Posts

Berhasil atau Gagal, Ingatlah Bahwa Tuhanlah yang Menulis Cerita Hidupmu

Oleh Aryanto Wijaya

Kemarin (14/6), ungkapan bahagia muncul di beberapa Instagram story teman-temanku. Mereka lolos seleksi masuk perguruan tinggi. Tak ketinggalan, sekolah yang menjadi almamaterku juga membuat postingan yang berisi ucapan selamat atas siswa-siswinya yang berhasil menembus seleksi akbar tersebut.

Tatkala teman-teman yang berhasil menumpahkan haru bahagianya, ada pula teman-teman yang gagal dalam seleksi tersebut. Beberapa sanggup berlapang dada, tapi beberapa lainnya kecewa dan memilih untuk menyembunyikan diri untuk sejenak.

Euforia yang bercampur aduk dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri—was-was, takut, kecewa, senang, atau sedih—juga pernah kualami ketika aku jadi siswa SMA. Aku yang belajar di sekolah swasta pernah punya semangat membara untuk masuk ke perguruan tinggi negeri favorit. Semangat itu mewujud dalam upaya belajar pantang lelah, ikut bimbel yang konon katanya menambah peluang bisa diterima, dan lain-lainnya. Tapi, jalan hidupku pada akhirnya tidak mengantarku studi ke kampus negeri yang kudambakan. Aku kuliah di kampus swasta dan bekerja pula di sektor swasta sampai detik ini.

Namun, hal yang menarik dari impian yang gagal terwujud itu ialah, jalan hidup kita terlalu panjang untuk didefinisikan hanya oleh satu pertandingan. Bayangkanlah kamu diberi Tuhan usia selama 70 tahun. Apakah perjalanan hidup di seluruh usia tersebut suram hanya karena kegagalan di satu babak pada usia 18 tahun? Jika 70 dikurangi 18, maka ada sisa waktu sepanjang 52 tahun, waktu yang panjang untuk kita isi dengan banyak hal yang berarti.

Ada satu kisah menarik dari Alkitab yang pesannya tetap bergema dan relevan bagi kita di masa kini, meskipun memang kisah ini tidak bicara spesifik tentang gagal ujian masuk kuliah karena toh pada zaman Alkitab belum ada institusi perguruan tinggi.

Kita ingat dengan kisah Yusuf yang hidupnya dipenuhi kemalangan karena rasa iri hati saudara-saudaranya. Yusuf dilemparkan ke dalam sumur dan dijual kepada orang Mesir. Seorang anak yang paling disayang oleh ayahnya dipisahkan secara paksa. Jika kita membayangkan ada di posisi Yusuf, sangatlah pedih tentu hati ini. Bertahun-tahun setelah terusir dari keluarganya sendiri, Yusuf bekerja di rumah Potifar lalu dijebloskan ke penjara karena menolak ajakan bersetubuh dari istri sang tuan rumah. Dari kacamata manusia, kita melihat ini sebagai kemalangan yang bertubi-tubi bagi Yusuf.

Namun, ada hal yang menarik yang bisa kita cermati. Kejadian 39:21 menulis demikian:

“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya…”

Kalimat “Tuhan menyertai” ini muncul di tengah kemalangan berat yang Yusuf hadapi. Tak hanya tertulis satu kali, pada ayat-ayat lainnya (Kej 39 ayat 2, 21, 23) juga tertulis demikian.

Hidup di dunia ini menawarkan kejutan demi kejutan, termasuk kegagalan, jadi anggaplah sebagai keindahan hidup yang harus kita nikmati ketika kita menghadapi kegagalan. Dengan begitu hidup menjadi tidak membosankan, kita tidak harus seperti robot yang harus selalu sesuai dengan rencana yang ditetapkan.

Bukankah hanya orang mati yang tidak akan pernah gagal? Karena ia tidak mencoba untuk melakukan apapun dan tidak menjadi apapun. Jadi kalau kita berkeinginan untuk tidak pernah gagal, kita sama saja dengan orang mati. Oleh karena itu, kegagalan yang kita alami hari ini sesederhana menunjukkan bahwa kita sedang berproses dalam hidup.

Ketika kegagalan menghadang, kita mungkin berpikir bahwa itu dihadirkan Allah sebagai hukuman atas perbuatan kita. Tetapi, bukan soal hukuman atau tidak yang seharusnya kita pusingkan, karena kita tahu bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8), dan segala sesuatu diizinkan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (Roma 8:28).

Tidak masalah apabila ada di antara kita yang ingin meluangkan waktu-waktunya sejenak untuk meratap dan kecewa atas kegagalan masuk di perguruan tinggi negeri, tetapi kembalilah tenang dan ingat bahwa dalam gagal atau berhasil, Tuhanlah yang menulis cerita hidup kita.

Gagal dalam masuk perguruan tinggi tidak mutlak karena kita kurang berusaha atau bodoh, karena perguruan tinggi negeri diminati oleh ratusan ribu hingga jutaan siswa, sedangkan kuota yang tersedia tidak sepadan dengan tingginya peminat. Alhasil, tentu ada orang-orang yang harus tersingkir dari kompetisi ini.

Janganlah kiranya kamu berkecil hati dan padam semangatmu. Kegagalan adalah bagian yang tak terelakkan dalam kehidupan. Cepat atau lambat, sengaja atau tidak, hidup akan mengantar kita untuk menjumpai kegagalan dalam aneka bentuk yang lain. Tetapi, sekali lagi, ingatlah bahwa dalam berhasil atau gagal, Tuhanlah yang menulis cerita hidup kita.

Teruntuk teman-teman yang gagal, damai dan ketenangan dari Tuhan kiranya mendekapmu dengan hangat agar esok kamu bisa bangkit kembali dan menikmati perjalananmu bersama Tuhan, sang penulis hidup.

Baca Juga:

Lebar atau Sempit: Mana yang Kau Pilih?

Jalan lebar dan sempit sering dianalogikan sebagai dua sikap dalam mengikut Yesus. Ketika kita harus memilih salah satu dari dua jalan ini, apa sih yang seharusnya kita ketahui dari keduanya?

2 Cara untuk Berhenti Membanding-bandingkan Diri Sendiri

Oleh Sherrill Wesley
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How To Avoid The Comparison Game

Pernahkah kamu terjebak dalam perangkap suka membanding-bandingkan? Aku pernah, bahkan sering.

Seiring aku tumbuh dewasa, aku sering dibandingkan dengan saudari kembarku. Meski kami tidak kembar identik, tapi penampilan, karakter, talenta, dan jalan hidup yang kami pilih sering menjadi bahan perbandingan bagi orang lain. Pertanyaan yang diajukan buatku biasanya diakhiri dengan, “Terus, saudari kembarmu gimana?”

Mungkin kamu merasa tidak ada salahnya dong orang kembar itu dibanding-bandingkan? Untungnya, komentar ini dilontarkan oleh teman dan kerabatku yang baik yang memang tidak memengaruhiku secara negatif. Oleh anugerah Allah dan karena kedekatanku dengan saudariku, mereka mengajariku untuk mengenali sifat dan bakat positif saudariku sendiri, juga untuk menyemangatinya.

Tapi beberapa tahun lalu, aku dibanding-bandingkan pada hal lain yang tidak memberiku pengaruh positif. Aku sudah lulus kuliah tapi aku belum mendapat pekerjaan, jauh dari target yang kuatur untuk diriku sendiri. Seiring kekhawatiranku akan masa depan bertambah, aku mulai membandingkan situasiku dengan teman-teman sebayaku. Kapan Tuhan menjawab doaku untukku mendapat kerja dan mampu mengurangi kekecewaan dalam diriku sendiri?

Saat aku menanti jawaban Tuhan, aku merenungkan bacaan dari Yohanes 21:15-25. Setelah Yesus menubuatkan cara kematian Petrus dan memintanya untuk mengikut Dia, Petrus menyadari ada satu murid lain, Yohanes, yang sedang berjalan di belakang mereka. Petrus lantas bertanya pada Yesus, “Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?” (ayat 21). Jawaban Yesus mengejutkanku, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.” (ayat 22)

Itu bukan urusanmu.

