Posts

Artspace – 2 Alasan Mengapa Kita Tidak Boleh Menganggap Remeh Waktu Tidur

Sobat muda yang suka insom dan ngalong siapa nih??

Waktu tidur adalah waktu yang penting. Dengan tidur, kita menerima berkat Tuhan melalui tubuh yang beristirahat. Di zaman yang serba cepat, waktu tidur kadang terabaikan dengan memenuhi target-target atau sekadar terlena bermain gadget. Namun, janganlah meremehkan waktu-waktu untuk beristirahat, karena di saat kita memberi jeda bagi tubuh untuk memulihkan dirinya, di sana jugalah Tuhan mencurahkan berkat-Nya.

Artspace ini didesain oleh Gladys Ongiwarno @gladyong dan kontennya diadaptasi dari artikel Edwin Petrus @ep_petrus yang telah ditayangkan di WarungSaTeKaMu.

2 Alasan Mengapa Kita Tidak Boleh Menganggap Remeh Waktu Tidur

Oleh Edwin Petrus, Malang

Beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan seorang teman lama. Dia membawa serta istri dan anaknya yang berusia satu tahunan. Di pertemuan itu, ada satu hal yang menarik perhatianku. Kulihat anak temanku itu dengan gampangnya tertidur ketika sudah dipeluk mamanya. Padahal, beberapa menit sebelumnya, dia masih begitu lincah jalan ke sana-sini.

“Kayaknya dia sudah capek,” gumamku dalam hati. Aku dan orang tuanya pun lelah karena mengejar-ngejar dia, takut apabila dia jatuh. Memandang ekspresinya tidur, aku yakin sekali kalau tidurnya tenang dan nyenyak. Rasanya tidak ada ketakutan sama sekali; yang ada hanyalah rasa aman dan hangat.

Aku jadi bertanya, apakah orang-orang dewasa juga bisa menikmati indahnya tidur seperti si balita itu?

Jawabannya adalah: iya. Tidur adalah kebutuhan manusia dan Allah peduli dengan urusan tidur kita. Tidur adalah anugerah yang disediakan Allah bagi anak-anak-Nya.

Lewat tulisan ini, aku mau membagikan dua refleksiku tentang tidur menurut kata Alkitab:

1. Tidur memberi tubuh kita waktu untuk beristirahat

Dunia yang tak pernah tertidur selama 24 jam memang bisa membuat kita terjebak pada keinginan untuk selalu terjaga. Walaupun langit sudah gelap dan orang-orang sudah pulang ke rumah, tapi gawai yang kita genggam bisa menyediakan segala hiburan yang kita butuhkan 24 jam sehari, 7 jam seminggu; seakan dunia menuntut kita untuk terus beraktivitas dan tidur menjadi suatu hal yang dipandang tidak produktif.

Namun, Allah tidak mendesain tubuh manusia untuk beraktivitas tanpa beristirahat. Pemazmur berkata: “Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah—sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur” (Mazmur 127:2). Allah memberikan kita waktu untuk tidur, tapi itu akan jadi sia-sia jika kita tidak memanfaatkannya dengan baik. Di waktu kita tidur, Dia memberkati kita.

Di Amerika Serikat pada tahun 1963 pernah dilakukan sebuah riset untuk menguji seberapa lama seorang manusia dapat terjaga tanpa tidur. Seorang bernama Randy Gardner memang berhasil memecahkan rekor dunia dengan tidak tidur selama 11 hari 25 menit. Akan tetapi, selama masa penelitian itu terbukti bahwa kondisi tubuh Randy semakin hari semakin menurun. Awalnya dia sangat bersemangat, tapi setelah hari keempat, dia mulai berhalusinasi, daya ingatnya memburuk, suaranya tidak jelas, dan juga mengalami paranoia.

Kawan-kawan, tidur adalah anugerah Tuhan buat setiap kita. Tuhan tidak ingin kita menjadi manusia pekerja yang terus bekerja tanpa beristirahat. Namun, betapa seringnya kita menolak anugerah itu. Kita tahu tubuh kita sudah capek. Tapi, kita beri asupan kafein biar kita tetap segar. Kita bilang “Sebentar lagi ya baru tidur, tanggung ini; Aku selesaikan dulu tugas yang ini; Aku habisin dulu drama yang satu ini; Aku menangin dulu game yang ini”.

