Posts

Tikus yang Mengaum

Sabtu, 15 Februari 2020

Tikus yang Mengaum

Baca: Matius 4:1-11

4:1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.

4:2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.

4:3 Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”

4:4 Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

4:5 Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah,

4:6 lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.”

4:7 Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”

4:8 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,

4:9 dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.”

4:10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

4:11 Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.

Roh yang ada di dalam [kita], lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.—1 Yohanes 4:4

Tikus yang Mengaum

Beberapa tahun lalu, saya berkemah bersama anak-anak lelaki saya selama beberapa hari di kawasan hutan Selway-Bitterroot di Idaho Utara, AS. Daerah ini merupakan habitat beruang cokelat, tetapi kami membawa semprotan pengusir beruang dan menjaga area perkemahan kami bersih, sehingga merasa cukup aman dari kemungkinan didatangi oleh beruang.

Suatu malam, saya mendengar Randy berusaha keluar dari kantong tidurnya. Saya buru-buru meraih dan menyalakan senter, sambil mengira akan melihat Randy dalam cengkeraman seekor beruang buas.

Namun, yang saya lihat adalah seekor tikus sawah berukuran sekitar 10 sentimeter duduk bertumpu dengan dua kaki belakang dan melambai-lambaikan kedua kaki depannya di udara. Tikus itu sedang menggondol topi milik Randy dengan giginya. Rupanya makhluk kecil itu menarik-narik topi Randy sampai terlepas dari kepalanya. Ketika saya tertawa, si tikus langsung menjatuhkan topi itu dan kabur. Kami merangkak kembali ke dalam kantong tidur masing-masing. Namun, karena terbangun mendadak, saya sulit tidur lagi dan justru berpikir tentang pemangsa yang lain—yaitu si Iblis.

Pikirkanlah godaan Iblis terhadap Yesus (Mat. 4:1-11). Yesus melawan bujuk rayu Iblis dengan ayat-ayat dari Kitab Suci. Setiap jawaban Yesus mengingatkan diri-Nya sendiri bahwa Allah telah berfirman tentang masalah yang dikemukakan Iblis dan karena itu Dia akan tetap taat. Itulah yang menyebabkan Iblis lari.

Meskipun Iblis ingin menerkam kita, ingatlah bahwa ia adalah makhluk ciptaan, sama seperti si tikus kecil. Yohanes berkata, “Roh yang ada di dalam [kita], lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia” (1Yoh. 4:4).—David H. Roper

WAWASAN
Sejumlah pakar Alkitab percaya bahwa Yesaya 14:12-15 dan Yehezkiel 28:11-19 menceritakan bagaimana Lucifer menjadi Iblis (berarti “musuh”) dan dibuang dari surga karena pemberontakannya terhadap Allah dan keinginannya untuk menjadi Allah. Menyinggung hal ini, Yesus berkata, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Lukas 10:18). Iblis disebut “penguasa dunia ini” sebanyak tiga kali (Yohanes 12:31; 14:30; 16:11). Dalam pencobaan Yesus yang ketiga, Iblis—menyatakan bahwa dirinya menguasai dunia—menawarkan kepada Yesus “semua kerajaan dunia” jika Dia menyembahnya (Matius 4:8-10). Meskipun ia kuat, Iblis adalah musuh yang telah dikalahkan (Kejadian 3:15; Yohanes 12:31; 16:11; Kolose 2:15; Ibrani 2:14; 1 Yohanes 3:8; Wahyu 20:7-10), dan tidak memiliki kekuatan selain yang diizinkan oleh Allah (Ayub 1:12; 2:6; Lukas 22:31-32).—K. T. Sim

Hal apa saja yang paling menggodamu? Apa yang Allah katakan tentang hal-hal tersebut dan bagaimana kamu dapat memakai firman-Nya saat kamu dicobai?

Ya Allah, aku bersyukur Engkau lebih besar dan kuat daripada godaan apa pun yang mendatangiku. Tunjukkanlah kepadaku jalan keluarnya.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 17-18; Matius 27:27-50

Waspada dan Berjaga-jaga

Rabu, 2 November 2016

Waspada dan Berjaga-jaga

Baca: Kejadian 3:1-7

3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”

3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,

3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”

3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,

3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! —1 Korintus 16:13

Waspada dan Berjaga-jaga

Meja saya terletak di dekat jendela yang menghadap ke lingkungan rumah kami. Dari jendela tersebut, saya beruntung dapat melihat sekelompok burung hinggap di pepohonan sekitar. Ada burung yang hinggap di jendela untuk memangsa serangga-serangga yang terperangkap pada kasa jendela.

