Posts

Berkat di Balik Pilihan yang Tampaknya Salah

Oleh Vina Agustina Gultom, Taiwan

Diperhadapkan dengan dua pilihan biasanya jadi momen yang memusingkan, namun bisa juga menyenangkan. Memusingkan karena mau tidak mau harus pilih salah satu, tapi satu sisi bisa jadi menyenangkan karena kita masih punya pilihan. Contoh, pilih beasiswa A atau B? Pergi ke Raja Ampat atau Perth? Abang ini atau si mas itu?

23 Mei 2019 menjadi momen memusingkan untukku karena aku diperhadapkan pada dua pilihan: ikut ujian seleksi dosen atau ujian seleksi di industri otomotif? Dua bidang pekerjaan yang berbeda, tapi sama-sama di tempat yang bergengsi.

Kalau kulihat jalinan benang merah hidupku, aku punya passion dalam mengajar. Tapi, aku tak bisa hanya melihat dari satu sisi saja. Aku berpikir, kira-kira di ujian yang mana aku paling berpeluang lolos? Jika memang aku ikut ujian dosen dan lolos, apakah ini benar-benar kehendak Allah? Bagaimana jika ikut ujian di industri otomotif yang ternyata jadi kehendak-Nya? Atau, bagaimana kalau malah bukan keduanya?

Aku pun berdoa, memohon agar Tuhan membuatku peka akan pilihan mana yang paling baik untuk kuambil. Aku juga berdiskusi dengan orang tua, kakak, dan sahabatku. Aku yakin mereka dapat dipakai Tuhan untuk memberiku jawaban. Mereka menyarankan supaya aku ikut ujian seleksi dosen, tapi tetap mencoba bernegosiasi dengan industri otomotif apakah memungkinkan jika jadwal ujianku di sana diundur.

Waktu terus berjalan, pesan dalam bentuk posel (email)tak kunjung dibalas. Dengan iman, kuserahkan pilihan ini pada Tuhan. Kusiapkan diriku sebaik-baiknya sampai akhirnya pada hari pengumuman, ternyata aku dinyatakan gagal.

Sedih. Sangat sedih. Pikiran liar pun mulai menggerogoti, “Kenapa kemarin gak pilih ujian di industri otomotif aja!” Kalimat penyesalan dan kekecewaan yang sulit untuk tidak kupikirkan dan kuucapkan.

Berkat di balik pilihan yang tampaknya salah

Di tengah rasa sedihku, aku coba mengingat perkataan sahabatku, “Jangan lihat berkat Tuhan itu hanya dari ketika kamu mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan, tapi lebih dari itu, berkat Tuhan sama indahnya di tengah kegagalanmu sekalipun. Walau kadang kamu baru menyadarinya setahun, dua tahun, atau bahkan 10 tahun setelah kegagalan itu terjadi.”

Perkataan sahabatku itu benar. Berbulan-bulan setelahnya, tepatnya pada tanggal 25 April 2020 aku merasa takjub. Meski aku tidak lolos ujian dan menjadi dosen di universitas itu, aku tetap diajak untuk mengikuti Pendalaman Alkitab (PA) dengan komunitas pasca sarjana yang berasal dari kampus tersebut. Ceritanya, pada tanggal 28 Mei 2019, waktu sebelum aku mengikuti ujian seleksi, seniorku mengenalkanku dengan alumni pengurus persekutuan mahasiswa Kristen pasca sarjana. Alumni itu rupanya ikut ujian seleksi bersamaku. Beliau bertanya, apakah aku orang Kristen atau bukan? Aku kaget, menanyakan tentang iman seseorang agaknya jarang jadi pembuka obrolan. “Ya, aku Kristen,” jawabku. Dia lalu mengajakku ikut kelompok PA di daerah Dago. Karena aku butuh oase pasca ujian, aku mengiyakan ajakan itu.

Ketika PA berlangsung, kami saling berkenalan, membahas materi, berdoa, dan foto bersama. Kegiatan-kegiatan ini sudah biasa terjadi saat ber-PA dalam kelompok. Namun, yang jarang terjadi adalah aku diundang untuk langsung masuk ke dalam grup WhatsApp mereka. Pikirku, “Untuk apa? Aku hanya ikut kelompok PA ini sekali. Aku tidak bisa ikut pendalaman Alkitab lagi dengan kalian, karena terpaut oleh jarak. Aku di Bekasi dan kalian di Bandung”. Tapi sebagai bentuk penghormatanku, aku mengiyakan undangan itu.

Meski telah berbeda kota, aku tetap berkomunikasi dengan mereka. Sampai akhirnya pada tangggal 25 April 2020, aku kembali bisa ikut PA bersama mereka walau secara virtual dari tempat kami masing-masing akibat dampak dari pandemi. Bersyukur dengan pandemi ini juga, aku diajarkan bahwasanya jarak itu bukan penghalang kita untuk melakukan PA bersama.

Dari pengalaman sederhanaku ini, aku jadi mempunyai slogan, “Gagal ujiannya, dapatin komunitasnya.” Ya bagiku ini penting, karena setidaknya walau kita gagal untuk berkarya di tempat yang kita tuju, namun kita mendapatkan komunitas yang berlatar belakang sama, yang akhirnya dapat memahami dan mengerti keadaan kita, bahkan memberikan solusi dengan saling berbagi informasi mengenai lowongan mengajar lainnya.

Mengutip sebuah kalimat dari saat teduhku tanggal 27 Juli 2019, tertulis begini:

“If you’re discouraged by some failure today, remember that Jesus may use it to teach you and lead you forward in your service for Him”

“Jika kamu kecewa karena kegagalan hari ini, ingatlah bahwa Yesus dapat memakainya untuk mengajar dan memimpin kamu melangkah maju dalam pelayananmu kepada-Nya”

Ketika pilihan yang kita ambil mengantar kita pada kegagalan, cobalah untuk melihat dari sudut pandang Allah. Segala hal dapat dipakai-Nya untuk membawa kebaikan bagi kita, selama kita bersedia untuk percaya. Jadi, kalau kamu jadi aku, kamu pilih yang mana? Larut dalam kegagalan atau dapatin komunitasnya?

Selamat memilih untukmu yang sedang di rumah aja.

Baca Juga:

Kelulusan yang Tertunda: Momen untuk Memahami Kehendak Tuhan

Ketika studi S-3ku hampir selesai, dosen pembimbing memberiku opsi untuk menunda kelulusan. Opsi ini sulit, sungguhkah ini kehendak Tuhan? Tapi, dari momen inilah aku jadi belajar bagaimana dan seperti apakah itu kehendak Tuhan.

Kedamaian di Tengah Ketidakpastian

Oleh Vika Vernanda, Depok

Sebuah dokumen berisi kalender akademis baru saja dikirim oleh temanku. Salah satu poinnya menyatakan bahwa batas akhir pengumpulan tugas akhir diundur hingga akhir bulan Juli. Aku mulai menghitung waktu yang kuperlukan untuk menyelesaikan penelitian tugas akhir, hinga kudapatkan kesimpulan bahwa aku harus memulai penelitian lagi di awal bulan Mei.

