Posts

Cerpen: Menyenangkan Hati Orang Lain

Oleh Desy Dina Vianney, Medan

Aku dan Ica sedang asyik menikmati bakso kuah di kantin kampus ketika dua orang temanku datang menghampiri meja kami.

“Eh, Dian, makan di sini juga,” seru salah seorang dari mereka.

Aku menoleh dan tersenyum.

“Di, kamu sudah selesai print paper buat mata kuliah sore ini?” tanya temanku.

Aku mengangguk. “Iya, sudah.”

“Yah, sayang banget.”

“Memangnya kenapa?”

“Begini, Di. Kita berdua mau balik sebentar ke kos, mau ambil buku yang ketinggalan. Tapi, kita belum print paper, sepertinya tidak sempat kalau harus print dulu,” keluh temanku.

“Iya, Di. Kita pikir kamu belum print jadi bisa sekalian, mau nitip tadinya. Tetapi karena kamu sudah selesai, kita coba minta bantuan teman lain saja,” jawab teman di sebelahnya. Dan mereka pun siap-siap untuk beranjak pergi.

“Eh, nggak apa-apa. Biar aku saja yang print, aku juga gak ada kegiatan lain setelah ini.”

“Wah, serius, Di?” sahut mereka hampir bersamaan. Aku mengangguk. Mereka buru-buru meletakkan flash disk dan beberapa lembar uang di atas meja.

“Terima kasih banyak, Di. Kamu memang orang yang baik,” puji mereka sebelum beranjak ke pintu keluar kantin.

Aku memasukkan flash disk dan uang itu ke dalam tas lalu melanjutkan makan. Aku melirik Ica sekilas, tetapi dia tidak berkata apa-apa.

Ica adalah temanku sejak SMP. Kami bersekolah di tempat yang sama dan sekarang kuliah di kampus yang sama juga meski dengan jurusan yang berbeda. Awalnya aku ingin mengambil jurusan yang sama dengan Ica, karena kami memang punya minat yang sama. Tetapi tahun lalu ketika mengisi daftar pilihan jurusan, Bapak memintaku untuk memilih jurusan yang sekarang aku jalani ini. Alasan yang diberikan Bapak adalah jurusan ini memiliki prospek pekerjaan yang lebih luas di masa depan. Sebenarnya aku tidak terlalu menikmati belajar di jurusan ini, tetapi aku tidak ingin mengecewakan Bapak. Aku ingin menjadi anak yang menyenangkan hati orang tuaku.

Drrrt…drrrt…

Aku merogoh ponsel di dalam tas lalu berbicara selama beberapa menit.

“Siapa, Di?” tanya Ica.

“Teman kelompok. Dia minta tolong aku membuat materi presentasi buat besok, dia sedang ada urusan,” jawabku santai.

“Kamu mau?”

Aku mengangguk. “Aku tidak enak menolak. Dia ‘kan minta tolong. Aku juga yang bikin makalahnya, jadi seharusnya tidak begitu susah untuk membuat materi presentasinya.”

“Bukannya kamu ada jadwal pelayanan nanti malam?” Ica mengingatkanku.

“Oh, iya!” seruku menepuk jidat. Aku berpikir sejenak.

“Sepertinya aku akan lembur, nih,” kataku akhirnya.

Ica menghembuskan napas kesal. “Mau sampai kapan kamu berusaha menyenangkan hati semua orang, Di? Apalagi sepertinya hanya membebani diri kamu sendiri saja.”

Aku menanggapinya dengan meringis.

“Kita tidak akan bisa menyenangkan hati semua orang, Di, karena manusia itu tidak akan pernah merasa puas. Dan juga kamu bukan penyedia jasa untuk menyenangkan hati orang lain, kan?” lanjutnya dengan pelan dan lembut, memandangku dengan penuh perhatian.

Aku terdiam.

Aku memang selalu suka membantu orang lain. Sampai kadang-kadang dalam beberapa kasus, aku merasa lelah sendiri. Aku jadi berpikir apa motivasiku menolong orang lain. Apakah aku melakukan semua itu karena aku memang ingin melakukannya, atau karena aku ingin punya citra yang baik di mata orang-orang sekitarku, supaya aku dapat diterima oleh mereka?

