Posts

Gagal Naik Podium Tidak Menghentikan Rencana Tuhan dalam Hidupku

Oleh Janessa Moreno, Tangerang

Aku adalah seorang atlet bulutangkis. Namaku terdaftar sebagai penerima beasiswa di salah satu klub ternama di Indonesia, pencetak para juara dunia. Namun, aku bukanlah atlet yang banyak menorehkan prestasi. Aku bisa berada di tempat ini semata-mata karena kemurahan Tuhan.

Menjadi seorang atlet membuat hidupku tidak seperti anak sekolah pada umumnya. Aku tinggal di asrama, dengan rutinitas berupa latihan bulutangkis setiap pagi dan sore. Latihan-latihan yang dijalani tentunya memiliki satu tujuan—menorehkan prestasi bagi klub dan mengharumkan nama bangsa.

Klub-klub besar menerapkan sistem promosi degradasi yang diberlakukan per enam bulan, termasuk klub tempatku dilatih. Jika tidak berhasil menampilkan performa terbaik dan meraih prestasi, maka anggota tersebut harus dikeluarkan dari pusat pelatihan impian ini. Oleh karena itu, aku selalu melakukan latihan tambahan setiap subuh ketika yang lain masih tertidur dan pulang lebih akhir dibandingkan yang lain demi meraih juara dan bertahan di klub ini. Aku percaya bahwa proses tidak akan mengkhianati akhir. Hari demi hari kulalui dengan kekuatan dari Tuhan, yang kuperoleh melalui doa dan firman-Nya dalam renungan yang kubaca.

Namun, usaha kerasku tidak membuahkan hasil sesuai harapanku.

Tahun 2017 menjadi tahun yang berat, ketika aku tidak berhasil menyumbangkan prestasi apapun. Aku selalu terhenti di babak perempat final sehingga tidak berkesempatan untuk naik podium juara sama sekali. Padahal, aku merasa sudah memberikan yang terbaik.

Tidak hanya kecewa pada diri sendiri, aku juga kecewa pada Tuhan. Aku bingung dan bertanya-tanya kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa teman-temanku yang lain dapat dengan mudahnya mendapatkan apa yang kuusahakan dengan mati-matian, sedangkan aku tidak?”

Hari pengumuman pun tiba. Ternyata, namaku masih tercantum dalam daftar anggota klub bulutangkis ini. Tidak berhenti sampai di situ, 6 bulan demi 6 bulan selanjutnya, aku masih bertahan sebagai anggota. Bahkan, Tuhan memberiku kejutan-kejutan seperti ketika aku mengalahkan sejumlah pemain terbaik, meskipun tidak berhasil meraih juara. Aku terheran-heran, apa yang membuatku masih bisa memenuhi syarat ketika aku tidak bisa menunjukkan prestasi yang diharapkan?

Suatu malam, aku bertanya kepada Tuhan di dalam doa: “Tuhan, apa yang Tuhan lihat dalam diriku sehingga Engkau terus memilihku sebagai atlet meskipun aku bukan atlet yang berprestasi?”

Dalam perenunganku, tiba-tiba ada suara dalam hatiku yang berkata, “Semangatmulah yang membuat semuanya tidak berhenti. Belas kasih-Ku turun di saat air matamu jatuh, ketika kamu merasa tidak dihargai. Percayalah, Nak, aku ada di saat kamu melakukan pekerjaan yang tidak dilihat orang lain. Aku yang menggandengmu setiap pagi, Aku yang mengangkatmu di saat jatuh. Rencana-Ku belum selesai di dalam kamu.”

Saat itu pula aku menangis. Ternyata, selama ini ada satu Pribadi memerhatikanku. Kedamaian melingkupi hatiku ketika menyadari bahwa Tuhan selalu menopangku.

Aku merasakan penyertaan Tuhan yang begitu nyata dalam perjalananku selama menjadi atlet bulutangkis. Jika hanya mengandalkan kekuatanku sendiri, aku rasa aku tidak akan sanggup bertahan setelah berkali-kali mengalami kegagalan dan kesakitan. Ketika aku hampir menyerah, Tuhan selalu membangkitkan semangatku kembali.

Memasuki tahun 2019, aku memiliki target untuk masuk ke Pelatihan Nasional Indonesia. Aku menyerahkan semua rencanaku pada Tuhan. Apapun yang akan terjadi, aku percaya bahwa rencana Tuhan selalu yang terbaik (Yeremia 29:11). Aku percaya bahwa proses yang kujalani dalam pelatihan ini adalah cara Tuhan mengajarkanku tentang kegigihan, serta mempersiapkanku untuk menjadi kesaksian hidup dan memberi seluruh kemuliaan untuk Tuhan ketika aku berhasil meraih juara.

Mungkin di antara kamu ada yang merasa tidak berharga, tidak hebat, atau putus asa karena apa yang kamu usahakan belum berhasil dicapai. Tetapi bertahanlah, Tuhan mendengar setiap seruan doamu dan melihat air matamu karena Ia dekat kepada orang-orang yang patah hati (Mazmur 34:18). Dia akan membuat segalanya indah pada waktu-Nya, dan tidak ada satu hal pun yang dapat menggagalkan rencana-Nya (Pengkhotbah 3:11). Bagian kita adalah hidup dengan penuh semangat, dan melakukan semua hal seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23).

