Posts

Penghiburan di Kala Duka Mendera

Oleh Abyasat Tandirura, Toraja

Jarum jam menunjukkan pukul 17.35 WITA, ketika aku menerima kabar duka lewat messenger dari seorang temanku di SMA dulu. Rabu, 19 Februari 2020, Tuhan berkehendak memanggil pulang seorang teman yang kami kasihi dan dicintai oleh keluarganya. Ia merupakan teman seperjuanganku di bangku SMA hingga berkuliah di perguruan tinggi negeri yang sama di kota Makassar. Rasanya sulit untuk mempercayai kabar duka itu, sampai akhirnya aku menyaksikan sendiri tubuh yang kaku dan terbaring dalam peti di hari penguburannya 4 hari kemudian.

Aku mengerti bahwa kematian merupakan hal yang menakutkan dan menyedihkan secara manusiawi. Kedatangannya tidak mengenal usia dan waktu. Apalagi hal ini terjadi pada temanku yang berusia 28 tahun. Usia yang masih tergolong sangat muda. Aku sedih karena kehilangan seorang teman yang baik, sopan, dan ramah. Tak bertemu selama hampir 8 tahun sejak masa-masa wisuda, kini kami benar-benar harus berpisah dan tak akan pernah berjumpa lagi untuk selamanya.

Kini sudah 9 bulan berlalu sejak kepergiannya. Sekalipun sulit untuk melenyapkan rasa sedih dan kehilangan, aku yakin bahwa Tuhan benar-benar mengerti dan peduli dengan duka yang kualami. Ia selalu punya cara terbaik untuk menghibur dan menguatkanku secara pribadi, serta memberi sukacita abadi melalui beberapa hal yang kualami.

1. Melalui lagu pujian yang menguatkan

Sehari sebelum aku mendapat berita duka tersebut, aku sedang berlatih lagu himne favoritku menggunakan keyboard mini Judulnya “Ku Berbahagia” (Kidung Jemaat nomor 392) ciptaan Fanny Crosby. Begini liriknya:

‘Ku berbahagia, yakin teguh: Yesus abadi kepunyaanku!
Aku warisNya, ‘ku ditebus, ciptaan baru Rohul kudus.
Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

Pasrah sempurna, nikmat penuh; suka sorgawi melimpahiku.
Lagu malaikat amat merdu; kasih dan rahmat besertaku.
Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

Aku serahkan diri penuh, dalam Tuhanku hatiku teduh.
Sambil menyongsong kembaliNya, ‘ku diliputi anugerah.
Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

Setiap kali mendengar, melantunkan, dan juga mengiringi lagu ini, rasanya aku tidak kuasa membendung air mata haru. Ditambah lagi sejak kepergian temanku, lagu ini juga jadi mengingatkanku padanya. Di saat yang sama, lagu ini pun mengingatkanku pada Yesus yang telah menjadi Tuhan dan Juruselamatku secara pribadi. Yesus memberiku kebahagiaan sejati, baik saat aku bersukacita maupun berdukacita seperti yang sedang kurasakan saat ini. Kita memiliki Yesus dan kita dijadikan milik-Nya. Sehingga meskipun kita sedang berdukacita, Allah tetap turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya (Roma 8:28). Ia juga memberikan sukacita sorgawi, seperti yang ditulis Fanny Crosby dalam lagu tersebut. Sukacita sorgawi itu adalah pengharapan akan kehidupan kekal bersama Kristus kelak. Untuk itu, aku bahagia memiliki Yesus sebagai kawan sejati yang tidak akan meninggalkanku dan tetap mengasihiku dengan kasih yang kekal (Yohanes 15:9).

