Posts

Dalam Penyesalan Sekalipun, Anugerah-Nya Memulihkan Kita

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Menjadi orang yang minder dan kurang percaya diri membuatku sering kesulitan saat membuat pilihan dalam hidup ini. Bukan hanya pilihan dalam ruang lingkup besar dan krusial, tapi juga pilihan ‘sepele’ dalam kehidupan sehari-hari. Semisal: aku harus pakai baju apa hari ini agar terlihat bagus? Aku harus naik transportasi apa supaya tidak terlambat sampai kantor dan tidak ditegur atasan? Jawaban apa yang harus kuberikan pada temanku yang sedang curhat tanpa harus menghakimi atau melukai hatinya?

Takut salah. Dua kata yang aku sadari benar-benar terjadi dalam membuat pilihan di hidupku sehari-hari. Aku takut salah mengambil langkah dan berujung pada kerugian, baik untuk diriku sendiri maupun orang lain. Aku takut menyesal. Bagiku, rasa penyesalan itu rasanya menyakitkan. Tidak enak.

Waktu SMA, aku pernah mengalami penyesalan dalam hal relasi pertemanan. Kondisinya saat itu kami sedang mengobrol biasa melalui pesan singkat, layaknya teman baik yang saling curhat terkait masalah masing-masing. Namun ada perkataan dariku—yang menurutku baik-baik saja—ternyata menyinggung perasaannya. Dia jadi salah paham dan akhirnya marah padaku. Komunikasi lewat pesan di layar ponsel merupakan bahasa yang tidak berbunyi, tidak menampilkan bahasa tubuh, tidak bisa mengekspresikan nada bicara yang sebenarnya sehingga sangat rentan untuk disalahartikan. Akibat tersinggung itu, dia menuliskan satu kata yang pada akhirnya membuatku juga ikutan tersinggung: munafik. Satu kata yang sungguh tajam melukai hatiku. Di situ aku bingung dan bertanya-tanya: Aku salah di mana, sih? Sejak saat itu pertemanan kami cukup merenggang. Kami tidak saling sapa lagi ketika bertemu di sekolah, bahkan sampai lulus SMA. Padahal sebelumnya kami adalah teman baik.

Masalah relasi tersebut akhirnya makin memperbesar rasa ‘takut salah’ itu sendiri. Aku makin kesulitan untuk bersikap dan berkata-kata pada orang lain. Aku terus-menerus bertanya pada diri sendiri: harus bersikap seperti apa? Kata-kata apa yang paling baik untuk diucapkan pada orang lain? Pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran ini pun pada saat yang sama memperbesar rasa minder dan kurang percaya diri itu sendiri. Bukan hanya dalam hal relasi, tapi dalam banyak aspek kehidupan. Aku jatuh pada penyesalan.

Lalu aku sempat berpikir: seandainya waktu dapat diulang kembali, aku akan memilih kata- kata lain yang lebih kecil kemungkinannya untuk menyinggung perasaannya. Di saat yang sama, dalam keegoisanku, aku sering juga membela diri dalam pembenaran: tapi aku kan tidak mengucapkan kata-kata kasar padanya. Kok dia tersinggung, sih? Sungguh pikiran yang kontradiktif karena aku pun bingung menentukan apakah yang kulakukan itu benar atau salah.

Dalam perenunganku menghadapi rasa sesal di masa lalu, di tengah penulisan ini aku diingatkan tentang penyesalan yang dialami raja Daud dalam Mazmur 32. Daud mengatakan:

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran- pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.”

