Posts

Kamu Berharga di Mata Tuhan

Oleh Marlena V.Lee, Jakarta

Pernahkah kamu bertanya-tanya tentang apakah yang membuatmu begitu spesial buat Tuhan? Adakah waktu-waktu di mana kamu bertanya, “Apakah aku benar-benar berharga di mata Tuhan? Mengapa?”

Kalau aku, ketika aku merasa lemah dan hancur hati, kerap aku menemukan diriku menanyakan hal tersebut. Bukannya aku meragukan Tuhan, hanya saja aku meragukan apakah diriku sendiri ini layak untuk dicintai atau tidak. Apa yang Tuhan lihat dariku, sehingga Dia menyerahkan segalanya—bahkan nyawa-Nya sendiri—untuk seseorang yang penuh kesalahan dan kelemahan sepertiku?

Pertanyaan itu selalu timbul tenggelam di hatiku, sampai suatu hari Tuhan menyadarkanku lewat suatu peristiwa sederhana. Saat itu, aku baru saja keluar dari mal dan sedang berlari ke halte bus. Tapi, aku menyadari ada sesuatu yang kurang. Gelangku hilang. Segera saja perasaan sebal menyenggol hatiku, sebab gelang itu adalah gelang yang aku buat sendiri. Tapi, karena saat itu aku sedang terburu-buru, jadi aku tidak berniat untuk kembali ke mal dan mencari gelang itu. Lagipula, gelang itu juga punya banyak kekurangan dan dengan hilangnya gelang itu, kupikir aku bisa membuat lagi yang baru dan menyempurnakan desainnya. Aku pun melanjutkan perjalananku.

Namun, entah mengapa, aku tiba-tiba teringat pada proses ketika aku membuat gelang itu. Aku ingat saat merencanakan bagaimana desainnya. Aku juga ingat saat mempertimbangkan batu manik-manik mana dan bahan lainnya yang sebaiknya kugunakan. Bahkan, perasaan menyenangkan ketika melihat rancangan gelangku mulai terbentuk pun kurasakan kembali. Langkahku terhenti. Meski banyak kekurangan, tapi proses pembuatan gelang itu tidaklah mudah dan aku pun mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Mungkin seharusnya aku mencoba mencari gelang itu.

Kembalilah aku ke dalam mal. Aku mencari di supermarket, toko roti, dan terus menelusuri jalan-jalan yang sempat kulalui. Sementara itu, kepingan demi kepingan ingatan saat aku membuat gelang itu terus mendatangi benakku. Semakin lama, jantungku jadi berdebar semakin kencang. Keinginanku untuk menemukan gelang itu kian menguat. Saat tiba di toko buku—tempat terakhir yang kuingat kalau gelangku masih ada—aku hampir panik karena tidak menemukan gelang itu di sana. Aku pun bertanya pada karyawan di sana.

“Maaf, gelang itu mahal?” tanyanya dengan ekspresi khawatir. Mungkin karena suaraku yang sedikit bergetar.

Saat aku mengatakan kalau gelang itu hanya terbuat dari mote dan renda, ia terlihat heran. Namun ia tetap tersenyum dan memintaku menunggu sambil bertanya pada rekan-rekannya.

Detik demi detik berlalu. Hatiku semakin tidak karuan. Bagaimana kalau gelang itu hilang? Tidak sesaat pun pikiran bahwa aku dapat membuat gelang itu kembali terlintas di benakku. Aku harus mendapatkannya kembali. Harus!

Saat karyawan toko buku itu kembali dengan gelangku di tangannya, aku menerimanya dengan tangan gemetar. Impitan di hatiku pun terlepas. Aku langsung menggenggamnya dekat di dadaku dan bersyukur. Saat itulah kusadari betapa berharganya bagiku benda tidak sempurna yang kubuat itu.

Melalui kejadian ini, Tuhan membuatku sadar, kalau aku bisa menganggap benda mati yang kubuat sebegitu berharganya, terlebih lagi Dia menganggapku berharga di hati-Nya. Benar, bisa saja Tuhan menciptakan versi diriku yang lebih sempurna, tetapi Dia bukanlah manusia yang membuat kesalahan. Dialah Tuhan, yang telah menenun kita dengan hati-hati dalam kandungan ibu kita (Mazmur 139:13). Bahkan, sebelum kita terlahir ke dunia ini, Dia sudah mengenal dan melayakkan kita (Yeremia 1:5).

Sobat, tidak peduli apa yang kamu rasakan tentang dirimu sendiri, tidak peduli seberapa tidak sempurnanya kamu, kenyataan bahwa Tuhan menciptakanmu itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi alasan dan bukti mengapa Dia begitu mengasihimu. Meski kamu merasa dirimu bukanlah apa-apa, hidupmu seolah dipenuhi kesalahan serta kegagalan, orang-orang di sekelilingmu menolakmu, atau bahkan kamu putus asa terhadap dirimu sendiri, ketahuilah satu hal ini: kamu teramat sangat berharga di mata Tuhan.

“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau” (Yesaya 43:4a).

Kamu begitu berharga, sampai-sampai Pencipta alam semesta ini merelakan Anak-Nya yang tunggal untuk turun ke dunia demi mencarimu dan mati di kayu salib bagimu. Seperti gembala yang menemukan dombanya yang terhilang, atau wanita yang menemukan kembali dirhamnya dan kemudian memanggil sahabat-sahabat serta tetangganya untuk bersukacita bersama, demikianlah sukacita yang meliputi surga ketika Tuhan mendapatkanmu kembali dalam pelukan-Nya (Lukas 15:4-10). Percayalah dan ketahuilah, terlepas dari apa pun yang kamu rasakan tentang dirimu sendiri, kamu sungguh berharga.

Baca Juga:

Belajar dari Nehemia: Sudahkah Doa Menjadi Respons Pertamamu?

Ketika menerima suatu informasi yang entah baik atau buruk, respons pertamaku adalah segera menghubungi temanku. Namun, kisah Nehemia menegurku.

Kisahku sebagai Korban Bullying yang Berharga di Mata Allah

Oleh Suparlan Lingga

“Emang dipikirnya dia itu siapa?”
“Sombong benar orang itu.”
“Kata-katanya sungguh menyakitkan hatiku, ingin rasanya kusumpal dan kurobek mulutnya itu.”
“Ah, kenapa orang-orang itu suka memandang remeh diriku, aku harap mereka lenyap dari muka bumi ini!”

Beberapa ungkapan di atas menggambarkan kondisi dan perasaan hatiku ketika dulu masih belum mengenal Allah secara pribadi. Ketika masih SMA, aku sering merasa marah, kecewa, dan dendam dengan perkataan dan perilaku teman sekelasku yang suka merundung (bully) dan mengolok-olok orang lain.

Tidak bisa dipungkiri bahwa praktik perundungan, mengolok-olok, meremehkan, dan sebagainya memang kerap terjadi di berbagai sekolah, tak terkecuali sekolahku. Berhadapan setiap hari dengan orang-orang yang suka merundung tersebut rasanya selalu membuatku ingin marah, kesal, dan juga kecewa. Aku tidak suka dengan realitas hidup seperti ini.

