Posts

Perlukah Orang Kristen Mengejar Kebebasan Finansial?

Oleh Rachel Lee
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: klik di sini

“Capek kerja dari pagi sampai malam? Daftar kursus gratis ini dan belajarlah bagaimana menjadi bos!”

“Kekurangan uang? Chat saya, dan saya akan mengajari Anda mendapatkan uang dengan mudah.”

“Belum mulai berinvestasi? Anda belum terlambat! Ayo bergabung sekarang dengan tim kami!”

“Tahukah Anda apa itu kebebasan finansial? Itu adalah kondisi di mana Anda tak perlu lagi bekerja karena uanglah yang bekerja buat Anda! Mau tahu caranya? Kontak saya sekarang juga.”

***

Setiap kali aku masuk ke media sosialku, aku menemukan banyak iklan seperti di atas, di mana-mana! Setelah melihat banyak iklan itu, ada lagi iklan yang bilang begini:

“Kalau kamu punya uang, tidak hanya kamu punya lebih banyak pilihan; kamu bisa berkata ‘tidak’ pada hal-hal yang tak kamu suka”, atau

“Berjuanglah sekarang, dan dirimu di masa depan akan berterima kasih.”

Aku merasa tergelitik dan bertanya-tanya bagaimana aku bisa menambah hartaku. Melihat bagaimana bisnis dan investasi teman-temanku berjalan baik, aku merasa tak puas dengan posisi finansialku. Aku juga ingin meraih lebih banyak uang supaya aku bisa melunasi cicilan, dan membawa keluargaku jalan-jalan keliling dunia. Jadi, aku pun mulai mencari-cari kesempatan berbisnis secara daring.

Sebenarnya ini bukanlah hal baru buatku. Di tahun 2016, ketika aku masih mahasiswa, aku pernah menulis artikel tentang keinginanku untuk mendapat uang. Artikel itu ditulis saat aku tidak punya pendapatan, tapi sekarang setelah aku bekerja dan punya pemasukan yang stabil, aku masih ingin meraih lebih. Jadi aku bertanya-tanya: apakah ini karena aku kurang puas?

Ketika aku merenungkan motivasiku, aku sadar kalau aku ingin meraih kebebasan finansial bukan supaya aku bisa hidup mewah. Malah, harapanku adalah dengan punya kemampuan finansial yang lebih besar, aku bisa menaikkan taraf hidup keluargaku lebih baik. Plus, kalau semisal aku terpanggil untuk melakukan mission-trip entah ke mana, aku bisa membayarnya tanpa khawatir. Semua motivasi ini terlihat rasional kan?

Jadi, sebagai orang Kristen, aku sungguh bisa mengejar kebebasan finansial kan?

Berangkat dari dua pertanyaan itu, aku membuka Alkitabku untuk mencari tahu apa yang Allah ingin katakan terkait dengan kekayaan. Kutemukan beberapa penemuanku. Kuharap apa yang kupelajari juga menolongmu untuk menemukan jawaban.

Berdasarkan sebuah artikel di koran, ada sekitar dua ribu ayat di Alkitab tentang uang. Tapi, hanya sekitar 500 yang berbicara tentang doa dan iman. Bisa dikatakan, masalah tentang uang tidak boleh diabaikan.

Pada dasarnya, uang itu bersifat netral. Baik atau buruknya tergantung dari orang yang menggunakannya. Uang bukanlah akar segala kejahatan, cinta akan uanglah yang jadi akar segala kejahatan (1 Timotius 6:10). Kapan pun Alkitab berbicara tentang uang, Alkitab juga berbicara tentang bagaimana orang memandang dan menggunakannya.

Inilah tiga hal yang harus selalu kita ingat ketika kita membahas soal relasi kita dengan uang:

1. Ingatlah bahwa uang itu diberikan oleh Tuhan

Pertama, kita harus menyadari bahwa segala sesuatu, termasuk uang, berasal dari Allah. Salomo yang dipenuhi kebijaksanaan dan kekayaan pernah berkata, “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagianya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya—juga itupun karunia Allah” (Pengkhotbah 5:19).

