Pos

Kebohongan yang Kita Genggam, Membuat Kita Mudah Menyerah

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

“Kuliah jangan di perguruan tinggi swasta, nanti kamu susah dapat kerja.”

“Jurusan untuk perempuan itu bagusnya ambil pendidikan atau keguruan, supaya bisa bekerja sambil mengurus keluarga.”

“Untuk apa lanjut kuliah S2? Nanti ujung-ujungnya kamu di rumah saja. Toh juga yang mencari nafkah kelak adalah tugas suamimu.”

“Duh, ngapain pacaran jarak jauh, nanti ujung-ujungnya putus.”

Itu adalah beberapa pernyataan yang pernah disampaikan orang-orang kepadaku. Aku tidak tahu apa yang mendasari mereka mengatakan hal tersebut. Kadang aku beranggapan mungkin mereka pernah melihat orang yang mengalami hal yang sama atau mungkin mereka sendiri pernah mengalaminya. Di awal aku sempat kepikiran dengan pernyataan-pernyataan tersebut. Aku takut melangkah karena bisa jadi yang mereka katakan itu benar, apalagi yang mengatakannya adalah orang-orang yang sudah dewasa atau berpengalaman.

Namun, kembali ke tulisanku dua bulan lalu, “Membuat Pilihan yang Berkenan pada Tuhan”, sejatinya yang penting adalah bagaimana kita bergumul terlebih dahulu kepada Allah saat membuat keputusan. Orang lain tidak mengambil andil sepenuhnya dalam setiap hal yang kita putuskan. Jika Allah meyakinkan kita untuk membuat pilihan tersebut, lakukanlah, sambil terus senantiasa bergumul dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Sekalipun kita gagal, Allah pun akan turut campur tangan menggunakan kegagalan tersebut untuk kebaikan buat hidup kita.

Kita sering diperhadapkan dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bisa diuji kebenarannya. Misalnya: kalau aku kuliah di perguruan tinggi swasta aku susah dapat kerja. Nyatanya, aku bisa dapat kerja yang baik walaupun aku lulusan perguruan tinggi swasta. Kadang kala, pernyataan-pernyataan itu malah membuat kita jadi menyerah duluan. Bayangkan, jika ada beberapa orang yang lulusan perguruan tinggi swasta mendengar pernyataan tersebut lalu menelannya mentah-mentah. Mereka mungkin menjadi tidak bersemangat, enggan berusaha dengan lebih lagi, hingga akhirnya jadi sungguhan kesulitan mendapat kerja.

Pernyataan yang tidak bisa diuji kebenarannya sesungguhnya sangat berbahaya dan bisa membuat orang lain menyerah dalam mengerjakan setiap hal dalam hidupnya.

Kyle Idleman, dalam bukunya yang berjudul Don’t Give Up mengatakan bahwa dalam kehidupan, kita sering sekali diperhadapkan dengan berbagai kebohongan. Karena kita mempercayai kebohongan itu, maka kita pun menjadi hidup sesuai dengan kebohongan tersebut. Mungkin bukan masalah besar jika kita menghabiskan waktu kita dengan kebohongan yang terbilang tidak serius, misalnya: jangan potong kuku di malam hari. Tetapi, bagaimana jika kita diperhadapkan dengan kebohongan yang lebih serius?

Menurut Kyle Idleman, ada tiga kebohongan yang sering kita percayai dan mari kita pelajari kebenaran Firman Allah yang mampu membebaskan kita dari kebohongan tersebut:

1. Kita tidak punya kemampuan yang dibutuhkan untuk berhasil

Ketika Allah mempercayakan kita sesuatu untuk dikerjakan, maka Dia akan memberikan kita kemampuan untuk mengerjakannya. Misalnya: kita sedang bergumul untuk mengerjakan tugas akhir. Allah mempercayakan kita untuk sampai ke tahap mengerjakan tugas akhir, artinya Dia akan menolong kita untuk mengerjakannya.

Baru-baru ini, aku mendapatkan tanggung jawab yang baru di pekerjaanku. Awalnya aku merasa tidak sanggup, pekerjaan itu menurutku sangat berat untuk aku lakukan, tetapi aku tidak bisa menolak karena itu sudah keputusan dari pimpinan di tempat kerjaku. Aku berdoa dan bergumul sama Tuhan. Dalam saat teduhku, Allah mengingatkanku dari Filipi 4:19 “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Pagi itu aku diingatkan, keperluanku bukan hanya soal uang, makan, minum atau kebutuhan jasmani lainnya. Keperluan disini juga termasuk kemampuan yang akan diberikan Tuhan agar aku dimampukan mengerjakan tanggung jawab yang baru dipercayakan kepadaku.

Bersama Tuhan, kita memiliki segala sesuatu yang kita perlukan untuk melakukan segala sesuatu yang perlu kita kerjakan.

2. Kita bisa memperbaikinya sendiri

Bagian ini berlawanan dengan poin yang pertama, tetapi ini pun masih sebuah bentuk kebohongan. Kita sering beranggapan bahwa kita bisa menyelesaikan sendiri setiap hal yang terjadi dalam hidup kita. Kita merasa tidak perlu memerlukan bantuan orang lain. Kita berusaha menyembunyikan segala kelemahan dan kekurangan kita. Padahal secara tidak langsung selain sedang melakukan kebohongan, kita juga sedang melakukan kesombongan. Merasa tidak memerlukan Tuhan atau orang lain. Kondisi ini pun bisa menyebabkan kita menjadi menganggap enteng setiap masalah yang kita hadapi, merampas keintiman dalam hubungan kita dengan orang lain, dan menjadikan kita seperti munafik, karena tidak membiarkan orang lain tahu kelemahan kita dan ini merupakan suatu hal yang sangat melelahkan.

Tidak semua hal tentunya perlu kita sampaikan kepada orang lain. Yang utama yang perlu kita lakukan adalah bergumul bersama Allah lewat doa dan Firman setiap hari. Jika Allah mengarahkan kita untuk meminta bantuan orang lain, kita melakukannya. Namun pada kenyataannya, kita juga sering gagal. Kita lebih sering menyimpan sendiri atau buru-buru mencari pertolongan kepada orang lain. Kita lupa untuk terlebih dahulu bergumul kepada Allah.

3. Kita pantas bahagia

Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia (Filipi 1:29).

Keadaan yang sulit, kondisi yang tidak kita inginkan, seringkali membuat kita merasa bahwa Tuhan sedang tidak berpihak kepada kita. Tidak jarang kita bahkan menyalahkan Tuhan untuk setiap kesulitan atau penderitaan yang kita alami.

Tuhan ingin kita bahagia, tetapi kebahagiaan yang berasal dari mengejar dan mengenal Dia. Sayangnya, kita sering memandang Tuhan sebagai alat untuk meraih kebahagiaan dalam versi kita sendiri. Kita tidak memiliki Tuhan agar Dia bisa memberi kita berkat supaya kita bahagia. Kita memiliki Tuhan, dan Dia adalah kebahagiaan sejati itu.

Bahkan seringkali kesulitan dan penderitaan kita alami tujuannya adalah untuk mengenal Allah, supaya kita menemukan bahwa hanya Allah saja yang mampu membuat kita bahagia.

Sangat mudah bagi kita untuk mempercayai setiap kebohongan yang disampaikan di tengah kehidupan kita setiap hari. Bahkan kebohongan itu sering membuat kita menjadi memilih untuk menyerah.

Saat ini, aku tidak tahu kebohongan-kebohongan apa yang sudah teman-teman percayai. Jika kita tahu bahwa semua itu adalah kebohongan, maka kita tidak akan mempercayainya. Tetapi, ketika kebohongan-kebohongan itu kita percayai, maka kebohongan-kebohongan itu memiliki kekuatan atas hidup kita. Jika saat ini rasanya kita ingin menyerah, entah itu karena kondisi keluarga, kondisi studi, kondisi pekerjaan atau mungkin kondisi keuangan, mari kita coba tanyakan dalam diri kita, apakah ada kebohongan yang sedang kita genggam. Berdoalah dan minta Tuhan untuk menyatakan kebohongan apapun yang sedang kita hidupi.

