Posts

Ketika Jumat Agung Menjadi Hari yang Menyedihkan Hatiku

Ketika-Jumat-Agung-Menjadi-Hari-yang-Menyedihkan-Hatiku

Oleh Laura M., Amerika Serikat
Artikel asli dalam bahasa Inggris: When Good Friday Doesn’t Seem So Good

Beberapa tahun yang lalu aku pernah mengalami sebuah peristiwa yang menyedihkan di hari Jumat Agung. Salah seorang teman terdekatku sejak di bangku sekolah dulu, Erica, meninggal dunia secara tiba-tiba karena kecelakaan mobil. Sejak duduk di bangku SD hingga SMA kami sering berada dalam satu grup. Kami mengikuti retret musim panas bersama-sama, kami ada dalam satu kelompok dalam pelajaran IPA, bahkan kami juga mengikuti perlombaan lompat tali yang diselenggarakan di wilayah kami.

Setelah lulus sekolah dan melanjutkan ke perguruan tinggi, kami tidak lagi berkomunikasi sesering dulu, tetapi kami masih terus menjaga hubungan baik. Rencananya, setelah liburan Paskah berakhir, aku akan menghubungi Erica sebelum dia berangkat ke luar negeri untuk pekerjaan misi.

Tapi, di malam hari Jumat Agung, aku mendapat kabar bahwa Erica telah meninggal dalam kecelakaan mobil saat ia berkendara pulang menuju rumahnya. Tidak pernah terbayang olehku Erica mengalami peristiwa itu. Aku pun menyadari parahnya pengaruh yang dibawa oleh sebuah peristiwa kematian.

Ya, kematian itu seharusnya tidak ada. Sejatinya, kita tidak diciptakan untuk mengalami kematian. Tapi, karena manusia telah jatuh ke dalam dosa, kematian itu adalah upah dari dosa dan menjadi bagian dari hidup kita. Tiba-tiba, aku dapat membayangkan sedikit dari perasaan bingung, marah, dan sedih yang dialami oleh murid-murid Yesus ketika mengetahui bahwa Dia telah mati.

Tapi kemudian, aku melihat ada harapan. Hari Jumat Agung yang sebelumnya kuabaikan itu mengingatkanku akan dua hal. Pertama, penderitaan dan pembunuhan yang kejam kepada Seseorang yang mengakui diri-Nya sebagai Juruselamat dunia; kedua, hal “baik” yang dihasilkan dari kematian-Nya: memberi kita jalan keluar untuk bebas dari kematian! Kebangkitan Yesus di hari ketiga yang kita peringati sebagai Minggu Paskah memberi kita pengharapan kekal dan solusi dari kematian.

Puji syukur atas apa yang telah terjadi di Paskah yang pertama, aku dapat menerima kenyataan bahwa Erica tentu saat ini sedang berbahagia di surga, sekalipun terkadang aku masih merasa sedih karena kematiannya.

Perkataan Yesus dalam Yohanes 16:33 selama ini telah menjadi penghiburan yang sangat besar buatku. “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” Perkataan yang Yesus katakan sebelum Dia disalibkan itu memberi kita sebuah makna sejati dari Jumat Agung dan Minggu Paskah.

Hari ini, memang kita masih mengalami dampak dari dosa-dosa itu. Kepedihan yang dirasakan oleh murid-murid Yesus itu masih ada dalam kehidupan ini. Tapi, tatkala kita merasa hidup kita sedang berada di titik nadir, hari Paskah memberi kita sebuah kebenaran yang bisa kita pegang. Yesus telah mengalahkan kematian dengan cara memberi diri-Nya di kayu salib sebagai ganti kita, dan Dia juga menyatakan kebenaran-Nya pada kita dengan berkata, “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). Ya, segala dosa kita telah lunas ditebus-Nya.

Ketika aku mengetahui bahwa Erica telah sepenuhnya menerima Yesus sebagai Juruselamatnya, aku percaya akan bertemu kembali dengannya di surga kelak. Ya, mungkin nanti kami akan berjalan-jalan bersama, atau juga mengikuti lomba lompat tali hingga kami mendapatkan piagam.