Namun, kita harus memahami bahwa karunia Allah itu tidak hanya ada saat kita kaya, tapi juga saat kita miskin. Ketika Ayub kehilangan anak, harta, dan kekayaannya, dia masih bisa berkata, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Pernyataan Ayub menunjukkan bahwa Allah jauh lebih besar daripada pengejarannya akan kemakmuran dan kedamaian. Iman Ayub adalah teladan bagi kita.

Marilah kita percaya bahwa Allah akan menyediakan apa pun yang kita butuhkan, dan kita perlu bersyukur atas apa yang ada pada kita.

2. Kita hanyalah pengelola uang

Ketika kita menyadari bahwa uang berasal dari Allah, kita dapat menempatkan diri pada posisi yang benar—sebagai pelayan Allah. Karena Dia telah memberi kita uang, maka kita harus mengelolanya.

Pemahaman ini membawa kita pada pengelolaan keuangan. Pendapatan kita dapat dibagi ke dalam dua kelompok: aktif dan pasif.

A. Pendapatan aktif—uang yang kita raih dari bekerja:

1 Timotius 5:18 berkata “Setiap orang yang bekerja patut mendapat upahnya.” Mendapatkan upah yang layak dari instansi tempat kita bekerja adalah hak kita. Ayat ini juga mengingatkan orang-orang Kristen yang merupakan para pemilik usaha akan kewajiban untuk membayar pekerjanya dengan upah yang sesuai.

Alkitab tidak menentang usaha sampingan, tapi ada cara-cara yang ditentang Allah seperti: penyuapan (Mikha 3:11), warisan yang diminta terlalu cepat (Amsal 20:21), pencurian, kebohongan, dusta (Imamat 19:11).

B. Pendapatan pasif—uang mendapatkan uang:

Matius 25:14-30 menceritakan perumpamaan tentang seorang tuan yang memberikan hamba-hambanya masing-masing lima, dua, dan satu talenta. Orang-orang biasanya memahami perumpamaan ini sebagai pengingat bagi kita untuk menggunakan talenta dan kemampuan kita bagi Tuhan. Tapi, aku percaya pada prinsipnya perumpamaan ini juga jadi pengingat yang baik tentang uang: kita harus memperlakukan dengan serius uang yang Tuhan telah berikan buat kita–dengan menggunakan cara-cara bijak untuk meningkatkan nilainya. Entah itu dengan menabung di bank atau di instrumen investasi.

Allah tidak menilai uang lebih berharga daripada kita, atau pun Dia menjadikan uang sebagai tolok ukur kasih-Nya bagi kita. Dia berkenan apabila kita secara efektif menggunakan apa yang Dia telah percayakan bagi kita. Saat kita bersyukur pada-Nya atas pemberian-Nya, kita juga harus belajar untuk mengelolanya dengan baik sebagaimana kita mengembangkan talenta dan kemampuan kita.

3. Belajarlah mengelola uang tanpa bersifat serakah

Ketika kita mengelola keuangan pada jalur yang benar, hasilnya bisa saja jauh melampaui apa yang kita harapkan. Manajemen yang baik bisa menolong kita meraih lebih banyak uang, yang juga menuntut energi lebih untuk mengelolanya. Namun, berhati-hatilah agar kita tak kehilangan pandangan kita akan Allah. Atau, jangan pula karena kita gagal mengelola uang dengan baik lantas kita pun menyalahkan-Nya.

Sifat tamak atau serakah muncul ketika kita memaknai uang lebih besar daripada kasih kita pada Tuhan. Uang lalu menjadi tuan kita, sedangkan Tuhan menjadi pelayan ketika kita berpikir bahwa Dia berkewajiban untuk menambah harta kekayaan kita.

