Posts

4 Hal Istimewa dari Kisah Yesus dan Perempuan Samaria

Oleh Paramytha Magdalena

Apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengar Samaria?

Dari sebuah literatur yang kubaca, Samaria merupakan kata yang mengacu kepada tempat di wilayah pegunungan antara Galilea di utara dan Yudea di selatan. Orang-orang yang tinggal di sana disebut juga sebagai orang ‘Samaria’. Pada masa-masa pelayanan Yesus di bumi, orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.

Kalau kita menelisik lebih lagi, Alkitab mencatat dengan jelas bagaimana relasi antara orang Samaria dan Yahudi dalam kehidupan sehari-hari. Yohanes 4:9 menuliskan demikian: “Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)”. Orang-orang Yahudi menganggap orang Samaria itu kafir atau ras tidak murni karena mereka melakukan perkawinan campur dengan bangsa lain.

Kisah orang Yahudi dan Samaria yang tercatat di Alkitab memunculkan paradoks, terlebih jika kita menyimak detail kisah pertemuan Yesus dengan seorang perempuan Samaria. Perempuan itu mengambil air sekitar tengah hari, mungkin maksudnya agar dia tidak berjumpa dengan banyak orang. Namun, dia malah berjumpa dengan Yesus, seorang Yahudi yang notabene bermusuhan dengan orang Samaria.

Respons Yesus kepada perempuan itu luar biasa. Alih-alih menjauhinya, Yesus malah meminta minum darinya. Di sinilah Yesus menunjukkan cinta dan kasih Tuhan yang manis itu.

Ada 4 hal istimewa yang kudapatkan dari pertemuan Perempuan Samaria dan Yesus.

1. Apa pun latar belakang kita, kita dicintai dan diterima oleh Yesus

Perempuan Samaria ini memiliki latar belakang dan perilaku yang bisa dikatakan buruk karena sering berganti pasangan. Bahkan pasangan yang saat itu bersama dengannya bukanlah suaminya (ayat 18). Jadi, bukanlah hal yang mengejutkan lagi jika sikap orang sekitarnya akan menjauhi atau bahkan memandang rendah. Akan tetapi, Yesus mau menemui secara pribadi dan menghampiri perempuan tersebut.

Betapa seringnya aku berpikir bahwa aku harus melakukan semua hal dengan baik dulu agar bisa merasa layak dikasihi dan diterima oleh-Nya. Yesus menerima kita bukan berdasarkan apa yang kita perbuat, tetapi karena kasih-Nya sajalah (Roma 5:10).

Perempuan Samaria ini tidak melakukan apa-apa untuk membuat Yesus tertarik menemuinya. Cinta dan penerimaan-Nya tidak berdasar pada moral, status sosial, latar belakang, pengalaman, maupun kegagalan seseorang. Kasih-Nya adalah sebuah pemberian dan anugerah. Jadi, setiap kita memiliki kesempatan yang sama untuk menikmatinya.

Apakah kita mau menerima cinta-Nya dan memberikan cinta kita pada-Nya?

2. Kita dicari, ditemukan, dan diselamatkan oleh Yesus

Perempuan Samaria menimba air di sumur saat siang hari. Ini bukanlah kebiasaan yang lazim. Ia menyadari keadaannya dan berusaha menghindari orang-orang dengan datang ke sumur ketika sedang sepi dari perempuan-perempuan lain. Namun, Yesus sengaja bertemu dengannya dan menawarkan air kehidupan yaitu keselamatan.

Ini mengingatkanku akan seberapa seringnya aku bersembunyi, menghindari, dan lari dari berbagai macam situasi, orang-orang, bahkan dari Tuhan karena besarnya perasaan malu dan ketidaklayakanku. Akan tetapi berita baiknya adalah Dia rela datang untuk menyelamatkan kita yang terhilang agar bisa diselamatkan (Yohanes 1:29). Tidak ada perlindungan teraman selain di dalam-Nya dan tidak ada tempat yang teramat sulit untuk Dia bisa menemukan kita. Asalkan kita mau diselamatkan oleh-Nya.

3. Tuhan rindu berelasi dengan kita

Ketika Yesus bertemu dengan perempuan Samaria, ada percakapan antara mereka berdua. Bagian ini menarik buatku karena dari sini aku melihat bahwa Yesus tidak sekadar datang ke dunia untuk menebus dosa, tetapi juga berelasi dengan manusia. Lewat percakapan sederhana itu, Dia mendengar apa yang jadi kerisauan umat-Nya.

Apakah tentang kejatuhan, kegagalan, ketakutan, atau yang lainnya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita mau bercakap-cakap denganNya? Dia siap mendengar dan menyegarkan kita dengan kebenaran-Nya.

4. Kita dapat mengakui dengan jujur isi hati kita

Dalam percakapan-Nya, Yesus menyuruh perempuan Samaria untuk memanggil suaminya, tetapi sang perempuan menjawab, “Aku tidak mempunyai suami” (ayat 17). Yesus lanjut merespons, “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar” (ayat 18).

Coba kita perhatikan lagi ucapan Yesus. Kendati Yesus tahu bahwa perempuan Samaria itu bergonta-ganti pasangan, tetapi tidak ada penghakiman yang keluar dari mulut-Nya. Maksud Yesus di sini bukanlah dia membenarkan dosa yang diperbuat oleh sang perempuan, tetapi Dia hendak menunjukkan keselamatan yang sejati (ayat 21-24).

Sebelum sang perempuan mengakui identitasnya, Yesus telah tahu lebih dulu, tetapi Dia ingin kita mengakui dengan jujur dan rendah hati apa yang telah kita lakukan. Ini bukanlah demi kepentingan Tuhan, tapi demi kepentingan kita. Karena saat kita mengakui dengan jujur dan rendah hati kepada-Nya atas segala yang kita perbuat, dan kita menyadari kesalahan serta berbalik kepada-Nya, maka akan tersedia pemulihan dan pengampunan-Nya bagi kita.

Apakah kita mau mengakui bahwa kita telah berdosa dan membutuhkan anugerah kasih pengampunan-Nya setiap waktu?

Baca Juga:

4 Pertanyaan Penting Sebelum Memulai Hubungan yang Serius

Pernikahan adalah sesuatu yang aku inginkan sedari kecil, semenjak aku melihat dan mempelajari dari kedua orang tuaku tentang apa rasanya berada dalam pernikahan. Tapi sebelum memulai relasi yang mengarah ke sana, kuajukan dulu 4 pertanyaan ini pada diriku.

Ketika Aku Mencari Tahu Bobot Segumpal Awan

Ketika beban berat menghimpit, atau langit tampak kelabu, kita cenderung membiarkan diri kita kehilangan harapan. Padahal, Tuhan yang menciptakan kita telah berjanji bahwa Dia tahu apa yang kita sedang alami dan Dia akan menyediakan apa pun yang kita butuhkan. Dia lebih tahu daripada diri kita sendiri. ⁣⁣
⁣⁣
Kalau hatimu sedang berbeban berat, Yesus mengundangmu kembali untuk menaruh harapanmu pada-Nya. Ingatlah kembali bagaimana Dia telah berulang kali menolong-Mu. ⁣⁣
⁣⁣
Artspace ini diadaptasi dari artikel “Ketika Aku Menghitung Bobot Segumpal Awan” yang telah ditayangkan di WarungSaTeKaMu. ⁣⁣
⁣⁣

Jangan Pernah Berakhir Cerita Cinta Kita

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Akhir-akhir ini aku tengah menikmati sebuah lagu yang dibawakan oleh Arsy Widianto yang berjudul “Cerita Cinta”. Lagu ini dirilis tahun 2020 kemarin, namun lagu tersebut awalnya dipopulerkan oleh grup band Kahitna pada tahun 1994 dan diciptakan oleh Yovie Widianto, yang merupakan ayah dari Arsy Widianto.

