Posts

Apakah Kesepian itu Dosa?

Oleh Neri Morris
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Is Loneliness A Sin?

Suatu hari aku berangkat kerja. Buku yang baru kuedit di malam sebelumnya muncul di pikiranku, aku berusaha memastikan lagi kalau apa yang kutulis di sana sudah benar secara biblikal. Jadi, kepada dua orang pendeta di ruanganku, aku mengajukan dua pertanyaan:

“Jika Taman Eden itu adalah representasi dari surga-”

“Iya, kah?” pendeta senior balik bertanya.

“Bukankah begitu?” jawabku.

“Apakah Taman Eden itu sungguh nyata?”

“Pertanyaan bagus, tapi mungkin ini lebih baik dijawab di sesi diskusi lain…dan untuk jawaban dari pertanyaan yang terakhir kuajukan, anggap saja Taman Eden itu nyata. Pertanyaanku ialah: jika Taman Eden sungguh nyata dan itu menjadi representasi dari surga, menjadi satu dengan Allah—apakah kesepian akan ada pula di surga karena itu ada di Taman Eden?”

Anak dari pendeta itu ikut menimpali, “Tidak, kesepian itu dosa.”

Aku terkejut, dan kutanya kembali, “Kok bisa?”

“Kesepian datang dari tempat di mana kamu mengalihkan pandanganmu dari Allah. Kamu tidak lagi bersandar pada-Nya,” jawab pendeta senior itu. “Pertanyaan sebenarnya adalah—apakah ada perbedaan antara menjadi sendiri dan merasa kesepian?” tambahnya lagi.

Pertanyaan ini membuatku berpikir.

Aku pernah menulis buku tentang masa lajang, dan di dalamnya aku meluangkan banyak waktu untuk bicara tentang kesepian, mengakui bahwa itu salah satu hal yang sering dialami oleh para lajang.

Tapi pemikiran baru yang menyatakan kesepian adalah dosa sungguh menggangguku. Aku bisa mengerti kenapa anak pendeta itu berkata demikian: apa pun yang menjauhkan kita dari Allah, yang menyebabkan kita meragukan Dia dan mencari kenyamanan di tempat lain, adalah dosa.

Tapi apakah merasa kesepian itu dosa? Atau, apakah dosa itu hanya berkaitan dengan apa yang kita lakukan untuk merespons kesepian itu? Dan, jika tidak baik bagi seorang pria atau wanita untuk sendiri, apakah dosa jika memang mereka memilih untuk hidup sendiri?

Kubukalah tab-tab di Google, dan kuketik, “Apakah kesepian itu dosa?”, dan kudapati kebanyakan artikel mengatakan kesepian bukanlah dosa. Aku sependapat dengan itu. Kesepian sejatinya adalah perasaan yang punya daya yang kuat. Kesepian adalah emosi yang bisa mendorong kita untuk mengambil aksi secara fisik. Kesepian itu tidak nyaman, menyakitkan, yang membuat kita melakukan sesuatu. Kupikir apa yang kita lakukanlah yang akan jadi titik penentunya.

Jika kesepian muncul dan menyelubungiku, aku punya banyak tempat untuk kupergi. Aku bisa pergi ke kafe, bioskop, rumah teman, nonton TV, dan sederet tempat lainnya. Di tempat-tempat itu aku akan menemukan sesuatu, seseorang, atau hal-hal lainnya yang bisa meringankan rasa sakit dari kesepian, dan untuk sementara waktu, aku tidak akan merasa sendirian.

Ada satu kata yang menjadi akar: sendirian.

Apakah kesepian dan menjadi sendiri itu dua hal berbeda?

Yesus sering memilih untuk sendiri. Dalam Matius 26:36-44, di malam sebelum penyaliban-Nya, Yesus pergi sendirian untuk berdoa, memohon pada Allah agar “kiranya cawan ini lalu daripada-Ku”. Ada pula momen-momen lain yang tertulis di Alkitab bahwa Yesus pergi untuk menyendiri, mencari pertolongan dan ketenangan dalam waktu-waktu teduh bersama Allah.

Tapi, apakah Yesus pernah merasa kesepian?

Mungkin tidak pada saat Dia melayani, tapi aku pikir satu momen ketika Dia merasakan pedihnya kesepian adalah ketika Dia tergantung di kayu salib, Allah memalingkan wajah-Nya. “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Yesus berseru (Matius 27:45-46). Namun, meskipun dilanda kesepian hebat, Yesus tetap memenuhi kehendak Bapa.

“Mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Yesus berseru. Di momen ini kita melihat Allah meninggalkan Yesus supaya kita tidak pernah lagi mengalami bagaimana pedihnya terpisah dari Allah.

Tapi sekarang, kita masih saja merasa kesepian.

Aku tinggal sendirian. Hari-hariku menyenangkan, tapi ada malam-malam ketika aku pulang setelah hari yang melelahkan dan aku hanya ingin ada seseorang duduk di sebelahku dan berkata, “Semua akan baik-baik saja.” Hidup sendirian berarti aku tidak mungkin pulang ke rumah dan mendapati ada seseorang yang akan memperlakukanku demikian ketika aku membutuhkan penguatan.

Apa yang kulakukan dengan kesepianku di momen-momen seperti itu?

Jawabanku, apa yang kulakukan akan menentukan apakah kesepian itu dosa atau tidak.

Jika kamu memikirkan tentang kesepian, itu adalah perasaan yang sama dengan perasaan lainnya yang juga kita rasakan. Contohnya, “Apa yang aku lakukan dengan marah/cemburu/frustrasi/sedih/penolakan di saat perasaan itu terasa sungguh menusuk?” Bagaimana kamu menjawab pertanyaan itu akan menentukan apakah hasilnya dosa atau tidak.

Merasa marah pada dasarnya tidaklah buruk, Allah menunjukkan kemarahan-Nya dalam Alkitab pada beberapa momen. Marah versi Allah adalah marah yang benar, dan Dia pun menciptakan kita untuk dapat merasakan marah. Allah mengizinkan kita untuk merasa marah, sebagaimana Dia juga mengizinkan kita untuk merasakan kasih.

Intinya adalah, emosi apa pun yang kita rasakan dapat mendorong kita kepada Kristus, yang telah berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita (Ulangan 31:6, Ibrani 13:5). Apa yang kita lakukan dalam merespons emosi itulah yang menentukan apakah itu akan menjadi dosa atau tidak.

Ketika aku merasakan sejumput kesepian, aku melakukan sesuatu yang kusuka. Aku pergi ke teman-temanku atau menikmati alam. Opsi pergi ke alam menolongku terhubung dengan Allah dan mengingatkanku akan kebaikan dan kebesaran-Nya, bahwa aku tidak pernah sendirian. Allah hadir dalam rupa Roh, tapi juga dalam keindahan-keindahan yang Dia izinkan mengelilingiku.

Bagaimana denganmu? Apa yang kamu lakukan untuk merespons perasaan kesepianmu?


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Ketika Sulit Tidur Mengingatkanku akan Kesetiaan Tuhan

3 minggu berkutat dengan insomnia membuatku bergumul. Aku baru bisa tidur pulas sekitar jam 3 atau 5 subuh meskipun aku sudah mendengar musik, membaca, atau melupakan kepenatan sepanjang hari yang kualami.