2. Melalui kesaksian dari keluarga

Selama masa-masa kedukaan, aku banyak mendengar kesaksian dari pihak keluarga. Kesaksian mereka ketika dihiburkan dan dikuatkan secara tidak langsung membuatku ikut terhibur juga di masa-masa duka tersebut. Salah satu saudara kandung dari almarhum menuturkan bahwa meskipun segenap keluarga berduka karena kehilangan anggota keluarga terkasih, mereka bersyukur pada Tuhan ketika mereka dikunjungi oleh para hamba Tuhan dari tempatnya berjemaat, bahkan ada juga yang datang dari luar daerah. Tidak hanya itu, pihak keluarga juga menuturkan rasa sukacitanya ketika menyaksikan almarhum yang tetap tersenyum dan tidak mengeluh dalam masa-masa perawatannya di rumah sakit saat berjuang melawan penyakit TBC usus yang dideritanya.

Masih dari penuturan pihak keluarga, ternyata temanku menyampaikan doa penyerahan terakhir sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya. Ia sempat menyatakan:

“Oh Tuhan, ke dalam tangan-Mu kuserahkan hidupku, ampuni saya.”

Sejenak aku merenungkan kata-kata terakhir beliau. Aku melihat temanku itu benar-benar berserah secara total kepada Penciptanya dan menyatakan pertobatannya. Menurutku, itu hal yang sangat luar biasa. Dan aku yakin Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun sanggup melimpahkan damai sejahtera juga kepada segenap keluarga, teman-teman, dan semua orang yang ditinggalkannya. Sungguh sebuah kesaksian iman yang menguatkan aku secara pribadi.

3. Melalui kidung nyanyian favorit si teman

Ketika aku menulis tulisan ini, aku teringat salah satu lagu kesukaan almarhum yang disampaikan kakaknya kepadaku yang berjudul “Ku Tahu Tuhan Pasti Buka Jalan”:

Ku tahu Tuhan pasti buka jalan
Ku tahu Tuhan pasti buka jalan
Asal ku hidup suci
Tidak turut dunia
Ku tahu Tuhan pasti buka jalan

Dalam menikmati lagu ini, aku mau memaknai benar adanya bahwa Tuhan telah membuka jalan baginya, baik ketika sedang menghadapi pergumulan di dunia ini, juga ketika beliau akhirnya memasuki tempat peristirahatan dan tempat penantian yang indah dan penuh damai. Aku harap aku juga bisa memaknai pesan mendalam yang disampaikan lagu ini ketika aku menghadapi pergumulan pribadi sepanjang hidupku.

4. Diingatkan oleh karya kasih Yesus

Kematian temanku mengingatkan aku kembali pada satu Pribadi yang juga pernah mengalami kematian, tetapi kematian yang istimewa. Begitu istimewanya kematian-Nya sehingga Ia sanggup mengubah sebuah ratapan menjadi sukacita. Pribadi itu adalah Yesus Kristus. Karena kasih, Yesus mati mengorbankan diri-Nya bagi kita, supaya kita manusia yang berlumuran dosa beroleh pengampunan dan keselamatan untuk menikmati hidup kekal bersama-Nya (Yohanes 3:16). Yesus juga bangkit dari kematian sebagai bukti bahwa Ia mengalahkan maut (Roma 6:9, Wahyu 1:18). Dengan kebangkitan-Nya, iman percaya kita tidak sia-sia sebab kita tahu bahwa ketika kita mati dalam iman kepada Kristus, maka kita juga akan dibangkitkan dalam kemuliaan kelak (Yohanes 11:25, 2 Korintus 4:14-15).

5. Janji-Nya bahwa kami akan bertemu lagi kelak

Di hari penguburannya, aku dan seorang temanku yang lain melihat dia untuk yang terakhir kalinya. Menatapnya yang terbaring kaku dalam peti sungguh memilukan. Perpisahan untuk selamanya ini sungguh membuat kami merindukannya. Namun kami mau mengingat apa yang dijanjikan Allah melalui kesaksian Rasul Paulus di Korintus:

“Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (1 Korintus 15:21-22)

Bagian Firman ini mengajak aku untuk percaya bahwa kematian hanyalah perpisahan sementara bagi orang percaya. Aku dan temanku yang sudah terbaring kaku itu akan bertemu lagi karena kami sama-sama percaya kematian dan kebangkitan Yesus bagi pengampunan dosa-dosa kami (1 Korintus 15:3-4).