Namun, sebenarnya yang menjadi persoalan utama bukanlah orang-orang yang mengolok-olokku itu, melainkan caraku menyikapi mereka. Untuk membalas perilaku mereka, aku merasa perlu menonjolkan eksistensi diri agar mereka tidak memandang rendah diriku, bahkan kalau bisa supaya mereka takut kepadaku. Aku menantang siapa saja yang kuanggap meremehkanku, bahkan mengajak mereka berkelahi secara fisik. Aku juga bergabung dengan kelompok atau geng siswa yang dianggap nakal. Kupikir, dengan cara ini aku bisa menunjukkan siapa diriku.

Selanjutnya, di sekolah pun aku menjadi anak yang bandel. Aku mulai ikut-ikutan bolos dengan teman-teman satu geng, malas belajar, dan sering tidak mengerjakan tugas. Beberapa kali wali kelasku memberikan peringatan, bahkan sampai membuat surat panggilan untuk orangtua, tapi surat itu tidak pernah kusampaikan. Nilai raporku pun menjadi buruk. Puncaknya, aku tidak bisa mengikuti ujian caturwulan karena belum membayar uang sekolah. Uang yang seharusnya kubayarkan ke sekolah malah kupakai jalan-jalan dan berjudi. Akhirnya, keluargaku memutuskan untuk memindahkanku dari sekolah tersebut.

Meski sebenarnya aku menolak, namun aku tidak memiliki pilihan lain dan aku pun menuruti keputusan keluargaku yang memindahkanku ke sebuah kota kecil. Namun, siapa sangka bahwa kepindahanku inilah yang justru membawaku kepada pengalaman baru. Kebetulan, di kota itu aku tinggal di sebuah keluarga Kristen yang taat. Mereka mengajakku beribadah ke gereja, berdoa bersama, dan saat teduh setiap pagi. Awalnya, aku melakukannya dengan setengah hati dan cenderung ingin menolak. Namun, mereka tetap mengajakku dengan lembut hingga lama-kelamaan aku mulai tergugah dan mengikuti ajakan mereka. Di sini aku mulai belajar untuk membaca dan memahami Alkitab dengan sungguh-sungguh. Aku juga mulai ikut persekutuan anak muda yang membantu imanku terus bertumbuh dalam Kristus. Kepindahan ke kota kecil inilah yang memberiku kesempatan untuk mengenal dan menerima Kristus dalam hidupku.

Hal paling mendasar yang kurasakan ketika mengenal Kristus secara pribadi adalah perubahan cara pandangku terhadap diriku sendiri. Aku diingatkan bahwa Alalh sangat mengasihiku. Aku adalah ciptaan-Nya yang berharga, seperti tertulis demikian: “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu” (Yesaya 43:4). Allah telah menunjukkan kasih-Nya secara nyata kepadaku melalui pengorbanan Yesus di kayu salib untuk menebus dosa-dosaku.

Mengetahui kebenaran bahwa Allah begitu mengasihiku membuatku tidak perlu cepat marah dan dendam ketika diperlakukan tidak baik oleh siapapun. Aku tidak perlu merasa berkecil hati atau cepat tersinggung ketika merasa ada orang yang menganggap remeh diriku. Aku juga belajar bahwa segala kemarahan, sakit hati, kekecewaan, dan dendam yang kurasakan sebelumnya merupakan salah satu wujud dari egoku sendiri.

Dengan cara pandang yang baru ini, maka aku bisa membuat perubahan dalam menjalani hidupku. Ketika ada orang yang memperlakukanku dengan tidak baik, aku tidak akan segera marah, melainkan mencoba mengendalikan diri dan menjadikan peristiwa tersebut sebagai bagian dari pembelajaran hidupku. Ketika ada orang lain yang memandang remeh diriku, aku tidak langsung berkecil hati ataupun sakit hati. Dengan memohon hikmat Allah, aku belajar untuk lebih bijak ketika menghadapi berbagai perlakuan yang kurang menyenangkan.

Puji Tuhan, dengan perubahan-perubahan inilah akhirnya aku bisa melanjutkan sekolahku dengan baik. Allah menolongku untuk menjadi seorang siswa yang bersemangat. Dan, karena pertolongan-Nya pula aku bisa meninggalkan pergaulan dan kebiasaanku yang buruk. Akhirnya, aku bisa menyelesaikan SMA dengan nilai yang bagus dan melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri. Setelah lulus kuliah, aku bekerja selama beberapa tahun dan melanjutkan kembali studi pasca-sarjanaku di Amerika Serikat.

Ini semua karena kebaikan Allah semata. Aku percaya dan mengimani bahwa diriku berharga di hadapan-Nya. Hidup kita berharga bagi Allah.

Baca Juga:

Dilemaku Ketika Aku Divonis Menderita Penyakit Kista

Setahun lalu, sebuah penyakit kista coklat bernama endometriosis yang dikhawatirkan oleh banyak perempuan muncul di rahimku. Dokter menganjurkanku untuk operasi dan berkat kasih karunia Tuhan, operasi tersebut berjalan lancar. Akan tetapi, setahun berselang, penyakit itu kambuh kembali dan sudah melengket pada usus dan saluran kemihku.

Aku Merasa Cacat Karena Kelainan Mata, Namun Inilah Cara Tuhan Memulihkan Gambar Diriku

Oleh Sukma Sari, Jakarta
Ilustrasi oleh Galih Reza Suseno

Aku dilahirkan sebagai bayi yang normal dan sehat di sebuah desa di Jawa Timur 26 tahun lalu. Namun, beberapa bulan kemudian, orangtuaku menyadari ada yang berbeda dengan mata sebelah kananku. Setelah diperiksa, dokter mendapati kalau pupil dan bola mata kananku tidak bereaksi terhadap cahaya karena ada pembekuan darah di saraf mata sebelah kanan.

Ketika duduk di bangku SD, aku menyadari bahwa mataku berbeda. Selama ini hanya mata kiriku saja yang bisa melihat normal. Jika mata kiriku melirik ke kiri atau kanan, mata kananku tidak bisa mengikutinya. Dalam keadaan normal, mata kananku pun terlihat lebih kecil daripada mata kiri. Lalu, jika mata sebelah kiri kututup, otomatis aku tidak bisa melihat apa-apa. Gelap. Kalau aku mulai kelelahan, mata sebelah kananku akan makin mengecil, bahkan nyaris tertutup.

Kondisi fisikku yang berbeda dari anak-anak lainnya membuatku minder. Beberapa teman di sekolah sering mengejek kondisi mata kananku. Mereka suka menyamakanku dengan seorang mantan presiden Indonesia yang juga memiliki kendala penglihatan. Seakan belum cukup dengan ejekan dari teman-teman sekolah, saat aku bepergian, entah di kendaraan umum atau saat mengantre dan ada anak kecil yang melihat ke arahku, mereka akan spontan berkata kepada ibunya. “Ih, matanya kecil sebelah.” Atau, jika anak kecil itu mengenalku, dia akan menanyakan, “Mengapa matanya kecil sebelah?” Dan, jika ditanyakan pertanyaan seperti itu, aku hanya menjawab “kecapean” sambil memberikan senyum terbaikku.

