Posts

Kasih Seluas Kasih Allah

Selasa, 4 Februari 2020

Kasih Seluas Kasih Allah

Baca: Matius 5:43-48

5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.

5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?

5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?

5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu?—Matius 5:46

Kasih Seluas Kasih Allah

Saya pernah mengunjungi pemukiman kumuh di Santo Domingo, Republik Dominika. Rumah-rumah di sana terbuat dari seng, dengan kabel listrik bergelantungan di atasnya. Di sana saya berkesempatan mewawancarai sejumlah keluarga dan mendengar bagaimana gereja-gereja membantu mereka mengatasi masalah pengangguran, narkoba, dan kejahatan.

Di suatu lorong, saya menaiki tangga reyot menuju suatu ruang kecil untuk mewawancarai seorang ibu dan anaknya. Namun, seseorang tergopoh-gopoh datang dan berkata, “Cepat, kita harus menyingkir dari sini.” Ternyata seorang ketua geng bersenjatakan golok sedang mengumpulkan massa untuk menyerang kami.

Kami tidak menemui masalah di pemukiman kedua yang kami kunjungi. Saya baru tahu alasannya belakangan. Saat saya mengunjungi satu demi satu rumah di sana, seorang ketua geng berdiri di luar menjaga kami. Anak perempuan ketua geng itu dipelihara dan disekolahkan oleh gereja, dan karena jemaat gereja merawatnya dengan baik, ayah anak itu pun menjaga kami.

Dalam khotbah-Nya di bukit, Yesus menyajikan standar kasih yang tidak tertandingi. Kasih seperti ini tidak hanya merangkul mereka yang “layak” tetapi juga mereka yang tidak layak (Mat. 5:43-45). Kasih itu tidak hanya menjangkau keluarga dan sahabat, tetapi juga menjamah mereka yang tidak akan atau tidak dapat membalas kasih kita (ay.46-47). Itulah kasih seluas kasih Allah (ay.48)—kasih yang memberkati semua orang.

Ketika jemaat di Santo Domingo menghidupi kasih ini, lingkungan mereka pun mulai berubah. Hati yang keras mulai melembut dan mau mendukung pekerjaan Tuhan. Itulah yang terjadi ketika kasih seluas kasih Allah hadir di tengah-tengah mereka.—Sheridan Voysey

WAWASAN
Salah satu hukum nasional yang paling awal dari Israel memerintahkan mereka untuk memperlakukan musuh-musuh dengan murah hati dan hormat (Keluaran 23:4-5). Dalam Matius 5:43-48, Yesus memperjelas perintah itu. Bila kita mengasihi musuh, kita meniru kemurahan hati dan kebaikan Allah Bapa terhadap seluruh umat manusia, termasuk kepada mereka yang jahat (ay.45). Mirip dengan itu, Paulus juga mengajar kita untuk tidak “membalas kejahatan dengan kejahatan” (Roma 12:17). Sebaliknya, kita diajar untuk “[mengalahkan] kejahatan dengan kebaikan” (ay.21). Kita bisa melakukannya karena kita percaya bahwa Allah yang akan menuntut pembalasan (ay.19).—K.T. Sim

Bagaimana kamu menggambarkan perbedaan antara kasih manusia dan kasih Allah? Siapa yang ingin kamu berkati hari ini tetapi tidak dapat membalas kebaikanmu?

Tuhan Yesus, curahkanlah kasih-Mu kepadaku agar aku juga dapat mencurahkannya kepada orang lain—bahkan kepada mereka yang tidak dapat membalas kebaikanku.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 34-35; Matius 22:23-46

Kasih-Nya Merobohkan dan Membangun

Oleh Erick Mangapul Gultom, Jakarta

Aku memiliki seorang teman yang waktu SMA sering menyendiri. Pernah sekali waktu aku bersama teman-teman lainnya melihat dia menangis sendirian, kami pun menghiburnya supaya dia tidak sedih lagi. Setelah sekian lama tidak berjumpa dan berkomunikasi, tak disangka dia menemukan media sosialku dan mengirimiku pesan. Akhirnya pada suatu kesempatan kami pun berbicara lewat telepon.

Sekian lama mengobrol, dia pun mulai bercerita tentang kondisi kehidupan pribadi dan keluarganya. Dia sangat sulit untuk mengampuni, bahkan sering mendendam. Sanak saudaranya sering bertengkar dan dia tidak tahan dengan semuanya itu. Kudengarkan semua cerita kehidupannya dan tentang dirinya sendiri yang belum yakin akan imannya, terutama perihal keselamatan.

