Posts

Menemukan Kepuasan di Tengah Rutinitas Sehari-hari

Oleh Matthew Geddes
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Finding Fulfillment In The Daily Grind

Setelah beberapa malam kurang tidur, aku kembali ke depan komputerku dan menyiapkan hariku. Aku duduk di lantai dasar. Gelap dan dingin. Aku merasa lelah. Kupikir aku butuh satu atau dua cangkir kopi.

Di momen itu, aku bertanya kepada diriku sendiri, “Apakah hidup cuma begini-begini saja?” Aku berharap aku ada di luar ruangan, diterpa sinar matahari yang hangat di salah satu tempat favoritku: di pegunungan, dikelilingi oleh keindahan ciptaan-Nya. Ayat Alkitab yang sering kudengar di banyak khotbah, seperti “mengucap syukurlah dalam segala hal” (1 Tesalonika 5:18) terasa jauh dan samar, ibarat musim panas yang kehadirannya masih sangat lama di tengah musim dingin.

Lalu aku melanjutkan aktivitas dengan Zoom-meeting bersama teman-teman kerjaku. Satu temanku sedang marah dengan komputernya yang jadi musuh bebuyutannya. Temanku yang kedua sedang frustasi dengan platform hosting untuk acara virtual kami. Temanku yang ketiga hanya diam. Dia sedang dirumahkan sementara dari pekerjaannya dan sangat bergumul.

Seiring aku melihat pergumulan pelik dari masing-masing temanku, aku jadi terbangun. Aku bisa melanjutkan hariku dengan setengah mengantuk, memfokuskan diri pada apa yang aku ingini, dan mungkin tak akan ada yang tahu perbedaannya kecuali Tuhan. Atau, daripada aku berandai-andai sedang berada di mana, aku bisa sungguh hadir di meja kerjaku dan memuliakan Tuhan dengan sepenuh hati bekerja untuk-Nya (Kolose 3:23).

Aku teringat sebuah penelitian yang digagas oleh Amy Wrzeniewski di sebuah rumah sakit. Dia mengidentifikasi beberapa pekerja harian (seperti petugas kebersihan, dsb) yang bekerja melampaui tugas-tugas rutin mereka. Satu pekerja yang bekerja di unit pasien yang mengalami koma, secara rutin mengganti hiasan seni di dinding supaya pemandangan yang berbeda tersebut merangsang perkembangan otak si pasien. Pekerja yang lain akan menemui dan membimbing keluarga pasien dari pintu masuk rumah sakit sampai ke ruangan pasien dirawat. Tidak seperti pekerja harian lainnya, para pekerja ini melihat diri mereka sebagai bagian integral dari tim medis yang berkontribusi untuk menyembuhkan dan memulihkan para pasien.

Apa yang bisa kita pelajari dari para pekerja rumah sakit ini? Mereka melihat melampaui batasan-batasan rutinitas harian, yang banyak orang mungkin melihat pekerjaan mereka sebagai pekerjaan yang kasar atau remeh. Namun, mereka mampu mengkoneksikan pekerjaan remeh tersebut dengan sesuatu yang jauh lebih besar—mereka punya tujuan yang menggerakkan apa yang mereka lakukan.

Bagaimana kita dapat mengaplikasikan pola pikir ini ke dalam pekerjaan atau studi kita, atau ketika kita mendambakan seharusnya kita bekerja di tempat lain? Untuk menjawabnya, kita perlu mengingat bahwa pekerjaan kita bukanlah tentang kita. Tuhan punya tujuan yang lebih besar daripada sekadar membuat kita senang; kita dipanggil untuk menghidupi hidup yang memancarkan kebaikan-Nya (Matius 5:16). Mengingat kebenaran ini dapat menolong kita. Ketika tantangan dan pergumulan meradang, kita bisa memberi ruang bagi Tuhan untuk memimpin kita percaya pada-Nya.

Kedua, adalah sangat menolong apabila kita bisa mengaitkan apa yang kita lakukan dengan bagaimana itu dapat berdampak bagi orang lain. Untuk menolong kita melakukan ini, penulis Emily Esfahani menyarankan kita untuk mengambil pekerjaan rutin dan bertanya pada diri kita sendiri, “Kenapa aku melakukan ini” sebanyak tiga kali. Saat kita melakukan ini, kita kemudian akan menemukan bahwa apa yang kita kerjakan membawa kebaikan bagi orang lain. Seperti yang Bryan Dik dan Ryan Duff catat (mereka berdua penulis dari buku Make Your Job Your Calling), hampir setiap pekerjaan, apa pun itu, memberi perbedaan di hidup orang lain jika kamu sungguh-sungguh memikirkannya.

Sebagai contoh, aku menelaah ratusan resume dari mahasiswaku. Menerapkan saran dari Emily, jawabanku adalah “supaya mahasiswaku bisa mendapat pekerjaan yang sepadan dari studi yang telah mereka lalui dengan upaya keras.” Jawaban akhirku jauh lebih berarti dan memotivasi bagiku karena aku bisa melihat lebih jelas dampak dari aktivitasku bagi orang lain. Itu menolongku untuk berpindah dari sikap aku “harus” bekerja dengan segenap hatiku, menjadi aku “mau” bekerja dengan segenap hatiku (Kolose 3:23).

Terakhir, kita bisa mengambil aksi yang kecil tetapi jelas untuk membuat hidup seseorang lebih baik seperti yang dilakukan oleh para pekerja di rumah sakit di atas. Sikap seperti ini tidak hanya Alkitabiah (ingat kisah Orang Samaria yang baik hati di Lukas 10:30-37), melakukannya menolong kita untuk meningkatkan rasa puas kita terhadap apa yang kita kerjakan. Kepuasan itu bisa datang dari hal yang remeh seperti mendengarkan rekan kerjamu ketika mereka curhat, atau tersenyum kepada seseorang yang kepadanya kamu memberikan secangkir kopi.

Seiring aku mendapati tindakan seperti ini dapat memberikan emosi positif bagiku dan orang lain, yang paling penting adalah: membagikan kebaikan bagi orang lain mengingatkanku akan betapa Tuhan sudah baik bagiku, dan itu memuliakan-Nya.

Di dalam pekerjaanku sendiri, mengingat mengapa aku bekerja tidak hanya meningkatkan kepuasanku, tetapi juga menguatkan relasiku dengan sesama rekan kerja, dan menolong orang lain untuk melihat orang Kristen lebih positif, terkhusus di lingkungan yang tidak ramah terhadap kekristenan.

