Posts

Dalam Asuhan Dua Iman yang Berbeda, Ini Cara Pandangku Sekarang

Oleh Priliana, Jakarta

Waktu aku kecil, aku pernah hidup dalam asuhan dua iman yang berbeda.

Aku lahir di keluarga yang seluruh anggotanya Kristen, tetapi karena tidak ada yang mengasuhku, setiap hari dari pagi sampai sore aku dititipkan ke tetangga. ‘Ibu’, demikian aku memanggilnya.

Meski bukan mama kandung, ‘ibu’ mengasuhku dengan bertanggung jawab. Beliau memberiku makan, mengajariku belajar, hingga membelikanku banyak barang. Aku dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri. Salah satu momen yang kuingat adalah aku diajaknya untuk merayakan hari besar agamanya. Ketupat, opor, tentu aku nikmati, namun yang paling berkesan adalah ketika aku melihat orang-orang dengan barisan teratur khusyuk berdoa.

“Wah, cantik sekali kamu pakai baju yang Ibu beli,” puji ibuku saat kami bersiap merayakan hari besarnya. Kami bergandengan tangan, berjalan menuju lapangan luas tempat orang-orang berkumpul sembari merencanakan nanti mau silaturahmi ke rumah mana saja.

Kedekatanku dengan ibu memberiku banyak pengetahuan tentang budaya mereka ketika merayakan hari besarnya. Ibu juga bukan orang yang tertutup. Ketika Natal dan Paskah, dia tidak enggan memberi kami selamat, bahkan pernah juga dia ikut menyaksikan penampilanku di perayaan Natal.

Sekarang saat aku telah dewasa, aku tidak lagi mengikuti ritual-ritual yang dilakukan ibuku sebab aku telah memilih untuk berakar dan bertumbuh dalam iman Kristenku. Namun, pengalaman hidup dalam asuhan dua iman berbeda itulah yang menolongku melihat dunia dari perspektif yang lebih luas.

1. Dunia kita adalah dunia yang heterogen

Dunia yang kita pijaki adalah dunia yang dihuni oleh beraneka ragam manusia, baik dari suku, ras, dan agama. Tak cuma perbedaan sosial, perbedaan latar belakang masing-masing keluarga juga membentuk kepribadian seseorang jadi unik.

Indonesia, misalnya. Negeri yang kita tinggali yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau juga punya segudang perbedaan. Masing-masing provinsi punya bahasa dan dialeknya, namun para founding fathers bersepakat untuk bersatu di bawah satu panji bernama “Indonesia”. Persatuan ini tidak meniadakan identitas masing-masing, melainkan dengan sadar mengerti bahwa untuk menjadi besar dan kuat, segala perbedaan itu harus dipandang sebagai sebuah kekayaan alih-alih pemecah belah.

Allah yang kita sembah juga mengasihi semua bangsa. Dalam kitab Yunus kita melihat bahwa Allah rindu agar bangsa yang tidak mengenal-Nya bisa mengenal-Nya sehingga mereka beroleh keselamatan. Kerinduan Allah ini selaras dengan panggilan-Nya juga bagi kita di masa kini, “Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi” (Kis 13:47).

Dalam dunia heterogen, kita sebagai orang Kristen hadir untuk meneruskan kasih Tuhan pada siapa pun tanpa melihat atau menilai adanya perbedaan. Justru dalam perbedaan tersebutlah kita dipanggil untuk menjadi terang dan garam.

2. Wujud kesalehan iman Kristen diwujudkan dalam hidup berdampingan dengan sesama

Matius 5:16 menyebutkan sabda Yesus bahwa kita adalah “garam dan terang”. Ini bukan sembarang analogi. Menjadi garam berarti memberi rasa bagi seluruh masakan, dan menjadi terang berarti memberi cahaya untuk menerangi tempat yang gelap. Singkatnya, Yesus memanggil semua murid-murid-Nya untuk hidup berdampak.

Pada zaman ketika Yesus melayani di dunia, kekristenan belumlah terbentuk. Orang-orang Yahudi di bawah penjajahan Romawi cenderung hidup berkelompok dengan segolongannya dan menganggap golongan lain lebih rendah (contoh: orang Samaria yang dianggap najis karena kawin campur, pemungut cukai yang bekerja untuk Romawi dengan menjajah/memeras orang Yahudi, dll). Namun, justru dengan orang-orang inilah Yesus memberi diri-Nya hadir.

Dalam Yohanes 4:1-42, Yesus meminta air dan bercakap dengan perempuan Samaria, hingga perempuan Samaria tersebut menjadi percaya pada-Nya. Bahkan di ayat 40, Yesus tinggal selama 2 hari bersama orang-orang Samaria yang menjadi percaya kepada-Nya.

Yesus juga mengasihi pemungut cukai. Dalam Matius 9:11-13, Yesus memberikan pedoman untuk bergaul dengan pemungut cukai (orang yang belum percaya). Bahkan di ayat 12 Yesus berkata:

“Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Apa yang tertulis di Alkitab memberi penegasan pada kita yang hidup di zaman modern, bahwa ke dalam dunia yang beragam kita diutus untuk mengasihi. Untuk menunjukkan pada dunia bahwa Dialah Allah jika kita saling mengasihi (Yohanes 15:35).

***

Sekarang saat aku sudah besar dan mengenal iman Kristenku dengan lebih dalam, aku tidak lagi mengikuti aktivitas ibadah ibu, tetapi relasi kami yang erat layaknya saudara tidak merenggang sedikit pun. Hampir dua dekade telah berlalu sejak aku rutin diasuh oleh ibu. Sampai hari ini kami masih saling berkomunikasi dan bahkan sering bertemu. Tidak ada yang berubah selain fisik yang semakin tua.

Bekal firman Tuhan yang diajarkan orang tuaku sejak aku kecil, serta iman Kristen yang kuanut secara pribadi, meneguhkan posisiku bahwa sebagai seorang yang telah dikasihi Kristus, aku dimampukan untuk meneruskan kasih itu kepada orang lain, termasuk kepada yang berbeda keyakinan denganku.

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:34-35).

Apa yang Tuhan Lakukan Saat Aku Menantang-Nya?

Oleh Gabrielle Meiscova

“Ya Bapa, tolong.. Jika kau mengizinkan aku untuk menjadi seorang copywriter di sana, aku akan menulis kesaksian tentang kebaikan-Mu dalam hidupku.”

Itulah permintaanku pada Tuhan, alias aku menantang-Nya dengan sebuah jaminan. Menulis untuk Tuhan. Itulah intinya. Sesuatu yang sekarang ini menjadi tujuan hidupku.

Sudah hampir setahun aku berusaha keras mencari pekerjaan. Ratusan CV yang kutebarkan via email atau website tak kunjung mendapatkan jawaban. Segala harapan yang tertulis di dalam CV tersebut biasanya hanya diakhiri dengan balasan rejection letter. Seketika aku menyetujui ungkapan dunia yang mengatakan bahwa hidup itu keras. Boleh dibilang, aku berada di posisi terendah dalam hidup, alias depresi.

Saat itu, aku berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan permintaanku agar dapat diterima kerja di salah satu perusahaan digital agency. Mengapa aku memohon pada Bapaku seperti itu? Karena aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku menyerahkan tubuh, jiwa, raga, dan impianku ke dalam tangan-Nya. Aku tidak sanggup mengerjakan semua ini seorang diri. Saat aku berserah pada-Nya, Ia mendengar keluh kesahku. Sang Bapa berbisik lewat pikiranku, dan tiba-tiba aku mengingat ayat emas dari Alkitab, yang menjadi pedomanku saat katekisasi.

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Apa saja yang kau minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Markus 11 : 24).

Iman! Itulah yang menjadi permasalahanku selama ini. Sebelum Markus 11:24 menegurku, jujur saja, aku ragu akan karya Bapa yang akan digenapkan dalam hidupku. Aku sering mengatur Tuhan agar Ia memberikan pekerjaan sesuai dengan apa yang aku inginkan, tanpa mempercayai dan mengimani kalau Tuhan akan memberikannya padaku di saat yang tepat, di waktu yang tepat. Saat itu, aku tidak ingat kalau keimananku pupus ditelan kebisingan dunia, karena terlalu banyak menghabiskan waktu di sosial media. Aku dibutakan oleh Iblis lewat quotes di media sosial, kalau hidup ini adalah milikku sendiri dan akulah yang harus mengatur hidupku akan berjalan ke arah mana. Aku tidak sadar kalau Tuhan yang rela mati di kayu salib untuk menebus dosaku adalah pemilik kehidupanku selama ini. Ia pun tidak akan meninggalkan anak-Nya berjalan sendirian.

