Posts

Natal dan Cabe Rawit

Oleh Edwin Petrus, Malang

“Aku hanya orang biasa. Apalah pekerjaanku ini! Pekerjaan yang hina, tapi apa boleh buat aku gak punya pendidikan yang tinggi. Tapi, aku bersyukur bisa bekerja dengan beberapa teman yang bernasib sama. Paling tidak, pekerjaan kami ini berguna buat orang lain, ya walaupun mereka memandang kami dengan sebelah mata.”

Percakapan monolog di atas adalah imajinasiku. Aku membayangkan bagaimana isi hati seorang gembala di Betlehem pada abad pertama masehi. Pada masa itu gembala ternak bukanlah pekerjaan yang bergengsi. Secara sosial, masyarakat memandang rendah profesi itu karena dianggap kotor. Tapi, keberadaan mereka pun dibutuhkan. Salah satunya oleh para penyembah di Bait Allah yang membutuhkan domba sebagai korban persembahan. Kalau sekarang ada peribahasa, “habis manis sepah dibuang.” Kira-kira begitulah nasib mereka, dicari kalau pas lagi butuh saja.

Namun, pada suatu hari, terjadi peristiwa besar yang menggemparkan dunia. Para gembala, yang dipandang rendah oleh masyarakat zaman itu, malah mendapatkan hak istimewa. Mereka tercatat dalam sejarah sebagai saksi mata pertama dari peristiwa mulia. Mungkin saat itu mata mereka sulit terbuka karena tidak kuat melihat cahaya kemuliaan Allah, lalu mereka mendengar sesosok makhluk surgawi yang bersabda: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Lukas 2:11). Bukan hanya itu, ketika mereka menatap ke langit, mata telinga mereka terpukau dengan merdunya suara bala tentara surga yang menyanyikan: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara semua manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:14).

“Kristus? Ya, Mesias. Dia itu yang kita nanti-nantikan selama ini!” Aku coba menerka kira-kira apa yang ada di dalam pikiran para gembala.

Kelahiran Mesias adalah penantian panjang orang Israel. Sejak zaman Perjanjian Lama, para nabi nenek moyang mereka telah menyuarakan janji akan Sang Juruselamat dari Allah (Yesaya 9:6-7; Yeremia 23:5-6; Amos 9:11-12) . Tanpa henti, janji ini pun terus dibicarakan oleh orang-orang Yahudi dari orang tua kepada anak-anak mereka. Mereka mendambakan sosok pemimpin politik yang dapat segera melepaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Tetapi, kita yang hidup di zaman sekarang mengetahui bahwa Kristus, Sang Mesias bukanlah membawa kemerdekaan dari penjajahan politis. Lebih dari itu, kelahiran, kematian, dan kebangkitan Kristus membawa kemerdekaan dari dosa.

Jikalau aku adalah seorang dari gembala itu, aku pasti punya reaksi yang sama. Aku ingin segera pergi melihat Sang Mesias yang baru lahir itu. Dengan petunjuk yang diberikan oleh malaikat, para gembala bergegas pergi dari satu kandang ke kandang yang lain di kota Betlehem untuk menemukan bayi yang dibungkus lampin dan terbaring di dalam palungan. Tanpa alamat yang jelas, apalagi belum ada Google Maps atau Waze pada masa itu, pastilah gembala-gembala ini bertanya ke sana dan ke sini, mengetuk pintu dari rumah ke rumah, dan mengamat-amati dengan saksama dari kandang ke kandang. Jangan-jangan bayi itu tertutup jerami kering dan mereka tidak melihatnya dengan jelas.

“Aha!!! Bayi itu ada di sini!” Inilah jeritan dari salah seorang gembala sambil mengibaskan tangan kanannya untuk memanggil teman-temannya yang lain. Dengan mata kepala mereka sendiri, mereka melihat sosok Sang Raja atas segala raja yang lahir merendahkan diri untuk mengambil rupa sama dengan manusia demi menjalankan misi besar-Nya. Tidak ada ranjang empuk di istana yang mewah yang menyambut kedatangan-Nya di tengah-tengah manusia yang dikasihi-Nya. Hanya beberapa pasang mata dari orang awam yang memberikan penghormatan kepada-Nya.

Aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya para gembala tak bernama ini. Mereka senang dapat bertatap muka langsung dengan Tuhan yang menurunkan status-Nya untuk menjadi sama rendah seperti mereka yang hina. Tak heran, sukacita yang amat besar ini dinyatakan dengan pujian yang memuliakan Allah tanpa henti sepulang dari melihat Yesus (Lukas 2:20). Bukan itu saja, mereka juga mewartakan Kabar Baik dari surga itu kepada orang-orang yang mereka jumpai di sepanjang jalan. Dengan ucapan bibir mereka, Kabar Baik ini dari surga itu menjadi viral di telinga anak cucu Daud yang pada waktu itu sedang berkumpul di Betlehem karena adanya sensus penduduk.

Coba kita lihat apa yang menjadi dampak dari cuitan-cuitan gembala ini? Lukas mencatat bahwa masyarakat luas “heran” dengan kabar ini (Lukas 2:18). Kata “heran” di sini bisa mengandung banyak arti. Orang banyak mempertanyakan keabsahan dari pemberitaan ini. Mereka meragukan berita ini, jangan-jangan hoaks, karena gembala-gembala ini bukan tokoh agama. Bukankah seharusnya para imam dan ahli Taurat yang menyampaikan berita seperti ini? Ada pula kelompok orang yang memang melongo dengan penuh kebingungan karena sudah lebih kurang 300-400 tahun, Allah diam dan tidak memberikan tanda sama sekali kepada umat-Nya. Tidak tertutup kemungkinan, ada yang tercengang dan sekaligus merasakan sukacita karena Mesias yang dinanti-nantikan akhirnya datang juga. Terlepas dari apapun respons yang diberikan orang banyak, kesaksian dari para gembala ini telah menggemparkan Betlehem.

Ibarat sebuah peribahasa berkata, “Kecil-kecil cabe rawit.” Jangan sepelekan bentuk cabe yang paling kecil dari semua ras cabe yang ada. Sebab, justru cabe rawit lah yang punya rasa paling pedas di antara semuanya. Para gembala memang hanyalah kaum kecil yang dipandang sebelah mata pada waktu itu. Namun, berita Natal yang pertama justru disampaikan kepada mereka dan mereka dipakai menjadi alat yang luar biasa untuk menyatakan Kabar Baik itu.

Lukas memang tidak memberitahu kita tentang apa yang terjadi dengan para gembala setelah ini. Namun, bayi yang terbungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan itu pada akhirnya menggenapkan misi-Nya sebagai Juruselamat. Yesus tidak menjadi Mesias politik yang membebaskan Israel dari penjajahan bangsa asing. Yesus menjadi Mesias yang melepaskan mereka, aku, dan kamu dari kematian kekal akibat dosa. Di atas kayu salib, Yesus menganugerahkan damai sejahtera dari Allah kepada orang-orang percaya kepada-Nya. Bahkan, Yesus juga mengundang kita semua untuk tinggal bersama-sama dengan-Nya di surga untuk selama-lamanya. Inilah seri komplit dari berita besar yang disebut malaikat itu sebagai “kesukaan besar bagi seluruh bangsa” (Lukas 2:10).

Episode pertama dari kisah Natal dengan para gembala sebagai aktor-aktornya telah lama berakhir. Namun, sang Sutradara belum ingin mengakhiri produksi dari kisah ini sampai di sana. Hari ini, Allah mengundang aku dan kamu untuk berlakon di dalam episode-episode yang akan segera diproduksi. Kita adalah orang-orang yang menikmati indahnya persekutuan yang dibangun oleh anugerah keselamatan di dalam Yesus Kristus. Saat ini, Allah memilih kita untuk dapat menyaksikan berita dari surga itu kepada dunia yang membutuhkan kasih anugerah-Nya.

Sobat muda, mungkin kamu bukan orang terkenal. Kamu tidak punya banyak talenta. Kamu pandang diri kamu biasa-biasa saja. Namun, sebagai anak-Nya, Tuhan tidak pernah memandangmu dengan sepele. Ia memandang kamu berharga dan bahkan mengundangmu untuk menjadi saksi dari karya keselamatan-Nya! Entah sudah berapa lama kita mendengarkan berita Natal. Namun, biarlah berita Natal itu tidak pernah menjadi kisah yang usang, karena kita mengalami kasih-Nya yang selalu baru tiap pagi (Ratapan 3:23–24). Dengan terus merasakan kasih-Nya, kita dapat membagikan pengalaman iman ini sebagai kabar sukacita bagi orang lain!

