Posts

Pengakuan Terjujur dalam Hidupku

Oleh Lestari*, Jakarta

Pernahkah kalian merasakan terpesona untuk kesekian kalinya pada seseorang atau sesuatu, seakan rasa kekaguman itu baru kalian alami pertama kali? Aku pernah. Aku masih ingat saat aku memutuskan untuk meninggalkan dosa lamaku dan memulai hidup baru. Jiwa melayani yang begitu berapi-api, rasa haus yang begitu mendalam untuk mengikuti setiap pembinaan. Ah, seperti baru kemarin aku mengalami itu. Kerap kali aku diingatkan oleh banyak pembicara dalam pembinaan, hati-hati terhadap semangat yang tinggi karena tidak menutup kemungkinan akan meredup, serupa buih soda saat pertama kali dibuka.

Empat tahun menjadi alumni, aku mulai mengalami masa–masa di mana aku tidak bisa lagi menikmati indahnya persekutuan karena jam kerja di kantor yang membuatku sering lembur. Perlahan, kurasakan aku semakin menuju lembah yang kelam. Sampai di tahun 2019, aku kembali terjatuh dalam dosa lama. Saat itu, aku tahu bahwa itu dosa dan bukan tidak mungkin aku akan kembali diperbudak olehnya. Namun pikiranku buntu dan seakan seperti tahu bahwa pornografi adalah jalan keluarnya. Awal mula hanya sebagai penonton. Hingga aku tiba di satu masa, di mana aku sendiri melakukannya. Pemikiran akan bebasnya hubungan berpacaran saat ini ditambah kurangnya menikmati Firman Tuhan membuat aku melakukannya. Aku melakukan itu bahkan bukan dengan pacarku, melainkan dengan seorang pria yang baru aku kenal dari situs pencarian jodoh. Mungkin juga dipicu oleh rasa frustasi yang begitu menghantuiku mengenai pasangan hidup. Meski aku sudah tidak lagi berhubungan dengan pria itu, tapi aku tidak bisa menghentikan keinginanku untuk menikmati video pornografi. Rasa kecewa ini yang justru membuatku semakin membenamkan diri dalam jerat pornografi. Kukira aku sudah berhasil membunuh Iblis di dalam diriku. Ternyata, aku tidak bisa menenggelamkan Iblis dalam diriku, ia tahu caranya berenang.

Aku sadar telah terlampau jauh tersesat, terlalu jauh untuk kembali, dan kecewa pada diri sendiri. Terlebih aku malu pada Tuhan yang kepada-Nya aku berutang hidup. Bisa dikatakan saat itu aku bagaikan mayat hidup berjalan. Aku tetap pergi ke gereja setiap minggunya, pelayanan di gereja saat ada tugas, namun dalam hatiku begitu kering dan gelap. Pelan tapi pasti, aku berjalan menuju ke lembah kelam. Awal Mei, aku mengikuti retret dari gereja. Malam hari, ada acara renungan yang dibawakan oleh kakak gerejaku. Semua peserta berikut panitia masuk ke dalam aula yang lampunya dimatikan dan hanya diterangi cahaya dari lilin yang disebar di penjuru ruangan. Kami melakukan Jalan Salib dengan menyaksikan kembali penggalan cerita dari film Passion of The Christ sambil diiringi lagu yang dinyanyikan di tiap pemberhentian. Tuhan punya cara sendiri untuk menyadarkan kita. Di salah satu pemberhentian sebelum Yesus disalibkan, penyanyi menyanyikan lagu “He” yang liriknya seperti ini:

He can turn the tide and calm the angry sea
He alone decides who writes a symphony
He lights every star that makes our darkness bright
He keeps watch all through each long and lonely night
He still finds the time to hear a child’s first prayer, saint or sinner call, you’ll always find Him there
Though it makes Him sad to see the way we live, He’ll always say “I forgive!”

Bagian akhir lagu itu begitu meremukkanku. Tuhan tahu ketika aku melihat video porno, bahkan Ia juga tahu ketika aku melakukan dosa saat tidur dengan seorang pria dan apa yang aku lakukan itu membuat hancur hati-Nya. Aku turut menyalibkan Yesus karena dosa–dosaku. Malam itu, di bawah salib Yesus, aku mengaku akan semua dosa–dosa dan kelemahanku kemudian menyerahkan diriku kepada-Nya dan memperbaharui komitmenku. Malam itu, aku terpesona oleh cinta dan kasih-Nya untuk kesekian kalinya. Kini aku sudah mulai menikmati kembali relasi dengan Tuhan dan Firman-Nya. Di waktu senggang aku mengusahakan agar pikiranku tidak kosong dan tidak mulai mengakses situs porno dengan membaca buku, menulis atau melakukan kegiatan rumah tangga lainnya.

