Posts

4 Cara Sederhana Membagikan Injil di Zaman Now

Oleh Madeline Kalu
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Am I Responsible For My Friend Salvation?

Rasanya baru kemarin aku memulai hidup baru bersama Tuhan Yesus.

Perubahan hidup itu terjadi tepatnya 10 tahun lalu, pada suatu malam yang dingin di bulan Januari. Temanku yang bernama Hannah memimpinku berdoa dan mengakui dosa. Kami melakukan itu di dalam mobil yang kami parkir di luar supermarket. Dalam pernyataan imanku, aku menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku.

Perubahan hidupku pun terjadi dengan cepat. Aku merasa hidupku bersih dan enteng, seolah-olah semua kesalahan dan keputusan burukku di masa lalu terhapus. Yang lebih penting, aku merasa dicintai dan diterima apa adanya terlepas kegagalan dan kekurangan. Cinta ini kuyakin hanya bisa datang dari Tuhan saja.

Bulan demi bulan pun berlalu. Aku menjalani hidup yang baru bersama Tuhan dengan rasa syukur dan hati membara untuk semakin mengenal Juruselamatku. Hannah tetap membimbingku. Dia mengajarkanku tentang Amanat Agung dari Matius 28:19-20.

Pikiranku langsung tertuju pada teman-teman dekatku yang tidak mengenal Yesus. Aku sadar bahwa pergumulan dan kepedihan yang mereka alami seringkali diakibatkan dari pencarian mereka akan tujuan hidup, akan sebuah identitas. Aku merasa terbeban kepada mereka.

Aku ingin menolong mereka agar mereka mengenal kebebasan, kedamaian, dan kasih dari Bapa seperti yang juga kualami. Aku juga khawatir akan kehidupan kekal mereka jika mereka tidak mengenal Tuhan. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk “membantu” teman-temanku mengenal keselamatan, yang rupanya malah menyebabkan situasi canggung antara aku dan mereka.

Ini kisahnya. Kami pergi ke suatu kota di malam Minggu. Beberapa temanku ingin mengunjungi kawasan “red district” atau kita kenal dengan istilah lokalisasi. Di sana para turis bisa melihat para pekerja seks komersial yang ‘dipajang’ di balik pintu kaca yang diberi lampu berwarna merah. Aku sulit menerima usulan mereka, sementara teman-temanku yang lain berpikir tidak ada yang salah dengan sekadar berjalan-jalan ke sana. Bagiku, menjadi PSK bukanlah dambaan bagi para wanita di sana. Aku bersimpati pada perjuangan mereka.

Aku bilang pada teman-temanku bahwa Tuhan menghendaki tubuh kita kudus dan berkenan bagi-Nya (Roma 12:1). Sebagai orang Kristen, aku tidak mau mengejar hal-hal duniawi, sehingga seharusnya orang lain pun begitu. Teman-temanku menyanggahku. Mereka bilang bahwa bukan bagianku untuk mendikte mereka tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dan yang terutama, apa yang mereka harus percayai.

Aku ingin teman-temanku mengenal kasih Yesus, tetapi pengalaman canggung itu kemudian mengajariku bahwa keselamatan masing-masing individu bukanlah tanggung jawabku. Setiap orang bertanggung jawab atas keselamatan mereka sendiri. Tuhan ingin setiap orang dengan sukarela berelasi dengan-Nya, dan bukan bagianku untuk memaksa seseorang percaya sesuai dengan metodeku. Namun, aku tetap punya kewajiban untuk membagikan Injil. Sejak kejadian canggung itu, aku telah belajar untuk melayani teman-temanku dengan cara yang berbeda dengan harapan itu akan menolong mereka melihat terang Kristus.

Dari pengalamanku, izinkan aku membagikan 4 cara untuk menjangkau teman-teman kita yang belum percaya.

1. Biarlah iman kita bersinar melalui kehidupan kita

Aku bisa menjadi juru bicara yang baik untuk Kristus ketika teman-temanku melihat bagaimana aku hidup sebagai orang Kristen. Aku suka firman dari Matius 5:16, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Satu perubahan besar yang terjadi setelah aku mengikut Yesus adalah aku tidak lagi menggunakan kata-kata sumpahan atau umpatan. Teman-temanku tidak hanya memperhatikan perubahan ini, tetapi mereka juga benar-benar minta maaf jika mereka mengumpat di hadapanku.

Daripada berbicara hal negatif, sekarang aku mencoba untuk menggunakan kata-kata yang dapat membangun orang sekitarku (1 Tesalonika 5:11). Aku coba menunjukkan kasih Tuhan pada teman-temanku dengan menjadi seorang yang sabar, baik hati, dan berempati, seperti yang Yesus lakukan pada kita.

2. Tetaplah bagikan kesaksian kita

Tuhan terus bekerja dalam hidup kita, dan kita bisa membagikannya dengan teman-teman kita. Ketika suamiku dan aku bergumul dalam masalah finansial, Tuhan datang dan menyediakan kami sejumlah uang yang diberikan oleh teman, ada uang yang masuk di rekening kami dari orang yang tidak kami kenal, bahkan beasiswa untuk suamiku. Teman-temanku tidak hanya menyaksikan bagaimana Tuhan telah mengubah hidupku, tetapi mereka juga lebih banyak tentang Tuhan melalui apa yang terjadi dalam hidupku.

Aku memperhatikan bahwa teman-temanku lebih menerima mendengar tentang Tuhan ketika mereka dapat melihat pekerjaan nyata melalui peran-Nya sebagai Tuhan yang hidup dan Bapa yang pengasih. Beberapa temanku bahkan mulai menghubungkan hal-hal baik dalam hidup mereka karena berkat Tuhan, bukan karena hasil kerja keras, keberuntungan, atau nasib mereka.

