Posts

Menghadiahkan Penghiburan

Jumat, 9 Desember 2016

Menghadiahkan Penghiburan

Baca: Kisah Para Rasul 4:32-37; 9:26-27

4:32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.

4:33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.

4:34 Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa

4:35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

4:36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.

4:37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

9:26 Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid.

9:27 Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus.

Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, . . . menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul. —Kisah Para Rasul 4:36-37

Menghadiahkan Penghiburan

Sebuah lagu lama di Amerika pernah mengisahkan tentang seorang laki-laki yang diberhentikan dari pekerjaannya di pabrik, sehingga ia tidak lagi mempunyai uang untuk membelikan hadiah Natal bagi putri kecilnya. Masa Natal yang seharusnya membawa kebahagiaan justru membuat hidupnya tampak suram dan sulit.

Bisa saja menjelang Natal perasaan putus asa seseorang semakin menjadi-jadi. Harapan yang kandas membawa kesedihan mendalam. Di saat itulah penghiburan sangat dibutuhkan.

Yusuf dari Siprus adalah salah seorang pengikut Yesus yang mula-mula. Para rasul menyebutnya Barnabas, yang artinya “anak penghiburan”. Ia menjual ladang miliknya dan menyumbangkan uang hasil penjualannya untuk membantu saudara seiman lain yang sedang berkekurangan (Kis. 4:36-37).

Kemudian kita membaca bahwa para murid takut kepada Saulus (Kis. 9:26). “Tetapi Barnabas menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul” (ay.27). Saulus, yang kemudian bernama Paulus, pernah mencoba untuk membunuh orang percaya, tetapi ia diterima dan dibela Barnabas sebagai seseorang yang telah diubahkan oleh Kristus.

Di sekitar kita ada banyak orang yang membutuhkan penghiburan. Dorongan dan perhatian yang kita berikan lewat ucapan, panggilan telepon, atau doa akan dapat menguatkan iman mereka kepada Tuhan.

Kemurahan hati dan dukungan dari Barnabas menunjukkan artinya menjadi seseorang yang membawa penghiburan. Penghiburan dapat menjadi hadiah kita yang terbaik bagi seseorang pada Natal kali ini. —David McCasland

Tuhan, terima kasih untuk karunia penghiburan dari-Mu. Kiranya kami dapat menghibur sesama sebagaimana mereka telah menghibur kami.

Penghiburan bisa menjadi hadiah kita yang terbaik pada Natal kali ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 11-12; Yudas

Artikel Terkait:

Aku Mengalami Depresi dan Inilah yang Aku Ingin Kamu Tahu

Aku tidak pernah terpikir bahwa aku akan mengalami depresi. Aku pikir hanya orang lain saja yang mengalami depresi. Aku tidak mengerti apa itu depresi—sampai ketika aku mengalaminya.
Baca tulisan Wendy selengkapnya di dalam artikel berikut.

Bagaimana dengan Kamu?

Senin, 21 November 2016

Bagaimana dengan Kamu?

Baca: Efesus 4:25-32

4:25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.

4:28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.

4:31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

Hidup dan mati dikuasai lidah. —Amsal 18:21

Bagaimana dengan Kamu?

Emily mendengarkan perbincangan di antara teman-temannya tentang tradisi Hari Thanksgiving yang mereka lakukan bersama keluarga. “Kami bergiliran menceritakan apa yang membuat kami bersyukur kepada Allah,” kata Gary.

Seorang teman lainnya bercerita tentang kebiasaan makan dan berdoa bersama yang dilakukan keluarganya. Ia mengenang saat-saat bersama ayahnya sebelum meninggal: “Meskipun Ayah menderita demensia, doa ucapan syukurnya kepada Allah begitu jelas.” Randy berkata, “Keluargaku selalu punya waktu khusus untuk bernyanyi bersama pada masa liburan itu. Nenekku bisa terus-terusan bernyanyi!” Kesedihan dan kecemburuan mulai menghinggapi Emily saat ia memikirkan keluarganya sendiri. Emily mengeluh: “Tradisi keluarga kami hanyalah makan kalkun, menonton televisi, dan tak pernah berbicara tentang Tuhan atau mengucap syukur.”

