Posts

Mengapa Orang Kristen Harus Berjuang Merawat Bumi Jika Nanti Setelah Yesus Datang Akan Ada Langit dan Bumi yang Baru?

Oleh Paul Wong
Artikel ini telah ditayangkan di YMI.Today

Bagian akhir dari Alkitab menceritakan tentang sebuah realitas baru yang luar biasa: langit dan bumi yang baru, dan Allah berdiam di tengah-tengah manusia (Wahyu 21:1-4). Inilah akhir paling klimaks dari kisah sejarah: Allah, membuat segala sesuatunya baru, dalam relasi yang sempurna dengan anak-anak-Nya. Tidak ada lagi pandemi, tidak ada lagi rasisme, tidak ada lagi maut, penderitaan, dosa. Dunia yang lama akan berlalu dan yang baru akan datang.

Jika itu adalah kenyataan yang kita nantikan, lantas mengapa orang-orang Kristen masih perlu peduli terhadap bumi ini? Inilah 4 alasannya.

Anugerah dan penatalayanan. Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa meskipun dunia telah dirusak oleh dosa, segala ciptaan di dalam dunia ini tetap merupakan anugerah Allah yang diberikan bagi seluruh manusia—sebuah pemberian yang baik dari Allah bagi kita. Yesus berkata, “…[Bapa] yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:45). Matahari dan hujan adalah bagian dari ciptaan, itu diciptakan sebagai sarana dari-Nya untuk menopang kehidupan manusia. Tidak ada matahari dan hujan berarti tidak akan ada makanan bagi kita. Apa yang Allah ciptakan tak diragukan lagi adalah berkat bagi kita. Nah, jika kita dengan sengaja mengabaikan kerusakan planet ini, atau terus menerus menghancurkannya demi keserakahan, maka kita dengan bodohnya merusak sarana yang Tuhan telah berikan untuk menopang kehidupan. Kita menjadi penatalayan yang buruk atas bumi yang telah dipercayakan bagi kita.

Common Sense: Alasan lain untuk merawat bumi adalah karena itu sudah sewajarnya. Meski kita tahu suatu hari nanti langit dan bumi akan berlalu (Wahyu 21:1), Yesus berkata kalau tidak ada seorang pun yang tahu kapan pastinya itu akan terjadi. Bisa saja besok, atau dalam ribuan tahun ke depan. Tidak ada gunanya berspekulasi. Lebih baik bagi kita untuk menyadari: aku dan kamu dapat berasumsi kalau kita akan tinggal di bumi untuk hari ini dan esok, sembari menanti dengan penuh harap akan hari-Nya Tuhan.

Jadi, hidup di bumi tapi tidak merawatnya seolah-olah hari esok tidak akan datang adalah pemahaman yang buruk. Ini jugalah konsep yang dimaksud dalam Yeremia 29:4-10 ketika Allah memanggil umat-Nya, para orang buangan untuk ‘mengupayakan kesejahteraan’ Babel. Mereka akan terjebak di sana setidaknya selama satu generasi. Mereka perlu menyadari kenyataan itu, dan untuk melanjutkan hidup di Babel mereka perlu “membuat kebun untuk dinikmati hasilnya, mengambil isteri untuk memperanakkan keturunan (Yeremia 29:5-6), dan mengupayakan kesejahteraan kota demi kebaikan mereka juga, alih-alih berpikir kalau mereka akan segera keluar dari pembuangan.

Prinsip yang sama berlaku juga buat kita: ‘Babel’ yang kita tinggali akan lenyap di hari esok, tapi kita masih tetap harus hidup di dalamnya hari ini, dan melanjutkan pekerjaan kita di waktu-waktu sekarang sebagai duta Kristus. Tidaklah baik untuk merusak rumah yang menjadi tempat hidup kita.

Mengasihi sesama kita: Ketiga, yang kedua dari perintah terbesar yang Yesus berikan adalah untuk mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri. Orang Kristen diperintahkan Tuhan untuk mengasihi sesama, meskipun kita melakukannya dengan tidak sempurna. Yang pasti, ungkapan kasih yang utama adalah mengarahkan sesama kita kepada kasih Yesus, seperti yang diungkapkan-Nya di kayu salib (1 Yohanes 4:10).

Namun, ada sesuatu yang lebih yang harus kita lakukan. Setelah bercerita tentang perumpamaan orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37), Yesus menyuruh ahli Taurat untuk “pergi dan lakukan hal yang sama”, tetapi ketika Dia mengatakan itu, Yesus tidak bermaksud “hanya melakukan penginjilan”. Yang Yesus maksudkan: “lakukanlah seperti yang orang Samaria itu lakukan. Merawat sesamamu.” Dalam konteks pemanasan global dan bencana alam yang sering terjadi di hari-hari ini, merawat lingkungan adalah salah satu aspek sederhana dari mengasihi sesama.

Menjadi saksi yang baik: Berita Injil adalah satu-satunya harapan bagi mereka yang mati secara spiritual. Injil mengandung kuasa Allah atas keselamatan (Roma 1:16). Dengan membuat Injil didengar, kepedulian kita terhadap lingkungan menjadi lebih relevan. Jika orang Kristen dipandang oleh orang-orang yang tidak percaya sebagai orang yang tidak peduli dengan bumi, atau bersikap dingin terhadap penderitaan dari pemanasan global, maka Kabar Baik yang kita bawa akan diabaikan begitu saja karena dianggap tidak relevan. Kita akan dilihat sebagai saksi yang buruk, yang berpotensi mengurangi dampak dari kesaksian kita yang seharusnya mengarahkan orang pada pertobatan dan iman.