Ouch….

Aku merasa Yesus mengatakan itu buatku sebagai jawaban atas perbandingan yang menjadi pergumulanku. Dan aku tidak tahu menjawab apa. Perkataan itu tidak terduga, tapi menunjukkan kasih yang kuat dari Bapa. Yesus tahu inilah saatku untuk menjinakkan pikiranku sendiri dan berhenti berkubang mengasihani diri.

Terdengar kasar, tapi Yesus ingin Petrus melihat bahwa apa yang kelak terjadi pada Yohanes tidak relevan dengan panggilan Petrus. Dalam pikiranku, aku merasa Tuhan bertanya, “Sherril, kamu harus fokus memenuhi tujuanmu dengan mengarahkan pandanganmu kepada-Ku. Apa urusannya buatmu tentang orang-orang lain yang memenuhi panggilan hidup mereka?”

1. Stop berpikir bahwa Allah pilih kasih

Saat aku memikirkan kata-kata di atas, aku pelan-pelan sadar kalau rasa tidak puasku datang dari kepercayaanku yang salah, bahwa Tuhan lebih mengasihi orang lain daripada aku. Aku rasa kasih dan berkat yang Tuhan berikan itu ada jatahnya. Dan, karena Tuhan menolong orang lain menghidupi panggilan hidup mereka, Dia mungkin tidak punya waktu untuk menolongku. Rasanya lucu bagaimana pikiranku salah menafsirkan keadaanku dan malah membuatku percaya pemahaman-pemahaman tidak berdasar yang jelas-jelas bukan dari Tuhan.

Kenyataannya, kapasitas Allah untuk memberkati anak-anak-Nya itu tidak terbatas. Roma 2:11 mengatakan Allah tidak pilih kasih. Allah punya kasih dan perhatian yang cukup untuk diberikan kepada semua anak-Nya. Tak peduli seberapa kuat aku mencoba, aku takkan pernah bisa memahami betapa luas, lebar, panjang, dan dalam-Nya kasih Allah buatku (Efesus 3:18).

Ketika aku memandang pada apa yang temanku punya dan apa yang tidak kupunya, aku gagal melihat bagaimana Allah mencurahkan kasih-Nya buatku. Ketika aku menyamakan panggilan hidupku dengan pekerjaan yang sempurna yang sesuai dengan mauku, aku membatasi tujuan Tuhan dengan keinginanku sendiri. Aku menjadi buta akan cara Yesus membentuk tujuan mulia-Nya dalam hidupku.

Aku belajar untuk menata langkahku dan menghidupi hari-hariku. Di beberapa hari aku fokus menyiapkan pelajaran sekolah minggu di gerejaku. Di hari-hari lain, aku menolong pekerjaan orang tuaku, atau meluangkan waktuku dengan duduk di kaki Yesus dan mendapat penguatan dari firman-Nya seiring aku bergumul dengan banyak penolakan kerja.

Kulakukan tanggung jawab yang Tuhan beri dengan sungguh-sungguh dan jujur, meskipun itu berbeda dari teman-temanku. Memang terasa sakit ketika rencana kita tidak berjalan, tetapi Allah tetap memegangku, dan aku memilih untuk tetap percaya kepada-Nya.

2. Buang jauh-jauh “seandainya saja..”

Di hari-hari ketika segalanya terasa sulit, aku merenung dan menyelidiki keputusan-keputusan yang kuambil di masa lalu. Seandainya….seandainya dulu aku nggak begitu.

Keraguan dan segudang pertanyaan mendadak muncul ketika aku melamun tentang “seandainya saja”. Ketika mataku berfokus pada apa yang aku tidak punya dan ‘seandainya’, aku dengan cepat bisa terjerumus dalam kepahitan dan frustrasi. Namun, ada satu himne yang judulnya “Pandanglah pada Yesus” mengingatkanku untuk tidak terpana pada dunia ini.

Turn your eyes upon Jesus
Look full in His wonderful face
And the things of earth will grow strangely dim
In the light of His glory and grace

Pandanglah pada Yesus
Pandang wajah-Nya mulia
Isi dunia menjadi redup
Di dalam terang kemuliaan-Nya
(diterjemahkan secara bebas)

Semakin aku memandang pada Yesus, hikmat dan kebijaksanaan-Nya menggiringku untuk melihat apa yang benar-benar penting. Kepercayaan diri kita tidak datang dari pencapaian diri atau pengakuan orang lain, karena akan selalu ada orang yang tampak lebih baik dari kita. Kepercayaan diri kita datang dari mengetahui Siapa yang memegang kendali dan Siapa yang memiliki kita.

Allah tidak pernah berubah. Kebaikan-Nya bagi kita selalu tetap. Inilah kebenaran yang memberi kita sukacita dan kedamaian yang tidak dipengaruhi oleh keadaan, dan membebaskan kita dari tekanan untuk selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Tidak peduli di tahapan manakah hidup kita berada sekarang, akan selalu ada keadaan yang mengaburkan fokus kita—tapi aku telah belajar untuk menetapkan pandanganku pada Allah, penulis dan penyempurna imanku (Ibrani 12:2). Kebenaran inilah yang menolongku untuk tetap berjalan pada jalurku, mengingat betapa dalamnya kasih Allah buatku, dan menjauhkanku dari rasa iri, kepahitan, marah, dan mengasihani diriku sendiri.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

3 Cara Tetap Setia Ketika Hidup Terasa Jalan di Tempat

Memilih setia ketika Allah seolah membiarkan hidup kita tidak berprogress bukanlah perkara yang mudah. Tetapi, dengan tetap bersama Allah, itu adalah pilihan terbaik yang bisa kita ambil.

Kemarin Aku Gagal, Hari Ini Aku Memilih Mengucap Syukur

Oleh Novita Melianti Manurung, Bangka Belitung

Sore itu aku duduk di teras rumah sambil memandang air hujan yang membasahi tanah dan hampir menggenangi seluruh halaman rumah. Aku suka dengan hujan, tetesan airnya mengingatkanku akan Tuhan—sang pencipta hujan itu sendiri—serta bagaimana berkat-Nya melimpah bagiku. Hari belum terlalu sore sebenarnya, tapi karena hujan yang amat lebat dan pekatnya awan, membuat hari seolah sudah malam.

Hari itu pula, sudah enam minggu lamanya aku di rumah saja. Hari-hariku membosankan. Tak banyak kegiatan kulakukan. Dalam lamunanku sore itu, aku ingat pada kegagalan beberapa bulan lalu. Memori akan kegagalan itu membuat bibirku mengucap syukur. Aku tahu tak ada satu pun yang terjadi secara kebetulan. Tuhan merencanakan semuanya dengan baik.

Tahun lalu, setelah aku lulus dari jurusan Tata Boga di salah satu universitas negeri di Medan, aku dan teman-teman Kelompok Tumbuh Bersama-ku (KTB) merintis usaha kuliner kecil-kecilan di Pulau Samosir, namun usaha kami cuma bertahan beberapa bulan saja. Awalnya kami menikmati prosesnya, tapi seiring waktu, pendapatan kami semakin menurun hingga kami pun kesulitan keuangan. Saat itu aku juga mengalami sakit yang sejak awal tahun 2019 semakin terasa. Aku sudah tiga kali ke klinik sebelum kami membuka usaha kuliner itu, namun belum ada kepastian mengenai penyakit apa yang sebenarnya aku derita.

Kami mencoba banyak cara supaya bisnis kami bisa bertahan karena modal besar sudah kami keluarkan. Kami coba buat menu baru yang menarik, lalu mempromosikannya ke orang-orang yang kami jumpai. Tapi, usaha itu tidak membuahkan hasil. Tabungan kami semakin menipis dan teman-temanku mulai pesimis untuk melanjutkan usaha ini. Ditambah lagi terjadi selisih paham dengan pemilik tempat yang kami sewa.

Mendengar kisah usahaku yang tak berhasil, orang tuaku menyuruhku untuk pulang saja ke kampung halaman supaya aku sekalian bisa berobat. Empat minggu kami bergumul, akhirnya aku dan teman-temanku sepakat menyudahi bisnis ini. Kami pulang ke Medan lalu berencana merintis usaha daring saja.

