Posts

Berdamai dengan Diri Sendiri

Pernahkah kamu menolak dirimu sendiri?

Mungkin ketika nilai-nilaimu tak memenuhi keinginan orang tuamu? Karena teman-temanmu mengejek dan menertawakanmu? Atau, karena kondisi keluargamu tak sebaik keluarga orang lain? Dunia ini mengajari kita untuk selalu merasa tidak puas. Ibarat secarik kertas putih, kita dinodai oleh pandangan-pandangan buruk yang berkembang di sekeliling kita. Tanpa kita sadari, kita pun menolak diri kita.

Apa sih tandanya kalau kamu sedang menolak dirimu sendiri?

1. Kamu berjuang keras untuk membuktikan dirimu

Ada kutipan yang bilang: what doesn’t kill you, makes you stronger. Komentar-komentar buruk mungkin menjadi motivasi penggerakmu. Kata-kata itu melukaimu, tapi mendorongmu bangkit. Selembar kertas putih menyembunyikan wujudnya, mengenakan sehelai masker untuk menunjukkan senyum getirnya. Penolakan dari orang lain kamu jadikan pecut bagi dirimu sendiri, dan kamu paksa dirimu untuk selalu jadi orang yang lebih baik.

2.Takut melihat ke belakang

Menutup lembaran lama, sama sekali tak ingin menengoknya lagi. Ketika kenangan itu datang, ada narasi yang berbisik di hati: Kok aku bodoh banget sih? Kok aku jelek? Kok aku memalukan? Kamu melabeli dirimu dengan banyak hal negatif.

3. Tak bisa menilai diri dengan objektif

Semakin banyak informasi buruk diterima, semakin sulit kamu menilai dirimu dengan objektif. Kamu menganggap kamulah yang paling bodoh, paling jelek, paling suram di dunia ini

Namun, seiring kamu kelak mengalami proses pemulihan dari Tuhan, Dia membukakan pandanganmu untuk melihat betapa kamu telah menolak dirimu sendiri. Di hadapan tuntutan tinggi yang diterapkan oleh orang tua, sekolah, dan lingkunganmu, kamu mungkin tak mampu mencapainya. Akibatnya, kamu menolak dirimu, membandingkan dengan orang lain, dan merasa buruk. Perasaan-perasaan ini menekanmu sampai Tuhan akhirnya memberimu kelegaan.

4. Ketahuilah nilai dirimu yang sejati di hadapan Tuhan

1 Korintus 6:20 berkata, “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Kita adalah ciptaan-Nya yang berharga. Tuhan mengerti dan menguatkan kita. Ingatlah siapa kita di dalam-Nya.

5. Serahkanlah segala kepedihanmu kepada Tuhan

Kuatkanlah hatimu, berdamailah dengan dirimu sendiri, dan serahkanlah segala luka masa lalumu pada Tuhan yang akan menolongmu keluar dari kegelapan.

Aku Ingin Jadi Sempurna

Kita semua diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, namun dosa membuat kita terkadang tak menyadari bahwa kita diciptakan baik adanya. Terkhusus para perempuan, mungkin kita sering merasa kurang–kurang cantik, kurang langsing, kurang pintar, dan sederet kekurangan lainnya.

Namun, terlepas dari segala kekurangan itu, firman Tuhan bicara: (Yeremia 1:5).
“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”

Yuk, bagikan ini ke sahabat kamu dan ingatkan bahwa mereka berharga di mata Tuhan.

Imperfect: Menjadi Sempurna dalam Ketidaksempurnaan

Oleh Tabita Davinia Utomo, Jakarta
Gambar diambil dari official trailer

Film besutan Ernest Prakasa dan istrinya, Meira Anastasia yang tayang perdana di akhir 2019 lalu mungkin menjadi film yang dinantikan banyak orang. Film ini mengangkat isu yang hangat di masyarakat saat ini: insecurity.

Sesuai judul bukunya, Imperfect menceritakan tentang keadaan para wanita yang merasa insecure (tidak aman) dengan ketidaksempurnaan diri mereka. Secara khusus, film ini menyoroti kehidupan Rara yang bermasalah dengan kegemukan, Lulu yang kurus tapi dibilang chubby oleh pasangannya, empat penghuni kos ibu Dika, dan kekasih Rara. Mereka harus siap dicibir orang lain karena tidak memenuhi standar kecantikan yang berlaku di masyarakat zaman ini: tubuh langsing, pipi tirus, berkulit putih, berwajah manis, dan bisa berdandan atau up to date terhadap fashion. Namun, perlahan-lahan mereka bisa bangkit dan menunjukkan bahwa kecantikan tidak selalu harus bersumber dari kecantikan fisik semata. Di akhir film, Rara yang diperankan oleh Jessica Mila mengatakan, “Kita tidak perlu menjadi sempurna untuk bahagia.”

Sebagai orang yang sering merasa insecure dengan penampilan fisik, aku merasa tertohok dengan film ini. Meskipun terlahir sebagai orang Kristen yang sangat tidak asing dengan frasa “kamu berharga di mata Tuhan”, aku masih bergumul dengan perasaan minder karena kondisi tubuhku yang kelewat kurus berdasarkan standar body mass index. Banyak orang berkata kalau aku kurang makan. Tidak sedikit juga yang “menyalahkan” orang tuaku yang sama-sama berperawakan kurus. Akibatnya, kalau kesal, aku sering memendamnya dengan makan (terutama makan coklat)…namun ini tidak juga menambah berat badanku.

