Posts

Ada di Mana-Mana tetapi Tiada

Sabtu, 10 Februari 2018

Ada di Mana-Mana tetapi Tiada

Baca: Mazmur 139:7-12

139:7 Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?

139:8 Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.

139:9 Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,

139:10 juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.

139:11 Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,”

139:12 maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.

Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? —Mazmur 139:7

Ada di Mana-Mana tetapi Tiada

Seorang sahabat yang juga pernah kehilangan anak remajanya dalam kecelakaan lalu lintas menuliskan kenangan tentang putrinya, Lindsay, di sebuah koran lokal. Setelah menyebutkan banyaknya foto dan kenangan Lindsay yang ditaruhnya di seputar rumah mereka, ia menulis, “Lindsay ada di mana-mana, tetapi tiada lagi bersama kami.” Itulah ungkapan paling berkesan yang dikemukakan dalam tulisannya.

Walaupun putri-putri kami masih tersenyum kepada kami melalui foto-foto mereka, kepribadian mereka yang penuh semangat dan kegembiraan itu tidak bisa kami lihat lagi. Mereka ada di mana-mana—di dalam hati kami, di pikiran kami, dan di semua foto yang terpajang—tetapi mereka tiada lagi bersama kami.

Namun, Kitab Suci mengatakan kepada kita bahwa di dalam Kristus, Lindsay dan Melissa bukan benar-benar tiada. Kini mereka ada dalam hadirat Yesus, “tinggal bersama Tuhan” (2Kor. 5:8 BIS). Mereka sedang bersama satu Pribadi yang tidak bisa kita lihat tetapi ada di mana-mana. Memang, kita tidak dapat melihat wujud Allah secara fisik. Tidak ada foto-foto Allah yang sedang tersenyum terpajang di lemari kita. Bahkan kalau Anda mencari-cari Dia, bisa saja Anda berpikir bahwa Allah itu tiada bersama Anda karena Dia memang tidak terlihat. Namun, yang benar justru sebaliknya. Allah itu ada di mana-mana!

Ke mana pun kita pergi di atas muka bumi ini, Allah ada di sana. Dia selalu hadir untuk menuntun, menguatkan, dan menghibur kita. Kita tidak dapat pergi ke tempat di mana Dia tidak ada. Kita tidak melihat-Nya, tetapi Dia ada di mana-mana. Di dalam pergumulan iman yang kita hadapi, alangkah indahnya mendengar bahwa Allah selalu menyertai kita.—Dave Branon

Tuhan, terima kasih karena Engkau hadir bersamaku di sini saat ini juga. Ajarlah aku bersandar pada-Mu.

Penghiburan terbesar kita di kala duka adalah mengetahui bahwa Allah menyertai kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 8-10; Matius 25:31-46

Pengharapan Kekal

Senin, 18 Desember 2017

Pengharapan Kekal

Baca: Mazmur 146

146:1 Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!

146:2 Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup, dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada.

146:3 Janganlah percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan.

146:4 Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya.

146:5 Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya:

146:6 Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya,

146:7 yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung,

146:8 TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar.

146:9 TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya.

146:10 TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya!

Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada Tuhan, Allahnya. —Mazmur 146:5

Pengharapan Kekal

Seminggu sebelum Natal, dua bulan setelah ibu saya wafat, urusan belanja dan dekorasi Natal sama sekali tidak menjadi prioritas saya. Saya menolak upaya suami yang ingin menghibur saya di saat saya masih berduka karena kehilangan seorang ibu yang sangat beriman. Saya jengkel saat anak kami, Xavier, membentangkan dan memasang untaian lampu Natal ke dinding rumah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, ia menyalakan lampu Natal tersebut sebelum ia dan ayahnya berangkat kerja.

Saat lampu warna-warni itu berkelap-kelip, Allah pun menarik saya keluar dari kegelapan dengan penuh kelembutan. Sepedih apa pun kondisi yang ada, pengharapan saya tetap terjamin dalam kebenaran Allah. Kebenaran firman-Nya selalu mengungkapkan karakter-Nya yang tak pernah berubah.

Mazmur 146 menegaskan apa yang diingatkan Allah kepada saya di pagi yang suram itu: Saya dapat senantiasa “[berharap] pada Tuhan,” penolong saya, Allah yang perkasa dan penyayang (ay.5). Sebagai Pencipta segala sesuatu, Allah “tetap setia untuk selama-lamanya” (ay.6). Dia “menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas,” melindungi dan menyediakan kebutuhan kita (ay.7). “Tuhan menegakkan orang yang tertunduk” (ay.8). Dia “menjaga” kita, menegakkan kita, dan menjadi Raja untuk selama-lamanya (ay.9-10).