Ada sebuah gambar yang kutemukan di explore Instagram, di mana ada seorang anak kecil yang sedang melukis sebuah tulisan PLAN bersama dengan Tuhan di sampingnya. Gambar itu memberikan kesadaran dalam diriku, kalau selama ini Tuhan bekerja dalam hidupku, dan aku sendiri memiliki tugas untuk membangun masa depanku bersama dengan-Nya. Selama ini, aku tidak melibatkan Tuhan dalam setiap rencana yang kubuat untukku dan masa depanku. Aku sungguh egois dan berpikiran sempit kala itu. Saat aku sadar akan kesalahanku selama ini, aku meminta pengampunan dari Tuhan, lalu Ia menjawabnya lewat sebuah ingatan dari kalimat yang pernah kubaca dalam sebuah buku, sebagai berikut. “Saat pertama kali main sepeda, kita pasti pernah terjatuh sehingga pengalaman saat terjatuh itulah yang membuat kita ingin terus mencoba mengayuh sepeda sampai berhasil mengendarainya.”

Tuhan mengampuni aku yang tidak beriman pada-Nya, dengan memberikan pemahaman bahwa tak apa jika kita terjatuh, sebab Ia sendiri yang akan menolong. Saat jatuh pun, Tuhan akan selalu mengulurkan tangan-Nya untuk kita. Kadang manusia memang harus terjatuh, agar ia bisa menyadari kalau tangan Tuhan senantiasa terulur untuk orang yang meminta pertolongan-Nya.

Dalam Matius 14:22-33, diceritakan bahwa Petrus yang adalah salah satu dari ke-12 murid Yesus, pernah menantang-Nya agar ia bisa berjalan di atas air, saat para murid mengira bahwa Ia adalah hantu. Pada ayat 28 tertulis, “Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia : Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Tak disangka-sangka, Tuhan Yesus malah menyuruh Petrus untuk berjalan di atas air, walaupun pada akhirnya sang murid menjadi takut dan mulai tenggelam, hingga akhirnya Tuhan Yesus mengulurkan tangan-Nya untuk menolong Petrus. Kisah ini mengingatkan aku pada diriku sendiri, saat aku menantang Tuhan untuk memberikan pekerjaan sebagai copywriter itu padaku.

Saat aku mengerti apa yang diinginkan Tuhan dalam hidupku, segalanya terasa lebih mudah. Aku jadi banyak mengucap syukur atas berkat yang Ia berikan, dan saat aku mempertaruhkan masa depan pekerjaanku kepada-Nya dengan jaminan akan menulis kesaksian tentang kebaikan-Nya, Ia memberikan pekerjaan itu padaku. Tuhan mengizinkan aku untuk melayani-Nya lewat tulisanku.

Aku masih harus banyak belajar, khususnya dalam menulis, tapi aku sudah sadar kalau pekerjaan yang kulakukan bersama dengan Tuhan akan berjalan secara maksimal, saat aku melibatkan-Nya dalam tiap tulisanku.

“Allah sanggup melakukan segala perkara. Dulu, sekarang, dan selamanya kuasa-Nya tidak berubah.”

Ya Tuhan, ajar aku memiliki kepekaan untuk mengerti apa yang Kau kehendaki dalam hidupku. Tetaplah bimbing anak-Mu ini untuk terus menjalani hidup ini sampai menuju kekekalan bersama dengan Engkau, ya Bapa.

Jika Semuanya Mudah Kuraih

Oleh Jesica Rundupadang

Beberapa minggu terakhir ini, aku kadang berbicara dengan diriku sendiri. Aku kembali memikirkan segala sesuatu yang telah lewat. Aku berandai-andai… “Jika saja…”

“Jika saja, aku betul-betul mempergunakan waktu yang ada sebaik mungkin.”

“Jika saja, aku aku tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang terbuka lebar.”

“Tapi, jika saja aku tidak melewati proses ini.”

Ada begitu banyak pertanyaan di dalam benakku, tapi aku bersyukur dapat memikirkan hal ini bahkan di saat-saat aku juga senantiasa menanti dan berharap. Begitu banyak momen yang telah terlewat dan aku semakin hari semakin menaruh pengharapanku pada Kristus Yesus.

Jika seandainya saja aku langsung bisa mendapatkan pekerjaan yang kuinginkan setelah lulus kuliah. Aku berpikir jika semua berjalan mudah, kemungkinan besar aku akan sombong dengan membangga-banggakan diriku sendiri. Aku merasa aku dapat mencapai apa yang kumau. Karena jujur saja, setelah lulus SMP dan ingin masuk ke SMA favorit di kotaku, aku diterima dan yang tidak lulus terpaksa harus pergi mendaftar ke sekolah lain. Selepas itu, aku mendaftar di salah satu perguruan tinggi negeri, dan aku pun diterima jalur SBMPTN. Aku memudahkan segala hal, mengatakan dalam hati bahwa aku bisa mencapai semuanya bahkan tanpa usaha yang keras sekalipun.

Namun, kurasa Tuhan menegurku lewat proses yang kujalani saat ini. Aku yang awalnya berpikir mencari pekerjaan adalah hal yang mudah, semudah setiap penerimaan yang kudapat, ternyata tidak. Setelah lewat 1 tahun lebih, aku baru mendapatkan pekerjaan sebagai tenaga kontrak di sebuah instansi pemerintah dan pernah hampir menjadi karyawan pada sebuah perusahaan di Kalimantan, namun karena aku bersikeras tidak mau melanjutkan akhirnya aku pulang ke kotaku.

Dalam benakku, aku harus bisa mencari pekerjaan tanpa bantuan orang lain. Aku harus mandiri. Saat itulah, rekrutmen CPNS terbuka dan aku belajar dengan sungguh dan lolos hingga tahap SKB, meskipun rencana Tuhan berbeda dengan yang kuingini.

Sedih ada. Tapi diberi kesempatan sejauh itu, aku sangat bersyukur.

Di hari-hari penantian dan juga mencari pekerjaan, aku kembali mengenang masa-masa yang lampau. Jika saja Tuhan selalu meloloskanku untuk memenuhi keinginanku, aku tidak akan paham akan rasanya berjuang dengan sebaik mungkin, aku tidak akan paham akan rasanya penolakan, aku tidak akan paham akan rasanya kekecewaan. Karena dari rasa-rasa pahit inilah aku belajar untuk lebih berusaha dan sungguh menaruh pengharapan hanya kepada Yesus.

Meskipun saat ini aku belum mengerti akan sesuatu di balik ini semua. Satu yang kupercaya, tangan Tuhan yang membawaku sejauh ini, tidak akan meninggalkanku. Bahkan saat rasa khawatir mulai datang, ada bisikan dalam hatiku… “Tenang, semua indah pada waktu-Nya.”

Di tengah-tengah penantianku, aku tetap menyuarakan kepada kalian semua yang mungkin ada dalam masalah yang sama untuk terus berpegang teguh pada Tuhan. Aku juga ingin membagikan ayat firman yang tetap menguatkan, kiranya ini pun dapat menguatkan kalian.

Di balik setiap air matamu, Tuhan terus memprosesmu. Mungkin sekarang kamu hanya seekor ulat, besok akan jadi kupu-kupu. Setiap orang punya proses berbeda. Berhenti membandingkan dirimu dengan pencapaian orang lain.

Matius 6:26: “Lihatlah burung di udara. Mereka tidak menanam, tidak menuai, dan tidak juga mengumpulkan hasil tanamannya di dalam lumbung. Meskipun begitu Bapamu yang di surga memelihara mereka! Bukankah kalian jauh lebih berharga daripada burung?”

Kulihat Betapa Baiknya Tuhan Melalui Sakitnya Papaku

Oleh Agustinus Ryanto

Tahun 2022 tak pernah kubayangkan akan semengerikan ini. Setelah serangkaian kejadian yang memahitkan hati, di akhir Maret kudapati telepon mendadak di tengah malam yang mengabariku kalau papaku yang bertubuh prima tanpa ada riwayat sakit apa pun kini tergolek tak berdaya, di batas antara hidup dan maut. Dia dilarikan ke ICU setelah kecelakaan tiga hari sebelumnya. Nyawanya ditopang oleh deru ventilator dan alat monitor jantung.