Tapi, lagi-lagi yang sudah kami rencanakan ternyata tak sesuai kenyataan. Usaha daring kami kembali terkendala saat kami mendaftarkan menu-menu.

“Sudah bagaimana prosesnya?” pertanyaan ini sering diajukan orang tua kami, tapi kami bingung mau menjawab apa. Berhari-hari kami menanti kepastian, tapi tak jelas pula.

Setiap hari di dalam doaku, aku bertanya apa sebenarnya yang Tuhan ingin kulakukan untuk aku kerjakan? Apa maksud dari semua ini? Jika dituliskan, ada banyak pertanyaanku kala itu. Namun aku tergerak untuk berdoa dan membaca Alkitab. Kutemukan satu ayat dari Amsal 23:18, “Karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang.”

Ketika memutuskan pulang kampung dan menceritakan kegagalan ini ke orang tua, rasanya aku tak siap. Tapi, kuingat bahwa di balik kegagalan itu, Tuhan tetap memeliharaku. Kebutuhanku dicukupkan-Nya. Orang tuaku pun ternyata tidak marah, mereka malah memotivasiku. Masa-masa aku berdiam di kampung dipakai-Nya menjadi kesempatan untukku berobat. Puji Tuhan sekarang kesehatanku sudah mulai pulih.

Karena kesehatanku mulai membaik, aku pergi ke rumah kakak pertamaku di Bangka Belitung. Seminggu setelah aku tiba di sini, pandemi virus corona dinyatakan telah masuk ke Indonesia.

Memang sampai saat ini aku belum mendapatkan pekerjaan atau merintis usaha baru lagi. Namun aku bersyukur karena masa-masa ini bisa kugunakan untuk melayani kakakku yang saat ini sedang mengandung anak pertamanya.

Meski di awal usahaku meniti karier pil terasa getir, tapi aku mau tetap membuka hatiku untuk mengecap kebaikan-Nya.

Teruntuk saudara-saudariku, di balik usaha dan rencana kita yang kandas, Tuhan tengah menyiapkan yang baik bagi kita. Tugas kita adalah menikmati perjalanan bersama-Nya, mengucap syukur, dan berserah.

Baca Juga:

Aku Meninggalkan Pekerjaanku, Tetapi Tuhan Merancangkan Sesuatu yang Indah Bagiku

Aku pernah menghadapi dua pilihan yang membuatku bingung. Ketika aku sedang dalam proses pemulihan pasca operasi yang kujalani beberapa tahun silam, aku bergumul tentang pekerjaanku. Aku sulit memilih di antara dua pilihan.

Ketika Tuhan Seakan Mempermainkan Hidupku

Oleh Metty Kristine, Palu

Setiap orang tentulah mempunyai cita-cita, begitu pun denganku. Saat lulus kuliah, itulah momen yang paling aku tunggu. Sejak SMA, aku begitu menginginkan bekerja sebagai CS di sebuah bank. Bagiku, menjadi CS di bank itu mempunyai kebanggan tersendiri. Gaji yang besar, seragam yang bagus, kantor yang luas, teman-teman, dan relasi yang banyak adalah alasan yang ada di benakku saat itu untuk bekerja di bank. Cita-cita inilah yang selalu membuatku semangat untuk belajar.

Tapi yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik buat Tuhan. Aku sering berpikir, apakah Tuhan kurang mengasihiku? Apakah doa dan usahaku kurang? Kenapa orang lain terlihat begitu mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, sedangkan aku? Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul di dalam hatiku, ketika Tuhan mengizinkan kegagalan demi kegagalan terjadi dalam hidupku.

Memulai perjuangan

Hari itu, setelah mengurus semua kelengkapan berkas-berkasku, dengan semangat aku mengajukan lamaranku di bank-bank yang ada di kotaku. Bukan hanya di bank saja, aku juga memasukkan lamaranku di beberapa perusahaan besar. Setelah menunggu beberapa hari, sebuah perusahaan swasta yang lumayan besar memanggilku untuk wawancara. Dalam hati aku berkata “Tuhan, walaupun bukan di bank, di tempat ini juga tidak apa-apa kok”.

Setelah melewati proses demi proses, aku sampai di tahapan psikotes. Perasaanku campur aduk. Ini adalah kali pertama aku ikut psikotes. Namun, aku tetap mengikuti tes dengan tenang. Setelah menanti berhari-hari dan sampai berbulan-bulan, aku belum juga mendapat kepastian dari perusahaan tersebut. Sampai suatu saat, temanku yang kebetulan bekerja di perusahaan tersebut menberitahuku, bahwa posisi yang aku lamar sudah terisi.

Aku sangat kecewa dan sakit hati. Aku bertanya, “Tuhan, mengapa Kau tidak membantuku?”

Ini adalah kegagalan pertama yang aku alami ketika mencari pekerjaan. Namun, dari hal ini aku mengambil suatu pelajaran penting. Bahwa, sekalipun kita punya kenalan di suatu kantor, jika Tuhan tidak berkehendak kita berada di tempat tersebut, kita tetap akan gagal walaupun sudah berada hampir di tahap akhir saat tes.

Aku tidak menyerah. Beberapa minggu setelah itu, aku mendapat panggilan wawancara dari sebuah bank besar. Aku begitu semangat untuk mengikuti wawancara. Aku dinyatakan lulus menjadi pegawai di bank tersebut. Namun, saat akan tanda tangan kontrak, hatiku mulai ragu dengan pekerjaan ini. Aku malah ditawari menjadi marketing. Sebuah hal yang paling tidak aku sukai, karena aku tidak suka bekerja di lapangan dan merasa kalau aku tidak mempunyai keterampilan menjual produk dan mencari nasabah. Ditambah lagi saat itu aku belum bisa mengendarai motor. Dengan berat hati, aku membatalkan kontrak kerja tersebut.

Bulan berganti bulan, aku tetap semangat dan tidak berputus asa. Namun, suatu saat aku sampai di titik kejenuhanku. Saat itu aku sudah mulai lelah dan putus asa, begitu banyak lamaran yang aku sebar, baik yang di bank ataupun di perusahaan-perusahaan swasta lainnya. Tapi tidak satupun yang membuahkan hasil. Ada yang tidak memanggil sama sekali, bahkan ada yang putus sampai di tahap wawancara dan psikotes saja. Belum lagi adanya pertanyaan-pertanyaan orang di luar sana yang selalu bertanya, “sudah kerja dimana sekarang?” aku begitu benci dengan pertanyaan itu.

Saat aku merasa ada di titik terendah

Sudah hampir setahun berlalu. Saat-saat seperti ini, adalah saat yang paling menyakitkan. Saat di mana teman-teman seangkatanku sudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan aku merasa lebih sakit lagi, ketika membuka media sosial dan melihat beberapa temanku yang sudah bekerja di bank.

Perasaanku campur aduk saat itu. Aku begitu marah dan kecewa pada Tuhan. Aku menangis dan bertanya, “Tuhan, apakah Kau sudah tidak mengasihiku? Apakah saat ini Kau melihatku? Mengapa Kau begitu pilih-pilih kasih menolong orang? Apakah aku kurang berkenan sehingga Kau tidak menjawab doaku? Mengapa Kau belum memberikan aku pekerjaan?” Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul di hatiku. Bahkan aku sempat meragukan kuasa Tuhan dalam hidupku. Saat itu aku merasa benar- benar berada dititik terendah dalam hidupku. Aku merasa menjadi orang yang tidak berguna. Aku begitu putus asa.

Namun Tuhan tetap baik dalam hidupku. Saat aku mengalami kegagalan demi kegagalan yang membuatku jatuh dan putus asa, saat itu Dia memberikanku seorang sahabat yang mengajakku untuk mencari kerja bersama-sama. Dia adalah sahabatku sejak di bangku SMP. Saat itu, aku hanya menganggapnya sebagai seseorang yang bernasib sama sepertiku. Namun lama kelamaan, Tuhan mulai membuka mataku. Sahabat yang yang Dia kirimkan untukku adalah seseorang yang selalu memberi motivasi dan semangat kepadaku. Bahkan aku berkali-kali mengatakan kepadanya, “Kalau tidak ada kamu, mungkin aku sudah menyerah mencari pekerjaan”.