Di hari Natal ini, mari ceritakan Yesus kepada satu orang yang belum mengenal Sang Juruselamat itu! Cerita kita tentang Yesus pasti dapat berdampak bagi dunia ini karena Dia adalah Sang Allah yang membawa damai sejahtera ke bumi (Yesaya 9:6).

Stres Sehari-hari Bukanlah Kondisi yang Bisa Dianggap Remeh

Oleh Aryanto Wijaya

Sudah lebih dari dua bulan perutku tampak dan terasa lebih besar dari biasanya.

“Dung…dung…” suara kembung muncul saat telapak tanganku kutepukkan pelan-pelan ke atas perutku. Pikiranku segera menerka kalau-kalau ada yang tak beres dengan pencernaanku. Daripada aku googling dan mendapati info-info tidak akurat, maka keesokan harinya kuputuskan untuk menemui dokter spesialis penyakit dalam.

Sebenarnya kembung yang kualami saat itu bukanlah yang pertama. Setahun sebelumnya, aku pernah mengalami kembung serupa. Oleh dokter yang kusambangi, aku cuma dibilang butuh lebih banyak olahraga. Namun, di konsultasiku yang kedua kali (tapi di dokter yang berbeda), barulah aku disodorkan fakta yang membuatku tercengang.

Selama lebih kurang setengah jam, dokter melakukan pemeriksaan USG pada perutku. Hasilnya, dia bilang kalau aku terkena Gastroesophageal Reflux Disease atau lebih beken disingkat Gerd. Penyakit Gerd ini menyebabkan lambungku memproduksi cairan asam yang berlebihan. Karena volumenya yang terlalu banyak, asam itu lalu menjalar ke kerongkongan dan bagian pencernaan lainnya. Dampaknya jika dibiarkan bisa fatal.

“Masih mau hidup lama, kan?” tanya sang dokter dengan senyum tipisnya.

Aku tahu itu pertanyaan seloroh, tapi terasa menohok. Kujawab, “Iya dong dok, menikah aja belom masa udah good bye, haha.”

Aku menggugat diriku sendiri: kok bisa di umur yang masih muda sudah punya sakit begini?

Selama enam bulan sejak aku melakukan pengobatan hari itu, aku melakukan banyak pantangan makan. Pola hidup pun mau tak mau berubah total, walaupun ini sangat sulit dan seringkali aku abai. Aku belajar membiasakan diri untuk bergerak, makan mengurangi gorengan, tidur cukup, dan yang paling susah….mengubah caraku merespons terhadap stres.

Pikiran stres yang tak mungkin bisa hilang dari hidup

Di konsultasi-konsultasiku selanjutnya dengan dokter, dia mengungkapkan bahwa salah satu penyebab gangguan lambungku adalah stres yang tidak dikelola dengan baik, yang diperparah dengan tabiat makan dan pola tidur yang buruk.

Aku lantas menyelidiki diriku. Agaknya apa yang dokter itu sampaikan bukanlah sekadar diagnosis yang diambil dari teori, tetapi memang pada faktanya demikian. Aku seorang yang bisa dikategorikan sebagai introver, meskipun karena tuntutan pekerjaan aku sering tampil di muka publik. Aku suka menyendiri dan merenung, tetapi kadang durasinya bisa kelamaan. Dari situ, kusadar kalau aku belum memiliki kapasitas untuk mengelola setiap tekanan hidupku dengan benar dan baik. Ketika beban pekerjaan, konflik dengan rekan, beban finansial, atau masalah keluarga datang—yang sebenarnya adalah masalah rutin yang kita alami—yang kulakukan adalah berlebihan memikirkannya. Kupikirkan hal-hal yang seharusnya tak perlu jadi soal, hingga aku pun terjebak dalam pusaran kekhawatiran. Tidak satu jam atau dua jam, pikiran berat itu kubiarkan berkecamuk di otak berhari-hari, sampai-sampai aku sering kedapatan melamun sendirian di samping jendela.

Dalam buku Filosofi Teras, dr. Andri yang merupakan spesialis kejiwaan mengungkapkan bahwa apa yang terjadi di otak kita bisa memengaruhi badan secara keseluruhan. Tidaklah heran apabila saat seseorang merasa tegang atau panik, dia akan gemetar atau berkeringat dingin, atau sakit kepala. Lanjutnya, otak kita selalu berusaha untuk beradaptasi. Ketika kita mengalami stres yang diterjemahkan otak sebagai persepsi negatif, otak kita akan bekerja lebih keras untuk beradaptasi dengannya.