Sama seperti lagu-lagu romantis pada umumnya, lagu ini pun menceritakan betapa romantisnya cerita cinta; betapa bahagianya mengalami perasaan mencintai dan dicintai. Tak hanya alunan melodinya yang menyenangkan dan menenangkan, lirik lagu yang diciptakan juga mampu membuat hati tersentuh.

Ketika tengah mendengarkan lagu ini di kantor, aku jadi teringat bagaimana aku juga secara pribadi menikmati perjalanan cerita cinta bersama Sang Pencipta dengan segala lika-liku yang menyertainya.

Saat Teduh: Dari Ritual Jadi Kerinduan

Pertama kali aku mengenal dan mengetahui istilah “saat teduh”, aku merasa tertekan. Mengapa? Waktu itu aku melihat aktivitas saat teduh sebagai suatu bentuk ritual ibadah tambahan yang menyita waktuku. Memang tidak cukup hanya beribadah setiap Minggu? Memang tidak cukup jika aku berdoa? Aku selalu berdoa kok; setiap sebelum makan dan sebelum tidur. Kenapa harus ditambah lagi dengan saat teduh setiap pagi? Kira-kira begitu isi pikiranku waktu itu.

Seiring berjalannya waktu, dalam anugerah-Nya aku mengerti bahwa saat teduh bukanlah salah satu dari rutinitas rohani yang harus kita lakukan karena paksaan kewajiban (mandatory). Saat teduh merupakan waktu yang kita siapkan secara pribadi untuk mendengarkan dan merenungkan apa yang mau Tuhan katakan melalui Firman-Nya untuk kita di hari itu. Namun dalam kasusku pribadi, cara Tuhan melatihku untuk disiplin ber-saat teduh sungguh unik:

Setiap kali aku menyukai seorang teman laki-laki, aku pasti berdoa tentang perasaanku, tentang teman yang tengah disukai, juga tentang kegalauanku. Semua hal ini aku doakan setiap aku saat teduh pagi hari. Tidak terluput satu hari pun. Harapannya, agar apa yang aku inginkan terkabul. Harapannya, agar si teman laki-laki pun membalas perasaanku. Singkat cerita, pengalaman menyukai teman laki-laki pada akhirnya seringkali berakhir gagal dan membawaku pada penyesalan serta sakit hati yang pemulihannya cukup memakan waktu lama. Awalnya aku berpikir bahwa aku sangat tidak pantas menjadi pacar siapapun sehingga semua teman laki-laki tidak ada yang menyukaiku. Awalnya. Namun, jika aku melihat lagi ke masa-masa itu, aku menyadari bahwa Tuhan ingin memberitahu aku bahwa:

  1. Identitas dan penerimaan sejati dalam hidupku tidak terletak pada apakah aku disukai teman laki-laki atau tidak, melainkan pada Kristus, yang telah mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2:7).
  2. Saat teduh merupakan salah satu bentuk komunikasi kita secara pribadi dengan Tuhan. Awalnya motivasiku memang hanya ingin curhat terkait perasaan dan kegalauanku ketika menyukai seseorang. Namun lambat laun Tuhan dengan lembut dan sabar mengubah motivasi hatiku yang tadinya hanya fokus ke perasaan dan kegalauan saja, kepada fokus hati yang rindu untuk selalu menyediakan waktu berkomunikasi dengan-Nya setiap hari melalui pembacaan dan perenungan Firman Tuhan.

Terpujilah Tuhan yang selalu sabar mengajar dan mengasihi aku, kini aku dapat menikmati waktu saat teduh pribadi terlepas dari apakah aku tengah menyukai seseorang atau tidak. Bersyukur kepada-Nya ketika aku menangkap pemahaman bahwa Allah rindu berelasi dengan kita umat-Nya. Aku tidak mengatakan bahwa kegalauan akan pasangan hidup tidak boleh dibawa dalam doa ya. Tentu sangat boleh. Ia Maha Mendengar dan Mengetahui. Namun dalam kasus pribadiku, Ia mengubah fokus hatiku sampai aku benar-benar menikmati relasi pribadi dengan-Nya, menikmati berkomunikasi secara khusus dan pribadi dengan-Nya, melalui sebuah aktivitas bernama: saat teduh.

Cerita Cinta-Nya Membuatku Menerima Diri Apa Adanya

Kisah tentang pengorbanan Yesus di kayu salib sudah aku dengar sejak lama. Namun beberapa waktu terakhir ini, terlebih ketika masa-masa Jumat Agung hingga Paskah kemarin, aku kembali merenungkan peristiwa agung tersebut. Bahkan terkadang, aku bertanya-tanya sendiri:

Kenapa sih Tuhan mau mengasihi aku dengan sebegitunya? Sampai harus merasakan jadi manusia dan segala penderitaannya. Bahkan harus sampai mati menanggung murka Allah akibat dosa-dosanya aku dan manusia-manusia lainnya. Kenapa?

Kenapa aku Engkau kasihi? Aku kan berdosa.

Kenapa aku Engkau layakkan menjadi anak dan murid-Mu yang dikasihi?

Sederetan perenungan pribadi ini dijawab oleh satu lagu yang berjudul: Why Have You Chosen Me. Rodger Strader selaku penulis lagu ini mengungkapkan:

I am amazed to know that a God so great could love me so
He’s willing and wanting to bless
His grace is so wonderful, His mercy’s so bountiful
I can’t understand it, I confess

Apa yang Allah telah perbuat untuk kita ternyata memang tidak dapat kita mengerti, tidak bisa kita pahami. Di sini aku makin menghayati arti dari anugerah dan kasih karunia; bahwa semuanya itu benar-benar hanya pemberian cuma-cuma. Bukan hasil dari sesuatu yang aku lakukan, bahkan bukan dari hasil ibadahku. Memahami dan menghayati hal ini kembali membuatku merasa terenyuh dan baper (bawa perasaan) terhadap kasih Allah yang luar biasa untuk aku. Karya salib Yesus menjadi cerita cinta terindah yang tidak bisa tergantikan dengan kisah cinta apapun yang aku impikan, harapkan, atau bayangkan.

Jika Allah saja menerima diriku yang berdosa ini apa adanya, maka aku pun mulai menerima diriku sendiri juga apa adanya. Aku menerima proses memelajari diriku sendiri; mengenal kelebihanku, kekuranganku, karakterku, serta emosiku. Dari proses mengenal diriku sendiri, aku pelan-pelan juga belajar bagaimana mengasihi dan mengenal orang lain dengan hati yang tulus di dalam keberdosaan dan keterbatasanku. Aku pernah menuliskan sedikit kisahku di awal-awal proses mengenal diri sendiri di sini.

