Posts

Waktu Badai Kelam Datang, Ingatlah Bahwa Itu Pasti Akan Berakhir

Oleh Sofia Dorkas Pakpahan, Medan

“Si ambis”

Julukan itu disematkan buatku. Akar katanya berasal dari “ambisi”, yang artinya keinginan yang besar untuk memperoleh sesuatu. Aku tidak menolak julukan itu karena memang teman-teman mengenalku sebagai sosok mahasiswa yang giat belajar agar proses perkuliahanku dapat berjalan maksimal. Tapi… julukan itu menjadi beban buatku. Mereka sering mengandalkanku dalam urusan akademik karena dianggap pintar dan aku pun berusaha keras supaya julukan si ‘ambis’ yang mereka sematkan itu memang mengantarku pada nilai terbaik.

Namun, di akhir masa kuliah rupanya ekpektasiku tidak sesuai dengan realita. Nilai-nilai di tiap mata kuliah tidak sesuai harapanku. Malahan, teman-teman yang kupikir nilainya akan lebih rendah dariku malah meraih lebih baik. Aku pun berkecil hati. Rasanya julukan ‘si ambis’ tidak pantas kudapatkan karena hasil yang kuterima tidaklah maksimal.

Perasaan gagal dan kecewa memenuhi pikiranku dan aku kehilangan mood untuk beraktivitas. Suatu ketika, saat aku sedang berdiam diri di rumah, hujan turun dengan derasnya membuat mood-ku makin tidak bagus. Aku bergumam kesal. Ketika malam tiba, aku diam saja di kamar.

“Tok…tok,” suara pintu diketuk.

Ibuku masuk ke dalam kamarku dan mengajakku keluar rumah. Sebenarnya aku enggan keluar kamar, tapi supaya tidak memperpanjang percakapan aku menyetujuinya.

Di halam rumah, ibu mengajakku bercerita. “Nak, coba kamu lihat ke atas, apa yang kamu lihat?”

Aku tak tahu mau menjawab apa sebab langit malam itu tidak ada bedanya dengan langit di hari-hari yang lalu. Langit ya tetap langit, aku membatin. “Biasa saja, tidak ada yang istimewa,” jawabku.

Ibuku tersenyum dan menanggapiku dengan pertanyaan lagi. “Coba kamu lihat, ada bulan dan banyak bintang. Apa kamu tahu mengapa mereka jadi kelihatan sangat indah?”

Aku menggeleng.

“Karena langitnya gelap, Nak. Apa kamu sadar, bulan dan bintang memerlukan langit yang gelap agar sinarnya tampak? Dan dengan begitu mereka akan jadi terlihat sangat indah di langit malam.”

Aku agak terkejut. Aku tak pernah memikirkan benda-benda langit dengan sesentimentil itu. Ibuku masih belum berhenti bercerita, dia kembali berkata, “Sama seperti hujan yang turun sore tadi, jika kamu menunggu sebentar maka kamu akan lihat pelangi yang indah sehabis hujan turun. Apa kamu tahu kenapa pelangi itu sangat indah? Karena ia muncul dengan aneka warna di atas langit yang berwarna kelam kelabu. Bulan di langit malam dan pelangi sehabis hujan itu sama seperti kehidupan kita, Nak.”

Aku tak menanggapi ucapan-ucapan ibu. Aku tertegun, lalu teringat akan hal-hal yang membuatku sedih: perasaan gagalku. Saat kurenungkan lebih dalam, sebenarnya kegagalan yang kualami adalah hal alami yang terjadi dalam hidup. Yang namanya hidup pastilah ada kegagalan. Jika tidak pernah gagal maka aku tidak akan pernah maju. Lagipula, Tuhan sendiri pun telah berjanji bahwa sekalipun kita mengalami kegagalan atau hal-hal berat dalam hidup, Dia tidak akan meninggalkan kita. Tuhan selalu ada untuk menolong dan menopang kita agar kita selalu bangkit bersama-Nya (Mazmur 37:23-24).

Percakapan dengan ibuku pelan-pelan melembutkan hatiku dan menggantikan awan kelam dalam pikiranku dengan seberkas cahaya. Kegagalan dan kesulitan sering terasa seperti penderitaan yang tidak akan ada habisnya. Kehadirannya pun ibarat hujan lebat yang tak peduli akan turun di tanah mana. Namun, hujan tak selamanya turun. Ada waktunya untuk berhenti. Ada pelangi sehabis hujan, seperti lirik lagu yang tak asing kita dengar: seperti pelangi sehabis hujan, itulah janji setia-Mu Tuhan. Kadang memang dibutuhkan ‘kegelapan’ ataupun ‘badai’ agar kita bisa bersinar dan melihat pelangi.

Nilai-nilai yang kuraih bukanlah acuan untuk menunjukkan bahwa aku seorang yang pintar atau tidak, juga bukan penentu mutlak akan kesuksesanku di masa depan. Namun, bukan berarti itu semua tidak penting dan kita bisa menjalani studi asal-asalan. Prestasi akademik adalah buah dari perjuangan kita dan seharusnya kita bangga dan bersyukur apabila kita berjuang dengan sungguh-sungguh, bukannya kecil hati dan mengerdilkan segala usaha kita.

Sifat rajinku juga mungkin kepintaran yang orang-orang lain sering sematkan padaku adalah anugerah dari Tuhan yang seharusnya tidak membuatku tinggi hati dan menganggap rendah orang lain atau mengharapkan mereka memperoleh hasil yang lebih jelek dariku.

Kegagalan dan perenunganku menatap benda-benda langit malam itu membukakan wawasan imanku yang baru sekaligus meneguhkanku bahwa segala kelebihan dan kekuranganku adalah hal baik yang Tuhan berikan dalam hidupku dan aku dipanggil-Nya untuk memberitakan Injil, menyebarkan berkat Tuhan bagi orang lain dalam hidup sehari-hari.

Meskipun prestasi akademikku tidak sesuai harapanku, ini bukanlah akhir hidupku. Aku dapat belajar lebih rendah hati menerimanya sembari melakukan evaluasi diri untuk memperbaiki apa yang salah dalam diriku. Meraih nilai terbaik akan kulakukan bukan sebagai ajang untuk pamer atau memenuhi ambisi diriku semata, tetapi sebagai wujud syukurku memaksimalkan kesempatan studi yang Tuhan izinkan buatku.

Dalam sukses ataupun gagal, Tuhan senantiasa menolong dan menyertai kita. Kita tidak sendirian, kita selalu bisa memilih untuk bangkit bersama Tuhan.

Ketika Pekerjaanku Menjadi Tempat Tuhan Memproses Hidupku (Bagian 2)

Oleh Cana

“Wah, setelah 3 tahun tidak bekerja akhirnya aku dapat pekerjaan! Aku senang kegirangan karena namaku muncul di pengumuman final CPNS 2021.”

Sekitar tahun 2019, tepat tiga tahun yang lalu aku menulis artikel pertamaku di WarungSaTeKaMu dengan judul “Ketika Pekerjaanku Menjadi Tempat Tuhan Memproses Hidupku”. Jika menengok di masa itu, sungguh sulit untuk menerima semua hal yang tak sesuai harapan. Aku yang saat itu bekerja di sebuah universitas swasta ternama terpaksa tidak bisa mengajar hingga akhirnya bekerja dengan posisi staf administrasi. Aku sungguh merasa tertolak dan sempat berpikir mengakhiri hidup. Setahun kemudian, kontrak kerjaku pun tak dilanjutkan oleh pihak kampus. Aku pengangguran dan tak terasa tiga tahun sudah aku tidak bekerja pada suatu instansi atau lembaga (meskipun sekarang aku telah jadi ibu rumah tangga). Selama itu juga aku terus bergumul dan merenungkan apakah Tuhan akan memberikan kesempatan lagi untuk dapat bekerja? Dan apakah aku memang dipanggil bekerja sebagai dosen?

Melalui pengalaman sebelumnya yang sungguh sangat tidak mudah dilewati, Tuhan mengajariku tentang nilai diri yang sejati dan sebuah sikap rendah hati. Dengan latar belakang pendidikanku dan segala pencapaian yang telah aku peroleh, aku merasa sangat bernilai dan berharga. Bahkan saat diterima di universitas ternama ini aku merasa sangat bangga dengan diriku… namun Tuhan sungguh baik karena Dia memproses dan mengajariku bahwa nilai diriku tidaklah ditentukan dari pekerjaanku.