Hans Selye mengatakan demikian: “Bukan stres yang sebenarnya membunuh kita, tetapi reaksi kita terhadapnya.”

Mendapati kenyataan bahwa tekanan-tekanan hidup yang mengantar kita pada pikiran stres adalah bagian dari hidup, dapat menolong kita untuk melangkah ke arah yang lebih baik. Kita perlu menggeser fokus, bukan agar semua tekanan dalam hidup ini lenyap, tetapi bagaimana kita dapat merespons dengan benar terhadapnya.

Jalan pasti yang Gembala kita tawarkan

Ilmu psikologis saat ini telah berkembang. Kita dapat menemukan beragam jawaban komprehensif atas kendala-kendala pikiran dan perasaan yang kita gumulkan. Tetapi, sebagai orang Kristen, hendaknya kita tidak lupa bahwa iman yang kita anut turut pula menyajikan bagi kita jawaban-jawaban yang mendasar melalui firman Tuhan. Ayat-ayat dari Alkitab bukanlah mantra yang jika kita daraskan akan mengubah keadaan kita seperti sulap, tetapi karena itu diilhamkan oleh Allah, maka dengan kita menerima, mengerti, dan mengaplikasikannya, firman Tuhan berkuasa untuk mengubah kelakukan kita dan mendidik kita dalam kebenaran (2 Timotius 3:16; Yakobus 1:22).

Alkitab pun melihat perasaan takut, stres atau tertekan sebagai respons alamiah manusia. Tidak ada satu pun manusia yang kebal dari perasaan ini. Dalam beberapa bagiannya, Alkitab mencatat tokoh-tokoh yang bergumul dengan tekanan-tekanan hidup: Pemazmur yang meratap pada Tuhan, “Berapa lama lagi, Tuhan…?” (Mazmur 13:2); Ayub yang dalam kesakitannya tak tahu bilamana segala penderitaannya akan selesai; atau seorang Rut, yang pasca kematian suaminya harus memilih bagaimana dia akan hidup. Bahkan, Tuhan Yesus dari sisi manusia-Nya pun mengalami hebatnya gulatan perasaan ini ketika Dia hendak ditangkap oleh prajurit Romawi. Injil Matius 26 mencatat saking takutnya, Yesus mengucap: “Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya…” (ayat 38), dan saat Dia berdoa pun keringatnya berubah seperti titik-titik darah (Lukas 22:44).

Allah mengaruniakan manusia akal budi. Kita dipanggil untuk tidak menjadi serupa dengan dunia, dan mampu membedakan manakah yang baik dan yang buruk (Roma 12:2). Perasaan stres sejatinya adalah respons yang wajar, namun di sinilah titik krusialnya: bagaimanakah kita akan merespons stres tersebut?

Dunia mungkin menawarkan kita solusi atas perasaan itu—rekreasi sejenak, self-healing dengan makan, atau pada kasus yang buruk: beralih pada obat-obatan atau minuman beralkohol. Solusi-solusi itu bermanfaat, tetapi itu bisa hanya bersifat sebagai pengalihan. Biasanya, segera setelah seseorang pulang dari berlibur atau nongkrong, dia akan kembali berkubang dalam pikiran stresnya.

Firman Tuhan menawarkan kita solusi yang dibangun di atas jalan yang pasti, yakni jalan yang dibuat oleh Sang Gembala Agung untuk memimpin domba-domba-Nya.

Pertama, segala permasalahan dalam hidup yang memunculkan stres dalam diri kita bukanlah hal yang harus kita nihilkan kehadirannya. Melainkan, kita dapat merengkuhnya dan membawa itu semua ke hadapan Allah, sebab Allah bukanlah Allah yang jauh. Dia adalah Allah yang mendengar doa-doa kita dan bersedia menjawabnya (Yohanes 16:23).

Allah tidak memandang hina ratapan anak-anak-Nya. Yesus telah memberi kita teladan bahwa dalam masa-masa terkelam, ketika murid-murid-Nya tertidur dan tak dapat Dia andalkan, Dia tetap dapat meluapkan perasaan-Nya yang terdalam kepada Bapa (Matius 26:39, 42). Alkitab memang tidak mencatat ada jawaban secara verbal yang Allah berikan atas ratapan Yesus, tetapi satu hal yang kita imani adalah: Allah tidak pernah meninggalkan kita (Ibrani 13:5). Dalam Podcast KaMu Episode-3, Ev. Dhimas Anugrah mengungkapkan bahwa sekalipun Allah tampaknya diam dan tidak merespons, sejatinya diamnya Allah itu merupakan bahasa kasih-Nya. Dalam diam sekalipun, Allah tidak pernah berhenti mengasihi, sebab Dia adalah kasih (1 Yohanes 4:8).