Aku dan keluarga temanku sungguh mengucap syukur pada Tuhan yang telah menghibur dan menguatkan kami melalui berbagai hal. Sangat bersukacita juga ketika mengetahui banyak pihak yang mendoakan almarhum semasa perawatannya di rumah sakit, meski Tuhan tahu betul apa yang terbaik untuk jalan hidupnya. Aku mengerti bahwa sesungguhnya tidak ada yang abadi dalam dunia ini. Namun iman kita kepada Yesus Kristus adalah hal yang menjadi abadi dan sangat berharga bagi kita orang percaya. Sekalipun kematian memisahkan kita secara fisik dari orang-orang yang kita kasihi, kita tentu tak akan bisa dipisahkan dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Roma 8:38-39).
Damai bersamamu kawan, sampai bertemu, sampai lagi kita bertemu di langit dan bumi yang baru!

“Berharga di mata Tuhan, kematian semua orang yang dikasihi-Nya” (Mazmur 116:15).

Terpujilah Kristus!


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Menemukan Pemeliharaan Tuhan lewat Tenaga Profesional Kesehatan Mental

Selama ini aku menyimpan semua masalahku dan berusaha terlihat baik-baik saja. Sampai ketika tekanan hidup tak lagi kuat kutanggung, aku memberanikan diri untuk datang pada konselor, dan di sanalah aku menemukan pemeliharaan Tuhan.

Surat untukmu Yang Sedang Berduka

Oleh Lidya Corry Tampubolon, Jakarta

Untukmu yang berduka,

Aku ingat ketika ayahku meninggal dunia satu setengah tahun lalu. Rasa pedihnya masih bisa kurasakan hingga saat ini. Kehilangan orang yang kita kasihi, apalagi secara tiba-tiba, tentu bukan hal yang mudah untuk dihadapi. Hari demi hari berlalu, namun menanggung beban kesedihan tidak terasa lebih mudah. Rasanya seperti berjalan dalam lembah kelam yang penuh dengan duri. Hari depan seperti gelap gulita, sementara kaki kita terus menginjak duri demi duri. Berdarah, berlinang air mata. Beribu ragu dan pertanyaan berputar dalam kepala:

“Tuhan, di mana Engkau saat ini?”
“Tuhan, apakah Engkau mendengar tangisan kami?”
“Tuhan, mengapa Engkau biarkan hal ini terjadi?”
“Tuhan, mengapa harus kami yang mengalami malapetaka ini?”
“Tuhan, benarkah Engkau mengasihi kami?”
“Tuhan, mengapa Engkau seolah diam saja?”

Tapi, seperti jalan buntu, tidak ada jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Yang ada hanya keheningan yang panjang. Dan, tanpa kita sadari, air mata mengalir dan doa-doa tertahan dalam mulut kita. Dengan langkah gontai dan terpaksa, kita terus berjalan dalam lembah kelam yang penuh duri tanpa tahu kapan perjalanan ini akan berakhir.

Untukmu yang berduka,

Aku juga pernah berjalan di sana. Walau tentu lembah kelam kita berbeda, tapi aku pernah menikmati hidup bersama air mata. Perasaan kehilangan adalah perasaan terburuk yang kurasa tidak seharusnya dirasakan oleh siapapun di muka bumi. Namun, kejatuhan manusia, kejatuhan kita ke dalam dosa membuat kita harus mengalami kematian, perpisahan, kehilangan, kesedihan, dan air mata. Begitu mengerikan dosa itu, hingga karenanya, bukan hanya kita saja tetapi semua orang di seluruh dunia harus turut merasakan perasaan kehilangan dan duka. Begitu mengerikan dosa itu, hingga Allah harus mengaruniakan Putra-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, mati di kayu salib untuk menebus dosa dan mengalahkan maut. Namun, karena kematian dan kebangkitan-Nya, kini kita punya harapan akan adanya suatu masa di mana tiada lagi duka dan air mata.

“Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: ‘Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah bagi mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu’” (Wahyu 21:3-4).

Untukmu yang berduka,

Lembah kekelaman ini memang masih harus kita jalani. Tapi aku ingat, pada satu titik dalam perjalanan di lembah kekelamanku, aku menyadari bahwa Tuhan ada di sisiku, Dia berjalan bersamaku. Pernah satu kali aku menangis dalam perjalanan pulang dari kantorku, dan hujan tiba-tiba turun. Aku merasa Tuhan seolah menangis bersamaku. Dalam butiran-butiran hujan itu, aku merasakan penghiburan dari-Nya. Aku seperti mendengar suara Tuhan lembut berkata, “Berdukalah, tapi ingatlah Aku turut berduka bersamamu. Menangislah, tapi ingatlah Aku ikut menangis bersamamu.” Dalam keheningan, Tuhan berjalan bersamaku, melewati lembah yang kelam dan berduri.

Ada sebuah lagu yang liriknya mengingatkanku akan penyertaan Tuhan:

Does Jesus care when I’ve said “good bye” to the dearest on earth to me,
And my sad heart aches, till it nearby breaks,
Is it ought to Him? Does He see?

O yes, He cares, I know He cares,
His heart is touched with my grief;
When the days are weary,
The long night dreary,
I know my Savior cares.

(Does Jesus Care, Frank E. Graeff (1860-1919))

Adakah Yesus peduli, ketika kuucapkan “selamat tinggal” kepada yang kukasihi di dunia,
Dan hatiku begitu terluka, hingga hampir hancur
Apakah itu berarti bagi-Nya? Apakah Ia melihatnya?
Oh ya, Ia peduli, aku tahu Ia peduli
Hati-Nya tersentuh oleh kesedihanku yang mendalam
Ketika siang terasa melelahkan, dan malam terasa suram
Aku tahu Juruselamatku peduli.

(Terjemahan bebas)

Untukmu yang berduka,

Perjalanan masih panjang. Kesedihan yang dalam masih harus kita hadapi. Tapi, Tuhan hadir dalam setiap tetesan air mata yang jatuh dan dalam tiap doa yang kita naikkan. Tiada tempat lain, hanya di dalam-Nya penghiburan yang sejati bisa kita temukan. Satu setengah tahun hidup bersama air mata mengajarkanku bahwa berjalan bersama-Nya adalah perjalanan terbaik, walaupun harus melewati lembah kelam yang berduri. Hanya Tuhanlah perlindungan dan kekuatan, kota benteng kita yang teguh. Di dalam Dia, kita takkan goyah.

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya” (Mazmur 46:2-4).

Kiranya Tuhan menyinari kita dengan wajahNya dan memberi kita kasih karunia.

Dariku, yang berduka untukmu.

Baca Juga:

3 Respons untuk Menyikapi Musibah

Sebagai orang Kristen, ada tiga hal yang perlu kita pikirkan sebelum memposting sesuatu di media sosial sebagai wujud respons kita terhadap suatu musibah.

Tugasku: Menangis dengan Orang yang Menangis

tugasku-menangis-dengan-orang-yang-menangis

Oleh Michele O.
Artikel Asli dalam Bahasa Inggris: Dealing with The “Death Knock”

Aku adalah seorang jurnalis. Bagian dari tugasku adalah mewawancarai keluarga yang sedang berduka untuk menuliskan kisah tentang mereka. Mendengar tugas itu saja sudah membuat kaki dan tanganku gemetar. Aku berdoa agar aku tidak mendapatkan tugas itu, tapi sayangnya tidak bisa, itu adalah bagian dari pekerjaanku. Aku harus menuliskan kisah tentang seorang anak muda yang menjadi korban tabrakan mobil, sebuah keluarga yang kehilangan seorang ibu karena seorang pengemudi mabuk, dan sebuah keluarga muda yang kehilangan anak mereka karena kanker.

