Sejak kecil Elizabeth sangat suka dengan seni dan musik.
Karena kemurahan Tuhan, kuliahnya bisa di jurusan DKV. Setelah lulus, Elizabeth kuliah lagi tapi ambil jurusan Teologi. Sekarang, melayani penuh waktu di gereja dan kampus, tapi kecintaan terhadap seni dan musik tidak pernah hilang.

Posts

Kembali Berharap

Minggu, 14 April 2019

Kembali Berharap

Baca: Yohanes 5:1-8

5:1 Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem.

5:2 Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya

5:3 dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu.

5:4 Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya.

5:5 Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.

5:6 Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?”

5:7 Jawab orang sakit itu kepada-Nya: “Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.”

5:8 Kata Yesus kepadanya: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ . . . berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” —Yohanes 5:6

Kembali Berharap

Apakah matahari terbit dari timur? Apakah langit berwarna biru? Apakah air laut asin? Apakah massa atom kobalt 58,9? Baiklah, pertanyaan terakhir itu mungkin hanya bisa Anda jawab apabila Anda penggemar sains atau pengetahuan umum, tetapi pertanyaan-pertanyaan lainnya memiliki jawaban yang sangat jelas: Ya. Bahkan, pertanyaan-pertanyaan seperti itu biasanya dilontarkan dengan nada sedikit sinis.

Jika tidak berhati-hati, kita bisa mengira Yesus sedang bersikap sinis dengan mengajukan pertanyaan kepada seorang lumpuh: “Maukah engkau sembuh?” (Yoh. 5:6). Bagi sebagian dari kita, mungkin jawabannya seperti ini, “Yang benar saja?! Saya sudah menunggu-nunggu selama tiga puluh delapan tahun!” Namun, sebenarnya sama sekali tidak ada nada sinis dalam pertanyaan Yesus. Suara Yesus selalu penuh dengan belas kasihan, dan pertanyaan-pertanyaan-Nya selalu ditujukan untuk kebaikan kita.

Yesus tahu laki-laki itu ingin disembuhkan. Dia juga tahu bahwa mungkin sudah lama sekali tidak ada orang menunjukkan kepedulian kepadanya. Sebelum mengadakan mukjizat, Yesus bermaksud menghidupkan kembali harapan yang mungkin sudah lama mati dalam diri orang lumpuh itu. Caranya adalah dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat jelas, dan kemudian memberinya kesempatan untuk merespons: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” (ay.8). Sama seperti orang lumpuh itu, masing-masing dari kita menyimpan harapan yang sudah lama layu. Yesus melihat kita dan dengan penuh belas kasihan mengundang kita untuk kembali berharap serta percaya kepada-Nya. —John Blase

WAWASAN

Kota Yerusalem terletak sekitar 760 meter di atas permukaan laut, 53 km sebelah timur Laut Tengah, dan 22 km sebelah barat dari ujung utara Laut Mati. Seperti Roma, kota ini dibangun di atas perbukitan. Pintu Gerbang Domba yang disebutkan dalam Yohanes 5:2 adalah salah satu gerbang masuk ke Yerusalem zaman dahulu. Gerbang ini terletak di timur Gerbang Ikan dekat kolam Betesda dan tidak terlalu jauh dari Gerbang Santo Stefanus pada zaman modern. Pintu gerbang Domba inilah bagian dari tembok runtuh yang diperbaiki oleh “imam besar Elyasib dan para imam” di bawah pengawasan Nehemia (Nehemia 3:1; sekitar tahun 445 SM). Orang-orang lain bergotong royong membangun pintu gerbang Ikan, Lama, Lebak, Mata Air, Kuda, Timur, Pendaftaran, dan tembok-tembok penghubungnya (Nehemia 3:2-32). —Alyson Kieda

Dalam hal apa saja harapan Anda telah memudar? Apa yang pernah Yesus lakukan untuk menyatakan belas kasihan-Nya kepada Anda?

Tuhan Yesus, Engkau tahu betul ada bagian-bagian dalam hidupku yang di dalamnya harapanku telah pudar, layu, bahkan mati. Engkau juga tahu aku ingin kembali berharap. Kumohon, buatlah aku kembali bersukacita dalam pengharapan yang lahir karena aku mempercayai-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 25–26; Lukas 12:32-59

Background photo oleh: Ian Tan

Handlettering oleh Elizabeth Rachel Soetopo

Butuh Hati yang Baru?

Jumat, 5 April 2019

Butuh Hati yang Baru?

Baca: Yehezkiel 36:24-27

36:24 Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu.

36:25 Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.

36:26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.

36:27 Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.

Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu. —Yehezkiel 36:26

Butuh Hati yang Baru?