Perjalanan karierku mengharuskanku mengalami jatuh bangun dan penuh dengan air mata. Namun, dari sinilah aku belajar bahwa nilai diri yang sejati tidak seharusnya dilekatkan pada sebuah prestasi atau posisi. Sebelumnya, pekerjaan bagiku adalah sebuah prestasi dan pencapaian. Jika aku memiliki posisi di pekerjaan yang bagus maka aku merasa berharga, bernilai dan berguna. Akan tetapi, jika tidak maka sebaliknya—aku akan merasa tertolak. Melalui proses itu, aku belajar bahwa pekerjaan seharusnya dipandang sebagai sebuah “kendaraan” untuk membantu kita sampai ke tujuan yaitu melakukan visi atau panggilan-Nya bagi kita.

Aku pun akhirnya mengerti bahwa pekerjaan seharusnya bisa dipandang sebagai sebuah anugerah (pemberian dari Tuhan) sehingga aku tak perlu merasa minder atau super. Minder karena merasa tidak mampu dan tak layak mendapatkan pekerjaan ini atau super karena merasa sangat mampu dan arogan. Status pekerjaan nyatanya adalah sebuah kondisi yang bisa sangat mudah berubah dan dinamis. Mungkin karena pergantian atasan atau kondisi pandemi seperti sekarang ini. Jadi sudah selayaknya kita tidak melekatkan nilai diri kita padanya.

Setelah lama tidak bekerja, aku memberanikan diri untuk melamar sebagai dosen CPNS 2021. Tahapan dan seleksi demi seleksi kulalui. Tentu masih diwarnai dengan perasaan yang pesimis dan tak berani berharap banyak. Namun aku mencoba untuk berusaha semaksimal mungkin menggunakan waktu yang ada untuk belajar dan berserah pada-Nya. Pengumuman final pun keluar dan namaku adalah salah satu yang muncul.

Sungguh aku merasa terkejut, tak percaya, bingung, bersyukur dan senang. Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya bisa menjadi salah satu peserta yang diterima di seleksi CPNS kali ini. Mengingat sudah tiga kali aku mencoba tes CPNS, namun berakhir gagal. Namun, kali ini aku diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk memiliki “kendaraan” agar bisa berjalan menuju panggilan-Nya bagiku—untuk mengajar orang lain, menanamkan nilai-nilai kehidupan yang sejalan dengan firman-Nya bagi peserta didik. Dengan pekerjaan di tempat baru ini pun, aku ingin terus belajar pada-Nya tentang nilai diri yang sejati dan rendah hati. Dan seperti yang dikatakan dalam firman-Nya “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29).

Ujian Piano Bersama Tuhan

Oleh Aretha Nathania, Surabaya

Sudah jam enam pagi, aku masih tertidur pulas di bantalku yang empuk dan merasa malas untuk bangun dari tempat tidur. Papaku membangunkanku dengan melepas sprei dan menutupinya di seluruh badanku seperti aku sedang dikubur. Namun, aku masih juga belum berniat bangun. Papa pun berteriak, “Ayoo bangun, udah jam berapa ini, Tatataaa”. Suara papa membuatku sungguh jengkel dan terganggu.

“Apa sih… masih ngantuk jangan teriak-teriak, dong!” kataku dengan kesal.

“Udah jam berapa ini! Mau les piano, tidak?” Papa balik bertanya.

“Iya…iya… sabarrr,” jawabku sambil memaksa diri untuk bangun.
Sebelum beranjak dari kasur, aku tidak lupa untuk berdoa kepada Tuhan karena telah memberikanku perlindungan semalaman aku tidur.

Dengan rambut yang kusut dan wajah yang masih malas, aku bergegas lari ke bawah untuk sarapan sebentar kemudian mengambil tas untuk les piano. Aku masuk ke dalam mobil dan papaku mengantarku ke tempat les. Di sela-sela perjalanan, aku selalu meminta papa untuk memutarkan satu atau dua lagu. Terkadang, aku tidak bisa mendengarkan musik karena radio di mobilku rusak dan mengeluarkan bunyi bising. Jika aku bosan di mobil, maka aku memandang pemandangan di luar. Tempat lesku adalah tempat tinggal guruku. Lokasinya berada tidak jauh dari rumahku sekitar 5,3 km perjalanan.

Sesampainya di tempat les, aku disambut oleh guruku. Dia bertanya, “Tadi sudah latihan belum di rumah?”

“Hehe…uhh belum sih, miss, soalnya sibuk ada banyak tugas sekolah jadi tidak sempat”, kataku sambil tertawa kecil.

Guruku sambil tertawa menjawab, “Ya udah, ayo latihan coba dulu, miss mau dengar.”

Aku memberikan usahaku sepenuhnya untuk memainkan lagu yang akan diujikan di ujian piano beberapa minggu lagi, judul lagunya adalah Swan Lake. Lagu ini cukup panjang, sekitar dua lembar. Untungnya, aku sudah menguasai lagu tersebut sejak awal persiapan sehingga penampilanku bisa lebih matang.

Guruku merespons, “Sudah bagus, cuma coba kamu mainkan temponya dari kecil ke keras gitu ya.”

”Haruskah temponya diperbaiki miss? Toh ya, tempo yang kumainkan sudah betul,” kataku dengan yakin.

“Mau menang apa tidak nanti ujiannya? Nicho loh udah bisa, jangan mau kalah.” Nicho adalah saudaraku yang satu les denganku.

Aku berkata, “Huhh…baiklah, miss.”

Selang beberapa menit ke depan, aku memainkan lagu tersebut berulang-ulang sampai aku mahir. Seiring waktu, aku menunjukkan kemajuan dalam lagu yang kumainkan.

Sudah satu jam aku latihan dan sudah waktunya papa menjemputku. Selama menunggu, aku duduk di sofa depan pintu rumah guruku dan berbincang dengannya.

“Miss?” tanyaku.

“Apa, Ta?”

“Kenapa sih setiap aku latihan tetap tidak bisa mahir sedangkan orang lain bisa memainkannya dengan mahir dengan hanya latihan beberapa hari saja?” tanyaku heran.

“Ya, gapapa. Semua orang kan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jangan disamakan, Ta. Kamu kan juga pintar dan sudah lebih bisa mainnya”, jawab guruku.

Hampir, aku tidak percaya dengan kata-kata guruku yang berkata “kamu kan juga pintar”. Aku merasa kenyataannya tidaklah begitu.

Beberapa hari di rumah, aku latihan berkali-kali. Karena latihanku yang sangat keras, aku sampai tidak berselera untuk makan dan aku sering melamun meragukan kemampuan musikku. Aku tidak bisa tidur beberapa malam dan kadang aku bermimpi buruk. Bahkan, saat tidurku aku berusaha menghafal lagi lagu yang kumainkan.

Setiap latihan, aku sering menangis karena tidak bisa memainkannya tanpa ada kesalahan sedangkan saudaraku bisa bermain dengan baik dengan hanya latihan beberapa minggu. Hal tersebut membuat aku tambah depresi sampai suatu saat aku mendobrak pintu kamar dan melempar beberapa barang karena tidak bisa memberikan penampilan terbaikku kepada orang tuaku.

“Mengapa aku tidak bisa bermain dengan sempurna untuk satu hari saja?!”, teriakku dengan nada tinggi.

Aku jatuh di lantai dan menangis sekeras-kerasnya tapi orangtuaku tidak mengetahui jika aku menangis. Mereka memang tidak suka kalau melihat aku bersikap cengeng dan menangisi hal kecil. Namun, bagiku ini bukan hal kecil, ini adalah hal besar yang benar-benar harus aku hadapi. Waktu sudah berjalan, tidak lama lagi ujian online piano akan dimulai. Aku harus benar-benar siap. Aku menguatkan diriku dan segera bangkit dari lantai dan mengulangi latihanku. Tiap hari, aku mendapatkan komentar dari guru pianoku tentang nada yang terlalu tinggi atau rendah, tempo yang kurang pelan atau cepat, dan sebagainya. Namun, aku mengambil komentar itu sebagai motivasi dan pelajaran sehingga dapat meningkatkan penampilanku saat ujian piano nanti.

Ketika hari ujian online piano tiba, banyak tantangan yang aku temui seperti menyempurnakan tempo, penampilan, nada, irama, gestur badan yang harus tegak saat bermain, dan emosi yang dituangkan saat bermain, serta yang menurutku paling penting adalah fokus. Tapi, puji Tuhan! Aku berhasil menaklukkan itu semua. Dengan pertolongan Tuhan yang memampukanku untuk bekerja keras dan latihan yang tak kenal lelah, aku berhasil mendapatkan juara 3 (DISTINCTION) dalam ujian piano.