3. Kita bisa menciptakan ruang yang aman dan saling menghargai

Aku dan teman-temanku telah menciptakan ruang yang aman dalam hubungan kami, di mana kami saling menghargai satu sama lain, dan setiap orang bebas untuk menjadi diri sendiri. Kami menerima kelemahan satu sama lain, juga memaafkan kesalahan yang dilakukan.

Aku memang berbicara tentang Tuhan dengan teman-temanku, tapi sekarang aku lebih bijaksana dan menimbang setiap situasi dengan hati-hati sebelum membagikan pendapatku, daripada membombardir mereka dengan ayat-ayat Alkitab.

Karena ruang aman yang sudah tercipta itu, teman-temanku merasa nyaman untuk mendekatiku ketika mereka memiliki pertanyaan tentang Tuhan, karena mereka tahu aku tidak akan menghakimi dan menghujat mereka.

4. Tetaplah berdoa untuk keselamatan teman-temanmu

Pernahkah kamu menonton film War Room? Wanita tua dalam film itu memiliki lemari khusus—yang dia sebut sebagai “ruang perang”—yang disediakannya untuk doa teratur, doa penuh semangat, dan doa khusus untuk mendoakan orang-orang sekitarnya.

Aku banyak berdoa untuk keselamatan teman-temanku. Aku telah menulis daftar nama orang-orang yang kuharap suatu hari nanti akan memiliki hubungan yang sesungguhnya dengan Tuhan, dan menggantung daftar nama ini di ruanganku–”war room” milikku sendiri.

***

Teman-temanku mungkin suatu hari akan memilih Kristus, atau mungkin tidak. Namun, aku akan terus berteman dengan mereka dan mengasihi mereka dengan kasih yang telah Tuhan tunjukkan padaku.

Karena itu, aku tidak akan putus asa bahwa, suatu hari, teman-temanku akan menerima Yesus untuk masuk dalam hati mereka. Sampai hari itu datang, aku akan terus beriman, percaya atas kasih Tuhan, dan berdoa.

Yang Kamu Dapat Cuma-Cuma, Bagikanlah Juga dengan Cuma-Cuma

Oleh Cristal Tarigan

Awal Januari harusnya menjadi tahun yang penuh sukacita bagi kebanyakan orang. Kumpul dengan keluarga, membuat resolusi, menikmati pesta tahun baruan dan makanan yang enak-enak. Tapi, di awal tahun 2018 lalu, ada hal yang mengganggu sukacitaku.

Sepulang dari menikmati pesta tradisi adat keluarga dari mamaku, aku mandi untuk menyegarkan diri dan saat menggosok seluruh badan, aku merasa ada sesuatu yang asing di bagian tubuhku di dekat leher daerah dekat bahu. Karena merasa janggal, dan bingung, kutanyakan semua anggota keluargaku apakah di dekat leher mereka juga punya benjolan sepertiku, tapi semuanya nihil.

Beberapa minggu berlalu benjolan itu tidak juga hilang. Awalnya tidak ada rasa takut, karena merasa itu mungkin hanya masuk angin saja. Aku terlalu banyak pergi jalan-jalan selama beberapa hari di awal tahun. Tapi saat sudah memasuki bulan April, di situlah aku mulai overthinking dengan kondisiku.

Saat itu aku sedang kuliah dan kos di kota Medan. Kesendirianku di kamar kos itulah yang menjadi tempat di mana aku sering berpikir yang aneh-aneh, khawatir, takut dan menangis. Kujalani hari-hariku dengan orang lain seperti tidak ada apa-apa, tapi saat sendirian aku benar-benar terpuruk karena aku takut benjolan ini bisa saja membawa sesuatu yang sangat fatal bagi masa depanku. Aku sering mencari banyak informasi di internet tentang kemungkinan yang menjadi penyebab sakitku, tapi bukannya membuatku menemukan jawaban yang pasti, justru informasi itu membuatku semakin hari semakin khawatir.

Mengakhiri ketakutan dengan mulai membagikan Kabar Baik

Sebelum kejadian di 2018 itu, kujelaskan sedikit tentang latar belakang rohaniku. Aku lahir dari keluarga Kristen yang cukup “rohani”. Aku mengikuti banyak kegiatan rohani, memegang jabatan rohani. tetapi sebenarnya aku baru lahir baru di tahun 2015. Sejak tahun itu aku memulai perjalanan hidup baruku dengan Kristus, dan juga terlibat dan kegiatan komunitas Kristen di kampusku. Jadi di saat aku mengalami sakit itu, bukannya aku tidak mengerti bahwa dalam segala hal kita harus berserah kepada Tuhan. Ada segudang teori yang bisa aku bagikan kepada orang lain saat ada kegiatan sharing bersama, tapi dalam kondisi itu selama berbulan-bulan lamanya aku jatuh, aku memang berdoa, menyembah bahkan menangis dalam tiap doaku, tapi aku sadar, sebenarnya saat itu aku bukan berdoa kepada Tuhan. Aku berdoa kepada diriku sendiri, menghendaki Tuhan menjawab doaku seperti keinginanku sendiri. Itulah yang sebenarnya kulakukan setiap kali menghampiri Tuhan lewat doa. Sampai suatu hari aku berdoa, menyanyi, menangis dan entah kenapa aku merasa seperti Tuhan bertanya secara pribadi kepadaku begini “apa yang menurutmu paling berharga yang kau miliki selama hidupmu?”

