Posts

Ketika Label Pakaian Menentukan Identitas Diri

Oleh Edwin Petrus

Aku bukan seorang pecinta fesyen. Aku jarang mengikuti perkembangan tren dari dunia busana. Tidak jarang, teman-temanku menganggapku ketinggalan zaman dalam gaya berpakaian. Namun, pada bulan Juli hingga Agustus 2022, atensiku seakan dipaksa untuk terarah kepada aksi dari anak-anak muda yang melakukan peragaan busana di jalanan kota Jakarta. Aku menjadi sangat penasaran dengan Citayam Fashion Week, sebagaimana mereka menamai kegiatan ini.

Citayam Fashion Week diinisiasi oleh sekelompok kawula muda yang sengaja datang dari kawasan penyangga ibukota: Citayam, Bojong Gede, Depok, hingga Tangerang. Dengan pakaian nyentrik, mereka menyeberangi jalan dan berpose seperti para model yang berlenggak lenggok di atas catwalk pada acara-acara peragaan busana internasional. Sontak, aksi mereka menarik perhatian dari mata-mata yang lalu lalang. Ditambah lagi, rekaman yang diunggah ke media sosial dengan cepat memviralkan peragaan busana jalanan ini.

Terlepas dari pro dan kontra yang timbul pasca Citayam Fashion Week menjadi buah bibir dari masyarakat +62, aku sangat tertarik dengan analisis dari beberapa pakar ilmu sosial yang meneliti fenomena ini. Ternyata, Citayam Fashion Week adalah sebuah aksi spontan dari anak-anak muda yang ingin mengekspresikan diri melalui tren berbusana yang ada. Para remaja ini memperlihatkan kepada kita bahwa mereka juga bisa tampil trendi dan unik, walaupun mereka tidak mengenakan produk-produk fesyen dari merek-merek ternama.

Sekarang, Citayam Fashion Week mungkin tidak lagi seheboh hari itu. Namun, kisah sukses dari Citayam Fashion Week telah membuatku sampai pada satu kesimpulan, yaitu: “modis itu tidak mahal.” Sebelumnya, aku adalah pecinta dari merek-merek tertentu ketika membeli produk fesyen. Aku rela menabung lebih lama dan mengurangi pengeluaran di bidang yang lain demi membeli pakaian dari merek yang aku senangi. Namun, Citayam Fashion Week sungguh membukakan pikiranku bahwa berpenampilan modis itu bukan hal yang mustahil dengan budget yang irit.

Ditambah lagi, aku mulai menyadari bahwa sebenarnya aku juga sudah semakin tertarik dan lebih berani untuk membeli baju maupun celana yang diproduksi oleh industri fesyen skala kecil yang menjajakan produk mereka di portal-portal belanja online. Awalnya, aku sempat ragu untuk memasukkan produk-produk mereka ke keranjang belanjaanku. Benakku bertanya-tanya tentang kualitas kain hingga jahitan dari toko-toko yang namanya belum seharum merek-merek yang sudah tenar.

Akhirnya, karena alasan murah dan banyak pembeli sebelumnya yang memberikan rating dan komentar yang baik, aku pun menyelesaikan transaksiku. Ketika belanjaanku sampai di rumah, aku merasa sangat senang karena aku bisa mendapatkan produk fesyen yang berkualitas dengan harga yang ekonomis. Sejak saat itu, aku mulai meyakini kalau aku tidak mesti mengeluarkan banyak uang untuk bisa berpenampilan yang kekinian.

Kawan, tahukah kamu? Ketika kita mencintai produk-produk Indonesia, ternyata kita justru juga mengalami pertumbuhan yang baik di atas rata-rata dunia, yakni di atas lima. Dengan demikian, kita sedang turut mendukung percepatan dari pemulihan ekonomi bangsa. Di saat kondisi ekonomi dunia sedang terpuruk akibat pandemi Covid-19 dan perang antara Rusia dan Ukraina, kita patut bersyukur jika ekonomi Indonesia tumbuh di atas lima persen. Kita bisa ikut ambil andil dalam menjaga kestabilan dari akselerasi ini jika kita bangga untuk membeli produk fesyen karya anak bangsa.

Di sisi lain, ketika aku merenungkan hal ini, aku juga ditegur oleh tulisan rasul Paulus dalam Galatia 6:14, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.”

Ternyata, selama ini aku masih membangun prestise diri melalui merek fesyen yang menempel di tubuhku. Aku justru merasa rendah diri ketika tidak ada logo merek terkenal dari baju, celana, maupun sepatu yang aku pakai. Padahal, aku bisa bermegah pada salib Kristus yang oleh-Nya aku beroleh pengampunan atas dosa-dosaku dan hidup yang baru. Sebagai anak-anak Tuhan, kita hanya perlu berbangga dengan salib Kristus yang sanggup mentransformasi diri kita menjadi pribadi yang menampilkan kemuliaan Allah.

Kawan, ketika aku mengatakan “modis itu tidak mahal,” aku bukan sedang menentang merek-merek fesyen ternama. Aku juga tidak sedang mengatakan kalau orang-orang Kristen tidak boleh tampil modis dengan mengenakan merek-merek tertentu. Namun, jangan sampai kita meletakkan kebanggaan dan identitas diri hanya pada label pakaian. Nilai diri kita jauh lebih berharga daripada harga sebuah merek fesyen karena Kristus telah menggunakan nyawa-Nya untuk menebus kita.

Aku mengajak kawan-kawan untuk selalu mempertimbangkan terlebih dahulu kegunaan dari produk fesyen yang akan kita beli, seperti nasihat dari rasul Paulus: “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun (1 Korintus 10:23).

Jangan sampai kita memaksakan diri untuk tampil trendi dengan mengorbankan banyak uang. Jangan sampai kita juga memaksakan diri untuk mengikuti fesyen terkini hanya karena ingin membuktikan diri, apalagi membangun identitas diri berdasarkan apa yang kita pakai.

Modis itu tidak mahal. Sebab bagiku, tampil modis bukanlah bicara tentang apa yang aku pakai atau hal-hal fisik yang terlihat dari luar, tetapi bicara tentang apa yang telah Kristus kerjakan bagiku. Modis itu tidak butuh modal yang banyak, hanya butuh modal percaya dan menghidupi karya salib Kristus.

Seorang Tetangga yang Mengajarkanku tentang Berbuat Baik

Oleh Edwin Petrus, Medan

Sepulang kantor, kulihat langit masih cerah walaupun matahari mulai tenggelam. Suara keroncongan terdengar dari perutku. Sel-sel dalam otak pun mulai memilah-milah warung makan mana yang sudah buka di sekitar tempat kerjaku sambil aku terus berjalan ke parkiran. Setelah kutemukan motor bebek milik kantor yang dipinjamkan padaku, segera kunyalakan mesinnya. Kuoper persneling ke nomor satu, memutar handle gas, dan melaju ke warung pecel lele kesukaanku. Warung pecel lele ini terletak tidak jauh dari tempat tinggalku. Dengan kecepatan normal, kira-kira sepuluh menit aku bisa tiba..

Begitu sampai di sana, segera kupesan menu favoritku: lele goreng! Tak perlu waktu lama, sepiring lele goreng, nasi, dan es jeruk tersaji di depanku. Semuanya kulahap sampai tak bersisa. Kutepuk perut kenyangku sambil tersenyum. Memang, pecel lele tiada duanya! Setelah makan, aku pun bersiap-siap kembali ke mes karyawan yang berada di kompleks tempat kerjaku. Oh ya, kala itu aku berkarier sebagai salah seorang karyawan hotel di Pulau Bintan, Kepulauan Riau.

Saat sudah meninggalkan warung itu beberapa ratus meter, tiba-tiba hujan turun. Aku tidak membawa jas hujan. Langsung saja aku basah kuyup. Tapi, tetap kuputuskan untuk meneruskan perjalanan pulang karena tidak lama lagi aku akan sampai di mes dan bisa segera mandi.

Diguyur hujan, naluriku mendorongku untuk meningkatkan laju motor tanpa menyadari akan licinnya jalan yang dibasahi hujan, dan potensi kecelakaan yang bisa terjadi. Yang ada dalam pikiranku hanyalah bisa sampai di mes sesegera mungkin. Namun, tiba-tiba dalam sekejap aku merasakan kedua tanganku sudah terlepas dari motor yang aku tunggangi! Peristiwa itu terjadi begitu cepat, sampai-sampai aku tidak sadar bahwa aku sudah terhempas beberapa meter dari motorku yang sudah jatuh di aspal. Tatapan mataku kabur karena kacamataku juga jatuh entah di mana. Aku berusaha mencarinya di kegelapan senja dengan bantuan cahaya dari ponsel yang masih menyala.