Jika kita ingin tahu apakah kita telah jadi orang yang serakah atau tidak, secara sederhana kita dapat melihat bagaimana sikap kita terhadap persembahan. Persembahan adalah cara yang baik untuk menguji siapakah pemilik uang itu.

Jika kita merasa uang itu adalah milik kita karena kita yang meraihnya, dan memberikan persembahan bagi rumah Tuhan tidak akan menambah uang itu, maka persembahan meskipun cuma seribu rupiah pun tidak akan terasa baik buat kita. Tapi, jika kita mampu memberi dengan sukacita, itu menyenangkan Tuhan. “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7).

Sejalan dengan tiga poinku, aku merumuskan definisi baru dari ‘kebebasan finansial’ buatku sendiri:

1. Aku bisa bebas memuji Tuhan untuk segala kepunyaanku yang adalah kepunyaan-Nya.

2. Aku bisa bebas bekerja untuk memuliakan-Nya dan berani berkata ‘tidak’ untuk cara-cara yang tidak menyenangkan hati-Nya.

3. Aku bisa bebas mempersembahkan segalanya bagi Tuhan: dengan sukacita memberikan uang yang dipercayakan-Nya untuk membangun kerajaan-Nya.

Yohanes 8:32 berkata, “…dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Terlepas dari apakah aku bisa memenuhi kebebasan finansial berdasar standar dunia, aku tahu apabila aku mengejar kebenaran Allah, aku akan memperoleh kebebasan sejati yang berasal dari-Nya: untuk hidup dalam naungan kasih dan anugerah-Nya, tidak lagi terikat pada dosa, dan mampu menolak godaan keuangan dan menolak untuk melakukan hal-hal yang tidak berkenan pada-Nya.

Apakah Kamu Mengandalkan Kekayaanmu?

Hari ke-26 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus
Baca Pengantar Kitab Yakobus di sini

Apakah Kamu Mengandalkan Kekayaanmu?

Baca: Yakobus 5:1-6

5:1 Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu!

5:2 Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat!

5:3 Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir.

5:4 Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu.

5:5 Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan.

5:6 Kamu telah menghukum, bahkan membunuh orang yang benar dan ia tidak dapat melawan kamu.

Apakah Kamu Mengandalkan Kekayaanmu?

Sejak zaman pacaran, aku dan suamiku sudah berpikir untuk pindah kembali ke negara asalku. Kami sangat menyukai masyarakat dan budayanya, tetapi yang lebih penting lagi, kami melihat kesempatan untuk memberitakan Injil di sana—banyak orang mulai lebih terbuka untuk menerima Injil karena perubahan iklim politik yang ada.

Atas pemeliharaan Tuhan, tabungan kami perlahan terus bertambah. Akhirnya, kami punya cadangan dana untuk kebutuhan hidup selama beberapa bulan. Tampaknya sudah tiba waktunya untuk pindah. Namun, entah bagaimana kami mulai berpikir ulang. Apakah tabungan kami ini benar sudah cukup? Haruskah kami menunggu sebentar lagi? Kami mulai tergoda untuk tetap tinggal dan terus menambah kekayaan kami. Pekerjaan yang sudah mapan menjanjikan kestabilan finansial bagi keluarga kami. Sudah tentu kami dapat memberitakan Injil tanpa pindah negara, kami mencoba membenarkan pikiran kami. Jika harus meninggalkan semuanya dan pindah ke belahan dunia yang lain, bagaimana hidup kami nanti? Mungkin butuh bertahun-tahun lamanya untuk kami bisa menabung lagi sebanyak ini.

Alkitab berbicara sangat jelas tentang bagaimana kekayaan dapat menghalangi kita mendekat kepada Tuhan. Yesus berkata, “Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Markus 10:25). Aku dan suami bukanlah orang yang benar-benar kaya-raya, tetapi kami tahu bagaimana rasanya tergoda untuk mengandalkan kekayaan materi lebih dari Tuhan.