Kami pun menjadi kawan yang saling mendoakan dan menguatkan satu sama lain. Bahkan yang paling aku syukuri, Tuhan memberikanku seorang sahabat yang selalu membuat suasana hangat dengan candaan dan tertawanya sekalipun kami berkali-kali gagal saat mencari pekerjaan bersama.

Saat keadaan yang terjadi tidak sesuai dengan keinginanmu

Suatu hari seorang teman yang bekerja di sebuah perusahaan swasta menawarkanku untuk bekerja di perusahaannya, namun di lokasi yang berbeda. Singkat cerita, aku diterima kerja di tempat itu. Hari pertama aku begitu semangat datang bekerja. Namun, kondisi tempat dan suasana kantor tersebut, tidak seperti yang aku bayangkan.

Aku selalu membayangkan bisa bekerja disebuah perusahaan besar, menggunakan pakaian yang rapi dan bagus, mempunyai disiplin waktu, serta mempunyai teman-teman yang banyak. Namun, keadaan yang aku dapatkan, berbeda dengan apa yang aku pikirkan. Tempat itu begitu sepi, dengan jam kerja yang tidak menentu dan semua hal yang aku bayangkan, tidak ada di tempat itu. Lagi-lagi, aku marah pada Tuhan dan kembali bertanya “Tuhan, mengapa Kau begitu jahat padaku?” Aku kembali menyalahkan Tuhan.

Setiap pulang kerja aku selalu menangis. Pikiranku sangat kacau. Aku ingin keluar dari tempat itu, tapi ketika berbicara dengan orang tuaku, mereka tidak mengizinkannya. Setiap hari aku berangkat kerja dengan berat hati. Bahkan nafsu makan dan timbanganku sampai turun. Akhirnya, aku mengambil keputusan sepihak untuk berhenti dari tempat itu setelah tiga hari bekerja. Dalam hati aku meminta maaf kepada Tuhan, karena sudah menyia-nyiakan kesempatan yang Dia berikan dan berharap supaya Tuhan berikan pekerjaan yang sesuai dengan yang aku harapkan.

Aku kembali bersemangat mencari pekerjaan baru, tapi kali ini aku sendirian. Sahabatku sudah lebih dulu mendapatkan pekerjaan. Empat bulan kemudian, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta. Tempat itu besar dan mempunyai pegawai yang banyak. Dalam hati aku berkata, “Tuhan,, ini yang aku mau. Terima kasih Tuhan.”

Di hari pertamaku bekerja, aku begitu bersemangat. Namun, semangat itu mulai memudar saat mendapatkan suasana kantor yang tidak seperti aku harapkan. Aku mendapat rekan kerja yang sangat cuek denganku dan seakan tidak menerima diriku. Belum lagi orang-orang di dalam yang sangat cuek satu dengan yang lainnya. Tidak ada kehangatan di tempat itu, bahkan kehadiranku seakan tidak dianggap. Aku bekerja selama delapan hari dan karena ada sesuatu yang terjadi, aku keluar dari tempat itu. Di satu sisi aku merasa senang karena bisa keluar dari tempat itu. Tapi di sisi lain, aku merasa menjadi orang gagal yang tidak mempunyai masa depan. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Berdoa pun rasanya sia-sia. Toh selama ini Tuhan seakan membiarkan aku, pikirku.

Ketika Tuhan seakan tutup mata dengan kegagalanku

Beberapa minggu kemudian, aku mendapat email dari sebuah bank yang mengundangku untuk mengikuti tes. Aku kaget, karena aku sudah mengirimkan lamaran itu sebulan yang lalu. Aku pikir, mungkin ini saatnya Tuhan menjawab doaku. Aku begitu semangat mempersiapkan semua keperluanku untuk mengikuti tes. Semua tes aku lewati dengan lancar selama kurang lebih hampir 3 minggu. Sampai akhirnya aku sampai pada tahap wawancara akhir.

Aku berpikir, mungkin ini yang terakhir kalinya aku gagal dalam mencari pekerjaan. Mungkin ini jawaban Tuhan atas semua kegagalan aku selama ini. Malam itu aku begitu takut dan penasaran menunggu hasil tesku yang akan dikirim melalui email. Aku begitu berharap dengan pekerjaan ini. Sekitar jam 2 malam, aku terbangun dan langsung mengecek HP ku. Saat itu hatiku begitu sakit ketika melihat kiriman dari seorang teman di grup yang isinya screenshot hasil pengumuman yang dikirimkan pihak bank ke dia. Tidak ada namaku di daftar itu dan jelas aku tidak mendapat email dari pihak bank.

Aku langsung berlari ke toilet dan menangis sejadi-jadinya di tempat itu. Aku marah, kecewa dan sakit hati kepada Tuhan. Aku menangis dan dengan setengah nada aku berkata, “Tuhan, kenapa Kau begitu jahat? Mengapa Kau tega mempermainkan aku? Mengapa Kau biarkan aku seakan hampir berhasil, namun ujung-ujungnya malah kegagalan yang aku dapatkan?”

Malam itu aku hanya bisa menangis dan menyalahkan Tuhan. Aku merasa sudah tidak mempunyai masa depan dan harapan lagi. Namun, saat itu aku tiba-tiba teringat dengan sebuah ayat Alkitab dalam 1 Tes 5:18 “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah didalam Kristus Yesus bagi kamu”.

Saat itu aku seakan mendapat teguran dengan ayat ini dan Tuhan tiba-tiba berbicara lewat hatiku dan berkata “Ingat, rancanganku tidak pernah salah dan jangan salahkan Aku atas apa yang sudah terjadi dalam hidupmu”. Dalam keadaan hati yang sedang kacau, aku pun berlutut dan berdoa meminta ampun pada Tuhan karena sudah begitu banyak menyalahkan Tuhan saat-saat aku mengalami kegagalan.

Aku berusaha tegar dan semakin mencari tahu apa maunya Tuhan dalam hidupku. Aku berusaha menghibur diri dan menguatkan hati dengan mendengarkan lagu-lagu rohani dan khotbah-khotbah yang aku unduh. Saat-saat penantianku, aku selalu berdoa, bersyukur kepada Tuhan untuk segala hal yang Dia izinkan boleh aku alami dalam hidupku, bahkan untuk hal yang paling menyakitkan sekalipun. Aku berserah pada Tuhan dan membiarkan Tuhan ambil alih dalam hidupku serta menuntunku ke tempat yang Dia mau.

Saat itu aku hanya berpegang pada firman Tuhan dalam Amsal 23:18 “Karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang” dan Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan- rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.

Jawaban Tuhan berbeda dengan yang kupikirkan

Sekitar dua minggu kemudian, teleponku tiba-tiba berbunyi. Aku mendapat panggilan telepon dari perusahaan yang sudah sejak sebulan lalu mewawancaraku. Manajer perusahaan tersebut memintaku untuk datang pada hari Senin. Aku datang dalam keadaan yang tidak bersemangat, karena jujur aku masih merasa trauma dengan kegagalan demi kegagalan yang aku alami sebelumnya. Dalam hati, aku berkata, “permainan apa lagi yang Tuhan sedang rencanakan untukku?” Aku begitu takut kalau Tuhan membuatku gagal lagi.

Aku melihat situasi kantor itu sangat berbeda dengan apa yang menjadi impianku dulu. Kantor yang besar, seragam yang bagus dan teman-teman yang banyak. Bagiku semua itu tinggal mimpi belaka. Impian besar menurut pikiran seorang anak yang masih sangat muda sepertiku, ternyata berbanding terbalik dengan impian besar yang Tuhan sedang sediakan untukku. Dalam hati aku berkata, “Apakah aku akan bertahan di tempat ini?”