Kabar itu begitu suram. Belakangan, ayah saya mengalami sakit di bagian dadanya. Pemeriksaan menunjukkan adanya penyumbatan pada tiga titik di pembuluh darah arterinya. Ayah saya dijadwalkan menjalani operasi triple-bypass pada tanggal 14 Februari. Meskipun cemas, Ayah merasa tanggal tersebut membawa pengharapan baginya: “Saya akan dapat jantung baru sebagai hadiah Valentine!” Operasi berjalan lancar, sehingga pembuluh darah kembali mengalirkan kehidupan kepada jantung yang selama ini bekerja susah payah—jantungnya yang “baru”.

Operasi itu mengingatkan saya bahwa Tuhan juga menawarkan hidup baru kepada kita. Karena dosa telah menyumbat “arteri” rohani kita—kapasitas untuk berhubungan dengan Allah—kita memerlukan “operasi” rohani untuk membersihkan sumbatan itu.

Itulah janji Allah kepada umat-Nya di Yehezkiel 36. Dia meyakinkan mereka, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru. . . . Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat” (ay.26). Dia juga berjanji, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu” (ay.25) dan “Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu” (ay.27). Bagi yang putus asa, Allah menjanjikan awal yang baru karena hanya Dia yang dapat memperbarui kita.

Janji itu pun digenapi melalui kematian dan kebangkitan Yesus. Ketika percaya kepada-Nya, kita menerima hati baru yang telah bersih dari dosa dan keputusasaan. Hati kita yang baru dipenuhi Roh Kristus untuk mengalirkan darah kehidupan spiritual yang diberikan Allah, supaya kita juga “hidup dalam hidup yang baru” (Rm. 6:4). —Adam Holz

WAWASAN

Para nabi Perjanjian Lama kerap menuliskan nubuatan mereka dalam beberapa bagian. Saat membacanya pada zaman ini, kita seperti sedang berusaha merangkai berbagai bagian dari sebuah teka-teki. Bacaan kitab Yehezkiel hari ini berkesinambungan dengan bagian sebelumnya. Pada pasal 18, Yehezkiel berkata, “Buangkanlah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu!” (ay.31). Namun, bangsa Yehuda tidak sanggup melakukannya dengan kekuatan mereka sendiri (demikian juga kita). Itulah sebabnya Yehezkiel menulis, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru” (36:26).
Pesan bahwa manusia tidak mampu menyelamatkan diri sendiri itu kembali bergema dalam Perjanjian Baru. Paulus berkata, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu” (Efesus 2:1), kemudian ia menyampaikan bahwa kita diselamatkan “karena kasih karunia” dan “oleh iman” (ay.8). Ia juga menyimpulkan, “Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik” (ay.10). —Tim Gustafson

Bagaimana janji Tuhan tentang hidup baru membawa harapan saat Anda berjuang mengatasi rasa bersalah dan malu? Bagaimana hari ini Anda dapat lebih bergantung kepada kuasa Roh Kudus daripada bergantung kepada kekuatan sendiri?

Bapa, terima kasih untuk pengharapan dan hidup baru yang telah Engkau berikan melalui Yesus. Tolonglah kami mempercayai-Mu setiap hari di saat Roh-Mu menuntun kami dalam jalan hidup kami yang baru.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 1–3; Lukas 8:26-56

Handlettering oleh Elizabeth Rachel Soetopo

Mengejar Hikmat Surgawi

Hari ke-20 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus
Baca Pengantar Kitab Yakobus di sini

Mengejar Hikmat Surgawi

Baca: Yakobus 3:17–18

3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.

3:18 Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.

Mengejar Hikmat Surgawi

Saat masih remaja, aku sudah mengikuti sebuah kelompok pendalaman Alkitab wanita bersama ibuku. Dalam kelompok itu, aku mengamati, mendengar, dan belajar dari para wanita lain yang punya lebih banyak pengalaman hidup. Sepanjang perjalanan belajar Alkitab bersama mereka, aku mendengar mereka membahas topik-topik Alkitab yang sulit, juga mendengarkan pergumulan mereka dalam hidup sehari-hari. Ada satu wanita yang sangat menarik perhatianku.

Namanya Rita. Ia adalah pemimpin kelompok belajar Alkitab itu.

Rita selalu lambat untuk berkata-kata (Yakobus 1:19); sabar menanti, mendengarkan, dan mempertimbangkan pemikiran orang lain, menilai apa yang mereka katakan, berusaha belajar sekaligus menyaring semua masukan, memastikan itu selaras dengan firman Tuhan. Setiap kali percakapan dalam kelompok mulai bergeser ke arah yang tidak membangun, Rita akan dengan lemah lembut mengarahkan pembicaraan itu untuk kembali berfokus kepada Tuhan.

