Posts

Masihkah Ada Harapan?

Jumat, 15 Agustus 2014

KomikStrip-WarungSateKamu-20140815-Masihkah-Ada-Harapan

Baca: Matius 28:1-10

28:1 Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu.

28:2 Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya.

28:3 Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju.

28:4 Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati.

28:5 Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: "Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu.

28:6 Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.

28:7 Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu."

28:8 Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.

28:9 Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.

28:10 Maka kata Yesus kepada mereka: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku."

“Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya.” —Matius 28:6

Masihkah Ada Harapan?

Saya duduk terdiam di samping makam ayah saya, sambil menunggu dimulainya upacara pemakaman ibu saya yang diadakan oleh keluarga. Pegawai rumah duka sedang membawa wadah yang berisi abu jenazah ibu saya. Hati saya terasa beku dan pikiran saya begitu kalut. Bagaimana mungkin saya dapat mengatasi kesedihan atas kepergian Ayah dan Ibu yang hanya berselang 3 bulan? Dalam duka, saya merasa begitu kehilangan dan kesepian. Saya pun merasa tidak berdaya menghadapi masa depan tanpa mereka berdua.

Kemudian sang pendeta membacakan tentang suatu makam yang lain. Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar, sejumlah wanita pergi ke kubur Yesus membawa rempah-rempah yang telah mereka siapkan untuk jasad Yesus (Mat. 28:1; Luk. 24:1). Setibanya di sana, mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu dan ada seorang malaikat. Kata malaikat itu kepada mereka, “Janganlah kamu takut” (Mat. 28:5). Mereka tidak perlu merasa takut karena kosongnya kubur itu atau kepada sang malaikat, karena malaikat itu membawa kabar baik untuk mereka.

Harapan dalam hati saya pun bangkit saat saya mendengar perkataan selanjutnya, “Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya” (ay.6). Karena Yesus telah hidup kembali, maut pun sudah ditaklukkan! Yesus mengingatkan para pengikut-Nya hanya beberapa hari sebelum kematian-Nya, “Sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup” (Yoh. 14:19).

Meski merasa sedih karena kehilangan orang yang kita kasihi, kita mendapat pengharapan melalui kebangkitan Yesus dan janji yang diberikan-Nya akan adanya kehidupan setelah kematian. —AMC

Terima kasih, Tuhan, untuk penghiburan dan pengharapan dari-Mu.
Apakah yang dapat kami lakukan tanpa Engkau? Kematian dan
kebangkitan-Mu memberikan segala sesuatu yang kami butuhkan
untuk hidup kami yang sekarang ini dan yang akan datang.

Sebab Dia hidup, kita pun hidup.

Siapakah Orang Ini?

Selasa, 1 Juli 2014

Siapakah Orang Ini?

Baca: Matius 27:32-44

27:32 Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.

27:33 Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak.

27:34 Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya.

27:35 Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi.

27:36 Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia.

27:37 Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: "Inilah Yesus Raja orang Yahudi."

27:38 Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya.

27:39 Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala,

27:40 mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!"

27:41 Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata:

27:42 "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.

27:43 Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah."

27:44 Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga.

Dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. —Roma 1:4

Siapakah Orang Ini?

Sewaktu Kelly Steinhaus mengunjungi Harvard Square untuk menanyai para mahasiswa tentang Yesus, pendapat yang mereka berikan mengungkapkan suatu rasa hormat pada diri-Nya. Seorang mengatakan, “Dia begitu peduli pada sesama manusia.” Yang lain mengatakan, “Sepertinya Dia orang yang menyenangkan.” Yang lain menolak- Nya mentah-mentah: “Dia hanya manusia biasa. Kurasa Dia bukan Juruselamat.” Ada pula yang berkata, “Aku tidak bisa menerima keyakinan atau agama yang menyatakan, ‘Akulah satu-satunya jalan kepada Allah.’” Ada yang memang serius memikirkan tentang Yesus tetapi ada juga yang menolak-Nya.

