Posts

Hidup Sederhana di Tengah Orang-orang yang Ingin Tajir

Oleh Agustinus Ryanto

Sebagai generasi milenial, aku menganggap diriku cukup gaptek dalam urusan investasi. Saat teman-temanku sudah mulai melek kripto, aku baru mulai menabung reksadana. Saat yang lain sibuk-sibuk-gelisah memantau grafik saham setiap hari, aku masih anteng-anteng saja memikirkan gurihnya sebungkus pecel lele yang nanti bakal kubeli sepulang kerja.

Dalam urusan penghasilan—jika aku membandingkan diriku dengan teman-teman satu lingkaranku—akulah yang paling bontot. Uang dingin dan dana darurat juga tidak banyak, namun sangatlah cukup untuk menghidupi diriku serta memberi sedikit nominal pada anggota keluargaku.

Perasaan stabil dalam diriku mulai bergejolak memasuki tahun 2020. Pandemi terjadi dan orang-orang mulai memikirkan bagimana caranya memutar uang agar bisa menghasilkan uang lagi. Seorang temanku yang menurutku cukup kompeten dalam dunia finansial menawarkanku untuk mulai belajar instrumen investasi, mulai dari reksadana, saham, sampai ke kripto. Itulah awal perkenalanku dengan dunia finansial digital, yang puji Tuhan sampai saat ini menolongku untuk lebih bijak mengelola keuanganku.

Namun, dalam dua tahun ke belakang aku melihat media sosialku banyak diwarnai oleh para influencer, juga segelintir temanku yang mengajak orang berinvestasi tetapi dengan narasi yang berbeda. Bukan agar punya tabungan untuk masa depan dan hidup cukup, tapi untuk mencapai kebebasan finansial segera, sesegera mungkin! Kebebasan finansial yang mereka tawarkan bukan sekadar hidup cukup, tapi hidup bermewah-mewah bergelimang harta. Dibalut dengan kata-kata promosi yang menggugah, serta video-video testimoni yang isinya flexing alias pamer harta, tak sedikit orang yang menyetor uangnya dalam jumlah besar, dengan harapan bahwa timbal baliknya akan sepadan, atau kalau bisa jauh melampaui modalnya.

Hasilnya? Tahun 2022 ini kita melihat satu per satu influencer yang gemar flexing diringkus polisi. Mereka memang tampak kaya, tapi kekayaannya itu diraih dari kekalahan orang-orang yang mereka persuasi. Para korbannya gigit jari karena merasa dibodohi.

Gugurnya para penganut flexing di media sosial ini lantas menggemakan refleksi dalam batinku. Apakah tajir yang sesungguhnya itu? Bagaimana jalan menuju kebebasan finansial yang berkenan bagi Tuhan dan tepat bagi kita? Apakah kita sebagai orang Kristen harus proaktif dan kreatif dalam mengejar kekayaan, atau berpasrah saja?

Psikologi tentang uang

Untuk menjawab perenunganku di atas, aku tidak akan membeberkan detail-detail teknis meraih untung dalam instrumen investasi A atau B, toh memang aku bukan ahlinya.

Namun, aku ingat sebuah buku berjudul The Psychology of Money yang kubaca bilang begini: “Mengelola uang dengan baik tidak ada hubungannya dengan kecerdasan Anda dan lebih banyak berhubungan dengan perilaku Anda.”

Pada bagian pengantar buku itu diceritakan kisah tentang dua orang: Ronald dan Richard. Ronald adalah seorang petugas kebersihan tanpa gelar akademik, sedangkan Richard adalah seorang mantan CEO dengan gelar perguruan tinggi. Namun, di akhir hidupnya dua sosok ini punya kisah yang amat berbeda. Saat meninggal di usia 92 tahun, orang-orang kaget karena Ronald memiliki aset di atas $8 juta! Sementara Richard kehilangan semua rumah mewahnya karena disita.