Orang tua dan guruku sangat bangga kepadaku dengan pencapaian yang kuraih. Saat aku menaruh piala musikku di dalam lemari kamarku, aku berkata kepada diri sendiri “You made it, thank you for not giving up on yourself.”

Hal yang aku pelajari dari pencapaianku adalah aku selalu mempunyai harapan di dalam Tuhan, dan Tuhan selalu menyatakan kasih dan anugerah-Nya padaku. Mungkin Dia tidak memberiku talenta sebanyak orang lain atau kemampuan untuk bisa melakukan sesuatu secara otodidak, tapi Dia mengajarkanku arti dari kerja keras dan ketekunan.

Aku ingat saat renungan di kelas, guruku membaca sebuah ayat Alkitab yang diambil dalam Amsal 6:6-8 yang berkata demikian, “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.”

Ayat Alkitab ini mengajarkan bahwa kemalasan tidak akan membuahkan hasil apapun, tetapi ketekunan akan membawa keberuntungan bagi kita.

*Aretha Nathania merupakan siswi SMP di salah satu sekolah di Surabaya. Ini adalah tulisan pertamanya.

Beriman Sedalam Lirik Lagu “Tersembunyi Ujung Jalan”

Oleh Abyasat Tandirura, Toraja

Di bawah terik matahari yang menyengat, aku berlari-lari kecil memasuki halaman lokasi tes di kantor regional BKN pada 27 September 2021 yang lalu.

Seperti ayunan langkahku, aku pun sedang berlari-lari pada sebuah mimpi dan harapanku untuk menjadi seorang abdi negara kelak melalui Sistem Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara tahun anggaran 2021.

Aku masih ingat betapa bersemangatnya aku untuk mengikuti perhelatan akbar skala nasional tersebut. Melewati serangkaian proses yang tidak mudah, semangatku tidak berkurang. Aku sungguh antusias mempersiapkan sejumlah berkas hingga sukses submit pada tahap pendaftaran. Bahkan, aku masih menyempatkan waktu membantu kawan-kawanku yang kesulitan dalam proses pendaftaran.

Aku sungguh bersyukur, sebab setelah tiga kali mendaftar pada tahun yang berbeda, barulah tahun ini aku dinyatakan lolos seleksi administrasi oleh Panselnas SSCASN 2021. Dengan demikian, aku berhak melanjutkan langkah juangku ke tahap seleksi kemampuan dasar.

Kuakui, berjuang untuk menjadi seorang abdi negara tidaklah semudah membalik telapak tangan. Bagiku, tidak cukup hanya memiliki pengetahuan yang mumpuni tetapi juga yang paling perlu dimiliki adalah keteguhan iman.

Mengapa aku menyebut keteguhan iman? Sebab dengan iman, kita dimampukan untuk sungguh-sungguh berjuang dengan baik pada jalur yang benar. Melalui iman kita didorong untuk berserah penuh kepada Tuhan, bahwa berhasil atau gagal dalam perjuangan, Tuhanlah yang menetapkan rancangan terbaik bagi kita. Dengan teguh beriman dalam setiap perjuangan akan menolong kita sebagai orang percaya tetap berpengharapan pada segala sesuatu yang masih misteri dan tersembunyi bagi kita.

Hal itu senada dengan sebuah nas yang berkata:

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1).

Berangkat dari pemahamanku itu, aku pun melandasi perjuanganku dengan keteguhan iman dan harapan bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagiku. Aku melakukan sejumlah persiapan menghadapi tes seperti belajar mandiri, latihan soal-soal, hingga mengikuti tryout online yang diselenggarakan oleh lembaga bimbingan terkait.

***

Betapa Tuhan sangat baik bagiku. Ia telah membuka pintu bagiku sehingga aku dapat berjuang mewujudkan mimpiku. Namun, apa yang kuharapkan tidak seperti yang terjadi. Sesaat setelah durasi waktu tes selesai, mataku tak berkedip sekian detik menatap nilai tesku yang terpampang di layar laptop. Hasil tersebut menunjukkan kalau aku gagal memenuhi passing grade sebagaimana yang telah ditetapkan dalam keputusan menteri PANRB nomor 1023 tahun 2021.

Saat hendak meninggalkan lokasi tes aku duduk sejenak merenung-renung. Aku yang antusias berjuang dan bersemangat mengerjakan 110 soal di ruang CAT dengan durasi waktu 100 menit, demi mempertaruhkan harapan dari orang tuaku, keluargaku dan teman-temanku untuk lolos, kini tinggal kenangan belaka.

Harapan yang ditumpukan ke atas pundakku runtuh seketika. Tulang-tulangku lemas tak berdaya, hatiku remuk redam mengingat hasil perjuanganku itu. Akan tetapi, di saat itulah lagu “Tersembunyi Ujung Jalan” berkumandang dari relung hatiku yang terdalam. Bahagia merekah menghangatkan kembali hatiku yang dingin.

“Ya, aku memang gagal sebagai pejuang NIP, tapi aku lega sudah berjuang dengan baik pada jalur yang benar, dan melewati sejumlah tahap-tahap sesuai prosedur,’’ kataku menguatkan hatiku.

Pengumuman resmi hasil SKD 13 November 2021 kemarin, mengesahkan kegagalanku. Dengan demikian, secara otomatis langkah juangku untuk menjadi calon ASN terhenti seketika. Aku tidak berhak lagi mengikuti tes kompetensi bidang.

Kegagalan ini bukanlah kegagalan pertama dalam perjalanan hidupku sejauh ini. Di tahun-tahun hidupku yang sudah berlalu, aku pun telah mengecap pahit getirnya kegagalan, seperti yang pernah kutuliskan 4 tahun silam di website ini.

Meskipun kegagalan kerap menghampiriku, aku tetap yakin sepenuhnya bahwa Tuhan tidaklah gagal mengantarku pada rencana-Nya yang terbaik bagi masa depanku, sebagaimana janji-Nya bagiku yakni rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan (Yeremia 29:11).

Aku sadar, ternyata kegagalan yang telah kulewati sebelumnya kini membuatku kuat dan teguh menghadapi kegagalan masa kini. Lebih dari itu, aku sungguh percaya dan meyakini bahwa di balik kegagalanku ini, Tuhan mempersiapkan sesuatu yang indah bagiku.

Seperti judul tulisanku ini “Beriman sedalam Lirik Lagu Tersembunyi Ujung Jalan”, sejujurnya lagu dari Kidung Jemaat 416 (bait 1) tersebut, tidak hanya sekadar mengiringi langkah-langkah juangku, tetapi juga saat tulisan ini kutulis, lagu ini pun telah menghiburku.

Walau aku belum tahu akan seperti apa kisah hidupku di masa menjelang pun masa depanku, dengan iman aku merenungkan dengan sungguh lirik-lirik lagu tersebut.

Tersembunyi ujung jalan
Hampir atau masih jauh
Ku dibimbing tangan Tuhan ke negeri yang tak kutahu
Bapa ajar aku ikut apa juga maksud-Mu
Tak bersangsi atau takut beriman tetap teguh

Dari lirik-lirik lagu tersebut, pada akhirnya aku menemukan satu hal ini bahwa kisah hidup kita adalah sebuah perjalanan yang tidak diketahui bagaimana ending-nya. Hal-hal yang kita cita-citakan dan harapkan masih tersembunyi di ujung penantian. Namun, kabar baiknya adalah: selagi kita tetap bersama Tuhan dengan iman yang teguh dalam setiap cita-cita dan harapan kita, maka semuanya akan baik-baik saja. Dan, sesungguhnya kisah hidup kita sepenuhnya ada dalam kendali Tuhan.

Sekalipun mata jasmani kita tidak mampu untuk melihat masa depan terbaik yang Tuhan rancangkan bagi aku dan kamu, biarlah mata rohani kita dipertajam oleh Roh Kudus untuk memandangnya dalam perspektif iman kita sebagai umat yang percaya kepada Yesus Kristus.

Seperti lirik-lirik lagu Tersembunyi Ujung Jalan, aku telah berjuang dengan peluh namun penantianku masih jauh ibarat ujung jalan yang masih tersembunyi bagiku. Akan tetapi, dengan iman yang teguh aku mau berkata “Tuhan, ke mana saja Engkau membawaku aku akan ikut serta, walau terkadang jalan-Mu tidaklah mudah. Dan, aku tahu bahwa sebuah rancangan-Mu pun jauh lebih baik dari seribu keinginanku.