Baca Juga:

Belajar dari Daud: Bukan Kekuatan Kita Sendiri yang Mampu Mengubah Kita

Aku berjuang keras untuk berubah, aku merenung dan menyusun langkah-langkah praktis untuk kulakukan. Tapi, tetap saja tiap kali ada distraksi muncul, aku gagal kembali. Kurasa semua yang kulakukan tidak banyak membuatku berubah. Hingga suatu ketika, aku pun ditegur melalui respons Daud.

Satu Hal yang Kupelajari dari Kegagalanku di SNMPTN

Oleh Noni Elina Kristiani, Banyuwangi

Aku masih ingat bagaimana campur aduknya perasaanku saat hasil seleksi masuk perguruan tinggi negeri diumumkan. Kecewa, sedih, juga takut bercampur menjadi satu di dalam diriku saat aku dinyatakan tidak lolos.

Peristiwa itu terjadi beberapa tahun lalu. Waktu itu aku bersama saudari kembarku mendaftar lewat jalur SNMPTN Bidikmisi. Tidak ada tes tertulis untuk jalur ini, kami hanya perlu menyiapkan segala berkas yang menjadi prasyarat, mengirimkannya, dan menunggu hasil. Salah satu alasan kami mendaftar ke jalur Bidikmisi adalah karena keluarga kami mengalami kesulitan finansial. Jika kami bisa kuliah dengan beasiswa, tentu itu akan meringankan beban finansial keluarga. Saudariku diterima, sedangkan aku tidak. Ini membuat nyaliku ciut. Aku takut apabila aku tidak bisa kuliah di tahun itu.

Ayahku berusaha menenangkanku. Dia menyarankanku untuk mengikuti SNMPTN jalur tertulis yang akan diselenggarakan dalam empat minggu ke depan. Hari-hari yang kulalui terasa menegangkan. Aku tidak mengikut les persiapan ujian seperti yang dilakukan teman-temanku. Kendala biaya membuatku hanya belajar lewat buku latihan soal. Kata Ayah kalau aku tidak lolos di jalur ini maka aku harus bekerja. Mendaftar di jalur mandiri akan sangat mahal biayanya. Aku mengerti maksud ayahku dan tidak bisa menyalahkannya apabila nantinya aku gagal dan harus bekerja.

Selama masa persiapan itu, aku dipenuhi keraguan. Aku merasa tidak cukup pintar karena aku tidak bisa mempertahankan nilai untuk masuk peringkat 5 di kelas. Aku sangat ingin kuliah, tapi ragu jika aku bisa lolos seleksi SBMPTN. Pernah suatu ketika, saking stresnya aku sampai menangis hingga Ayah memelukku untuk menenangkanku. Ayah mendukungku bahwa apapun hasilnya nanti, dia akan menerimanya.

Di saat-saat penuh keraguan itu, satu hal lainnya yang menguatkanku adalah doa. Ketika aku berdoa, aku belajar untuk mengandalkan Tuhan dan menyerahkan semua proses ini kepada-Nya.

Hari ujian tiba. Dari sekian banyak soal, hanya sedikit yang mampu kujawab dengan yakin. Soal-soal IPS di ujian itu berstandar SMA, dan sebagai siswi SMK aku merasa soal itu terlalu luas cakupannya dibandingkan dengan apa yang kupelajari. Aku ragu, tapi aku belajar untuk tenang. Di halaman terakhir buku soal latihan, aku menuliskan “Noni Elina Kristiani S.S, Universitas Negeri Jember 2015” sebagai ungkapan harapanku. Kemudian aku berdoa dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan. Yang penting aku telah berusaha semaksimal mungkin dan berlaku jujur.

Selang beberapa waktu, hasil ujian diumumkan. Waktu itu aku sedang retret di luar kota dan tidak bisa mengakses internet. Temanku membantuku untuk melihat hasil ujian itu. Hasilnya mengejutkanku, aku dinyatakan lolos dan siap menjadi mahasiswa di jurusan Televisi dan Film di Universitas Negeri Jember, universitas pilihan pertamaku.

Aku tidak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan. Jika diingat-ingat lagi, apa yang menjadi harapanku yang kutulis di halaman terakhir buku soal latihan SBMPTN itu telah Tuhan wujudkan. Di tahun 2015, aku menyelesaikan studiku, diwisuda, dan memperoleh gelar sarjana di belakang namaku. Apa yang dulu aku ragukan dijawab Tuhan dengan kepastian. Semuanya ini terjadi semata-mata karena kemurahan Tuhan.

Karena kemurahan-Nya pula, aku belajar memahami bahwa setiap proses yang terjadi dalam kehidupan ini bukanlah suatu kebetulan. Tuhan ingin supaya di dalam setiap proses itu kita boleh merasakan pengalaman bersama-Nya, sehingga kita mengenal-Nya tidak cuma berdasarkan apa kata orang, tapi benar-benar dari pengalaman kita sendiri, seperti Mazmur yang berkata: Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya (Mazmur 34:9). Pahit manis kehidupan boleh terjadi supaya kita sendiri dapat mengecap kebaikan Tuhan.

Tuhan itu sungguh baik dan Maha Pemurah. Tuhan baik bukan hanya karena Dia memberikan kesuksesan, tetapi juga melalui kegagalan yang dulu pernah kualami, Tuhan menggunakannya sebagai kesempatan untukku belajar mengenal karakter-Nya lebih dalam. Aku belajar untuk mengerti bahwa rancangan-Nya terkadang tidak dapat kuselami, tetapi dapat kuimani bahwa itulah yang terbaik.