Perkataan dan tindakan Rita memberiku gambaran sekilas tentang seperti apa seharusnya hikmat surgawi itu terlihat. Kehidupannya menggambarkan beberapa karakteristik yang kita temukan dalam Yakobus 3:17-18.

– Murni: Artinya tidak bernoda. Kemurnian melibatkan komitmen penuh untuk menjaga kekudusan hidup, termasuk dari “iri hati dan mementingkan diri sendiri” (Yakobus 3:14) sebagaimana disebutkan ayat sebelumnya.

– Pendamai: Secara harfiah berarti suka kedamaian. Orang yang suka damai mendambakan kedamaian dan senang menciptakan suasana yang damai. Menjadi seorang pendamai tidak mudah dalam praktiknya, terutama saat berhadapan dengan berbagai macam orang yang memiliki perbedaan pendapat.

– Peramah: Sebagai manusia yang berdosa, kita tidak luput dari kesalahan. Menjadi seorang peramah di sini berarti dengan lemah lembut mengarahkan orang lain kepada jalan yang benar tanpa membuat mereka merasa dihakimi atas kelemahan atau kelalaian mereka. Seorang peramah memikirkan hal-hal yang baik dari orang lain.

– Penurut: Ini menunjukkan keterbukaan untuk mendengarkan orang lain dan kesediaan untuk mengikuti apa yang sesuai akal sehat dan prinsip-prinsip Alkitab. Ini meliputi sikap yang rendah hati untuk berubah apabila memang terbukti salah. Seorang penurut memiliki hati yang terbuka dan mau diajar.

– Penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik: Yang dimaksud di sini bukan sekadar merasa kasihan dan bersimpati, melainkan belas kasihan yang dinyatakan dalam tindakan. Galatia 5:22-23 mendaftarkan buah-buah roh sebagai berikut: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” Setiap karakteristik ini melibatkan tindakan.

– Tidak memihak: Artinya tidak pandang bulu. Dalam hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita, kita harus bersikap adil dan tidak membeda-bedakan orang—sama seperti Tuhan yang adil kepada semua orang.

– Tidak munafik: Orang yang tidak munafik adalah orang yang tulus. Hidup mereka terbuka, tidak berpura-pura. Mereka siap mengakui bahwa mereka bukan manusia sempurna, dan melakukan yang terbaik untuk mempertahankan nilai-nilai yang mereka junjung tinggi.

Yakobus mengakhiri bagian ini dengan menyebutkan buah dari hikmat surgawi, yaitu kebenaran. Ia memanggil kita untuk mengejar hidup benar yang dikehendaki Tuhan dengan mulai mengejar hikmat surgawi.

Hikmat surgawi mencakup banyak hal, tetapi setidaknya kita dapat mulai dengan hidup menurut semua karakteristik yang disebutkan tadi! Jika kamu sama seperti aku yang bergumul dalam mempraktikkannya, kamu dapat mulai dengan berdoa memohon hikmat. Yakobus mendorong kita di bagian awal suratnya, “Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah” (Yakobus 1:5)—Dia berjanji untuk memberikan hikmat dengan murah hati, kepada semua orang yang meminta dan mempercayainya dengan tidak bimbang. —Julie Schwab, Amerika Serikat

Handlettering oleh Elizabeth R. Soetopo
Photo credit: Ian Tan

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Kesan seperti apa yang kamu berikan ketika berbicara tentang imanmu kepada orang lain—apakah imanmu terkesan sebagai sebuah kewajiban atau sebuah kesukaan?

2. Bagaimana hikmat yang dari Tuhan menolongmu melewati berbagai situasi hidup secara berbeda?

3. Ambillah waktu untuk merenungkan aspek-aspek dari hikmat yang berasal dari Tuhan. Pilih salah satu aspek dan pikirkan bagaimana hari ini kamu dapat bertumbuh dalam aspek tersebut.

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Julie Schwab, Amerika Serikat | Julie tinggal di Virginia untuk menempuh studi, namun dia berharap agar kelak dia dapat pindah kembali ke kampung halamannya di Michigan segera setelah dia lulus. Dia menikmati perjalanan hidupnya yang berpindah dari kota ke kota, namun dia pun rindu menemukan tempat yang tetap yang bisa dipanggilnya sebagai rumah. Meskipun sibuk dengan urusan studinya, Julie suka menulis dan bermain gitar, kedua hal ini dipandangnya sebagai bentuk penyembahannya kepada Tuhan.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus

Hikmat untuk Mengatasi Pencobaan

Hari ke-2 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus
Baca Pengantar Kitab Yakobus di sini

Hikmat untuk Mengatasi Pencobaan

Baca: Yakobus 1:5-8

1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit ,maka hal itu akan diberikan kepadanya.

1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.

1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.

