Posts

Semua yang Kulihat

Senin, 4 Februari 2019

Semua yang Kulihat

Baca: Yohanes 3:22-35

3:22 Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia diam di sana bersama-sama mereka dan membaptis.

3:23 Akan tetapi Yohanespun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air, dan orang-orang datang ke situ untuk dibaptis,

3:24 sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara.

3:25 Maka timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian.

3:26 Lalu mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya: “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.”

3:27 Jawab Yohanes: “Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.

3:28 Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya.

3:29 Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.

3:30 Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

3:31 Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya.

3:32 Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorangpun yang menerima kesaksian-Nya itu.

3:33 Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar.

3:34 Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas.

3:35 Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya.

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. —Yohanes 3:30

Semua yang Kulihat

Di tengah musim dingin, pada suatu hari yang bersalju, Krista berdiri sembari memandang keindahan mercusuar yang tertutup salju di tepi danau. Saat mengeluarkan ponsel untuk memotret pemandangan itu, kacamatanya ditutupi kabut. Karena tak bisa melihat apa pun, ia memutuskan untuk mengarahkan kamera ponsel ke arah mercusuar dan mengambil tiga gambar dari beberapa sudut pandang yang berbeda. Setelah melihat hasil fotonya, ia baru sadar kalau kameranya diatur di posisi selfie. Sambil tertawa, ia berkata, “Fokusku selalu aku, aku, dan aku. Semua yang kulihat hanya diriku sendiri.” Foto-foto Krista membuat saya terpikir tentang kesalahan serupa yang kita lakukan: Kita bisa terlalu berfokus pada diri sendiri hingga gagal melihat gambaran yang lebih besar dari rencana Allah.

Yohanes Pembaptis, sepupu Yesus, tahu betul bahwa yang menjadi fokus bukanlah dirinya sendiri. Sejak awal ia menyadari bahwa posisi atau panggilannya adalah untuk mengarahkan orang kepada Yesus, Anak Allah. “Lihatlah Anak domba Allah!” kata Yohanes ketika melihat Yesus berjalan ke arahnya dan para pengikutnya (Yoh. 1:29). Ia melanjutkan, “Untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel” (ay.31). Ketika belakangan murid-murid Yohanes menceritakan bahwa Yesus mendapat banyak pengikut, Yohanes berkata, “Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. . . . Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (3:28-30).

Kiranya fokus utama dalam hidup kita adalah Yesus dan mengasihi-Nya dengan segenap hati. —Anne Cetas

Bagaimana aku bisa mengasihi Yesus dengan sebaik-baiknya? Siapa yang dikehendaki-Nya untuk kukasihi sekarang ini?

Tuhan, sering aku berfokus pada diri, kebutuhan, dan keinginanku sendiri. Tolong aku tak lagi berfokus pada diriku, melainkan kepada diri-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 34-35; Matius 22:23-46

Ke Mana Saja

Sabtu, 21 April 2018

Ke Mana Saja

Baca: Yeremia 2:1-8; 3:14-15

2:1 Firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya:

2:2 “Pergilah memberitahukan kepada penduduk Yerusalem dengan mengatakan: Beginilah firman TUHAN: Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun, di negeri yang tiada tetaburannya.

2:3 Ketika itu Israel kudus bagi TUHAN, sebagai buah bungaran dari hasil tanah-Nya. Semua orang yang memakannya menjadi bersalah, malapetaka menimpa mereka, demikianlah firman TUHAN.

2:4 Dengarlah firman TUHAN, hai kaum keturunan Yakub, hai segala kaum keluarga keturunan Israel.

2:5 Beginilah firman TUHAN: Apakah kecurangan yang didapati nenek moyangmu pada-Ku, sehingga mereka menjauh dari pada-Ku, mengikuti dewa kesia-siaan, sampai mereka menjadi sia-sia?