Sahabat, selama kita hidup kita akan terus bergumul akan dosa–dosa kita. Penebusan hanya sekali yaitu ketika Kristus mati, namun pengudusan terjadi berulang kali selama kita hidup. Tangan Yesus akan terus terbuka menanti kita hingga saatnya kita dipanggil nanti. Adalah sebuah pilihan, apakah kita mau berbalik kepada Kristus atau terus terjebak dalam dosa kita. Apakah kita akan membiarkan Kristus terus berdiri diluar pintu hati kita, atau kita mau membiarkan Dia masuk dan tinggal. Apapun pergumulan dosamu saat ini, jangan ragu untuk segera datang pada Yesus dan minta pengampunan dari-Nya.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup kekal” (Yohanes 3:16).

*Bukan nama sebenarnya.

Baca Juga:

Just Be Yourself! Apakah Harus Selalu Begitu?

“Just be yourself”, hidup kita terlalu berharga untuk menghiraukan komentar orang lain. “Nobody perfect”, jadi anggap saja itu bagian dari kelemahanmu. Apakah harus selalu begitu?

Indah di Mata Allah

Sabtu, 13 Juli 2019

Indah di Mata Allah

Baca: Mazmur 8:5-10

8:5 apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

8:6 Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

8:7 Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:

8:8 kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;

8:9 burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.

8:10 Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!

Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? —Mazmur 8:5

Indah di Mata Allah

Ketika Denise mulai berpacaran, ia mencoba mempertahankan tubuh langsingnya dan tampil modis, karena yakin dengan demikian ia akan terlihat lebih menarik bagi pacarnya. Lagipula, itulah nasihat yang diterimanya dari sejumlah majalah gaya hidup wanita. Ternyata, di kemudian hari, Denise baru mengetahui pendapat sang pacar yang sebenarnya. Ia berkata, “Aku tetap menyukaimu bahkan ketika kamu lebih gemuk dan tidak repot memikirkan baju apa yang akan kamu pakai.”

Denise pun menyadari betapa subjektifnya “kecantikan”. Pandangan kita tentang kecantikan mudah sekali dipengaruhi oleh hal-hal lain yang sering berpusat pada penampilan luar dan mengabaikan keindahan dalam batin. Namun, Allah melihat kita hanya dengan satu cara—yaitu sebagai anak-anak-Nya yang indah dan terkasih. Saya suka membayangkan bagaimana ketika Allah menciptakan dunia, Dia sengaja menciptakan yang terakhir sebagai yang terbaik—kita! Semua yang diciptakan Allah baik, tetapi kita istimewa karena diciptakan menurut gambar-Nya (Kej. 1:27).

Allah memandang kita indah! Tidak heran pemazmur dipenuhi rasa kagum ketika ia membandingkan kebesaran alam dengan manusia. Ia bertanya, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? (Mzm. 8:5). Namun, Allah memilih menganugerahi manusia dengan kemuliaan dan kehormatan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain (ay.6).

Kebenaran itu memberikan kita kepastian dan alasan untuk memuji-Nya (ay.10). Apa pun pendapat orang lain tentang diri kita, atau pandangan kita sendiri, ketahuilah: Kita indah di mata Allah. —Leslie Koh

WAWASAN
Para penulis Alkitab terkadang mengutip bagian Alkitab yang lain, dan cara mereka membahasnya sungguh menarik untuk dicermati. Mazmur 8 berisi sajak Daud yang mengutip firman dalam Kejadian 1:26, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Beberapa abad kemudian, penulis surat Ibrani mengutip Mazmur 8:4-6 untuk menyampaikan kegagalan manusia dalam menyadari mandat kekuasaan dan untuk menekankan bahwa hal itu telah digenapi dalam diri Yesus. Berbicara mengenai Kristus, Ibrani 2:9 berkata, “Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.” —Arthur Jackson

Bagaimana pandangan kamu tentang dirimu sendiri? Menurut kamu, bagaimana pandangan Allah tentang dirimu?

Bapa, Engkau tahu betapa tidak percaya dirinya kami. Terima kasih untuk kepastian bahwa Engkau mengasihi kami!

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 7-9; Kisah Para Rasul 18

Handlettering oleh Julio Mesak Nangkoda

Berhenti Melarikan Diri

Selasa, 9 Juli 2019

Berhenti Melarikan Diri

Baca: Yunus 2:1-10

2:1 Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu,

2:2 katanya: “Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.