Seketika Emily merasa tidak nyaman dengan sikapnya itu. Kamu adalah bagian dari keluarga itu. Apa yang akan kamu lakukan secara berbeda untuk mengubah kondisi itu? tanya Emily pada dirinya sendiri. Ia memutuskan untuk mengatakan secara pribadi pada setiap anggota keluarganya bahwa ia bersyukur kepada Tuhan karena memiliki mereka sebagai adik, keponakan, atau saudara. Ketika hari itu tiba, ia mengungkapkan rasa syukurnya atas mereka satu per satu, dan mereka semua merasakan begitu dikasihi. Hal itu tidak mudah karena percakapan itu tidak lazim terjadi di keluarganya, tetapi Emily mengalami sukacita ketika membagikan kasihnya pada setiap anggota keluarganya.

“Pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu,” tulis Paulus, “supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia [penguatan]” (Ef. 4:29). Ucapan syukur kita bisa mengingatkan orang lain akan betapa berharganya mereka bagi kita dan bagi Allah. —Anne Cetas

Ya Tuhan, tunjukkanlah kepadaku bagaimana aku bisa menguatkan orang lain lewat perkataanku.

Jiwa manusia dipenuhi dengan pengharapan ketika menerima sepatah kata yang menguatkan.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 16-17; Yakobus 3

Artikel Terkait:

Kritik Paling Menyakitkan

Pernah dihujani kritik yang membuat hati tersayat-sayat? Bukannya bikin kamu jadi semangat untuk maju, tapi justru bikin kamu ciut, kalut, dan tidak tau gimana seharusnya bersikap. Gawatnya lagi, itu datang dari orang yang dekat dengan kita. Gimana kamu menghadapinya? Temen kita Roxanne Robbins membagikan perenungannya dari pengalamannya.

Pemain ke-12

Rabu, 16 November 2016

Pemain ke-12

Baca: Ibrani 11:32-12:3

11:32 Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi,

11:33 yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa,

11:34 memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing.

11:35 Ibu-ibu telah menerima kembali orang-orangnya yang telah mati, sebab dibangkitkan. Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik.

11:36 Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan.

11:37 Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan.

11:38 Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung.

11:39 Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.

11:40 Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.

12:1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

12:2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

12:3 Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.

Marilah kita . . . berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. —Ibrani 12:1

Pemain ke-12

Sebuah papan penanda berukuran besar yang terpasang di stadion sepakbola milik A&M University di Texas mencantumkan tulisan, “Home of the 12th Man” (Kandang dari Pemain ke-12). Di atas lapangan, masing-masing regu yang bertanding akan menurunkan 11 pemain. Namun regu dari kampus A&M mempunyai Pemain ke-12, yaitu ribuan mahasiswa yang selalu hadir dan terus berdiri di sepanjang pertandingan untuk menyemangati mereka. Tradisi itu berawal pada tahun 1922 ketika pelatih tim tersebut memanggil seorang mahasiswa dari tempat duduk penonton untuk mengenakan seragam tanding dan bersiap menggantikan seorang pemain yang cedera. Meski mahasiswa cadangan itu tidak jadi turun ke lapangan dalam pertandingan tersebut, kesiapsediaannya di tepi lapangan sangatlah membesarkan hati rekan-rekan satu tim.

Ibrani 11 menjabarkan nama-nama pahlawan iman yang pernah menghadapi ujian-ujian besar dan tetap setia kepada Allah. Pasal 12 diawali dengan perkataan, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (ay.1).

Kita tidak sendirian dalam perjalanan iman kita. Para hamba Allah maupun orang-orang biasa yang telah hidup setia kepada Tuhan senantiasa menguatkan kita lewat teladan iman dan keberadaan mereka di surga. Mereka itu ibarat Pemain ke-12 yang secara spiritual menyemangati kita selama kita masih berlomba di dunia.