Kecenderungan Buruk yang Hadir Saat Berbuat Baik

Oleh Antonius Martono

Ada dua kecenderungan buruk yang mungkin muncul saat manusia berbuat baik. Kecenderungan yang pertama adalah menyangka bahwa mereka adalah orang baik. Sedangkan kecenderungan kedua adalah menyangka bahwa mereka bukanlah orang jahat. Manusia sering terjebak di antara dua kecenderungan ini. Mereka bisa saja menolak disebutkan sebagai orang baik, tapi mereka juga tidak mau disebut sebagai orang jahat. Kondisi ini dapat menjebak manusia untuk puas dengan kebenaran moralnya sendiri.

Pada suatu hari terjadi konflik antara aku dan adikku. Dalam konflik itu dia berkata bahwa kakak yang baik adalah kakak yang mau mengalah pada adiknya. Mendengar hal itu, aku tersinggung dan merasa direndahkan, sebab selama ini rasanya aku telah menjadi kakak yang baik. Aku telah banyak bersikap sabar terhadap karakternya yang keras. Aku juga telah banyak mengalah, berkorban, dan berbuat baik untuknya. Memang ada kekurangan sedikit, tetapi timbangan moralku mengatakan bahwa lebih banyak hal baik yang telah dinikmatinya dariku. Aku mau membuktikan bahwa aku telah berhasil menjadi seorang kakak yang baik, oleh sebab itu aku mulai mengingatkan padanya sekumpulan jasa yang telah kuberikan padanya. Konflik kami memang tak berlangsung lama. Kami segera berdamai dan memperbaiki relasi kami. Namun, kejadian itu mengejutkanku dan mendorongku untuk merenung.

Mengapa aku perlu memberikan bukti bahwa aku adalah seorang kakak yang baik? Mengapa aku perlu membela diri dengan menyebutkan sederetan jasa yang telah kulakukan? Mengapa aku merasa tersinggung dan direndahkan dengan pernyataan tersebut? Apakah selama ini aku tidak tulus berkorban bagi adikku?

Akhirnya aku menemukan bahwa aku telah merasa menjadi orang yang lebih baik dibandingkan dengan adikku yang keras itu. Sehingga harga diriku seperti dicoreng ketika adikku tidak mengakui kebaikan yang telah aku lakukan. Aku baru menyadari bahwa selama ini aku telah menjadikan perbuatan baik sebagai mata uang untuk “membeli” citra sebagai kakak yang baik.

Dalam perenunganku, aku teringat akan orang Farisi dalam perumpamaan Yesus di Lukas 18: 10 – 14.

“Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Orang Farisi itu begitu bangga dengan dirinya. Dia merasa telah menjadi orang baik karena keberhasilannya melakukan perbuatan baik. Bahkan dia berani menyebutkan prestasi perbuatan-perbuatan baiknya kepada Allah. Dia merasa lebih bermoral ketika membandingkan dirinya dengan sang pemungut cukai. Di hadapan Allah, orang Farisi ini mengira dirinya memiliki kualitas yang berbeda dari pemungut cukai. Dia tidak mau menyamakan dirinya dengan pemugut cukai yang penuh dosa itu. Sedangkan sang pemungut cukai sadar bahwa dirinya adalah orang berdosa. Dia meminta belas kasihan Allah untuk dirinya dan Allah membenarkannya.

Dalam bukunya The Righteous Mind, Jonathan Haidt yang adalah seorang psikolog sosial mengatakan bahwa: self-righteousness is the normal human condition. Manusia cenderung merasa dirinya lebih bermoral atau tidak lebih jahat dibandingkan dengan sesamanya. Akhirnya manusia cenderung membagi sesamanya dengan kategori orang jahat dan orang baik, sehingga sangat sulit bagi mereka yang merasa bermoral untuk bergabung dengan mereka yang dianggap kurang bermoral. Padahal sejak manusia jatuh dalam dosa, mereka semua telah menjadi musuh Allah. Semua manusia adalah orang berdosa, itu faktanya. Hanya saja ada orang berdosa yang telah dibenarkan dan ada yang belum. Namun, perbedaan ini bukanlah kriteria untuk memilih teman melainkan menjadi sebuah bukti bahwa Allah mau membenarkan mereka.

Kecenderungan manusia untuk merasa lebih benar dapat melemahkan pertahanan mereka terhadap dosa. Dengan berpikir bahwa mereka adalah orang baik, mereka cenderung melegalkan dosa kecil yang akan diperbuat. “Ah, ini hanya dosa kecil. Toh, saya orang baik, tidak sejahat itu.” Padahal Tuhan tidak suka dengan dosa sekecil apapun. Bahkan lebih buruk lagi, kecenderungan ini dapat membuat mereka merasa lebih kebal dosa daripada orang lain, merasa mampu mengalahkan godaan dosa dengan kekuatan sendiri, dan cenderung beranggapan tidak akan jatuh ke dalam dosa yang sama seperti orang lain.

Oleh sebab itu kita perlu terus waspada untuk tidak menilai diri berdasarkan perbuatan baik. Kita perlu berfokus kepada perbuatan yang telah Yesus lakukan beserta anugerah-Nya. Pada akhirnya manusia sanggup berbuat baik karena anugerah Allah yang memampukannya. Sedangkan bagi mereka yang merasa lebih bermoral, perbuatan baik itu bergantung pada usaha keras diri sendiri, bukan bersandar pada anugerah Allah.

Pernahkah kita merenung, berapa banyak perbuatan jahat yang dapat kita lakukan hari ini jika Allah tidak memberikan anugerah-Nya? Sejahat apakah perbuatan yang mungkin dapat kita lakukan, jika Allah tidak menjaga kita? Pertanyaan ini dapat mengevaluasi diri kita, sehingga kita dapat waspada untuk tidak terlalu bangga dengan pencapaian moral kita.

Tidak ada manusia yang kebal dan mampu menang dari dosa dengan kekuatan sendiri. Merasa telah menjadi orang baik dapat menjebak kita besar kepala dan merasa tidak memerlukan pertolongan Allah. Ketika seseorang jatuh dalam dosa, kita sama rentannya dengan mereka. Kita sangatlah mungkin melakukan dosa yang sama seperti mereka. Mengingat hal ini dapat membuat kita semakin rendah hati dan mendorong kita terus bergantung pada Allah. Kita perlu bergantung dalam doa, meminta Tuhan agar menjaga hati kita yang lemah. Pada akhirnya kita butuh kesetiaan Allah yang memampukan kita untuk setia.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Cerpen: Memaafkan Papa Mengikuti Teladan Bapa

Aku menghela napas panjang mendengar keputusan mama. Permintaannya kali ini sungguh di luar dugaanku.

“Kak, kamu harus menemui papamu dulu, baru kamu bisa pergi sama Daniel!” tegas mama.

“Mama, please! I just need you and I am happy,” pintaku sedikit memelas.

Berhentilah Membanding-bandingkan Dosa Kita dengan Dosa Orang Lain

Oleh Fandri Entiman Nae, Manado

Ketika menonton televisi atau menjelajahi media sosial, informasi tentang tindakan kejahatan rasanya bukanlah hal yang jarang kita simak. Menghitung berapa jumlah kasus-kasus itu tentu tak akan ada habisnya. Dunia seakan telah berteman dengan kejahatan, dan fakta yang mungkin membuatmu tercengang: kita semua adalah bagiannya.