Aku tahu temanku membutuhkan Kristus, dalam hati aku berdoa memohon supaya Tuhan memimpinku untuk mewartakan Kabar Baik kepadanya. Aku mulai bercerita bahwa hal yang dia alami pernah juga menjadi bagian dalam hidupku. Keberdosaan membuat kita melihat segala hal dengan pola pikir kita sendiri dan kita sulit untuk menemukan hal baik dari segala yang terjadi.

Kuceritakan padanya tentang Tuhan Yesus yang meninggalkan takhta-Nya di surga. Dia yang mencipta segala yang ada, telah datang ke dalam dunia. Dia dilahirkan di kandang domba, difitnah, disiksa, dan mati di kayu salib. Dia ditolak karena keberdosaan kita yang lebih menyukai kegelapan daripada terang. Namun, di dalam keadaan sebagai seteru, Dia mengampuni kita. Kita yang sepantasnya dihukum karena dosa, namun karena kasih-Nya, Tuhan Yesus memberikan anugerah yang tidak terbayarkan itu secara cuma-cuma kepada kita.

Temanku mulai bertanya mengapa Yesus mau melakukan-Nya. Aku mengatakan karena begitu besar kasih-Nya kepada kita, Dia ingin kita kembali bersekutu dengan-Nya di dalam kekudusan. Siapa yang mau datang kepada-Nya diberi-Nya kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Aku menjelaskan pada temanku itu ada dua hal yang akan terjadi ketika kita mengalami kasih Tuhan.

Kasih-Nya merobohkan

Ya, kasih-Nya telah merobohkan segala benteng yang memisahkan kita dari-Nya, segala kuasa dosa yang membelenggu yang membuat kita sangat sulit mengampuni seseorang dan pola pikir kita yang berpusat kepada diri sendiri.

“Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Petrus 2:24).

Kasih-Nya membangun

Selanjutnya, Dia membuat jalan bahkan menjadi jalan yang baru dan yang memberikan kehidupan, bukan untuk sementara, tetapi selamanya.

“Karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri” (Ibrani 10:20).

Sebelumnya kita berdosa dan menjadi musuh Allah. Tetapi, ketika Tuhan menerima kita kembali, kita bukan lagi musuh, tetapi anak-anak-Nya. Perdamaian kita melalui Yesus Kristus membuat kita memiliki hidup yang melimpah di dalam anugerah, sehingga kita dapat berdamai dengan diri sendiri dan melihat setiap orang dengan kasih. Kita dimampukan mengampuni orang ang bersalah kepada kita, bahkan mengasihi mereka dan mengambil kebaikan dari segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita, terus diproses setiap hari semakin serupa dengan-Nya. Di akhir telepon, aku mengajak dia untuk menyerahkan diri kepada Yesus Kristus, agar dia dipulihkan-Nya dan mengalami anugerah kasih-Nya.

* * *

Di kemudian hari, aku mendapat kabar dari temanku bahwa dia mulai rutin membaca Alkitab. Walaupun masih agak sulit untuk membaca di rumah, dia tetap berjuang dan memintaku untuk berbagi firman Tuhan lewat ponsel. Aku memberinya satu lagu karya John Newton, Amazing Grace. Lagu ini menjadi pujian dan ucapan syukur kepada Tuhan atas anugerah-Nya yang menyelamatkan siapa pun yang mau datang dan berserah kepada-Nya. Aku sangat bersyukur Tuhan menyentuh hati temanku untuk dia kembali pada-Nya. Kukatakan pada temanku untuk membagikan kembali apa yang sudah di dapatkan dan terus belajar menerapkan firman Tuhan dalam hidupnya, dimulai dari hal-hal yang paling sederhana.

Barangkali pengalaman yang sama pernah teman-teman alami, sulit mengampuni seseorang yang telah menyakiti kita. Ingatlah kembali bahwa Kristus telah mati bagi kita dan kita telah diubahkan menjadi manusia baru. Hanya kasih-Nya yang mampu merobohkan sekaligus membangun. Merobohkan manusia lama kita yang masih terbelenggu di dalam keberdosaan sehinga kita kembali dibangun di dalam kebenaran dan kasih Kristus.

Janganlah kasih itu hanya tinggal pada kita, beritakanlah perbuatan-Nya yan ajaib kepada setiap orang.

Soli Deo Gloria!

Amazing grace! How sweet the sound,
That saved a wretch like me
I once was lost, but now am found
Was blind but now I see.