Tapi… kita harus menjaga yang utama, yang utama

Akhirnya, memang pantas dikatakan bahwa kita banyak berbuat salah ketika kita gagal untuk menegaskan apa yang Alkitab tegaskan. Kita perlu menjaga yang utama—memberitakan Injil. Kepedulian kita terhadap bumi mungkin saja menjadi prinsip yang tak tergoyahkan bagi generasi milenial Kristen, bahkan nilainya melebihi dari hal-hal yang Alkitab tekankan. Tapi… ini akan jadi kesalahan besar.

Berkali-kali, Alkitab menekankan bahwa umat manusia akan menghadapi penghakiman Allah atas pemberontakan mereka. Alkitab juga memberitahu kita bahwa dunia yang hancur adalah bukti dari penghakiman ini (Kejadian 3:17; Roma 8:20-22). Lingkungan kita yang rusak adalah cara Tuhan untuk memberikan panggilan pertobatan bagi kita. Murka Allah atas dosa-dosa kita adalah masalah yang Yesus perbaiki dengan kedatangan dan kematian-Nya. Jadi, pada akhirnya, jika upaya kita untuk memperbaharui ciptaan tanpa dibarengi dengan pewartaan Injil, itu adalah upaya yang sia-sia.

Oleh karena itu, bagian dari bumi ini yang harus kita pedulikan adalah umat-Nya: ciptaan yang Allah kasihi dan dipersiapkan untuk kekekalan. Allah pun telah melakukannya: Yesus tidak mati untuk menyelamatkan pepohonan. Dia mati di atas kayu salib yang terambil dari pohon (Kisah Para Rasul 5:30 versi ESV), sehingga kita bisa berada di tempat di mana pohon-pohon tidak akan mati lagi, tetapi ada bagi pemulihan bangsa-bangsa (Wahyu 22:2).

Greta Thunberg berkata pada acara World Economic Forum di Davos tahun 2019: “Aku mau kamu bertindak seolah-olah rumahmu sedang terbakar, karena inilah yang memang terjadi.” Dia tidaklah salah. Pemanasan global yang terus berlangsung mengakibatkan penderitaan-penderitaan yang tak terliput media bagi jutaan orang dan akan terus berlanjut jika tidak ada penanggulangan apa pun. Sebagai orang Kristen, kita tak boleh lupa bahwa ada api yang turun, yang tak terpadamkan selamanya. Kita harus ingat dan menjaga hal utama sebagai hal utama dan melanjutkan misi dari Gereja tanpa teralihkan fokusnya. Rumah kita sedang terbakar, tapi tersedia air kehidupan bagi dunia (Yohanes 4:13-14). Jika kita sungguh peduli pada ciptaan-Nya, kita akan memberitakan Kabar Baik.

Tentang Benda-benda Langit yang Mengingatkanku akan Kebesaran Allah

Oleh Ghereetha Silalahi, Jakarta

Siang itu, sinar matahari terasa begitu menyengat tubuh. Tanpa direncanakan sebelumnya, aku memutuskan untuk menikmati fasilitas transportasi terbaru di Jakarta, yaitu MRT (Mass Rapid Transport, atau dalam bahasa Indonesia disebut Moda Raya Terpadu). Berbanding terbalik dengan udara di luar yang amat panas, di dalam stasiun MRT terasa sejuk.

Aku mengisi waktu di perjalanan dengan membaca sebuah situs di internet tentang astronomi. Situs tersebut memuat banyak hal seputar benda langit dan fenomena alam yang terjadi di luar atmosfer Bumi. Aku baru mengetahui bahwa setiap nama planet yang teridentifikasi oleh para ilmuwan dunia ini disadur dari nama para dewa Olimpus dalam mitologi Yunani yang kemudian diterjemahkan kembali oleh bangsa Romawi pada zamannya sesuai dengan nama dewa-dewanya sendiri kala itu: Mercurius (untuk Hermes), Venus (Afrodit), Mars (Ares), Jupiter (Zeus) dan Saturnus (Cronus). Dalam bahasa Yunani kuno, Matahari dan Bulan disebut dengan Helios dan Selene. Melalui bacaan tersebut, aku juga mendapati bahwa Bumi adalah satu-satunya planet yang namanya tidak diambil dari mitologi Yunani-Romawi. Bumi sendiri baru diakui sebagai planet pada abad ke-17, dan istilah Earth sendiri berasal dari bahasa Anglo-Saxon yaitu Erda yang artinya daratan atau tanah.

Pengetahuan baru yang kudapatkan sepanjang perjalanan membuatku merasa sangat bersyukur akan kebesaran Tuhan, sang Pencipta langit, bumi dan segala isinya. Melalui hari yang panas terik, aku menyadari bahwa Tuhan kembali menyatakan diri-Nya dengan mengingatkanku akan karya ciptaan-Nya yang luar biasa. Aku bersyukur akan terang dan gelap yang Dia ciptakan di hari pertama; cakrawala yang putih membiru di hari kedua; laut, darat, dan tumbuh-tumbuhan di hari ketiga; benda-benda penerang cakrawala (matahari, bulan, bintang) di hari keempat; binatang-binatang laut, darat dan udara pada hari kelima; dan pada akhirnya menciptakan manusia di hari keenam.

Aku dan kamu adalah ciptaan-Nya yang sungguh teramat baik. Ketika Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya, Ia merencanakan semuanya dengan matang untuk mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Rasa syukurku semakin bertambah ketika membaca kembali apa yang Allah katakan kepada manusia dan bagaimana Dia memberkati manusia ciptaan-Nya yang agung dalam Kejadian 1:28, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”.

Dengan menyadari betapa dahsyatnya Allah dalam penciptaan, aku berharap kita semakin dimampukan Tuhan untuk memelihara bumi dan segala ciptaan-Nya sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali, agar Ia mendapati kita telah bertanggung jawab atas kewajiban yang telah Ia berikan kepada kita. Aku mengajak kita semua untuk mencintai bumi tempat kita tinggal sebagaimana Allah mengasihi segala ciptaan-Nya sebagai Imago Dei—gambar dan rupa Allah.