Kurenungkan pertanyaan itu sampai berhari-hari untuk menemukan jawabannya. Hari di mana aku merasa hidupku berubah seutuhnya adalah ketika aku menerima Yesus sebagai Juruselamatku. Saat itu ada seseorang kakak yang menceritakan Injil dengan rendah hati kepadaku. Inti Ceritanya adalah Yesus satu-satunya jalan keselamatan. Hidup kekal adalah anugerah yg didapat cuma-cuma dari Allah, bukan karena seberapa baiknya aku dan sebanyak apa kegiatan pelayananku, satu-satunya syarat memiliki hidup kekal adalah Iman yang percaya kepada Yesus dengan segenap hati.

Ketika aku sadar bahwa Injil adalah cerita yang paling berharga, aku pun bangkit dan diteguhkan bahwa aku punya tugas menjadi saksi-Nya. Saat itu aku bukanlah seorang penginjil yang sudah diperlengkapi dengan berbagai metode yang bisa aku bagikan dengan teknik-teknik yang luar biasa. Hanya dengan kesadaran bahwa aku sudah mengalami, aku sudah terima, maka artinya aku adalah saksi-Nya dan tugasku adalah bersaksi.

Kumulai saat itu membagikan ceita Injil dengan bahasa apa adanya kepada teman-teman terdekatku. Mereka adalah orang-orang sepertiku dulu sebelum lahir baru. Meskipun sehari-hari tampaknya aktif dalam banyak kegiatan rohani, tapi mungkin saja seseorang masih memiliki pemahaman yang dangkal soal Injil. Berawal dari teman terdekat, aku belajar mengikis rasa takutku sampai akhirnya kini membagikan kabar baik itu adalah sebuah gaya hidup.

Mencontohkan iman itu bisa dalam berbagai hal. Contohnya adalah dengan kesaksian hidup sehari-hari, dari cara berbicara, berpakaian, bekerja, dan berbagai perbuatan lainnya tanpa harus secara terang-terangan membagikan isi Injil, dan mengangkat kata-kata Yesus. Tidak salah bahwa kesaksian hidup bisa mempengaruhi pandangan orang lain yang membuatnya pada akhirnya penasaran, bertanya, dan kita bisa menjelaskan imanlah alasan kita melakukannya. Tapi hendaknya kita tidak lupa bahwa tugas saksi memanglah bersaksi. Selain kita harus bisa menjadi teladan lewat kesaksian hidup, kita memang secara sengaja mendoakan orang-orang di dekat kita lalu mulai berani memulai berbagi dan percaya Roh kudus yang memimpin setiap percakapan dalam kesaksian kita.

Mengalami sendiri Berita Injil

Akhirnya, awal tahun 2019, aku sudah operasi atas saran dokter. Sebenarnya sakit ini tanpa gejala, tapi namanya penyakit harus diobati, akhirnya aku ikuti saja saran dokter. Hasilnya, penyakitku tidak semenakutkan yang aku pikirkan, benjolanku itu bukan sesuatu yang fatal. Dokter menyarankanku kontrol setiap tahun jika kemudian ada hal-hal yang aneh dan terasa tidak nyaman setelah operasi itu dilakukan, dan menerapkan pola hidup sehat.

Proses itu membuatku memahami Yesus bahkan tentang pengorbanan-Nya lebih banyak lagi secara Pribadi. Injil yang aku dengar dan aku bagikan itu sendirilah yang sudah membuatku menyadari betapa luar biasanya Yesus yang aku kenal, yang tidak meninggalkanku di kala lembah terdalam melandaku. Sampai kini, itulah janji-Nya yang gak pernah Dia ingkari.

Memang awalnya aku tidak paham sama sekali kejadian yang diizinkan Tuhan di awal tahun 2018 itu, tapi kini aku tahu, setiap maksud Tuhan selalu mendatangkan kebaikan. Jangan pernah takut bersaksi, kesaksian tidak selalu kita mulai karena kita harus mengalami hal yang luar biasa atau sebuah mukjizat. Setiap kita yang sudah mengalami sendiri Yesus, aku percaya kita semua adalah saksi-saksi yang bisa dan sudah diperlengkapi-Nya untuk kembali memuliakannya.

“Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-nya oleh kekuatan Allah” (2 Tim 1:8).

Kejahatan ‘Terbesar’ di Dunia

Oleh Ananda

Perang Dunia bukan sekadar kisah yang hadir di buku sejarah. Itu adalah peristiwa kelam yang pernah dialami oleh umat manusia. Ketika aku berkunjung ke Ereveld—sebuah pemakaman khusus korban Perang Dunia II di Ancol—aku terperanjat melihat dan mendengar kisah-kisah yang tak tertuliskan di buku pelajaran sekolah dulu.

“Kalau makam yang di sana milik siapa, Pak?”, tanyaku kepada petugas.

“Apakah kamu punya adik laki-laki?”, dia balik bertanya.

“Punya pak, ada dua”, jawabku. Aku agak bingung kok malah aku balik ditanya.

“Makam yang di sana itu adalah makam seorang kakak perempuan bernama Luchien Ubels. Kabarnya, Ia menyerahkan diri untuk dieksekusi pada saat pemerintah Jepang mencari adik laki-lakinya.”

Dari ribuan makam yang ada di Ereveld, makam milik Luchien Ubels mencuri perhatianku. Makam itu lokasinya menyendiri, terpisah dari makam-makam lain. Ada kisah pilu di balik kematian Luchien Ubels.