Mungkin saat ini kita tidak menerima apa yang kita inginkan, tetapi Tuhan tahu apa yang sedang Dia lakukan. Tuhan ingin membentuk karakter kita dan Dia ingin kita tahu betapa kasih-Nya melimpah bagi kita semua.

TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia (Ratapan 3:25).

Baca Juga:

Doa yang Sulit

Kawan, sepanjang perjalananmu menjadi orang Kristen, adakah doa yang mudah kamu ucapkan tapi sulit untuk kamu lakukan?

Tidak Selamanya Gagal Itu Berakhir Buruk, Inilah Kisahku Ketika Aku Gagal Masuk ke Sekolah Impianku

Tidak-Selamanya-Gagal-itu-Berakhir-Buruk,-Inilah-Kisahku-Ketika-Aku-Gagal-Masuk-Sekolah-Impianku

Oleh Theodora Florencia, Sukoharjo

Mungkin kamu pernah mendengar sebuah kutipan yang mengatakan proses takkan mengkhianati akhir. Tapi, benarkah kenyataannya pasti begitu? Aku pernah berjuang keras untuk mewujudkan impian yang sangat aku dambakan, akan tetapi aku jatuh terpuruk ketika aku gagal mewujudkan impian itu. Namun, dari kegagalan itu Tuhan mengajariku untuk percaya bahwa Dia punya rencana yang lebih baik daripada impianku semula.

Sejak kelas 4 SD aku mendambakan bisa diterima di SMA negeri favorit yang berlokasi di kota Solo. Bagiku yang sejak kecil bersekolah di sekolah swasta Kristen, SMA negeri itu amat menarik minatku. Aku ingin bertemu dengan teman-teman yang lebih beragam, baik itu budayanya ataupun agamanya. Walaupun aku tidak secerdas teman-temanku, tapi aku berusaha belajar dengan tekun, memohon kepada Tuhan, juga melayani di gereja. Semua itu kulakukan dengan harapan kelak Tuhan akan mengabulkan mimpiku untuk bisa masuk sekolah negeri.

Setelah lulus dari SMP, aku mencoba untuk mendaftar di sekolah negeri itu. Tapi, aku juga menyadari bahwa ada kemungkinan kalau aku tidak diterima di sana. Jadi, sebagai cadangan, aku juga mendaftarkan diriku di sebuah SMA swasta yang masih satu lokasi dengan SMPku. Waktu itu, SMA negeri tujuanku yang berlokasi di kota Solo hanya memberikan kuota 5% untuk siswa dari luar kota, padahal tahun sebelumnya kuotanya adalah 30%. Ratusan pendaftar, termasuk aku yang berasal dari luar kota Solo harus memperebutkan kuota yang amat sedikit itu. Aku percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Namun, ketika hari pengumuman tiba, namaku tidak tercantum di sana. Hari itu aku merasa Tuhan seolah-olah menolak mimpiku. Aku merasa terpuruk, menangis, bahkan seperti tak memiliki tujuan hidup.

“Tuhan, yang benar saja. Aku sudah ingin masuk ke sana sejak kelas 4 SD! Aku juga nggak lupa berdoa waktu Ujian Nasional. Aku nggak lupa saat teduh. Aku nggak lupa tanya Tuhan, bahkan waktu UN aku memilih off dari semua media sosial supaya bisa fokus,” keluhku pada Tuhan. Jika seandainya saja kuota tahun itu tidak dipangkas, mungkin saja aku masih bisa diterima di sekolah itu. Kemudian, aku memberi kabar kepada beberapa temanku kalau aku tidak diterima. Mereka menghiburku, tapi tetap saja aku tidak merasa terhibur secara total.

Di malam harinya, dalam keadaan masih kecewa aku mencoba untuk bersaat teduh. Sebuah ayat yang diambil dari Ayub 42:2 itu menghibur sekaligus menegurku. “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Ayat ini membuatku berpikir. Benar juga. Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada satu pun rencana Tuhan yang gagal. Dari ayat itu, aku mengambil kesimpulan bahwa Tuhan memang tidak ingin aku masuk ke SMA negeri itu. Kalaupun Tuhan mengizinkan aku diterima di sekolah negeri itu, mungkin saja Dia membuat keajaiban seperti NIM-ku menjadi lebih tinggi, kuota masuknya diperbanyak, atau hal ajaib lainnya. Tapi, nyatanya itu tidak terjadi. Berarti, memang ada misi khusus yang Tuhan ingin berikan padaku. Tuhan ingin aku masuk ke SMA swasta yang sudah kucadangkan.

Lalu, ketika aku membaca sebuah buku renungan, aku juga kembali diingatkan dengan sebuah kutipan yang mengatakan: Allah memilih apa yang harus kita lalui, kita memilih bagaimana kita melaluinya. Kutipan ini kembali menguatkanku bahwa memang sudah jalan Tuhan untuk menempatkanku di sekolah swasta. Sekarang, tugasku adalah menentukan bagaimana caranya aku melalui hari-hariku di SMA swasta ini, apakah aku akan melaluinya dengan perasaan kecewa atau melaluinya dengan semangat. Mulai hari itu aku memilih untuk tidak lagi menyesali kegagalan ini dan mengimani firman Tuhan di Yeremia 29:11 yang berkata bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan.