2:3 Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.

2:4 Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus?

2:5 Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku

2:6 di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.

2:7 Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus.

2:8 Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia.

2:9 Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!”

2:10 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.

Dalam kesusahanku aku berseru kepada Tuhan, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. —Yunus 2:2

Berhenti Melarikan Diri

Pada tanggal 18 Juli 1983, seorang kapten Angkatan Udara Amerika Serikat menghilang tanpa jejak dari kota Albuquerque di negara bagian New Mexico. Tiga puluh lima tahun kemudian, pihak berwenang menemukannya di California. Surat kabar The New York Times melaporkan bahwa orang tersebut mengalami “depresi dengan pekerjaannya” dan memutuskan untuk melarikan diri begitu saja.

Tiga puluh lima tahun dalam pelarian! Setengah dari masa hidupnya dihabiskan dalam kondisi tidak tenang. Pastilah kekhawatiran dan paranoia selalu membayangi dirinya.

Namun, harus diakui saya juga tahu sedikit banyak apa rasanya menjadi seorang “pelarian”. Memang saya tidak pernah melarikan diri dari sesuatu dalam hidup saya . . . secara fisik. Namun, adakalanya saya tahu ada sesuatu yang Tuhan mau saya lakukan, atau sesuatu yang harus saya hadapi atau akui. Akan tetapi, saya tidak ingin melakukannya, dan itu sama saja dengan melarikan diri dari-Nya.

Nabi Yunus dikenal karena pernah melarikan diri dari tugas yang diberikan Allah untuk berkhotbah ke kota Niniwe (lihat Yun. 1:1-3). Tentu saja Yunus tidak mungkin bisa melarikan diri dari Allah. Kamu mungkin sudah mengetahui kisah selanjutnya (ay.4,17): Badai besar. Ikan besar. Ditelan ikan. Lalu, di dalam perut makhluk yang menakutkan itu, Yunus dihadapkan pada perbuatannya, dan ia pun berseru meminta tolong kepada Allah (2:2).

Yunus bukanlah nabi yang sempurna. Namun, saya terhibur oleh kisahnya, karena Allah tidak pernah melepaskan Yunus walaupun ia sangat keras kepala. Tuhan masih menjawab doa yang dinaikkan Yunus dalam kepasrahan dan dengan kemurahan-Nya memulihkan kembali sang hamba yang enggan (ay.2). Tuhan juga sanggup melakukan hal yang sama terhadap kita. —Adam Holz

WAWASAN
Semula, Yunus diutus untuk melayani kerajaan Israel utara pada masa pemerintahan raja Yerobeam II (2 Raja-raja 14:23-28). Allah kemudian mengutusnya untuk bernubuat kepada Ninewe, ibukota Asyur, guna memperingatkan mereka agar bertobat atau menghadapi penghakiman Allah (Yunus 1:1). Setelah Yunus menolak melakukan misi baru ini dan melarikan diri ke arah yang berlawanan (ay. 3), Allah mendisiplinkannya dengan memerintahkan seekor ikan besar untuk menelannya (ay. 4, 17). Dalam Yunus 2, diceritakan doa pertobatan nabi Yunus selama berada di dalam perut ikan. Yesus memakai peristiwa ini untuk memberikan tanda tentang kematian dan kebangkitan-Nya. “Karena sama seperti Yunus yang berada dalam perut ikan besar selama tiga hari dan tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan berada di dalam bumi selama tiga hari dan tiga malam” (Matius 12:40; Yunus 1:17). —K.T. Sim

Perkara apa yang membuatmu ingin melarikan diri dalam hidup ini? Bagaimana kamu dapat semakin mempercayakan segala pergumulan hidupmu kepada Allah?

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 38-40; Kisah Para Rasul 16:1-21

Handlettering oleh Tora Tobing

Ketika Hiu Tidak Menggigit

Sabtu, 29 Juni 2019

Ketika Hiu Tidak Menggigit

Baca: Amsal 27:1-10

27:1 Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.

27:2 Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri.

27:3 Batu adalah berat dan pasirpun ada beratnya, tetapi lebih berat dari kedua-duanya adalah sakit hati terhadap orang bodoh.

27:4 Panas hati kejam dan murka melanda, tetapi siapa dapat tahan terhadap cemburu?

27:5 Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi.

27:6 Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.

27:7 Orang yang kenyang menginjak-injak madu, tetapi bagi orang yang lapar segala yang pahit dirasakan manis.