Kini, hatiku melimpah dengan syukur mengetahui betapa penyertaan Tuhan sempurna bagiku melewati kisah perjuanganku itu. Sembari berdoa memohon kekuatan dan iman yang teguh agar tetap kuat melewati setiap kegagalan, teman-temanku dan keluargaku pun membantu memulihkan suasana hatiku dengan memberiku semangat. Aku pun mendapat kekuatan yang baru. semangat dari dalam diriku tumbuh kembali, sehingga aku tetap bekerja seperti sedia kala.

Kepada semua teman-temanku yang juga mengalami hal serupa denganku, janganlah berputus asa. Mintalah Roh Kudus menguatkan hatimu dan meneguhkan imanmu agar kamu bisa melihat dengan mata iman bahwa sesungguhnya di ujung penantian kita, telah tersedia masa depan yang penuh harapan, terlebih pada sebuah janji hidup kekal bersama-Nya kelak (I Yohanes 2 : 25 )

Selamat berjuang dengan penuh iman kepada kawan–kawan yang berhasil melaju ke tahap tes kompetensi bidang, Tuhan Yesus menyertai perjuanganmu dan semoga kelak menjadi saksi atas kebaikanNya bagi hidupmu.

Terpujilah Kristus.

Berhasil atau Gagal, Ingatlah Bahwa Tuhanlah yang Menulis Cerita Hidupmu

Oleh Aryanto Wijaya

Kemarin (14/6), ungkapan bahagia muncul di beberapa Instagram story teman-temanku. Mereka lolos seleksi masuk perguruan tinggi. Tak ketinggalan, sekolah yang menjadi almamaterku juga membuat postingan yang berisi ucapan selamat atas siswa-siswinya yang berhasil menembus seleksi akbar tersebut.

Tatkala teman-teman yang berhasil menumpahkan haru bahagianya, ada pula teman-teman yang gagal dalam seleksi tersebut. Beberapa sanggup berlapang dada, tapi beberapa lainnya kecewa dan memilih untuk menyembunyikan diri untuk sejenak.

Euforia yang bercampur aduk dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri—was-was, takut, kecewa, senang, atau sedih—juga pernah kualami ketika aku jadi siswa SMA. Aku yang belajar di sekolah swasta pernah punya semangat membara untuk masuk ke perguruan tinggi negeri favorit. Semangat itu mewujud dalam upaya belajar pantang lelah, ikut bimbel yang konon katanya menambah peluang bisa diterima, dan lain-lainnya. Tapi, jalan hidupku pada akhirnya tidak mengantarku studi ke kampus negeri yang kudambakan. Aku kuliah di kampus swasta dan bekerja pula di sektor swasta sampai detik ini.

Namun, hal yang menarik dari impian yang gagal terwujud itu ialah, jalan hidup kita terlalu panjang untuk didefinisikan hanya oleh satu pertandingan. Bayangkanlah kamu diberi Tuhan usia selama 70 tahun. Apakah perjalanan hidup di seluruh usia tersebut suram hanya karena kegagalan di satu babak pada usia 18 tahun? Jika 70 dikurangi 18, maka ada sisa waktu sepanjang 52 tahun, waktu yang panjang untuk kita isi dengan banyak hal yang berarti.

Ada satu kisah menarik dari Alkitab yang pesannya tetap bergema dan relevan bagi kita di masa kini, meskipun memang kisah ini tidak bicara spesifik tentang gagal ujian masuk kuliah karena toh pada zaman Alkitab belum ada institusi perguruan tinggi.

Kita ingat dengan kisah Yusuf yang hidupnya dipenuhi kemalangan karena rasa iri hati saudara-saudaranya. Yusuf dilemparkan ke dalam sumur dan dijual kepada orang Mesir. Seorang anak yang paling disayang oleh ayahnya dipisahkan secara paksa. Jika kita membayangkan ada di posisi Yusuf, sangatlah pedih tentu hati ini. Bertahun-tahun setelah terusir dari keluarganya sendiri, Yusuf bekerja di rumah Potifar lalu dijebloskan ke penjara karena menolak ajakan bersetubuh dari istri sang tuan rumah. Dari kacamata manusia, kita melihat ini sebagai kemalangan yang bertubi-tubi bagi Yusuf.

Namun, ada hal yang menarik yang bisa kita cermati. Kejadian 39:21 menulis demikian:

“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya…”

Kalimat “Tuhan menyertai” ini muncul di tengah kemalangan berat yang Yusuf hadapi. Tak hanya tertulis satu kali, pada ayat-ayat lainnya (Kej 39 ayat 2, 21, 23) juga tertulis demikian.

Hidup di dunia ini menawarkan kejutan demi kejutan, termasuk kegagalan, jadi anggaplah sebagai keindahan hidup yang harus kita nikmati ketika kita menghadapi kegagalan. Dengan begitu hidup menjadi tidak membosankan, kita tidak harus seperti robot yang harus selalu sesuai dengan rencana yang ditetapkan.

Bukankah hanya orang mati yang tidak akan pernah gagal? Karena ia tidak mencoba untuk melakukan apapun dan tidak menjadi apapun. Jadi kalau kita berkeinginan untuk tidak pernah gagal, kita sama saja dengan orang mati. Oleh karena itu, kegagalan yang kita alami hari ini sesederhana menunjukkan bahwa kita sedang berproses dalam hidup.

Ketika kegagalan menghadang, kita mungkin berpikir bahwa itu dihadirkan Allah sebagai hukuman atas perbuatan kita. Tetapi, bukan soal hukuman atau tidak yang seharusnya kita pusingkan, karena kita tahu bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8), dan segala sesuatu diizinkan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya (Roma 8:28).

Tidak masalah apabila ada di antara kita yang ingin meluangkan waktu-waktunya sejenak untuk meratap dan kecewa atas kegagalan masuk di perguruan tinggi negeri, tetapi kembalilah tenang dan ingat bahwa dalam gagal atau berhasil, Tuhanlah yang menulis cerita hidup kita.

Gagal dalam masuk perguruan tinggi tidak mutlak karena kita kurang berusaha atau bodoh, karena perguruan tinggi negeri diminati oleh ratusan ribu hingga jutaan siswa, sedangkan kuota yang tersedia tidak sepadan dengan tingginya peminat. Alhasil, tentu ada orang-orang yang harus tersingkir dari kompetisi ini.

Janganlah kiranya kamu berkecil hati dan padam semangatmu. Kegagalan adalah bagian yang tak terelakkan dalam kehidupan. Cepat atau lambat, sengaja atau tidak, hidup akan mengantar kita untuk menjumpai kegagalan dalam aneka bentuk yang lain. Tetapi, sekali lagi, ingatlah bahwa dalam berhasil atau gagal, Tuhanlah yang menulis cerita hidup kita.

Teruntuk teman-teman yang gagal, damai dan ketenangan dari Tuhan kiranya mendekapmu dengan hangat agar esok kamu bisa bangkit kembali dan menikmati perjalananmu bersama Tuhan, sang penulis hidup.

Baca Juga:

Lebar atau Sempit: Mana yang Kau Pilih?

Jalan lebar dan sempit sering dianalogikan sebagai dua sikap dalam mengikut Yesus. Ketika kita harus memilih salah satu dari dua jalan ini, apa sih yang seharusnya kita ketahui dari keduanya?

2 Cara untuk Berhenti Membanding-bandingkan Diri Sendiri

Oleh Sherrill Wesley
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How To Avoid The Comparison Game

Pernahkah kamu terjebak dalam perangkap suka membanding-bandingkan? Aku pernah, bahkan sering.

Seiring aku tumbuh dewasa, aku sering dibandingkan dengan saudari kembarku. Meski kami tidak kembar identik, tapi penampilan, karakter, talenta, dan jalan hidup yang kami pilih sering menjadi bahan perbandingan bagi orang lain. Pertanyaan yang diajukan buatku biasanya diakhiri dengan, “Terus, saudari kembarmu gimana?”

Mungkin kamu merasa tidak ada salahnya dong orang kembar itu dibanding-bandingkan? Untungnya, komentar ini dilontarkan oleh teman dan kerabatku yang baik yang memang tidak memengaruhiku secara negatif. Oleh anugerah Allah dan karena kedekatanku dengan saudariku, mereka mengajariku untuk mengenali sifat dan bakat positif saudariku sendiri, juga untuk menyemangatinya.