Dalam suratnya, Yakobus memberikan peringatan keras terkait dosa-dosa yang secara spesifik mudah menjatuhkan orang yang kaya. Nada kemarahan Yakobus menunjukkan betapa seriusnya dosa-dosa tersebut. Kita diingatkan untuk tidak menoleransi dosa keserakahan (mengumpulkan kekayaan demi memuaskan hasrat diri sendiri) dan dosa ketidakadilan (memakai kekayaan untuk menekan orang lain) di dalam diri kita.

Dalam ayat 2, 3, dan 5, Yakobus menegur mereka yang “telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir” dan memperingatkan pembacanya untuk tidak hidup “berfoya-foya di bumi”. Dengan ilustrasi yang kuat seperti, “kekayaanmu sudah busuk”, “pakaianmu telah dimakan ngengat” (ayat 2), Yakobus memperingatkan bahwa kekayaan tidak akan bertahan selamanya, dan kita akan dihakimi menurut cara kita hidup.

Perkataan Yakobus menggemakan perkataan Yesus yang mengajar kita, “…kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:20-21).

Meskipun kita harus bekerja dengan rajin (Kolose 3:23), tujuan kita seharusnya bukan untuk menimbun kenyamanan dan kesenangan diri sendiri. Aku dan suamiku terus diingatkan bahwa tak peduli berapa banyak uang yang kami tabung—pada akhirnya tidak berarti sama sekali dibandingkan dengan kekekalan. Namun, bila kami bisa memakainya untuk memberitakan Injil, kekayaan itu dapat menghasilkan buah-buah yang kekal.

Teguran kedua Yakobus ditujukan kepada mereka yang mengambil keuntungan dari orang-orang miskin. Yakobus mengecam mereka yang menahan upah para pekerja dan juga mereka yang membunuh sesamanya (ayat 4-6). Menurut banyak penafsir Alkitab, kata “membunuh” di sini kemungkinan menunjukkan tindakan para tuan tanah kaya yang memakai pengadilan untuk merampas rumah orang-orang miskin—mereka yang tidak berdaya untuk melawan hukum.

Di zaman sekarang ini orang pun mudah memanfaatkan sesamanya yang tidak mampu demi keuntungan pribadi. Adakalanya para pekerja terlalu dituntut bekerja lebih atau dibayar terlalu rendah. Yakobus mengingatkan kita untuk berhati-hati dalam mata pencaharian kita, pastikan kita tidak mengambil hak sesama dalam prosesnya.

Di Perjanjian Lama, Tuhan memerintahkan orang Israel memperhatikan kebutuhan orang-orang miskin dan tidak hanya sibuk dengan kepentingan pribadi (Ulangan 24:19-22). Hukum itu diberikan Tuhan sendiri: “Haruslah kauingat, bahwa engkaupun dahulu budak di Mesir dan engkau ditebus TUHAN, Allahmu, dari sana; itulah sebabnya aku memerintahkan engkau melakukan hal ini” (Ulangan 24:18).

Sama seperti Tuhan menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, Tuhan juga telah menyelamatkan kita dari perbudakan dosa. Bagaimana bisa kita terus memperbudak orang lain dengan mengambil keuntungan dari mereka? Marilah kita menyatakan kasih kepada sesama melalui penggunaan harta milik kita—karena Tuhan sudah lebih dahulu mengasihi kita. —Christine Emmert, Amerika Serikat

Handlettering oleh Oei Kristina

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Pernahkah kamu terlalu mengandalkan kekayaanmu?

2. Pernahkah kamu mengambil keuntungan dari seseorang yang lebih kurang beruntung darimu, dalam cara kamu mendapatkan atau menggunakan uang?