Telepon itu kuterima jam sebelas malam. Sudah tak ada lagi kendaraan antarkota yang bisa membawaku pulang ke. Sembari menunggu bus pertama yang akan berangkat jam lima subuh, pikiranku kacau. Tak menyangka apabila peristiwa yang musababnya terdengar konyol bisa menghancurkan hidup papaku. Kisah nahas ini bermula saat papaku beserta istri dan anaknya yang lain tengah berjalan-jalan di kompleks perumahan. Karena melihat ular, dia melompat dan terperosok ke selokan sedalam kira-kira tiga meter. Bonggol sendi yang menghubungkan tulang paha dan pinggangnya patah. Setelah serangkaian pengobatan non-medis yang dilakukan, keadaannya terus memburuk sehingga dia pun dilarikan ke ICU. Patah tulang itu turut membangkitkan penyakit lain dalam tubuhnya. Dia didiagnosis Pneumonia dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), komplikasi pada paru-paru yang diakibatkan paparan asap rokok dan polusi, juga infeksi pada ususnya.

Dua belas malam kuhabiskan menemaninya di tepi ranjang. Banyak orang datang memberiku penghiburan dan dukungan, tetapi itu tak menghilangkan rasa heran dalam benakku.

Papaku bukanlah orang yang dekat dengan Tuhan. Di balik tubuh tegapnya, dia memang seorang perokok berat yang bisa menghabiskan tiga bungkus rokok dalam sehari. Keluarga kami pun retak setelah keputusan papa untuk meninggalkan kami dan membangun hidup barunya bersama orang lain. Beberapa orang yang dulu pernah disakiti olehnya menyebut bahwa sakit ini adalah karma atas tindakan papa, tetapi hatiku menolak konsep itu.

Sungguhkah Tuhan menghukum papa dengan intensi untuk membalaskan dendam?

Cara pemulihan yang tak terbayangkan

Hingga hari ini, papaku masih tergolek lemah tak berdaya. Kondisi fisiknya yang telah membaik, kembali memburuk. Namun, pengalamanku selama 12 hari berada di sisinya memberiku sebuah pemahaman baru tentang apa itu pemulihan yang sejati, yang datangnya dari Sang Ilahi.

Dunia memaknai konsep pulih berdasarkan ekspektasi manusia. Yang rusak menjadi utuh. Yang hilang menjadi ditemukan. Yang sakit menjadi sembuh. Pemulihan yang setiap kita harapkan adalah sebuah keadaan yang secara kasat mata berbalik 180 derajat. Tetapi, tak selalu pemulihan itu memberikan hasil yang demikian. Alkitab mencatat akan kisah Lazarus yang sakit hingga ia pun meninggal.

Kabar sakitnya Lazarus telah disampaikan oleh Maria dan Marta. Mereka berseru, “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” (Yohanes 11:3). Kita bisa menerka bagaimana perasaan kedua wanita tersebut menghadapi saudara mereka yang kesakitan. Mungkin mereka panik, gusar, dan berharap agar mukjizat kesembuhan segera dinyatakan oleh Yesus. Ketika mendengar kabar itu, Yesus pun merespons. Kata-Nya, “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan” (ayat 4). Alih-alih segera berangkat, Yesus malah sengaja tinggal dua hari lebih lama, dan ketika Dia tiba, Lazarus telah terbaring empat hari lamanya dalam kubur. Maria dan Marta mengungkapkan rasa sedih dan kecewanya pada Yesus dengan berkata, “Tuhan sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (ayat 21&32).

Yesus mengerti dukacita yang Maria dan Marta alami sehingga Dia pun turut menangis (ayat 35). Syahdan, mukjizat pun terjadi. Oleh kuasa-Nya, Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian. Kita tidak tahu bagaimana respons Maria dan Marta terhadap kebangkitan saudaranya itu sebab Alkitab tidak mencatat lebih detail. Tetapi, kebenaran yang kupetik dari kisah Lazarus ini begitu menguatkan hatiku.

Betapa Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri yang tak mampu kita jelaskan dengan jalan pikiran kita. Pemulihan yang sejati, yang datang dari Tuhan bukanlah membalikkan keadaan agar sesuai dengan harapan dan kehendak kita, tetapi agar Allah dimuliakan dan kemuliaan-Nya itulah yang akan membawa orang-orang percaya kepada Dia yang diutus Bapa (ayat 42). Ada kalanya cara pemulihan-Nya membuat kita tak percaya. Mungkin Tuhan mengizinkan sakit berat, kehilangan, atau dukacita terjadi, tetapi jika itu adalah kehendak-Nya, maka biarlah itu terjadi, sebab kita tahu bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4:16) dan segala jalan-jalan-Nya sempurna (Mzm 18:31). Bukan untuk membawa kecelakaan bagi kita, tetapi untuk mendatangkan kebaikan. Bukan sebagai karma dan hukuman agar kita menderita tak berdaya, tetapi sebagai dekapan kasih-Nya agar kita tahu bahwa di tengah dunia yang telah jatuh dalam dosa, segala hal buruk bisa menimpa, tetapi orang yang percaya dan dikasihi-Nya dipelihara-Nya selalu dalam segala musim kehidupan.

Di tengah malam, kala kuusap rambut papaku, kuajak dia berdoa dan bernyanyi. Dengan suara lemah dan tetesan air mata, dia mengikuti ucapan doaku. Dia yang menghilang jauh dari keluarga dan Tuhan Yesus, kembali mengucap lewat mulutnya bahwa Kristus adalah Juruselamat dan dia pun bersemangat untuk pulih, untuk kelak dalam tubuhnya memuliakan Tuhan.

Hingga hari ini papaku masih tergolek lemas di rumah sakit. Operasi telah dilakukan, bahkan sudah dibolehkan pulang, tetapi ada penyakit lain yang menggerogoti tubuhnya yang membuatnya kembali lagi dilarikan ke bangsal perawatan, dengan selang oksigen dan sonde yang masuk ke dalam tubuhnya.

Masa-masa ini sungguh tidak mudah, tidak hanya untuk papaku, bahkan untuk aku cerna juga. Rasanya seperti masuk ke dalam terowongan yang gelap dan aku belum bisa melihat cahaya di ujung sana. Namun satu yang aku percaya, apabila Tuhan berkenan memberikan kesembuhan saat ini juga, maka mudah bagi-Nya seperti membalikkan telapak tangan. Namun, apabila Dia mengizinkan papaku melewati proses yang lebih berat dan lama, maka aku percaya tentunya Tuhan punya maksud, dan maksud-Nya selalu baik. Jadilah kehendak-Nya di bumi seperti di surga. Hanya, kumohonkan dalam hati agar dalam segala keadaan, kami tak pernah melepaskan iman percaya kami kepada-Nya. Sebab iman itulah yang menjadikan kami hidup, dan iman itu jugalah yang kelak akan membawa kami menyaksikan kemuliaan-Nya dinyatakan bagi kami maupun semua orang yang percaya kepada-Nya.

Belajar Berserah pada Tuhan lewat Perubahan yang Terjadi di Luar Kendali

Oleh Elvira Sihotang, Balikpapan

Rifa menghitung jumlah partisipan yang sudah dikontaknya.

“Yes, ada 5!” Artinya dia sudah berhasil mencapai target harian dalam mencari partisipan penelitian untuk riset yang sedang dikerjakan kantornya.

Dialihkan lagi pandangannya pada list partisipan yang belum di kontaknya.

“1, 2, 5, 7, ini kontak besok aja, ini besoknya lagi. Aman berarti.”

Ia kemudian meneguk teh yang ada di depannya, sambil memperhatikan mobil berseliweran dari kaca yang membatasi.

Nanti profiling dari komunitas di media sosial ah, bisa banyak nih partisipan sampai riset selanjutnya,” pikir Rifa saat itu. Ia mulai mencoret-coret bukunya, dengan berbagai perhitungan yang hanya ia sendiri yang mengerti.

Namun, baru saja ia ingin terhanyut dalam rasa tenang bahwa partisipan penelitiannya sudah aman, ia dibangunkan oleh notifikasi yang kurang menyenangkan.

“Kak, maaf, jadwal saya boleh dipindah minggu depan gak ya? Saya lupa ada kuliah sore di jam 4.”

Seolah belum cukup, notifikasi lain muncul di layar ponselnya.

“Hi Rifa, sebenarnya aku ada rencana untuk keluar kota besok, jadi mau prepare dari sore ini. Kalau aku ikutnya di hari Jumat boleh?”

Rifa mendadak pusing. 5 partisipan hari ini berkurang drastis menjadi 3. Ia harus mencoba menghubungi daftar partisipan cadangan.

Kring!

Sorry mendadak Mba Rifa, hari ini kan jam 4 ya, tapi saya masih di jalan. Ban saya bocor dan ini masih di bengkel. Kemungkinan saya telat mba, mungkin baru nyampe jam 5 kurang 15 menit. Bisa gak Mba?”