Pernyataanku mungkin mengherankan dan membuatmu bertanya mengapa kita menjadi berada di posisi tertuduh? Melalui tulisan ini, aku mengajakmu untuk menyelidiki diri kita lebih jauh. Kita semua sejatinya memiliki status yang sama, yaitu para pendosa. “Ah tapi kan aku tidak melakukan ini, atau itu?”, dalam hati kita berkelit. Ketika kita melihat ada orang yang kedapatan mencuri dan kita “tidak mencuri”, atau kita melihat orang lain kedapatan “berzinah” dan kita merasa tidak melakukannya, kita lantas merasa diri kita lebih baik dari orang lain. Atau, bisa saja kita merespons dengan lebih kesal, “Aku tidak akan begitu! Tidak akan jatuh ke dalam dosa seperti itu!”

Sebagai manusia, kita sering membandingkan diri kita dengan orang lain, termasuk ketika itu bicara mengenai dosa. Namun, terlepas dari siapa yang tampak ‘lebih baik’ dari perbanding-bandingan itu, fakta yang pasti ialah kita semua sejatinya adalah pendosa, apa pun jenis dosa yang kita lakukan. Jika kita membaca apa yang dikatakan oleh Yesus tentang perzinahan (Matius 5:27-30), kita akan segera mengerti bahwa dosa bukan hanya tentang apa yang nampak melainkan apa yang tersembunyi di dalam hati kita. Mungkin kita belum pernah menampar atau melakukan kekerasan terhadap orang lain, tetapi berapa kalikah kita berniat melakukannya untuk melampiaskan amarah kita?

Dalam pekerjaan dan pelayananku sebagai hamba Tuhan, setiap kali aku berkhotbah kepada teman-teman yang ada di dalam penjara di beberapa kota, aku selalu berkata kepada mereka bahwa jika polisi kita, jaksa kita, dan hakim kita adalah Allah sendiri, maka aku, yang merupakan seorang penginjil ini tidaklah lebih suci dibandingkan teman-teman di dalam penjara ini. Mungkin aku pun akan dijerat dengan pasal berlapis dan divonis dengan hukuman terberat.

Beberapa tahun yang lalu seorang dosen pernah mengajukan pertanyaan ‘menjebak’ kepada kami semua dalam sebuah kelas. Pertanyaannya adalah “Siapa yang membunuh Yesus? Apakah orang Yahudi atau orang Romawi?” Tentu jawabannya bisa berbeda-beda tergantung sudut pandangnya. Ketika kelas kami terbagi menjadi dua kelompok besar yang membela pilihannya bagai debat capres dan cawapres, aku satu-satunya yang punya jawaban berbeda. Aku tidak memilih Romawi maupun Yahudi. Tentu saja bukan karena jawaban itu salah, tetapi karena aku tahu apa yang sedang ingin dicapai oleh dosen itu. Pada saat dia membuat survei dan tiba pada giliranku, aku menjawab, “Saya dan bapaklah yang membunuh Yesus”.

Mari jujur dengan identitas kita. Kita adalah “pembunuh”. Dosa kita telah “memaksa” Dia yang Maha Tinggi dibantai dan dipermalukan di bawah matahari Palestina. Kita adalah pezinah. Kita terpikat oleh senyuman dunia yang beracun dan bercumbu dengannya untuk memuaskan hasrat kedagingan kita, hingga kita lupa pada Kekasih hati kita yang datang jauh-jauh dari surga untuk memeluk kita.

Berhentilah saling menyalahkan dan menganggap diri lebih baik dari orang lain. Jangan pernah memegahkan diri kita, terlebih di hadapan Allah. Kita semua tidak ada bedanya. Bukankah kita sering sekali berteriak menuntut keadilan hanya jika kita ada dalam posisi sebagai korban yang benar? Bukankah ketika kita didakwa sebagai tersangka yang bersalah, kita malah mengemis meminta pengampunan? Atau tragisnya lagi, berapa banyak dari kita yang senang menjadi penjilat demi mendapatkan kenyamanan diri kita sendiri?

Tetapi terlepas dari dosa-dosa kita yang begitu menjijikkan, di sini keunikan iman kita terletak, yaitu Allah kita mencintai kita sebagaimana adanya. Tentu itu bukan berarti bahwa Allah sama sekali tidak peduli, apalagi senang dengan dosa kita. Di mata Allah, dosa bagai kanker yang hidup di dalam tubuh orang yang kita cintai. Kita membenci kankernya, tetapi mencintai orangnya. Bukan kita yang mencari-Nya, Dialah yang mencari dan menemukan kita. Ia kemudian mengikat kita yang menerima-Nya dengan pelukan kasih karunia. Tapi sedihnya, kita sering menari-nari bahagia di atas kasih karunia itu namun lupa pada Sang Sumber. Kita tersenyum ketika tahu bahwa kita telah diangkat menjadi anak-anak-Nya tetapi kita mempermalukan Bapa kita. Benar bahwa Allah kita telah memerdekakan kita sama seperti yang dikatakan Paulus kepada jemaat Galatia, namun itu bukan kesempatan untuk hidup dalam dosa (Galatia 5:13). Seorang teolog sekaligus pengkhotbah terkenal pernah berkata, “Jika kita berpikir bahwa kasih karunia adalah tempat untuk bersantai saja, maka kita akan melihat kehancuran”.

Kasih karunia adalah tempat bersukacita, menyesali diri, dan berjuang habis-habisan. Kita bersukacita atas kebaikan Allah yang telah menyelamatkan kita dari “kengerian terdalam” melalui penyaliban Kristus yang telah bangkit dari kematian. Kita menyesali diri atas semua kegagalan-kegagalan kita yang telah melukai hati Allah. Kita berjuang habis-habisan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita dan dengan gigih menceritakan kepada dunia tentang Dia, Allah yang mengasihi kita, para pendosa.

Hari ini, dalam momen yang diperingati oleh beberapa gereja sebagai Rabu Abu, akuilah dosa kita di hadapan Allah dan perbaharuilah komitmen kita untuk hidup kudus bagi-Nya.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Teguran: Tidak Semanis Pujian, Tapi Kita Butuhkan

Kita mungkin sepakat kalau teguran ditujukan untuk kebaikan kita. Tapi, seringkali penyampaian dan pesannya membuat kita tidak nyaman. Bagaimana kita dapat merespons teguran secara positif?

Menghadapi Penderitaan Tidak dengan Tawar Hati

Oleh Alvin Nursalim

Menjalani kehidupan pasti akan menghadapi penderitaan. Dalam profesiku sebagai dokter, rasa sakit, tangis, dan kesedihan adalah kawan yang menjadi keseharianku.

Pastinya teman-teman setuju bahwa rumah sakit bukanlah tempat berlibur. Di sini setiap pasien datang berobat dan berharap sembuh. Aku ingat ketika aku masih menempuh studi kedokteran dulu, biasanya aku akan sampai di rumah sakit sekitar jam 05:30 pagi. Aku dan rekan-rekan tim medis lainnya datang lebih pagi karena jumlah pasien yang menjadi tanggung jawab residen (dokter yang sedang mengambil program pendidikan spesialis) memang cukup banyak jumlahnya.

Para pasien bahkan datang lebih subuh dari kami. Mereka datang lebih awal untuk mengambil nomor pendaftaran. Rumah sakit tempat kami melayani adalah rumah sakit rujukan. Alhasil, pasien datang dari berbagai daerah dan pelosok negeri. Ada pasien-pasien yang masih anak kecil, masih tertidur di kursi roda mereka dan turut mengantre sedari subuh. Pecah tangis seringkali memenuhi ruangan karena kesakitan yang dialami oleh mereka.