Ketika kita memandang kepada Tuhan Yesus, “yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (12:2), kita terus dikuatkan oleh semua orang yang pernah mengikut Dia. —David McCasland

Ya Tuhan, kiranya kami menyadari kehadiran umat-Mu yang kini di surga
menyemangati kami. Kuatkan kami untuk menekuni perlombaan iman hari ini.

Orang Kristen yang setia di masa lalu menguatkan kita di masa kini.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 3-4; Ibrani 11:20-40

Artikel Terkait:

Belajar dari Kesuksesan Teman-Temanku

Sejak kecil Lily Lin merasa beruntung karena memiliki teman-teman yang berotak cemerlang. Mereka terus mengukir prestasi yang bikin iri semua orang, baik saat bersekolah maupun saat mereka sudah bekerja. Lily banyak belajar dari kesuksesan teman-temannya tersebut. Apa saja yang dia pelajari? Yuk simak jawabannya di dalam artikel berikut.

Tetap Semangat

Minggu, 16 Oktober 2016

Tetap Semangat

Baca: 1 Tesalonika 4:1-12

4:1 Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi.

4:2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus.

4:3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,

4:4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan,

4:5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah,

4:6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu.

4:7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.

4:8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.

4:9 Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah.

4:10 Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya.

4:11 Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu,

4:12 sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.

Kami minta dan nasihatkan kamu . . . baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. —1 Tesalonika 4:1

Tetap Semangat

Putra saya suka membaca. Jika ia membaca lebih banyak buku daripada yang diwajibkan oleh sekolahnya, ia akan mendapatkan sertifikat penghargaan. Dorongan semacam itu memotivasinya untuk tetap bersemangat melakukan hal yang baik itu.

Ketika Paulus menulis surat untuk jemaat di Tesalonika, ia memotivasi mereka bukan dengan memberikan hadiah, melainkan dengan kata-kata yang menguatkan. Ia berkata, “Saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi” (1Tes. 4:1). Hidup orang Kristen di Tesalonika telah berkenan kepada Allah, dan Paulus menyemangati mereka untuk terus menjalani hidup bagi-Nya dengan lebih bersungguh-sungguh lagi.

Mungkin saat ini kamu dan saya telah melakukan yang terbaik untuk mengenal, mengasihi, dan menyenangkan Allah Bapa kita. Marilah kita menjadikan perkataan Paulus itu sebagai dorongan untuk terus bersemangat hidup bagi Tuhan.

Namun demikian, marilah kita maju selangkah lagi. Adakah seseorang yang dapat kita semangati dengan kata-kata Paulus tersebut? Apakah kamu teringat kepada seseorang yang selama ini tekun mengikut Tuhan dan selalu berusaha menyenangkan hati-Nya? Kamu dapat mengirimkan pesan singkat atau menghubungi orang tersebut untuk mendorongnya agar tetap bersemangat dalam perjalanan imannya bersama Tuhan. Mungkin saja, pesan atau ucapan kamu itu memang sedang mereka butuhkan agar mereka tetap kuat mengikut dan melayani Yesus. —Keila Ochoa

Ya Tuhan, aku bersyukur atas dorongan yang Engkau berikan melalui firman-Mu agar aku terus setia menjalani hidup ini bagi-Mu.

Hari ini, doronglah seseorang untuk terus menjalani hidupnya bagi Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 47-49; 1 Tesalonika 4

Artikel Terkait:

Kisah Mengharukan di Olimpiade Rio 2016

“Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tidak sengaja bertabrakan dengan seorang kompetitormu dalam sebuah pertandingan terpenting dalam hidupmu? Apakah kamu akan bangkit secepat mungkin dan berusaha untuk mengejar waktu yang terbuang? Ataukah kamu akan berhenti dan menolong kompetitormu untuk bangkit?”
Baca selengkapnya di dalam artikel ini.

Perkataan bagi yang Letih

Jumat, 23 September 2016

Perkataan bagi yang Letih

Baca: Yesaya 50:4-10

50:4 Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.

50:5 Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.

50:6 Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.

50:7 Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.

50:8 Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku berperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku!