Mari kita penuhi Bumi dengan kasih dan damai sejahtera yang bersumber dari Allah Bapa kita. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Baca Juga:

Ketika Kecantikan Menjadi Berhalaku

Sederet produk kecantikan yang kugunakan membuatku tampil lebih percaya diri. Tapi, ketika akhirnya wajahku mengalami breakout, aku menyadari bahwa ada yang salah dengan upayaku tersebut.

Belajar Melihat Hidup dari Kacamata Orang Lain

Oleh Charles, Jakarta

Ketika aku dan beberapa temanku sedang makan malam di sebuah rumah makan, seorang anak kecil mendatangi kami. Dia berjualan tissue dan menawarkannya kepada kami.

Kami tidak memberikan respons apa-apa karena kami tidak berminat membeli tissue saat itu. Namun, anak itu dengan pantang menyerah tetap berdiri di sana dengan muka memelas. Hingga akhirnya seorang temanku bertanya, “Tissuenya berapa harganya, dik?”

“Lima ribu,” jawabnya.

Temanku lalu mengeluarkan selembar uang lima ribu dan membeli satu pak tissue yang dijualnya. Kemudian anak itu pun beralih ke meja lain.

Aku lalu teringat bahwa aku pernah membeli tissue yang serupa di sebuah toko beberapa waktu yang lalu. Harganya juga lima ribu. Kemudian aku juga teringat kalau tissue di mobilku sudah mau habis. Jadi kupikir tidak ada ruginya membeli tissue dari anak itu. Sebelum meninggalkan rumah makan itu, aku menghampiri anak itu dan menyodorkan selembar lima ribu untuk membeli satu pak tissue yang dijualnya.

Setelah meninggalkan rumah makan tersebut, dalam perjalanan pulang tiba-tiba ada beberapa hal yang terlintas dalam pikiranku.

Aku lalu berpikir, seandainya tadi aku beli semua tissue yang dibawanya (dia hanya bawa 5 pak tissue) dan aku memberikannya uang Rp 50.000 tanpa meminta kembali, kira-kira apa yang dirasakannya?

Mungkin dia akan merasa lega karena dia dapat beristirahat sejenak karena dagangannya sudah laku semua.

Mungkin juga dia menganggap hal itu menjadi bukti bahwa kerja keras akan menghasilkan hasil, dan itu memotivasinya untuk bekerja dengan tekun setiap hari.

Dan lebih daripada itu, mungkin juga dia menjadi percaya sebuah hal: Masih ada orang di dunia ini yang ingin berbuat baik kepadanya. Masih ada yang peduli dengannya, masih ada yang mengasihi dia.

Tiba-tiba, aku menjadi menyesal karena aku hanya membeli satu pak tissue seharga lima ribu Rupiah darinya. Aku telah melewatkan kesempatan untuk mencerahkan hati seorang anak yang mungkin sedang haus kasih sayang.

Namun, peristiwa singkat ini memberikan sebuah pelajaran berharga bagiku.

Mengapa pola pikirku bisa berubah drastis ketika aku ada di rumah makan dan ketika aku ada dalam perjalanan pulang? Jawabannya sederhana. Di rumah makan, aku hanya melihat kebutuhanku: “Apakah aku sedang butuh tissue?”, “Apakah harga tissuenya masuk akal?”, “Haruskah aku ingin membantu anak ini?” Semua fokusnya ada di “aku”. Namun, ketika dalam perjalanan, aku melihat dari sudut pandang yang berbeda. Aku memikirkan kebutuhan anak itu: “Berapa penolakan yang telah dilaluinya?”, “Cukupkah uang yang dihasilkannya untuk biaya hidupnya?”, “Apakah dia mendapatkan kasih sayang yang layak didapatkannya?”. Semua fokusnya beralih dari “aku” kepada “dia”. Dan inilah yang mengubah pemikiranku.

Sekali lagi Tuhan mengingatkanku bahwa hidup ini terlalu sayang untuk dijalani dengan hanya memperhatikan kepentingan diriku semata. Banyak kesempatan-kesempatan emas yang dapat kuambil hanya dengan mengubah sudut pandangku dan mulai memperhatikan kepentingan orang lain seperti aku memperhatikan kepentinganku.

Ketika Tuhan memanggil kita suatu saat nanti, aku percaya Tuhan tidak akan menanyakan, “Seberapa banyak keuntungan yang telah kamu hasilkan di dunia?”. Yang Dia akan tanyakan adalah, “Seberapa banyak kasih yang telah kamu bagikan dengan sesamamu manusia?”

Marilah kita perluas sudut pandang kita dan mulai melihat hidup ini dari kacamata orang lain juga, termasuk musuh-musuh kita. Perhatikanlah apa yang menjadi kebutuhan mereka. Jika kita setia melakukannya, aku yakin hati kita dan dunia ini bisa menjadi lebih indah dan damai.

Baca Juga:

10 Tahun Bekerja dengan Sikap Hati yang Salah, Inilah Cara Tuhan Menegurku

Selama 10 tahun bekerja, aku takut kalau aku dicap sebagai orang yang ceroboh dan tidak kompeten. Bukannya belajar dari kesalahan-kesalahan yang telah kuperbuat, yang ada aku malah merasa kesal. Hingga akhirnya, Tuhan pun menyadarkanku dari sikap hatiku yang salah.

Sebuah Perenungan: Hidup Ini Tidak Adil!

Oleh Charles, Jakarta

Ada 3 orang anak: Ani, Budi, dan Chandra. Ani mendapatkan 5 buah apel, Budi mendapatkan 10 buah apel, dan Chandra mendapatkan 15 buah apel. Apakah itu adil?