Luchien Ubels (Luut) memiliki seorang adik yang bernama Lambert Ubels. Masyarakat Eropa pada era kolonial dulu lebih sering mengenal seseorang dengan nama keluarganya ketimbang nama depan. Setelah pasukan Jepang berhasil menginvasi Jawa, Lambert dan teman-temannya yang merupakan pegawai dari Sindikat Pertanian Umum (ALS) melakukan perlawanan dengan membuat petisi. Akibatnya, pasukan Jepang pun memburunya. Pasukan Jepang lantas mendatangi rumah Lambert untuk menahannya, tapi Lambert tidak ada di sana, hanya kakaknya saja yang tertinggal. Di dokumen petisi itu tertulis nama L. Ubels. Pihak Jepang tidak tahu apabila nama Ubels yang tertera di petisi ialah Lambert. Untuk menyelamatkan adiknya, Luut pun mengakui bahwa dia yang telah menandatangani petisi itu. Luut akhirnya dieksekusi bersama 18 orang lainnya. Untuk menghormati jasanya, keluarga Ubels kemudian memohon agar makam Luut ditempatkan secara istimewa di Ereveld Ancol.

Dalam kemelut perang, mengorbankan nyawa demi seseorang adalah tindakan heroik yang tak dapat dilakukan oleh semua orang. Keberanian Luchien Ubels demi menyelamatkan sang adik mengingatkanku kepada kisah Seseorang yang juga mengorbankan diri-Nya di Golgota dua ribu tahun silam. Bukan hanya demi menyelamatkan satu orang, Ia menyerahkan diri-Nya bagi seluruh dunia. Agar setiap orang yang percaya kepada-Nya, beroleh hidup yang kekal.

Orang itu tak lain adalah Kristus. Anak Allah yang rela merendahkan diri-Nya dan berkorban bagi kita, manusia yang kecil dan hina ini. Bukan atas hasil usaha kita, melainkan oleh karena kasih karunia-Nya kita Ia selamatkan.

Seringkali kita lupa bahwa keselamatan yang kita peroleh itu sungguh merupakan sebuah anugerah dari Allah. Alih-alih menerimanya dengan perasaan syukur dan rendah hati, tak jarang kita malah bersikap arogan, merasa lebih tahu dan bahkan merasa lebih pantas menerima keselamatan jika dibandingkan dengan orang-orang yang belum mengenal Kristus. Kita lupa bahwa oleh karena kemurahan hati-Nya sajalah, kita dimampukan untuk mengenal Dia. Sebab seperti yang Paulus katakan, bahwa manusia duniawi sejatinya tidak dapat menerima dan memahami Roh Allah (1 Korintus 2:14-15).

Aku terlahir di dalam non-Kristen. Ketika akhirnya aku mengenal Kristus dan menjadi Kristen, aku sangat bersemangat dalam mengabarkan Kabar Baik ini kepada anggota keluarga yang belum mengenal Kristus. Namun seringkali, semangatku tidak dibarengi dengan sikap hati yang baik dalam menyampaikannya. Sikap arogan pun muncul tanpa kusadari ketika orang-orang yang kuceritakan tentang Kabar Baik itu malah meresponsku dengan buruk. Alih-alih berfokus memberitakan kisah Kabar Baik itu, aku malah berupaya tampil lebih unggul daripada mereka. Aku berfokus untuk “menang” dalam setiap lontaran pertanyaan yang mereka berikan buatku. Dan, tak hanya itu, aku tanpa sadar menuntut mereka untuk melihat dengan cara pandang yang sama sepertiku.

Sekilas upayaku menyampaikan Kabar Baik itu terkesan baik, tetapi aku sesungguhnya sedang lupa dan salah. Aku telah menempatkan diriku lebih tinggi dari Allah, seolah akulah yang memegang kendali untuk meyakinkan mereka. Aku lupa bahwa hanya melalui pekerjaan Roh Kudus sajalah, orang lain dapat terbuka mata dan hatinya.

Aku terlalu sibuk dengan egoku sehingga enggan memberi ruang bagi Kristus untuk dapat terlibat di dalam perjalanan pengenalan akan kasih-Nya kepada mereka. Aku terlalu angkuh untuk mengingat bahwa aku pun pernah mengalami kesulitan untuk untuk benar-benar memahami kasih Kristus yang mulia.

Aku lupa bahwa sesungguhnya aku tidak layak bermegah atas pengertian yang telah Tuhan berikan kepadaku mengenai anugerah keselamatan-Nya. Bukan atas hasil usahaku, juga bukan karena banyaknya buku yang telah habis kubaca, melainkan oleh karena kasih karunia-Nya saja.

Keangkuhanku itu bukan hanya menjauhkan relasiku dengan keluargaku, tetapi juga menjauhkanku dari Allah. Meski aku telah bersaksi tentang Allah melalui perkataanku, nyatanya aku telah gagal memperkenalkan kasih-Nya yang nyata melalui diriku. Sungguh mengerikan ketika menyadari kebobrokan yang telah kulakukan di dalam selubung iman ini.

C.S. Lewis dalam bukunya Mere Christianity mengatakan bahwa “kejahatan yang terbesar di dunia ini adalah kesombongan.” Kesombongalah yang pada awalnya menggiring Adam dan Hawa merasa lebih mengetahui apa yang baik dan menentang kehendak Allah. Melalui kesombongan pula, Lucifer diusir dari surga dan menjadi Iblis.

Kesombongan yang terbalut oleh kehidupan rohani dapat mengaburkan pengenalan yang benar akan kasih Allah yang rendah hati. Itu jugalah yang menyebabkan seteru antara manusia dengan sesamanya, serta manusia dengan Tuhannya. Jika kesombongan terus dibiarkan tumbuh di dalam dunia, bukankah wajar jika perseteruan antar manusia semakin marak bermunculan?