Kita berharga di mata Tuhan, buktinya Dia sudah memberikan Putra-Nya Yesus Kristus untuk disalibkan menebus seluruh dosa-dosa kita. Jangan biarkan kebohongan-kebohongan yang ada di dunia ini membuat kita menjauh dari Tuhan.

Hidupmu berharga bagi Allah
Tiada yang tak berkenan di hadapan-Nya
Dia ciptakan kau seturut gambar-Nya
Sungguh terlalu indah kau bagi Dia

Dia berikan kasih-Nya bagi kita
Dia telah relakan segala-galanya
Dia disalib tuk tebus dosa kita
Karena hidupmu sangatlah berharga

Buluh yang terkulai takkan dipatahkan-Nya
Dia kan jadikan indah sungguh lebih berharga
Sumbu yang telah pudar takkan dipadamkan-Nya
Dia kan jadikan terang untuk kemuliaan-Nya

Baca Juga:

Kemenangan Melintasi Jalur Sunyi

“Kuliah itu kudu di negeri.”
“Ah, anak kota mah manja, mana sanggup jauh dari orang tua”
“Masih fresh graduate, susah cari kerja.”

Pernyataan di atas mungkin kita dengar ketika jalan yang kita pilih berbeda dari pilihan kebanyakan orang. Tapi, di pilihan dan jalan sunyi sekalipun, Tuhan menuntun kita.

Pesan Firman Tuhan untuk Menghadapi New Normal

Era “normal yang baru”, begitu orang-orang menyebutnya. Tiga bulan terakhir kita tatanan kehidupan kita berubah karena hadirnya pandemi, dan sekarang ketika kehidupan yang normal ingin kita raih kembali, ada upaya-upaya ekstra yang perlu kita lakukan.

Menghadapi dunia yang tak pasti dan berubah-ubah, kita perlu berpegang pada Firman yang teguh dan kekal. Firman Tuhan tak cuma untaian kata, ia mengandung pengharapan dan janji, serta pelita bagi langkah kita.

Karya seni ini dibuat oleh Caroline Widananta untuk sobat muda sekalian di WarungSaTeKaMu.

Memang Lidah Tak Bertulang, Tapi Firman-Nya Ada di Lidahku

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Banyak cara bisa kita lakukan untuk menikmati quality time bersama orang-orang terkasih: jalan-jalan ke tempat wisata, bertemu sanak keluarga untuk melepas rindu, atau menikmati makan malam bersama. Namun, apa pun dan di mana pun acara quality time itu berlangsung, ada satu aktivitas yang pasti kita lakukan, yaitu berbicara.

Ada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa setidaknya manusia mengucapkan sekitar 7.000 kata dalam sehari. Dengan jumlah kata yang begitu banyak, apakah ada aturan yang jelas untuk kita berkata-kata?

Alkitab memberikan penekanan yang jelas pada pentingnya menjaga perkataan. Menurut studi yang dilakukan para penafsir, ketika Yakobus menulis suratnya kepada kedua belas jemaat di perantauan, jemaat Kristen mula-mula pada saat itu suka bergosip. Di pasal 3 ayat 1-2, Yakobus menekankan pentingnya anggota gereja yang tersebar di luar Israel atau Palestina untuk menyatakan iman mereka lewat perbuatan-perbuatan, atau tindakan sehari-hari, termasuk tutur kata.

Dari apa yang Yakobus tuliskan, kita mendapati fakta bahwa meskipun seseorang sudah berstatus Kristen, itu tidak menjadikan kita otomatis bisa bertutur kata dengan bijak dan tanpa salah. Kadang, karena sudah kebiasaan, kita bisa saja tidak menganggap salah cibiran, guyonan, makian, atau bahkan kebiasaan bergosip yang kita lakukan secara sengaja atau keceplosan. Kata-kata yang diucapkan sejatinya bukanlah sekadar ucapan, Yakobus berkata kata-kata kita bisa berkuasa memberikan berkat tapi juga bisa merusak (Yakobus 3:9-10).

Lantas, kata-kata seperti apa yang seharusnya keluar dari mulut kita?

Untuk menjawabnya, aku mengajakmu untuk menelaah tiga ayat dari firman Tuhan berikut ini:

1. Kata-kata yang jujur (Amsal 2:7)

“Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya.”

Berkata jujur merupakan salah satu wujud dari penguasaan diri yang kita miliki. Dalam Mazmur 15:1-3, Daud menulis bagaimana Allah berkenan bagi orang-orang yang mengatakan kebenaran dan yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya.

Allah berkenan kepada Ayub yang jujur dan menghukum Akhan yang tidak jujur. Dalam Yosua 7 dituliskan bahwa Akhan adalah seorang Yehuda yang mencuri barang jarahan dan menyembunyikannya dalam kemah. Selain Akhan, Allah juga menghukum Kain (Kejadian 4), juga Ananias dan Safira (Kisah Para Rasul 5:3-4) yang bersikap tidak jujur.

Menjaga kejujuran seperti yang Alkitab tuliskan berarti kita perlu jujur tak cuma dalam perkataan verbal, tetapi juga dalam perkataan yang dituangkan dalam bentuk teks. Ketidakjujuran adalah akar dari menyebarnya berita bohong, gosip, dan fitnah.

2. Kata-kata yang membangun (Efesus 4:29)

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”

Ketika sedang sesi sharing dengan kelompok PA di kampus, seorang rekanku bercerita bahwa dia merasa terganggu ketika disinggung tentang rambutnya yang keriting. Komentar teman-temannya pernah membuat dia ingin segera ke salon untuk smoothing dan meluruskan rambutnya. Dari ceritanya, aku mendapati bagaimana kata-kata yang kesannya biasa saja, atau sekadar basa-basi, ternyata bisa menganggu orang lain bahkan bisa membuat seseorang jadi insecure, apalagi jika basa-basinya menyangkut dengan kondisi fisik seseorang.

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus menekankan bagaimana setelah hubungan kita dnegan Allah dipulihkan, atau ketika kita hidup sebagai manusia baru, roh dan pikiran kita juga harus diperbaharui sehingga kita boleh dikembalikan dalam kebenaran dan kekudusan yang sejati, yang mengubah cara hidup kita dalam berelasi dengan sesama, termasuk berbicara (Efesus 4:29).

3. Kata-kata yang berkenan bagi Tuhan (Mazmur 19:15)

“Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.”

Ketika orang lain sedang berbicara, alih-alih mendengarkan dengan fokus, seringkali kita malah sibuk memikirkan bagaimana kita akan meresponsnya. Amsal 10:19 berkata, “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.”

Surat Yakobus pada pasal pertamanya juga mengingatkan kita untuk cepat mendengar dan lambat berkata-kata. Maksud dari ayat ini bukan berarti kita harus diam dan tidak berkata-kata sama sekali, namun kita diminta untuk bijak dalam berbicara karena perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak (Amsal 25:11) dan tentunya berkenan bagi Allah.

Sebagai penutup, dalam Matius 12:34-37 disebutkan bahwa apa yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik, dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Hal ini serupa ketika kita menyajikan makanan atau minuman untuk tamu atau orang-orang yang kita kasihi. Makanan enak yang tersaji merupakan hasil dari kombinasi bahan-bahan yang berkualitas baik. Juga minuman, jika kita mengisi cerek/teko dengan gula dan kopi maka rasa pahit dan manis dari kopi dan gula tersebutlah yang kita kecap. Demikian halnya dengan perkataan kita, jika kita sering mengisi hati kita dengan kebaikan-kebaikan dari pembacaan, pendengaran maupun perenungan firman Tuhan, maka hal itu jugalah yang akan terpancar lewat kata-kata kita.

Mazmur 141:3 (Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!) kiranya menjadi permohonan kita kepada Tuhan agar Tuhan semakin dimuliakan lewat kata-kata kita.

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Hanya Sekadar Baca Alkitab Tidaklah Cukup

““Kamu baca Alkitab tiap pagi, tapi selalu mengeluh!” Setelahnya, dia bergegas ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.

Kata-katanya seperti tamparan di wajahku. Tadi pagi aku baru saja baca Alkitab. Namun, ketika kesalahpahaman muncul, aku menyerah pada pencobaan dan meresponsnya dengan marah. Aku terdiam.”