Keadaan tersebut tidak berubah. Rumah sakit tetap penuh, malah mungkin lebih penuh karena pandemi Covid-19. Aku terpanggil untuk melayani pasien-pasien yang terinfeksi virus ini. Dewasa, anak kecil, wanita hamil, semua tidak luput dari virus. Rasa khawatir dan tangis dari pihak keluarga tidak asing bagi telingaku.

Menyaksikan penderitaan yang begitu nyata setiap hari seringkali membuatku termenung. Aku bertanya, “Bapa, mengapa ada penderitaan di dunia ini? Mengapa ada kemiskinan yang membuat banyak orang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makan hariannya? Mengapa ada penyakit yang memberikan rasa sakit pada banyak orang?”

Pernahkah teman-teman juga bertanya-tanya seperti itu? Mencari tahu mengapa Tuhan tidak menciptakan dunia di mana semua orang seang, berkecukupan, dan tiada penderitaan?

Apakah Tuhan memahami penderitaan manusia?

Pertanyaan itu membawaku untuk menggali lebih dalam tentang penderitaan manusia. Ketika mengalami penderitaan, kita sebagai manusia sering bertanya apakah Tuhan memahami penderitaan kita. Tetapi, kita lupa bahwa diri-Nyalah sejatinya yang paling memahami penderitaan.

Yesus mengakhiri pelayanan-Nya di bumi dengan dihina, dihukum, dan dipaku di kayu salib. Dia mengalami tak cuma penderitaan fisik, juga penderitaan mental di tangan tentara Romawi dan orang-orang yang mencaci-Nya. Dia ditinggalkan oleh teman-teman terdekat-Nya di saat Dia paling membutuhkannya. Penderitaan Yesus telah ternubuatkan dalam tulisan Yesaya, “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan” (Yesaya 53:3).

Jika kita bergumul dan berdoa pada-Nya, kita sejatinya sedang menyampaikan pergumulan manusia kepada Tuhan yang sangat dekat dan memahami penderitaan. Dia bukan Tuhan yang jauh dan tidak dapat berempati atas penderitaan manusia. Kita datang kepada Tuhan yang benar-benar tahu dan peduli, Dia adalah Tuhan yang juga merasakan bagaimana berada di titik nadir.

Selanjutnya, Yesaya 53:4 menulis, “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya dan kesengsaraan kita yang dipikul-Nya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.”

Penderitaan Yesus melampaui apa yang dapat kita bayangkan. Di kayu salib, semua kejahatan dunia diarahkan pada satu Sosok yang bersih dan murni, yaitu Sang Anak Allah. Yesus melakukannya agar kita beroleh kehidupan, sehingga kejahatan tidak membinasakan manusia.

Mengapa Tuhan dengan segala kuasa-Nya tidak menghilangkan saja penderitaan?

Pertanyaan tersebut memiliki jawaban: suatu hari kejahatan akan disingkirkan selama-lamanya. Suatu hari tidak akan ada lagi dukacita atau rasa sakit. Tuhan akan menghapus setiap air mata (Wahyu 21:4). Tetapi, hari tersebut belumlah tiba.

Jika kita merenungkan posisi kita: siapakah kita manusia berdosa sehingga kita bertanya dan menghakimi Tuhan? Kita adalah ciptaan-Nya dan diciptakan untuk memuliakan-Nya. Justru, seharusnya kita bertanya, apakah hak kita sebagai manusia berdosa untuk menuntut kepada Tuhan yang sudah menebus dosa kita? Namun, terlepas dari segala dosa kita, Tuhan selalu menawarkan diri-Nya sendiri. Dia tidak cuma memberi kita berkat atau janji, tetapi Dia memberi diri-Nya sendiri. Dia merindukan kita datang kepada-Nya, berbicara dengan-Nya, dan membawa penderitaan kita kepada-Nya. Dalam penderitaan kita, Dia tidak meninggalkan kita sendirian. Jika kita berpaling kepada-Nya, ada kekuatan yang tidak pernah kita duga; ada kenyamanan dan pengharapan untuk hari ini dan esok.

Aku ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah doa yang kuterjemahkan dari kumpulan doa puritan, The Valley of Vision. Doa ini begitu indah dan berisikan permohonan manusia agar bisa terus memuji keagungan Tuhan dan berserah kepada-Nya, terlepas dari keadaan yang tampaknya tidak sesuai harapan.

Tuhan, tinggi dan suci, lemah lembut dan rendah hati,

Engkau telah membawaku ke lembah penglihatan
Di mana aku tinggal di kedalaman tapi melihat-Mu di ketinggian,
dikelilingi gunung dosa aku melihat kemuliaan-Mu.

Biarkan aku belajar dengan paradoks
bahwa jalan turun adalah jalan ke atas,
bahwa menjadi rendah berarti tinggi,
bahwa patah hati adalah hati yang disembuhkan,
bahwa roh yang menyesal adalah roh yang bersukacita,
bahwa jiwa yang bertobat adalah jiwa yang menang,
bahwa tidak memiliki apa-apa berarti memiliki semua,
bahwa memikul salib adalah memakai mahkota,
bahwa memberi berarti menerima,
bahwa lembah adalah tempat penglihatan.

Tuhan, di siang hari bintang bisa dilihat dari sumur terdalam,
dan semakin dalam sumur, semakin terang bintang-bintang-Mu bersinar;

Biarkan aku menemukan cahaya-Mu dalam kegelapanku,
hidup-Mu dalam kematianku,
kegembiraan-Mu dalam kesedihanku,
anugerah-Mu dalam dosaku,
kekayaan-Mu dalam kemiskinanku,
kemuliaan-Mu di lembahku.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Di Tengah Keadaan yang Tak Mudah, Pilihlah untuk Taat

Taat, mudah diucapkan sulit dipraktikkan. Apalagi jika ketaatan itu seolah membuat hidup kita malah menjadi susah. Tetapi, Alkitab memberitahu kita bahwa selalu ada berkat dalam ketaatan kita kepada-Nya.

3 Hal yang Kupelajari Ketika Aku Mengalami Frustasi Spiritual

Oleh Olyvia Hulda, Sidoarjo

Ketika kali pertama kamu mengenal Tuhan Yesus, masih ingatkah kamu bagaimana perasaanmu? Mungkin kamu merasa senang, rasa selalu ingin dekat dengan Tuhan, serta kerinduan untuk menghidupi pertobatanmu sangat kuat. Rasa-rasanya kita ingin selalu berbuat baik dan hidup berkenan pada-Nya.

Demikian juga dengan aku. Ketika aku menerima Tuhan, pengampunan dari-Nya membuatku bersemangat untuk menghidupi kehidupanku yang baru. Aku menerapkan beberapa disiplin rohani secara teratur, hingga akhirnya aku merasa rohaniku sudah cukup kuat dan aku berhasil meninggalkan dosaku yang lama.

Namun, seiring berjalannya waktu, berbagai persoalan dan rintangan pun datang memengaruhi. Terlebih di situasi pandemi Covid-19 ini sangat memengaruhi spiritualitasku. Kurangnya pertemuan ibadah dan interaksi yang intens dengan sesama orang percaya, serta dampak dari pandemi dalam pekerjaan membuatku frustasi, baik secara mental maupun spiritual. Godaan pun sungguh kuat untuk kembali kepada kehidupan yang lama sebelum bertobat.