27:8 Seperti burung yang lari dari sarangnya demikianlah orang yang lari dari kediamannya.

27:9 Minyak dan wangi-wangian menyukakan hati, tetapi penderitaan merobek jiwa.

27:10 Jangan kautinggalkan temanmu dan teman ayahmu. Jangan datang di rumah saudaramu pada waktu engkau malang. Lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh.

Orang yang kenyang menginjak-injak madu. —Amsal 27:7

Ketika Hiu Tidak Menggigit

Anak-anak saya sangat gembira, sementara saya merasa gelisah. Saat liburan, kami mengunjungi sebuah akuarium yang memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk membelai hiu-hiu kecil yang dipelihara dalam kolam khusus. Saat saya bertanya kepada petugas apakah hiu-hiu itu pernah menggigit jari pengunjung, ia menjelaskan bahwa ikan-ikan itu baru saja diberi makan dan sudah diberi makanan ekstra. Hewan-hewan itu tidak akan menggigit karena tidak merasa lapar.

Pelajaran yang saya dapat tentang membelai hiu ternyata sesuai dengan perkataan dalam kitab Amsal: “Orang yang kenyang menginjak-injak madu, tetapi bagi orang yang lapar segala yang pahit dirasakan manis” (Ams. 27:7). Rasa lapar—kekosongan yang dirasakan dalam batin—dapat melemahkan ketajaman kita dalam mengambil keputusan. Rasa lapar mendorong kita untuk mencari kepuasan diri dengan apa pun yang dapat memuaskan kita, sekalipun hal itu membawa kerugian bagi orang lain.

Namun, Allah menghendaki hidup kita tidak dikuasai oleh hasrat kita. Dia rindu kita dipenuhi oleh kasih Kristus supaya apa pun yang kita lakukan bersumber dari kedamaian dan stabilitas yang Dia sediakan. Kesadaran terus-menerus bahwa kita dikasihi tanpa syarat itulah yang memberikan kita kepercayaan diri. Kita pun dimampukan untuk menyaring hal-hal yang “baik” dalam kehidupan ini—seperti pencapaian, harta benda, dan hubungan dengan sesama.

Hanya hubungan dengan Yesus yang dapat memberikan kepuasan sejati. Kiranya kita memegang teguh kasih-Nya yang ajaib bagi kita, sehingga kita senantiasa “dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (ef. 3:19) demi kebaikan kita—dan orang lain juga. —Jennifer Benson Schuldt

WAWASAN
Amsal banyak berbicara tentang hubungan antar manusia (10:12; 16:28; 17:9-10; 18:24) serta pentingnya memiliki teman-teman yang takut akan Allah (12:26; 13:20;17:17; 22:24-25; 24:1-2). Dalam Amsal 27, Salomo memuji nilai seorang sahabat sejati (ay.5-6, 9-10, 17). Kawan yang bisa dipercaya adalah orang-orang yang masuk dalam kehidupan Anda dan bisa menegur serta mengoreksi dengan kasih; mereka tidak takut ‘mengecewakan’ Anda untuk sementara (dengan teguran) demi melindungi Anda dari bahaya yang fatal (ay.5-6). Nasihat mereka yang tulus dan jujur terasa seperti aroma minyak dan wangi-wangian yang menyenangkan (ay.9). Teman sejati adalah mereka yang tetap dekat dan selalu ada saat Anda membutuhkannya, menyediakan penghiburan dan dukungan dalam masa-masa kesukaran (ay.10). Teman sejati menjadikan Anda orang yang lebih baik (ay.17). —K.T. Sim

Apa yang paling kamu kejar dalam hidup ini? Mengapa Yesus sanggup memenuhimu dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh yang lain?

Mereka yang menerima Yesus sebagai Roti Hidup tidak akan lapar lagi.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 14-16; Kisah Para Rasul 9:22-43

Handlettering oleh Tora Tobing

Tuhan Bersukacita

Minggu, 23 Juni 2019

Tuhan Bersukacita

Baca: Zefanya 3:14-20

3:14 Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem!

3:15 TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi.

3:16 Pada hari itu akan dikatakan kepada Yerusalem: “Janganlah takut, hai Sion! Janganlah tanganmu menjadi lemah lesu.

3:17 TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai,

3:18 seperti pada hari pertemuan raya.” “Aku akan mengangkat malapetaka dari padamu, sehingga oleh karenanya engkau tidak lagi menanggung cela.

3:19 Sesungguhnya pada waktu itu Aku akan bertindak terhadap segala penindasmu, tetapi Aku akan menyelamatkan yang pincang, mengumpulkan yang terpencar dan akan membuat mereka yang mendapat malu menjadi kepujian dan kenamaan di seluruh bumi.