Astaga! Apa-apaan nih, kok mereka seperti janjian? Walau partisipan terakhir tidak memindahkan hari, Rifa tetap saja pening dan perlu melakukan penyesuaian.

Ya Tuhan, tadi baru aja ngerasa aman, kok sekarang tiba-tiba hilang 3?

Cerita di atas adalah modifikasi dari apa yang sedang kurasakan akhir-akhir ini dalam pekerjaan. Perasaan yang cepat sekali berubah. Baru saja aku merasa senang karena mencapai target, tapi perasaan itu harus digantikan oleh rasa gelisah karena perubahan yang datang mendadak. Harusnya A jadi C, harusnya B jadi X. Lebih menyebalkannya, perubahan itu bahkan kadang terjadi dalam kurun waktu kurang dari 1 jam, sehingga aku harus cepat mempersiapkan alternatif lain.

Namun, perubahan yang terjadi cukup berulang ini dalam beberapa minggu memaksaku untuk belajar satu hal: perubahan adalah hal yang nyata, pergerakan adalah hal yang pasti.

Manusia selalu mengusahakan kestabilan dan tidak ada hal yang salah dengan itu, namun aku belajar, perubahan—yang di luar kontrol kita—bisa terjadi kapan saja, suka atau tidak suka.

Aku juga belajar untuk tidak berpuas diri pada usaha menstabilkan target, pekerjaan, atau apapun itu. Bergantung pada rasa nyaman atas usaha kita adalah hal yang sia-sia, karena kita tahu bahwa keberhasilan usaha kita pun adalah dengan seizin Tuhan.

Perasaan bangga yang melingkupiku karena merasa usahaku keren, dengan cepat berganti menjadi keluhan karena perubahan itu. Aku kembali tersadar bahwa keberhasilan mencapai target harusnya disambut dengan rendah hati karena Tuhan telah menyanggupkan kita, terlepas bahwa kita bekerja keras. Bukan berarti bangga tidak diperbolehkan, namun alangkah baiknya jika rasa bangga tersebut dilanjutkan dengan ucapan syukur.

Cerita itu bukan satu-satunya yang menjadi bahan refleksi bahwa Tuhan memegang kendali akan hidupku. Ada juga beberapa cerita lain.

Tahun lalu menjelang Desember, aku mengira bahwa 2022 akan semakin normal dengan pembatasan sana-sini yang lebih minimal, namun tiba-tiba varian baru Omicron muncul dan membuat kepusingan baru. Pembatasan sana sini tetap dilanjutkan. Munculnya varian baru ini seolah-olah menentang harapan kumpul-kumpulnya manusia pasca pandemi. Mungkin ada pelajaran lain yang tetap harus kita cari.

Di cerita lain lagi, seorang jemaat di gerejaku tiba-tiba meninggal beberapa jam sebelum ia berangkat ke luar kota. Aku tidak mengetahui jelas kronologinya, namun ia ditemukan tidak sadarkan diri di kamarnya tanpa bukti yang jelas sebelum meninggal. Padahal berdasarkan keterangan, ia tidak memiliki riwayat penyakit jantung atau penyakit lain yang berpotensi mengalami serangan mendadak. Hampir semua jemaat kaget mendengar berita kepergian seorang jemaat ini. Ia adalah seorang pelayan Tuhan di gereja, memiliki keteladanan yang baik lewat keluarganya yang harmonis dan sifat suka membantu jemaat yang sedang dalam kesulitan.

Peristiwa ini masih membuatku suka menggumam “Kok bisa ya?” ketika aku sedang merenung. Aku tidak bisa menemukan jawabannya melainkan meyakini bahwa perubahan itu dekat dengan kita, dan mengajarkanku lagi bahwa kejadian-kejadian ini telah diatur oleh Tuhan dan kehidupan ini dikendalikan Tuhan. Jika sehelai rambut jatuh saja terjadi dengan seizin Tuhan, apalagi perkara besar tentang keinginan dan anganmu? Tentu Tuhan akan memperhatikannya satu per satu.

Hampir melewati 2 bulan di 2022, aku hanya ingin mengatakan bahwa apapun bisa terjadi jika Tuhan menginginkan dan semoga kita bisa sebaik-baiknya mengerti bahwa kita bisa mengusahakan yang terbaik dan berdoa agar Tuhan pun berkenan atas usaha kita.

Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana (Amsal 19:21).

Tuhan Buka Jalan, di Saat Tiada Jalan

Oleh Angel Latuheru, Ambon

Penderitaan menyadarkan manusia bahwa dirinya rapuh, oleh karena itu kita membutuhkan kehadiran sosok Ilahi. Ada suatu momen penderitaan yang mengubah caraku memaknai imanku. Kejadian ini berlangsung pada tahun 2019.

Di awal tahun itu, aku sedang menyelesaikan studi S-2 di universitas swasta di Jawa Tengah. Kampus mewajibkanku melunasi pembayaran uang kuliah paling lambat tanggal 7 Januari 2019. Namun, tak disangka-sangka, cobaan datang tanpa pemberitahuan lebih dulu. Tepat di tanggal 1 Januari 2019, ibuku dilarikan ke rumah sakit di tengah kondisi finansial keluarga yang sedang kacau balau. Untuk memenuhi kebutuhan bulanan saja sudah sulit, sekarang ditambah harus masuk rumah sakit.

Ibuku didiagnosis menderita pneumonia yang mengakibatkan batuk dan sesak napas. Setelah serangkaian pemeriksaan, paru-paru beliau harus segera ditangani menggunakan metode Thoracentesis, yakni penyedotan cairan yang menumpuk di dalam rongga pleura paru-paru.

Beberapa orang anggota keluarga mulai meneleponku. Mereka mengabari kondisi kesehatan ibu, sesekali juga menekankan bahwa biaya rumah sakit terlalu besar, sehingga aku harus mengambil cuti kuliah. Aku tahu betul bahwa tabungan orang tuaku telah terkuras habis. Semenjak ayah pensiun, uang tabungan banyak terkuras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai pendidikan anak-anak. Kalau saja orang tuaku memiliki tabungan saat itu, tentunya aku lebih memilih uang tersebut dipakai untuk kebutuhan berobat ibu dibandingkan kebutuhan kuliahku. Jika kuliah terhenti masih boleh dilanjutkan, tetapi kondisi kesehatan yang memburuk dapat berakhir kehilangan nyawa. “Pasrah” ialah satu-satunya kata yang terlintas dibenak saat itu.

“Jika Tuhan sudah menempatkanku di garis start, maka Tuhan pasti akan menyertai hingga titik finish,” gumamku di dalam hati.

Aku mengimani apa yang Paulus tuliskan dalam 1 Korintus 15:58: “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”. Semua jerih lelah tidak akan luput dari pandangan Tuhan. Mungkin perjalanan hidup mempertemukanku dengan awan hitam, bahkan badai, tetapi aku beriman pada waktu-Nya badai akan berlalu dan awan hitam akan digantikan pelangi di langit yang cerah.

Hari-hari terasa sulit dijalani ketika mengetahui kondisi ibu yang sakit dan aku harus memahami bahwa kuliahku akan terhenti pada semester akhir. Padahal jika aku mengambil cuti kuliah, maka kedepannya orang tuaku harus mengeluarkan biaya kuliah yang lebih besar agar aku dapat menyelesaikan studi S-2.

Dalam kondisi yang sedang merenung di kamar kos berukuran 3×3, tiba-tiba saja aku menerima telepon dari ibuku, yang kuberi nama kontak sebagai “Ibu Negara”. Beliau berkata:

“Nona, kuliahnya bagaimana? Kapan harus bayar uang kuliah?”

“Sudah harus dibayar Ma, terakhir tanggal 7, tapi nanti kakak ambil cuti kuliah aja. Kan mama lagi sakit pasti butuh biaya yang banyak.”

Mendengar jawabanku, beliau terdiam sejenak dan berkata:

“Nona tidak boleh berhenti kuliah. Pokoknya mama akan usahakan untuk mengirim uang kuliah sebelum tanggal 7.”

Ketika beliau berkata seperti itu, terdengar suara lantang di sebelahnya berkata; “Dari mana mau dapat uang buat bayar kuliah, mau nyuri? Buat berobat aja ini kita ngga punya uang. Jangan maksain keadaan!”

Mendengar kalimat tersebut ibuku hanya terdiam. Setelah pembicaraan berakhir, tangisku tidak bisa lagi dibendung. Aku tidak dapat menyangka, ibuku tetap mengkhawatirkan pendidikan anaknya dibandingkan kondisi kesehatannya sendiri. Ibuku melakukan hal yang bertolak belakang dengan banyak orang saat itu. Ketika mayoritas anggota keluarga menghantarku ke tepian untuk mengorbankan pendidikanku, ibuku dalam sakit yang dideritanya tetap mempercayai bahwa Tuhan akan membantu tepat pada waktu-Nya dan aku tetap harus melanjutkan studiku.

