Posts

Berpikir “yang Ada Sekarang”

Jumat, 24 Februari 2017

Berpikir

Baca: Mazmur 46:1-8

46:1 Untuk pemimpin biduan. Dari bani Korah. Dengan lagu: Alamot. Nyanyian.

46:2 Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.

46:3 Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut;

46:4 sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Sela

46:5 Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai.

46:6 Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.

46:7 Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumipun hancur.

46:8 TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela

 

Kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. —1 Tesalonika 4:13

Berpikir

Bahkan bertahun-tahun setelah kami kehilangan Melissa, putri kami yang berusia 17 tahun, dalam kecelakaan mobil pada tahun 2002, saya masih sesekali berpikir “seandainya saja”. Dalam keadaan yang berduka, sangat mudah untuk membayangkan kembali peristiwa tragis malam itu dan memikirkan faktor-faktor yang andai saja berbeda mungkin akan membawa Melissa pulang ke rumah dengan aman. Pada kenyataannya, berpikir “seandainya saja” tidak membawa kebaikan apa pun. Pemikiran seperti itu hanya membuat seseorang berkanjang dalam penyesalan, kritikan, dan keputusasaan. Walau kepedihan terasa begitu nyata dan kesedihannya berkepanjangan, hidup akan menjadi lebih baik dan Allah pun dimuliakan apabila kita berpikir tentang “yang ada sekarang”.

Dengan berpikir tentang “yang ada sekarang”, kami dapat menerima pengharapan, penguatan, dan penghiburan. Kami memiliki pengharapan yang pasti (1Tes. 4:13)—suatu keyakinan bahwa karena Melissa mengasihi Yesus, kini ia berada di tempat yang “jauh lebih baik” (Flp. 1:23). Kami dikuatkan oleh kehadiran Allah sumber segala penghiburan (2Kor. 1:3). Kami memiliki Allah yang selalu menjadi “penolong dalam kesesakan” (Mzm. 46:2). Dan kami sering dikuatkan oleh saudara-saudara seiman kami.

Tentulah kita semua berharap dapat terhindar dari berbagai tragedi dalam hidup ini. Namun di saat menghadapi masa-masa yang sulit, pertolongan terbesar kita terima ketika kita mempercayai Allah. Dialah pengharapan yang pasti di dunia “yang ada sekarang”. —Dave Branon

Allah Bapa, Engkau tahu hatiku yang hancur. Engkau tahu betapa sakitnya rasa kehilangan karena Engkau sendiri telah mengalami kematian Anak-Mu. Di tengah kepedihanku, tolong aku untuk terus bersandar dalam pengharapan-Mu, penguatan-Mu, dan penghiburan-Mu.

Pengharapan terbesar kita terima ketika kita mempercayai Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 9-11; Markus 5:1-20

Artikel Terkait:

Enam Tahun Bersama (dan Terus) Berserah Kepada Tuhan

“Enam tahun setelah menerima Kristus, wajar saja orang berharap aku telah bertumbuh pesat dalam imanku. Kenyataannya aku belum sampai pada titik tersebut.”

Bagaimana kisah Edna Ho selengkapnya? Baca kesaksiannya di dalam artikel ini.

Tugasku: Menangis dengan Orang yang Menangis

tugasku-menangis-dengan-orang-yang-menangis

Oleh Michele O.
Artikel Asli dalam Bahasa Inggris: Dealing with The “Death Knock”

Aku adalah seorang jurnalis. Bagian dari tugasku adalah mewawancarai keluarga yang sedang berduka untuk menuliskan kisah tentang mereka. Mendengar tugas itu saja sudah membuat kaki dan tanganku gemetar. Aku berdoa agar aku tidak mendapatkan tugas itu, tapi sayangnya tidak bisa, itu adalah bagian dari pekerjaanku. Aku harus menuliskan kisah tentang seorang anak muda yang menjadi korban tabrakan mobil, sebuah keluarga yang kehilangan seorang ibu karena seorang pengemudi mabuk, dan sebuah keluarga muda yang kehilangan anak mereka karena kanker.

