Posts

Ingatlah Yesus yang Pernah Menderita Bagi Kita – Artspace Jumat Agung

Apapun situasi yang kita alami saat ini, kita dapat yakin bahwa ada seseorang yang benar-benar tahu apa yang sedang kita hadapi. Karena Dia sendiri pernah melewati semua itu.

Jadi, kalau kamu mendapatkan diagnosa penyakit tertentu, ingatlah Yesus, yang hidup setiap hari dalam hidup-Nya dengan menyadari bahwa Dia akan mati dengan cara yang begitu kejam (Matius 16:21).

Jika kamu bergumul untuk menerima apa yang menjadi kehendak Tuhan (mungkin keadaan di rumah atau tempat kerjamu tidak berjalan seperti yang kamu inginkan), ingatlah Yesus yang memohon kepada Allah Bapa di Taman Getsemani (Lukas 22:42).

Jika teman-temanmu telah mengkhianati atau meninggalkanmu, ingatlah Yesus, yang juga dikhianati oleh Yudas, murid-Nya (Lukas 22:3-6).

Jika kamu mendapatkan tuduhan yang salah, ingatlah Yesus, yang juga mendapatkan tuduhan yang salah di hadapan Pilatus dan Herodes (Lukas 23:2, 10).

Jika kamu telah kehilangan semua yang kamu miliki, ingatlah Yesus, yang meninggalkan takhta-Nya di surga untuk datang ke dunia yang telah jatuh dalam dosa ini (Filipi 2:6-8).

Jika kamu tidak mendapatkan apa yang menjadi hakmu, ingatlah Yesus, yang tubuh-Nya didera bagi kita (Filipi 2:6-8).

Jika kamu sedang menghadapi sakit secara fisik, ingatlah Yesus yang tergantung di kayu salib (Yesaya 53:4-5).

Jika kamu merasa diabaikan oleh Allah, ingatlah Yesus, yang ditinggalkan Allah di atas kayu salib (Matius 27:46).

Ingatlah Yesus.

Ingatlah bahwa Dia telah mati untuk memberikan kita hidup.

Ingatlah juga bahwa Dia pernah hidup di dunia ini untuk menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kita hidup.

Kasih Tuhan di Masa Corona

Oleh Jefferson, Singapura

Memasuki bulan keempat di tahun 2020, aku tidak menyangka kalau wabah COVID-19 akan jadi separah ini. Situasi di Singapura sendiri bereskalasi dengan cepat selama beberapa minggu terakhir. Pengetatan berkala peraturan-peraturan social distancing pun mencapai puncaknya ketika pemerintah mengumumkan kebijakan “pemutus arus”—yang mirip dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta—hari Jumat minggu lalu. Salah satu upaya yang diperkenalkan untuk menghambat laju penyebaran coronavirus adalah menutup kantor-kantor dari berbagai sektor non-esensial selama satu bulan, dimulai dari Selasa kemarin. Kantorku yang bergerak di bidang konsultasi lingkungan pun terkena imbasnya.

Aku cukup terkejut ketika mendengar harus bekerja dari rumah selama sebulan, terutama karena perusahaanku belum pernah melakukannya sejak pandemi ini dimulai. Group chat kantor pun mulai ribut dalam keresahan, membuat aku yang tadinya tenang-tenang saja jadi ikutan panik.

Pada saat itulah aku mulai menyadari dan merasakan dampak dari wabah COVID-19 secara langsung. “Ketakutan dan penderitaan semakin nyata di mana-mana,” pikirku. Pengamatan ini kemudian berkembang menjadi pertanyaan, “Menghadapi situasi seperti ini, tanggapan seperti apa yang iman Kristen berikan? Dan apa bedanya dengan reaksi dari dunia?”

Di antara banyak tulisan dan opini yang disuarakan oleh berbagai kalangan, artikel karangan N. T. Wright menuntunku untuk merenungkan tentang hal ini lebih dalam dari yang kukira, di mana aku melihat keindahan dan keunikan dari jawaban Kekristenan untuk pandemi ini.

“Kekristenan tidak menawarkan jawaban apapun atas coronavirus

Artikel itu dibuka dengan pengamatan beliau terhadap suatu refleks—layaknya lutut yang diketuk palu karet—dari banyak kalangan untuk memberikan sebuah label kepada peristiwa ini, entah sebagai “hukuman”, “pertanda”, maupun “respons alam”. Teori-teori konspirasi pun menyebar secepat virus korona menular. Orang-orang ini dijuluki N. T. Wright sebagai “Rasionalis” karena menuntut penjelasan rasional atas segala kejadian. Berseberangan dengan mereka adalah kaum “Romantisis” yang sentimentalis, yang menuntut suatu “desahan lega“, kepastian instan bahwa pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja.

Terhadap kedua reaksi tersebut, N. T. Wright memberikan alternatif respons yang iman Kristiani usung dalam bentuk ratapan, di mana kita mengakui dengan jujur kalau kita sama sekali tidak mengetahui alasan di balik suatu kejadian maupun hasil akhirnya. Ratapan beliau jabarkan sebagai tindakan “bergerak keluar dari kecemasan kita terhadap dosa-dosa dan pergumulan pribadi yang egois untuk melihat penderitaan dunia dengan lebih luas”. Tradisi ratapan yang Alkitabiah mengajak kita untuk berempati dengan penderitaan mereka yang berhadapan dengan pandemi ini dalam kondisi yang jauh dari ideal, seperti di kamp pengungsi yang padat di Yordania dan daerah penuh kekerasan perang seperti Gaza.

Beliau kemudian mengajak kita untuk menilik isi dari sejumlah mazmur ratapan. Beberapa mazmur memang ditutup dengan pembaharuan keyakinan akan penyertaan dan pengharapan dari Tuhan di tengah permasalahan, namun ada juga mazmur-mazmur yang berakhir dalam kegelapan dan kekalutan (seperti Mazmur 88 dan 89). Dari kedua jenis mazmur ratapan ini, kita melihat bahwa praktik ratapan tidak selalu memberikan jawaban atas segala rasa duka dan frustrasi yang kita alami. Meskipun begitu, ratapan selalu menyingkapkan suatu misteri yang dinyatakan oleh Alkitab kepada para peratap: TUHAN sendiri pun meratap.

Ratapan Allah Tritunggal terekam jelas dalam Perjanjian Lama maupun Baru. Ada banyak bagian yang mencatat hati Tuhan yang berduka, seperti ketika melihat keberdosaan dan kejahatan manusia (Kejadian 6:5-6) serta ketika bangsa Israel pilihan-Nya sendiri berpaling dari-Nya untuk menyembah berhala (Yesaya 63:10). Di sisi lain, dalam Perjanjian Baru kita melihat air mata sang Anak di makam Lazarus (Yohanes 11:35) dan ”erangan” Roh Kudus di dalam diri kita (Roma 8:26) sambil kita sendiri “mengerang” bersama seluruh ciptaan (Roma 8:23). [Terjemahan Bahasa Indonesia memakai kata “keluhan” untuk kata yang secara konsisten diterjemahkan sebagai “groan(-ings)” / “erangan” oleh terjemahan-terjemahan Bahasa Inggris.]