Ketika aku masih meraba-raba tanah di sekitar untuk mencari kacamataku, kulihat cahaya motor yang datang dari arah berlawanan. Ada seorang pria yang mengenakan jas hujan turun dari motornya dan berhenti tepat di depanku yang sedang tergeletak. Ia langsung mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Setelah itu dia maju beberapa meter untuk mengangkat motorku.

Aku tidak kenal siapa dirinya. Namun, tidak lama kemudian pria itu bertanya tentang kondisiku yang kujawab bahwa aku baik-baik saja. Lalu aku mencoba berjalan ke arah motorku dengan tertatih-tatih. Aku memang agak sulit berjalan, tapi aku terus berpikir bahwa diriku baik-baik saja. Padahal kenyataannya, aku tidak sadar bahwa beberapa bagian tubuhku mengalami luka-luka dan memar.

Pria ini sempat memberikan tawaran untuk mengantarku pulang, namun aku enggan menerima karena sungkan merepotkannya. Lantas dia memperkenalkan dirinya sebagai kakak dari salah seorang rekan kerjaku. Mungkin dia mengenaliku sebagai teman kerja adiknya dari seragam yang masih menempel di tubuhku. Kemudian dia memintaku untuk tidak merasa segan karena dia juga warga setempat.

Sambil berbicara, kucoba menyalakan motorku. Pria itu masih membantuku menahan beban motorku yang berat. Puji Tuhan, ternyata mesin motor masih bisa menyala. Aku mengatakan kepada pria itu bahwa aku masih bisa pulang sendiri, walaupun aku mulai merasakan perih di beberapa bagian tubuhku yang luka-luka. Sembari menghaturkan terima kasih atas kebaikannya, aku juga mengucapkan selamat tinggal.

Merasakan Pengalaman dari Kisah Orang Samaria yang Baik Hati

Kawan, beberapa tahun setelah peristiwa ini, ketika aku membaca kembali perumpamaan Yesus tentang orang Samaria yang murah hati (Luk. 10:30-35), aku menyadari bahwa aku telah merasakan kebaikan dari seorang tetangga yang tidak aku kenal sebelumnya. Tetangga ini memiliki latar belakang yang berbeda dengan diriku. Kami tidak datang dari kota yang sama, bukan suku yang sama, dan juga tidak memeluk agama yang sama. Namun, dengan tanpa pamrih, di tengah hujan yang cukup deras, dia rela berhenti untuk menolong seseorang yang jatuh dari motornya. Dan bukan itu saja, dia yang mungkin sedang dalam perjalanan ke sebuah tempat, juga rela untuk mengantarkan orang yang baru mengalami kecelakaan ini untuk pulang ke rumahnya.

Dalam perumpamaan orang Samaria yang murah hati, Yesus menceritakan bahwa ada seseorang yang sedang berada dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Orang itu bertemu dengan perampok-perampok yang bukan saja mengambil seluruh hartanya, tapi juga memukulnya sampai babak belur hingga ia terkapar setengah mati.

Kemudian ada seorang imam yang kebetulan melalui jalan itu. Sang imam melihat orang yang terkapar tersebut, tetapi ia hanya melewatinya dari sisi jalan yang lain. Lalu seorang Lewi juga kebetulan melalui jalan tersebut. Dia pun tidak memedulikan orang yang sudah sekarat itu dan terus berjalan seakan tidak ada sesuatu yang terjadi. Beberapa pakar Alkitab meyakini bahwa sang imam dan Lewi tidak mau menajiskan diri setelah mereka memimpin ibadah yang kudus di Bait Allah yang berada di kota Yerusalem.

Memang benar, aku tidak berjumpa dengan seorang imam dan orang Lewi di dalam peristiwa yang aku alami. Namun, aku menemukan diriku yang sering beraksi seperti imam dan Lewi dalam cerita itu.

Aku tahu bahwa mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia adalah perintah utama dari taurat, dan kedua hal ini adalah paket yang tidak terpisahkan dalam kehidupan orang Kristen. Namun, aku gagal untuk memberikan uluran tangan sebagai bentuk kasihku kepada sesama, karena keegoisanku.

Aku menjadi seperti sang imam dan Lewi yang mencari-cari alasan untuk tidak mengulurkan tangan sama sekali. Aku berpikir terlalu keras dan mempertimbangkan terlalu banyak alasan sampai akhirnya aku mau mengatakan “iya” untuk meringankan beban orang lain. Hal tersebut membuatku sadar bahwa diriku ternyata “pilih-pilih kasih” ketika hendak menyatakan kebaikan pada orang lain. Contohnya, aku lebih dapat mengasihi orang-orang yang memiliki latar belakang yang mirip denganku, serta giat membantu teman-temanku dengan menyimpan harapan bahwa suatu hari nanti mereka juga akan membantuku. Namun, ketika aku tidak mendapatkan balasan dengan kualitas kasih dan perhatian yang sama, aku mulai merasa kecewa.

Ya, aku memiliki pandangan dan sikap yang salah. Padahal, mengasihi sesama manusia dengan berbuat baik adalah panggilan kita yang sudah terlebih dahulu menerima kasih dan kebaikan yang besar dari Allah melalui pengorbanan Yesus Kristus yang melepaskan kita dari belenggu dosa dan maut. Tak sampai di situ, Tuhan juga terus memelihara hidup kita dengan menambahkan anugerah demi anugerah yang dapat kita rasakan setiap harinya.

Ketika aku merefleksikan kembali insiden yang pernah menimpaku tersebut, aku bersyukur bahwa Tuhan memberikan sebuah pembelajaran yang berharga kepadaku tentang mengasihi sesama melalui perbuatan baik. Dan melalui tetangga yang telah menolongku, aku belajar seperti apa yang dikatakan oleh John Wesley, bapak gereja Methodist,

“Lakukan semua kebaikan yang Anda bisa, dengan segala sumber daya yang Anda bisa, dengan semua cara yang Anda bisa, di semua tempat yang Anda bisa, setiap saat Anda bisa, kepada semua orang yang Anda bisa, selama Anda bisa.”

Kawan, di akhir perumpamaan Yesus memberikan sebuah ajakan kepada pendengar-Nya dan kita semua pada hari ini, “Pergi dan perbuatlah demikian.” (Luk. 10:37b). Yuk, mari kita pergi dan membagikan kasih Allah melalui hidup kita. Ya, bagikan kasih Allah kepada sesama untuk kemuliaan nama-Nya!

Belajar Jadi Anak: Proses Seumur Hidup untuk Kita Semua

Oleh Edwin Petrus

Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), aku meninggalkan kota kelahiranku. Aku merantau ke negeri orang untuk mendapatkan gelar sarjana. Selanjutnya, aku pun berkelana lagi ke kota orang untuk meniti karier. Enam tahun kemudian, aku melanjutkan studi ke sebuah kota yang jaraknya kurang lebih dua ribu kilometer dari rumahku. Tiga belas tahun sudah, aku pergi merantau.

Aku adalah seorang anak tunggal yang mendapatkan kasih dan perhatian penuh dari kedua orang tuaku. Namun, secara perlahan dan tanpa aku sadari, kehidupan di perantauan telah mengikis kemanjaanku dan mengubahnya menjadi kemandirian, hingga aku terbiasa melakukan banyak hal seorang diri. Sampai-sampai, banyak orang sering meragukan kalau aku adalah anak satu-satunya dalam keluargaku. Gambaran tentang anak tunggal yang manja sepertinya sudah hilang dari hidupku.

Selama merantau, aku tidak pernah menyia-nyiakan momen liburan bersama keluarga di rumah. Sekali setahun, aku pasti pulang ke rumah untuk beberapa hari lamanya. Aku memanfaatkan hari-hari libur untuk bercengkrama dengan papa dan mama. Walaupun biasanya selalu berkomunikasi melalui sambungan telepon maupun pesan singkat, tapi aku dapat merasakan kehangatan yang berbeda ketika kami banyak bertukar cerita sambil menyantap makanan-makanan khas dari kota kelahiranku. Namun, momen kebersamaan dengan mereka hanya dilalui beberapa hari dalam setahun, yang selalu dihabiskan dengan sukacita tanpa perbedaan cara pandang dan konflik yang berarti.

Di penghujung tahun 2021, aku memilih untuk pulang kampung. Kali ini aku sudah menetap kembali di rumah. Dan ternyata, aku menjumpai diriku berada di sebuah lingkungan yang tampak asing. Padahal aku kembali ke rumah yang pernah ku tinggali selama delapan belas tahun. Namun, aku mendapati bahwa aku harus berjuang untuk menyesuaikan diri dengan pola hidup dari kedua orang tuaku yang sudah kutinggalkan hidup berdua selama ini. Aku perlu mengatur ulang tatanan rutinitasku yang selama ini sudah terbiasa dijalani seorang diri karena aku perlu memikirkan dampaknya bagi kedua orang tuaku. Aku pun belajar memahami cara berpikir orang tuaku yang sudah semakin memutih rambutnya dan membangun cara berkomunikasi yang pas dengan mereka.