Saat itu pelarianku hanyalah doa, dengan percaya bahwa “God’s plan is always the best plan”. Terpatri benar di dalam ingatan saat itu, firman yang kubaca sebelum berdoa ialah Yesaya 55: 6-13, di kemudian hari ayat ini sering aku pakai ketika melakukan pelayanan. “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” (Yesaya 55:8) Dari ayat inilah keyakinan, kepercayaan, dan pengharapan itu kembali datang. Aku mulai mengerti bahwa seberat apapun penderitaan hidup yang sedang dialami, aku harus tetap setia untuk mempercayakan hidup ini kepada Tuhan.

Tanggal 5 Januari 2019, pukul 08.00 WIB aku berencana untuk pergi ke kampus menanyakan persyaratan untuk mengurus cuti kuliah. Aku bergegas pagi-pagi karena pada hari Sabtu kantor administrasi kampus hanya buka hingga pukul 12.00 WIB. Saat hendak berangkat sekitar jam 07.30 WIB yang artinya waktu Indonesia timur menunjukkan pukul 09.30 ibu meneleponku untuk memberitahukan bahwa beliau akan segera menjalani prosedur medis dan uang kuliahku sudah ditransfer. Ternyata seorang saudara dekat membantu secara diam-diam. Tanpa pikir panjang “orang baik” tersebut bersedia membantu menanggung biaya rumah sakit dan biaya kuliahku. Beliau membantu tanpa membicarakan kepada seorangpun tentang apa yang telah beliau lakukan.

Tiba-tiba saja dalam kesulitan yang sedang keluargaku hadapi, dan saat aku berpikir tidak ada lagi kemungkinan untuk mengikuti semester akhir, Tuhan menunjukkan kuasa tepat pada waktu-Nya. Iman ibuku menyelamatkannya dan masa depanku. Iman ibuku menyadarkan aku bahwa seberat apapun cobaan hidup yang dihadapi, pengharapan kepada Tuhan tidak boleh sirna.

Hampir tidak ada sepatah katapun yang dapat keluar dari mulutku, karena rasa syukur atas kebaikan Tuhan. Sedari saat itu hingga tahun 2022 ini, aku dan keluarga selalu mengingat bahwa kami pernah melalui awal tahun yang berat bersama Tuhan. Awal tahun yang memberi kami kekuatan iman untuk menghadapi penderitaan lainnya di kemudian hari.

Beriman Sedalam Lirik Lagu “Tersembunyi Ujung Jalan”

Oleh Abyasat Tandirura, Toraja

Di bawah terik matahari yang menyengat, aku berlari-lari kecil memasuki halaman lokasi tes di kantor regional BKN pada 27 September 2021 yang lalu.

Seperti ayunan langkahku, aku pun sedang berlari-lari pada sebuah mimpi dan harapanku untuk menjadi seorang abdi negara kelak melalui Sistem Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara tahun anggaran 2021.

Aku masih ingat betapa bersemangatnya aku untuk mengikuti perhelatan akbar skala nasional tersebut. Melewati serangkaian proses yang tidak mudah, semangatku tidak berkurang. Aku sungguh antusias mempersiapkan sejumlah berkas hingga sukses submit pada tahap pendaftaran. Bahkan, aku masih menyempatkan waktu membantu kawan-kawanku yang kesulitan dalam proses pendaftaran.

Aku sungguh bersyukur, sebab setelah tiga kali mendaftar pada tahun yang berbeda, barulah tahun ini aku dinyatakan lolos seleksi administrasi oleh Panselnas SSCASN 2021. Dengan demikian, aku berhak melanjutkan langkah juangku ke tahap seleksi kemampuan dasar.

Kuakui, berjuang untuk menjadi seorang abdi negara tidaklah semudah membalik telapak tangan. Bagiku, tidak cukup hanya memiliki pengetahuan yang mumpuni tetapi juga yang paling perlu dimiliki adalah keteguhan iman.

Mengapa aku menyebut keteguhan iman? Sebab dengan iman, kita dimampukan untuk sungguh-sungguh berjuang dengan baik pada jalur yang benar. Melalui iman kita didorong untuk berserah penuh kepada Tuhan, bahwa berhasil atau gagal dalam perjuangan, Tuhanlah yang menetapkan rancangan terbaik bagi kita. Dengan teguh beriman dalam setiap perjuangan akan menolong kita sebagai orang percaya tetap berpengharapan pada segala sesuatu yang masih misteri dan tersembunyi bagi kita.

Hal itu senada dengan sebuah nas yang berkata:

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1).

Berangkat dari pemahamanku itu, aku pun melandasi perjuanganku dengan keteguhan iman dan harapan bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagiku. Aku melakukan sejumlah persiapan menghadapi tes seperti belajar mandiri, latihan soal-soal, hingga mengikuti tryout online yang diselenggarakan oleh lembaga bimbingan terkait.

***

Betapa Tuhan sangat baik bagiku. Ia telah membuka pintu bagiku sehingga aku dapat berjuang mewujudkan mimpiku. Namun, apa yang kuharapkan tidak seperti yang terjadi. Sesaat setelah durasi waktu tes selesai, mataku tak berkedip sekian detik menatap nilai tesku yang terpampang di layar laptop. Hasil tersebut menunjukkan kalau aku gagal memenuhi passing grade sebagaimana yang telah ditetapkan dalam keputusan menteri PANRB nomor 1023 tahun 2021.

Saat hendak meninggalkan lokasi tes aku duduk sejenak merenung-renung. Aku yang antusias berjuang dan bersemangat mengerjakan 110 soal di ruang CAT dengan durasi waktu 100 menit, demi mempertaruhkan harapan dari orang tuaku, keluargaku dan teman-temanku untuk lolos, kini tinggal kenangan belaka.

Harapan yang ditumpukan ke atas pundakku runtuh seketika. Tulang-tulangku lemas tak berdaya, hatiku remuk redam mengingat hasil perjuanganku itu. Akan tetapi, di saat itulah lagu “Tersembunyi Ujung Jalan” berkumandang dari relung hatiku yang terdalam. Bahagia merekah menghangatkan kembali hatiku yang dingin.

“Ya, aku memang gagal sebagai pejuang NIP, tapi aku lega sudah berjuang dengan baik pada jalur yang benar, dan melewati sejumlah tahap-tahap sesuai prosedur,’’ kataku menguatkan hatiku.

Pengumuman resmi hasil SKD 13 November 2021 kemarin, mengesahkan kegagalanku. Dengan demikian, secara otomatis langkah juangku untuk menjadi calon ASN terhenti seketika. Aku tidak berhak lagi mengikuti tes kompetensi bidang.

Kegagalan ini bukanlah kegagalan pertama dalam perjalanan hidupku sejauh ini. Di tahun-tahun hidupku yang sudah berlalu, aku pun telah mengecap pahit getirnya kegagalan, seperti yang pernah kutuliskan 4 tahun silam di website ini.

Meskipun kegagalan kerap menghampiriku, aku tetap yakin sepenuhnya bahwa Tuhan tidaklah gagal mengantarku pada rencana-Nya yang terbaik bagi masa depanku, sebagaimana janji-Nya bagiku yakni rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan (Yeremia 29:11).

Aku sadar, ternyata kegagalan yang telah kulewati sebelumnya kini membuatku kuat dan teguh menghadapi kegagalan masa kini. Lebih dari itu, aku sungguh percaya dan meyakini bahwa di balik kegagalanku ini, Tuhan mempersiapkan sesuatu yang indah bagiku.

Seperti judul tulisanku ini “Beriman sedalam Lirik Lagu Tersembunyi Ujung Jalan”, sejujurnya lagu dari Kidung Jemaat 416 (bait 1) tersebut, tidak hanya sekadar mengiringi langkah-langkah juangku, tetapi juga saat tulisan ini kutulis, lagu ini pun telah menghiburku.

Walau aku belum tahu akan seperti apa kisah hidupku di masa menjelang pun masa depanku, dengan iman aku merenungkan dengan sungguh lirik-lirik lagu tersebut.