Ica sudah sering mengingatkanku akan hal ini tetapi baru sekarang kupikirkan dengan serius. Mungkinkah selama ini Tuhan berusaha mengingatkanku lewat Ica, tetapi aku sengaja mengabaikan-Nya?

Aku tersadar, adalah hal baik untuk menolong orang lain dan melakukan sesuatu yang menyenangkan mereka, tetapi bila hal itu kemudian membuatku mengejar penerimaan dari mereka, apakah Tuhan senang kalau aku melakukannya?

Aku pun perlu berhikmat dan belajar memeriksa motivasiku sebelum menolong orang lain.

Kita tidak akan bisa menyenangkan hati semua orang, dan hal itu tidak salah. Bukankah hanya ada Satu Pribadi yang harus kita senangkan hati-Nya? (Kolose 3:23).

Baca Juga:

Doa: Sebuah Usaha Bergantung Pada Kebaikan Hati Bapa

Semakin sering aku melihat teman-temanku berdoa, maka semakin sering aku merasa ada yang salah dengan relasiku dengan Tuhan, khususnya dalam hal berdoa.

Self-love yang Selfless untuk Mengasihi Sesama

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia sejak tahun 2020 lalu memberiku kesempatan untuk belajar banyak tentang bagaimana mengasihi diri sendiri. Semua berawal dari konflik-konflik relasi yang terjadi antara aku dan keluarga, serta aku dan teman-teman dekatku. Awalnya konflik tersebut membuatku sangat minder dan tidak berharga karena merasa paling bersalah. Bahkan aku juga sering menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab dari munculnya konflik-konflik tersebut. Namun, seiring dengan proses-proses pemulihan yang Tuhan anugerahkan, aku mendapat kesimpulan bahwa ternyata aku juga perlu belajar mengenal diriku sendiri lebih baik; memahami identitas diriku yang sebenarnya bukan terletak pada apa yang ada di dunia ini (ciptaan), melainkan pada gambar Sang Pencipta itu sendiri (Kejadian 1:27).

Ketika belajar mengenal diri sendiri, aku pun mendapati ada satu konsep atau istilah baru yang ternyata banyak digaungkan di berbagai media sosial selama masa pandemi: self-love. Mengutip dari situs alodokter.com, self-love artinya mencintai diri sendiri, tetapi bukan berarti memenuhi diri dengan segala keinginan. Self-love mengharuskan kita untuk memperlakukan dan menerima diri sendiri dengan baik dan apa adanya. Konsep self-love atau konsep penerimaan diri yang baik ini juga terbilang penting karena berpengaruh pada kesehatan mental. Apalagi, penelusuran informasi tentang isu kesehatan mental di mesin pencari Google mengalami peningkatan sejak tahun 2020 kemarin. Artinya, bisa dibilang sudah banyak orang yang mulai memerhatikan kesehatan mentalnya sendiri.

Kemudian aku sempat terpikir hal yang lain: jika self-love merupakan sebuah konsep untuk menerima diri sendiri, apakah kecenderungan untuk egois (selfish) bisa terjadi? Jawabannya: tentu saja bisa, bergantung pada di mana fokus kita ketika sedang menerapkan self-love. Psikolog Felicia Maukar memaparkan bahwa konsep self-love bukanlah sesuatu hal yang negatif karena motivasinya dilakukan untuk kebaikan banyak orang. Ketika kita mencintai diri sendiri, kita akan mampu mencintai orang lain juga. Sedangkan konsep egois didasari pada mencintai diri sendiri secara berlebihan; fokusnya lebih banyak memikirkan perasaan diri sendiri dan apapun yang dimilikinya dijadikan bahan pamer dengan tujuan membuat orang lain iri (dikutip dari berita suara.com yang tayang pada Rabu, 6 November 2019).

