Posts

Memikirkan Kembali Konsep yang Kita Sebut Sebagai “Good-Looking”

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

“Cantik itu relatif…” 

Mungkin kamu pernah mendengar kalimat di atas. Biasanya kalimat itu muncul sebagai candaan ketika teman-teman sebaya mengobrol soal penampilan fisik. Memang, kecantikan setiap orang itu tidak bisa dipukul rata, tapi kita pun tak menampik bahwa di dunia ini ada banyak sekali orang berlomba-lomba untuk mempercantik diri dan memamerkannya dengan bangga. 

Ada beberapa temanku yang tak keberatan untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi mengubah bentuk dagu dan alisnya. Sebagian dari mereka bertindak lebih jauh dengan melakukan operasi plastik pada area-area yang menurutku sangat berisiko. Mereka—mungkin juga orang-orang lain—ingin memiliki kecantikan yang sesuai dengan standar yang mereka anut. Di satu sisi ada orang yang ingin kulitnya putih seputih kapas hingga dia rela menyuntik obat, sedangkan yang lainnya ingin kulitnya lebih gelap agar disebut eksotis dan dia pun rajin berjemur di bawah sinar matahari. Dari pemaparan sederhana ini, kurasa aku bisa berkata kalau kita semua ingin agar terlihat “good-looking”, atau istilah sederhananya: menarik. 

Namun, standar apakah yang bisa disebut sebagai ‘menarik’? 

Manusia memiliki selera yang amat beragam, sehingga mendefinisikan cantik dan tampan adalah hal yang tidak enteng. Aku pernah melakukan survei sederhana. Kuberikan 10 nama aktor Korea Selatan yang terkenal kepada remaja wanita pecinta drakor, lalu kuminta mereka menyebutkan satu yang paling mereka anggap tampan. Hasilnya: adu argumentasi yang rasa-rasanya tak kalah sengit dengan debat politik. 

Dalam tulisan ini bukan maksudku menjatuhkan pihak-pihak tertentu. Sekali lagi tulisan ini kutulis untuk mengingatkan bahwa selera kita terhadap apa yang mata kita lihat itu berbeda-beda. Itu sebabnya beberapa perdebatan tentang cantik atau tidak cantiknya seseorang tidak memiliki pijakan yang jelas, dan bahaya yang nyata yang sedang mengintai dari aktivitas seperti ini adalah: sikap insecure

Iblis bekerja dengan berbagai cara, bahkan cara-cara yang tidak kita sadari. Dia dapat mengelabui pikiran kita. Oleh karenanya, Alkitab menasihati kita agar kita berubah oleh pembaharuan budi kita, supaya kita dapat membedakan mana yang baik, yang berkenan pada Allah (Roma 12:2). 

Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, dan apa yang Allah ciptakan itu baik adanya. Tetapi, ‘baik adanya’ itu tereduksi oleh keinginan kita untuk melihat apa yang sesuai dengan preferensi visual kita semata. Semisal, pada orang-orang dari belahan bumi bagian timur, terkhusus Asia, cantik itu digambarkan apabila seseorang berkulit terang atau putih. Oleh karenanya, berbagai produk kecantikan pun menawarkan iklan yang meskipun tujuannya untuk promosi, malah ikut melanggengkan persepsi ini. Aku ingat ada iklan body-lotion yang mengatakan kalau “cantik itu putih.”

Sejenak kuberpikir, “Oh, jadi maksudnya jika kulit kita agak gelap, maka kita tidak cantik?” 

Kalimat ini kurasa keliru. Mengatakan ‘putih itu cantik’ dan ‘cantik itu putih’ menghasilkan dua pemahaman yang jauh berbeda. Berkata bahwa ‘putih itu cantik’ tetap membuka kemungkinan bahwa warna lain juga bisa dibilang cantik. Tetapi berkata bahwa “cantik itu putih” berimplikasi sangat kuat untuk menganggap warna lain tidak masuk dalam kategori ini, seakan-akan putih sajalah cantik itu.

Setiap perusahan memang harus mengiklankan produknya dengan sebaik-baiknya, dan tentu saja kita tidak boleh menggeneralisasi semua iklan dan produk yang ada. Produk-produk tersebut pada dasarnya dapat bermanfaat bagi kita. Tetapi, setiap orang Kristen juga harus bisa melihat bahaya serius yang dapat ditimbulkan tanpa fondasi pemikiran yang kokoh dari Alkitab. Kita harus terus-menerus mengingatkan siapa diri kita di mata Allah. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya (Kejadian 1:26-27). Bahkan tubuh kita adalah tempat Allah berdiam (1 Korintus 3:16). Kita adalah “mahakarya” Allah yang bagi kita Dia rela mengambil rupa sama seperti kita dan terbunuh di Kalvari untuk keselamatan kita. 

Memang tidak bisa dipungkiri ada banyak dari kita yang tidak menyukai bagian-bagian tertentu dari tubuh kita dan bermaksud “memperbaikinya”. Merupakan suatu hal yang positif jika kita mau menjaga dan merawat tubuh kita dengan baik, tetapi yang terutama jangan pernah lupa bahwa tubuh kita bukan milik kita sendiri, melainkan milik Allah (1 Korintus 6:19-20). Jadi jika kita mau merawat tubuh kita, rawatlah itu untuk Pemilik yang sesungguhnya. Pakailah untuk kemuliaan-Nya.  

Mungkin saja ada bagian-bagian tertentu yang bisa kita ubah, tetapi mungkin karena berbagai faktor ada bagian tertentu yang sulit bahkan tidak bisa sama sekali untuk kita sentuh. Barangkali kita memiliki cacat fisik yang serius, mungkin sejak lahir, atau mungkin saja karena kecelakaan. Dan mungkin itu telah membatasi kita dalam banyak sekali hal. Aku berdoa bagimu dan tanpa bermaksud mengecilkan pergumulanmu, aku ingin berkata:

“Bersyukurlah karena kamu indah di mata-Nya…”

“Dia yang membentuk buah pinggangmu, menenun kamu dalam kandungan ibumu” (Maz 139:13)

“Dia mencintaimu, berkorban bagimu” (Yohanes 3:16)

“Dia akan memberikanmu tubuh yang baru” (1 Korintus 15:35-57)

Dalam khotbahnya di salah satu negara di Asia Tenggara, seorang penginjil tanpa tangan dan kaki bernama Nick Vuljicic berkata pada para pendengarnya, “Ketika aku sampai di surga dan menjumpai kalian, aku akan berlari ke arahmu dengan kakiku yang baru, dan memelukmu dengan tanganku yang baru”. 

Tentang Doa yang Tidak Terkabul: Apakah Kita Kurang Sungguh Berdoa?

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Ada seseorang yang telah berdoa dengan bersungguh-sungguh dan meneteskan banyak sekali air mata. Dia berseru kepada Tuhan bagai pengemis kurus kelaparan yang sedang meminta-meminta, memohon belas kasihan dari Tuhan yang kuasanya tak terbatas.

Namun, sayang sekali, kegigihannya berdoa itu tidak memberikan hasil yang diinginkannya. Orang yang amat dia cintai berakhir tak berdaya, tanpa nyawa dalam sebuah ruangan di rumah sakit. Tindakan operasi tidak menyelamatkan anaknya dari penyakit mematikan yang telah menyiksa selama bertahun-tahun. Singkat kata, perjuangan bertahan hidup diakhiri dengan getir.

Penyakit kronis itu telah merusak kondisi tubuh sang anak. Kepalanya membengkak. Tanpa terganggu dengan penampakan jenazah, dengan wajah datar sang ibu memandangi tubuh anaknya tercinta yang telah kaku.

Setelah upacara pemakaman selesai, dia berteriak keras, menembakkan ribuan peluru keluhan yang menghujam hati para pelayat. “Aku telah berdoa pada Allah yang Mahakuasa. Aku tahu tentang kisah-Nya yang mengubah air dalam tempayan menjadi anggur dengan kualitas nomor satu hanya untuk sebuah pesta, dan aku tidak meminta lebih. Aku hanya meminta-Nya setetes belas kasihan.” Lanjutnya lagi, “Aku mau menagih sebuah janji yang disampaikan ribuan tahun lalu oleh Dia yang tak pernah ingkar melalui hamba-Nya, ‘Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya’” (Yakobus 5:16b).

* * *

Kisah pilu di atas berbicara tentang seorang Kristen yang telah menghabiskan begitu banyak energi saat dia berjuang demi kesembuhan orang terkasihnya. Dia membeli obat yang mahal, mengunjungi dokter terbaik, memanjatkan doa bertubi-tubi. Namun, ketika pada akhirnya keadaan berkata lain, jauh dari apa yang diharapkan, dia, dan juga banyak orang percaya menjadi kebingungan.

Fenomena ini membangkitkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang terkesan usang tetapi terus bergema di sepanjang zaman bagi para pengikut Kristus. Apakah tidak terkabulnya doa itu karena seseorang kurang bersungguh-sungguh? Apakah perkataan Yakobus dapat dipercaya?

Suka atau tidak suka, tentu saja pada saat kita melihat ayat-ayat dalam Alkitab kita tidak bisa sembarangan mengartikannya sesuai dengan kemauan kita. Sebenarnya, bukan hanya Alkitab, prinsip yang sama juga berlaku pada semua tulisan di mana konteks harus benar-benar diperhatikan. Kegagalan melihat konteks dapat membuat kita gagal paham, atau tragisnya: tersesat. Sampai di sini, aku harap kamu tidak bingung atau takut, lalu berhenti membaca tulisan ini. Aku tidak akan mengajakmu untuk mempelajari Hermeneutika (ilmu menafsir Alkitab) sebanyak tiga sampai empat SKS.

