Posts

Sharing: Apa yang Menjadi Impianmu bagi Gerejamu?

WarungSaTeKaMu-Sharing-201708

Apa yang menjadi impianmu bagi gerejamu?
Bagikan sharing kamu di dalam kolom komentar. Kiranya sharingmu dapat memberkati sobat muda yang lain.

Menikmati Anugerah Tuhan dalam Cacat Fisik yang Kualami

Menikmati-Anugerah-Tuhan-dalam-Cacat-Fisik-yang-Kualami

Oleh Novianne Vebriani, Bandung

Terdiam sejenak aku menikmati dinginnya malam, ditemani oleh bunyi detik jam di kamarku. Aku sedang mempersiapkan tugas akhirku untuk mendapatkan gelar Sarjana Psikologi. Jika aku mengingat kembali bagaimana akhirnya aku bisa kuliah Psikologi, aku menyadari bahwa itu semua hanya karena anugerah Tuhan. Perjalananku untuk menggapai cita-cita ini tidaklah mudah, terlebih karena sebuah cacat fisik yang kupunya sejak lahir.

Aku terlahir dalam keadaan prematur dan mengalami gangguan otot pada bagian kaki yang pada akhirnya menjadikan aku tidak bisa berjalan normal apalagi berlari. Saat masih duduk di bangku sekolah dulu, teman-teman sering memanggilku “pincang”. Tapi, meskipun aku memiliki cacat fisik dan ada teman-teman yang menjadikan kekuranganku itu sebagai candaan, aku tetap memiliki cita-cita.

Sejak masa SMP aku sering membaca buku dan salah satu buku yang pernah kubaca itu berjudul “Sheila” yang ditulis oleh Torey L. Hayden. Buku ini begitu istimewa karena menceritakan perjalanan seorang guru yang membaktikan hidupnya untuk mengajar di sekolah anak-anak berkebutuhan khusus. Melalui buku ini aku mulai merasa tertarik terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.

Saat itu aku menceritakan hal-hal yang aku baca itu kepada guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolahku. Aku menceritakan kepadanya tentang cita-citaku ingin menjadi guru untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Beliau menjelaskan kepadaku kalau untuk menjadi guru anak-anak berkebutuhan khusus maka aku harus mendaftar kuliah di Jurusan Psikologi.

Waktu terus berjalan, aku tetap memiliki minat terhadap psikologi hingga saat aku memasuki masa SMA. Selain membaca buku-buku tentang psikologi, aku juga menyiapkan diriku untuk menjadi pendengar yang baik. Kemampuan itu semakin terasah ketika aku bisa menjadi tempat curhat bagi sahabat-sahabatku. Aku juga bergabung dengan sebuah persekutuan doa di gereja supaya bisa saling menguatkan satu sama lain.

Jika kelak aku bisa kuliah di Jurusan Psikologi, aku sangat ingin membantu anak-anak yang memiliki kekurangan fisik sepertiku. Aku ingin membantu mereka meringankan hari-hari mereka yang berat. Untuk menggapai cita-cita itu aku pun melatih diriku, salah satunya adalah dengan menjadi pendengar yang baik.

Perjuanganku untuk menjadi Sarjana Psikologi

Tetapi, jalanku untuk bisa kuliah ke jurusan Psikologi itu tidaklah mudah. Tuhan mengizinkanku melewati berbagai tantangan yang harus aku lalui. Kadang aku terjatuh dan merasa sulit untuk bangkit, salah satunya adalah ketika aku diperhadapkan dengan masalah keluarga. Sejak aku masih kecil orangtuaku telah bercerai dan aku lebih banyak diasuh oleh kakek dan nenekku.

Dilahirkan di keluarga yang broken-home membuatku khawatir akan masa depanku. Seringkali aku berdoa kepada Tuhan memohon supaya Dia memulihkan kembali keluargaku. Aku hanya menceritakan pergumulan ini kepada sahabatku yang juga memiliki masalah keluarga sepertiku. Persahabatan inilah yang akhirnya membantuku untuk terus kuat menjalani kehidupanku.

Sahabatku itu selalu mengajarku untuk berdoa dalam keadaan apapun. Dia juga mengatakan kalau untuk kelak menjadi seorang psikolog, aku harus menjadi perempuan yang tegar menghadapi setiap persoalan kehidupan. “Kelak pengalaman hidup yang kamu rasakan sekarang akan menguatkan orang-orang lain yang juga mengalami pergumulan seperti kamu,” kata dia kepadaku.

Saat ini di usiaku yang menginjak usia ke-23 tahun, perlahan tetapi pasti aku dapat melihat penyertaan Tuhan yang sempurna. Memang kedua orangtuaku tidak menjadi rujuk kembali, tapi aku tetap mengucap syukur atas semua yang terjadi dalam kehidupanku.