Saking banyaknya hal-hal yang harus aku pelajari ketika aku kembali pulang, aku sampai pada titik di mana aku merenungkan sebuah pertanyaan: sampai pada usia berapa sebenarnya seseorang perlu belajar sebagai seorang anak?

Selama ini, di dalam benakku, aku mengira bahwa hanya orang tua saja yang perlu mengikuti kelas parenting. Peran anak hanyalah sebagai objek yang menerima seluruh pengasuhan itu.

Namun, setelah aku merefleksikan lagi pertanyaan tadi, aku menemukan bahwa sekolah menjadi anak adalah pembelajaran seumur hidup. Secara konsisten, kita perlu terus belajar menjadi seorang anak karena sampai akhir hayat, seseorang tetap menyandang gelar sebagai anak dari orang tuanya. Bahkan, pada sebagian suku bangsa, nama orang tua melekat di balik nama anaknya. Akta kelahiran juga menuliskan dengan jelas nama orang tua dari sang anak pemilik surat itu.

Di sisi lain, ketika aku membaca kembali hukum kelima dari sepuluh hukum Taurat (Keluaran 20:1-17), aku menyadari bahwa perintah Allah yang mengatur relasi orang tua-anak ini juga membicarakan hal yang sama dengan pesan yang sangat jelas:

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu” (Keluaran 20:12).

Dari perintah ini, aku menyadari bahwa hormat yang diberikan oleh seorang anak kepada ayah-ibunya berlaku seumur hidup. Tidak ada pengecualian dari Tuhan bahwa seorang anak boleh berhenti menunjukkan respeknya kepada kedua orang tuanya setelah ia menginjak usia delapan belas tahun.

Hukum ke-5 ini juga memiliki banyak keunikan dibandingkan dengan sembilan lainnya. Jikalau hukum lainnya lebih terdengar seperti larangan bagi umat Allah untuk tidak boleh melakukan beberapa hal, maka menghormati orang tua adalah sebuah perintah yang harus dikerjakan secara aktif oleh setiap umat Allah. Selain itu, hukum ke-5 ini adalah satu-satunya hukum yang mengandung janji, bahwa setiap orang yang mengerjakan perintah ini akan mendapatkan berkat dari Allah.

Selain itu, sebuah kata yang menarik perhatianku dalam hukum ini adalah kata “hormat”. Empat hukum yang mengawalinya adalah tuntutan Allah kepada umat-Nya untuk menunjukkan hormat mereka kepada kekudusan Allah. Namun, Allah juga menggunakan kata “hormat” yang sama ketika Ia menginstruksikan agar setiap orang percaya menghormati orang tua mereka. Jadi, ketika kita menghormati ayah dan ibu sebagai anugerah dari Allah dalam hidup kita, pada waktu sama, kita juga memuliakan Allah. Wow!

Kawan, aku menyadari bahwa menghormati orang tua bukanlah perkara mudah bagi sebagian orang. Aku pun pernah mendengarkan berbagai kisah tentang orang tua yang sepertinya tidak layak untuk dihormati oleh anaknya. Ada anak yang bertumbuh dari keluarga dengan orang tua tunggal ataupun orang tua angkat karena mereka telah “dibuang” oleh orang tuanya sejak kecil. Sebagian lain hidup di dalam ketakutan karena salah satu dari orang tuanya mempraktikkan kekerasan dalam rumah tangga. Anak-anak lainnya tidak pernah bangga dengan figur papa maupun mamanya karena perilaku dan tindakan mereka yang menyakiti hati anak-anaknya. Kawan, mungkin kamu adalah salah satu dari anak-anak itu.

Keluargaku juga bukan keluarga yang sempurna. Aku juga pernah menemukan kekurangan dari ayah-ibuku ketika aku membandingkan mereka dengan orang tua dari teman-temanku. Dalam Alkitab pun, kita tidak dapat menemukan keluarga yang sempurna karena relasi manusia telah dirusak oleh dosa. Walaupun demikian, aku mau belajar untuk meneladani Yesus di dalam menghormati orang tua-Nya. Walaupun Maria hanyalah seorang wanita yang dipinjam rahimnya oleh Allah untuk melahirkan Anak-Nya, tetapi selama hidup-Nya di dunia ini, Yesus menunjukkan respek yang tinggi terhadap ibu-Nya. Bahkan, sesaat sebelum Ia mati di kayu salib, Yesus menitipkan ibu-Nya kepada Yohanes, salah satu murid-Nya, untuk dapat merawat Maria (Yohanes 19:27).

Ketika aku semakin dewasa dan kedua orang tuaku semakin memutih rambutnya, aku menyadari bahwa bentuk hormatku kepada mereka juga perlu mengalami perubahan. Benak hati mereka berkata bahwa mereka merindukan anak yang bisa mereka banggakan. Mereka menginginkan telinga seorang anak yang siap mendengarkan tutur kata mereka. Mereka mengharapkan dukungan dari anak yang memaklumi sedikit kelambanan dan kepikunan mereka. Mereka mengharapkan kasih dan perhatian yang bukan hanya sekadar omongan belaka, tetapi nyata dalam tindakan yang menemani masa tua mereka. Mereka membutuhkan tuntunan untuk dapat menggunakan teknologi yang semakin canggih. Aku mau terus belajar untuk menjadi anak yang menunjukkan hormat kepada orangtuaku, sesuai dengan konteks dan kebutuhan mereka.

Yesus telah menjadi Guruku dalam menjalani pembelajaran ini, Roh Kudus telah menjadi Penolongku dalam mempraktikkannya, dan Allah Bapa memberiku anugerah dan kesempatan untuk terus belajar di tengah jatuh bangunku. Aku juga berdoa, kiranya teman-teman juga mau belajar menjadi seorang anak yang menghormati orang tua.

Menemukan Kebenaran Tuhan dari Sebuah Riset Lapangan

Oleh Edwin Petrus, Medan

Aku adalah seorang mahasiswa tingkat akhir dari sebuah sekolah tinggi teologi yang berada di Malang, Jawa Timur. Kini, aku sedang menjalani praktik pelayanan setahun di sebuah gereja di kota asalku. Inilah kewajiban akademis terakhir yang harus aku selesaikan sebelum nantinya aku bisa diwisuda.

Ketika kuliah, ada sebuah kalimat yang begitu melekat dalam ingatanku, yang seringkali diucapkan oleh seorang dosenku ketika ia mengajar. Dosen ini memiliki suatu kebiasaan untuk mengawali kelas pertamanya dari setiap semester dengan memperlihatkan sebuah diagram. Aku pun sudah bisa menebak kata-kata pertama yang akan beliau utarakan ketika menjelaskan isi dari diagram tersebut. Beliau pasti berkata “all truth is God’s truth” (segala kebenaran adalah kebenaran Tuhan).

Meski kalimat ini selalu terngiang-ngiang di kepalaku di setiap semester, aku memiliki sebuah tanda tanya besar tentang apa yang dimaksudkan dengan “segala kebenaran adalah kebenaran Tuhan.” Rasa penasaran tentang kalimat ini menjadi semakin besar ketika aku berada di tingkat akhir dan mulai merencanakan untuk membuat penelitian lapangan sebagai tesisku.

Berbeda dengan teman-temanku yang memilih studi literatur sebagai metode penelitian mereka, aku menggunakan metode penelitian kualitatif. Simpelnya, kalau teman-temanku hanya perlu membaca buku untuk menyusun skripsi atau tesis mereka, aku perlu melakukan wawancara terhadap pemimpin kelompok kecil di gereja untuk memperoleh data.

Dalam pengerjaan tesis ini, pernyataan sang dosen kembali terngiang-ngiang di kepalaku,

“Akankah aku menemukan kebenaran Tuhan melalui wawancara dengan para pemimpin kelompok kecil gereja ini? Bukankah mereka hanya orang awam?”

“Teman-temanku yang melakukan studi literatur mungkin lebih memiliki peluang untuk menemukan kebenaran Tuhan,” pikirku demikian.

Pertanyaan ini tetap tidak terjawab. Namun, aku tetap mengerjakan penelitianku. Setelah mempersiapkan sejumlah pertanyaan wawancara dan mendapatkan lampu hijau dari dosen pembimbing, akupun segera membuat janji wawancara dengan para partisipan riset. Aku mengerjakan riset ini dengan mengikuti seluruh kaidah yang digariskan oleh metode penelitian kualitatif. Di bawah bimbingan sang dosen, aku mengumpulkan dan mengolah data dari hasil wawancara. Sampai akhirnya, aku bisa menarik kesimpulan dari penelitian ini.