Tidak disangka, tahun ini adalah tahun kedua aku bekerja di perusahaan ini. Di tempat ini aku mendapatkan seorang bos dan teman-teman yang begitu baik serta ramah. Suasana kantor yang begitu hangat dengan canda tawa teman-teman dan Gaji yang lumayan besar dari apa yang aku pikirkan sewaktu aku ingin bekerja di bank dulu. Walaupun tidak bekerja di bank, tetapi Tuhan mengizinkan aku untuk bekerja dibagian keuangan yang mengharuskan aku ke bank setiap harinya. Di sana aku banyak berteman dengan karyawan-karyawan bank yang selalu berbagi cerita tentang pekerjaan mereka. Aku juga mendapat pekerjaan yang meskipun banyak, tetapi aku bisa mengerjakannya dengan santai tanpa tekanan kerja yang besar seperti beberapa teman-teman yang aku jumpai saat aku berkunjung ke bank. Ternyata, perusahaan yang besar, seragam yang bagus dan teman- teman yang banyak tidak menjamin kita nyaman bekerja di suatu tempat.

Meskipun aku tidak bisa mencapai cita-citaku menjadi seorang pegawai bank, tetapi Tuhan Yesus menggantikannya dengan pekerjaan yang lebih baik dari apa yang aku pikirkan baik dulunya.

Ketika kamu mengalami kegagalan demi kegagalan hari ini, ingatlah bahwa Tuhan Yesus tidak pernah gagal atas hidupmu dan masa depanmu. Ada kalanya, Tuhan Yesus tidak menunjukkan mukjizat-Nya saat itu juga untuk membuatmu sadar bahwa tanpa-Nya kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Ingatlah juga, bahwa Dia tidak pernah terlambat dan selalu tepat waktu menolong anak-anak-Nya, karena kita begitu berharga dihadapan-Nya dan kita sangat dicintai-Nya.

Baca Juga:

Apa Pun Ucapan Syukur yang Bisa Kita Ucapkan, Ucapkanlah

Hidup tak selalu berjalan mulus, tapi selalu ada kebaikan yang Tuhan berikan bagi kita.

Berkat di Balik Pilihan yang Tampaknya Salah

Oleh Vina Agustina Gultom, Taiwan

Diperhadapkan dengan dua pilihan biasanya jadi momen yang memusingkan, namun bisa juga menyenangkan. Memusingkan karena mau tidak mau harus pilih salah satu, tapi satu sisi bisa jadi menyenangkan karena kita masih punya pilihan. Contoh, pilih beasiswa A atau B? Pergi ke Raja Ampat atau Perth? Abang ini atau si mas itu?

23 Mei 2019 menjadi momen memusingkan untukku karena aku diperhadapkan pada dua pilihan: ikut ujian seleksi dosen atau ujian seleksi di industri otomotif? Dua bidang pekerjaan yang berbeda, tapi sama-sama di tempat yang bergengsi.

Kalau kulihat jalinan benang merah hidupku, aku punya passion dalam mengajar. Tapi, aku tak bisa hanya melihat dari satu sisi saja. Aku berpikir, kira-kira di ujian yang mana aku paling berpeluang lolos? Jika memang aku ikut ujian dosen dan lolos, apakah ini benar-benar kehendak Allah? Bagaimana jika ikut ujian di industri otomotif yang ternyata jadi kehendak-Nya? Atau, bagaimana kalau malah bukan keduanya?

Aku pun berdoa, memohon agar Tuhan membuatku peka akan pilihan mana yang paling baik untuk kuambil. Aku juga berdiskusi dengan orang tua, kakak, dan sahabatku. Aku yakin mereka dapat dipakai Tuhan untuk memberiku jawaban. Mereka menyarankan supaya aku ikut ujian seleksi dosen, tapi tetap mencoba bernegosiasi dengan industri otomotif apakah memungkinkan jika jadwal ujianku di sana diundur.

Waktu terus berjalan, pesan dalam bentuk posel (email)tak kunjung dibalas. Dengan iman, kuserahkan pilihan ini pada Tuhan. Kusiapkan diriku sebaik-baiknya sampai akhirnya pada hari pengumuman, ternyata aku dinyatakan gagal.

Sedih. Sangat sedih. Pikiran liar pun mulai menggerogoti, “Kenapa kemarin gak pilih ujian di industri otomotif aja!” Kalimat penyesalan dan kekecewaan yang sulit untuk tidak kupikirkan dan kuucapkan.

Berkat di balik pilihan yang tampaknya salah

Di tengah rasa sedihku, aku coba mengingat perkataan sahabatku, “Jangan lihat berkat Tuhan itu hanya dari ketika kamu mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan, tapi lebih dari itu, berkat Tuhan sama indahnya di tengah kegagalanmu sekalipun. Walau kadang kamu baru menyadarinya setahun, dua tahun, atau bahkan 10 tahun setelah kegagalan itu terjadi.”

Perkataan sahabatku itu benar. Berbulan-bulan setelahnya, tepatnya pada tanggal 25 April 2020 aku merasa takjub. Meski aku tidak lolos ujian dan menjadi dosen di universitas itu, aku tetap diajak untuk mengikuti Pendalaman Alkitab (PA) dengan komunitas pasca sarjana yang berasal dari kampus tersebut. Ceritanya, pada tanggal 28 Mei 2019, waktu sebelum aku mengikuti ujian seleksi, seniorku mengenalkanku dengan alumni pengurus persekutuan mahasiswa Kristen pasca sarjana. Alumni itu rupanya ikut ujian seleksi bersamaku. Beliau bertanya, apakah aku orang Kristen atau bukan? Aku kaget, menanyakan tentang iman seseorang agaknya jarang jadi pembuka obrolan. “Ya, aku Kristen,” jawabku. Dia lalu mengajakku ikut kelompok PA di daerah Dago. Karena aku butuh oase pasca ujian, aku mengiyakan ajakan itu.

Ketika PA berlangsung, kami saling berkenalan, membahas materi, berdoa, dan foto bersama. Kegiatan-kegiatan ini sudah biasa terjadi saat ber-PA dalam kelompok. Namun, yang jarang terjadi adalah aku diundang untuk langsung masuk ke dalam grup WhatsApp mereka. Pikirku, “Untuk apa? Aku hanya ikut kelompok PA ini sekali. Aku tidak bisa ikut pendalaman Alkitab lagi dengan kalian, karena terpaut oleh jarak. Aku di Bekasi dan kalian di Bandung”. Tapi sebagai bentuk penghormatanku, aku mengiyakan undangan itu.

Meski telah berbeda kota, aku tetap berkomunikasi dengan mereka. Sampai akhirnya pada tangggal 25 April 2020, aku kembali bisa ikut PA bersama mereka walau secara virtual dari tempat kami masing-masing akibat dampak dari pandemi. Bersyukur dengan pandemi ini juga, aku diajarkan bahwasanya jarak itu bukan penghalang kita untuk melakukan PA bersama.

Dari pengalaman sederhanaku ini, aku jadi mempunyai slogan, “Gagal ujiannya, dapatin komunitasnya.” Ya bagiku ini penting, karena setidaknya walau kita gagal untuk berkarya di tempat yang kita tuju, namun kita mendapatkan komunitas yang berlatar belakang sama, yang akhirnya dapat memahami dan mengerti keadaan kita, bahkan memberikan solusi dengan saling berbagi informasi mengenai lowongan mengajar lainnya.

Mengutip sebuah kalimat dari saat teduhku tanggal 27 Juli 2019, tertulis begini:

“If you’re discouraged by some failure today, remember that Jesus may use it to teach you and lead you forward in your service for Him”

“Jika kamu kecewa karena kegagalan hari ini, ingatlah bahwa Yesus dapat memakainya untuk mengajar dan memimpin kamu melangkah maju dalam pelayananmu kepada-Nya”

Ketika pilihan yang kita ambil mengantar kita pada kegagalan, cobalah untuk melihat dari sudut pandang Allah. Segala hal dapat dipakai-Nya untuk membawa kebaikan bagi kita, selama kita bersedia untuk percaya. Jadi, kalau kamu jadi aku, kamu pilih yang mana? Larut dalam kegagalan atau dapatin komunitasnya?

Selamat memilih untukmu yang sedang di rumah aja.