Tapi beberapa tahun lalu, aku dibanding-bandingkan pada hal lain yang tidak memberiku pengaruh positif. Aku sudah lulus kuliah tapi aku belum mendapat pekerjaan, jauh dari target yang kuatur untuk diriku sendiri. Seiring kekhawatiranku akan masa depan bertambah, aku mulai membandingkan situasiku dengan teman-teman sebayaku. Kapan Tuhan menjawab doaku untukku mendapat kerja dan mampu mengurangi kekecewaan dalam diriku sendiri?

Saat aku menanti jawaban Tuhan, aku merenungkan bacaan dari Yohanes 21:15-25. Setelah Yesus menubuatkan cara kematian Petrus dan memintanya untuk mengikut Dia, Petrus menyadari ada satu murid lain, Yohanes, yang sedang berjalan di belakang mereka. Petrus lantas bertanya pada Yesus, “Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?” (ayat 21). Jawaban Yesus mengejutkanku, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.” (ayat 22)

Itu bukan urusanmu.

Ouch….

Aku merasa Yesus mengatakan itu buatku sebagai jawaban atas perbandingan yang menjadi pergumulanku. Dan aku tidak tahu menjawab apa. Perkataan itu tidak terduga, tapi menunjukkan kasih yang kuat dari Bapa. Yesus tahu inilah saatku untuk menjinakkan pikiranku sendiri dan berhenti berkubang mengasihani diri.

Terdengar kasar, tapi Yesus ingin Petrus melihat bahwa apa yang kelak terjadi pada Yohanes tidak relevan dengan panggilan Petrus. Dalam pikiranku, aku merasa Tuhan bertanya, “Sherril, kamu harus fokus memenuhi tujuanmu dengan mengarahkan pandanganmu kepada-Ku. Apa urusannya buatmu tentang orang-orang lain yang memenuhi panggilan hidup mereka?”

1. Stop berpikir bahwa Allah pilih kasih

Saat aku memikirkan kata-kata di atas, aku pelan-pelan sadar kalau rasa tidak puasku datang dari kepercayaanku yang salah, bahwa Tuhan lebih mengasihi orang lain daripada aku. Aku rasa kasih dan berkat yang Tuhan berikan itu ada jatahnya. Dan, karena Tuhan menolong orang lain menghidupi panggilan hidup mereka, Dia mungkin tidak punya waktu untuk menolongku. Rasanya lucu bagaimana pikiranku salah menafsirkan keadaanku dan malah membuatku percaya pemahaman-pemahaman tidak berdasar yang jelas-jelas bukan dari Tuhan.

Kenyataannya, kapasitas Allah untuk memberkati anak-anak-Nya itu tidak terbatas. Roma 2:11 mengatakan Allah tidak pilih kasih. Allah punya kasih dan perhatian yang cukup untuk diberikan kepada semua anak-Nya. Tak peduli seberapa kuat aku mencoba, aku takkan pernah bisa memahami betapa luas, lebar, panjang, dan dalam-Nya kasih Allah buatku (Efesus 3:18).

Ketika aku memandang pada apa yang temanku punya dan apa yang tidak kupunya, aku gagal melihat bagaimana Allah mencurahkan kasih-Nya buatku. Ketika aku menyamakan panggilan hidupku dengan pekerjaan yang sempurna yang sesuai dengan mauku, aku membatasi tujuan Tuhan dengan keinginanku sendiri. Aku menjadi buta akan cara Yesus membentuk tujuan mulia-Nya dalam hidupku.

Aku belajar untuk menata langkahku dan menghidupi hari-hariku. Di beberapa hari aku fokus menyiapkan pelajaran sekolah minggu di gerejaku. Di hari-hari lain, aku menolong pekerjaan orang tuaku, atau meluangkan waktuku dengan duduk di kaki Yesus dan mendapat penguatan dari firman-Nya seiring aku bergumul dengan banyak penolakan kerja.

Kulakukan tanggung jawab yang Tuhan beri dengan sungguh-sungguh dan jujur, meskipun itu berbeda dari teman-temanku. Memang terasa sakit ketika rencana kita tidak berjalan, tetapi Allah tetap memegangku, dan aku memilih untuk tetap percaya kepada-Nya.

2. Buang jauh-jauh “seandainya saja..”

Di hari-hari ketika segalanya terasa sulit, aku merenung dan menyelidiki keputusan-keputusan yang kuambil di masa lalu. Seandainya….seandainya dulu aku nggak begitu.

Keraguan dan segudang pertanyaan mendadak muncul ketika aku melamun tentang “seandainya saja”. Ketika mataku berfokus pada apa yang aku tidak punya dan ‘seandainya’, aku dengan cepat bisa terjerumus dalam kepahitan dan frustrasi. Namun, ada satu himne yang judulnya “Pandanglah pada Yesus” mengingatkanku untuk tidak terpana pada dunia ini.

Turn your eyes upon Jesus
Look full in His wonderful face
And the things of earth will grow strangely dim
In the light of His glory and grace

Pandanglah pada Yesus
Pandang wajah-Nya mulia
Isi dunia menjadi redup
Di dalam terang kemuliaan-Nya
(diterjemahkan secara bebas)

Semakin aku memandang pada Yesus, hikmat dan kebijaksanaan-Nya menggiringku untuk melihat apa yang benar-benar penting. Kepercayaan diri kita tidak datang dari pencapaian diri atau pengakuan orang lain, karena akan selalu ada orang yang tampak lebih baik dari kita. Kepercayaan diri kita datang dari mengetahui Siapa yang memegang kendali dan Siapa yang memiliki kita.

Allah tidak pernah berubah. Kebaikan-Nya bagi kita selalu tetap. Inilah kebenaran yang memberi kita sukacita dan kedamaian yang tidak dipengaruhi oleh keadaan, dan membebaskan kita dari tekanan untuk selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Tidak peduli di tahapan manakah hidup kita berada sekarang, akan selalu ada keadaan yang mengaburkan fokus kita—tapi aku telah belajar untuk menetapkan pandanganku pada Allah, penulis dan penyempurna imanku (Ibrani 12:2). Kebenaran inilah yang menolongku untuk tetap berjalan pada jalurku, mengingat betapa dalamnya kasih Allah buatku, dan menjauhkanku dari rasa iri, kepahitan, marah, dan mengasihani diriku sendiri.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

3 Cara Tetap Setia Ketika Hidup Terasa Jalan di Tempat

Memilih setia ketika Allah seolah membiarkan hidup kita tidak berprogress bukanlah perkara yang mudah. Tetapi, dengan tetap bersama Allah, itu adalah pilihan terbaik yang bisa kita ambil.

Kemarin Aku Gagal, Hari Ini Aku Memilih Mengucap Syukur

Oleh Novita Melianti Manurung, Bangka Belitung

Sore itu aku duduk di teras rumah sambil memandang air hujan yang membasahi tanah dan hampir menggenangi seluruh halaman rumah. Aku suka dengan hujan, tetesan airnya mengingatkanku akan Tuhan—sang pencipta hujan itu sendiri—serta bagaimana berkat-Nya melimpah bagiku. Hari belum terlalu sore sebenarnya, tapi karena hujan yang amat lebat dan pekatnya awan, membuat hari seolah sudah malam.

Hari itu pula, sudah enam minggu lamanya aku di rumah saja. Hari-hariku membosankan. Tak banyak kegiatan kulakukan. Dalam lamunanku sore itu, aku ingat pada kegagalan beberapa bulan lalu. Memori akan kegagalan itu membuat bibirku mengucap syukur. Aku tahu tak ada satu pun yang terjadi secara kebetulan. Tuhan merencanakan semuanya dengan baik.

Tahun lalu, setelah aku lulus dari jurusan Tata Boga di salah satu universitas negeri di Medan, aku dan teman-teman Kelompok Tumbuh Bersama-ku (KTB) merintis usaha kuliner kecil-kecilan di Pulau Samosir, namun usaha kami cuma bertahan beberapa bulan saja. Awalnya kami menikmati prosesnya, tapi seiring waktu, pendapatan kami semakin menurun hingga kami pun kesulitan keuangan. Saat itu aku juga mengalami sakit yang sejak awal tahun 2019 semakin terasa. Aku sudah tiga kali ke klinik sebelum kami membuka usaha kuliner itu, namun belum ada kepastian mengenai penyakit apa yang sebenarnya aku derita.