Pandemi yang menjangkiti dunia dan Indonesia berdampak besar pada semua bidang, salah satunya pendidikan. Semua jenjang pendidikan melakukan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sehingga setiap siswa dan mahasiswa bisa tetap mengerjakan bagiannya untuk menuntut ilmu, namun penerapan PJJ menjadi kesulitan tersendiri bagi sebagian mahasiswa tingkat akhir. Mereka yang awalnya bisa melakukan penelitian langsung di laboratorium dan di lapangan, kali ini tidak bisa melakukannya. Akibatnya penulisan tugas akhir dan waktu kelulusan jadi terhambat. Aku adalah salah seorang di antara mereka.

Pengumpulan tugas akhir yang diundur merupakan kabar baik bagi beberapa temanku, namun tidak bagiku. Penelitian untuk tugas akhirku rencananya dilakukan di rumah sakit, tapi saat ini sangat berisiko untuk pergi kesana. Pihak universitas dan rumah sakit juga tidak memberikan izin untuk melakukan penelitian. Rencana penelitianku di awal bulan Mei jadi sangat tidak mungkin kulakukan. Padahal, aku sudah merencanakan dengan rapi studiku supaya aku bisa lulus tepat waktu. Sekarang, semua rencanaku terancam berantakan. Aku sangat khawatir jika aku tidak bisa lulus tepat waktu.

Ketika aku menyampaikan kekhawatiranku pada temanku, aku teringat pada firman yang dibahas dalam kelompok tumbuh bersama yang kuikuti kemarin.

Kami membahas tentang surat Paulus bagi jemaat Filipi yang berisi tentang permintaan agar sehati sepikir dalam Kristus. Pada Filipi 4:6-7 ditulis demikian:

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

David Sanford pada bukunya Journey Through Philippians, menuliskan bahwa berdoa dalam segala sesuatu dengan ucapan syukur memberikan implikasi seperti pada ayat 7, yaitu damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiran kita. Damai ini hadir bukan karena kita memiliki kontrol, punya rencana, atau tahu jelas berbagai pilihan yang ada dalam hidup kita. Damai ini juga bukan merupakan sesuatu yang kita pikirkan dan kehendaki. Itu semua adalah kedamaian Allah— kedamaian yang terjadi bukan karena kita mengetahui semua hal dengan pasti sesuai rencana, namun ketika kita mempercayakan setiap hal kepada Allah.

Kalimat itu sangat menegurku. Aku tahu, mungkin sulit bagi kita untuk berpegang pada damai sejahtera Allah di tengah kondisi yang sangat tidak sesuai harapan. Banyak harapan dan rencana yang gagal akibat pandemi yang sedang kita alami bersama. Aku mengalaminya, dan untuk sesaat, itu menjauhkanku dari damai-Nya.

Menikmati firman ini membuatku tenang. Namun terkadang perasaan khawatir itu kembali muncul, dan ketika itu datang aku mencoba mengingat lagi bahwa Allah memegang masa depanku. Bagianku saat ini adalah tetap mengerjakan tugas akhir yang bisa dikerjakan dari rumah, dengan perasaan damai sejahtera karena mengetahui bahwa Allah bekerja. Terkait lulus tepat waktu, saat ini aku sudah lebih tenang jika bukan itu yang Allah mau; tapi aku percaya bahwa aku akan lulus pada waktu-Nya.

Pemahaman akan damai sejahtera Allah yang tidak kita dapatkan karena pengertian kita, mengingatkanku untuk tetap berdoa dan meyerahkan kekhawatiranku kepada-Nya. Maka, mari tetap berpengharapan dan menyandarkan kekuatan kita pada Allah, yang sudah menyiapkan rencana terbaik dalam hidup kita.

Untukmu yang juga sedang harap-harap cemas menanti kebijakan terkait tugas akhir, mari percaya bahwa Allah tetap bekerja. Bahwa di tengah kondisi yang terjadi, Allah tetap menjaga, dan itu membuat kita menikmati kedamaian dari-Nya. Lulus pada waktu-Nya juga adalah hal yang indah bukan?

Baca Juga:

Tuhan, Alasanku Bersukacita di Dalam Penderitaan

Habakuk dengan jujur dan berani bertanya kepada Tuhan mengapa ada jurang yang begitu lebar antara apa yang dia percayai dengan situasi yang ada di sekelilingnya. Mungkin kita pun punya pertanyaan yang sama seperti Habakuk. Apakah jawaban Tuhan terhadapnya?

Yuk baca artikel ini.

Dalam Kegagalanku, Rencana Tuhan Tidak Pernah Gagal

Oleh Dita Eka Octalina Napitupulu, Bekasi

Tahun 2012 merupakan tahun yang berat bagiku ketika aku dinyatakan tidak lulus di universitas negeri yang kuimpikan sejak masa SMA. Aku belum menyerah, kucoba mengikuti seleksi dari jalur lain, tapi hasilnya pun sama: gagal.

“Gagal”, kata ini hinggap di pikiranku hingga aku berpikir untuk tidak usah kuliah saja setelah SMA. Namun, keluarga dan orang-orang terdekatku tidak menyerah menyemangatiku. Aku ingat sahabatku berkata, “ke mana pun kita coba lari dari hadapan-Nya, Dia pasti akan menaruh kita di tempat yang memang sudah Dia pilih.”

Kalimat itu menegurku. Kucoba bangkit kembali dari kegagalan, merenungkan segala kebaikan Tuhan, dan bertekad untuk terus mengandalkan-Nya atas segala pencapaian dan upayaku meraih masa depan.

Ditempa di tempat lain

Singkat cerita, aku melanjutkan pendidikanku di perguruan tinggi swasta. Di luar dugaanku, IPK semester pertamaku hasilnya baik, tapi aku malah jadi angkuh dan berpuas diri. Akibatnya, semester dua sampai semester ke-empat, IPK-ku mengalami penurunan yang signifikan. Aku takut, tapi juga sadar bahwa Tuhan telah memberikanku hikmat, tetapi aku malah menyalahgunakannya. Alih-alih tekun belajar dan bersyukur, aku malah sombong dan tidak mengandalkan Tuhan. Setelah semester empat, aku memperbaiki diriku dengan tekun belajar dan bertekad untuk terus mengandalkan Tuhan.

Di semester lima, aku merasa kemampuan studiku cukup baik. Aku pun mendaftarkan diri untuk menjadi asisten lab. Aku cukup percaya diri bisa diterima, tapi di tahapan wawancara akhir aku malah gagal. Aku tidak mau menyerah. Lowongan asisten lab yang kedua dibuka dan aku pun mendaftar lagi. Aku berdoa, belajar lebih sungguh. Namun, setelah ujian tertulis dan wawancara yang dilakukan dalam satu hari bersamaan, aku harus menerima kenyataan kembali bahwa aku “Tidak Lulus”.

“Oh Tuhan,” sebutku dalam hati. Apalagi ini? Dalam hatiku timbul kekecewaan besar. “Kenapa Tuhan aku harus gagal lagi? Sekarang aku sudah di kampus swasta, lantas kenapa aku harus kecewa lagi?” Kenapa? Kenapa? Kenapa?”

Dalam kekecewaanku, aku merasakan suara dalam hatiku berbisik, “Apa yang sedang kamu cari, Nak? Bukankah Aku sudah cukup bagimu? Hanya tinggal kamu percaya saja dengan-Ku.” Aku terdiam.

Lowongan asisten lab dibuka untuk ketiga kalinya. Di kampusku ada berbagai divisi dan beragam mata kuliah, sehingga ada banyak lowongan asisten lab yang dibuka. Aku tidak berniat untuk mendaftar lagi, tapi orang terdekatku bilang, “Coba saja ikut, sekali lagi saja, biar tiga kali.”