3:20 Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu, sebab Aku mau membuat kamu menjadi kenamaan dan kepujian di antara segala bangsa di bumi dengan memulihkan keadaanmu di depan mata mereka,” firman TUHAN.

[Allah] bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai. —Zefanya 3:17

Tuhan Bersukacita

Belum lama ini, Nenek mengirimi saya sebuah album tua penuh dengan foto-foto lama, dan ketika saya membolak-baliknya, ada satu foto yang menarik perhatian saya. Foto itu menampilkan saya saat berusia dua tahun, duduk di depan perapian di salah satu sisi. Di sisi lain, tampak Ayah yang merangkul pundak Ibu. Keduanya menatap saya dengan ekspresi penuh cinta dan kegembiraan.

Saya menempel foto itu di meja rias supaya bisa melihatnya setiap pagi. Saya diingatkan akan kasih sayang orangtua kepada saya. Namun, kenyataannya kasih sayang orangtua yang baik sekalipun tetap tidak sempurna. Saya menyimpan foto tersebut untuk mengingatkan saya bahwa meskipun cinta kasih manusia kadang-kadang gagal, kasih Allah tidak pernah gagal—dan menurut Kitab Suci, Allah melihat saya dengan sukacita seperti orangtua melihat saya dalam foto tadi.

Nabi Zefanya menggambarkan kasih Allah dengan cara yang membuat saya kagum. Ia menggambarkan Allah bersukacita karena umat-Nya dengan sorak-sorai. Padahal, umat Tuhan belum layak mendapatkan kasih seperti itu. Mereka gagal mematuhi-Nya atau tidak memperlakukan sesamanya dengan belas kasihan. Namun, Zefanya berjanji bahwa pada akhirnya, kasih Allah akan mengatasi segala kegagalan mereka. Allah akan menyingkirkan hukuman mereka (Zef. 3:15), dan Dia akan bersukacita karena mereka (ay.17). Dia akan mengumpulkan umat-Nya, membawa mereka pulang, dan memulihkan mereka (ay.20).

Itulah kasih yang patut kita renungkan setiap pagi. —Amy Peterson

WAWASAN
Kitab Zefanya ditutup dengan pengharapan yang besar, tetapi sebagian besar isinya memperingatkan tentang penghakiman yang berat. Mengapa? Sebab Yerusalem “makin giat menjadikan busuk perbuatan mereka” (Zefanya 3:7) meskipun Allah berusaha meluruskan umat-Nya. Namun, Allah menjanjikan kesatuan yang penuh damai. “Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu,” kata-Nya melalui sang nabi (ay.9). Penekanan kata “bibir” sangatlah menarik; Allah memilih dosa yang spesifik yakni berbohong dan menyombongkan diri—dosa-dosa yang melibatkan perkataan. Cara yang diambil-Nya untuk mempertobatkan umat akan berhasil. “Di antara [Israel] akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah,” kata-Nya. “Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong” (ay.12-13). Penghakiman Allah ini menjadi latar belakang bagi penutup kitab Zefanya yang memberikan penghiburan. —Tim Gustafson

Bagaimana perasaanmu mengetahui bahwa Allah bersorak-sorai karenamu? Bagaimana selama ini kamu mengalami kasih-Nya?

Ya Allah, terima kasih untuk pengampunan dan kasih setia-Mu atas kami.

Bacaan Alkitab Setahun: Ester 9-10; Kisah PARA RASUL 7: 1-21

Handlettering oleh Kath Melisa

Bermain Petak Umpet

Sabtu, 22 Juni 2019

Bermain Petak Umpet

Baca: Kejadian 3:1-10

3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”

3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,

3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”

3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,

3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

3:8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.

3:9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?”

3:10 Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

Tetapi Tuhan Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” —Kejadian 3:9

Bermain Petak Umpet

Duh, bakal ketahuan tempat persembunyianku,” pikir saya. Saya merasakan jantung berdebar kencang sewaktu mendengar langkah-langkah kaki saudara sepupu saya yang berusia lima tahun berbelok ke ruangan saya. Semakin dekat. Lima langkah lagi. Tiga. Dua. “Ketemu!”

Sebagian dari kita memiliki kenangan indah bermain petak umpet semasa kecil. Namun terkadang dalam kehidupan nyata, rasa takut bakal ketahuan bukanlah perasaan yang menyenangkan. Naluri hati kita lebih condong untuk melarikan diri. Adakalanya kita tidak suka pada apa yang kita lihat.