Aku ingin mengajakmu menaruh perhatian lebih serius pada isu krusial ini. Jika kamu belum berdoa saat membaca tulisan ini, adalah baik untuk berdoa memohon hikmat dari-Nya.

Menelaah maksud tulisan Yakobus

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16b).

Ada satu hal yang harus kita ketahui terlebih dulu saat membaca perkataan Yakobus ini. Di sana, setelah ayat 16, Yakobus turut menyertakan kisah tentang Elia yang berdoa agar langit menahan dan menurunkan hujan yang dikutip dari 1 Raja-raja 8:41-46. Bagi kita yang telah membaca kisah itu, secara cepat kita mungkin langsung tahu bahwa tujuan utama dari mukjizat Elia bukanlah untuk dirinya sendiri. Elia tidak meminta Allah mengendalikan langit agar dia dipuji oleh mereka yang menyaksikannya, atau sekadar demi kepuasan hati Elia semata. Semua hal menakjubkan yang dilakukan Elia ditujukan bagi kemuliaan Allah yang mengasihi umat-Nya. Hal ini mungkin terasa asing bagi sebagian orang yang pemahamannya tentang doa adalah mengenai pemenuhan dan pemuasan bagi si pendoa. Dari kisah Elia, kita mendapati bahwa fokus utama dari doa Kristen bukanlah untuk itu, melainkan untuk kemuliaan Allah.

Maksud dari pernyataanku pada paragraf di atas bukan berarti kita tidak boleh mencurahkan isi hati dan permohonan kita kepada Allah. Aku dan kamu dapat menangis di hadapan-Nya. Allah adalah sahabat kita. Namun di sini, aku mendorong kita untuk memusatkan segala kerinduan hati kita kepada kemuliaan-Nya ketika kita sedang berdoa. Mungkin pandangan ini terkesan keras, tetapi kita perlu mengingat bahwa ketika kita memiliki fokus lain selain Allah dalam hidup kita—termasuk di dalam doa—itu dapat dikategorikan sebagai ‘pemujaan berhala’. Hal-hal baik yang kita lakukan, jika didasari pada pandangan kita yang keliru bisa menuntun kita kepada dosa.

Itulah sebabnya, Yakobus menekankan kebenaran di dalam doa. Dia dengan jelas berkata tentang doa orang yang benar. Kata-kata ini tidak bisa kita sepelekan. Kata ‘benar’ menentukan begitu banyak hal yang telah dan yang akan kita definisikan dalam hidup kita.

Jika kita melihat secara keseluruhan pasal dalam ayat ini, sebenarnya ada banyak hal yang dibicarakan oleh Yakobus, tetapi perhatian kita akan kita arahkan secara khusus untuk ayat yang sering disalahpahami ini.

Jadi, apa yang dimaksud dengan “orang yang benar” oleh Yakobus?

Ada tiga hal yang sebenarnya sangat erat yang kita akan bedah bersama agar lebih mudah dipahami.

1. Orang yang benar adalah orang yang dibenarkan oleh darah Kristus

Orang yang benar adalah orang yang telah beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan satu-satunya Juru selamat, yang telah memberinya jaminan keselamatan melalui pengorbanan-Nya di Kalvari, sebagaimana tertulis “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Roma 5:1). Yesus memberikan kepastian akan hari esok, bukan teka-teki.

2. Orang yang benar adalah orang beriman yang hidup benar di hadapan Allah

Poin kedua ini tidak sedang berkata bahwa ada manusia yang dapat hidup sempurna tanpa cacat. Yang kumaksudkan di sini adalah orang yang telah dibenarkan karena beriman kepada Kristus yang akan berjuang hidup benar bagi-Nya. Dengan kata lain, imannya diwujudnyatakan dalam perjuangan hidupnya (Yakobus 2:14).

3. Orang yang benar adalah orang yang doanya benar

Poin ketiga ini sebenarnya mengembalikan kita pada poin yang sudah kita bicarakan sebelumnya mengenai fokus doa. Mungkin kita adalah orang yang telah dibenarkan oleh darah Kristus dan sedang berjuang hidup benar bagi kemuliaan-Nya, tetapi dalam motivasi berdoa, kita terkadang salah. Dan, sebenarnya inilah yang telah Yakobus bahas dalam pasal sebelumnya (Yakobus 4:3). Doa orang yang besar kuasanya bukan sekadar siapa pendoanya, melainkan juga apa isi doanya.

Allah tidak mengabulkan doa yang didasari atas motivasi yang salah, segigih apa pun itu.

Beberapa tahun yang lalu, seseorang memberikan kesaksian padaku saat dia kehilangan anaknya. Hatinya hancur. Dia telah berdoa agar anaknya selamat, namun hal yang diinginkannya tidak terkabul. Lalu, di suatu momen, dia mengubah isi doanya. Dia ingin agar nama Tuhan dimuliakan.

Dengan tersenyum, dia memandangku dan berkata, “Tahukah kau, Fandri, pada saat upacara pemakaman anakku, ada banyak orang dengan dengan latar belakang yang berbeda datang. Dan hari itu, mereka mendengarkan kisah kasih Injil keselamatan, kasih Tuhan melalui pengorbanan Kristus lewat sang pengkhotbah.”

Iman Kristen sejatinya bukanlah iman yang sadis, yang seolah Allah hanya bisa dimuliakan ketika kita mengalami penderitaan berat. Tapi, bukan juga iman yang dangkal, yang hanya mengharap hal-hal baik dan takut terhadap penderitaan. Dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, rupa-rupa kemalangan seringkali tidak terelakkan dalam kehidupan kita, tetapi dalam segalanya: entah baik atau buruk, Allah dapat memakai kita sebagai alat-Nya untuk memberi kebaikan bagi kita (Roma 8:28), sekaligus membawa kemuliaan bagi nama-Nya (Roma 11:36).

Kuasa kebenaran di dalam doa terjadi ketika kita telah jujur tentang apa yang kita inginkan, tetapi tetap berani berkata, “Jadilah kehendak-Mu untuk kemuliaan-Mu.”

Baca Juga:

Melajang di Usia 30+: Menyerah atau Bertahan dengan Pendirian?

Melepaskan seseorang yang cukup layak dalam standar masyarakat zaman ini menjadi sangat susah saat berada di usiaku. Aku bisa merasakan pikiranku bergulat untuk menemukan semacam kompromi.

Berhentilah Membanding-bandingkan Dosa Kita dengan Dosa Orang Lain

Oleh Fandri Entiman Nae, Manado

Ketika menonton televisi atau menjelajahi media sosial, informasi tentang tindakan kejahatan rasanya bukanlah hal yang jarang kita simak. Menghitung berapa jumlah kasus-kasus itu tentu tak akan ada habisnya. Dunia seakan telah berteman dengan kejahatan, dan fakta yang mungkin membuatmu tercengang: kita semua adalah bagiannya.

Pernyataanku mungkin mengherankan dan membuatmu bertanya mengapa kita menjadi berada di posisi tertuduh? Melalui tulisan ini, aku mengajakmu untuk menyelidiki diri kita lebih jauh. Kita semua sejatinya memiliki status yang sama, yaitu para pendosa. “Ah tapi kan aku tidak melakukan ini, atau itu?”, dalam hati kita berkelit. Ketika kita melihat ada orang yang kedapatan mencuri dan kita “tidak mencuri”, atau kita melihat orang lain kedapatan “berzinah” dan kita merasa tidak melakukannya, kita lantas merasa diri kita lebih baik dari orang lain. Atau, bisa saja kita merespons dengan lebih kesal, “Aku tidak akan begitu! Tidak akan jatuh ke dalam dosa seperti itu!”

Sebagai manusia, kita sering membandingkan diri kita dengan orang lain, termasuk ketika itu bicara mengenai dosa. Namun, terlepas dari siapa yang tampak ‘lebih baik’ dari perbanding-bandingan itu, fakta yang pasti ialah kita semua sejatinya adalah pendosa, apa pun jenis dosa yang kita lakukan. Jika kita membaca apa yang dikatakan oleh Yesus tentang perzinahan (Matius 5:27-30), kita akan segera mengerti bahwa dosa bukan hanya tentang apa yang nampak melainkan apa yang tersembunyi di dalam hati kita. Mungkin kita belum pernah menampar atau melakukan kekerasan terhadap orang lain, tetapi berapa kalikah kita berniat melakukannya untuk melampiaskan amarah kita?

Dalam pekerjaan dan pelayananku sebagai hamba Tuhan, setiap kali aku berkhotbah kepada teman-teman yang ada di dalam penjara di beberapa kota, aku selalu berkata kepada mereka bahwa jika polisi kita, jaksa kita, dan hakim kita adalah Allah sendiri, maka aku, yang merupakan seorang penginjil ini tidaklah lebih suci dibandingkan teman-teman di dalam penjara ini. Mungkin aku pun akan dijerat dengan pasal berlapis dan divonis dengan hukuman terberat.

Beberapa tahun yang lalu seorang dosen pernah mengajukan pertanyaan ‘menjebak’ kepada kami semua dalam sebuah kelas. Pertanyaannya adalah “Siapa yang membunuh Yesus? Apakah orang Yahudi atau orang Romawi?” Tentu jawabannya bisa berbeda-beda tergantung sudut pandangnya. Ketika kelas kami terbagi menjadi dua kelompok besar yang membela pilihannya bagai debat capres dan cawapres, aku satu-satunya yang punya jawaban berbeda. Aku tidak memilih Romawi maupun Yahudi. Tentu saja bukan karena jawaban itu salah, tetapi karena aku tahu apa yang sedang ingin dicapai oleh dosen itu. Pada saat dia membuat survei dan tiba pada giliranku, aku menjawab, “Saya dan bapaklah yang membunuh Yesus”.