Mungkin pengalaman menyesal yang kualami tidak seberat apa yang raja Daud alami. Namun aku belajar bahwa penyesalan pun ternyata bisa dibawa kepada Tuhan dan hanya dalam anugerah Allah saja kita bisa diselamatkan dan terbebas dari belenggu rasa bersalah. Aku sedih telah membuat teman baikku tersinggung dan sampai membuahkan relasi yang retak. Aku juga menyesal mengapa aku pada waktu itu tidak minta maaf duluan tanpa perlu membela diri melakukan pembenaran dengan alasan aku juga ikut tersinggung dengan kata-katanya. Namun, sepertinya dari peristiwa ini aku sedang diajari untuk tetap rendah hati, mau mengakui kesalahan, kelemahan dan kerentanan di hadapan Tuhan, dan menyerahkan relasi yang retak untuk Tuhan pulihkan. Aku juga belajar bahwa kedepannya, aku bisa meminta hikmat pada Tuhan dalam menentukan pilihan-pilihan yang bijaksana, termasuk pilihan dalam cara berkomunikasi atau menyampaikan pesan pada orang lain.

Cerita penyesalanku ini hanya satu dari sekian banyak penyesalan yang kualami akibat pilihan-pilihan bodoh yang kuambil di masa lalu. Namun aku juga ternyata punya pilihan untuk menjadikan masa laluku sebagai pengingat, bahwa Tuhan tak pernah tinggalkan aku dalam momen apapun; bahwa Tuhan tak pernah bosan untuk menungguku menyapa-Nya setiap hari dan menyerahkan segala masalah serta pergumulan dosaku pada-Nya; bahwa Tuhan memberikan kasih-Nya yang luar biasa dari atas kayu salib buatku supaya terbebas dari belenggu rasa bersalah; bahwa anugerah pengampunan-Nya benar-benar nyata dan terjadi.

Sekarang, dalam penyertaan Tuhan aku pelan-pelan belajar untuk mengikis rasa minder dan tidak percaya diri akibat rasa bersalah yang menghalangiku dalam membuat sebuah pilihan. Mengutip apa yang ditulis oleh David G. Benner dalam bukunya yang berjudul Surrender To Love bahwa “rasa bersalah selalu menghasilkan halangan bagi kasih” juga membuatku mengizinkan diriku untuk tenggelam dalam kasih karunia-Nya. Aku memberi diri untuk ditolong Tuhan dalam membereskan luka penyesalan di masa lalu supaya kini aku bisa melangkah maju ke depan bersama-Nya tanpa dibelenggu rasa penyesalan.

Grace alone. Hanya karena kasih karunia.

“Grace alone which God supplies

Strength unknown He will provide

Christ in us our corner stone

We will go forth in grace alone.”

(Grace Alone – Scott Wesley Brown, Jeff Nelson)

Baca Juga:

Tak Diabaikan-Nya Ratapan Kita

Kisah pertolongan Allah atas Israel mengingatkanku bahwa Allah sejatinya tidak mengabaikan ratapan umat-Nya. Namun, ratapan seperti apakah yang seharusnya kita lakukan ketika kita menghadapi penindasan atau penderitaan?

Pengakuan Terjujur dalam Hidupku

Oleh Lestari*, Jakarta

Pernahkah kalian merasakan terpesona untuk kesekian kalinya pada seseorang atau sesuatu, seakan rasa kekaguman itu baru kalian alami pertama kali? Aku pernah. Aku masih ingat saat aku memutuskan untuk meninggalkan dosa lamaku dan memulai hidup baru. Jiwa melayani yang begitu berapi-api, rasa haus yang begitu mendalam untuk mengikuti setiap pembinaan. Ah, seperti baru kemarin aku mengalami itu. Kerap kali aku diingatkan oleh banyak pembicara dalam pembinaan, hati-hati terhadap semangat yang tinggi karena tidak menutup kemungkinan akan meredup, serupa buih soda saat pertama kali dibuka.