Jika kelak kamu mendapati dirimu bertanya “mengapa aku melakukan ini?”, bergabunglah bersamaku untuk mengingat para pekerja kasar di rumah sakit, yang banyak orang menganggap pekerjaan mereka itu remeh, tetapi mereka menjadikan apa yang remeh itu sebagai kesempatan untuk menciptakan perbedaan. Kemudian, tanyalah Tuhan, “apa yang bisa kupikirkan dan kulakukan secara berbeda untuk memuliakan-Mu?” dan lihatlah kesempatan-kesempatan yang Tuhan bukakan buatmu.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Tembok Bata dari Jaring Laba-laba

Ketika seorang tentara berdoa memohon tembok bata untuk melindunginya dari musuh, Tuhan malah menjawabnya dengan mengirim seekor laba-laba. Apa yang terjadi setelahnya?

Mengatasi Burnout di Tempat Kerja

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Aku kembali melihat arloji di lengan kiriku, untuk kesekian kalinya dalam 30 menit. Aku tidak sabar menunggu jarumnya menunjuk angka 4 pertanda waktu mengajarku selesai. Memasuki tahun terakhir di kampus, sembari mengerjakan skripsi aku menerima tawaran mengajar persiapan Ujian Nasional bagi anak SMA di salah satu daerah di Sumatera Utara. Walau sudah beberapa kali punya kesempatan untuk menjadi pendidik, rasa jenuh dan keinginan untuk segera selesai mengajar tidak selalu berhasil kuhindari.

Bekerja dan berhadapan dengan anak didik sebagai manusia dengan kehendak bebas yang kaya dengan berbagai respons atau pun tingkah laku di setiap harinya tidak menjadi jaminan bagi seorang pendidik untuk tidak mengalami kejenuhan bekerja atau dikenal dengan istilah burnout. WHO yang merupakan organisasi kesehatan dunia mendefinisikan burnout sebagai sindrom yang dihasilkan stres kronis di tempat kerja yang belum berhasil dikelola dengan baik. Sindrom tersebut ditandai dengan tiga hal: pertama, merasa kehilangan energi atau kelelahan; kedua, meningkatnya keinginan untuk mengasingkan diri dari pekerjaan, atau adanya perasaan negatif atau sinisme terhadap pekerjaan; dan yang ketiga berkurangnya efikasi profesional.

Secara umum burnout menggambarakan kondisi di mana seseorang merasa lelah dan jenuh dengan pekerjaannya. Dari 1 Raja-raja 19:1-18, kita bisa membaca kisah tentang nabi Elia yang melarikan diri ke padang gurun. Elia menghindari pengejaran ratu Izebel yang mengancam ingin membunuhnya. “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku”, katanya ingin mati (ayat 4). Merasa gagal dengan yang dikerjakan, ketakutan akan keselamatan diri dan kelelahan fisik setelah berjalan seharian penuh menggiring rasa ingin mati pada Elia.

Hal yang sama juga dapat terjadi pada kita. Sebagai pendidik tidak jarang aku merasa kurang maksimal ketika aku melihat anak didikku kesulitan mengerti materi yang kami bahas, terkadang aku khawatir tentang pertumbuhan karakter mereka dengan semua pengaruh teknologi yang mereka gunakan dan seringkali hal itu membuatku mempertimbangkan untuk meninggalkan profesi yang idealnya memanusiakan manusia tersebut.

Apa pun pekerjaan yang sedang kita tekuni, bukan tidak mungkin kita mengalami kejenuhan. Kendati WHO menyarankan agar perusahaan/tempat bekerja untuk menfasilitasi pencegahan atau pun penyembuhan burnout pada pekerja, secara pribadi kita juga bisa menerapkan beberapa hal berikut untuk membantu menghindari ataupun mengatasi burnout :

  1. Memiliki motivasi kerja yang benar (Kolose 3:23)
  2. Mengerjakan segala sesuatu untuk Tuhan mungkin terdengar klise karena setiap pekerjaan tentu mempunyai target yang harus dicapai dalam jangka waktu tertentu. Jurnalis yang mesti memenuhi jumlah berita minimal yang diterbitkan, manager pemasaran yang harus mencapai target penjualan, supir angkot yang perlu kejar setoran serta pekerjaan lain dengan target-target yang wajib diselesaikan.

    Keberhasilan memenuhi target kerja tentu berpengaruh baik pada karier dan kesejahteraan kita, namun acap kali motivasi pengejaran tersebut berubah menjadi ambisi berlebihan berujung serakah. Gaji yang besar, kenaikan pangkat, pujian dari atasan memang perlu bagi kita namun tidak selalu menjadi kebutuhan kita yang utama, kelegaan dan sukacita ketika bekerja tentu menjadi award yang tidak terukur.

  3. Memiliki perencanaan yang dikerjakan (Amsal 21:5)
  4. Mengerjakan tugas dengan sistem kebut semalam (SKS), menyelesaikan laporan bulanan sampai subuh, menonton drama dari pagi hingga pagi adalah contoh kegiatan yang mungkin pernah kita kerjakan. Selain berbahaya bagi kesehatan tubuh dan performa dalam bekerja, hal tersebut bisa jadi alarm untuk manajemen waktu yang kita punya. Demikian halnya dalam bekerja, kita mungkin kerap menunda-nunda pengerjaanya atau sebaliknya kita sangat bersemangat hingga ingin segera menyelesaikannya.

    Dengan pertimbangan, kita bisa menyusun perencanaan tentang mana pekerjaan yang harus diselesaikan dulu, memutuskan kapan waktu untuk microbreak atau rehat kilat dengan bermain gim atau mendengarkan musik, mengatur jadwal makan yang teratur serta aktivitas lainnya yang kita kerjakan di tempat kerja (Amsal 15:22). Tentang hal ini, Tuhan Yesus juga mengingatkan orang yang mengikut Dia dalam perjalanan-Nya tentang pentingnya perencanaan sebelum mengerjakan sesuatu. Dia menggunakan ilustrasi tentang seseorang yang akan melihat ketersediaan anggarannya sebelum mendirikan menara serta tentang seorang raja yang akan mengatur strategi sebelum berperang (Lukas 14:28-31).

  5. Menjalin relasi yang baik (Ibrani 10:22-25)
  6. Abai dalam menjalin relasi kepada Tuhan dan kepada sesama dengan berbagai alasan sering menggiring kita untuk selalu asyik sendiri seakan punya dunia sendiri. Baik kepada Tuhan maupun terhadap sesama, relasi dibangun lewat komunikasi. Kita menemukan kekuatan di saat lemah dan semangat ketika kita merasa tidak berdaya untuk melanjutkan pekerjaan kita lewat relasi dengan Tuhan (Yesaya 40:29). Sama halnya dengan relasi dengan mereka yang kita temui hampir setiap hari di jam kerja. Sapaan di pagi hari, lelucon receh dari rekan kerja, pujian dan kerjasama yang baik dengan teman-teman di kantor sampai saling menolong dan berbagi suka-duka dengan mereka dapat menjadi sumber sukacita di tempat kerja.