Aku bersyukur dengan pertolongan Tuhan yang telah memimpinku untuk bisa menyelesaikan penelitian ini. Namun, aku tetap belum menemukan kebenaran Allah dari hasil risetku. Aku malah merasa bahwa tesisku kurang berbobot karena tidak ada kutipan-kutipan dari buku-buku teologi yang ditulis oleh teolog-teolog ternama.

Sampai suatu hari, aku mendengar sebuah renungan singkat dari seorang dosen lain yang membagikan kisahnya di dalam meneliti beberapa gereja yang telah dibuka kembali setelah kondisi pandemi COVID-19 mereda. Di dalam renungan tersebut, beliau berkata bahwa pertemuannya dengan para pemimpin gereja telah membuka matanya untuk melihat kebenaran dan karya Tuhan di dalam gereja-Nya selama masa pandemi. Pada saat yang sama, di dalam pikiranku, seperti ada tombol rewind yang ditekan. Aku diajak untuk kilas balik ke momen-momen ketika aku mendengarkan para partisipan risetku yang menceritakan kendala mereka di dalam memimpin kelompok kecil.

Aku teringat dengan satu kalimat yang sama, yang diucapkan oleh seluruh partisipan risetku: “Aku bukan pemimpin.” Di kala mereka merasa tidak mampu dan tidak percaya diri untuk memuridkan umat Tuhan, aku juga mendengar kisah-kisah perjuangan mereka untuk terus berkarya bagi Tuhan. Setiap partisipan menjumpai kendala-kendala yang berbeda di kelompok mereka. Mereka juga berkisah tentang kegentaran di dalam menjalankan tugas pemuridan ini, tetapi mereka tidak pernah putus asa. Apalagi di saat pandemi melanda, tantangan-tantangan baru pun muncul dan memuridkan jemaat gereja terasa menjadi semakin berat. Namun, para pemimpin kelompok kecil ini terus bersandar pada Tuhan dan pemeliharaan Tuhan sungguh nyata bagi setiap pelayan-Nya.

Pada saat itu, mataku terbuka untuk melihat kebenaran Tuhan yang tersimpan di dalam lembaran-lembaran hasil penelitianku. Aku hanya bisa meneteskan air mata. Aku meminta maaf dan sekaligus menaikkan ucapan syukur di hadapan Tuhan. Aku meminta pengampunan dari Tuhan karena memandang sebelah mata terhadap pernyataan-pernyataan yang diungkapkan oleh para pemimpin kelompok kecil di gereja. Di benakku, kebenaran Tuhan itu hanya ada di dalam Alkitab dan buku-buku teologi yang ditulis oleh para sarjana Alkitab. Namun, aku melupakan bahwa Tuhan juga dapat menyatakan kebenaran-Nya melalui para jemaat awam yang melayani di gereja. Lagipula, para pemimpin kelompok kecil ini adalah orang-orang yang bukan hanya “tahu” Amanat Agung Yesus, tetapi mereka juga adalah “pelaku” dari firman tersebut. Dengan penuh dedikasi, mereka memuridkan saudara-saudara seiman untuk menjadi murid-murid Kristus.

Di kemudian hari, ketika aku merenungkan bagian pendahuluan dari Injil Lukas (Luk. 1:1-4), aku kembali disadarkan bahwa Injil tersebut disusun oleh seorang peneliti lapangan yang mengumpulkan data melalui metode kualitatif. Lukas menyelidiki keterangan-keterangan yang diberikan oleh para saksi mata Injil. Mereka pasti bukan hanya para rasul yang 24 jam melayani bersama Yesus. Para saksi mata ini mungkin adalah salah satu dari lima ribu orang yang pernah diberi makan oleh Yesus dengan lima roti dan dua ikan. Bisa jadi, mereka adalah orang-orang yang pernah disembuhkan oleh Yesus dari sakit penyakit. Ada kemungkinan, salah satu saksi Injil ini adalah wanita yang pernah diampuni dosanya oleh Yesus. Kita memang tidak mengetahui identitas dari mereka yang menjadi sumber informasi bagi Lukas. Namun, dengan ilham (baca: inspirasi) yang diberikan oleh Roh Kudus, Lukas telah membukukan sebuah Injil dari penuturan para saksi mata ini, sehingga kita dapat mengetahui kebenaran Allah.

Kawan, aku bersyukur atas anugerah Tuhan yang telah menyatakan kebenaran-Nya kepadaku melalui sebuah riset. Aku juga berterima kasih kepada Dia yang mengizinkanku untuk melihat karya-Nya yang tidak berkesudahan di dalam komunitas orang percaya. Aku bersukacita kalau aku bukan hanya sekadar menyelesaikan riset ini karena tuntutan akademis, tetapi aku beroleh kesempatan untuk mengenal Tuhan dengan semakin dalam.

Bagaimana dengan kamu, kawan? Sudahkah kamu merasakan karya pemeliharaan Tuhan yang tidak berhenti tercurah di dalam hidupmu? Adakah kamu melihat kebenaran-Nya yang disingkapkan dalam hidupmu? Aku berdoa, kiranya Tuhan membuka hatimu untuk melihat dan merasakan kasih dan kebenaran-Nya di dalam hidupmu.

Cintaku yang “Profesional”

Oleh Edwin Petrus, Medan

Aku teringat dengan wejangan-wejangan yang pernah kuterima beberapa tahun yang lalu ketika aku memulai karier pertamaku. Dosen-dosenku, teman-teman kuliahku, bahkan sampai atasan di tempat kerjaku pernah menyuarakan tentang pentingnya profesionalitas di dalam pekerjaan. Nasihat-nasihat dari para senior ini tentunya menjadi masukan yang berarti.

Tanggal 18 Desember 2011, aku pun memulai hari pertamaku sebagai seorang karyawan orientasi di sebuah resort tepi pantai di pulau Bintan, Kepulauan Riau. Aku bersyukur bisa langsung diterima bekerja di tempat ini pasca menyelesaikan penulisan skripsi. Dengan berpakaian atasan putih dan bawahan hitam, aku diajak oleh bagian personalia untuk berkeliling dari satu departemen ke departemen lainnya di resort berbintang empat tersebut.

Dalam waktu lebih kurang satu jam, aku melihat profesionalitas dari rekan-rekan kerjaku di dalam melayani para tamu yang sedang berlibur di situ. Usai perkenalan singkat tentang kondisi lingkungan kerja, aku pun dititipkan di departemen pelayanan tamu untuk memulai masa orientasi. Dari sinilah perjalananku sebagai seorang pekerja hotel yang profesional berawal.

Aku mempelajari banyak kiat untuk meningkatkan kompetensi di dalam melayani para wisatawan, mulai dari penampilan hingga tutur kata. Aku juga berguru kepada rekan-rekanku tentang trik-trik di dalam menghadapi sejumlah karakteristik tamu. Demi meningkatkan kapabilitas di dalam memberikan pelayanan yang terbaik, aku belajar dengan sekuat tenaga. Aku pun tidak keberatan untuk menambah jam kerjaku ketika okupansi hotel cukup tinggi, sehingga aku bisa memiliki lebih banyak pengalaman berinteraksi dengan para tamu hotel. Aku bersyukur kerja kerasku tidak sia-sia. Profesionalitasku teruji ketika aku dua secara kali berturut-turut terpilih sebagai karyawan terbaik.

Senyuman yang merekah dari wajah para wisatawan saat aku melambaikan salam perpisahan adalah momen yang paling aku nantikan. Apalagi, jika mereka memberikan ucapan terima kasih yang tidak hanya dengan kata-kata, tetapi juga berupa tip. Sayangnya, aku salah memaknai bentuk apresiasi itu. Tambahan pemasukan yang menggemukkan pundi-pundiku ini mulai memutar otakku.

Cinta yang terdistorsi

Aku menyenangi dunia perhotelan sejak kecil. Aku selalu kagum melihat profesionalisme dari para karyawan hotel. Berkarier di bidang perhotelan memang adalah salah satu cita-citaku di masa kanak-kanak. Namun, cintaku terhadap pekerjaan sebagai karyawan hotel terdistorsi oleh uang. Aku memanipulasi cinta itu dengan berpura-pura menjadi seorang karyawan hotel yang profesional hanya demi memperoleh masa depan yang cerah secara finansial.

Aku menghabiskan hari-hariku di tempat kerja bukan lagi karena ingin melayani para wisatawan, tetapi bagaimana bisa mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Jam kerjaku yang tinggi bukan lagi karena wujud loyalitasku, tetapi aku dimotivasi oleh hasrat untuk memperoleh sejumlah privilese yang diberikan kepada karyawan yang lembur. Selain itu, aku berpikir kalau si bos menatapku yang sering bekerja ekstra, aku berharap akan mendapatkan bonus tahunan yang lebih besar dan termasuk juga peluang untuk naik jabatan. Jam-jam kerjaku dilewati hanya dengan fokus untuk menambah jumlah nol di rekeningku.