Kita tahu bahwa dunia memang sudah tercemar oleh pelbagai rupa kejahatan, mulai dari kejahatan kecil sampai kejahatan besar seperti aksi teror yang terjadi di Makassar beberapa waktu lalu. Namun, alangkah baiknya jika kita tidak semakin menambah jumlah daftar kejahatan yang terjadi, dengan cara merendahkan hati dan membagikan kasih yang sudah Yesus ajarkan kepada kita.

Mari kembali merenungkan, sudahkah kita benar-benar merendahkan hati kita dalam memberitakan kasih-Nya, melalui setiap perkataan dan perbuatan kita kepada mereka yang belum mengenal Dia?

Kiranya kita yang telah mengenal Dia, serta diubahkan oleh kasih karunia-Nya, boleh senantiasa dimampukan untuk meneladani kerendahan hati-Nya melalui kasih terhadap sesama. Amin.

Baca Juga:

4 Jurus Melawan Pikiran Negatif

Bagaimana caranya kita bisa tetap bersukacita dan merasa cukup sebagai orang Kristen di tengah dunia yang telah jatuh dalam dosa?

3 To-Do-List Saat Kita Melakukan Penginjilan

Oleh Yosheph Yang, Korea Selatan

Saat ini aku bertumbuh di salah satu gereja lokal di Korea Selatan. Melihat kehidupan saudara-saudari di gereja di sini, aku banyak belajar tentang apakah dasar yang tepat buat penginjilan dan bagaimana semestinya penginjilan dilakukan. Terlepas dari kesibukan pekerjaan masing-masing, mereka tetap bergiat melakukan penginjilan di universitas-universitas buat mahasiswa yang masih belum mengenal Kristus.

Melalui apa yang kulihat dan kupelajari dari kehidupan mereka dan pengajaran di gereja, ada tiga hal tentang penginjilan yang harus kita tanamkan dalam kehidupan sehari-hari:

1. MENUMBUHKAN kasih buat orang lain, terutama berkaitan dengan keselamatan

Tuhan menginginkan semua orang tidak binasa dan memperoleh keselamatan yang kekal melalui Kristus Yesus (1 Timotius 2:4). Pertanyaannya, apakah kita juga memiliki kerinduan yang sama seperti hati Tuhan? Sebelum kita mengabarkan kabar baik-Nya, tugas kita adalah membuat isi hati kita selaras dengan isi hati Tuhan. Sama seperti pertumbuhan rohani kita, proses ini tidak dapat berlangsung dengan instan. Ini membutuhkan latihan dan komitmen dalam kehidupan kita.

Kita dapat melihat contohnya dalam kehidupan Musa. Sebelum dipakai Tuhan untuk menyelamatkan orang Israel keluar dari Mesir, Musa berpikir biar orang lain saja yang melakukannya. Musa selalu melihat kekurangan di dalam dirinya (Keluaran 4:1-17). Tetapi pada akhirnya, Musalah yang memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir.

Salah satu hal yang kukagumi dari Musa adalah walaupun bangsa Israel sering bersungut-sungut atas penyertaan Tuhan dan memberontak, Musa tetap berdoa buat keselamatan mereka. “Ampunilah kiranya kesalahan bangsa-Mu, seperti Engkau telah mengampuni bangsa ini mulai dari Mesir sampai ke mari” (Bilangan 14:19), seru Musa kepada Tuhan. Di ayat selanjutnya, kita mengetahui bahwa Tuhan mengabulkan doa Musa dan mengampuni bangsa Israel.

Di Bilangan 14:13-19, Musa mengungkapkan argumennya ketika Tuhan hendak menghukum bangsa Israel. Jika kamu membaca nats tersebut, kira-kira bagaimanakah Musa dapat mengatakan itu semua? Jawabannya adalah: Musa tahu isi hati Tuhan. Musa memiliki hubungan pribadi yang erat dengan Tuhan. Melalui kehidupan Musa, kita juga bisa menumbuhkan hati kita buat orang lain melalui hubungan yang akrab bersama Tuhan, caranya dengan saat teduh dan berdoa.

“Dan Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya” (Keluaran 33:11a).

2. MEMPERSIAPKAN diri untuk memberitakan Injil

Langkah selanjutnya yang dapat kita lakukan adalah mempersiapkan diri kita. 1 Petrus 3:15 memberikan kita gambaran bagaimana kita dapat melakukannya:

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.”

Mempersiapkan diri berlangsung pada segala waktu untuk menjelaskan pengharapan yang ada dalam kehidupan kita. Sebagai contohnya, kita bisa mempersiapkan diri kita dengan menghafal beberapa ayat yang berkaitan dengan keselamatan melalui Yesus Kristus untuk memudahkan kita bercerita kepada orang di sekitar kita. Atau, kita juga dapat menulis kesaksian kita tentang keadaan kita sebelum dan sesudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Di tengah dunia yang penuh tantangan dan penderitaan, memiliki pengharapan yang teguh adalah kebutuhan. Sebagai orang Kristen, kita memiliki pengharapan tersebut di dalam Kristus, yang memampukan kita untuk bersukacita, mengampuni, memberi, dan melakukan teladan-teladan Kristus lainnya yang secara manusia sulit untuk dilakukan. Ketika kita menghidupi pengharapan tersebut, orang-orang lain akan tertarik dengan kehidupan kita. Kita dapat mengarahkan mereka kepada Pengharapan sejati yang memampukan kita untuk hidup seperti itu.

Setelah kita mempersiapkan ini semua, berdoalah kepada Tuhan agar kita diberi kesempatan memberitakan Injil kepada orang-orang di sekitar kita.