Baca Juga:

Belajar Penginjilan dari Paulus (Pengajaran dari Kisah Para Rasul 17:16-34)

Bagaimana Paulus memberitakan Injil kepada orang-orang di Athena? Apa yang kita bisa adopsi dan adaptasi ke dalam keadaan kita sekarang?

Tempat Aman yang Palsu

Rabu, 25 September 2019

Tempat Aman yang Palsu

Baca: Markus 1:9-15

1:9 Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes.

1:10 Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya.

1:11 Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

1:12 Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun.

1:13 Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis. Ia berada di sana di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.

1:14 Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah,

1:15 kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”

Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil! —Markus 1:15

Tempat Aman yang Palsu

Ketika anjing kami Rupert masih kecil, ia sangat takut pergi ke luar rumah. Saya sampai harus menyeretnya untuk bisa mengajaknya berjalan-jalan di taman. Suatu hari, setelah sampai di taman, dengan bodohnya saya melepaskan Rupert dari talinya. Ia langsung lari terbirit-birit, kembali ke rumah, ke tempat amannya.

Pengalaman itu mengingatkan saya kepada seorang laki-laki yang pernah saya jumpai di pesawat, yang meminta maaf kepada saya begitu pesawat bersiap untuk terbang di landas pacu. “Maaf, saya pasti akan mabuk di sepanjang penerbangan,” katanya. “Sebenarnya kamu tidak mau mabuk, bukan?” tanya saya. “Memang saya tidak mau,” jawab lelaki itu, “tetapi saya tidak bisa lepas dari minuman anggur.” Akhirnya ia memang mabuk, dan yang paling menyedihkan adalah ketika sang istri memeluknya ketika mereka turun dari pesawat, tetapi setelah mencium bau napasnya, ia mendorong suaminya jauh-jauh. Minuman telah menjadi pelariannya, suatu tempat aman yang palsu.

Yesus memulai misi-Nya dengan berkata, “Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (mrk. 1:15). “Bertobat” berarti mengubah haluan. “Kerajaan Allah” adalah kekuasaan Allah yang penuh kasih atas hidup kita. Daripada berlari ke tempat-tempat yang menjerat kita, atau dikuasai oleh rasa takut dan candu yang merusak, Yesus menyatakan bahwa kita dapat dikuasai oleh Allah sendiri, yang dengan kasih-Nya membawa kita kepada kemerdekaan dan hidup baru.

Kini Rupert sangat senang pergi ke taman. Saya harap laki-laki yang saya jumpai tadi juga mengalami sukacita dan kemerdekaan sejati, serta meninggalkan tempat amannya yang palsu. —Sheridan Voysey

WAWASAN
Mengapa Yesus datang kepada Yohanes untuk dibaptis? (Markus 1:9). Markus mencatat bahwa Yohanes memberitakan, “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu“ (ay.4), dan Matius mencatat bahwa Yohanes membaptis “dengan air sebagai tanda pertobatan” (3:11). Yesus adalah satu-satunya manusia tak berdosa yang pernah hidup di bumi, artinya Dia tidak membutuhkan pertobatan atau pengampunan. Jadi, untuk apa Dia dibaptis? Sebagian orang menafsirkan bahwa baptisan Kristus merupakan pernyataan bahwa Dia mengambil bagian dalam/menyamakan diri dengan umat manusia yang berdosa. Sebagian lain mengatakan bahwa baptisan tersebut mengukuhkan pelayanan-Nya. Mungkin, dengan itu, Yesus menyatakan diri-Nya sama dengan manusia dalam hal penundukan diri kepada Allah dan kehendak Bapa. Itulah arti pengakuan dosa—seperti yang diperbuat oleh orang-orang yang dibaptis, yakni berserah diri kepada Allah. Dengan memberi diri dibaptis, Yesus melakukan hal yang sama. —J.R. Hudberg

Adakah tempat aman yang palsu yang kamu datangi saat kamu merasa ketakutan atau tertekan? Bagaimana kamu akan meninggalkannya hari ini agar kamu menyerahkan diri kamu di bawah kedaulatan Allah yang membawa kemerdekaan?

Tuhan Yesus, ampunilah aku karena aku sering mencari kebahagiaan di luar Engkau. Kini aku meninggalkan hal-hal tersebut dan menyerahkan hidupku kepada-Mu. Bawalah aku kepada kemerdekaan sejati.