Sejak aku meniti karierku sebagai pekerja hotel, aku hidup jauh dari persekutuan orang percaya. Aku tidak bisa beribadah ke gereja pada hari Minggu karena aku memang harus masuk kerja pada akhir pekan. Namun, aku bersyukur kalau Tuhan tidak pernah meninggalkan anak-anak yang dikasihi-Nya. Suatu hari, ketika aku merasa mumet dengan sejumlah hal yang harus diselesaikan dengan segera, aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke tepi pantai sebentar sambil mencari inspirasi.

Di depan mataku, terpampang laut yang sedikit bergelombang dengan langit biru dan sejumlah gumpalan awan putih. “Pemandangan yang sempurna!,” sahutku dalam hati. Aku mengambil ponselku dan ingin mengabadikan momen ini. Ketika aku sedang mencari sudut yang pas, hatiku tergerak untuk memuji Tuhan, Sang Pencipta dari indahnya alam yang terbentang di hadapanku. Aku teringat dengan pemazmur yang menyanyikan bahwa “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” (Mzm. 19:2).

Momen ini sungguh menggelisahkan hatiku dan aku mulai berefleksi daripadanya. Aku mempertanyakan makna dari pekerjaanku. Kemudian, aku menemukan bahwa ternyata selama ini aku telah salah menaruh orientasi di dalam berkarier. Aku hanya bekerja untuk memperkaya diriku. Perjuanganku untuk menjadi pelayan hotel yang profesional dikarenakan aku mencintai uang. Aku menilai profesionalisme itu hanya secara finansial. Padahal, uang bukan merupakan alat ukur utama di dalam menentukan profesionalitas kerja seseorang.

Setiap karier memang menuntut pekerjanya untuk dapat berkarya secara profesional. Konsep ini bukan hanya sekadar pandangan dunia sekuler, melainkan juga adalah kehendak Allah. Allah mendesain manusia sebagai pribadi-pribadi yang akan bekerja bersama-Nya untuk mengembangkan dunia ciptaan-Nya. Ketika Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, Allah berfirman: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:28).

Manusia pertama, yang menerima mandat ini secara langsung dari Allah, menjalankan pekerjaannya secara profesional. Salah satunya, Adam memberi nama kepada binatang-binatang (Kejadian 1:20). Namun, kejatuhan manusia ke dalam dosa telah mengubah perspektif manusia di dalam bekerja. Profesionalitas manusia berdosa telah dicemarkan oleh kejahatan yang terus membawanya untuk hanya fokus pada mengejar kepentingan pribadi, tanpa lagi mempedulikan nasib rekan kerja, perusahaan, alam sekitar, apalagi mengurusi rancangan Allah.

Inilah fakta yang diungkapkan oleh Timothy Keller, dalam bukunya Apakah Pekerjaan Anda Bagian dari Pekerjaan Allah? Ia memperlihatkan bahwa banyak orang yang menganggap bahwa profesionalitas lahir dari perjuangan keras yang telah diupayakan oleh seorang pekerja, tanpa pernah memikirkan bahwa status profesional juga adalah sebuah anugerah Allah. Padahal, untuk dapat menjadi seorang yang bekerja secara profesional, setiap orang membutuhkan talenta-talenta yang dianugerahkan oleh Allah.

Oleh karena itu, Yesus Kristus datang ke dunia ini untuk mempresentasikan bentuk cinta-Nya yang murni bagi menyelamatkan manusia berdosa. Di atas kayu salib, Ia menebus dan memperbarui manusia dari kuasa dosa. Relasi manusia dan Allah yang telah terputus akibat kejatuhan ke dalam dosa, kembali tersambung. Di dalam Kristus, setiap orang percaya memperoleh kuasa Injil yang memampukannya untuk menerima undangan Allah bagi manusia untuk menjadi rekan sekerja-Nya.

Dengan menempatkan Kristus sebagai yang terutama di dalam hidup, kita pun akan mendapatkan sudut pandang yang baru tentang menjadi seorang pekerja yang profesional. Aku bersyukur untuk pengalaman iman ini sebelum aku mengakhiri karier sebagai seorang karyawan hotel. Tidak ada yang berubah dari rutinitas pekerjaanku, malahan aku dibebankan lagi dengan tanggung jawab yang lebih banyak. Namun, motivasiku untuk bekerja secara profesional bukan lagi karena ingin dibayar dengan upah yang lebih besar. Cinta yang dianugerahkan Kristus bagiku menjadi pendorong yang menyemangatiku untuk bisa melayani Tuhan melalui vokasiku, di mana aku bisa mengajak para wisatawan untuk mengagumi alam ciptaan Tuhan. Aku bersukacita karena lewat pekerjaanku, aku bisa memperkenalkan kasih Kristus kepada mereka yang belum percaya.

Kisah baru dari orang-orang Kristen di dalam berkarier adalah menyelaraskan Injil dengan profesionalitas. Dengan demikian, kita tidak lagi memisahkan Kristus hanya pada hari Minggu dan beban pekerjaan pada hari kerja. Dengan membawa Kristus serta di dalam karier, apa pun bidang yang sedang kita tekuni, kita dapat mencintainya dan mengerjakannya secara profesional karena ketika kita sedang bekerja sama dengan Allah.

Jadi, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Selalu Ada Kesempatan Kedua yang Tuhan Berikan Untukmu

Oleh Edwin Petrus, Medan

Sudah sekian lama aku tidak menginjakkan kaki di bioskop karena pandemi Covid-19. Akhirnya, pada awal Januari 2022, aku kembali memanjakan diri dengan menonton di layar lebar. Aku memilih film “Spider-Man: No Way Home.” Tidak ada alasan lain di balik pilihan ini. Spider-Man memang telah menjadi favoritku sejak Marvel merilis seri pertamanya.

Selama lebih kurang dua setengah jam menyaksikan sang manusia laba-laba beraksi, aku berulang kali memikirkan tentang frasa yang secara terus menerus dicetuskan oleh beberapa pemain: second chance (kesempatan kedua). Spider-Man sangat meyakini kalau semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Pemikiran Spider-Man ini sempat mendapatkan penolakan keras dari rekan-rekannya. Namun, adegan demi adegan terus memperlihatkan segala daya upaya dari Spider-Man yang tidak berhenti memperjuangkan kesempatan kedua kepada tokoh-tokoh yang dianggap tidak layak untuk mendapatkan kesempatan itu sekali lagi. Pada akhirnya, Spider-Man menjadi seorang yang terlupakan oleh publik, termasuk sahabat karibnya, tetapi dia tetap memilih konsekuensi itu demi kesempatan kedua.

Orang-orang sering berkata: “Seandainya saja waktu bisa diputar kembali.” Ya, mereka berharap bahwa dengan memutar kembali waktu, mereka bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan yang pernah diperbuat pada masa lalu. Pada kenyataannya, waktu terus bergerak maju dan keinginan untuk kembali ke waktu silam hanyalah angan-angan belaka. Kawan, sadarkah kamu kalau hidup kita sekarang ini adalah “kesempatan kedua” yang dianugerahkan oleh Allah?

Memang benar, kejatuhan manusia ke dalam dosa yang dinarasikan di Kejadian 3 seakan menutup kesempatan kedua. Keputusan dari Adam dan Hawa untuk melawan kehendak Allah telah mengantarkan mereka kepada kematian rohani, yaitu keterpisahan dengan Allah. Namun, Allah selalu membuka tangan-Nya lebar-lebar untuk menawarkan kesempatan kedua kepada kita. Sesungguhnya, kesempatan kedua itu selalu tersedia bagi semua orang.

Allah mengetahui bahwa orang-orang yang gagal ini membutuhkan kesempatan yang kedua. Ia menyodorkan solusi yang berkemenangan bagi ketidakberhasilan manusia. Ia tidak perlu memutar kembali waktu dan menghindarkan manusia untuk jatuh dalam dosa. Di dalam kasih-Nya, kesempatan kedua justru diberikan oleh Allah melalui Anak-Nya, Yesus Kristus. Melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib, Allah menawarkan kesempatan kedua kepada semua orang yang mau menerima anugerah keselamatan ini. Di dalam Kristus, semua orang percaya berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua, yaitu hidup kekal dengan relasi yang telah dipulihkan bersama-sama dengan Allah untuk selama-lamanya.

Kalau kita sudah memperoleh kesempatan kedua di dalam Kristus, bagaimana seharusnya respons kita terhadap kesempatan kedua itu? Aku mau mengajak kamu untuk memberikan tiga respons yang akan membuat hidupmu dipenuhi dengan damai sejahtera dari Allah.