Ketika Yesus menghadapi kematian-Nya 2000 tahun yang lalu, banyak orang yang melecehkan pemikiran bahwa Dia adalah seorang yang istimewa. “Di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: ‘INILAH YESUS RAJA ORANG YAHUDI’” (Mat. 27:37). Mereka yang berkata, “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu!” (ay.40) telah meragukan kuasa-Nya. Para pemuka agama bahkan berkata, “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!” (ay.42).

Dalam kematian-Nya, kelihatannya Yesus tidak berdaya sama sekali. Namun ketika membaca keseluruhan kisahnya, kita melihat bahwa Dia telah menyerahkan nyawa-Nya dengan rela. Dia membuktikan bahwa diri-Nya memang Anak Allah dengan kuasa tak terbatas ketika Dia bangkit dari kubur. Hayatilah kematian-Nya dan saksikanlah kuasa kebangkitan-Nya. Dialah Juruselamat dunia! —JDB

Bangkitlah Dia megah,
Kuasa Iblis patah menyerah;
Alam maut sudah dikalahkan-Nya,
Ia hidup dan berkuasa s’lamanya! —Lowry
(Kidung Jemaat, No. 195)

Kebangkitan Yesus telah menaklukkan kuasa maut.

Kemenangan Atas Kematian!

Senin, 21 April 2014

Kemenangan Atas Kematian!

Baca: Yohanes 5:24-30

5:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.

5:25 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.

5:26 Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.

5:27 Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia.

5:28 Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya,

5:29 dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum.

5:30 Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.

Waktunya akan datang bahwa semua orang yang sudah mati mendengar suara-Nya, lalu keluar dari kuburan. —Yohanes 5:28-29 (BIS)

Kemenangan Atas Kematian!

Sebuah lukisan kuno yang baru-baru ini saya lihat meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Lukisan itu berjudul Anastasis yang berarti “kebangkitan”, dan menggambarkan kemenangan gemilang Kristus atas kematian dengan cara yang sangat menakjubkan. Pada lukisan itu digambarkan Tuhan Yesus, yang baru saja bangkit dari kubur-Nya, sedang menarik Adam dan Hawa keluar dari peti mati mereka untuk dibawa- Nya menuju hidup yang kekal. Yang luar biasa dari karya itu adalah penggambarannya tentang bagaimana kematian jasmani dan rohani, yang merupakan akibat dari kejatuhan manusia ke dalam dosa itu, secara dramatis diputarbalikkan oleh Kristus yang bangkit.

Sebelum kematian-Nya di kayu salib, Tuhan Yesus menggambarkan suatu hari di masa yang akan datang ketika Dia akan memanggil semua orang yang percaya ke dalam suatu keberadaan yang baru dan mulia: “Waktunya akan datang bahwa semua orang yang sudah mati mendengar suara-Nya, lalu keluar dari kuburan” (Yoh. 5:28-29 BIS).

Kemenangan Kristus atas kematian membuat kubur bukan akhir dari segalanya. Memang wajar kita merasa sedih dan berduka ketika orang-orang yang kita kasihi meninggal dunia dan kita dipisahkan dari mereka dalam kehidupan ini. Namun orang yang percaya tidaklah berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan (1Tes. 4:13). Dampak dari kebangkitan Yesus adalah bahwa semua orang Kristen kelak akan dipanggil keluar dari kubur mereka untuk diberikan tubuh kebangkitan yang mulia (1Kor. 15:42-44). Maka “demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan” (1Tes. 4:17). —HDF

Tuhan, kami bersyukur untuk pengorbanan-Mu atas dosa kami
sehingga kami boleh hidup. Kami berterima kasih, karena Engkau
mati dan bangkit kembali, kami punya jaminan bahwa suatu hari
nanti kami akan bersama-Mu di surga di mana tak ada kematian lagi.

Karena Kristus hidup, kita juga akan hidup.

Paskah Setiap Hari

Minggu, 20 April 2014

Paskah Setiap Hari

Baca: Ibrani 10:11-18

10:11 Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa.

10:12 Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah,

10:13 dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya.

10:14 Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.

10:15 Dan tentang hal itu Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita,

10:16 sebab setelah Ia berfirman: “Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu,” Ia berfirman pula: “Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka,

10:17 dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.”

10:18 Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa.

Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. —Matius 28:6

Paskah Setiap Hari

Suatu hari, seorang sahabat saya yang bekerja sebagai guru taman kanak-kanak mendengar pembicaraan yang meriah di antara murid-muridnya. Seorang anak bernama Maria bertanya: “Siapa yang mengasihi Tuhan?” Semua temannya menjawab, “Aku! Aku! Aku!” Jawab Billy, “Aku mengasihi Yesus.” Kelly pun protes, “Tetapi Dia mati.” Billy menjawab, “Memang, tetapi setiap hari Paskah, Dia bangkit dari kematian!”

Tentu saja, sebagai anak kecil, pemahaman Billy tentang makna Paskah masih belum sempurna. Kita tahu bahwa Yesus mati satu kali dan untuk selama-lamanya (Rm. 6:10; Ibr. 10:12) dan tentu, hanya sekali pula bangkit dari kematian. Tiga hari setelah menanggung hukuman atas dosa kita di kayu salib, Yesus yang tidak berdosa menaklukkan kematian dengan bangkit dari kubur dan mematahkan kuasa dosa. Pengorbanan terakhir dengan pencurahan darah inilah yang membuka satu-satunya jalan bagi manusia untuk dapat memiliki hubungan dengan Allah sekarang dan tinggal bersama-Nya untuk selamanya.

“Kristus telah mati karena dosa-dosa kita . . . Ia telah dikuburkan, dan . . . Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga” (1Kor. 15:3-4). Dia telah berjanji akan menyediakan tempat bagi kita (Yoh. 14:1-4), dan Dia akan datang kembali suatu hari nanti. Kelak kita akan bersama dengan Juruselamat kita yang telah bangkit.

Itulah mengapa setiap tahun di masa Paskah—bahkan, setiap hari di sepanjang tahun—kita memiliki alasan untuk merayakan kebangkitan Juruselamat kita. “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku” (Mzm. 34:2). —CHK

Maha Pengasih hidup dan mati
Untuk menghapus dosaku bersih;
Kebangkitan-Nya dasar imanku,
Kedatangan-Nya berkat abadi. —Chapman
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 70)

Kebangkitan Kristus adalah alasan perayaan kita.

There Is A Hope

Hidup ini berat, penuh tantangan. Kesusahan, penyakit, bahkan maut, bisa datang kapan saja. Dan kamu berkata bahwa hidupmu memiliki pengharapan yang baru ketika percaya kepada Kristus. Pengharapan seperti apa yang kamu maksudkan? Bagaimana berita Paskah membuat perbedaan dalam caramu menjalani hidup?

Bagikan jawabanmu di sini! Pakai momen Paskah tahun ini untuk merenungkan kembali apa yang menjadi keyakinanmu tentang Kristus dan membagikannya kepada sesama yang perlu mendengarnya!

Hari Yang Mulia!

Senin, 21 Oktober 2013

Hari Yang Mulia!

Baca: Matius 27:27-31; 28:1-6

Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit. —Matius 28:6

Hari sebelumnya, tim favorit saya baru saja kalah dalam pertandingan final dan mimpi meraih juara pun kandas. Cuaca di luar begitu dingin dan agak mendung ketika saya masuk ke mobil untuk pergi ke tempat kerja. Semestinya semua keadaan tersebut tidak terlalu mempengaruhi suasana hati saya, tetapi rasanya hari itu akan menjadi Senin kelabu bagi saya.

Lalu terdengar sebuah lagu di radio yang mengubah perspektif saya. Lagu itu berjudul Glorious Day (Hari yang Mulia) yang dinyanyikan oleh Casting Crowns. “Hari itu [Kristus] dibawa ke Kalvari, hari itu Dia dipaku untuk mati di kayu salib.” Belum muncul perkataan yang menguatkan. “Menanggung sengsara, nista dan hina”—semakin menambah kabar buruk. Namun selanjutnya lagu itu menggambarkan kabar baik tentang kebangkitan Kristus dan kemenangan-Nya atas maut.