Awalnya aku pikir aku cukup kuat untuk melawan godaan. Menerapkan disiplin rohani (berdoa teratur, saat teduh, berkumpul dan berdoa) dan juga menjauhi sumber dosa, menurutku itu sudah cukup untuk meneguhkan pertobatan. Namun semenjak pandemi, godaan itu semakin kuat dan pada akhirnya, aku kembali jatuh. Berbagai komik dan novel yang dapat diakses dengan mudahnya membuatku asyik dengan dunia sendiri, sehingga membuatku terbayang-bayang akan jalan ceritanya, sampai aku melupakan jam-jam doaku. Apalagi platform komik yang kubaca menawarkan bacaan gratis setiap harinya. Aku pun akhirnya enggan untuk datang kepada-Nya, dan lebih menikmati bacaanku yang lebih menarik ketimbang Alkitab dan artikel saat teduh.

Firman Tuhan dari 1 Yohanes 1:9 sungguh menguatkanku, bahwa Tuhan selalu mengampuni segala dosa-dosaku, saat aku mengakuinya di hadapan-Nya. Namun, perasaan frustasi akan kegagalanku dalam pertobatan malah membuatku semakin menjauhi-Nya. Perasaan takut, sungkan dan khilaf membaur menjadi satu. Perasaan berulang inilah yang membuatku semakin depresi dalam spiritualku.

Suatu hari, aku membaca sebuah nats di 1 Korintus 10:12, bahwa siapa yang menyangka bahwa Ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh. Roh Kudus dengan sangat jelas mengingatkanku melalui ayat ini, bahwa aku pun harus selalu waspada terhadap diriku sendiri, sekalipun nampaknya aku berhasil menjalankan pertobatanku. Ya, waspada terhadap segala godaan di luar ekspetasi, yang membuatku jatuh kembali.

Aku bersyukur, di tengah situasi yang depresi, pengampunan dan kehadiran Tuhan selalu nyata dalam doaku. Dalam doa, Tuhan juga mengingatkanku, agar tetap berkomunikasi secara intens dengan orang percaya, dan juga memohon mereka untuk mendoakanku di tengah situasi pandemi ini. Intinya, untuk menghadapi pergumulan dosa ini, aku memerlukan orang lain untuk mendoakan dan mendengarkan keluh kesahku dengan tulus.

Sebagai orang yang terbiasa melayani orang lain, aku sedikit gengsi apabila aku yang malah dilayani. Namun, sekali lagi Roh Kudus mengajarkan kepadaku melalui kitab Galatia 6:2 untuk “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu, demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.”

Rasul Paulus mengajarkan bahwa kita perlu berbagi beban kepada orang percaya, agar kita dapat memenuhi hukum Kristus. Aku belajar untuk membuka diri untuk bercerita dan mengakui pergumulanku akan dosa ini.

Sejujurnya, aku sangat tidak terbiasa terbuka dengan orang lain perihal pergumulan dosaku. Namun aku belajar untuk terbuka walaupun rasa malu menghantuiku, dan meminta petunjuk Tuhan agar aku dapat terbuka dengan orang yang tepat. Bersyukur, Tuhan mengingatkanku kepada beberapa saudara seiman yang bersedia mendengar dan mendoakan pergumulanku. Puji Tuhan, berkat doa mereka, aku pun kembali bangkit seperti awal mulanya, dan spiritualitasku mulai kembali pulih seperti sedia kala.

Pengalaman frustasi secara spiritual ini membuatku belajar akan beberapa hal. Pertama, keberhasilan kita akan pertobatan kita bukan didasarkan semata pada kehebatan diri kita, tetapi Roh Kudus yang berkarya ketika kita sungguh-sungguh menyerahkan diri untuk tidak lagi tunduk di bawah kuasa dosa. Sebagus apapun disiplin rohani yang kita terapkan, namun bila kita tidak pernah meminta Roh Kudus untuk menolong kita untuk menerapkannya, maka kemungkinan besar kita dapat jatuh ke dalam dosa yang lebih besar lagi, atau ada godaan tak terduga di luar sana yang membuat kita kembali jatuh. Dan juga, pertobatan yang sejati juga bukan karena perasaan cinta yang menggebu-gebu, tetapi karena anugerah Allah atas kita.

Kedua, aku belajar bahwa mengaku dosa dan kelemahan ini baik untuk kesehatan spiritual. Mengaku diri lemah dan tak berdaya adalah caraku untuk berlatih merendahkan hati, serta terlindung dari dosa kesombongan. Tak hanya itu, aku pun belajar akan kuasa Tuhan dalam dosa dan kelemahanku. Saat aku belajar mengakui dosaku, di situlah aku merasakan kasih dan anugerah-Nya, dan dimampukan untuk bangkit kembali dari rasa frustasiku.

Ketiga, kita tidak pernah sendirian! Selain ada Tuhan, ada pula teman-teman seiman yang dapat menolong kita. Melalui pengalaman frustasiku, aku belajar untuk mempercayakan diri kepada mereka, dan memohon doa mereka. Bila kita merasa takut untuk bercerita, kita bisa memohon pertolongan Tuhan agar diberi keberanian dan kerendahan hati untuk mau terbuka kepada rekan kita, serta berdoa juga meminta hikmat agar kita dapat bercerita kepada orang yang tepat: menerima cerita kita, memberi masukan tanpa menghakimi, peduli, dan punya hati yang suka mendoakan orang lain.

Di masa sulit ini, marilah kita bersama-sama saling tolong-menolong, saling mendukung satu dengan yang lain, dan juga memberi nasihat/masukan berlandaskan kasih antara satu dengan yang lain. Kiranya kita semua dapat merasakan anugerahNya di tengah kesulitan ini.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Membuka Luka Lama untuk Menerima Pemulihan

Perasaan sepi dan sendiri membuatku merasa tertolak. Aku pikir akulah sumber semua masalah, aku tidak layak dan tidak pantas. Semua cara kulakukan agar aku diterima oleh pertemanan di sekitarku, tetapi upaya itu hanya membuatku lelah dan terjebak dalam depresi.

Mengalami Pelecehan Seksual, Aku Memilih untuk Mengampuni dan Dipulihkan

Oleh Rosa*, Bekasi

Belakangan ini berita tentang korban pelecehan seksual yang berani bersuara tersiar di banyak media. Membaca berita-berita itu membuatku seolah merasa lega, sebab masyarakat mulai menyadari bahwa pelecehan seksual sejatinya adalah sebuah kejahatan yang harus diusut tuntas.

Aku sendiri pernah mengalami pelecehan seksual dua kali. Kejadian pertama terjadi saat aku berusia 17 tahun. Peristiwa itu membuat depresi dan hampir tidak lulus sekolah. Terlebih lagi pelakunya adalah kakak kelasku sendiri. Kejadian kedua terjadi saat aku kuliah. Mantan kekasihkulah yang melakukannya. Dua cerita kelam ini kusimpan sendiri. Aku tak berani mengadu dan bercerita, sebab bicara soal pelecehan adalah topik yang dianggap tabu.

Kendati dua peristiwa itu sudah lama berlalu, namun trauma yang ditinggalkan masih tertanam. Sebagai perempuan, aku tahu aku perlu menjaga tubuhku—terkhusus area-area privatku—dengan sebaik mungkin sebagai upaya menjaga kekudusan bagi Tuhan. Namun, ketika apa yang kujaga dinoadai oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab, seketika aku merasa hancur. Aku merasa kotor dan tak layak di hadapan Tuhan. Aku pun trauma berelasi dengan lawan jenis, terlebih apabila terjadi sentuhan fisik.