* * *

Jika kasih Allah yang sebesar itu dianugerahkan kepada kita manusia berdosa secara cuma-cuma, aku rasa ungkapan romantis dalam bagian akhir lirik lagu “Cerita Cinta” yang ditulis Yovie Widianto pun pasti diungkapkan oleh Sang Pencipta:

“Jangan pernah berakhir cerita cinta kita.”

Baca Juga:

Kejahatan ‘Terbesar’ di Dunia

Kita hidup di dunia yang jatuh ke dalam dosa, dan dosa itu pun mewujud dalam berbagai kejahatan. Tanpa kita sadari, ada satu kejahatan yang kerap tersembunyi dalam topeng rohani kita.

Kasih Yang Melukai

Oleh Jessica Tanoesoedibjo, Jakarta

“Pasti kamu tidak pernah merasakan yang namanya dilukai,” saut seseorang di grup kecil kami pada suatu acara Psychological First Aid Training yang aku hadiri. Aku hanya tersenyum pada Ibu tersebut, dan berkata, “Pasti pernah dong, Bu. Semua orang memiliki pengalamannya masing-masing.” Tanpa ibu itu sadari, pada saat itu juga, persepsinya yang penuh asumsi pun telah menggores hatiku, yang merasa disalahpahami dan dianggap remeh.

Banyak dari kita beranggapan bahwa wajah yang ceria mencerminkan kehidupan yang mudah. Namun, dibalik senyuman terlebar pun, setiap orang punya cerita. Aku berharap setelah membaca ini, kita semua dapat menjadi pribadi yang lebih memiliki empati terhadap orang lain.

Ketika aku merenungkan apa yang dapat aku bagikan tentang pengalaman keterlukaanku, beberapa hal muncul di benakku. Masa-masa patah hati, pengalaman dikhianati, serta perselisihan paham yang pernah dilalui dengan orang-orang yang aku kasihi…namun tidak semuanya perlu diceritakan. Karena tujuanku menulis bukan untuk mendapat belas kasihan, melainkan untuk mengingatkan diriku kembali akan Kasih dan Pengampunan yang telah terlebih dahulu aku terima. Jika aku dituntut untuk mengampuni, sesungguhnya, Tuhan hanya memintaku untuk meneruskan kepada sesama, apa yang telah Ia berikan secara cuma-cuma kepadaku.

Luka yang Memicu Emosi Terdalam

Beberapa waktu lalu, ada suatu kejadian di mana aku mendapati diriku marah besar. Aku sendiri bahkan terkejut, tak mengira emosiku dapat terpancing sedemikian rupa sehingga aku menggebrak meja dan mengangkat suaraku. Pada saat itu, perasaanku bercampur aduk: antara amarah, kekecewaan, kesedihan, dan ketidakpercayaan atas apa yang telah orang tersebut lakukan.

Tanpa menjelaskan dengan detail apa yang orang tersebut perbuat, yang hanya perlu kukatakan adalah orang ini telah mengkhianatiku dan orang yang aku kasihi. Kami telah memberi orang ini kepercayaan yang begitu besar, namun ternyata dibalik raut wajahnya yang polos dan tutur katanya yang penuh sopan santun, ia telah mengkhianati, berbohong, dan membodohi kami selama bertahun-tahun. Dan yang paling aku sesali adalah, ia adalah seseorang yang sering mengutip Firman dan membawa-bawa nama Tuhan dalam percakapan kita. Aku pun selama ini menganggap dan mengasihi orang tersebut sebagai saudara seiman.

Aku mengingat dengan jelas kejadian di malam hari itu, ketika semuanya terungkapkan. Pada awalnya aku masih duduk tenang dan mencoba untuk mendengarkan penjelasannya. Aku pikir, mungkin ada hal yang mendesaknya untuk melakukan hal tersebut. Tetapi, setelah berbagai macam pertanyaan klarifikasi, ia malah bersifat defensif, bahkan menyalahkan keadaan dan orang lain.

Dalam Kemarahan, Berdoa dan Jangan Berdosa

Suatu prinsip yang aku pegang, dan yang kuharapkan Tuhan akan selalu beriku kekuatan dalam menjalankannya, adalah bahwa aku tidak boleh mengutarakan perkataan jahat yang bertujuan melukai orang lain dalam kemarahanku. Lebih baik aku diam sejenak, daripada mengucapkan sesuatu yang akan aku sesali. Firman mengajarkan kita, “hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah,” (Yakobus 1:19).

Tapi apakah artinya sebagai orang Kristen kita tidak boleh marah? Apalagi marah yang besar? Tentu tidak. Karena Yesus sendiri marah, bahkan sampai membalikkan meja-meja dan kursi-kursi para pedagang yang pada berjualan di halaman Bait Allah (Matius 21:12-13). Walaupun Allah memang panjang sabar (Mazmur 103:8), salah satu hal yang dapat kita pelajari dari ayat tersebut adalah bahwa Tuhan tidak mentoleransi dosa. 

Kita memang seharusnya membenci dan marah terhadap dosa—karena sesungguhnya, setiap kejahatan yang dilakukan oleh seseorang terhadap yang lain, adalah kejahatan terhadap Sang Pencipta sendiri. Orang-orang yang berjualan di halaman Bait Suci bukan hanya sedang merampas orang miskin, melainkan telah mencemarkan dan merampas dari Rumah Tuhan itu sendiri.

Pada saat itu juga, ketika emosi menggebu-gebu dalam diriku, hati kecilku hanya dapat berdoa agar Tuhan juga menolongku dalam kemarahanku itu. Jangan sampai amarahku terhadap dosa orang lain membuatku malah berdosa terhadap Tuhanku sendiri.

Pengampunan Tidak Berarti Membiarkan Dosa

Yang sangat kusesali, setelah konfrontasi, orang tersebut tidak menunjukkan sedikitpun rasa penyesalan atas perbuatannya, bahkan setelah beberapa hari, mencoba untuk melarikan diri dari konsekuensi perbuatannya. Awalnya kami ingin menyelesaikannya dengan begitu saja, namun orang ini malah menunjukkan itikad tidak baik. Setelah berdoa dan bergumul dengan beberapa orang-orang yang aku percayai, kami akhirnya memutuskan untuk bertindak dengan disiplin.

Jujur, hal tersebut sangat menyedihkan bagiku. Karena harapanku adalah agar orang tersebut berpaling dari perbuatannya dan kembali pada Tuhan. Aku tidak ingin melihat orang tersebut harus mengalami yang namanya proses disiplin. Namun, jika aku diamkan dan biarkan perbuatan kejahatannya, yang telah ia lakukan berulang-ulang kali selama bertahun-tahun, berarti aku tidak peduli akan kondisinya di hadapan Tuhan. Sesungguhnya, aku juga memiliki tanggung jawab di hadapan Yang Maha Kudus, untuk menegakkan kebenaran.

Memang, pengampunan tidak bergantung pada penyesalan orang yang telah melukai kita. Sebaliknya, kita harus tetap mengampuni, bahkan jika orang tersebut tidak menyesal. Yesus mengajarkan kita untuk “[mengasihi] musuhmu dan berbuat baiklah kepada orang yang membencimu.” (Lukas 6:27).