Kami mencoba banyak cara supaya bisnis kami bisa bertahan karena modal besar sudah kami keluarkan. Kami coba buat menu baru yang menarik, lalu mempromosikannya ke orang-orang yang kami jumpai. Tapi, usaha itu tidak membuahkan hasil. Tabungan kami semakin menipis dan teman-temanku mulai pesimis untuk melanjutkan usaha ini. Ditambah lagi terjadi selisih paham dengan pemilik tempat yang kami sewa.

Mendengar kisah usahaku yang tak berhasil, orang tuaku menyuruhku untuk pulang saja ke kampung halaman supaya aku sekalian bisa berobat. Empat minggu kami bergumul, akhirnya aku dan teman-temanku sepakat menyudahi bisnis ini. Kami pulang ke Medan lalu berencana merintis usaha daring saja.

Tapi, lagi-lagi yang sudah kami rencanakan ternyata tak sesuai kenyataan. Usaha daring kami kembali terkendala saat kami mendaftarkan menu-menu.

“Sudah bagaimana prosesnya?” pertanyaan ini sering diajukan orang tua kami, tapi kami bingung mau menjawab apa. Berhari-hari kami menanti kepastian, tapi tak jelas pula.

Setiap hari di dalam doaku, aku bertanya apa sebenarnya yang Tuhan ingin kulakukan untuk aku kerjakan? Apa maksud dari semua ini? Jika dituliskan, ada banyak pertanyaanku kala itu. Namun aku tergerak untuk berdoa dan membaca Alkitab. Kutemukan satu ayat dari Amsal 23:18, “Karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang.”

Ketika memutuskan pulang kampung dan menceritakan kegagalan ini ke orang tua, rasanya aku tak siap. Tapi, kuingat bahwa di balik kegagalan itu, Tuhan tetap memeliharaku. Kebutuhanku dicukupkan-Nya. Orang tuaku pun ternyata tidak marah, mereka malah memotivasiku. Masa-masa aku berdiam di kampung dipakai-Nya menjadi kesempatan untukku berobat. Puji Tuhan sekarang kesehatanku sudah mulai pulih.

Karena kesehatanku mulai membaik, aku pergi ke rumah kakak pertamaku di Bangka Belitung. Seminggu setelah aku tiba di sini, pandemi virus corona dinyatakan telah masuk ke Indonesia.

Memang sampai saat ini aku belum mendapatkan pekerjaan atau merintis usaha baru lagi. Namun aku bersyukur karena masa-masa ini bisa kugunakan untuk melayani kakakku yang saat ini sedang mengandung anak pertamanya.

Meski di awal usahaku meniti karier pil terasa getir, tapi aku mau tetap membuka hatiku untuk mengecap kebaikan-Nya.

Teruntuk saudara-saudariku, di balik usaha dan rencana kita yang kandas, Tuhan tengah menyiapkan yang baik bagi kita. Tugas kita adalah menikmati perjalanan bersama-Nya, mengucap syukur, dan berserah.

Baca Juga:

Aku Meninggalkan Pekerjaanku, Tetapi Tuhan Merancangkan Sesuatu yang Indah Bagiku

Aku pernah menghadapi dua pilihan yang membuatku bingung. Ketika aku sedang dalam proses pemulihan pasca operasi yang kujalani beberapa tahun silam, aku bergumul tentang pekerjaanku. Aku sulit memilih di antara dua pilihan.

Ketika Tuhan Seakan Mempermainkan Hidupku

Oleh Metty Kristine, Palu

Setiap orang tentulah mempunyai cita-cita, begitu pun denganku. Saat lulus kuliah, itulah momen yang paling aku tunggu. Sejak SMA, aku begitu menginginkan bekerja sebagai CS di sebuah bank. Bagiku, menjadi CS di bank itu mempunyai kebanggan tersendiri. Gaji yang besar, seragam yang bagus, kantor yang luas, teman-teman, dan relasi yang banyak adalah alasan yang ada di benakku saat itu untuk bekerja di bank. Cita-cita inilah yang selalu membuatku semangat untuk belajar.

Tapi yang terbaik menurut kita, belum tentu terbaik buat Tuhan. Aku sering berpikir, apakah Tuhan kurang mengasihiku? Apakah doa dan usahaku kurang? Kenapa orang lain terlihat begitu mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, sedangkan aku? Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul di dalam hatiku, ketika Tuhan mengizinkan kegagalan demi kegagalan terjadi dalam hidupku.

Memulai perjuangan

Hari itu, setelah mengurus semua kelengkapan berkas-berkasku, dengan semangat aku mengajukan lamaranku di bank-bank yang ada di kotaku. Bukan hanya di bank saja, aku juga memasukkan lamaranku di beberapa perusahaan besar. Setelah menunggu beberapa hari, sebuah perusahaan swasta yang lumayan besar memanggilku untuk wawancara. Dalam hati aku berkata “Tuhan, walaupun bukan di bank, di tempat ini juga tidak apa-apa kok”.

Setelah melewati proses demi proses, aku sampai di tahapan psikotes. Perasaanku campur aduk. Ini adalah kali pertama aku ikut psikotes. Namun, aku tetap mengikuti tes dengan tenang. Setelah menanti berhari-hari dan sampai berbulan-bulan, aku belum juga mendapat kepastian dari perusahaan tersebut. Sampai suatu saat, temanku yang kebetulan bekerja di perusahaan tersebut menberitahuku, bahwa posisi yang aku lamar sudah terisi.

Aku sangat kecewa dan sakit hati. Aku bertanya, “Tuhan, mengapa Kau tidak membantuku?”

Ini adalah kegagalan pertama yang aku alami ketika mencari pekerjaan. Namun, dari hal ini aku mengambil suatu pelajaran penting. Bahwa, sekalipun kita punya kenalan di suatu kantor, jika Tuhan tidak berkehendak kita berada di tempat tersebut, kita tetap akan gagal walaupun sudah berada hampir di tahap akhir saat tes.

Aku tidak menyerah. Beberapa minggu setelah itu, aku mendapat panggilan wawancara dari sebuah bank besar. Aku begitu semangat untuk mengikuti wawancara. Aku dinyatakan lulus menjadi pegawai di bank tersebut. Namun, saat akan tanda tangan kontrak, hatiku mulai ragu dengan pekerjaan ini. Aku malah ditawari menjadi marketing. Sebuah hal yang paling tidak aku sukai, karena aku tidak suka bekerja di lapangan dan merasa kalau aku tidak mempunyai keterampilan menjual produk dan mencari nasabah. Ditambah lagi saat itu aku belum bisa mengendarai motor. Dengan berat hati, aku membatalkan kontrak kerja tersebut.

Bulan berganti bulan, aku tetap semangat dan tidak berputus asa. Namun, suatu saat aku sampai di titik kejenuhanku. Saat itu aku sudah mulai lelah dan putus asa, begitu banyak lamaran yang aku sebar, baik yang di bank ataupun di perusahaan-perusahaan swasta lainnya. Tapi tidak satupun yang membuahkan hasil. Ada yang tidak memanggil sama sekali, bahkan ada yang putus sampai di tahap wawancara dan psikotes saja. Belum lagi adanya pertanyaan-pertanyaan orang di luar sana yang selalu bertanya, “sudah kerja dimana sekarang?” aku begitu benci dengan pertanyaan itu.

Saat aku merasa ada di titik terendah

Sudah hampir setahun berlalu. Saat-saat seperti ini, adalah saat yang paling menyakitkan. Saat di mana teman-teman seangkatanku sudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan aku merasa lebih sakit lagi, ketika membuka media sosial dan melihat beberapa temanku yang sudah bekerja di bank.

Perasaanku campur aduk saat itu. Aku begitu marah dan kecewa pada Tuhan. Aku menangis dan bertanya, “Tuhan, apakah Kau sudah tidak mengasihiku? Apakah saat ini Kau melihatku? Mengapa Kau begitu pilih-pilih kasih menolong orang? Apakah aku kurang berkenan sehingga Kau tidak menjawab doaku? Mengapa Kau belum memberikan aku pekerjaan?” Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang timbul di hatiku. Bahkan aku sempat meragukan kuasa Tuhan dalam hidupku. Saat itu aku merasa benar- benar berada dititik terendah dalam hidupku. Aku merasa menjadi orang yang tidak berguna. Aku begitu putus asa.