Setiap kisah tersebut menggetarkan hati, dan setelah selesai menuliskannya, aku pulang ke rumah dan terbaring di tempat tidurku selama berjam-jam, tidak bisa tidur. Aku memikirkan apakah keluarga-keluarga tersebut tahu bahwa aku benar-benar turut merasakan kesedihan mereka, dan aku tidak sedang memanfaatkan momen duka mereka agar namaku dapat tercantum di halaman depan.

Dari beberapa kisah yang kutulis, ada satu kisah yang berkesan untukku. Itu adalah kisah tentang sebuah keluarga yang kehilangan seorang ibu dalam sebuah kecelakaan yang melibatkan seorang pengemudi yang mabuk.

Sebuah Keluarga yang Kehilangan Seorang Ibu

Suatu sore, aku sedang bekerja ketika aku diberitahu tentang sebuah kecelakaan yang terjadi tak jauh dari tempatku. Seorang pejalan kaki menderita luka di kepalanya setelah sebuah mobil menabraknya, dan dia telah dilarikan ke rumah sakit. Keesokan harinya, terungkap bahwa wanita itu adalah seorang seniman terkenal. Suaminya bekerja dalam sebuah organisasi seni, dan mereka mempunyai dua anak perempuan. Tak lama kemudian, terdengar kabar bahwa dia telah meninggal.

Hatiku sangat pilu ketika aku diminta untuk mendatangi keluarganya untuk menuliskan kisah tentangnya. Aku meninggalkan beberapa pesan suara ke telepon keluarganya dan mencoba untuk menghubungi salah satu temannya, tapi aku tidak berhasil terhubung dengan mereka. Jadi aku pergi ke rumah keluarganya malam-malam, di tengah hujan deras, berharap bertemu dengan keluarganya. Tapi mereka sedang tidak di rumah.

Aku kembali ke kantorku, dan ketika aku sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah, teleponku berdering. Suami wanita tersebut meneleponku balik. Dia terdengar tenang, namun mulutku terasa sekering kapas ketika mendengarnya. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku turut bersedih dengan apa yang telah terjadi, tapi kata-kataku seperti kosong dan kurang tulus.

Pria itu menceritakanku tentang istrinya, dan bagaimana cinta istrinya kepada anak-anaknya, pekerjaan seninya, dan kehidupannya. “Dia seorang yang jujur, amat sangat jujur. Tidak ada kepura-puraan di dalam dia,” katanya. Anak sulungnya menggambarkan ibunya sebagai “seorang yang luar biasa” dan berkata, “Aku tidak pernah bertemu dengan seorang yang begitu banyak memberi, ibuku sangat banyak memberi. Dia selalu ada untukku dan selalu menguatkanku.” Anak bungsunya terisak di ujung telepon, mengatakan betapa dia kehilangan ibunya, yang biasa bermain dengannya setiap hari, dan juga kehilangan pelukannya.

Hatiku hancur. Aku tidak habis pikir bagaimana seseorang dapat bertahan menghadapi tragedi seperti ini. Satu hal yang sangat mengejutkanku adalah ketika sang suami memutuskan untuk tidak menuntut orang yang menabrak istrinya untuk dipenjara. (Kemudian diketahui bahwa istrinya sedang membuka pintu mobilnya yang sedang diparkir ketika dia ditabrak. Pengemudi mobil yang menabraknya sedang begitu mabuk, sampai-sampai dia bahkan tidak tahu bahwa dia menabrak seseorang, dan dia terus melaju sampai seorang saksi mata memecahkan jendela mobilnya dan menarik kunci mobilnya.)

Sang suami berkata kepada sang hakim bahwa dia tidak ingin orang yang menabrak istrinya tersebut menyia-nyiakan waktunya di penjara. Dia juga mengatakan bahwa akan lebih baik jika sang penabrak tersebut “menggunakan waktunya untuk memberikan edukasi kepada orang lain tentang bahaya menyetir ketika sedang mabuk, termasuk juga ambil bagian dalam sebuah program dokumenter edukatif—yang mungkin dapat menyelamatkan nyawa-nyawa lainnya di kemudian hari.”