Tersembunyi ujung jalan
Hampir atau masih jauh
Ku dibimbing tangan Tuhan ke negeri yang tak kutahu
Bapa ajar aku ikut apa juga maksud-Mu
Tak bersangsi atau takut beriman tetap teguh

Dari lirik-lirik lagu tersebut, pada akhirnya aku menemukan satu hal ini bahwa kisah hidup kita adalah sebuah perjalanan yang tidak diketahui bagaimana ending-nya. Hal-hal yang kita cita-citakan dan harapkan masih tersembunyi di ujung penantian. Namun, kabar baiknya adalah: selagi kita tetap bersama Tuhan dengan iman yang teguh dalam setiap cita-cita dan harapan kita, maka semuanya akan baik-baik saja. Dan, sesungguhnya kisah hidup kita sepenuhnya ada dalam kendali Tuhan.

Sekalipun mata jasmani kita tidak mampu untuk melihat masa depan terbaik yang Tuhan rancangkan bagi aku dan kamu, biarlah mata rohani kita dipertajam oleh Roh Kudus untuk memandangnya dalam perspektif iman kita sebagai umat yang percaya kepada Yesus Kristus.

Seperti lirik-lirik lagu Tersembunyi Ujung Jalan, aku telah berjuang dengan peluh namun penantianku masih jauh ibarat ujung jalan yang masih tersembunyi bagiku. Akan tetapi, dengan iman yang teguh aku mau berkata “Tuhan, ke mana saja Engkau membawaku aku akan ikut serta, walau terkadang jalan-Mu tidaklah mudah. Dan, aku tahu bahwa sebuah rancangan-Mu pun jauh lebih baik dari seribu keinginanku.

Kini, hatiku melimpah dengan syukur mengetahui betapa penyertaan Tuhan sempurna bagiku melewati kisah perjuanganku itu. Sembari berdoa memohon kekuatan dan iman yang teguh agar tetap kuat melewati setiap kegagalan, teman-temanku dan keluargaku pun membantu memulihkan suasana hatiku dengan memberiku semangat. Aku pun mendapat kekuatan yang baru. semangat dari dalam diriku tumbuh kembali, sehingga aku tetap bekerja seperti sedia kala.

Kepada semua teman-temanku yang juga mengalami hal serupa denganku, janganlah berputus asa. Mintalah Roh Kudus menguatkan hatimu dan meneguhkan imanmu agar kamu bisa melihat dengan mata iman bahwa sesungguhnya di ujung penantian kita, telah tersedia masa depan yang penuh harapan, terlebih pada sebuah janji hidup kekal bersama-Nya kelak (I Yohanes 2 : 25 )

Selamat berjuang dengan penuh iman kepada kawan–kawan yang berhasil melaju ke tahap tes kompetensi bidang, Tuhan Yesus menyertai perjuanganmu dan semoga kelak menjadi saksi atas kebaikanNya bagi hidupmu.

Terpujilah Kristus.

Aku dan Seisi Rumahku Beribadah Kepada Tuhan

Sebuah cerpen oleh Meili Ainun

“Cuma 3,65? Kamu nggak bisa lebih dari itu? Kenapa harus ada nilai B?” Suara papi terdengar dingin.

Yosua menjawab papinya dengan menunduk diam.

“Bagaimana kalau ada yang tahu? Apa yang akan mereka pikirkan? Papi selalu membanggakan kamu itu akan lulus dengan nilai sempurna. Apa susahnya dapat IP 4.00?” Suara papi semakin meninggi.

Yosua semakin menundukkan kepalanya. Wajahnya pucat.

“Kamu selalu saja mengecewakan. Sudah sana, siap-siap untuk kelas Pemahaman Alkitab. Jangan sampai terlambat. Dan berpakaianlah rapi sedikit,” rasa kecewa pun tertuang dalam nada bicara papi.

Yosua melangkah perlahan menuju ke kamarnya.

“Apa salahku? Begitu pentingkah nilai itu? Kuliah kedokteran kan susah. Lagipula aku tidak ingin jadi dokter. Aku ingin jadi guru. Tetapi papi beranggapan tidak ada gunanya menjadi guru. Menjadi dokter menjaga nama baiknya,” gumam Yosua dalam hati. Dia membatin mengapa papinya begitu memaksa dia untuk meraih prestasi sempurna di bidang yang sejatinya bukanlah pilihan hatinya.

Meski begitu, Yosua tetap belajar untuk menghormati papinya. Dengan hati yang sendu, dia menyiapkan diri untuk ikut kelas PA.

“Mengapa baru datang sekarang? Sudah papi bilang jangan terlambat,” tegur papi sambil melihat jam tangannya. “Kamu tahu, untuk menjadi orang yang berhasil, kamu harus selalu tampil sempurna. Dulu orang tua papi juga mendidik papi dengan disiplin keras, sehingga papi bisa berhasil seperti sekarang. Kamu juga harus seperti itu,” lanjut papi dengan tegas.

“Maaf, papi,” jawab Yosua pelan. “Padahal masih ada 15 menit sebelum kelas dimulai,” gumamnya dalam hati.

“Konsentrasilah mendengar kelas hari ini. Minggu lalu, kamu sampai tidak bisa menjawab pertanyaan yang mudah itu. Memalukan sekali!” Suara papi terdengar kesal.

“Baik, papi. Akan kucoba,” jawab Yosua sambil melirik pada mami yang duduk di sebelahnya.

Mami tidak memperhatikan Yosua. Matanya fokus pada Alkitab yang sedang dia pegangi. Dia tampak tenggelam dalam bacaannya.

Percuma berharap pada mami. Dia tidak akan menolongku. Dia hanya sibuk dengan dirinya.

Setelah beberapa waktu setelah kelas PA pun dimulai, tiba-tiba Yosua mendengar namanya dipanggil.

“Yosua, senang melihatmu hari ini. Bagaimana pendapatmu tentang perikop yang kita baca hari ini?” tanya hamba Tuhan itu dengan antusias. Dia memajukan wajahnya ke depan layar menunggu jawaban Yosua.

Melalui pandangan matanya, papi memperingatkan Yosua untuk menjawab dengan benar.

“Tuhan telah menolak Saul menjadi raja karena ketidaktaatannya kepada Tuhan. Dan Tuhan telah memilih orang lain yaitu Daud, menjadi raja menggantikan Saul,” jawab Yosua dengan ragu. Semoga jawabanku tidak salah.

“Bagus sekali, Yosua. Pak Hartono, tentu senang sekali memiliki anak sepintar Yosua. Saya dengar dia kuliah kedokteran. Bapaknya dokter, anaknya juga. Luar biasa sekali, pak,” puji hamba Tuhan itu dengan tersenyum lebar.

Papi Yosua mengangguk-angguk dan tersenyum bangga.

Yosua hanya tersenyum tipis mendengar pujian itu. Andaikata hamba Tuhan itu tahu yang sebenarnya.

Malam itu, ketika Yosua berbaring di atas tempat tidurnya, dia membolak-balikkan tubuhnya dengan gelisah. Dia tahu dia lelah, tetapi dia tidak dapat memejamkan matanya. Selama beberapa bulan terakhir ini, Yosua hanya tidur selama 3-4 jam saja. Badannya terasa lelah dan sakit. Tetapi dia tidak pernah mengeluh kepada orang tuanya. Paling-paling mereka hanya akan menganggap aku mencari alasan untuk menghindari tanggung jawab. Mereka tidak mengerti. Mereka hanya sibuk dengan diri mereka sendiri. Tiba-tiba Yosua teringat akan sebuah botol obat yang dia temukan di lemari beberapa hari lalu. Dia mengeluarkan botol itu dari laci mejanya, dan dengan cepat dia menenggak 2 pil tidur sekaligus.

Yosua terlihat menjalani hari-harinya seperti biasa. Sibuk dengan kuliah dan kegiatan gereja. Orang tuanya selalu menekankan pentingnya untuk beribadah bersama-sama. Bahkan di ruang tamu, ada lukisan dinding yang bertuliskan ayat yang diambil dari Yosua 24:15b: Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan. Orang tuanya bahkan memberikan nama Yosua kepadanya karena terinspirasi oleh ayat itu.

Sepanjang ingatan Yosua, tiada hari yang dilewati tanpa kegiatan gereja meskipun masih dilakukan daring selama pandemi. Tanpa perlu jadwal, Yosua sudah menghafal semua kegiatan yang harus diikutinya. Kelas Pemahaman Alkitab, komsel keluarga, Persekutuan Doa, komsel remaja dimana Yosua adalah ketua remajanya, dan kelas Pemahaman Alkitab remaja. Setiap hari Sabtu, Yosua ikut kegiatan bakti sosial yang diketuai oleh maminya.Pada hari Minggu, karena gereja sudah mulai dapat dikunjungi, maka Yosua akan pergi beribadah bersama-sama kedua orang tuanya.