Bacaan Alkitab Setahun: Kidung Agung 6-8; Galatia 4

Handlettering oleh Christa Brilian

Merasa Kecil

Kamis, 19 September 2019

Merasa Kecil

Baca: Matius 6:25-32

6:25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

6:26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

6:27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?

6:28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,

6:29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.

6:30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?

6:31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?

6:32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? —Mazmur 8:5

Merasa Kecil

Banyak kritikus film menganggap film Lawrence of Arabia karya David Lean sebagai salah satu film terhebat sepanjang masa. Dengan menampilkan pemandangan gurun jazirah Arab yang membentang seolah tak berujung, film tersebut telah mempengaruhi satu generasi pembuat film—termasuk sutradara pemenang Oscar, Steven Spielberg. “Saya langsung terinspirasi waktu pertama kali menonton film Lawrence,” kata Spielberg. “Film itu membuat saya merasa kecil, bahkan sampai sekarang. Di situlah letak kehebatannya.”

Saya sendiri merasa kecil oleh luasnya alam ciptaan—saat saya memandangi lautan, terbang di atas tudung es kutub, atau menatap langit malam yang berhiaskan milyaran bintang gemerlapan. Bila alam semesta begitu luas, betapa jauh lebih besarnya Sang Pencipta yang menjadikan semuanya itu dengan firman-Nya!

Kebesaran Allah dan perasaan kecilnya manusia dinyatakan oleh Daud ketika ia berseru: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm. 8:5). Namun, Yesus meyakinkan kita, “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Mat. 6:26).

Mungkin saya merasa kecil dan tak berarti, tetapi di mata Bapa, saya sangat berharga—keberhargaan yang terbukti setiap kali saya memandang salib. Mahalnya harga yang rela Dia bayarkan untuk memulihkan hubungan saya dengan Dia adalah bukti bahwa bagi-Nya saya sangatlah berharga. —Bill Crowder

WAWASAN
Bacaan hari ini meneruskan Khotbah di Bukit (Matius 5-7). Perikop tersebut merupakan bagian dari tema utama dalam pasal 6 tentang “jalan dan kehidupan orang Kristen di dunia, dalam hubungannya dengan Bapa” [D. Martyn Lloyd-Jones, Studies in the Sermon on the Mount]. Ada perbedaan kontras di sini. Bagian-bagian sebelumnya (ay.19-24) membicarakan tentang bahaya menimbun harta di dunia, sedangkan bagian ini membahas kekhawatiran mengenai materi. Sebagian orang meyakini bahwa bagian pertama ditujukan kepada orang-orang kaya, sedangkan perikop hari ini ditujukan kepada orang miskin atau orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akan tetapi, sebenarnya orang kaya pun bisa saja menderita kekhawatiran mengenai harta. Bagaimana pun cara pandang kita terhadap dua perikop tersebut, keduanya sama-sama mengajarkan bahayanya mencari rasa aman selain dalam Allah dan pemeliharaan-Nya yang besar (1 Petrus 5:7). —Alyson Kieda

Keajaiban alam apa yang membawamu mengingat Allah? Bagaimana hal itu membuatmu menyadari betapa berharganya kamu bagi Sang Pencipta?

Bapa, tolonglah kami mengingat bahwa kami selalu ada di dalam hati-Mu. Tuntunlah kami untuk menemukan makna sejati hidup kami di dalam-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 1-3; 2 Korintus 11:16-33

Aku Tidak Takut Bahaya

Selasa, 10 September 2019

Aku Tidak Takut Bahaya

Baca: Mazmur 23

23:1 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

23:2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;

23:3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

23:5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.

23:6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku. —Mazmur 23:4

Aku Tidak Takut Bahaya

Pada tahun 1957, Melba Pattillo Beals terpilih menjadi salah satu dari sembilan siswa kulit hitam pertama yang boleh bersekolah di Central High School, sebuah sekolah di Little Rock, Arkansas yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi siswa kulit putih. Dalam memoarnya yang terbit di tahun 2018, I Will Not Fear: My Story of a Lifetime of Building Faith under Fire (Aku Takkan Takut: Perjuangan Hidupku Membangun Iman di Bawah Tekanan), Beals mengungkapkan kisah memilukan tentang perjuangannya menghadapi ketidakadilan dan pelecehan yang ditanggungnya dengan berani setiap hari sebagai siswa berusia lima belas tahun.

Namun, ia juga menulis tentang imannya yang teguh kepada Allah. Di saat-saat tergelapnya, ketika ketakutan nyaris melumpuhkannya, Beals berulang kali mengucapkan ayat-ayat Alkitab yang sudah dipelajarinya sejak kecil dari neneknya. Saat mengucapkannya, Beals diingatkan kembali akan penyertaan Allah, dan Alkitab memberinya keberanian untuk bertahan.