Mungkin kamu akan menjawab, “Tidak adil!” Seharusnya kalau mau adil, Ani, Budi, dan Chandra sama-sama mendapatkan 10 buah apel. Benar begitu?

Pertanyaannya, jika kamu adalah Chandra yang mendapatkan 15 buah apel, apakah kamu juga akan mengatakan hal yang sama?

Banyak orang mengeluh, “Hidup ini tidak adil!” Ketika ditanya, kenapa tidak adil?, jawaban mereka biasanya seperti ini:

Kenapa aku yang lebih rajin bekerja, tapi dia yang dapat gaji lebih banyak?

Kenapa dia bisa jalan-jalan keluar negeri, sementara aku cuma bisa jalan-jalan keliling kota?

Kenapa harus aku yang menderita penyakit ini?

Kenapa teman-temanku sudah pada menikah, sedangkan aku: pacar saja belum punya?

Kenapa rumahnya lebih bagus dari rumahku? Kenapa dia lebih cakep? Kenapa dia punya ini-itu, sedangkan aku tidak?

Kenapa Tuhan tidak juga menjawab doa-doaku?

Banyak orang merasa hidup ini tidak adil karena mereka membandingkan diri mereka dengan orang-orang yang “lebih” daripada mereka: lebih kaya, lebih tampan, lebih cantik, lebih pintar, lebih sehat, lebih harmonis, lebih kuat, lebih terkenal, dan lain sebagainya. Namun, kalau kita pikirkan lagi, bukankah itu tidak adil juga jika kita hanya membandingkan diri kita dengan yang “lebih”? Bagaimana dengan yang “kurang”? Pernahkah kita bertanya-tanya seperti ini:

Kenapa aku punya pekerjaan, sedangkan banyak orang yang menganggur?

Kenapa aku bisa berjalan, di saat ada orang yang hanya bisa terbaring di ranjang?

Kenapa aku masih bisa memilih makan apa hari ini, di saat ada orang yang begitu miskin sampai-sampai tidak bisa makan tiap hari?

Kenapa aku bisa mengenal Tuhan Sang Juruselamat, di saat banyak orang masih belum pernah mendengar tentang Dia?

Bukankah hidup ini memang tidak adil?

Kalau kita mau adil, mari buka mata dan hati kita untuk melihat tidak hanya orang-orang yang mempunyai “lebih” dari kita, tapi juga lihatlah mereka yang tidak mempunyai apa yang kita miliki. Kalau kita tidak suka ketidakadilan, bukankah hal yang bijak jika setidaknya kita sendiri berlaku adil?

Hidup ini memang tidak adil, tapi jika kita mampu melihat dari sudut pandang yang berbeda, kenyataan ini tidak seharusnya membuat kita iri hati. Sebaliknya, kita akan bersyukur atas apa yang Tuhan telah berikan kepada kita, dan tergerak untuk berbagi kepada orang lain, untuk setidaknya membuat hidup ini menjadi lebih adil bagi mereka. Marilah mulai dari diri kita sendiri.

Selain itu, ada satu aspek lain yang perlu kita renungkan.

Suatu hari, ketika Yesus melihat orang yang buta sejak lahirnya, murid-murid-Nya bertanya kepada Yesus, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yohanes 9:2).

Ketika ada hal yang kurang baik terjadi, kita cenderung mencari kambing hitam: salah siapakah ini? Apakah salah orang buta itu? Ataukah salah orang tuanya? Namun, jawaban Yesus membukakan sebuah aspek lain yang kadang mungkin kita lupakan:

Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yohanes 9:3).

Kadang apa yang kita lihat sebagai penderitaan dan ketidakadilan, sesungguhnya itu adalah bagian dari rencana Tuhan yang indah, agar pekerjaan-pekerjaan Allah dapat dinyatakan melalui hidup kita.

Jadi, bagaimanapun keadaanmu saat ini, bersyukurlah atas segala hal yang Tuhan telah berikan kepadamu. Dan jadilah berkat bagi mereka yang tidak seberuntung dirimu, agar dunia ini bisa menjadi sedikit lebih adil.

Baca Juga:

4 Rumus untuk Menyampaikan Teguran

Sebagai seorang yang tidak suka terlibat konflik, menegur seseorang adalah hal yang cukup menakutkan buatku. Aku berusaha mencari posisi aman. Tapi, sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk menyuarakan kebenaran. Inilah empat rumus yang perlu kita perhatian ketika kita ingin menegur seseorang.

3 Hal yang Harus Orang Kristen Lakukan di Media Sosial

Oleh Jasmin Patterson, Amerika Serikat
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How To Disagree on Facebook

Waktu kuliah dulu aku membantu pelayanan di kampus dengan menjadi ketua. Suatu ketika, aku berselisih pendapat dengan ketua lainnya. Entah bagaimana, aku kehilangan kendali dan berteriak padanya. Saat itu, rekan-rekan pelayanan kami dan mahasiswa lainnya menonton kami dari dalam ruangan. (Ya, aku tahu, ini tindakan yang buruk. Aku meminta maaf dan kami menyelesaikan masalah itu. Kami tetap berteman sampai hari ini.)

Aku membayangkan apa yang mahasiswa lainnya pikirkan. Mereka mungkin merasa aneh melihat dua orang berdebat di muka umum. Apa yang mereka pikirkan? Dan teladan apakah yang kami tunjukkan kepada mereka?

Aku pun berpikir hal yang sama ketika aku melihat bagaimana orang-orang Kristen bertindak di dunia maya.