Selidik demi selidik, rupanya diketahui kalau Ronald tak pernah menang undian atau dapat warisan. Dia cuma rajin menabung berapa pun yang dia bisa tabung di saham-saham blue chip. Setelah puluhan tahun, saham-saham itu berkembang dan bertambah nilainya. Sementara itu, Richard dengan segala kegelimangan hartanya berbuat tamak. Dia berutang untuk memperluas rumah mewahnya dan krisis keuangan pun terjadi, menghantamnya dari miliader kaya raya menjadi orang miskin yang terjerat utang.

Kisah Ronald dan Richard menggemakan bagi kita pertanyaan: dalam bidang apa lagi seseorang yang tak punya gelar sarjana, pelatihan, latar belakang, pengalaman formal, dan koneksi bisa mengalahkan seseorang dengan pendidikan, pelatihan, dan koneksi terbaik?

Pengantar buku tersebut mengatakan sulit untuk menemukan jawabannya selain pada bidang keuangan. Kita pun tentu tak asing dengan pepatah yang sudah diajarkan sejak dulu kala: jangan besar pasak daripada tiang; rajin pangkal pandai, menabung pangkal kaya. Baik pepatah lawas maupun kisah Ronald menunjukkan pada kita sebuah benang merah: ada upaya dan proses dalam menumbuhkan nilai uang yang kita miliki. Tidak dalam sekejap, tetapi bisa bertahun-tahun. Dan yang paling menentukan ialah: sikap hati.

Tentang sikap tamak

Dari artikel yang kubaca, ada sekitar 2000 ayat di Alkitab yang bicara soal uang. Tapi, hanya sekitar 500 yang bicara tentang doa. Ini bukan berarti doa dan iman tidak penting, bukan sama sekali. Bisa dikatakan, Alkitab menegaskan kita bahwa masalah uang tidak boleh diabaikan.

Uang adalah benda netral. Baik atau buruknya tergantung dari bagaimana kita menggunakannya. Uang bukan akar dari segala kejahatan, cinta akan uanglah yang jadi akar segala kejahatan (1 Timotius 6:10). Cinta akan uang mewujud dalam sikap tamak manusia. KBBI mengartikan tamak sebagai sebuah sikap yang selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri. Ketamakan adalah sebuah sikap dan pengejaran yang tak akan pernah berujung. Saat seseorang telah mendapat sekian jumlah, ketamakan akan merongrongnya untuk meraih lebih dan lebih sampai dia sendiri pun tak tahu pasti seberapa banyak yang dia butuhkan. Alhasil, beragam cara pun dihalalkan. Logika menjadi nomor sekian. Ambisi untuk meraih lebih selalu menempati nomor wahid.

Uang yang sedianya netral bisa berubah menjadi jerat yang menghancurkan kita, jika sikap tamak itu tidak segera kita singkirkan, sebagaimana Alkitab berkata, “…tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya” (Yakobus 1:14).

Bukan tentang miskin atau kaya

Dalam artikel berjudul Teologi Kemakmuran, Kemiskinan, dan Kekristenan sang penulis menekankan bahwa kekristenan bukanlah tentang kaya atau miskin. Tuhan tak pernah menjanjikan umat-Nya hidup makmur setiap saat, tapi di sisi lain Dia juga tidak mengharapkan kemiskinan dan kesukaran bagi anak-anak-Nya.

Mengutip satu paragraf penuh dari artikel tersebut, tertulis demikian: “Lebih dari itu, Injil mengajar kita bahwa Yesuslah Raja pemilik segalanya, yang menanggalkan kejayaan-Nya untuk menjadi miskin dan melayani kita (Filipi 2). Jika kekayaan atau kemiskinan menjadi pusat identitas kita, kita telah memposisikan uang sebagai tuan dalam kehidupan kita. Kesetiaan pada Tuhan dan firman-Nya tidak diukur dari kekayaan atau kemiskinan kita dalam ukuran dunia. Karena sesungguhnya, kesetiaan pada Tuhan adalah pengertian bahwa sebenarnya kita adalah “miskin di hadapan Allah,” namun, dalam Kristus telah “mempunyai [hidup] dalam segala kelimpahan.”