3. Bagaimana cara kamu bisa memakai harta milikmu untuk tujuan-tujuan Tuhan?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Christine Emmert | Christine adalah seorang pengikut Kristus, pecinta buku dan makanan. Hidup ini indah, katanya, dan setiap hembusan nafas adalah pengingat bahwa di dalam segala keadaan Tuhan itu selalu baik. Dia dan suaminya sedang membangun sebuah keluarga yang mencari Kristus dan menjadi terang dan garam di antara bangsa-bangsa. Ezra 7:10 adalah ayat favoritnya.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus

Apakah Orang Kristen Tidak Boleh Kaya?

apakah-orang-kristen-tidak-boleh-kaya

Oleh Joanna Hor, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Can We Be Rich and Godly At The Same Time?

Komisi pemuda di gereja kami baru saja memulai pendalaman Alkitab tentang khotbah di bukit. Ketika kami sedang mencoba memahami maksud dari perkataan Yesus dalam Lukas 6:20, salah seorang pemuda bertanya, “Apakah ayat ini hendak mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh kaya?”

Sangat wajar jika pertanyaan ini muncul, karena pernyataan Yesus memang sepertinya mengarahkan orang untuk berpikir demikian. Jika orang miskinlah yang akan mendapatkan Kerajaan Allah, apakah itu berarti orang Kristen harus dengan sengaja hidup miskin? Haruskah orang Kristen menghindari kelimpahan materi?

Jika kita membaca keseluruhan Alkitab, aku pikir kita akan menemukan bahwa jawabannya jelas “tidak”. Orang “miskin” yang disebutkan pada bagian ini bukanlah sembarang orang miskin. Mereka tidak hidup dalam kelimpahan materi karena iman mereka. Alkitab sendiri mencatat banyak orang yang melayani Tuhan sekaligus memiliki banyak harta. Allah memberkati mereka dan memuji sikap hidup mereka. Abraham, Ayub, dan Daud adalah contoh orang-orang kaya yang dekat kepada Allah.

Mungkin pertanyaan yang lebih besar di balik pertanyaan tadi adalah: apakah kita bisa menjadi kaya dan sekaligus menjadi orang yang mengutamakan Allah dalam hidup ini? Bagaimana bila kita adalah orang yang sudah diberkati dengan kekayaan karena latar belakang orangtua atau pekerjaan kita? Salahkah jika kita kaya, atau ingin menjadi kaya? Bagaimana orang Kristen harus melihat kekayan?

Setidaknya, ada tiga prinsip yang bisa kita pegang:

1. Kita tidak boleh terobsesi untuk menjadi kaya (atau lebih kaya)

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Timotius 6:10).

Jika kita berusaha mencari-cari argumen yang dapat membenarkan keinginan kita untuk mengejar Tuhan sekaligus mengejar kekayaan materi, kita akan kecewa. Aku akan menjadi orang pertama yangmengakui bahwa aku bergumul dengan dua hal tersebut. Sudah berulang kali aku berkeinginan untuk mengejar kekayaan materi, namun berulang kali pula Tuhan mengingatkan aku melalui firman-Nya dan sesama bahwa itu bukan sikap yang seharusnya aku miliki.

Uang pada dasarnya tidak jahat. Masalahnya bukan bukan terletak pada apakah kita memiliki banyak uang atau tidak, tapi pada keinginan untuk menjadi kaya dan cinta pada uang. Bagian Alkitab ini menunjukkan pada kita, bahwa sekali kita terjerat pada godaan untuk mencintai uang, kita tidak akan pernah merasa cukup dan makin lama makin menjauh dari Tuhan. Tidak heran, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya dalam Matius 6:24, bahwa tidak mungkin seseorang bisa menjadi hamba Tuhan sekaligus hamba uang. “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Jadi, jika tujuan utama kita adalah hidup dekat dengan Tuhan, akan bijaksana bila kita menjauhkan diri dari godaan untuk mengejar kekayaan materi. Salah satu bagian firman Than yang baik untuk direnungkan dalam konteks ini adalah Ibrani 13:5, “‘Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’”