2:6 Dan mereka tidak lagi bertanya: Di manakah TUHAN, yang menuntun kita keluar dari tanah Mesir; yang memimpin kita di padang gurun, di tanah yang tandus dan yang lekak-lekuk, di tanah yang sangat kering dan gelap, di tanah yang tidak dilintasi orang dan yang tidak didiami manusia?

2:7 Aku telah membawa kamu ke tanah yang subur untuk menikmati buahnya dan segala yang baik dari padanya. Tetapi segera setelah kamu masuk, kamu menajiskan tanah-Ku; tanah milik-Ku telah kamu buat menjadi kekejian.

2:8 Para imam tidak lagi bertanya: Di manakah TUHAN? Orang-orang yang melaksanakan hukum tidak mengenal Aku lagi, dan para gembala mendurhaka terhadap Aku. Para nabi bernubuat demi Baal, mereka mengikuti apa yang tidak berguna.

3:14 Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman TUHAN, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion.

3:15 Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian.

Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku di padang gurun. —Yeremia 2:2

Ke Mana Saja

Saat membuka foto-foto lama dari hari pernikahan saya, saya berhenti di selembar foto saya bersama suami ketika kami baru resmi menjadi suami-istri. Kesetiaan saya kepadanya terlihat jelas dari ekspresi wajah saya. Rasanya saat itu saya siap pergi ke mana saja bersamanya.

Hampir empat dekade berlalu, pernikahan kami diteguhkan oleh ikatan cinta dan komitmen yang telah memampukan kami melewati suka dan duka. Tahun demi tahun, saya memperbarui kesetiaan saya untuk pergi ke mana saja bersamanya.

Di Yeremia 2:2, Allah merindukan umat Israel yang dikasihi-Nya, meski mereka telah menyeleweng, “Aku teringat kepada kasihmu pada masa mudamu, kepada cintamu pada waktu engkau menjadi pengantin, bagaimana engkau mengikuti Aku.” Kata kasih dalam bahasa Ibrani mengandung makna kesetiaan dan komitmen yang tertinggi. Awalnya, Israel pernah menunjukkan kesetiaan yang tak tergoyahkan seperti itu kepada Allah, tetapi lama-kelamaan mereka berpaling dari Allah.

Meski ada perasaan yang menggebu-gebu di awal komitmen, sikap berpuas diri bisa menumpulkan kasih kita. Berkurangnya semangat juga bisa menyeret kita kepada penyelewengan. Kita sadar pentingnya berjuang melawan kemunduran seperti itu dalam pernikahan. Namun, bagaimana dengan bara api kasih kita kepada Allah? Apakah kesetiaan kita masih sama seperti saat pertama kali kita beriman kepada-Nya?

Dengan setia, Allah memperkenankan umat-Nya untuk kembali kepada-Nya (3:14-15). Hari ini kita dapat memperbarui janji kita untuk setia mengikut-Nya—ke mana saja. —Elisa Morgan

Ya Tuhanku, tolonglah aku menepati janji-janji yang telah kubuat di hadapan-Mu. Aku rela mengikut-Mu ke mana saja.

Kamu tidak perlu tahu ke mana kamu akan pergi jika kamu tahu Allah yang memimpinmu.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 12-13; Lukas 16

Penyembahan yang Paling Bernilai

Minggu, 3 September 2017

Penyembahan yang Paling Bernilai

Baca: Markus 12:38-44

12:38 Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar,

12:39 yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan,

12:40 yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”

12:41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar.

12:42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.

12:43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.

12:44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya. —Markus 12:44

Penyembahan yang Paling Bernilai

Saya menggunakan tulisan sebagai persembahan dan pelayanan saya kepada Allah, terlebih sekarang ketika kendala kesehatan sering membuat saya tidak lagi leluasa bergerak. Namun, ketika seorang kenalan menyebut tulisan saya tidak bernilai, saya menjadi patah semangat. Saya menjadi ragu apakah persembahan kecil saya itu mempunyai arti di hadapan Allah.