    Datang menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh dan saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih di tempat bekerja merupakan bentuk relasi yang bisa membantu kita mengatasi burnout yang sedang kita alami.

Menjadi rekan sekerja Allah melalui pekerjaan kita tentu tidak menjamin kita terbebas dari belenggu kejenuhan (burnout). Selain mencoba ketiga hal diatas, dengan akal budi yang dianugerahkan Allah kepada kita, kiranya kita juga terus berusaha mengatasi kejenuhan (burnout) yang kita alami serta senantiasa mengimani bahwa Allah tetap menyertai kita untuk melaluinya (Yesaya 41:10).

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Kemarin Aku Gagal, Hari Ini Aku Memilih Mengucap Syukur

Meski di awal usahaku meniti karier pil terasa getir, tapi aku mau tetap membuka hatiku untuk mengecap kebaikan-Nya. Aku mau tetap mengucap syukur.

Bosan Tidak Selalu Jadi Pertanda untuk Berhenti

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

“If you are tired, learn to rest, not quit.”

Pesan di atas kuterima di bulan keenam tahun 2018 dari seorang teman dekat yang mengetahui keputusanku untuk mengundurkan diri dari kepengurusan organisasi pelayanan intern-kampus. Jenuh merupakan faktor utama yang mendorongku untuk memutuskan mundur dari koordinasi yang seharusnya kuselesaikan hingga bulan Desember di tahun yang sama.

Sebagai pengurus, aku dan kesembilan teman dalam koordinasi biasanya memiliki jadwal yang padat. Selain karena kami juga masih menjalani rutinitas kuliah, kegiatan di organisasi dengan visi pelayanan “murid yang memuridkan kembali” tersebut juga terbilang cukup padat. Kegiatan dalam Kelompok Kecil yang merupakan ujung tombak dari pelayanan tak boleh luput dari pantauan kami sebagai motor organisasi di tahun itu. Begitu juga dengan kegiatan lain seperti persiapan ibadah yang biasanya dilakukan 2 kali sebulan, jam doa puasa, pelatihan untuk meningkatkan keterampilan anggota organisasi yang masih mahasiswa hingga harus menjalin komunikasi dengan keseluruhan anggota baik alumni maupun mahasiswa melalui sharing ataupun via daring serta mengadakan pertemuan untuk regenerasi kepengurusan di tahun mendatang.

Hampir setiap malam kami harus bertemu di rumah sekretariat, terkadang kami juga harus sampai begadang karena susah mencocokkan jadwal kosong di siang atau sore hari. Aktivitas yang di awal membuatku bersemangat perlahan berubah menjadi rutinitas yang berlalu tak berbekas ataupun bermakna. Di bulan keenam, kuberanikan diri bercerita dengan seorang teman yang juga pernah mengerjakan kepengurusan. Walau berbeda kampus namun aku percaya dia bisa jadi tempat berbagi.

“Mengapa kemarin mau menerima pelayanan itu?” Pertanyaan pertama darinya membuatku mengingat kembali momen ketika PKK-ku (Pemimpin Kelompok Kecil) secara khusus mengajakku membahas firman Tuhan dari Lukas 19:28-40 tentang bagaimana Yesus dielu-elukan di Yerusalem.

Di sana diceritakan bagaimana Yesus meminta murid-murid-Nya membawa keledai untuk-Nya yang akan ditunggangi-Nya menuju Yerusalem. Saat Yesus akan menaiki keledai, orang-orang menghamparkan pakaiannya dan membantu Yesus menaiki keledai itu.

“Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang Maha Tinggi”, kata semua murid yang mengiring Dia. Karena hal itu, orang Farisi menegur Yesus, “Guru, tegorlah murid-murid-Mu itu”. Jawab Yesus, “Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak” (Ayat 40).

“Jangan mengeraskan hati dek, jika Tuhan mau, batu pun bisa dipakai-Nya untuk melayani Dia”, begitu kakak di kelompok kecil mengingatkanku di akhir pertemuan itu.

“Ahk, aku capek. Bosan! Daripada kukerjakan tapi tidak dari hati” belaku dengan berbagai alasan pembenaran atas keputusanku. Merasa lelah karena terlalu sering dipekerjakan merupakan salah satu penyebab kejenuhan. Walau tak selalu benar, kejenuhan bisa menjadi alasan bagi kita untuk tidak mengerjakan hal itu lagi.

“If you tired, learn to rest, not quit”, kutipan di awal tulisan ini mengingatkanku untuk menyediakan waktu beristirahat alih-alih mundur dan mengingkari komitmen yang sudah diambil. Di dalam pelayanan-Nya, Yesus juga pernah mengajak murid-murid-Nya untuk beristirahat ketika mereka harus memberi makan lima ribu orang yang mengikuti mereka (Markus 6:31). Tentu beristirahat dan berhenti adalah dua hal yang berbeda. Secara perlahan dengan pertolongan-Nya, aku mengingat kembali kenapa aku mau menerima tanggung jawab itu. Dengan menyediakan waktu untuk beristirahat, itu berhasil membantuku memulihkan keadaanku saat itu.

Jenuh, jemu, bosan menggambarkan situasi emosional di mana kita sudah tidak suka dengan si objek yang bisa jadi dalam bentuk keadaan, pekerjaaan, lingkungan bahkan hubungan dengan seseorang. Ayah yang sudah bosan bertahun-tahun bekerja di tempat yang sama; ibu yang jenuh dengan urusan dapur dan kegiatan beres-beres yang dilakukan setiap hari; anak yang jemu duduk berjam-jam di kelas ditambah dengan tugas sekolah; atau mungkin sepasang kekasih yang mulai bosan dengan dering telpon yang dipisahkan jarak; bahkan kita anak-anak Tuhan yang mungkin merasa jenuh menjalin persekutuan dengan-Nya.

Memasuki bulan keempat setelah aturan-aturan untuk menanggulangi pandemi virus corona digalakkan, beradaptasi untuk menghilangkan kejenuhan bukanlah perkara yang mudah. Berhenti beraktivitas dari rumah, pergi berkerumun, atau menolak anjuran pemerintah tentu memiliki konsekuensi tersendiri khususnya bagi kesehatan kita. Sebagai individu yang diciptakan berbeda-beda, tips treatment untuk kejenuhan orang yang satu bisa saja tidak mempan untuk yang lainnya. Pilihan untuk menikmati waktu dengan keluarga, mengubah situasi kamar atau rumah agar lebih nyaman untuk belajar dan bekerja dari rumah, hingga mencari kreativitas lain agar tetap waras selama #DiRumahaAja terdengar klise dan tak berpengaruh. Namun sebagai ciptaan-Nya kita perlu mengingat bahwa pada-Nya ada jawaban dari setiap pergumulan kita dan pada-Nya ada kelegaan bagi setiap kita (Matius 11:28).