Dari semua pengamatan ini, N. T. Wright menyimpulkan bahwa orang Kristen tidak dipanggil untuk (mampu) menjelaskan apa yang sedang terjadi dan mengapa itu terjadi, melainkan untuk meratap. Bersama dengan Roh Tuhan yang meratap dalam diri kita, ratapan kita menjadikan kita bait-bait Allah yang menyatakan penyertaan dan kasih-Nya di tengah dunia yang sedang menderita karena wabah COVID-19.

Ikut meratap bersama Tuhan yang meratap

Walaupun tulisan yang kuringkas di atas memperluas wawasan dan mengajarkan sebuah cara bagaimana kita dapat merespons wabah COVID-19 dengan Alkitabiah dan bijak, aku merasa kurang puas dengan konklusi yang N. T. Wright ambil. Aku merasa masih ada kaitan yang lebih mendalam antara ratapan kita dengan ratapan Allah yang tidak dipaparkan oleh beliau. Dalam perenunganku tentang hal ini, sebuah frasa dari Yesaya 53:3 mendadak muncul dalam benakku: “man of sorrows”, yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai “seorang yang penuh kesengsaraan”. Frasa ini digunakan dalam nubuatan nabi Yesaya tentang Hamba TUHAN yang menderita untuk memikul ganjaran dari dosa dan kejahatan yang sepatutnya kita terima (Yesaya 52:13–53:12), yang kemudian digenapkan oleh Yesus Kristus ketika Ia disesah, dihina, dan disalibkan sekitar 2000 tahun yang lalu.

Deskripsi Yesus sebagai man of sorrows inilah yang menggugah hatiku. Sebagai Tuhan atas seluruh ciptaan, Yesus Kristus adalah satu-satunya Pribadi di jagat raya yang memahami penderitaan secara penuh. Ia mampu melenyapkan kesengsaraan hanya dengan satu patah kata (bdk. Matius 26:53)! Yesus tidak perlu datang ke dunia, tapi Ia tetap mengambil rupa manusia dan mengalami penderitaan dengan sensasi panca indera yang sama dengan kita (Yesaya 53:7) hingga mati (53:8) sehingga “oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh” (53:5; bdk. 1 Petrus 2:24). Kurasa terjemahan Indonesianya tidak menggambarkan dengan penuh makna dari frasa ini. Bukan hanya “penuh kesengsaraan”, penderitaan yang Yesus alami pada Jumat Agung menjadikan-Nya “seorang sengsara”, kesengsaraan dalam wujud darah dan daging manusia.

Dalam perenungan inilah aku melihat hubungan antara ratapan kita dengan ratapan Tuhan: Yesus Kristus telah lebih dulu meratapi dan berempati dengan semua dosa dan penderitaan kita, bahkan mengalami sendiri segala penderitaan itu dan menanggungnya di atas kayu salib sampai mati, sehingga kita dapat “bergerak keluar dari kecemasan kita… yang egois untuk melihat penderitaan dunia dengan lebih luas”, meratapi dan berempati dengan penderitaan orang lain. Kebenaran ini digambarkan dengan indah oleh Paulus, “[Pribadi Allah Bapa] yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32)

Allah yang kita sembah, yang menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus, tidaklah jauh dari kita semua (bdk. Ibrani 4:15). Ia tidak tinggal diam ketika melihat ciptaan-Nya yang menurut hikmat mereka sendiri mencoba untuk merasionalisasi dan meromantisasi jawaban atas segala kejahatan dan penderitaan di dunia. Kepada kaum-kaum Rasionalis, Romantisis, dan semua pandangan manusiawi lainnya, Allah menjawab dengan memilih untuk datang sendiri ke dalam dunia, merasakan segala penderitaan itu dalam wujud dan indera yang sama dengan kita, meratap bersama kita, dan menebus upah dosa hingga tuntas di atas kayu salib.

Kurasa bertepatannya momen wabah COVID-19 ini dengan masa Lent atau prapaskah dan peringatan Jumat Agung dan Paskah bukanlah sebuah kebetulan. Mengapa begitu? Karena di tengah masa coronavirus yang gelap pekat, cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus (2 Korintus 4:4), terang kasih Tuhan yang terus menyertai kita, dapat terlihat bersinar lebih cemerlang.

Meratap di tengah kegelapan, berharap pada sang Terang kasih dunia

Jadi, bagaimana kita dapat melakukan praktik ratapan di masa kini? Yang jelas, ratapan tidak dilakukan dengan berusaha menemukan penjelasan di balik situasi COVID-19 yang kompleks seperti golongan Rasionalis, maupun mencari penghiburan instan seperti kaum Romantisis. Sebaliknya, kita meratap dengan melihat keluar dari diri kita untuk menolong dan berempati dengan penderitaan orang lain, seperti yang N. T. Wright usulkan dan, aku ingin menambahkan, mengarahkan orang lain untuk melihat dan percaya kepada Kristus yang meratap bersama kita dan menanggung semua penderitaan itu untuk kita.

Melalui doa-doa yang kita panjatkan, percakapan-percakapan online dengan teman dan kerabat kita, serta mencari tahu dan menolong mereka yang membutuhkan bantuan—baik secara dana, pangan, maupun emosi—untuk melewati pandemi ini, kita memberitakan Injil kasih keselamatan dalam Yesus Kristus. Teman-teman kosku membantu menajamkan langkah yang terakhir dengan mengingatkan bahwa bantuan yang dapat kita berikan kepada orang lain pun adalah berkat yang Tuhan telah anugerahkan kepada kita terlebih dahulu. Dengan kata lain, pengucapan syukur yang tulus adalah bagian penting dari tindakan kita menyalurkan berkat Tuhan untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Dengan segala waktu dan sumber daya tambahan yang kudapatkan dari keharusan untuk bekerja dari rumah selama sebulan ke depan, aku tahu apa yang akan kuaplikasikan dari perenungan ini: mengucap syukur setiap saat atas berkat-berkat yang Tuhan terus berikan, meratapi penderitaan demi penderitaan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, dan membantu mereka yang membutuhkan sejauh yang kubisa. Melalui semua tindakanku ini, aku berdoa agar dunia dapat mengenal dan berharap kepada Yesus Kristus yang meratap bersama kita dan telah memberi diri-Nya untuk menanggung segala penderitaan kita.

Maukah kamu ikut meratap bersamaku dan membagikan pengharapan ini sehingga realita kasih Tuhan di masa corona semakin nyata di tengah dunia yang terinfeksi oleh dosa?

Selamat Jumat Agung dan Paskah! Tuhan Yesus menyertai dan memberkati, soli Deo gloria.

P. S. Judul tulisan ini diadaptasi dari novel karangan Gabriel García Márquez yang berjudul Love in the Time of Cholera (“Kasih di Masa Kolera”)

Baca Juga:

Ketika Aku Divonis Sakit Oleh Pikiranku Sendiri

Tahun 2016 aku pernah menderita Pneumonia, lalu dinyatakan sembuh. Namun, berita-berita tentang virus yang kubaca membuatku cemas. Pikiran buruk pun menghantui, aku over-thinking.

