Pos

Ingatlah 3 Hal Ini Sebelum Menghakimi Orang Lain

Oleh Vanessa Radom
Artikel asli dalam bahasa Inggris: What My Assumptions Taught Me About Judging Others

Beberapa bulan lalu, seorang kenalanku bersikap dingin dan menjauhiku. Ketika kutanya kenapa, dia bilang kalau ekspresiku berlebihan di pertemuan terakhir dengannya. Kucoba mengerti alasannya dan meminta maaf, tapi baginya tindakanku itu tidak akan membuat relasi kami sama seperti dulu.

Tentu respons itu adalah keputusannya dan aku pun tahu bahwa untuk relasi yang sehat perlu ada batasan yang jelas. Tetapi, melihat ke belakang aku mendapati sulitnya merespons terhadap situasi penolakan seperti itu. Dari diskusiku dengan konselorku, aku sadar kalau reaksi berlebihanku muncul dari rasa sakit dan trauma masa kecil yang belum selesai. Fakta ini membuat peristiwa penolakan itu terasa lebih sakit, tapi sekaligus juga memberiku rasa lega. Alih-alih merasa bersalah dan malu, aku jadi sadar bahwa aku pun butuh dipulihkan.

Kita semua ingin dipandang, dimengerti, dan diterima sebagaimana adanya. Kita ingin semua orang mau menegur kita dengan kasih ketika dibutuhkan, tapi kita juga ingin mereka berbicara dengan kita, untuk mengerti siapa dan bagaimana sih kita itu sebenarnya. Aku ingat akan seniorku di tahun pertama kerja yang berkata, “Rasanya menyenangkan jika kita dikenal baik.” Itu memang betul, tapi lebih daripada sekadar dikenal baik, yang lebih baik ialah: kita dikenal sampai jelek-jeleknya, tapi tetap dikasihi.

Kasih yang melampaui kesan pertama

Kasih yang Allah berikan pada kita untuk kita berikan pada orang lain adalah kasih yang “menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Korintus 13:7). Inilah kasih yang kita semua inginkan, tapi kusadari kalau kasih ini jugalah yang sulit untuk kuberikan. Kasih yang mengharuskanku untuk berhenti dan berpikir, untuk memahami siapa orang yang kutemui. Seringkali aku berpikir meremehkan dan buru-buru mencari topik bicara lain.

Seorang temanku bercerita tentang tetangga lamanya yang dikenal menyebalkan. Suatu kali, ketika dia membuang sampah, tetangga itu mendekatinya dan mengomel karena sampah itu tidak diletakkan di tempat yang spesifik. Alih-alih menanggapinya berdasarkan kata orang kalau tetangga itu menyebalkan, temanku tetap tenang dan minta maaf. Sikapnya yang damai itu menohok sang tetangga, yang akhirnya malah jadi terbuka dan mulai mengobrol dengan temanku. Melalui obrolan mereka, temanku mendapati sebenarnya tetangganya itu orang baik yang pernah dilukai oleh orang lain. Sikapnya yang defensif adalah caranya untuk melindungi dirinya dari terluka.

Aku harap kita semua seperti temanku itu, tapi sejujurnya, bukankah kita semua cenderung menghakimi orang lain berdasarkan apa yang mata kita lihat? Setelah menghakimi, lantas kita pun ‘membuang’ mereka dalam kotak yang berisikan asumsi-asumsi kita sendiri?

Ketika Allah membuatku memikirkan kembali

Meskipun kali ini akulah yang ditolak, aku tahu kalau aku sendiri pernah menolak dan menghakimi orang lain dengan buru-buru mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang kulihat. Ada masa-masa ketika Tuhan memaksaku untuk melihat kembali suatu hal secara utuh supaya aku memahami bahwa apa yang kupikirkan tak selalu benar.

Beberapa tahun lalu, aku ikut mission-trip bersama beberapa jemaat. Di akhir pekan, ada seseorang yang kata-katanya menggangguku. Kata-katanya tidak buruk, tapi karena itu menggangguku aku memutuskan kalau orang itu tidak akan kudekati, dan segera aku pun mengabaikan orang itu.

Namun Tuhan punya rencana lain. Lewat interaksi kami selama beberapa minggu, aku menyadari kalau orang yang kuanggap mengganggu itu ternyata murah hati, dan dia selalu berusaha untuk menunjukkan sikapnya yang tulus dan mengasihi pada orang lain. Orang itu pun menjadi teman baikku yang sampai hari ini aku senang meluangkan waktu bersamanya. Kalau seandainya aku terjebak pada pikiranku akan kesan pertama yang buruk, aku tidak akan mengalami pertemanan yang indah.

3 hal untuk diingat

Salah satu ayat favoritku adalah 1 Samuel 16:7, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Rasanya menenangkan sekaligus menantang mengetahui bahwa Allah melihat kita sebagaimana adanya kita. Menenangkan karena kita sungguh dikasihi oleh Tuhan Semesta Allah; menantang karena jika kita dikasihi sedemikian rupa, masa kita bertindak sebaliknya terhadap orang lain?

Setelah menyadari ini, aku berdoa agar Tuhan menolongku setiap hari untuk menjadi orang yang mampu melihat melampaui apa yang dilihat mata, dan untuk mengasihi orang lain dengan cara yang mencerminkan Kristus—dengan anugerah, belas kasih, dan pengertian. Untuk mewujudkan itu, aku mengingat 3 hal ini:

1. Lihat jangan dari sudut pandang sendiri

Setiap orang punya masalah masing-masing, dan itu bisa mempengaruhi bagaimana mereka meresponsku. Mengingat hal ini memberiku sedikit jarak untuk untuk mencerna sikap dan respons mereka.

2. Tanya sebelum membuat kesimpulan

Matius 18:15 menjelaskan bagaimana kita seharusnya menegur orang lain. Meskipun teguran itu tidak menyenangkan, ketika aku punya keberanian untuk memberitahu seseorang tentang sikap atau kata-katanya yang melukaiku, penjelasan ataupun permohonan maaf dari mereka menolongku untuk memahami situasi dari sudut pandang yang berbeda. Aku pun terdorong untuk melihat ke dalam diriku sendiri, akan apa yang jadi pikiranku yang berdosa.

3. Maafkan, sebagaimana kita telah diampuni (Kolose 3:13)

Pengampunan tidak hanya untuk dosa-dosa ‘besar’ yang dilakukan pada kita, tapi juga bagi kesalahan-kesalahan yang tampak kecil. Bagian dari mengampuni adalah belajar untuk merelakan dan tidak selalu mempermasalahkan setiap hal. Ingatlah, kasih menutupi banyak sekali dosa (1 Petrus 4:8).

Aku berdoa kiranya kasih yang tidak bersyarat yang kuterima dari Tuhan setiap hari menolongku untuk mengasihi orang lain. Daripada menorehkan luka dalam hidup mereka, aku mau belajar untuk turut serta dalam pemulihan mereka.

Semoga tulisan ini memberkati kita semua.