Selain itu, aku juga memiliki bekas jerawat di wajahku yang sulit hilang, ditambah lagi kedua mataku yang minusnya tinggi. Aku jadi sulit melihat jauh jika tanpa kacamata. Plus, aku juga termasuk orang yang terlambat belajar cara make-up dan memadupadankan pakaian di saat teman-temanku sudah melakukannya lebih dulu. Ini semua menambah perasaan minderku.

Tapi…meskipun dunia mungkin melihatku berdasar penampilan fisikku dan orang-orang melakukan body shaming terhadapku, Tuhan tidaklah demikian. Tuhan tidak menilaiku dengan cara seperti itu.

Kita diciptakan dengan amat baik

Ketika Allah menciptakan bumi dan segala isinya sampai di hari kelima, Alkitab mencatat metode penciptaan-Nya, yaitu dengan berfirman. Ya, hanya dengan berfirman, Allah menciptakan segala sesuatu—kecuali manusia. Di hari keenam, barulah Allah menciptakan manusia, ciptaan Allah yang paling mulia. Allah tak hanya berfirman (Kejadian 1:26), tapi juga membentuk manusia dengan tangan-Nya sendiri serupa dengan gambaran-Nya, imago Dei (Kejadian 1:27), diberi-Nya nafas kehidupan, dan diberikan pula mandat budaya (Kejadian 1:28). Penciptaan manusia terlihat kontras dari ciptaan-ciptaan yang lain, bukan?

Namun, ironisnya, gambar Allah yang mulia itu rusak karena dosa (Kejadian 3). Akibatnya, manusia mengalami keterpisahan dari Sang Pencipta…sekaligus harus bergumul dengan dosa. Tidak heran jika semakin lama dosa muncul dalam berbagai bentuk—termasuk insecurity atas bentuk fisik yang Tuhan berikan. Mungkin, kita pun termasuk salah satu di antara banyak orang yang terjebak dalam masalah ini.
Meski kita terjebak, bukan berarti tidak ada jalan keluar.

Allah mengetahui kerapuhan kita, karena itulah Dia memberikan Yesus Kristus, Anak-Nya yang Tunggal untuk menebus dosa-dosa kita dan menjadi jembatan bagi relasi kita dengan Bapa. Yang lebih indah lagi, Yesus juga membaharui citra diri kita yang rusak dengan memberikan status yang baru bagi kita orang percaya sebagai anak-anak Allah. Ada dua bagian dari firman Tuhan yang membuktikan ini:

1. Mazmur 139 yang menjelaskan bagaimana Allah menciptakan setiap orang dengan detail dan dengan keunikannya masing-masing. Sekalipun kita tidaklah sempurna, tetapi Allah tetap mengasihi kita dengan kasih yang sempurna, karena kita adalah kepunyaan-Nya.

2. Doa Bapa Kami. Yesus meneladani kita untuk menyebut “Bapa” sebagai fokus doa kita. Artinya, bagaimana pun orang lain menilai kita, kita memiliki Bapa di surga yang setia mendengarkan doa-doa kita…bahkan “keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Roma 8:26).

3. Bukan kita yang membuat diri kita masing-masing bisa tetap kuat hingga detik ini, tapi karena Tuhan sendiri. Bahkan, tokoh sekaliber Paulus juga bergumul dengan “duri” dalam dirinya, sampai dia berdoa tiga kali agar Tuhan mengangkat “duri” itu. Bukannya mengabulkan doa Paulus, Tuhan justru berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9).

Mungkin dua poin di atas terasa klise di saat kita sedang bergumul dengan kondisi fisik yang tidak sesuai dengan pandangan orang pada umumnya; cita-cita yang kandas karena faktor yang tidak bisa dikendalikan; rasa minder karena merasa tidak memiliki potensi diri sebanyak teman-teman lainnya; merasa tidak mampu menghasilkan uang seperti saudara kita, atau teman yang sudah beriwirausaha di saat kita masih ditolong secara finansial dari orang tua; dan hal-hal lainnya yang menjadi pergumulanmu.

Aku pun bergumul dengan salah satu dari banyak pergumulan di atas. Temanku, kita tidak sendirian. Apa pun keadaanmu saat ini, kamu tetaplah berharga di mata Tuhan. Tidak apa-apa jika saat ini kita ingin marah kepada Tuhan untuk ketidaksesuaian dengan apa yang kita harapkan, karena toh Tuhan menciptakan marah sebagai respons emosi yang baik. Namun, jangan sampai kita hanya berkubang dalam kemarahan itu, lalu pasrah terhadap keadaan yang tidak bisa diubah. It’s okay to be fragile, but don’t cry alone. Bersamamu, ada orang-orang yang juga bergumul akan hal yang sama. Mengutip lagu “Pelukku untuk Pelikmu”, Fiersa Besari berkata, “Kita perlu untuk kecewa untuk tahu bahagia. Bukankah luka menjadikan kita saling menguatkan?”

Luka yang diserahkan pada Tuhan harus diobati, dan itu pedih. Namun, ketika kita mulai pulih, kita dimampukan-Nya untuk menerima keadaan untuk bersyukur, bahkan bisa menjadi teman bagi mereka yang bergumul dengan keadaan serupa.

Menutup tulisan ini, aku ingin membagikan sebuah lagu dari SAAT Youth Camp 2019 yang berjudul Kar’na Cinta-Mu, Tuhan. Kiranya lagu ini menjadi pengingat kita bahwa hidup kita bukan untuk menemukan kepuasan dari dunia ini, tetapi justru dari Tuhan sendiri.