Aku memutuskan untuk ikut seleksi kembali, tapi aku berdoa bukan supaya aku diterima, melainkan supaya kehendak Tuhan saja yang terjadi. Kumantapkan motivasiku, bahwasannya aku mengikuti seleksi ini karena aku ingin Tuhan dimuliakan lewat apa pun yang kukerjakan.

Tahap demi tahap kulakukan, hingga akhirnya aku tiba pada tahapan wawancara akhir. Ketika hasilnya diumumkan, aku lulus menjadi seorang aslab! Puji Tuhan! Air mataku menetes saat itu.

Peristiwa gagal dan diterimanya aku menjadi aslab mungkin hal yang biasa dalam dinamika perkuliahan, tetapi bagiku pengalaman itu menjadi suatu momen yang mempererat relasiku pada Tuhan. Bukan semata-mata karena aku diberi-Nya keberhasilan pada seleksi ketiga, melainkan karena Tuhan senantiasa menyertaiku baik kala aku senang maupun aku susah. Tuhan terus memampukanku menyelesaikan studiku hingga akhirnya aku dapat lulus dengan predikat cum laude pada tahun 2016 dengan tepat waktu. Semuanya terjadi atas perkenanan Tuhan.

Seringkali kita mungkin tidak mengerti akan apa yang Tuhan inginkan atas hidup kita, bagaimana rancangan-Nya, dan kegagalan apa yang kelak akan kita alami. Terlepas dari berbagai kekhawatiran, Tuhanlah yang memampukan kita dan Tuhan jugalah yang menjamin masa depan setiap kita. Kuncinya hanya satu: percaya dan selalu mengandalkan-Nya. Tuhan sanggup bekerja dengan luar biasa dalam hidup kita.

Baca Juga:

Tak Cuma Sungai, Hati Kita Pun Perlu Dinormalisasi

“Kita sering mendengar kata “hati” dalam khotbah-khotbah di mimbar gereja. Kita juga tak asing dengan pernyataan, “Tuhan Yesus ada di hatiku.” Saking seringnya kita mendengar kalimat itu, mungkin kita pun mengira bahwa di Alkitab ada banyak ayat yang berkata, “Tuhan Yesus ada di hatiku.”

Padahal, jika dicermati, hanya ada satu bagian dalam Alkitab yang secara khusus merujuk pada kalimat Yesus hidup dalam hati seseorang.”

Skripsi, Garis Akhir Perjuangan Kuliah yang Kulewati Bersama Tuhan

Oleh Yuanda Hemi, Tangerang

Aku adalah seorang mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi di Kota Tangerang. Sebelum berkuliah, aku menjadi atlet bulutangkis selama enam tahun sehingga aku masuk sekolah hanya untuk mengikuti ujian.

Perjalananku sebagai atlet bulutangkis tidak berhasil membuatku menjadi atlet papan atas sehingga aku pun memutuskan untuk kembali ke jalur akademik. Sayangnya, aku belum benar-benar mengenal potensi diriku di luar dunia bulutangkis. Hal ini membuatku memilih jurusan yang disarankan keluarga dengan pertimbangan prospek kerja yang menjanjikan di era digital, yaitu Sistem Informasi.

Sejujurnya, aku sendiri tidak tahu apa yang akan kupelajari di jurusan tersebut. Beberapa orang mengatakan bahwa keputusanku merupakan langkah yang berani. Tetapi apa boleh buat, jurusan Psikologi yang lebih menarik minatku tidak mendapatkan persetujuan orang tua.

Di masa awal perkuliahan, aku optimis bahwa aku akan bertahan dalam jurusan ini seiring berjalannya waktu. Aku berprinsip kuat untuk memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin, agar dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu. Dengan belajar sungguh-sungguh dan dengan bantuan dari teman-teman, aku mampu melewati semua mata kuliah yang ada hingga tiba waktunya bagiku untuk membuat skripsi.

Proses menentukan judul dan membuat proposal berlangsung sangat lancar. Perjuangan yang sebenarnya dimulai ketika aku mulai mengerjakan skripsi itu sendiri. Ada saat-saat di mana aku merasa yakin dapat menyelesaikan semuanya tepat pada waktunya, tetapi ada kalanya juga aku merasa tidak sanggup melewati rintangan-rintangan yang ada. Aku mengerjakan skripsiku setiap hari dan rutin mengikuti bimbingan di luar jam kelas delapan SKS mata kuliah yang mengulang. Karena stres berlebihan dan tidak nafsu makan, berat badanku turun sebanyak enam kilogram dalam dua minggu.

Di tengah-tengah masa sulit itu, aku menemukan vlog dari Acha Sinaga yang muncul di beranda YouTube. Acha dan Andy Ambarita, suaminya, mengajak kita untuk senantiasa mengandalkan Tuhan apapun yang terjadi. Menonton video tersebut membuatku merasa dikuatkan kembali.

Sampailah pada hari pra-sidang, aku menerima pengumuman yang tidak siap kudengar dari salah satu dosenku.

“Kalau saya boleh jujur, skripsimu tidak layak untuk maju sidang.”

Aku tertegun, terdiam, sedih, dan bingung. Apakah aku harus menunggu lagi? Ataukah lebih baik bagiku untuk tetap maju dan mencoba, tentunya dengan kemungkinan terburuk yaitu ‘dibantai’ saat sidang dan akhirnya gagal? Beberapa temanku menyarankanku untuk maju sidang, karena ada kemungkinan bahwa aku akan diuji oleh dosen lain. Hatiku bergejolak. Aku tidak siap menerima tekanan, apalagi menghadapi kegagalan.

Aku menceritakan semuanya kepada mamaku. Di tengah-tengah pergumulanku, aku membulatkan tekadku untuk tetap maju sidang.

“Ma, aku mau berjuang. Aku mau mencoba. Aku percaya aku pasti lulus kalau itu memang rencana Tuhan, dan tidak ada seorangpun yang bisa menggagalkan.”

“Percaya dan berdoa saja, Nak. Tugasmu adalah melakukan yang terbaik, biar Tuhan yang membantu dan melancarkan.”

Aku merevisi setiap bagian yang diminta oleh dosen pembimbingku serta melengkapi semua berkas yang diminta sehingga aku dapat mengumpulkan skripsiku tepat waktu. Dalam keadaan yang masih penuh tekanan, aku meminta Tuhan untuk menjauhkanku dari dosen-dosen killer yang menurutku dapat menghambat kelulusanku. Sekarang aku baru tersadar, seharusnya aku meminta kekuatan dan kesiapan dari Tuhan untuk menghadapi siapapun dosen pengujinya.

Puji Tuhan, aku dinyatakan layak sidang! Namun, saat sidang aku tidak dinyatakan lulus, tidak juga dinyatakan tidak lulus, dan tidak pula diminta untuk sidang ulang. Keputusannya menggantung, dan aku harus merevisi hampir satu buku. Inilah masa-masa terberat dalam perkuliahanku—bertahan saat aku merasa tidak sanggup lagi, nyaris menyerah namun tak ingin mengulang.

Yang membuat perjuanganku semakin berat adalah fokusku yang tidak terpusat pada skripsi. Aku harus membagi waktu antara menyelesaikan revisi, mencari tanda tangan dari dosen penguji, mengurus bisnis, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pertandingan bulutangkis yang diselenggarakan dua minggu setelah sidang. Aku bersyukur Tuhan memberikanku tanggal sidang lebih awal dari teman-temanku, sehingga aku banyak mendapatkan bantuan mereka baik dalam mengerjakan revisi maupun dalam hal mental support.