Mari jujur dengan identitas kita. Kita adalah “pembunuh”. Dosa kita telah “memaksa” Dia yang Maha Tinggi dibantai dan dipermalukan di bawah matahari Palestina. Kita adalah pezinah. Kita terpikat oleh senyuman dunia yang beracun dan bercumbu dengannya untuk memuaskan hasrat kedagingan kita, hingga kita lupa pada Kekasih hati kita yang datang jauh-jauh dari surga untuk memeluk kita.

Berhentilah saling menyalahkan dan menganggap diri lebih baik dari orang lain. Jangan pernah memegahkan diri kita, terlebih di hadapan Allah. Kita semua tidak ada bedanya. Bukankah kita sering sekali berteriak menuntut keadilan hanya jika kita ada dalam posisi sebagai korban yang benar? Bukankah ketika kita didakwa sebagai tersangka yang bersalah, kita malah mengemis meminta pengampunan? Atau tragisnya lagi, berapa banyak dari kita yang senang menjadi penjilat demi mendapatkan kenyamanan diri kita sendiri?

Tetapi terlepas dari dosa-dosa kita yang begitu menjijikkan, di sini keunikan iman kita terletak, yaitu Allah kita mencintai kita sebagaimana adanya. Tentu itu bukan berarti bahwa Allah sama sekali tidak peduli, apalagi senang dengan dosa kita. Di mata Allah, dosa bagai kanker yang hidup di dalam tubuh orang yang kita cintai. Kita membenci kankernya, tetapi mencintai orangnya. Bukan kita yang mencari-Nya, Dialah yang mencari dan menemukan kita. Ia kemudian mengikat kita yang menerima-Nya dengan pelukan kasih karunia. Tapi sedihnya, kita sering menari-nari bahagia di atas kasih karunia itu namun lupa pada Sang Sumber. Kita tersenyum ketika tahu bahwa kita telah diangkat menjadi anak-anak-Nya tetapi kita mempermalukan Bapa kita. Benar bahwa Allah kita telah memerdekakan kita sama seperti yang dikatakan Paulus kepada jemaat Galatia, namun itu bukan kesempatan untuk hidup dalam dosa (Galatia 5:13). Seorang teolog sekaligus pengkhotbah terkenal pernah berkata, “Jika kita berpikir bahwa kasih karunia adalah tempat untuk bersantai saja, maka kita akan melihat kehancuran”.

Kasih karunia adalah tempat bersukacita, menyesali diri, dan berjuang habis-habisan. Kita bersukacita atas kebaikan Allah yang telah menyelamatkan kita dari “kengerian terdalam” melalui penyaliban Kristus yang telah bangkit dari kematian. Kita menyesali diri atas semua kegagalan-kegagalan kita yang telah melukai hati Allah. Kita berjuang habis-habisan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita dan dengan gigih menceritakan kepada dunia tentang Dia, Allah yang mengasihi kita, para pendosa.

Hari ini, dalam momen yang diperingati oleh beberapa gereja sebagai Rabu Abu, akuilah dosa kita di hadapan Allah dan perbaharuilah komitmen kita untuk hidup kudus bagi-Nya.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Teguran: Tidak Semanis Pujian, Tapi Kita Butuhkan

Kita mungkin sepakat kalau teguran ditujukan untuk kebaikan kita. Tapi, seringkali penyampaian dan pesannya membuat kita tidak nyaman. Bagaimana kita dapat merespons teguran secara positif?

Tumpaslah Kemalasan, Sebelum Itu Menghancurkan Kita

Oleh Fandri Entiman Nae, Manado

Kesempatan adalah sesuatu yang tidak selalu ada. Beberapa dari kita berupaya mencarinya, mungkin mati-matian, lalu pada saat kita mendapatkannya, kita “melahapnya”. Namun anehnya, pola seperti itu tidak selalu terjadi. Ada momen ketika sejumlah kesempatanlah yang terlihat menawarkan diri kepada kita. Beberapa kesempatan bahkan hadir secara tiba-tiba, tanpa perlu diawali dengan butir-butir keringat. Tapi, bukannya menyambutnya dengan antusias, kita malah mengambil kesempatan-kesempatan itu dan menyimpannya di saku kita, berharap mereka aman di sana, lalu perlahan mulai menyadari saku kita telah kosong. Intinya adalah kita senang menunda-nunda sesuatu.

Ada kasus yang dimulai dengan berkata santai “nanti saja”, lalu pada akhirnya disusul dengan kepanikan mengejar deadline. Ada pula kasus lain yang diawali dengan kalimat “sebentar lagi” dan berakhir dengan nada penyesalan berbunyi “coba kalau aku sedikit lebih cepat”. Mari renungkan sejenak, berapa kali dalam hidup ini kita kehilangan hal berharga yang tidak kita jaga dengan baik karena sikap suka menunda-nunda? Seberapa sering kita menganggap enteng peluang-peluang positif yang tepat berada di depan mata kita dan menunda untuk memanfaatkannya, lalu akhirnya menangis hingga mengutuki diri sendiri?

Tentu untuk menyelesaikan masalah yang serius ini, kita patut mencari akar permasalahannya. Akan tetapi, sebisa mungkin kita tetap harus berusaha bersikap adil agar tidak terjebak pada oversimplifikasi (sikap yang terlalu menyederhanakan masalah). Yang aku maksud adalah kita harus mengakui bahwa tindakan menunda tidak selalu buruk. Ada masa di mana kita tidak boleh terburu-buru. Malahan pada banyak situasi pula kita harus berpikir bijaksana dengan menunda sesuatu dan lain hal. Jadi amat penting untuk kita menganalisa dengan cermat alasan di balik sikap menunda-nunda seseorang, apalagi pada saat kita berbicara tentang seorang yang mengidap Procrastination (Penyakit Psikologis Suka Menunda). Karena faktanya alasan orang menunda-nunda pekerjaan bisa bersumber dari beraneka ragam alasan, misalnya ketakutan berlebih pada kegagalan akibat trauma masa lalu, atau mungkin kurangnya motivasi orang-orang sekitar. Apabila pembahasannya seluas ini, maka itu memerlukan ruang yang besar, bahkan pengalaman dan keahlian dari seorang psikolog tentu akan sangat membantu dalam melihat kasus per kasus secara spesifik.

Maka dari itu, dalam tulisanku ini kita hanya akan membahas sebuah sikap suka menunda-nunda yang bersumber dari kemalasan. Dengan kata lain, seperti yang kusinggung sebelumya, kita akan membahas apa yang menjadi akar permasalahannya. Sehingga di sini, sikap malas yang menjadi penyebab dari sikap suka menunda-nunda akan menjadi apa yang kita bedah secara serius.

Sebagai langkah awal kita harus bertanya tentang bagaimana sikap Firman Tuhan dalam memandang kemalasan. Pertanyaan itu amat mendesak karena sangat disayangkan ada sebagian dari kita yang beranggapan bahwa masalah kemalasan ini adalah masalah sepele. Bahkan, mungkin kita telah menghapus kemalasan dari daftar dosa di hadapan Allah. Aku pernah mendengarkan tanggapan dari seorang teman atas sikap teman lain yang berbunyi, “dia orang yang sangat baik tapi sayang sekali dia orang yang malas”. Apakah benar seorang dapat menjadi sangat baik tetapi juga pemalas?

Dalam perumpamaan yang diberikan oleh Yesus tentang talenta (Matius 25:14-30) digambarkan ada 3 orang yang diberikan kepercayaan oleh tuannya untuk dikelola. Dua hamba yang diberi 5 dan 2 talenta mengerjakan bagian mereka dengan serius dan mendapatkan pujian/apresiasi dari sang tuan (padahal pada masa itu seorang hamba, serajin apapun dia, sama sekali tidak punya hak, termasuk hak untuk dipuji oleh tuannya). Sedangkan hamba terakhir yang mendapat 1 talenta, benar-benar mengecewakan tuannya dengan menguburkan uang yang telah dipercayakan kepadanya. Kemudian seperti yang kita tahu, atas apa yang dilakukan oleh hamba terakhir itu, sang tuan yang marah besar lantas berkata “Hai kamu hamba yang jahat dan malas”.

Coba membaca nats itu dengan lengkap dan kita akan mendapati kerasnya rangkaian kata dari sang tuan beserta konsekuensi yang harus ditanggung hamba yang malas itu. Dalam perumpamaan itu kita sama sekali tidak diizinkan oleh Yesus untuk menganggap kemalasan sebagai hal yang biasa-biasa saja. Kemalasan adalah kejahatan. Menunda-nunda apa yang mampu kita lakukan secepatnya berarti mengizinkan kemalasan untuk masuk dan mendapatkan ruang di hati kita. Dan itu adalah kekejian di mata Allah.

Setiap kesempatan yang baik adalah pemberian Allah. Meremehkan dan menunda memanfaatkannya sama saja dengan menghina Sang Pemberinya. Sekali lagi, kita tidak diajar untuk menjadi orang yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan bertindak. Menjadi ceroboh adalah hal lain. Tetapi menjadi pemalas yang suka menunda-nunda adalah hal yang lain pula. Kemalasan membawa dampak yang berbahaya, baik secara internal maupun eksternal. Ia dapat menghancurkan kita bersamaan dengan semua yang ada di sekitar kita. Mungkin tidak bersifat instan, tetapi bersifat pasti.