Adakalanya, menjelang Natal, hari-hari kita penuh dengan saat-saat yang menyenangkan. Di lain waktu, mungkin saja kita mengalami kehilangan, kepedihan, atau kesepian. Namun di setiap saat, Allah berjanji untuk menjadi terang kita dalam kegelapan dan memberi kita pertolongan yang nyata serta pengharapan yang kekal. —Xochitl Dixon

Allah Bapa, terima kasih karena Engkau mengundang kami untuk mengenal dan mengandalkan karakter-Mu yang tak pernah berubah sebagai sumber pengharapan kami yang kekal.

Pengharapan kita di dalam Allah dijamin oleh karakter-Nya yang tak pernah berubah.

Bacaan Alkitab Setahun: Obaja 1 dan Wahyu 9

Bayi Mungil yang Dahsyat

Jumat, 3 November 2017

Bayi Mungil yang Dahsyat

Baca: Mazmur 13

13:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud.

13:2 Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?

13:3 Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?

13:4 Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati,

13:5 supaya musuhku jangan berkata: “Aku telah mengalahkan dia,” dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah.

13:6 Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.

Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus? . . . Tetapi aku, kepada kasih setiaMu aku percaya. —Mazmur 13:2,6a

Bayi Mungil yang Dahsyat

Pertama kali melihat bayi itu, saya menangis. Ia terlihat seperti bayi sempurna yang sedang terlelap. Namun, kami tahu ia takkan pernah bangun lagi. Ia telah kembali ke pangkuan Tuhan Yesus.

Bayi itu telah bertahan hidup beberapa bulan. Kemudian sang ibu menyampaikan kabar kematian bayinya kepada kami lewat sebuah e-mail yang sangat memilukan hati. Ia menulis bahwa ia mengalami “kepedihan yang besar di dalam batin.” Namun, ia juga berkata, “Betapa dalamnya Allah mengukir karya kasih-Nya di dalam hati kami melalui kehidupan bayi mungil kami! Alangkah dahsyat hidupnya!”

Bagaimana ia bisa berkata demikian?

Sang bayi yang begitu disayang keluarganya itu menunjukkan kepada mereka—dan kepada kita—betapa kita harus bergantung kepada Allah dalam segala hal, terutama pada saat segala sesuatu tidak berjalan sesuai kehendak kita! Ada satu kebenaran yang sulit dimengerti tetapi sanggup menghibur kita: Allah melawat kita di dalam penderitaan kita. Allah ikut merasakan pedihnya kematian seorang anak, karena Dia sendiri pernah mengalaminya.

Dalam penderitaan kita yang terdalam, kiranya kita terhibur oleh mazmur Daud yang ditulisnya ketika sedang berada dalam kepedihan yang besar. Ia bertanya, “Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?” (Mzm. 13:3). “Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati” (ay.4). Namun Daud menyerahkan keresahan hatinya yang terdalam kepada Allah. “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu” (ay.6a).

Hanya Allah yang sanggup memberi makna yang sesungguhnya dari peristiwa-peristiwa tragis yang kita alami. —Tim Gustafson

Ke mana kamu berpaling saat krisis menghantam? Pernahkah kamu marah kepada Allah saat mengalami kepedihan dan kehilangan? Takutkah kamu mengungkapkan emosimu sejujurnya kepada Allah? Pernahkah kamu memohon damai dari-Nya?

Allah sanggup melakukan yang besar dari apa yang kita pandang kecil.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 30-31; Filemon

Di Balik Kepergian Papa yang Mendadak, Ada Pertolongan Tuhan yang Tak Terduga

Oleh Peregrinus Roland Effendi, Cilacap

Di Minggu pagi yang tenang, tiba-tiba duniaku seakan runtuh. Dari balik telepon, suara mamaku bergetar, “Papa sakit keras, kamu cepat pulang ke rumah!” Namun, belum sempat aku beranjak pulang, Mama kembali menelepon. Kali ini suaranya berubah lirih, “Papa sudah meninggal.”

Peristiwa mendadak ini membuat perasaanku tidak karuan. Aku tertegun dan tak habis pikir. Mengapa Tuhan memanggil pulang Papa begitu cepat? Papa tidak punya riwayat sakit penyakit yang dideritanya. Papa juga bersahabat baik dengan semua orang. Tapi, mengapa? Pertanyaan itu terus menggantung di benakku seraya aku menyiapkan diri untuk segera pulang ke rumahku di Sidareja, sebuah kota kecamatan kecil di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Kesedihanku tidak berhenti sampai di sini. Siang itu tidak ada angkutan umum yang tersedia untuk mengantarku pulang. Tiket kereta api, bus, juga angkutan travel semuanya ludes dan baru tersedia keesokan harinya. Aku sempat berpikiran untuk nekat saja pulang mengendarai sepeda motor supaya bisa melihat wajah Papa sebelum upacara tutup peti. Tapi, ketika aku menceritakan rencana ini kepada sahabatku, dengan tegas dia mencegahku. Katanya, perjalanan naik motor itu berbahaya, apalagi jika ditambah dengan kondisi perasaanku yang penuh kesedihan. Namun, karena aku tetap bersikukuh untuk segera pulang, akhirnya dia menawarkan diri untuk mengantarku naik motor hingga ke Sidareja.