Burung-burung itu mewaspadai adanya ancaman bahaya dengan sungguh-sungguh mendengarkan apa yang terjadi di sekitarnya. Setelah merasa yakin tidak ada bahaya yang mengancam, burung-burung itu pun hinggap untuk makan. Meskipun demikian, burung-burung itu berhenti makan setiap beberapa detik untuk kembali mengawasi sekitarnya.

Kewaspadaan yang ditunjukkan burung-burung tersebut mengingatkan saya pada perintah Alkitab agar kita selalu waspada sebagai orang Kristen. Dunia ini memang penuh dengan godaan, tetapi kita perlu terus berjaga-jaga secara konsisten dan tidak lengah terhadap bahaya yang mengancam. Seperti Adam dan Hawa, kita pun mudah terjerat oleh daya pikat dari hal-hal di dalam dunia yang kelihatannya “baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula . . . menarik hati karena memberi pengertian” (Kej. 3:6).

Paulus menasihatkan, “Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman!” (1Kor. 16:13). Petrus juga mengingatkan, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1Ptr. 5:8).

Dalam kehidupan kita sehari-hari, apakah kita mewaspadai hal-hal duniawi yang mulai menguasai kita? Apakah kita mendeteksi adanya tanda-tanda sikap mengandalkan diri sendiri atau kekerasan hati yang akan menjauhkan iman kita dari Allah? —Lawrence Darmani

Tuhan, jauhkanlah kami dari dosa yang tersembunyi dan perbuatan egois yang cenderung kami lakukan. Oleh anugerah-Mu, ubahlah pencobaan yang kami alami menjadi sarana untuk membuat kami semakin serupa dengan Kristus.

Jalan terbaik untuk melepaskan diri dari pencobaan adalah dengan berlari kepada Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 27-29; Titus 3

Artikel Terkait:

Mengapa Kita Harus Belajar Berkata “Tidak”

Seorang pendeta yang aku kenal pernah berkata, “Jika kamu tidak takut kepada Tuhan, kamu akan takut kepada banyak orang; jika kamu tidak menyenangkan Tuhan, kamu harus menyenangkan banyak orang.” Aku tahu apa yang beliau katakan itu benar, karena aku sendiri pernah mengalaminya. Dalam kenyataan, seringkali kita berusaha menyenangkan orang-orang yang kita takuti.
Baca kisah selengkapnya dari Grace Chan di dalam artikel ini.

Berjaga-jaga dan Berdoa

Rabu, 24 Agustus 2016

Berjaga-jaga dan Berdoa

Baca: Markus 14:32-42

14:32 Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku berdoa.”

14:33 Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar,

14:34 lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.”

14:35 Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya.

14:36 Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”

14:37 Setelah itu Ia datang kembali, dan mendapati ketiganya sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam?

14:38 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

14:39 Lalu Ia pergi lagi dan mengucapkan doa yang itu juga.

14:40 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat dan mereka tidak tahu jawab apa yang harus mereka berikan kepada-Nya.

14:41 Kemudian Ia kembali untuk ketiga kalinya dan berkata kepada mereka: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Cukuplah. Saatnya sudah tiba, lihat, Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.

14:42 Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.”

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. —Markus 14:38

Berjaga-jaga dan Berdoa

Dari jendela rumah, saya dapat melihat bukit setinggi 1.700 meter yang disebut Cerro del Borrego atau “Bukit Domba”. Oada tahun 1862, pasukan Prancis datang menyerbu Meksiko. Mereka berkemah di tengah taman Orizaba, sementara tentara Meksiko menempati posisi di puncak bukit. Namun, jenderal dari pasukan Meksiko lalai menjaga jalur masuk menuju puncak bukit itu. Akhirnya, tentara-tentara Prancis pun menyerang dan membunuh 2.000 tentara Meksiko yang tengah tertidur.

Saya pun teringat pada satu bukit yang lain, Bukit Zaitun, dan taman di kaki bukit tempat sekelompok murid Yesus jatuh tertidur. Yesus menegur mereka dan berkata, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mrk. 14:38).