Di SMA swastaku, memang aku tidak mendapatkan lingkungan pergaulan yang begitu beragam. Kebanyakan teman-temanku adalah orang Kristen. Namun, di sinilah aku melihat tantangannya, yaitu bagaimana caraku untuk tetap menjadi teladan bagi teman-temanku yang sama-sama adalah pengikut Kristus. Aku percaya bahwa sebelum kelak Tuhan mengutusku entah ke mana, saat ini Dia ingin aku menjadi teladan terlebih dahulu di tengah-tengah saudara seiman. Sewaktu SMP dulu, aku bukanlah termasuk siswa yang rajin. Tapi, di SMA ini aku mau menjadi teladan dengan cara belajar lebih rajin. Di akhir semester kedua, Tuhan menganugerahiku juara 1 di kelas dan pihak sekolah memberikanku beasiswa bebas biaya studi untuk tahun selanjutnya.

Selain lebih rajin, aku juga belajar untuk bagaimana membina relasi yang baik antar sesama teman. Ketika awal masuk sekolah dulu, aku bukanlah orang yang terbuka dan aku sempat tidak cocok dengan beberapa temanku. Aku merasa enggan berada dekat mereka. Namun, ketika aku berdoa, Tuhan menyadarkanku demikian: jika aku merasa tidak cocok dengan teman-temanku, bukan berarti mereka harus berubah untuk menjadi seperti yang kuinginkan. Aku harus bisa menerima mereka apa adanya. Toh, mereka tidak pernah mengeluh apabila berada di dekatku. Lantas, mengapa aku harus enggan berteman dengan mereka? Di liburan semester kedua, aku melatih diriku untuk tidak berpikiran buruk tentang teman-temanku dan mencoba untuk mendekati mereka. Sejak saat itu, lambat laun kami menjadi teman baik. Aku yang tadinya kurang terbuka, sekarang memiliki beberapa sahabat yang kepadanya aku bisa bercerita kisah-kisah hidupku.

Tuhan tidak pernah berhenti berkarya. Sekalipun mimpiku untuk masuk ke SMA negeri pada awalnya terkesan gagal, tetapi sesungguhnya Tuhan menyiapkan rencana yang lebih baik untukku. Tuhan jauh lebih tahu apa yang sesungguhnya aku butuhkan. Dia tahu bahwa di sekolah manapun aku bersekolah, aku harus menjadi seorang siswa yang rajin, bertanggung jawab, dan menjadi teladan. Tuhan mau aku mempercayai-Nya dengan sepenuh hati. Karya Tuhan tidak ditentukan dari aku bersekolah di mana, tapi di manapun aku bersekolah, di situlah Tuhan berkarya. Terkadang, kegagalan memang diizinkan Tuhan terjadi supaya kita percaya bahwa di balik kegagalan itu, Tuhan tetaplah Tuhan yang berkuasa dan memegang kendali atas hidup kita.

Baca Juga:

Sampai Sejauh Mana Aku Bisa Mengasihi?

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Markus 12:31). Aku sering mendengar ayat ini, tetapi rasanya sulit sekali untuk melakukan apa yang Yesus perintahkan itu mengingat sekarang ini relasi kita kepada sesama mungkin lebih banyak dihitung berdasarkan untung dan rugi. Tapi, ada sebuah film yang mengajariku bahwa perintah untuk mengasihi itu bukanlah sekadar teori semata, tapi memang harus kita lakukan sebagai pengikut Yesus.

Gagal Bukan Berarti Masa Depanku Suram, Inilah Kisahku Ketika Dinyatakan Tidak Lulus SMA

Gagal-Bukan-Berarti-Masa-Depanku-Suram,-Inilah-Kisahku-Ketika-Dinyatakan-Tidak-Lulus-SMA

Oleh Abyasat Tandirura, Toraja

Delapan tahun lalu, tepatnya di tanggal 16 Juni 2009 adalah hari yang tidak pernah bisa kulupakan. Siang itu, aku dan teman-teman seangkatanku sedang was-was menantikan pengumuman kelulusan kami. Seperti peribahasa untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, hari itu aku menerima sebuah amplop pengumuman yang menyatakan bahwa aku tidak lulus SMA.

Aku sangat sedih dan merasa tidak percaya. Tatkala teman-temanku bersukaria menerima kelulusan mereka, aku menangis terisak-isak. Beberapa teman dan guruku datang memelukku. Waktu itu suasana hatiku kacau. Aku merasa bahwa Tuhan berlaku tidak adil kepadaku.

Dalam benakku, aku tidak pernah membayangkan akan kegagalan yang menimpaku. Selama tiga tahun aku telah berusaha dan aku percaya bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. Tapi, hari itu harapanku untuk lulus menjadi tinggal kenangan. Akupun bertanya-tanya dalam hati. Apakah Tuhan tidak memberkatiku selama tiga tahun belajar? Mengapa harus aku yang mengalaminya? Sebegitu bodohkah aku sehingga tidak lulus? Apa yang harus kulakukan untuk masa depanku?

Di ruangan kepala sekolah, guru-guruku memberiku semangat dan nasihat. Mereka mengatakan kepadaku untuk tetap sabar karena ada hikmah di balik kegagalan ini. Waktu itu, ketua kelasku yang sekarang telah dipanggil Tuhan juga menepuk pundakku dan menyemangatiku. Dukungan dari mereka membuatku sedikit tenang walaupun masih sesekali meneteskan air mata. Di lubuk hatiku, aku berdoa meminta kekuatan supaya aku bisa menghadapi kenyataan yang sulit itu.