Perjalanan sejauh kurang lebih 200 kilometer itu tidak berjalan mulus. Dalam keadaan normal saja biasanya dibutuhkan waktu sekitar 7 hingga 8 jam untuk tiba di rumahku. Tapi, siang itu hujan turun dengan deras dan membuat perjalanan kami jadi lebih sulit. Aku jadi tambah bertanya-tanya pada Tuhan. “Kok tega sih, Tuhan?” Tapi, Tuhan seolah bergeming. Hujan tetap turun, malah bertambah deras tanpa ada tanda-tanda akan berhenti. Lalu, sahabatku yang mengendarai motor pun salah jalan sehingga kami tersesat dan berputar-putar selama satu jam di daerah yang sama.

Sudah empat jam berkendara, hari mulai gelap dan hujan masih mengguyur. Perjalanan ini membuatku lelah secara fisik maupun rohani. Badanku terasa pegal dan hatiku pun bertambah sedih karena ingin segera melihat Papa. Namun, ada sebuah peristiwa yang tidak terduga terjadi. Saat sahabatku sudah berhasil menemukan jalan utama yang menuju Cilacap, ada sebuah mobil yang berada di depan motor kami. Ketika aku melihat pelat nomornya, aku yakin bahwa itu adalah mobil saudaraku dari Jakarta. Kutepuk pundak sahabatku dan memintanya memposisikan motor tepat di samping mobil itu. Ternyata, benar, di dalam mobil itu ada rombongan saudara-saudaraku yang juga akan melayat Papa. Lalu, kami pun menepi sejenak. Sahabatku memutuskan untuk kembali lagi ke Jogja karena keesokan harinya dia harus bekerja dan aku melanjutkan perjalanan ke rumah bersama saudara-saudaraku.

Perisitiwa tak terduga ini sedikit menjawab pertanyaanku akan di mana kebaikan Tuhan ketika aku sedang berduka. Tuhan menjawabnya dengan memberikan sebuah pertolongan. Tuhan tahu bahwa perjalanan menuju rumahku masih jauh, lalu aku dan sahabatku pun pasti kelelahan mengendarai sepeda motor. Ketika aku bertemu dengan mobil saudaraku di tengah jalan, aku tahu ini adalah cara Tuhan menolongku. Tuhan tidak menghapus perasaan dukaku begitu saja, tetapi Dia ingin di balik duka ini, aku bisa mempercayai-Nya yang jauh lebih besar daripada setiap masalah yang kuhadapi.

Setibanya di rumah, di depan jenazah Papa aku termangu. Papa adalah seorang ayah yang berpendirian keras. Namun, dia tidak pernah sekalipun memukul Mama ataupun anak-anaknya. Lewat kerja keras berjualan sembako di toko kelontong, Papa mewujudkan cintanya untuk ketiga anaknya. Dari setiap Rupiah yang Papa kumpulkan, Papa sanggup membiayai aku dan kedua kakakku untuk mengenyam pendidikan tinggi di luar kota hingga bisa lulus menjadi sarjana.

Mamaku bertutur, katanya sekitar dua minggu menjelang kematian Papa, ada sesuatu yang unik terjadi. Papa adalah seorang Katolik, tapi jarang pergi ke gereja karena harus bekerja menjaga toko. Namun, entah mengapa belakangan ini dia begitu bersemangat pergi ke gereja. Gaya bicaranya yang biasanya keras pun berubah menjadi lemah lembut. Aku tidak tahu apa yang Papa rasakan saat itu hingga Dia begitu bersemangat untuk menyambut Tuhan dalam tiap ibadah di gereja. Hingga suatu ketika, di Minggu pagi yang cerah, Tuhan memanggil pulang Papa ketika dia sedang beribadah dan menerima perjamuan kudus di gereja.

Di tengah perasaan dukaku, Tuhan mengingatkanku dengan sebuah ayat. “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yesaya 41:10).

Seperti peristiwa pertolongan Tuhan yang tak terduga saat aku dalam perjalanan menuju rumah, aku percaya bahwa Tuhan terus akan menolongku dan keluargaku dalam menghadapi kehidupan sepeninggal Papa.

Waktu itu, ketika aku dalam hati memohon supaya hujan berhenti, tapi hujan malah bertambah besar. Namun, Tuhan menyediakan pertolongan lain berupa pertemuan dengan saudaraku yang berada dalam mobil. Kadang, ketika kita memohon pertolongan Tuhan dalam masalah yang kita hadapi, Tuhan tidak mengubah keadaan begitu saja. Tuhan tidak mengubah keadaan dukacitaku menjadi sukacita dalam sekejap. Tapi, Tuhan mengubah hati dan pikiranku melalui cara dan pertolongan-Nya yang jauh di luar pemikiran kita.

Tuhan adalah Tuhan yang mengagumkan. Dia berjanji bahwa Dia akan menghibur setiap orang yang berdukacita (Matius 5:4). Hari ini, maukah kamu menyerahkan rasa dukamu kepada Tuhan dan mengizinkan-Nya menolongmu dengan cara-Nya?