Empat tahun menjadi alumni, aku mulai mengalami masa–masa di mana aku tidak bisa lagi menikmati indahnya persekutuan karena jam kerja di kantor yang membuatku sering lembur. Perlahan, kurasakan aku semakin menuju lembah yang kelam. Sampai di tahun 2019, aku kembali terjatuh dalam dosa lama. Saat itu, aku tahu bahwa itu dosa dan bukan tidak mungkin aku akan kembali diperbudak olehnya. Namun pikiranku buntu dan seakan seperti tahu bahwa pornografi adalah jalan keluarnya. Awal mula hanya sebagai penonton. Hingga aku tiba di satu masa, di mana aku sendiri melakukannya. Pemikiran akan bebasnya hubungan berpacaran saat ini ditambah kurangnya menikmati Firman Tuhan membuat aku melakukannya. Aku melakukan itu bahkan bukan dengan pacarku, melainkan dengan seorang pria yang baru aku kenal dari situs pencarian jodoh. Mungkin juga dipicu oleh rasa frustasi yang begitu menghantuiku mengenai pasangan hidup. Meski aku sudah tidak lagi berhubungan dengan pria itu, tapi aku tidak bisa menghentikan keinginanku untuk menikmati video pornografi. Rasa kecewa ini yang justru membuatku semakin membenamkan diri dalam jerat pornografi. Kukira aku sudah berhasil membunuh Iblis di dalam diriku. Ternyata, aku tidak bisa menenggelamkan Iblis dalam diriku, ia tahu caranya berenang.

Aku sadar telah terlampau jauh tersesat, terlalu jauh untuk kembali, dan kecewa pada diri sendiri. Terlebih aku malu pada Tuhan yang kepada-Nya aku berutang hidup. Bisa dikatakan saat itu aku bagaikan mayat hidup berjalan. Aku tetap pergi ke gereja setiap minggunya, pelayanan di gereja saat ada tugas, namun dalam hatiku begitu kering dan gelap. Pelan tapi pasti, aku berjalan menuju ke lembah kelam. Awal Mei, aku mengikuti retret dari gereja. Malam hari, ada acara renungan yang dibawakan oleh kakak gerejaku. Semua peserta berikut panitia masuk ke dalam aula yang lampunya dimatikan dan hanya diterangi cahaya dari lilin yang disebar di penjuru ruangan. Kami melakukan Jalan Salib dengan menyaksikan kembali penggalan cerita dari film Passion of The Christ sambil diiringi lagu yang dinyanyikan di tiap pemberhentian. Tuhan punya cara sendiri untuk menyadarkan kita. Di salah satu pemberhentian sebelum Yesus disalibkan, penyanyi menyanyikan lagu “He” yang liriknya seperti ini:

He can turn the tide and calm the angry sea
He alone decides who writes a symphony
He lights every star that makes our darkness bright
He keeps watch all through each long and lonely night
He still finds the time to hear a child’s first prayer, saint or sinner call, you’ll always find Him there
Though it makes Him sad to see the way we live, He’ll always say “I forgive!”

Bagian akhir lagu itu begitu meremukkanku. Tuhan tahu ketika aku melihat video porno, bahkan Ia juga tahu ketika aku melakukan dosa saat tidur dengan seorang pria dan apa yang aku lakukan itu membuat hancur hati-Nya. Aku turut menyalibkan Yesus karena dosa–dosaku. Malam itu, di bawah salib Yesus, aku mengaku akan semua dosa–dosa dan kelemahanku kemudian menyerahkan diriku kepada-Nya dan memperbaharui komitmenku. Malam itu, aku terpesona oleh cinta dan kasih-Nya untuk kesekian kalinya. Kini aku sudah mulai menikmati kembali relasi dengan Tuhan dan Firman-Nya. Di waktu senggang aku mengusahakan agar pikiranku tidak kosong dan tidak mulai mengakses situs porno dengan membaca buku, menulis atau melakukan kegiatan rumah tangga lainnya.