Kiranya kita bisa memaknai setiap waktu atau kesempatan dengan bijaksana. Sama seperti Musa, biarlah kita tak bosan meminta kekuatan dari Tuhan untuk menyadari berharganya setiap waktu yang ada (Mazmur 90:12).

Dia akan menolong dan memulihkan semangat kita (Yesaya 40:29).

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Ketika Aku Terjebak Membandingkan Diriku dengan Orang Lain

Aku pernah ada dalam kondisi membandingkan diriku dengan orang lain. Dan orang itu adalah teman terdekatku! Aku merasa temanku itu lebih baik dalam banyak hal, terutama pelayanan yang dia kerjakan.

Mengasihi Tuhan dengan Melakukan yang Terbaik dalam Pekerjaanku

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang berdampak bagi banyak orang. Tapi, pertanyaan yang muncul di benakku adalah: “apakah yang aku kerjakan sudah memberi dampak ya?”

Setelah masuk ke dunia kerja selama lebih kurang tiga tahun, pertanyaan itu tidak asing buatku. Kadang aku merasa kalau aku seharusnya bisa mengerjakan sesuatu yang lebih besar daripada yang aku kerjakan saat ini. Ketika aku menceritakan pemikiran ini kepada temanku, rupanya mereka juga memikirkan hal yang sama.

Aku pernah berpikir kalau aku baru bisa berdampak, atau melakukan hal-hal besar jika aku sudah memiliki posisi atau jabatan yang tinggi, entah itu aku menjadi kepala divisi, manajer, atau direktur.

Tetapi, apakah benar selalu begitu?

Sebagai seorang yang mengurusi sumber daya manusia di tempat kerjaku, kadang aku merasa belum melakukan hal-hal yang berarti. Tidak heroik, pun dramatis. Tetapi, setelah kurenungkan dengan detail, apa yang kukerjakan sejatinya menolong orang lain. Semisal ketika aku mengerjakan perihal surat menyurat, aktivitas ini tampaknya sederhana, tetapi ketika surat-surat itu tidak ada yang membuat, teman-temanku yang lain bisa-bisa tidak dapat melakukan pekerjaannya. Kadang aku berpikir pekerjaan itu hanya tentang diriku, aku lupa bahwa di balik aktivitasku, aku sedang menolong orang lain.

Saat menulis artikel ini, aku jadi teringat senyuman dari mereka yang menyampaikan terima kasih dengan sukacita. Pengalamanku, mungkin juga pengalamanmu di dunia kerja mungkin belum banyak. Tetapi, itu bukanlah alasan untuk kita berkecil hati. Aku merasakan pimpinan Tuhan dalam tiap perkara, dari yang kecil hingga Dia menambahkan perkara-perkara yang lebih besar untuk kita kerjakan kelak. Mungkin buah dari pekerjaan yang kita lakukan sekarang ini belum terlihat, tetapi jika kita dengan setia mengerjakannya, Tuhan tentu akan menyatakan hal-hal yang membuat kita bersyukur kepada-Nya.

Mungkin saat ini pertanyaan yang harus kita ajukan setiap hari usai bekerja adalah apakah aku sudah melakukan yang terbaik hari ini dengan posisi yang dipercayakan kepadaku?

Sehingga kita juga bisa belajar tidak hanya mengasihi pekerjaan kita tetapi menghargai orang-orang yang ada di pekerjaan kita apapun posisi mereka, terutama mengasihi Tuhan yang telah memercayakan pekerjaan itu kepada kita.

Arie Saptaji dalam tulisannya yang berjudul “Di Balik yang Biasa-biasa Saja” menulis: “Tidak banyak dari kita yang berkesempatan untuk berkhotbah di depan ribuan orang. Tidak banyak yang menjadi misionaris secara intensif melayani daa mengubah suatu suku bangsa. Tidak banyak yang duduk dalam pemerintahan, yang bisa mengambil keputusan yang memengaruhi banyak orang. Tidak banyak yang menjadi selebritas yang dielu-elukan penggemar. Kehidupan kita begitu biasa. Tidak banyak ledakan dramatis. Tidak heroik. Dan, kalau mau lebih jujur, membosankan.”

Lalu, apakah dengan kehidupan yang sedang kita kerjakan, yang kelihatannya sepele kita tidak sedang melakukan apa-apa? Kita tidak sedang mendatangkan Kerajaan Allah di dunia ini, di pekerjaan kita? Sejatinya tidak ada yang terlihat sepele di hadapan Tuhan, dengan hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari, dengan hal-hal rutinitas kita di pekerjaan, Tuhan melihat dan mengapresiasi hal tersebut.

Apapun yang kamu kerjakan saat ini, kamu punya peran yang sangat besar. Lakukanlah yang terbaik.

Kalimat di atas sering kurenungkan dan kutempel di komputerku, membuatku terus ditegur ketika aku mulai meragukan pekerjaanku.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya (Kolose 3:23-24).

Baca Juga:

Menegur dengan Maksud Baik

Menegur ataupun mengatakan kebenaran seringkali menjadi dilema bagi tiap orang, termasuk orang percaya. Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan?

Kejenuhan, Celah Si Jahat Untuk Hambat Produktivitas

Oleh Santina Sipayung, Batam

Berjam-jam duduk di kelas. Berhari-hari mengerjakan tugas. Berbulan-bulan menyelesaikan skripsi. Bertahun-tahun bekerja di tempat yang sama. Tak dapat dipungkiri, menjalani rutinitas atau mengerjakan sesuatu dalam jangka waktu yang lama seringkali membuat kita merasa jenuh.

Sebenarnya, apa itu kejenuhan?

Kejenuhan adalah sindrom yang ada pada tataran emosi. Area kejenuhan pada mental ialah perasaan kehilangan idealisme, gagal sebagai pribadi, dan menyebabkan kesulitan berkonsentrasi. Kejenuhan pada mental dapat ditandai dengan tidak lagi memiliki pengharapan dan cepat menuduh diri sendiri. Bahkan, citra diri di dalam Kristus terkadang dapat terkikis karena kondisi mental yang negatif. Apabila dibiarkan berlarut-larut, kejenuhan bisa menjadi stres yang berkepanjangan dan dapat menyebabkan sakit jiwa.

Kejenuhan yang terjadi pada tataran mental turut berimbas pada area fisik. Kondisi fisik yang menurun karena kejenuhan turut menyebabkan kecenderungan darah tinggi serta serangan otak karena kelelahan. Kelelahan tersebut juga dapat menyebabkan migrain, sakit kepala, dan flu yang tidak kunjung sembuh.