Membaca Alkitab di Zaman yang Sibuk

Oleh Yunias Monika, Tangerang

Disadari atau tidak, perkembangan teknologi yang makin pesat telah mengubah cara hidup manusia, termasuk di dalamnya bagaimana cara kita memakai waktu. Coba kita hitung, ada berapa grup WhatsApp dan akun media sosial di smart-phone kita? Belum lagi jumlah akun belanja online. Manusia jadi sangat sibuk memeriksa ruang-ruang digital yang semuanya menuntut waktu. Dan, tidak bisa dimungkiri, di tengah padatnya aktivitas, kita membutuhkan pengalihan dari kesibukan. Apa yang biasanya dilakukan? Jujur saja, membaca Alkitab seringkali tidak semenarik menjelajah Instagram atau melihat-lihat flash sale. Kesibukan digital telah menepikan kerinduan untuk mencari Tuhan dan firman-Nya.

Sebagai ibu bekerja yang tidak punya pengasuh anak, aku harus membagi diriku untuk urusan domestik di rumah, belajar hal baru terkait pekerjaan paruh waktuku, membalas email, mengajak anak lelakiku bermain, membalas pertanyaan atau memberi ucapan kepada teman-teman di grup WhatsApp. Meskipun sudah bangun pukul 4 pagi, rasanya sulit sekali menyisihkan waktu 30 menit untuk membaca satu pasal per hari. Bagiku, kegiatan membaca Alkitab selalu berkompetisi dengan berbagai gangguan dan kegiatan lain.

Namun, Tuhan terus memberiku semangat untuk membaca Alkitab.

Gerejaku menggalakkan program membaca Alkitab bersama lewat satu aplikasi bernama GEMA-Gemar Membaca Alkitab GKI Gading Serpong. Setiap hari jemaat mendapat notifikasi pasal berapa yang harus dibaca. Selain itu, ada pula admin yang mengelola grup setiap kelompok. Lewat grup ini, jemaat bisa melihat siapa yang sudah atau belum membaca pasal berapa, karena masing-masing peserta harus memperbarui status pasal yang sudah dibaca. Dengan demikian, aku dan jemaat lain belajar disiplin membaca pasal secara urut. Di sini, teknologi menjadi sarana untuk mendiskusikan firman Tuhan.

Aku yang dulu selalu kesulitan mencari waktu, mulai bisa menciptakan waktu untuk membaca Alkitab, meskipun jamnya belum menentu. Ketika badanku belum terlalu lelah, aku akan membaca Alkitab. Biasanya, waktu terbaikku adalah setelah mandi sore, saat anakku tidur siang, saat sedang jam istirahat mengajar, atau waktu pagi-pagi sekali.

Jika kamu pernah mengalami pergumulan sepertiku, sulit untuk konsisten membaca Alkitab, ada dua tips yang bisa kuberikan:

1. Kamu bisa mencari kelompok yang membaca pasal yang sama setiap hari, supaya lebih semangat dan memiliki teman untuk mendiskusikan firman Tuhan.

2. Membaca setiap pasal secara urut membantu kita memahami konteks bacaan, merasakan kaitan antara satu ayat dengan ayat lain dan menciptakan rasa ingin tahu mengapa ayat tertentu ditulis dan kepada siapa ayat itu ditujukan pada zaman kitab itu ditulis.

Di kehidupan kita sekarang ini, teknologi hadir dengan ruang-ruang digital yang dapat menyita waktu dan mengalihkan perhatian kita, termasuk dalam memperhatikan firman Tuhan. Meski demikian, Tuhan selalu memberi kita waktu dan kesempatan yang cukup, sekalipun kita sering merasa tidak cukup.

Milikilah kerinduan untuk selalu haus akan firman-Nya, dan Tuhan akan menjawab kerinduan itu.

“Dan pergunakanlah waktu-waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat” (Efesus 5:16).

Baca Juga:

Jangan Sia-siakan Waktu Menunggumu!

Menunggu adalah hal yang sulit, terlebih ketika kita tidak tahu bagaimana jawaban dari doa-doa kita kelak. Aku bergumul selama masa-masa itu, aku susah payah menginginkan jawaban dari Tuhan apa alasan dan tujuan dari semua peristiwa ini.

#GaliDasarIman: Apakah yang Tidak Tahu Tidak Berdosa?

Ilustrasi oleh Laura Roesyella

Pertanyaan di atas mencoba mengeksplorasi keterkaitan antara kesalahan dan pengetahuan. Maksudnya, apakah seseorang yang tidak mengetahui bahwa tindakannya salah dapat dipersalahkan karena tindakan tersebut? Jika jawabannya adalah tidak, apakah orang itu perlu diberi tahu bahwa tindakan itu adalah salah?

Terhadap pertanyaan ini Alkitab menyediakan jawaban yang cukup jelas dan konsisten. Ketidaktahuan tidak membebaskan seseorang dari dosa. Tindakan seseorang tetap diperhitungkan sebagai dosa walaupun orang itu tidak menyadarinya.

Poin ini diungkapkan dengan baik dalam sebuah perumpamaan Alkitab tentang hamba-hamba yang tidak taat (Lukas 12:37-48). Perumpamaan ini ditutup dengan sebuah kesimpulan: “Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan” (ayat 47-48a). Alasan di balik hal ini juga dijelaskan: “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut” (ayat 48b). Ketidaktahuan hanya mengurangi, bukan meniadakan, hukuman.

Alkitab juga mengajarkan bahwa dalam taraf tertentu semua manusia sebenarnya sudah mengetahui kehendak Allah. Persoalan manusia bukanlah “tidak tahu,” melainkan “tidak mau tahu” atau “tidak mampu”. Dosa manusia adalah “menindas kebenaran dengan kelaliman” (Roma 1:18). Kepada mereka sudah dinyatakan kebenaran-kebenaran ilahi melalui wahyu umum, misalnya ciptaan yang dapat dinalar (Roma 1:19-20) atau hukum moral dalam hati mereka (Roma 2:14-15). Permasalahannya, mereka tidak mau dan/atau tidak mampu menaati pengetahuan tersebut.

Untuk memperjelas hal ini, ada baiknya kita mengenal dua istilah: dosa dan pelanggaran. Dosa merujuk pada segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah yang sempurna. Pelanggaran berarti ketidaksesuaian dengan aturan (perintah atau larangan) tertentu. Ada dua teks Alkitab yang perlu untuk disinggung di sini. Roma 4:15 mengajarkan: “Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.” Selanjutnya dikatakan: “Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat” (Rm. 5:13). Dari teks ini terlihat bahwa semua kesalahan adalah dosa, walaupun tidak semua dosa itu pantas dikategorikan sebagai pelanggaran.

Ketidakmampuan untuk hidup seturut dengan wahyu Allah bersumber dari natur manusia yang berdosa. Hal yang sama bahkan menimpa mereka yang diberi wahyu khusus. Paulus dengan jujur mengungkapkan pengalamannya: “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku” (Roma 7:15-17). Jadi, persoalan terbesar manusia bukanlah ketidaktahuan, tetapi ketidakmampuan.

Sebuah ilustrasi mungkin bermanfaat untuk menerangkan kebenaran di atas. Banyak orang di pedalaman terbiasa mandi di sungai yang kotor. Mereka bahkan menyikat gigi mereka dengan air yang sama. Dari kacamata orang perkotaan yang sudah mengenal beragam informasi kesehatan, kebiasaan ini sangat berbahaya. Dari kacamata mereka sendiri yang sudah tinggal di sana berabad-abad, tidak ada yang perlu dirisaukan dalam kebiasaan tersebut. Mereka tidak tahu informasi kesehatan yang memadai. Kalaupun tahu, belum tentu mereka mempercayainya. Bahkan sekalipun mereka tahu dan mempercayainya, belum tentu mereka mau dan mampu hidup sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan itu. Mereka sudah terlanjur merasa nyaman dan aman dengan apa yang mereka lakukan. Mereka belum tentu mampu mendapatkan air yang bersih dalam jumlah yang memadai.