Melalui doa, penggalian Kitab Suci, dan dorongan dari suami, keluarga, dan sahabat, Tuhan meneguhkan saya bahwa hanya Dia—bukan pendapat orang lain—yang dapat menilai motivasi penyembahan kita dan arti dari persembahan kita kepada-Nya. Saya memohon kepada Allah sumber segala karunia itu untuk terus menolong saya mengembangkan keahlian saya dan membukakan kesempatan untuk membagikan berkat yang saya terima dari-Nya.

Yesus menentang standar nilai dari pemberian kita (Mrk.12:41-44). Sementara seorang kaya memasukkan sejumlah besar uang ke dalam peti persembahan, seorang janda miskin memasukkan dua keping uang, “uang receh yang terkecil nilainya” (ay.42 BIS). Tuhan menyatakan bahwa pemberiannya lebih banyak daripada pemberian semua orang (ay.43), walaupun terlihat tidak berarti di mata orang-orang di sana (ay.44).

Meski kisah janda itu berfokus pada persembahan uang, apa pun pemberian kita dapat menjadi ungkapan penyembahan dan ketaatan yang penuh kasih kepada Allah. Seperti si janda, kita menghormati Allah dengan memberikan persembahan yang tulus, murah hati, dan penuh pengorbanan dari apa pun yang telah Dia berikan kepada kita. Ketika kita memberikan yang terbaik dari waktu, talenta, dan harta kita kepada Allah dengan hati yang dimotivasi kasih, kita memberikan kepada-Nya penyembahan dan persembahan yang paling bernilai. —Xochitl Dixon

Tuhan, terima kasih karena Engkau tak membandingkan kami dengan orang lain saat kami mempersembahkan pemberian terbaik dari yang telah kami terima dari-Mu.

Persembahan yang dimotivasi oleh kasih kepada Allah akan selalu menjadi ungkapan penyembahan kita yang paling bernilai.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 140-142 dan 1 Korintus 14:1-20

Hujan yang Menyegarkan

Selasa, 21 Maret 2017

Hujan yang Menyegarkan

Baca: Hosea 6:1-4

6:1 “Mari, kita akan berbalik kepada TUHAN, sebab Dialah yang telah menerkam dan yang akan menyembuhkan kita, yang telah memukul dan yang akan membalut kita.

6:2 Ia akan menghidupkan kita sesudah dua hari, pada hari yang ketiga Ia akan membangkitkan kita, dan kita akan hidup di hadapan-Nya.

6:3 Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.”

6:4 Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Efraim? Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda? Kasih setiamu seperti kabut pagi, dan seperti embun yang hilang pagi-pagi benar.

[Tuhan] akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi. —Hosea 6:3

Hujan yang Menyegarkan

Untuk melepas lelah, saya memutuskan untuk berjalan-jalan di taman dekat rumah. Selagi saya menyusuri jalan setapak, sesuatu yang berwarna hijau menarik perhatian saya. Dari dalam lumpur, tersembul tunas-tunas hijau yang dalam beberapa Minggu ke depan akan tumbuh menjadi bunga bakung yang indah. Mekarnya bunga-bunga itu menjadi tanda bahwa musim dingin telah berhasil dilalui dan musim semi yang hangat sudah tiba!

Membaca kitab Hosea kadang terasa seperti menjalani musim dingin yang tak berujung. Tuhan memberikan tugas yang tidak mudah kepada Nabi Hosea untuk menikahi seorang wanita yang tidak setia sebagai gambaran kasih sang Pencipta kepada umat-Nya Israel (1:2-3). Gomer, sang istri, berkali-kali mengingkari janji pernikahan mereka, tetapi Hosea mau menerima Gomer kembali dengan harapan bahwa ia akan mencintai Hosea dengan sungguh-sungguh (3:1-3). Demikian juga Tuhan merindukan kita untuk mengasihi-Nya dengan kekuatan dan komitmen yang tidak akan menguap dengan mudahnya seperti embun di pagi hari.