Setiap harinya, aku beroleh kekuatan dari Tuhan melalui doa. Aku percaya bahwa Tuhan punya rencana yang terbaik untukku. Tuhan sendiri yang akan menguatkanku dalam melewati semua proses kelulusanku, dan Ia juga yang akan menggerakkan hati para dosen penguji. Tiga belas hari kulalui dengan penuh tangis, dan Tuhan memberiku kejutan di hari ke-14: aku mendapatkan tanda tangan dari ketiga dosen pengujiku. Aku lulus!

Sungguh indah rancangan Tuhan dalam hidupku, dan tentunya dalam hidup teman-teman semua. Ya, aku sempat merasa takut dan tidak percaya diri ketika mendengar pernyataan dari dosenku. Tetapi, aku bersyukur Tuhan menyertaiku dalam melewati setiap proses penyusunan skripsi. Ketika keadaan di depanku terasa menakutkan, aku hanya bisa bersandar pada karakter Tuhan. Ia adalah Bapa yang baik, yang sudah merancangkan masa depanku dengan luar biasa, lebih daripada apa yang aku pikirkan. Dalam Pengkhotbah 3:11 dikatakan bahwa, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Aku percaya, Tuhan memakai proses yang kualami dalam sidang skripsi untuk menguatkan teman-teman yang mengalami pergumulan yang sama. Puji Tuhan, aku sudah diwisuda pada 20 Juni 2019 yang lalu. Semua karena kasih karunia Tuhan semata, dan biarlah semua kemuliaan hanya bagi-Nya!

Baca Juga:

Yesus Kristus dan Celana Kolor

“Judul ini mungkin terasa aneh. Rasanya kok tidak sopan. Sepertinya kurang elok kalau menyandangkan Yesus Kristus dengan celana kolor.

Tetapi judul ini bukannya tanpa alasan. Inilah ceritanya:”

Berhenti Memikirkan Hal-hal Negatif

Oleh Riley Sands
Artikel asli dalam bahasa Inggris: I Stopped Letting Negativity Rule My Thoughts

Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2 Korintus 10:5).

Semuanya dimulai dari ketika lamaran kerjaku ditolak untuk kedua kalinya.

Aku melamar di dua tempat—satu di penerbit buku dan satunya lagi di universitas tempatku belajar untuk gelar S-2ku. Karena sebelumnya aku pernah bekerja di perusahaan penerbitan, kupikir aku punya peluang lebih besar daripada pelamar lainnya. Tapi nyatanya, aku ditolak.

Di minggu-minggu selanjutnya, aku masih merasa tidak percaya. Tapi rasa kecewaku berkurang ketika aku mendengar kabar kalau aku diterima wawancara di tempat kedua. Jika aku lolos, nanti aku akan bekerja sebagai asisten penelitian di universitasku, dan aku sangat menginginkannya. Tapi, dua hari setelah wawancara, hasilnya aku tidak diterima juga

Setelah dua kali ditolak, aku merasa terguncang dan berusaha sekerasnya untuk menerima kenyataan ini. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Bagaimana ini bisa terjadi?” dan “Kenapa Tuhan tidak memberiku pekerjaan ini?” terus berputar-putar di pikiranku seperti kaset rusak. Malam itu, bukannya memikirkan tentang betapa baiknya Tuhan kepadaku selama ini (Ulangan 2:7), aku malah terus memikirkan penolakan kerjaku dan mulai meragukan kebaikan-Nya.

Pikiran negatifku akhirnya berubah menjadi suara yang tidak terhitung banyaknya, dan benakku dengan cepat dipenuhi dengan kalimat-kalimat yang menghakimi diriku sendiri.

“Kamu mengacaukan wawancaranya!”

“Kamu punya bertahun-tahun pengalaman bekerja dan masih tidak bisa mendapat pekerjaan yang baik!”

“Orang-orang akan melihat bahwa kamu adalah sebuah kegagalan.”

Dengan bercucuran air mata, aku berusaha untuk menyingkirkan semua pikiran itu. Tapi aku tidak berhasil. Malah, kalimat-kalimat itu terdengar makin kencang dan menusuk hatiku. Puncak dari semua pikiran buruk itu adalah pikiran buruk lainnya yang berkata: “Kamu tidak berguna” dan “Kamu tidak berhak mendapat kasih Tuhan”.

Aku tahu ada yang tidak beres dengan diriku sendiri. Ketakutan mulai menyelimutiku. Aku kemudian sadar, jika aku tetap membiarkan pikiran-pikiran buruk itu menghantuiku dan aku mengasihani diri sendiri secara berlebihan, itu adalah tindakan yang dapat membuatku semakin terpuruk.

Aku mengambil keputusan bahwa aku tidak akan mengasihani diriku sediri secara berlebihan.

Pikiran-pikiran negatif dalam diriku sebenarnya tidak lahir dalam semalam. Pikiran negatif itu tidak muncul hanya karena aku gagal mendapatkan pekerjaanya. Jika kuselidiki kembali perjalanan hidupku, aku mendapati pikiran-pikiran negatif itu berkembang dalam jangka waktu yang lama.

Ketika aku masih kecil, aku pernah menghadapi banyak penolakan dan kekecewaan, yang membuatku berpikir kalau diriku ini tidak cukup baik. Tahun demi tahun, aku pun menyadari bahwa semua pengalaman burukku ini memudahkan pikiranku untuk dipenuhi dengan pikiran negatif—dan itu membuatku sadar bahwa aku harus benar-benar berusaha untuk memikirkan hal-hal yang baik.

Roma 8:5 berkata, “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.” Aku sadar akan pikiranku yang berdosa, dan hal itu membuatku bertobat. Dengan kekuatan baru, aku melawan kata-kata buruk di pikiranku itu dan membaca Alkitab agar aku bisa mengisi pikiranku dengan janji-janji Tuhan.

Aku membaca janji ini: “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7), dan mengingatkan diriku bahwa lewat kekuatan dari Tuhan, aku bisa melawan pikiran-pikiran buruk.

Selain itu, surat dari Paulus kepada jemaat di Filipi juga menjadi senjata yang ampuh ketika aku mulai tergoda untuk berpikir hal-hal yang buruk.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”(Filipi 4:8).

Ketika aku menghidupi ayat-ayat ini dalam pikiranku, suara-suara negatif dalam pikiranku berhenti dan ada kedamaian Tuhan yang menyertaiku. Ketika aku bertekad menanggalkan pikiran burukku dan mulai memikirkan janji-Nya, aku membaharui kembali komitmenku untuk mengarahkan diriku tunduk pada Tuhan.

Meski demikian, itu tidak berarti kalau pikiran negatif tidak pernah lagi menghampiriku. Kadang, ketika aku berpikir tentang masa depanku, pikiran negatif ini datang menghampiri. Namun bedanya, sekarang aku tahu bagaimana untuk merespons pikiran buruk itu dengan lebih baik—aku menahan semua pikiran itu dan mengingatkanku sendiri akan kebenaran Tuhan. Memang tidak pernah mudah untuk melakukannya karena hal itu membutuhkan banyak kedisiplinan agar emosiku tidak menguasaiku.