Di suatu malam yang larut seorang teman lama menghubungiku dan meminta waktu untuk bercerita secara serius. Dalam pembicaraan kami melalui telepon genggam, ia menyodorkanku sejumlah pertanyaan yang sungguh-sungguh menguras emosi. Aku menduga, dan amat yakin, deretan pertanyaan itu lahir dari sebuah penyesalan yang amat dalam. Sambil menangis temanku mengisahkan bagaimana ia harus kehilangan seorang adik yang sangat dikasihinya tanpa pernah bertemu secara langsung ketika adiknya itu dirawat di rumah sakit. Berkali-kali sang adik menelepon dan memintanya sedikit waktu saja untuk bertemu. Temanku itu terus mengiyakan, mencoba “mengumpulkan niat”, dan akhirnya kembali menunda kunjungannya. Ia selalu menenangkan dan meyakinkan dirinya dengan berkata “masih ada hari esok”. Dan dia benar, hari esok masih ada, tapi adiknya telah pergi. Dimulailah tuduhan pada diri sendiri, berharap waktu dapat diputar kembali. Bahkan untuk menghibur hatinya yang diliputi perasaan tertuduh itu aku akhirnya memutuskan untuk bertemu langsung dan berbicara dengan dia meski di tengah-tengah kesibukanku.

Bukankah ini yang terjadi banyak dari kita? Beberapa orang secara keliru menjadi terlalu yakin bahwa mereka akan selalu baik-baik saja. Kita menunda untuk memulai hidup yang sehat, makan sembarangan, mengabaikan olahraga, lalu petaka datang dan akhirnya kita menangis bagai anak kecil yang permennya dirampas orang. Berkali-kali seperti itu. Kita bisa saja mencari ratusan contoh lain untuk masalah serupa, tetapi biarkan aku mengatakan salah satu kalimat angkuh yang paling sering kudengar dari mulut seseorang: “Biarkan aku menikmati hidupku dengan memuaskan semua nafsuku di masa muda, lalu aku akan bertobat di masa tua dan mati dengan tenang”. Entah dari mana dia tahu bahwa dia akan hidup sampai pada masa senja. Tanpa bermaksud memprediksi usia seseorang, tetapi atas dasar apa kita menjadi sangat yakin bahwa kesempatan akan selalu tersedia bagi kita? Betapa kagetnya setiap kali mendengarkan kabar pilu dari teman dan anggota keluarga yang terlihat sangat sehat, tetapi malah meninggal secara tiba-tiba di usia yang masih sangat muda. Tubuh kekar dan karier gemilang memang membanggakan, tapi jangan lupa, hidup penuh dengan kejutan!

Mari kita pikirkan sesuatu yang lebih dalam tentang semua ini. Sungguh tidak terbayangkan apa jadinya jika para rasul Kristus adalah sekumpulan pemalas yang menunda-nunda pengabaran Injil. Semakin dalam lagi, apa yang akan terjadi dengan kita jika Tuhan Yesus yang kita sembah adalah pribadi yang tidak tahu bekerja? Tetapi sungguh aku terpesona dengan-Nya. Semakin aku mengenal-Nya, semakin hatiku bergelora. Dia yang kukenal adalah Tuhan yang tidak takut “meninggalkan” kenyamanan takhta-Nya dan mengambil rupa seorang hamba yang dianiaya dengan kejam. Ia punya kuasa, tapi tidak sekalipun Ia memeras Petrus agar memberi-Nya ikan setiap kali Ia lapar, lalu setelah kenyang naik ke atas keledai, dan jalan-jalan menikmati pemandangan sore di Galilea. Tidak!

Tanpa menunda-nunda, pada waktu yang telah ditetapkan-Nya, Ia menyusuri jalan berbatu di bawah panas terik dan berteriak sana sini agar manusia kembali bersekutu dengan Allah. Ia menempuh perjalanan jauh dari Surga yang mulia ke Betlehem yang kotor dengan hati yang tulus. Dengan punggung yang robek serta pelipis yang tertancap duri jerami Ia menempuh jalan Via Dolorosa yang berkelok-kelok. Dengan keringat, darah, dan (kuyakin) air mata, Ia lalu mati di Golgota untukku dan untukmu.

Dia tidak menunda-nunda apa yang telah dijanjikan-Nya melalu para nabi-Nya. Ia sudah menepatinya, tepat dua ribu yang tahun lampau. Saat ini adalah waktumu dan waktuku. Berjuanglah dan jangan membuang-buang waktu. Setiap kali kemalasan datang menggodamu, berdoalah dan mintalah semangat, hikmat, dan kekuatan dari Allah. Renungkanlah salib itu. Di sana pernah tergantung Kristus, sang pejuang yang bijaksana. Ikutlah teladan-Nya. Lakukan apa yang masih bisa dilakukan. Perbaiki apa yang bisa diperbaiki. Hargai setiap kesempatan dan manfaatkanlah dengan sebaik mungkin. Hormati semua pemberian-Nya. Bergegaslah untuk kemuliaan Tuhan. Jangan menunda-nunda!


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Menikmati Allah di Segala Musim

Menikmati Tuhan di segala keadaan adalah hal terbaik. Sebuah sukacita ketika kita bisa merasakan pimpinan-Nya saat bekerja maupun saat kita beristirahat.

Lebih Berharga daripada Emas dan Permata

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Salah satu tema yang sangat mendesak untuk dibahas kita semua adalah tentang “nilai” manusia. Seberapa berharga manusia? Pertanyaan ini dapat menimbulkan beragam jawaban tergantung wawasan dunia yang dimiliki oleh penjawabnya. Jika disandingkan antara Bunda Teresa dengan pelaku human trafficking, aku yakin keduanya akan melontarkan jawaban yang berbeda, atau bahkan bertentangan.

Pada berbagai kesempatan ketika aku diminta untuk berbicara, aku berulang kali mengajukan pertanyaan ini dalam beberapa forum yang terdiri dari orang-orang dengan latar belakang berbeda. Beberapa dari mereka adalah mahasiswa, dosen, dokter, ibu rumah tangga, pengusaha, pekerja kantoran, bahkan pengangguran. Tentu saja, meskipun sulit sekali untuk menemukan keseragaman jawaban dari mereka terkait pertanyaan itu, namun mudah sekali ditebak, semuanya bersepakat bahwa manusia memang “bernilai tinggi”.

Tetapi masih dalam kesempatan-kesempatan yang sama itu, aku selalu memberikan pertanyaan lanjutan yang aku kira sangat tidak mungkin untuk kita abaikan, yaitu “mengapa manusia bernilai?” atau setidak-tidaknya mengapa banyak sekali orang bersepakat bahwa nilai manusia jauh lebih tinggi dari binatang? Dari atau di mana nilai itu didasarkan? Dan lagi-lagi, mereka bersepakat bahwa “pikiran” atau apa yang Alkitab sebut sebagai akal budi yang menjadi dasarnya. Jadi, manusia dianggap bernilai tinggi karena manusia mempunyai pikiran (yang tidak dimiliki oleh binatang). Setidaknya seingatku, itulah jawaban yang paling banyak aku temui, bahkan dari orang-orang Kristen.

Tetapi aku rasa, jika hanya pikiran yang menjadi jawaban kita terhadap dasar dari nilai manusia, kita masih punya pertanyaan-pertanyan pelik lain yang mesti diselesaikan. Bagaimana dengan mereka yang mempunyai masalah mental? Apakah nilai mereka sama dengan yang tidak punya masalah serupa?

Seperti yang kita ketahui bersama, masalah ini merupakan sesuatu yang sangat menyita perhatian kita dan menuntut keseriusan penanganan. Karena untuk penyebab dan jenisnya saja, kita dapat menemukan keberagaman. Juga untuk korbannya, semua dari kita bisa saja mengalaminya. Bahkan Alkitab dengan jujur mencatat Elia pernah mengalami tekanan mental yang begitu hebat hingga ia ingin segera mati saja (1 Raja-raja 19:4). Masalah mental adalah masalah universal yang membutuhkan perhatian yang tidak main-main. Terus terang saja, ketika aku menghadapi orang-orang dengan masalah seperti ini, aku membutuhkan pertolongan dari teman-teman yang berkutat di bidang kejiwaan (secara khusus mereka yang telah dihujani jutaan pengalaman). Itu sebabnya kita sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan Tuhan agar Ia membangkitkan para psikolog dan psikiater berkualitas yang mau bekerja dengan tulus hati dan penuh kesabaran untuk kemuliaan-Nya.

Meskipun pembahasan kita ini terkait masalah mental, aku tidak akan menggeser sorotan utamaku yang tertuju pada nilai manusia. Apakah nilai kita berbeda-beda karena pikiran kita berbeda-beda? Bukankah bisa terjadi dalam sebuah komunitas masyarakat, ada satu orang yang hidup tenang dengan pikiran yang jarang ditimpa masalah, sedangkan satu yang lain terus-menerus mencari kesempatan untuk mengakhiri hidupnya karena tekanan yang begitu berat? Bukankah dalam satu keluarga, ada satu anak yang dilahirkan autis sedangkan satu yang lainnya tidak?

Ini merupakan bukti yang amat jelas (dan mungkin todongan serius kepada para penganut naturalisme dan materialisme) bahwa betapa rapuhnya jika nilai manusia disandarkan atau didasarkan pada pikiran semata. Secara esensial, pertanyaan-pertanyaannya masih sama. Jika hanya pikiran yang menjadi dasar nilai seseorang, siapakah yang lebih bernilai antara seorang Cendekiawan yang memperoleh gelar doktoral di usia yang masih belia dengan seorang pasien yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa sejak remaja? Jika hanya pikiran yang menjadi dasar nilai seseorang, kita mau pilih yang mana, yang Jenius atau yang Idiot? Jika hanya pikiran yang menjadi dasar nilai seseorang, kita lebih menghormati siapa, yang punya IQ di atas 140 atau dia yang sejak kecil sampai dewasa masih harus dibantu orang tuanya saat makan dan saat pergi ke kamar kecil?