Di dalam budaya kita yang dibuat jenuh oleh media sosial, kita kehilangan kemampuan untuk menyatakan ketidaksetujuan dengan cara yang sopan. Kita kehilangan kemampuan untuk dengan hormat menghargai setiap pendapat yang berbeda. Sebagian besar masyarakat kita tampaknya berpikir bahwa kita tidak bisa mengungkapkan ketidaksetujuan kita kepada seseorang tanpa menggunakan kata-kata dan sikap kita untuk menyerang mereka. Sebagai pengikut Kristus, kita pun bisa saja jatuh ke dalam pemikiran seperti itu.

Media sosial adalah alat dan wadah luar biasa untuk saling terhubung yang aku syukuri. Mungkin kamu pun sama. Media seperti Facebook dan Twitter menolongku tetap terhubung dengan teman-temanku, kelompok musik yang kusukai, dan konten-konten yang membangun imanku. Namun, dengan kita menggunakan media sosial, kita pun bertanggung jawab untuk memastikan bagaimana cara kita berinteraksi di dalamnya itu menghormati orang lain dan menunjukkan Kristus.

Di media sosial, sebuah pendapat publik antara pemimpin-pemimpin dapat disaksikan oleh lebih dari sekadar beberapa pengamat. Lewat apa yang kita lakukan di media sosial, kita mungkin sedang memberi contoh bagi seluruh dunia untuk melihat dan menarik kesimpulan tentang kita ataupun Juruselamat kita. Risikonya cukup tinggi.

Bagaimana kita menjaga karakter Kristen dan kesaksian kita di dalam dunia maya, terutama saat kita merasa tidak setuju? Inilah beberapa hal yang bisa membantu:

1. Hargailah lawan bicaramu

Setiap orang yang kita ajak bicara adalah orang-orang yang diciptakan Allah seturut rupa-Nya, yang dicintai oleh-Nya, dan yang sangat berharga bagi Allah hingga Dia mengutus Anak-Nya untuk mati bagi mereka, untuk memulihkan relasi mereka dengan-Nya.

“Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yohanes 4:20).

Ketika kita berbicara dengan orang lain di dunia maya, apakah kita menghargai mereka seperti yang Tuhan lakukan? Apa yang Tuhan rasakan kalau Dia melihat cara kita memperlakukan orang lain yang juga adalah anak-anak-Nya yang dikasihi-Nya? (Tuhan tentu melihat).

Kadang, berada di balik layar memberi kita keberanian untuk mengatakan hal-hal yang tidak akan kita katakan kepada seseorang secara pribadi dan langsung. Sebelum kita mengunggah sesuatu, kita bisa menanyakan diri kita sendiri apakah kita akan mengatakan ini kepada orang itu kalau kita bertemu muka dengannya? Akankah kita memanggil nama mereka? Akankah kita menganggap remeh pandangan mereka? Akankah kita bicara kasar dan merendahkannya?

Ingatlah ini: cara kita memperlakukan orang lain adalah ekspresi kasih kita kepada Tuhan, dan Tuhan dapat menunjukkan kasih-Nya kepada orang lain melalui cara kita memperlakukan mereka. Berinteraksi secara baik dengan orang lain di dunia maya bisa menjadi salah satu tindakan penyembahan kita kepada Tuhan, serta menjadi suatu kesaksian yang berbicara kuat untuk orang lain.

2. Dengar dulu, bicara kemudian

Aku telah memperhatikan hal ini, mungkin kamu juga. Ketika seseorang memiliki pengalaman atau sudut pandang yang berbeda dari orang lain, mereka sering memulai percakapan dengan cara mempertahankan sudut pandang mereka sendiri. Mereka pun mungkin dapat meremehkan pendapat dan pengalaman orang lain bahkan sebelum mereka mendengarkannya.

Berulang kali kita melihat hal ini ketika orang berbicara tentang masalah ras, politik, teologi, dan lain-lain. Daftar ini terus berlanjut.

Alkitab memanggil pengikut Kristus untuk melakukan hal yang sangat berbeda.

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yakobus 1:19-20).

Dengarkanlah dulu, bicara kemudian. Dengarkan orang-orang. Pikirkan yang terbaik tentang mereka. Dengarkanlah untuk memahami, bukan sekadar menanggapi. Dengarkanlah tanpa menyela mereka.

Di dalam budaya kita, kita cenderung memutuskan bahwa orang yang kita ajak bicara itu tidak memiliki sesuatu yang penting untuk dibagikan kepada kita, bahkan sebelum kita mendengarkan mereka bicara. Kita segera menyimpulkan bahwa kita tidak peduli dengan mereka. Kita secara tidak sadar berpikir bahwa apa yang harus kita katakan itu lebih penting daripada apa yang mereka katakan. Tetapi, janganlah kita hidup menurut standar budaya kita—mari kita hidup menurut standar Alkitab.

Ketika aku memberikan komentar di dunia maya, aku suka menyebut nama mereka ketika aku membalas komentar-komentar mereka. Aku juga tidak sungkan untuk mengakui apabila aku setuju dengan apa yang mereka katakan atau malah jadi merasa tertantang untuk berpikir lebih lanjut. Aku tetap melakukan hal-hal ini meski kemudian aku mengutarakan apa yang jadi ketidaksetujuanku di komentar. Menjalin relasi secara personal dan memulai dengan meneguhkan orang lain adalah cara untuk menunjukkan kebaikan, kerendahan hati, dan bukti nyata bahwa kita benar-benar membaca dan menghargai komentar mereka.

Kita bisa menghindari banyak amarah di dalam masyarakat kita, di dalam percakapan kita, dan di media sosial kalau saja kita belajar untuk “cepat mendengar, lambat bicara.” Aku percaya Tuhan bisa memakai kita untuk membawa pemulihan dan kedamaian di media sosial jika kita mau belajar merendahkan diri, menghormati sesama kita, mendengarkan terlebih dulu dan berbicara kemudian.

3. Gunakanlah kata-kata yang membangun

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29).