Baca Juga:

3 Alasan Mengapa Orang Kristen Harus Mendengar Injil Kembali

Apakah Injil hanya untuk orang-orang yang belum Kristen? Jawaban sederhanaku adalah: Tidak. Jika kita sebagai orang Kristen berpikir kalau kita baik-baik saja, itu berarti kita semakin butuh untuk mendengar Injil. Inilah tiga alasannya.

3 Alasan Mengapa Orang Kristen Harus Mendengar Injil Kembali

3-alasan-mengapa-orang-kristen-harus-mendengar-injil-kembali

Oleh Joanna Hor, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Reasons Why Christian Need To Be Hearing The Gospel—Again

“Selamat pagi! Silakan ambil traktat Injil ini cuma-cuma,” ucap seorang pria paruh baya sambil menyodorkan sebuah traktat yang berjudul “Seandainya” kepada seorang wanita yang berjalan di depanku.

Wanita itu menolak dengan menggelengkan kepalanya. Kemudian, pria itu mendekatiku dan menawariku sebuah traktat yang sama. Aku menjawabnya dengan senyuman tipis, menggelengkan kepala, dan mempercepat langkahku. “Traktat itu kan untuk orang-orang yang bukan Kristen. Aku sudah jadi orang Kristen, aku tahu apa yang ada di dalam traktat itu dan aku tidak membutuhkannya,” gumamku kepada diri sendiri.

Tapi, tiba-tiba ada pertanyaan yang muncul dalam diriku. “Apa salahnya menerima traktat dan membaca kembali Injil? Kapan terakhir kali aku mendengar Injil itu? Apa aku sudah benar-benar mengerti Injil itu?” Aku menjadi malu dengan diriku sendiri dan berjanji akan mengambil traktat itu jika aku bertemu dengan orang yang menawarkannya lagi.

Beberapa minggu telah berlalu sejak kejadian itu, dan menjelang hari Jumat Agung, ada sebuah pertanyaan yang kurenungkan: Apakah Injil itu hanya untuk orang-orang yang belum Kristen?

Jawaban sederhanaku adalah: Tidak. Pada kenyataannya, jika kita sebagai orang Kristen berpikir kalau kita baik-baik saja, itu berarti kita semakin butuh untuk mendengar Injil. Inilah tiga alasannya.

1. Dunia seringkali membuat kita bingung.

Menerima Yesus masuk ke dalam hidup kita dan menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan tidak serta merta membuat masalah kehidupan kita akan hilang. Perjuangan kita melawan dosa, rasa frustrasi karena atasan kerja atau teman yang jahat, dan kekecewaan kepada anggota keluarga kita akan tetap ada. Bencana alam dan sakit penyakit juga masih tetap akan terjadi.

Selain tantangan-tantangan dari luar, kita juga seringali harus menghadapi suara-suara yang berusaha menjatuhkan kita. “Kamu gagal,” suara itu berkata ketika aku masih saja terjatuh dalam dosa. “Jangan mengubah dirimu, kamu sudah sempurna,” kata dunia kepada kita. Ketika rasa kecanduan dan perasaan bersalah memburu kita, kita mendengar suara-suara itu lagi, “Kamu itu tidak cukup baik.” Suara-suara itu akan terus-menerus muncul untuk membuat kita menyerah.

Dunia ini sedang mengalami perubahan nilai-nilai moral. Oleh karena itu, kita perlu terus-menerus mendengar Injil yang tidak pernah berubah. Kita perlu untuk selalu diingatkan kalau Tuhan menilai kita bukan karena penampilan kita, kemampuan kita, atau latar belakang keluarga kita, tapi semata-mata karena Dia menciptakan kita (Mazmur 139:13-16). Kita perlu untuk selalu diingatkan kalau Tuhan itu mengasihi kita tanpa mempedulikan seberapa buruknya kita, dan Dia menunjukkan kasih itu dengan Yesus yang mati untuk kita (Roma 5:8). Kita butuh untuk selalu diingatkan bahwa segala sesuatu yang kita hadapi saat ini hanya bersifat sementara, dan ada harapan mulia yang menanti kita di depan (Roma 8:18).