Namun, Firman juga mengajarkan bahwa “Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya,” (Ibrani 12:6), dan kadang memang kita perlu menjalankan disiplin, untuk kebaikan orang lain. Mengampuni tidak berarti kita harus selalu diam dan menjadi orang yang nerimo, namun, mencerminkan kondisi hati kita di hadapan Tuhan yang melihat segalanya. Apakah kita bersenang-senang atas kesukaran yang dialami orang lain sebagai konsekuensi perbuatan mereka yang telah melukai kita? Atau sebaliknya—karena kita mengasihi orang yang melukai kita, kita berberat hati, dan bahkan terluka, dalam menjalankan disiplin tersebut?

Salah satu kisah dalam Alkitab yang memberikan kita pandangan sepintas pada hati Tuhan dalam menjalankan disiplin ada dalam kitab Yunus. Sesungguhnya, cerita Yunus bukan tentang seseorang yang ditelan oleh ikan besar, seperti yang banyak dari kita ketahui, melainkan menkontraskan hati seorang nabi Yunus, dengan hati Tuhan. Di mana seseorang nabi Yunus berberat hati untuk memberitakan Firman Tuhan kepada orang-orang bebal di Niniwe, Tuhan berberat hati untuk menghukum orang-orang yang tidak mengenal-Nya itu. Cerita tentang Yunus yang ditelan oleh sebuah ikan besar hanyalah sebuah gambaran kecil tentang tindakan disiplin yang Tuhan berikan, agar hamba-Nya, yang (ironisnya) juga bebal, dapat kembali pada panggilan-Nya.

Apakah hati kita telah menyerupai Tuhan, bahkan ketika kita menjalankan disiplin? Karena disiplin yang sesungguhnya harus bertujuan untuk merekonsiliasi orang yang telah menyakiti kita, bukan hanya pada diri kita sendiri, tapi juga dengan Bapa kita yang Maha Pengampun.

Kasih Yang Melukai Yang Memberikan Kita Pengampunan

Ketika kita merenungkan cerita Paskah yang kita rayakan di bulan ini, suatu hal yang perlu kita sadari: Tuhan tidak pernah mentoleransi dosa. Tidak ada dosa yang terlalu kecil untuk Tuhan abaikan dan biarkan begitu saja. Harga dosa begitu mahal, sampai Tuhan harus membayarnya dengan darah-Nya sendiri (Ibrani 9:12).

Kebenaran Firman mengajarkan kita bahwa setiap dosa memiliki konsekuensi (Roma 6:23). Namun Yesus sendiri, Sang Anak Allah yang Kudus, dengan sukarela menyerap segala dosa, segala amarah Allah Bapa yang seharusnya tertuju pada kita semua. Di atas Kayu Salib kita melihat “keadilan dan damai sejahtera [berciuman].” (Mazmur 85:10), karena disanalah murka dan kasih Allah berjumpa, merelakan Anak Allah yang tidak bercela, agar kita dapat memperoleh pengampunan dan keselamatan.

Aku yakin semua pasti pernah mengalami yang namanya dilukai. Semua orang memiliki pengalamannya masing-masing. Namun jika kita dituntut untuk mengampuni, sesungguhnya, Tuhan hanya meminta kita untuk meneruskan kepada sesama, apa yang telah Ia berikan secara cuma-cuma kepada kita di atas Kayu Salib, dimana Yesus menyerahkan diri-Nya untuk dilukai oleh ciptaan-Nya. Sekarang, dengan pengampunan yang telah Ia anugerahkan kepada kita, kita hanya diminta untuk berpaling dari kebebalan kita, dan mengikuti-Nya, dalam kasih dan kebenaran.



Baca Juga:

Satu Penyebab Kekalahan dalam Bertanding

Kita merasa hidup kita di masa kini dan masa depan bergantung pada besarnya kapasitas diri kita sendiri. Namun, di lain pihak, lubuk hati kita sadar bahwa diri ini tidak sanggup diandalkan.

Menjadi Seorang Kristen dan Gay: Bagaimana Aku Bergumul untuk Hidup Kudus Bagi Tuhan

Oleh Ryan Michael*, Jakarta

Aku pernah menyukai sesama lelaki. Perasaan itu tumbuh sejak aku masih kecil. Memoriku mengingat betul ketika aku duduk di kelas dua SD dan aku menemukan majalah yang sampulnya bergambar seorang pria topless. Aku tak bisa berhenti melihat sampul majalah itu, jadi aku menyembunyikannya di dalam lemari mainanku. Seiring berjalannya waktu, aku sadar kalau aku berbeda dari teman-teman lelakiku yang lain. Beranjak remaja, di saat teman-teman lelakiku yang lain mulai membicarakan atau berpacaran dengan wanita, aku malah tertarik dengan teman-teman lelakiku.

Aku tak tahu dengan jelas apa yang menyebabkan perasaan ini tumbuh di hidupku. Apakah karena aku tak memiliki sosok ayah sejak aku berusia 6 tahun, sehingga aku jadi tertarik kepada sesama jenisku? Tapi, jika itu jawabannya, mengapa pula ada orang-orang yang walau memiliki sosok ayah, tapi tetap tertarik pada sesama jenis? Apakah karena perkara genetik, dan ini merupakan sebuah penyakit? Kucari-cari jawaban dari semua pertanyaan ini, dari sisi psikologis, sampai ke sains. Aku pernah melihat video dokumenter yang menceritakan bagaimana seorang pemuda Tiongkok berkunjung ke dokter demi mengobati dirinya supaya menjadi ‘normal’. Aku paham betul bagaimana keinginan untuk menjadi sembuh, jika memang ketertarikan pada sesama jenis ini adalah sebuah penyakit.

Awalnya, aku tidak begitu menggumuli perasaanku. Aku tidak begitu memikirkan apa sih sudut pandang Allah mengenai ketertarikanku. Bahkan, aku enggan mendoakan hal ini pada Tuhan karena aku takut terusik dengan apa yang seharusnya Alkitab ajarkan. Aku juga takut kalau nyatanya aku harus mengorbankan ‘rasa suka’ ini demi kepentingan Tuhan.

Aku merasa akan baik-baik saja, asalkan kusimpan perkara ini dalam diriku sendiri dan tak memberi tahu siapa pun. Tapi, pemikiran ini salah. Perkara yang kusimpan sendiri ini malah membuatku makin hancur; aku semakin terbawa oleh cara pikirku sendiri, yang menjadi sasaran empuk Iblis untuk membawaku semakin membenci diriku sendiri, hingga menyalahkan Tuhan.

Perjalananku untuk menerima kasih Allah

Sebuah pertanyaan klasik bagi orang-orang yang memiliki pergumulan ketertarikan pada sesama jenis: “Aku tak pernah mau dan tidak meminta, mengapa Tuhan menciptakanku seperti ini?”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang condong menyalahkan Tuhan.