Beals sering mengucapkan Mazmur 23 dan sangat terhibur dengan menyatakan bagian ini: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” (ay.4). Selain itu, ia juga dikuatkan oleh dorongan semangat dari sang nenek yang selalu meyakinkannya bahwa Allah “sangat dekat denganmu, dan kau hanya perlu berseru kepada-Nya bila membutuhkan pertolongan.”

Meskipun situasinya mungkin berbeda, kita pasti akan mengalami masa-masa sulit dan keadaan menakutkan yang mudah membuat kita menyerah. Di saat-saat itulah, kiranya hatimu dikuatkan oleh kebenaran tentang kuasa kehadiran Allah yang akan selalu menyertai kita. —Lisa Samra

WAWASAN
Mazmur 23 karya Daud merupakan suatu ungkapan kepercayaan kepada Allah. Gambaran yang dipakai adalah kiasan Allah sebagai Gembala memimpin umat-Nya (ay.1), suatu metafora yang umum dipakai untuk para raja (2 Samuel 5:2; Yesaya 44:28). Sang Gembala membimbing pemazmur “ke air yang tenang” (Mazmur 23:2) dan “di jalan yang benar” (ay.3), lambang kedamaian yang menopang perjalanan kita, sekalipun “dalam lembah kekelaman” (ay.4). Gada dan tongkat (ay.4) biasa dipakai oleh para gembala untuk membimbing dan melindungi dombanya. Dari pengalamannya menjadi gembala, Daud tahu bahwa gada dan tongkat harus selalu dipakai untuk menjaga gembalaan tetap aman (1 Samuel 17:34-35). “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku,” kata “mengikuti” ini berasal dari bahasa Ibrani radaph, yang juga berarti “mengejar.” Kalimat terakhir ini menegaskan bahwa Allah akan menyertai Daud selama hidupnya, baik di bumi maupun di surga, di mana ia kelak “diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa” (Mazmur 23:6). —Julie Schwab

Pernahkah kamu merasakan kehadiran Allah dalam situasi yang menakutkan? Bagaimana kebenaran tentang Allah yang selalu menyertai itu menghiburmu?

Ya Bapa, ketika aku takut, tolong aku mengingat bahwa Engkau dekat, dan memperoleh keberanian dalam kehadiran-Mu yang berkuasa.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 8-9; 2 Korintus 3

Terang bagi Jalan Kita

Rabu, 4 September 2019

Terang bagi Jalan Kita

Baca: Kejadian 1:1-5

1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

1:3 Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.

1:4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.

1:5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. —Kejadian 1:3

Terang bagi Jalan Kita

Restoran itu indah, tetapi gelap gulita. Hanya ada sebatang lilin kecil berkedip-kedip di setiap meja. Agar dapat membaca menu, memandang teman semeja, bahkan melihat apa yang mereka makan, para tamu menggunakan telepon genggam mereka sebagai sumber cahaya.

Akhirnya, seorang tamu dengan tenang keluar dari kursinya, menghampiri pramusaji, dan mengajukan permintaan sederhana. “Bisa tolong nyalakan lampunya?” Tak lama kemudian, lampu di langit-langit pun menyala, cahaya terang yang hangat memenuhi ruangan, dan seisi ruangan bersorak gembira dengan bertepuk tangan. Seketika itu, terdengar canda tawa di mana-mana. Juga obrolan riang dan ucapan terima kasih. Suami teman saya mematikan telepon genggamnya, meraih alat makannya, lalu berbicara mewakili kami semua. “Lalu, jadilah terang! Sekarang, mari kita makan!”

Malam yang tadinya suram berubah menjadi ceria hanya dengan menyalakan lampu. Namun, alangkah jauh lebih penting mengenal sumber terang sejati yang sebenarnya. Allah sendiri memfirmankan kata-kata yang dahsyat tersebut, “Jadilah terang,” pada hari pertama ketika Dia menciptakan alam semesta, “lalu terang itu jadi” (Kej. 1:3). Kemudian “Allah melihat bahwa terang itu baik” (ay.4).