Paskah dalam Masa-masa Sulit

Oleh Robert Solomon, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Plagues, Quarantines, and Lent

Banyak orang saat ini tak bisa beraktivitas dengan leluasa dan dianjurkan untuk menghabiskan waktu dan bekerja dari rumah saja. Ada lebih banyak waktu yang dapat dipergunakan untuk membaca dan berelasi dengan orang-orang terkasih. Alih-alih menghabiskan waktu untuk menghibur diri sendiri, alangkah baiknya jika kita mempergunakan waktu kita untuk membaca, berdoa, dan melayani dengan berbagai cara yang Tuhan ingin kita lakukan.

Waktu aku masih muda dulu, aku membaca buku berjudul “The Plague” (wabah) karya Albert Camus. Camus adalah pemikir eksistensialis dan seorang ateis. Dia menulis novel ini pada 1947, dua tahun setelah Perang Dunia II usai. The Plague bercerita tentang wabah di Oran, sebuah kota di Algeria. Kota itu menutup perbatasan dan berjuang mati-matian untuk mengentaskan wabah.

Kisah perjuangan melawan wabah itu menunjukkan beragam perilaku dan motivasi manusia kala menghadapi krisis. Bagi Camus, ketiadaan makna dari kehidupan memaksa orang-orang untuk mencarinya—dan baginya, makna itu didapat dalam solidaritas antar manusia.

Sosok yang menjadi pahlawan bagi Camus adalah seorang dokter yang menggulung lengan bajunya untuk menyelamatkan sebanyak mungkin nyawa, meskipun sang dokter tahu bahwa situasi yang dihadapinya suram. Para rohaniawan digambarkan Camus sebagai sosok yang tidak berguna, mereka hanya bisa menyuarakan kata-kata yang tak bisa menyembuhkan atau menolong orang dalam wabah ini.

Camus adalah seorang ateis dan dia tidak menyadari bahwa selama masa wabah pes di Eropa abad ke-14, tingkat kematian di kalangan rohaniawan gereja 20% lebih tinggi daripada populasi pada umumnya. Akibat wabah ini, sepertiga populasi Eropa musnah.

Kematian para rohaniawan bukanlah hukuman tambahan bagi mereka, tapi karena merekalah yang melayani orang-orang yang terinfeksi dan sekarat. Para rohaniawan bukannya “tidak berguna” seperti yang digambarkan masyarakat sekuler. Faktanya, iman Kristen mewartakan pesan yang berisi harapan terbesar bagi umat manusia di tengah suasana paling suram, sebagaimana C.S Lewis mengingatkan kita.

Dalam artikelnya yang berjudul, “On Living in an Atomic Age”, Hidup dalam Era Atom, ketika ketakutan akan bahaya senjata nuklir mengancam umat manusia, Lewis menuliskan kata-katanya. Secara sederhana, kita bisa mengubah kata “bom” yang ditulis Lewis dengan “virus corona”, dan kebenarannya tetaplah sama.

“Di satu sisi, kita terlalu banyak memikirkan bom atom. ‘Bagaimana kita bisa hidup di era nuklir seperti ini?’ Aku tergerak untuk menjawab: ‘Mengapa gelisah? Bayangkan, kamu bisa saja hidup di abad 16 ketika wabah menjangkiti kota London hampir setiap tahun, atau kamu hidup di masa Viking ketika orang-orang dari Skandinavia mendarat di tanahmu dan menyembelihmu kala malam; atau, kamu hidup di masa-masa penyakit kanker, sifilis, kelumpuhan, serangan udara, kecelakaan kereta api, juga kecelakaan lalu lintas seringkali terjadi’

Dengan kata lain, janganlah kita membesar-besarkan kesusahan yang kita hadapi saat ini. Percayalah kepadaku, wahai ibu dan bapak, kamu dan semua yang kamu kasihi telah dihukum menghadapi kematian bahkan sebelum bom atom ditemukan; dan banyak dari kita menghadapi kematian dengan cara yang mengenaskan. Memang, sekarang generasi kita mengenal sesuatu yang lebih baik daripada leluhur kita—anestesi; tapi kematian tetaplah tak terhindarkan. Sangat konyol untuk merintih dan bersedih hanya karena para ilmuwan menambah daftar kesakitan dan kematian yang lebih dini kepada dunia yang sejatinya telah dipenuhi oleh kengerian dan derita, di mana kematian itu sendiri bukanlah sebuah kesempatan, tapi kepastian.

“Inilah hal pertama yang harus kita lakukan: dan langkah pertama yang harus diambil adalah kita perlu menenangkan diri kita. Jika bom atom yang akan membinasakan kita, biarkanlah hal itu terjadi di saat kita melakukan kegiatan kita sehari-hari seperti biasa—berdoa, bekerja, mengajar, membaca, mendengarkan musik, memandikan anak-anak, bermain tenis, mengobrol dengan rekan kita sambil minum dan bermain—bukannya bersembunyi seperti kawanan domba yang ketakutan dan selalu memikirkan tentang bom. Bom-bom itu mungkin menghancurkan tubuh kita (bakteri pun bisa melakukannya), tetapi mereka tidak mampu mengatur pikiran kita.”

Bagi Camus, virus itu melambangkan kejahatan manusia—sama seperti yang terjadi saat perang dunia berlangsung. Virus itu hidup dan menjangkiti hati manusia dan masyarakat, serta menyebar seperti infeksi endemik. Camus tak punya solusi nyata atau pun harapan.

Namun, orang Kristen punya pandangan berbeda. Kita menantikan hari ketika Kristus akan datang kembali untuk menghapus setiap tetes air mata dan mengakhiri kejahatan serta penderitaan (Wahyu 21:4).

Yesus Kristuslah harapan kita yang sesungguhnya. Dialah yang telah mengalahkan maut serta dosa yang menjangkiti umat manusia—dengan mengalahkannya di kayu salib dan bangkit dari maut. Marilah kita memandang kepada Kristus dan menguatkan hati di kala badai menerpa. Kristus telah mengalahkan dunia (Yohanes 16:33).

Kata “quarantine” atau “karantina” digunakan pertama kali pada abad 14 di Venezia, mengingatkan kita akan keadaan menyeramkan yang saat ini juga dihadapi di Italia. Kala itu, Venezia adalah sebuah pusat perdagangan dengan pelabuhan yang sangat sibuk. Untuk mencegah masuknya wabah, pemerintah saat itu mewajibkan semua kapal tetap di laut selama 40 hari sebelum bisa berlabuh.

Kata asli yang digunakan adalah “Quaranta giorni” yang artinya periode selama 40 hari. Kata ini diadaptasi menjadi “quarantine” dalam bahasa Prancis dan Inggris, dan juga diasosiasikan dengan 40 hari pencobaan Kristus di padang gurun (Markus 12-13), juga 40 hari masa pra-Paskah.

Kita tidak menampik, hari ini pun kita menjalani masa pra-Paskah dalam situasi yang tidak seperti biasanya. Setiap hari kita mendengar berita tentang karantina dan lockdown. Pikiran kita secara alami berkutat tentang COVID-19 yang merebak di banyak negara. Tapi, adalah penting untuk juga memfokuskan pikiran kita kepada Kristus, sebab masa pra-Paskah adalah masa-masa untuk mengingat kembali penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya.