Saat ‘ku melangkah dan ‘ku pandang dunia, banyak hal yang ditawarkan yang memberi bahagia
Saat ‘ku terima semua dari dunia, namun yang kudapatkan hanya bahagia yang fana
‘ku rasakan hidupku hampa dan tak berarti, menjalani hidup yang tak pasti
Namun Engkau, Tuhan, yang selalu ada, menerangiku dan b’riku harapan
Kar’na cinta-Mu yang selamatkanku dan kasih-Mu yang telah menyadarkanku
Dunia tak dapat memuaskanku, tak dapat bahagiakanku, namun Kau Yesus jawaban hidupku
‘ku ingin setia cintai Firman-Mu yang akan menjadi kebenaran hidupku
dan kuterima kebahagiaan yang sejati hanya di dalam-Mu, oh Yesus Tuhanku.

Cheers!

Baca Juga:

Penyertaan Tuhan Melampaui Segala Ketakutanku

Sejak aku percaya pada Kristus empat tahun lalu, hubunganku dengan ibuku menjadi sangat tidak baik. Penolakan dari orang terdekatku sempat membuatku ragu, sungguhkah Tuhan menyertaiku?

Just Be Yourself! Apakah Harus Selalu Begitu?

Oleh Yulinar Br. Bangun, Tangerang

Dalam sebuah kesempatan makan malam di luar bersama teman, aku tidak sengaja mendengar percakapan beberapa orang yang juga sedang makan di sebelah meja kami. Percakapan mereka seperti pembicaraan wanita pada umumnya yang saling curhat. Aku tidak terlalu tertarik dengan percakapan mereka sampai aku mendengar sebuah statement dari salah satu di antara mereka yang kurang lebih seperti ini “just be yourself, hidup kita terlalu berharga untuk menghiraukan komentar orang lain. Nobody perfect, jadi anggap saja itu bagian dari kelemahanmu.” Just be yourself, kalimat ini menjadi pertanyaan untukku dalam beberapa hari ini. Kalimat tersebut mungkin sering di dengungkan oleh seorang sahabat untuk menghibur sahabatnya. Apa sebenarnya makna dari kalimat tersebut? Ketika aku melihat ke dalam diriku, aku menyadari bahwa aku adalah seorang yang cuek, emosi meluap-luap, perfeksionis dan masih banyak kelemahan yang lain. Lantas, apakah aku cukup dengan menjadi pribadi yang demikian?

Sebagai ciptaan Tuhan, memang benar bahwa setiap manusia adalah unik dengan kepribadiannya masing-masing. Namun, bukan berarti kita harus berpuas diri dengan kepribadian yang melekat dalam diri kita. Aku percaya bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang indah, namun juga telah rusak oleh karena dosa. Dosa itu yang membuat manusia memiliki kepribadian buruk dalam dirinya. Manusia memang tidak sempurna, tapi kita diminta untuk mengejar kesempurnaan itu hari demi hari. Dalam proses mengejar tersebut tentunya terdapat perubahan. Memang benar bahwa mengerti konsep ini tidak membuat prosesnya mulus tanpa hambatan. Setiap orang mungkin juga bergumul dengan hal ini. Perubahan bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Oleh karena itu, kita membutuhkan komunitas yang mendukung dalam pertumbuhan kita menuju kesempurnaan tersebut.

Seorang pendeta pernah berkata dalam khotbahnya bahwa kita harus mengerjakan segala sesuatu dengan kapasitas terbaik yang kita punya, karena semakin baik kualitas diri kita semakin banyak orang yang akan terberkati. Kuncinya adalah melakukan yang terbaik dalam setiap aspek kehidupan kita. Bukan karena ambisi, tapi untuk menjadi berkat.

Kita memang tidak mungkin bisa menjadi sempurna, karena hanya Dia pribadi yang sempurna. Namun, kita juga tidak bisa membela diri dengan berkata “just be yourself” yang kemudian berujung menoleransi diri. Lantas apakah jargon ini salah untuk diucapkan? Tentu tidak, saat ini aku hanya ingin kita melihat dari sudut yang benar. Konsep menjadi diri sendiri sebenarnya adalah konsep yang Alkitabiah. Kita tahu bahwa setiap manusia terlahir unik dengan ciri khas dan talenta masing-masing. Tuhan menciptakan kita sebagai orang yang super limited edition, hanya satu yang seperti kita di seluruh permukaan bumi. Karena itu, adalah salah jika kita mengacaukan kehendak Allah dengan berusaha menjadi seperti orang lain.

Hal yang perlu kita lakukan adalah menjalani kehidupan sesuai dengan alur cerita yang telah dirancang Tuhan dengan upaya terbaik yang kita punya dan penuh pertanggungjawaban atas setiap karunia unik yang Ia percayakan. Apakah dengan sikap cuek aku telah melakukan upaya terbaik dalam relasiku? Apakah dengan emosi yang meluap-luap aku telah melakukan yang terbaik dalam menghargai orang-orang di sekitarku? Jawabannya tentu tidak. Oleh karena itu, daripada “just be yourself” aku lebih menyukai “please improve yourself.” Kenali diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangannya, melalui itu temukan cara terbaik untuk mengalami pertumbuhan yang semakin menyerupai Dia.

Kolose 3:23, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Baca Juga:

Jatuh Bangun Mencari Pekerjaan, Ada Rencana Tuhan Di Balik Setiap Kegagalan

Aku pernah gagal dalam upayaku mencari pekerjaan. Tetapi, pada akhirnya Tuhan menganugerahiku buah yang manis, dan aku pun berkomitmen untuk bekerja dengan baik dan disiplin.