1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

Hikmat untuk Mengatasi Pencobaan

Bulan Oktober lalu, aku tiba-tiba diberhentikan dari pekerjaan yang sudah kujalani selama dua tahun. Bulan berikutnya, ayah dari pacarku yang menderita penyakit pada saraf motoriknya harus masuk rumah sakit. Dua bulan kemudian beliau meninggal dunia.

Sekalipun aku selalu mengingatkan diri sendiri untuk tetap mempercayai Tuhan, aku harus mengakui bahwa bulan-bulan tersebut sangat berat bagiku.

Mengawali suratnya (ayat 1-4), Yakobus meminta kita untuk menganggap berbagai pencobaan dalam hidup ini sebagai suatu kebahagiaan, karena ujian terhadap iman kita itu menghasilkan ketekunan. Namun, bagaimana kita dapat menerapkan perintah ini ketika kita sedang bergumul melewati kesulitan-kesulitan hidup seperti sakit penyakit, masalah keuangan, atau kehilangan orang yang kita kasihi?

Alkitab mengajar kita bahwa solusinya bukanlah berdoa memohon Tuhan mengeluarkan kita dari pencobaan, melainkan berdoa memohon Tuhan memberikan hikmat yang kita butuhkan untuk melewatinya. Hikmat tidak sama dengan pengetahuan; hikmat adalah pengetahuan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita membutuhkan hikmat untuk menolong kita melihat pencobaan dari perspektif yang benar, supaya kita dapat melihat kesempatan-kesempatan untuk bertumbuh dewasa melaluinya.

Alkitab memberi kita jaminan pasti: Tuhan akan memberikan kita hikmat dengan murah hati jika kita memintanya.

Makin lama pencobaan kita alami, makin sulit untuk dapat tetap mempercayai Tuhan. Mungkin itulah sebabnya Yakobus mengingatkan kita satu hal yang penting: kita harus meminta hikmat itu dalam iman. Kita harus berhati-hati untuk tidak mendua hati—tidak yakin apakah Tuhan benar-benar mendengarkan doa kita atau meragukan apakah Tuhan sungguh-sungguh mengasihi kita. Yakobus menggambarkan orang yang bimbang atau mendua hati seperti gelombang laut yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin. Orang yang demikian akan mudah menyerah dan meninggalkan imannya ketika berhadapan dengan hal-hal yang tidak menyenangkan dalam hidupnya.

Sebab itu, mari datang kepada Tuhan dengan penuh keyakinan bahwa Dia akan memberikan kita hikmat untuk memahami dan mempercayai Tuhan di tengah berbagai pencobaan yang kita alami—karena Dia pasti akan memberikannya (ayat 5).

Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan (Mazmur 111:10). Itu berarti kita dapat yakin bahwa Tuhan, yang memerintah atas dunia ini (Wahyu 4:11), memiliki kuasa dan otoritas atas segala sesuatu yang Dia ciptakan. Kita dapat yakin bahwa Tuhan tetap memegang kendali sekalipun ada banyak hal yang tidak berjalan sesuai keinginan kita.

Aku dan pacarku sempat khawatir uang kami tidak cukup untuk membiayai pengobatan Ayah. Kami pun saling mengingatkan satu sama lain untuk terus mempercayai Tuhan yang berjanji akan menyediakan segala kebutuhan kami karena Dia mengasihi kami. Tuhan sungguh menepati janji-Nya, berulang kali kami menerima pertolongan tepat pada saat kami benar-benar membutuhkannya.

Pada akhirnya, kita dapat beristirahat di dalam Tuhan karena tahu bahwa kita sudah memiliki hal terbaik dalam hidup ini: keselamatan. Kita sudah dikaruniai segala berkat rohani di dalam surga (Efesus 1:3), dan kita dapat bersukacita karena nama kita ada terdaftar di surga (Lukas 10:20)—terlepas dari apapun yang harus kita lewati dalam hidup ini. —Alvin Chia, Singapura

Handlettering oleh Elizabeth Soetopo

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Apa yang biasanya menjadi permohonan doamu setiap kali menghadapi pencobaan?

2. Tuhan telah berjanji untuk memberikan hikmat kepada siapa saja yang memintanya. Tuliskanlah sebuah doa yang meminta agar Tuhan memberimu hikmat dalam pencobaan yang sedang kamu hadapi.

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Alvin Chia, Singapura | Alvin Chia selalu lapar. Dua hal yang tidak bisa dia lakukan adalah berhenti makan setelah makan makanan berat dan berdiri diam di halte bus. Tapi, meski begitu dia tahu betul bahwa hanya Tuhan yang bisa memberinya kepuasan sejati, dan hanya Tuhan jugalah yang memampukannya untuk berdiam. Alvin pernah bekerja sebagai jurnalis olahraga, tapi dia sendiri tidak berolahraga.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus