herodias!” (ayat 4). Teguran ini membuat Herodes marah sehingga dia ingin membunuh Yohanes Pembaptis.

Mungkin respons Herodes itu terdengar begitu menyeramkan. Namun, kisah ini menjadi pengingat buat kita bahwa menyuarakan kebenaran melalui teguran itu pasti berisiko. Dan, kebenaran itu bukanlah berita hiburan, apalagi buat mereka yang melakukan kesalahan. Oleh sebab itu, dalam panggilan kita untuk berani menyuarakan kebenaran, kita tidak bisa melakukannya secara sembarangan. Ada empat rumus yang perlu kita perhatikan saat kita ingin menegur dan menyatakan kebenaran kepada seseorang.

1. Yang menegur haruslah orang yang menjalani apa yang dia tegur

Bahasa singkat dari poin ini adalah: integritas. Apa yang kita ucapkan lewat mulut kita haruslah sesuatu yang sepadan dengan perbuatan kita. Kita tidak mungkin menegur seseorang supaya dia berhenti mengonsumsi minum minuman keras selama kita sendiri menjadi pengonsumsi rutin minuman tersebut. Pun kita tidak mungkin meminta teman kita untuk jujur dalam ujian kalau kita sendiri dikenal sebagai seorang yang jago menyontek.

Ada sebuah lagu yang liriknya berkata:

“Hidupmu kitab terbuka, dibaca sesamamu. Apakah tiap pembacanya melihat Kristus dalammu?”

Ibarat dua sisi mata uang, kita tidak bisa melepaskan antara perkataan dengan perbuatan. Keduanya harus senada.

2. Pikirkan apa yang menjadi tujuan kita ketika menegur seseorang

Ketika kita menegur seseorang, apakah yang sesungguhnya menjadi tujuan kita? Apakah kita ingin supaya kita terlihat lebih baik daripada orang itu? Atau, apakah kita menegur demi kebaikannya?

Meski kita tahu bahwa kita ada di posisi yang benar, tugas kita bukanlah memegahkan diri atas posisi kita. Ketika kita menegur, kita harus melakukannya dalam kerangka penggembalaan. Chuck Swindoll pernah berkata, “Saat menegur seseorang, kita patut memiliki satu tujuan: untuk memulihkan dan bukan mempermalukan dirinya.”

Ketika kita memahami apa tujuan kita dalam menegur, kita bisa membimbing orang yang kita tegur itu untuk secara perlahan berjalan kembali di jalan yang sesuai firman Tuhan. Ingat, ketika kita memiliki tujuan untuk kebaikan orang yang kita tegur, maka teguran kita itu ditujukan bukan untuk membuangnya dari komunitas kita, tetapi menariknya kembali untuk menyadari kesalahannya dan berbalik pada kebenaran.

3. Tegurlah di dalam kasih

Dalam ceritaku di awal tulisan ini, aku pernah merasa takut untuk menegur teman atau sahabatku dengan alasan aku takut relasi ini rusak. Padahal, jika aku pikirkan kembali, seharusnya kedekatan relasi ini memberiku peluang lebih untuk bisa menyampaikan teguran. Ketika aku bersahabat karib dan terbuka dengan seseorang, besar kemungkinan dia mau mempercayai teguran yang kusampaikan.

Namun, perlu diingat, relasi yang dekat bukan berarti membuat kita bisa bersikap secara asal-asalan. Firman Tuhan menasihatkan agar kita menyampaikan kebenaran dalam kasih. Dalam Matius 18:15, Yesus berkata:

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.”

Ketika seseorang berbuat salah, Yesus tidak meminta kita untuk menyebarkan kesalahan itu kepada banyak orang. Melainkan, Yesus meminta kita untuk menegurnya secara empat mata. Sampaikanlah teguran itu dengan rendah hati. Pikirkanlah kata-kata yang tepat dan membangun, bukan caci maki dan umpatan. Serta mintalah pertolongan Roh Kudus agar melalui kata-kata yang kita ucapkan, orang tersebut dapat dilembutkan hatinya.