Kekurangan Fisik Membuatku Minder, Tapi Tuhan Memandangku Berharga

Oleh Abyasat Tandirura, Toraja

Aku lahir dengan kondisi di mana langit-langit dalam rongga mulutku terbuka sehingga ketika aku berbicara, suaraku tidak jelas. Teman-temanku pernah mengejekku. Aku sangat sedih dan hampir menangis, tetapi seorang guruku menegur mereka dan menenangkanku.

Sejak saat itu, teman-temanku tidak lagi mengejekku. Akan tetapi, sulit bagiku untuk melupakannya begitu saja. Ejekan mereka sungguh melukai perasaanku sebagai seorang anak perempuan yang masih berumur 9 tahun. Aku tidak suka mereka mengejekku, meskipun aku tahu kalau suaraku memang tidak jelas.

Suaraku yang tidak jelas ini menjadi pergumulanku dalam membina komunikasi dengan orang lain. Aku jadi anak yang minder. Tak jarang aku memilih diam ketimbang bercakap-cakap dengan orang lain. Aku merasa lebih baik jadi pendengar saja ketika teman-temanku bersenda gurau atau membicarakan suatu hal. Aku malu dan takut berbicara kalau-kalau temanku tidak mengerti kata-kata yang aku ucapkan. Kadang aku bertanya kepada diriku sendiri: mengapa aku yang mengalami ini, tetapi teman-temanku tidak? Aku bahkan pernah kecewa kepada Tuhan. Aku merasa Dia tidak peduli pada keadaanku. Padahal, di sekolah Minggu aku suka mendengar guruku bercerita tentang Tuhan Yesus yang menyembuhkan banyak orang sakit dan melakukan banyak mukjizat. Aku pun berharap kelak aku mengalaminya. Namun, mukjizat berupa kesembuhan instan itu tidak tampak dalam hidupku.

Sulit bagiku untuk membangun rasa percaya diri seperti yang teman-temanku lakukan. Perasaan minder dalam diriku membuatku tumbuh jadi remaja yang pendiam. Rasa malu dan takut bicara seolah sudah melekat dalam diriku.

Seiring waktu yang terus berjalan, ada satu hal yang kemudian membuat pikiranku terbuka. Aku membaca dan mendengarkan kisah-kisah hebat dari orang-orang yang mengalami cacat fisik atau disabilitas. Ada Nick Vujicic, seorang motivator hebat yang dilahirkan tanpa lengan dan kaki. Ada Frances Jane Crosby, seorang anak yang lahir normal namun mengalami malpraktik hingga dia pun mengalami kebutaan seumur hidupnya. Tapi, dalam kebutaaannya, dia sanggup menciptakan ribuah pujian, himne, puisi, dan sajak.

Selain mereka, masih banyak lagi para disabilitas lainnya, termasuk para atlet. Mereka memiliki keterbatasan fisik, namun Tuhan memakai kekurangan itu dengan talenta-talenta yang luar biasa dan membuat dunia takjub.

Berangkat dari kisah hidup mereka, benih-benih semangat mulai bertumbuh di hatiku. Aku berkata pada diriku: “Kalau aku terlahir dengan ketidaksempurnaan pada salah satu bagian tubuh yang kumiliki, itu artinya Tuhan mau memakai keterbatasanku untuk suatu hal yang indah bagi-Nya.” Kata-kataku ini terus bergema dalam hatiku, dan menjadi batu loncatan yang mengubahku menjadi pribadi yang percaya diri.

Tuhan memimpin hidupku hingga aku menemukan rasa percaya diriku. Firman Tuhan berkata, “Oleh karena Engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan aku ini mengasihi engkau” (Yesaya 43:4a). Ayat ini menjadi sebuah kebenaran yang mengubah rasa minderku menjadi sebuah rasa percaya diri. Tuhan menegurku dengan kasih bahwa aku tidaklah seperti apa yang kupikirkan.

Aku sadar bahwa keterbatsan yang kumiliki tidak seharusnya membatasi dan menghalangi komunikasiku dengan orang lain. Sekalipun suaraku memang tidak jelas, aku tidak perlu bersedih sebab Tuhan sangat mengasihiku dan aku adalah ciptaan-Nya yang mulia dan berharga. Di balik suaraku yang tidak jelas, Tuhan menyatakan rancangan yang indah dan kini aku sedang menikmatinya. Tuhan memberiku talenta dan kesempatan untuk menulis, dan menyediakan media ini sebagai wadah bagiku untuk memberikan kesaksian tentang kasih Tuhan lewat tulisan.

Sekarang aku sungguh bersyukur bahwa Tuhan sangat peduli dengan keadaanku. Tuhan memberiku keluarga yang sangat menyayangiku, teman-teman di sekolah, kampus, persekutuan, tempat kerja, dan tempat pelayanan yang menerimaku apa adanya. Aku yakin dan percaya bahwa dalam kekuranganku, Tuhan turut berkarya. Tuhan merancangkan masa depan yang penuh damai sejahtera.

Teruntuk teman-teman yang mengalami keterbatasan fisik apapun itu, jangan pernah merasa minder. Tuhan yang pengasih, menciptakan kita sebagai pribadi-pribadi yang berharga dan mulia. Keterbatasan-keterbatasan itu mengingatkan kita untuk selalu bergantung pada Tuhan. Tuhanlah kekuatan dalam setiap kelemahan kita. Oleh karena itu, bersama sang pemazmur, marilah kita berkata:

“Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya” (Mazmur 139:14).

Aku bersyukur, saat aku mengetahui bahwa di balik keterbatasan yang ada pada diriku, ternyata Tuhan menciptakanku sebagai pribadi yang sangat berharga dan mulia.