Bagaimana hubungan kita dengan Allah? Apakah kita datang kepada-Nya hanya pada saat kita membutuhkan jalan keluar dari kesulitan kita, tetapi kemudian mengabaikan Allah di saat kita sedang bersukacita? Apakah kita seperti orang Israel, begitu mudah tergoda oleh berhala-berhala di zaman kita sekarang, seperti kesibukan, kesuksesan, dan kekuasaan?

Hari ini, kiranya kita kembali memperbarui komitmen kita kepada Tuhan yang mengasihi kita. Kasih-Nya sepasti tumbuhnya kuncupkuncup bunga di musim semi. —Amy Boucher Pye

Tuhan Yesus, Engkau menyerahkan diri-Mu demi memerdekakan kami. Tolonglah kami untuk mengasihi-Mu dengan segenap hati.

Meskipun kita tidak setia kepada Allah, Dia tidak akan pernah meninggalkan kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 7-9; Lukas 1:21-38

Artikel Terkait:

Pacarku Tidak Seiman, dan Tuhan Mengingatkanku dengan Cara yang Tidak Terduga Ini

Aku mendambakan memiliki pacar sejak duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Ketika aku mulai mengenal istilah ‘jatuh cinta’, orang yang menarik perhatianku selalu teman lelaki yang berbeda agama. Baca kesaksian Noni selengkapnya di dalam artikel ini.

Hadiah Terbaik

Senin, 2 Januari 2017

Hadiah Terbaik

Baca: Roma 11:33-12:2

11:33 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!

11:34 Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?

11:35 Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?

11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

12:2 Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

[Persembahkan] tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. —Roma 12:1

Hadiah Terbaik

Minggu-minggu setelah Natal merupakan waktu-waktu paling sibuk di Amerika Serikat bagi bagian pengembalian barang. Itulah saatnya orang menukarkan hadiah yang tidak mereka inginkan dengan barang yang benar-benar mereka inginkan. Namun kamu mungkin mengenal beberapa orang yang tampaknya selalu memberikan hadiah yang terbaik. Bagaimana caranya mereka tahu persis apa yang tepat dan memang diinginkan orang lain? Kuncinya tidak terletak pada nilai uang yang dikeluarkan, tetapi pada sikap yang mau mendengarkan orang lain dan memperhatikan sungguh-sungguh apa yang mereka sukai dan hargai.

Prinsip itu berlaku untuk keluarga dan teman, tetapi bagaimana dengan Allah? Adakah sesuatu yang berarti atau berharga yang dapat kita berikan kepada Allah? Adakah yang tidak Dia miliki?

Nyanyian pujian kepada Allah tentang keagungan hikmat, pengetahuan, dan kemuliaan-Nya dalam Roma 11:33-36 dilanjutkan dengan panggilan untuk menyerahkan diri kita kepada-Nya. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (12:1). Alih-alih dibentuk menjadi serupa dengan dunia ini, kita harus berubah “oleh pembaharuan budi [kita]” (ay.2).

Hadiah terbaik apakah yang dapat kita berikan kepada Allah hari ini? Dengan rasa syukur, kerendahan hati, dan kasih, kita dapat mempersembahkan diri kita kepada Allah—segenap hati, pikiran, dan kehendak kita. Itulah yang Tuhan rindu terima dari setiap orang. —David McCasland

Tuhanku, aku ini milikmu. Aku ingin mempersembahkan diriku kepada-Mu— hati, pikiran, dan kehendakku—untuk melayani-Mu dengan rela dan bersyukur atas semua yang telah Engkau lakukan bagiku.

Hadiah terbaik yang dapat kita berikan kepada Allah adalah diri kita sendiri.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 4-6; Matius 2

Artikel Terkait:

Tiga Pertanyaan yang Sering Terlupakan dalam Resolusi Kita

Sebuah awal yang baru—tahun yang penuh dengan harapan baru. Tentunya, tahun ini kamu bertekad untuk menjadi lebih baik dan bertumbuh lebih bijak dalam 12 bulan ke depan. Namun, ada tiga pertanyaan yang sering terlupakan disaat kita membuat resolusi kedepan. Apa saja ketiga pertanyaan tersebut? Temukan jawabannya di dalam artikel ini.