Betapa mudahnya kita tertidur atau bersikap ceroboh dalam perjalanan iman kita. Pencobaan menyerang ketika kita sedang rentan. Ketika kita mengabaikan area-area tertentu dalam kehidupan rohani kita—misalnya berdoa dan mempelajari Alkitab—kewaspadaan kita pun melemah dan menjadi longgar, sehingga diri kita menjadi sasaran yang mudah diserang Iblis (1Ptr. 5:8).

Kita perlu sadar terhadap kemungkinan terjadinya serangan dan kita perlu berdoa untuk menjaga kewaspadaan. Jika kita tetap berjaga-jaga dan berdoa—demi diri sendiri dan orang lain—Roh Kudus akan memampukan kita untuk menang atas pencobaan. —Keila Ochoa

Tuhan Yesus, aku tahu rohku memang penurut, tetapi tubuhku lemah. Tolonglah aku berjaga-jaga dan berdoa hari ini demi diriku dan sesamaku.

Iblis tidak berdaya melawan kuasa Kristus.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 116-118; 1 Korintus 7:1-19

Artikel Terkait:

4 Ciri Para Pendosa di Dalam Gereja

Apa yang menjadi ciri-ciri dari para pendosa di dalam gereja? Yuk temukan 4 ciri para pendosa di dalam gereja di dalam artikel berikut.

Senjata Ilahi Kita

Selasa, 10 Mei 2016

Senjata Ilahi Kita

Baca: Nehemia 4:7-18

4:7 Ketika Sanbalat dan Tobia serta orang Arab dan orang Amon dan orang Asdod mendengar, bahwa pekerjaan perbaikan tembok Yerusalem maju dan bahwa lobang-lobang tembok mulai tertutup, maka sangat marahlah mereka.

4:8 Mereka semua mengadakan persepakatan bersama untuk memerangi Yerusalem dan mengadakan kekacauan di sana.

4:9 Tetapi kami berdoa kepada Allah kami, dan mengadakan penjagaan terhadap mereka siang dan malam karena sikap mereka.

4:10 Berkatalah orang Yehuda: “Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini.”

4:11 Tetapi lawan-lawan kami berpikir: “Mereka tidak akan tahu dan tidak akan melihat apa-apa, sampai kita ada di antara mereka, membunuh mereka dan menghentikan pekerjaan itu.”

4:12 Ketika orang-orang Yahudi yang tinggal dekat mereka sudah sepuluh kali datang memperingatkan kami: “Mereka akan menyerang kita dari segala tempat tinggal mereka,”

4:13 maka aku tempatkan rakyat menurut kaum keluarganya dengan pedang, tombak dan panah di bagian-bagian yang paling rendah dari tempat itu, di belakang tembok, di tempat-tempat yang terbuka.

4:14 Kuamati semuanya, lalu bangun berdiri dan berkata kepada para pemuka dan para penguasa dan kepada orang-orang yang lain: “Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk isterimu dan rumahmu.”

4:15 Ketika didengar musuh kami, bahwa rencana mereka sudah kami ketahui dan bahwa Allah telah menggagalkannya, maka dapatlah kami semua kembali ke tembok, masing-masing ke pekerjaannya.

4:16 Sejak hari itu sebagian dari pada anak buahku melakukan pekerjaan, dan sebagian yang lain memegang tombak, perisai dan panah dan mengenakan baju zirah, sedang para pemimpin berdiri di belakang segenap kaum Yehuda

4:17 yang membangun di tembok. Orang-orang yang memikul dan mengangkut melakukan pekerjaannya dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain mereka memegang senjata.

4:18 Setiap orang yang membangun bekerja dengan berikatkan pedang pada pinggangnya, dan di sampingku berdiri peniup sangkakala.

Terimalah . . . pedang Roh, yaitu firman Allah. —Efesus 6:17

Senjata Ilahi Kita

Di bawah pengawasan Nehemia, para pekerja Israel membangun kembali tembok yang mengelilingi Yerusalem. Akan tetapi, di tengah proses pembangunan itu, mereka mendengar berita tentang musuh-musuh mereka yang bersekongkol untuk menyerang Yerusalem. Kabar itu semakin menjatuhkan semangat para pekerja yang sudah kelelahan itu.