Firman Tuhan pun sebenarnya sudah mencatat konsep self-love yang tertulis dalam Matius 22:39 “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Aku pernah salah mengartikan bagian kebenaran Firman ini. Aku memahaminya sebagai: aku harus terus mengasihi orang lain, dan tidak perlu mempedulikan diri sendiri. Namun pada ayat itu tertulis jelas “…seperti dirimu sendiri”. Sehingga, konsep mengasihi diri pun memang bukanlah hal yang salah atau berkesan negatif. Bahkan Allah saja melihat diri kita berharga (Yesaya 43:4), masa kita tidak mau menghargai hidup dan diri kita sendiri sebagaimana Allah telah melakukan hal yang sama kepada kita?

Memahami hal ini sebagai bentuk pembelajaranku secara pribadi, aku mendoakan pada Tuhan untuk dimampukan menerapkan self-love yang selfless. Aku ingin belajar bagaimana menerapkan kasih pada diriku sendiri (dengan cara menjaga kesehatan fisik, mental, jiwa, pikiran, emosi, dan seluruh aspek hidupku dengan takaran yang sewajarnya atau tidak berlebihan), sambil di saat yang sama aku juga bisa mengasihi orang lain dengan hati yang tulus.

Aku + Kamu = Kita

Mengapa harus ada “kita”?

Bukankah hidup ini segalanya tentang “aku”?

Jika dilihat dari sisi egoisme akibat keberdosaan kita sebagai manusia, jawabannya pasti “ya”. Namun, Tuhan tidak menghendakinya demikian. Sejak awal manusia dijadikan, Tuhan membuat manusia menjadi makhluk sosial. “Tidak baik kalau manusia itu sendiri saja…” (Kejadian 2:18). Kehadiran Adam dan Hawa menjadi cikal bakal keluarga, pertemanan, komunitas, hingga terbentuknya bangsa yang menetap dan menyebar di seluruh pelosok bumi hingga kini.

Dalam buku “How’s Your Soul: Why Is Everything That Matters Starts With The Inside You”, Judah Smith menuliskan bahwa salah satu lingkungan sehat untuk jiwa kita adalah Relationship (Relasi). Secara alamiah, kita semua adalah makhluk sosial. Kita diciptakan untuk berelasi dan berkomunitas. Bahkan untuk orang dengan kepribadian paling introver sekalipun tetap membutuhkan interaksi dengan sesama manusia yang bertujuan untuk mempertahankan kesehatan, perkembangan, dan rasa semangat dalam jiwa. Tanpa adanya relasi, jiwa kita menjadi terisolasi dan ini merupakan kondisi yang tidak sehat.

Dalam realitasnya, mungkin kita berharap relasi yang terjalin antara kita dengan sesama akan berjalan mulus dan serba baik-baik saja. Aku pun juga berharap demikian. Namun, sayangnya dosa membuat kondisi ideal tersebut hancur berantakan. Kita berseteru. Berkonflik. Sering mengedepankan ego pribadi dan lupa caranya mengasihi. Maka dari itu, tentu mengandalkan Allah yang adalah Kasih menjadi satu-satunya cara agar kita bisa terus-menerus belajar mengasihi sesama dengan hati yang tulus.

Di bulan ini aku mengajak kita semua untuk sama-sama belajar dan merenungkan bagaimana berelasi dengan sesama seharusnya tidak dilihat sebagai sesuatu yang diterima begitu saja (taken for granted). Relasi dengan sesama sepatutnya kita lihat sebagai anugerah Tuhan bagi kesehatan, sukacita, dan juga kesejahteraan jiwa kita; baik itu relasi dengan keluarga, teman kampus, rekan kantor, tetangga, bahkan mungkin orang asing yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita.

Baca Juga:

‘Kesombongan’ Terselubung di Balik Bersyukur

Tujuan yang baik bila dilakukan dengan cara yang salah bisa saja hasilnya pun jadi melenceng, demikian pula dalam halnya ucapan syukur. Apa yang mendasari kita untuk mengucap syukur?