Aku ingat bahwa kita sebagai orang Kristen “lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:37). Dan meskipun pikiran negatif dapat membuat kita berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan kita di masa-masa sulit, kebenarannya adalah Ia selalu ada bersama kita setiap saat (Yesaya 41:10). Beralih kepada Firman-Nya membantu untuk menenggelamkan suara-suara berisik di otak kita.

Hari ini, aku masih melamar untuk pekerjaan lain. Prosesnya lebih lama dari yang kukira, tapi aku telah menjadi lebih percaya diri dan memilih untuk tidak membiarkan pikiran negatif mengakar di pikiranku. Aku sekarang sedang belajar untuk merasa bahagia dalam prosesnya, karena aku tahu Tuhan tahu apa yang aku perlukan dalam perjalanan hidupku yang selanjutnya.

Baca Juga:

Jadilah Padaku Seperti yang Tuhan Ingini

Di balik kalimat dan lirik “Jadilah padaku seperti yang Kau ingini” itu, mengimaninya tak semudah mengucapkannya. Tidak mudah untuk meminta Tuhan melakukan apa yang jadi kehendak-Nya ketika aku sendiri punya kehendak yang ingin dipenuhi.

Jatuh Bangun Mencari Pekerjaan, Ada Rencana Tuhan Di Balik Setiap Kegagalan

Oleh Josua Martua Sitorus, Palembang

Siang itu, aku tengah menunggu giliran wawancara user di salah satu perusahaan ritel swasta terkemuka. Di saat yang sama jiwaku bergejolak karena sudah tidak sabar menunggu pengumuman akhir di sebuah perusahaan BUMN besar di negeri ini, untuk menempati posisi staf akuntansi dan keuangan. Aku sibuk mengecek kotak masuk emailku melalui HP sambil berdoa di dalam hati. Aku sangat berharap bisa masuk ke perusahaan itu, apalagi setelah melalui delapan tahap seleksi masuk yang cukup berat. Orang tuaku juga sangat mendukungku, bahkan memiliki firasat bahwa aku akan lolos ke perusahaan itu.

Sekitar pukul sebelas, email yang kutunggu-tunggu pun masuk. Jantungku berdegup kencang dan jari-jariku dengan segera membuka lampiran email yang tercantum. Aku melihat satu per satu nama yang berhak lolos untuk tanda tangan kontrak. Halaman demi halaman terlewati, tetapi aku tak kunjung menemukan namaku. Aku mulai gusar, lalu mencoba memeriksa kembali dari awal. Namun, hasilnya tetap sama. Namaku tidak tercantum dalam daftar tersebut.

Mataku sontak berair, tetapi berusaha kututupi karena malu dengan pelamar lain yang ada bersama denganku saat itu. Aku diam sejenak, pandanganku gelap seketika. Hatiku meronta-ronta, tidak percaya akan hasil yang baru saja kuterima. Serangkaian tahapan rekrutmen yang kulalui dengan usaha keras seakan terbuang sia-sia. Namun, di saat yang sama, aku teringat pada Tuhan dan kebaikan-Nya padaku dalam setiap langkah kecil di kehidupanku. Beberapa kali Tuhan tidak mengabulkan apa yang aku harapkan dalam pengalaman-pengalaman sebelumnya, tetapi Tuhan selalu memberi apa yang sesuai dengan porsiku. Aku merasakan Tuhan sedang memelukku saat itu dan berusaha menghilangkan kedukaanku. “God is good all the time, God is good all the time”, bisikku dalam hati.

Sepuluh menit kemudian, namaku dipanggil untuk masuk ke ruang wawancara. Aku sudah tidak fokus, langkahku sedikit goyah. Ingin rasanya aku pulang dan meninggalkan proses wawancara. Tetapi, hati kecilku bicara agar aku tetap maju karena sesungguhnya tidak ada usaha yang sia-sia. Aku melewati proses wawancara dengan tidak lupa untuk berdoa sebelumnya. Sepanjang perjalanan kembali ke koss, aku terus dihinggapi pikiran tentang kegagalan yang harus kuhadapi.

Di kamar, aku langsung berdoa pada Tuhan sambil menangis. Aku menceritakan seluruh isi hatiku pada-Nya dan berusaha meneguhkan hatiku bahwa kegagalanku untuk lolos ke perusahaan itu tidak luput dari rancangan Tuhan. Aku meminta Tuhan untuk memberikanku jalan yang terbaik dan menguatkanku agar tidak patah semangat. Setelah itu, aku langsung menelepon orang tuaku. Mereka memberiku semangat agar pantang menyerah dalam mencari pekerjaan. Puji Tuhan!

Aku bersyukur Tuhan langsung memulihkan semangatku. Malam itu juga, aku memberanikan diri untuk mendaftar ke beberapa perusahaan BUMN yang masih membuka kesempatan. Ada yang sudah mencapai hari terakhir pendaftaran, sehingga aku segera melengkapi seluruh berkas yang diminta.

“Ku tak akan menyerah
Pada apapun juga
Sebelum ku coba
Semua yang ku bisa
Tetapi kuberserah
Kepada kehendakMu
Hatiku percaya
Tuhan punya rencana”

Lagu Angel Pieters dan Jeffry S. Tjandra ini menjadi backsound-ku malam itu yang memberiku kekuatan untuk menantikan janji Tuhan yang sempurna.

Hari-hari selanjutnya kuhabiskan dengan melamar ke berbagai perusahaan serta mengikuti rangkaian demi rangkaian tahap rekrutmen. Puji Tuhan, hampir semua perusahaan yang kulamar memberikanku kesempatan untuk mengikuti proses rekrutmen. Tak kusangka, perusahaan BUMN yang kulamar tepat di hari terakhirnya juga memanggilku untuk tes di Jakarta. Aku menumpang di kos temanku selama proses rekrutmen.

Doa dan usaha mengiringi langkahku dalam melewati tahapan demi tahapan di perusahaan tersebut selama tujuh hari berturut-turut. Aku berhasil lolos hingga tahap ketujuh, dan pelamar-pelamar yang lolos sampai tahap ini akan dikabari dalam waktu satu minggu lolos atau tidaknya ke tahap akhir, yakni wawancara dengan direktur.

Sesuai waktu yang dijanjikan, aku mendapatkan telepon yang menyatakan bahwa aku lolos ke tahap akhir. Tuhan memberikanku kesempatan lagi. Peluang di depan mata tentu tidak akan kusia-siakan. Aku mempelajari mata kuliah akuntansi dengan lebih sungguh serta mempelajari sikap wawancara yang baik. Kucoba untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sebelumnya. Aku juga berdoa puasa dua hari sebelum tes dan meminta dukungan doa dari orang tua.

Ketika tiba saatnya untuk wawancara, aku berusaha sedapatnya untuk menjawab seluruh pertanyaan yang diberikan oleh Bapak Direktur di hadapanku. Setelah selesai, aku masih kurang puas karena ada pertanyaan yang tidak kujawab dengan tepat karena sesungguhnya aku tidak tahu jawabannya. Aku merasa terpuruk dan berpikir bahwa aku akan kembali gagal masuk ke perusahaan BUMN impianku.

Dalam perjalanan pulang ke Bandung, aku mendengarkan lagu-lagu rohani sembari terus berdoa dalam hati agar diberikan ketenangan dan damai sejahtera dari Tuhan. Aku sudah mengerahkan usaha yang terbaik dari diriku, aku hanya perlu percaya bahwa Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik, tidak pernah tidak.