Tuhan Merombak Kriteria Pacar Idamanku

tuhan-merombak-kriteria-pacar-idamanku

Oleh Yong Xin, Malaysia
Artikel asli dalam bahasa Simplified Chinese: 上帝打碎了我的择偶标准

Tidak banyak hal menarik yang dimiliki oleh pria ini. Dia bukanlah seorang yang tinggi, dia tidak memperhatikan penampilannya, dan dia juga seperti tipe pria yang membosankan. Dia bukanlah tipe pria yang dikagumi banyak wanita.

Namun akhirnya, dia menjadi pacarku.

Setahun sebelum aku bertemu dengannya, aku membuat sebuah komitmen dengan Tuhan. Tahun itu kondisi rohaniku sedang mengalami penurunan. Aku juga tidak mempunyai banyak teman-teman seiman yang baik di sekitarku. Jadi aku berdoa kepada Tuhan dan memutuskan bahwa aku akan menggunakan tahun itu untuk benar-benar mengenal Dia dan bertumbuh semakin dekat dengan Dia. Aku ingin kasih Tuhan memenuhi diriku, Roh-Nya tinggal di dalamku, dan aku ingin berhenti hidup dengan cara dunia.

Saat itu, aku dikelilingi beberapa pria yang luar biasa. Namun Tuhan mengatakan kepadaku untuk menjaga hatiku dan jangan menganggap enteng untuk masuk ke dalam sebuah hubungan. Aku memutuskan untuk menggunakan waktu itu untuk berpikir secara serius tentang kriteria-kriteria dari pasanganku di masa depan.

Di antara banyak hal lainnya, aku ingin seorang pasangan yang tampan, lebih tinggi daripadaku, dewasa, mengasihi, dan lembut. Dia juga harus memiliki keluarga yang baik, lebih cerdas daripadaku, dan lain sebagainya. Intinya, aku ingin seorang pasangan yang hebat dalam segala aspek. Jadi aku berdoa kepada Tuhan untuk mengaturkan yang terbaik bagiku, dan memberkatiku dengan seorang pasangan yang “sempurna”.

Lalu aku bertemu dengan pria ini ketika kami sedang sama-sama melayani di sebuah persekutuan kampus di sebuah gereja. Saat itu, aku tidak memiliki kesan yang positif terhadap dirinya. Aku merasa dia adalah seorang yang tidak peduli, tidak berpendirian, tidak dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu, dan tidak memperhatikan perasaan orang lain.

Setelah melayani bersama selama beberapa waktu, kami mulai bercakap-cakap satu sama lain. Awalnya, topik yang kami bicarakan adalah seputar pelayanan gereja; kami mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang kami hadapi dalam melayani Tuhan dan saling menguatkan satu sama lain. Kemudian, kami mulai lebih banyak menceritakan tentang kehidupan kami. Seiring waktu, kami bercakap-cakap setiap malam sebelum tidur.

Pelan-pelan, aku menyadari bahwa dia tidak seburuk yang aku bayangkan sebelumnya. Berlawanan dari apa yang aku pikirkan, dia bukanlah seorang yang tidak peduli. Sebaliknya, dia adalah seorang yang bertanggung jawab, penuh perhatian, dan teliti.

Contohnya, ketika kami membuat sebuah acara, dia akan memastikan semua hal dipersiapkan dengan baik—termasuk pembagian tugas untuk setiap orang dan pengaturan transportasi. Aku juga dapat melihat kerendahan hatinya. Dia bukanlah seseorang yang suka tampil di hadapan banyak orang; sebaliknya, dia selalu melayani di balik layar. Ketika orang-orang bercakap-cakap dan bersenda gurau di meja makan, dia adalah seseorang yang menuangkan air ke dalam gelas-gelas mereka. Namun lebih dari segalanya, dia adalah seseorang yang mengasihi Tuhan. Selama dia diberikan kesempatan untuk melayani Tuhan, dia akan—tanpa banyak bertanya-tanya—melakukan yang terbaik yang dia bisa lakukan untuk Tuhan.