Aku pulang ke rumah dengan hati yang remuk redam. Ingin rasanya menyembunyikan diriku dari orang lain. Aku berbaring di kasur, mengurung diri berjam-jam, dan menatap langit-langit kamarku dengan tatapan kosong. Aku kembali menangis. Aku malu kepada keluargaku, guru-guruku di sekolah, teman-temanku, juga kepada guru sekolah mingguku dulu.

Selama dua hari aku merasakan semangatku hilang. Dalam benakku, aku membayangkan masa depanku yang mungkin saja suram karena tidak lulus SMA. Tapi, di tengah kesedihan itu aku teringat perkataan guru sekolah mingguku dulu ketika di gereja. Dia pernah berkata bahwa kita bisa mencurahkan isi hati kita kepada Tuhan Yesus dengan berdoa. Aku sadar bahwa aku terlalu banyak mengeluh dan tidak berdoa kepada Tuhan.

Dalam doaku, aku berdoa bukan supaya Tuhan mengubah ketidaklulusanku menjadi lulus, melainkan supaya aku boleh diberi kekuatan untuk menjalani hari-hariku ke depan. Sekalipun hatiku masih berat untuk menerima kegagalan itu, tapi aku tetap berusaha untuk berdoa. Aku selalu menangis ketika berdoa dan mencurahkan isi hatiku kepada-Nya.

Beberapa hari berlalu. Salah seorang guruku memberiku kabar untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian paket C. Mendengar kabar itu, hatiku melonjak gembira. Ternyata, aku masih punya kesempatan untuk lulus. Selain aku, ada beberapa teman dari sekolahku dan juga dari sekolah-sekolah lain yang senasib denganku dan harus mengikuti ujian paket C.

Bagiku, ujian paket C yang kuikuti itu adalah sebuah cara Tuhan untuk membangkitkan kembali semangat hidupku. Lewat kesempatan itu, Tuhan menunjukkan bahwa Ia mengasihiku dan tidak membiarkanku sedih berlarut-larut. Dia memberiku kesempatan satu kali lagi untuk bangkit. Keluarga dan teman-temanku juga memberiku semangat. Ayahku berkata, “Kegagalan itu bukan akhir dari segalanya. Kegagalanmu adalah keberhasilan yang tertunda.”

Sejak saat itu, aku bertekad untuk bangkit dari kekecewaan. Aku belajar untuk menerima kegagalan itu dengan tulus dan tidak lagi membanding-bandingkan diriku dengan teman-teman lain. Setelah ujian paket C itu selesai kuikuti dan aku dinyatakan lulus, aku melanjutkan pendidikanku di perguruan tinggi vokasi selama empat tahun. Aku mengambil Jurusan Teknik Kimia, Program Studi Teknologi Kimia Industri, di sebuah politeknik negeri di kota Makassar. Sekarang, aku telah lulus dan bekerja. Aku tahu bahwa perjalanan hidupku masih panjang dan aku harus memiliki niat dan kerja keras untuk mewujudkan masa depanku.

Kegagalan yang kualami delapan tahun silam membukakan mataku akan penyertaan Tuhan dalam hidupku. Tatkala aku tidak lulus Ujian Nasional, Tuhan mengizinkan hal itu terjadi supaya aku lebih kuat apabila di masa depan ada kegagalan-kegagalan lain yang harus kuhadapi. Lewat proses yang menyakitkan, Tuhan membentuk aku supaya menjadi pribadi yang dewasa dalam iman dan sikap. Pengalamanku akan kegagalan inilah yang menjadi sebuah kesaksian hidupku tentang betapa indahnya karya Tuhan. Kepada teman-temanku yang pernah mengalami kegagalan, aku membagikan kesaksianku dan menguatkan mereka bahwa kegagalan yang mereka alami bukanlah akhir dari segalanya.

Sebagai manusia biasa, kegagalan-kegagalan yang pernah kita alami adalah hal yang wajar. Kita tidak tahu kapan dan kegagalan apa yang akan menimpa kita. Lewat pengalaman kegagalan yang pernah kualami, aku mendapatkan pelajaran hidup bahwa, apapun bentuk kegagalan yang pernah, sedang dan yang mungkin akan menimpa kita, jangan sekali-kali menyalahkan Tuhan. Rancangan-Nya selalu yang terbaik dan indah pada waktunya. Jangan pernah berpikir, jika kita sedang gagal, tidak ada lagi harapan. Tuhan setia dengan janji-Nya, sebagaimana Ia berkata, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5b).

Selalu ada harapan bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus. Mengucap syukurlah dalam segala hal. Jangan lupa untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap perjuangan-perjuangan kita.

“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang” (Amsal 23:18).

Baca Juga:

Sekalipun Aku Tuli, Tetapi Tuhan Tidaklah Tuli

Pernahkah kalian bergumul karena kekurangan fisik yang kalian alami? Aku pernah mendapatkan perlakuan tidak baik, merasa dikucilkan, bahkan juga mengalami diskriminasi karena sebuah cacat fisik yang kualami sejak lahir. Hidup dengan keadaan disabilitas sejatinya tidaklah mudah buatku, namun karena penyertaan Tuhan sajalah aku bisa melewati hari-hariku.