Sebagai anak-anak yang hidup di dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, kita cenderung memainkan apa yang disebut sebagai “petak umpet dengan Tuhan.” Sesungguhnya, yang kita lakukan hanyalah pura-pura bersembunyi—karena tentulah Tuhan bisa melihat segala jalan pikiran dan pilihan kita yang bobrok. Kita juga tahu itu, tetapi kita bersikap seolah-olah Dia tidak bisa melihatnya.

Meski demikian, Allah terus mencari kita. Dia memanggil kita, “Keluarlah. Aku ingin melihatmu, bahkan bagian-bagian hidupmu yang paling memalukan”—seperti yang Allah katakan dahulu pada saat Dia memanggil manusia pertama yang bersembunyi karena ketakutan: “Di manakah engkau?” (Kej. 3:9). Undangan lembut itu disuarakan lewat pertanyaan yang tajam. Allah seakan berkata, “Keluarlah dari persembunyianmu, anak-Ku, dan jalin kembali hubungan dengan-Ku.”

Mungkin itu tampaknya terlalu berisiko, bahkan tidak masuk akal. Namun, dalam kehangatan kasih Bapa yang aman, siapa pun kita, apa pun keberhasilan atau kegagalan kita, kita sepenuhnya dikenali dan tetap dikasihi oleh-Nya. —JEFF OLSON

WAWASAN
Dalam bacaan hari ini, kita melihat bagaimana Iblis menyimpangkan firman Allah. Adam dan Hawa dilarang mendekati satu pohon saja—“pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat” (Kejadian 2:16-17)—bukan semua pohon (3:1). “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (ay.4) adalah kebohongan yang disengaja (2:17). Hawa juga menambahi perintah Allah dengan berkata, “Jangan kamu makan ataupun raba buah itu” (3:3). Paulus mengatakan bahwa Hawa tertipu oleh kelicikan Iblis (2 Korintus 11:3). Kita harus berjaga-jaga (1 Petrus 5:8) “supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita” (2 Korintus 2:11). —K.T. Sim

Bagaimana kamu terhibur oleh kesadaran bahwa Allah tetap merindukan kita datang kepada-Nya sekalipun Dia melihat dan mengetahui semua keburukan kita? Bagaimana kesadaran itu justru memerdekakanmu?

Pribadi yang paling mengerti kita itu mengasihi kita apa adanya.

Bacaan Alkitab Setahun: Ester 6-8; Kisah PARA RASUL 6

Handlettering oleh Novia Jonatan

Juruselamat yang Mengenal Kita

Minggu, 16 Juni 2019

Juruselamat yang Mengenal Kita

Baca: Yohanes 1:43-51

1:43 Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!”

1:44 Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus.

1:45 Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”

1:46 Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”

1:47 Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”

1:48 Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.”

1:49 Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”

1:50 Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.”

1:51 Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” —Yohanes 1:48

Juruselamat yang Mengenal Kita

“Ayah, jam berapa sekarang?” tanya putra saya dari kursi belakang. “Jam setengah enam.” Saya tahu pasti apa yang akan ia katakan selanjutnya. “Salah! Sekarang masih setengah enam kurang dua menit!” Saya perhatikan wajahnya yang sangat gembira, seakan hendak mengatakan, “Kena deh!” Saya juga merasa senang, karena sebagai orangtua, saya mengenal persis kebiasaan anak saya.

Seperti orangtua mana pun yang penuh perhatian, saya mengenal anak-anak saya. Saya tahu bagaimana reaksi mereka ketika saya membangunkan mereka dari tidur. Saya tahu apa yang mereka inginkan untuk makan siang. Saya tahu minat, keinginan, dan pilihan mereka yang begitu beragam.

Namun demikian, saya tidak akan pernah benar-benar mengenal mereka dengan sempurna seperti Tuhan mengenal kita masing-masing.

Di Yohanes 1, kita dapat melihat sekilas pengetahuan mendalam yang Yesus miliki atas murid-murid-Nya. Natanael didesak Filipus untuk menemui Yesus, dan ketika ia menghampiri-Nya, Yesus berseru: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (ay.47). Dengan terkejut, Natanael berkata kepada-Nya, “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Dengan jawaban yang agak misterius, Yesus berkata bahwa Dia telah melihat Natanael di bawah pohon ara (ay.48).

Kita mungkin tidak mengerti alasan Yesus mengungkapkan fakta tersebut, tetapi kelihatannya Natanael mengerti! Karena takjub, ia pun menjawab, “Rabi, Engkau Anak Allah!” (ay.49).