3. MENGINGAT terus makna kasih karunia dalam kehidupan kita

Poin ketiga berkaitan dengan bagaimana kita harus tetap memandang kasih karunia Tuhan sebagai alasan kita untuk melakukan penginjilan. Kita diselamatkan karena kasih karunia Yesus dan kita juga harus hidup berdasarkan kasih karunia. Penginjilan tidak boleh melupakan kebenaran ini.. Ketika kita lupa bahwa keselamatan adalah kasih karunia Allah, kita akan lebih berfokus pada perbuatan atau hal-hal yang tidak esensial dalam penginjilan. Kita lebih mementingkan hasil dibanding dengan proses ketika kita menginjili. Kita bisa menjadi kecewa ketika penginjilan gagal, sekaligus kita juga bisa jatuh dalam dosa kesombongan ketika penginjilan kita berhasil. Terlepas dari hasil yang kita peroleh, kita harus tetap mengingat bahwa semua karena kasih karunia-Nya ketika kita dipakai Tuhan buat melakukan penginjilan.

“Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia” (Roma 11:6).

Aku berharap melalui tiga poin di atas, kita semua bisa bertumbuh dalam penginjilan kepada orang-orang di sekitar kita. Selamat menginjili!

Baca Juga:

Kasih-Nya Merobohkan dan Membangun

Kasih Kristus mampu merobohkan tembok-tembok dosa dalam hidup kita dan menggantinya dengan anugerah yang mengubahkan kehidupan. Sudahkah kamu mengalaminya?

Digitalkan Kabar Baikmu!

Oleh Cornelius Ferian Ardiano, Jakarta

Halo kawan,

Tahukah kamu tentang penyakit kanker? Kupikir semua orang tahu dengan salah satu penyakit paling mematikan ini. Sampai sekarang pun, belum ada obat kanker yang dapat 100% memulihkan semua orang yang terjangkit olehnya. Aku ingin mengajakmu membayangkan, jika semisal kita terkena penyakit tersebut dan kita sembuh total karena diberi “obat mujarab” oleh kerabat terdekat kita, dan kita sembuh total, menurutmu bagaimana perasaan kita? Tentu kita akan sangat bersukacita, dan besar kemungkinannya kita akan menceritakan pengalaman yang luar biasa ini ke kerabat-kerabat kita supaya mereka juga mendengar kabar baik tentang obat yang bisa menyembuhkan.

Berangkat dari ilustrasi di atas, aku ingin mengajakmu untuk merenungkan kembali sebuah ayat.

“Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:18-20).

Ayat tersebut bukanlah ayat yang asing buat kita.

Perintah Yesus untuk menjadikan segala bangsa murid-Nya sering kita dengar sebagai Amanat Agung. Seperti yang kita pahami bersama, setelah Yesus terangkat ke surga, murid-murid-Nya pergi ke segala penjuru dunia untuk mengabarkan Injil supaya setiap orang yang bahkan belum mendengar nama Kristus juga boleh menerima keselamatan. Menurutmu, apa sih yang membuat murid-murid Yesus bergairah untuk mewartakan Kabar Baik? Kita yang hidup di masa sekarang ini dapat mengenal Yesus pun karena pekerjaan murid-murid-Nya.

Murid-murid Yesus sangat mengenal pribadi-Nya. Pada zaman Yesus, kata murid yang dimaksud tidaklah seperti murid yang hadir di sekolah masa kini. Seorang murid pada waktu itu harus mengikut dan meniru gurunya. Mereka juga harus mengingat apa yang guru mereka sabdakan. Murid-murid Yesus bukanlah orang yang suci, akan tetapi karena pengenalan mereka kepada Kristus dan pengorbanan-Nya, mereka mengalami perubahan hidup yang signifikan dan hidup mereka pun berdampak. Mereka telah melihat sendiri mukjizat-mukjizat yang Yesus kerjakan selama di bumi, yang bagi orang lain mustahil untuk dikerjakan. Dan, mereka pun melihat bahwa pengorbanan Yesus memberikan obat yang paling mujarab untuk manusia, yakni pemulihan dari dosa dan jaminan akan kehidupan yang kekal.

Kembali ke ilustrasi yang kutuliskan di atas, ketika kita berada di posisi di mana sakit keras menimpa kita dan kita mendapatkan obat mujarab, tentu kita akan bergairah mewartakan kepada orang-orang akan obat itu. Kita punya tujuan agar orang-orang yang sakit itu pun bisa mengalami kesembuhan seperti kita.

Di masa sekarang ini, ada banyak banget loh cara-cara untuk mewartakan Kabar Baik. Salah satunya adalah lewat menulis di akun media sosial atau blog pribadi.

Aku mengalami lahir baru pada tahun 2014, ketika aku masuk di awal perkuliahan. Dulu, aku merasa hidupku baik-baik saja sampai aku sadar bahwa sebenarnya hidupku sangat jauh dari Kristus. Ketika aku dipulihkan dalam acara retreat, aku diminta untuk menuliskan kesaksianku di blog pelayanan mahasiswa dulu. Pada tahun 2016, Tuhan mengizinkanku untuk melakukan mission trip ke Kendari. Suatu waktu di sana, aku bertemu dengan seorang adik yang orang tuanya berbeda agama dan dia bingung untuk menetapkan ke mana dia mau menambatkan imannya. Saat aku mulai mewartakan Injil, adik ini pun bertanya, apakah benar aku yang menulis kesaksian mengenai lahir baru? Dia pun menunjukkanku website yang di dalamnya terdapat tulisanku. Aku diam seketika, aku sangat bersyukur bahwa yang kukira menulis kesaksian adalah hal percuma, ternyata itu bisa dipakai Tuhan untuk menjamah orang yang tidak pernah kupikirkan sekalipun.

