Posts

Sesegera Mungkin, Buatlah Rencana Keuanganmu!

Oleh Ari Setiawan, Yogyakarta

Tahun 2020 sudah memasuki bulan kedua, tapi rasanya belumlah terlambat untuk bicara soal resolusi.

Dalam peribadatan tutup tahun serta awal tahun, gereja pun kerap menyuarakan pentingnya membuat resolusi. Namun, sadar atau tidak, gereja cenderung menekankan agar umat Kristen memiliki resolusi yang berfokus pada ritual peribadatan Kristiani. Contohnya, umat Kristen harus baca Alkitab setahun penuh di tahun yang baru, harus ikut satu pelayanan, dan lain-lain.

Tentu bukan hal yang salah untuk mengingatkan ritual yang terjadi dalam “altar,” tetapi gereja juga tidak boleh abai pada hal yang terjadi di “latar,” yaitu hal-hal yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, ada beberapa gereja yang merasa mendiskusikan seks, relasi, dan uang, adalah hal yang tabu. Padahal, nyatanya manusia kerap menghadapi permasalahan pada tiga topik tersebut.

Bicara soal uang, apakah kamu sudah melakukan perencanaan finansialmu sepanjang tahun ini?

Pentingnya apa sih?

Sebagai pelajar maupun pekerja, kita mungkin pernah atau kerap mengalami kondisi bangkrut—kondisi di mana kita kehilangan financial resources, alias bokek. Pada akhir bulan, biasanya orang tua kita mengirimkan uang bulanan, atau para pekerja mendapatkan gaji, tapi tak berselang lama, minggu kedua di bulan berikutnya isi dompet menipis. Dan ketika uang habis, mungkin ada dari kita yang ikut kegiatan gereja yang ada makan-makannya, ikut doa puasa (yang mungkin landasannya bukanlah pertobatan), kita pun minta uang ke orang tua, dan yang paling buruk ialah berutang kepada teman atau lewat pinjaman online.

Bukankah pengaturan keuangan yang buruk bisa mengindikasikan bahwa kita belum bertanggung jawab atas berkat materiil yang Tuhan titipkan bagi kita?

Perumpamaan tentang talenta, dalam Matius 25:14-30 maupun perumpamaan tentang uang Mina dalam Lukas 19:12-27 bisa menjadi asumsi bahwa Tuhan menuntut kita untuk bertanggung jawab atas hal-hal yang Dia titipkan pada kita. Talenta dan Mina, dalam beberapa perspektif teologi dapat diartikan sebagai karunia Roh, soft skill di mana Tuhan ingin menghasilkan jiwa-jiwa baru yang percaya pada-Nya. Namun, berkat materiil juga merupakan berkat yang tak bisa diabaikan, karena perihal keuangan juga berdampak langsung dalam kehidupan di masa kini. Maka, seharusnyalah seorang pelajar mampu mengelola kiriman bulanan yang dikirim oleh orang tua; begitu pun seorang pekerja harus mampu mengelola pendapatan yang dia terima.

Tantangan yang kita hadapi dalam mempertanggungjawabkan berkat materiil adalah gaya hidup masa kini yang impulsif dan konsumtif. Kita bisa membeli banyak hal lewat ragam aplikasi di gawai, mulai dari makanan, pakaian, barang elektronik, dan banyak lainnya. Hal-hal yang awalnya tidak terlalu diinginkan lambat laun jadi kebutuhan. Semisal harus beli boba atau kopi tiap hari. Fasilitas kredit pun makin mudah kita dapatkan, baik pinjaman kredit online maupun fitur pay later.

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa merancang kehidupan finansial dengan baik?

Kuncinya adalah mencatat, agar kita bisa mengukur dan menghitung pengeluaran serta pendapatan dengan tepat. Kita bisa mendapatkan banyak aplikasi maupun program perihal merancang finansial di gawai kita. Kita juga bisa melakukannya dengan secarik kertas, yang dibagi menjadi dua kolom. Sisi kiri untuk pemasukan, sisi kanan untuk menulis pengeluaran. Dalam proses penulisan tersebut, kita bisa mulai dengan mengurutkan informasi nominal yang pasti dan stabil dari yang paling atas. Contohnya, pada sisi kiri, kita mencatat pemasukan berupa kiriman dari orang tua, gaji bulanan, atau pendapatan lainnya yang bersifat stabil; dan di bawahnya kita bisa melanjutkan dengan pemasukan yang fluktuatif, seperti hasil dari kerja sambilan.