Nehemia memutuskan untuk bertindak. Pertama, ia berdoa dan menempatkan banyak penjaga pada tempat-tempat yang strategis. Lalu, ia mempersenjatai para pekerja. “Orang-orang yang memikul dan mengangkut melakukan pekerjaannya dengan satu tangan dan dengan tangan yang lain mereka memegang senjata. Setiap orang yang membangun bekerja dengan berikatkan pedang pada pinggangnya” (Neh. 4:17-18).

Kita yang membangun kerajaan Allah juga perlu mempersenjatai diri untuk menghadapi serangan Iblis, musuh spiritual kita. Senjata kita adalah pedang Roh, yaitu firman Allah. Menghafal isi Kitab Suci dan merenungkannya akan memampukan kita untuk “dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis” (Ef. 6:11). Apabila kita berpikir bahwa bekerja untuk Allah tidaklah penting, kita perlu mengingat kembali bahwa pekerjaan kita bagi Yesus itu bernilai kekal (1Kor. 3:11-15). Ketika kita takut Allah tidak akan memakai kita lagi karena besarnya dosa kita, kita harus ingat bahwa kita telah diampuni oleh kuasa darah Yesus (Mat. 26:28). Dan ketika kita khawatir akan gagal dalam melayani Allah, kita dapat mengingat kembali perkataan Yesus yang menyatakan bahwa kita akan berbuah banyak selama kita tinggal di dalam Dia (Yoh. 15:5).

Firman Allah adalah senjata ilahi kita! —Jennifer Benson Schuldt

Allah, terima kasih untuk Alkitab. Aku percaya bahwa firman-Mu hidup dan berkarya dengan aktif. Tolonglah aku mengingatnya ketika aku khawatir dan takut, ataupun ketika aku memerlukan dorongan dan inspirasi.

Firman Allah adalah senjata ilahi untuk menghadapi serangan Iblis.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 10-12; Yohanes 1:29-51

Lawan Yang Telah Takluk

Senin, 17 November 2014

Lawan Yang Telah Takluk

Baca: Efesus 6:10-18

6:10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

6:11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

6:14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,

6:15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;

6:16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,

6:17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,

6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. —1 Petrus 5:8

Lawan Yang Telah Takluk

Singa yang mengaum-aum adalah “sang raja hutan” yang legendaris. Namun singa-singa yang pernah dilihat oleh sebagian besar dari kita hanyalah berupa kucing besar yang lesu dan tinggal di kebun-kebun binatang. Hari-hari mereka dipenuhi dengan waktu istirahat yang sangat banyak, dan mereka menikmati makan malam yang diberikan kepada mereka tanpa perlu menggunakan cakarnya sedikitpun.

Namun di habitat asli mereka, para singa tidak selalu menjalani hidup yang santai. Rasa lapar mendorong mereka untuk pergi berburu, dan dalam perburuan itu mereka mencari mangsa yang muda, lemah, sakit, atau terluka. Sembari meringkuk di balik rerumputan yang tinggi, mereka merangkak maju dengan perlahan. Kemudian, dengan mendadak, singa itu menerkam dan mencengkeramkan cakar-cakarnya ke tubuh si mangsa.

Petrus menggunakan seekor “singa yang mengaum-aum” sebagai suatu metafora untuk Iblis. Iblis adalah pemangsa yang penuh keyakinan diri dan terus mencari mangsa-mangsa yang mudah dilahapnya (1Ptr. 5:8). Dalam menghadapi lawan itu, anak-anak Allah harus senantiasa waspada dengan mengenakan “seluruh perlengkapan senjata Allah” sehingga mereka dapat menjadi “kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya” (Ef. 6:10-11).

Kabar baiknya, Iblis adalah lawan yang telah ditaklukkan. Walaupun Iblis adalah musuh yang hebat, tetapi orang-orang yang dilindungi oleh keselamatan, doa, dan firman Allah tidak perlu dilumpuhkan oleh rasa takut terhadap singa yang mengaum-aum itu. Kita “dipelihara dalam kekuatan Allah” (1Ptr. 1:5). Yakobus 4:7 menyakinkan kita: “Lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” —CHK

Ya Tuhan, kami tahu si musuh berusaha melahap kami.
Tolong lindungi kami darinya. Kami mempercayai firman-Mu
yang menyatakan bahwa Roh yang ada dalam diri kami jauh
lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia.