Dari hari yang paling kelam itu—dari kegelapan di tengah hari yang melingkupi bukit di Yerusalem—telah muncul satu-satunya harapan sejati bagi umat manusia. Karena Yesus “dipaku di salib bagiku,” dalam lirik lagu itu, “Dia menghapus dosaku bersih.” Dan suatu hari Dia akan datang kembali—“Itulah hari yang mulia!”

Mungkin Anda tidak memulai hari ini dengan baik. Mungkin hari ini Anda menghadapi sejumlah masalah yang mengancam untuk menenggelamkan Anda ke dalam keputusasaan. Arahkan perhatian Anda kepada Yesus. Tinjaulah yang telah dilakukan-Nya bagi Anda di Kalvari dan bagaimana Dia menaklukkan maut dengan kebangkitan-Nya: “Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit” (Mat. 28:6). Oleh karena itu, setiap hari bisa menjadi hari yang mulia! —JDB

Oleh hidup-Nya, Dia kasihiku; oleh mati-Nya, Dia selamatkanku;
Oleh kubur-Nya, Dia menghapus dosaku bersih;
Oleh bangkit-Nya, Dia benarkanku selamanya;
Kelak Dia akan datang—itulah hari yang mulia! —Chapman

Kubur Kristus yang kosong memenuhi kita dengan harapan.

Bunga Daffodils

Minggu, 31 Maret 2013

Bunga Daffodils

Baca: Lukas 24:13-34

“Sesungguhnya Tuhan telah bangkit.” —Lukas 24:34

Ketika musim semi tiba dan bunga-bunga mulai bermekaran di halaman kami, putra saya yang berusia lima tahun membenamkan kakinya ke petak tanaman bunga daffodils. Ia melihat ada sisa-sisa tanaman yang mati dari bulan-bulan sebelumnya dan berkata, “Bu, ketika melihat sesuatu yang mati, aku teringat pada Paskah karena Yesus mati di kayu salib.” Saya menjawab, “Ketika Ibu melihat sesuatu yang hidup—seperti bunga daffodils itu, Ibu teringat akan Yesus yang bangkit kembali!”

Menurut Injil Lukas, salah satu alasan yang kita tahu bahwa Yesus telah bangkit dari kematian adalah ketika Dia menghampiri dua pengembara yang sedang berjalan menuju ke Emaus tepat tiga hari setelah penyaliban-Nya. Yesus berjalan bersama mereka; makan malam bersama mereka; bahkan menjelaskan kepada mereka arti nubuat Perjanjian Lama (24:15-27). Pertemuan ini menunjukkan kepada keduanya bahwa Yesus telah menaklukkan kematian—bahwa Dia telah bangkit dari kematian. Alhasil, keduanya bergegas kembali ke Yerusalem dan memberi tahu para murid, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit!” (ay.34).

Jika Yesus tidak bangkit dan hidup kembali, sia-sialah iman kita sebagai umat Kristen, dan kita masih berada di bawah hukuman dosa kita (1Kor. 15:17). Akan tetapi Alkitab memberi tahu kita bahwa Yesus telah “dibangkitkan karena pembenaran kita” (Rm. 4:25). Hari ini, kita dapat hidup dalam hubungan yang benar dengan Allah karena Yesus hidup! —JBS

‘Ku melayani Tuhan, yang bangkit bagiku;
‘Ku tahu Dia sungguh hidup, meski yang lain ragu.
Kurasakan rahmat-Nya, kudengar firman-Nya,
Dalam setiap saat Dia s’lalu dekat. —Ackley
(Buku Lagu Perkantas, No. 168)

Salib dan kubur kosong memberikan keselamatan penuh.

Bisa Anda Kalahkan!

Sabtu, 30 Maret 2013

Bisa Anda Kalahkan!

Baca: Matius 28:1-10

“Hai maut, di manakah sengatmu?” —1 Korintus 15:55

Saya tertarik mendengar iklan radio tentang suatu seminar yang akan datang. Si penyiar mengatakan, “Anda bisa mengalahkan kematian (death)—untuk selamanya! Hadiri seminar saya dan saya akan tunjukkan caranya.” Sejenak saya bertanya-tanya apa yang akan diungkapkan oleh pembicara yang dapat mengalahkan kematian dan saran apa yang mungkin diberikannya. Mungkinkah hal itu berkaitan dengan diet, olahraga atau membekukan tubuh kita? Setelah mendengarkan lebih lama, saya baru menyadari bahwa yang sebenarnya ia katakan adalah, “Anda bisa mengalahkan utang (debt)—untuk selamanya.”