Pada akhirnya kita perlu menyadari kembali bahwa kita hidup dan diutus di tengah dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Tidak ada yang sempurna di sini. Proses yang kita lakukan mungkin tak sejalan dengan akhir yang kita harapkan. Kita mungkin telah berusaha gigih untuk menabung, menekan pengeluaran, belajar investasi secara benar dan dan meletakkan uang kita pada lembaga-lembaga yang legal dan kredibel, namun bisa saja nominal yang kita raih malah membuat kecewa.

Dari perenungan panjang ini, aku berkomitmen untuk belajar menjauhkan diriku dari sikap tamak, dan menanamkan pemahaman bahwa segala yang ada padaku adalah milik Tuhan sehingga aku harus menggunakannya secara bertanggung jawab.

Aku akan menginvestasikan uangku dengan cara yang berkenan bagi Tuhan, agar uang itu dapat dipergunakan kembali untuk melayani-Nya.

Menyinggung judul tulisan ini, apabila aku, atau kamu sempat atau sedang merasa miskin karena pencapaian dan proses finansial kita tertinggal jauh dari orang lain, itu bukanlah fakta sebenarnya. Kita diberkati dan dipelihara Tuhan untuk hidup cukup. Bisa jadi kata “miskin” itu hanyalah label yang secara personal kita sematkan pada diri kita sendiri, sebuah hukuman yang kita timpakan ke diri sendiri atas perasaan gagal mengikuti standar hidup orang lain.

Kita tak perlu minder dengan pencapaian atau flexing yang dilakukan orang-orang di media sosial, karena dalam segala kondisi kita telah diberikan kasih karunia yang sangat mahal.

Di era keterbukaan informasi seperti ini, kita bisa belajar dan belajar lagi bukan hanya untuk menjadi cerdas, tetapi juga untuk menjadi bijak, agar dari kebijaksanaan itu lahir sikap dan perilaku yang menyenangkan hati Tuhan.

Perlukah Orang Kristen Mengejar Kebebasan Finansial?

Oleh Rachel Lee
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: klik di sini

“Capek kerja dari pagi sampai malam? Daftar kursus gratis ini dan belajarlah bagaimana menjadi bos!”

“Kekurangan uang? Chat saya, dan saya akan mengajari Anda mendapatkan uang dengan mudah.”

“Belum mulai berinvestasi? Anda belum terlambat! Ayo bergabung sekarang dengan tim kami!”

“Tahukah Anda apa itu kebebasan finansial? Itu adalah kondisi di mana Anda tak perlu lagi bekerja karena uanglah yang bekerja buat Anda! Mau tahu caranya? Kontak saya sekarang juga.”

***

Setiap kali aku masuk ke media sosialku, aku menemukan banyak iklan seperti di atas, di mana-mana! Setelah melihat banyak iklan itu, ada lagi iklan yang bilang begini:

“Kalau kamu punya uang, tidak hanya kamu punya lebih banyak pilihan; kamu bisa berkata ‘tidak’ pada hal-hal yang tak kamu suka”, atau

“Berjuanglah sekarang, dan dirimu di masa depan akan berterima kasih.”

Aku merasa tergelitik dan bertanya-tanya bagaimana aku bisa menambah hartaku. Melihat bagaimana bisnis dan investasi teman-temanku berjalan baik, aku merasa tak puas dengan posisi finansialku. Aku juga ingin meraih lebih banyak uang supaya aku bisa melunasi cicilan, dan membawa keluargaku jalan-jalan keliling dunia. Jadi, aku pun mulai mencari-cari kesempatan berbisnis secara daring.