Aku Tidak Lolos Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri, Haruskah Aku Kecewa?

aku-tidak-lolos-seleksi-masuk-perguruan-tinggi-negeri-haruskah-aku-kecewa

Oleh Louise Angelita Kemur, Jakarta

Jika aku mengingat kembali masa-masa ketika aku mulai kuliah, semua yang kudapatkan saat ini hanyalah anugerah. Aku pernah berharap bisa kuliah ke luar negeri untuk mendalami dunia seni dan desain, atau setidaknya masuk di perguruan tinggi negeri. Untuk mewujudkan impianku itu, sejak SMA aku berusaha keras untuk mendapatkan nilai yang bagus. Tapi, ternyata Tuhan berkata lain. Setelah lulus SMA, aku tidak berhasil mendapatkan beasiswa studi ke luar negeri ataupun masuk ke perguruan tinggi negeri yang aku inginkan.

Dulu tidak pernah terbayang dalam pikiranku kalau jurusan kuliah yang kuambil sekarang ternyata bertolak belakang dengan jurusan yang kuambil di SMA. Sekarang aku belajar tentang Bisnis, sedangkan di SMA aku masuk jurusan IPA. Ibuku adalah seorang dokter sehingga awalnya aku sempat mengira kalau aku akan kuliah di kedokteran nantinya.

Orangtuaku ingin salah satu anaknya meneruskan karier sebagai dokter. Lalu, guru-guru dan teman-temanku di SMA juga mendorongku untuk masuk ke jurusan kedokteran karena mereka beralasan kalau nilai-nilaiku yang baik itu akan memudahkanku untuk diterima di jurusan kedokteran. Akhirnya aku mencoba mendaftarkan diriku ke Jurusan Kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri melalui jalur tanpa tes seraya berharap supaya prestasiku selama SMA bisa menolongku untuk diterima di sana.

Ketika aku harus kecewa

Tapi, ternyata Tuhan tidak membukakan jalan untukku berkuliah di perguruan tinggi negeri itu. Ketika mendaftar lewat jalur undangan (non-tes), aku gagal, lalu aku juga mencoba kembali di jalur tes namun hasilnya tetap sama.

Tidak berhenti sampai di situ, aku juga mencoba mendaftar di perguruan tinggi swasta. Aku coba untuk mendaftar di Jurusan Kedokteran, Arsitektur, dan Desain Interior di beberapa perguruan tinggi. Setelah mengikuti rangkaian seleksi, aku diterima di Jurusan Kedokteran di salah satu kampus di Jakarta. Tapi, ayahku tidak setuju karena takut apabila aku tidak menikmati kuliahku di sana, selain itu beliau juga kurang percaya dengan kualitas pendidikan di sana. Aku juga diterima di Jurusan Desain Interior di salah satu kampus di Tangerang, tapi setelah aku melakukan survei ke kampus itu, aku merasa kalau lingkungannya tidak nyaman untukku.

Waktu itu aku hanya bisa berserah kepada Tuhan. Jika Dia mengizinkanku untuk bisa kuliah di tahun itu, aku sungguh bersyukur. Tapi, jika tidak pun aku mau tetap percaya kepada-Nya. Aku telah beberapa kali gagal masuk ke perguruan tinggi yang kuingini, dan juga aku sendiri masih ragu dengan perguruan tinggi mana yang sebenarnya aku inginkan. Walaupun aku sudah mempersiapkan yang terbaik untuk mengikuti tes itu, tapi selalu saja ada pertanyaan yang menggantung di benakku, “Apakah ini yang benar-benar kamu inginkan?”

Ayahku mendorong anak-anaknya untuk kelak dapat berwirausaha dengan membuka bisnis sendiri. Kemudian aku berpikir mengapa tidak mencoba saja untuk belajar tentang kewirausahaan itu? Akhirnya aku mencoba mendaftar ke Jurusan Bisnis di perguruan tinggi tempat kakakku belajar.

Awalnya ayahku sempat meragukan keputusanku itu. Tapi, menurutku, perguruan tinggi tempat kakakku belajar itu sangat baik dan aku pernah mengikuti kompetisi di sana. Aku sempat pesimis karena aku mendaftar di gelombang kedua sebelum terakhir dan ternyata tes masuknya sangat sulit. Namun, syukur kepada Tuhan karena aku dinyatakan lolos untuk masuk ke Jurusan Bisnis dan keluargaku masih memiliki tabungan yang cukup untuk melunasi semua biaya masuknya.

Kekecewaan yang perlahan berbuah manis

Dulu aku pernah merasa khawatir kalau sehabis lulus SMA aku tidak bisa langsung kuliah di tahun itu. Aku juga khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan terhadapku, sampai-sampai aku juga menjadi ragu apakah Jurusan Bisnis yang kuambil ini adalah yang paling tepat buatku atau bukan. Pilihanku untuk kuliah di jurusan Bisnis membuat beberapa teman dan guru-guruku di SMA kecewa. Mereka berharap kalau aku seharusnya berusaha lebih untuk mendapatkan kuliah di Jurusan Kedokteran. Selama tahun pertama kuliahku aku merasa dihantui oleh pandangan mereka.

Tapi, ternyata setelah aku menjalani kuliah ini selama dua tahun, perlahan aku mulai menikmatinya. Tuhan memberiku berbagai kesempatan untuk berkarya di kampus, salah satunya dengan terlibat aktif dalam lembaga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Dari lembaga itu aku belajar tentang kepemimpinan. Salah satu anugerah Tuhan yang awalnya tak pernah aku pikirkan adalah aku mendapatkan kepercayaan untuk menjadi wakil ketua di kegiatan orientasi mahasiswa baru untuk angkatan 2016. Selain di BEM, aku juga aktif terlibat dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) orkestra sebagai seorang violist. Aku bersyukur karena aku bisa memaksimalkan talenta dan hobiku dalam kegiatan ini.