Dua hari setelahnya, aku dinyatakan lolos menjadi pegawai di BUMN tersebut. Aku amat bersyukur kepada Tuhan! Aku sampai berteriak kegirangan dan langsung mengabari orang tuaku untuk menyampaikan kabar baik ini.

Tuhan memperhitungkan setiap perjuangan dan jerih lelah yang kulakukan dan menganugerahiku buah yang manis tepat satu bulan setelah kegagalan yang kualami. Aku mengucap syukur pada Tuhan atas kasih setia-Nya yang tak henti-hentinya dalam hidupku. Sejak saat itu, aku berjanji untuk menjadi pegawai yang berkinerja baik dan disiplin, serta senantiasa rindu untuk dipakai Tuhan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarku.

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” (Matius 7:7-11).

Baca Juga:

Keluargaku, Ladang Pelayananku

Memiliki kampung halaman yang jauh sering menggodaku untuk tidak pulang. “Kirimkan saja uang untuk orang tua di rumah, itu cukup,” begitu pikirku. Tapi, apakah itu sungguh-sungguh pelayanan yang bisa kuberikan buat keluargaku?

Sulit Membuat Keputusan? Libatkanlah Tuhan dalam Hidupmu

Oleh Airell Ivana, Bandung

Kelas 3 SMA—momen di mana keputusan tentang masa depan harus dibuat.

Aku bingung. Di jenjang ini, semua siswa harus menentukan, antara melanjutkan studi ke perguruan tinggi atau langsung bekerja. Aku ingin berkuliah. Namun, saat itu aku belum memiliki bayangan sama sekali tentang dunia perkuliahan, dan jurusan-jurusan apa saja yang bisa kutempuh hingga masing-masing prospek karirnya.

Orang tuaku menginginkanku untuk langsung bekerja saja karena alasan finansial—mereka tidak sanggup membiayaiku untuk berkuliah. Orang tuaku juga memintaku memeriksa motivasiku untuk berkuliah, apakah karena aku benar-benar ingin belajar atau hanya karena gengsi semata karena mayoritas teman-temanku melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Aku menuruti saran orang tuaku, aku pun berpikir ulang. Tapi, aku merasa dilema. Di satu sisi aku belum siap memasuki dunia kerja. Di sisi lain, aku takut untuk kuliah. Aku takut jika kuliahku nantinya menjadi zona nyamanku, karena aku hanya perlu belajar dan tidak perlu menghadapi tekanan-tekanan dalam dunia pekerjaan.

Di tengah-tengah kebimbangan, aku berdoa dan berserah kepada Tuhan. Aku membutuhkan hikmat Tuhan untuk menentukan pilihan yang tepat. Ia menjawab doaku lewat pameran pendidikan yang diadakan di sekolahku.

Salah satu universitas menarik perhatianku karena menawarkan jurusan yang kuminati, yaitu Teknik. Lebih menariknya lagi, universitas tersebut memiliki program 3 tahun untuk Strata 1—satu tahun lebih cepat dari S1 pada umumnya. “Kalau hanya 3 tahun, mungkin biayanya tidak akan terlalu membebani orang tua,” pikirku.

Aku kembali membawa pergumulanku dalam doa. Apakah ini benar-benar jawaban yang Tuhan tunjukkan padaku? Jika Tuhan memang mengizinkan, aku percaya Tuhan akan membukakan jalan bagiku.

Setelah aku berdiskusi dengan orang tuaku, puji Tuhan mereka mengizinkanku berkuliah di tempat yang kuinginkan. Mereka juga akan berusaha mencari penghasilan tambahan untuk membiayai kuliahku.

Dunia perkuliahan dimulai. Berbagai tantangan kuhadapi, salah satunya adalah mengatur waktu antara mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan melakukan tanggung jawabku sebagai ketua himpunan mahasiswa. Sempat terpikir untuk mundur dari jabatanku, tetapi aku bersyukur Tuhan memberiku kekuatan untuk menjalaninya sampai akhir.

Meskipun kuliah dengan jurusan pilihanku, aku ingin cepat-cepat lulus dan segera bekerja penuh waktu karena keterbatasan uang jajan yang diberikan oleh orang tuaku. Uang yang diberikan hanya cukup untuk makan dan membeli keperluan kuliah. Aku memperoleh uang tambahan dengan mengajar les privat dan menjadi asisten dosen. Kondisi finansial yang cukup menantang membuatku sempat sedikit menyesali keputusanku untuk tidak langsung bekerja. Namun, aku percaya Tuhan sendiri yang menuntunku ke jalan yang kutempuh saat itu (Ulangan 31:8). Aku berjalan dalam rencana-Nya dengan tuntunan-Nya.

Tidak pernah luput dari penyertaan Tuhan, aku berhasil menyelesaikan perkuliahan dalam 3 tahun—sesuai janjiku pada orangtuaku.

Saat ini aku sudah bekerja, dan aku masih seorang yang sulit membuat keputusan. Menyadari hal itu, aku selalu melibatkan Tuhan dalam setiap prosesnya. Tuhan mengingatkan kita akan janji-Nya dalam Yesaya 41:10, “Janganlah takut, sebab aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab aku ini Allahmu; aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”

Ketika kita bingung akan langkah yang harus kita ambil, izinkan Tuhan mengambil alih kemudi hidup kita. Ia akan mengantarkan kita pada rencana indah-Nya. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5-6).

Baca Juga:

Pergumulanku untuk Belajar Menyayangi Diriku Sendiri

“Tak kenal maka tak sayang”, ungkapan yang tak lagi asing di telinga kita. Jika dicermati, rasanya memang tidak mungkin menyayangi seseorang jika kita belum mengenalnya. Mengenal adalah langkah pertama untuk dapat menyayangi.

Meski Kuanggap Diriku Gagal, Tuhan Punya Alur Cerita yang Berbeda

Oleh Tri Nurdiyanso, Surabaya

Aku, salah satu siswa kelas 12 IPA di salah satu SMA Negeri di Jawa Tengah. Tahun 2010 merupakan tahun yang penting bagiku, itu tahun kelulusanku. Untuk merayakan kelulusan, teman-temanku melakukan konvoi dan corat-coret seragam. Tapi, berbeda dari teman-temanku, aku malah bingung dengan kelulusanku sendiri.

Aku tidak tahu apakah aku lulus atau tidak. Kalaupun lulus, orang tuaku pasti memarahiku kalau aku ikut-ikutan konvoi atau corat-coret seragam. Padahal dulu aku ingin sekali melakukan itu, ketika melihat kakakku terlihat asyik melakukan konvoi dan corat-coret seragam, bahkan rambutnya dibuat berwarna.

Pada hari pengumuman, aku tidak mengambil surat pengumuman kelulusan. Aku takut mengambil surat itu karena aku belum melunasi uang sekolah selama satu semester. Pekerjaan orang tuaku memang tidak bisa diharapkan untuk membiayai pendidikanku. Bapakku bekerja sebagai tukang becak dan ibuku sebagai penjual makanan keliling setiap sorenya. Kami bisa makan sehari-hari saja sudah untung.

Suatu siang, teman sekolahku, Made namanya, bertanya, “Kamu lulus nggak?”

“Tidak tahu.”

Kok nggak tahu?”

“Ya aku belum mengambil surat pengumumannya, karena bayaran sekolahku belum lunas.”

“Loh, buat ngambil surat itu, syaratnya nggak harus lunas SPPnya (uang sekolah).”