Sebenarnya ini bukanlah hal baru buatku. Di tahun 2016, ketika aku masih mahasiswa, aku pernah menulis artikel tentang keinginanku untuk mendapat uang. Artikel itu ditulis saat aku tidak punya pendapatan, tapi sekarang setelah aku bekerja dan punya pemasukan yang stabil, aku masih ingin meraih lebih. Jadi aku bertanya-tanya: apakah ini karena aku kurang puas?

Ketika aku merenungkan motivasiku, aku sadar kalau aku ingin meraih kebebasan finansial bukan supaya aku bisa hidup mewah. Malah, harapanku adalah dengan punya kemampuan finansial yang lebih besar, aku bisa menaikkan taraf hidup keluargaku lebih baik. Plus, kalau semisal aku terpanggil untuk melakukan mission-trip entah ke mana, aku bisa membayarnya tanpa khawatir. Semua motivasi ini terlihat rasional kan?

Jadi, sebagai orang Kristen, aku sungguh bisa mengejar kebebasan finansial kan?

Berangkat dari dua pertanyaan itu, aku membuka Alkitabku untuk mencari tahu apa yang Allah ingin katakan terkait dengan kekayaan. Kutemukan beberapa penemuanku. Kuharap apa yang kupelajari juga menolongmu untuk menemukan jawaban.

Berdasarkan sebuah artikel di koran, ada sekitar dua ribu ayat di Alkitab tentang uang. Tapi, hanya sekitar 500 yang berbicara tentang doa dan iman. Bisa dikatakan, masalah tentang uang tidak boleh diabaikan.

Pada dasarnya, uang itu bersifat netral. Baik atau buruknya tergantung dari orang yang menggunakannya. Uang bukanlah akar segala kejahatan, cinta akan uanglah yang jadi akar segala kejahatan (1 Timotius 6:10). Kapan pun Alkitab berbicara tentang uang, Alkitab juga berbicara tentang bagaimana orang memandang dan menggunakannya.

Inilah tiga hal yang harus selalu kita ingat ketika kita membahas soal relasi kita dengan uang:

1. Ingatlah bahwa uang itu diberikan oleh Tuhan

Pertama, kita harus menyadari bahwa segala sesuatu, termasuk uang, berasal dari Allah. Salomo yang dipenuhi kebijaksanaan dan kekayaan pernah berkata, “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagianya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya—juga itupun karunia Allah” (Pengkhotbah 5:19).

Namun, kita harus memahami bahwa karunia Allah itu tidak hanya ada saat kita kaya, tapi juga saat kita miskin. Ketika Ayub kehilangan anak, harta, dan kekayaannya, dia masih bisa berkata, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Pernyataan Ayub menunjukkan bahwa Allah jauh lebih besar daripada pengejarannya akan kemakmuran dan kedamaian. Iman Ayub adalah teladan bagi kita.

Marilah kita percaya bahwa Allah akan menyediakan apa pun yang kita butuhkan, dan kita perlu bersyukur atas apa yang ada pada kita.

2. Kita hanyalah pengelola uang

Ketika kita menyadari bahwa uang berasal dari Allah, kita dapat menempatkan diri pada posisi yang benar—sebagai pelayan Allah. Karena Dia telah memberi kita uang, maka kita harus mengelolanya.

Pemahaman ini membawa kita pada pengelolaan keuangan. Pendapatan kita dapat dibagi ke dalam dua kelompok: aktif dan pasif.

A. Pendapatan aktif—uang yang kita raih dari bekerja:

1 Timotius 5:18 berkata “Setiap orang yang bekerja patut mendapat upahnya.” Mendapatkan upah yang layak dari instansi tempat kita bekerja adalah hak kita. Ayat ini juga mengingatkan orang-orang Kristen yang merupakan para pemilik usaha akan kewajiban untuk membayar pekerjanya dengan upah yang sesuai.