Pelan-pelan, aku menjadi tertarik dengannya. Kami lalu memutuskan untuk meminta petunjuk dari Tuhan ketika kami bersama menggumulkan untuk memiliki hubungan yang lebih dalam. Kami menjadi rekan rohani—kami membaca firman Tuhan dan saling berbagi pelajaran yang kami dapatkan. Semakin banyak kami belajar tentang Tuhan, semakin banyak kami mengenal satu sama lain. Kami berkomitmen untuk membaca seluruh Alkitab bersama-sama, dan saling mengingatkan satu sama lain untuk semakin bertumbuh secara rohani.

Dalam bulan-bulan ini, Tuhan memimpin hubungan kami; kami mengalami banyak berkat Tuhan, dan semakin yakin bahwa hubungan kami berkenan bagi Tuhan. Kami juga yakin bahwa kami dapat saling mengasihi karena Tuhan lebih dahulu mengasihi kami (1 Yohanes 4:19).

Tuhan telah merombak “kriteria-kriteria pacar idaman” yang aku buat, untuk membuatku sadar bahwa Dia telah merencanakan yang terbaik bagi diriku, dan agar aku tidak mengandalkan kepandaianku semata dalam mengambil keputusan. Dengan kata lain, aku seharusnya tidak mencari pasangan yang menyenangkan bagiku. Yang kucari seharusnya adalah seseorang yang menyenangkan Tuhan.

Memang pacarku mungkin bukanlah orang yang terhebat di mata banyak orang. Tapi aku tahu bahwa dia adalah seseorang yang mengasihi Tuhan, dan yang menebarkan keharuman Kristus. Dan yang terpenting, dia mengutamakan Tuhan lebih daripada segalanya, termasuk diriku. Dia menyadari kedaulatan Tuhan atas hidupnya, dan percaya akan kuasa-Nya.

Aku tidak percaya akan cinta pada pandangan pertama, karena bagiku cinta adalah sebuah keputusan yang dibuat secara sadar dan membutuhkan komitmen dari kedua belah pihak. Ketika aku memutuskan untuk menjalin hubungan bersama dengan pacarku, aku mengambil keputusan untuk mengasihi pria ini setiap hari, apa pun keadaannya. Dia bukanlah seseorang yang aku harapkan pada awalnya, namun aku melihat bagaimana tangan Tuhan telah memimpin kami berdua hingga bagaimana kami ada saat ini.

Amsal 3:5-6 berkata, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Marilah berhenti bersandar pada keinginan dan pengertian kita sendiri, dan percayalah bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita.

Baca Juga:

Lebih dari Optimisme, Inilah yang Harus Kita Lakukan untuk Menghadapi Realita Kehidupan

Seiring waktu, aku sadar bahwa akar dari ketidaksenangan kita—tidak peduli apakah kita seorang yang pesimis atau optimis—biasanya adalah hal yang sama: kita menginginkan sesuatu, tapi kita tidak mendapatkannya. Jadi bagaimana kita harus menyikapi akar masalah ini?

Suporter Setia

Sabtu, 15 Oktober 2016

Suporter Setia

Baca: Mazmur 86:1-13

86:1 Doa Daud. Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku.

86:2 Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu.

86:3 Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari.

86:4 Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.

86:5 Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.

86:6 Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara permohonanku.

86:7 Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku.

86:8 Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kaubuat.

86:9 Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu.

86:10 Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah.

86:11 Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu.

86:12 Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya;

86:13 sebab kasih setia-Mu besar atas aku, dan Engkau telah melepaskan nyawaku dari dunia orang mati yang paling bawah.