Ada satu ayat Alkitab dari 1 Korintus 10:13 yang menguatkanku. “Pencobaan–pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

Kini tinggal selangkah lagi aku dapat mewujudkan mimpiku sebagai seorang Sarjana Psikologi dan memulai karierku selanjutnya sebagai seorang pengajar untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Apapun yang terjadi di dalam hidupku adalah rancangan Tuhan. Dia menenun kita dalam kandungan ibu kita. Memang setiap proses dalam kehidupan ini tidak selalu berjalan mulus. Kadang kita dihadapkan dengan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Tapi, Tuhan menempatkan kita di dunia ini bukanlah suatu kebetulan. Kita memiliki tugas untuk memuliakan Tuhan dan menjadi kesaksian bagi orang di sekitar kita. Semoga kita selalu melibatkan Tuhan di dalam setiap langkah kehidupan kita.

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku” (Mazmur 23:4).

Baca Juga:

Kisahku sebagai Putri Seorang Penarik Becak yang Belajar Mengampuni

Ibuku meninggal saat aku duduk di kelas 2 SD karena penyakit kanker. Beberapa tahun kemudian, ayahku yang bekerja sebagai penarik becak pun dipanggil Tuhan karena penyakit darah tinggi. Di tengah kemiskinan dan kehidupanku sebagai yatim piatu, Tuhan sedang menyiapkan yang terbaik untukku. Inilah sepenggal kisahku yang ingin kubagikan kepadamu.

Saat Aku Menyadari Tidak Semua Impian Dapat Menjadi Kenyataan

Oleh: Sukma Sari

The Day I Realized Not Every Dream Would Come True

Pernahkah kamu memiliki banyak keinginan, harapan, dan cita-cita?
Pernahkah kamu menuliskan hal-hal yang kamu impikan tercapai pada titik tertentu dalam hidupmu?
Pernahkah kamu mendapati bahwa sebagian impianmu tidak akan pernah menjadi kenyataan, dan sebagian harapanmu mustahil untuk diwujudkan?

Aku pernah.

Aku memiliki banyak keinginan, banyak cita-cita. Dulu, aku rajin menuliskan setiap impian dan keinginanku. Namun, suatu hari, aku mendapati bahwa apa yang kuimpikan tidak bisa kucapai pada tenggat waktu yang sudah aku tentukan. Perasaan marah dan kecewa berkecamuk di dalam diriku. Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa Dia mengizinkan aku gagal mencapai apa yang aku inginkan. Aku tahu tak seharusnya aku mempertanyakan Tuhan, tetapi saat itu kekecewaan begitu menguasaiku. Kondisiku bisa dibilang sangat buruk.

Hingga pada suatu malam sebelum tidur, aku membaca postingan teman di salah satu media sosial. Sepotong refrain dari lagu berjudul Trust His Heart, yang berbunyi:

God is too wise, to be mistaken
God is too good, to be unkind
So when you don’t understand, when you don’t see His plan
When you can’t trace His hand
Trust His Heart

Dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti:

Allah begitu bijak, tak mungkin salah
Allah begitu baik, tak mungkin jahat
Saat kau tak mengerti, (saat kau) tak paham rencana-Nya,
(saat kau) tak melihat tangan-Nya,
Percaya hati-Nya.

Syair itu membuatku merenungkan apa yang kualami. Benar bahwa banyak impianku yang tidak menjadi kenyataan, namun aku telah melupakan sejumlah fakta yang penting. Aku lupa bahwa ada satu Pribadi yang selalu bekerja di balik layar. Aku lupa bahwa setelah aku diselamatkan, hidup yang kujalani sekarang ini bukanlah milikku sepenuhnya. Bukan aku yang memegang kendali penuh atas hidupku. Aku lupa bahwa meskipun aku memiliki pensil dan kertas, Allah memiliki alat tulis yang lengkap!

Allah tidak hanya berbicara melalui lagu itu, tetapi juga melalui Firman-Nya. Dia menolongku untuk memahami dengan jelas bahwa Dialah sesungguhnya yang memegang kendali penuh atas hidupku. Dia berfirman dalam Yeremia 29:11, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Aku tersadar bahwa aku telah bersikap seperti seorang anak kecil yang menuntut semua keinginannya harus terpenuhi dan doanya dijawab segera begitu ia memintanya. Aku tidak sedang hidup sebagai seorang hamba yang mengenal dan percaya kepada Tuannya, Allah yang memegang kendali penuh atas hidupku.

Sobat, tidaklah salah jika kita punya banyak impian dan keinginan. Tetapi, janganlah kita pernah lupa bahwa kita memiliki Allah yang berdaulat, yang memegang kendali atas segala sesuatu. Kita boleh saja memegang pensil dan menulis semua impian dan keinginan kita, tetapi ingatlah bahwa Allah memegang penghapusnya. Izinkan Dia menghapus keinginan-keinginan kita yang tidak benar, dan menuliskan rencana-Nya yang lebih baik dalam hidup kita. Dan, perhatikanlah bagaimana Dia bekerja di balik layar hidup kita masing-masing.

Ketika kamu merasa keadaan di sekelilingmu tidak berjalan sesuai dengan keinginanmu, jangan takut! Allah, Sang Pencipta sedang dan akan terus bekerja menggenapi rencana-Nya di dalam dan melalui dirimu.