Alkitab tidak menentang usaha sampingan, tapi ada cara-cara yang ditentang Allah seperti: penyuapan (Mikha 3:11), warisan yang diminta terlalu cepat (Amsal 20:21), pencurian, kebohongan, dusta (Imamat 19:11).

B. Pendapatan pasif—uang mendapatkan uang:

Matius 25:14-30 menceritakan perumpamaan tentang seorang tuan yang memberikan hamba-hambanya masing-masing lima, dua, dan satu talenta. Orang-orang biasanya memahami perumpamaan ini sebagai pengingat bagi kita untuk menggunakan talenta dan kemampuan kita bagi Tuhan. Tapi, aku percaya pada prinsipnya perumpamaan ini juga jadi pengingat yang baik tentang uang: kita harus memperlakukan dengan serius uang yang Tuhan telah berikan buat kita–dengan menggunakan cara-cara bijak untuk meningkatkan nilainya. Entah itu dengan menabung di bank atau di instrumen investasi.

Allah tidak menilai uang lebih berharga daripada kita, atau pun Dia menjadikan uang sebagai tolok ukur kasih-Nya bagi kita. Dia berkenan apabila kita secara efektif menggunakan apa yang Dia telah percayakan bagi kita. Saat kita bersyukur pada-Nya atas pemberian-Nya, kita juga harus belajar untuk mengelolanya dengan baik sebagaimana kita mengembangkan talenta dan kemampuan kita.

3. Belajarlah mengelola uang tanpa bersifat serakah

Ketika kita mengelola keuangan pada jalur yang benar, hasilnya bisa saja jauh melampaui apa yang kita harapkan. Manajemen yang baik bisa menolong kita meraih lebih banyak uang, yang juga menuntut energi lebih untuk mengelolanya. Namun, berhati-hatilah agar kita tak kehilangan pandangan kita akan Allah. Atau, jangan pula karena kita gagal mengelola uang dengan baik lantas kita pun menyalahkan-Nya.

Sifat tamak atau serakah muncul ketika kita memaknai uang lebih besar daripada kasih kita pada Tuhan. Uang lalu menjadi tuan kita, sedangkan Tuhan menjadi pelayan ketika kita berpikir bahwa Dia berkewajiban untuk menambah harta kekayaan kita.

Jika kita ingin tahu apakah kita telah jadi orang yang serakah atau tidak, secara sederhana kita dapat melihat bagaimana sikap kita terhadap persembahan. Persembahan adalah cara yang baik untuk menguji siapakah pemilik uang itu.

Jika kita merasa uang itu adalah milik kita karena kita yang meraihnya, dan memberikan persembahan bagi rumah Tuhan tidak akan menambah uang itu, maka persembahan meskipun cuma seribu rupiah pun tidak akan terasa baik buat kita. Tapi, jika kita mampu memberi dengan sukacita, itu menyenangkan Tuhan. “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7).

Sejalan dengan tiga poinku, aku merumuskan definisi baru dari ‘kebebasan finansial’ buatku sendiri:

1. Aku bisa bebas memuji Tuhan untuk segala kepunyaanku yang adalah kepunyaan-Nya.

2. Aku bisa bebas bekerja untuk memuliakan-Nya dan berani berkata ‘tidak’ untuk cara-cara yang tidak menyenangkan hati-Nya.

3. Aku bisa bebas mempersembahkan segalanya bagi Tuhan: dengan sukacita memberikan uang yang dipercayakan-Nya untuk membangun kerajaan-Nya.

Yohanes 8:32 berkata, “…dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Terlepas dari apakah aku bisa memenuhi kebebasan finansial berdasar standar dunia, aku tahu apabila aku mengejar kebenaran Allah, aku akan memperoleh kebebasan sejati yang berasal dari-Nya: untuk hidup dalam naungan kasih dan anugerah-Nya, tidak lagi terikat pada dosa, dan mampu menolak godaan keuangan dan menolak untuk melakukan hal-hal yang tidak berkenan pada-Nya.