Trauma itu perlahan pudar ketika akhirnya aku lahir baru, walaupun untuk dapat mengampuni itu membutuhkan banyak jatuh bangun. Roma 6:22 mengatakan bahwa aku telah dimerdekakan dari dosa dan aku telah menjadi hamba Allah. Aku mendapatkan perspektif baru bahwa semua manusia diciptakan berharga di mata Tuhan, masa laluku tidak menentukan nilai diriku di hadapan-Nya. Kristus telah menebusku dengan harga yang sangat mahal, dan Dia mengampuni semua dosaku tanpa memandangku hina. Kebenaran inilah yang menolongku untuk mengampuni diriku sendiri, juga kedua pelaku pelecehan yang pernah menodaiku.

Peristiwa yang mengingatkan kembali luka masa lalu

Suatu pagi, salah satu teman komselku memberitahuku berita di media sosial. Berita itu berkisah tentang pelecehan seksual. Aku seketika tersentak ketika mengetahui pelakunya adalah teman baikku sendiri. Temanku itu memang merupakan cowok yang cukup populer. Meski kami berbeda kampus, kami saling mengenal dan berelasi baik. Sepengetahuanku berkawan dengannya, dia adalah orang yang sopan dan menghargai perempuan. Apalagi kebanyakan teman dia pun kebanyakan perempuan.

Aku merasa tak percaya bahwa temanku itu sungguh melakukan hal tak terpuji ini. Namun rasa tak percaya ini sirna ketika akhirnya dia mengakui kepada publik bahwa itu adalah perbuatannya. Aku geram sekaligus kecewa. Aku geram kepada temanku itu yang tega melakukan hal demikian, tapi satu sisi lainnya aku pun kecewa: mengapa temanku di balik perangai baiknya tega melakukan ini? Pikiranku pun teringat akan kepedihan yang dulu kualami. Aku rasanya bisa memahami bagaimana perasaan para korban. Mungkin mereka merasa trauma, depresi, dan hancur seperti yang dahulu kurasakan. Di tengah kekalutan pikiran itu, aku menenangkan diri dengan berdoa. Kumohon pada Tuhan agar Dia mengaruniakanku kebijaksanaan untuk menyikapi ini.

Aku lalu mendapati kabar terbaru. Temanku itu mengakui diri bersalah dan siap menerima semua sanksi yang dijatuhkan padanya. Pada sore harinya, dia pun menyerahkan dirinya kepada pihak berwenang.

Bicara soal pelecehan seksual, peristiwa-peristiwa yang muncul ke permukaan hanyalah pucuk dari gunung es. Banyak dari korban tak berani bersuara karena takut diancam oleh pelaku, atau bahkan oleh masyarakat sendiri. Akibatnya, kisah-kisah pelecehan itu menumpuk menjadi kasus yang tak terselesaikan, dan menyisakan trauma di hidup para korban. Dan, jika korban-korban pun tak berani bersuara, terlebih langka lagi kita mendapati para pelaku yang menyadari kesalahannya. Terlepas dari kesalahannya, aku cukup mengapresiasi langkah temanku itu untuk mengakui dan bersedia dihukum dengan layak atas perbuatannya.

Teruntuk teman-teman yang pernah menjadi korban, aku pernah merasakan betapa beratnya trauma yang harus kita tanggung. Kita takut dijauhi oleh rekan-rekan, mendapatkan cap buruk, atau bahkan diancam. Namun, di tengah kemelut ketakutan yang menyelimutimu, aku berdoa kiranya kamu dapat melihat terang kasih Tuhan. Kamu tak dapat menyimpan trauma ini sendirian. Kepada orang yang kompeten dan sungguh bisa dipercaya, kamu bisa mengutarakan beban hatimu, seperti yang firman Tuhan katakan: “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16). Kamu berhak untuk berbicara dengan jujur.

Kendati kamu merasa kotor dan hina, ingatlah bahwa nilai diri kita hanya ditentukan oleh apa yang Kristus telah lakukan bagi kita di atas kayu salib. Kebenaran inilah yang akan menolongmu untuk pulih. Dan, kepada para pelaku pelecehan, ingatlah bahwa tindakan dosa sekecil apa pun tetaplah dosa. Tuhan melihat setiap tindakan dan motivasi hati kita (Amsal 15:3).

Kiranya damai sejahtera dan anugerah Tuhan beserta kita semua.

Soli Deo Gloria!

*Bukan nama sebenarnya.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Berbuat atau Berbuah?

Berbuat dan berbuah. Dua kata ini cuma berbeda di satu huruf, namun perbedaan maknanya sangat menentukan perjalanan kehidupan kita sebagai pengikut Yesus.

Menang Atas Dosa Favorit

Oleh Aldi Darmawan Sie, Jakarta

Beberapa bulan lalu, Marion Jola (salah seorang kandidat juara Indonesia Idol 2019) merilis lagunya yang berjudul “Favorite Sin”. Istilah yang digunakan di judul ini tidak terdengar asing di telinga kita, bukan? Frasa “favorite sin” atau dosa favorit masih sering kita dengar, khususnya dalam khotbah-khotbah atau renungan. Tulisanku ini tidak akan membahas atau membedah lagu Marion Jola, tapi hal yang menarik perhatianku adalah mengapa kita bisa memfavoritkan dosa-dosa tertentu? Bukankah di gereja kita sudah sering diberitahu dari mimbar bahwa dosa adalah hal yang tidak berkenan kepada Tuhan? Lantas, mengapa kita bisa memfavoritkan dosa-dosa tertentu?

Beberapa waktu lalu, aku sempat mengikuti sebuah webinar yang membahas topik senada. Sang narasumber mengatakan bahwa alasan kita bisa memiliki dosa-dosa favorit, karena memang pada dasarnya dosa itu menawarkan atau mengiming-imingi kita dengan suatu kenikmatan. Salah satu contohnya adalah dosa seksual. Pornografi meskipun kita tahu itu bisa berdampak buruk, tapi tetap saja ada orang yang mengarahkan diri ke sana. Pornografi memberi kita kenikmatan sesaat. Kenikmatan itulah yang membuat kita tergoda dan mengabaikan perasaan bersalah, yang akhirnya mengantar kita semakin jauh dari Tuhan.

Lantas, bagaimana sih supaya kita dapat mengatasi godaan dari dosa favorit? Ketika aku memikirkan pertanyaan ini, aku teringat makalah teologi tentang Yusuf di Perjanjian Lama. Kita tak asing dengan tokoh ini, mungkin kita sudah mengenalnya sejak sekolah Minggu dulu. Kejadian 39 menceritakan Yusuf yang kala itu seorang pemuda dan elok parasnya digoda oleh istri Potifar. Sang nyonya mengajak Yusuf tidur bersamanya. Ajakannya tak cuma sekali, tapi berulang-ulang. Ayat 10 memberikan respons yang menarik dari Yusuf, “Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia.”

Jika kita membayangkan berada di posisi Yusuf, mungkin tawaran ini menggiurkan. Terlebih usia Yusuf masih muda dan bisa saja istri Potifar tersebut elok pula parasnya. Namun perkataan Yusuf pada ayat 8 dan 9 patut kita perhatikan. “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”. Alkitab memang tidak secara eksplisit menjelaskan dari mana Yusuf bisa memahami bawa ajak dari istri tuannya itu adalah suatu dosa. Namun yang jelas, Yusuf memandang ajakan tersebut bukan saja sebagai bentuk kejahatan besar kepada tuannya yang telah memercayakan jabatan kepadanya, tetapi juga sebagai dosa terhadap Allah!