Tubuh kita perlu tidur. Di saat tidur, sel-sel tubuh kita yang rusak akan dipulihkan. Kondisi fisik kita yang lemah akan disegarkan kembali. Dengan tidur yang cukup, kita pun dapat terus menjaga kesehatan tubuh kita dan terhindar dari banyak penyakit. Bukankah dengan tubuh yang sehat kita bisa berkarya lebih maksimal bagi Tuhan?

Jadi, jangan anggap remeh waktu tidur. Di saat kita harus bekerja, berjuanglah dengan sekuat tenagamu dan di waktu kita harus tidur, nikmatilah waktu untuk mengisi kembali energi tubuh kita. Inilah gaya anak Kristen yang memuliakan Tuhan. Mari, kita belajar menikmati anugerah Tuhan lewat waktu tidur.

2. Tidur menandakan kebergantungan kita sepenuhnya pada Tuhan

Di awal tulisan ini aku menceritakan bagaimana anak temanku bisa tertidur pulas tanpa rasa takut karena dia yakin bahwa di dalam pelukan mamanya, dia mendapatkan keamanan yang dia butuhkan. Demikian pula yang dikatakan oleh raja Daud: “Aku membaringkan diri, lalu tidur (Mazmur 3:6a)”, bukan pada saat dia akan segera tidur di kamar istananya yang nyaman dan disertai dengan penjagaan yang ketat dari pasukan bersenjata lengkap. Namun, ketika dia sedang berada di suatu tempat persembunyian dan dikepung oleh puluhan ribu orang yang siap menyerang dia kapan saja (Mazmur 3:1,7).

Aku membayangkan bagaimana Daud bisa mengatakan kalau dia bisa tidur dengan tenang; entah di mana dia membaringkan diri, tidak ada kasur yang empuk, dan pastinya ada musuh yang siap menghabisi nyawanya. Masih segar di ingatanku, ketika gempa bermagnitudo 6,1 SR yang berpusat di bagian selatan Kabupaten Malang menggetarkan wilayah Jawa Timur pada 10 April 2021. Lokasiku memang masih jauh dari pusat gempa, tapi info-info mengenai akan adanya gempa susulan membuat aku takut untuk memejamkan mata dan tidur pada malam itu.

Kita memang tidak bisa tahu apapun yang bakal akan terjadi ketika kita tidur. Bisa saja terjadi bencana alam, kebakaran, kemalingan, dan segala kemungkinan yang terburuk pasti ada. Namun, ketika kita memilih untuk tidur, kita sedang menunjukkan bahwa kita adalah makhluk yang lemah dan tidak berdaya. Kita tidak bisa terus terjaga untuk menjaga diri kita maupun orang lain. Kita membutuhkan Seorang Pribadi yang lebih berkuasa untuk menjaga seluruh hidup kita.

Inilah yang diungkapkan oleh raja Daud. Dia menyerahkan seluruh hidup-Nya kepada Allah yang adalah penopangnya (Mazmur 3:6b). Daud percaya bahwa bersama-sama dengan Allah, dia selalu menemukan keamanan itu. Daud yakin bahwa perisai Allah siap membungkusnya dan melindungi dirinya dari tombak dan panah musuh-musuhnya. Keesokan harinya, ketika dia bangun, dia pun masih dapat menemukan dirinya tetap aman di dalam dekapan Tuhan. Daud juga mengatakan: “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.” (Mazmur 4:9).

Kita bisa menikmati anugerah Tuhan di waktu tidur yang dinikmati oleh Daud. Aku pun telah merasakannya. Setiap kali, ketika menaikkan doa sebelum tidur, aku sering teringat dengan Mazmur 121:3b-4 yang berkata: “Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.” Aku sering menaikkan syukurku karena aku tahu Sang Penjaga Israel adalah penjaga dan pemelihara waktu tidurku. Ketika mataku sudah tertutup dan aku tidak berdaya, aku tidak perlu takut karena aku tetap aman di dalam Tuhan. Aku bisa dengan tenang membaringkan diri dan tidur.

Kawan, apa yang sering menghalangimu untuk bisa memejamkan mata dan tidur? Pikiran-pikiran seperti apa yang menganggumu untuk bisa masuk ke dalam mode tidur?

Kawan, ketahuilah kalau Allah itu Imanuel, Dia selalu beserta dengan kita dan tidak pernah meninggalkan kita. Kita adalah orang-orang yang dikasihi oleh-Nya. Dia pun telah mati untuk menyelesaikan permasalahan terbesar di dalam hidup kita, yaitu dosa. Karya salib Yesus menunjukkan bahwa Dia peduli dengan setiap kita. Kalau begitu, ada masalah apa lagi yang tidak bisa diselesaikan oleh Allah?