Apakah ketidaktahuan penduduk setempat terhadap kesehatan menjadikan kebiasaan mereka dapat ditolerir? Apakah tindakan mereka dapat dianggap benar hanya gara-gara mereka tidak mengetahui apa yang ideal? Tentu saja tidak, bukan? Demikian pula dengan dosa dan pengetahuan kita. Apa saja yang tidak sesuai dengan kehendak Allah yang sempurna adalah dosa, walaupun tidak semua dosa itu disebut pelanggaran. Bagi mereka yang tahu, kesalahan mereka tergolong dosa sekaligus pelanggaran. Dalam keadilan Allah yang sempurna, Ia akan mempertimbangkan ketidaktahuan seseorang (yang tidak tahu akan menerima hukuman lebih ringan), tetapi tetap tidak meniadakan hukuman sama sekali (yang tidak tahu tetap dihukum).

* * *

⠀⠀⠀

Tentang penulis: ⠀
Artikel ini telah dipublikasikan sebagai seri #RenunganApologetikaMingguan dari Apologetika Indonesia (API).

Baca Juga:

4 Ciri Para Pendosa di Dalam Gereja

Banyak dari kita yang sulit menerima fakta bahwa gereja berisi orang-orang yang tidak sempurna. Aku mempunyai teman-teman yang meninggalkan gereja mereka karena kekecewaan mereka terhadap orang-orang di dalamnya. Ayah dari seorang temanku bahkan tidak mengizinkan anaknya untuk terlibat terlalu banyak di dalam gereja, karena dia telah mengetahui “sifat asli” dari orang-orang yang ada di dalam gereja.

Menurutnya, gereja hanya berisi orang-orang yang munafik. Bukankah itu menyedihkan?

⠀⠀⠀⠀

Disiplin Rohani: Butuh Perjuangan!

Oleh Abyasat Tandirura, Toraja

Tahun 2018 beserta suka dan duka kehidupan yang mengiringinya sudah berhasil kulalui. Aku bersyukur sekaligus lega dapat menginjakkan kaki di tahun 2019 yang telah memasuki bulan ketiga ini. Dari berbagai peristiwa yang telah kualami, ada satu pesan penting yang dapat kupetik, bahwa kita senantiasa membutuhkan Tuhan.

Kita adalah ranting dan Tuhanlah pokok anggurnya (Yohanes 15). Agar kita dapat bertumbuh, kita perlu melekat terus kepada-Nya dan cara agar kita dapat terus melekat adalah dengan tekun dan setia membangun hubungan yang dekat dengan Tuhan.

Namun, kuakui, sulit untuk tetap konsisten menjalaninya.

Sejak aku menerima Kristus sebagai Juruselamat, aku belajar untuk selalu membina relasi yang erat bersama Tuhan dengan rutin bersaat teduh. Tetapi, kadangkala aku merasa malas, menunda-nunda, bahkan sibuk dengan hal-hal lain. Membaca Alkitab dan berdoa hanya kulakukan di ibadah hari Minggu. Pernah aku merasa malu pada diriku sendiri, ketika aku terlibat dalam pelayanan di gereja tetapi tidak bergerak dalam hubungan yang akrab dengan Tuhan setiap hari. Hingga aku berpikir, apalah artinya sibuk bekerja, aktif melayani Tuhan di gereja, suka menolong orang lain, tapi aku sendiri tidak memiliki hubungan yang erat dengan-Nya.

Berangkat dari kegelisahan itu, aku pun belajar untuk memperbaiki hubungan pribadiku dengan Tuhan. Dan, puji Tuhan, sekarang aku bisa kembali menikmati keindahan-Nya. Aku yang dulu merasa seperti domba yang hilang telah dituntun Sang Gembala yang baik dan menjadi lebih dekat pada-Nya.

Jika kamu pernah mengalami hal yang sama sepertiku, ada tiga hal yang bisa kamu lakukan ketika melakukan disiplin rohani saat teduh terasa susah buatmu.

1. Kita dapat berkaca pada teladan tokoh Alkitab

Aku teringat pada tokoh Alkitab seperti Daniel yang selalu memprioritaskan relasinya dengan Tuhan. Dalam Daniel 6:11, tertulis bahwa Daniel tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Tuhan. Hal ini menarik mengingat Daniel pada kala itu telah diangkat sebagai salah satu dari tiga pejabat tinggi yang membawahi pemerintahan Raja Darius (Daniel 6:1-4). Dengan jabatan seperti itu, kita dapat mengetahui bahwa Daniel mungkin punya banyak aktivitas. Namun, ia tidak mengabaikan relasi dengan Tuhan.

Tuhan Yesus juga memberi kita teladan yang baik mengenai relasi pribadi-Nya dengan Bapa. Injil Markus 1:35 mencatat demikian, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” Yesus memilih waktu pagi hari sebab ketika hari telah terang, Dia harus melayani banyak orang. Teladan doa Yesus juga ditunjukkan-Nya ketika Dia berada di Taman Getsemani. Yesus berdoa mengungkapkan ketakutan hati-Nya namun menyerahkan segala-Nya kepada Bapa agar kehendak Bapalah yang terjadi (Lukas 22:41-44).

Dari dua teladan ini aku tersadar bahwa tekun menjalin relasi dengan Tuhan membuat kita semakin mengenal-Nya, peka mendengar suara-Nya, dan kita pun dapat mengetahui apa yang jadi kehendak-Nya buat kita.

2. Kita dapat mengatur waktu yang tepat buat kita

Menjalankan disiplin rohani di masa kini kupikir adalah hal yang sulit. Kesibukan kita mungkin menggoda kita untuk mengabaikan relasi dengan Tuhan. Untuk mengatasinya, aku belajar untuk menyediakan waktu khusus untuk datang kepada Tuhan. Buatku sendiri, waktu yang paling tepat adalah pagi hari.

Aku bangun lebih awal dan bersaat teduh di tempat yang tenang. Namun, jika semisal aku terlambat bangun, itu tidak berarti aku tidak akan bersaat teduh sepanjang hari. Aku mencari waktu lain yang sekiranya tepat untukku dapat benar-benar menikmati dan mengalami momen perjumpaanku dengan Tuhan.

Yang terpenting sesungguhnya bukanlah soal kapan waktunya, melainkan bagaimana sikap hati kita. Jika kita sungguh ingin mengenal Tuhan, tentu kita akan menyisihkan waktu terbaik kita, bukan memberikan waktu sisa kita untuk-Nya.

3. Kita dapat menggunakan penuntun saat teduh

Untuk menolongku memahami firman Tuhan dengan lebih jelas, aku menggunakan buku renungan yang menuntunku bersaat teduh. Tapi, perlu diingat, bahwa buku renungan ini hanyalah penuntun, bukan materi utama yang harus dibaca. Yang terutama tetap adalah Alkitab, yang adalah firman Tuhan.

Ketika kita memiliki motivasi yang kuat untuk merenungkan firman-Nya dan kasih setia-Nya bagi kita, hasrat kita untuk terus berjumpa dengan Allah secara pribadi akan terus bertumbuh. Tugas kita adalah memberi diri untuk dipimpin oleh Roh Kudus dalam proses perjuangan kita berdisiplin rohani.

“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu” (Yakobus 4:8a). Kiranya kita senantiasa diingatkan untuk selalu konsisten memprioritaskan relasi kita dengan Tuhan dan bersungguh-sungguh menerapkan disiplin rohani di sepanjang hidup kita.

Di dunia ini, tidak ada yang melebihi sukacita hidup, selain memiliki dan menikmati hubungan yang akrab dengan Sang Pencipta dan meyakini bahwa surga—rumah abadi—adalah tujuan akhir dari perjalanan hidup kita di dunia yang fana ini. Roh kudus menolong kita, terpujilah nama-Nya.

Baca Juga:

Sebuah Doa yang Mengubahkan Hatiku

Jika mengingat kembali doa-doaku dulu, rasanya berdoa itu sudah ada templatenya. Tanpa perlu pikir panjang, aku bisa berdoa dengan singkat. Hingga suatu ketika, aku jatuh ke dalam situasi yang membuatku tak bisa berdoa. Tapi, justru di dalam keadaan inilah aku diajar untuk bagaimana seharusnya berdoa.

Apakah Mengikuti Kata Hati Bisa Membuat Kita Berbahagia?

Oleh Ashley Ashcraft
Artikel asli dalam bahasa Inggris: The Key To Happiness—Don’t Follow Your Heart

“Ikuti kata hatimu.” Kita mungkin telah mendengarnya berjuta-juta kali. Mungkin juga kita telah membacanya di Instagram, gelas kopi, karya seni, bahkan di toko buku Kristen. Tapi, apakah benar jika aku mengikuti kata hatiku? Apakah mengikuti kata hatiku bisa membuatku bahagia?