Aku ingat, dulu dokter pernah mengatakan jika mataku sedari dini sudah ditangani, mungkin ada jalan keluar yang bisa diambil. Saat aku berusia 5 tahun, aku takut untuk menjalani CT-Scan. Alat itu tampak begitu mengerikan buatku. Ibuku pun sempat kesal karena aku selalu menangis menolak jika diminta menjalani CT-Scan. Ketika aku dewasa, aku sempat menyesali betapa penakutnya aku dulu. Seandainya saja dulu aku berani, mungkin dokter bisa menangani lebih lanjut kondisi mataku.

Kekuranganku membuatku lupa bahwa di luar sana ada orang-orang yang tidak seberuntung aku, tetapi mereka tidak berputus asa. Selain itu, aku juga sempat meragukan kasih sayang Tuhan. Jika Tuhan mengasihi anak-Nya, apakah mungkin Dia memberikan sesuatu yang begitu pahit untuk ditelan?

Meski kondisi fisikku berbeda, namun aku termasuk anak yang berprestasi selama di sekolah. Setiap pembagian rapor, aku selalu masuk di jajaran 10 besar. Jauh di dalam hatiku, aku tahu sebenarnya prestasiku ini hanya untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa aku ini cukup pintar. Saat itu aku berpikir bahwa orang-orang akan menerimaku jika aku pintar. Selama masa SMP dan SMA, tidak ada lagi yang mengejekku, tapi kenangan pahit semasa SD dulu mematrikan dalam benakku bahwa aku cacat dan tumbuh menjadi seorang yang tidak percaya diri.

Ketika aku menyadari identitas diriku yang sejati

Bukan perjalanan yang singkat bagiku untuk bisa memahami bahwa aku diciptakan untuk tujuan Allah yang mulia. Waktu itu aku masih merasa malu dengan kondisi mataku dan sulit menerima kenyataan bahwa aku sedikit berbeda. Aku sering membandingkan diriku dengan orang lain dan berandai-andai jika aku memiliki mata seperti mereka. Selama bertahun-tahun aku hidup dengan melabeli diriku sendiri sebagai seorang yang cacat. Sampai suatu ketika terjadi sebuah peristiwa yang pada akhirnya menyadarkanku akan identitasku yang sesungguhnya.

Aku mulai mengenal Kristus saat mengikuti persekutuan di kampus. Dalam ibadah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), pembicara di sana menyampaikan pesan bahwa manusia diciptakan untuk tujuan mulia Allah. Akan tetapi, dosa telah merusak relasi manusia dengan Allah, dan segala upaya manusia untuk memulihkan relasi ini gagal. Oleh karena itulah, Kristus diutus Bapa untuk memulihkan relasi yang rusak ini melalui karya penebusan di kayu salib.

Firman Tuhan yang diberitakan hari itu membuatku terpesona dan pesan bahwa darah Yesus tertumpah bagiku itu sangat menggetarkan hatiku. Selepas KKR itu, aku tahu bahwa hidupku tidak akan pernah sama lagi. Tuhan telah “menangkapku”. Sejak aku menerima Kristus, aku merasa duniaku seakan jungkir balik. Apa yang dulu kurasa merupakan suatu kebanggaan dalam diriku (seperti prestasi juara di sekolah) ternyata adalah suatu penyakit! Aku disadarkan bahwa identitasku yang sesungguhnya bukan didasarkan pada apa kata orang, bukan juga dari kebanggaan duniawi atas apa yang telah kuraih.

Dalam salah satu sesi sharing bersama kakak seniorku di kampus, dia memberiku sebuah ayat dari Yohanes 9:3. Di awal perikop itu, ketika murid-murid Yesus menjumpai seorang yang buta, mereka bertanya pada Yesus siapakah yang membuat orang itu buta? Apakah karena dosa orangtuanya, atau karena dosa orang itu sendiri? Yesus pun menjawab: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”

Sharing tersebut membuatku merasa terhibur dan dikuatkan. Aku percaya bahwa melalui diriku, Allah ingin mengerjakan sesuatu. Dia ingin aku menjadikan kelemahanku sebagai pengingat agar aku tidak mengandalkan kekuatanku sendiri dan berserah kepada-Nya. Aku bersyukur karena pada akhirnya, kekurangan fisikku dan pergumulanku untuk menerima gambar diriku seutuhnya bisa dipakai Allah untuk menjadi sebuah kesaksian yang kuharap akan memberkati orang-orang yang membacanya.

Aku percaya, bahwa Tuhan menciptakan diriku bukanlah karena suatu kecelakaan, tapi Dia telah merencanakan semuanya, dan segala sesuatu yang dicipta oleh-Nya itu baik adanya (Kejadian 1:31). Aku juga belajar untuk melihat ke bawah, bahwa ada orang yang tidak seberuntung aku, namun mereka sanggup untuk bersyukur akan keadaannya.

Jika dulu aku enggan menatap diriku di cermin, kini aku bisa berkaca dan berkata pada diriku sendiri, “Aku dicintai-Nya!” Kalau dulu aku begitu pesimis akan kesembuhanku, sekarang aku bisa mengikuti terapi untuk membuat otot mata sebelah kananku tetap bergerak sama dengan otot mata sebelah kiri. Prestasi-prestasi yang kuperjuangkan bukan lagi menjadi ajang pembuktian diri supaya aku diterima oleh teman-temanku, melainkan sebagai sebuah ungkapan syukur atas Allah yang begitu baik untukku.

Ada sebuah lagu berjudul “Semua Baik” yang liriknya begitu menyentuh. Lirik-lirik sederhana ini selalu menjadi pengingatku bahwa Allah adalah Allah yang teramat baik. Dia merancangkan masa depan yang terbaik buatku.

Dari semula, t’lah Kau tetapkan hidupku dalam tangan-Mu, dalam rencana-Mu, Tuhan
Rencana indah t’lah Kau siapkan bagi masa depanku yang penuh harapan
S’mua baik, s’mua baik, apa yang t’lah Kau perbuat di dalam hidupku
S’mua baik, sungguh teramat baik, Kau jadikan hidupku berarti

Sahabat, jika saat ini ada dalam dirimu suatu kondisi atau penyakit yang membuatmu merasa berbeda dengan orang lain, jangan pernah menyerah dan putus asa. Aku dan kamu dicipta Tuhan baik adanya. Percayalah, segala sesuatu terjadi bukan karena kebetulan. Segala hal yang terjadi dalam kehidupan kita, Tuhan maksudkan untuk mendewasakan, mendidik, dan membentuk kita menjadi makin serupa dengan Dia.

“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (2 Korintus 12:9).

Baca Juga:

Dalam Peliknya Masalah Kemiskinan, Kita Bisa Berbuat Apa?

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kemiskinan dan menolong mereka yang kurang beruntung? Pertanyaan ini pernah membuatku bingung. Awalnya aku menganggap bahwa kemiskinan adalah realita yang terlalu besar. Tapi, sejatinya ada satu hal yang bisa kita perbuat.