Kawanku, apa yang kualami itu sungguh terjadi. Jika kamu merasa hidupmu sudah dipulihkan, banyak loh teman-teman kita yang mungkin terlihat baik, tetapi sebenarnya mereka sedang mencari-cari kebenaran.

Terlepas dari banyaknya konten negatif di Internet, kita bisa memeranginya dengan mewartakan Kabar Baik. Aku pribadi terus percaya bahwa tulisan-tulisan yang kita posting akan sangat berarti bagi mereka yang haus dan lapar akan pengenalan kepada Tuhan.

“Tetapi, bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengarkan tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (Roma 10:14).

Ayo kita budayakan menulis untuk tujuan yang kekal. Teruslah berkarya lewat tulisan sebagai salah satu caramu melaksanakan Amanat Agung. Digitalkan Kabar Baikmu!

Baca Juga:

Apakah yang Kupercayai Sungguh Membuatku Berbeda?

Panggilan kita sejatinya begitu jelas: Orang Kristen harus berbeda karena apa yang kita percayai. Alkitab memanggil kita untuk menjadi pelita dan garam dunia (Matius 5:13-16). Jadi, tentu hidup kita dipanggil untuk membuat perbedaan yang mendasar dan kekal. Tapi, bagaimana?

Bagaimana Kita Dapat Memuliakan Yesus di Natal Kali Ini?

Oleh Tyler Edwards, Amerika Serikat
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How Can We Honor Jesus This Christmas?

Pernahkah kamu perhatikan kalau Natal terkadang menjadi suatu momen yang mengundang perdebatan?

Di negaraku, aku melihat ada orang-orang yang berteriak marah kepada seorang pekerja di supermarket karena mereka mengucapkan “selamat liburan” alih-alih “selamat Natal”. Kepada orang-orang seperti itu, aku mengapresiasi kasih mereka kepada Yesus dan kerinduan mereka agar orang lain tahu apa makna yang sesungguhnya dari Natal. Tapi, mungkin makna Natal yang sesungguhnya itu tidak akan didengar oleh orang lain apabila kita hanya sekadar menyampaikannya lewat kata-kata tanpa menunjukkannya dalam tindakan kita.

Ingatkah kamu akan peristiwa beberapa tahun lalu ketika seorang pendeta marah kepada Starbucks karena mengubah desain cup kopi dari yang awalnya bergambar butiran salju menjadi warna merah polos? Apa kaitannya antara butiran salju dan manusia salju dengan kelahiran Kristus? Tidak ada kaitannya. Respons marah dari pendeta tersebut tidaklah memuliakan Yesus; dia hanya menunjukkan kekesalannya atas perubahan yang dia tidak sukai.

Jika kita menilik kembali Natal pertama, Natal sesungguhnya adalah peristiwa yang kontroversial: Seorang ibu muda mengandung bayi di luar ikatan pernikahan, di dalam suatu masa dan budaya yang menganggap hal itu amatlah tabu. Para gembala, yang adalah orang berstatus rendah, kotor, dan tidak dianggap baik dalam budaya Yahudi. Orang Majus yang kemungkinan adalah penganut paganisme. Dan, Yesus pun dilahirkan di kandang, kotor dan dikelilingi oleh hewan-hewan.

Tidak ada bagian dari kisah Natal tersebut yang bagus seperti yang tergambar dalam benak kita. Natal adalah peristiwa yang memalukan. Peristiwa yang mengagetkan. Peristiwa yang hina. Namun, di balik semua itu, Natal adalah sebuah pernyataan dari Injil—Yesus tidak datang hanya untuk sekelompok orang. Yesus datang untuk semua orang. Untuk orang berdosa. Untuk orang-orang kotor. Bahkan, untuk orang-orang yang dianggap sesat. Ya, Yesus juga datang untuk orang-orang seperti itu.

Untuk siapakah Natal?

Aku bertemu dengan pria yang sekarang menjadi pendeta di sebuah gereja yang besar. Dia bercerita kalau ada suatu tahun ketika Natal, tanggal 25 Desember, jatuh di hari Minggu. Dia dan para penatua gerejanya memutuskan daripada mengadakan kebaktian di gereja, mereka ingin jemaat melayani di luar, untuk memuliakan Yesus dengan mengikuti teladan pelayanan-Nya.

Mereka lalu mengusulkan beberapa ide sederhana: memberi hadiah kepada keluarga yang membutuhkan, menjadi relawan di sebuah kedai makan yang menyediakan makanan bagi orang-orang terlantar, bersilaturahmi dengan anggota keluarga yang terlibat konflik, dan membawa kehangatan Natal kepada seseorang yang meluangkan waktu-waktu liburan ini seorang diri. Ada banyak sekali cara yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan makna Natal yang sejati kepada dunia.

Tapi, beberapa orang tidak suka dengan ide ini. Sang pendeta menerima beberapa ancaman dari orang-orang Kristen yang menganggap ide untuk tidak mengadakan kebaktian di hari Natal sebagai sebuah pelanggaran terhadap Tuhan.

Pada akhirnya, gereja itu tetap menjalankan ide mereka meskipun ditentang. Mungkin itu adalah salah satu tindakan revolusioner yang melawan budaya gereja mereka. Atau, mungkin juga peristiwa itu jadi kesempatan bagi mereka untuk memeriksa kembali hati mereka dan mengingat apa yang sesungguhnya menjadi makna dari Natal.