Ada masa-masa dalam hidupku di mana aku menyesal karena telah mengikuti kata hatiku. Contohnya, aku mengikuti kata hatiku untuk memanjakan diri dengan makan yang banyak. Tapi, pada akhirnya, bukan kebahagiaan karena kenyang yang kudapat, aku malah sakit perut. Aku juga pernah mengikuti kata hatiku untuk menjalin sebuah relasi yang pada ujungnya berakhir dengan kesedihan. Seruan “ikuti kata hatimu” ini sepertinya mempengaruhi dan mewarnai banyak hal dalam kehidupan kita.

Hati kita licik

Banyak orang berjuang untuk mengikuti kata hati. Mereka percaya bahwa suara hati mereka adalah penuntun terbaik yang mereka miliki. Namun, Alkitab memberitahu kita bahwa sesungguhnya hati kita itu licik (Yeremia 17:9). Jika kita mengetahui kebenaran ini, tentunya kita tidak ingin mengikuti sesuatu yang bisa menyesatkan kita begitu jauh, bukan?

Tapi, seringkali pula kita sulit untuk menyadari bahwa hati itu licik. Perlu usaha keras untuk mengubah pemahaman di kepala kita dan menyadari bahwa kedagingan kita bisa berdampak buruk untuk kita. Namun, kita perlu bersyukur kepada Tuhan. Meskipun hati kita licik, tetapi ketika kita dibasuh dan dikuduskan oleh Yesus (1 Korintus 6:11), Tuhan dapat bekerja mentransformasi hati kita untuk semakin serupa dengan hati Yesus. Namun, hingga kelak nanti kita tiba di kehidupan yang baru, hati kita saat ini tetap bisa saja menuntun kita ke jalan yang salah.

Aku tidak mengatakan bahwa suara hati yang umumnya menyangkut aspek emosi kita adalah hal yang buruk. Emosi atau perasaan yang kita alami memampukan kita merasakan Tuhan dengan lebih penuh. Kita tahu bahwa Tuhan bersama dengan kita dalam kesedihan, sukacita, dan Dia pun tahu betul seperti apa yang kita rasakan. Tapi, emosi tidak seharusnya menjadi penggerak dalam keputusan atau tindakan kita. Penggerak dari kehidupan kita yang seharusnya adalah iman kita—apa yang kita ketahui sebagai kebenaran, apa yang kita percayai terlepas dari apa yang kita rasakan. Ketika iman menjadi penggerak kehidupan kita, kemungkinan bahwa emosi menuntun kita ke sesuatu yang salah menjadi semakin kecil.

Jadi, bagaimana caranya kita dapat memahami dengan betul bahwa emosi adalah pemberian dari Tuhan sekaligus juga sesuatu yang bisa saja menuntun kita ke arah yang salah?

Jangan ikuti kata hatimu, ikutilah hati Kristus

Kurasa jawaban dari pertanyaan di atas terdapat di dalam pengorbanan. Pengorbanan adalah bagian esensial dari pesan Injil dan itu jugalah yang seharusnya kita lakukan sebagai orang Kristen. Yesus telah berkorban lebih dulu untuk kita. Yesus merendahkan diri-Nya untuk datang ke dalam dunia; Dia melayani orang-orang; dan Dia menderita, memberikan pengorbanan-Nya yang terbesar di kayu salib. Pada malam sebelum kematian-Nya, Dia berdoa di Taman Getsemani, “Bukan kehendak-Ku, tapi kehendak-Mu.” Oleh karena itu, sebagai orang yang memiliki gambar dan rupa Kristus, pengorbanan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita, bagian dari DNA spiritual kita.

Jika kita selalu mengikuti kata hati kita, melakukan apa yang kita inginkan dengan cara kita, bagaimanakah kita dapat berkorban? Apakah kita benar-benar bisa menjadi murid Kristus dan selalu mendapatkan apapun juga yang kita inginkan? Di sinilah perubahan harus terjadi: kita tidak lagi mengikuti kata hati kita sendiri, kita harus mengikuti kata hati Kristus.

Karena kata hati kita dan kata hati Kristus seringkali tidak selalu sejalanan, di sinilah pengorbanan menjadi hal yang penting. Kita perlu menanggalkan kehendak kita dan memilih taat pada kehendak-Nya. Kita perlu berkata seperti Yesus, “Bukan kehendakku, tapi kehendak-Mu.” Dan, kita melakukan ini karena kita percaya pada Tuhan lebih daripada kita mempercayai hati kita sendiri.

Mengorbankan kehendak diri sendiri untuk taat pada kehendak Tuhan adalah hal yang sulit dilakukan, tapi kurasa dengan kita berusaha untuk tidak mengikuti kehendak diri kita sendiri, ini adalah disiplin rohani yang dapat menolong kita. Kita diingatkan bahwa bukan kitalah yang memegang kendali atas kehidupan. Apakah kita mengikuti hati Kristus atau hati kita sendiri? Apakah ada bagian-bagian dari kehidupan kita di mana kita harus mengorbankan kehendak kita?

Di dalam hidupku, contoh pengorbanan ini terjadi di dapur. Jika aku mengikuti kata hatiku, di sore hari aku tidak akan pergi ke dapur. Aku lebih memilih aktivitas lain yang lebih menyenangkan, sebab sesungguhnya aku tidak menikmati aktivitas cuci piring dan menyiapkan makanan. Dan, hal yang membuatku kesal adalah dapurku cuma bisa bersih beberapa saat saja sebelum ada remah-remah, tumpahan makanan, dan cucian baru untuk kubersihkan.

Tapi, pada akhirnya aku sadar bahwa tidak ada tempat lain yang lebih baik untukku melatih disiplin dan berkorban bagi keluargaku selain di dapurku. Dari dapurku, aku bisa menghidupi Injil. Aku bisa mematikan keinginan dagingku sendiri dan mengarahkan hatiku kepada Yesus. Aku bisa mengasihi keluargaku dalam bentuk menyiapkan piring yang bersih dan menyajikan makanan yang lezat dan sehat.

Mungkin apa yang kulakukan tidaklah seberapa kalau dibandingkan dengan orang-orang lain yang sudah berkorban dengan jauh lebih besar dan dengan cara-cara yang mengagumkan. Namun, aku percaya Tuhan menghargai pengorbananku sekecil apapun.

Jadi, setiap sore aku pun pergi ke dapur. Aku menyiapkan makanan dan mencuci piring. Tapi, sekarang aku tidak pergi ke dapur atas kehendakku sendiri. Aku pergi karena Tuhan telah memintaku untuk mengasihi keluargaku dengan menyiapkan kebutuhan makanan mereka. Sejak aku mulai mengubah pola pikirku, aktivitas di dapur yang tampaknya sederhana menjadi suatu berkat yang besar buatku. Seandainya aku mengikuti kata hatiku sendiri dan bukan hati Kristus, aku mungkin akan melewatkan begitu saja pengalaman ini, sebuah latihan yang dipakai Tuhan untuk menghidupi Injil dalam keseharianku.

Apakah artinya aku tidak boleh berbahagia?

Setelah menyampaikan ceritaku di atas, aku tidak sedang berkata bahwa Tuhan mau agar kita selalu mengorbankan keinginan kita, dan bahwa emosi adalah hal yang buruk. Sebagai orang tua, ketika aku melihat anakku berbahagia, aku pun turut merasa bahagia. Dan, kupikir ini jugalah yang Tuhan rasakan terhadap kita. Ketika kita bahagia, Dia pun berbahagia. Namun, poin pentingnya adalah, apa yang membuat kita bahagia? Tuhan ingin mengaruniakan kita kebahagiaan yang sejati—yang berlangsung abadi dan memuaskan—dan kebahagiaan ini bisa kita dapatkan dengan mengikuti hati-Nya.