Baca Juga:

Kelulusan yang Tertunda: Momen untuk Memahami Kehendak Tuhan

Ketika studi S-3ku hampir selesai, dosen pembimbing memberiku opsi untuk menunda kelulusan. Opsi ini sulit, sungguhkah ini kehendak Tuhan? Tapi, dari momen inilah aku jadi belajar bagaimana dan seperti apakah itu kehendak Tuhan.

Kedamaian di Tengah Ketidakpastian

Oleh Vika Vernanda, Depok

Sebuah dokumen berisi kalender akademis baru saja dikirim oleh temanku. Salah satu poinnya menyatakan bahwa batas akhir pengumpulan tugas akhir diundur hingga akhir bulan Juli. Aku mulai menghitung waktu yang kuperlukan untuk menyelesaikan penelitian tugas akhir, hinga kudapatkan kesimpulan bahwa aku harus memulai penelitian lagi di awal bulan Mei.

Pandemi yang menjangkiti dunia dan Indonesia berdampak besar pada semua bidang, salah satunya pendidikan. Semua jenjang pendidikan melakukan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sehingga setiap siswa dan mahasiswa bisa tetap mengerjakan bagiannya untuk menuntut ilmu, namun penerapan PJJ menjadi kesulitan tersendiri bagi sebagian mahasiswa tingkat akhir. Mereka yang awalnya bisa melakukan penelitian langsung di laboratorium dan di lapangan, kali ini tidak bisa melakukannya. Akibatnya penulisan tugas akhir dan waktu kelulusan jadi terhambat. Aku adalah salah seorang di antara mereka.

Pengumpulan tugas akhir yang diundur merupakan kabar baik bagi beberapa temanku, namun tidak bagiku. Penelitian untuk tugas akhirku rencananya dilakukan di rumah sakit, tapi saat ini sangat berisiko untuk pergi kesana. Pihak universitas dan rumah sakit juga tidak memberikan izin untuk melakukan penelitian. Rencana penelitianku di awal bulan Mei jadi sangat tidak mungkin kulakukan. Padahal, aku sudah merencanakan dengan rapi studiku supaya aku bisa lulus tepat waktu. Sekarang, semua rencanaku terancam berantakan. Aku sangat khawatir jika aku tidak bisa lulus tepat waktu.

Ketika aku menyampaikan kekhawatiranku pada temanku, aku teringat pada firman yang dibahas dalam kelompok tumbuh bersama yang kuikuti kemarin.

Kami membahas tentang surat Paulus bagi jemaat Filipi yang berisi tentang permintaan agar sehati sepikir dalam Kristus. Pada Filipi 4:6-7 ditulis demikian:

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

David Sanford pada bukunya Journey Through Philippians, menuliskan bahwa berdoa dalam segala sesuatu dengan ucapan syukur memberikan implikasi seperti pada ayat 7, yaitu damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiran kita. Damai ini hadir bukan karena kita memiliki kontrol, punya rencana, atau tahu jelas berbagai pilihan yang ada dalam hidup kita. Damai ini juga bukan merupakan sesuatu yang kita pikirkan dan kehendaki. Itu semua adalah kedamaian Allah— kedamaian yang terjadi bukan karena kita mengetahui semua hal dengan pasti sesuai rencana, namun ketika kita mempercayakan setiap hal kepada Allah.

Kalimat itu sangat menegurku. Aku tahu, mungkin sulit bagi kita untuk berpegang pada damai sejahtera Allah di tengah kondisi yang sangat tidak sesuai harapan. Banyak harapan dan rencana yang gagal akibat pandemi yang sedang kita alami bersama. Aku mengalaminya, dan untuk sesaat, itu menjauhkanku dari damai-Nya.

Menikmati firman ini membuatku tenang. Namun terkadang perasaan khawatir itu kembali muncul, dan ketika itu datang aku mencoba mengingat lagi bahwa Allah memegang masa depanku. Bagianku saat ini adalah tetap mengerjakan tugas akhir yang bisa dikerjakan dari rumah, dengan perasaan damai sejahtera karena mengetahui bahwa Allah bekerja. Terkait lulus tepat waktu, saat ini aku sudah lebih tenang jika bukan itu yang Allah mau; tapi aku percaya bahwa aku akan lulus pada waktu-Nya.

Pemahaman akan damai sejahtera Allah yang tidak kita dapatkan karena pengertian kita, mengingatkanku untuk tetap berdoa dan meyerahkan kekhawatiranku kepada-Nya. Maka, mari tetap berpengharapan dan menyandarkan kekuatan kita pada Allah, yang sudah menyiapkan rencana terbaik dalam hidup kita.

Untukmu yang juga sedang harap-harap cemas menanti kebijakan terkait tugas akhir, mari percaya bahwa Allah tetap bekerja. Bahwa di tengah kondisi yang terjadi, Allah tetap menjaga, dan itu membuat kita menikmati kedamaian dari-Nya. Lulus pada waktu-Nya juga adalah hal yang indah bukan?

Baca Juga:

Tuhan, Alasanku Bersukacita di Dalam Penderitaan

Habakuk dengan jujur dan berani bertanya kepada Tuhan mengapa ada jurang yang begitu lebar antara apa yang dia percayai dengan situasi yang ada di sekelilingnya. Mungkin kita pun punya pertanyaan yang sama seperti Habakuk. Apakah jawaban Tuhan terhadapnya?

Yuk baca artikel ini.

Dalam Kegagalanku, Rencana Tuhan Tidak Pernah Gagal

Oleh Dita Eka Octalina Napitupulu, Bekasi

Tahun 2012 merupakan tahun yang berat bagiku ketika aku dinyatakan tidak lulus di universitas negeri yang kuimpikan sejak masa SMA. Aku belum menyerah, kucoba mengikuti seleksi dari jalur lain, tapi hasilnya pun sama: gagal.

“Gagal”, kata ini hinggap di pikiranku hingga aku berpikir untuk tidak usah kuliah saja setelah SMA. Namun, keluarga dan orang-orang terdekatku tidak menyerah menyemangatiku. Aku ingat sahabatku berkata, “ke mana pun kita coba lari dari hadapan-Nya, Dia pasti akan menaruh kita di tempat yang memang sudah Dia pilih.”

Kalimat itu menegurku. Kucoba bangkit kembali dari kegagalan, merenungkan segala kebaikan Tuhan, dan bertekad untuk terus mengandalkan-Nya atas segala pencapaian dan upayaku meraih masa depan.

Ditempa di tempat lain

Singkat cerita, aku melanjutkan pendidikanku di perguruan tinggi swasta. Di luar dugaanku, IPK semester pertamaku hasilnya baik, tapi aku malah jadi angkuh dan berpuas diri. Akibatnya, semester dua sampai semester ke-empat, IPK-ku mengalami penurunan yang signifikan. Aku takut, tapi juga sadar bahwa Tuhan telah memberikanku hikmat, tetapi aku malah menyalahgunakannya. Alih-alih tekun belajar dan bersyukur, aku malah sombong dan tidak mengandalkan Tuhan. Setelah semester empat, aku memperbaiki diriku dengan tekun belajar dan bertekad untuk terus mengandalkan Tuhan.

Di semester lima, aku merasa kemampuan studiku cukup baik. Aku pun mendaftarkan diri untuk menjadi asisten lab. Aku cukup percaya diri bisa diterima, tapi di tahapan wawancara akhir aku malah gagal. Aku tidak mau menyerah. Lowongan asisten lab yang kedua dibuka dan aku pun mendaftar lagi. Aku berdoa, belajar lebih sungguh. Namun, setelah ujian tertulis dan wawancara yang dilakukan dalam satu hari bersamaan, aku harus menerima kenyataan kembali bahwa aku “Tidak Lulus”.

“Oh Tuhan,” sebutku dalam hati. Apalagi ini? Dalam hatiku timbul kekecewaan besar. “Kenapa Tuhan aku harus gagal lagi? Sekarang aku sudah di kampus swasta, lantas kenapa aku harus kecewa lagi?” Kenapa? Kenapa? Kenapa?”

Dalam kekecewaanku, aku merasakan suara dalam hatiku berbisik, “Apa yang sedang kamu cari, Nak? Bukankah Aku sudah cukup bagimu? Hanya tinggal kamu percaya saja dengan-Ku.” Aku terdiam.