Hal yang sama juga bisa diterapkan pada sisi kanan, untuk menuliskan pengeluaran. Dari atas kita menuliskan pengeluaran yang sifatnya wajib dan pasti, misal bayar uang kuliah, bayar uang kos, persepuluhan, bayar cicilan. Pada bagian bawahnya kita bisa mencatat pengeluaran yang sifatnya alokasi seperti kebutuhan pengembangan diri, kebutuhan entertainment. Kita pun bisa melanjutkan dengan menulis pengeluaran untuk biaya saving yang dialokasikan untuk investasi dan tabungan.

Tentu secara teoritis tampaknya mudah, tapi perlu usaha keras untuk mempraktikkan pencatatan keuangan ini. Sebagai umat Kristen, kita perlu melandasi perancangan finansial dengan pemahaman bahwa melalui harta tersebut, kita dapat memuliakan nama Tuhan, seperti tertulis dalam Amsal 3:9, “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu.”

Dalam usaha memuliakan Tuhan melalui berkat materiil yang kita miliki, tentunya dengan perencanaan yang matang pula, seperti tertulis dalam Lukas 14:28, “Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuh menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?”

Selamat menikmati 2020 dengan resolusi finansial yang baik, kawan!

*Tulisan ini diadaptasi dari wawancara dengan Fenny Sutandi, seorang bankir dan Certified Financial Planner. Dapat didengarkan melalui podcast di sini.

Baca Juga:

Nafsu dalam Pacaran: Dosa Terselubung yang Tidak Kita Bicarakan

Selama masa-masa pacaran, kami bergumul dengan dosa yang amat kami sesali. Hanya teman yang paling dekat dan pemimpin di gereja kami yang tahu akan dosa itu: hawa nafsu. Ketika akhirnya kami mengalami konsekuensi dosa, barulah kami sadar dan bertekad untuk berbalik.

Bekerja Layaknya Seorang Atlet

Oleh Dian, Surabaya

Aku bekerja sebagai guru. Di bulan April 2019, aku mendapatkan keputusan dari atasanku bahwa kontrak kerjaku tidak dilanjutkan lagi. Berita yang membuatku hopeless dan cukup gelisah. Teman-temanku yang mengetahui kabar ini pun sempat tidak percaya dan menyarankanku untuk bertanya lagi. Tetapi, nyatanya memang keputusan itu tidak bisa dibatalkan. Ada teman juga yang memberikan beberapa informasi lowongan pekerjaan untukku. Beberapa lowongan sudah aku daftarkan dan tak kunjung dapat balasan juga.

Hari demi hari, beberapa teman bersimpati atas kejadian ini. Tapi tak jarang, aku bilang ke teman-temanku, “Tidak apa-apa, aku bisa cari pekerjaan lain”. Tapi itu hanya ketenangan semu untuk menutupi kekecewaanku. Apalagi, kondisiku bukanlah seorang bujang, yang bekerja untuk diri sendiri. Aku punya istri yang sedang mengandung. Tentu masalah finansial memenuhi pemikiranku. Meskipun aku hafal ayat 1 Petrus 5:7 “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia memelihara yang kamu”, namun tetap saja itu tidak mampu membuat tidurku nyenyak. Apakah aku tidak bisa mengimani ayat ini? Aku juga tidak bisa menjawabnya, karena kenyataannya aku susah untuk tidur atas kekhawatiranku ini. Di sisi lain ayat ini mengatakan Tuhan akan memelihara hidupku.

Selama bekerja memang aku nampak cuek di sekitarku, aku hanya berpikir apa yang bisa kukerjakan dan tidak memikirkan yang lain. Aku juga tidak berpikir terhadap penilaian orang terhadap pekerjaanku dan apa yang kulakukan. Selama siswaku mengerti dan memahami tujuanku mengajar, itu sudah cukup. Tapi bagi atasanku itu tidak cukup untuk melanjutkan karierku bekerja di situ. Di sisi lain, beliau mungkin memiliki pertimbangan yang tidak bisa aku prediksi. Aku menghargai itu, tetapi aku cukup sulit menerima konsekuensi dari keputusannya, karena penghasilanku akan berkurang. Dengan kondisiku sekarang, aku sudah menghitung detail bahwa kemampuan finansialku tidak mampu memenuhi kebutuhan persalinan istriku dan biaya setelahnya.