Teologi Kemakmuran, Kemiskinan, dan Kekristenan

Oleh Jessica Tanoesoedibjo

“Alkitab menyatakan bahwa orang kaya tidak bisa masuk sorga!” Seru pembicara retret tersebut. Dan ketika ia berkata demikian, matanya menatapku dengan tajam.

Aku tidak akan lupa perkataan tersebut. Pada saat itu, aku sedang duduk di bangku SMP, dan menghadiri retret yang diselenggarakan sekolahku. Aku ingat, jantungku berdebar kencang, dan di benakku, aku berpikir, “Tuhan, apa yang harus aku lakukan?”

Dalam kehidupanku, harus kuakui bahwa aku telah diberi privilese berkat materil yang berkelimpahan. Namun, ini bukan suatu hal yang dapat kusangkal begitu saja. Aku tidak dapat memilih di keluarga mana aku dilahirkan, ataupun kondisi perekonomian kita. Banyak orang berkata bahwa kita “diberkati untuk menjadi berkat,” tetapi di sisi lain banyak juga yang menkritisasi kekayaan.

Memperoleh Hidup Berkelimpahan

Lahir di keluarga Kristen, aku sangat bersyukur bahwa Tuhan telah memberkatiku dengan kedua orang tua yang begitu menekuni imannya, dan juga mengajarkan anak-anaknya untuk demikian. Namun, lahir sebagai anak seorang pengusaha yang cukup ternama di tanah air, juga berarti ada berbagai macam ekspektasi yang orang miliki terhadap diriku. Motivasi untuk menjadi orang yang sukses, seperti yang dicontohkan oleh sang ayah, ditanamkan padaku sejak kecil.

Di gereja pun aku sering dengar ayat ini dikutip: “Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun,” (Ulangan 28:13). Yesus sendiri berkata bahwa Ia datang, “supaya [kita] mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan,” (Yohanes 10:10).

Namun, bagaimana dengan orang Kristen yang tidak hidup dalam kelimpahan materil? Apakah Tuhan tidak mengasihi mereka? Bukankah hal tersebut, kepercayaan bahwa Tuhan akan selalu memberkati anak-anaknya dengan kekayaan, adalah Injil Kemakmuran—suatu distorsi Injil yang sesungguhnya?

Berbahagialah Yang Miskin

Karena di sisi lain, firman Tuhan juga berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena mereka yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 5:3). Yesus juga mengajarkan, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin…kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” (Matius 19:21).

Inilah yang membuatku berpikir dan bergumul. Aku pun menganggap bahwa kekayaan yang aku miliki adalah suatu hal yang keji yang perlu kusangkal. Ada masa di mana aku membenci segala pemberian Tuhan dalam hidupku, karena menurutku semua kepemilikan materil ini adalah fana.

Bukankah Alkitab sangat jelas, bahwa kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan: Tuhan dan uang (Lukas 16:13)? Untuk ikut Kristus, kita harus tanggalkan segalanya. Tapi, apakah artinya semua orang Kristen diharuskan menjadi miskin? Apakah untuk menjadi orang Kristen yang sesungguhnya kita harus menjual segala kepemilikan kita dan memberikannya kepada gereja, orang miskin, atau misi gereja? Apakah Alkitab mengajarkan teologi kemiskinan?

Kemiskinan Manusia dan Kekayaan Injil

Tidak. Keduanya bukanlah gambaran yang akurat tentang Kekristenan. Karena Kekristenan bukan tentang kemakmuran ataupun kemiskinan. Tuhan tidak pernah menjanjikan kita untuk menjadi makmur dan kaya di setiap saat. Dan Ia juga bukan Tuhan yang kejam, yang senang dan mengharapkan kemiskinan dan kesukaran bagi anak-anak-Nya.