Mari, berdoalah sebelum tidur dengan kepasrahan di hadapan Tuhan dan yakinlah kalau Tuhan akan menyingkirkan semua hal yang menganggumu untuk dapat tidur dengan tenang.

Datanglah kepada-Nya dan nikmatilah anugerah yang indah untuk bisa tidur di dalam dekapan Allah.

Perubahan Hidup: Butuh Upaya Serius!

Oleh Edwin Petrus

Kawan, pernahkah kalian memperhatikan anjing pelacak yang biasanya membantu tim kepolisian untuk melacak narkotika, bom, korban maupun pelaku kriminal?

Anjing pelacak umumnya berasal dari ras tertentu, tetapi yang membuat mereka mampu melakukan pekerjaan hebat itu bukan seratus persen karena rasnya, tetapi karena juga dilatih. Proses latihannya pun tidak sembarangan, harus secara benar dan intens, hingga akhirnya mereka bisa menjadi anjing pelacak dengan kemampuan penciuman yang luar biasa.

Analogi sederhana di atas menggambarkan juga kehidupan orang-orang Kristen. Untuk menjadi seorang Kristen yang luar biasa, kita perlu mengalami transformasi kehidupan yang terjadi terus-menerus hingga kian hari kita bisa menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Transformasi diambil dari kata bahasa Inggris, transform, yang dalam bahasa Indonesia berarti perubahan. Mengapa perubahan menjadi elemen yang penting bagi kehidupan anak-anak Tuhan?

Untuk menjawabnya, aku mengajakmu untuk melihat tulisan Paulus dalam suratnya kepada jemaat Roma. Dalam Roma 12:1-2, Paulus menuliskan demikian: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Perubahan yang ditekankan oleh Paulus mengacu pada: ketika kita belum mengenal Kristus, kita adalah manusia lama yang dipenuhi dengan dosa. Di dalam keberdosaan, kita adalah musuh Allah. Jika kita adalah musuh-Nya, bagaimana mungkin Allah mengindahkan persembahan dari seteru-Nya? Gak mungkin banget kan ya.

Namun, Allah sangat mengasihi manusia ciptaan-Nya. Oleh karena kasih anugerah-Nya, Allah memberikan Putra-Nya, Yesus Kristus, untuk mati dan menebus orang-orang yang mau percaya kepada-Nya. Darah Kristus membasuh kita sampai bersih dari semua dosa kita dan kita diubahkan menjadi manusia baru. Perubahan ini sama seperti metamorfosis yang terjadi pada kupu-kupu. Kupu-kupu mengalami perubahan yang drastis, sama sekali berbeda dengan bentuknya semula, yaitu ulat.

Perubahan itu juga terjadi pada kita ketika kita percaya kepada Kristus. Hanya saja, karena kita masih hidup dalam tubuh fisik yang sudah dicemari oleh dosa ini, kita masih mungkin jatuh dalam dosa setelah kita percaya pada Kristus. Namun, sebenarnya, kita tidak lagi dikuasai oleh kedagingan kita, kawan! Kita telah dibeli dengan darah-Nya yang mahal, maka seharusnya Dialah yang berkuasa atas hidup kita.

Jadi, di sinilah latihan itu diperlukan. Kita perlu melatih diri untuk hidup sesuai dengan natur manusia baru kita yang telah diubahkan dan melatih diri untuk mengikuti pimpinan-Nya. Masih ingat dengan cerita anjing pelacak tadi? Untuk benar-benar bisa melacak para pelaku kriminal dengan baik, mereka perlu dilatih terus, bukan hanya dilatih untuk memiliki penciuman yang tajam, tetapi mereka juga perlu dilatih untuk mendengarkan arahan dan pimpinan dari majikannya.

Kita perlu melatih diri untuk dipimpin oleh Tuhan dengan secara terus menerus mempersembahkan tubuh kita di hadapan Tuhan. Setiap kali kamu gagal dan jatuh, datanglah kepada-Nya, persembahkanlah hidupmu di hadapan-Nya dan mohonlah pertolongan-Nya agar kamu dapat menghidupi statusmu sebagai manusia baru di dalam-Nya. Dengan latihan terus menerus untuk menghidupi manusia baru itu, maka kita akan dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.

Jika hari ini kamu masih gagal, jangan menyerah kawan! Kamu tidak berjalan sendirian. Ada Roh Kudus yang berjalan bersamamu dan menolongmu dalam proses latihan seumur hidup ini.