Namun, banyak orang Kristen mungkin telah lupa bahwa saat ini kita ada dalam masa-masa pra-Paskah! Pikiran tentang virus membuyarkan perhatian kita, seperti Petrus yang berfokus pada gelombang laut daripada Yesus, hingga akhirnya dia tenggelam (Matius 14:29-30).

Jadi, marilah kita menghormati Tuhan dengan memfokuskan kembali pikiran kita kepada-Nya, mempercayai-Nya, menaati-Nya, dan melayani dalam nama-Nya. Janganlah kita kehilangan kebiasaan kita untuk menyembah-Nya secara pribadi dan bersama-sama, meskipun kita menghadapi tantangan saat ini.

Marilah kita “bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan, dan bertekun dalam doa!” (Roma 12:12). Seiring kita mengisi hari-hari dalam karantina, marilah kita menghayati pra-Paskah dengan mengingat apa yang biasanya kita lakukan pada masa ini (berdoa, berpuasa, berbalik pada Tuhan, menguduskan diri kita sepenuhnya untuk Tuhan dan melakukan apa yang baik).

Dalam kesunyian dan keheningan, marilah kita menghadap hadirat-Nya. Meskipun kita mendengar kata “social distancing”, atau pun kita merasa kesepian dan terkurung, kiranya kita dapat senantiasa menemukan keintiman rohani bersama Allah dan dalam tubuh Kristus.

Benarlah apa yang Alkitab katakan: “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya” (Yesaya 26:3).

Baca Juga:

Di Tengah Kegelapan, Aku Melihat Terang

Yehuda, di bawah kepemimpinan Raja Ahas memilih berpaling dari Allah dan jatuh ke dalam kegelapan. Berkaca dari peristiwa itu, manakah yang mau kita pilih: merangkul, atau menjauhi Terang?

Yesus Kristus dan Celana Kolor

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Judul di atas mungkin terasa aneh. Rasanya kok tidak sopan. Sepertinya kurang elok kalau menyandangkan Yesus Kristus dengan celana kolor.

Tetapi judul ini bukannya tanpa alasan. Ceritanya begini:

Beberapa waktu silam, saat jemaat di gereja kami sedang beribadah Jumat Agung, remaja kami menampilkan suatu drama Jalan Salib yang mengharukan.

Yesus Kristus diperankan dengan sangat hidup oleh Yordan, sang wakil ketua remaja, dan para pemeran prajurit Roma serta wanita-wanita yang menangisi kematian-Nya juga diperankan secara apik oleh anak-anak remaja belasan tahun itu.

Nah, puncak drama ini ada di adegan ketika Kristus disalibkan.

Tanpa sengaja, para “prajurit Roma” tadi melepaskan peniti di salah satu bagian jubah yang dikenakan oleh “Yesus Kristus”, yang mana peniti yang satu itu jangan sampai dilepas sebenarnya.

Yemima, pembina mereka yang menjadi sutradara drama ini, sudah mewanti-wanti mereka agar peniti yang satu itu jangan sampai dilepas.

Tetapi toh, para “prajurit Roma” itu lupa, atau mungkin karena terlalu menjiwai peran mereka, dengan semangat khas pasukan Roma, semua peniti di jubah “Yesus” itu pun dilepas.

Alhasil, seluruh kain atau jubah putih yang menutupi badan bagian atas dan bawah “Yesus” itu melorot semua.

Drama mengharukan yang mencapai puncaknya di penyaliban Sang Mesias itu mempertontonkan: Yesus Kristus yang disalibkan dengan celana kolor kotak-kotak.

Sebagian jemaat, termasuk paduan suara remaja yang sudah berbaris di depan, hampir tak bisa menahan tawa.

Namun tawa itu segera lari dari bibir kami sebab para pemain drama itu tidak menunjukkan mimik malu atau grogi sedikitpun akibat “kesalahan teknis” itu.

Bahkan mereka menganggap dilucutinya semua jubah Kristus itu adalah bagian dari skenario drama.

Semua pemeran berakting serius dan menghayati. Yordan, Daniel, Dylan, Adriel, Albert, Bhisma, dkk, yang berada di “Golgota” benar-benar tampil prima.

Mereka menjalankan detail instruksi sutradara dengan baik, kecuali urusan peniti tadi.

Melucuti jubah Yesus memang bagian dari skenario, tetapi tidak semua jubah perlu dilucuti, hanya yang bagian atas saja, yang bawah tidak perlu dilepas.

Namun, semua sudah terjadi. Peniti itu sudah tidak pada tempatnya, entah siapa yang mencabutnya. Celana kolor “Yesus” pun menjadi sorotan ratusan pasang mata yang memadati gereja kami.

Aku berdiri di belakang kamera milik Yordan. Tak kuhiraukan adegan ganjil itu. “Yang penting Yordan masih pakai kolor,” begitu pikirku.

Bayangkan jika tidak ada sehelai benangpun menempel di tubuhnya saat puncak drama ditampilkan?

Ahh, lebih baik jangan dibayangkan lah.. tak elok..

Aku teruskan tugasku memotret drama itu. Ironis memang karena ini seperti “senjata makan tuan”, kamera milik Yordan dipakai untuk memotret dia dan celana kolor kotak-kotak miliknya di puncak drama penyaliban Sang Juruselamat.

Tetapi Yordan memiliki hati yang luas dan mental yang matang, ia tetap bisa menguasai dirinya selama memerankan Yesus Kristus hingga akhir, sampai ia menjerit, “Eli, Eli, lama sabakhtani?”

Salut kepada Yordan, ia sungguh berbakat sebagai aktor.

Celana kolor itu bukan alasan baginya untuk membuyarkan konsentrasi jemaat pada klimaks penyaliban Kristus.

Drama itu memang berlangsung tidak lebih dari 11 menit, tetapi drama itu takkan bisa dilupakan oleh jemaat.

Pesan sakral Jumat Agung yang terkandung drama remaja kemarin terasa lancar dan deras mengalir ke dalam sanubari kami.

Pikiranku pun terbang ke tanah Palestina dua puluh abad lampau.

Celana kolor yang dipakai “Yesus” di Golgota kemarin membuatku memikirkan lagi, “Bukankah Kristus sewaktu Ia disalibkan begitu menderita karena dosa-dosa kita?

Selain cambukan, hinaan, tonjokan, dan semua aksi memilukan itu, Kristus juga ditelanjangi.

Ya, Ia bukan hanya disalib, tetapi disalib dengan telanjang.

Mari kita perhatikan sejumlah nats berikut:

Matius 27:35,“Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi”; Markus 15:24, “Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaian-Nya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing”;

Lukas 23:34b, “Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya”.

Tiga ayat ini menunjukkan bahwa pada saat Yesus disalibkan, para prajurit yang menyalibkan-Nya membagi-bagi pakaian-Nya.

Injil Yohanes malah menginformasikan ternyata yang diambil dan dibagi-bagi oleh para prajurit itu bukan hanya pakaian-Nya, tetapi dikatakan juga jubah-Nya (19:23).

Kata “jubah” berasal dari kata Yunani “khitona” yang artinya adalah pakaian dalam.

Alkitab NIV menulis, “When the soldiers crucified Jesus, they took his clothes (pakaian), dividing them into four shares, one for each of them, with the undergarment (pakaian dalam) remaining. This garment was seamless, woven in one piece from top to bottom” (Yohanes 19:23).