Aku percaya, untuk menjawab pertanyaan ini dengan “utuh”, baik sains maupun filsafat harus mengaku berutang kepada Alkitab. Bahkan aku terlalu yakin kalau utang itu tidak akan mungkin dapat dilunasi. Selain penegasan penting tentang identitas manusia dalam kitab Kejadian, yakni bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah Sang Pencipta (Kejadian 1:27), Kekristenan dengan sangat jelas percaya bahwa engkau, aku, dan dia, si pintar dan si bodoh, si jenius dan si idiot, presiden dan pengemis, cendekiawan dan autis, yang bermental baja dan si tukang menangis, semuanya, semua kita bernilai karena kita dicintai sedemikian dalam oleh-Nya.

Memang pada saat dosa masuk ke dalam dunia, pikiran manusia telah tercemar (Roma 3:10-18). Ada anak yang dilahirkan dengan kemampuan berpikir yang kurang baik, ada orang yang mudah mengalami depresi, dan berbagai bentuk masalah mental lainnya. Tetapi salib di atas Kalvari menjadi saksi tentang harga mahal yang dibayar oleh Anak Allah yang mau datang dan mati bagi dunia ini (Yohanes 3:16). Sang Pemilik Semesta mau mati bagi dunia yang penuh dengan para pemilik masalah mental.

Sehingga secara sederhana aku dapat berkata dengan berani bahwa engkau, aku, dan dia berharga bukan hanya karena kita memiliki pikiran, melainkan karena kita dibayar dengan darah Kristus. Pikiran kita dan orang-orang yang kita sayangi sangat terbatas, bahkan mungkin beberapa di antaranya amat memprihatinkan dan membutuhkan pertolongan medis yang ketat. Tetapi jangan pernah lupa, kita Dia yang mulia rela terhina dan mau memberikan nyawa-Nya bagi kita. Jemaat Korintus yang hidupnya begitu amburadul pernah diingatkan oleh Paulus, bahwa mereka telah lunas dibeli (1 Korintus 6:20).

Seberharga itulah kita. Jauh lebih mahal dari permata dan emas.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Ketika Hidup Ditilik oleh Firman: Perenunganku tentang Reformasi Gereja

Hari ini 503 tahun silam terjadi peristiwa Reformasi. Bagi kita yang hidup di abad ke-21, pencapaian tokoh-tokoh Reformasi yang mengguncangkan dunia merupakan sesuatu yang hebat dan kelihatannya berada di luar jangkauan kita.

“Mungkinkah Allah bekerja melalui diriku di masa sekarang?”

Wanita untuk Kemuliaan Allah

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Dalam dunia yang penuh dengan kasus penyelewengan hak hidup seorang manusia, kita semua, orang Kristen, secara khusus mereka yang kaum wanita, menginginkan emansipasi (pembebasan dari perbudakan). Tak satupun dari semua wanita yang pernah berbincang denganku menginginkan dirinya dianggap rendah derajatnya oleh orang lain. Mirisnya, sejarah telah dengan sangat jelas mengisahkan bagaimana para wanita selama ini sering dianggap sebagai objek yang terus disalahgunakan. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah, semua itu dianggap wajar oleh masyarakat dan budaya kita.

Aku punya banyak teman wanita yang telah diperlakukan dengan tidak pantas dan tidak adil bahkan oleh orang terdekat mereka. Beberapa tahun yang lalu, di suatu hari yang tidak kusangka-sangka, salah seorang teman wanita menghubungiku dan menyampaikan sesuatu yang menyesakkan dada. Ia katakan bahwa telah dinodai berkali-kali. Dan yang lebih memilukan hatiku adalah ketika ia memilih untuk diam dan tidak melaporkannya kepada pihak berwajib. Ia punya beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah ia takut ditinggalkan dan direndahkan oleh orang lain, termasuk kekasihnya. Aku memang punya pemikiran lain dan mendorongnya untuk bertindak tegas. Namun di akhir percakapan kami, dengan hati terluka bagai disayat-sayat dengan pisau tajam, aku tetap menghormati keputusannya itu.

Aku tahu, meski dengan kasus yang berbeda, ada banyak wanita yang merasakan tekanan yang sama. Aku tahu begitu banyak air mata kaum wanita yang tercurah di tempat gelap dan sepi yang menuntut keadilan. Mereka semua haus akan kasih sayang dan menginginkan rasa hormat. Mereka tahu mereka mempunyai “nilai” yang tak boleh diabaikan begitu saja. Dan mereka benar. Mereka memang pantas dihormati sebagaimana Allah menetapkan memberikan mereka hak untuk itu.

Dalam kondisi yang telah rusak dan tercemar dengan segala jenis perendahan harkat yang menimpa kaum wanita, Yesus Kristus secara mengejutkan, menjungkirbalikan anggapan umum yang telah mendarah-daging pada masyarakat kuno abad pertama. Pada saat Ia bangkit dari kematian-Nya, saksi pertama dari kisah yang mengguncangkan sejarah itu adalah Maria Magdalena, seorang wanita. Mengapa bukan tokoh yang dianggap penting seperti Petrus, Yohanes, Yakobus, atau murid pria lainnya? Mengapa saksi pertama dari mukjizat yang amat besar, yang telah mengubah seluruh peradaban ini adalah seorang wanita, yang saat itu kesaksiannya dianggap tak berguna dalam pengadilan? Bahkan bagi orang Yahudi, ada doa mereka yang berbunyi: “Kami bersyukur, ya Tuhan Raja semesta alam, karena Tuhan telah menjadikan kami laki-laki dan bukan perempuan”.

Dapat dibayangkan “kepedihan jiwa” seorang wanita, apalagi mereka yang telah hidup dalam kebangkrutan moral, jika mendengarkan teriakan doa seperti itu. Apabila seorang wanita yang telah hidup bersahaja dan mati-matian menjaga kehormatan saja dapat dihancurkan oleh doa semacam itu, bagaimana dengan para wanita yang punya masa lalu kelam? Bagaimana terpukulnya seorang wanita yang selama hidupnya telah terlanjur mengambil begitu banyak pilihan keliru yang sudah menyeretnya penyesalan yang amat dalam?

Apakah para pria berbeban memikirkan semua ini dengan kesungguhan hati? Tentu saja! Ada jutaan ayah yang berjuang mati-matian untuk membela putri mereka. Ada jutaan suami yang bahkan rela kehilangan segalanya untuk istri mereka. Dan semua itu benar-benar dapat membuat hati meleleh. Tetapi dengan berani aku menjamin bahwa tidak ada yang dapat menandingi kasih sayang yang meluap-luap dan keseriusan menggebu-gebu seperti yang dimiliki seorang pria dari Nazaret bernama Yesus Kristus, Tuhan kita, kepada semua wanita di manapun berada. Ia tahu persis keterpurukan banyak wanita dan mengenal baik sensitivitas hati mereka. Ia memandang jauh ke dalam sanubari mereka.

Kembali pada kebangkitan Kristus. Bukankah peristiwa penting ini harus pertama-tama disaksikan oleh seorang yang juga penting? Jawabannya ya! Karena Maria memang penting. Lebih dari itu, karena wanita amat berharga bagi Allah.

Coba mundur beberapa langkah dan renungkan ketika Allah yang tiada batas, yang berkuasa atas dunia ini, yang menggantungkan milyaran bintang di angkasa, mau datang ke dalam dunia melalui rahim seorang perempuan muda bernama Maria. Dalam kedaulatan-Nya yang sempurna, Allah telah menetapkan tunangan Yusuf ini untuk mengambil bagian dalam proses penyelamatan seluruh umat manusia. Semua itu memang sepenuhnya adalah inisiatif dan pekerjaan Allah, yang tanpa kehendak dan kuasa-Nya tak mungkin untuk terlaksana. Tujuan-Nya memang tidak bergantung pada manusia manapun. Tetapi jangan pernah lupakan sebuah fakta mengagumkan ini: Allah memilih gender yang dianggap lemah untuk Ia hadir dalam dunia. Dengan kuasa-Nya Ia memilih seorang wanita dan memakainya untuk karya agung ini. Ia mau mengingatkan semua pria di manapun berada, dalam segala bentuk budaya, bahwa wanita benar-benar berharga di mata-Nya.

Kita tentu telah melihat bagaimana Ester/Hadasa dipakai oleh Allah untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi. Kita juga tahu bagaimana Allah bekerja melalui keberanian Debora (Hakim-Hakim 4-5). Kita terkagum-kagum ketika Rut dipelihara oleh Allah. Hati kita meleleh saat mendapati kisah Yesus memperlakukan wanita Samaria yang letih dan haus dengan penuh kasih sayang (Yohanes 4). Kita tak berhenti terpana dengan kelembutan hati-Nya saat Ia membela seorang wanita berdosa di rumah Simon orang Farisi (Lukas 7). Dan begitu banyak kisah lain lagi.