Terpujilah Kristus!

Baca Juga:

Meski Kuanggap Diriku Gagal, Tuhan Punya Alur Cerita yang Berbeda

Orang selalu memujiku sebagai anak pandai, tetapi kegagalan menghinaku sebagai anak bodoh. Tapi, melalui keadaan ini, Tuhan mengajariku sebuah pelajaran berharga yang tak kudapati dari bangku sekolah.

Kehidupan yang Tiada Tara

Kamis, 14 Maret 2019

Kehidupan yang Tiada Tara

Baca: Kejadian 29:31-35

29:31 Ketika TUHAN melihat, bahwa Lea tidak dicintai, dibuka-Nyalah kandungannya, tetapi Rahel mandul.

29:32 Lea mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ruben, sebab katanya: “Sesungguhnya TUHAN telah memperhatikan kesengsaraanku; sekarang tentulah aku akan dicintai oleh suamiku.”

29:33 Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: “Sesungguhnya, TUHAN telah mendengar, bahwa aku tidak dicintai, lalu diberikan-Nya pula anak ini kepadaku.” Maka ia menamai anak itu Simeon.

29:34 Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: “Sekali ini suamiku akan lebih erat kepadaku, karena aku telah melahirkan tiga anak laki-laki baginya.” Itulah sebabnya ia menamai anak itu Lewi.

29:35 Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: “Sekali ini aku akan bersyukur kepada TUHAN.” Itulah sebabnya ia menamai anak itu Yehuda. Sesudah itu ia tidak melahirkan lagi.

Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: “Sekali ini aku akan bersyukur kepada Tuhan.” —Kejadian 29:35

Daily Quotes ODB

Dalam sebuah acara TV, beberapa orang pemuda berperan menjadi murid SMA agar dapat lebih memahami kehidupan remaja. Mereka mendapati bahwa media sosial memiliki peranan yang sangat penting bagi remaja dalam mengukur harga diri mereka. Salah satu peserta mengamati, “Nilai diri [para pelajar] terkait erat dengan media sosial—tergantung dari berapa banyak ‘likes’ yang mereka dapat pada foto yang mereka unggah.” Kebutuhan untuk diterima orang lain dapat mendorong kaum muda bertindak ekstrem di dunia maya.

Keinginan untuk diterima orang lain sudah ada sejak zaman lampau. Dalam Kejadian 29, kita dapat memahami bagaimana Lea rindu dicintai oleh suaminya, Yakub. Itu terlihat dari nama tiga anak lelaki pertamanya—semuanya menyiratkan kesepian yang dirasakannya (ay.31-34). Sedihnya, tidak ada tanda-tanda Yakub pernah memberi perhatian yang didambakan Lea.

Setelah kelahiran putra keempatnya, Lea berpaling kepada Allah daripada suaminya, dan menamai anak itu Yehuda, yang berarti “pujian” (ay.35). Sepertinya Lea, pada akhirnya, memilih menemukan nilai dirinya dalam Allah. Ia menjadi bagian dari rencana keselamatan Allah atas umat-Nya: Yehuda adalah leluhur dari Raja Daud, dan kemudian, Yesus.

Kita bisa mencoba mencari nilai diri kita lewat berbagai cara, tetapi hanya dalam Yesus kita menemukan identitas sejati sebagai anak-anak Allah, pewaris Kerajaan Allah bersama Kristus, yang akan hidup kekal bersama Bapa Surgawi. Seperti yang ditulis Paulus, tidak satu hal pun di dunia ini yang sebanding dengan “pengenalan akan Kristus Yesus, [yang] lebih mulia dari pada semuanya” (flp. 3:8). —Peter Chin

Dalam hal apakah, atau pada siapakah, kamu berusaha mendapatkan pengakuan dan penerimaan? Bagaimana iman kepada Yesus menyingkapkan identitas sejati kamu?

Bapa Surgawi, tolonglah aku memandang nilai diriku dalam Engkau dan bukan dalam hal-hal lain. Hanya dalam Engkaulah aku menemukan identitas sejatiku dan keindahan hidup yang tiada tara!

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 23-25; Markus 14:1-26

Kupikir Menjadi Cantik dan Menarik Adalah Segalanya

Oleh Agnes Lee, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: I Thought I Needed To Be Beautiful

Aku dan rekan kerjaku sedang makan siang di dapur ketika kami melihat seorang rekan lainnya berjalan ke arah pintu sambil membawa tasnya.

“Mau pergi ke mana dia?” salah seorang rekanku bertanya.

Yang lain lalu menjawab, “Oh, dia cuti setengah hari buat nonton konser musik pop Korea. Dia punya tiket premium.”

“Wow,” aku menanggapi. “Dia sungguh-sungguh fans K-Pop!”

Peristiwa itu membuatku teringat kembali kenangan bertahun-tahun lalu, ketika aku masih seorang remaja. Waktu itu, aku sangat menikmati drama dan musik pop Korea. Aku bahkan mengidolakan beberapa selebriti. Mereka tampak memiliki segalanya yang aku inginkan—penampilan yang menarik dan popularitas.

Aku menghias binder sekolahku dengan foto-foto mereka. Aku menggunakan uang jajanku untuk membeli majalah atau koran yang memuat cerita dan foto tentang mereka. Aku dengan tekun menenggelamkan diriku dalam setiap detail kehidupan mereka. Kalau saja ada ujian tentang seberapa dalam aku mengenal dengan detail idola-idola itu, pasti aku akan lulus dengan nilai terbaik.