Ketika Tuhan Mengajarkanku untuk Terlebih Dahulu Meminta Maaf

Oleh Gracella Sofia Mingkid, Surabaya

Ketika sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota, aku bersama teman-temanku membahas sebuah topik perbincangan. Saat obrolan berlangsung, aku sempat tidak berkonsentrasi dan memberikan respons yang tidak sesuai dengan perbincangan. Akibatnya, beberapa percakapan jadi tidak nyambung. Saat itu, salah satu teman dekatku melontarkan kata-kata yang cukup menohok buatku dan dia melakukannya di depan teman-temanku yang lain. Akibatnya, aku merasa malu tak karuan dan kesal. Apalagi karena aku tipe orang yang melankolis, kata-kata temanku itu langsung membuatku kepikiran.

Aku menunjukkan rasa kesalku dengan berdiam. Aku sengaja melakukannya supaya temanku itu sadar bahwa aku tidak suka jika dia berkata seperti itu. Teman-temanku yang lain tidak menyadari perubahan sikapku, namun beberapa menit berselang, teman yang menyinggungku itu tampaknya mulai sadar kalau ada yang tidak biasa dari sikapku. Dia pun mencoba memulai pembicaraan denganku. Tapi, aku tidak menanggapinya dengan hangat. Sampai kami kembali ke kediaman masing-masing pun sikapku masih dingin terhadapnya. Bahkan di grup chat juga aku tidak begitu menanggapi setiap kicauannya. Aku seolah tidak menganggap dia ada. Hal ini terus berlangsung selama beberapa hari, dan aku hampir melupakannya karena kami tak bertemu.

Beberapa hari kemudian, seusai latihan di gereja, seorang rekanku bercerita tentang apa yang dia alami. Seorang rekan kerjanya melontarkan kata-kata kasar, bahkan juga kutukan terhadapnya, padahal masalahnya hanya sederhana. Rekan gerejaku ini bertanya mengapa harga barang yang dijual oleh rekan kerjanya itu malah lebih mahal dibandingkan yang lain. Menurutnya, pertanyaan ini wajar ditanyakan oleh seorang calon konsumen kepada penjualnya. Namun, alih-alih mendapatkan jawaban yang baik, respons yang diterimanya malah kata-kata kasar, bahkan kutukan. Rekan gerejaku itu bercerita bahwa secara manusia dia tidak bisa menerima perlakuan ini. Rasa-rasanya dia ingin membalas kata-kata itu. Tapi, dia berusaha menahan diri.

Kasih Tuhan menahannya untuk tidak membalas kata-kata tersebut. Dia menahan diri sejenak dan malah berdoa untuk rekannya itu. Tak hanya itu, keesokan harinya, rekan gerejaku itu juga menemui rekannya, berusaha meminta penjelasan mengapa dia berkata-kata kasar, dan akhirnya meminta maaf terlebih dulu. Semua proses itu diceritakan kepadaku sambil dia terus mengucap syukur pada Tuhan karena dia tak sampai membalas kata-kata kasar dan kutukan itu dengan emosi.

Aku mendengarkan rekanku itu dengan saksama, kemudian aku teringat akan kondisiku sendiri. Hmmm. Kejadian yang dialami rekanku ini mirip-mirip dengan apa yang kualami—sama-sama mendapatkan perlakuan tidak baik dari teman. Tapi, jika rekanku berusaha mencari solusi dan berdamai, aku malah mendiamkan teman dekatku yang telah menyinggungku itu. Sebenarnya maksud dari diamku itu adalah supaya dia menyadari sendiri kesalahannya dan menyesal. Aku sendiri memang tidak ada niat untuk membalas kata-katanya secara verbal. Tapi, setelah kupikir-pikir, dengan mendiamkannya dan tidak menganggap kehadirannya, aku sama saja sudah membalas dendam, bahkan seharusnya hal itu lebih kejam.

Cerita dari rekan gerejaku membuatku merasa ditegur. Aku sadar apa yang kulakukan itu salah. Aku pun menceritakan kondisiku kepada rekan gerejaku. Dia menyarankanku agar aku minta maaf pada temanku karena aku sudah mendiamkan dan menganggapnya tidak ada selama berhari-hari. Lebih baik aku menyelesaikan masalah ini secepatnya.