Menerima kesempatan kedua dari Allah

Kamu pasti mengenal seorang murid Yesus yang bernama Simon Petrus. Mantan nelayan dari Galilea ini adalah pribadi yang memiliki pengaruh yang besar di dalam kelompok murid-murid Yesus. Petrus menjadi satu-satunya murid yang dengan tegas dan yakin mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat. 16:13, Mrk. 8:29, Luk. 9:20). Petrus tampil beda di tengah kebimbangan dari saudara-saudaranya yang masih bertanya-tanya “Siapakah Yesus?”

Namun, jawaban Petrus yang mengesankan ini berakhir dengan tragedi di mana si pemberani berubah menjadi si pengecut. Di tengah kerumunan orang banyak yang menonton Sang Anak Allah ditangkap dan diolok-olok oleh prajurit Romawi, Petrus justru menyangkal pengenalannya terhadap Mesias sebanyak tiga kali. Petrus yang pernah tampil menonjol, harus menangis dengan penuh penyesalan karena ia gagal mempertahankan pengakuan publiknya terhadap Mesias (Mat. 26:75, Mrk. 14:72, Luk. 22:62).

Kisah kemuridan Petrus tidak berakhir di sini. Pasca kebangkitan, Yesus mendatangi Petrus secara pribadi dan berbicara empat mata dengannya (Yoh. 21). Yesus seakan mengulangi lagi momen pertemuan pertama antara mereka berdua di danau Galilea (bnd. Mat. 4:18-22). Yesus memberikan kesempatan yang kedua kepada Petrus untuk menjalankan tugasnya sebagai penjala manusia (Mat. 4:19). Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15-19). Kedua terminologi ini memang terdengar berbeda, tetapi memiliki makna yang sama. Kesempatan kedua bagi Petrus adalah menjadi saksi Injil bagi seluruh bangsa di dunia dan iapun telah menerima dan mengerjakan kesempatan kedua itu pada sisa hidupnya.

Kawan, kesempatan kedua dari Yesus juga tersedia buat kamu hari ini. Masa lalumu yang kelam bukan persoalan bagi Dia, karena kedatangan-Nya adalah untuk memulihkan hidupmu. Yesus memiliki rencana yang luar biasa dalam hidupmu. Oleh karena itu, Dia mau memberimu kesempatan kedua. Aku sudah menerima kesempatan kedua ini. Yuk, jangan sungkan untuk menerima anugerah Ilahi itu pada hari ini dan jangan sampai kelewatan ya karena kesempatan kedua belum tentu juga datang dua kali ya kawan.

Menghidupi kesempatan kedua pada diri sendiri

Kesempatan kedua akan mengubahkan setiap anak-anak Tuhan menjadi manusia baru di dalam Yesus. Rasul Paulus mengatakan: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2Kor. 5:17). Ketika setiap anak Tuhan sudah menerima kesempatan kedua, kita bertanggung jawab untuk menghidupi kesempatan kedua sesuai dengan kehendak Allah.

Hidup sebagai manusia baru di dalam kesempatan kedua adalah hidup yang dipenuhi dengan ucapan syukur. Chuck Colson adalah seorang mantan narapidana yang sudah putus asa dengan keadaan dirinya; belum lagi, anaknya juga terjerat kasus narkoba. Namun, di balik jeruji penjara, ia mengalami pembaruan iman melalui saudara-saudara seiman yang selalu silih berganti menjenguknya dan berdoa baginya siang dan malam. Iman Colson kembali diteguhkan dan ia juga mendapatkan visi baru untuk dapat melayani para narapidana dan keluarga mereka serta memberikan bantuan hukum. Setelah menghabiskan masa tahanannya, ia mendirikan Prison Fellowship (Persekutuan Penjara) pada 1976 dan sampai hari ini, organisasi nirlaba ini masih eksis untuk membawa pengharapan kepada mereka yang pernah melakukan kesalahan di masa lalu.

Kawan, mungkin kamu seperti aku yang mempunyai kebiasaan untuk menuliskan resolusi di awal tahun. Ya, kita pasti mengidamkan kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru. Resolusi-resolusi itu hanya akan berupa tulisan yang mati jika kita tidak pernah menghidupi kesempatan kedua itu. Ketika suara alarm membangunkan kita dari tidur, inilah penanda bahwa hari baru telah dimulai dan saatnya bagi kita untuk kembali menjalani kesempatan kedua. Di dalam tuntunan Roh Kudus, kita dipimpin untuk menghidupi iman kita di dalam Kristus agar hidup kita semakin memuliakan Allah.

Aku pun menyadari kalau sering kali diri kita sendirilah yang justru menjadi penghalang untuk bisa menikmati kesempatan kedua itu. Sejuta alasan menjadi dalih yang terus menghantui dan menghakimi kita. Aku terlalu lemah dan tidak berdaya, aku tidak bisa memaafkan diriku, kesalahanku yang sangat buruk, trauma itu terlalu mendalam buatku, aku menderita luka batin yang amat menggores hatiku, aku itu sampah busuk…. Benar gak kawan?

Namun, bukankah salib Kristus sudah membereskan semua masa lalu kita dan kasih anugerah-Nya lebih besar dari semua ketidaklayakan yang pernah kita bayangkan itu? Yuk, jalani kehidupan dalam kesempatan kedua bersama Yesus dengan penuh antusias! Ingat kawan, kesempatan kedua terkadang tidak datang dua kali. Jadi, mari kita berjuang menghidupi kesempatan kedua seolah-olah itu adalah kesempatan terakhir kita.

Memberi kesempatan kedua bagi orang lain

Kawan, setelah kita memperoleh kesempatan kedua dan menghidupi kesempatan kedua itu, saatnya bagi kita untuk memberi kesempatan kedua kepada orang lain. Siapa sih yang tidak butuh dengan kesempatan kedua?

Markus, sang penulis Injil Markus adalah seorang yang mendapatkan kesempatan kedua dari rekan pelayanannya, Paulus. Kisah Para Rasul 15:35-41 mencatat bahwa Markus menjadi penyebab perselisihan sengit antara Barnabas dan Paulus. Barnabas ingin mengajak Markus lagi dalam perjalanan misi mereka berikutnya, tetapi Paulus menentang hal ini. Markus pernah diajak dalam perjalanan sebelumnya, tetapi dia tidak menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik.

Kesalahan yang pernah dibuat oleh Markus bukan menjadi akhir dari segalanya. Paulus tidak langsung mendaftarhitamkan Markus di dalam tim pelayanannya. Markus kembali mendapatkan kesempatan kedua dari Paulus. Di kemudian hari, Markus dan Paulus bekerja sama lagi bagi pemberitaan Injil. Markus pernah diutus oleh Paulus untuk mewakilinya di dalam mengunjungi jemaat di kota Kolose (Kol. 4:10). Markus pun pernah mendapatkan pujian dari Paulus bahwa pelayanannya adalah penting bagi Paulus (2Tim. 4:11).

Kawan, aku menyadari bahwa memberi kesempatan kedua memang terasa lebih sulit dibandingkan dengan menerima dan menikmati kesempatan kedua itu. Kita sering memandang bahwa kegagalan orang lain lebih besar daripada kesalahan kita. Namun, kemampuan untuk bisa memberi kesempatan kedua menunjukkan kedewasaan rohani kita. Jikalau kita masih sulit memberikan kesempatan kedua itu bagi orang lain, kita bisa berdoa dan meminta Roh Kudus yang melembutkan hati kita untuk melakukan hal itu. Yesus sendiri yang mengajarkan kita untuk bisa mengampuni dosa orang lain sebagaimana kita telah diampuni oleh Bapa di surga (Mat. 6:12). Dia juga pasti rindu untuk memampukan kita melepaskan kesempatan kedua bagi sesama kita.

Damai sejahtera dari Allah baru dapat kita rasakan dengan utuh jika kita sudah menerima kesempatan kedua dari Allah, menghidupi kesempatan kedua pada diri sendiri, dan memberi kesempatan kedua bagi orang lain. Kawan, sudahkah kamu melakukan ketiga hal ini?

Natal dan Cabe Rawit

Oleh Edwin Petrus, Malang

“Aku hanya orang biasa. Apalah pekerjaanku ini! Pekerjaan yang hina, tapi apa boleh buat aku gak punya pendidikan yang tinggi. Tapi, aku bersyukur bisa bekerja dengan beberapa teman yang bernasib sama. Paling tidak, pekerjaan kami ini berguna buat orang lain, ya walaupun mereka memandang kami dengan sebelah mata.”