Aku begitu menghargai pandangannya. Tidak banyak dari kita dapat memberikan respons yang seperti itu.

Respons terhadap Penderitaan

Dari pengalaman ini, dan juga pengalamanku bersama dengan keluarga dari korban-korban lainnya, aku belajar bahwa bukan yang kita katakan, tetapi yang kita lakukan, yang menunjukkan bahwa kita turut berduka dengan mereka.

Bagiku, itu berarti mengetahui kapan aku perlu mundur ketika sebuah keluarga menolak untuk diwawancara, untuk menunjukkan bahwa aku menghargai keinginan mereka. Kadang, itu juga berarti berusaha sebisa mungkin untuk memenuhi permintaan mereka. Dalam kasus seorang wanita yang ditabrak oleh seorang pengemudi yang mabuk, itu berarti membacakan kembali kisah yang kutulis kepada keluarganya sebelum itu dicetak—sesuatu yang biasanya tidak kami lakukan. Beberapa bulan kemudian, aku menerima sebuah e-mail dari teman mereka yang mengatakan bahwa mereka sangat menghargai rasa hormat dan kepedulian yang kutunjukkan ketika aku melakukan wawancara tersebut.

Sebagai seorang Kristen, mudah bagi kita untuk mengatakan sesuatu seperti, “Tuhan mempunyai alasan di balik penderitaan ini”, atau “Tuhan turut berduka denganmu”. Namun dari cerita Alkitab tentang Ayub, aku belajar bagaimana berduka bersama dengan orang lain.

Ketika ketiga teman Ayub pertama kali mendengar tentang tragedi yang menimpa Ayub, mereka menghiburnya dengan cara berada di sana dan tidak mengatakan sepatah katapun. Mereka mulai “menangis dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.” (Ayub 2:11-13).

Alkitab mengatakan agar kita bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan menangis dengan orang yang menangis (Roma 12:15). Itu termasuk memberikan pundak kita ketika mereka menangis, atau mengambil waktu untuk menanyakan keadaan mereka, dan mengingatkan mereka bahwa mereka tidak sendirian di dalam duka mereka.

Kadang, kita mungkin merasa seperti kita harus mencoba dan memulihkan hati seorang yang berduka—lupa bahwa kita punya seorang Bapa yang dekat kepada orang-orang yang patah hati (Mazmur 34:19) dan yang menangis bersama kita sama seperti Dia menangis bersama Marta dan Maria ketika Dia mendengar bahwa Lazarus telah mati (Yohanes 11:35). Alkitab juga mengatakan bahwa Dia bersama kita “melalui air, melalui sungai-sungai kesulitan, atau ketika kita berjalan melalui api penganiayaan” (Yesaya 43:2). Kematian mungkin kadang terasa seperti suatu akhir, tapi ketahuilah bahwa ketika Kristus mati di atas kayu salib bagi kita, Dia juga telah menang atas kematian!

Baca Juga:

4 Pelajaran tentang Pertumbuhan Rohani yang Kudapatkan Saat Bermain Pokemon Go

Pembicaraan tentang game ini telah mewarnai hampir semua group chat dan media sosialku. Pokemon Go adalah sebuah permainan yang baru saja dirilis 2 minggu lalu, namun sudah menjadi sangat populer di berbagai belahan dunia. Saat bermain game ini, ada beberapa pelajaran tentang pertumbuhan rohani yang aku dapatkan. Berikut adalah 4 pelajaran yang kudapatkan.

Yesus Menangis

Kamis, 21 April 2016

Yesus Menangis

Baca: Yohanes 11:1-4, 38-44

11:1 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta.

11:2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.

11:3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.”

11:4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.”

11:38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu.

11:39 Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.”

11:40 Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”

11:41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.

11:42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

11:43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!”