Kabar yang paling membahagiakan adalah bahwa kita memang dapat mengalahkan kematian karena Yesus telah menebus utang kita! (1Kor. 15:55-57). Utang dosa manusia berarti kita terpisah dari Allah, tetapi Yesus dengan rela menyerahkan nyawa dan disalibkan untuk menebus utang kita. Ketika Maria Magdalena dan seorang Maria yang lain pergi ke kuburan pada hari ketiga untuk mengurapi tubuh-Nya, seorang malaikat berkata: “Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya” (Mat. 28:6). Dengan sukacita yang besar, mereka berlari untuk meneruskan kabar itu kepada murid-murid-Nya. Di tengah perjalanan, Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata, “Salam bagimu!” (ay.9). Yesus telah bangkit, dan para pengikut-Nya memang pantas untuk bersukacita.

Yesus telah menghapuskan sengat maut (1Kor. 15:55). Sekarang kita juga punya kemenangan dengan jalan percaya pada kematian Sang Anak Allah dan kebangkitan-Nya bagi kita. Melalui karya Yesus yang sempurna, kita bisa mengalahkan kematian—untuk selamanya! —AMC

Tuhanku, terima kasih Engkau mengorbankan nyawa-Mu bagi dosa
kami sehingga kami boleh hidup. Kami berterima kasih karena
kematian dan kebangkitan-Mu memberi kami kepastian bahwa kelak
kami akan bersama-Mu di tempat yang tak mengenal kematian.

Kita memiliki utang yang tak dapat kita tebus; Yesus menebus utang yang tidak dimiliki-Nya.

Pekik Kemenangan

Jumat, 29 Maret 2013

Pekik Kemenangan

Baca: Yohanes 19:28-37

“Sudah selesai.” —Yohanes 19:30

Baru-baru ini saya membaca tentang Aron Ralston, seorang petualang yang terjebak sendirian di kaki suatu lembah yang terpencil. Karena merasa tipis harapan bahwa ia akan ditemukan dan kekuatannya juga semakin memudar, ia mengambil langkah drastis untuk menyelamatkan nyawanya. Dalam momen penderitaan yang amat sangat, ia berteriak dalam kesakitan sekaligus kemenangan, karena ia telah berhasil melepaskan dirinya dan kembali memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri dan tetap hidup.

Para saksi penyaliban Yesus melihat-Nya menjalani penderitaan berjam-jam lamanya dan mendengar-Nya berseru dengan suara lantang, “Sudah selesai!” seiring Dia menyerahkan nyawa-Nya (Yoh. 19:30). Kata-kata terakhirnya dari atas kayu salib bukanlah tangisan atas kekalahan yang pahit, melainkan pekik kemenangan, karena Dia telah menyelesaikan semua yang dikehendaki Allah Bapa untuk Dia lakukan.

Ketika Yesus mati, Dia mengalami sendiri apa yang harus dialami oleh kita semua. Namun jauh melebihi semua itu, Dia melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh seorang pun dari kita. Dia menebus utang dosa kita sehingga kita boleh diampuni dan memiliki hidup kekal melalui iman kepada-Nya.

“Sudah selesai!” merupakan pekik kemenangan Tuhan karena sekarang, melalui diri-Nya, kita dapat melepaskan diri dari jerat kuasa dosa; kita dapat hidup dan menjadi bebas.

Karena pengorbanan Yesus bagi kita, kita menyebut hari kematian- Nya sebagai Jumat Agung. —DCM

Aku telah disalibkan di tempat Juruselamatku mati,
Dan seluruh hidupku pun diperbarui—
Di dalam diri-Nya aku disalibkan.
Aku telah disalibkan. Sudahkah kau? —Frazee-Bower

Yesus mati agar kita hidup.