Kamu Pernah Minder Karena Penampilanmu Diejek Teman? Aku Pernah. Inilah Kisahku.

kamu-pernah-minder

Oleh Grace Anindya, Jakarta

Aku terlahir dengan rambut yang keriting. Tapi, jangan bayangkan ikal besar seperti rambut boneka. Rambutku cenderung kasar, dan terkadang kusut seperti kabel telepon yang jarang dipakai.

Sewaktu duduk di kelas 2 atau 3 SD, aku menganggap rambut keritingku ini mirip seperti rambut para putri kerajaan yang sering muncul di dalam film kartun. Jadi, dengan percaya diri, aku senang membuat rambutku tergerai. Tapi, teman-temanku tidak menganggapnya demikian. Bagi mereka, dengan rambut seperti itu, aku lebih mirip seperti singa yang sedang kelaparan daripada putri kerajaan. Awalnya aku bersikap biasa saja dengan candaan itu, namun lama kelamaan aku jadi merasa tidak nyaman.

Ketika aku duduk di bangku SMP, ada seorang guru yang suka memberikan julukan kepada murid-muridnya berdasakan kondisi fisik yang dia lihat. Dia menjulukiku dengan panggilan “Si Kribo”, “Si Keriting”, “Si Rambut Mi”, dan masih banyak nama lain. Teman-temanku menganggap julukan itu sebagai hal yang lucu, jadi mereka pun ikut-ikutan. Julukan yang terus menerus disematkan kepadaku itu membuatku makin merasa tidak nyaman dengan rambut keriting yang kumiliki.

Puncak kekesalanku tiba tatkala ada seseorang yang menempelkan kertas penuh double-tape bertuliskan “Aku orang gila” di rambutku. Awalnya aku tidak menyadari apapun. Tapi, aku merasa aneh karena semua orang tertawa apabila menaptaku. Ketika aku menyadari bahwa ada kertas itu di rambutku, aku menangis sejadi-jadinya. Rambutku rontok karena ada begitu banyak double-tape yang menempel. Bukannya permintaan maaf yang kudapat, teman-temanku malah menuntutku supaya tidak marah. Bagi mereka, apa yang dilakukan itu hanyalah sebuah candaan sehingga aku tidak boleh cengeng.

Semenjak peristiwa itu, aku jadi semakin minder. Aku jadi sensitif dengan candaan, tetapi aku juga takut apabila tidak punya teman. Aku merasa diriku tidak berharga ketika teman-teman menganggapku tidak asyik karena aku sering tersinggung jika diajak bercanda. Tak kupungkiri, aku juga menaruh rasa dendam kepada teman-teman yang pernah membuatku menangis. Bukan perasaan dendam ingin balik menyakiti mereka, tetapi dalam hati aku bertekad supaya suatu hari aku bisa membuktikan pada mereka kalau aku pun bisa sukses dan mereka “berlutut” di hadapanku.

Ketika aku masuk SMA, aku jadi semakin membenci rambutku. Berbagai perawatan rambut sudah kucoba lakukan. Mulai dari memakai sampo dan kondisioner terbaik, hingga mencoba berbagai produk pelurus lambut. Tetapi pada akhirnya rambutku selalu kembali lagi menjadi keriting. Aku putus asa. Alih-alih menjadi bagus, segala perawatan itu malah membuat rambutku menjadi kering dan rontok banyak. Selain itu, rasa minderku membuatku merasa kalau aku tidak memberikan kesan yang baik ketika aku pertama kali bertemu dengan orang lain. Banyak yang menganggapku terlalu pendiam bahkan sombong, padahal sebenarnya aku hanya malu dan tidak cukup percaya diri untuk memulai percakapan.

Singkat cerita, di tengah pergumulanku untuk bangkit dari rasa minder, aku bertemu dengan sebuah komunitas di gereja. Bermula dari sekolah minggu, lalu aku mengikuti kebaktian remaja. Di sana, aku diajak untuk bergabung dengan kelas pembinaan dan Kelompok Tumbuh Bersama (KTB). Awalnya aku sempat merasa ragu. Aku masih merasa takut diejek karena rambut keritingku. Tapi, seiring berjalannya waktu aku merasakan sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya, aku merasa diterima. Untuk pertama kalinya aku merasa punya sahabat dan bertemu dengan orang-orang yang tidak memandang bentuk fisikku sebagai sebuah hal yang bisa dijadikan ejekan.

Selain mendapatkan relasi yang baik, dalam kelas pembinaan dan KTB ini juga aku banyak belajar tentang kebenaran firman Tuhan. Aku masih ingat dengan jelas bahwa tema yang dibahas pada pertemuan pertamaku adalah tentang penciptaan dan gambar diri manusia dari kitab Kejadian. Tuhan menciptakan segala sesuatu sungguh amat baik (Kejadian 1:31), termasuk juga manusia. Oleh karena itu, tidak seharusnya kita menghina ciptaan Tuhan yang unik, apalagi sesama manusia.

Aku juga diingatkan akan begitu besar kasih Allah bagi dunia ini. Ketika Yesus datang ke dunia, tidak semua orang mau menerima-Nya. Tetapi, Yesus tidak marah apalagi menaruh dendam. Padahal, jika dipikir dengan pola pikir dunia, bisa saja Yesus marah dan membinasakan semua orang yang menolak-Nya. Tetapi, karena kasih-Nya, Yesus tidak melakukan itu. Yesus memberi diri-Nya mati di kayu salib untuk menebus semua manusia, termasuk orang-orang yang juga menghina-Nya. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23:34).

Aku begitu tertegur. Hinaan dan celaan yang aku terima jelas tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang Yesus terima. Setelah aku menerima kebenaran ini, aku belajar untuk tidak lagi menaruh dendam kepada teman-temanku. Aku belajar untuk tidak menganggap ejekan-ejekan teman-temanku itu sebagai sesuatu yang menjatuhkanku, tetapi merupakan sebuah sarana untuk aku belajar bijaksana merespons dan mengikuti teladan yang Tuhan Yesus berikan.

Kelas pembinaan dan KTB yang aku ikuti perlahan melatih diriku untuk percaya diri dan menerima keadaan diriku apa adanya. Akhirnya, aku bisa menerima bahwa dilahirkan dengan rambut keriting bukanlah suatu kesalahan, tetapi sebuah anugerah yang Tuhan berikan untukku. Yang perlu aku lakukan adalah merawat rambutku supaya tetap sehat, bukan memodifikasinya supaya disukai orang lain. Rambut keriting ini adalah bagian dari desain Tuhan yang sempurna atas tubuhku, oleh sebab itu aku tak perlu lagi malu jika bertemu dengan orang banyak.

Aku bersyukur karena lewat kelas pembinaan dan KTB yang aku ikuti, Tuhan menyadarkanku bahwa tidak seharusnya aku bersedih hati karena bentuk fisikku berbeda dari standar orang lain. Perlakuan yang kurang menyenangkan di masa lalu juga bukan jadi alasanku untuk bersedih, tetapi jadi pembelajaran buatku bahwa aku tidak boleh melakukan yang sama. Aku belajar untuk tidak menjadikan bentuk fisik orang lain sebagai bahan ejekan yang bisa menyakiti hati mereka.