Di sini NIV menerjemahkan kata pertama dan kedua dengan tepat tetapi kata ketiga diterjemahkan ‘garment’ (pakaian), yang agak kurang cocok karena dalam bahasa Yunani kata kedua dan ketiga adalah sama.

Jadi, kata “garment” pun sebaiknya diterjemahkan sebagai pakaian dalam (yang ikut dilucuti).

Karena itu, dari nats ini dapat dipahami bahwa Yesus disalibkan dalam keadaan telanjang.

Ini jelas adalah sesuatu yang sangat memalukan. Ia ditelanjangi dan menjadi tontonan semua orang yang melihat-Nya.

Maka tak heranlah para wanita yang menjadi murid Kristus tidak berani berdiri dekat salib-Nya ketika mereka di Golgota, sangat mungkin karena mereka tidak tega melihat guru mereka dalam kondisi telanjang seperti itu.

Drama yang tanpa sengaja mempertontonkan celana kolor kotak-kotak itu mengingatkan aku dan kamu bahwa Tuhan Yesus disalibkan dengan telanjang bulat.

Penelanjangan Kristus ini menunjukkan betapa rusaknya manusia berdosa.

Seharusnya kita yang ditelanjangi, dipermalukan, disiksa, dan mengerang di neraka sebagai hukuman atas keberdosaan kita, namun itu semua dipikul oleh Yesus Kristus.

Ia memikul itu semua agar kita tidak menerima hukuman Allah.

Yesus Kristus adalah Allah, Ia rela dipermalukan dan ditelanjangi, supaya manusia bisa diselamatkan dari hukuman Allah.

Upah dosa adalah maut, dan kita semua telah berdosa, tidak seorangpun dari kita yang tidak berdosa.

Oleh sebab itu kita perlu datang kepada Dia yang tersalib dengan telanjang itu, agar kita beroleh keselamatan dan jubah kebenaran yang membuat kita tidak lagi telanjang di hadapan Allah dan tidak lagi malu ketika berjumpa muka dengan muka di hadapan-Nya.

Baca Juga:

Panggilan Melayani di Pelosok Negeri

Lahir dan tinggal di Indonesia tentunya bukan sebuah kebetulan, memuliakan-Nya melalui panggilan kita masing-masing harus menjadi tujuan utama kita. Sudahkah kau temukan panggilanmu?

Ada Pemeliharaan Allah dalam Perjalanan Iman Kita

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Mengikut Yesus keputusanku
Mengikut Yesus keputusanku
Mengikut Yesus keputusanku

Ku tak ingkar
Ku tak ingkar

Pernahkah kalian mendengar atau menyanyikan lagu di atas? Untuk teman-teman yang ibadah di gerejanya sering menggunakan kidung jemaat atau himne, lagu tersebut mungkin tidak asing didengar. Namun, tahukah kamu bahwa di balik sebuah lagu yang liriknya singkat dan sederhana itu, terdapat sebuah kisah yang mengingatkan kita akan pemeliharaan Allah dalam perjalanan iman kita?

Di abad ke-19, terjadi sebuah kebangunan rohani di Wales yang menggugah banyak misionaris untuk pergi mewartakan Injil. Salah satu daerah yang dituju oleh para misionaris tersebut adalah Assam di timur laut India. Orang-orang di sana kala itu belum ada yang mengenal Tuhan Yesus, dan para misionaris rindu untuk membawa Kabar Baik ke tempat itu. Tapi, upaya tersebut disambut dengan penolakan dari orang-orang di sana.

Namun, di balik penolakan tersebut, ada benih firman Tuhan yang jatuh dan bertumbuh di hati seorang pria. Berdasarkan catatan Dr. P. Job, pria itu bernama Nokseng, seseorang dari suku Garo yang memutuskan untuk menerima Tuhan Yesus dan mengikut-Nya. Tak hanya dirinya seorang, istri dan kedua anaknya pun mengikuti jejaknya.

Berita bahwa ada sebuah keluarga yang menerima iman Kristen membuat kepala desa marah. Dia memanggil semua warga dan menginterogasi mereka. Ketika didapatinya ada sebuah keluarga yang percaya kepada Yesus, kepala desa itu pun memaksa mereka untuk menanggalkan imannya. Ancaman ini tidak main-main. Nokseng diminta untuk menyangkal Yesus saat itu, jika tidak istrinya akan dibunuh.

Digerakkan oleh Roh Kudus, Nokseng menjawab, “Aku telah memutuskan untuk mengikut Yesus. Aku tidak ingkar.”

Jawaban ini membuat amarah kepala desa memuncak. Dia lalu mengambil kedua anak Nokseng dan mengancam akan membunuh mereka jika Nokseng tidak menyangkal imannya. Nokseng pun menjawab, “Sekalipun aku sendiri, aku tetap mengikut-Nya. Aku tidak ingkar.”

Kepala desa itu pun murka dan memerintahkan agar istri dan kedua anaknya dibunuh. Nokseng kini sendirian, dan sekali lagi kepala desa itu memintanya untuk menyangkal imannya atau mati. Di hadapan bayang-bayang maut, Nokseng kembali menjawab, “Salib di depanku, dunia di belakangku. Aku tidak ingkar.”

Kisah ini mungkin seharusnya berhenti di sini, ketika Nokseng dan keluarganya tewas terbunuh karena imannya. Namun, karya Tuhan tidak dibatasi oleh keadaan. Kematian sebuah keluarga sebagai martir itu membuka jalan bagi tersiarnya Kabar Keselamatan bagi penduduk desa itu.

Sang kepala desa tak habis pikir, bagaimana bisa sebuah keluarga berani mati untuk Seseorang yang tidak pernah mereka temui. Secara mengejutkan, dia pun lalu tertarik untuk mengenal Siapa orang yang disebut oleh Nokseng dan keluarganya hingga akhirnya dia dan seluruh penduduk desa bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus.

Kata-kata yang diucapkan oleh Nokseng sebelum dia dan keluarganya dieksekusi kemudian digubah menjadi sebuah himne oleh Sadhu Sundar Singh, seorang misionaris dari India. Liriknya menggunakan bahasa India dan mencantumkan Assam sebagai tempat asal lagu tersebut. Barulah pada tahun 1959, William Jensen Reynolds, seorang editor himne dari Amerika Serikat mengaransemen himne ini dan memasukkannya ke dalam buku kumpulan nyanyian. Versi inilah yang kemudian dikenal luas dan dinyanyikan oleh banyak orang percaya di berbagai belahan dunia.

Kisah di balik lagu ini mengingatkan kita kembali akan bagaimana pemeliharaan Allah memelihara perjalanan iman anak-anak-Nya. Rasul Paulus, dalam perjalanannya menjadi seorang Kristen juga mengalami banyak sekali penderitaan. Di suratnya kepada jemaat di Korintus, dia pun merinci tantangan dan marabahaya yang harus dia hadapi:

“Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali aku mengalami kapal karam, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu” (2 Korintus 11:24-26).