Orang yang mengalami kejenuhan seringkali memiliki kesulitan untuk menyelesaikan aktivitas yang sudah dimulai atau malas melakukan rutinitas yang seharusnya dijalani. Ia jadi cepat bosan, tidak sabar, dan sulit menghargai diri sendiri dan orang lain. Iblis dapat menggunakan celah kejenuhan untuk menurunkan produktivitas dan membuat kita tidak lagi bergairah dalam menjalankan aktivitas rohani maupun pelayanan-pelayanan kita.

Lalu, siapakah orang yang rentan mengalami kejenuhan?

Orang yang rentan mengalami kejenuhan adalah orang-orang yang ambisius, pernah memiliki akar pahit, dan orang yang tidak sanggup berkata “tidak” pada orang lain. Ketiga hal tersebut memberi tekanan pada diri mereka yang berujung pada depresi.

Kejenuhan menjadikan kita kesulitan bertumbuh dan menghalangi peluang kita untuk maju. Oleh karena itu, tentu saja kejenuhan harus diatasi. Berikut adalah langkah konkret yang dapat kita lakukan untuk mengatasi kejenuhan.

1. Sadari dan akui kejenuhan itu

Langkah pertama untuk mengatasi kejenuhan adalah menyadari perasaan jenuh dan belajar untuk mengakui kejenuhan yang kita rasakan. Seringkali kita berusaha untuk menyangkal kejenuhan dan berusaha untuk terus memforsir diri kita agar dapat menyelesaikan pekerjaan demi pekerjaan dalam rutinitas kita, meski tidak lagi dapat mencapai hasil yang maksimal.

2. Kenali diri dan ketahui kapasitas diri

Setelah menyadari kejenuhan, selanjutnya kita perlu mengenali diri sendiri. Apa saja kondisi yang membuat diri kita jenuh? Kita dapat sejenak berhenti dari aktivitas kita untuk merenung. Jangan lupa juga untuk berdoa dan ceritakan pergumulan kita kepada Tuhan.

Selain itu, kita juga harus mengetahui kapasitas diri kita dan memohon bimbingan Tuhan sebelum memutuskan untuk berkegiatan. Pekerjaan dan aktivitas yang bertumpuk dapat kita bagi menjadi pekerjaan prioritas, mendesak, dapat ditunda, atau pekerjaan yang dapat ditinggalkan. Mengenali kesibukan kita akan membantu kita mengenal Allah yang menganugerahkan setiap aktivitas yang kita miliki. Kita dapat menyerahkan diri dan hidup kita sepenuhnya ke tangan Tuhan karena kita adalah kepunyaan-Nya. Ketika kita membiarkan Allah mengambil alih hidup kita dan melakukan semuanya untuk Tuhan, niscaya kita dapat terlepas dari kejenuhan.

3. Mencari tahu kegiatan untuk keluar dari kejenuhan

Pertanyaan kedua untuk direnungkan adalah, kegiatan apa yang dapat membantu kita untuk mengatasi kejenuhan? Melakukan hobi bisa menjadi solusi untuk mengatasi rasa jenuh. Misalnya, ketika mulai bosan belajar atau mengerjakan tugas selama berjam-jam, selingi dengan bermain musik, berolahraga, menggambar, atau hobi lainnya.

Dalam konteks membaca Alkitab atau bersaat teduh, ada orang yang bisa mengatasi jenuh dengan bersaat teduh dari kitab tertentu (Amsal) selama sebulan, tetapi ada juga yang lebih suka membaca renungan dari kitab yang berbeda-beda setiap harinya. Ada juga yang lebih suka menonton video khotbah dibandingkan membaca buku, atau berselang-seling setiap harinya agar tidak jenuh.

Ketika merasa jenuh, ingatlah bahwa kita tidak pernah sendiri. Tuhan Yesus membuka tangan-Nya lebar-lebar dan menanti kita untuk mencurahkan isi hati kita pada-Nya. Dalam Matius 11:28, Ia berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Pada-Nya ada jawaban dari setiap pergumulan kita dan pada-Nya ada kelegaan bagi setiap kita. Saatnya datang pada-Nya dengan penuh kerendahan hati dan izinkan Tuhan memegang kendali hidup kita. Tuhan Yesus memberkati.

Baca Juga:

Tuhan Membentukku Lewat Pekerjaan yang Tak Sesuai dengan Passionku

Ketika pekerjaanku tidak sesuai passionku, yang terpikir olehku adalah resign. Tapi, Tuhan membuatku bertahan di pekerjaan itu sampai waktu tia tahun lebih! Dan, tak kusangka, pekerjaan ini dipakai-Nya untuk membentukku.

Mazmur di Tengah Masa-masa Jenuhku

Oleh Vina Agustina Gultom, Bekasi

Suatu malam, aku merasa tak mampu lagi membaca referensi untuk menyelesaikan tesisku. Aku merasa jenuh. Tuntutan dari profesorku membuatku stres dan tidak tahu harus berbuat apa. Teman sekamarku sedang pergi ke lab, dan aku tinggal sendirian di kamar padahal aku merasa kalau saat itu aku sangat butuh kehadiran seorang teman. Namun, di tengah perasaan jenuh dan stres itu, aku teringat akan kitab Mazmur.

Aku lalu teringat suatu nama, Kak Fenov. Beliau adalah pemimpin kelompok kecilku. Aku mencoba meneleponnya, tapi tak diangkat. Beberapa waktu berselang, dia meneleponku kembali. Aku sharing dan bercanda dengannya hingga sukacitaku pun mulai muncul kembali. Dan, di akhir obrolan itu, beliau memberikanku ucapan firman Tuhan dari Mazmur 121.

Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung;
dari manakah akan datang pertolonganku?

Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.

Ia takkan membiarkan kakimu goyah,
Penjagamu tidak akan terlelap.

Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.

TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.

Matahari tidak akan menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam.

TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu.

TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.

Jika kita membuka Alkitab kita dan membaca kitab Mazmur, kita akan mengetahui bahwa kitab itu berisi puji-pujian dari para pemazmur kepada Tuhan. Tak cuma sebagai pujian, tiap untaian katanya juga adalah doa yang mengungkapkan perasaan mendalam hati manusia kepada Sang Pencipta. Pun bait demi baitnya merupakan ekspresi dari pemeliharaan Tuhan yang dialami oleh sang pemazmur.

“Nikmati setiap kata demi katanya,” ucap Kak Fenov. Aku pun mencoba menikmati mazmur tersebut dari berbagai versi Alkitab. Hingga akhirnya, beliau mengatakan, “Tugasmu saat ini buat mazmurmu dan sharingkan sama aku malam ini.”