Sebelum kita berkomentar, berkicau di Twitter, atau meng-update status, kita bisa bertanya kepada diri kita: Apakah yang akan aku katakan itu bermanfaat untuk membangun orang lain dan sesuai dengan yang mereka butuh dengarkan? Apakah caraku mengatakannya dapat membawa manfaat buat mereka yang membacanya? Apakah kata-kata ini menunjukkan kualitas diriku bahkan ketika aku mengungkapkan ketidaksetujuanku?

Aku pernah menerima beberapa komentar kasar di postingan blog yang kutulis dan sesuatu yang aku pelajari dari ini adalah untuk memperkatakan hal-hal penuh kasih daripada membalasnya dengan amarah. Ketika seseorang memberi komentar dengan sarkas atau amarah, abaikan saja jika percakapan itu tidak bermanfaat, atau tanggapilah dengan semangat kebaikan. Kalau kita berhenti meletakkan kayu di atas api, api itu perlahan-lahan akan mati.

Sejalan dengan hal itu, ketahuilah juga kapan harus menarik diri dengan penuh kasih. Kadang percakapan kita di grup-grup media sosial melampaui batasan untuk disebut sebagai percakapan yang sehat dan menolong. Dalam kasus ini, cobalah untuk bercakap secara lebih personal, misalkan lewat chat personal atau berdiskusi tatap muka, atau dengan hormat undur diri dari grup itu.

Selama kita melakukan apa yang Alkitab katakan, kita bisa hadir di media sosial, memiliki percakapan bermakna, dan menjaga karakter Kristen kita. Mari kita jadikan kehadiran kita di dunia maya sebagai teladan buat orang lain. Aku siap. Bagaimana denganmu?

Baca Juga:

Doaku untuk Hari Ulang Tahunku

Terima kasih Tuhan untuk 24 tahun yang Kau percayakan kepadaku. Aku tidak tahu berapa tahun lagi yang Kau sediakan bagiku, tapi biarlah Tuhan sampai akhirnya nanti, Kau temukan aku tetap setia.

Sharing: Kontribusi Positif Apakah yang Pernah Kamu Berikan bagi Dunia Ini?

Hai sobat muda, kontribusi positif apakah yang pernah kamu berikan bagi dunia ini?

Bagikan jawaban kamu di kolom komentar. Kiranya jawaban kamu dapat memberkati dan menginspirasi sobat muda lainnya.

Dalam Peliknya Masalah Kemiskinan, Kita Bisa Berbuat Apa?

Oleh Yuliana Martha Tresia, Depok

Masih jelas tergambar dalam pikiranku kondisi pemukiman di kolong jembatan di daerah Ancol, Jakarta Utara yang kukunjungi sebulan lalu. Mayoritas warganya bekerja sebagai pemulung. Rumah-rumah mereka didirikan seadanya, bukan tergolong rumah yang sehat. Anak-anak berkerumun dan mengenakan pakaian yang lusuh berdebu. Apakah mereka sekolah? Kebanyakan tidak. Apakah mereka mendapatkan akses kesehatan? Tidak juga.

Itulah sedikit gambaran dari kemiskinan, suatu fenomena yang mengakar dan menyebar tak hanya di Jakarta, tetapi juga di wilayah lain Indonesia, bahkan juga di dunia. Kemiskinan adalah masalah yang pelik, dan mungkin juga membuat kita bertanya-tanya: apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasinya dan menolong mereka yang kurang beruntung?

Pertanyaan seperti ini pernah membuatku bingung. Buatku, kemiskinan adalah sebuah realita yang terlalu besar—too cruel to be complicated. Sejak aku masih duduk di bangku SMA, hatiku selalu tergerak ketika bersentuhan dengan realita kemiskinan. Aku merasa gelisah jika melihat anak-anak mengemis di lampu merah ataupun kalau aku menonton tayangan reality show di TV yang menyoroti kemiskinan. Namun, waktu itu aku tidak tahu langkah nyata apakah yang sejatinya bisa kuperbuat sebagai kontribusiku untuk mengentaskan kemiskinan tersebut.

Sewaktu duduk di SMA dulu, aku mengagumi Bunda Teresa, seorang biarawati yang mengabdikan hidupnya untuk melayani orang-orang miskin. Teladan yang diberikan oleh Bunda Teresa membuatku semakin terpanggil untuk melayani mereka yang paling miskin di antara orang-orang miskin. Mengikuti panggilan ini, aku pun bergumul untuk belajar mengenai kemiskinan lebih banyak melalui Ilmu Sosiologi. Dalam rencana-Nya, Tuhan ternyata membukakan jalan dengan kelulusanku di jurusan Sosiologi.

Selama tiga setengah tahun belajar Sosiologi, aku menyadari bahwa jurusan ini memberiku pemahaman tentang kemiskinan dari sudut pandang yang amat kaya, yaitu kemiskinan dari sisi makro dan mikro. Melalui ambil bagian sebagai relawan dalam berbagai acara kemanusiaan, aku memahami bahwa ternyata kemiskinan bukan melulu soal ekonomi, tapi juga ada faktor pendidikan, lingkungan, kesehatan, gender, dan sebagainya.

Setelah lulus kuliah, aku pun bekerja di sebuah yayasan yang bergerak di bidang pelayanan terhadap kaum miskin. Sehari-harinya, aku bertanggung jawab untuk mempublikasikan konten-konten terkait pelayanan sosial-kemanusiaan yang kami lakukan. Tapi, dalam beberapa kesempatan aku pun diterjunkan ke lapangan untuk melayani orang-orang miskin secara langsung.