Aku ingat kisah penciptaan. Allah menciptakan manusia seturut dan segambar dengan-Nya. Tapi, waktu itu aku jujur bertanya, apakah itu artinya Tuhan sendiri menyukai sesama jenis? Alkitab berkata Allah itu baik, kudus, dan adil. Namun, sulit bagiku untuk menerima semua sifat Allah itu. Kisah penciptaan lalu berlanjut pada kisah kejatuhan manusia, namun kisah ini tak berhenti di sini. Kita tahu, Kristus datang membawa penebusan dan pemulihan bagi kita.

Dalam kebingunganku itu, aku mendapati tulisan yang menarik dari buku “Same Sex Attraction and the Church”, dituliskan oleh Vaughan Roberts. “Banyak dari orang Kristen mengaku percaya Alkitab sebagai otoritas tertinggi, namun berhala-berhala zaman kita, disadari atau tidak, memiliki pengaruh yang besar pada sikap kita dalam menafsirkan Alkitab.”

Kutipan itu menegurku. Aku mendalami hatiku. Apakah kisah-kisah dalam Alkitab bagiku hanyalah kisah yang ada di zaman dulu dan menjadi kisah usang yang tak lagi relevan dengan masa kini dan masa depan? Aku percaya Alkitab adalah firman Allah yang diberikan pada manusia, dan Allah sendiri adalah firman (Yohanes 1:1).

Kedaginganku berkata bahwa aku perlu memenuhi hasratku, mengikuti keinginan hatiku. Tapi, aku sadar bahwa aku adalah orang percaya yang diselamatkan karena iman, bukan karena perbuatanku. Untuk aku dapat mengalahkan keinginan dagingku, aku perlu sungguh percaya pada Tuhan. Percaya di sini bukan sekadar mengaku percaya, tetapi dalam hati memiliki persetujuan yaitu: secara yakin dan dengan kesadaran emosi menyetujui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat. Namun, tidak berhenti sampai di tahap percaya saya. Aku perlu unsur “fiducia”, yang berarti menyembah dan menyerahkan diriku sepenuhnya pada Allah. Sekadar tahu bahwa Yesus adalah Tuhan tidaklah cukup, sebab Iblis pun tahu siapa Yesus, bahkan setuju bahwa Dialah Juruselamat (Matius 8:29; Yakobus 2:19). Tahu dan setuju belum berarti menyerahkan diri sepenuhnya pada Yesus.

Ketika aku berserah, Tuhan justru menguatkanku. Dalam firman-Nya, Dia menegaskan bahwa Dia mengasihi dan memilihku sejak aku masih dalam kandungan (Yeremia 1:5). Aku dianggap agung dan diperhatikan (Ayub 7:17). Aku adalah anak-anak Allah dan tubuhku adalah bait-Nya (1 Korintus 6:19-20, 1 Yohanes 3:1).

Christopher Yuan, seorang hamba Tuhan yang pernah memiliki ketertarikan sesama jenis mengatakan:

“My identity should never be defined by my feelings. My feeling should not dictate who i am. My identity is not gay, or homosexual, or even heterosexual. But my identity ad a child of the Living God must be in Jesus Christ alone. God never told me “be heterosexual for I am heterosexual.” He said be holy for I am holy. Don’t focus on your sexuality , don’t focus upon your feelings, but focus upon living a life of holiness and living a life of purity.”

Identitasku tidak pernah ditentukan berdasarkan perasaanku. Perasaanku tidak seharusnya mendikte siapakah diriku. Identitasku bukanlah seorang gay/homoseksual atau heteroseksual sekalipun. Identitasku adalah aku sebagai anak Allah. Tuhan tidak pernah berbicara “karena aku heteroseksual, maka kamu harus heteroseksual”. Melainkan, “Kuduslah kamu , sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1 : 16). Jangan fokus kepada perasaanmu, melainkan fokuslah kepada kekudusan hidup dalam Allah.

Lawan dari homoseksual bukanlah heteroseksual, melainkan kekudusan Allah. Aku sadar, jika aku hidup tanpa pergumulan ini dan hidup sebagai seorang heteroseksual, aku tetaplah berdosa jika aku tidak mengejar kekudusan Allah. Tidak ada dosa yang lebih besar maupun dosa yang lebih kecil. Di sinilah tahap pertamaku mulai belajar menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yesus, walau aku sendiri melihat pergumulanku terasa tak masuk akal.

Di tahap ini jugalah iman percayaku dibentuk. Aku disadarkan bahwa Tuhan tak pernah bermaksud jahat. Dia tidak menciptakanku sebagai seorang gay, namun karena kejatuhan manusia ke dalam dosalah aku jadi bergumul dengan perkara ini. Tetapi, justru dalam pergumulan dosa yang kumiliki inilah kisah penciptaan sampai penebusan Tuhan menjadi masuk akal bagiku, bahwa dosa telah merusak hidupku dan aku sungguh membutuhkan pertolongan dari-Nya. Tanpa adanya pergumulan ini sangat memungkinkan jika aku menjadi manusia sombong dan terhalang untuk mengenal Allah yang adalah kasih.

Untuk memiliki cara pikir sekarang yang kupunya tentu tidak instan. Berulang kali di tengah ketidakpercayaanku terhadap Tuhan, Dia selalu setia memberikanku arahan. Aku ingat pertengahan tahun lalu (2019), saat aku melakukan hobiku untuk hiking sendirian. Di tengah perjalanan aku dipertemukan dengan seseorang bapak yang tidak aku kenal. Dan aku ingat betul, percakapan kami ditutup dengan beliau berkata “Prinsip hidup saya sih, The Truth will set you free” (Yohanes 8 : 31-32).

Dengan tekanan perkara yang aku miliki, tentu aku sangat ingin bebas. Dan aku diingatkan dari percakapan ‘ajaib’ tersebut. Jika aku hidup berdasarkan firman Allah, maka kebenaran itu akan memerdekakan aku yang berdosa. Semenjak itu aku baru disadarkan bahwa membaca Alkitab adalah salah satu nafas orang Kristen selain berdoa. Aku tidak dapat hidup di luar Allah atau di luar firman-Nya. Di saat itulah Tuhan perlahan mengubahkanku, aku tidak lagi hidup berdasarkan pikiran maupun perasaan yang tidak pasti, melainkan hidup berdasarkan kebenaran firman Allah (Live by faith and not by sight). Arah mataku sekarang dimantapkan lagi untuk tertuju bukan kepada hal-hal dunia, melainkan kepada kekudusan dan kebenaran Allah.

Menceritakan kisah kasih Allah

Dengan anugerah dan pertolongan Allah sajalah aku akhirnya bisa menemukan perspektif baru dalam Tuhan terkait pergumulanku. Kisah yang menurutku dulu aku adalah seorang yang dikutuk, sekarang berubah sepenuhnya menjadi kisah bahwa aku adalah seorang yang amat dikasihi Allah. Begitu juga dengan kamu, jika saat ini kamu mengalami pergumulan serupa denganku.

Aku tahu bagaimana rasanya ingin menyerah dengan Injil, merasa firman Tuhan sulit, tidak relevan, dan tidak masuk akal untuk orang-orang sepertiku. Tetapi, saudaraku, ingatlah bahwa aku dan kamu telah dibeli lunas dengan darah-Nya yang kudus, dan sekarang tidak ada yang dapat memisahkan kita dengan kasih-Nya (Roma 8:35).