Setiap kisah tersebut menggetarkan hati, dan setelah selesai menuliskannya, aku pulang ke rumah dan terbaring di tempat tidurku selama berjam-jam, tidak bisa tidur. Aku memikirkan apakah keluarga-keluarga tersebut tahu bahwa aku benar-benar turut merasakan kesedihan mereka, dan aku tidak sedang memanfaatkan momen duka mereka agar namaku dapat tercantum di halaman depan.

Dari beberapa kisah yang kutulis, ada satu kisah yang berkesan untukku. Itu adalah kisah tentang sebuah keluarga yang kehilangan seorang ibu dalam sebuah kecelakaan yang melibatkan seorang pengemudi yang mabuk.

Sebuah Keluarga yang Kehilangan Seorang Ibu

Suatu sore, aku sedang bekerja ketika aku diberitahu tentang sebuah kecelakaan yang terjadi tak jauh dari tempatku. Seorang pejalan kaki menderita luka di kepalanya setelah sebuah mobil menabraknya, dan dia telah dilarikan ke rumah sakit. Keesokan harinya, terungkap bahwa wanita itu adalah seorang seniman terkenal. Suaminya bekerja dalam sebuah organisasi seni, dan mereka mempunyai dua anak perempuan. Tak lama kemudian, terdengar kabar bahwa dia telah meninggal.

Hatiku sangat pilu ketika aku diminta untuk mendatangi keluarganya untuk menuliskan kisah tentangnya. Aku meninggalkan beberapa pesan suara ke telepon keluarganya dan mencoba untuk menghubungi salah satu temannya, tapi aku tidak berhasil terhubung dengan mereka. Jadi aku pergi ke rumah keluarganya malam-malam, di tengah hujan deras, berharap bertemu dengan keluarganya. Tapi mereka sedang tidak di rumah.

Aku kembali ke kantorku, dan ketika aku sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah, teleponku berdering. Suami wanita tersebut meneleponku balik. Dia terdengar tenang, namun mulutku terasa sekering kapas ketika mendengarnya. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku turut bersedih dengan apa yang telah terjadi, tapi kata-kataku seperti kosong dan kurang tulus.

Pria itu menceritakanku tentang istrinya, dan bagaimana cinta istrinya kepada anak-anaknya, pekerjaan seninya, dan kehidupannya. “Dia seorang yang jujur, amat sangat jujur. Tidak ada kepura-puraan di dalam dia,” katanya. Anak sulungnya menggambarkan ibunya sebagai “seorang yang luar biasa” dan berkata, “Aku tidak pernah bertemu dengan seorang yang begitu banyak memberi, ibuku sangat banyak memberi. Dia selalu ada untukku dan selalu menguatkanku.” Anak bungsunya terisak di ujung telepon, mengatakan betapa dia kehilangan ibunya, yang biasa bermain dengannya setiap hari, dan juga kehilangan pelukannya.

Hatiku hancur. Aku tidak habis pikir bagaimana seseorang dapat bertahan menghadapi tragedi seperti ini. Satu hal yang sangat mengejutkanku adalah ketika sang suami memutuskan untuk tidak menuntut orang yang menabrak istrinya untuk dipenjara. (Kemudian diketahui bahwa istrinya sedang membuka pintu mobilnya yang sedang diparkir ketika dia ditabrak. Pengemudi mobil yang menabraknya sedang begitu mabuk, sampai-sampai dia bahkan tidak tahu bahwa dia menabrak seseorang, dan dia terus melaju sampai seorang saksi mata memecahkan jendela mobilnya dan menarik kunci mobilnya.)