1 Korintus 2:9 mengatakan “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” Ayat ini benar adanya. Apa yang dipikirkan oleh manusia ternyata berbeda dengan apa yang dirancangkan oleh Yang Mahakuasa. Pikiran-Nya jauh lebih rumit dan tinggi. Rencana-Nya jauh lebih besar dan indah.

Dari kampusku sekarang inilah aku belajar tentang kepemimpinan dalam organisasi yang kuikuti. Pengalaman yang aku dapatkan itu bisa kuterapkan dalam pelayananku sebagai ketua remaja di gereja. Aku belajar mengatur jadwal pelayanan dengan efektif, mendistribusikan tanggung jawab secara adil kepada masing-masing panita.

Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa memilih perguruan tinggi bukanlah semata-mata karena gengsi. Kita tidak boleh lupa cita-cita dan talenta apa yang kita miliki. Pilihlah jurusan yang membuat kita menikmati setiap prosesnya. Namun, jangan lupa juga untuk selalu libatkan Tuhan dan orangtua kita dalam membuat keputusan ini.

Sebuah anugerah dalam jawaban tidak

Aku belajar bahwa ketika Tuhan menjawabku dengan jawaban “tidak”, itu pun merupakan sebuah anugerah. Jawaban tidak itu memberi kita kesempatan untuk percaya kepada-Nya senantiasa dan percaya bahwa Dia memberikan sesuatu yang indah tepat pada waktu-Nya asalkan kita berani untuk mempercayai-Nya, mendengarkan-Nya, dan melakukan perintah-Nya.

Aku juga belajar bahwa apapun jawaban Tuhan untuk kita, yang wajib kita lakukan adalah percaya sepenuhnya dan berserah kepada Tuhan. Kita juga harus berani melakukan yang terbaik dalam kesempatan itu. Aku bersyukur Tuhan menyediakan orang-orang yang melengkapi setiap kebutuhanku.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN” (Yesaya 55:8).

Baca Juga:

Surat Kepada Diriku yang Dulu adalah Seorang Gay

Aku tahu kalau saat ini kamu tidak merasa kalau Tuhan benar-benar mengasihimu karena Dia memintamu untuk berhenti menjalin hubungan sebagai seorang gay. Kamu merasa bahwa satu-satunya kebahagiaanmu telah dihancurkan. Hatimu terasa sakit dan kamu pun mengeluh, “Bagaimana mungkin sesuatu yang kuanggap wajar ternyata salah?”

Ketika Tuhan Menolak Proposal Hidupku

Ketika-Tuhan-Menolak-Proposal-Hidupku

Oleh Listiyani Chita Ellary, Jember

Semua orang tentu bercita-cita untuk memiliki hidup yang damai, aman, semua impian tercapai, dan tentunya tidak ada orang yang ingin hidupnya dipenuhi kerikil-kerikil tajam. Aku pun bercita-cita demikian. Sudah sejak lama aku membuat daftar rencana hidupku ke depan, mulai dari tempat kuliah, target kelulusan, nanti akan bekerja di mana, bahkan menikah di umur berapa. Semua itu telah kurencanakan dengan rapi bahkan sejak aku masih duduk di bangku sekolah.

Selama bertahun-tahun aku memohon supaya Tuhan mengabulkan semua impianku itu, seolah-olah aku sedang mengajukan sebuah proposal kepada Tuhan. Namun, setelah tahun-tahun berlalu, aku terus menerus mengajukan proposal itu tanpa memohon persetujuan-Nya. Akhirnya tidak satupun proposal hidupku itu yang berjalan sesuai dengan rencanaku. Aku pun menjadi kecewa ketika ternyata Tuhan tidak mengabulkan apa yang selama ini aku impikan.

Ketika Tuhan menjawab proposal itu dengan jawaban lain

Jurusan kuliah yang kutekuni ternyata melenceng jauh dari yang aku rencanakan. Sejak sekolah dulu aku selalu membayangkan diriku menjadi seorang interior designer ternama. Namun, impianku buyar ketika orangtuaku ternyata tidak setuju dengan keinganku berkuliah di jurusan itu. Kami pun berselisih paham dan akhirnya aku memilih untuk kuliah di fakultas teknik.

Selama kuliah pun indeks prestasi yang kuraih hanya pas-pasan, bahkan di beberapa semester aku sempat mendapatkan nilai yang sangat rendah. Aku sempat menyalahkan Tuhan dan mengeluh kepada-Nya. “Tuhan, aku sudah berusaha sebisa mungkin tapi kenapa hanya hasil seperti ini yang kudapatkan?” Aku juga menyalahkan kedua orangtuaku karena mereka menuntutku untuk kuliah di jurusan yang bukan keinginanku. Jadi, kupikir wajar saja jika nilai-nilai yang kuperoleh itu pas-pasan.

Setelah melewati pergumulan sepanjang kuliah, aku pun lulus dan menyandang gelar sarjana Teknik. Tapi, permasalahan tidak berhenti di situ. Pekerjaan yang kudapatkan ternyata jauh berbeda dengan bidang yang aku pelajari selama kuliah. Kok sarjana Teknik kerjanya di bidang marketing? Pertanyaan itu sering kudengar dari orang-orang sekitarku yang akhirnya membuatku gerah dan menggerutu.