11:44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.”

Sengat maut ialah dosa. . . . Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. —1 Korintus 15:56-57

Yesus Menangis

Saya sedang asyik membaca sebuah buku ketika seorang teman melongok untuk melihat apa yang sedang saya baca. Seketika itu juga ia terperanjat dan menatap saya dengan ngeri. “Judulnya suram sekali!” katanya. Saya sedang membaca “The Glass Coffin” (Peti Mati Kaca) dari Grimm’s Fairy Tales (Serial Dongeng karya Grimm), dan ia terganggu dengan kata peti mati. Banyak dari kita tidak suka diingatkan tentang kematian kita. Padahal kenyataannya, setiap manusia pasti akan menemui ajalnya.

Kematian selalu membangkitkan reaksi emosional yang sangat kuat. Di depan kuburan salah seorang sahabat-Nya, Yesus menunjukkan kesedihan yang mendalam. Ketika Dia melihat Maria, yang belum lama kehilangan saudara laki-lakinya, “masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu” (Yoh. 11:33). Ada yang menerjemahkannya seperti ini, “kemarahan yang besar lalu meluap dari dalam hati-Nya.”

Hati Yesus terharu—bahkan marah—tetapi terhadap apa? Sangat mungkin Dia marah terhadap dosa dan akibat yang ditimbulkannya. Allah tidak menciptakan dunia yang dipenuhi penyakit, penderitaan, dan kematian. Namun dosa masuk ke dalam dunia dan mencemari rencana Allah yang indah.

Tuhan menemani kita dalam dukacita kita dan menangis bersama kita dalam kesedihan kita (ay.35). Namun lebih dari itu, Kristus mengalahkan dosa dan kematian dengan mati menggantikan kita dan bangkit dari kematian (1Kor. 15:56-57).

Yesus berjanji, “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh. 11:25). Sebagai orang percaya, kita menikmati persekutuan dengan Juruselamat kita sekarang, dan kita menantikan kekekalan bersama-Nya di mana kelak tidak akan ada lagi air mata, penderitaan, penyakit, dan kematian. —Poh Fang Chia

Kubur Kristus yang kosong menjadi jaminan kemenangan kita atas maut.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 12-13; Lukas 16

Pilihan Seorang Janda

Senin, 15 Februari2016

Pilihan Seorang Janda

Baca: Mazmur 34:16-23

34:16 Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;

34:17 wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi.

34:18 Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.

34:19 TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.

34:20 Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;

34:21 Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah.

34:22 Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman.

34:23 TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.

 

TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati. —Mazmur 34:19

Pilihan Seorang Janda

Ketika seorang sahabat secara mendadak kehilangan suaminya karena serangan jantung, kami turut berduka bersamanya. Sebagai konselor, ia telah menghibur dan menolong banyak orang. Namun sekarang, setelah 40 tahun pernikahannya, ia menghadapi kenyataan yang tentu tidak dikehendakinya, yaitu pulang setiap hari ke sebuah rumah yang kosong.

Di tengah masa dukanya, sahabat kami itu bersandar kepada Pribadi yang “dekat kepada orang-orang yang patah hati.” Saat Allah menyertainya melewati penderitaannya, ia mengatakan kepada kami bahwa ia memilih untuk “menyandang sebutan janda dengan bangga”, karena ia merasa itulah sebutan yang telah Allah berikan kepadanya.

Kedukaan memang bersifat pribadi, dan orang lain mungkin berduka dengan cara yang berbeda dari sahabat saya. Respons yang diberikannya tidaklah mengurangi kesedihannya atau membuat rumahnya tidak sepi lagi. Namun kita diingatkan bahwa di tengah duka yang paling dalam sekalipun, Allah Mahakuasa yang penuh kasih itu dapat dipercaya.

Bapa kita di surga pernah terpisah sangat jauh dari Anak-Nya. Saat di atas salib, Yesus berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46). Namun, Dia tabah menderita dan terpisah di salib demi menanggung dosa kita karena Dia mengasihi kita!