Namun, di samping mengagumi mereka, aku pun mulai membandingkan diriku dengan mereka. Semua selebriti yang aku sukai itu cantik dan langsing. Ketika aku melihat diriku di cermin, aku melihat diriku hanyalah seorang perempuan biasa. Aku merasa ada yang salah dengan penampilan wajahku. Tinggiku pun hanya 150 cm. Dan, aku tidak kurus.

Dengan segera aku mulai merasa tidak puas dengan diriku dan membenci tubuhku. Kupikir para selebriti itu terkenal dan disukai banyak orang karena penampilan mereka yang menarik.

Ketika aku membaca tulisan-tulisan tentang selebriti yang menjalankan program diet demi mendapatkan bentuk tubuh yang ideal, aku merasa perlu meniru mereka juga. Aku harus diet, membatasi asupan kaloriku. Banyak selebriti juga menjadi bintang iklan produk-produk diet dan pelangsing badan sekalipun tubuh mereka sebenarnya tidak gemuk. Selain itu, setiap kali ada selebriti yang berat badannya turun, media dan para penggemarnya segera menyuarakan rasa keprihatinan atas kesehatan para selebriti itu. Sepertinya para selebriti itu mendapatkan perhatian dan popularitas yang lebih besar ketika mereka melakukan diet—dan kupikir itu juga akan berlaku buatku kalau aku mengikuti jejak mereka.

Aku pun berubah jadi seorang yang percaya kalau tubuh langsing itu cantik. Kalau aku tidak bisa mengubah wajah atau tinggi badanku, aku bisa mengubah berat badanku. Jadi, meskipun berat badanku sudah menurun, aku tetap melakukan diet. Tapi, betapapun kerasnya aku berusaha, aku tidak pernah bisa menjadi seorang selebriti.

Selain itu, diet dengan mengurangi asupan kalori sering membuatku jadi merasa murung dan lesu. Ketika aku sudah bekerja, ketertarikanku pada dunia selebriti mulai menurun karena aku semakin sibuk. Tapi, aku masih terus melakukan dietku dan memperhatikan berat badanku.

Cara pandangku akhirnya berubah ketika aku mengenal Tuhan secara pribadi empat tahun lalu. Sebagai buah dari berbagai pencobaan yang kualami dalam keluargaku, aku mulai membaca firman Tuhan dengan tekun dan mendapatkan penghiburan di masa-masa sulit itu. Dan, karena aku begitu larut dalam firman Tuhan, obsesiku pada selebriti pun menjadi bagian dari masa laluku. Selama masa-masa inilah kebutuhan emosionalku dipenuhi oleh Tuhan dan akhirnya aku menemukan siapa diriku yang sejati di dalam Tuhan.

Yesaya 43:7 mengingatkanku bahwa aku diciptakan untuk kemuliaan Tuhan. Tujuan dari kehadiranku di dunia ini adalah untuk kemuliaan-Nya! Aku mungkin tidak rupawan seperti selebriti, atau paling pintar, atau paling baik dalam semua yang kulakukan. Tapi, itu tidak penting, sebab tujuan hidupku ditemukan dalam Kristus.

Aku juga belajar dari 1 Korintus 6:19-20 bahwa tubuh ini adalah bait Roh Kudus. Aku bukanlah milikku sendiri, dan tubuhku adalah kepunyaan Tuhan. Aku harus merawat tubuhku baik-baik sebab itu adalah kediaman Tuhan. Ini berarti tujuanku menjaga pola makan adalah untuk membuat tubuhku tetap sehat.

Lambat laun, aku belajar menerima penampilan diriku, karena aku tahu bahwa Tuhan menciptakanku dengan sangat baik. Tuhan tidak membandingkanku dengan selebriti. Kenyataannya, Dia begitu mengasihiku hingga tidak ada satu hal pun yang bisa memisahkanku dari kasih-Nya (Roma 8:35)!

Ketika baru-baru ini aku membaca tulisan tentang meningkatnya jumlah kasus bunuh diri di antara para bintang K-Pop, aku dapat membayangkan bagaimana kegelapan yang mereka hadapi—perbandingan tanpa akhir, tekanan industri, kritik-kritik di media sosial. Mungkin mereka pun sebenarnya tidak ingin untuk mengakhiri kehidupan mereka.

Tapi aku juga teringat sebuah lagu Sekolah Mingguku dulu yang liriknya berkata, “Bersama Kristus kita bisa tersenyum dalam badai, tersenyum dalam badai.” Lagu ini mengingatkanku bahwa di dalam masa-masa kelam kita, kita dapat berseru kepada Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita untuk menghadapi pergumulan seorang diri. Tuhan akan mengubah kegelapan kita menjadi terang (Yesaya 42:16). Seandainya saja para bintang K-Pop itu mengetahui betapa Tuhan mencintai dan menyayangi mereka, mungkin mengakhiri hidup tidak akan jadi pilihan mereka.

Membanding-bandingkan diri adalah hal yang mengerikan. Itu membuatku sengsara selama masa remajaku dan menghalangiku untuk memenuhi tujuan Allah dalam hidupku. Sekarang aku menyadari bahwa para selebriti yang dulu sangat aku kagumi suatu saat nanti pasti akan menjadi tua. Penampilan fisik mereka yang mengagumkan akan memudar. Tapi tujuan Tuhan untuk kita memiliki nilai yang kekal. Perhatian dan kasih sayang yang aku cari tidak berasal dari penampilanku, tetapi hanya ditemukan di dalam Kristus.