Rasa kecewaku itu masih harus ditambah ketika aku dan kekasihku harus putus setelah menjalin hubungan selama 4 tahun. Aku merasa hatiku saat itu telah hancur dan aku kembali mengeluh kepada Tuhan. “Tuhan, aku sudah merencanakan pernikahanku dengannya, tapi kenapa kami harus berpisah?” Aku sudah mengenal kekasihku dengan baik, sikap buruk maupun baiknya aku sudah tahu, bahkan aku juga sudah sangat dekat dengan keluarganya. Dan sekali lagi, Tuhan menolak kembali proposal terakhirku. Sirna sudah rencana pernikahan yang sudah aku susun dengan rapi.

Di mana Tuhan ketika aku kecewa?

Aku bertanya, “Di mana Tuhan ketika aku mengajukan banyak proposal hidupku? Tuhan diam saja kah? Atau Tuhan sudah tidak mau ambil bagian di hidupku? Kenapa semua proposal hidupku tidak satupun yang Tuhan kehendaki?”

Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung di benakku hingga suatu ketika aku hadir di sebuah ibadah hari Minggu. Khotbah hari itu diambil dari Yeremia 29:11 yang berkata, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Sejenak aku merenung dan melontarkan pertanyaan kepada diriku sendiri. “Apakah selama ini semua rencanaku adalah rencana damai sejahtera? Ataukah semua rencanaku itu merupakan buah ambisiku semata?” Tentu aku hanya mengajukan permohonan, bukan lagi memohon revisi Tuhan atas semua proposal hidupku.

Aku mulai menyadari bahwa aku terpaku pada rencanaku tanpa mempedulikan rencana Tuhan yang sudah Dia rancangkan untukku. Aku telah melupakan Allah pencipta hidupku yang sudah tentu jauh lebih mengenalku bahkan sejak aku masih dalam kandungan.

Dari setiap kejadian “kegagalan proposal” ini aku menyadari banyak kesalahan yang terjadi pada diriku sendiri. Aku salah karena aku mengabaikan kehendak Tuhan tanpa bertanya terlebih dulu apakah Dia menyetujui proposalku. Aku malah bersikeras menganggap kalau proposal versiku sendiri adalah yang terbaik buatku.

Aku menyadari bahwa setiap proposal yang aku ajukan kepada Tuhan itu hanyalah ambisiku pribadi dan aku mengabaikan apakah proposal itu menyenangkan hati Tuhan? Apakah proposal hidupku itu memberi dampak baik bagi banyak orang, membuat makin mengasihi Tuhan, atau justru malah membuatku membanggakan diri dan menjauh dari Tuhan?

Kalau saja Tuhan menyetujui semua proposal hidupku, mungkin sekarang aku sudah semakin tinggi hati dan berbangga diri atas kemampuanku sendiri. Tapi, aku bersyukur karena Tuhan sudah menolak bukan hanya sebagian, tapi seluruh proposal hidupku. Penolakan itu membuat aku bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Sekarang aku tidak lagi mengajukan proposal hidupku, melainkan aku menikmati Tuhan menyatakan semua rencana dan proses-Nya di dalam hidupku. Aku percaya bahwa aku sedang dibentuk-Nya untuk semakin baik dalam karakter, iman, dan cara pandangku terhadap hidup.

Kita dapat memandang kehidupan dengan cara yang berbeda ketika kita bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Kita percaya bahwa tangan Tuhan senantiasa tersedia bagi masa depan kita. Tidak ada yang patut ditakutkan dan dikhawatirkan lagi ketika kita memiliki penjamin hidup yang kekal. Sebuah kesia-siaan ketika kita hanya sibuk pada fokus pribadi tanpa mengerti tujuan kita. Apakah kita mau memuaskan keinginan diri sendiri atau menyenangkan hati Tuhan?

Aku pun mulai menyadari dan terus menghidupi firman-Nya di dalam hatiku. Bahwa bukan saja aku yang memiliki rencana melainkan Tuhan sudah berencana dan berkuasa penuh atas hidupku. Masa-masa mendatang tak perlu kucemaskan lagi, karena Sang Empunya hidup sudah memegang kendali penuh atas hidupku.

Lalu apakah aku hanya diam saja menanti kehendak Tuhan? Tentu tidak. Aku menjalani hidup dengan “proposal baru” dengan membiarkan Tuhan mengoreksi proposal-proposal baruku. Sehingga hidupku bukan hanya saja tentang aku melainkan tentang kehendak Tuhan atas hidupku.

Pekerjaanku sebagai seorang marketing bukan hal yang harus kututup-tutupi lagi. Aku bersyukur dan bangga bahwa melalui pekerjaan ini aku banyak bertemu orang dengan berbagai karakter, malah menjadi sarana untuk boleh mewartakan kasih Tuhan melalui perjumpaanku dengan mereka. Aku percaya melalui sikap yang baik, pikiran yang baik, dan tutur kata yang baik akan membawa orang-orang mencari sumber dari kebaikan tersebut dan dari situlah aku tahu bahwa Tuhan mengutusku bukan hanya mengerjakan bagianku ala kadarnya melainkan aku diutus untuk menjadi garam dan terang bagi sekelilingku.

Baca Juga:

Menikmati Anugerah Tuhan dalam Cacat Fisik yang Kualami

Perjalananku untuk menggapai cita-cita sebagai Sarjana Psikologi tidaklah mudah, terlebih karena sebuah cacat fisik yang kupunya sejak lahir. Tapi, ketika aku mengingat kembali bagaimana akhirnya aku bisa kuliah Psikologi, aku menyadari bahwa semuanya itu hanya karena anugerah Tuhan.