Maka jika Allah dapat memakai para wanita dengan berbagai layar belakang dan masa lalu yang berbeda untuk kemuliaan nama-Nya seperti yang dicatat oleh Kitab Suci, maka Allah yang sama pula akan memakai semua wanita yang mau hidup bagi-Nya. Apa pun pekerjaanmu, baik sebagai ibu rumah tangga, pengusaha, pegawai, guru, mahasiswa, ataupun yang lain, biarlah engkau bekerja dengan cara-Nya untuk kemuliaan-Nya. Apa pun latar belakangmu, baik seorang wanita muda yang kurang berpengalaman atau mungkin seorang janda yang harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupmu, semuanya ada dalam pengawasan Allah. Bahkan untuk para wanita yang punya masa lalu kelam, bangkitlah dan hapus air matamu, berseru kepada-Nya dan pandang ke Salib itu dan berkatalah dengan lemah lembut “Aku Wanita, dan Aku Beharga”.

Yesus Kristus telah mati bagimu, Para Wanita untuk kemuliaan Allah. Hiduplah bagi-Nya.

Baca Juga:

Di Mana Kita Bisa Mengetahui Pimpinan Tuhan?

Sering sekali kita merasa bahwa Tuhan telah memimpin kita karena kita melihat kesan-kesan baik yang bisa kita terima. Tapi, pernahkah kita menyelidiki sungguh kah kesan yang baik itu pasti menunjukkan ke situlah jalan yang harus kita ambil?

Buatlah Pilihan untuk Melakukan Perkara Surgawi

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Jika kamu pernah mengemudi sebuah motor, apalagi dengan kecepatan yang cukup tinggi, kamu tentu tahu bahwa hanya dengan satu kesalahan pilihan saja, sesuatu yang fatal dapat segera terjadi.

Hidup adalah pilihan, dan setiap pilihan yang kita ambil selalu memiliki konsekuensi yang harus kita tanggung.

Makanan apa yang kita makan? Pakaian seperti apa yang kita kenakan? Bagaimana cara kita tidur? Jika keputusan yang kita pilih terhadap hal-hal yang terlihat kecil seperti itu saja mengandung sebuah risiko yang serius jika diabaikan. Bagaimana dengan pilihanmu terkait sebuah profesi yang menantimu di masa depan?

Kita hidup dalam budaya yang cenderung mengagung-agungkan apa yang terlihat oleh mata dan mengabaikan apa yang ada di baliknya. Itu sebabnya di negara kita—jika tidak selalu—mungkin banyak kita temui orang tua yang lebih menginginkan anaknya bekerja untuk sebuah instansi yang “mewajibkan” pekerjanya menggunakan pakaian rapi. Mereka ingin anaknya terlihat “terhormat” dalam pandangan masyarakat umum.

Aku punya seorang teman yang dianggap remeh oleh orang lain termasuk beberapa keluarganya karena ia adalah seorang peternak yang selalu tampil kotor dengan pakaian khas ala gembala. Ejekan demi ejekan ia terima dari mereka yang tidak sadar bahwa temanku itu punya penghasilan pribadi yang berkali-kali lipat dari para pekerja berdasi yang aroma bajunya wangi. Tapi, aku juga punya banyak teman—baik pria maupun wanita—yang senang sekali menjalin hubungan serius dengan orang-orang berparas menawan tanpa menyelidiki karakternya. Mereka lupa bahwa kecantikan bukan melulu soal wajah dan tubuh.

Aku sama sekali tidak bermaksud untuk membanding-bandingkan jenis pekerjaan orang dan mencari-cari kelemahannya. Aku juga tidak bermaksud untuk menjadi hakim atas baik buruknya sebuah selera akan pasangan hidup. Aku hanya sedang memastikan kita benar-benar menyadari bahwa kita sedang “menari” di dalam dunia yang menomorduakan atau bahkan menutup mata terhadap sesuatu yang “tak nampak”. Inilah yang membuat begitu banyak tipuan, yang mungkin kelak akan berujung pada penyesalan.

Di dalam mengambil sebuah pilihan, apa pun itu, ingatlah bahwa semuanya memiliki dampak yang signifikan dalam hidup kita, cepat atau lambat. Itu sebabnya sebagai seorang anak Tuhan berhati-hatilah dalam memilih.

Perhatikanlah apa motivasimu memilih sesuatu dan caramu menjalaninya. Rasul Paulus mengatakan, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah” (Kolose 3:1). Di sini Paulus sedang mengingatkan kepada jemaat Kolose untuk menyadari identitas mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah dibangkitkan bersama Kristus. Dengan kata lain, mereka adalah warga kerajaan surga yang harus mencari perkara-perkara surgawi. Setiap pilihan dan keputusan yang mereka ambil serta setiap tindakan yang mereka jalankan harus sejalan dengan Kristus yang telah memberikan keselamatan dan status baru kepada mereka, yaitu anak-anak Allah. Demikian jugalah kita yang percaya kepada-Nya.

Sebagai orang-orang yang telah dibayar dengan darah Kristus, apa saja yang akan kita pilih dan bagaimana kita menjalaninya nanti, kita sama sekali tidak boleh melupakan tujuan dan cara kita adalah memuliakan Allah.

Jangan khawatir hanya pada apa yang terlihat oleh mata, karena dalam pengertian tertentu tidak ada yang “sekuler” dalam kekristenan. Jangan berpikir bahwa dengan menjadi seorang pengkhotbah, pemimpin pujian, ketua pemuda, dan semacamnya adalah sesuatu yang disebut “perkara di atas” atau “perkara surgawi” sedangkan menjadi seorang penjual kue, pilot, buruh bangunan dan sebagainya merupakan apa yang disebut “perkara di bumi” atau “perkara duniawi”.

Seperti yang telah aku singgung pada bagian awal, itu adalah pemikiran keliru yang tidak komprehensif. Fakta sedihnya ada beberapa orang yang berkhotbah dan memimpin pujian supaya dipuji-puji orang. Tetapi ada banyak sekali pula orang-orang yang mau menjual kue, menjadi pilot, bahkan buruh bangunan untuk melayani orang lain. Yang manakah perkara di atas dan yang manakah perkara di bumi? Sangat mudah ditebak bukan?

Beratus-ratus tahun sebelum Yesus dilahirkan di Betlehem, Ezra, Nehemia dan bangsa Israel diizinkan pulang ke tanah mereka setelah diangkut oleh bangsa Babilonia. Ketika mereka tiba di kampung halaman mereka, dibangunlah tembok Bait Allah oleh pimpinan Nehemia sang “insinyur”. Ezra sang imam mengajarkan kembali Taurat yang mungkin telah banyak dilupakan oleh bangsa ini semasa di pembuangan.

Di antara keduanya (Ezra dan Nehemia), siapa yang sedang melakukan perkara surgawi?

Apakah hanya Ezra karena ia yang mengajarkan Taurat? Apakah tembok Bait Allah yang dibangun oleh Nehemia bukan untuk kemuliaan Allah? Tentu tidak! Mereka berdua sedang melakukan perkara surgawi karena mereka memilih mengerjakan sesuatu sesuai dengan keahlian dan keterampilan mereka agar nama Tuhan dimuliakan. Allah memberikan keterampilan dan bakat yang berbeda-beda kepada setiap kita agar supaya kita saling melengkapi satu sama lain.

Coba bayangkan jika semua orang Israel yang pulang dari pembuangan hanya sibuk membangun Bait Allah dan temboknya. Taurat akan diabaikan. Sebaliknya, coba bayangkan jika Ezra dan Nehemia bersama mengajarkan Taurat dan membiarkan Bait Allah dan temboknya tidak dibangun.

Dalam konteks kita saat ini, aku sungguh tidak dapat membayangkan apabila semua orang (Kristen) menjadi pendeta, entah siapa yang akan membantu persalinan ibu hamil? Kita perlu orang Kristen yang mau menjadi bidan untuk kemuliaan Tuhan! Kita perlu dokter yang mau melayani Allah dan sesamanya! Dunia ini butuh orang-orang yang mau hidup dan mati bagi Kristus.

Jadi jika kamu mau memilih segala sesuatu untuk masa depanmu, entah itu pendidikanmu, pekerjaaanmu, pasangan hidupmu, terlebih dahulu engkau harus bertanya, “Apakah pilihan ini dapat menjadi perkara di atas bagiku? Apakah aku melakukannya untuk Kristus?”

Jangan lupa meminta nasihat dari orang-orang yang hidup dalam Tuhan.

Baca Juga:

Tuhan Lebih Tahu Sedalam-dalamnya Kita

Memilih berjalan bersama Tuhan dan mengikuti semua kehendak-Nya adalah pilihan yang harus kita ambil. Kadang kita tidak tahu apa rencana Tuhan atas hidup kita, padahal sebenarnya yang lebih tahu sedalam-dalamnya hidup kita adalah Tuhan, bukan diri kita sendiri.

Perjumpaan dengan-Nya, Mengubah Segalanya

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Bertahun-tahun lalu hiduplah seorang remaja yang sikapnya kasar dan tak punya tujuan hidup. Dia bukan hanya sering membentak dan menghina orang tuanya, dia bahkan tidak percaya kepada Tuhan. Ketika masih SMA, dia terkenal karena suka mengejek kepercayaan teman-temannya. Dia pernah juga menantang gurunya dengan cara yang tidak sopan untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Tak heran, dengan sikap demikian, dia seringkali mendengar kalimat keluhan bernada putus asa dari orang-orang di sekitarnya.

“Mau jadi apa anak ini?”

“Kelihatannya dia akan jadi seorang penjahat.”

“Tidak ada harapan untuk manusia seperti ini.”

Itulah beberapa “ramalan” yang paling santer mampir di telinga remaja itu. Tahukah kamu siapa dia? Akulah sang remaja itu.