Pernah Yosua meminta izin untuk tidak ikut kelas Pemahaman Alkitab karena harus menyelesaikan tugas kuliah yang banyak. Papinya menjawab dengan ketus,”Salah kamu sendiri yang tidak bisa mengatur waktu dengan baik. Papi juga sibuk. Tetapi bisa mengatur waktu untuk kerja dan gereja. Kamu juga seharusnya bisa. Kamu kan tidak lebih sibuk daripada papi. Apa kata orang kalau kamu tidak ikut? Jangan pernah coba merusak image baik keluarga kita!” Sejak itu, Yosua tidak pernah lagi meminta izin sekalipun dia merasa lelah atau tidak enak badan.

Yosua sering mendengar orang-orang memuji keluarganya. “Wah…hebat sekali. Tentu membanggakan memiliki anak yang kuliah kedokteran seperti Yosua. Satu-satunya keluarga dokter di gereja kita.”

“Keluarga teladan. Selalu ada di setiap kegiatan gereja. Tidak pernah absen sekalipun.”

“Sungguh keluarga harmonis. Tidak pernah bertengkar. Selalu akur setiap waktu. Mengagumkan sekali.”

Bahkan para hamba Tuhan di gereja juga ikut berkomentar. “Luar biasa keluarga Yosua itu. Itu baru namanya keluarga yang menyembah Tuhan. Setiap keluarga harus belajar dari keluarga Yosua.”

“Nama gereja kita mulai dikenal masyarakat sejak istrimu aktif dalam kegiatan bakti sosial. Banyak orang tertolong. Apalagi pak Hartono ikut memberikan pelayanan kesehatan gratis. Tanpa keluarga bapak, gereja kita tidak bisa seperti sekarang.”

Pujian-pujian itu tidak hanya dikatakan orang-orang di gereja, tetapi juga oleh teman-teman maupun kerabat orang tuanya. Bahkan sosial media mereka pun dibanjiri pujian seperti itu.

Apakah pentingnya pujian itu? Andai mereka tahu yang sebenarnya. Yosua tertawa sinis. Papi sendiri tidak pernah terlihat berdoa atau membaca Alkitab. Mami membaca Alkitab tetapi tidak mengerti apa-apa. Papi menyuruhnya maka dia harus ikuti. Segala sesuatu di rumah ini harus ikut perkataan papi. Tidak boleh ada yang membantah. Untuk apa hidup seperti ini? Semua orang mengatakan kami adalah keluarga Kristen yang menyembah Tuhan. Apakah orang yang hidupnya menyembah Tuhan itu seperti papi? Munafik. Apakah Tuhan juga seperti papi? Apakah Dia sungguh ada? Kalau Dia ada, mengapa Dia tidak menolongku? Kegelisahan itu kembali menghampiri Yosua. Dia meraih botol obat yang ada di mejanya, dan kali ini dia menelan lebih banyak pil lebih dari seharusnya.

***

Ruangan tunggu rumah sakit terasa dingin dan sunyi. Papi dan mami Yosua duduk di salah satu pojok. Bahu mereka merosot turun. Rasa tidak percaya terpancar di wajah keduanya. Kenyataan bahwa Yosua mencoba membunuh dirinya tidak pernah terbayang dalam benak keduanya.

“Selamat malam, pak dan bu Hartono.” Tiba-tiba terdengar suara yang menyapa keduanya.

Orang tersebut mengulurkan tangannya. “Saya mendengar apa yang terjadi. Saya ikut prihatin dengan kondisi Yosua.”

“Oh…pak Kristanto. Selamat malam,” jawab papi dengan kikuk. “Iya…kami…tidak menyangka sama sekali. Kami berpikir selama ini Yosua dalam keadaan baik. Dia mengikuti semua kegiatan dengan baik. Tidak pernah terpikir oleh kami. Kami…kami…tidak mengerti. Apa salah kami? Kami mengikuti kegiatan gereja setiap hari. Tidak pernah kami absen sekalipun. Kami bahkan tidak pergi berlibur. Kami memberikan persembahan. Kami sekeluarga beribadah kepada Tuhan. Mengapa ini terjadi pada kami?” keluh papi.

Penatua gereja yang dipanggil pak Kristanto itu menepuk-nepuk pundak papi. “Iya, semua ini terjadi di luar dugaan kita ya. Kita berpikir kita sudah melakukan yang terbaik bagi keluarga kita, bahkan juga telah menjadi contoh buat mereka. Tapi ternyata…apa yang kita pikir belum tentu seperti yang terlihat ya, pak.”

Papi terdiam sejenak. Wajahnya tampak serius. “Saya…saya tidak pernah berpikir seperti itu. Saya berpikir selama ini kami sudah setia beribadah kepada Tuhan. Tetapi…ya benar. Kalau dipikir-pikir, saya rasa saya belum contoh yang baik bagi Yosua. Saya…saya…bahkan jarang sekali berdoa dan membaca Alkitab. Mungkin yang saya lakukan selama ini hanyalah kegiatan saja. Saya…saya… tidak punya relasi dengan Tuhan.”

Pak Kristanto tersenyum hangat. “Selalu ada kesempatan untuk berubah. Tuhan selalu menunggu kita untuk bertobat.”

Papi menganggukkan kepalanya dengan perlahan. “Terima kasih, pak. Saya akan berbicara kepada Yosua. Saya perlu meminta maaf kepadanya. Saya sadar selama ini kami belum sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan. Kami akan mencoba mulai dari awal lagi.”

Terjatuh di Tempat Aku Membangun

Oleh Agustinus Ryanto 

Di suatu pelatihan yang pernah kuikuti, pembicaranya bilang begini, “Jangan bandingkan diri kita dengan orang lain, bandingkanlah dengan diri kita sendiri versi kemarin.”

Wow. Kutipan itu segera kucatat di HP, juga di pikiran. Benar, gumamku. Memang kalau membandingkan diri dengan orang lain ya nggak akan ada habisnya toh.

Sehari, seminggu, sebulan, dua bulan, kutipan yang kupupuk di otak ini bekerja efektif. Ia membuat hari-hari kerjaku yang monoton terasa berwarna. Aku merasa diriku versi hari ini sudah mengalami banyak kemajuan dibanding yang dulu.

Sampai tibalah di bulan Agustus, pada momen ketika orang tuaku sakit. Mau tak mau, aku harus pulang untuk merawat mereka. Kupulanglah ke rumah dengan naik motor, supaya sampai di kota asalku, aku bisa mudah wira-wiri.

Aku telah bekerja lima tahun pada sebuah lembaga nirlaba yang aku cintai. Meskipun aku tak terlalu suka dengan rutinitas kerjaanku yang monoton—kebanyakan duduk di depan laptop, kesepian hampir di sepanjang hari, tapi aku tahu apa yang kulakukan memberi dampak bagi orang lain, kendati dampaknya memang tak kasat mata dan tak langsung. Oleh karena itulah, aku memutuskan bertahan dan mengembangkan diri di tempat ini saban tahun berganti. Singkat kata, aku percaya bahwa inilah jalan yang memang saat ini perlu aku tempuh.

Seminggu setelah urusan mengurus orang tuaku rampung, datanglah sebuah pesan yang ditujukan buatku.

Pesan ini kubaca pelan-pelan. Narasinya lembut, tetapi aku bingung akan intensinya. Apakah itu bertujuan untuk memotivasiku atau menggugat apa yang sedang kukerjakan sekarang. 

Konotasi yang kutangkap dari teks-teks itu adalah bahwa aku seorang yang egois, yang hanya mementingkan diri sendiri. Usiaku tahun ini 27 tahun, tidakkah aku terpikir untuk memiliki karir yang lebih menghasilkan secara finansial? Tidakkah aku ingin berbakti lebih pada orang tuaku? Aku tahu pesan itu muncul sebagai respons atas caraku menangani orang tuaku yang sakit. Karena tak punya mobil, aku membawa ayahku ke rumah sakit dengan menaiki taksi daring, sementara ibuku pergi ke laboratorium rontgen dengan naik motor. Cara ini dianggapnya tak elok bagiku yang sudah lulus sarjana, yang seharusnya mendapatkan sesuatu yang lebih bonafide. Tetapi, dalam hati aku membela diri, aku tak sanggup melakukan itu semua. Terlalu banyak faktor yang saling berkelindan yang membuatku sendiri kadang bertanya-tanya mengapa aku terlahir di keluarga ini—terpecah oleh perceraian yang diteruskan turun-temurun sejak buyut, utang dari bank, kepahitan, kekerasan rumah tangga, dan lainnya, yang memikirkannya membuatku semaput. 

Dadaku seperti tertikam. Jari-jemariku kelu. 