Lantas apa solusinya? Utang.

Aku memikirkan kata itu untuk memenuhi semua kebutuhan keluargaku, tetapi istriku menolaknya. Ia mengingatkan bahwa kami harus menghindari utang, karena itu akan memberatkan kami dalam melunasinya. Ia selalu memintaku untuk apply pekerjaan. Aku bilang kepadanya, “mending aku kerja jadi marketing aja ya? Gak apa-apa tekanan tinggi, tetapi setidaknya bisa mengejar target finansial kita.”

Ia pun tidak mengizinkan, karena itu bukan background-ku dan kesenanganku. “Percuma kalau kamu bekerja cuma targetnya finansial”, katanya.

“Coba dulu kamu masukkan lamaran di beberapa sekolah,” tambahnya.

Bulan Juli 2019

Bulan ini ada sebuah kelegaan bagiku karena aku mendapatkan pekerjaan baru. Aku bekerja di salah satu sekolah swasta di Surabaya, meskipun sekolah ini hanya memberikan masa orientasi kerja selama 3 bulan. Ini pun membuatku berpikir, “Ternyata Tuhan masih memperhatikanku, meskipun aku sulit menaruhkan kekhawatiranku kepada-Nya”.

Apakah kekhawatiranku sudah hilang? Tidak. Aku masih khawatir apakah aku mendapatkan kesempatan bekerja setelah masa orientasi. Kekhawatiran ini membuatku sangat berhati-hati dalam bekerja. Aku mengusahakan tidak cuek terhadap orang lain, mencoba mencari tahu penilaian orang terhadapku itu seperti apa. Sehingga, secara tidak sadar aku membuat image sesuai apa yang diinginkan oleh rekan kerja, terutama atasan. Berbeda dengan pekerjaanku sebelumnya, yang tidak memedulikan omongan orang lain.

Aku bertanya kepada partner kerjaku, “Apa kriteria atau syarat supaya kontrak kerjanya lanjut di sini?”

“Ngapain dipikirkan, Pak. Yang penting kerja bener, untuk urusan dilanjut atau enggak. Itu gak usah dipikir. Aku dulu seperti itu,” Jawabnya.

Jawabannya menamparku sejenak. Jawabannya mengingatkanku bahwa aku bekerja bukan untuk dilihat oleh orang lain baik, tapi bagaimana memberi pengaruh baik. Jelas, aku sudah kehilangan esensi dan visi dalam bekerja. Aku sudah takut kehilangan pekerjaanku, bahkan hidup matiku seakan-akan hanya bergantung kepada pekerjaanku itu. Meskipun aku bisa beralasan bahwa itu untuk memenuhi kebutuhan istriku dan kelahiran anakku. Itu nampaknya bukan diinginkan Tuhan yang telah memberikan dan mempercayakan pekerjaan itu kepadaku. Pikiranku melintir menjadi 180 derajat, dari “apa yang bisa kuberikan dari pekerjaan” menjadi “apa yang bisa kudapatkan dari pekerjaanku”.

Ternyata orang bekerja itu ibarat seorang atlet yang bertanding. Meskipun ribuan penonton memberikan ejekan, hinaan, pujian, semangat atau komentar lain terhadap atlet yang bertanding, atlet yang baik pasti tidak terpengaruh oleh seluruh komentar penonton melainkan fokus pada tujuan dalam pertandingan, yaitu menang dengan sportif, respect dan penuh semangat. Walapun atlet itu mengalami kekalahan, ia pasti akan berlatih lebih keras lagi untuk mencapai tujuan kemenangan tersebut. Begitu juga pekerja yang baik adalah pekerja yang tidak terpengaruh oleh penilaian orang lain, melainkan menjaga fokus terhadap tujuan dalam pekerjaan. Apalagi tujuan yang ia bawa sejalan dengan tujuan Tuhan. Aku pun masih mengusahakannya, meskipun jatuh bangun dan rasa kecewa serta was-was masih aku rasakan. Tapi setidaknya aku mencoba belajar menjadi atlet yang baik. Jika masih kalah aku untuk melatihnya lagi.