Pada hari kesesakanku aku berseru kepadaMu, sebab Engkau menjawab aku. —Mazmur 86:7

Suporter Setia

Cade Pope, seorang anak laki-laki berusia 12 tahun asal Oklahoma, mengirimkan 32 surat berisi tulisan tangannya sendiri kepada masing-masing pemilik dari setiap tim Liga Nasional Sepakbola Amerika (NFL). Cade menulis, “Aku dan keluargaku sangat suka football. Kami suka memainkan fantasy football di internet dan menonton pertandingan yang ditayangkan tiap akhir pekan. . . . Aku sedang memilih tim NFL mana yang akan kudukung selamanya!”

Jerry Richardson, pemilik tim Carolina Panthers, membalas surat Cade dengan surat yang juga ditulisnya sendiri dengan tangan. Ia mengawali suratnya: “Kami sangat terhormat apabila [tim] kami mendapatkan dukunganmu. Kami berjanji akan membuatmu bangga.” Richardson melanjutkan suratnya dengan memuji sejumlah pemain dalam timnya. Surat balasan itu tak hanya menunjukkan kepedulian dan keramahan Richardson—surat itu juga merupakan satu-satunya balasan yang diterima Cade. Maka tidak heran, Cade pun akhirnya menjadi suporter setia dari tim Carolina Panthers.

Dalam Mazmur 86, Daud berbicara tentang kesetiaannya kepada satu-satunya Allah yang sejati. Ia mengatakan, “Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu, sebab Engkau menjawab aku. Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kaubuat” (ay.7-8). Pengabdian kita kepada Allah lahir dari keyakinan kita akan sifat-Nya dan kepedulian-Nya atas kita. Dialah satu-satunya yang menjawab doa-doa kita, membimbing kita dengan Roh-Nya, dan menyelamatkan kita melalui kematian dan kebangkitan Anak-Nya, Yesus Kristus. Karena itulah, Dia layak menerima pengabdian kita, seumur hidup kita. —Jennifer Benson Schuldt

Ya Allahku, tiada yang seperti Engkau. Tolonglah aku untuk terus mengingat kekudusan-Mu dan bimbing aku agar semakin sungguh mengabdi kepada-Mu.

Hanya Allah yang layak menerima penyembahan dan pengabdian kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 45-46; 1 Tesalonika 3

Artikel Terkait:

Dengan atau Tanpa Medali, Marilah Kita Memuji Tuhan

Dua bulan lalu, tepat pada saat Indonesia merayakan 71 tahun kemerdekaannya, Indonesia juga merayakan medali emas satu-satunya yang diperoleh di Olimpiade Rio 2016. Dalam momen ini, kita dapat mendengar begitu banyak orang Indonesia yang bergembira, bersyukur kepada Tuhan dan memuji Dia. Namun, bagaimana saat kita menderita kekalahan? Baca perenungan Charles selengkapnya di dalam artikel ini.

Tak Melihat, tetapi Mengasihi

Jumat, 13 Mei 2016

Tak Melihat, tetapi Mengasihi

Baca: 1 Petrus 1:1-9

1:1 Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia,

1:2 yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.

1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,

1:4 untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.

1:5 Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir.

1:6 Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.

1:7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

1:8 Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,

1:9 karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.

Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. —1 Petrus 1:8

Tak Melihat, tetapi Mengasihi

Seperti pada umumnya dalam komunitas blogging, saya tidak pernah bertemu dengan seseorang yang menyebut dirinya BruceC. Namun saat istri dari BruceC mengabarkan pada komunitas kami bahwa suaminya sudah meninggal dunia, banyaknya tanggapan yang berdatangan dari berbagai tempat memperlihatkan bahwa kami sadar kami telah kehilangan seorang teman.

BruceC kerap kali mencurahkan isi hatinya kepada kami. Ia terang-terangan berbicara tentang keprihatinannya kepada sesama dan hal-hal yang penting baginya. Banyak dari kami merasa seakan-akan kami sungguh mengenal nya. Kami merindukan kearifan yang bersumber dari pengalaman hidupnya sebagai penegak hukum dan dari imannya di dalam Tuhan.