Sahabat, selama kita hidup kita akan terus bergumul akan dosa–dosa kita. Penebusan hanya sekali yaitu ketika Kristus mati, namun pengudusan terjadi berulang kali selama kita hidup. Tangan Yesus akan terus terbuka menanti kita hingga saatnya kita dipanggil nanti. Adalah sebuah pilihan, apakah kita mau berbalik kepada Kristus atau terus terjebak dalam dosa kita. Apakah kita akan membiarkan Kristus terus berdiri diluar pintu hati kita, atau kita mau membiarkan Dia masuk dan tinggal. Apapun pergumulan dosamu saat ini, jangan ragu untuk segera datang pada Yesus dan minta pengampunan dari-Nya.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal” (Yohanes 3:16).

*Bukan nama sebenarnya.

Baca Juga:

Just Be Yourself! Apakah Harus Selalu Begitu?

“Just be yourself”, hidup kita terlalu berharga untuk menghiraukan komentar orang lain. “Nobody perfect”, jadi anggap saja itu bagian dari kelemahanmu. Apakah harus selalu begitu?

Sebuah Aib yang Diubah Allah Menjadi Berkat

Oleh Charles Christian, Jakarta

Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria.” (Matius 1:6)

Aku pernah dengar sebuah pernyataan berikut, “Orang yang belum melupakan kesalahan orang yang diampuninya belum sungguh-sungguh mengampuninya.” Menurut mereka yang setuju dengan pernyataan tersebut, pengampunan yang sejati harus ditunjukkan dengan kita melupakan kesalahannya dan tidak mengungkit-ungkitnya lagi.

Meskipun tidak sepenuhnya, aku setuju dengan sebagian pernyataan itu. Karena aku melihat banyak orang yang katanya sudah mengampuni seseorang, tapi ketika dia disakiti lagi, dia kembali mengungkit masalah lama dan memojokkan orang yang menyakitinya dengan perkara yang sebelumnya dia katakan sudah dia ampuni. Menurutku, dia belum dengan tulus hati mengampuni. Maka saat itu kupikir benar bahwa orang yang sudah mengampuni haruslah melupakan. Bahasa kerennya, forgive and forget. Tapi pandangan itu berubah ketika aku membaca sebuah ayat di Alkitab.

Kebanyakan orang Kristen tentu tahu tentang kisah kejatuhan Raja Daud. Bagaimana dia berzinah dengan istri panglimanya sendiri, dan bagaimana dia membunuh sang panglima itu untuk menutupi kesalahannya. Nama panglima malang itu adalah Uria.

Kisah selanjutnya juga tentu tidak asing bagi kita. Bagaimana Daud menyesal akan dosa-dosa yang dilakukannya, bagaimana Allah menghukum dia dengan mengambil nyawa anaknya, dan bagaimana akhirnya Allah mengampuni dosa-dosanya. Dan, oleh kasih karunia, Allah tetap memilih Daud yang telah begitu berdosa ini untuk menjadi salah satu tokoh dari garis keturunan Yesus. Bahkan, di beberapa bagian, Yesus pun disebut sebagai anak Daud.

Sungguh sebuah kasih karunia yang sangat besar yang Daud alami ketika Allah mengampuninya. Namun, apakah Allah melupakannya?

Jika ada satu dosa yang Daud ingin agar Allah lupakan, aku menebak sangat mungkin itu adalah dosanya ketika berzinah dengan istri Uria. Dosa yang begitu dia sesali.

Beberapa dari kita juga mungkin percaya Allah telah melupakan dosa Daud ini. Apakah kamu percaya juga? Jika ya, maka apa yang tertulis dalam Matius 1:6 bisa menjadi sebuah hal yang mengejutkan dan membuat kita tidak nyaman.

Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria.”

Dari isteri Uria“. Kenapa ketiga kata ini ada di sini? Jika ada tiga kata yang Daud bisa hapuskan dari Alkitab, mungkin tiga kata ini yang akan dia hapuskan. Ketiga kata ini membuka aib Daud yang begitu besar, aib yang telah disesalinya, aib yang dia percaya telah Allah ampuni. Tetapi, ternyata, ketiga kata itu masih muncul di kitab Perjanjian Baru ini.