Kedua, Allah menjanjikan penyertaan-Nya bagi setiap kita (Matius 28:20). Penyertaan Tuhan bukanlah sebuah kondisi bak sulap yang menjadikan seluruh perjalanan hidup kita mulus tanpa kendala. Tantangan, kesulitan akan tetap ada dan menghadang kita, tetapi bersama Dia dan dalam penyertaan-Nya, kita selalu dimampukan untuk mengatasinya (Filipi 4:13).

Dimampukan untuk mengatasi segala tantangan itu bukan pula berarti bahwa hidup kita akan selalu berhasil. Kegagalan mungkin akan tetap kita jumpai. Kesakitan mungkin akan tetap kita alami. Tetapi, dalam iman kita mengetahui bahwa segala kesukaran itu mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia, yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (Roma 8:28).

Dua kebenaran yang Alkitab sajikan bagi kita ini adalah sebuah rumus dasar yang seharusnya hadir dalam pemahaman kita. Ketika kita memiliki pola pikir dan cara pandang yang berasal dari-Nya, kita pasti bisa melalui setiap tantangan dan kesukaran, dan menjadikan itu sebagai kesempatan untuk mendewasakan iman kita.

Ketiga, merengkuh kerentanan adalah cara untuk menjadi kuat. Untuk menyembuhkan sakit, kita perlu tahu secara jelas apa yang jadi penyebabnya. Jiwa yang tertekan tidak seratus persen disebabkan oleh keadaan, tetapi lebih kepada respons kita terhadap keadaan itu. Jika respons kita adalah menanggapi dengan cara-cara yang negatif, pemazmur mengingatkan bahwa “…tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari” (Mazmur 32:3).

Kembali pada secuplik kisahku tentang sakit lambungku, sejak saat itu aku terus belajar untuk membangun dasar hidupku pada dasar yang teguh: firman Tuhan. Stres yang muncul sebagai respons atas kendala sehari-hari akan tetap ada, tetapi aku kini telah mengetahui cara yang benar untuk meresponsnya. Bukan membiarkan diriku jatuh berlarut-larut memikirkannya seorang diri, tetapi aku dapat menaikkannya dalam doa, dan juga meminta bantuan dari orang-orang terdekatku atau bahkan tenaga profesional kesehatan mental. Sebab meminta tolong bukanlah tanda bahwa kita lemah, meminta pertolongan adalah tanda bahwa kita manusia ciptaan Allah, yang dipanggil untuk saling menolong (Galatia 6:2).

Menutup tulisan ini, ada satu lagu yang liriknya memberkatiku. Lagu ini adalah sebuah himne yang dalam bahasa Inggris berjudul: “Turn Your Eyes Upon Jesus.”

Refrainnya berkata:

Turn your eyes upon Jesus
Look full in His wonderful face
And the things of earth will grow strangely dim
In the light of his glory and grace

Ketika kita memandang pada Yesus dan melihat wajah-Nya yang mulia, segala hal duniawi akan meredup, tersamarkan oleh sinar-Nya yang teramat mulia.

Tabik. Tuhan Yesus memberkati.

Kekuatan bagi Perjalananmu

Kisah si Penakut adalah alegori yang menggambarkan respons kita terhadap jalan terjal yang menghadang. Meski kita berjalan bersama Sang Gembala, kadang kita tetap merasa takut dan menginginkan agar Sang Gembala melenyapkan saja tantangan itu.

Tapi, Sang Gembala adalah Gembala yang bijak. Dia tahu kapan harus menggendong, kapan harus ‘membiarkan’ agar kita menjadi kuat dan mampu mengikut Sang Gembala ke manapun Dia membawa kita pergi.

Seri Lukisan Natal: Sebuah Kabar yang Luar Biasa

lukisan-natal-warungsatekamu-gembala

Karena Sang Bayi, gembala mendengar surga bernyanyi
Memuji Sumber Damai Sejahtera yang turun ke bumi
Bergegas mereka berangkat ingin berjumpa Sang Bayi
Turut bawa kabar suka dan pujian bagi Allah yang Mahatinggi

Sang Bayi Kudus, Yesus namanya
Inginkah kamu berjumpa dengan-Nya dan bersuka karena-Nya?

Baca: Lukas 2:8-21

Pelukis: @galihsuseno
Tahun: 2015
Bahan: Acrylic on Canvas
Ukuran: 120 x 160 cm

Selamat Datang Juruselamatku

Oleh: Abyasat Tandirura

selamat-datang-juruselamat

gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: ‘Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.’ Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.” (Lukas 2:15-16)

Natal kembali tiba. Hiasan lonceng dan kelap-kelip lampu Natal mulai terlihat meramaikan rumah dan pusat perbelanjaan. Luar biasa rasanya melihat sebuah peristiwa di desa kecil Betlehem lebih dari dua ribu tahun silam, kini dirayakan di seluruh belahan dunia. Meski banyak unsur perayaan bercampur dengan tradisi populer Barat yang tidak ada hubungannya dengan Alkitab, tetapi Natal tetap identik dengan kelahiran Kristus. Popularitas Natal memberi ruang yang besar bagi kita untuk menceritakan keajaiban kasih Allah yang menghampiri dan menyelamatkan manusia.

Tahun ini aku pribadi banyak merenungkan tentang sekelompok orang sederhana yang dicatat Alkitab telah bertemu langsung dengan sang bayi kudus. Para gembala. Aku terkesan dengan sikap antusias mereka ketika mendengar kabar kesukaan besar untuk seluruh bangsa yang diberitakan malaikat. Hari sudah malam. Mereka mungkin sudah lelah dan hendak beristirahat. Tetapi mereka tidak menunggu hingga pagi menjelang. Tanpa menunda-nunda waktu, mereka “cepat-cepat berangkat” (ayat 16). Mungkin mereka memang percaya penuh dan ingin segera berjumpa dengan Sang Juruselamat. Atau, mungkin mereka bergegas karena ingin membuktikan kebenaran perkataan malaikat itu. Tetapi pastinya, mereka sangat antusias menanggapi pesan Tuhan bagi mereka, sebab itu mereka segera bertindak! Betapa kontras sikap orang-orang sederhana ini dengan sikap para ahli Taurat yang tinggal di Yerusalem. Mereka mengerti Kitab Suci dan tahu jelas bahwa Mesias akan dilahirkan di Betlehem (lihat Matius 2:4-6). Tetapi mereka tidak berusaha sedikit pun mencari-Nya.

Para gembala pulang dengan penuh sukacita karena mereka telah membuktikan sendiri kebenaran yang dinyatakan Allah kepada mereka (ayat 20). Juruselamat telah lahir! Allah menepati janji-Nya!

Pesan yang sama kini diteruskan kepada kita. Juruselamat telah lahir! Seberapa antusias kita dengan pesan ini? Bisa saja perayaan-perayaan yang meriah dan berkesan mewah membuat kita kehilangan rasa takjub akan Allah yang berbaring dalam palungan. Dia yang tak terbatas rela membatasi diri agar kita dapat mengenal-Nya. Apakah kita memiliki semangat para gembala yang tak hanya puas mendengarkan berita malaikat, tetapi rindu mengalami sendiri perjumpaan dengan Sang Mesias?

Refleksi Natal tahun ini mengingatkan aku betapa perlunya selalu memeriksa diri, seberapa aku antusias dalam hubunganku dengan Tuhan. Adakah tempat terutama dalam hati ini menjadi milik Yesus setiap waktu? Apakah setiap pesan Firman Tuhan membuatku ingin “cepat-cepat” menaati-Nya, atau aku justru berlambat-lambat, bahkan pura-pura tidak pernah mendengar-Nya? Siapa pun bisa saja mengaku sebagai pengikut Yesus, atau merayakan Natal dengan gempita. Namun, Tuhan mengetahui mana hati yang benar-benar haus akan Dia, dan mana hati yang tertutup bagi-Nya.

Kiranya kita tidak hanya merayakan Natal karena tradisi, tetapi karena keyakinan yang makin kuat akan kebenaran tentang Sang Juruselamat yang telah lahir bagi segala suku bangsa. Kiranya hati kita tak hanya diliputi kerinduan akan suasana Natal yang damai dan menyenangkan, tetapi juga kerinduan untuk makin mengenal Sang Pembawa Damai Sejati secara pribadi, untuk bertumbuh makin serupa Dia, dan untuk membagikan karya keselamatan-Nya kepada dunia.

Selamat datang Juruselamatku. Selamat Natal untuk kita semua.