Saat mengenang percakapan dengan BruceC di dunia maya, saya semakin menghargai kata-kata yang ditulis oleh seorang saksi mata Yesus di abad pertama. Dalam surat pertamanya di Perjanjian Baru yang ditujukan bagi para pembaca yang tersebar di berbagai penjuru Kekaisaran Romawi, Petrus menulis, “Sekalipun kamu belum pernah melihat [Kristus], namun kamu mengasihi-Nya” (1Ptr. 1:8).

Petrus, sebagai sahabat dekat Yesus, menulis surat kepada orang-orang yang selama ini hanya mendengar tentang satu Pribadi yang telah memberi mereka pengharapan di tengah kesulitan yang mereka hadapi. Meski tidak pernah melihat Yesus, sebagai bagian dari satu komunitas besar umat percaya, mereka mengasihi Dia. Mereka tahu bahwa dengan menyerahkan nyawa-Nya, Yesus telah membawa mereka masuk ke dalam satu keluarga Allah yang kekal. —Mart Dehaan

Tuhan, kami tidak pernah melihat-Mu, tetapi kami percaya dan mengasihi-Mu. Teguhkanlah kasih kami untuk saudara-saudari seiman kami yang juga mengasihi-Mu. Jadikanlah kami menjadi satu keluarga di dalam Engkau.

Kasih kita kepada Kristus terbukti nyata lewat kasih kita kepada sesama.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 17-18; Yohanes 3:19-36

Dorongan yang Berulang-Ulang

Kamis, 17 Maret 2016

Dorongan yang Berulang-Ulang

Baca: Ulangan 30:11-20

30:11 “Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh.

30:12 Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?

30:13 Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya?

30:14 Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan.

30:15 Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan,

30:16 karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya.

30:17 Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya,

30:18 maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya.

30:19 Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu,

30:20 dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.”

Pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya. —Ulangan 30:16

Dorongan yang Berulang-Ulang

Seorang wartawan memiliki kebiasaan yang tidak lazim. Ia tidak mau menggunakan pena bertinta biru. Jadi, ketika rekannya bertanya kepadanya apakah ia mau dibelikan sesuatu dari toko, ia minta dibelikan sejumlah pena, tetapi, “Jangan yang berwarna biru,” katanya. “Aku tak mau pena biru. Aku tak suka warna biru. Warna biru tidak cocok buat saya. Jadi, tolong belikan selusin pena, warnanya boleh apa saja, asal jangan biru!” Keesokan harinya, si wartawan menerima selusin pena yang dibelikan rekannya itu, tetapi semuanya berwarna biru. Ketika ditanya, rekannya itu hanya berkata, “Kamu terus-menerus mengatakan ‘biru, biru’. Kata itu yang paling menancap di pikiranku!” Kata yang diucapkan berulang-ulang oleh wartawan itu memang memberikan dampak, tetapi berlawanan dengan apa yang sebenarnya ia kehendaki.

Musa, yang meneruskan hukum Allah kepada umat Israel, juga menggunakan pengulangan dalam menyampaikan dorongan kepada bangsanya. Lebih dari 30 kali ia mendesak bangsanya untuk tetap berpegang pada perintah dan peraturan yang diberikan Allah mereka. Namun apa yang terjadi berlawanan dengan apa yang dimintanya. Ia mengatakan kepada mereka bahwa ketaatan akan membawa mereka pada kehidupan dan berkat, tetapi ketidaktaatan akan membawa mereka pada kebinasaan (Ul. 30:15-18).

Jika kita mengasihi Allah, kita ingin hidup menurut jalan-Nya. Kita melakukannya bukan karena kita takut pada konsekuensinya, tetapi karena kita bersukacita ketika menyenangkan Dia yang kita kasihi. Baiklah kita mengingat hal tersebut. —Poh Fang Chia

Ya Tuhan, ketika kami membaca firman-Mu yang diilhami Roh, kiranya Roh-Mu itu yang mengajar kami. Tatkala kami mendengar isi hati-Mu, tolonglah kami melangkah dengan ketaatan penuh.

Kasih kepada Allah akan mengilhami kami hidup bagi Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 30-31; Markus 15:1-25