Baca Juga:

Setelah Jarrid Wilson Bunuh Diri: Ke Mana Kita Melangkah Selanjutnya?

Data WHO menunjukkan ada 800 ribu orang setiap tahunnya meninggal karena bunuh diri. Kita tidak bisa diam saja menanggapi isu ini. Kita perlu beranjak dan melangkah.

Aku Menemukan Kepuasan di Tengah Keterbatasan Keuangan

Oleh Agnes Lee, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: I Found Contentment In My Financial Limitation
Foto oleh Andrew Koay dan Joyce Lim

Di suatu hari Minggu di gereja, keponakanku yang berumur lima tahun dan keluarganya duduk di barisan kursi di depanku. Tiba-tiba, dia berbalik dan bertanya polos, “Tante Agnes, hari ini kamu ke gereja naik apa?”

Aku menjawabnya pelan, “Naik kereta.”

“Kenapa Tante tidak punya mobil? Papaku punya.”

Pertanyaan itu menyentakku. Apakah aku akan bilang kalau aku tidak mampu membeli mobil?

Aku tidak mau terkesan miskin, jadi akhirnya aku menjawab lagi, “Mobil itu bukan satu-satunya alat transportasi kok.” Aku tidak yakin apakah keponakanku mengerti, lalu ibunya menyuruhnya diam dan dia pun kembali mengikuti kebaktian.

Pertanyaan tentang mobil itu menggantung di benakku. Sekalipun memiliki mobil bisa membuat keluargaku lebih mudah dan nyaman kalau pergi tamasya—terutama dengan putra kecilku—suamiku dan aku tidak mampu membeli mobil itu.

Selama beberapa waktu, aku membenci fakta bahwa baik aku dan suamiku hanyalah pekerja yang mendapatkan gaji rata-rata, penghasilan kami hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap bulan. Itu tidak adil. Mengapa Tuhan menahan kami dari kebebasan finansial dan hal-hal baik lainnya? Bukankah Dia berkata bahwa Dia akan memberikan yang baik (Matius 7:11) dan apa yang diinginkan hati kita (Mazmur 37:4)?

Namun, seiring aku semakin mengenal Tuhan lebih baik, aku menyadari bahwa sesungguhnya Tuhanlah harta terbesar yang pernah kumiliki. Aku lebih memilih untuk kehilangan semua kekayaan duniawiku daripada kehilangan pandanganku akan Tuhan dan keselamatan daripada-Nya.

Penghiburan Tuhan jauh lebih berharga daripada kekayaan

Ketika aku masih mudah dan lajang, aku menikmati kebebasan finansial. Aku suka berbelanja dan makan makanan enak. Kapan pun aku merasa stres karena bekerja, hal-hal itulah yang aku raih untuk mengalihkanku dari masalah-masalahku. Kupikir aku telah mengatasi masalahku dengan baik, dan setelah sedikit bersenang-senang, untuk sementara aku akan merasa lebih baik lalu aku pun melanjutkan hidupku.

Meskipun aku datang ke gereja, aku tidak membuka Alkitab untuk mencari penghiburan. Mungkin memiliki kebebasan finansial dan hidup nyaman membuatku merasa puas. Mungkin hatiku terlalu keras untuk mengizinkan firman Tuhan bertumbuh dalamku dan menolongku dewasa dalam iman. Seperti benih yang jatuh di antara semak berduri dalam perumpamaan tentang seorang penabur, hatiku terhimpit oleh kekhawatiran dunia (Matius 13:22).

Tapi empat tahun lalu, aku mengalami masa-masa yang berat dalam pernikahanku. Berbelanja, makan makanan enak, dan berapa pun jumlah uang tidak dapat menyelesaikan pertengkaran keluarga kami. Aku tidak bisa melihat jalan keluar. Di titik inilah kemudian Tuhan mengarahkanku kembali kepada firman-Nya.