Allah mengerti! Dan karena “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati” (Mzm. 34:19), kita pun menerima penghiburan yang kita butuhkan. Dia dekat dengan kita. —Dave Branon

Ya Bapa, saat kesedihan melanda karena kematian seseorang yang kami kasihi, tolong kami untuk bersandar pada-Mu dan mempercayai kasih dan kebaikan-Mu. Terima kasih karena Engkau dekat dengan kami yang patah hati.

Allah turut merasakan kesedihan kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 15-16; Matius 27:1-26

Photo credit: eirasi / Foter / CC BY-NC-ND

Pabrik Kesedihan

Minggu, 7 Februari 2016

Pabrik Kesedihan

Baca: Yohanes 16:28-33

16:28 Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”

16:29 Kata murid-murid-Nya: “Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan.

16:30 Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepada-Mu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah.”

16:31 Jawab Yesus kepada mereka: “Percayakah kamu sekarang?

16:32 Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku.

16:33 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”

[Allah] akan menghapus segala air mata dari mata mereka. —Wahyu 21:4

Pabrik Kesedihan

Sebagai penggemar tim football Cleveland Browns sejak kecil, saya sudah biasa merasa kecewa. Browns merupakan satu dari empat tim football yang tidak pernah tampil sama sekali dalam pertandingan final Super Bowl. Meskipun demikian, Browns mempunyai kelompok penggemar yang tetap setia mendukung tim itu dari tahun ke tahun. Namun karena para penggemar itu sudah sering dikecewakan, banyak dari mereka sekarang menjuluki stadion kandang dari Cleveland Browns sebagai “Pabrik Kesedihan”.

Dunia yang kita diami juga dapat menjadi “pabrik kesedihan”. Ada saja hal-hal yang dapat menyebabkan dukacita dan kekecewaan, baik disebabkan oleh pilihan kita sendiri atau oleh hal-hal yang berada di luar kendali kita.

Namun para pengikut Kristus mempunyai pengharapan, tidak hanya untuk kehidupan mendatang, tetapi juga untuk masa sekarang. Yesus mengatakan, “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33). Kristus tidak memandang remeh pergumulan dan kesedihan yang mungkin kita alami, tetapi Dia berjanji untuk memberi kita rasa damai, sukacita dan kemenangan yang pasti.

Di dalam Kristus, kita dapat menemukan damai sejati yang selalu tersedia untuk menolong kita menghadapi segala persoalan hidup yang menghadang kita. —Bill Crowder

Sewaktu hidupku tenang dan aman, ataupun susah menimpa, ‘ku di mana pun, Tuhan yang menuntun, jiwaku, jiwaku tenanglah. Jiwaku, tenanglah, jiwaku, jiwaku tenanglah. Horatio G. Spafford [Kidung Puji-Pujian Kristen No. 328]

Pengharapan dan kedamaian kita ditemukan di dalam Yesus.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 1-3; Matius 24:1-28

Hangatnya Mentari

Sabtu, 22 November 2014

Hangatnya Mentari

Baca: Mazmur 6

6:1 Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Menurut lagu: Yang kedelapan. Mazmur Daud.

6:2 Ya TUHAN, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu.

6:3 Kasihanilah aku, TUHAN, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, TUHAN, sebab tulang-tulangku gemetar,

6:4 dan jiwakupun sangat terkejut; tetapi Engkau, TUHAN, berapa lama lagi?

6:5 Kembalilah pula, TUHAN, luputkanlah jiwaku, selamatkanlah aku oleh karena kasih setia-Mu.

6:6 Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu; siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang mati?

6:7 Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.

6:8 Mataku mengidap karena sakit hati, rabun karena semua lawanku.

6:9 Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan, sebab TUHAN telah mendengar tangisku;

6:10 TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku.

6:11 Semua musuhku mendapat malu dan sangat terkejut; mereka mundur dan mendapat malu dalam sekejap mata.

Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku. —Mazmur 6:7

Hangatnya Mentari

Suatu hari pada bulan November 1963, Brian Wilson dan Mike Love dari grup musik The Beach Boys menulis sebuah lagu dengan nada yang jauh berbeda dari lagu-lagu riang yang menjadi ciri khas dari grup musik tersebut. Lagu tersebut adalah sebuah lagu sedih tentang cinta yang telah hilang. Di kemudian hari, Mike mengatakan, “Seberat apa pun perasaan kehilangan itu, satu hal baik yang muncul dari perasaan itu adalah pengalaman pernah jatuh cinta itu sendiri.” Mereka memberikan judul The Warmth of the Sun (Hangatnya Mentari) pada lagu tersebut.

Menulis lagu dengan didasari peristiwa yang menyedihkan bukanlah hal yang baru. Sejumlah mazmur Daud yang paling menyentuh hati ditulisnya pada saat mengalami peristiwa kehilangan yang sangat mendalam. Mazmur 6 adalah salah satunya. Walaupun tidak ada penjelasan tentang peristiwa yang mendorong penulisan tersebut, lirik mazmur itu dipenuhi kesedihan, “Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku. Mataku mengidap karena sakit hati” (ay.7-8).

Namun nyanyian tersebut tidak berakhir di situ. Daud memang merasa begitu pedih dan berduka, tetapi ia juga menyadari adanya penghiburan Allah. Dan ia pun menulis, “TUHAN telah mendengar permohonanku, TUHAN menerima doaku” (ay.10).

Dalam kepedihannya, Daud bukan hanya menciptakan suatu nyanyian, tetapi ia juga meneguhkan hatinya untuk mempercayai Allah yang setia memberikan penghiburan di tengah masa-masa sulit dalam hidupnya. Lewat kehadiran Allah yang menghangatkan jiwa, kedukaan kita menyiratkan secercah harapan. —WEC

Bapa yang di surga, hidup ini dapat terasa sangat indah, tetapi juga
sangat sulit. Tolong kami untuk mencari-Mu baik di masa senang
maupun sulit. Tolong kami untuk selalu ingat, bahwa Engkaulah
harapan kami yang teguh di dunia yang kadang mengabaikan kami.

Nyanyian dukacita dapat mengarahkan hati kita kepada Allah yang menyediakan sukacita kekal bagi kita.

Hati Yang Hancur Dan Harapan

Jumat, 14 November 2014

KomikStrip-WarungSateKamu-20141114-Hati-yang-hancur-dan-harapan

Baca: Ratapan 3:1-6,16-25

3:1 Akulah orang yang melihat sengsara disebabkan cambuk murka-Nya.

3:2 Ia menghalau dan membawa aku ke dalam kegelapan yang tidak ada terangnya.

3:3 Sesungguhnya, aku dipukul-Nya berulang-ulang dengan tangan-Nya sepanjang hari.

3:4 Ia menyusutkan dagingku dan kulitku, tulang-tulangku dipatahkan-Nya.

3:5 Ia mendirikan tembok sekelilingku, mengelilingi aku dengan kesedihan dan kesusahan.

3:6 Ia menempatkan aku di dalam gelap seperti orang yang sudah lama mati.

3:16 Ia meremukkan gigi-gigiku dengan memberi aku makan kerikil; Ia menekan aku ke dalam debu.

3:17 Engkau menceraikan nyawaku dari kesejahteraan, aku lupa akan kebahagiaan.

3:18 Sangkaku: hilang lenyaplah kemasyhuranku dan harapanku kepada TUHAN.

3:19 "Ingatlah akan sengsaraku dan pengembaraanku, akan ipuh dan racun itu."

3:20 Jiwaku selalu teringat akan hal itu dan tertekan dalam diriku.