Yesus mengenal kita masing-masing dengan sangat baik, utuh, dan sempurna—sesuatu yang selalu kita rindukan. Dia pun menerima kita sepenuhnya, dan mengundang kita, bukan hanya menjadi pengikut-Nya, melainkan juga menjadi sahabat terkasih-Nya (Yoh. 15:15). —Adam Holz

WAWASAN
Dua belas rasul (para murid Yesus) disebutkan namanya dalam Matius 10:2-4, Markus 3:16-19, dan Lukas 6:14-16 (ketiganya dikenal sebagai Injil Sinoptik karena serupa dalam isi dan urutan), tetapi tidak dalam Injil Yohanes. Namun, Yohanes menceritakan bagaimana lima murid Yesus (hanya empat yang disebut namanya: Andreas, Petrus, Filipus, dan Natanael) bertemu dengan Dia untuk pertama kalinya (Yohanes 1:35-51). Karena Natanael tidak disebut sebagai salah satu dari dua belas rasul dalam Sinoptik, hal ini membangkitkan pertanyaan mengenai identitasnya. Para pakar Alkitab berpendapat bahwa Natanael adalah orang yang sama dengan Bartolomeus. Ada dua alasan pendukung. Pertama, Natanael tidak disebutkan dalam Injil Sinoptik dan Bartolomeus tidak disebutkan dalam Injil Yohanes (artinya, kemungkinan dua tulisan itu memakai nama berbeda untuk menyebut orang yang sama). Kedua, karena Filipus dan Bartolomeus selalu disebutkan bersamaan, sementara Filipus disebutkan bersama dengan Natanael dalam Yohanes1:43-45, para ahli menyimpulkan bahwa Bartolomeus dan Natanael adalah orang yang sama. —K.T. Sim

Bagaimana perasaan kamu setelah menyadari bahwa kamu dikenal seutuhnya oleh Yesus, Tuhan kita?

Tuhan Yesus, terima kasih sudah mengundangku untuk mengikut-Mu di sepanjang lika-liku hidupku.

Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 4-6; Kisah Para Rasul 2:22-47

Handlettering oleh Agnes Paulina

Pada Waktunya

Kamis, 18 April 2019

Pada Waktunya

Baca: Lukas 23:32-46

23:32 Dan ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati bersama-sama dengan Dia.

23:33 Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.

23:34 Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.

23:35 Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.”

23:36 Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya

23:37 dan berkata: “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!”

23:38 Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: “Inilah raja orang Yahudi”.

23:39 Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”

23:40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?

23:41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”

23:42 Lalu ia berkata: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”

23:43 Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.”

23:44 Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga,

23:45 sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua.

23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. —Yohanes 10:17-18

Pada Waktunya

Pintu mobil ambulans hampir tertutup—dan saya ada di dalamnya. Di luar, anak lelaki saya sedang menelepon istri saya. Dengan penglihatan yang mulai kabur karena kondisi gegar otak, saya memanggil nama anak saya. Menurut ceritanya, saat itu saya sempat berkata kepadanya dengan suara lirih, “Beri tahu ibumu aku sangat mencintainya.”

Rupanya saya mengira saya akan berpisah dengannya, dan saya ingin kalimat itu menjadi kata-kata terakhir saya. Hal itulah yang terpenting bagi saya waktu itu.

Ketika Yesus memasuki masa tergelap dalam hidup-Nya, Dia tidak hanya memberi tahu kita bahwa Dia mengasihi kita; Dia menunjukkannya dengan cara-cara yang spesifik. Dia menunjukkannya kepada prajurit-prajurit yang memaku tangan-Nya ke kayu salib: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Dia memberikan harapan kepada penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Dia: “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (ay.43). Menjelang saat-saat terakhir, Dia menatap ibu-Nya. “Ibu, inilah, anakmu,” kata-Nya kepada Maria, dan kepada sahabat karib-Nya Yohanes, Dia berkata, “Inilah ibumu” (Yoh. 19:26-27). Lalu, ketika nyawa-Nya hendak meninggalkan raga-Nya, tindakan kasih terakhir dari Yesus adalah mempercayai Bapa-Nya: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk. 23:46).

Yesus sengaja memilih jalan salib untuk menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa-Nya—dan kedalaman kasih-Nya kepada kita. Sampai akhir, Dia menunjukkan kasih-Nya yang tak menyerah. —Tim Gustafson

WAWASAN

Kematian Yesus mengubahkan orang-orang yang hadir menyaksikannya. Salah satu dari dua penjahat yang disalibkan bersama Dia berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Lukas 23:39-43). Kepala pasukan yang ditugaskan untuk menghukum Yesus berseru, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Markus 15:39). —Tim Gustafson

Apa yang paling berarti bagi Anda? Bagaimana kasih dan ketaatan saling melengkapi?