Di titik tertentu, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita menunjukkan kasih kita kepada Kristus dengan cara-cara yang memuliakan-Nya? Apakah kita menghargai tradisi Natal lebih daripada kita menghargai makna Natal yang sejati?

Ketika kita memboikot sebuah perusahaan atau produk karena mereka melawan tradisi kita, apakah kita menunjukkan kasih dan anugerah Allah kepada dunia? Apakah semangat dan kasih kita kepada Yesus yang kita tunjukkan bertentangan dengan pesan Injil yang kita percayai?

Natal bukanlah tentang tradisi. Bukan tentang memberi kado, atau salju dan pohon penuh hiasan. Natal adalah tentang Yesus. Jika kita tidak menghormati Yesus dengan cara menunjukkan dan membagikan kasih-Nya kepada orang lain karena kita terlalu berfokus pada tradisi kita, kita telah kehilangan inti dari Natal.

Kebanyakan tradisi dan praktik yang kita lakukan di saat Natal adalah hal-hal yang punya sedikit, atau bahkan tidak ada kaitannya sama sekali dengan Yesus. Mungkin tradisi dan praktik itu menyenangkan, tapi itu tidaklah kudus. Tradisi dan praktik itu bisa saja menjadikan kita kurang berfokus pada-Nya. Ketika kita melupakan apa paling penting dari Natal, kita merayakan Natal dengan cara yang salah.

Jadi, bagaimana kita dapat memuliakan Yesus dan menghidupi makna Natal yang sejati tahun ini? Aku ingin menyarankanmu untuk melakukan hal ini dengan mengejar kembali apa yang menjadi misi kedatangan Yesus ke dunia.

Di Natal kali ini kita bisa memilih untuk mengakhiri konflik yang terjadi antara kita dengan keluarga, atau meluangkan waktu dengan orang-orang yang merasa sendiri di dalam komunitas kita. Kita juga bisa berbagi kasih dengan memberikan sesuatu kepada mereka yang miskin dan membutuhkan. Mungkin, kita bisa juga mengundang teman kita untuk pergi ke gereja bersama-sama, atau yang lebih baik, kita bisa meluangkan waktu dan pikiran kita untuk menemani mereka dan membagikan kabar Injil. Cara apakah yang lebih baik untuk memuliakan Tuhan yang telah memberikan kita hidup selain daripada memberikan hidup kita juga untuk orang lain?

Terlepas dari bagaimana cara kita untuk menjalankan misi Yesus pada Natal kali ini, yang paling penting adalah: kita harus ingat untuk Siapa kita melakukannya.

Mengapa aku punya harapan pada Natal kali ini

Ketika aku melihat banyak “orang Kristen” berperilaku dengan cara yang bertentangan dengan Injil, aku mendapati diriku tidak menjadi marah. Aku malah jadi berharap. Aku ingat kisah Petrus, seorang yang sangat bersemangat, bahkan berani mati untuk Yesus. Namun, dalam semangatnya untuk mengasihi Yesus, dia tidak mengasihi dengan cara yang berkenan kepada Yesus. Ingatkah kita pada suatu malam ketika Yesus ditangkap? Petrus menarik pedangnya dan memotong telinga seorang prajurit. Tindakan ini mungkin terkesan berani dan heroik. Tapi, respons Yesus menunjukkan pada kita bahwa Yesus tidak berkenan atas apa yang Petrus lakukan (Lukas 22:50-51). Namun, seiring perjalanan Petrus mengikut Yesus, dia pun berubah. Pada akhirnya Alkitab mencatat bahwa Petrus menjadi salah seorang rasul yang tidak gentar mewartakan berita keselamatan.

Aku berharap, seperti Petrus, kita pun akan bertumbuh. Aku berharap, seperti Petrus, kasih kita kepada Tuhan akan menghapus cara pandang kita yang keliru. Aku berharap, seperti Petrus, sukacita dan keyakinan kita kepada Yesus yang bangkit dari maut mendorong kita untuk melayani dan mengikut-Nya dengan setia. Pun aku berharap ketika kita kelak meninggalkan dunia ini, kita memberikan kesan dari Kerajaan Allah.

Jadi, di Natal kali ini, aku ingin mengundang setiap kita untuk menemukan seseorang yang belum mengenal Kristus. Jika kita dapat menjangkau seseorang di suatu waktu di mana mereka lebih terbuka menerima berita Injil, jika kita bisa menunjukkan pada seseorang siapa itu Yesus di masa Natal ini, maka kita dapat melihat arti Natal yang sesungguhnya. Hadiah terbesar yang bisa kita berikan pada Tuhan bukanlah benda-benda mahal yang dapat diperoleh dalam dunia yang fana ini; hadiah terbesar yang bisa kita berikan adalah membawa seseorang untuk mengenal Kerajaan Allah.

Tentang penulis:

Tyler Edwards adalah seorang pendeta, penulis, dan juga suami. Dia telah melayani dalam pelayanan sepenuh waktu sejak tahun 2006. Saat ini dia bekerja sebagai pendeta bidang pemuridan di Carolina Forest Community Church. Dia bersemangat untuk mengenalkan Injil kepada orang-orang dan menolong mereka bertumbuh di dalam-Nya. Dia juga merupakan penulis dari buku Zombie and Church: Breathing LIfe Back Into the Body of Christ.

Baca Juga:

Bapa dan Lappy

Di titik tertentu, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita menunjukkan kasih kita kepada Kristus dengan cara-cara yang memuliakan-Nya? Apakah kita menghargai tradisi Natal lebih daripada kita menghargai makna Natal yang sejati?