Aku tak ingin memantik keributan, tapi ingin sekali membalas pesan itu dengan membela diri. Lagipula, kepada sang pengirim pesan, aku tak pernah dibiayai hidup olehnya, sehingga apa gerangan dia mengomentari jalan karirku. Tapi, kutenangkan diriku. HP kumatikan dan aku berdiam. Setelah tenang, kubalaslah pesan itu dengan sopan. Kuucapkan terima kasih atas intensi baiknya memikirkanku, sembari kuluruskan keadaannya mengapa setelah lima tahun bekerja aku belum mampu membeli kendaraan roda empat ataupun rumah. 

Namun, hari-hariku setelahnya tak lagi sama. Pesan yang dikirim sore itu menghancurkan kepercayaan diriku. 

Setiap hari, aku dihantui imaji akan kegagalan. Aku menghukum diriku dengan merasa aku seorang yang melarat, bodoh, tak mampu membayar bakti pada orang tua dengan memberi mereka kenyamanan ragawi. Perasaan gagal itu semakin menjadi-jadi ketika Instagram yang sedianya kujadikan wadah untuk mengekspresikan jiwa petualanganku seolah berubah jadi arena pamer dari teman-temanku, yang menumpukkan bara panas ke atas kepalaku. Lihat tuh, si dia udah tinggi jabatannya. Aduh, keren banget ya dia udah bisa beli rumah, beli mobil. Duh, dia ajak orang tuanya liburan ke sana sini. Lalu aku membandingkannya dengan diriku sendiri. Kubandingkan yang telah punya mobil denganku yang cuma ada motor. Kubandingkan yang telah menikah dan punya rumah enak denganku yang masih LDR beda kota dengan baik bus malam. 

Bak diberondong peluru, akhirnya aku tumbang. Pahitlah hatiku, patahlah semangatku, sakitlah badanku. Menatap layar laptop yang biasanya kulakukan dengan tatapan tajam kini menjadi sayu. Langkahku gontai. Agar kepahitan ini tak semakin menjadi, kuputuskan untuk memutus kontakku dengan dunia maya sejenak. Aku keluar dari Instagram, dan selama tiga minggu hanya berkomunikasi menggunakan WhatsApp saja. 

Menolong? Agak. Menyembuhkan? Tidak. 

Perasaan gagal itu muncul sejatinya bukan karena aku secara de facto telah gagal dalam pertempuran hidup. Tetapi, karena aku membangun harga diriku pada tempat yang tidak teguh, pada tempat yang value-nya berubah-ubah seiring waktu: yakni apa kata orang. Aku tidak menampik bahwa kita ingin selalu tampil berhasil di depan orang, dan cenderung menutupi kerapuhan kita. Tetapi, keberhasilan seperti apakah yang sebenarnya patut disebut berhasil? Indikatornya tentu berbeda-beda. Bagi seorang yang hidup dalam kepahitan sejak kecil, mungkin keberhasilan terbesar baginya adalah ketika dia mampu membuka pintu maaf dan mengizinkan damai dari pengampunan mengisi hari-harinya. Bagi seorang yang telah gagal dalam hubungan asmara, mungkin keberhasilan terbesar baginya adalah ketika dia mampu membangun relasi yang teguh dan utuh di tengah segala kendala yang merintanginya. 

Abraham Maslow mencetuskan teori piramida kebutuhan, dengan kebutuhan fisiologis ada di dasar dan kebutuhan aktualisasi diri di puncak piramida. Teori ini bilang kalau setelah satu tingkatan kebutuhan dipenuhi, manusia akan mulai memenuhi kebutuhan lainnya. Kebutuhan aktualisasi diri letaknya ada di puncak, tidak ada lagi kebutuhan di atasnya yang perlu dipenuhi. Ini berarti, menurutku, apabila kebutuhan ini dipenuhi dengan sumber atau cara yang tak tepat, itu akan menjadikan kita terjebak dalam upaya pemenuhan yang tiada berakhir. Kesadaran ini menghantamku. Jika kebutuhan untuk membuktikan diriku pada orang lain didasarkan pada apa kata orang, bukankah itu akan jadi proses yang tak akan berujung? Bukankah omongan orang selalu berubah dari hari ke hari? Bukankah omongan orang itu sifatnya dangkal karena mereka tak melihat seluruh realitas hidup kita? 

Aku pun pulang kembali ke rumah dengan keadaan fisik yang sangat lelah. Dari subuh sampai siang aku memotret upacara pernikahan. Ini adalah kerja sambilanku yang puji syukur, diberkati Tuhan dengan pesanan dari banyak klien. Melihatku kelelahan dan meringkuk di kasur seperti orang meninggal, ibuku bilang, “Jangan terlalu capek!”

Kubilang lagi, “Nggak kok, biasa ini mah.” 

“Tapi itu kemaren Senen bisa sampe diare, ke wc sampe belasan kali terus lemes?”

“Ah, itu kan gara-gara salah makan,” sanggahku. “Ya udah, hayu kita pergi deh cari makan dulu,” kuajak ibuku pergi motoran keliling kota. Aku mau traktir dia makan enak. 

Ibuku di usianya yang hampir enam dekade masih sangat aktif. Dia terbiasa motoran sendirian ke luar kota. Siang itu dia mengajak aku makan ikan bakar di tepi waduk, yang jaraknya nyaris dua jam naik motor. Perjalanan kami lalui dengan sensasi panas dingin—panas saat matahari tak tertutup awan, dan dingin karena basah saat diterpa hujan. 

“Mama nggak menuntut anak harus gimana-gimana, kalian yang jalanin hidup, kalian yang atur sendiri,” tuturnya. 

“Maksud?” tanyaku mengernyit. 

Karena bulan sebelumnya aku pernah bertutur soal perasaan gagalku ini, dia menjawab dengan lebih lugas. “Kamu nggak perlu pusing-pusing harus bayar utang atau beliin harta ini itu. Itu kesalahan bukan kesalahan kamu, bukan kamu yang harus pusingin. Yang penting kamu bisa hidup, nggak utang sama orang lain, dan cukup…” 

Kupandangi muka air waduk yang tak berombak. Ikan nila aneka warna tampak di permukaannya. Seperti itulah kurasa tenangnya hatiku. 

Aku tahu betul masa lalu ibuku tidak baik. Ia lahir dalam keluarga yang dikoyak perceraian. Dia tak diasuh oleh ibu bapak kandungnya sejak balita. Luka itu membuatnya kembali terluka dengan perceraian di usia dewasa mudanya. Tapi, dia tahu bahwa aku, sebagai anaknya yang paling bontot, ingin berusaha membahagiakannya dengan beragam benda yang kupikir akan membuatnya senang. 

“Kamu begini aja udah seneng kok mama…” 

Pelan-pelan bangkitlah kesadaran dalam diriku bahwa matematikaku dengan matematika Tuhan terkadang berbeda cara. Dalam rumusku, untuk menjadi bahagia dan sukses harus meraih prestasi lahiriah yang dipandang oleh banyak orang sehingga namaku harum. Tetapi, rumus Tuhan lain cerita. Mungkin Dia memang belum memberiku limpahan harta lahiriah, tapi Dia selalu memberikan apa yang aku dan ibuku butuhkan, sebagaimana Dia memelihara burung-burung di udara (Matius 6:26). Ibuku bilang kalau meski dia tidak punya mobil, tapi Tuhan memberinya kesehatan dan kekuatan untuk punya fisik yang prima, yang masih awas dan kuat untuk naik motor tiap hari. 

“Bayangin kalau kena stroke, mau punya mobil mahal sekalipun juga, memang kepake?” guyonnya. 

Kesadaran ini membawaku kembali pada soal panggilan. Kuyakini lagi bahwa panggilan hidup setiap orang itu unik. Tuhan, Sang Ilahi yang memanggil setiap kita, tentu punya maksud dan tujuan-Nya bagi kita masing-masing. Tidak semua pekerjaan memberikan kelimpahan materi, tetapi jika pekerjaan itu berasal dari-Nya dan kita melakukannya bersama-Nya, selalu ada kecukupan dan damai sejahtera setiap hari bagi kita. 

Untuk saat ini, inilah panggilanku. Untuk besok hari, aku tak tahu, dan aku perlu mencari tahunya. Dengan apa? Dengan mengerjakan apa yang diberikan padaku sekarang dengan sebaik mungkin, agar ketika nanti Dia memanggilku untuk satu tanggung jawab yang lebih besar, aku telah siap laksana seorang prajurit yang diutus ke palagan dengan gagah berani. 

Hari ini aku belajar kembali untuk membangun diriku pada tempat yang lebih teguh.