Terang menyatakan besarnya kasih Allah kepada kita. Terang-Nya menuntun kita kepada Yesus, Sang “terang dunia” (Yoh. 8:12), yang memimpin kita keluar dari kekelaman dosa. Dengan melangkah dalam terang-Nya, kita menapaki jalan menuju hidup yang memuliakan Kristus. Dialah anugerah paling cemerlang yang pernah diberikan bagi dunia. Melangkahlah dalam jalan yang diterangi-Nya. —Patricia Raybon

WAWASAN
Salah satu karakteristik Alkitab yang mengagumkan adalah bahwa setiap bagian yang berbeda tetap saling mendukung, dan keseluruhannya menceritakan tentang Yesus. Sinergi itu juga tampak dalam bacaan hari ini, Kejadian 1:1-5 dan Yohanes 1:1-5. Keduanya dimulai dengan frasa “pada mulanya”, suatu masa pada permulaan zaman ketika Allah menciptakan dunia. Pada mulanya, ada Allah (Kejadian 1:1), dan Firman (Yesus; Yohanes 1:1,14) ada bersama-sama dengan Bapa dan Roh Kudus (Kejadian 1:2). Kejadian 1 mengungkapkan pekerjaan Allah Tritunggal dalam penciptaan, sedangkan Yohanes menegaskan bahwa Kristus memegang peran utama dalam penciptaan tersebut (Yohanes 1:3). Kedua kisah itu berakhir dengan terang yang memasuki kegelapan di dalam kekosongan sebelum ada penciptaan. Mulanya, terang itu terjadi melalui firman yang diucapkan Bapa (Kejadian 1:3), yaitu suatu cahaya (terang dalam pengertian harfiah). Pada akhirnya, datanglah ‘terang’ dunia (terang dalam pengertian simbolis), yaitu Yesus (Yohanes 1:4-5; 8:12; 9:5). —Bill Crowder

Dalam keadaan apa kamu membutuhkan terang Yesus bersinar? Pernahkah terang-Nya menuntunmu di masa lalu?

Allah Mahakasih, kami bersyukur kepada-Mu untuk Yesus, Sang Terang Dunia, dan kebesaran kasih-Nya yang menuntun kami.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 143-145; 1 Korintus 14:21-40

Cinta yang Tak Terpadamkan

Jumat, 9 Agustus 2019

Cinta yang Tak Terpadamkan

Baca: Kidung Agung 8:6-7

8:6 —Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!

8:7 Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.

Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. —Kidung Agung 8:7

Cinta yang Tak Terpadamkan

Saat pertama kalinya kami melihat parit di belakang rumah kami, bentuknya hanyalah aliran kecil air di sela-sela bebatuan di tengah teriknya matahari musim panas. Papan-papan kayu yang berat berfungsi sebagai jembatan yang memudahkan kami untuk menyeberang. Beberapa bulan kemudian, hujan deras turun di daerah kami selama beberapa hari berturut-turut. Parit kecil yang jinak itu tiba-tiba berubah menjadi sungai berarus deras dengan kedalaman kurang lebih 1 meter dan lebar 3 meter! Daya laju air sempat menyapu jembatan kayu di sana hingga berpindah tempat beberapa meter jauhnya.

Air yang deras memiliki kemampuan menghanyutkan hampir apa saja yang menghalanginya. Namun, ada yang tidak dapat dihancurkan oleh banjir atau kekuatan lain yang mengancamnya, yaitu cinta atau kasih. “Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya” (Kid. 8:7). Cinta yang teguh dan mendalam sering hadir dalam hubungan asmara, tetapi hanya dapat terungkap sepenuhnya dalam kasih Allah kepada umat manusia melalui Putra-Nya, Yesus Kristus.

Ketika hal-hal yang kita andalkan ternyata lenyap, wajarlah jika kita merasa kecewa. Namun, kekecewaan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk memahami kembali makna kasih Allah kepada kita. Kasih-Nya lebih tinggi, lebih dalam, lebih kuat, dan lebih lama bertahan daripada apa pun yang ada di bumi ini. Apa pun yang kita hadapi, kita menghadapinya bersama Dia di sisi kita—Dia menopang, menolong, dan mengingatkan bahwa kita dikasihi oleh-Nya. —Jennifer Benson Schuldt

WAWASAN
Selama berabad-abad, Kidung Agung telah menyulitkan para pakar Alkitab sehingga timbullah beragam penafsiran terhadap kitab yang unik ini. Karena nuansa keintiman dalam puisi yang diinspirasikan oleh Allah ini, sejumlah pakar Yahudi memaknainya sebagai alegori yang menggambarkan relasi Allah dengan Israel. Itu sebabnya, hingga kini, beberapa bagian Kidung Agung dibacakan pada Paskah orang Yahudi—perayaan musim semi yang merayakan penyelamatan Allah terhadap Israel. Banyak teolog (sejak Origen, bapa gereja mula-mula) memahaminya sebagai kiasan dari Kristus dan gereja-Nya. Namun, dalam tafsiran modern, sejumlah pakar memahami Kidung Agung secara lebih literal—yakni sukacita kasih sepasang suami istri dalam pernikahan. Kitab ini merupakan sajak misterius yang merayakan keindahan cinta. —Bill Crowder

Bagaimana kamu yakin bahwa Allah akan selalu mengasihimu? Apa hasil dari kasih Allah dalam hidupmu?