Lowongan asisten lab dibuka untuk ketiga kalinya. Di kampusku ada berbagai divisi dan beragam mata kuliah, sehingga ada banyak lowongan asisten lab yang dibuka. Aku tidak berniat untuk mendaftar lagi, tapi orang terdekatku bilang, “Coba saja ikut, sekali lagi saja, biar tiga kali.”

Aku memutuskan untuk ikut seleksi kembali, tapi aku berdoa bukan supaya aku diterima, melainkan supaya kehendak Tuhan saja yang terjadi. Kumantapkan motivasiku, bahwasannya aku mengikuti seleksi ini karena aku ingin Tuhan dimuliakan lewat apa pun yang kukerjakan.

Tahap demi tahap kulakukan, hingga akhirnya aku tiba pada tahapan wawancara akhir. Ketika hasilnya diumumkan, aku lulus menjadi seorang aslab! Puji Tuhan! Air mataku menetes saat itu.

Peristiwa gagal dan diterimanya aku menjadi aslab mungkin hal yang biasa dalam dinamika perkuliahan, tetapi bagiku pengalaman itu menjadi suatu momen yang mempererat relasiku pada Tuhan. Bukan semata-mata karena aku diberi-Nya keberhasilan pada seleksi ketiga, melainkan karena Tuhan senantiasa menyertaiku baik kala aku senang maupun aku susah. Tuhan terus memampukanku menyelesaikan studiku hingga akhirnya aku dapat lulus dengan predikat cum laude pada tahun 2016 dengan tepat waktu. Semuanya terjadi atas perkenanan Tuhan.

Seringkali kita mungkin tidak mengerti akan apa yang Tuhan inginkan atas hidup kita, bagaimana rancangan-Nya, dan kegagalan apa yang kelak akan kita alami. Terlepas dari berbagai kekhawatiran, Tuhanlah yang memampukan kita dan Tuhan jugalah yang menjamin masa depan setiap kita. Kuncinya hanya satu: percaya dan selalu mengandalkan-Nya. Tuhan sanggup bekerja dengan luar biasa dalam hidup kita.

Baca Juga:

Tak Cuma Sungai, Hati Kita Pun Perlu Dinormalisasi

“Kita sering mendengar kata “hati” dalam khotbah-khotbah di mimbar gereja. Kita juga tak asing dengan pernyataan, “Tuhan Yesus ada di hatiku.” Saking seringnya kita mendengar kalimat itu, mungkin kita pun mengira bahwa di Alkitab ada banyak ayat yang berkata, “Tuhan Yesus ada di hatiku.”

Padahal, jika dicermati, hanya ada satu bagian dalam Alkitab yang secara khusus merujuk pada kalimat Yesus hidup dalam hati seseorang.”

Skripsi, Garis Akhir Perjuangan Kuliah yang Kulewati Bersama Tuhan

Oleh Yuanda Hemi, Tangerang

Aku adalah seorang mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi di Kota Tangerang. Sebelum berkuliah, aku menjadi atlet bulutangkis selama enam tahun sehingga aku masuk sekolah hanya untuk mengikuti ujian.

Perjalananku sebagai atlet bulutangkis tidak berhasil membuatku menjadi atlet papan atas sehingga aku pun memutuskan untuk kembali ke jalur akademik. Sayangnya, aku belum benar-benar mengenal potensi diriku di luar dunia bulutangkis. Hal ini membuatku memilih jurusan yang disarankan keluarga dengan pertimbangan prospek kerja yang menjanjikan di era digital, yaitu Sistem Informasi.

Sejujurnya, aku sendiri tidak tahu apa yang akan kupelajari di jurusan tersebut. Beberapa orang mengatakan bahwa keputusanku merupakan langkah yang berani. Tetapi apa boleh buat, jurusan Psikologi yang lebih menarik minatku tidak mendapatkan persetujuan orang tua.

Di masa awal perkuliahan, aku optimis bahwa aku akan bertahan dalam jurusan ini seiring berjalannya waktu. Aku berprinsip kuat untuk memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin, agar dapat menyelesaikan kuliah tepat waktu. Dengan belajar sungguh-sungguh dan dengan bantuan dari teman-teman, aku mampu melewati semua mata kuliah yang ada hingga tiba waktunya bagiku untuk membuat skripsi.

Proses menentukan judul dan membuat proposal berlangsung sangat lancar. Perjuangan yang sebenarnya dimulai ketika aku mulai mengerjakan skripsi itu sendiri. Ada saat-saat di mana aku merasa yakin dapat menyelesaikan semuanya tepat pada waktunya, tetapi ada kalanya juga aku merasa tidak sanggup melewati rintangan-rintangan yang ada. Aku mengerjakan skripsiku setiap hari dan rutin mengikuti bimbingan di luar jam kelas delapan SKS mata kuliah yang mengulang. Karena stres berlebihan dan tidak nafsu makan, berat badanku turun sebanyak enam kilogram dalam dua minggu.

Di tengah-tengah masa sulit itu, aku menemukan vlog dari Acha Sinaga yang muncul di beranda YouTube. Acha dan Andy Ambarita, suaminya, mengajak kita untuk senantiasa mengandalkan Tuhan apapun yang terjadi. Menonton video tersebut membuatku merasa dikuatkan kembali.

Sampailah pada hari pra-sidang, aku menerima pengumuman yang tidak siap kudengar dari salah satu dosenku.

“Kalau saya boleh jujur, skripsimu tidak layak untuk maju sidang.”

Aku tertegun, terdiam, sedih, dan bingung. Apakah aku harus menunggu lagi? Ataukah lebih baik bagiku untuk tetap maju dan mencoba, tentunya dengan kemungkinan terburuk yaitu ‘dibantai’ saat sidang dan akhirnya gagal? Beberapa temanku menyarankanku untuk maju sidang, karena ada kemungkinan bahwa aku akan diuji oleh dosen lain. Hatiku bergejolak. Aku tidak siap menerima tekanan, apalagi menghadapi kegagalan.

Aku menceritakan semuanya kepada mamaku. Di tengah-tengah pergumulanku, aku membulatkan tekadku untuk tetap maju sidang.

“Ma, aku mau berjuang. Aku mau mencoba. Aku percaya aku pasti lulus kalau itu memang rencana Tuhan, dan tidak ada seorangpun yang bisa menggagalkan.”

“Percaya dan berdoa saja, Nak. Tugasmu adalah melakukan yang terbaik, biar Tuhan yang membantu dan melancarkan.”

Aku merevisi setiap bagian yang diminta oleh dosen pembimbingku serta melengkapi semua berkas yang diminta sehingga aku dapat mengumpulkan skripsiku tepat waktu. Dalam keadaan yang masih penuh tekanan, aku meminta Tuhan untuk menjauhkanku dari dosen-dosen killer yang menurutku dapat menghambat kelulusanku. Sekarang aku baru tersadar, seharusnya aku meminta kekuatan dan kesiapan dari Tuhan untuk menghadapi siapapun dosen pengujinya.

Puji Tuhan, aku dinyatakan layak sidang! Namun, saat sidang aku tidak dinyatakan lulus, tidak juga dinyatakan tidak lulus, dan tidak pula diminta untuk sidang ulang. Keputusannya menggantung, dan aku harus merevisi hampir satu buku. Inilah masa-masa terberat dalam perkuliahanku—bertahan saat aku merasa tidak sanggup lagi, nyaris menyerah namun tak ingin mengulang.

Yang membuat perjuanganku semakin berat adalah fokusku yang tidak terpusat pada skripsi. Aku harus membagi waktu antara menyelesaikan revisi, mencari tanda tangan dari dosen penguji, mengurus bisnis, dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pertandingan bulutangkis yang diselenggarakan dua minggu setelah sidang. Aku bersyukur Tuhan memberikanku tanggal sidang lebih awal dari teman-temanku, sehingga aku banyak mendapatkan bantuan mereka baik dalam mengerjakan revisi maupun dalam hal mental support.