Bagaimana kita bisa tahu isi hati Tuhan? Jawabannya adalah dengan membaca firman-Nya. Dengan membaca firman-Nya, kita belajar untuk percaya bahwa Tuhan tidak hanya tahu apa yang terbaik, tapi apa yang benar-benar dapat membuat kita berbahagia. Banyak hal di dunia ini mungkin bisa menghibur kita secara sementara, tapi itu semua tidak bisa bertahan hingga selamanya. JIka kita mulai mencari kebahagiaan kita sendiri, mengikuti kata hati sendiri, kemungkinannya kita akan berhenti di suatu hal yang fana dan kurang berarti, dan pada akhirnya mengecewakan kita.

Mazmur 86 telah jadi mazmur favoritku sejak lama. Di ayat 11, Raja Daud berkata, “Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu.” Daud mengerti dengan benar—fokus hati kita mudah terbagi. Dan karena itu, hati kita bisa saja menyesatkan kita. Oleh karena itu, kita dapat menggemakan kata-kata Daud dan berkata, “Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu Tuhan.”

Motto hidup kita seharusnya bukan: ikuti kata hatimu, tetapi ikuti kata hati-Nya. Saat kita mengikuti kata hati Tuhan, kita menunjukkan kepercayaan kita kepada jalan-Nya, juga kita mengakui kedaulatan-Nya. Pun kita menunjukkan pada dunia bahwa kita dipuaskan ketika kita meminum dari-Nya, sang Mata Air Kehidupan. Segala jalan lain di dunia tidak akan pernah memberikan kita kepuasan, hanya Tuhan sajalah. Hanya Tuhan yang dapat membuat kita berbahagia. Ikutilah kata hati-Nya.

Baca Juga:

Pergumulanku Menanti Dia yang Tepat dari Tuhan

Natal tahun lalu, keluarga besarku berkumpul untuk merayakan Natal bersama. Aku tidak menyangka jika acara itu akan terasa seperti ruang persidangan di mana aku akan diinterogasi dengan pertanyaan “kapan menikah?” ketika aku bahkan belum pernah memiliki pacar.

Dari Kejadian Sampai Wahyu, Pengalamanku Membaca Habis Alkitab dalam Setahun

Oleh Jefferson, Singapura

Sejak aku lahir baru, aku terdorong untuk membaca habis Alkitab dalam setahun. Tapi, karena kesibukanku di sekolah, aku terus menundanya. Dengan pertolongan Tuhan dan dukungan dari teman-teman kelompok kecilku, barulah enam tahun kemudian aku dapat menyelesaikan membaca Alkitab dalam setahun.

Membaca Alkitab setiap hari selama setahun telah menolongku untuk peka terhadap suara Tuhan. Namun, aku menyadari bahwa proses untuk konsisten melakukan hal ini tidaklah mudah. Melalui tulisan ini, aku ingin membagikan sekelumit pengalamanku yang kiranya dapat menginspirasimu untuk berkomitmen menjalani hari-hari di tahun 2019 dengan konsisten membaca firman-Nya.

Beberapa persiapan pendahuluan

Di akhir tahun 2017, aku punya resolusi untuk menuntaskan pembacaan Alkitab di tahun 2018. Jadi, selama beberapa minggu terakhir di tahun 2017, aku mempersiapkan hal-hal yang kubutuhkan untuk mewujudkan resolusi itu. Pertama-tama, aku menentukan versi terjemahan Alkitab yang akan kubaca. Aku terbiasa membaca dalam bahasa Inggris, jadi aku memilih Alkitab versi English Standard Version (ESV).

Langkah kedua menurutku adalah langkah yang lebih rumit: menentukan rencana baca Alkitab (Bible reading plan) yang akan kuikuti. Aku bisa saja memilih perikop yang akan kubaca secara acak setiap harinya. Tapi, aku tidak mau melakukannya karena itu sama artinya dengan mengabaikan struktur dan salah satu identitas Alkitab sebagai sebuah karya sastra. Ibarat sebuah fine dining course yang hidangannya disajikan dengan cermat, pun ada urutan-urutan baca tertentu yang memampukan kita untuk melihat gambaran besar yang Alkitab sampaikan. Kupikir cara membaca Alkitab dengan pendekatan acak tidak akan cocok untuk membaca sebuah buku yang berisikan firman Tuhan.

Dari beberapa Bible reading plan yang aku telaah, aku memutuskan untuk menggunakan ESV Study Bible One Year Reading Plan. Selain cocok dengan versi terjemahan yang akan kupakai, plan ini juga menyediakan tafsiran untuk ayat-ayat yang sulit kupahami dan membagi kitab-kitab dalam Alkitab ke dalam empat kategori: Mazmur dan Sastra Hikmat, Taurat dan Sejarah Israel, Tawarikh dan Nabi-nabi, dan Injil dan Surat Rasul. Aku akan membaca paling tidak satu perikop dari setiap kategori tiap harinya. Reading plan ini juga tidak menyediakan renungan apapun sebelum atau sesudah perikop bacaan. Dengan kata lain, aku “dipaksa” untuk benar-benar merenungkan apa yang kubaca.

Langkah terakhir adalah menentukan kapan waktu yang tepat buatku membaca. Awalnya aku berusaha untuk membaca Alkitab di pagi hari. Tapi, sejak aku mulai bekerja, aku tidak punya cukup waktu di pagi hari untuk membaca seluruh perikop. Aku pun mengganti waktu bacaku ke malam hari sepulang dari kantor.

Puji Tuhan, setelah setahun berlangsung, Tuhan memampukanku mengikuti Bible reading plan itu hingga usai. Ada tiga poin yang akan kusampaikan:

#1 – 1001 alasan untuk mangkir tidak berdaya di hadapan 1 alasan untuk membaca

Aku mengamati, mungkin ada di antara kita yang menganggap membaca habis Alkitab dalam setahun sebagai sesuatu yang sulit dan luar biasa. Kita lalu memuji dan sangat kagum dengan saudara seiman yang telah berhasil melakukannya. Tapi, apakah membaca Alkitab dari sampul ke sampul memang sebuah prestasi yang hanya bisa dicapai oleh orang Kristen tertentu? Atau, apakah semua orang Kristen juga bisa melakukannya?

Setelah mempraktikkan dan mengalaminya sendiri, aku memiliki jawaban atas pertanyaan tersebut. Pada awalnya, aku sepakat dengan anggapan pertama yang mengatakan bahwa membaca tuntas Alkitab hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu. Dunia kita sekarang sudah tersaturasi dengan penggunaan gadget, di mana cara kita berinteraksi di media sosial menanamkan sifat short attention span dalam diri kita. Kita enggan, tidak terbiasa, atau bahkan tidak lagi bisa menikmati kegiatan yang memerlukan perhatian cukup lama seperti membaca. Penolakan ini bisa jadi berlipat ganda ketika buku yang dibaca merupakan salah satu kitab tertua di dunia dengan sastra Yahudi kuno sebagai genre utamanya.

Di masa awal aku menjalani komitmenku ini, aku kesulitan untuk membaca paling tidak empat perikop tiap harinya. Aku sempat jenuh dan pernah dengan sengaja melewatkan satu atau dua perikop di beberapa hari pertamaku. Tapi, Tuhan mengusik hatiku lewat salah satu bacaan di hari kedua yang diambil dari Mazmur 1 yang membandingkan orang fasik dengan orang benar. Perbedaan utama keduanya adalah orang benar menyukai dan merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam (ayat 1). Orang benar kemudian digambarkan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang selalu berbuah pada musimnya, tidak layu daunnya, dan apa saja yang diperbuatnya berhasil (ayat 4).

Dalam perenunganku, aku menyadari bahwa satu-satunya tindakan aktif si orang benar adalah merenungkan firman Tuhan dan bergantung pada-Nya, karena tidak mungkin sebuah pohon menanam bibitnya sendiri ke dalam tanah lalu bertumbuh. Aku menyimpulkan bahwa untuk menjadi seorang benar yang hidupnya berkenan di hadapan Allah, aku harus menyerahkan diriku sepenuhnya untuk dibentuk dan dididik-Nya lewat pergaulan erat dengan Alkitab. Perenungan inilah yang membakar kembali api semangatku yang sempat padam, dan puji Tuhan, akhirnya aku dapat menyelesaikan resolusiku dengan baik.