3:21 Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:

3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

3:24 "TUHAN adalah bagianku," kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. —Ratapan 3:25

Hati Yang Hancur Dan Harapan

Ketika George Jones, penyanyi country asal Amerika Serikat, meninggal dunia pada usia 81 tahun, para penggemarnya mengenang suaranya yang luar biasa, perjuangan hidupnya yang keras serta pergumulan-pergumulan pribadinya. Banyak lagunya yang mencerminkan persis penderitaan serta kerinduan yang dialaminya. Namun yang sangat menyentuh banyak orang adalah cara Jones menyanyikan lagu-lagu tersebut. Greg Kot, seorang kritikus musik dari harian Chicago Tribune, berkata, “Suara Jones diciptakan untuk menyuarakan hati yang hancur.”

Kitab Ratapan mencatat tentang penderitaan mendalam yang dirasakan Nabi Yeremia atas kebebalan bangsa Yehuda yang menolak untuk menaati Allah. Yeremia, yang sering disebut sebagai “nabi peratap”, telah menyaksikan kehancuran Yerusalem dan melihat orang-orang sebangsanya itu dibawa ke pembuangan. Ia berkelana di tengah jalan-jalan kota, dengan perasaan yang diliputi oleh kedukaan (Rat. 1:1-5).

Namun demikian, di saat-saat tergelap yang dialaminya, Yeremia berkata, “Hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (3:21-23).

Entah kita menderita sebagai akibat dari pilihan-pilihan kita sendiri atau oleh karena perlakuan orang lain, rasa putus asa mungkin mengancam untuk menguasai kita. Pada saat semuanya terasa musnah, kita dapat berpegang pada kesetiaan Tuhan. “‘TUHAN adalah bagianku,’ kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya” (ay.24). —DCM

Aku bersyukur atas kesetiaan-Mu, Bapa, bahkan di masa-masa
ketika aku tidak setia. Tolong aku untuk selalu mengingat,
sama seperti Yeremia, bahwa pengharapanku berasal dari-Mu,
dan bukan dari keadaan-keadaan di sekitarku.

Kesetiaan Allah bagaikan jangkar yang tertanam kokoh di tengah terjangan badai hidup yang terdahsyat.

Apakah Allah Peduli?

Senin, 3 November 2014

Apakah Allah Peduli?

Baca: Mazmur 30

30:1 Mazmur. Nyanyian untuk pentahbisan Bait Suci. Dari Daud.

30:2 Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku.

30:3 TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku.

30:4 TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur.

30:5 Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus!

30:6 Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.

30:7 Dalam kesenanganku aku berkata: "Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!"

30:8 TUHAN, oleh karena Engkau berkenan, Engkau telah menempatkan aku di atas gunung yang kokoh; ketika Engkau menyembunyikan wajah-Mu, aku terkejut.

30:9 Kepada-Mu, ya TUHAN, aku berseru, dan kepada Tuhanku aku memohon:

30:10 "Apakah untungnya kalau darahku tertumpah, kalau aku turun ke dalam lobang kubur? Dapatkah debu bersyukur kepada-Mu dan memberitakan kesetiaan-Mu?

30:11 Dengarlah, TUHAN, dan kasihanilah aku, TUHAN, jadilah penolongku!"

30:12 Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita,

30:13 supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.

Dengarlah, TUHAN, dan kasihanilah aku, TUHAN, jadilah penolongku! —Mazmur 30:11

Apakah Allah Peduli?

Hidup Minnie dan George Lacy didera oleh berbagai pertanyaan seperti: “Apakah Yesus sanggup? Apakah hubungan kita dengan Kristus sanggup menopang kita? Apakah Dia sanggup menolong kita untuk terus melangkah? Apakah Dia peduli?”

Ketika melayani sebagai misionaris pada tahun 1904, putri bungsu mereka jatuh sakit. Kemudian berturut-turut, kelima anak mereka meninggal pada tahun yang sama karena demam scarlet. Dalam suratnya kepada lembaga misi yang mengutus mereka, George Lacy menulis tentang perasaan sepi dan duka mereka yang mendalam: “Terkadang semua itu rasanya tidak sanggup lagi kami tanggung.” Namun kemudian ia menambahkan, “Tuhan terus menyertai kami dan telah menolong kami dengan luar biasa.” Pada masa-masa terkelam dalam hidup mereka, mereka mengalami bahwa Yesus berada di dekat mereka dan Dia sanggup menolong mereka.