Siapapun yang membaca ayat ini tentu tahu Daud telah berzinah. Karena dia memperanakkan dari istri orang lain! Mungkin dia bertanya-tanya, kenapa harus tertulis “istri Uria”? Kenapa tidak “Batsyeba” saja yang dituliskan di sana? Kenapa aibnya dibuka ke semua orang? Betapa memalukannya! Sungguhkah Allah telah mengampuni dengan tulus?

Namun, aku percaya itu adalah pikiran Daud dahulu ketika dia belum mengakui dosanya di hadapan Allah. Dia amat takut dosanya diketahui orang, sehingga dia lebih memilih untuk membunuh Uria daripada dosanya itu diketahui Uria.

Tapi, jika ditanya saat ini, aku percaya Daud akan sangat bersyukur ketiga kata itu dicantumkan dalam kitab Matius. Itu bukan lagi sebuah aib baginya, tetapi itu adalah bukti kasih karunia Allah yang luar biasa. Bukti bahwa apa yang Allah berikan kepadanya sebenarnya tidak layak dia terima. Ini mengingatkan dia akan dosa-dosanya yang membuat dia begitu tidak layak di hadapan Allah, tapi toh Allah tetap mengampuninya. Tiada kata lain yang lebih tepat selain KASIH KARUNIA.

Lalu, apakah karena Allah mengingat kesalahan Daud tersebut, itu berarti Allah belum mengampuni dengan tulus? Aku percaya tidak. Allah sudah mengampuni dengan tulus. Aku mungkin salah, tapi aku percaya ketika Allah mengingat aib Daud tersebut, tidak ada lagi murka yang menyala-nyala. Karena Daud sudah diampuni Allah.

Lalu apa tujuan “aib” itu dituliskan? Kembali lagi aku percaya Allah tidak memaksudkan itu ditulis untuk membuka aib Daud, tetapi untuk menunjukkan betapa besar kasih karunia yang telah Daud terima. Allah ingin mengatakan, kasih karunia itu telah diberikan kepada Daud yang telah begitu berdosa, dan kasih karunia itu tersedia juga untuk kita semua. Akuilah segala dosa kita di hadapan-Nya, dan Dia akan mengampuni dosa-dosa kita.

Apakah itu terdengar tidak adil? Apakah itu sepertinya terlalu mudah? Apakah kamu merasa tidak layak menerimanya? Apakah ini terdengar seperti terlalu baik untuk dapat terjadi dan membuat kita begitu mensyukurinya? Namun itulah kasih karunia. Itu diberikan kepada mereka yang tidak layak mendapatkannya. Dan tiada dari kita yang layak mendapatkannya dan dapat mengusahakannya. Itu adalah pemberian Allah.

Jadi, ketika lain kali kamu teringat dosa-dosamu di masa lalu yang telah kamu akui dan sesali, janganlah itu menjatuhkanmu. Syukurilah itu. Allah sedang mengingatkanmu akan betapa besarnya kasih karunia yang telah kamu terima. Bagikanlah kabar baik ini kepada orang-orang di sekitarmu, karena semua orang membutuhkan kasih karunia ini.

Selamat membagikan kabar baik ini. Kisah kasih karunia Allah!

Tuhan memberkati harimu, sobat.

Baca Juga:

Belajar dari Marta: Yang Kita Anggap Terbaik, Kadang Bukanlah yang Terbaik

Kisah Marta menegurku. Seringkali aku bersikap seperti Marta. Aku suka menyibukkan diri supaya bisa memberikan yang terbaik, tapi kenyataannya, itu tidak selalu jadi sesuatu yang terbaik.

Tsunami yang Mengubah Hidupku

Penulis: Kelty Tjhin
Ilustrasi: Galih Reza Suseno

kesempatan-hidup-lagi

26 Desember 2004 adalah hari yang tidak akan pernah aku lupakan. Hari itu, kota kelahiranku porak poranda oleh gempa dan tsunami yang hebat. Ratusan ribu orang tewas. Dunia menundukkan kepala, turut merasakan duka yang dalam.