Akhir kata, aku amat bersyukur bisa mengenal Tuhan di masa mudaku melalui komunitas yang menguatkanku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan diriku bila waktu itu aku tidak mengenal-Nya. Mungkin, aku akan terus menerus menyesali keadaanku. Melalui pengalaman ini, aku sadar bahwa ketika Tuhan menjadikan sesuatu yang seolah tampak tidak menyenangkan, sejatinya Dia sedang melatih imanku. Tuhan ingin aku mampu bersikap bijaksana dan memandang hanya kepada-Nya saja.

Baca Juga:

5 Tips Menghadapi Bos yang Menyebalkan

Jika kamu membaca artikel ini karena kamu memiliki bos yang menyebalkan, aku mengerti perasaanmu. Dari pengalamanku, aku sangat paham betapa beratnya beban yang harus kamu pikul akibat memiliki bos seperti itu. Stres dan gelisah bahkan bisa menghantuimu hingga waktu di luar jam kerja dan bahkan saat kamu bangun pagi.

Mengapa Aku Mengagumi Superhero Sejak Kecil

mengapa-aku-mengagumi-superhero-sejak-kecil

Oleh Desiree U. Angeles, Filipina
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why I’ve Always Loved Superheroes

Sejak aku masih kecil, aku adalah penggemar berat karakter Batman. Mungkin tidak banyak anak perempuan yang mengagumi karakter ini, tapi kemampuan Batman untuk mengalahkan para penjahat selalu membuatku kagum. Padahal, dia sendiri tidak memiliki kekuatan supranatural.

Mungkin, alasan lain dari mengapa aku begitu mengagumi Batman adalah karena pengalaman masa laluku. Waktu aku masih duduk di bangku SD, teman-temanku sering mengolok-olokku. Setiap kali mereka mulai mengolokku, aku selalu berpikir andai saja aku memiliki sifat tegas, otak yang pintar, dan tubuh yang kuat sama seperti Batman. Bahkan, aku pernah meminta ibuku untuk mendaftarkanku di kelas pelatihan bela diri, tapi ibuku tidak setuju.

Alasan itulah yang membuatku begitu mengagumi segala tontonan tentang superhero. Semakin sering aku menontonnya, semakin aku berharap supaya bisa menjadi seperti mereka. Atau, paling tidak suatu hari nanti aku akan menemukan seorang superhero yang bisa melindungiku dari orang-orang yang menggangguku. Begitu terobsesinya aku pada superhero inilah yang membuat hubunganku dengan teman-teman sekelasku menjadi renggang karena mereka menganggapku aneh.

Keadaanku jadi semakin buruk karena teman-temanku tidak berhenti mengolok-olokku. Aku merasa bahwa tidak ada orang yang mau mengasihi atau menerimaku apa adanya. Tidak akan pernah ada orang yang mau mengerti perasaanku dan sudi menerima orang aneh sepertiku. Rasa penolakan ini membuatku tenggelam dalam fantasiku sendiri akan superhero yang kupikir bisa membuatku bahagia.

Tapi, cara pikirku berubah ketika aku mengenal Yesus. Aku masih ingat dengan jelas peristiwa ketika aku dan ibuku diundang untuk menghadiri ibadah Minggu di sebuah gereja dekat rumah kami. Di sanalah aku menyadari bahwa ada seorang superhero yang benar-benar nyata, tidak seperti Batman dan superhero lainnya yang hanyalah karakter fiksi. Superhero ini adalah Yesus Kristus, yang datang ke dunia sebagai manusia dan tinggal di tengah-tengah kita untuk memulihkan hubungan kita dengan Bapa. Berbeda dari superhero yang aku kenal di layar televisi, Yesus benar-benar mengasihiku, mengenalku seutuhnya, dan mengorbankan segalanya, termasuk nyawa-Nya demi menebusku (Yohanes 3:16).

Yesus adalah superhero yang selalu ada di sisiku dan membimbing setiap langkahku. Berbeda dari karakter-karakter fiksi dari komik DC, Yesus itu hidup dan begitu dekat denganku. Dia melindungiku dan mengasihiku tanpa syarat. Dia menerimaku di tengah keterpurukanku, Dia mengasihiku lebih dari siapapun juga, dan Dia mengubah diriku sepenuhnya.

Ketika aku menyadari semua kebenaran ini, rasa sedih dari olok-olokan yang kuterima dari teman-temanku perlahan menghilang. Seperti yang tertulis dalam kitab Mazmur 147:3, “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka,” demikianlah Yesus memulihkan segala luka-luka hatiku.

Ketika menghadapi masalah, beberapa dari kita mungkin berusaha mencari sosok superhero yang bisa menolong kita. Mungkin, kita akan mencari sosok itu dari orang-orang di sekitar kita, seperti teman-teman atau anggota keluarga kita. Tetapi, kita memiliki Tuhan yang sejati dan hidup, superhero kita sesungguhnya yang jauh lebih dahsyat dari segala karakter fiksi ataupun orang-orang yang kita kenal.

Baca Juga:

Yuk Belajar dari 5 Pasangan di dalam Alkitab yang Takut akan Allah

Dulu, aku selalu memandang sebuah hubungan hanya dari kacamataku sendiri. Ketika aku merasa cinta dengan seseorang, tanpa pikir panjang aku langsung berpacaran dengannya karena aku sangka itu perasaan dari “Roh Kudus”. Namun, suatu hari sebuah pikiran terlintas di kepalaku: Mengapa kita tidak belajar dari pernikahan-pernikahan kudus di dalam Alkitab untuk mencari tahu pemikiran Allah?

Menampilkan Gambar Diri

Senin, 27 Maret 2017

Menampilkan Gambar Diri

Baca: Yesaya 43:1-9

43:1 Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.

43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.

43:3 Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Aku menebus engkau dengan Mesir, dan memberikan Etiopia dan Syeba sebagai gantimu.

43:4 Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.

43:5 Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau, Aku akan mendatangkan anak cucumu dari timur, dan Aku akan menghimpun engkau dari barat.

43:6 Aku akan berkata kepada utara: Berikanlah! dan kepada selatan: Janganlah tahan-tahan! Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi,

43:7 semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!”

43:8 Biarlah orang membawa tampil bangsa yang buta sekalipun ada matanya, yang tuli sekalipun ada telinganya!

43:9 Biarlah berhimpun bersama-sama segala bangsa-bangsa, dan biarlah berkumpul suku-suku bangsa! Siapakah di antara mereka yang dapat memberitahukan hal-hal ini, yang dapat mengabarkan kepada kita hal-hal yang dahulu? Biarlah mereka membawa saksi-saksinya, supaya mereka nyata benar; biarlah orang mendengarnya dan berkata: “Benar demikian!”

Engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau. —Yesaya 43:4

Menampilkan Gambar Diri

Untuk memperingati ulang tahun Winston Churchill ke-80, parlemen Inggris menugasi Graham Sutherland untuk melukis potret negarawan terkenal itu. Konon Churchill bertanya kepada sang seniman: “Bagaimana kamu akan melukis saya? Seperti malaikat atau buldog?” Churchill menyukai kedua persepsi populer tentang dirinya itu. Sutherland pun berkata bahwa ia akan melukis seperti yang dilihatnya.