Baca Juga:

Pelajaran Berharga dari Skripsi yang Tak Kunjung Usai

Ketika aku masih menjadi mahasiswa tingkat akhir, aku menganggap skripsi sebagai momok yang begitu menakutkan. Tatkala teman-teman seangkatanku begitu bersemangat untuk segera lulus, aku malah membiarkan waktuku selama satu semester pertama terbuang percuma tanpa hasil apapun.

Aku Bergumul Karena Kehilangan Papa, Namun Jawaban Allah Membuatku Tertegun

Oleh Lidya Corry Tampubolon, Jakarta

16 Mei 2017 adalah hari yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Tepat pukul 08:52, ketakutan terbesarku terjadi. Aku kehilangan Papa untuk selama-lamanya. Di dalam ruang ICU, di tengah deru mesin ventilator dan alarm monitor jantung, di samping ranjang tempat Papa terbaring, pikiranku kosong. Yang aku tahu, selepas peristiwa ini, hidupku takkan lagi pernah sama.

Ketika momen yang menyakitkan itu datang, aku bertanya-tanya mengapa Allah mengizinkan ini semua terjadi? Di awal kepergian Papa, aku berjuang untuk percaya bahwa Tuhan sungguh bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagiku sekeluarga. Tapi, tetap saja aku belum dapat memahami seutuhnya mengapa Dia memanggil Papa secara mendadak di saat masih banyak hal yang ingin kami lakukan bersama.

Dalam hati, aku sempat bertanya, “Tuhan, belasan tahun sudah Papa melayani Engkau dengan setia, tanpa mengeluh sedikit pun dalam kondisi apapun. Tuhan, keluarga kami begitu giat mendekatkan diri kepada-Mu, setiap hari berdoa dan bersaat teduh. Bahkan, aku telah mengabdikan masa mudaku untuk melayani Engkau di kampus dan gereja. Tapi, mengapa ini harus terjadi pada kami?” Walaupun aku berjuang untuk tidak menaruh rasa kecewa pada Tuhan, rasa sakit dan kehilangan memaksaku untuk berpikir demikian.

Seiring waktu berjalan, banyak orang datang untuk menghibur dan mendoakanku. Aku pun berusaha untuk melanjutkan hidupku dan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Walaupun aku masih menyimpan rasa kecewa, tapi aku tetap berusaha mendekatkan diri pada Tuhan dengan berdoa, saat teduh, dan membaca buku atau artikel yang menguatkanku. Semua itu kulakukan dengan harapan supaya Tuhan memberiku alasan yang jelas mengapa Dia begitu cepat mengambil papa dari kami sekeluarga. Aku juga berharap supaya Tuhan menghiburku dan membantuku melupakan segala kesedihanku. Tapi, hari demi hari berlalu, perasaanku tidak bertambah baik. Aku masih sering menangis dan meratapi kepergian Papa.

Dalam kesedihanku itu, aku teringat akan kisah Ayub, seorang yang hidup berkelimpahan namun kehilangan segalanya dalam sekejap. Ayub kehilangan hartanya, anak-anaknya, istrinya, bahkan kesehatannya. Dalam kondisi Ayub yang mengenaskan, seharusnya Ayub bertanya-tanya kepada Tuhan mengapa Dia menimpakan malapateka ini. Ayub tidak pernah berbuat jahat, bahkan Tuhan sendiri pun menyatakan bahwa tidak ada orang lain di bumi yang saleh, jujur, dan takut akan Allah seperti Ayub (Ayub 1:8). Tetapi, karena kesalehan dan kejujurannya itu, Allah malah membiarkan Ayub dicobai oleh Iblis. Apakah ini berarti berarti Allah kejam?

Jika aku melihat dari perspektif manusia pada umumnya, maka aku akan menjawab “ya” bahwa Allah itu kejam. Allah adalah Allah yang kejam karena membalas kesalehan dan keujuran Ayub dengan kemalangan dan malapetaka. Namun, sekali lagi, itu jika aku hanya melihat dari perspektif manusia saja. Sebagai manusia, seringkali aku berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kepastian dan ketenangan dalam hidup. Salah satu caranya adalah dengan cara merasionalkan Allah dan memasukkan-Nya ke dalam kerangka berpikirku sendiri. Jika aku melayani Allah, maka Allah akan baik padaku. Jika aku setia dan taat, maka Allah akan melimpahiku dengan berkat. Begitu pula sebaliknya. Cara pikir seperti ini membuatku menganggap bahwa apa yang Allah lakukan atau berikan kepadaku itu tergantung dari sikap dan perbuatanku. Dengan demikian, sebenarnya aku sendirilah yang menentukan bagaimana Allah harus bersikap atau bertindak.