Percakapan monolog di atas adalah imajinasiku. Aku membayangkan bagaimana isi hati seorang gembala di Betlehem pada abad pertama masehi. Pada masa itu gembala ternak bukanlah pekerjaan yang bergengsi. Secara sosial, masyarakat memandang rendah profesi itu karena dianggap kotor. Tapi, keberadaan mereka pun dibutuhkan. Salah satunya oleh para penyembah di Bait Allah yang membutuhkan domba sebagai korban persembahan. Kalau sekarang ada peribahasa, “habis manis sepah dibuang.” Kira-kira begitulah nasib mereka, dicari kalau pas lagi butuh saja.

Namun, pada suatu hari, terjadi peristiwa besar yang menggemparkan dunia. Para gembala, yang dipandang rendah oleh masyarakat zaman itu, malah mendapatkan hak istimewa. Mereka tercatat dalam sejarah sebagai saksi mata pertama dari peristiwa mulia. Mungkin saat itu mata mereka sulit terbuka karena tidak kuat melihat cahaya kemuliaan Allah, lalu mereka mendengar sesosok makhluk surgawi yang bersabda: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Lukas 2:11). Bukan hanya itu, ketika mereka menatap ke langit, mata telinga mereka terpukau dengan merdunya suara bala tentara surga yang menyanyikan: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara semua manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:14).

“Kristus? Ya, Mesias. Dia itu yang kita nanti-nantikan selama ini!” Aku coba menerka kira-kira apa yang ada di dalam pikiran para gembala.

Kelahiran Mesias adalah penantian panjang orang Israel. Sejak zaman Perjanjian Lama, para nabi nenek moyang mereka telah menyuarakan janji akan Sang Juruselamat dari Allah (Yesaya 9:6-7; Yeremia 23:5-6; Amos 9:11-12) . Tanpa henti, janji ini pun terus dibicarakan oleh orang-orang Yahudi dari orang tua kepada anak-anak mereka. Mereka mendambakan sosok pemimpin politik yang dapat segera melepaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Tetapi, kita yang hidup di zaman sekarang mengetahui bahwa Kristus, Sang Mesias bukanlah membawa kemerdekaan dari penjajahan politis. Lebih dari itu, kelahiran, kematian, dan kebangkitan Kristus membawa kemerdekaan dari dosa.

Jikalau aku adalah seorang dari gembala itu, aku pasti punya reaksi yang sama. Aku ingin segera pergi melihat Sang Mesias yang baru lahir itu. Dengan petunjuk yang diberikan oleh malaikat, para gembala bergegas pergi dari satu kandang ke kandang yang lain di kota Betlehem untuk menemukan bayi yang dibungkus lampin dan terbaring di dalam palungan. Tanpa alamat yang jelas, apalagi belum ada Google Maps atau Waze pada masa itu, pastilah gembala-gembala ini bertanya ke sana dan ke sini, mengetuk pintu dari rumah ke rumah, dan mengamat-amati dengan saksama dari kandang ke kandang. Jangan-jangan bayi itu tertutup jerami kering dan mereka tidak melihatnya dengan jelas.

“Aha!!! Bayi itu ada di sini!” Inilah jeritan dari salah seorang gembala sambil mengibaskan tangan kanannya untuk memanggil teman-temannya yang lain. Dengan mata kepala mereka sendiri, mereka melihat sosok Sang Raja atas segala raja yang lahir merendahkan diri untuk mengambil rupa sama dengan manusia demi menjalankan misi besar-Nya. Tidak ada ranjang empuk di istana yang mewah yang menyambut kedatangan-Nya di tengah-tengah manusia yang dikasihi-Nya. Hanya beberapa pasang mata dari orang awam yang memberikan penghormatan kepada-Nya.

Aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya para gembala tak bernama ini. Mereka senang dapat bertatap muka langsung dengan Tuhan yang menurunkan status-Nya untuk menjadi sama rendah seperti mereka yang hina. Tak heran, sukacita yang amat besar ini dinyatakan dengan pujian yang memuliakan Allah tanpa henti sepulang dari melihat Yesus (Lukas 2:20). Bukan itu saja, mereka juga mewartakan Kabar Baik dari surga itu kepada orang-orang yang mereka jumpai di sepanjang jalan. Dengan ucapan bibir mereka, Kabar Baik ini dari surga itu menjadi viral di telinga anak cucu Daud yang pada waktu itu sedang berkumpul di Betlehem karena adanya sensus penduduk.

Coba kita lihat apa yang menjadi dampak dari cuitan-cuitan gembala ini? Lukas mencatat bahwa masyarakat luas “heran” dengan kabar ini (Lukas 2:18). Kata “heran” di sini bisa mengandung banyak arti. Orang banyak mempertanyakan keabsahan dari pemberitaan ini. Mereka meragukan berita ini, jangan-jangan hoaks, karena gembala-gembala ini bukan tokoh agama. Bukankah seharusnya para imam dan ahli Taurat yang menyampaikan berita seperti ini? Ada pula kelompok orang yang memang melongo dengan penuh kebingungan karena sudah lebih kurang 300-400 tahun, Allah diam dan tidak memberikan tanda sama sekali kepada umat-Nya. Tidak tertutup kemungkinan, ada yang tercengang dan sekaligus merasakan sukacita karena Mesias yang dinanti-nantikan akhirnya datang juga. Terlepas dari apapun respons yang diberikan orang banyak, kesaksian dari para gembala ini telah menggemparkan Betlehem.

Ibarat sebuah peribahasa berkata, “Kecil-kecil cabe rawit.” Jangan sepelekan bentuk cabe yang paling kecil dari semua ras cabe yang ada. Sebab, justru cabe rawit lah yang punya rasa paling pedas di antara semuanya. Para gembala memang hanyalah kaum kecil yang dipandang sebelah mata pada waktu itu. Namun, berita Natal yang pertama justru disampaikan kepada mereka dan mereka dipakai menjadi alat yang luar biasa untuk menyatakan Kabar Baik itu.

Lukas memang tidak memberitahu kita tentang apa yang terjadi dengan para gembala setelah ini. Namun, bayi yang terbungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan itu pada akhirnya menggenapkan misi-Nya sebagai Juruselamat. Yesus tidak menjadi Mesias politik yang membebaskan Israel dari penjajahan bangsa asing. Yesus menjadi Mesias yang melepaskan mereka, aku, dan kamu dari kematian kekal akibat dosa. Di atas kayu salib, Yesus menganugerahkan damai sejahtera dari Allah kepada orang-orang percaya kepada-Nya. Bahkan, Yesus juga mengundang kita semua untuk tinggal bersama-sama dengan-Nya di surga untuk selama-lamanya. Inilah seri komplit dari berita besar yang disebut malaikat itu sebagai “kesukaan besar bagi seluruh bangsa” (Lukas 2:10).

Episode pertama dari kisah Natal dengan para gembala sebagai aktor-aktornya telah lama berakhir. Namun, sang Sutradara belum ingin mengakhiri produksi dari kisah ini sampai di sana. Hari ini, Allah mengundang aku dan kamu untuk berlakon di dalam episode-episode yang akan segera diproduksi. Kita adalah orang-orang yang menikmati indahnya persekutuan yang dibangun oleh anugerah keselamatan di dalam Yesus Kristus. Saat ini, Allah memilih kita untuk dapat menyaksikan berita dari surga itu kepada dunia yang membutuhkan kasih anugerah-Nya.

Sobat muda, mungkin kamu bukan orang terkenal. Kamu tidak punya banyak talenta. Kamu pandang diri kamu biasa-biasa saja. Namun, sebagai anak-Nya, Tuhan tidak pernah memandangmu dengan sepele. Ia memandang kamu berharga dan bahkan mengundangmu untuk menjadi saksi dari karya keselamatan-Nya! Entah sudah berapa lama kita mendengarkan berita Natal. Namun, biarlah berita Natal itu tidak pernah menjadi kisah yang usang, karena kita mengalami kasih-Nya yang selalu baru tiap pagi (Ratapan 3:23–24). Dengan terus merasakan kasih-Nya, kita dapat membagikan pengalaman iman ini sebagai kabar sukacita bagi orang lain!

Di hari Natal ini, mari ceritakan Yesus kepada satu orang yang belum mengenal Sang Juruselamat itu! Cerita kita tentang Yesus pasti dapat berdampak bagi dunia ini karena Dia adalah Sang Allah yang membawa damai sejahtera ke bumi (Yesaya 9:6).

Artspace – 2 Alasan Mengapa Kita Tidak Boleh Menganggap Remeh Waktu Tidur

Sobat muda yang suka insom dan ngalong siapa nih??

Waktu tidur adalah waktu yang penting. Dengan tidur, kita menerima berkat Tuhan melalui tubuh yang beristirahat. Di zaman yang serba cepat, waktu tidur kadang terabaikan dengan memenuhi target-target atau sekadar terlena bermain gadget. Namun, janganlah meremehkan waktu-waktu untuk beristirahat, karena di saat kita memberi jeda bagi tubuh untuk memulihkan dirinya, di sana jugalah Tuhan mencurahkan berkat-Nya.