Secara manusia, penderitaan yang berat tersebut rasanya mustahil untuk ditanggung. Naluri manusia mungkin akan membawa Paulus, dan juga Nokseng untuk menyangkali iman mereka dan memilih kenyamanan duniawi. Tetapi, oleh pemeliharaan Allah, mereka mampu mengambil sebuah keputusan yang luar biasa, sebuah keputusan untuk menunjukkan imannya dan mengambil penderitaan yang tidak sebanding dengan kemuliaan yang kelak akan kita terima (Roma 8:18).

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita pun diperhadapkan dengan berbagai pilihan dan juga penderitaan, meskipun mungkin penderitaan itu tidak seberat apa yang dialami oleh Paulus maupun Nokseng. Tetapi, satu kebenaran yang dapat kita pegang adalah, di dalam Kristus, segala perkara dapat kita tanggung, sebab Dialah yang memberikan kekuatan bagi kita (Filipi 4:13).

Menyambut momen Jumat Agung yang akan kita peringati besok, selain menghayati pengorbanan Kristus di kayu salib, maukah kita juga membagikan kepada orang lain kisah tentang kasih dan pengampunan-Nya?

Baca Juga:

Pemilu 2019: Saatnya Lakukan Tanggung Jawab Kita

Setiap orang memiliki dua pilihan: menggunakan hak suara mereka, atau tidak. Keduanya adalah hak masing-masing individu. Tetapi, cobalah jujur: sebenarnya kita ingin bangsa ini dipimpin oleh orang yang kompeten atau tidak?

Memaknai Sengsara Kristus

Ilustrasi oleh: Betsymorla Arifin (@betsymorla)

MINGGU PALEM

“Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!” (Markus 11:9-10).

Warga Yerusalem begitu antusias menyambut Yesus yang masuk ke kota sambil menunggangi keledai. Mereka menyebarkan ranting-ranting hijau bahkan menghamparkan pakaiannya sebagai jalan buat Yesus.

Minggu palem yang kita rayakan hari ini menjadi sebuah pengingat akan minggu sengsara yang akan dilalui Yesus dalam perjalanan-Nya menuju Golgota. Kiranya hari ini kita tak hanya mengingat, melainkan membuka hati kita untuk menyambut Sang Raja yang bersedia menanggung derita agar kita beroleh pengampunan dan penebusan.

KAMIS PUTIH

Di malam sebelum Yesus ditangkap, Ia duduk bersama para murid-Nya untuk memecahkan roti, menuangkan anggur, dan bahkan membasuh kaki murid-murid-Nya (Lukas 22:19-20, Yohanes 13).

Yesus, yang adalah Raja, yang disambut secara luar biasa saat Dia memasuki Yerusalem, kini merendahkan diri-Nya untuk membasuh kaki para murid. Yesus hendak memberi kita teladan bahwa pemimpin yang sejati bukanlah pihak yang dilayani, melainkan yang melayani.

Yesus telah melayani kita terlebih dahulu, siapkah kita untuk melayani-Nya dengan melayani sesama kita?

JUMAT AGUNG

Yesus tiba di Taman Getsemani dan Dia meminta agar murid-murid-Nya berjaga-jaga sementara Dia berdoa. Yesus takut akan penderitaan yang akan Dia lalui, namun Dia memilih taat kepada Bapa (Matius 26:36-46). Para prajurit pun menangkap Yesus dan menggiring-Nya ke pengadilan. Yesus sendirian, murid-murid-Nya tak lagi bersama-Nya. Bahkan, Petrus, murid yang paling berani pun menyangkal-Nya.

Hari ini bukanlah sekadar hari yang biasa berlalu, sebuah sejarah besar yang mengubah kehidupan terjadi. Ketika Yesus mati, Dia telah menuntaskan janji penebusan-Nya. Kematian-Nya memberi jalan pendamaian bagi kita.

Sebagaimana Kristus yang telah mati di atas kayu salib, sudahkah kita juga menyalibkan dosa-dosa dan keinginan daging kita?

SABTU SUNYI

Yesus dibaringkan di dalam kubur yang dijaga oleh prajurit. Murid-murid-Nya berkumpul di tempat yang tersembunyi, mereka didera ketakutan karena Yesus telah mati. Meski begitu, Yesus akan membuktikan bahwa janji-Nya adalah benar, Dia akan bangkit pada hari yang ketiga dan mengalahkan maut (Lukas 24:46).

Dalam kehidupan kita, mungkin ada kalanya kita merasa takut seperti murid-murid. Pun Tuhan terasa seperti diam. Namun, sejatinya Tuhan tidak pernah berdiam diri. Tuhan selalu berkarya bahkan di saat-saat kita seolah tidak merasakan kehadiran-Nya sekalipun.

MINGGU PASKAH

Hari ini, Yesus membuktikan janji-Nya. Yesus bangkit dari kematian dan mengalahkan maut. Haleluya!

Kebangkitan inilah yang menjadi tonggak iman kita. Maut tak lagi berkuasa atas kita, kita telah ditebus-Nya dari dosa, dan kini kita dapat mengisi kehidupan dengan sukacita penuh bahwa Yesus telah memberi kita keselamatan dan hidup yang kekal. Tugas kita adalah bertekun dalam iman hingga waktu kedatangan Yesus yang kedua tiba.

Rabu Abu, Momen untuk Kita Berbalik dari Dosa

Oleh Sukma Sari Dewi Budiarti, Jakarta
Ilustrasi oleh: Betsymorla Arifin (@betsymorla)

Tahun 2019 telah memasuki bulan ketiga dan tidak terasa bulan depan kita akan bersama-sama merayakan Jumat Agung dan Paskah. Namun, sebelum hari besar itu diperingati, hari ini kita mengawalinya dengan Rabu Abu.

Terlepas dari gerejamu melaksanakan atau tidak, artikel ini kutulis bukan untuk memperdebatkannya, melainkan untuk memberikan pengetahuan kepada teman-teman tentang keberagaman tradisi Kristen yang kaya dan perlu kita syukuri.

Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga Katolik. Aku pun mengenyam pendidikan dari SD hingga SMA di sekolah Katolik. Aku menemukan beberapa tradisi yang berbeda dari teman-temanku yang Protestan, salah satunya adalah hari Rabu Abu yang diperingati sebagai awal dari masa prapaskah. Meski begitu, ada juga beberapa denominasi dari gereja Protestan yang turut memperingati dan melaksanakan ibadah Rabu Abu.

Di dalam liturgi gerejawi, Rabu Abu menandai dimulainya masa prapaskah yang berjarak 40 hari sebelum Paskah. Kita akan diberi torehan abu di dahi kita sebagai bentuk penyesalan atas dosa-dosa yang sudah kita perbuat (Yunus 3:6). Abu yang digunakan tentu bukan abu gosok untuk mencuci piring, tapi berasal dari daun palma dari perayaan Minggu Palma setahun lalu yang kemudian dibakar dan abunya digunakan pada ibadah Rabu Abu.

Sekilas mengenai Rabu Abu

Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari masa Perjanjian Lama di mana abu digunakan sebagai lambang atas perkabungan, ketidakabadian, penyesalan, dan juga pertobatan. Orang yang menyesali dosanya kemudian menaburkan abu di atas kepalanya, atau di seluruh tubuhnya (Ester 4:1,3). Di masa kini, terkhusus di gerejaku, abu tersebut diberikan oleh imam atau prodiakon bagi umat yang berusia 18-59 tahun. Sambil abu ditorehkan, mereka akan berkata, “Bertobatlah dan percaya kepada Injil” atau “Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu”.