Kisah Ayub yang tertulis dalam Alkitab menyatakan bahwa Allah bekerja di luar kendali manusia. Pikiran Allah berada jauh di luar jangkauan pemikiran manusia. Dalam Ayub 38, Allah menjawab pertanyaan Ayub dengan menyatakan kedaulatan-Nya atas semesta.

Kisah Ayub membuatku tertegun. Siapakah aku sehingga aku dapat menerka-nerka jalan pikiran Allah yang begitu ajaib menciptakan alam semesta ini? Dalam perenunganku atas pertanyaan itu, aku jadi teringat akan penggalan lirik sebuah lagu yang berjudul “Behold Our God”. Baitnya yang kedua berkata demikian:

Who has given counsel to the Lord
Who can question any of His words
Who can teach the One who knows all things
Who can fathom all his wondrous deeds

Dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti:

Siapakah yang dapat menasihati Allah
Siapakah yang dapat mempertanyakan perkataan-Nya
Siapakah yang dapat mengajari Dia yang mengetahui segalanya
Siapakah yang dapat menghitung segala perbuatan-Nya yang ajaib

Lirik lagu ini menamparku. Aku begitu terbatas untuk mengerti pikiran Allah yang tidak terbatas. Allah adalah Allah yang berdaulat atas alam semesta untuk selama-lamanya. Cara kerja dan cara berpikir Allah tidak mungkin bisa diselami olehku, seorang manusia yang terbatas.

Ada begitu banyak hal dalam kehidupan ini yang sulit untuk dimengerti, termasuk mengapa Allah memanggil pulang Papa begitu cepat. Tetapi, satu hal yang aku tahu dengan pasti yaitu Allah itu baik dan penuh kasih. Allah itu baik bukan hanya karena Dia memberikan keberhasilan atau kesuksesan, tetapi karena Dia memang baik. Allah penuh kasih bukan hanya karena Dia memberikan berkat, tetapi karena Dia adalah kasih. Oleh karena itu, aku belajar menerima bahwa di balik kepergian Papa, Allah melakukannya dalam hikmat dan kasih-Nya bagiku sekeluarga.

Ketika aku memahami kebenaran ini, aku bisa mengerti dan mendapatkan kekuatan untuk melewati hari-hariku. Seperti penggalan lagu “Trust His Heart” yang berkata:

God is too wise to be mistaken
God is too good to be unkind
So when you don’t understand
When you don’t see His plan
When you can’t trace His hand
Trust His heart

Aku percaya bahwa Allah begitu bijaksana dan Dia tidak mungkin salah. Allah begitu baik dan tidak mungkin berlaku jahat. Jadi, ketika aku tidak mengerti rencana-Nya, ketika aku tidak mampu melihat tangan-Nya, aku dapat mempercayai hati-Nya.

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Kamu Pernah Minder Karena Penampilanmu Diejek Teman? Aku Pernah. Inilah Kisahku.

Aku terlahir dengan rambut yang keriting, kasar, dan terkadang kusut seperti kabel telepon yang jarang dipakai. Sewaktu duduk di SD, teman-teman sering mengejekku karena kondisi rambutku. Akibatnya, aku tumbuh menjadi seorang yang begitu minder.

Menangis Bersama

Kamis, 7 September 2017

Menangis Bersama

Baca: Kisah Para Rasul 7:54-8:2

7:54 Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, sangat tertusuk hati mereka. Maka mereka menyambutnya dengan gertakan gigi.

7:55 Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.

7:56 Lalu katanya: “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”

7:57 Maka berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga serentak menyerbu dia.

7:58 Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya. Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus.

7:59 Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.”

7:60 Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia.

8:1 Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh. (8-1b) Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.

8:2 Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat.

Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat. —Kisah Para Rasul 8:2

Menangis Bersama

Pada tahun 2002, beberapa bulan setelah saudari saya, Martha, dan suaminya, Jim, meninggal dunia dalam kecelakaan, seorang teman mengundang saya mengikuti lokakarya “Growing Through Grief” (Bertumbuh Melalui Dukacita) di gereja kami. Meski enggan, saya pergi menghadiri pertemuan pertama tetapi tidak bermaksud untuk hadir dalam pertemuan selanjutnya. Namun di luar dugaan, di sana saya menemukan sebuah komunitas yang penuh perhatian dan berusaha menerima rasa kehilangan yang besar dalam hidup mereka dengan mengandalkan pertolongan Allah dan sesama. Itulah yang membuat saya mau terus hadir Minggu demi Minggu sembari saya juga berusaha menerima keadaan dan mengalami damai sejahtera dengan saling berbagi dukacita di antara kami.

Seperti kepergian yang mendadak dari seseorang yang kita kasihi, kematian Stefanus, saksi Tuhan yang sangat berapi-api, tentu mengagetkan dan mendukakan jemaat di gereja mula-mula (Kis. 7:57-60). Di masa penganiayaan itu, “Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat” (8:2). Mereka melakukan dua hal bersama: Menguburkan Stefanus sebagai ungkapan rasa kehilangan dan penghormatan terakhir mereka, dan meratapinya dengan sangat sebagai ungkapan dukacita bersama.