Setiap harinya, aku beroleh kekuatan dari Tuhan melalui doa. Aku percaya bahwa Tuhan punya rencana yang terbaik untukku. Tuhan sendiri yang akan menguatkanku dalam melewati semua proses kelulusanku, dan Ia juga yang akan menggerakkan hati para dosen penguji. Tiga belas hari kulalui dengan penuh tangis, dan Tuhan memberiku kejutan di hari ke-14: aku mendapatkan tanda tangan dari ketiga dosen pengujiku. Aku lulus!

Sungguh indah rancangan Tuhan dalam hidupku, dan tentunya dalam hidup teman-teman semua. Ya, aku sempat merasa takut dan tidak percaya diri ketika mendengar pernyataan dari dosenku. Tetapi, aku bersyukur Tuhan menyertaiku dalam melewati setiap proses penyusunan skripsi. Ketika keadaan di depanku terasa menakutkan, aku hanya bisa bersandar pada karakter Tuhan. Ia adalah Bapa yang baik, yang sudah merancangkan masa depanku dengan luar biasa, lebih daripada apa yang aku pikirkan. Dalam Pengkhotbah 3:11 dikatakan bahwa, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Aku percaya, Tuhan memakai proses yang kualami dalam sidang skripsi untuk menguatkan teman-teman yang mengalami pergumulan yang sama. Puji Tuhan, aku sudah diwisuda pada 20 Juni 2019 yang lalu. Semua karena kasih karunia Tuhan semata, dan biarlah semua kemuliaan hanya bagi-Nya!

Baca Juga:

Yesus Kristus dan Celana Kolor

“Judul ini mungkin terasa aneh. Rasanya kok tidak sopan. Sepertinya kurang elok kalau menyandangkan Yesus Kristus dengan celana kolor.

Tetapi judul ini bukannya tanpa alasan. Inilah ceritanya:”

Berhenti Memikirkan Hal-hal Negatif

Oleh Riley Sands
Artikel asli dalam bahasa Inggris: I Stopped Letting Negativity Rule My Thoughts

Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2 Korintus 10:5).

Semuanya dimulai dari ketika lamaran kerjaku ditolak untuk kedua kalinya.

Aku melamar di dua tempat—satu di penerbit buku dan satunya lagi di universitas tempatku belajar untuk gelar S-2ku. Karena sebelumnya aku pernah bekerja di perusahaan penerbitan, kupikir aku punya peluang lebih besar daripada pelamar lainnya. Tapi nyatanya, aku ditolak.

Di minggu-minggu selanjutnya, aku masih merasa tidak percaya. Tapi rasa kecewaku berkurang ketika aku mendengar kabar kalau aku diterima wawancara di tempat kedua. Jika aku lolos, nanti aku akan bekerja sebagai asisten penelitian di universitasku, dan aku sangat menginginkannya. Tapi, dua hari setelah wawancara, hasilnya aku tidak diterima juga

Setelah dua kali ditolak, aku merasa terguncang dan berusaha sekerasnya untuk menerima kenyataan ini. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Bagaimana ini bisa terjadi?” dan “Kenapa Tuhan tidak memberiku pekerjaan ini?” terus berputar-putar di pikiranku seperti kaset rusak. Malam itu, bukannya memikirkan tentang betapa baiknya Tuhan kepadaku selama ini (Ulangan 2:7), aku malah terus memikirkan penolakan kerjaku dan mulai meragukan kebaikan-Nya.

Pikiran negatifku akhirnya berubah menjadi suara yang tidak terhitung banyaknya, dan benakku dengan cepat dipenuhi dengan kalimat-kalimat yang menghakimi diriku sendiri.

“Kamu mengacaukan wawancaranya!”

“Kamu punya bertahun-tahun pengalaman bekerja dan masih tidak bisa mendapat pekerjaan yang baik!”

“Orang-orang akan melihat bahwa kamu adalah sebuah kegagalan.”

Dengan bercucuran air mata, aku berusaha untuk menyingkirkan semua pikiran itu. Tapi aku tidak berhasil. Malah, kalimat-kalimat itu terdengar makin kencang dan menusuk hatiku. Puncak dari semua pikiran buruk itu adalah pikiran buruk lainnya yang berkata: “Kamu tidak berguna” dan “Kamu tidak berhak mendapat kasih Tuhan”.

Aku tahu ada yang tidak beres dengan diriku sendiri. Ketakutan mulai menyelimutiku. Aku kemudian sadar, jika aku tetap membiarkan pikiran-pikiran buruk itu menghantuiku dan aku mengasihani diri sendiri secara berlebihan, itu adalah tindakan yang dapat membuatku semakin terpuruk.

Aku mengambil keputusan bahwa aku tidak akan mengasihani diriku sediri secara berlebihan.

Pikiran-pikiran negatif dalam diriku sebenarnya tidak lahir dalam semalam. Pikiran negatif itu tidak muncul hanya karena aku gagal mendapatkan pekerjaanya. Jika kuselidiki kembali perjalanan hidupku, aku mendapati pikiran-pikiran negatif itu berkembang dalam jangka waktu yang lama.

Ketika aku masih kecil, aku pernah menghadapi banyak penolakan dan kekecewaan, yang membuatku berpikir kalau diriku ini tidak cukup baik. Tahun demi tahun, aku pun menyadari bahwa semua pengalaman burukku ini memudahkan pikiranku untuk dipenuhi dengan pikiran negatif—dan itu membuatku sadar bahwa aku harus benar-benar berusaha untuk memikirkan hal-hal yang baik.

Roma 8:5 berkata, “Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.” Aku sadar akan pikiranku yang berdosa, dan hal itu membuatku bertobat. Dengan kekuatan baru, aku melawan kata-kata buruk di pikiranku itu dan membaca Alkitab agar aku bisa mengisi pikiranku dengan janji-janji Tuhan.

Aku membaca janji ini: “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” (2 Timotius 1:7), dan mengingatkan diriku bahwa lewat kekuatan dari Tuhan, aku bisa melawan pikiran-pikiran buruk.

Selain itu, surat dari Paulus kepada jemaat di Filipi juga menjadi senjata yang ampuh ketika aku mulai tergoda untuk berpikir hal-hal yang buruk.

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”(Filipi 4:8).

Ketika aku menghidupi ayat-ayat ini dalam pikiranku, suara-suara negatif dalam pikiranku berhenti dan ada kedamaian Tuhan yang menyertaiku. Ketika aku bertekad menanggalkan pikiran burukku dan mulai memikirkan janji-Nya, aku membaharui kembali komitmenku untuk mengarahkan diriku tunduk pada Tuhan.

Meski demikian, itu tidak berarti kalau pikiran negatif tidak pernah lagi menghampiriku. Kadang, ketika aku berpikir tentang masa depanku, pikiran negatif ini datang menghampiri. Namun bedanya, sekarang aku tahu bagaimana untuk merespons pikiran buruk itu dengan lebih baik—aku menahan semua pikiran itu dan mengingatkanku sendiri akan kebenaran Tuhan. Memang tidak pernah mudah untuk melakukannya karena hal itu membutuhkan banyak kedisiplinan agar emosiku tidak menguasaiku.

Aku ingat bahwa kita sebagai orang Kristen “lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:37). Dan meskipun pikiran negatif dapat membuat kita berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan kita di masa-masa sulit, kebenarannya adalah Ia selalu ada bersama kita setiap saat (Yesaya 41:10). Beralih kepada Firman-Nya membantu untuk menenggelamkan suara-suara berisik di otak kita.

Hari ini, aku masih melamar untuk pekerjaan lain. Prosesnya lebih lama dari yang kukira, tapi aku telah menjadi lebih percaya diri dan memilih untuk tidak membiarkan pikiran negatif mengakar di pikiranku. Aku sekarang sedang belajar untuk merasa bahagia dalam prosesnya, karena aku tahu Tuhan tahu apa yang aku perlukan dalam perjalanan hidupku yang selanjutnya.

Baca Juga:

Jadilah Padaku Seperti yang Tuhan Ingini

Di balik kalimat dan lirik “Jadilah padaku seperti yang Kau ingini” itu, mengimaninya tak semudah mengucapkannya. Tidak mudah untuk meminta Tuhan melakukan apa yang jadi kehendak-Nya ketika aku sendiri punya kehendak yang ingin dipenuhi.