Hal pertama yang kita bisa pelajari adalah Yusuf berpegang teguh pada pendiriannya meskipun godaan datang setiap harinya dan keadaan pun mendukung jika seandainya dia memilih ajakan dosa tersebut. Tetapi Yusuf tidak oportunis, dia tidak mencari keuntungan diri sendiri dari kesempatan yang ada. Hal kedua, Yusuf memiliki nilai yang sama dengan Allah. Yusuf menganggap apa yang berdosa di mata Allah juga adalah dosa di matanya.

Dalam topik tentang problematika dosa seksual, dosen pastoralku mengatakan bahwa permasalahan utama dari dosa seksual adalah permasalahan nilai (the battle of value). Dosa seksual yang sudah sering dilakukan akan membentuk paradigma seseorang dalam melihat lawan jenis. Seseorang yang telah kecanduan pornografi biasanya akan dengan mudahnya memandang lawan jenisnya sebagai objek seksual. Meskipun dirinya bergumul sedemikian rupa untuk tidak berpikir seperti itu, tetapi nilai yang ada dalam otaknya telah bercokol, membentuk cara pandangnya untuk melihat lawan jenis sebagai objek seksual. Maka disadari atau tidak, salah satu alasan sulitnya lepas dan berhenti dari berbagai kecanduan, termasuk pornografi adalah karena kita menganggap kenikmatan sebagai nilai tertinggi dalam hidup (the greatest value). Kita tahu pornografi salah, tapi kita terlanjur menganggapnya sebagai sesuatu yang bernilai. Akibatnya, pornografi jadi susah ditolak. Dosa kenikmatan seksual telah dianggap sebagai our greatest value and delight.

Memenangkan pertempuran

Seperti judul artikel ini, bagaimana kita bisa menang atas dosa favorit?

Keberhasilan seseorang untuk menang dari berbagai godaan pertama dimulai dengan mengakui bahwa perbuatan tersebut adalah dosa yang menyakiti hati Tuhan. Kita perlu secara konsisten memandang perbuatan tersebut sebagai suatu dosa terhadap Tuhan. Kita harus mengubah nilai yang kita anut, bahwa kenikmatan tertinggi dalam hidup kita bukanlah terletak pada dosa atau kesukaan kita. Mungkin bagi seseorang yang telah berkubang lama dalam dosa pornografi, dosa ini dianggap berbeda dari zinah. “Aku kan tidak melakukan hubungan seksual dengan siapa pun. Aku hanya melakukannya seorang diri.” Tapi, prinsipnya tetaplah sama, bahwa kita telah memandang lawan jenis sebagai objek seksual kita. Dan, Tuhan tentu saja tidak mendesain manusia hanya sekderdil objek seksual. Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Artinya, manusia begitu berharga di mata Tuhan. Ketika kita mereduksi nilai manusia hanya sebatas objek seksual, kita telah melenceng dari desain Tuhan dan menyakiti hati-Nya.

Di dalam Kristus, kita mampu menang atas dosa-dosa favorit! Sepenggal perkataan Paulus dari Roma 6:11-12 berkata, “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.”

Kita telah mati bagi dosa dan kita sudah hidup bagi Allah. Penebusan yang Kristus lakukan di atas kayu salib memampukan kita untuk berkata “tidak” kepada dosa. Tidak hanya berhenti sampai di sana, kita juga telah dimampukan untuk memberikan hidup kita bagi Allah. Itulah yang seharusnya menjadi our greatest value and greatest delight in our life. Bukankah hidup kita terlalu berharga untuk kita habiskan hanya mencari kenikmatan sesaat tetapi membawa perasaan bersalah yang berkepanjangan dan akan merusak hidup kita sendiri? Maka dari itu, marilah kita mengubah nilai hidup kita dari hidup demi kenikmatan diri menuju hidup yang sepenuhnya mengabdi bagi Allah.

Baca Juga:

Menjadi Seorang Kristen dan Gay: Bagaimana Aku Bergumul untuk Hidup Kudus Bagi Tuhan

Kedaginganku berkata bahwa aku perlu memenuhi hasratku, mengikuti keinginan hatiku. Tapi, aku sadar bahwa aku adalah orang percaya yang diselamatkan karena iman, bukan karena perbuatanku.

Kebahagiaan Sejati Hanya di Dalam Yesus

Oleh Pesta Manurung, Pekanbaru

Jika ditanya apa yang menjadi sumber kebahagiaan kita? Tentu jawabannya bisa beragam. Ada yang menjawab sumber kebahagiaannya adalah memiliki tabungan berlimpah, rumah, mobil, pekerjaan tetap, anak-anak yang sehat dan pintar, bahkan pensiun di masa tua dengan pemasukan yang terus berjalan.

Baru-baru ini, aku menonton sebuah video yang berjudul “Adulterous Woman, The Life of Jesus.” Video ini diambil dari Injil Yohanes 8:1-11. Dalam video, terlihat kaum Farisi membawa seorang wanita yang ketahuan berzinah ke hadapan Yesus. Mereka berniat mencobai Yesus, dengan bertanya, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita yang telah berzinah ini? Musa berkata kalau ada orang yang ketahuan berzinah, maka akan dilempari dengan batu sampai mati.” Yesus menjawab, “Siapa di antara kamu yang tidak berdosa hendaklah dia yang melempar terlebih dahulu.” Satu persatu mereka menjatuhkan batunya dan pergi meninggalkan tempat itu.

Aku membayangkan si wanita yang hendak dihukum tentu sangat ketakutan. Hidupnya sedang terancam mengingat hukum yang berlaku pada masa itu, wanita yang kedapatan berbuat zinah akan dirajam sampai mati. Satu-satunya yang menentukan hidupnya adalah keputusan dari Yesus. Jawaban Yesus pun tak terduga, “Pergilah, Aku pun tidak akan menghukum engkau, jangan berbuat dosa lagi.”

Cerita dalam video ini sebenarnya mengisahkan hidup kita semua, meskipun dalam konteks ini secara khusus diceritakan wanita yang berdosa karena berzinah. Namun terlepas dari jenis dosa yang dilakukan oleh si wanita ini, bukankah kita semua berdosa?

Aku pernah berada di posisi seperti si wanita yang kedapatan berzinah itu. Tahun 2013, ketika aku duduk di bangku perkuliahan, aku menghadiri suatu ibadah di kampus. Firman yang aku nikmati saat itu berbicara bahwa sesungguhnya aku adalah manusia yang berdosa. Segala kebaikan yang aku lakukan tidak dapat menyelamatkanku. Aku harusnya dihukum karena segala keberdosaan yang telah aku lakukan. Tetapi saat itu aku mendengar ada Pribadi yang berbicara kepadaku, “Aku mengampuni dosa-dosamu. Aku menerimamu, kembalilah kepada-Ku. Hanya Aku yang berhak menghakimimu, dan Aku tidak akan menghukummu.” Aku meyakini bahwa Roh Kuduslah yang bekerja saat itu, sehingga aku bisa mendengarkan Tuhan berbicara kepadaku. Momen yang aku ingat sampai saat ini. Momen di mana aku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku.

Allah begitu mengasihi kita. Kendati kita berdosa, Dia tidak menghukum kita setimpal. Dia justru mengampuni kita. Bukankah kita berulang kali jatuh ke dalam dosa? Tidak terhitung berapa kali kita berdosa. Setiap kita berdosa, kita bisa mengingat perkataan Yesus kepada wanita tersebut, “Pergilah Aku tidak menghukum engkau.” Namun, ini bukan berarti kita diperbolehkan untuk jatuh berulang kali ke dalam dosa. Perkataan Yesus dengan wanita itu diakhiri dengan “Jangan berbuat dosa lagi!” Kalimat ini memberikan kita pengertian bagaimana Yesus mengharapkan kita untuk meninggalkan dosa kita.