Alih-alih terobsesi pada selebriti dan kecantikan fisik, sekarang aku berusaha menggunakan waktuku dengan bijaksana. Aku membaca firman Tuhan dengan sepenuh hati supaya aku dapat terus belajar lebih mengenal Dia. Pengejaranku juga telah berubah, dari lagu-lagu populer kepada lagu-lagu yang berisi puji-pujian kepada Tuhan. Tuhan adalah penghiburan dan sukacitaku yang luar biasa di hari-hari tergelapku, dan sukacita dari Tuhanlah yang akan terus menjadi kekuatan dan perisaku selamanya (Mazmur 28:7). Hatiku menemukan penghiburan di dalam Dia.

Baca Juga:

Di Tengah Patah Hati Hebat yang Kualami, Tuhan Memulihkanku

Karena penyakit tumor yang menyerangku di usia 20 tahun, hubunganku dengan pacarku pun terguncang hingga akhirnya kami putus. Aku patah hati dan begitu kecewa. Namun, Tuhan tidak tinggal diam. Dia menolongku dan memulihkanku.

Catatan Hidupku Sebagai Seorang Albino

Oleh Anatasya Patricia, Bontang

Halo kawan, perkenalkan namaku Anatasya, atau kerap disapa Ana. Aku ingin membagikan cerita pengalamanku kepadamu lewat tulisan ini.

Aku adalah seorang yang mengalami albinisme. Sewaktu aku kecil, aku merasa diriku tidak ada bedanya dengan teman-temanku lainnya. Ketika aku beranjak dewasa, barulah aku menyadari bahwa ada yang berbeda dari fisikku dengan teman-temanku lainnya. Awalnya aku tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhku, hingga saat aku duduk di bangku SMP, aku mulai mencari tahu. Aku pun mendapati bahwa diriku mengalami albinisme.

Albinisme adalah suatu kelainan pada produksi melanin yang mengakibatkan penderitanya kekurangan melanin, atau sama sekali tidak memiliki pigmen tersebut. Akibatnya, rambutku, kulitku, dan mataku terlihat sangat pucat atau putih. Penderita albinisme biasa disebut sebagai orang albino. Aku kurang tahu pasti apa yang mengakibatkanku mengalami ini, namun setahuku kelainan ini bisa juga disebabkan karena faktor keturunan. Nenek buyutku juga adalah seorang albino.

Keadaan fisikku ini lumayan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hariku. Aku tidak bisa terlalu banyak terkena sinar matahari karena kulitku begitu sensitif. Lalu, ada juga dampak sosial yang kualami. Orang-orang sering memandangiku, mungkin karena mereka baru pertama kali melihat seorang albino. Saat aku sedang jalan di tempat yang ramai misalnya, banyak orang akan melihat kepadaku dengan penasaran. Aku seolah menjadi pusat perhatian dan bahkan ada di antara mereka yang bertanya-tanya hal aneh seperti apa yang ibuku makan waktu ia hamil sehingga aku bisa menjadi albino. Bahkan, ada beberapa juga yang mengajakku berfoto.

Lalu, di sekolah pun ada beberapa temanku yang merasa risih dengan perbedaan fisikku. Mereka mengolok-olokku: “Pucat seluruh badan”, turis masuk kampung!”, “mayat hidup berjalan!”. Meski begitu, aku mengucap syukur karena tidak semua temanku bersikap demikian. Ada juga yang tetap memandang dan memperlakukanku dengan baik.

Saat ada orang yang menghinaku seperti itu, awalnya aku selalu menangis dan merasa tidak terima dengan keadaanku yang seperti itu. Meski aku tahu perbedaanku hanyalah pada pigmen di kulit, tapi astaga, mengapa respons yang diberikan sampai seperti itu.

Aku pun mencoba menceritakan pergumulan ini kepada orangtuaku. Aku bersyukur karena mereka selalu mengajarkanku bahwa aku sesungguhnya tidak berbeda dari teman-temanku yang lain; aku tetap bisa beraktivitas, bermain, dan belajar sama seperti anak-anak lainnya. Lalu, orang tuaku juga meyakinkanku bahwa aku tidak perlu marah ketika teman-temanku mengolokku. Katanya, olokan mereka adalah suatu bentuk perhatian mereka kepadaku, hanya mungkin caranya yang salah. Aku pun diajar mereka untuk selalu berdoa meminta kekuatan pada Tuhan. Berkat dukungan inilah aku memiliki tekad untuk tidak kecewa, sedih, dan marah terus-terusan. Kehidupan ini terus berlanjut, entah itu kalau aku menerima keadaan fisikku ataupun tidak. Jadi, kupikir hanya buang-buang waktu saja kalau aku larut dalam rasa kecewa.

Orang tuaku pun mendukungku dengan memberiku nasihat-nasihat berdasarkan firman Tuhan. Di mata Tuhan, kita semua adalah sama. Untuk setiap kekurangan yang ada dalam hidup kita, Tuhan pun sesungguhnya memberikan kelebihan. Namun, segala dukungan itu masih belum membuatku benar-benar mengerti mengapa Tuhan membuatku keadaanku seperti ini. Hingga suatu ketika, dalam sebuah ibadah keluarga, renungan yang disampaikan itu menegurku. Tuhan memiliki rencana atas kehidupan kita masing-masing, dan aku ingat betul inti dari renungan itu terdapat dalam Yeremia 29:11.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Seusai ibadah itu, aku pun merenungkan ayat yang baru saja kudengar itu. Di rumah, aku berdoa memohon bimbingan Tuhan supaya aku dapat mengerti apa yang jadi kehendak Tuhan lewat renungan tersebut. Dan pada akhirnya, aku pun mengerti bahwa Tuhan memiliki rencana yang terbaik untuk kehidupanku melalui perbedaan fisik yang aku miliki. Tuhan tidak menciptakanku dengan kesalahan. Pun Dia tidak meninggalkanku sendirian. Tuhan menunjukkan kasih-Nya juga melalui orang tuaku dan sahabatku yang selalu mendampingiku.