Saat itu usiaku baru 9 tahun, dan aku baru saja bergembira merayakan Natal. Aku masih bermalas-malasan di tempat tidur ketika tiba-tiba perabot-perabot rumah mulai bergerak-gerak sendiri. Nenekku berteriak panik, dan dengan ketakutan aku lari ke ruang tamu. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras. Tiga ruko yang baru dibangun di seberang rumahku dalam sekejap tinggal puing-puing belaka.

Setelah gempa berhenti, kami hanya bisa tenang sebentar. Orang banyak mulai berlari sambil berteriak, “LARI! LARI! AIR NAIK!” Mama dan aku mulai membereskan barang-barang agar tidak rusak bila banjir datang. Namun, yang kemudian kami saksikan bukan sekadar banjir biasa, melainkan tsunami yang sangat dahsyat!

Semuanya terjadi begitu cepat. Aku mendengar suara gemuruh, melihat arus deras membawa kapal nelayan lewat di halaman rumahku, dan dalam hitungan detik air berwarna hitam dan berbau tidak enak sudah mencapai pinggangku. Jantungku berdegup kencang. “Apakah aku akan mati?” aku mulai menangis. Pikiranku penuh dengan gambaran akhir zaman yang dibicarakan guru sekolah mingguku setiap kali kami membahas kitab Wahyu. Entah bagaimana caranya kami bisa keluar dari rumah yang makin penuh air ini. Dalam keputusasaan aku berteriak, “Tuhan, tolong kami… selamatkan kami!!!”

Beberapa detik kemudian terdengar suara ledakan yang keras. Air yang sangat deras itu menerjang dan akhirnya membobol tembok belakang rumah kami. Dengan segera terjangan air itu menghempas kami keluar rumah. Karena badanku sangat kecil dan tidak bisa berenang, aku pun tenggelam. Tidak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa pasrah saat merasakan banyak barang yang menabrakku di dalam air, hingga tiba-tiba ada suara yang berbisik keras di telingaku: “Kelty, ayo teriak!” Aku tidak tahu dari mana asal suara itu, tetapi aku mematuhinya. Aku berteriak sekuat tenaga, “Tuhan, tolooong! Mama, tolooong!!” Tak lama kemudian aku merasa ada yang mendorong badanku ke atas hingga akhirnya aku tiba di permukaan. Ketika bisa membuka mata, aku melihat mamaku. Rupanya tadi ia mendengar teriakanku lalu menarik rambutku. Tetapi, siapa yang telah mendorong aku dari bawah hingga bisa dijangkau oleh mamaku? Aku menarik napas panjang. Itu sebuah misteri yang tidak bisa kujawab. Setelah beberapa menit berada di bawah air, aku akhirnya bisa bernapas kembali. Tsunami tidak jadi merenggut nyawaku!

Aku masih ingat bagaimana kami dengan susah payah memanjat balkon tetangga yang rumahnya lebih tinggi dan diam di sana selama berjam-jam. Setelah hari mulai senja, kami kemudian berjalan menuju daerah pegunungan untuk mencari perlindungan, hanya dengan baju yang melekat di badan. Dalam perjalanan, kami melewati rumah teman mama yang mengajak kami tinggal di sana untuk sementara. Dua hari kemudian tentara mengumumkan bahwa kami semua harus segera meninggalkan Banda Aceh. Tumpukan mayat yang memenuhi jalan, tangisan pedih para korban yang selamat sembari mencari sanak keluarga mereka, membekas kuat dalam ingatanku.