Inilah yang menjadi kebahagiaan sejati bagi aku pribadi, mengetahui bahwa Dia yang berhak menghukum aku justru berkata, “Pergilah, Aku tidak menghukum engkau.” Artinya, Dia menerimaku di tengah keberdosaanku dan memaafkanku yang penuh dengan dosa ini.

Baca Juga:

Tuhan, Mengapa Engkau Mengirimku Ke Padang Gurun?

Di saat kebanyakan temanku diterima di kampus negeri, aku melanjutkannya di kampus swasta, dan di jurusan yang tak kusuka pula. Tuhan, kenapa aku harus ke tempat ini? Keluhku pada-Nya.

Dalam Penyesalan Sekalipun, Anugerah-Nya Memulihkan Kita

Oleh Meista Yuki Crisinta, Tangerang

Menjadi orang yang minder dan kurang percaya diri membuatku sering kesulitan saat membuat pilihan dalam hidup ini. Bukan hanya pilihan dalam ruang lingkup besar dan krusial, tapi juga pilihan ‘sepele’ dalam kehidupan sehari-hari. Semisal: aku harus pakai baju apa hari ini agar terlihat bagus? Aku harus naik transportasi apa supaya tidak terlambat sampai kantor dan tidak ditegur atasan? Jawaban apa yang harus kuberikan pada temanku yang sedang curhat tanpa harus menghakimi atau melukai hatinya?

Takut salah. Dua kata yang aku sadari benar-benar terjadi dalam membuat pilihan di hidupku sehari-hari. Aku takut salah mengambil langkah dan berujung pada kerugian, baik untuk diriku sendiri maupun orang lain. Aku takut menyesal. Bagiku, rasa penyesalan itu rasanya menyakitkan. Tidak enak.

Waktu SMA, aku pernah mengalami penyesalan dalam hal relasi pertemanan. Kondisinya saat itu kami sedang mengobrol biasa melalui pesan singkat, layaknya teman baik yang saling curhat terkait masalah masing-masing. Namun ada perkataan dariku—yang menurutku baik-baik saja—ternyata menyinggung perasaannya. Dia jadi salah paham dan akhirnya marah padaku. Komunikasi lewat pesan di layar ponsel merupakan bahasa yang tidak berbunyi, tidak menampilkan bahasa tubuh, tidak bisa mengekspresikan nada bicara yang sebenarnya sehingga sangat rentan untuk disalahartikan. Akibat tersinggung itu, dia menuliskan satu kata yang pada akhirnya membuatku juga ikutan tersinggung: munafik. Satu kata yang sungguh tajam melukai hatiku. Di situ aku bingung dan bertanya-tanya: Aku salah di mana, sih? Sejak saat itu pertemanan kami cukup merenggang. Kami tidak saling sapa lagi ketika bertemu di sekolah, bahkan sampai lulus SMA. Padahal sebelumnya kami adalah teman baik.

Masalah relasi tersebut akhirnya makin memperbesar rasa ‘takut salah’ itu sendiri. Aku makin kesulitan untuk bersikap dan berkata-kata pada orang lain. Aku terus-menerus bertanya pada diri sendiri: harus bersikap seperti apa? Kata-kata apa yang paling baik untuk diucapkan pada orang lain? Pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran ini pun pada saat yang sama memperbesar rasa minder dan kurang percaya diri itu sendiri. Bukan hanya dalam hal relasi, tapi dalam banyak aspek kehidupan. Aku jatuh pada penyesalan.

Lalu aku sempat berpikir: seandainya waktu dapat diulang kembali, aku akan memilih kata- kata lain yang lebih kecil kemungkinannya untuk menyinggung perasaannya. Di saat yang sama, dalam keegoisanku, aku sering juga membela diri dalam pembenaran: tapi aku kan tidak mengucapkan kata-kata kasar padanya. Kok dia tersinggung, sih? Sungguh pikiran yang kontradiktif karena aku pun bingung menentukan apakah yang kulakukan itu benar atau salah.

Dalam perenunganku menghadapi rasa sesal di masa lalu, di tengah penulisan ini aku diingatkan tentang penyesalan yang dialami raja Daud dalam Mazmur 32. Daud mengatakan:

“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran- pelanggaranku,” dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.”

Mungkin pengalaman menyesal yang kualami tidak seberat apa yang raja Daud alami. Namun aku belajar bahwa penyesalan pun ternyata bisa dibawa kepada Tuhan dan hanya dalam anugerah Allah saja kita bisa diselamatkan dan terbebas dari belenggu rasa bersalah. Aku sedih telah membuat teman baikku tersinggung dan sampai membuahkan relasi yang retak. Aku juga menyesal mengapa aku pada waktu itu tidak minta maaf duluan tanpa perlu membela diri melakukan pembenaran dengan alasan aku juga ikut tersinggung dengan kata-katanya. Namun, sepertinya dari peristiwa ini aku sedang diajari untuk tetap rendah hati, mau mengakui kesalahan, kelemahan dan kerentanan di hadapan Tuhan, dan menyerahkan relasi yang retak untuk Tuhan pulihkan. Aku juga belajar bahwa kedepannya, aku bisa meminta hikmat pada Tuhan dalam menentukan pilihan-pilihan yang bijaksana, termasuk pilihan dalam cara berkomunikasi atau menyampaikan pesan pada orang lain.

Cerita penyesalanku ini hanya satu dari sekian banyak penyesalan yang kualami akibat pilihan-pilihan bodoh yang kuambil di masa lalu. Namun aku juga ternyata punya pilihan untuk menjadikan masa laluku sebagai pengingat, bahwa Tuhan tak pernah tinggalkan aku dalam momen apapun; bahwa Tuhan tak pernah bosan untuk menungguku menyapa-Nya setiap hari dan menyerahkan segala masalah serta pergumulan dosaku pada-Nya; bahwa Tuhan memberikan kasih-Nya yang luar biasa dari atas kayu salib buatku supaya terbebas dari belenggu rasa bersalah; bahwa anugerah pengampunan-Nya benar-benar nyata dan terjadi.

Sekarang, dalam penyertaan Tuhan aku pelan-pelan belajar untuk mengikis rasa minder dan tidak percaya diri akibat rasa bersalah yang menghalangiku dalam membuat sebuah pilihan. Mengutip apa yang ditulis oleh David G. Benner dalam bukunya yang berjudul Surrender To Love bahwa “rasa bersalah selalu menghasilkan halangan bagi kasih” juga membuatku mengizinkan diriku untuk tenggelam dalam kasih karunia-Nya. Aku memberi diri untuk ditolong Tuhan dalam membereskan luka penyesalan di masa lalu supaya kini aku bisa melangkah maju ke depan bersama-Nya tanpa dibelenggu rasa penyesalan.

Grace alone. Hanya karena kasih karunia.

“Grace alone which God supplies

Strength unknown He will provide

Christ in us our corner stone

We will go forth in grace alone.”

(Grace Alone – Scott Wesley Brown, Jeff Nelson)

Baca Juga:

Tak Diabaikan-Nya Ratapan Kita

Kisah pertolongan Allah atas Israel mengingatkanku bahwa Allah sejatinya tidak mengabaikan ratapan umat-Nya. Namun, ratapan seperti apakah yang seharusnya kita lakukan ketika kita menghadapi penindasan atau penderitaan?