Sekarang, aku tidak lagi memandang albinismeku sebagai kekurangan, melainkan sebagai sebuah keunikan dari Tuhan yang tidak semua orang miliki, dan aku bersyukur untuk hal itu. Meski terkadang ada masa di mana rasa minder itu muncul, tetapi ketika itu terjadi, aku berdoa dalam hati meminta kekuatan dari Tuhan, supaya aku tidak larut dalam perasaan tersebut.

Kepada teman-temanku yang mau berteman denganku, aku mau menjalin relasi sebaik mungkin dengan mereka. Aku sangat menghargai kesediaan hati mereka. Kepada teman-temanku yang masih mengolokku, aku pun belajar untuk menghormati mereka. Aku tidak akan marah dan tidak akan memasukkan olokan-olokan tersebut ke dalam hatiku.

Kelak, aku ingin terus memuliakan Tuhan lewat kehidupanku. Aku ingin menjadi seorang guru Bahasa Inggris supaya aku bisa mendidik generasi yang akan datang dengan terang firman Tuhan.

Baca Juga:

Bolehkah Orang Kristen Bergosip?

Gosip tidak melulu berita-berita tentang public figure, bisa juga tentang orang-orang di sekitar kita: teman kampus, kolega di kantor, atau juga sesama jemaat di gereja kita. Bahkan di Instagram, ada sebuah akun gosip yang followersnya mencapai 5,3 juta!

Sungguh, Allah Kita Mahaagung!

Oleh Fransiska Simbolon, Jakarta

Saat aku menyelesaikan studi pascasarjanaku di Taiwan, ada satu mata kuliah yang awalnya kuanggap menyebalkan. Mata kuliah itu bernama Genome, isinya banyak membahas tentang genetika. Jika di jenjang sarjana dulu aku belajar tentang genetika, tentu mata kuliah ini tidak sulit untuk kuikuti. Namun, aku tetap berusaha sebisaku hingga pada akhirnya mata kuliah ini menjadi sesuatu yang berkesan.

Suatu hari, kami belajar tentang Human Genome Project, atau Proyek Genom Manusia. Jika dijelaskan secara sederhana, genom adalah keseluruhan informasi genetik yang dimiliki oleh suatu sel atau organisme. Jika kita mengingat kembali pelajaran Biologi yang didapat di bangku sekolah dulu, tubuh kita ini terdiri dari miliaran sel-sel kecil yang punya fungsi dan peranannya masing-masing.

Nah, Proyek Genom Manusia sendiri adalah sebuah proyek penelitian internasional yang digagas untuk memecahkan keseluruhan kode genetik manusia. Proyek ini membutuhkan dana fantastis, 2,7 miliar dolar dan melibatkan 20 pusat penelitian dan universitas ternama dari negara-negara maju. Sejak dimulai pada tahun 1990, proyek ini baru selesai di tahun 2013. Hasil akhirnya, sekitar 3 miliar pasang basa DNA manusia berhasil diteliti dan dipetakan data-datanya. Sekarang para ilmuwan di seluruh dunia punya akses untuk mengembangkan Ilmu Kedokteran. Mereka bisa mengembangkan alat diagnosis yang lebih efektif dan merancang perawatan baru yang lebih sesuai.

Wow. Aku berdecak kagum. Para peneliti membutuhkan waktu 13 tahun untuk memecahkan keseluruhan informasi genetik manusia yang rumit. Tapi kemudian kusadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih mengagumkan. Sedari awal, kode-kode genetik itu telah tercetak di dalam gen kita, dan telah ada pula sejak manusia pertama dijadikan. Bahkan, sebelum manusia diciptakan, kode-kode rumit itu telah ada dalam pikiran Allah, Sang Pencipta yang pemikiran-Nya tidak terselami (Mazmur 139:16-17). Hanya, baru di abad ini saja manusia menemukan kerumitannya dan berusaha memahaminya.

Ilmu genetika dan kode-kode rumit itu hanyalah setetes kecil dari samudera keagungan Allah yang begitu luas untuk diselami manusia. Dan, satu hal penting lainnya adalah, setiap manusia itu berharga di mata-Nya, seperti firman-Nya yang mengatakan: “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau” (Yesaya 43:4). Miliaran sel kecil tak kasat mata yang menyusun tubuh kita inilah yang menjadi salah satu bukti bahwa Allah menciptakan manusia dengan begitu cermat dan Dia menganggap kita ciptaan-Nya yang berharga dan mulia.

Memahami bahwa setiap manusia berharga di mata Allah membuatku mengerti bagaimana seharusnya aku memperlakukan sesamaku dalam kehidupan sehari-hari. Allah yang menciptakanku telah begitu mengasihiku. Dia, Sang Pencipta, Perancang Agung, dan Inisiator Kehidupan peduli dengan setiap detail kehidupan kita. Oleh karena itu, aku pun mau meneruskan kasih-Nya dengan mengasihi orang lain.

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;
Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.
Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!”

Mazmur 139:13-17.

Baca Juga:

Memprioritaskan Tuhan di Tengah Waktu Dunia yang Terbatas

Sebagai orang Kristen yang katanya sudah lahir baru, aku mendapati kalau terkadang diriku masih suka sekenanya saja dengan Tuhan dan melalui peristiwa teror yang terjadi di hari Minggu lalu, aku belajar untuk menghidupi imanku dengan sungguh-sungguh.