Banyak dari kita akan menghadapi keadaan-keadaan yang membuat kita merasa tidak lagi sanggup untuk terus melangkah. Jika kesehatan kita merosot, jika kita kehilangan pekerjaan, jika kita kehilangan orang-orang terdekat, akankah kita mengalami bahwa hubungan kita dengan Tuhan sanggup menolong kita untuk terus melangkah?

Pemazmur mengingatkan kita akan kehadiran dan kesetiaan Allah (Mzm. 30). Ketika merasa begitu tertekan, ia berseru, “Dengarlah, TUHAN, dan kasihanilah aku, TUHAN, jadilah penolongku!” (ay.11). Allah pun memberinya kesembuhan dan kelegaan (ay.3-4).

Sebagai umat yang percaya kepada Yesus, kita tidak akan pernah kekurangan apa pun yang kita butuhkan untuk bertahan. Tuhan akan senantiasa menyertai kita. —RKK

Meski didera cobaan yang membuat putus asa,
Jiwaku akan berlari menuju tempat perlindungan
Dan percaya pada jaminan yang teramat indah,
“Kasih karunia-Ku itu cukup bagimu.” —NN.

Iman dalam Kristus yang Mahasanggup memampukan kita untuk terus melangkah.

Dua Pria

Minggu, 19 Januari 2014

Dua Pria

Baca: Yohanes 11:30-37

11:30 Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia.

11:31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ.

11:32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”

11:33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata:

11:34 “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!”

11:35 Maka menangislah Yesus.

11:36 Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!”

11:37 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?”

Masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu. . . . Maka menangislah Yesus. —Yohanes 11:33,35

Dua Pria

Ada dua pria yang meninggal pada hari yang sama dalam peristiwa pembunuhan di kota tempat kami tinggal. Pria yang pertama adalah seorang perwira polisi yang tertembak mati ketika berusaha menyelamatkan sebuah keluarga. Pria yang kedua adalah seorang tunawisma yang ditembak pada saat ia sedang minum-minum bersama teman-temannya pada dini hari itu.

Seisi kota turut berduka atas kematian sang polisi. Ia adalah seorang pemuda yang baik dan peduli terhadap sesamanya, serta dikasihi oleh masyarakat yang menjadi tempatnya mengabdi. Beberapa orang tunawisma ikut berduka atas kepergian seorang teman yang mereka kasihi itu.

Saya yakin Tuhan pun berduka bersama mereka semua.

Ketika Yesus melihat Maria, Marta, dan teman-teman mereka menangisi kematian Lazarus, “Masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu” (Yoh. 11:33). Yesus mengasihi Lazarus dan kedua saudarinya. Yesus menangis bersama mereka (ay.35), meski Dia tahu bahwa Dia akan segera membangkitkan Lazarus dari kematian. Sejumlah ahli Alkitab berpendapat bahwa sebagian alasan yang membuat Yesus menangis adalah kematian itu sendiri serta kepedihan dan kesedihan yang diakibatkan oleh kematian itu dalam hati orang banyak.

Peristiwa kehilangan adalah bagian dari hidup ini. Namun karena Yesus adalah “kebangkitan dan hidup” (ay.25), mereka yang percaya kepada-Nya kelak akan mengalami berakhirnya semua kematian dan dukacita. Untuk masa sekarang di atas bumi ini, Dia ikut menangis bersama kita atas kehilangan yang kita alami dan meminta kita untuk “[menangis] dengan orang yang menangis” (Rm. 12:15). —AMC

Beriku hati yang lembut dan peduli;
Seperti-Mu, ya Yesus, seperti-Mu,
Peka pada kebutuhan orang di sekelilingku,
Dan dipenuhi oleh belas kasih ilahi. —NN.

Belas kasihan kita akan berguna dalam menyembuhkan luka yang diderita sesama.