Setiap perkataan Yesus diucapkan-Nya dengan penuh kasih.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 3–5; Lukas 14:25-35

Handlettering oleh Catherine Tedjasaputra

Bertumbuh Mekar Seperti Bunga

Rabu, 17 April 2019

Bertumbuh Mekar Seperti Bunga

Baca: Mazmur 103:13-22

103:13 Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.

103:14 Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.

103:15 Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga;

103:16 apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.

103:17 Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu,

103:18 bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.

103:19 TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu.

103:20 Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya.

103:21 Pujilah TUHAN, hai segala tentara-Nya, hai pejabat-pejabat-Nya yang melakukan kehendak-Nya.

103:22 Pujilah TUHAN, hai segala buatan-Nya, di segala tempat kekuasaan-Nya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!

Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga. —Mazmur 103:15

Bertumbuh Mekar Seperti Bunga

Cucu saya yang paling kecil baru berusia dua bulan, tetapi setiap kali saya melihatnya, ada saja perubahan-perubahan kecil dalam dirinya. Baru-baru ini, ketika saya sedang berbicara lembut kepadanya, ia menatap saya dan tersenyum! Tiba-tiba saja saya menangis. Mungkin saya gembira melihat senyumnya, sekaligus terharu mengenang senyum pertama anak-anak saya sendiri—sesuatu yang saya saksikan sekian puluh tahun lalu, tetapi yang rasanya baru terjadi kemarin. Terkadang memang ada saat-saat yang tidak bisa dijelaskan seperti itu.

Dalam Mazmur 103, Daud menuliskan sebuah pujian puitis yang memuji Allah sembari mengingat betapa cepatnya saat-saat indah dalam hidup kita berlalu: “Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia” (ay.15-16).

Meskipun mengakui betapa singkatnya hidup ini, Daud menggambarkan bunga itu “berbunga” atau berkembang. Meskipun setiap tangkai bunga mekar dan tumbuh dengan cepat, tetapi wangi, warna, serta keindahannya membawa sukacita besar pada saat itu. Berbeda dengan setangkai bunga yang bisa sedemikian cepatnya dilupakan—“dan tempatnya tidak mengenalnya lagi” (ay.16)—kita mendapatkan jaminan bahwa ”kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia” (ay.17).

Seperti bunga, kita dapat bersukacita dan bertumbuh pada suatu waktu; tetapi kita juga bisa mensyukuri bagaimana setiap momen dalam kehidupan kita tidak pernah benar-benar terlupakan. Allah mengendalikan setiap detail hidup kita, dan kasih setia-Nya yang kekal akan selalu menyertai anak-anak-Nya selama-lamanya! —Alyson Kieda

WAWASAN

Dalam Mazmur 103, Daud memuji sifat belas kasih Allah. Dengan membandingkan kasih Allah dengan dengan kasih seorang ayah, ia menuliskan bahwa Tuhan berbelas kasihan kepada orang-orang yang takut akan Dia. Maksud Daud bukanlah bahwa Allah berbelas kasih kepada mereka yang ketakutan terhadap Dia, seolah Tuhan mengawasi dan memastikan agar semua orang menerima otoritas-Nya karena tertekan oleh rasa takut. Sebaliknya, kata “takut” di sini memiliki pengertian sebagai pengenalan yang tepat dan sikap yang patut kepada pribadi yang memang layak dihormati. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada mereka yang takut akan Dia, yang memiliki pengertian dan menyembah-Nya dengan penuh hormat.
Mungkin kita cenderung berpikir bahwa rasa takut kitalah yang menghasilkan belas kasih-Nya. Namun, dalam ungkapan puitisnya, Daud mengajarkan bahwa belas kasihan itu berasal dari Allah, sama sekali bukan balasan atas pengakuan kita tentang Dia. Belas kasih Allah merupakan sikap Allah terhadap kita karena melihat siapa kita sebenarnya—debu. Allah berbelas kasih kepada kita karena kita hanya debu. —J.R. Hudberg

Dalam hal apa Anda bisa “berbunga” di saat ini? Bagaimana Anda dapat memberikan sukacita kepada orang lain?

Allah menyediakan apa yang kita butuhkan untuk bertumbuh bagi-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 1–2; Lukas 14:1-24

Handlettering oleh Novia Jonatan