Mengerti Injil dengan baik memberi kita dasar hidup yang teguh.

2. Kita mudah untuk lupa dan hilang fokus.

Sayang sekali, lupa adalah sifat manusia. Memang, ada kalanya kita diliputi perasaan yang begitu berapi-api untuk berlutut dan menyesali setiap perbuatan kita, atau juga mengucap syukur atas kasih dan anugerah Tuhan. Perasaan berapi-api itu juga membuat kita seolah ingin memperbaharui kembali hidup kita, berjanji untuk berhenti menyia-nyiakan hidup dan mempersembahkan waktu, tenaga, dan uang kepada Tuhan. Kemudian, tanpa berpikir panjang kita mengartikan perasaan-perasaan itu sebagai panggilan untuk melayani Tuhan.

Tapi, ketika semangat kita sedang berapi-api, Iblis datang dan bekerja keras mencari celah untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Ada dua jurus yang Iblis gunakan, yaitu: membuat kita putus asa dan mengalihkan perhatian kita. Banyak hal mungkin tidak terjadi sesuai rencana, masalah sehari-hari mungkin tetap ada, atau orang-orang yang kita hargai malah mengecewakan kita, dan kita menjadi tawar hati. Atau, keluarga dan pekerjaan terlalu menuntut kita hingga kita kehilangan fokus.

Kenyatannya, waktu-waktu seperti itu akan datang. Yesus sendiri mengatakan kalau pengikut-Nya akan diserang rupa-rupa pencobaan. Bagaimana kita dapat bertahan dan tetap hidup bagi Yesus? Jawabannya adalah dengan membiasakan diri dengan Injil. Bacalah Injil itu lagi dan lagi supaya kita dapat melekat dengan kebenaran Tuhan ketika waktu-waktu sulit datang. Ketika kita mengerti kemuliaan yang Yesus janjikan kelak, kita menemukan kekuatan untuk tekun menghadapi tantangan yang ada saat ini.

Menjadi terbiasa dengan Injil bukanlah hal yang buruk. Kenyataannya, semakin kita mengenal dan akrab dengan Injil, semakin kita dikuatkan dan mampu untuk menghadapi godaan iblis dan tantangan dunia (Efesus 6:10-17).
Mengenal Injil dengan baik akan menjaga kita tetap berfokus kepada Allah.

3. Kita masih bisa jatuh ke dalam dosa.

Sekalipun Adam dan Hawa menikmati relasi dengan Tuhan, mereka masih dicobai oleh hal-hal duniawi (Kejadian 3:6). Bukankah itu cukup jelas kalau tidak ada satupun manusia yang kebal terhadap pencobaan?

Sebagai manusia, kita memiliki hawa nafsu dan jika kita tidak menjaga panca indra kita—rasa, sentuhan, bau, pendengaran, dan pandangan—kita akan jatuh terpikat ke dalam dosa. Aku tahu kalau diriku mudah jatuh kepada dosa iri hati dan memberhalakan sesuatu. Aku tahu kalau diriku mudah sekali merasa tidak puas dan iri terhadap mereka yang tampak lebih baik, terlihat lebih mampu dan sukses. Sekalipun aku tahu benar kalau hal-hal yang aku inginkan itu tidaklah terlalu penting, aku malah mengambil waktu dan berusaha untuk mengejar itu semua daripada mengembangkan hubunganku dengan Tuhan. Ironisnya, semua pengejaran itu malah membuatku semakin kosong dan kekurangan.