Aku tahu perjalanan ini tidak mudah, tetapi bukankah sebuah anugerah ketika kita bisa memikul salib dan menyangkal diri sebagai wujud kasih kita pada kasih Allah yang begitu besar? Kita bisa menjadikan penderitaan yang sama-sama kita alami sebagai bentuk ketaatan dan kasih kita kepada Allah (Filipi 1:29). Ketertarikanku mungkin akan tetap ada, namun setiap kali ketertarikan itu muncul aku bisa memilih pilihan-pilihan yang menyenangkan hati Tuhan, bukannya memilih pilihan yang membawaku pada dosa.

Saudaraku, sekarang izinkanlah dirimu didamaikan dengan Allah. Carilah Allah selama Dia berkenan ditemui (Yesaya 55:6). Dia setia menanti aku dan kamu datang kepada-Nya. Biarlah damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal itu terus memelihara, memperbaharui hati, pikiran, dan hidup kita dalam Kristus Yesus.

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Mengupas Mitos Work-Life Balance: Di Manakah Tempat Pekerjaan dalam Kehidupan?

Work-life balance. Singkatnya, pekerjaan dan hidup harus seimbang supaya kita bisa menikmati hidup. Konsep ini menarik, tapi apa sih yang Alkitab katakan tentang ini?

Dia yang Kukasihi, Dia yang Berpulang Lebih Dulu

Oleh Nia Andrei, Sampit

Kawanku terkasih, tulisan ini adalah cerita singkat dari perjalanan pernikahanku dan suamiku.

Sekitar sebulan lebih setelah pernikahan kami, barulah diketahui bahwa suamiku menderita Leukimia atau kanker darah. Selama beberapa bulan setelahnya, suamiku harus kontrol bolak-balik ke rumah sakit dan transfusi darah.

Karena kondisi sakit kankernya yang membutuhkan perawatan lebih intensif, kami sekeluarga memutuskan untuk melanjutkan perawatannya di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta Barat. Pada hari Sabtu, 2 Februari 2019, aku mendapatkan cuti dari kantorku. Aku sengaja tidak menghubungi suamiku. Aku tidak bilang kalau aku akan menyusulnya ke Jakarta. Hari itu, aku tiba-tiba datang ke ruang perawatannya.

Aku membuka tirai ruangannya dan berkata, “Hai..”

Papa mertuaku yang sedang menemaninya di ruangan pun tersenyum ketika aku datang.

Suamiku kaget, lalu bilang, “Hah?!”

“Kamu seneng nggak aku datang?”

“Iya,” jawabnya lirih.

“Tapi kok biasa aja?”

“Memangnya aku harus loncat-loncat di ranjang?” jawabnya begitu.

Aku tertawa dan menimpalinya dengan candaan, “Iya lah, sambil loncat-loncat di bed.”

Waktu melihat keadaannya, aku hampir menangis, tapi aku tetap berusaha tegar di hadapannya. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menangis di depan suamiku. Aku melihat lebam besar di pergelangan tangan kanan dan di paha sebelah kirinya. Kuoleskan salep di kedua bagian itu.

Mulai hari itu, aku menginap di RS, menenami dia. Setiap hari sebelum dia tidur, aku mengelus dahinya supaya dia merasa nyaman.

Minggu, 3 Februari 2019

Kegiatanku selama di rumah sakit tiap pagi dan sore adalah mengambil air panas di sudut ruangan. Tiap subuh jam 5, perawat datang untuk mengambil darah suamiku melalui selang cvc yang terpasang di dada kanannya, diukur tekanan darahnya, dan suhu tubuhnya. Aku melap seluruh badannya menggunakan waslap dan mengganti bajunya dengan baju pasien. Sprei dan sarung bantalnya pun tak lupa kuganti. Tiap mengusap wajahnya dengan waslap, aku berkata, “Ayang… Ayang…,” inginku menangis rasanya, tapi aku selalu menahan. Setiap kali dia buang air kecil selalu kucatat berapa mililiter volumenya, demikian juga jika dia minum dan buang air besar. Dia pun rutin menggunakan pengobatan uap untuk perbaikan infeksi di paru-parunya. Kadang hanya berselang satu hari jikalau Hb dan trombositnya turun, pasti dia harus melakukan transfusi darah.

Aku membawa Alkitab pernikahan kami. Setiap pagi sesudah sarapan aku membacakan beberapa ayat Alkitab dan dia hanya memandang diriku. Aku pun memandangi dirinya. Kami berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani. Rasanya kami mampu menjalani hari ke hari hanya oleh penyertaan dan kasih setia Tuhan yang begitu luar biasa bagi kami.

Senin, 4 Februari 2019

Sama seperti hari-hari sebelumnya, ambil darah setiap pagi lewat selang cvc, disuntikkan antibiotik untuk paru-paru, minum obat pagi siang sore (4 macam), tetap pakai uap untuk perbaikan paru-parunya. Pagi hari itu, aku membacakan sebagian ayat Alkitab dan berdoa bersama. Sempat aku terdiam pada ayat Alkitab dari 2 Korintus 4:16, 5:1-8. Aku menangis dan diam, lalu dia memintaku untuk membacanya sampai habis.

Aku sempat mengobrol serius dengannya, “Hun, aku mau resign dari kerjaanku.”

Dia menjawab, “Kenapa? Pikirkan juga kerjaan.”

“Tapi kamu mau aku di sini sama kamu, kan? Mengurus kamu kan?”

“Iya,”

“Ya udah, jangan dipikirkan dulu.”

Selasa, 5 Februari 2019

Menjalani hari-hari bersama dia di RS, mengurus ini dan itu kebutuhannya setiap hari. Siangnya bertemu dokter paru dan dokter mengatakan bahwa pengobatan untuk paru-parunya perlu tetap dijalankan supaya nanti bisa dilakukan kemoterapi. Dokter sempat mengatakan dia perlu keluar dahulu sejenak supaya bisa menghirup udara segar dan terkena sinar matahari, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk keluar karena dia masih bergantung dengan selang oksigen.

Rabu, 6 Februari 2019

Kami menjalani hari-hari seperti hari-hari sebelumnya. Kami membaca Alkitab dan berdoa bersama.

Kamis, 7 Februari 2019

Sekitar jam 5 subuh, dokter Hematologi datang dan mengatakan kalau dia perlu dibawa keluar dari ruang perawatan supaya mendapat udara segar dan terkena sinar matahari karena udara dalam ruangan tidak baik untuk paru-parunya, antibiotik pun sudah resisten. Tapi, kondisinya masih tidak memungkinkan untuk keluar dari ruangan karena dia terlihat mulai sesak nafas dan bergantung dengan selang oksigen.

Hari itu adalah hari yang berat bagiku karena aku harus kembali ke Sampit dan meninggalkan dia di Jakarta.

Aku bertanya lagi memastikan keputusanku, “Hun, aku mau nanya lagi ni, memastikan. Kamu mau aku di sini kan nemenin kamu, mengurus kamu?”

“Iya, terserah saja. Yang terbaik ya.”

Aku bilang, “Oke kamu gak usah pikirin dulu karena keputusan ada di tanganku, aku mau resign.”