Sang suami berkata kepada sang hakim bahwa dia tidak ingin orang yang menabrak istrinya tersebut menyia-nyiakan waktunya di penjara. Dia juga mengatakan bahwa akan lebih baik jika sang penabrak tersebut “menggunakan waktunya untuk memberikan edukasi kepada orang lain tentang bahaya menyetir ketika sedang mabuk, termasuk juga ambil bagian dalam sebuah program dokumenter edukatif—yang mungkin dapat menyelamatkan nyawa-nyawa lainnya di kemudian hari.”

Aku begitu menghargai pandangannya. Tidak banyak dari kita dapat memberikan respons yang seperti itu.

Respons terhadap Penderitaan

Dari pengalaman ini, dan juga pengalamanku bersama dengan keluarga dari korban-korban lainnya, aku belajar bahwa bukan yang kita katakan, tetapi yang kita lakukan, yang menunjukkan bahwa kita turut berduka dengan mereka.

Bagiku, itu berarti mengetahui kapan aku perlu mundur ketika sebuah keluarga menolak untuk diwawancara, untuk menunjukkan bahwa aku menghargai keinginan mereka. Kadang, itu juga berarti berusaha sebisa mungkin untuk memenuhi permintaan mereka. Dalam kasus seorang wanita yang ditabrak oleh seorang pengemudi yang mabuk, itu berarti membacakan kembali kisah yang kutulis kepada keluarganya sebelum itu dicetak—sesuatu yang biasanya tidak kami lakukan. Beberapa bulan kemudian, aku menerima sebuah e-mail dari teman mereka yang mengatakan bahwa mereka sangat menghargai rasa hormat dan kepedulian yang kutunjukkan ketika aku melakukan wawancara tersebut.

Sebagai seorang Kristen, mudah bagi kita untuk mengatakan sesuatu seperti, “Tuhan mempunyai alasan di balik penderitaan ini”, atau “Tuhan turut berduka denganmu”. Namun dari cerita Alkitab tentang Ayub, aku belajar bagaimana berduka bersama dengan orang lain.

Ketika ketiga teman Ayub pertama kali mendengar tentang tragedi yang menimpa Ayub, mereka menghiburnya dengan cara berada di sana dan tidak mengatakan sepatah katapun. Mereka mulai “menangis dengan suara nyaring. Mereka mengoyak jubahnya, dan menaburkan debu di kepala terhadap langit. Lalu mereka duduk bersama-sama dia di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Seorangpun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya.” (Ayub 2:11-13).

Alkitab mengatakan agar kita bersukacita dengan orang yang bersukacita, dan menangis dengan orang yang menangis (Roma 12:15). Itu termasuk memberikan pundak kita ketika mereka menangis, atau mengambil waktu untuk menanyakan keadaan mereka, dan mengingatkan mereka bahwa mereka tidak sendirian di dalam duka mereka.

Kadang, kita mungkin merasa seperti kita harus mencoba dan memulihkan hati seorang yang berduka—lupa bahwa kita punya seorang Bapa yang dekat kepada orang-orang yang patah hati (Mazmur 34:19) dan yang menangis bersama kita sama seperti Dia menangis bersama Marta dan Maria ketika Dia mendengar bahwa Lazarus telah mati (Yohanes 11:35). Alkitab juga mengatakan bahwa Dia bersama kita “melalui air, melalui sungai-sungai kesulitan, atau ketika kita berjalan melalui api penganiayaan” (Yesaya 43:2). Kematian mungkin kadang terasa seperti suatu akhir, tapi ketahuilah bahwa ketika Kristus mati di atas kayu salib bagi kita, Dia juga telah menang atas kematian!