Teladan yang diperbuat oleh rekan gerejaku itu telah menginspirasiku. Dengan lapang dada dia sudi meminta maaf terlebih dulu walaupun sejatinya dia tidak bersalah. Alih-alih merasa sakit hati, yang dia rasakan justru sukacita dan damai sejahtera. Lalu, pada akhirnya relasi pertemanan mereka pun kembali terjalin karena masalah yang bisa diselesaikan dengan baik. Butuh kebesaran hati memang untuk berani melakukan hal ini.

Aku merasa bahwa pilihanku untuk berdiam diri bukanlah pilihan yang paling tepat. Tapi, di sisi lain aku juga tidak mau mengorbankan harga diriku untuk meminta maaf duluan. Butuh proses untukku mau menundukkan rasa egoisku.

Setelah sharing itu berakhir, aku seolah disadarkan oleh Tuhan dengan perlahan. Kalau aku hanya diam, aku sama saja sedang membiarkan benih kebencian untuk tumbuh secara perlahan. Dan lagi, teman yang menyinggungku adalah teman dekatku. Masakan aku senang membiarkannya merasa menyesal berkepanjangan? Kalau begitu, aku sama saja tidak mengasihi dia.

Akhirnya, aku memantapkan hatiku untuk meminta maaf terlebih dahulu melalui chat. Sebelumnya, aku berdoa, memohon supaya Tuhan memberikan keberanian dan hikmat untukku. Di dalam pesanku, aku meminta maaf apabila belakangan ini aku sering tidak menganggapnya. Aku juga bilang kalau aku merasa kesal karena kata-katanya yang menohokku dalam perjalanan itu. Secara rinci, kucoba menjelaskan semuanya, dan pada akhirnya dia pun meminta maaf juga kepadaku. Dia mengatakan bahwa dirinya menyesal telah mengucapkan kata-kata yang demikian. Bahkan, dia juga memintaku untuk tidak segan menegurnya jika kata-katanya salah.

Selepas chatting itu aku benar-benar merasa lega. Saat itu, tanganku lemas dan aku hanya bisa duduk sambil air mata perlahan mengalir. Aku menangis bukan karena menyesali tindakanku, tapi aku bersyukur karena Tuhan mengajarkanku satu hal, yakni inisiatif. Aku harus berani mengambil tindakan yang tepat, tidak memupuk keegoisanku, meskipun itu tampaknya seperti aku harus merendahkan harga diriku.

Jika aku menilik diriku lebih dalam, sebenarnya aku bukanlah orang yang mudah melepaskan rasa ego dan gengsiku. Ketika aku bisa meminta maaf duluan, aku percaya semua ini adalah karya dari Roh Kudus yang melembutkan hatiku supaya relasiku dengan temanku itu dapat pulih. Aku juga percaya bahwa bukan suatu kebetulan apabila rekan gerejaku mengalami hal yang mirip denganku terlebih dahulu. Aku yakin bahwa inilah salah satu maksud Tuhan supaya aku bisa belajar darinya.

Berkaca dari pengalamanku dan cerita rekan gerejaku, sebenarnya kami punya dua pilihan saat itu: membiarkan masalah, memupuk rasa sakit hati serta mengasihani diri, atau melangkah maju dan memulihkan relasi. Di sinilah pelajaran yang Tuhan Yesus ajarkan untukku.

“Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8). Allah adalah Allah yang bertakhta dan berkuasa, dan tentunya tidak bersalah apalagi memiliki dosa. Namun, Dia berinisiatif untuk datang ke dunia dengan maksud memulihkan relasi manusia dengan Bapa yang telah rusak karena dosa. Karena inisiatif inilah, kita bisa hidup dalam anugerah-Nya setiap hari. Bukan karena kebaikan kita, tetapi karena Allah yang mengasihi kita dan berinisiatif memulihkan relasi yang rusak.