Tapi sesungguhnya, Injil mengajarkan kita bahwa Yesuslah Raja yang empunya segalanya, yang amat sangat kaya, namun menanggalkan segala kejayaan dan rela menjadi miskin, untuk melayani kita. Yesus mengosongkan diri-Nya agar Ia dapat melimpahkan kita dengan kasih dan kebenaran-Nya (Filipi 2).

Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk kaya ataupun miskin. Jika kekayaan atau kemiskinan menjadi pusat identitas kita, kita telah memposisikan uang sebagai tuan dalam kehidupan kita. Kesetiaan pada Tuhan dan firman-Nya tidak diukur dari kekayaan atau kemiskinan kita dalam ukuran dunia. Karena sesungguhnya, kesetiaan pada Tuhan adalah pengertian bahwa sebenarnya kita adalah “miskin di hadapan Allah,” namun, dalam Kristus telah “mempunyai [hidup] dalam segala kelimpahan.”

Dengan pengertian ini, kita tidak akan mendemonisasi kekayaan, ataupun mendamba-dambakan kemiskinan (atau sebaliknya). Tapi, kita dapat, dalam masa berkelimpahan, mensyukuri segala pemberian Tuhan sebagai suatu kepercayaan, yang patut kita kembangkan. Kekayaan bukan bertujuan untuk kita dapat senang-senang dan memenuhi segala macam keinginan kita di dunia, melainkan, adalah sebuah tanggung jawab yang besar. Karena “kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut,” (Lukas 12:48).

Dalam 2 Korintus 8:1-15, Paulus menulis kepada orang-orang yang hidup berkelimpahan untuk bertumbuh dalam kemurahan hati. Paulus berkata bahwa ia tidak bertujuan untuk membebani mereka, melainkan, setelah mengingatkan mereka tentang kasih karunia Kristus yang telah mereka terima, ia mengajak jemaat Korintus untuk terlibat dalam “pelayanan kasih,” (ayat 6) dengan meringankan beban saudara-saudara yang hidup dalam kekurangan.

Demikian pula, orang-orang yang dalam masa kekurangan, dapat juga mensyukuri kesempatan yang Tuhan berikan untuk bergantung sepenuhnya pada-Nya. Namun ini bukan berarti bahwa orang yang sedang dalam masa kekurangan dapat lepas dari tuntutan untuk bertumbuh dalam kemurahan hati. Karena Paulus pun bersaksi tentang bagaimana jemaat di Makedonia, tetap bersukacita dan kaya dalam kemurahan, walaupun mereka sendiri sangat miskin (ayat 2).

Bagi Paulus, kemurahan hati tidak terhitung dari jumlah yang diberikan. Kaya atau miskin, mereka telah menikmati kasih karunia Kristus yang sangat mahal, dan, mengetahui ini, mereka telah memberikan diri mereka, pertama kepada Tuhan, kemudian kepada orang lain (ayat 5). Karena sesungguhnya, yang Tuhan minta dari setiap anak-Nya adalah hal yang sama: agar kita, dalam segala sesuatu, dapat menyangkal diri kita, memikul salib, dan mengikuti-Nya.

“Alkitab menyatakan bahwa orang kaya tidak bisa masuk sorga!” Ya, memang ini benar. Karena Alkitab menyatakan bahwa tidak ada satu orangpun yang dapat masuk Kerajaan Sorga. Tidak ada yang layak. Namun, karena kasih karunia Allah dalam Kristus Yesus, kita sekarang adalah anak-anak-Nya. Di Rumah Bapa banyak tempat tinggal, dan Yesus sedang menyediakan tempat bagi kita di sana.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Penghiburan di Kala Duka Mendera

Sekalipun sulit untuk melenyapkan rasa sedih dan kehilangan, aku yakin bahwa Tuhan benar-benar mengerti dan peduli dengan duka yang kualami. Ia selalu punya cara terbaik untuk menghibur dan menguatkan kita.