Hal ini pun berlaku apabila orang yang ingin kita tegur secara relasi tidak terlalu dekat dengan kita layaknya sahabat. Mungkin kita tidak langsung menegur orang itu seketika itu juga, tetapi kita bisa meminta pertolongan dari Roh Kudus untuk memberi kita momen yang tepat serta hikmat supaya kita dapat menyampaikan kebenaran. Ketika momen itu datang, kita bisa mengajak orang tersebut untuk berbicara empat mata dengan kita.

Kita harus menyadari bahwa menegur seseorang adalah perbuatan yang memiliki konsekuensi. Seperti yang disebutkan di bagian atas tulisan ini, teguran bukanlah berita hiburan. Mungkin saja ada penolakan atau pembenaran diri yang ditunjukkan oleh orang yang kita tegur. Oleh sebab itu, dengan menyadari hal ini, kita bisa menemukan cara apa yang paling tepat untuk menyampaikan kebenaran tersebut.

Suatu ketika aku pernah harus menegur sahabatku. Dia sudah kuliah selama 13 semester dan belum lulus juga. Di satu sisi aku takut, tapi di sisi lainnya aku tahu bahwa tidak baik jika dia tidak serius mengerjakan skripsinya. Konsekuensi buruk dari teguran ini adalah sahabatku merasa tersinggung atau masa bodoh. Untuk meminimalisirnya, strategiku adalah tidak langsung menelponnya dengan mengata-ngatai dia kalau skripsinya lama dan sejenisnya. Aku coba mendatanginya, mengajaknya minum teh panas supaya menciptakan suasana yang hangat dan santai. Barulah aku mengatakan padanya bahwa ada yang salah dalam cara dia mengerjakan skripsinya, dan aku mengakhiri teguranku dengan menawarkan diri untuk menolongnya dengan menjadi editor typo buat skripsinya. Puji Tuhan, sekarang skripsinya telah tiba di bab terakhir.

4. Simple but powerful: selalu doakan orang yang kita tegur

Meski kita sudah bertindak sebaik dan sebijak mungkin, bisa saja orang yang kita tegur tetap merasa tidak terima dan kita kehilangan relasi dengan mereka. Namun, jangan menyerah. Dalam sebuah artikel yang kubaca di sini, aku mendapati bahwa hal yang sederhana namun berkuasa yang bisa kita tetap lakukan adalah: berdoa.

Ketika kita mendoakan orang itu, sesungguhnya kita tidak hanya memohon agar Tuhan mengubahkan hati orang yang kita doakan, melainkan juga kita belajar untuk mendekatkan diri kita kepada hati Tuhan. Dalam Kejadian 18, dikisahkan bahwa Allah murka dan ingin memusnahkan Sodom dan Gomora. Namun Abraham terus berdoa supaya Tuhan sekiranya berkenan tidak memusnahkan kota itu kalau sedikitnya ada 10 orang benar di sana. Tuhan pun menjawab doa Abraham dengan menyelamatkan keluarga Lot dari murka-Nya.

Adakah seseorang yang Tuhan letakkan di hatimu untuk kamu tegur? Jika ada, marilah kita mulai dengan berdoa untuknya sekarang.

Baca Juga:

Aku Memberi Persepuluhan Karena Motivasi yang Salah

Aku berjemaat di sebuah gereja kecil. Setiap uang yang diberikan oleh anggota jemaat sangat berarti untuk keuangan gereja. Aku pun memberikan persepuluhanku ke gereja itu. Tapi, lama-lama aku merasa persepuluhan ini membebaniku.

Sesendok Gula

Selasa, 15 April 2014

Sesendok Gula

Baca: Mazmur 19:8-15

19:8 Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.

19:9 Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya.

19:10 Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya,

19:11 lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.

19:12 Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar.

19:13 Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.

19:14 Lindungilah hamba-Mu, juga terhadap orang yang kurang ajar; janganlah mereka menguasai aku! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar.

19:15 Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.

Hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, . . . dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah. —Mazmur 19:10-11

Sesendok Gula

Saya merindukan Mary Poppins. Mary adalah tokoh rekaan dalam serial film kuno yang bekerja sebagai seorang pengasuh anak dan terkenal dengan ucapannya, “Sesendok gula dapat membuat obat yang pahit jadi mudah ditelan.” Sebenarnya saya bukan ingin menyaksikan kembali film-film yang riang tetapi tidak realistis seperti itu, melainkan sedang merindukan adanya orang-orang yang mempunyai pandangan terhadap suatu masa depan yang optimis dan realistis. Saya merindukan orang-orang yang kreatif dan ceria, yang dapat menunjukkan sisi positif dari sesuatu yang kita anggap negatif.

Ternyata Daud menulis sebuah pujian yang mengungkapkan kebenaran serupa. Ia menulis, “hukum-hukum TUHAN itu . . . lebih manis dari pada madu” (Mzm. 19:10-11). Kita jarang mendengar bahwa kebenaran itu manis. Kita lebih sering mendengar bahwa kebenaran itu pahit atau bahkan sulit untuk ditelan. Namun kebenaran lebih dari sekadar obat yang dapat menyembuhkan, melainkan suatu asupan yang bermanfaat untuk mencegah penyakit. Kebenaran bukanlah vaksinasi atau suntikan. Kebenaran adalah makanan kelas atas yang sepatutnya dihidangkan sebagai santapan terlezat yang memikat mereka yang lapar untuk mengecap dan melihat “betapa baiknya TUHAN itu” (Mzm. 34:9).

Kita menyanyikan pujian “Yesus nama termanis yang kukenal,” tetapi ada di antara kita yang menampilkan-Nya seolah-seolah Dia bukanlah yang termanis. Kebenaran yang murni dan tidak tercemar oleh kecongkakan merupakan santapan yang termanis dan tersegar bagi semua jiwa yang merindukan asupan rohani. Kita diberikan kehormatan untuk menghidangkannya bagi dunia yang sedang kelaparan. —JAL

Yesus nama termanis yang kukenal,
Dan memang Dia seindah nama-Nya,
Karena itulah aku begitu mengasihi-Nya;
Ya, Yesus nama termanis yang kukenal. —Long

Kebenaran [TUHAN] tetap untuk selama-lamanya. —Mazmur 117:2 FAYH

Pasti Terbang

Rabu, 31 Juli 2013

Pasti Terbang

Baca: Roma 3:21-26

Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. —1 Korintus 15:22

Badai yang hebat menunda penerbangan kami ke Frankfurt, dan akibatnya kami ketinggalan pesawat untuk penerbangan selanjutnya. Kami diberi tahu bahwa kami dipastikan bisa terbang dengan penerbangan lain besok malam. Namun ketika malam itu kami tiba di gerbang, mereka mengumumkan bahwa kami masih harus menunggu. Penerbangan itu ternyata penuh.

Pada saat itu, saya bertanya-tanya apakah telah terjadi kesalahpahaman atau memang demikian cara mereka menangani para penumpang yang ketinggalan pesawat. Jika penumpang sebelumnya diberi tahu bahwa mereka masih harus menunggu, mereka pasti tidak senang. Mungkin karena itulah petugas sengaja menyembunyikan informasi tersebut.

Syukurlah, Allah tidak berbuat demikian. Dia dengan jelas memberitahukan segala yang perlu kita ketahui supaya kita bisa ke surga. Alkitab menyatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rm. 3:23). Allah memberi gambaran yang jelas tentang dosa kita di dalam Kejadian 3 supaya Dia bisa memberi kita solusi-Nya yang lengkap dan seutuhnya.

Solusi yang Allah berikan di Roma 3:24 menyatakan, “Oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Allah mengutus Anak-Nya yang tidak berdosa untuk mati menebus kita. Pengorbanan-Nya di kayu salib menyediakan pengampunan bagi kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah menerima anugerah cuma-cuma itu dengan iman kita. Saya sangat bersyukur, sedari awal Allah telah memberitahukan kebenarannya! Dia tidak membiarkan kita mencari-cari jalan kita sendiri. —CPH

Terima kasih, Allah Mahabesar, karena Engkau tak menyembunyikan
kebenaran dari kami. Engkau menunjukkan kepada kami betapa dosa
merusak hidup kami dengan tujuan untuk menegaskan dahsyatnya
karya Yesus Kristus dalam memerdekakan kami.

Karya Yesus menyelamatkan kita; firman Allah meyakinkan kita.