2. Kita tidak boleh menumpuk harta di dunia

“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ jua hatimu berada” (Matius 6:19-21). Ayat ini memberi gambaran tentang apa yang fana. Kekayaan materi di bumi ini tidak akan bertahan selamanya—semua bisa rusak dan pada akhirnya tidak ada lagi. Yang akan bertahan selamanya adalah apa yang kita lakukan bagi kemuliaan Tuhan; itu yang akan memberi kita harta abadi. Sebab itu, harta yang seharusnya kita inginkan adalah upah yang dijanjikan Tuhan kepada umat yang setia kepada-Nya—orang-orang yang mencari dan melakukan kehendak Tuhan dengan segenap hati, akal budi, jiwa, dan kekuatan.

Jika tujuan hidup dan yang membuat kita sibuk adalah upaya mengumpulkan banyak uang untuk membeli rumah yang besar, mobil yang bagus, pakaian yang mahal, serta untuk sekadar menikmati hidup yang mudah dan nyaman, kita tidak ada bedanya dengan orang kaya yang bodoh dalam perumpamaan Yesus. Orang kaya itu berpikir bahwa yang paling penting dalam hidup adalah menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya. Ia tidak menyadari bahwa ada kehidupan setelah kematian dan kekayaannya di dunia tidak dapat dibawa ke sana (Lukas 12:13-21).

Mentalitas yang hanya mencari kesenangan diri sendiri bukan saja tidak alkitabiah, tetapi, Yesus menyebutnya sebagai suatu kebodohan.

3. Kita harus siap berpisah dengan kekayaan yang kita miliki

“Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: ‘Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.’ Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: ‘Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah’” (Markus 10:21-23).

Jika saat ini kita memiliki banyak harta—baik itu hasil kerja keras kita atau warisan keluarga kita—kita diingatkan untuk tidak menggenggam kekayaan itu terlalu erat. Jika kita memegangnya terlalu erat, bisa jadi kita lebih mengandalkan harta kita daripada mengandalkan Allah.

Alkitab juga secara konsisten memanggl kita untuk menolong mereka yang membutuhkan. Salah satu aplikasinya adalah memberikan uang kepada orang-orang yang berkekurangan. Dalam Injil Lukas, Yohanes Pembaptis mendorong orang banyak untuk membagikan pakaian dan makanan yang mereka miliki kepada sesama yang tidak punya (Lukas 3:11). Beberapa orang Kristen yang kukenal tidak punya banyak uang, tetapi selalu menjadi orang-orang yang pertama memberikan apa yang mereka punya ketika ada sesama yang membutuhkan.

Kita yang berkelebihan dipanggil untuk memberi kepada mereka yang berkekurangan. Ini adalah sebuah tanggung jawab yang diberikan Allah kepada kita bersama berkat-berkat yang diberikan-Nya. Tanggung jawab ini sesuai dengan perintah untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri.

Jadi, salahkah bila orang Kristen menjadi kaya? Alkitab menunjukkan bahwa yang bermasalah itu bukanlah banyaknya kekayaan yang kita miliki, tetapi hati yang selalu mengejar dan melekat pada kekayaan. Tidak salah menjadi kaya atau bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan yang baik, selama kita tidak terjebak untuk mencari uang lebih daripada mencari Allah.

Bila hati kita dikuasai keinginan untuk mengumpulkan kekayaan di dunia, mari kita melepaskannya. Mari berjuang mengumpulkan harta di sorga dan menggunakan apa yang telah dikaruniakan Allah untuk memberkati sesama.

Baca Juga:

3 Tanda Aku Menggunakan Ponsel dengan Berlebihan

Aku sangat sering menggunakan ponsel. Begitu seringnya, sampai-sampai aku selalu merasa ada yang kurang apabila tidak tanganku tidak memegang ponsel. Apa yang kualami ini mungkin adalah bagian dari nomophobia (no-mobile-phobia): rasa takut akan kehilangan kontak dengan ponsel.