Kurasa sangatlah wajar bagi kita untuk enggan membaca Alkitab , tetapi kalau kita terus-menerus menolak untuk mendekat pada Tuhan dan mempelajari kehendak-Nya dengan sungguh-sungguh, pada akhirnya kita akan kehabisan alasan. Kebenaran pun terungkap: kita bukannya tidak bisa membaca Alkitab secara konsisten dalam setahun; kita tidak mau dan tidak merencanakannya. Padahal, Sumber Air Hidup yang akan membuat kita tidak pernah haus lagi telah memberikan diri-Nya untuk kita. Yang perlu kita lakukan hanyalah minum dari-Nya dan menyaksikan bagaimana air itu Dia ubahkan menjadi mata air yang tidak akan pernah habis dalam diri kita (Yohanes 4:14).

#2 – Usaha pendakian akan dibayar setimpal oleh pemandangan dari atas puncak

Kita telah belajar kalau membaca Alkitab secara konsisten dalam setahun bukanlah hal yang mustahil jika kita benar-benar bergantung kepada Tuhan. Kita mungkin tidak dapat mengingat ribuan kata yang ada dalam Alkitab karena kita memang manusia yang terbatas. Tetapi, kita dapat mengingat tema-tema dan peristiwa-peristiwa utama yang tercatat dalam Alkitab.

Buatku pribadi, Alkitab berisikan gambaran besar dari kisah Allah yang mulia. Menikmati kisah itu seperti menikmati pemandangan dari atas sebuah puncak. Ada banyak rute yang dapat membawa kita mencapai puncak itu. Dalam pengalamanku, rute yang kupilih adalah keempat kategori rencana baca Alkitabku. Ada banyak hal yang ingin kubagikan dari perjalananku mendaki dan menikmati pemandangan dari puncak itu, tapi rasanya artikel ini nantinya akan terlalu panjang. Jadi, aku hanya ingin membagikan dua hal saja yang kuanggap paling penting.

Pertama, aku terkagum-kagum dengan berbagai macam emosi yang diekspresikan dalam kitab-kitab Mazmur dan Sastra Hikmat (Amsal, Pengkhotbah, dan Kidung Agung). Kitab-kitab ini menggambarkan dengan jelas realita kehidupan manusia yang penuh jatuh bangun, dari masa-masa penuh sukacita seperti yang tertulis dalam Mazmur 34 dan Kidung Agung, hingga masa yang kelam seperti tertulis di Mazmur 88 dan Pengkhotbah. Namun, di tengah-tengah ketidakpastian hidup, Tuhan hadir sebagai Gunung Batu yang mengundang kita untuk hidup dalam naungan-Nya dan mengikut Dia. Di sini aku belajar untuk terus berelasi dengan Tuhan dalam segala situasi dengan apa adanya.

Poin pertama yang terdengar abstrak ini mengambil bentuk konkrit dalam ketiga kategori lainnya. Peristiwa-peristiwa dalam kitab Taurat, sejarah Israel, nabi-nabi, dan Perjanjian Baru memperjelas identitas dan karakteristik Tuhan yang dinyatakan oleh kategori sebelumnya. Dalam proses aku membaca Alkitab sampai habis, aku semakin memahami dan mengenali Allah Tritunggal yang adalah Kasih. Karena begitu besar kasih yang dimiliki Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus dari semula, ketiga pribadi Tritunggal menciptakan dunia dan segala isinya untuk membagikan kasih ini. Karena begitu besar kasih Allah yang adalah adil dan benar, Ia tidak mungkin mentolerir dosa yang pada dasarnya adalah penolakan dan pemberontakan terhadap diri-Nya. Dan karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, Ia memberikan diri-Nya sendiri untuk mati menanggung hukuman dosa dan mendamaikan kita dengan-Nya. Tuhan Yesus, sang Firman yang menjadi manusia, merangkum esensi kasih Allah yang meluap-luap dan tanpa pamrih ini dalam Markus 10:45, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Pemahaman dan pengenalan yang lebih dalam tentang Allah ini hanya bisa kita dapatkan melalui membaca firman-Nya tentang Firman-Nya. Dalam pribadi Kristus kita memiliki teladan hidup, dan inilah yang kumaksud dengan “hidup mengikuti Dia”: mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwa dan akal budi, dan mengasihi sesama, bahkan musuh kita, seperti diri kita sendiri (Matius 22:37-38).

Tidak ada cara lain untuk dapat mengenal Tuhan selain melalui halaman-halaman Alkitab yang memberikan kita “terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2 Korintus 4:6). Inilah pemandangan dari puncak yang tidak akan kutukar dengan hal apapun (Filipi 3:8).

#3 – Membaca Alkitab sampai habis satu kali tidak akan cukup untuk mengenal Tuhan

Allah yang kita kenal lewat Alkitab adalah Tuhan yang melampaui akal pikiran manusia. Kita tidak mungkin memahami Dia sepenuhnya hanya dengan membaca habis Alkitab satu kali. Jadi, harus berapa kali kita melakukannya supaya kita bisa semakin mengenal Tuhan? Dua kali? Atau tiga kali? Lebih dari itu, kita harus membaca Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu dengan konsisten hingga kelak kita bertemu Tuhan muka dengan muka.

Menyebutkan kitab Wahyu di sini adalah hal yang penting, karena di dalam kitab itu tercatat janji Tuhan untuk berdiam di tengah-tengah umat-Nya (Wahyu 21:3). Kita juga akan melihat wajah-Nya dan di dahi kita akan tertulis nama-Nya (Wahyu 22:4). Di akhir zaman, tidak akan ada lagi maut maupun dosa yang memisahkan kita dengan Tuhan, “sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Wahyu 21:4). Apa implikasinya? Kita akan dapat memahami dan mengenal Allah secara penuh; kita dapat bertemu dan berbincang-bincang langsung dengan Allah yang selama ini kita kenal melalui firman-Nya.

Jadi, mengapa kita harus terus membaca Alkitab dengan konsisten terus menerus sampai kelak kita berjumpa dengan Tuhan? Karena Alkitab adalah satu-satunya sarana untuk kita dapat mengenali Tuhan saat ini (kesimpulanku dari berbagai perikop, terutama 2 Timotius 3:15-17). Hanya melalui Alkitablah kita, yang dulu pikirannya dibutakan oleh ilah zaman ini, sekarang dapat melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus yang adalah gambaran Allah sendiri (2 Korintus 4:4). Mungkin sekarang kita hanya dapat mengenal Tuhan melalui gambaran yang kurang jelas dalam cermin, tetapi bayangan samar-samar itu menunjukkan bahwa si pemilik bayangan memang ada. Dan, melalui cermin itulah si pemilik bayangan berjanji untuk menemui kita sehingga kita dapat melihat rupanya dengan jelas. Maka, bersama-sama dengan Paulus, kita dapat dengan penuh percaya diri mengatakan, “Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti [di kedatangan kedua Tuhan] aku akan mengenal dengen sempurna, seperti aku sendiri dikenal [oleh Allah sejak semula]” (1 Korintus 13:12). Sambil menantikan momen bertemu Tuhan muka dengan muka, mari kita terus memahami dan mengenali-Nya lewat cermin yang Ia berikan, yang menuntun kita kepada Firman sejati yang hidup dan pernah berjalan di tengah manusia, Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti membaca Alkitab; mulailah tahun 2019 dengan resolusi untuk menyelesaikan membacanya.

Aku ingin menutup tulisan ini dengan mengajakmu memanjatkan doa yang dinaikkan oleh Anselm, seorang bapak gereja dari abad ke-11. Setelah merenungkan sifat-sifat Allah yang ajaib dan kelihatannya saling berlawanan dalam bukunya Proslogion, ia meresponi hal ini dengan kalimat-kalimat berikut:

Aku berdoa, ya Tuhan, supaya aku dapat mengenal-Mu dan mengasihi-Mu, sehingga aku dapat bersukacita di dalam-Mu.

Dan, jikalau aku tidak dapat melakukannya dengan penuh di kehidupan ini, biarlah aku menguasainya perlahan-lahan hingga mencapai kepenuhannya. Biarlah pengetahuan akan diri-Mu bertumbuh dalamku di sini, dan di sana [di surga] dijadikan sempurna. Biarlah kasih-Mu bertumbuh dalamku di sini dan di sana dijadikan sempurna, sehingga sukacitaku di sini dapat berlimpah dalam pengharapan, dan di sana dijadikan sempurna dalam realita.