Pagi itu dia sudah terlihat mulai sesak nafas dan aku tak tega meninggalkan dia. Aku menghubungi atasanku untuk memperpanjang izinku, tapi tidak diperbolehkan. Mau tidak mau aku perlu pulang ke Sampit dan bilang bahwa aku ingin resign. Waktu aku pamit pada suamiku, wajahnya memerah. Matanya menatapku seolah ingin berkata, “Hun, jangan pergi.” Tapi aku tetap pergi waktu itu dan kembali ke Sampit.

Jumat, 8 Februari 2019

Pagi harinya aku masuk kantor dan sore hari tepat di jam pulang kantor aku memberanikan diri bilang ke atasanku bahwa aku ingin resign dan keputusan ini sudah bulat. Aku mau fokus merawat suamiku. Atasanku setuju.

Malam harinya aku mendapat kabar kalau dia sudah mulai sesak nafas dan di ruang perawatan pun sudah digunakan monitor jantung dan rencananya suamiku akan segera dibawa ke ICU. Aku menangis, berlutut, dan berdoa kiranya Tuhan dapat menolong dia melewati kondisi yang harus dihadapi. Aku pun bergegas membeli tiket pesawat untuk berangkat ke Jakarta besok paginya lewat Palangkaraya. Singkat cerita, saat dia yang kukasihi sedang berjuang di ruang ICU, waktu menunjukkan pukul 23:45 dan aku mendapat kabar bahwa Tuhan Yesus telah memanggilnya pulang.

Aku tersentak. Aku menangis. Aku meraung dan malam hari itu di Sampit turun hujan yang sungguh deras.

* * *

Aku mampu melewati semuanya, sepanjang perjalanan hubungan kami hingga menikah, semuanya karena kekuatan dan penyertaan daripada Tuhan. Aku mengingat kembali semua kebaikan-Nya pada kami. Walaupun waktu-waktu kami bersama begitu singkat, tetapi aku tetap bersyukur karena Tuhan masih memberikanku waktu untuk merawat suamiku dengan intens selama 6 hari di RS Kanker Dharmais Jakarta. Tuhan Yesus, terima kasih, Engkau sangat baik.

Sampai saat ini pun, aku tetap merasakan kasih dan penyertaan Tuhan dalam kehidupanku walau terkadang aku sangat rindu dengan suamiku, dia yang kukasihi.

Semoga kesaksian tentang sekelumit kisah kehidupanku dan alharhum suamiku bisa menjadi berkat bagi semua yang membaca kisah kehidupan kami.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Baca Juga:

Wanita untuk Kemuliaan Allah

Pada saat Ia bangkit dari kematian-Nya, saksi pertama dari kisah yang mengguncangkan sejarah itu adalah Maria Magdalena, seorang wanita. Mengapa bukan tokoh yang dianggap penting seperti Petrus, Yohanes, Yakobus, atau murid pria lainnya?

Kasih yang Tertikam

Minggu, 23 Februari 2020

Kasih yang Tertikam

Baca: Yesaya 53:1-6

52:1 Terjagalah, terjagalah! Kenakanlah kekuatanmu seperti pakaian, hai Sion! Kenakanlah pakaian kehormatanmu, hai Yerusalem, kota yang kudus! Sebab tidak seorangpun yang tak bersunat atau yang najis akan masuk lagi ke dalammu.

52:2 Kebaskanlah debu dari padamu, bangunlah, hai Yerusalem yang tertawan! Tanggalkanlah ikatan-ikatan dari lehermu, hai puteri Sion yang tertawan!

52:3 Sebab beginilah firman TUHAN: Kamu dijual tanpa pembayaran, maka kamu akan ditebus tanpa pembayaran juga.

52:4 Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Dahulu umat-Ku berangkat ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, lalu Asyur memeras dia tanpa alasan.

52:5 Tetapi sekarang, apakah lagi urusan-Ku di sini? demikianlah firman TUHAN. Umat-Ku sudah dirampas begitu saja. Mereka yang berkuasa atas dia memegahkan diri, demikianlah firman TUHAN, dan nama-Ku terus dihujat sepanjang hari.

52:6 Sebab itu umat-Ku akan mengenal nama-Ku dan pada waktu itu mereka akan mengerti bahwa Akulah Dia yang berbicara, ya Aku!

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita.—Yesaya 53:5

Kasih yang Tertikam

Carla sudah berusaha menelepon. Ia juga sudah mengirim pesan singkat ke adiknya. Sekarang ia berdiri di depan pagar rumah adiknya, tetapi tidak juga berhasil membuat sang adik menemuinya. Adiknya mengurung diri di rumah dalam keadaan depresi dan berjuang melawan kecanduan. Dalam upaya terakhirnya untuk menemui sang adik yang sedang mengurung diri, Carla mengumpulkan sejumlah makanan kesukaan adiknya dengan catatan ayat-ayat Alkitab yang menguatkan, lalu mencoba menurunkan bungkusan itu ke balik pagar rumah.

Namun, apa daya, bungkusan tersebut tersangkut besi pagar, lalu robek, dan isinya jatuh berhamburan ke atas batu-batu kerikil di bawah. Pemberian yang didasari niat baik dan kasih itu rasanya terbuang sia-sia. Akankah adiknya melihat barang-barang yang dibawanya? Akankah misi untuk memberikan harapan itu tercapai? Carla hanya bisa berharap dan berdoa sambil menantikan kesembuhan adiknya.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Dia—pada intinya—menurunkan Anak-Nya yang tunggal ke balik pagar dosa kita, dengan pemberian kasih dan pemulihan bagi dunia kita yang kacau dan jauh dari-Nya (Yoh. 3:16). Nabi Yesaya menubuatkan harga yang harus dibayar dari tindakan kasih Allah itu dalam Yesaya 53:5. Anak itu akan “tertikam oleh pemberontakan kita, . . . diremukkan oleh kejahatan kita.” Bilur-bilur-Nya membawa pengharapan akan pemulihan kekal. Dia menanggung sendiri “kejahatan kita sekalian” (ay.6).

Tertikam oleh dosa dan kebutuhan jiwa kita, Yesus sebagai pemberian Allah turun ke dalam kehidupan kita dengan kekuatan dan perspektif baru hari ini. Apakah arti pemberian-Nya bagi kamu?—Elisa Morgan

WAWASAN
Dimulai dari pasal 42 kitab Yesaya, kita menemukan banyak ayat yang menyebut tentang “Hamba TUHAN.” Dari pasal 42–48, “Hamba” terkadang merujuk kepada Israel atau seorang saleh yang secara tidak langsung merujuk kepada Yesus Kristus. Namun, pasal 49–53 secara jelas mengindikasikan bahwa “Hamba” tersebut adalah Yesus. Contohnya, perlakuan ekstrem yang mempermalukan Sang Hamba melalui hajaran yang membuat-Nya menjadi begitu buruk rupa, lalu diikuti dengan kemuliaan yang begitu besar hingga manusia akan menyembah dengan takjub kepada-Nya (52:13-15; Filipi 2:1-11). Sang Hamba akan dibenci dan ditolak karena rupa-Nya berbeda dengan harapan orang-orang Yahudi tentang Mesias (53:1-3). Sang Hamba akan menderita dan mati dengan bengisnya demi menanggung kesengsaraan yang seharusnya kita tanggung akibat pelanggaran-pelanggaran kita, yang ditimpakan Allah kepada-Nya (ay.4-6).