Bapa Surgawi, terima kasih karena Engkau telah menghiburku dengan kasih-Mu di saat-saat aku ditolak atau mengalami kekecewaan. Tolonglah aku untuk percaya bahwa aku dapat bergantung kepada-Mu untuk menjawab setiap kebutuhan jiwaku.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 77-78; Roma 10

Handlettering oleh Robby Kurniawan

Akankah Kau Kembali?

Selasa, 6 Agustus 2019

Akankah Kau Kembali?

Baca: Hosea 3:1-5

3:1 Berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis.”

3:2 Lalu aku membeli dia bagiku dengan bayaran lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai.

3:3 Aku berkata kepadanya: “Lama engkau harus diam padaku dengan tidak bersundal dan dengan tidak menjadi kepunyaan seorang laki-laki; juga aku ini tidak akan bersetubuh dengan engkau.”

3:4 Sebab lama orang Israel akan diam dengan tidak ada raja, tiada pemimpin, tiada korban, tiada tugu berhala dan tiada efod dan terafim.

3:5 Sesudah itu orang Israel akan berbalik dan akan mencari TUHAN, Allah mereka, dan Daud, raja mereka. Mereka akan datang dengan gementar kepada TUHAN dan kepada kebaikan-Nya pada hari-hari yang terakhir.

Cintailah dia seperti Aku juga mencintai orang Israel sekalipun mereka meninggalkan Aku dan menyembah ilah-ilah lain. —Hosea 3:1 (BIS)

Akankah Kau Kembali?

Pernikahan Ron dan Nancy berada di ujung tanduk. Nancy pernah selingkuh, tetapi kemudian mengakui dosanya kepada Allah. Ia tahu apa yang Tuhan mau ia lakukan, tetapi itu sangat sulit baginya. Akhirnya Nancy menceritakan hal yang sebenarnya kepada Ron. Alih-alih minta cerai, Ron memilih untuk memberi Nancy kesempatan agar ia dapat dipercaya kembali dengan menunjukkan bahwa dirinya telah berubah. Dengan cara yang ajaib, Allah memulihkan pernikahan mereka.

Tindakan Ron adalah gambaran kasih dan pengampunan Allah kepada orang berdosa seperti kamu dan saya. Nabi Hosea memahami dengan baik hal ini. Allah memerintahkan Hosea untuk menikahi perempuan yang tidak setia sebagai cara untuk menunjukkan kepada bangsa Israel ketidaksetiaan mereka kepada Allah (hos. 1). Tidak hanya sampai di situ, bahkan ketika istri Hosea meninggalkannya, Allah menyuruh Hosea untuk mengajak istrinya bersatu kembali. Kata-Nya, “Pergilah lagi dan cintailah seorang wanita yang suka berzinah” (3:1 bis). Walaupun umat Allah memberontak dan tidak taat kepada Allah, Allah tetap merindukan hubungan yang akrab dengan umat-Nya. Sama seperti Hosea mencintai istrinya yang tidak setia, mengejarnya, dan berkorban baginya, demikianlah kasih Allah kepada umat-Nya. Kemarahan dan kecemburuan-Nya yang benar dimotivasi oleh kasih-Nya yang besar.

Allah yang sama juga merindukan kita mendekat kepada-Nya hari ini. Ketika kita datang dan beriman kepada-Nya, kita dapat meyakini bahwa di dalam Dia kita akan menemukan kepuasan total. —Estera Pirosca Escobar