Setiap kali mengingat peristiwa yang terjadi lebih dari 11 tahun yang lalu itu, aku mengaminkan kata pemazmur, “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi” (Mazmur 121:2). Aku sadar bahwa aku tidak memegang kendali atas hidupku sendiri. Tuhanlah yang telah menolongku. Dialah yang memberiku keberanian untuk berteriak saat terjebak di bawah air. Dialah yang mendorongku keluar dari air. Dialah yang menghendaki aku tetap hidup.

Adakalanya aku merasa bisa melakukan ini dan itu dengan kekuatanku sendiri. Namun, Tuhan mengizinkan tsunami datang dalam hidupku untuk selalu mengingatkan aku bahwa apa pun yang aku miliki, sekecil apa pun itu, semua adalah kasih karunia-Nya semata.

Adakalanya aku ingin hidup sesuka hati, memuaskan keinginanku sendiri. Namun, Tuhan mengizinkan tsunami datang dalam hidupku untuk selalu mengingatkan aku bahwa Tuhan adalah pemilik hidupku dan Dia mau agar hidupku memuliakan-Nya. Tuhan begitu mengasihiku. Kesempatan hidup yang Dia berikan tidak akan aku sia-siakan. Aku ingin mengisi hari-hariku dengan apa yang menyenangkan hati-Nya.

 
Untuk direnungkan lebih lanjut
“Tsunami” apa yang pernah Tuhan izinkan kamu alami dan telah mengubah cara pandangmu tentang hidup ini?

Tidak Dihitung

Sabtu, 5 April 2014

Tidak Dihitung

Baca: Matius 20:1-16

20:1 “Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.

20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.

20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.

20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi.

20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.

20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?

20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.

20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.

20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.

20:10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.

20:11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,

20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.

20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?

20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.

20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir. —Matius 20:16

Tidak Dihitung

Pertunjukan drama berjudul Amadeus bercerita tentang seorang komposer pada abad ke-18 yang sedang berusaha memahami maksud Allah. Antonio Salieri yang saleh memiliki keinginan yang tulus untuk dapat menciptakan suatu musik yang megah dan luar biasa, tetapi ia tidak dianugerahi talenta untuk melakukannya. Ia sangat marah karena Allah justru mencurahkan talenta berupa kejeniusan terhebat dalam bidang musik kepada seorang laki-laki berandalan bernama Wolfgang Amadeus Mozart.

Drama tersebut mengajukan pertanyaan yang juga diajukan oleh kitab Ayub, tetapi dalam kebalikannya. Penulis kitab Ayub bertanya-tanya mengapa Allah justru menghukum orang paling saleh di seantero dunia; sementara penulis Amadeus bertanya-tanya mengapa Allah menganugerahi seseorang yang begitu tidak layak menerimanya.

Skandal karunia ini dibahas langsung oleh Yesus lewat perumpamaan-Nya tentang para pekerja dan upah mereka yang jelas-jelas tidak adil. Sejumlah orang yang telah menganggur sepanjang hari akhirnya direkrut oleh pemilik kebun anggur pada “pukul lima petang” (Mat. 20:6-7). Para pekerja yang telah seharian bekerja sangat terkejut ketika mengetahui bahwa masing-masing dari mereka ternyata menerima upah yang sama. Majikan macam apa yang membayarkan upah yang sama kepada pekerja yang hanya bekerja satu jam dengan yang bekerja 12 jam?

Cerita Yesus ini sangatlah tidak masuk akal secara ekonomi, tetapi memang itulah maksud Yesus. Dia memberi kita perumpamaan tentang anugerah yang tidak dapat diperhitungkan seperti upah bagi suatu pekerjaan. Allah memberi kita anugerah, bukan upah. —PDY

Tuhan, kadang aku lupa bahwa kasih, berkat, atau pengampunan
yang kuterima dari-Mu itu bukanlah karena jasa usahaku.
Engkau telah mencurahkan anugerah-Mu kepadaku sebagai
pemberian dan bukan sebagai upah. Terima kasih, Tuhan.

Kata “layak” tidaklah berlaku dalam hal karunia Allah.