Melihat kembali ke perjalanan sejarah Kekristenan, gereja perdana juga menggunakan abu sebagai simbol perkabungan dan memohon pengampunan. Pada masa itu, mereka yang mengakui pertobatan di hadapan umum akan dikenakan abu di kepala mereka. Agak berbeda dengan abad-abad pertama, gereja di abad pertengahan menggunakan abu untuk mereka yang akan menghadapi ajal. Mereka dibaringkan di atas kain kabung dan diperciki abu sambil imam mengatakan, “Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Meski begitu, makna abu tetap sama, yaitu sebagai lambang perkabungan, ketidakabadian, dan pertobatan.

Ritual Rabu Abu sendiri ditemukan dalam manuskrip Gregorian Sacramentary yang diterbitkan sekitar abad ke-delapan. Sekitar tahun 1000, seorang imam Anglo-Saxon bernama Aelfric berkhotbah demikian, “Kita membaca di kitab-kitab Perjanjian Lama dan Baru bahwa orang-orang yang bertobat dari dosanya menaburi diri mereka dengan abu dan membalut tubuh mereka dengan kain kabung. Sekarang, marilah kita melakukannya sedikit pada masa awal prapaskah. Kita menaburkan abu di kepala kita sebagai tanda bahwa kita wajib menyesali dosa-dosa kita terutama selama masa prapaskah.”

Di gerejaku, bagi umat percaya yang mengikuti ibadah Rabu Abu diwajibkan untuk menjalani puasa dan pantang selama 40 hari. Puasa yang dimaksudkan di sini adalah makan satu kali kenyang. Saat umat menjalani puasa dan pantang selama 40 hari, biasanya tiap wilayah di satu gereja akan diberikan satu amplop pada masing-masing keluarga. Amplop yang biasa disebut amplop APP (Aksi Puasa Pembangunan) ni diisi dengan uang yang nantinya digunakan gereja untuk menolong sesama yang membutuhkan. Untukku sendiri, biasanya salah satu pantangan yang kulakukan adalah tidak jajan. Uang jajanku itulah yang nanti kumasukkan ke dalam amplop ini.

Sahabatku, terlepas dari ada tidaknya tradisi Rabu Abu dalam gereja kita, sudah seharusnya kita menghidupi hidup yang senantiasa mawas diri. Kita menyadari bahwa kita adalah ciptaan dari Sang Pencipta, sadar bahwa diri kita adalah manusia berdosa, dan hidup yang kita hidupi saat ini adalah kesempatan yang begitu berharga, karena Tuhan Yesus telah menebus kita dengan harga yang teramat mahal.

Kiranya setiap hari di dalam hidup kita, tidak hanya dalam masa Prapaskah ini, kita senantiasa menyesali dosa-dosa yang telah kita lakukan dan oleh anugerah Kristus kita berjuang untuk menjaga kekudusan, mengasihi sesama, dan juga tidak mementingkan diri sendiri.

Selamat memasuki masa Prapaskah!

Tuhan Yesus memberkati.

Baca Juga:

Diam dan Tenang: Senjata Ampuh yang Mengalahkan Kekhawatiran

Aku berusaha menguatkan diriku untuk tidak khawatir. Tapi, apakah benar aku sungguh berusaha untuk tidak khawatir? Atau, aku cuma mengabaikannya saja?

Karunia Allah bagi Kita


Dari Minggu Palem sampai Minggu Paskah, kita menelusuri jejak perjalanan Yesus yang membawa-Nya ke atas kayu salib. Kita mungkin sudah sering mendengar kisah ini berulang kali, namun kisah ini sesungguhnya adalah kisah yang sangat penting. Ini adalah kisah yang berbicara tentang kasih Allah yang luar biasa bagi umat-Nya dan betapa besar pengorbanan-Nya demi menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Biarlah kita tidak menganggap ini sebagai kisah yang klise. Lihatlah momen terpenting dalam sejarah ini dengan cara pandang yang baru. Mari kita berfokus pada yang terutama, yaitu Yesus, karunia Allah bagi kita.

MINGGU PALEM: Persiapkan jalan bagi Tuhan

“Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!” (Markus 11:9-10)

Seminggu sebelum Minggu Paskah, Yesus disambut masuk ke dalam kota Yerusalem dengan daun-daun palem dan pakaian yang mereka hamparkan di jalan. Mereka merayakan Yesus sebagai Juruselamat dan Raja. Kiranya kisah ini mengingatkan kita juga untuk membuka hati kita dan bersujud di hadapan Yesus, Juruselamat dan Raja kita.

KAMIS PUTIH: Lakukan ini untuk mengingat akan Aku

Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.” (Lukas 22:19-20)

Pada malam Dia dikhianati, Yesus memecahkan roti, menuangkan anggur, dan membasuh kaki murid-murid-Nya, sebagai tanda bahwa tubuh-Nya diremukkan, darah-Nya dicurahkan, dan kasih pengorbanan-Nya dinyatakan bagi kita. Kini, kita mengambil bagian dalam perjamuan kudus, menyatakan kematian-Nya dan mengingat pengorbanan-Nya yang amat mahal bagi kita di kayu salib. Apakah hati kita dipenuhi dengan ucapan syukur dan pujian kepada Pribadi yang memberi hidup-Nya agar kita dapat hidup?

JUMAT AGUNG: Melalui Kristus, kita mempunyai akses kepada Allah

Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. (Roma 5:2)

Segera setelah Yesus menghembuskan napas terakhirnya dan menyerahkan roh-Nya di kayu salib, tirai bait suci robek menjadi dua, dari atas ke bawah. Kematian-Nya membayar lunas segala utang dosa kita, dan memberi kita akses langsung untuk datang kepada Allah. Hanya melalui Yesus, ada jalan bagi kita untuk bertemu Bapa, untuk dipersatukan kembali dengan-Nya. Oleh karena itu, marilah kita mengingatnya setiap kali kita mengaku dosa, memuji Tuhan, dan memohonkan doa-doa kita.

SABTU SUNYI: Mahkota Duri

Yesus rela menanggung rasa sakit, malu, dan ejekan bagi kita. Dia mengenakan mahkota duri yang tidak pantas diterima-Nya. Untuk semua yang telah Dia lakukan, maukah kamu bertekun dalam menghadapi penganiayaan bagi-Nya dan berdiri tanpa malu untuk Injil?

SABTU SUNYI: Paku

Dosa kitalah yang membuat-Nya terpaku di kayu salib. Namun, lubang di tangan dan kakinya membuat kita menjadi utuh. Dosa apa yang ingin kamu pakukan di kayu salib sehingga kamu dapat dipulihkan untuk menjalani kehidupan yang berkelimpahan seperti yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang taat kepada-Nya?

SABTU SUNYI: Tulisan

“Raja Orang Yahudi”: Itu adalah tanda yang dibuat untuk mengejek-Nya. Meski ironis, tetapi sesungguhnya itu adalah kebenaran yang tepat. Hari ini, Yesus bukan hanya raja orang Yahudi, tetapi juga Raja atas orang-orang bukan Yahudi, yaitu kita semua. Sudahkah kamu memberi Dia tempat yang layak di hatimu sebagai Raja?