Sebagai pengikut Yesus, kita tidak perlu menangisi kehilangan kita seorang diri. Dengan ketulusan dan kasih, kita dapat menjangkau orang lain yang sedang berduka, dan dengan rendah hati kita dapat menerima perhatian dari orang-orang yang mendampingi kita di masa kedukaan.

Ketika kita menangis dan berduka bersama, kita dapat semakin menerima dan mengalami damai sejahtera di dalam Yesus Kristus, yang mengetahui kepedihan kita yang terdalam. —David McCasland

Bapa di surga, tolonglah kami untuk “menangis dengan orang yang menangis” dan bersama-sama bertumbuh dalam kasih-Mu yang menyembuhkan.

Berduka bersama orang lain akan menolong pemulihan hati kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 1-2 dan 1 Korintus 16

Dukacita Menjadi Sukacita

Sabtu, 19 Agustus 2017

Dukacita Menjadi Sukacita

Baca: Yohanes 16:16-22

16:16 “Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku.”

16:17 Mendengar itu beberapa dari murid-Nya berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya Ia berkata kepada kita: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku? Dan: Aku pergi kepada Bapa?”

16:18 Maka kata mereka: “Apakah artinya Ia berkata: Tinggal sesaat saja? Kita tidak tahu apa maksud-Nya.”

16:19 Yesus tahu, bahwa mereka hendak menanyakan sesuatu kepada-Nya, lalu Ia berkata kepada mereka: “Adakah kamu membicarakan seorang dengan yang lain apa yang Kukatakan tadi, yaitu: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku?

16:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.

16:21 Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.

16:22 Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.

Kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. —Yohanes 16:20

Dukacita Menjadi Sukacita

Kandungan Kelly mengalami komplikasi, dan para dokter menjadi khawatir. Karena lamanya proses persalinan, dokter memutuskan untuk melakukan operasi sesar. Meski menyakitkan, Kelly segera melupakan rasa sakit itu ketika ia menggendong putranya yang baru lahir. Sukacita menggantikan rasa sakitnya.

Alkitab menegaskan kebenaran ini: “Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia” (Yoh. 16:21). Yesus menggunakan ilustrasi itu untuk menekankan kepada murid-murid-Nya bahwa meskipun mereka berdukacita karena Yesus akan segera pergi, dukacita mereka akan menjadi sukacita ketika mereka melihat kedatangan-Nya kembali (ay.20-22).

Yesus mengacu pada kematian dan kebangkitan-Nya—dan peristiwa selanjutnya. Setelah kebangkitan-Nya, yang membuat para murid bersukacita adalah Yesus menggunakan waktu selama 40 hari bersama mereka dan mengajar mereka sebelum kenaikan-Nya ke surga dan meninggalkan mereka sekali lagi (Kis. 1:3). Namun, Yesus tidak meninggalkan mereka dalam dukacita. Roh Kudus akan memenuhi mereka dengan sukacita (Yoh. 16:7-15; Kis. 13:52).

Walaupun kita tidak pernah bertatap muka dengan Yesus, sebagai orang percaya, kita memiliki kepastian bahwa suatu hari nanti kita akan bertatap muka dengan-Nya. Pada hari itu, penderitaan yang kita alami di bumi akan terlupakan. Namun sampai saat itu tiba, Tuhan tidak akan meninggalkan kita tanpa sukacita karena Dia telah memberi kita Roh Kudus (Rm. 15:13; 1Ptr. 1:8-9). —Alyson Kieda

Ya Tuhan, kami rindu berada di hadapan-Mu, terutama saat kami menghadapi penderitaan dan kesedihan. Namun, Engkau tidak membiarkan kami sendiri. Roh Kudus tinggal di dalam diri kami dan memberi kami sukacita.

Suatu hari dukacita kita akan berubah menjadi sukacita!

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 103-104 dan 1 Korintus 2

Kematian Chester Bennington: Mengabaikan Rasa Sakit Bukanlah Cara untuk Pulih

Oleh Priscilla G., Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Chester Bennington’s Death: Numbing The Pain Is Not The Same As Healing It

Kasus ini hanyalah salah satu dari sekian banyak kasus bunuh diri yang menimpa kalangan selebriti. Tapi, kematian Chester Bennington, seorang vokalis grup band Linkin Park tentunya amat mengejutkan bagi banyak penggemarnya.

Bennington yang berusia 41 tahun ditemukan tewas di rumahnya pada hari Kamis, 20 Juli 2017, bertepatan dengan hari ulang tahun almarhum sahabatnya, Chris Cornell. Media-media memberitakan bahwa kasus bunuh diri yang dialami Bennington mirip dengan kasus Cornell, mantan vokalis band Soundgarden dan Audioslave yang juga mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri dua bulan sebelumnya.