Tak seorang pun menyangka, Tuhan yang selama bertahun-tahun kuhina menjadi Tuhan yang kini aku layani. Banyak orang terheran-heran, menggelengkan kepala seolah tak percaya ketika melihatku berdiri di sebuah mimbar dan berbicara tentang kasih Tuhan Yesus dan kuasa-Nya yang mampu mengubahkan manusia.

Begitulah kehidupan, penuh dengan kejutan. Manusia bisa menduga-duga, namun Allah mengetahui dengan jelas dan pasti masa depan seseorang.

Aku tidak akan menceritakan detail kisahku, namun seperti yang terjadi padaku, itu jugalah yang terjadi kepada seseorang bernama Paulus. Dahulu, Paulus adalah seorang yang membenci Yesus dan pengikut-Nya. Paulus adalah teror yang amat mengerikan bagi jemaat Tuhan. Mereka menghindari dan menjauhinya. Sebelum berjumpa dengan Tuhan Yesus seperti dikisahkan di Kisah Para Rasul 9, siapa yang menyangka Saulus akan menjadi salah satu pemberita Injil yang paling berani? Siapa yang mengira dia akan menjadi penulis kitab terbanyak dalam Perjanjian Baru?

Mungkin atas apa yang telah dilakukannya, Paulus bisa disebut sebagai “mantan penjahat”, sebuah istilah yang hari ini masih sering disematkan orang padaku. Jujur, mendengarnya membuatku malu dan menangis. Tapi, di balik semua itu, aku juga bersyukur karena saat ini aku dapat dengan yakin berteriak nyaring bahwa, “Tidak ada seorang pun yang terlalu kotor dan hancur yang tidak bisa diubahkan oleh Allah.”

Rasul Paulus, St. Agustinus, dan banyak lagi tokoh lainnya telah menjadi bukti nyata. Perjumpaan dengan Kristus sungguh-sungguh dapat mengubahkan siapa saja. Aku tidak berkata, setelah aku mengenalnya, aku lalu menjadi sempurna. Sama sekali tidak. Rasul Paulus pun tidak sempurna, apalagi aku. Aku berulang kali jatuh dan gagal. Tetapi, aku bisa bangkit. Bukan karena aku hebat, tetapi karena perjumpaanku dengan-Nya itu telah menyadarkanku bahwa aku berharga di mata-Nya. Jika Dia mau mati bagiku, maka aku mau hidup bagi-Nya. Dan dengan segala keterbatasanku, Dia terus memperbaharuiku hari demi hari dan menyembuhkan luka masa laluku. Itu jugalah yang akan terjadi padamu jika kamu mau menerima-Nya sebagai satu-satunya Tuhan dan Penyelamat pribadimu.

Setiap kita punya kelemahan dan kekurangan. Di antara kita, ada yang punya bercak-bercak masa lalu yang kelam, bahkan sangat memalukan dan mungkin tergolong menjijikkan. Kita pernah bertindak ceroboh dan memilih hal konyol yang akhirnya mencelakai kita. Kita pernah melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Mungkin sempat terpikir di benak kita, bahwa sudah terlambat bagi kita untuk memperbaiki semua yang rusak yang telah terjadi di masa lalu. Mungkin orang lain telah memasang stigma “hitam” atas diri kita. Mungkin sebuah julukan buruk telah mereka gantungkan di leher kita. Lalu dengan mengingat semuanya itu, kecewalah kita dan harapan kita pun meleleh bak lilin yang terbakar.

Kita lupa, bahwa terlepas dari segala perlakuan dan pandangan dunia atas segala kegagalan kita, ada satu kasih yang tak terbatas yang sepanjang hari berdiri menunggu di depan pintu hati kita. Jari jemari-Nya tak lelah mengetok pintu itu. Dia menanti dengan kesabaran yang tak terukur namun disertai kerinduan yang besar. Dialah Yesus Kristus. Dialah Tuhan yang pernah berkata kepada jemaat di Laodikia:

“Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan mebukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Wahyu 3:19).

Cobalah diam sebentar. Dengarkan suara-Nya. Dia tepat berada di depan pintu hatimu. Suara ketokan-Nya semakin keras. Suara lembut-Nya memanggil namamu berkali-kali. Pergilah temui Dia.

Perjumpaanmu dengan-Nya akan mengubah segalanya.

Baca Juga:

Melihat Jelas Batas Antara Hidup dan Mati, Ini Kisahku Menjadi Perawat di Masa Pandemi Covid-19

Aku bertugas di ICU. Bersama timku kami merawat pasien-pasien yang terindikasi COVID-19. Pandemi virus corona ini hadir secara nyata di tengah kita, namun kita pun yakin bahwa Tuhan turut berkarya di tengah-tengah pandemi ini.

Penderitaan yang Membingungkan dan Yesus yang Kukenal

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Kita hidup dalam dunia yang telah berteman akrab dengan penderitaan. Ketika dosa masuk ke dalam dunia ini, dimulailah konsekuensi yang saat ini kita tanggung. Ada derai air mata kepedihan, jerit kesakitan, dan berbagai luka kehancuran.

Ketika persoalan hidup seolah lebih banyak dari pasir di laut, kita masih bisa bersyukur karena firman Tuhan terus tersedia, menjadi pegangan yang kokoh dan tak tergoyahkan. Tetapi, jika kita harus bersikap jujur, bukankah kita tetap dibingungkan oleh pertanyaan hidup seputar penderitaan? Di satu sisi kita tahu Allah itu baik, tetapi di satu sisi yang lain, bertumpuklah pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di pikiran dan mungkin pula menggores hati.

Mengapa Allah yang baik mengizinkan penderitaan terjadi pada kita semua? Itulah inti semua pertanyaan kita.

Suatu kali seorang teman yang kukasihi datang kepadaku dan bercerita tentang kehidupannya yang berat. Dia dan keluarganya telah melayani Tuhan cukup lama. Di suatu malam yang disertai guyuran hujan, dia dengan nada pelan dan gaya bicaranya yang lembut mengisahkan bagaimana dia dan keluarganya harus melewati masa sulit terkait kehidupan ekonomi yang sangat memprihatinkan. Temanku itu seorang yang suka menolong. Sudah banyak orang yang menerima kebaikannya. Tetapi, suatu kali dia dirugikan oleh seorang yang telah dianggapnya sebagai keluarga. Akibatnya, mereka bergumul untuk biaya hidup sehari-hari. Kondisi keuangan yang berada pada titik nadir membuat kebutuhan dasar keluarganya susah dibeli. Aku berusaha tidak ikut menangis ketika mendengarkan cerita pilunya.

Sejujurnya aku kaget dengan keputusannya menceritakan sebuah hal yang benar-benar sangat pribadi itu. Tetapi aku memahami perasaannya. Dia tak mampu menanggungnya sendiri. Sebagai seorang pria yang merasa gagal bertanggungjawab atas istri yang dicintainya, dia membutuhkan tempat berkeluh kesah. Setelah percakapan emosional itu, dalam kebingungan aku bertanya, “Di manakah Engkau Tuhan? Mengapa Engkau mengizinkan mereka yang mengasihi-Mu mengalami penderitaan-penderitaan seberat ini?”

Pemahaman kita tentang kebaikan Allah

Sebagai orang percaya kita berkali-kali diajarkan tentang kebaikan Allah. Aku rasa pemahaman itu telah lama masuk dalam daftar utama pengetahuan kita. Bahkan mungkin sejak kita berada di sekolah Minggu, inilah yang paling sering disampaikan oleh para pengajar. Tetapi, mengapa Allah yang baik itu mengizinkan penderitaan, bahkan yang sangat berat, terjadi kepada kita anak-anak-Nya? Betapa hancurnya kehilangan seorang yang dicintai, divonis penyakit mematikan, melihat orang tersayang terkapar tak berdaya, dan dikhianati orang yang dipercaya. Semua itu benar-benar menyesakkan dada, juga menimbulkan jutaan pertanyaan membingungkan yang tak mungkin diabaikan begitu saja. Kita menantikan jawaban atasnya.

Tetapi sebelum masuk dan membahas masalah ini lebih jauh, aku berharap kita bersepakat dan mengakui satu hal terlebih dahulu. Meskipun tidak pada semua kasus, faktanya ada juga banyak penderitaan yang terjadi pada kita karena kecerobohan dan kelalaian kita sendiri. Dalam keadaan seperti ini kita harus dengan rendah hati mengakui kesalahan kita di hadapan Allah dan meminta-Nya agar menolong kita berubah menjadi lebih baik. Maafkan aku untuk memberikan contoh ini, namun kita yang tidak suka menjaga kesehatan dan yang senang berkendara dengan ugal-ugalan, lalu mendapat akibat buruk, tidak layak mempersalahkan orang lain, termasuk Allah. Karena sering kali kita yang menancapkan banyak pedang di hati Allah lalu menuduh-Nya jahat padahal hati kita tergores oleh pisau kecil yang kita pegang sendiri.

Tetapi bagaimana jika kasusnya lain? Bagaimana jika kita telah berusaha hidup benar tetapi masih tetap dihantam oleh gelombang penderitaan? Apakah itu adil? Jika kanker menyerang tubuh seorang seperti Adolf Hitler yang telah merenggut lebih dari sepuluh juta nyawa manusia demi ambisinya yang jahat, aku rasa banyak dari kita yang tidak akan merasa heran. Menanggapinya, mungkin kita dengan ketus akan berkata, “itu sebuah karma”.