Meskipun situasiku memburuk hari lepas hari, aku menemukan penghiburan dan damai dalam firman Tuhan bahkan saat aku sudah merasa tak berdaya lagi. Aku sadar bahwa Tuhan adalah yang sesungguhnya aku butuhkan. Seiring aku menanti dan meletakkan harapanku pada Tuhan, Dia menolongku dan suamiku untuk mengatasi masalah pernikahan kami.

Semangatku kepada Tuhan terus bertumbuh dan aku semakin rajin membaca Alkitab. Cara pandangku mengenai kekayaan pun mulai berubah. Aku tidak lagi melihatnya sebagai jawaban atas masalahku. Aku sadar bahwa Tuhan adalah satu-satunya sumber penghiburanku di saat-saat sulit. Oleh karena itu, aku bisa merasa puas dalam segala situasi, entah itu kaya atau miskin, karena keselamatanku tidak bergantung pada kekayaanku.

Namun, setelah aku dan suamiku berdamai, aku harus berkontribusi lebih untuk menanggung pengeluaran keluarga, dan kami pun lebih ketat dalam mengatur keuangan. Persembahan persepuluhan jadi sesuatu yang menguji iman kami, tapi Tuhan terus menunjukkan pemeliharaan dan anugerah-Nya. Dan yang paling penting, Tuhan mengajariku apa artinya berjalan dengan iman percaya dan bukan dengan pandangan sendiri (2 Korintus 5:7).

Terlepas dari pendapatan kami, kami punya tanggung jawab untuk mengelola keuangan kami dengan baik. Ketika aku masih sekolah, aku pernah diminta untuk menggalang dana untuk sebuah organisasi amal. Waktu itu aku belum jadi orang percaya, tapi aku memberikan sejumlah uang dari uang sakuku karena aku ingin menyenangkan guruku. Setelah itu, hatiku sakit karena uang yang kuberikan itu seharusnya bisa kugunakan untuk membeli sesuatu buat diriku. Meski aku bisa memberikan sejumlah uang, hatiku tidak tulus.

Hidup dalam kepuasan

Sekarang aku telah menjadi orang Kristen dan jauh lebih mengerti tentang apa artinya memberi untuk Tuhan. Aku tertantang untuk memberi lebih banyak lagi dan dengan hati yang tulus. Seperti yang tertulis dalam Matius 19:28-30, jika kita menanggalkan segala kenyamanan duniawi untuk mengikut Tuhan, kemudian pada hari di mana segalanya diciptakan baru, kita akan mendapatkan lebih banyak dan mewarisi kehidupan yang kekal. Inilah yang mengingatkanku untuk tidak hanya mencari kenyamanan yang sementara, tetapi untuk hidup dan memberi dengan perspektif kekekalan.

Tapi, selama aku aku masih tinggal di bumi ini, aku tidak terhindar dari godaan. Ketika aku melihat orang lain bisa membeli apapun yang mereka mau, aku masih bisa merasa sedikit iri. Karena aku bekerja di pusat bisnis, aku sering melihat orang-orang mengendarai mobil-mobil mewah. Kadang aku berharap bisa jadi seperti mereka. Tapi, ketika aku menyerahkan segala keinginanku pada Tuhan, aku sadar bahwa rencana-Nya untuk masing-masing kita itu berbeda. Dia membuat beberapa orang kaya, dan beberapa lainnya mendapat penghasilan rata-rata sepertiku. Tapi, terlepas dari status keuangan kita, selama kita memilih untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Tuhan memanggil kita sebagai anak-anak-Nya.

Ketika aku mengetahui hal ini, aku merasa puas dengan keuanganku yang terbatas. Seperti Paulus, aku tahu rahasia untuk merasa puas dalam setiap situasi, entah itu dalam saat-saat kenyang atau lapar (Filipi 4:12). Aku dapat selalu bersyukur pada Tuhan karena Dia selalu memelihara dan memenuhi semua yang kubutuhkan (Matius 6:26).

Baca Juga:

Nenekku dan perempuan Nepal

Ketika berada di Nepal dulu, seorang perempuan mengatakan padaku dan temanku bahwa dia akan percaya Yesus kalau dia tidak perlu bekerja lagi. Waktu itu aku tak tahu harus menjawab apa, tapi kini, melalui teladan nenekku aku tahu bagaimana seharusnya aku merespons perempuan Nepal itu.