Tapi, bisa juga kita melakukan hal yang ekstrem lainnya. Bisa saja kita membaca Alkitab setiap hari, berdoa setiap hari, dan melayani dengan berapi-api—dan berpikir kalau kita baik-baik saja karena kita tidak punya dosa “besar” dalam hidup kita. Bahkan kita mungkin juga berpikir kalau kebaikan-kebaikan yang kita buat itulah yang menyelamatkan kita. Mungkin juga kita berpikir kalau kita lebih baik dari orang lain, kemudian kita menghakimi mereka karena kita tidak menganggap mereka setia seperti kita. Mungkin inilah alasan mengapa Yesus menggunakan banyak waktu di hidupnya menegur orang-orang Farisi yang merasa diri mereka benar.

Tidak ada orang Kristen yang sempurna. Hanya ketika kita membenamkan diri kita ke dalam Injil, kita akan ingat kalau semuanya bukan tentang apa yang dapat kita kerjakan, tapi apa yang Tuhan sudah lakukan dalam hidup kita. Kolose 2:6-7 mengingatkan kita kalau menjadi Kristen itu bukan hanya sekadar menerima Yesus ke dalam hidup kita, tapi juga tentang menumbuhkan relasi bersama-Nya.

Mengenal Injil dengan baik menjaga kita untuk berlaku kudus, karena kita mau menyenangkan Tuhan Yesus.

Jadi, bagaimana jika kita memberi diri untuk mendengarkan berita Injil secara rutin? Khotbahkan berita Injil itu kepada diri kita sendiri! Paul Tripp, seorang pendeta dari Amerika pernah berkata, “Tidak ada seorangpun yang lebih berpengaruh dalam hidupmu selain dirimu sendiri. Karena, tidak ada seorangpun yang berbicara kepadamu melebihi yang kamu lakukan.”

Di hari-hari menjelang Paskah ini, akankah kamu mewartakan Kabar Baik ini lagi kepada dirimu?

Baca Juga:

Ketika Tuhan Menolak Proposal Hidupku

Selama bertahun-tahun aku memohon supaya Tuhan mengabulkan semua impianku, seolah-olah aku sedang mengajukan sebuah proposal kepada Tuhan. Namun, ternyata tidak satupun proposal hidupku itu yang berjalan sesuai rencanaku. Aku sempat mengalami kecewa, tapi kemudian Tuhan mengajarkanku satu hal berharga.

His Life for Mine

Demikianlah kita ketahui kasih Kristus,
yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita …

1 Yohanes 3:16

Apa artinya itu bagimu?

Yang tergantung di salib itu

Oleh: Melody Tjan

korban-agung

Tangisi dirimu sendiri
Sebab bukan yang tergantung di salib itu
yang butuh dikasihani.

Dia Sang Mulia yang menanggung
apa yang takkan pernah sanggup kau tanggung
Dia Sang Perkasa yang menyerahkan diri menggantikanmu

anak-anak manusia

Tidakkah kau dengar gelegar murka dari surga
menyengat pekat dosa yang terkumpul di Golgota?

“Mengapa engkau melawan Penciptamu?

Engkau sombong dan selalu merasa benar,
memuja diri sendiri dan ambisi-ambisimu yang liar

Engkau serakah dan malas, tukang fitnah dan tukang gosip,
pembohong dan licik, tidak tahu berterima kasih

Engkau pezinah, penikmat pornografi,
pikiranmu jorok dan penuh hawa nafsu yang memalukan

Engkau berbuat mesum dengan sesama jenis,
berdandan untuk membuat orang birahi

Engkau menggantikan kebenaran-Ku dengan dusta,
meninggikan makhluk ciptaan dan melupakan Pencipta

Engkau merasa tidak perlu mengakui-Ku
apalagi menghormati Sabda-Ku

Engkau penuh dengan rupa-rupa kelaliman dan kebusukan,
mencintai uang, gengsi, dan jabatan

Engkau membunuh saudaramu
dengan peluru kebencian dari hatimu

Engkau mengaborsi bayi-bayi
demi kenyamananmu sendiri

Engkau menindas orang lemah
mengabaikan mereka yang tak berdaya

Engkau mencuri hak orang lain
memanfaatkan sesama bagi kepentingan sendiri

Dari luar engkau membuat dirimu kelihatan bersih dan rohani
tetapi di dalam, engkau penuh sampah yang menjijikkan