Ya Tuhan, melalui Anak-Mu, Engkau mengajarkan kami untuk meminta dan Engkau berjanji bahwa kami akan mendapatkan sehingga “sukacita kami menjadi penuh”. Aku meminta, ya Tuhan, ketika Engkau mengajar melalui Penasihat Ajaib kami, [supaya] aku menerima apa yang Engkau janjikan melalui kebenaran-Mu sehingga “sukacitaku menjadi penuh”.

Allah yang adalah Kebenaran, aku meminta supaya aku dapat menerima sehingga “sukacitaku menjadi penuh”. Hingga saat itu tiba, biarlah pikiranku merenungkan [momen di mana “sukacitaku menjadi penuh”], biarlah lidahku berkata-kata tentangnya, biarlah hatiku mengasihinya, biarlah mulutku berkhotbah tentangnya. Biarlah jiwaku merindukannya, biarlah tubuhku menginginkannya, biarlah seluruh keberadaanku mendambahaknnya, hingga aku masuk dan [mengambil bagian] dalam “sukacita Tuhan”, yang adalah Allah Tritunggal, terberkatilah selama-lamanya. Amin.

Tuhan Yesus memberkati, soli Deo gloria.

Informasi tambahan:

Kamu dapat membaca tentang tips-tips praktis membaca Alkitab dalam setahun dalam tulisan Bruce Ware, seorang dosen Teologi Kristen di Southern Baptist Theological Seminary. Aplikasi-aplikasi praktis yang ia berikan sangat membantuku selama setahun ke belakang dan kuharap dapat membantumu juga dalam membaca habis Alkitab selama setahun ke depan. Selamat membaca!

Baca Juga:

#10YearChallenge, Hal Apakah yang Tuhan Telah Ubahkan dalam Hidupmu?

Perjalanan hidup yang telah kita lalui mungkin tidaklah selalu lancar, tetapi entah kita sadari atau tidak, itulah yang membentuk dan mengubah kita menjadi diri kita yang ada sekarang ini. Apakah yang Tuhan telah ubahkan dalam hidupmu?

Belajar dari Kisah Aldi, Yang Kita Butuhkan Bukan Hanya Makanan Jasmani Saja

Oleh Sukma Sari, Jakarta

Baru-baru ini, ada kisah penyelamatan dramatis terhadap remaja Indonesia bernama Aldi Novel Adilang. Aldi adalah seorang nelayan dari suku Wori yang berusia 19 tahun. Sehari-harinya Aldi bekerja sebagai penjaga rompong (sebuah rakit untuk menangkap ikan) yang letaknya sejauh 125 kilometer dari daratan. Nahas, pada tanggal 14 Juli 2018, angin berembus kencang dan memutus tali yang mengikat rompongnya. Aldi lalu hanyut ke Samudera Pasifik bersama rompongnya. Empat puluh sembilan hari setelahnya, yaitu pada tanggal 31 Agustus 2018, barulah Aldi ditemukan di perairan sekitar Guam, teritori Amerika Serikat di Pasifik. Aldi diselamatkan oleh kapal pengangkut batu bara dan dibawa ke Jepang. Setelah segala proses pengurusan dokumen selesai, Aldi lalu dapat pulang kembali ke Sulawesi Utara dan bertemu dengan keluarganya.

Saat diwawancarai oleh media, Aldi mengakui bahwa tujuh minggu terombang-ambing di laut hampir membuatnya putus asa. Untuk bertahan hidup, Aldi menghemat perbekalan yang tersedia di rompongnya. Saat semuanya habis hanya dalam seminggu pertama, Aldi mencari cara lain. Aldi memancing ikan, menadah hujan, dan meminum air laut dari perasan bajunya. Bukan cuma berjibaku dengan lapar dan haus, Aldi pun harus mempertahankan dirinya dari cuaca samudera yang ekstrem dan serangan ikan-ikan buas. Hingga di suatu hari, Aldi merasa hidupnya telah berada di titik nadir. Fisiknya lemas, psikisnya tidak berdaya. Daratan tak kunjung digapai, dan harapan untuk bertemu kembali dengan kedua orang tuanya seperti mustahil. Aldi ingin bunuh diri saja.

Namun, sesuatu dari dalam diri Aldi menahannya untuk melakukan itu.

“Saat itu (mau bunuh diri), saya kembali masuk ke rumah rakit. Saya membaca Alkitab,” kata Aldi dalam cuplikan wawancaranya kepada media.

Aldi lalu membaca Matius 6, yang isinya adalah Doa Bapa Kami. Setelah itu, dia terus melanjutkan pembacaan Alkitabnya, juga menyanyikan lagu-lagu rohani. Di tengah kondisi di mana harapan seolah padam, Alkitab menjadi satu-satunya pengingat Aldi bahwa sesungguhnya harapan itu tidak pernah hilang. Aldi lalu percaya dengan kekuatan Tuhan hingga akhirnya pada tanggal 31 Agustus 2018, sebuah kapal pengangkut batu bara melintas. Kapal sudah berjalan sejauh satu mil melewati Aldi. Tapi, karena awak kapal itu mendengar teriakan Aldi, kapal pun berbalik arah dan melepaskan tali untuk menolongnya. Pada tanggal 6 September 2018, kapal tersebut tiba di Jepang. Perwakilan dari Kedutaan Besar Indonesia membantu pengurusan dokumen Aldi, dan pada tanggal 8 September 2018 Aldi bisa pulang ke Indonesia menggunakan pesawat dari Jepang.

Kisah Aldi yang terombang-ambing di tengah laut tanpa makanan dan minuman mengingatkanku akan kondisi yang pernah aku lalui ketika aku tidak memiliki relasi yang baik dengan Tuhan. Di luar aku hidup, tetapi aku merasa di dalam diriku perlahan-lahan aku mati. Aku masih tetap beraktivitas seperti biasa, mengerjakan pekerjaanku di rumah maupun di kantor. Tapi, aku tahu bahwa ketika aku mengerjakannya, aku merasa seperti mayat hidup.

Aku tidak asing dengan kalimat “Doa adalah nafas hidup orang percaya”, dan kupikir kalimat itu benar adanya. Tanpa doa, tubuh rohaniku pun mati. Apabila tubuh manusia akan mengalami komplikasi saat kekurangan asupan makan dan minum, maka sebagai orang percaya yang kekurangan asupan makanan rohani berupa doa dan firman Tuhan, sudah tentu juga tubuh rohaniku akan mengalami komplikasi. Aku jadi seorang yang berjalan sendiri tanpa tuntunan Tuhan, dan relasiku dengan sesamaku pun jadi terdampak. Aku berprasangka buruk dengan orang lain, sering melawan ibuku, bahkan timbul rasa mengasihani diri yang tidak ada habisnya.

Ketika Tuhan Yesus dicobai Iblis di padang gurun, Dia berkata: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4). Makanan jasmani memang penting, tetapi bagi orang percaya, makanan rohani pun sama pentingnya. Makanan rohani itu tidak lain dan tidak bukan kita dapatkan dari Alkitab, yang adalah firman Tuhan yang hidup. Tuhan tidak meninggalkan kita sendirian tanpa petunjuk untuk menjalani kehidupan kita di dunia. Dia memberikan kita firman-Nya, yang di dalamnya kita bisa mengetahui apa yang menjadi kehendak-Nya. Tidak ada cara lain untuk kita bisa mengetahui kehendak Tuhan selain daripada membaca dan menyelidiki firman-Nya.

Firman Tuhan yang terwujud dalam Alkitab bukanlah sekadar untaian kata yang ditulis rapi, tetapi itu sangat bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16). Pemazmur bahkan berkata, “[Taurat Tuhan] lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah” (Mazmur 19:11).

Sahabat, marilah kita setia membaca dan menyelidiki firman Tuhan, sebab firman-Nyalah roti kehidupan yang memberikan nutrisi buat jiwa kita.

Baca Juga:

Melalui Pelayanan di Gereja, Tuhan Mengubahkanku

Aku bersyukur atas kesempatan melayani di gereja yang Tuhan berikan. Tapi, lama-lama pelayanan itu terasa seperti sebuah beban berat buatku, hingga aku pun jadi kecewa dengan rekan-rekan pelayananku lainnya.