SABTU SUNYI: Salib

Dulunya salib adalah metode untuk menghukum para penjahat, tetapi sekarang menjadi simbol penebusan dan anugerah. Karena Kristus, arti salib telah berubah selamanya. Dengan mengetahui bahwa penebusan melalui pengorbanan Putra-Nya itu telah Allah rencanakan sejak kejatuhan manusia, bagaimana tidak kita menanggapinya dalam penyembahan dan pemujaan kepada-Nya?

MINGGU PASKAH: Tanpa kebangkitan-Nya, iman kita adalah percuma.

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan (1 Petrus 1:3).

Ini bukan lelucon April Mop bahwa Yesus hidup hari ini! Kekalahan-Nya dari kematian membuktikan siapa diri-Nya yang Dia klaim: Tuhan. Kebangkitan-Nya membuktikan kuasa Allah yang luar biasa. Kemenangan-Nya membuktikan bahwa Dia menyatakan apa yang dijanjikan-Nya. Dan Dia telah berjanji untuk datang ke dunia ini untuk kedua kalinya. Janji harapan yang mulia ini layak menjadi dasar hidup kita. Mari kita melayani Dia dalam kasih dan ketaatan sambil menunggu dengan penuh pengharapan akan kedatangan-Nya kembali.

Ingatlah Yesus yang Pernah Menderita bagi Kita

Oleh Joanna Hor, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Jesus Didn’t Just Come to Die

Itu adalah minggu menjelang Paskah. Namun dia begitu murung dan terlihat lelah. Meskipun kehidupannya naik-turun, aku tidak pernah melihatnya begitu murung.

Setelah kutanyakan, dia menceritakan bahwa tidak ada alasan khusus yang membuatnya murung; dia hanya merasa kehilangan sukacita. Hal-hal kecil menjadi begitu mengganggunya, dan hal-hal yang baik tidak lagi menggembirakannya. Dan meskipun dia mencoba membaca Alkitab, dia tidak dapat mendengar Allah berbicara kepadanya.

“Kupikir aku kelelahan,” rekan kerjaku itu akhirnya menyimpulkan. Aku mencoba memberinya saran dan mendoakannya. Selain itu, rasanya tidak banyak hal lain yang dapat kulakukan untuk membantunya.

Di hari yang sama, aku mendapat kabar lainnya. Seorang temanku harus mendadak pulang dari perjalanannya ke luar negeri karena ayah mertuanya tiba-tiba meninggal.

Beberapa hari berikutnya, aku mengetahui nenek temanku yang lain masuk ke rumah sakit karena kanker tenggorokannya menjadi semakin parah; dan keadaannya terdengar buruk.

Meskipun itu adalah minggu menjelang Jumat Agung, itu tidak terasa berbeda dari minggu-minggu lainnya. Aku pun mengingat apa yang terjadi di minggu menjelang Jumat Agung lima tahun yang lalu, ketika aku menghadapi masa tersulit dalam hidupku. Saat itu, ketika aku sedang merasakan tekanan yang besar di pekerjaanku, secara tiba-tiba ayahku terserang stroke yang parah.

Tidak peduli apakah itu minggu menjelang Paskah atau bukan, itu sepertinya tak ada bedanya; ujian dan kesulitan hidup terus bergulir.

Tapi siapa yang bilang itu akan berbeda? Aku tiba-tiba menanyakan diriku sendiri.

Tidak peduli apakah itu minggu menjelang Paskah atau bukan, kita masih hidup di dunia yang penuh dengan dosa, masalah, dan penderitaan. Setiap hari, banyak orang menangis, bergumul, menderita, dan meninggal—sepertinya tidak ada habisnya.

Namun apa yang menjadikannya berbeda bagaikan bumi dan langit adalah ini: Di dunia yang sama, yang penuh dengan dosa inilah Yesus datang 2.000 tahun yang lalu untuk mati di kayu salib, untuk menggantikan kita, untuk menebus dosa-dosa kita.

Kadang, karena kita terlalu terpaku dengan kematian Yesus, kita mungkin melewatkan fakta bahwa Yesus bukan hanya datang untuk mati—Dia datang untuk menderita. Selama masa hidupnya di bumi, Yesus tidak lepas dari ujian dan kesulitan yang kita alami hari ini. Penebus, Juruselamat, dan Tuhan kita, juga adalah “seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan” (Yesaya 53:3).

Dan itulah yang membuat segala penderitaan yang kita alami di hidup ini jadi terasa berbeda.

Apapun situasi yang kita alami saat ini, kita dapat yakin bahwa ada seseorang yang benar-benar tahu apa yang sedang kita hadapi. Karena Dia sendiri pernah melewati semua itu.

Jadi, kalau kamu mendapatkan diagnosa penyakit tertentu, ingatlah Yesus, yang hidup setiap hari dalam hidup-Nya dengan menyadari bahwa Dia akan mati dengan cara yang begitu kejam (Matius 16:21).

Jika kamu bergumul untuk menerima apa yang menjadi kehendak Tuhan (mungkin keadaan di rumah atau kantormu tidak berjalan seperti yang kamu inginkan), ingatlah Yesus yang memohon kepada Allah Bapa di Taman Getsemani (Lukas 22:42).

Jika teman-temanmu telah mengkhianati atau meninggalkanmu, ingatlah Yesus, yang juga dikhianati oleh Yudas, murid-Nya (Lukas 22:3-6).

Jika kamu mendapatkan tuduhan yang salah, ingatlah Yesus, yang juga mendapatkan tuduhan yang salah di hadapan Pilatus dan Herodes (Lukas 23:2, 10).

Jika kamu telah kehilangan semua yang kamu miliki, ingatlah Yesus, yang meninggalkan takhta-Nya di surga untuk datang ke dunia yang telah jatuh dalam dosa ini (Filipi 2:6-8).

Jika kamu tidak mendapatkan apa yang menjadi hakmu, ingatlah Yesus, yang tubuh-Nya didera bagi kita (Filipi 2:6-8).

Jika kamu sedang menghadapi sakit secara fisik, ingatlah Yesus yang tergantung di kayu salib (Yesaya 53:4-5).

Jika kamu merasa diabaikan oleh Allah, ingatlah Yesus, yang ditinggalkan Allah di atas kayu salib (Matius 27:46).

Ingatlah Yesus.

Ingatlah bahwa Dia telah mati untuk memberikan kita hidup.

Ingatlah juga bahwa Dia pernah hidup di dunia ini untuk menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kita hidup.

Di hari Jumat Agung ini, ketika kita mengingat kematian Yesus di atas kayu salib, marilah kita juga mengarahkan hati kita kepada-Nya dan mendekat kepada-Nya dengan keyakinan bahwa Dia mengerti apa yang kita rasakan dan akan memberikan kita belas kasihan dan anugerah untuk menghadapi ujian-ujian yang kita alami (Ibrani 4:14-16).

Baca Juga:

2 Hal yang Menolongku untuk Mempercayai Allah Sepenuhnya

“Percayalah kepada Tuhan.” Kamu mungkin sudah sering mendengar kalimat ini. Tapi, meski mudah diucapkan, percaya sepenuhnya pada Tuhan sering terasa sulit dilakukan. Bukankah begitu?