Artspace ini didesain oleh Gladys Ongiwarno @gladyong dan kontennya diadaptasi dari artikel Edwin Petrus @ep_petrus yang telah ditayangkan di WarungSaTeKaMu.

2 Alasan Mengapa Kita Tidak Boleh Menganggap Remeh Waktu Tidur

Oleh Edwin Petrus, Malang

Beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan seorang teman lama. Dia membawa serta istri dan anaknya yang berusia satu tahunan. Di pertemuan itu, ada satu hal yang menarik perhatianku. Kulihat anak temanku itu dengan gampangnya tertidur ketika sudah dipeluk mamanya. Padahal, beberapa menit sebelumnya, dia masih begitu lincah jalan ke sana-sini.

“Kayaknya dia sudah capek,” gumamku dalam hati. Aku dan orang tuanya pun lelah karena mengejar-ngejar dia, takut apabila dia jatuh. Memandang ekspresinya tidur, aku yakin sekali kalau tidurnya tenang dan nyenyak. Rasanya tidak ada ketakutan sama sekali; yang ada hanyalah rasa aman dan hangat.

Aku jadi bertanya, apakah orang-orang dewasa juga bisa menikmati indahnya tidur seperti si balita itu?

Jawabannya adalah: iya. Tidur adalah kebutuhan manusia dan Allah peduli dengan urusan tidur kita. Tidur adalah anugerah yang disediakan Allah bagi anak-anak-Nya.

Lewat tulisan ini, aku mau membagikan dua refleksiku tentang tidur menurut kata Alkitab:

1. Tidur memberi tubuh kita waktu untuk beristirahat

Dunia yang tak pernah tertidur selama 24 jam memang bisa membuat kita terjebak pada keinginan untuk selalu terjaga. Walaupun langit sudah gelap dan orang-orang sudah pulang ke rumah, tapi gawai yang kita genggam bisa menyediakan segala hiburan yang kita butuhkan 24 jam sehari, 7 jam seminggu; seakan dunia menuntut kita untuk terus beraktivitas dan tidur menjadi suatu hal yang dipandang tidak produktif.

Namun, Allah tidak mendesain tubuh manusia untuk beraktivitas tanpa beristirahat. Pemazmur berkata: “Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah—sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur” (Mazmur 127:2). Allah memberikan kita waktu untuk tidur, tapi itu akan jadi sia-sia jika kita tidak memanfaatkannya dengan baik. Di waktu kita tidur, Dia memberkati kita.

Di Amerika Serikat pada tahun 1963 pernah dilakukan sebuah riset untuk menguji seberapa lama seorang manusia dapat terjaga tanpa tidur. Seorang bernama Randy Gardner memang berhasil memecahkan rekor dunia dengan tidak tidur selama 11 hari 25 menit. Akan tetapi, selama masa penelitian itu terbukti bahwa kondisi tubuh Randy semakin hari semakin menurun. Awalnya dia sangat bersemangat, tapi setelah hari keempat, dia mulai berhalusinasi, daya ingatnya memburuk, suaranya tidak jelas, dan juga mengalami paranoia.

Kawan-kawan, tidur adalah anugerah Tuhan buat setiap kita. Tuhan tidak ingin kita menjadi manusia pekerja yang terus bekerja tanpa beristirahat. Namun, betapa seringnya kita menolak anugerah itu. Kita tahu tubuh kita sudah capek. Tapi, kita beri asupan kafein biar kita tetap segar. Kita bilang “Sebentar lagi ya baru tidur, tanggung ini; Aku selesaikan dulu tugas yang ini; Aku habisin dulu drama yang satu ini; Aku menangin dulu game yang ini”.

Tubuh kita perlu tidur. Di saat tidur, sel-sel tubuh kita yang rusak akan dipulihkan. Kondisi fisik kita yang lemah akan disegarkan kembali. Dengan tidur yang cukup, kita pun dapat terus menjaga kesehatan tubuh kita dan terhindar dari banyak penyakit. Bukankah dengan tubuh yang sehat kita bisa berkarya lebih maksimal bagi Tuhan?

Jadi, jangan anggap remeh waktu tidur. Di saat kita harus bekerja, berjuanglah dengan sekuat tenagamu dan di waktu kita harus tidur, nikmatilah waktu untuk mengisi kembali energi tubuh kita. Inilah gaya anak Kristen yang memuliakan Tuhan. Mari, kita belajar menikmati anugerah Tuhan lewat waktu tidur.

2. Tidur menandakan kebergantungan kita sepenuhnya pada Tuhan

Di awal tulisan ini aku menceritakan bagaimana anak temanku bisa tertidur pulas tanpa rasa takut karena dia yakin bahwa di dalam pelukan mamanya, dia mendapatkan keamanan yang dia butuhkan. Demikian pula yang dikatakan oleh raja Daud: “Aku membaringkan diri, lalu tidur (Mazmur 3:6a)”, bukan pada saat dia akan segera tidur di kamar istananya yang nyaman dan disertai dengan penjagaan yang ketat dari pasukan bersenjata lengkap. Namun, ketika dia sedang berada di suatu tempat persembunyian dan dikepung oleh puluhan ribu orang yang siap menyerang dia kapan saja (Mazmur 3:1,7).

Aku membayangkan bagaimana Daud bisa mengatakan kalau dia bisa tidur dengan tenang; entah di mana dia membaringkan diri, tidak ada kasur yang empuk, dan pastinya ada musuh yang siap menghabisi nyawanya. Masih segar di ingatanku, ketika gempa bermagnitudo 6,1 SR yang berpusat di bagian selatan Kabupaten Malang menggetarkan wilayah Jawa Timur pada 10 April 2021. Lokasiku memang masih jauh dari pusat gempa, tapi info-info mengenai akan adanya gempa susulan membuat aku takut untuk memejamkan mata dan tidur pada malam itu.

Kita memang tidak bisa tahu apapun yang bakal akan terjadi ketika kita tidur. Bisa saja terjadi bencana alam, kebakaran, kemalingan, dan segala kemungkinan yang terburuk pasti ada. Namun, ketika kita memilih untuk tidur, kita sedang menunjukkan bahwa kita adalah makhluk yang lemah dan tidak berdaya. Kita tidak bisa terus terjaga untuk menjaga diri kita maupun orang lain. Kita membutuhkan Seorang Pribadi yang lebih berkuasa untuk menjaga seluruh hidup kita.

Inilah yang diungkapkan oleh raja Daud. Dia menyerahkan seluruh hidup-Nya kepada Allah yang adalah penopangnya (Mazmur 3:6b). Daud percaya bahwa bersama-sama dengan Allah, dia selalu menemukan keamanan itu. Daud yakin bahwa perisai Allah siap membungkusnya dan melindungi dirinya dari tombak dan panah musuh-musuhnya. Keesokan harinya, ketika dia bangun, dia pun masih dapat menemukan dirinya tetap aman di dalam dekapan Tuhan. Daud juga mengatakan: “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.” (Mazmur 4:9).

Kita bisa menikmati anugerah Tuhan di waktu tidur yang dinikmati oleh Daud. Aku pun telah merasakannya. Setiap kali, ketika menaikkan doa sebelum tidur, aku sering teringat dengan Mazmur 121:3b-4 yang berkata: “Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.” Aku sering menaikkan syukurku karena aku tahu Sang Penjaga Israel adalah penjaga dan pemelihara waktu tidurku. Ketika mataku sudah tertutup dan aku tidak berdaya, aku tidak perlu takut karena aku tetap aman di dalam Tuhan. Aku bisa dengan tenang membaringkan diri dan tidur.

Kawan, apa yang sering menghalangimu untuk bisa memejamkan mata dan tidur? Pikiran-pikiran seperti apa yang menganggumu untuk bisa masuk ke dalam mode tidur?

Kawan, ketahuilah kalau Allah itu Imanuel, Dia selalu beserta dengan kita dan tidak pernah meninggalkan kita. Kita adalah orang-orang yang dikasihi oleh-Nya. Dia pun telah mati untuk menyelesaikan permasalahan terbesar di dalam hidup kita, yaitu dosa. Karya salib Yesus menunjukkan bahwa Dia peduli dengan setiap kita. Kalau begitu, ada masalah apa lagi yang tidak bisa diselesaikan oleh Allah?

Mari, berdoalah sebelum tidur dengan kepasrahan di hadapan Tuhan dan yakinlah kalau Tuhan akan menyingkirkan semua hal yang menganggumu untuk dapat tidur dengan tenang.

Datanglah kepada-Nya dan nikmatilah anugerah yang indah untuk bisa tidur di dalam dekapan Allah.