“Ya ampun, tugas baru di tengah pikiran yang sedang mumet ini,” aku refleks merespon.

Namun, entah mengapa aku tergerak untuk mengikuti tantangan itu di tengah banyaknya bacaan yang harus kubaca. Menit demi menit pun berlalu. Aku merenung, mengingat kembali bagaimana perjalanan yang telah kulalui bersama Tuhan selama ini. Dan, aku benar-benar tersanjung akan pemeliharaan-Nya.

Aku mencoba memosisikan diriku seperti seorang pemazmur. Aku berdoa kepada-Nya, meminta Dia memampukanku untuk dapat bermazmur sama seperti pemazmur lakukan kepada-Nya. Dan, puji Tuhan, Ia menolongku untuk perlahan keluar dari jerat kejenuhan itu sampai akhirnya aku pun dimampukan-Nya untuk bermazmur, menaikkan puji-pujian dari dalam hatiku sendiri kepada-Nya.

Dan inilah mazmur yang ingin kubagikan kepadamu:

Masa jenuh menghampiriku. Aku tiba di semester di mana tesis adalah tanggung jawab di pagi, siang, dan malamku. Mau baca yang itu tidak bisa tanpa baca yang ini terlebih dahulu. Namun ketika ingin membaca yang ini, rasanya berat sekali untuk memulai.

Aku memandang teman labku. Ia begitu keren dan beruntung. Ia bisa ikut bersama profesorku ke negara yang sangat kuimpi-impikan tanpa ada hambatan sedikit pun.

Rasa iri hati dan jenuh pun mulai berikatan dalam diriku.

Siapakah yang bisa menghilangkan rasa itu? Siapakah dia yang sanggup “menamparku” untuk tidak membandingkan diriku dengan pencapaian orang lain? Siapakah dia yang mampu memberikan hikmat di tengah hari-hariku yang terasa datar? Siapakah pribadi yang bisa memberiku ketenangan di tengah deadline tesisku yang tinggal satu minggu?

Yesus! Ya, Yesus. Dialah segalanya bagiku. Dia sempurna, sangat sempurna membimbingku. Dialah yang bisa mengubah rasa berat itu menjadi sukacita. Dialah yang sanggup “menamparku” dari rasa iriku sebelum satu hari berlalu melalui firman-Nya di saat teduhku. Dia jugalah yang mampu memberikan hikmat dan ketenangan di saat aku bangun dari tidurku.

Terima kasih Tuhan, terima kasih untuk segalanya. Satu setengah tahun Engkau menyertaiku dengan sempurna. Masakan jiwaku lunglai hanya untuk melalui satu semester yang tersisa?

Berserah, memiliki relasi intim dengan-Mu, dan setia bersama orang-orang yang kesukaannya Taurat Engkau membuatku terus beriman kepada-Mu.

Mampukan aku Tuhan, tanpa-Mu aku tidak bisa apa-apa.

Itulah isi mazmurku. Sebuah mazmur sederhana yang meluap dari hatiku, yang menjadi pujian dan ucapan syukurku kepada Tuhan atas penyertan-Nya. Saat ini, mungkin ada di antara kamu yang memiliki beban yang serupa denganku, kamu mengalami masa jenuh dan penuh tekanan. Namun, kiranya firman Tuhan terus menjadi pengingat untukmu yang sedang menuntaskan studimu, ataupun segala pergumulan lain yang kamu alami.

Pergumulan, kesulitan, bahkan bahaya memang kadang tidak dapat kita hindari. Namun yang pasti Tuhan selalu memberikan jaminan bahwa Dia selalu menjadi pembimbing kita yang sempurna.

Aku ingin menantangmu sama seperti yang pemimpin kelompok kecilku lakukan. Buatlah mazmurmu, jiwai dan hidupilah. Mazmurkanlah itu kepada Tuhan setiap waktu dan bagikanlah juga kepada orang-orang lain, agar semakin banyak orang yang bermazmur kepada Tuhan dan dikuatkan-Nya.

*Tulisan ini dibuat saat aku sedang menempuh studiku di Taiwan pada 30 Oktober 2018.

Baca Juga:

Rabu Abu, Momen untuk Kita Berbalik dari Dosa

Sahabat, hari ini kita mengawali masa prapaskah dengan Rabu Abu. Terlepas dari gerejamu merayakannya atau tidak, ada satu pesan penting yang bisa kita terima dan lakukan dalam perjalanan kita menyambut anugerah keselamatan yang Tuhan telah berikan.

Saat Hidup Terasa Begitu Hambar

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta
Ilustrasi gambar oleh Galih Reza Suseno

Kecewa. Jenuh. Hambar.

Tiga kata itu adalah gambaran dari masa-masa kelam yang sempat kulalui di awal tahun 2017. Sebagai seorang sarjana fresh graduate yang baru diwisuda beberapa bulan sebelumnya, aku memimpikan hidup yang signifikan dan penuh petualangan. Aku punya mimpi besar ingin menjelajah ke banyak tempat dan menaklukkan tantangan baru. Namun, mimpi itu seolah sirna begitu saja ketika akhirnya aku mendapati diriku bekerja sebagai seorang editor yang notabene adalah pekerja kantoran yang pergi-pagi-pulang-petang setiap hari.

Sebagai seorang anak muda yang punya mimpi meletup-letup, pekerjaan ini membuat hidupku begitu hambar, biasa saja. Tidak ada peristiwa-peristiwa dramatis yang terjadi. Tidak spektakuler. Dan, kalau boleh jujur, terasa amat membosankan. Aku tidak melihat ada keistimewaan di balik memelototi layar komputer, berkutat dengan kata-kata, dan terus menerus setiap hari seperti ini.

Yang ada dalam benakku hanyalah weekend, weekend, dan weekend supaya aku bisa melarikan diri dari pekerjaan dan jalan-jalan menghibur diri. Bahkan, karena merasa begitu bosan dengan pekerjaan ini, aku sempat terpikir untuk dipecat saja oleh atasanku supaya nanti bisa kembali ke Yogyakarta dan mencari pekerjaan lain di sana.

Namun, ketika dihadapkan pada keadaan di mana aku nyaris “dipecat”, aku merasa hidupku mulai terguncang. Setelah sekitar 3 bulan bekerja, direkturku datang menemuiku. Mulanya pertemuan kami berlangsung hangat dan ceria hingga akhirnya dia bicara serius denganku. Katanya, kinerjaku belum memenuhi ekspektasinya. Sepenangkapanku, jika aku ingin tetap bekerja di sini, mulai dari saat itu aku diberi waktu 3 bulan untuk memperbaiki kinerja.