Baca Juga:

4 Pelajaran tentang Pertumbuhan Rohani yang Kudapatkan Saat Bermain Pokemon Go

Pembicaraan tentang game ini telah mewarnai hampir semua group chat dan media sosialku. Pokemon Go adalah sebuah permainan yang baru saja dirilis 2 minggu lalu, namun sudah menjadi sangat populer di berbagai belahan dunia. Saat bermain game ini, ada beberapa pelajaran tentang pertumbuhan rohani yang aku dapatkan. Berikut adalah 4 pelajaran yang kudapatkan.

Kotak Tisu

Minggu, 20 September 2015

Kotak Tisu

Baca: Mazmur 31:10-19

31:10 Kasihanilah aku, ya TUHAN, sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku, meranalah jiwa dan tubuhku.

31:11 Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah; kekuatanku merosot karena sengsaraku, dan tulang-tulangku menjadi lemah.

31:12 Di hadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kekejutan bagi kenalan-kenalanku; mereka yang melihat aku di jalan lari dari padaku.

31:13 Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati, telah menjadi seperti barang yang pecah.

31:14 Sebab aku mendengar banyak orang berbisik-bisik, –ada kegentaran dari segala pihak! –mereka bersama-sama bermufakat mencelakakan aku, mereka bermaksud mencabut nyawaku.

31:15 Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: “Engkaulah Allahku!”

31:16 Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!

31:17 Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!

31:18 TUHAN, janganlah membiarkan aku mendapat malu, sebab aku berseru kepada-Mu; biarlah orang-orang fasik mendapat malu dan turun ke dunia orang mati dan bungkam.

31:19 Biarlah bibir dusta menjadi kelu, yang mencaci maki orang benar dengan kecongkakan dan penghinaan!

Kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: “Engkaulah Allahku!” Masa hidupku ada dalam tangan-Mu. —Mazmur 31:15-16

Kotak Tisu

Saat duduk di ruang tunggu kamar operasi, saya merenung sejenak. Saya berada di sini belum lama ini, ketika kami dikagetkan kabar bahwa saudara laki-laki saya satu-satunya, yang masih muda, mengalami “mati otak”.

Maka hari ini, sembari menunggu kabar dari istri saya yang sedang menjalani sebuah operasi besar, saya menunggu untuk mendengarkan suara Allah yang lembut.

Tiba-tiba, saya dipanggil untuk menemui dokter bedah. Saya melangkah ke sebuah ruang tunggu yang terpisah. Di atas meja terlihat jelas ada dua kotak tisu. Tisu itu disediakan bagi mereka yang mendengar kata-kata yang membawa kepedihan, seperti yang saya dengar ketika saudara saya meninggal—“mati otak” dan “kami sudah berusaha semampu kami”.

Di tengah kedukaan atau ketidakpastian seperti itu, wajarlah kita berpaling pada mazmur-mazmur yang mengungkapkan perasaan yang jujur. Mazmur 31 berisi curahan hati Daud yang telah menanggung beban begitu berat sehingga ia menulis, “Hidupku habis dalam duka” (ay.11). Duka itu bertambah ketika ia ditinggalkan oleh kenalan dan tetangganya (ay.12).

Namun Daud mendasarkan imannya pada satu-satunya Allah yang sejati. “Kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: ‘Engkaulah Allahku!’ Masa hidupku ada dalam tangan-Mu” (ay.15-16). Ratapannya diakhiri dengan seruan pengharapan. “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!” (ay.25).

Saat itu di ruang tunggu, dokter bedah memberi saya kabar gembira: Istri saya akan bisa sembuh total. Akan tetapi, seandainya pun ia tidak sembuh, masa hidup kami tetap berada di tangan Allah. —Tim Gustafson

Tuhan, kami serahkan kepedihan dan sukacita kami kepada-Mu. Terima kasih atas kehadiran-Mu yang selalu menyertai kami. Engkau sajalah yang setia!

Ketika kita menyerahkan masalah kita ke tangan Allah, Dia menaruh damai sejahtera-Nya di hati kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 4-6; 2 Korintus 12