Sejak masa SMA hingga hari ini, aku rasa aku telah melakukan banyak hal sebagai upaya untuk mengentaskan kemiskinan. Aku mengikuti berbagai kegiatan kemanusiaan, berdonasi, sampai bekerja di yayasan yang melayani orang-orang miskin. Namun, dalam hati aku sempat merasa bahwa aku belum berdampak apa-apa bagi masalah kemiskinan di Indonesia. Aku pernah membandingkan diriku dengan teman-teman lain yang kupikir karyanya jauh lebih banyak dan baik daripada aku. Dalam hati aku bertanya-tanya, apa benar masyarakat pra-sejahtera yang kutolong selama ini juga memang merasa tertolong? Aku merasa pertolongan yang kuberikan itu begitu terbatas, minimal, dan hanya sementara. Aku tetap merasa bahwa kemiskinan ini terlalu sulit untuk diatasi.

Namun, dalam perenunganku, aku mendapati bahwa Tuhan menegurku: mengapa harus mendambakan hal-hal besar dan tidak bersyukur untuk hal-hal kecil yang sudah kulakukan? Aku sadar bahwa pikiranku berpikir terlalu jauh hingga aku lupa bahwa setiap orang memiliki bagiannya masing-masing. Ada yang Tuhan percayakan hal-hal besar, tapi ada pula yang dipercayakan hal-hal kecil.

Pikiranku yang terlalu berfokus pada dampak membuatku melupakan satu hal yang amat penting. Paulus menuliskan demikian:

“If I give all I possess to the poor and give over my body to hardship that I may boast, but do not have love, I gain nothing” (1 Corinthians 13:3 NIV).

Atau dalam Alkitab terjemahan bahasa Indonesia tertulis:

“Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku” (1 Korintus 13:3).

Perkataan Rasul Paulus di atas kembali menegurku. Yang terpenting dalam pelayanan kepada orang-orang miskin bukanlah tentang seberapa besar karya yang sudah kita perbuat, melainkan lebih kepada sikap hati kita: adakah kasih yang mendalam yang terus dipertahankan untuk mereka yang tidak berpunya di sana?

Hari itu aku menyadari bahwa satu hal sederhana yang bisa aku dan kita semua lakukan untuk menghadapi peliknya masalah kemiskinan adalah dengan mengasihi. Kita bisa mulai mengasihi mereka dan kemudian kasih inilah yang akan menggerakkan kita menuju aksi-aksi nyata selanjutnya. Cara pertama untuk mulai mengasihi adalah dengan berdoa. Dalam refleksiku bersama Tuhan, aku sadar bahwa doa yang tulus bagi seorang anak kecil yang kita lihat memulung di pinggir jalan pun bisa merupakan sebuah tanda kasih yang besar. Kita bisa berdoa untuk masalahan kemiskinan yang terjadi dan juga berdoa supaya Tuhan menolong mereka yang terjerat dalam kemiskinan.

Kok hanya berdoa? Doa bukanlah alasan bahwa kita tidak mau berbuat apa-apa, melainkan doa adalah tanda keberserahan penuh kita kepada Tuhan yang jauh lebih berkuasa atas masalah kemiskinan yang pelik dan yang tak bisa kita selesaikan sendirian. Kita harus mengakui bahwa menolong seseorang keluar dari kemiskinan bukanlah pekerjaan yang sepele. Kita membutuhkan intervensi tangan Tuhan, dan itu dimulai dengan doa.

Aku belajar untuk mendasari setiap pelayananku dengan doa dan kasih yang besar. Segala sesuatu yang dilakukan dengan kasih yang besar tentu berarti lebih di mata Tuhan dan akan memberi dampak kepada mereka yang hidup dalam kemiskinan.

Mungkin tidak banyak dari kita yang memang hidupnya terpanggil untuk melayani orang-orang miskin secara langsung. Tapi, aku percaya bahwa kita semua dipanggil oleh Tuhan untuk mengasihi semua orang, termasuk orang-orang yang miskin, sebagaimana Tuhan sendiri bersabda: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40).

Hari ini, di tengah peliknya masalah kemiskinan yang sepertinya tak ada ujungnya, maukah kamu berdoa kepada Tuhan dan meminta hati yang mau mengasihi dengan kasih yang besar?

Baca Juga:

3 Hal yang Kupelajari Ketika Temanku Meninggalkan Gereja Karena Konflik

Ketika seseorang meninggalkan gereja karena sebuah konflik, sangatlah mudah untuk menyembunyikan masalah itu dan berpura-pura seolah semuanya tidak pernah terjadi. Tapi, pertanyaannya adalah: siapa yang mau merendahkan dirinya untuk mengakui bahwa mereka telah salah dan meminta maaf?

3 Akibat yang Kurasakan Ketika Aku Terlalu Terobsesi dengan Drama Korea

Oleh Noni Elina Kristiani, Banyuwangi

Jalan cerita yang menarik dan para pemainnya yang rupawan merupakan daya tarik tersendiri dari drama Korea. Aku suka drama Korea yang bergenre romantis dan komedi. Hingga saat ini, mungkin sudah ada puluhan drama Korea yang kutonton.

Kesukaanku pada drama Korea bermula ketika aku duduk di bangku SMA. Waktu itu aku menyukai sebuah drama berjudul “Dream High” yang bercerita tentang pencarian jati diri seorang remaja dan bagaimana dia meraih mimpinya. Drama ini membuatku jadi semangat untuk juga meraih mimpiku. Kemudian, aku mulai mengidolakan beberapa aktor Korea dan mendengarkan lagu yang mereka nyanyikan berulang-ulang. Terkadang, aku begitu tenggelam dalam chemistry yang diperankan oleh sepasang sejoli di drama tersebut dan mulai berkhayal bagaimana seandainya jika aku yang menjadi pemeran utama.

Setelah aku mengenal Kristus secara pribadi, aku masih menyempatkan diri untuk menonton drama Korea di waktu senggangku. Namun, seiring berjalannya waktu aku menyadari ada beberapa hal tentang drama Korea yang dapat mengganggu pertumbuhan imanku jika aku tidak bijak menyikapinya.