Jika sebelumnya aku sempat berpikir untuk dipecat, seharusnya kejadian hari itu membuatku senang. Tapi, malam harinya aku pulang dengan perasaan gugup. Aku berpikir keras, jika sampai aku dipecat, mau kerja apa? Lagipula pengalamanku pun belum banyak. Malam itu aku merasa ada yang salah dengan diriku dan aku berusaha mencari tahu apa salahnya.

Aku menangis dan berdoa. “Tuhan, aku gak tahu lagi mau gimana. Aku jenuh. Aku stres. Aku gak suka dengan kerjaanku. Tapi aku juga gak mau kalau sampai kehilangan pekerjaan ini. Tolong aku.”

Sebuah teguran keras dari Tuhan

Suatu ketika, saat aku sedang melakukan perjalanan di atas kereta ekonomi, aku membuka catatan harianku pada tahun 2015. Di halaman keduanya, terdapat sebuah artikel dari Arie Saptaji yang berjudul “Di Balik yang Biasa-biasa Saja”. Dalam salah satu paragrafnya, dia mengutip sebuah tulisan dari Mark Galli yang berjudul “Insignificant is Beautiful”. Isinya adalah sebagai berikut:

“Pencarian akan signifikansi, khususnya bila berkaitan dengan mengubah dunia ini, dapat membutakan kita terhadap aktivitas keseharian, tugas remeh, dan pekerjaan kotor yang merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup dalam pemuridan.”

Apa yang kubaca begitu menamparku. Aku mendambakan kehidupan yang signifikan di mana aku bisa melakukan hal-hal luar biasa dan mewujudkan mimpi-mimpiku. Namun, tanpa kusadari, obsesi berlebihan pada keinginan itulah yang membuatku kehilangan makna dari setiap aktivitas rutin yang kulakukan. Aku menganggap pekerjaanku terlalu remeh. Keinginan untuk mewujudkan hidup yang luar biasa tanpa disertai hikmat telah membuatku buta akan hal-hal yang seharusnya kulakukan sebagai tanggung jawabku.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menuliskan demikian: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31). Ayat ini juga menamparku dengan keras. Paulus tidak menyebutkan bahwa untuk memuliakan Allah kita harus berkhotbah di hadapan ribuan jemaat, bekerja sebagai direktur, bertulalang ke tempat-tempat jauh, atau memiliki ribuan followers di Instagram. Paulus hanya menuliskan jika kita makan, atau minum, atau lainnya, lakukan semuanya untuk kemuliaan Allah! Artinya, segala aktivitas sederhana dan remeh-temeh yang kita lakukan pun sejatinya bisa dipakai-Nya sebagai sarana untuk memuliakan-Nya.

Akhirnya, aku menyadari bahwa di sinilah letak kesalahan yang kupelihara selama beberapa bulan pertama. Aku lupa untuk memuliakan Allah di balik pekerjaan yang kulakukan. Selama ini aku hanya berfokus pada diriku sendiri. Aku berfokus untuk mengejar mimpi, tapi aku lupa bahwa sesungguhnya Tuhanlah yang memiliki kuasa untuk mewujudkan mimpi itu atau tidak.

Jika makan dan minum saja bisa digunakan untuk memuliakan Allah, maka seharusnya pekerjaanku memelototi layar komputer pun bisa dipakai untuk memuliakan-Nya. Ketika aku melakukan pekerjaanku untuk Tuhan, itu berarti aku menjadikan Tuhan sebagai saksi dan penonton utama dari setiap pekerjaanku. Aku percaya bahwa ketika tulisan-tulisan yang kuedit berhasil ditayangkan dan memberkati banyak orang, di situlah Tuhan menepuk pundakku dan berkata, “Good job.” Atau, ketika aku merasa lelah dan buntu ide, di situ jugalah Tuhan merangkulku dan berkata, “Ayo semangat, kamu pasti bisa!

Memaknai hidup dari perspektif yang baru

Sekarang, sudah setahun aku berkutat dengan pekerjaan di balik layar komputer. Tuhan telah mengubahku memandang pekerjaan yang pada mulanya terasa hambar buatku menjadi sebuah pekerjaan yang banyak rasa. Dalam bekerja dan kehidupan keseharianku, rasa jenuh memang tidak terhindarkan. Namun, alih-alih kecewa, sedih, dan terpuruk, aku mengalihkan rasa jenuh itu dengan karya yang lain. Jika dahulu aku menjadikan bepergian sebagai pelarian, kini aku menjadikannya sebagai kesempatan untuk berkarya dan mengembangkan kapasitasku sebagai seorang editor. Dari tiap-tiap perjalananku, aku menuliskannya dalam sebuah blog perjalanan yang kukelola sendiri.

Ada sebuah kutipan bijak dari Bunda Teresa yang selalu kuingat.

“Not all of us can do great things. But we can do small things with great love”—Tidak semua dari kita bisa melakukan hal-hal besar. Tapi, kita bisa melakukan hal kecil dengan kasih yang besar.

Pada intinya, hambar atau tidak kehidupan ini tergantung dari bagaimana cara kita memaknainya. Jika kita memaknai hidup ini hanya sekadar rutinitas menuju akhir hayat, maka kita takkan mampu mengecap banyak rasa darinya. Akan tetapi, ketika kita menyadari bahwa tiap-tiap aktivitas yang kita lakukan adalah untuk kemuliaan-Nya, maka tak ada lagi hal-hal yang terkesan terlalu biasa untuk kita lakukan.

Ketika kita setia dengan hal-hal kecil atau remeh-temeh yang Tuhan berikan sebagai bagian dari tanggung jawab kita, percayalah bahwa Dia akan memberikan kepada kita tanggung jawab yang lebih besar.

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Lukas 16:10).

Baca Juga:

7 Doa untuk Korban Bencana Alam

Teruntuk korban bencana alam, kami mengingat kalian, dan menyebut nama kalian di dalam doa kami. Mari kita berdoa memohon tujuh hal berikut ini kepada Tuhan untuk mereka yang menjadi korban bencana alam.

Ketika Pekerjaan yang Kudapat Ternyata Tidak Sesuai Harapanku

ketika-pekerjaan-yang-kudapat-ternyatan-tidak-sesuai-harapanku

Oleh Katarina Tathya Ratri, Jakarta

Bulan Maret 2017 adalah bulan yang begitu menguras energiku. Sudah lima bulan berlalu sejak aku pindah ke Jakarta untuk bekerja sebagai Area Manager di sebuah perusahaan swasta bidang makanan dan minuman, tapi aku masih belum juga merasa nyaman dengan rutinitas yang kulakukan. Setiap hari aku bertugas untuk mengontrol beberapa gerai dan memastikan bahwa kualitas, pelayanan, kebersihan, dan penjualan yang dilakukan oleh karyawan di sana itu memenuhi standar. Apabila mereka tidak melakukan pekerjaannya dengan tepat, aku harus menegur dan memberikan instruksi kepada mereka.