Pernahkah kamu merasakan kasih Allah yang rela berkorban? Pernahkah kamu melihat Dia mengubah kehidupan yang hancur oleh keajaiban kasih karunia-Nya?

Ya Allah, terima kasih karena Engkau telah mengaruniakan Yesus kepadaku, yang turun ke dalam hatiku dan menjawab kebutuhan rohaniku hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 7-8; Markus 4:21-41

Handlettering oleh Caroline

Janji Kuno

Sabtu, 22 Februari 2020

Janji Kuno

Baca: Bilangan 6:22-27

6:22 TUHAN berfirman kepada Musa:

6:23 “Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka:

6:24 TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;

6:25 TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;

6:26 TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.

6:27 Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.”

Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau.—Bilangan 6:24

Janji Kuno

Pada tahun 1979, Dr. Gabriel Barkay dan timnya menemukan dua gulungan naskah berbahan perak di pekuburan di luar Kota Tua Yerusalem. Setelah diteliti secara saksama selama dua puluh lima tahun, pada tahun 2004 para ilmuwan mengonfirmasi bahwa kedua gulungan tersebut adalah naskah Alkitab tertua yang pernah ditemukan, yang terkubur sejak tahun 600 sm. Bagi saya, yang paling menyentuh adalah isi gulungan tersebut, yakni berkat imamat yang dikehendaki Allah untuk disampaikan kepada umat-Nya: “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera” (Bil. 6:24-26).

Dengan memberikan doa berkat itu, Allah menunjukkan kepada Harun dan anak-anaknya (melalui Musa) cara untuk memberkati umat dalam nama-Nya. Para pemimpin diharuskan menghafal kata-kata tersebut dalam bentuk yang diberikan Allah supaya mereka dapat mengucapkannya sesuai keinginan Allah. Perhatikan kata-kata tersebut menekankan bahwa Allah merupakan Pribadi yang memberkati, karena kata “Tuhan” disebut tiga kali. Allah menyebut “engkau” dan “-mu” sebanyak enam kali, dan ini menunjukkan betapa Allah menginginkan umat-Nya menerima kasih dan kebaikan-Nya.

Renungkanlah bahwa fragmen Alkitab tertua yang pernah ditemukan mengungkapkan kerinduan Allah untuk memberkati umat-Nya. Kita diingatkan pada kasih Allah yang tak terbatas dan kerinduan-Nya untuk bersekutu dengan kita. Jika kamu merasa jauh dari Allah, peganglah erat-erat janji yang terkandung dalam kata-kata kuno tersebut. Kiranya Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau.—Amy Boucher Pye

WAWASAN
Berkat imamat dalam Bilangan 6 muncul kembali dalam Mazmur 67. Ucapan ini dimulai dengan permohonan berkat Allah: “Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya.” Kata memberkati tiga kali digunakan (ay.2,7,8). Seperti dalam Bilangan 6, kata yang diterjemahkan sebagai “memberkati” adalah kata Ibrani barak. Menurut Theological Wordbook of the Old Testament, “Memberkati dalam Perjanjian Lama berarti ‘mendoakan kesuksesan, kemakmuran, kesuburan, umur panjang, dll.’”
Mengapa tercetus permohonan itu dalam Mazmur 67:2? Ini bukan hanya untuk memberkati umat Israel, tetapi juga agar melalui mereka Allah dikenal oleh bangsa-bangsa: “supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa” (ay.3).—Arthur Jackson

Bagi kamu, apa artinya Allah rindu memberkatimu? Bagaimana kamu dapat membagikan kasih-Nya kepada orang lain?

Allah Bapa, aku bersyukur atas banyaknya berkat yang Engkau berikan kepadaku. Tolonglah aku menyadari hal-hal dari-Mu yang memberiku sukacita dan damai sejahtera, supaya aku dapat memuliakan Engkau.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 4-6; Markus 4:1-20

Handlettering oleh Vivi Lio

Kita Ini Debu

Minggu, 9 Februari 2020

Kita Ini Debu

Baca: Mazmur 103:8-14

103:8 TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

103:9 Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.

103:10 Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,

103:11 tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia;

103:12 sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.

103:13 Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.

103:14 Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.

Dia ingat, bahwa kita ini debu.—Mazmur 103:14

Kita Ini Debu

Seorang ayah muda terlihat mulai kehilangan kesabarannya. “Es krim! Es krim!” jerit anak balitanya. Kegaduhan di tengah mal yang ramai itu mulai menarik perhatian pengunjung lain di sekitarnya. “Ya nanti, kita cari keperluan Mama dulu ya, oke?” bujuk sang ayah. “Tidaaaak! Es krim!” Kemudian seseorang menghampiri mereka: wanita bertubuh mungil, berpakaian bagus dengan sepatu yang serasi dengan tas tangannya. “Ia sedang meluapkan emosi,” si ayah menjelaskan. Wanita itu tersenyum dan menjawab, “Sebenarnya, emosilah yang menguasai anakmu. Jangan lupa, ia masih kecil. Yang ia butuhkan adalah kamu tetap sabar dan berada di dekatnya.” Situasi tersebut tidak serta-merta berhasil diatasi, tetapi kehadiran wanita itu menjadi semacam jeda yang dibutuhkan oleh si ayah dan anaknya saat itu.

Perkataan bijak wanita itu menggemakan kata-kata yang tertulis dalam Mazmur 103. Daud menulis tentang Allah kita yang “penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (ay.8). Ia kemudian melanjutkan dengan memberi gambaran tentang ayah duniawi yang “sayang kepada anak-anaknya,” dan bahkan terlebih lagi “Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (ay.13). Allah Bapa kita “tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu” (ay.14). Dia tahu kita lemah dan rapuh.

Kita sering gagal dan merasa kewalahan menghadapi segala sesuatu yang dilontarkan dunia ini ke arah kita. Namun, alangkah luar biasanya kepastian yang kita pegang, yakni mengenal kasih Bapa kita yang sabar dan selalu hadir dengan berlimpah ruah.—John Blase

WAWASAN
“TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Mazmur 103:8) merupakan penggambaran Allah seperti yang ditunjukkan kepada Musa di atas Gunung Sinai (Keluaran 34:6-7). Kasih Allah (hesed dalam bahasa Ibrani) dalam kitab Mazmur sering kali dipasangkan dengan kata kesetiaan (lihat Mamzur 100:5), tetapi Mazmur 103 menghubungkan kasih Allah dengan rasa sayang (ay.8,13). Pemazmur menegaskan bahwa murka Allah bukanlah murka yang penuh dendam, tetapi berhubungan dengan keinginan-Nya agar umat manusia memperoleh pengampunan, kesembuhan, sukacita, dan kepuasan di dalam Dia (ay.3-5).—Monica Brands

Pernahkah kamu merasa jengkel seperti anak kecil dalam cerita di atas? Bagaimana Allah Bapa merespons sikapmu saat itu?

Ya Allah, terima kasih Engkau sudah menjadi Bapa kami yang sabar dan selalu hadir, yang mengingat siapa diri kami di hadapan-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 6-7; Matius 25:1-30

Handlettering oleh Dinda Sopamena