Tidak ada panah Iblis yang dapat menembus perisai Allah.

Berisiko Besar

Jumat, 24 Agustus 2012

Berisiko Besar

Baca: Lukas 9:18-27

Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. —Lukas 9:24

Ketika krisis keuangan dunia memburuk di tahun 2010, para eksekutif dari suatu firma perbankan global diinvestigasi atas tuduhan telah memperdaya pelanggan mereka dengan menutup-nutupi risiko yang terkait dalam beberapa investasi yang mereka jual. Walaupun menjanjikan suatu keuntungan yang tinggi, firma tersebut mengetahui bahwa investasi itu akan menemui kegagalan, dan siapa pun yamg membeli investasi itu tidak akan mendapatkan apa-apa.

Tipu daya bukanlah sesuatu yang baru. Yesus menggambarkan Iblis sebagai pribadi yang “tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran . . . sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta” (Yoh. 8:44). Musuh rohani kita ini mengatakan, “Puaskanlah diri Anda dalam hidup ini,” dan ini dikatakannya dengan mengetahui bahwa hal itu akan membawa kehilangan kekal bagi kita.

Sebaliknya Yesus tidak menjanjikan kepada para murid-Nya suatu kehidupan yang mewah dan mudah, melainkan meminta mereka untuk mengorbankan diri dan menjadi serupa dengan-Nya. Setelah mengatakan kepada mereka bahwa Dia akan dibunuh dan dibangkitkan dari kematian, Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Luk. 9:23-24).

Ada dua suara yang hendak mengarahkan ke mana kita harus menginvestasikan hidup kita. Ketika kita mengikuti suara yang salah, besar risiko yang harus kita tanggung. —DCM

Ketika engkau dengar suara Sang Gembala
Saat Dia memanggil, “Datanglah kepada-Ku,”
Maka pilihlah Dia dalam jalan hidupmu
Dan jadilah pengikut-Nya yang setia. —Hess

Jika kita berpegang pada kebenaran Allah, kita takkan terperangkap oleh dusta Iblis.

Tipu Muslihat Musuh

Sabtu, 23 Juni 2012

Tipu Muslihat Musuh

Baca: Yohanes 8:42-47

Tetapi aku takut, . . . pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya. —2 Korintus 11:3

Ditulis pada abad ke-6 SM oleh seorang jenderal Tiongkok bernama Sun Tzu, “Seni Berperang” telah menjadi kitab pedoman strategi militer berabad-abad lamanya. Namun kitab ini juga telah digunakan oleh orang-orang dari berbagai bidang lain seperti kepemimpinan, manajemen, bisnis, politik, dan olahraga. Apa yang telah ditulis oleh Sun Tzu mengenai peperangan militer dapat membantu para pengikut Kristus untuk mengerti berbagai taktik yang diterapkan oleh musuh rohani kita: “Semua peperangan didasari tipu muslihat. Oleh karena itu, pada saat kita mampu menyerang, kita harus terkesan tidak mampu; pada saat menggerakkan pasukan kita, kita harus tampak diam; pada saat kita dekat, kita harus membuat musuh percaya bahwa kita masih jauh; pada saat kita jauh, kita harus membuat musuh percaya bahwa kita sudah dekat.”

Demikian juga, peperangan rohani yang digerakkan Iblis terhadap kita juga didasari tipu muslihat. Bahkan, dosa paling pertama merupakan hasil tipu muslihat musuh. Perhatikan perkataan Paulus: “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya” (2 Kor. 11:3).

Kebenaran inilah yang membuat peringatan Tuhan kita bahwa Iblis adalah bapa segala dusta (Yoh. 8:44) yang selalu berusaha mengelabui kita. Lalu bagaimana kita dapat bertahan? Dengan membuka hati kita supaya dipenuhi dengan kebenaran firman Allah. Hanya kebenaran dari Allah yang dapat melindungi kita dari tipu muslihat musuh. —WEC

Bapa, kami tahu bahwa Iblis itu cerdik, penuh tipu muslihat, dan
licik. Kami tidak ingin terkecoh olehnya dan mempercayai dustanya.
Tolong kami untuk mengenal cara-caranya yang licik dan
memenuhi pikiran kami dengan kebenaran-Mu.

Kebenaran Allah adalah perlindungan terbaik terhadap dusta Iblis.