Apa yang menjadi respons kita atas inisiatif Allah tersebut? Tinggal diam dan memupuk dosa, ataukah datang dan memilih hidup baru bagi Allah? Jika kita memilih pilihan yang kedua, biarlah itu juga terpancar dari bagaimana cara kita menanggapi setiap keadaan di sekitar kita.

“Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Matius 5:23-24).

Baca Juga:

5 Alasan Mengapa Reformasi Protestan Masih Berarti Hingga Hari Ini

Tepat hari ini kita memperingati 500 tahun peristiwa Reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther. Inilah lima alasan mendasar mengapa kesaksian, kepercayaan, dan pendirian Luther mengenai teologi dan praktiknya masih berpengaruh hingga saat ini.

Mengapa Aku Selalu Menolak Pertolongan dari Orang Lain

mengapa-aku-selalu-menolak-pertolongan-dari-orang-lain

Oleh Kim Cheung, Tiongkok
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: 只付出不接受的做法真的是上帝喜悦的么?

Beberapa hari yang lalu saat sedang makan malam, ayahku berkomentar tentang zaman yang telah banyak berubah. Dulu, biasanya atasan-atasan di tempat kerja itu peduli dengan pekerja di bawahnya. Ketika kakekku bekerja di sebuah perusahaan arsitektur, manajernya selalu mengunjungi keluarganya setiap tahun baru Imlek sambil membawa serta sejumlah uang dan menanyakan apakah keluarga kami membutuhkan sesuatu untuk dibantu.

Suatu ketika keluarga kami membutuhkan bantuan untuk membangun sebuah rumah, lalu manajer itu mengirimkan beberapa orang pekerja bangunan untuk menolong kami. Awalnya kakekku menolak bantuan itu. Bagi orang-orang pada masa itu, menerima pertolongan dari orang lain itu dianggap bisa menghilangkan “harga diri”.

Aku pikir keadaan hari ini pun tidak banyak berubah. Ada banyak orang yang ingin menolong orang lain tapi dirinya sendiri tidak mau ditolong.

Banyak dari kita diajar untuk tidak hidup egois. Kita diajar untuk memiliki hati yang tulus menolong tanpa mengharapkan balasan, dan itu sungguh mulia. Dulu aku juga berpikir seperti itu. Ketika aku masih sekolah, aku dengan senang hati menolong teman sekelasku. Tapi, sangat sulit bagiku ketika aku harus meminta pertolongan dari orang lain. Prinsip ini terus kupegang bahkan sampai aku lulus sekolah. Sebenarnya di lubuk hatiku terdalam aku tahu kalau aku butuh pertolongan. Namun aku tidak mau meminta pertolongan itu. Dan, ketika ada orang lain yang menawarkan pertolongan untukku dengan tangan terbuka, aku malah sulit untuk menerimanya.

Haruskah kita berlaku seperti itu? Apakah Tuhan berkenan jika kita menolong orang lain tapi kita sendiri tidak mau ditolong?

Tuhan mengajar kita untuk saling menanggung beban satu sama lain (Galatia 6:2). Alkitab juga mengingatkan kita bahwa di dalam Kristus kita semua adalah satu tubuh (1 Korintus 12:12-27). Tolong menolong baru bisa terjadi ketika ada dua pihak yang saling terlibat. Jika setiap orang menolak untuk ditolong, lalu siapa yang bisa kita tolong? Bagaimana kita bisa hidup dalam satu tubuh Kristus?

Ada rasa gengsi di balik penolakan pertolongan

Tuhan mau supaya kita menerima dan memberi dengan sukacita. Jadi, mengapa ada orang-orang yang sangat sulit untuk menerima? Kalau kamu bertanya padaku, aku akan menjawab kalau kesulitan itu terjadi karena rasa gengsi.

Kita seringkali tidak mau mengakui kelemahan-kelemahan kita. Dan salah satu yang kita lakukan agar kelemahan itu tidak dilihat orang adalah meninggikan ego dengan tidak mau menerima pertolongan orang lain. Aku menyadari hal ini ketika aku mulai berpikir lebih dalam tentang esensi dari memberi dan menerima. Rasa gengsiku adalah kelemahanku dan alasan utama di balik prinsipku untuk tidak mau menerima pertolongan.