Dulu aku berekspektasi bahwa aku akan mudah beradaptasi dengan orang-orang baru di sekelilingku, tapi kenyataan justru berbicara sebaliknya. Iklim kerja yang tidak bersahabat seringkali membuatku menangis. Jadwal kerjaku tidak jelas, kadang aku harus masuk saat hari libur dan bekerja dari pagi hingga larut malam. Sulit bagiku untuk menegur karyawan-karyawan yang berbuat salah karena aku baru bergabung dengan perusahaan ini selama lima bulan, sedangkan mereka yang menjadi bawahanku ternyata sudah bekerja jauh lebih lama daripada aku. Selain itu ada juga yang usianya lebih tua dariku. Terkadang ketika ditegur, mereka malah menjawabku dengan kalimat-kalimat yang tidak sopan.

Aku menceritakan beban pekerjaan ini kepada teman-teman dekat dan pacarku. Mereka memberiku semangat dan kata-kata motivasi, tapi aku rasa itu tidak berpengaruh banyak buatku. Akhirnya, berbagai ide nakal pun aku lakukan untuk sebisa mungkin menghindar dari pekerjaan ini, salah satunya adalah dengan bolos kerja. Saat pertama kali aku bolos bekerja, jantungku berdebar keras. Aku takut karena aku tahu perbuatan ini adalah salah, tapi aku berusaha mengabaikan rasa bersalah itu dan memilih untuk bolos saja.

Di suatu hari Minggu, aku pergi ke gereja dan khotbah hari itu membahas kisah tentang Yosua ketika ia ditunjuk sebagai pengganti Musa. Salah satu ayat yang disebutkan oleh pendeta di gerejaku hari itu diambil dari Ulangan 31:6, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab Tuhan Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” Saat mendengar ayat itu, aku teringat akan pergumulan dalam pekerjaan yang sedang kuhadapi. Sesungguhnya ayat itu menguatkanku dan aku berjanji untuk menghadapi pergumulanku dengan semangat.

Tapi, ketika tiba di hari Senin dan menghadapi realita kembali, seketika itu juga nyaliku menciut dan aku merasa diriku kalah lagi. Lagi-lagi aku berusaha mencari-cari cara dan kesempatan untuk mangkir dari kewajibanku. Aku berdoa, memohon ampun kepada Tuhan, kemudian menyerah lagi. Begitu terus terjadi.

Ketika Tuhan menegurku

Hingga suatu malam aku jatuh sakit, badanku demam tinggi dan aku merasa begitu lemas. Aku menelepon pacarku yang berada di Bandung. Ketika dia mengetahui kalau aku terbaring sakit, dia memutuskan untuk segera berangkat ke Jakarta keesokan harinya dan membawaku ke sebuah klinik. Setelah diperiksa, dokter di klinik itu mengatakan bahwa sakit yang aku alami ini bisa jadi karena aku terlalu stress dengan tekanan dari lingkungan kerjaku. Aku mengangguk seakan setuju dengan pendapat sang dokter.

Setelah keadaanku berangsur pulih, aku dan pacarku menyimpulkan bahwa mungkin kami perlu refreshing sejenak untuk melepaskan diri dari kepenatan. Dalam perjalanan kami berkeliling kota, di atas bus TransJakarta ternyata ponsel pacarku dicopet dan kami baru menyadari itu sesaat setelah turun dari bus. Saat itu aku merasa bersalah, sedih, dan marah bercampur jadi satu hingga aku menangis. Anehnya dia yang sedang kehilangan ponsel itu justru tenang dan bisa tersenyum. Kemudian dia berkata kalau dia percaya bahwa segala sesuatu itu akan mendatangkan kebaikan sekalipun terlihat buruk. Mendengar perkataannya itu, aku menjadi malu sendiri. Hari itu aku menyadari bahwa selama ini ternyata aku belum sepenuhnya berserah pada rencana Tuhan.

Sejak saat itu, aku berusaha mengingat kembali apa yang dulu menjadi motivasiku untuk datang dan bekerja di tempat ini, yaitu untuk mengasah kemampuanku menjadi seorang pemimpin. Aku tahu sejak awal bahwa pekerjaan ini tidak mudah, menjadi pemimpin di tengah orang-orang yang secara usia dan pengalaman jauh di atasku. Namun, pekerjaan yang tidak mudah ini bukan berarti bahwa aku tidak mampu mengatasinya. Aku teringat akan sebuah ayat yang selalu kujadikan pedoman dalam bekerja, “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakuku, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1 Timotius 4:12).

Firman itu memantapkan kembali langkahku untuk berani mengambil risiko dalam pekerjaan ini. Aku tahu bahwa lewat pekerjaan ini Tuhan sedang menempa aku dan membentuk aku sesuai dengan kehendak-Nya. Aku diizinkan untuk merasa sedihnya dari tidak dihargai ketika instruksiku diabaikan, susahnya mengatur banyak orang dengan pengalamanku yang minim, hingga lelahnya memenuhi berbagai tuntutan dari atasanku yang di luar kapasitasku sebelumnya.

Jika melihat buruknya responku terhadap tantangan yang aku alami, bagiku sudah selayaknya aku mendapat hukuman atau bahkan dipecat. Tapi, sebaliknya, Tuhan tidak meninggalkanku saat aku terjatuh dan berbuat salah. Tuhan mengangkatku kembali dan memberiku kekuatan yang baru. Saat ini Tuhan mengizinkan aku untuk melewati fase yang lebih tinggi lagi dalam pekerjaan yang Dia sedang percayakan kepadaku. Meskipun tidak mudah untuk dilalui, namun aku berkomitmen untuk terus belajar berserah kepada-Nya.

Sekarang, setiap kali sebelum aku memulai bekerja, aku selalu menyempatkan diri untuk masuk hadirat Tuhan lewat berdoa. Jika dulu aku berdoa supaya bisa terhindar dari tantangan, sekarang aku berdoa supaya Tuhan boleh menguatkanku mempersiapkan mental dan rohaniku supaya aku boleh tetap tersenyum dan bersukacita sekalipun aku mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan dari karyawan-karyawan di bawahku.

Baca Juga:

Ketika Peristiwa Nyaris Celaka Mengubahkan Pandanganku Tentang Kehidupan

Pernahkah terpikir olehmu kapan kamu akan menghembuskan nafasmu yang terakhir? Beberapa minggu yang lalu aku mengalami peristiwa yang nyaris saja merenggut nyawaku. Peristiwa itulah yang pada akhirnya mengubah cara pandangku tentang kehidupan yang aku jalani sekarang.