Namun Tuhan tetap baik dalam hidupku. Saat aku mengalami kegagalan demi kegagalan yang membuatku jatuh dan putus asa, saat itu Dia memberikanku seorang sahabat yang mengajakku untuk mencari kerja bersama-sama. Dia adalah sahabatku sejak di bangku SMP. Saat itu, aku hanya menganggapnya sebagai seseorang yang bernasib sama sepertiku. Namun lama kelamaan, Tuhan mulai membuka mataku. Sahabat yang yang Dia kirimkan untukku adalah seseorang yang selalu memberi motivasi dan semangat kepadaku. Bahkan aku berkali-kali mengatakan kepadanya, “Kalau tidak ada kamu, mungkin aku sudah menyerah mencari pekerjaan”.

Kami pun menjadi kawan yang saling mendoakan dan menguatkan satu sama lain. Bahkan yang paling aku syukuri, Tuhan memberikanku seorang sahabat yang selalu membuat suasana hangat dengan candaan dan tertawanya sekalipun kami berkali-kali gagal saat mencari pekerjaan bersama.

Saat keadaan yang terjadi tidak sesuai dengan keinginanmu

Suatu hari seorang teman yang bekerja di sebuah perusahaan swasta menawarkanku untuk bekerja di perusahaannya, namun di lokasi yang berbeda. Singkat cerita, aku diterima kerja di tempat itu. Hari pertama aku begitu semangat datang bekerja. Namun, kondisi tempat dan suasana kantor tersebut, tidak seperti yang aku bayangkan.

Aku selalu membayangkan bisa bekerja disebuah perusahaan besar, menggunakan pakaian yang rapi dan bagus, mempunyai disiplin waktu, serta mempunyai teman-teman yang banyak. Namun, keadaan yang aku dapatkan, berbeda dengan apa yang aku pikirkan. Tempat itu begitu sepi, dengan jam kerja yang tidak menentu dan semua hal yang aku bayangkan, tidak ada di tempat itu. Lagi-lagi, aku marah pada Tuhan dan kembali bertanya “Tuhan, mengapa Kau begitu jahat padaku?” Aku kembali menyalahkan Tuhan.

Setiap pulang kerja aku selalu menangis. Pikiranku sangat kacau. Aku ingin keluar dari tempat itu, tapi ketika berbicara dengan orang tuaku, mereka tidak mengizinkannya. Setiap hari aku berangkat kerja dengan berat hati. Bahkan nafsu makan dan timbanganku sampai turun. Akhirnya, aku mengambil keputusan sepihak untuk berhenti dari tempat itu setelah tiga hari bekerja. Dalam hati aku meminta maaf kepada Tuhan, karena sudah menyia-nyiakan kesempatan yang Dia berikan dan berharap supaya Tuhan berikan pekerjaan yang sesuai dengan yang aku harapkan.

Aku kembali bersemangat mencari pekerjaan baru, tapi kali ini aku sendirian. Sahabatku sudah lebih dulu mendapatkan pekerjaan. Empat bulan kemudian, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan swasta. Tempat itu besar dan mempunyai pegawai yang banyak. Dalam hati aku berkata, “Tuhan,, ini yang aku mau. Terima kasih Tuhan.”

Di hari pertamaku bekerja, aku begitu bersemangat. Namun, semangat itu mulai memudar saat mendapatkan suasana kantor yang tidak seperti aku harapkan. Aku mendapat rekan kerja yang sangat cuek denganku dan seakan tidak menerima diriku. Belum lagi orang-orang di dalam yang sangat cuek satu dengan yang lainnya. Tidak ada kehangatan di tempat itu, bahkan kehadiranku seakan tidak dianggap. Aku bekerja selama delapan hari dan karena ada sesuatu yang terjadi, aku keluar dari tempat itu. Di satu sisi aku merasa senang karena bisa keluar dari tempat itu. Tapi di sisi lain, aku merasa menjadi orang gagal yang tidak mempunyai masa depan. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Berdoa pun rasanya sia-sia. Toh selama ini Tuhan seakan membiarkan aku, pikirku.

Ketika Tuhan seakan tutup mata dengan kegagalanku

Beberapa minggu kemudian, aku mendapat email dari sebuah bank yang mengundangku untuk mengikuti tes. Aku kaget, karena aku sudah mengirimkan lamaran itu sebulan yang lalu. Aku pikir, mungkin ini saatnya Tuhan menjawab doaku. Aku begitu semangat mempersiapkan semua keperluanku untuk mengikuti tes. Semua tes aku lewati dengan lancar selama kurang lebih hampir 3 minggu. Sampai akhirnya aku sampai pada tahap wawancara akhir.

Aku berpikir, mungkin ini yang terakhir kalinya aku gagal dalam mencari pekerjaan. Mungkin ini jawaban Tuhan atas semua kegagalan aku selama ini. Malam itu aku begitu takut dan penasaran menunggu hasil tesku yang akan dikirim melalui email. Aku begitu berharap dengan pekerjaan ini. Sekitar jam 2 malam, aku terbangun dan langsung mengecek HP ku. Saat itu hatiku begitu sakit ketika melihat kiriman dari seorang teman di grup yang isinya screenshot hasil pengumuman yang dikirimkan pihak bank ke dia. Tidak ada namaku di daftar itu dan jelas aku tidak mendapat email dari pihak bank.

Aku langsung berlari ke toilet dan menangis sejadi-jadinya di tempat itu. Aku marah, kecewa dan sakit hati kepada Tuhan. Aku menangis dan dengan setengah nada aku berkata, “Tuhan, kenapa Kau begitu jahat? Mengapa Kau tega mempermainkan aku? Mengapa Kau biarkan aku seakan hampir berhasil, namun ujung-ujungnya malah kegagalan yang aku dapatkan?”

Malam itu aku hanya bisa menangis dan menyalahkan Tuhan. Aku merasa sudah tidak mempunyai masa depan dan harapan lagi. Namun, saat itu aku tiba-tiba teringat dengan sebuah ayat Alkitab dalam 1 Tes 5:18 “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah didalam Kristus Yesus bagi kamu”.

Saat itu aku seakan mendapat teguran dengan ayat ini dan Tuhan tiba-tiba berbicara lewat hatiku dan berkata “Ingat, rancanganku tidak pernah salah dan jangan salahkan Aku atas apa yang sudah terjadi dalam hidupmu”. Dalam keadaan hati yang sedang kacau, aku pun berlutut dan berdoa meminta ampun pada Tuhan karena sudah begitu banyak menyalahkan Tuhan saat-saat aku mengalami kegagalan.

Aku berusaha tegar dan semakin mencari tahu apa maunya Tuhan dalam hidupku. Aku berusaha menghibur diri dan menguatkan hati dengan mendengarkan lagu-lagu rohani dan khotbah-khotbah yang aku unduh. Saat-saat penantianku, aku selalu berdoa, bersyukur kepada Tuhan untuk segala hal yang Dia izinkan boleh aku alami dalam hidupku, bahkan untuk hal yang paling menyakitkan sekalipun. Aku berserah pada Tuhan dan membiarkan Tuhan ambil alih dalam hidupku serta menuntunku ke tempat yang Dia mau.

Saat itu aku hanya berpegang pada firman Tuhan dalam Amsal 23:18 “Karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang” dan Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan- rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”.

Jawaban Tuhan berbeda dengan yang kupikirkan

Sekitar dua minggu kemudian, teleponku tiba-tiba berbunyi. Aku mendapat panggilan telepon dari perusahaan yang sudah sejak sebulan lalu mewawancaraku. Manajer perusahaan tersebut memintaku untuk datang pada hari Senin. Aku datang dalam keadaan yang tidak bersemangat, karena jujur aku masih merasa trauma dengan kegagalan demi kegagalan yang aku alami sebelumnya. Dalam hati, aku berkata, “permainan apa lagi yang Tuhan sedang rencanakan untukku?” Aku begitu takut kalau Tuhan membuatku gagal lagi.

Aku melihat situasi kantor itu sangat berbeda dengan apa yang menjadi impianku dulu. Kantor yang besar, seragam yang bagus dan teman-teman yang banyak. Bagiku semua itu tinggal mimpi belaka. Impian besar menurut pikiran seorang anak yang masih sangat muda sepertiku, ternyata berbanding terbalik dengan impian besar yang Tuhan sedang sediakan untukku. Dalam hati aku berkata, “Apakah aku akan bertahan di tempat ini?”