Namun, Churchill tidak senang dengan hasilnya. Lukisan karya Sutherland tersebut memperlihatkan Churchill sedang duduk di sebuah kursi dengan ekspresi muram yang menjadi ciri khasnya. Gambaran itu memang mirip dengan kenyataannya, tetapi tidak memikat. Setelah peluncurannya, lukisan itu pun disembunyikan Churchill di gudang bawah tanah. Lukisan itu kemudian dimusnahkan secara diam-diam.

Seperti Churchill, banyak dari kita memiliki gambar diri yang juga kita inginkan agar dilihat orang lain—baik itu menggambarkan kesuksesan, kesalehan, kecantikan, atau kekuatan. Kita berupaya keras untuk menyembunyikan “sisi buruk” kita. Mungkin di lubuk hati kita yang terdalam, kita takut orang tidak akan mengasihi kita jika mereka mengenali gambar diri kita yang sesungguhnya.

Bangsa Israel yang ditawan oleh kerajaan Babel berada dalam keadaan mereka yang terburuk. Karena dosa-dosa mereka, Allah memperkenankan para musuh untuk mengalahkan mereka. Namun, Dia meminta mereka untuk tidak takut. Dia mengenal nama mereka dan telah menyertai mereka dalam setiap kesulitan yang mereka alami (Yes. 43:1-2). Mereka aman di dalam tangan-Nya (ay.13) dan “berharga” di mata-Nya (ay.4). Meskipun mereka buruk, Allah tetap mengasihi mereka.

Apabila kebenaran yang luar biasa itu kita hayati sungguh-sungguh, kita tidak akan menggebu-gebu mencari pengakuan dan penerimaan dari orang lain. Allah mengetahui gambar diri kita yang sesungguhnya dan Dia masih mengasihi kita tanpa batas (Ef. 3:18). —Sheridan Voysey

Karena Allah begitu mengasihi kita, kita mampu menampilkan gambar diri kita yang sesungguhnya di hadapan orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-Hakim 1-3; Lukas 4:1-30

Artikel Terkait:

Aku (Ternyata Tidak) Bodoh

“Aku kecewa karena aku merasa diciptakan Tuhan sebagai seorang yang bodoh. Nilai-nilaiku di sekolah sejak kelas 1 SD selalu banyak merahnya. Melihat teman-teman yang punya ranking di kelas, aku sering merasa iri. Mengapa Tuhan ciptakan mereka pintar dan aku bodoh? Namun, sekalipun lebih sering belajar, tetap saja aku masih merasa bodoh. Sepertinya sia-sia berusaha, karena aku merasa memang aku ini diciptakan sebagai orang bodoh. Mau apa lagi?”

Baca kesaksian Helen Maria selengkapnya di dalam artikel berikut.

#Selfie

Oleh Karen Kwek, Singapura
Ilustrator: Marie Toh

Lihat! Aku sedang di Peru—di depan reruntuhan Machu Picchu, reruntuhan kerajaan Inka.

Ini juga aku, lagi seru nonton konser.

Lihat lagi nih, aku siap menyantap iga bakar ukuran jumbo.

Nah, yang ini aku baru keluar salon dengan model rambutku yang baru.

Halaman demi halaman profil media sosialku menyentakku dengan sebuah kebenaran. Aku adalah seorang yang ketagihan selfie. Dan, aku tidak sendirian.

Potret diri sendiri jelas bukanlah hal yang baru. Selama berabad-abad, para seniman telah membuat gambar diri mereka agar dapat dikenal generasi berikutnya. Namun, belakangan ini, ponsel pintar dengan kamera depan telah membuat orang sangat mudah memotret diri sendiri. Kita tidak perlu menjadi seorang seniman seperti Van Gogh dulu untuk bisa membuat gambar diri yang siap dipamerkan di hadapan banyak orang. Cukup menekan satu tombol saja, foto kita bisa meraih banyak hati di Instagram atau banyak jempol di Facebook. Kita tidak hanya sibuk ber-selfie-ria, kita juga sibuk saling memberi komentar tentang selfie. Setelah dinobatkan oleh Kamus Oxford sebagai kata terpopuler tahun 2013, kata selfie akhirnya resmi dimasukkan dalam kamus bahasa Inggris tersebut pada bulan Juni 2014. Suka atau tidak suka, selfie ada di dalam dunia kita.

Namun, bagaimana mungkin orang tidak suka selfie? Kita tidak lagi perlu menyetel pengaturan foto otomatis lalu berlari-lari untuk mengambil posisi sebelum sinyal merah pada kamera berhenti berkedip. Kita tidak lagi perlu khawatir hasil foto kita kabur, atau ibu jari kita kelihatan karena hanya bisa mengira-ngira posisi yang tepat saat kamera dihadapkan kepada kita. Kita juga tidak perlu repot-repot datang ke studio foto. Sekarang sudah tersedia juga sejumlah aplikasi ponsel yang memberi petunjuk bagaimana memposisikan kepala dan kedua belah bahu dengan tepat, agar kita bisa membuat pas foto resmi sendiri. Kita bahkan bisa mengambil foto berulang kali sampai senyum kita terlihat sempurna, karena—jujur saja—kita sendirilah yang paling bisa menilai foto mana yang ingin kita tampilkan kepada dunia.

Fenomena selfie membuatku bertanya: apakah selfie hanyalah sebuah cara yang menyenangkan untuk mengabadikan dan membagikan cerita hidup kita kepada teman-teman kita, ataukah ada sesuatu di balik tren ini yang penting untuk kita cermati, lebih dari sekadar memuaskan mata? Mungkinkah hobi selfie menunjukkan sesuatu yang lebih dalam tentang motivasi kita, sikap-sikap kita, dan apa yang kita pikirkan tentang diri kita?

Rasa Tenteram yang Semu
Pada bulan April 2014, seorang bernama Radhika Sanghani menulis sebuah artikel untuk surat kabar UK’s Telegraph. Ia mengamati bahwa orang sepertinya menemukan semacam rasa aman dengan terus menerus berada di depan sekaligus di belakang kamera:

Saat aku bicara dengan teman-temanku yang paling sering selfie, mereka sepakat bahwa mereka merasa tenteram bila memiliki kendali atas gambar diri mereka. “Lebih mudah menyunting dan mengontrol foto yang kamu ambil sendiri daripada foto yang diambil orang lain,” kata seorang teman. “Kamu dapat membuat fotomu terlihat lebih baik.”

Wajar saja jika kita ingin dilihat dalam penampilan terbaik kita. Siapa juga yang mau tampil asal-asalan saat menghadiri sebuah acara atau wawancara pekerjaan? Akan tetapi, media sosial sepertinya telah menaikkan standar itu dengan memberi kesempatan yang lebih luas untuk menampilkan sisi terbaik kita. Ketika foto-foto selfie kita terpasang di sana, dunia dapat melihat lebih banyak sisi kehidupan kita, dan kita pun bisa mengetahui pandangan orang tentang diri kita. Dalam artikelnya, Sanghani berpendapat bahwa ber-selfie-ria menunjukkan keinginan untuk “diperhatikan dan diterima dalam masyarakat”. Penerimaan ini seringkali diukur dengan jumlah “like” yang kita peroleh—sebab itu orang bisa menghabiskan banyak waktu untuk mencari tahu mengapa foto tertentu mendapatkan “like” lebih banyak dari yang lain. Tanpa disadari kita bisa membiarkan orang lain menentukan apa yang bernilai bagi kita dan mendefinisikan identitas kita.