Untuk membantu kita mendalami persoalan yang tidak mudah ini, sebenarnya kita bisa melihat ada begitu berlimpah tokoh hebat dalam Alkitab yang hidupnya dipenuhi dengan penderitaan. Dari kisah dan kesaksian mereka semua kita bisa melihat cara kerja dan karakter Allah. Karena aku yakin kehidupan mereka masing-masing akan membawa kita pada kesimpulan yang sama. Salah satunya Ayub. Dia bukan orang jahat. Kitab Ayub memberikan keterangan tentangnya membuat kita kagum. Ayub adalah orang saleh. Tetapi dia mengalami penderitaan hebat.

Namun dalam tulisan ini, aku tidak akan mengajak kita semua untuk membedah kisah Ayub atau tokoh lain dalam kitab Perjanjian Lama. Aku hanya akan membawa kita untuk secara khusus mengarahkan lampu sorot kepada kehidupan seorang rasul bernama Paulus dengan melihat sedikit perkataan dalam sebuah suratnya, kemudian mengaitkannya dengan sebuah peristiwa sejarah yang paling penting yang telah mengubah peradaban dunia, yaitu salib Yesus Kristus.

Dalam suratnya kepada Timotius yang merupakan seorang anak rohani yang dikasihinya, Paulus memberikan dorongan dan penghiburan yang memang sangat dibutuhkan di masa-masa sulit itu. Pada saat itu, menjadi orang Kristen sama saja dengan membawa diri pada bahaya-bahaya yang serius. Paulus bahkan sudah lebih dulu mengalaminya. Mengetahui bahwa sang murid juga nantinya akan menghadapi semuanya itu, Paulus tidak tinggal diam. Dia mengirimkan surat keduanya untuk Timotius. Demikian penggalan tulisannya:

“Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan” (2 Timotius 1:12).

Seperti yang kita tahu, Paulus adalah seorang yang sangat akrab dengan penderitaan. Semenjak dia “ditangkap” oleh Tuhan dalam perjalanan ke Damsyik dan memutuskan untuk melayani-Nya, dia mulai berteman dekat dengan kepedihan. Dia kelaparan, kedinginan, dianiaya, dan dipenjarakan karena Kristus. Sampai di sini, aku yakin—sama seperti kita dan para tokoh Alkitab lainnya—Paulus karena keterbatasannya mungkin tidak dapat memahami secara utuh maksud dan rencana Tuhan. Namun dalam suratnya itu, dia berkata bahwa dia tahu kepada siapa dia percaya.

Mari perhatikan dengan cermat perkataannya. Ketika ia berkata, “Aku tahu kepada siapa aku percaya”, dia sedang menegaskan pengenalannya akan sosok yang dia sebutkan, yaitu Yesus Kristus.

Mengapa hal ini menjadi penting? Karena poin inilah yang dapat membawa kita pada kelegaan.

Seperti yang telah sedikit aku singgung sebelumnya, dalam kehidupan kita seringkali pertanyaan-pertanyaan yang sulit muncul dan membelenggu kita. Kita tak bisa memahami rencana Allah dalam hidup kita secara utuh dan jelas. Ada banyak hal yang tersembunyi, dan keterbatasan kita seakan membuat kita tak berdaya hingga menjadi berpasrah diri dengan wajah lesu dan kecewa. Tetapi, beruntunglah kita karena pengenalan yang benar akan Yesus Kristus yang akan memberikan pijakan yang tak dapat menggoyahkan kaki kita. Inilah yang Paulus ingin agar kita lakukan, yakni mengenal siapa yang kita percayai. Walaupun mengetahui atau mengenal siapa yang kita percaya tidak lantas melenyapkan deretan pertanyaan membingungkan yang ada di kepala kita, namun itu akan menentukan cara kita melihat sesuatu dengan lebih baik.

Biarkan sebuah cerita pendek ini membantu menjelaskan hal ini.

Ada sebuah pasangan suami istri yang memiliki seorang bayi kecil yang cantik. Di suatu pagi sang istri mendapatkan tugas untuk membeli makanan bagi bayi mereka dan sang suami mendapat tugas untuk menjaga bayi itu di rumah. Tetapi setelah berjam-jam meninggalkan rumah, si istri tak kunjung kembali. Bayi kecil yang mulai menangis kelaparan mulai membuat sang ayah menjadi cemas, khawatir, dan marah. Dia khawatir dengan bayinya yang kelaparan itu. Dia marah dengan istri yang tak tahu ada di mana. Dia cemas dan menimbun banyak pertanyaan di kepalanya. Dengan wajah kesal dia mulai bergumam, “di mana wanita ini?”

Meskipun ada begitu banyak dugaan, dia tidak dapat memastikan keberadaan istrinya saat itu. Dia benar-benar tidak tahu. Tetapi teringatlah dia pada satu hal. Dia tahu siapa istrinya. Dia kenal siapa istrinya. Istrinya adalah seorang yang telah “meninggalkan” keluarganya demi menikah dengannya dan merawat dia dengan kasih sayang. Istrinya adalah seorang yang telah mempertaruhkan nyawanya pada saat melahirkan bayi mereka itu. Berkali-kali dia melihat istrinya memaksakan diri, melawan kantuk, untuk bangun di tengah malam, menggantikan popok, membuatkan susu, dan menyanyikan lagu dengan suaranya yang jelek itu demi menidurkan bayi yang dikasihi itu. Semuanya dilakukan dengan ketulusan dan tanpa keluhan, bahkan di saat istrinya sedang sakit. Sang suami tahu persis, istrinya mencintai bayi itu, bahkan melebihi nyawanya sendiri.

Tetapi kembali terbesit pertanyaan menjengkelkan itu. “Mengapa istriku belum kembali?” Dia tidak tahu! Tetapi ada satu hal yang dia tahu. Dia tahu dan mengenal baik siapa istrinya. Untuk semua yang pernah istrinya lakukan bagi bayi mereka, untuk segala kesetiaan dan pengorbanan yang tak kecil, dia yakin tak mungkin istrinya mau mencelakakan bayi itu. Lalu mengapa istrinya belum kembali? Ada di mana dia?” Jawabannya adalah “Tidak tahu!” Tetapi sekali lagi ada suara dari lubuk hati paling dalam yang berbisik dalam batinnya, “Untuk semua yang telah istriku lakukan bagi aku dan anakku, aku tahu siapa istriku! Aku tahu dia punya alasan.” Tetapi apa alasannya? “Aku tidak tahu! Tapi aku tahu dan aku kenal siapa dia.”

Sama seperti sang suami yang tidak mengetahui dengan pasti keberadaan istrinya, kita juga mungkin tidak memahami bagaimana cara Allah bekerja. Kita tidak mengerti mengapa Dia mengizinkan kita mengalami luka yang sedemikian menyakitkan. Kita benar-benar tidak tahu. Kita dibingungkan dengan sederet pertanyaan “mengapa”. Mengapa ini, mengapa itu, mengapa aku begini, mengapa terjadi begitu? Mengapa orang lain yang mendapatkannya padahal aku yang telah melakukan lebih baik? Mengapa bukan orang jahat itu yang menanggung semua beban ini? Begitulah keadaannya. Tetapi jika satu dari pertanyaan sulit itu dijawab, muncul lagi pertanyaan membingungkan lainnya. Terus-menerus begitu.

Lalu di mana kita harus berhenti? Mari menjawab satu pertanyaan penting ini:

Tahukah kita siapa Yesus Kristus? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin tidak melenyapkan pertanyaan-pertanyaan membingungkan sebelumnya. Tetapi aku percaya jawaban itu akan menjadi seperti air segar yang tercurah dari langit di tengah terik yang kering. Yesus Kristus adalah Pribadi Allah yang meninggalkan surga yang mulia dan memilih lahir di palungan sebuah kandang domba untukmu dan untukku. Dia ditelanjangi dan diludahi oleh mereka yang dikasihi-Nya. Tangan yang dikasihi-Nyalah yang menancapkan paku ke dalam tangan dan kaki-Nya. Dia yang tak bersalah bersedia mati bagi kita yang selalu menyakiti hati-Nya.

Apakah masuk akal jika Pribadi yang pernah terhina seperti itu, Pribadi yang menyerahkan nyawa-Nya supaya kita menerima pengampunan dan jaminan keselamatan, Pribadi yang membuktikan cinta tanpa syarat bagi kita, berniat mencelakai kita? Tidak mungkin!

Lalu mengapa Dia mengizinkan semua kepedihan ini menimpa kita? Aku tidak tahu! Tetapi aku tahu siapa Dia! Sama seperti Paulus berkata, aku juga akan mengatakan hal yang sama, “Aku tahu kepada siapa aku percaya”.

Allah yang aku percaya adalah Allah yang telah mengorbankan diri-Nya demi aku. Ia mencintai aku. Aku kenal siapa Dia. Dia adalah Allah yang punya rencana indah bagi anak-anak yang dikasihi-Nya.

Hari ini, saat ini, aku tidak memahami cara kerja-Nya. Aku dibingungkan dengan keputusan-keputusan-Nya. Tapi imanku tidak goyah. Tidak akan pernah. Karena aku tahu kepada siapa aku percaya!

Dia adalah Allah yang bisa dipercaya dan diandalkan. Dialah yang berkata kepada Yeremia, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11).

Tuhan Yesus memberkati kita. Amin

(Segala kelemahan dari tulisan ini berasal dariku, berkatnya berasal dari Dia)

Baca Juga:

Mengalami Kehadiran Allah Ketika Menghadapi Bullying

Teman-temanku menuduh dan menjulukiku sebagai “tukang ngadu”, akibatnya aku dijauhi dan dirundung secara mental dan fisik. Masa-masa sekolah jadi momen yang menyakitkan. Namun, Tuhan menolongku melalui masa-masa ini.