WAWASAN
Hosea 14:2 merupakan jantung kitab Hosea, “Kembalilah kepada TUHAN Allahmu, hai bangsa Israel!” (BIS). Kata kuncinya terdapat pada kata kembali. Berulang kali dalam kitab Hosea kita melihat Allah—yang setia dan memegang perjanjian-Nya—memanggil Israel yang tidak setia untuk kembali kepada-Nya. Bahasa Ibrani untuk “kembali” adalah šūb (dibaca syub). Kata kerja ini lazim dipakai dalam Perjanjian Lama, lebih dari 1.050 kali (kata ke-12 terbanyak dipakai dalam Perjanjian Lama). Delapan belas di antaranya ada dalam kitab Hosea. Makna teologis dari kata ini adalah pertobatan Israel kepada Tuhan, seperti tertulis dalam Hosea 3:5: “Tapi akan datang masanya bangsa Israel kembali kepada TUHAN Allah mereka, dan kepada raja mereka dari keturunan Daud” (BIS). —Arthur Jackson

Bagaimana kamu merespons kasih Allah kepadamu hari ini? Kepada siapakah kamu ingin dan dapat membagikan kasih Allah?

Allah Bapa, ajaib dan besar kasih-Mu bagi pendosa seperti aku! Aku tidak layak menerima kasih-Mu karena segala kesalahanku. Terima kasih Engkau mengampuniku, menebusku, dan memperbaiki hubungan-Mu denganku.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 70-71; Roma 8:22-39

Buldog dan Alat Penyemprot Air

Kamis, 1 Agustus 2019

Buldog dan Alat Penyemprot Air

Baca: Efesus 3:14-21

3:14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,

3:15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.

3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,

3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.

3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,

3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.

3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,

3:21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. —Efesus 3:19

Buldog dan Alat Penyemprot Air

Hampir setiap pagi di musim panas, ada pertunjukan menarik di halaman belakang rumah kami yang melibatkan sebuah alat penyemprot air dan seekor anjing buldog. Kira-kira pukul 6.30 pagi, sejumlah alat penyemprot air menyala secara otomatis. Biasanya, tak lama kemudian, muncullah Fifi (nama yang diberikan keluarga kami), si anjing buldog.

Pemilik Fifi sengaja melepaskannya dari tali pengikat. Buldog itu pun berlari sekencang-kencangnya ke alat penyemprot air terdekat, lalu menerjang air yang memancur sampai seluruh mukanya basah. Seandainya alat penyemprot itu bisa dimakan, mungkin Fifi sudah melakukannya. Alangkah luar biasanya kegembiraan yang terlihat dari seekor anjing yang tidak bosan-bosannya bermain dengan air hingga sekujur tubuhnya basah kuyup.

Memang Alkitab tidak menyebutkan tentang buldog atau alat penyemprot air. Namun, di satu sisi, doa Paulus di Efesus 3 mengingatkan saya pada Fifi. Sang rasul berdoa agar jemaat di Efesus dipenuhi dengan kasih Allah, “supaya [mereka] bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.” Ia berdoa agar mereka “dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (ay.18-19).

Sampai hari ini, kita masih diundang untuk mengalami Allah yang kasih-Nya tak terhingga melebihi segalanya, supaya kita juga bisa mengalami curahan kebaikan-Nya sampai kita benar-benar terpuaskan oleh-Nya. Kita bebas menikmati hubungan yang gembira dengan satu-satunya Pribadi yang sanggup memenuhi hati dan hidup kita dengan kasih, makna, dan tujuan. —Adam Holz

WAWASAN
Efesus 3:14-21 adalah salah satu contoh doksologi dalam Alkitab. Kata doksologi berasal dari dua kata Yunani: doxa (kemuliaan) dan logia (perkataan). Doksologi adalah sebuah pernyataan atau deklarasi kemuliaan Allah. Pada ayat 21, Paulus berdoksologi, “Bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus.” Perhatikan pemakaian kata kemuliaan dalam doksologi Perjanjian Baru lainnya. Pada Roma 11:33-36, Allah diberi kemuliaan karena hikmat-Nya, bagian itu diakhiri dengan: “Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Dalam 1 Timotius 1:17, Allah diberi kemuliaan karena kekekalan-Nya: “Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak Nampak, yang esa!” Dalam Yudas 1:24-25, kemuliaan Allah tampak karena Dia menjaga anak-anak-Nya: “Bagi Dia, yang berkuasa menjaga . . . bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa. . .” —Bill Crowder

Bagimu, hal apa yang melambangkan curahan kelimpahan kasih Allah atas hidupmu? Hal apa yang berpotensi merintangimu untuk mengalami kasih Allah?

Ya Allah, puji syukur untuk kasih-Mu yang tak terhingga dan memuaskan kami. Tolonglah kami mengenali dan mengalami kasih-Mu bagi kami.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 57-59; Roma 4

Handlettering oleh Naomi Prajogo Djuanda