Engkau munafik

Engkau suam-suam kuku dan mudah tergoda oleh dunia,
mencari posisi aman di bawah selimut kejahatan

Engkau menginginkan milik orang,
menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya

Engkau iri hati, tetapi tidak mencapai tujuanmu,
lalu engkau bertengkar dan berkelahi

Hatimu penuh kemarahan dan kepahitan,
tidak sudi mengampuni

Engkau menyalahkan orang lain,
dan terlalu angkuh untuk mengakui kesalahanmu

Engkau terlalu cepat bicara dan lambat mendengarkan,
lidahmu penuh racun yang mematikan

Perkataanmu jauh dari kasih karunia,
sarat omelan, kritik, dan penghakiman

Mulutmu seperti senjata beramunisi penuh
Isinya celaan serta sejuta kata yang sia-sia

Engkau pemimpin yang memutarbalikkan keadilan

Engkau guru yang justru menyesatkan orang

Engkau pekerja yang tidak bisa dipercaya

Engkau pelajar yang tidak mau diajar

Engkau tidak punya pengendalian diri

Engkau pengkhianat yang memecah belah komunitas

Engkau pemabuk dan pencuri

Engkau bermuka dua dan suka berbuat curang

Engkau tidak memercayai-Ku

Engkau menghujat nama-Ku

Engkau mempermainkan orangtua

Engkau istri yang tidak tunduk pada suami

Engkau suami yang malas dan tidak bertanggungjawab

Engkau mengajukan gugatan cerai,
merusak gambaran kasih Kristus dengan umat-Nya

Engkau muncikari dan pengedar obat terlarang

Engkau mempraktikkan sihir, ramal, dan memuja setan

Engkau menyebut diri sebagai umat-Ku, sebagai hamba-Ku,
namun hatimu sesungguhnya sangat jauh dari-Ku

Daftar dosamu masih panjang
dan Aku membenci semua kejahatan di dalam dirimu

Aku muak dan jijik dengan ibadahmu yang semu,
Aku tak bisa dipermainkan dengan besaran amal dan korban persembahanmu

Reguklah cawan murka-Ku ini … ”

Dan Yesus pun mereguk
apa yang takkan sanggup kita reguk
Hingga tetes terakhir

Oh, tangisi dirimu sendiri
Sebab bukan yang tergantung di salib itu
yang butuh dikasihani

Dia Sang Mulia yang menanggung
apa yang takkan pernah sanggup kau tanggung
Korban sempurna yang hanya bisa disediakan Penguasa Surga
Dia Sang Perkasa yang menyerahkan diri menggantikanmu

anak-anak manusia

Tidakkah kau lihat uluran kasih dari surga
membasuh tuntas dosa yang terkumpul di Golgota?

Agar matamu yang buta kembali terbuka
Agar hatimu yang sudah mati rasa kembali berdenyut
Dan engkau dapat kembali pada fitrahmu,
hidup mencerminkan mulianya Sang Raja

Tidakkah hari ini engkau ingin bersujud
dalam hormat dan syukur kepada-Nya?

Cerita yang bagus. Jadi, apa artinya?

out-of-the-box-id

Jika kamu menyimpulkan bahwa ini adalah sebuah cerita tentang apa arti persahabatan sejati, dan sebuah nasihat untuk menghargai sahabat-sahabat kita, kamu sudah menangkap sebagian pesannya.

1. Sang Singa melambangkan Allah

Dalam persahabatan kedua tokoh utama, sang singa tidaklah lebih rendah daripada si pemanah muda. Singa adalah makhluk yang kuat dan mengagumkan. Dikenal sebagai raja rimba. Sebenarnya tidak ada untungnya penguasa hutan yang hebat itu berteman dan melindungi seorang manusia yang lemah. Tetapi, itulah sebabnya sosok singa dipakai untuk melambangkan Allah dalam cerita ini. Allah sendiri merendahkan diri-Nya dalam rupa manusia agar kita bisa mengenal dan memiliki relasi dengan-Nya. Itulah yang menjadi rancangan-Nya sejak semula.