Aku cuma diam saja. Aku ragu apakah tahun ini aku lulus. Waktu ujian berlangsung, aku kesulitan mengerjakan mata pelajaran Biologi. Aku hanya bisa mengerjakan 5 dari 50 soal. Sisanya kukerjakan dengan ngawur. Aku bisa memastikan kalau aku tidak akan lulus di mata pelajaran ini.

Selain Made, ada teman gerejaku juga datang ke rumahku. Dia melontarkan pertanyaan yang sama, “Tri, gimana? Lulus?”

“Belum tahu.”

Loh kok belum tahu?”

Jawaban yang sama kusampaikan kepadanya. Masalah tunggakan biaya membuatku tidak berani ke sekolah untuk mengambil surat pengumuman kelulusan. Temanku lalu melontarkan ide untuk meminta bantuan gereja. Katanya di gereja kami ada alokasi anggaran untuk pendidikan. Kuiyakan ide itu dan kuhitung jumlah kekurangan biaya sekolahku satu semester itu, jumlahnya kira-kira ada enam ratus ribu.

Keesokan harinya, beberapa majelis gereja datang ke rumahku. Mereka bertemu dengan ibuku, lalu pergi ke sekolah. Bukannya senang, aku mlaah takut bukan kepalang. Aku merasa pasti tidak lulus karena nilai Biologiku yang jeblok. Jam satu siang, ibuku pulang dari sekolah dan menyerahkan surat pengumuman.

LULUS!

Ya, aku lulus, meskipun nilai Biologiku cuma 5,25.

Tuhan mengarang alur cerita yang indah

Setelah lulus, masalah selanjutnya yang kuhadapi adalah apakah aku harus lanjut kuliah jika kutahu kemampuan finansial keluargaku lemah? Tanpa diketahui orang tuaku, aku mendaftar ujian masuk tertulis ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN), dulu namanya SNMPTN. Aku hanya memilih satu jurusan: Pendidikan Matematika. Meskipun sebenarnya aku ingin kuliah di MIPA Matematika agar nanti ketika lulus bisa menjadi seorang matematikawan, tetapi setelah diskusi dengan guru Matematikaku, aku memilih pendidikan Matematika yang setelah lulus nanti aku bisa jadi guru. Aku tak punya bayangan yang jelas untuk tujuan belajarku ini. Tekad adalah salah satu modalku saat itu. Keyakinanku bahwa otak adalah modal belajar.

Pada waktu ujian tulis selama tiga hari, aku mengerjakannya semaksimal mungkin. Tapi, hasilnya tidak lolos. Kecewa dan malu. Ingin menangis, tapi sungkan. Bahkan kadang pikiranku meragukan keberadaan Tuhan, Kenapa Tuhan diam saja dan membiarkanku gagal seperti ini? Apa kata orang kalau melihatku menganggur, atau tidak lanjut kuliah? Kata orang aku pintar, tapi malah gagal masuk PTN? Sebaliknya, temanku yang dianggap kurang pintar dan kuajari tiap malam untuk persiapan ujian, malah lolos. Sungguh mengecewakan dan tidak adil.

Setelah pengumuman itu, kakak rohaniku meneleponku. “Tri, bagaimana? Kamu lolos tidak?”

“Tidak, kak.”

“Lalu, apa rencanamu?”

“Nunggu SPMBTN tahun depan kak.”

“Kalau gagal lagi?”

“Ya nunggu tahun depannya lagi.”

Jawaban itu kuucapkan spontan, tanpa berpikir lebih dulu. Perasaan gagal masih menyelimuti pikiranku. Jarang sekali aku gagal soal akademik, tetapi kali ini aku gagal. Aku merasa malu dan juga bingung apa yang harus kukerjakan selama setahun ke depan.

Tiga hari kemudian, tetanggaku tiba-tiba mendatangiku dan menawariku pekerjaan sebagai penjaga warnet. Pekerjaan ini dikelola oleh menantunya. Aku diminta menjaga warnet sekitar jam 4 sore sampai 12 malam. Tapi, tak cuma itu. Teman-temanku menawariku pekerjaan sebagai tutor atau guru les buat adik mereka yang masih SMA. Aku merasa aneh, mengapa mereka mempercayaiku untuk mengajari adik mereka? Padahal statusku kan hanya lulusan SMA. Selama setahun, aku mengerjakan dua pekerjaan ini.

Tak jarang ada orang tua murid lesku yang bertanya, “Mas, kuliah di mana?”

“Saya tidak kuliah.”

“Kenapa tidak kuliah, Mas?”

“Karena gagal ujian masuk kemarin, Bu.”

Ibu itu lalu terdiam. Mungkin ia kecewa karena jawabanku. Mungkin juga ia takut kalau anaknya diajari oleh seorang yang gagal. Pikiranku diselimuti oleh jawaban ‘mungkin’. Tapi jika terlalu lama berpikir mengenai ini juga, aku hanya akan berjalan di tempat. Lambat laun, keraguanku akan keberadaan Tuhan mulai terkikis, karena pekerjaan demi pekerjaan mulai bertambah di tahun 2011. Aku sadar bahwa aku salah menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada hanya karena aku gagal masuk PTN. Meski Tuhan mungkin terlihat diam bagiku, namun Dia sedang mengerjakan sesuatu untukku.

Jika aku melihat ke belakang, kurasa aku adalah orang yang terlena dengan kepandaian hingga aku melihat semuanya bisa kuatasi sendiri. Namun nyatanya, aku kecewa dan malu ketika gagal. Orang selalu memujiku sebagai anak pandai, tetapi kegagalan menghinaku sebagai anak bodoh. Tapi, melalui keadaan ini, Tuhan menerima “anak bodoh” ini untuk belajar di luar sekolah.

Alur cerita yang Tuhan sediakan berbeda dengan apa yang kurencanakan. Apakah aku harus marah kepada-Nya jika pendapatku berbeda dengan-Nya? Kupikir tidak, karena yang aku ketahui hanyalah keinginanku saja, tetapi Tuhan jauh lebih mengetahui melampaui sekadar keinginanku. Tuhan tahu apa yang kubutuhkan. Tuhan tahu bahwa aku butuh uang untuk kuliah, maka Dia memberiku kesempatan untuk bekerja terlebih dulu untuk mengumpulkan uang itu. Hingga akhirnya di tahun 2011, Tuhan mengizinkanku lolos di SBMPTN 2011 dengan jurusan Pendidikan Ekonomi.

“Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana” (Amsal 19:21).

Baca Juga:

Belajar Menerima Hal Buruk, Sebagaimana Aku Menerima Hal Baik dari Tuhan

Kobaran api menghanguskan rumahku. Segala harta benda hilang dalam sekejap. Hari-hari setelahnya jadi momen terendah dalam hidupku. Namun, dari musibah inilah aku belajar tentang kebaikan Tuhan dan penyertaan-Nya yang sempurna.

Segala Sesuatu Ada Masanya, Gagal Hari Ini Bukan Berarti Gagal Seterusnya

Oleh Pebri Sitorus, Bogor

Aku lahir di keluarga yang menuntutku untuk memperoleh nilai akademis yang tinggi. Sejak kecil aku selalu berusaha mempertahankan nilai-nilaiku dengan baik. Semua berjalan lancar, hingga tibalah waktu untukku melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Orang tuaku menginginkanku untuk masuk ke SMA Negeri, agar nantinya aku punya kesempatan lebih besar untuk masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Selain biaya kuliah yang lebih murah, menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka melihat anaknya menjadi mahasiswa di PTN.