Tidak disangka, tahun ini adalah tahun kedua aku bekerja di perusahaan ini. Di tempat ini aku mendapatkan seorang bos dan teman-teman yang begitu baik serta ramah. Suasana kantor yang begitu hangat dengan canda tawa teman-teman dan Gaji yang lumayan besar dari apa yang aku pikirkan sewaktu aku ingin bekerja di bank dulu. Walaupun tidak bekerja di bank, tetapi Tuhan mengizinkan aku untuk bekerja dibagian keuangan yang mengharuskan aku ke bank setiap harinya. Di sana aku banyak berteman dengan karyawan-karyawan bank yang selalu berbagi cerita tentang pekerjaan mereka. Aku juga mendapat pekerjaan yang meskipun banyak, tetapi aku bisa mengerjakannya dengan santai tanpa tekanan kerja yang besar seperti beberapa teman-teman yang aku jumpai saat aku berkunjung ke bank. Ternyata, perusahaan yang besar, seragam yang bagus dan teman- teman yang banyak tidak menjamin kita nyaman bekerja di suatu tempat.

Meskipun aku tidak bisa mencapai cita-citaku menjadi seorang pegawai bank, tetapi Tuhan Yesus menggantikannya dengan pekerjaan yang lebih baik dari apa yang aku pikirkan baik dulunya.

Ketika kamu mengalami kegagalan demi kegagalan hari ini, ingatlah bahwa Tuhan Yesus tidak pernah gagal atas hidupmu dan masa depanmu. Ada kalanya, Tuhan Yesus tidak menunjukkan mukjizat-Nya saat itu juga untuk membuatmu sadar bahwa tanpa-Nya kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Ingatlah juga, bahwa Dia tidak pernah terlambat dan selalu tepat waktu menolong anak-anak-Nya, karena kita begitu berharga dihadapan-Nya dan kita sangat dicintai-Nya.

Baca Juga:

Apa Pun Ucapan Syukur yang Bisa Kita Ucapkan, Ucapkanlah

Hidup tak selalu berjalan mulus, tapi selalu ada kebaikan yang Tuhan berikan bagi kita.

Berkat di Balik Pilihan yang Tampaknya Salah

Oleh Vina Agustina Gultom, Taiwan

Diperhadapkan dengan dua pilihan biasanya jadi momen yang memusingkan, namun bisa juga menyenangkan. Memusingkan karena mau tidak mau harus pilih salah satu, tapi satu sisi bisa jadi menyenangkan karena kita masih punya pilihan. Contoh, pilih beasiswa A atau B? Pergi ke Raja Ampat atau Perth? Abang ini atau si mas itu?

23 Mei 2019 menjadi momen memusingkan untukku karena aku diperhadapkan pada dua pilihan: ikut ujian seleksi dosen atau ujian seleksi di industri otomotif? Dua bidang pekerjaan yang berbeda, tapi sama-sama di tempat yang bergengsi.

Kalau kulihat jalinan benang merah hidupku, aku punya passion dalam mengajar. Tapi, aku tak bisa hanya melihat dari satu sisi saja. Aku berpikir, kira-kira di ujian yang mana aku paling berpeluang lolos? Jika memang aku ikut ujian dosen dan lolos, apakah ini benar-benar kehendak Allah? Bagaimana jika ikut ujian di industri otomotif yang ternyata jadi kehendak-Nya? Atau, bagaimana kalau malah bukan keduanya?

Aku pun berdoa, memohon agar Tuhan membuatku peka akan pilihan mana yang paling baik untuk kuambil. Aku juga berdiskusi dengan orang tua, kakak, dan sahabatku. Aku yakin mereka dapat dipakai Tuhan untuk memberiku jawaban. Mereka menyarankan supaya aku ikut ujian seleksi dosen, tapi tetap mencoba bernegosiasi dengan industri otomotif apakah memungkinkan jika jadwal ujianku di sana diundur.

Waktu terus berjalan, pesan dalam bentuk posel (email)tak kunjung dibalas. Dengan iman, kuserahkan pilihan ini pada Tuhan. Kusiapkan diriku sebaik-baiknya sampai akhirnya pada hari pengumuman, ternyata aku dinyatakan gagal.

Sedih. Sangat sedih. Pikiran liar pun mulai menggerogoti, “Kenapa kemarin gak pilih ujian di industri otomotif aja!” Kalimat penyesalan dan kekecewaan yang sulit untuk tidak kupikirkan dan kuucapkan.

Berkat di balik pilihan yang tampaknya salah

Di tengah rasa sedihku, aku coba mengingat perkataan sahabatku, “Jangan lihat berkat Tuhan itu hanya dari ketika kamu mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan, tapi lebih dari itu, berkat Tuhan sama indahnya di tengah kegagalanmu sekalipun. Walau kadang kamu baru menyadarinya setahun, dua tahun, atau bahkan 10 tahun setelah kegagalan itu terjadi.”

Perkataan sahabatku itu benar. Berbulan-bulan setelahnya, tepatnya pada tanggal 25 April 2020 aku merasa takjub. Meski aku tidak lolos ujian dan menjadi dosen di universitas itu, aku tetap diajak untuk mengikuti Pendalaman Alkitab (PA) dengan komunitas pasca sarjana yang berasal dari kampus tersebut. Ceritanya, pada tanggal 28 Mei 2019, waktu sebelum aku mengikuti ujian seleksi, seniorku mengenalkanku dengan alumni pengurus persekutuan mahasiswa Kristen pasca sarjana. Alumni itu rupanya ikut ujian seleksi bersamaku. Beliau bertanya, apakah aku orang Kristen atau bukan? Aku kaget, menanyakan tentang iman seseorang agaknya jarang jadi pembuka obrolan. “Ya, aku Kristen,” jawabku. Dia lalu mengajakku ikut kelompok PA di daerah Dago. Karena aku butuh oase pasca ujian, aku mengiyakan ajakan itu.

Ketika PA berlangsung, kami saling berkenalan, membahas materi, berdoa, dan foto bersama. Kegiatan-kegiatan ini sudah biasa terjadi saat ber-PA dalam kelompok. Namun, yang jarang terjadi adalah aku diundang untuk langsung masuk ke dalam grup WhatsApp mereka. Pikirku, “Untuk apa? Aku hanya ikut kelompok PA ini sekali. Aku tidak bisa ikut pendalaman Alkitab lagi dengan kalian, karena terpaut oleh jarak. Aku di Bekasi dan kalian di Bandung”. Tapi sebagai bentuk penghormatanku, aku mengiyakan undangan itu.

Meski telah berbeda kota, aku tetap berkomunikasi dengan mereka. Sampai akhirnya pada tangggal 25 April 2020, aku kembali bisa ikut PA bersama mereka walau secara virtual dari tempat kami masing-masing akibat dampak dari pandemi. Bersyukur dengan pandemi ini juga, aku diajarkan bahwasanya jarak itu bukan penghalang kita untuk melakukan PA bersama.

Dari pengalaman sederhanaku ini, aku jadi mempunyai slogan, “Gagal ujiannya, dapatin komunitasnya.” Ya bagiku ini penting, karena setidaknya walau kita gagal untuk berkarya di tempat yang kita tuju, namun kita mendapatkan komunitas yang berlatar belakang sama, yang akhirnya dapat memahami dan mengerti keadaan kita, bahkan memberikan solusi dengan saling berbagi informasi mengenai lowongan mengajar lainnya.

Mengutip sebuah kalimat dari saat teduhku tanggal 27 Juli 2019, tertulis begini:

“If you’re discouraged by some failure today, remember that Jesus may use it to teach you and lead you forward in your service for Him”

“Jika kamu kecewa karena kegagalan hari ini, ingatlah bahwa Yesus dapat memakainya untuk mengajar dan memimpin kamu melangkah maju dalam pelayananmu kepada-Nya”

Ketika pilihan yang kita ambil mengantar kita pada kegagalan, cobalah untuk melihat dari sudut pandang Allah. Segala hal dapat dipakai-Nya untuk membawa kebaikan bagi kita, selama kita bersedia untuk percaya. Jadi, kalau kamu jadi aku, kamu pilih yang mana? Larut dalam kegagalan atau dapatin komunitasnya?

Selamat memilih untukmu yang sedang di rumah aja.

Baca Juga:

Kelulusan yang Tertunda: Momen untuk Memahami Kehendak Tuhan

Ketika studi S-3ku hampir selesai, dosen pembimbing memberiku opsi untuk menunda kelulusan. Opsi ini sulit, sungguhkah ini kehendak Tuhan? Tapi, dari momen inilah aku jadi belajar bagaimana dan seperti apakah itu kehendak Tuhan.