Alkitab memberitahu kita bahwa Allah menciptakan manusia yang pertama, Adam dan Hawa, untuk mengelola Taman Eden. Dia berdiam bersama mereka dan menyediakan segala sesuatu yang mereka butuhkan. Satu-satunya larangan Allah adalah memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat (Bacalah kisah lengkapnya dalam Kejadian 2:15-25). Awalnya, Adam mematuhi perintah itu dan semua berjalan dengan lancar.

2. Si Pemanah melambangkan kita

Sama seperti si pemanah muda yang terobsesi untuk mendapatkan buah misterius dan pada akhirnya mengambil risiko untuk bisa meraihnya, Adam dan Hawa juga telah melanggar batas-batas moral yang diberikan Allah untuk tidak mengonsumsi buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat (ular menggoda Hawa hingga ia memakannya, lalu memberikannya kepada Adam). Buah itu terlihat sangat enak dan menarik karena menawarkan kebijaksanaan bagi yang memakannya (Kejadian 3:6). Sebagai akibatnya, Adam dan Hawa melanggar perintah Allah, dan hubungan manusia dengan Allah pun menjadi rusak.

Jika Allah kedengarannya seperti sosok pembunuh sukacita—membatasi hidup kita dengan sejumlah peraturan kuno—aku ingin memberitahumu bahwa faktanya, Dia sama sekali tidak seperti itu. Sebagai Pencipta kita, Allah menetapkan sejumlah batasan agar kita dapat menikmati pengalaman hidup yang terbaik di dalam dunia ini. Peraturan-peraturan-Nya dimaksudkan untuk melindungi kita dari bahaya, dan memampukan kita untuk menikmati kepenuhan hidup. Ketika kita berpikir kita tahu lebih baik dan menentang hukum-hukum-Nya, kita justru akan menderita.

3. Sang Singa mati lalu bangkit kembali, melambangkan apa yang dilakukan Allah.

Sebentar, bukankah sang singa mati setelah memakan buah itu? Apakah itu berarti Allah juga mati? Yup! Benar sekali. Sekalipun Adam dan Hawa tidak langsung mati setelah memakan buah terlarang itu, mereka harus menghadapi kematian sebagai hukuman atas ketidaktaatan mereka—kematian jasmani dan kematian rohani, yang akan memisahkan mereka dari Allah selamanya. Ketidaktaatan Adam—yang mewakili seluruh umat manusia—menyebabkan semua orang setelahnya juga harus mengalami kematian jasmani dan rohani.

Hei, itu tidak adil! Kamu mungkin akan langsung protes. Yang memakan buah itu adalah Adam dan Hawa, bukan saya. Mungkin kamu dapat mempertimbangkan pandangan berikut: Alkitab memberitahu kita dalam 1 Korintus 15:21-22 bahwa sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Bagian Alkitab ini berbicara tentang Yesus, Sang Anak Allah dan Allah sendiri (Yohanes 10:30). Yesus datang ke dunia ini dalam rupa manusia, mati di kayu salib menggantikan kita, menanggung hukuman atas pelanggaran-pelanggaran kita (Kolose 2:13-14). Sama seperti dosa Adam memengaruhi kita semua, kematian Yesus juga berdampak bagi kita semua. Jika kita merasa tidak selayaknya menanggung penghukuman bagi seluruh umat manusia karena dosa Adam, kita juga tidak selayaknya menerima pengorbanan Kristus.

Namun, bersyukur bahwa cerita ini berakhir bahagia. Sebagai pribadi yang tidak berdosa, Yesus menaklukkan kematian sekali untuk selamanya. Dia bangkit dari kubur tiga hari setelah kematian-Nya. Jika kamu bertanya-tanya mengapa ada jejak-jejak singa yang digambarkan pada akhir cerita, itu melambangkan Yesus yang telah bangkit.