Berita ini membuatku terkenang kembali akan suara serak khas Bennington dalam lagu-lagunya seperti “Numb” dan “Somewhere I Belong”. Kedua lagu itu menggambarkan kekhawatiran yang kuhadapi ketika aku masih seorang remaja. Aku yakin, jutaan orang di luar sana mungkin juga merasakan perasaan yang serupa denganku. Bahkan, video klip dari lagu Numb itu telah ditonton lebih dari 560 juta kali sejak kali pertama diunggah di tahun 2007.

Aku begitu menyukai lagu Numb, yang dalam bahasa Indonesia berarti mati rasa. Liriknya seolah begitu pas dengan diriku dulu, seorang remaja 14 tahun yang mengalami frustrasi akibat gagal memenuhi harapan orang-orang. Rasa frustrasi itu dimulai ketika aku duduk di sekolah menengah. Kala itu, aku sedang dalam tahap percobaan untuk menjadi ketua OSIS di sekolah. Karena sewaktu di SD dulu aku pernah jadi ketua kelas, jadi kupikir aku bisa dengan mudah lolos tahap percobaan ini. Tapi, ternyata aku gagal dan merasa begitu kecewa. Kekecewaan itu membuatku berpikir mengapa tidak sekalian saja aku menjadi siswa yang bandel. Namun, alih-alih menjadi bandel, aku malah menjadi pribadi yang suka memendam semua rasa kecewa di dalam hati. Selain itu, lirik dalam lagu Numb juga menggambarkan perasaanku terhadap ayahku. Bukan dukungan dan kepedulian yang kudapat dari ayahku selama ini, melainkan cacian dan perintah.

“Aku telah sangat mati rasa (numb), aku tak bisa merasakan kehadiranmu lagi / Telah sangat lelah, dan sadar aku / Jadi beginilah aku, yang kuingin ialah / menjadi diriku sendiri dan bukannya semakin mirip dirimu.”

Namun, tak peduli sesering apapun aku menyanyikan refrain lagu ini, tetap saja aku tidak bisa menyingkirkan suara Tuhan yang berbisik perlahan di dalam hatiku. Di akhir tahun, akhirnya aku kembali mendedikasikan hidupku kepada Yesus.

Tidak lama setelahnya, aku berhenti untuk mendengarkan lagu-lagu Linkin Park karena aku menyadari bahwa pesan-pesan di balik lagu mereka tidak sesuai dengan nilai-nilai Kekristenan. Kalimat terakhir dalam lagu Numb mengajarkan tentang sifat egois, kebanggaan duniawi, dan kesombongan yang berkata ‘Aku lebih baik daripada kamu’ kepada orang-orang yang kita tidak suka. Ajakan untuk mengabaikan perasaan kita dari segala luka hati juga kupikir tidaklah bermanfaat.

Mengabaikan perasaan itu berarti kita mencabut kepekaan dalam hati kita. Tapi, ketahuilah bahwa sebenarnya rasa sakit yang kita alami itu adalah sebuah tanda. Rasa sakit menandakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Oleh karena itulah kemampuan kita untuk merasakan rasa sakit itu menjadi penting. Apabila tubuh seseorang tidak memiliki saraf yang dapat mengirimkan rasa sakit ke otak, maka seseorang tidak akan menyadari apabila kulitnya melepuh akibat menyentuh kompor yang sangat panas. Seorang penulis Kristen dari Amerika dalam sebuah bukunya yang berjudul Where is God When it Hurts pernah menulis demikian: “Secara harfiah, sakit itu memang tidak enak. Rasa sakit itu mampu memaksa kita untuk menjauhkan tangan dari kompor yang panas. Namun, justru rasa sakit itulah yang sejatinya mampu mengindarkan kita dari kehancuran. Hanya, kita cenderung untuk mengabaikan peringatan, kecuali jika peringatan itu amat memaksa.”

Ketika aku membaca kisah hidup Chester Bennington di berita-berita, aku melihat sesosok pribadi yang menderita. Pengalaman hidupku sendiri memang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang dia rasakan. Tapi, kelihatannya dia tidak menghadapi permasalahan hidupnya dengan cara yang terbaik.

Semenjak dia masih berusia 7 atau 8 tahun hingga usianya 13 tahun, dia sering dilecehkan oleh teman-temannya yang berusia lebih tua darinya. Kedua orangtuanya bercerai di usianya yang ke-11 tahun. Pernikahan pertamanya juga berakhir dengan perceraian pada tahun 2005. Kecanduannya pada narkoba dan alkohol menjadi inspirasi dari beberapa lagu populer Linkin Park. Tetapi, kesuksesan yang dia dapatkan tidak dapat melepaskannya dari rasa kecanduannya.

Dalam sebuah sesi wawancara di tahun 2009, Bennington berkata: “Aku bisa menghadapi segala hal negatif dalam hidupku dengan cara membuat perasaanku mati rasa dan mengalihkannya dengan bermain musik.” Di awal tahun ini, Bennington juga menambahkan: “Jika bukan karena musik, aku pasti sudah mati. 100% mati.”