Ketika nilai diri kita didasarkan pada pengakuan orang lain, hati kita akan sangat sulit untuk merasa tenang. Kita terus-menerus merasa perlu memperbarui halaman profil kita. Dengan menekan sebuah tombol, kita menghapus semua yang tidak sesuai dengan citra yang ingin kita tampilkan. Kita hanya menyunting, menyimpan, dan mengirimkan foto-foto aktivitas kita yang paling keren sepanjang minggu. Kita khawatir kalau-kalau “diri kita yang sesungguhnya” tidak diwakili dengan baik oleh foto-foto kita.

Tidak heran bila sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2014 di UK menemukan hubungan kecanduan selfie dengan masalah citra diri. Studi yang melibatkan lebih dari 2.000 pria dan wanita berusia 18-30 tahun itu menemukan bahwa orang-orang yang secara teratur mengambil foto selfie memiliki perasaan rendah diri. Tetapi, mengapa harga diri kita begitu rapuh? Apakah itu disebabkan kita selalu bertanya pada diri kita: Layakkah aku? Siapa yang mau menyukai dan menerimaku?

Nilai Diri yang Sejati
Bagaimana bila ternyata ada cara yang lebih baik untuk menilai diri kita daripada mencari pendapat orang lain? Bagaimana bila ada seseorang yang dapat mengetahui segala sesuatu tentang diri kita dan tetap menerima kita apa adanya—lengkap dengan segala kekurangan kita? Dan, bagaimana bila pendapat orang itu adalah satu-satunya pendapat yang benar-benar penting?

Berita baiknya, Pribadi itu sungguh ada. Alkitab memberitahu kita bahwa Pribadi ini mengenal kita seutuhnya, bahkan sebelum kita dilahirkan, karena Dialah yang menciptakan kita:

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku,
menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib;
ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu,
ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi,
dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;
mata-Mu melihat selagi aku bakal anak,
dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis
hari-hari yang akan dibentuk,
sebelum ada satupun dari padanya.
(Mazmur 139:13-16)

Setiap kita diciptakan secara istimewa. Kita bisa meyakini hal ini tanpa harus mengirim foto selfie dan menghitung jumlah “like”. Mengapa? Karena Dia yang menciptakan kita adalah Pribadi yang memegang otoritas atas segala sesuatu, dan Dia sendiri yang menyatakan hal ini! Siapakah Dia? Dialah Pencipta kita. Dia menghargai kita sebagaimana adanya kita dan tidak menghakimi kita berdasarkan penampilan luar kita.

Dalam kenyataannya, Sang Pencipta ini telah membuktikan betapa Dia menghargai dan mengasihi kita dengan datang sebagai manusia untuk membangun relasi dengan kita. Namanya adalah Yesus Kristus. Betapa hebatnya bisa memiliki sahabat seperti Dia! Lupakan jumlah “like” di media sosial—apa yang bisa lebih hebat daripada menjadi sahabat Sang Pencipta?

Jadi, bagaimana kita harus memandang selfie? Pastinya selfie adalah cara hebat mengabadikan momen-momen penting untuk dapat diketahui oleh generasi mendatang. Namun, jika kita memiliki pemahaman yang utuh tentang siapa diri kita sebagai ciptaan Yesus, kita tidak akan lagi khawatir tentang apa yang dipikirkan orang tentang kita atau foto-foto selfie kita. Mereka tidak akan lagi mendefinisikan identitas kita, karena Yesus telah menyatakan bahwa kita adalah ciptaan yang berharga dan dikasihi-Nya.

Apakah kamu tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang siapa Yesus yang melihat dan menghargaimu sebagaimana adanya, juga tentang undangan persahabatan-Nya? Bukankah akan hebat bisa melihat siapa dirimu menurut pandangan-Nya dan mengenal identitas dirimu yang sejati?

Jika kamu merasa tertantang untuk menemukan identitasmu yang sejati, kami berharap kamu akan mencari tahu lebih banyak tentang undangan persahabatan yang diberikan oleh Yesus. Kami mendorongmu untuk berbicara dengan seorang teman atau staf di gereja yang dekat dengan tempat tinggalmu untuk mengetahuinya lebih lanjut. Kami berharap artikel-artikel yang kami muat di situs web kami juga dapat menolongmu untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan.

Baca Juga:

Kisahku sebagai Korban Bullying yang Berharga di Mata Allah

Ketika SMA dulu aku sering dibully oleh teman-teman. Akibatnya, untuk membalas perilaku mereka, aku merasa perlu menonjolkan eksistensi diri agar mereka tidak memandang rendah diriku, bahkan kalau bisa supaya mereka takut kepadaku.

Ketika Orang Menjulukiku Gendut

Oleh: Chrisanty L, Indonesia
(Artikel asli dalam Bahasa Inggris: When Others Called Me Fat)

ketika-aku-dijuluki-gendut

Saat aku kuliah di China dan melihat-lihat pakaian di toko-toko sekitar kampus, kerap aku tidak dihiraukan para penjaga toko. Bila melayani, biasanya mereka akan berkata, “Maaf, kami hanya punya ukuran kecil.”

Kebanyakan dari 15.000 mahasiswa di kampusku memang bertubuh kecil. Para pendatang yang posturnya lebih tinggi dan besar biasanya akan tampak menonjol. Aku sendiri adalah orang Indonesia keturunan Tionghoa, namun posturku lebih besar dari rata-rata mahasiswi Tionghoa. Sebab itu, lambat laun aku mulai takut untuk memasuki toko-toko di sekitar kampus. Aku merasa orang memperhatikan dan memberi penilaian minus terhadap penampilanku.

Aku selalu merasa tidak nyaman dengan posturku yang besar dan bahuku yang lebar. Mungkin perasaan itu muncul karena aku selalu merasa orang melihat dan menilaiku sebagai “cewek gendut”. Aku sangat tidak suka bila ada orang yang meraih lenganku dan mulai memberi komentar tentang betapa besarnya lenganku itu. Aku juga kesal setiap kali teman atau anggota keluargaku bercanda tentang berat badanku, menasihatiku untuk mulai diet, atau membanding-bandingkan aku dengan gadis-gadis lain seusiaku. Parahnya lagi, setiap kali aku berusaha menguruskan badan, biasanya aku akan jatuh sakit. Dan, orang tetap saja menjulukiku “gendut”.

Pada akhirnya, menjadi “gendut” membuat aku membenci diriku sendiri. Makin lama, makin tertanam di benakku bahwa aku memang gendut dan jelek, dan hal itu tidak akan pernah berubah.