Namun, harapan tidak sejalan dengan kenyataan. Aku gagal masuk SMA Negeri.

Aku sedih dan kecewa, terlebih lagi orang tuaku. Pilihan kedua saat itu adalah mendaftar ke SMA swasta Kristen, tetapi pendaftaran sudah tertutup. Pilihan akhirnya adalah masuk ke SMA swasta umum. Tidak pernah terpikir sebelumnya olehku untuk mendaftar ke SMA itu. “Daripada tidak sekolah”, pikirku. Singkat cerita, aku pun masuk ke sekolah tersebut.

Aku menjalani masa SMA selayaknya murid biasa yang menaati peraturan-peraturan sekolah. Aku bukan si kutu buku, tapi bukan juga seorang yang malas. Kata orang-orang, masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan. Tetapi, aku tidak merasakan itu—aku malah ingin segera melewatinya.

Tahun terakhir pun datang. Murid kelas 12 mulai sibuk dengan ujian-ujian kelulusan yang akan dihadapi, begitu juga dengan rencana kuliah. Aku dan orangtuaku masih berharap untuk bisa berkuliah di PTN, sehingga mereka menawariku untuk mengikuti les persiapan ujian masuk PTN. Namun, aku menolak. Bukan karena aku merasa bisa, tetapi aku punya pertimbangan lain. Bagaimana jika aku sudah mengeluarkan uang yang besar untuk ikut les, tetapi aku tetap tidak berhasil masuk ke PTN? Mengikuti les tidak menjamin seseorang untuk lolos ke PTN, bukan? Aku pun memutuskan untuk mempersiapkan diri tanpa mengikuti les.

Kegagalan kedua

Aku mengikuti seleksi SNMPTN (Seleksi Nilai Masuk Perguruan Tinggi Negeri), alias jalur rapor (tanpa tes). Puji Tuhan, aku memenuhi syarat untuk mendaftar. Namun, aku lagi-lagi gagal. Sudah pasti aku sedih, tetapi aku tidak mau terlalu lama meratap. Masih banyak jalur lain yang bisa kutempuh, salah satunya jalur SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) atau jalur tes.

Aku pun mengikuti tes SBMPTN dan rentang waktu menuju pengumuman cukup lama. Selama menunggu pengumuman hasil tes SBMPTN, aku mengikuti jalur mandiri di 4 PTN. Aku cukup deg-degan sembari terus berdoa kepada Tuhan agar dapat diterima di salah satu perguruan tinggi yang aku daftarkan.

Saat membuka pengumuman hasil tes, aku tidak diterima di satu universitas pun. Sedih, kecewa, dan marah bercampur aduk. Dalam kondisi seperti itu, orang tuaku mulai membandingkanku dengan orang lain yang berhasil lolos ke PTN.

“Si A masuk PTN itu. Si B masuk PTN itu. Kenapa kamu gak bisa kayak mereka?”

Aku paham bahwa mereka juga sedih dan kecewa. Mereka banting tulang untukku, tetapi aku tidak berhasil membanggakan mereka. Namun, membandingkanku dengan anak-anak lain hanya membuatku semakin jatuh. Belum lagi, orang tuaku juga melihat kesibukanku pelayanan di gereja sebagai salah satu faktor yang membuatku kurang fokus belajar.

Aku mengungkapkan kesedihanku pada Tuhan. “Kenapa Tuhan? Kenapa aku gagal? Aku lelah dibanding-bandingkan dengan orang lain.”

Gagal bukan berarti akhir

Dengan berat hati, aku pun mendaftarkan diri ke universitas swasta. Aku sudah menyerahkan berkas-berkas yang diminta dan hendak melakukan pembayaran uang kuliah.

Suatu hari, aku membuka kembali pengumuman salah satu PTN yang aku daftarkan waktu itu. Ternyata, mereka sedang membuka pendaftaran untuk jalur D3. Aku diam-diam mendaftar, dengan pikiran hanya untuk coba-coba. Aku juga tidak berharap banyak.

Tiba-tiba, aku menerima pengumuman bahwa aku diterima. Aku sangat kaget. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara menyampaikan hal ini kepada orang tuaku.

Orang pertama yang kuberitahu adalah kakakku. Ia menyarankanku untuk mengikuti kata hatiku. Aku pun menyampaikan hal ini kepada orang tuaku dan yakin bahwa mereka akan menyetujui keputusanku. Nyatanya, mereka tidak memberi dukungan karena jurusan yang kupilih—Keperawatan. Mereka lebih memilih aku untuk masuk ke universitas swasta dan mengambil jurusan Teknik Industri. Mereka menganggap bekerja sebagai perawat tidak akan senyaman kerja di kantor, seperti lulusan teknik. Mendengar jawaban mereka yang tidak sesuai ekspektasi, aku kembali bersedih. Aku pun berdoa kepada Tuhan, “Tuhan aku merasa Tuhan yang tunjukkan jalan ini untukku. Jika ini memang rencana-Mu, biarlah terjadi. Bimbing aku terus sampai akhir, ya Bapa.”

Setelah dibantu oleh kakakku untuk meyakinkan kedua orang tua tentang jurusan Keperawatan, puji Tuhan aku diperbolehkan untuk masuk D3 jurusan tersebut dengan satu syarat: aku tidak boleh mengeluh. Aku harus bertanggung jawab atas semua resiko dari hasil keputusanku sendiri.

Memasuki dunia perkuliahan, aku mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Aku sempat merasa minder karena merasa sama sekali tidak mengerti dunia keperawatan, ketika teman-teman lainnya adalah lulusan SMK dari jurusan yang sama. Di tengah-tengah ketidaksanggupan itu, aku meminta kekuatan dari Tuhan. Aku percaya, ketika Tuhan sudah membukakan jalan, Tuhan juga yang akan menyertaiku sampai garis akhir.

Perjalanan kuliahku tidak semudah yang kupikirkan. Aku harus berjuang menyesuaikan diri dengan berbagai metode pembelajaran dan tugas-tugas yang ada, menjalani lika-liku pertemanan, serta sering kelelahan karena harus pulang pergi dari rumah dan kampusku yang jauh setiap harinya. Tetapi aku tidak mau cepat mengeluh, apalagi menyerah begitu saja. Aku sudah berkomitmen kepada Tuhan dan orang tuaku sejak awal. Aku mau menyerahkan segala kekuatiran dan keluh kesahku kepada Tuhan. Aku dikuatkan oleh firman-Nya dalam Matius 11:28 “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Kiranya pengalamanku juga bisa membantu teman-teman yang pernah ataupun sedang mengalami pergumulan yang sama. Aku bisa melewati ini semua hanya karena kebaikan Tuhan semata. Setiap kali aku terpuruk dan merasa kesulitan, Tuhan selalu punya cara untuk membuatku bangkit kembali.

Aku percaya, kesuksesan tidak datang dengan mudah. Pengkhotbah 3:11 menuliskan “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya”. Jangan pernah menyerah, libatkan Tuhan dalam perjalanan hidup kita—suka maupun duka. Mari tumbuh bersama di dalam Tuhan! Tuhan Yesus memberkati kita.

Baca Juga:

Kepada Temanku yang Berpikir untuk Menyerah

Temanku, aku terkejut dan tak menyangka ketika kamu berkata bahwa kamu ingin “menyerah”. Tapi, temanku, meskipun hari ini mungkin kamu mengeraskan hatimu, ada satu hal yang aku ingin kamu tahu.