Menyalurkan perasaan negatif lewat musik dan cara-cara lainnya (seperti melukis, menulis puisi, ataupun berlari) memang masih lebih baik daripada memendam semuanya di dalam hati. Tapi, ini bukanlah cara terbaik untuk memulihkan segala luka-luka di hidup kita.

Mengabaikan rasa sakit dan membuat hati kita mati rasa itu seperti menutup sebuah botol air yang bocor dengan jari kita. Memang bocornya berhenti sementara, tetapi kita tidak mungkin terus menerus menutupnya dengan jari kita. Lama kelamaan, tangan kita akan pegal juga, dan masalah kebocorannya sendiri tidak selesai.

Jika saat ini kamu merasa hancur, ketahuilah bahwa Tuhan menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka (Mazmur 147:3). Tuhan adalah sumber air hidup bagi kita (Yeremia 2:13).

Aku berdoa supaya kamu dapat menemukan sumber penghiburan dan sukacita yang sejati.

“Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal” (Yohanes 4:13-14).

Foto oleh: Kristina_Servant via Foter.com / CC BY

Baca Juga:

Ketika Aku Memahami Arti dari Didikan Orangtuaku

Dulu, aku berpikir masa-masa remajaku adalah fase yang paling buruk dalam hidupku. Aku tinggal dengan orangtua kandungku, tapi hidupku tidak bahagia. Aku menolak ungkapan yang mengatakan “Rumahku, Istanaku”. Bagiku, rumahku adalah tempat yang buruk karena orangtuaku tidak menganggapku sebagai seorang anak, melainkan seorang pekerja yang bisa diperas tenaganya setiap waktu.

Dua Foto

Jumat, 3 Maret 2017

Dua Foto

Baca: Yohanes 16:19-24

16:19 Yesus tahu, bahwa mereka hendak menanyakan sesuatu kepada-Nya, lalu Ia berkata kepada mereka: “Adakah kamu membicarakan seorang dengan yang lain apa yang Kukatakan tadi, yaitu: Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku?

16:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.

16:21 Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.

16:22 Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.

16:23 Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.

16:24 Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Sekarang kalian bersusah hati, tetapi Aku akan bertemu lagi dengan kalian, maka hatimu akan bergembira; dan tidak seorang pun dapat mengambil kegembiraan itu dari hatimu. —Yohanes 16:22 BIS

Dua Foto

Seorang nenek dengan bangga menunjukkan dua buah foto kepada teman-temannya. Yang pertama adalah foto putrinya di kampung halamannya di Burundi. Yang kedua adalah foto cucu lelakinya, yang baru-baru ini dilahirkan putrinya. Namun putrinya tidak menggendong bayi itu. Sang putri meninggal saat melahirkan anaknya.

Seorang teman mendekat dan melihat kedua foto itu. Ia segera memeluk sang nenek. Sambil berlinang air mata, ia hanya berkata kepada nenek itu, “Aku tahu perasaanmu.”

Teman itu memang tahu apa perasaan nenek tersebut karena putranya baru saja meninggal dua bulan sebelumnya.

Ada yang istimewa dari penghiburan orang lain yang pernah mengalami penderitaan kita. Mereka tahu perasaan kita. Sesaat sebelum Yesus ditangkap, Dia memperingatkan murid-murid-Nya, “Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira.” Namun, Dia menghibur mereka: “Kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita” (Yoh. 16:20). Beberapa jam kemudian, hati para murid hancur karena Yesus ditangkap lalu disalibkan. Namun, dukacita mereka yang mendalam segera berubah menjadi sukacita yang tak terbayangkan saat melihat Dia bangkit.

Yesaya pernah bernubuat tentang Mesias, “Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya” (Yes. 53:4). Juruselamat kita tidak hanya tahu tentang penderitaan kita, tetapi Dia pernah mengalaminya sendiri. Dia tahu dan peduli. Kelak dukacita kita akan diubahkan menjadi sukacita. —Tim Gustafson

Tuhan, terima kasih untuk salib-Mu. Kami pasti menghadapi kesusahan di dunia ini, tetapi Engkau telah mengalahkan dunia dan menanggung dosa serta derita kami. Kami menantikan harinya kelak saat dukacita kami diubahkan menjadi sukacita dan kami akan bertatap muka dengan-Mu.

Ketika kita menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya, Dia akan memberikan damai sejahtera-Nya di dalam hati kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 28-30; Markus 8:22-38

Artikel Terkait:

Tuhan Tahu Aku Butuh Penyakit Ini Agar Aku Berbalik Kepada-Nya

Dahulu, Mary adalah seorang yang amat berambisi. Mary ingin menjadi mahasiswi terbaik sehingga semua orang melihatnya. Namun kemudian keadaannya menjadi berbalik ketika dia mulai kehilangan semua hal yang dia miliki: pekerjaan impiannya, pacarnya, dan kesehatannya. Bagaimana kisah selengkapnya? Baca kesaksiannya di dalam artikel ini.