Inilah 3 dampak negatif drama Korea menurutku yang dapat mengganggu pertumbuhan imanku:

1. Terlalu terobsesi dengan drama Korea membuatku tidak bijak menggunakan waktu

Jalan cerita dalam drama Korea sering membuatku penasaran. Akibatnya, aku ingin terus menerus menontonnya sampai tamat secepat mungkin. Drama Korea yang memiliki 16-20 episode itu biasanya dapat selesai kutonton selama 4-7 hari. Bahkan jika ditonton berturut-turut tanpa melakukan pekerjaan apapun, hanya memerlukan waktu 3 hari untuk menuntaskan seluruh episodenya.

Secara tidak sadar, rasa penasaran akan kelanjutan cerita dalam drama Korea membuatku menggunakan sebagian besar waktuku hanya untuk menonton. Aku pernah ditegur oleh orangtuaku karena obsesiku yang berlebih terhadap drama Korea membuatku tidak membantu pekerjaan rumah. Ketika seluruh anggota keluarga sedang membersihkan rumah, aku malah asyik sendiri di depan laptop. Aku sadar aku telah bersalah karena tidak mempedulikan keadaan di sekitarku.

Bahkan di saat aku bersaat teduh, aku jadi tergoda dan terus memikirkan tentang bagaimana kelanjutan drama Korea yang aku tonton. Aku jadi tidak berkonsentrasi dalam membaca firman Tuhan dan terburu-buru karena tidak sabar untuk menonton drama Korea.

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12). Menonton drama Korea di waktu senggang sejatinya bukanlah masalah. Akan tetapi, apabila seluruh waktuku kugunakan untuk menonton dan mengabaikan tanggung jawabku, maka tindakan ini bukanlah sesuatu yang bijak.

Aku pun belajar untuk mengatur waktuku dengan lebih bijak, tidak seluruh waktu luangku kuhabiskan dengan menonton drama Korea. Jika aku sedang di rumah dan kedua orangtuaku membutuhkan bantuan, maka aku akan membantu mereka lebih dahulu daripada menonton drama Korea.

2. Terlalu terobsesi dengan drama Korea membuatku memuja ilah romantisme

Ada banyak jenis berhala di dunia ini. Salah satunya adalah imaji akan cinta yang romantis. Dunia menanamkan nilai-nilai pada diri kita bahwa kita tidak akan bahagia jika tidak memiliki kisah cinta yang romantis. Kemudian, inilah yang dikejar oleh banyak orang, perasaan cinta yang menggebu-gebu atau mabuk kepayang.

Tanpa kusadari, dulu aku pernah mengingini cinta romantis seperti yang banyak diceritakan dalam drama Korea. Cinta yang terlihat begitu sempurna, padahal pada kenyataannya setiap hubungan dalam dunia tidak sepenuhnya romantis seperti diceritakan dalam drama Korea. Aku bersyukur karena di kemudian hari Tuhan menyadarkanku. Cinta romantis dalam suatu hubungan memang indah. Tapi, tanpa adanya Allah dalam hubungan itu, cinta romantis tidak akan bertahan lama, segera hilang.

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4:9). Kasih Allah adalah satu-satunya kasih yang sejati. Dan, karena kasih Allah inilah kita dimampukan untuk mengasihi orang lain apa adanya, bukan karena penampilan orang itu yang menarik, ataupun karena kekayaannya. Kita mengasihi orang lain karena Allah telah mengasihi kita terlebih dahulu.

3. Terlalu terobsesi dengan drama Korea membuatku merasa rendah diri

Selain jalan ceritanya, hal lain yang paling menarik dari drama Korea adalah aktor dan aktris yang memainkannya. Semuanya terlihat tampan dan cantik. Aku pikir tidak ada yang salah dengan hal ini. Namun, seringkali kita malah jadi mulai membandingkan diri kita sendiri dengan mereka. Kita jadi mengasihani diri sendiri atau merasa tidak puas; Kenapa aku tidak sekurus itu? Mengapa kulitku hitam?

Aku pernah merasa frustrasi karena merasa berat badan dan warna kulitku tidak ideal. Namun, firman Tuhan dalam Yesaya 43:4 dengan jelas menyatakan bahwa di mata Tuhan aku begitu berharga dan Dia mengasihiku. Mengetahui kebenaran bahwa aku dikasihi oleh Sang Pencipta memulihkan caraku memandang diriku.

* * *

Sampai saat ini, drama Korea masih menyenangkan buatku dan aku menontonnya sebagai hiburan di sela-sela waktu senggangku. Hanya saja, sekarang aku jadi lebih bijaksana dalam menggunakan waktu. Bagaimana pun, hubungan dengan Allah harus menjadi prioritas utamaku. Aku juga belajar untuk bisa menyaring nilai-nilai apa yang seharusnya tidak kutanam dalam pikiranku dan kutiru. Mari kita berdoa supaya kita bisa bersikap bijaksana dalam mengisi waktu-waktu luang kita dan terus belajar untuk mengutamakan Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama.

Baca Juga:

Ketika Tuhan Mengajarkanku untuk Terlebih Dahulu Meminta Maaf

Secara tidak sengaja, teman dekatku menyinggungku. Karena kesal, aku membalasnya dengan berdiam diri dan menganggapnya seolah tak ada. Tapi, melalui sebuah peristiwa, aku sadar bahwa tindakanku itu bukanlah yang paling tepat dan Tuhan memprosesku untuk menundukkan rasa egoisku.

Sharing: Masalah Dunia Apa yang Sangat Mengusik Hatimu?

Masalah dunia apa yang sangat mengusik hatimu?
Bagikan sharing kamu di dalam kolom komentar. Kiranya sharingmu dapat memberkati sobat muda yang lain.