Kamu mungkin bertanya, apa arti semua ini sementara aku sendiri tidak mengerti dan tidak memiliki hubungan dengan Allah? Well, Allah mengundangmu untuk memiliki hubungan dengan-Nya. Alkitab meyakinkan kita bahwa barangsiapa yang bertobat dari dosa-dosanya dan percaya kepada Yesus akan dapat menikmati hubungan dengan Allah dan tidak harus mengalami kematian rohani (Yohanes 3:16). Inilah hubungan yang jauh lebih baik daripada hubungan antar manusia mana pun yang dapat kita miliki—hubungan dengan seseorang yang tidak akan pernah mengecewakan kita, hubungan dengan seorang sahabat sejati.

Apakah kamu bersedia mengambil langkah untuk datang kepada-Nya dan menjalani hidup bersama Sang Sahabat Sejati?

Wallpaper Paskah: Yesaya 53:5

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Yesaya 53:5)

Mempersiapkan Hati Menyongsong Paskah

Oleh William Lukman

Ketika menonton film, apakah kamu memperhatikan bagian akhir filmnya? Kalau saya iya. Ketika menonton film dengan akhir yang tidak begitu bagus, saya sering frustrasi dan bertanya kenapa saya rela membuang waktu satu-setengah-jam untuk menonton film itu!

Bagaimana dengan kehidupan Yesus? Apakah kamu memperhatikan bagian akhir dari hidup-Nya di bumi ini?

Mari kita mulai dari awal. Yesus lahir dari perawan Maria, yang kala itu tunangan dengan seorang pria bernama Yusuf, yang adalah keturunan Daud (Lukas 2:4). Sejak lahir, Dia dinubuatkan sebagai Mesias.

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Lukas 2:11)

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (Matius 1:21)

Injil Yohanes mencatat beberapa mukjizat-Nya:

  • Mengubah air menjadi anggur (Yohanes 2)
  • Menyembuhkan yang sakit (Yohanes 4-5, 9)
  • Memberi makan 5000 orang (Yohanes 6)
  • Berjalan di atas air (Yohanes 6)
  • Membangkitkan Lazarus dari kematian (Yohanes 11)

Tindakan-tindakan ini menunjukkan bahwa Yesus adalah Tuhan dan memiliki tujuan yang harus digenapi di bumi. Dua Injil menangkap keindahan kata-kata Yesus tentang misinya di bumi:

“Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28, juga di Markus 10:45)

Pada Jumat Agung yang pertama, Yesus melakukan tindakan yang menyelamatkan manusia. Dia dikhianati, ditahan, dipukul, dicambuk, dicemooh, dimahkotai duri, diludahi, dilucuti, dipaku, ditikam, dan disalibkan. Dan yang paling parah, Dia terlihat tertekan dan seakan Bapa-Nya di surga telah mengabaikan-Nya (Matius 27:46). Namun, itu bukanlah akhir dari cerita ini. Tiga hari kemudian, Yesus bangkit dari kubur (Matius 28:1-7)! Dia menaklukkan dosa dan maut.

Dengan mengingat akhir dari kisah ini, berikut beberapa tips untuk menyiapkan hati kita menyongsong Paskah:

1. Menghayati setiap rincian kisah kesengsaraan dan kematian Yesus
Pemahaman yang detail mengenai kisah ini akan membuat kita dapat lebih menghargai betapa dalamnya arti dari pengorbanan Yesus untuk kita.

2. Mengingat bahwa KITA juga bagian penting dari kisah ini
Kita bukan hanya penonton. Kita adalah alasan Yesus disalibkan. Dia mati untuk dapat secara langsung menyelamatkan kita dari belenggu dosa.

3. Menyerahkan kembali hidup kita kepada Yesus
Jika kita telah menjauh dari iman kita, maka gunakan waktu ini untuk menyerahkan kembali hidup kita kepada Yesus. Atau jika kita diingatkan akan kasih Allah kepada kita pada Paskah ini, maka gunakan kesempatan ini untuk menegaskan kembali komitmenmu kepada Yesus.

Selamat Paskah.