Mempercayai Tuhan itu sulit ketika kamu menolak untuk ditolong

Kita sulit untuk mempercayai Tuhan seutuhnya ketika kita hanya mau memberi tanpa mau menerima. Tuhan mau supaya kita mengakui bahwa kita adalah ciptaan yang rapuh. Dan dari situlah kita bisa menanggalkan segala beban kita kepada Tuhan dan percaya kepada-Nya. Rasul Paulus mengatakan, “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat“ (2 Korintus 12:9-10). Bagaimana kita dapat berserah dan percaya kepada Tuhan seutuhnya jika kita menolak pertolongan dan bersandarkan hanya pada diri kita sendiri? Kita tidak bisa mengenal Tuhan seutuhnya jika kita tidak mengakui kerapuhan kita.

Aku ingat suatu masa ketika aku mengikuti sebuah persekutuan dengan beban hidup yang begitu berat. Saat itu aku merasa lelah dan tak sanggup lagi menanggung beban hidupku, tapi aku berpura-pura seolah aku baik-baik saja. Ketika tiba giliranku untuk membagikan kesaksian, aku berencana hanya akan berbicara hal-hal kecil saja. Namun, suara hati kecilku mengingatkanku kalau aku perlu datang di hadapan Tuhan dalam kebenaran. Hatiku luluh, aku menangis di depan teman-teman seimanku dalam Yesus. Aku mengakui bahwa aku butuh ditolong. Aku mengakui kalau aku tidak bisa mengandalkan kekuatanku sendiri.

Aku mengucap syukur karena Tuhan menegurku, mengizinkanku untuk melihat bahaya dari memupuk gengsi, dan mengizinkan aku untuk kembali membentuk imanku lewat persekutuan. Sekarang aku sering datang di hadapan Tuhan dalam keadaan tidak berdaya, memohon pertolongan-Nya. Aku tahu kalau aku tidak punya apa-apa. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Jika bukan karena kekuatan Tuhan, setiap langkah yang kuambil tentu terasa sulit.

Aku juga mencari pertolongan dari saudara-saudara seiman dalam Kristus. Ketika masalah-masalah kehidupan menghampiriku, aku tidak hanya meminta mereka berdoa untukku, tapi aku juga meminta nasihat dari mereka. Kasih dan pertolongan dari saudara-saudara seiman telah memberkatiku dan menolongku untuk merasakan kasih setia Tuhan. Aku juga merasakan hubungan yang dekat dengan sesama anggota tubuh Kristus.

Terimalah pertolongan itu dengan sukacita

Ketika aku melepaskan segala gengsiku, tentu aku merasa lebih bebas. Aku bisa menerima pertolongan dari orang lain dengan sukacita. Aku tahu kalau aku punya kelemahan dan bukanlah manusia yang sempurna. Tapi, ketika aku berserah sepenuhnya kepada Tuhan, Dia yang memegang kendali atas hidupku. Ketika aku menaati kehendak-Nya maka di dalam kelemahankulah kuasa Tuhan akan dinyatakan.

Saudara-saudaraku dalam Kristus, Tuhan mau supaya kamu juga mendapatkan kebebasan ini. Apakah kamu mau untuk menanggalkan rasa banggamu supaya Tuhan bisa berkuasa?

Baca Juga:

4 Pertanyaan yang Perlu Dijawab Jika Kamu Jatuh Cinta pada yang Berbeda Iman

Aku telah beberapa kali menyukai laki-laki yang berbeda iman dan dua kali berpacaran dengan mereka. Lingkungan sosial membuatku secara alami mempunyai banyak kenalan laki-laki yang berbeda iman denganku. Aku bersekolah di sekolah negeri sejak taman kanak-kanak hingga kuliah. Oleh karena itu, mayoritas teman-temanku berbeda iman denganku.