Aku mulai menjadi orang yang sangat sensitif. Sangat mudah aku tersinggung oleh kata-kata orang lain, bahkan saat mereka sebenarnya berniat baik dan komentar mereka tidak berkaitan dengan postur tubuhku. Aku merasa semua orang mengejekku. Aku kecewa dengan diriku sendiri. Aku tidak suka berkenalan dengan orang baru dan kehilangan rasa percaya diri. Aku tidak ingin berteman dengan orang lain atau melakukan apapun. Aku jengkel kepada orang-orang di sekitarku. Ketika kita tidak menyukai diri sendiri, hampir mustahil kita bisa bersikap baik dan murah hati kepada orang lain, karena kita sendiri tidak punya pikiran dan sikap yang positif untuk dibagikan.

Pemikiranku mulai berubah ketika kemudian aku bertemu dengan seorang mahasiswi lain di China. Ia juga kesulitan menemukan pakaian yang pas dengan ukuran tubuhnya di toko-toko sekitar kampus. Ia juga menghadapi orang-orang yang menganggapnya gendut. Tetapi, bukan kesamaan itu yang mengesankan aku. Mahasiswi tersebut datang ke China penuh kerinduan melayani Tuhan melalui panti-panti asuhan. Ia bertekad untuk membagikan kasih yang telah ia terima kepada anak-anak yang sangat sedikit merasakan kasih sayang. Selepas pembicaraan kami pada suatu sore, aku sempat berpikir: “Tuhan pasti melihatnya sebagai seorang yang cantik dan menyayanginya, meskipun orang lain atau bahkan ia sendiri tidak melihat dirinya demikian.”

Aku pun mulai memikirkan situasiku sendiri. Bagaimana Tuhan melihatku? Bagaimana Sang Pencipta melihat ciptaan-Nya?

1 Samuel 16:7 berkata, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Selama ini aku tidak bisa menerima diriku sendiri. Aku hanya bisa melihat diriku sebagai seorang yang gendut. Aku lupa bahwa yang dilihat Tuhan, Sang Pencipta, melampaui penampilanku di depan orang lain. Tuhan melihat hati dan hidup kita. Dia melihat bahwa semua ciptaan-Nya itu baik. Kebenaran ini mengubahkan hidupku.

Ketika kita mulai memikirkan betapa besar Tuhan kita dan betapa luar biasa kasih-Nya, kita akan mulai mengobarkan kembali kasih kita kepada diri sendiri, orang lain, bahkan mereka yang mungkin telah menyakiti kita. Harus kuakui prosesnya tidak mudah, apalagi karena aku sendiri telah banyak mendengar dan percaya dengan komentar-komentar orang lain tentang tubuhku. Aku mengawali perubahan sikapku dengan bersyukur atas tubuh yang dianugerahkan Tuhan kepadaku, lalu menjaganya agar selalu sehat. Aku tidak lagi terobsesi dengan bentuk dan ukuran tubuh yang menurut orang baik untukku.

Kupikir wajar saja jika kadang-kadang kita merasa tidak percaya diri dengan penampilan kita—namun jangan biarkan perasaan itu merusak hidupmu. Ada Bapa di surga yang tidak menilaimu berdasarkan penampilan belaka, dan yang mengasihimu bagaimanapun keadaanmu. Aku juga menyadari bahwa sekalipun sebagai manusia kita selalu mendambakan penampilan yang baik, tak seharusnya pengejaran itu menghalangi kita untuk membangun persahabatan dan mengerjakan hal-hal yang memuliakan Tuhan.

Kemampuan Super yang Dulu Selalu Aku Inginkan

Oleh: Ami Ji
(Artikel asli dalam Bahasa Inggris: The Superpower I Always Wanted To Have)

Kemampuan Super

Ketika ditanya kemampuan super apa yang ingin aku miliki saat masih remaja, aku selalu menjawab, “Kemampuan untuk menghilang”. Memang saat berusia belasan tahun, ada banyak momen memalukan yang membuatku sungguh ingin menghilang seketika dari pandangan orang. Misalnya, saat aku terlambat bangun, saat rambutku sulit diatur, atau saat ada teman yang “ngerjain” aku di depan orang yang aku sukai. Aku bahkan pernah malu sekali jatuh dari sepeda di jalanan karena melamun.

Adakah momen-momen yang membuatmu berharap bisa menghilang seketika dari pandangan orang? Mungkin kamu berpikir tidak ada yang akan memperhatikanmu. Tidak akan ada orang yang peduli jika kamu tiba-tiba menghilang. Dunia bahkan mungkin akan menjadi lebih baik jika kamu tidak ada di dalamnya. Akan tetapi, Alkitab mengatakan bahwa setiap kita unik dan istimewa; kita diciptakan Allah secara dahsyat dan ajaib (Mazmur 139:13-14). Allah sangat memperhatikan kita, Dia bahkan tahu jumlah rambut di kepala kita (Matius 10:30).

Tidak mudah menerima kebenaran tersebut sebagai seorang remaja. Setiap kali melihat cermin, aku melihat sosok yang begitu jelek dan tidak menarik. Cara pandangku ini berakar dari apa yang kualami di masa kecil. Meski mungkin maksudnya bercanda, aku suka diberitahu untuk sering-sering menarik hidungku yang pesek supaya lebih mancung. Ada juga yang menyarankan aku pergi ke Korea selepas SMA untuk operasi kelopak mata. Makin aku beranjak dewasa, makin aku menyadari bahwa banyak pikiran negatif itu datang dari dalam diriku sendiri, bukan dari orang lain. Ketika orang memuji penampilanku, aku akan cepat-cepat menyanggahnya. Aku sendirilah yang punya masalah dalam menerima diriku sendiri.

Bagaimana kemudian aku mengatasi hal ini? Bisa dibilang aku belum selesai berproses, tetapi setahap demi setahap aku mengalami perubahan pola pikir seiring bertambahnya pemahamanku akan kebenaran-kebenaran dalam Alkitab. Alkitab berkata bahwa Allah mengasihiku (1 Yohanes 4:10), rencana-Nya adalah untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28), dan setiap pemberian yang baik datang dari Allah (Yakobus 1:17). Semua itu adalah gambaran yang indah tentang betapa Bapa surgawi kita yang luar biasa begitu mempedulikan kita. Masalah penampilan dan penilaian orang lain terhadap diriku menjadi begitu sepele ketika aku memahami gambaran yang lebih besar ini.

Alkitab bahkan menjelaskan lebih jauh tentang betapa dalamnya Bapa surgawi mengenal kita. Mazmur 139:16 berkata, “mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya.” Bahkan sebelum aku lahir, Dia telah mempersiapkan hari-hari hidupku. Betapa aku terhibur sekaligus terkesan mengetahui bahwa keberadaanku ternyata dirancang oleh Allah sendiri.

Hari ini, oleh anugerah Allah, aku tidak lagi merasa perlu “menghilang seketika”. Sebaliknya, aku belajar menerima pujian dengan sikap yang manis, dan berusaha memberikan pujian yang tulus bagi orang-orang di sekitarku. Setiap kali aku bertemu dengan teman-temanku, aku berusaha memperhatikan perubahan positif atau upaya mereka untuk tampil lebih baik. Makin hari, aku makin dapat menghargai keragaman dan keindahan yang telah dijadikan Allah secara dahsyat dan ajaib dalam diri tiap-tiap individu, bukan hanya di dalam diri orang lain, tetapi juga di dalam diriku sendiri.