50:9 Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah? Sesungguhnya, mereka semua akan memburuk seperti pakaian yang sudah usang; ngengat akan memakan mereka.

50:10 Siapa di antaramu yang takut akan TUHAN dan mendengarkan suara hamba-Nya? Jika ia hidup dalam kegelapan dan tidak ada cahaya bersinar baginya, baiklah ia percaya kepada nama TUHAN dan bersandar kepada Allahnya!

 

Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. —Yesaya 50:4

Perkataan bagi yang Letih

Beberapa hari setelah ayahnya meninggal dunia, C. S. Lewis yang saat itu berumur 30 tahun menerima sepucuk surat dari seorang wanita yang pernah merawat ibunya Lewis semasa sakit dan kematiannya lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Wanita tersebut mengungkapkan rasa bela sungkawanya dan bertanya apakah Lewis masih mengingatnya. “Suster Davison yang baik,” jawab Lewis. “Mengingatmu? Sudah tentu saya ingat.”

Lewis mengingat bagaimana kehadiran Suster Davison di rumah mereka sangat berarti baginya, saudaranya, dan ayahnya di tengah masa-masa sulit waktu itu. Lewis berterima kasih atas ungkapan bela sungkawa itu dan berkata, “Sungguh sangat melegakan dapat mengenang kembali masa-masa itu. Waktu saya masih kecil, saya merasa kamu selalu ada untuk menemani ibu saya dan kamu telah menjadi bagian dari keluarga kami.”

Ketika kita bergumul dalam beragam situasi kehidupan, perkataan orang lain yang menguatkan dapat membangkitkan semangat kita dan mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan. Nabi Yesaya dalam Perjanjian Lama menulis, “Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu” (50:4). Ketika kita memandang kepada Tuhan, Dia akan memberikan kata-kata pengharapan dan terang di tengah kegelapan. —David McCasland

Bapa Surgawi, kiranya hari ini aku dapat mendengar perkataan-Mu yang memberikan pengharapan. Dan tolonglah aku untuk mengucapkan penghiburan dan semangat kepada orang lain, dengan mengarahkan mereka kepada-Mu.

Perkataan yang manis dapat menguatkan hati yang berbeban berat.

Bacaan Alkitab Setahun: Kidung Agung 1-3; Galatia 2

Artikel Terkait:

Ketika Aku Iri dengan Teman Baikku

Pernahkah kamu iri dengan teman baikmu? Natalie pernah. Bagaimana kamu dapat mengatasinya? Baca kesaksian selengkapnya di dalam artikel berikut.

Kerentanan yang Terlihat

Rabu, 27 Juli 2016

Kerentanan yang Terlihat

Baca: Efesus 4:2-6

4:2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

4:3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

4:4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,

4:5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,

4:6 satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. —Efesus 4:2

Kerentanan yang Terlihat

Saat menjalani pemulihan beberapa Minggu setelah bahu saya dioperasi, hati saya merasa takut. Saya telah terbiasa memakai penyangga bahu, tetapi dokter dan terapis fisik mengatakan bahwa saya tidak perlu lagi memakainya. Pada saat itulah saya membaca pernyataan ini: “Pada tahap pemulihan, penyangga bahu tidak lagi diperlukan kecuali sebagai tanda kerentanan yang terlihat dalam situasi yang tak terkendali.”

Nah, benar sekali! Saya takut bertemu seseorang yang dengan penuh semangat memeluk saya atau seorang teman yang tidak mengetahui kondisi saya akan menyenggol saya dengan tidak sengaja. Penyangga bahu itu saya kenakan sebagai pelindung karena saya takut akan dilukai seseorang.

Memang membiarkan diri kita terlihat rentan dapat terasa menakutkan. Kita ingin dikasihi dan diterima apa adanya, tetapi kita takut, jangan-jangan ketika orang lain mengenal kita apa adanya, mereka justru akan menolak kita dan kita pun terluka. Bagaimana jika mereka jadi tahu bahwa kita ini kurang pintar . . . kurang baik . . . kurang pantas di mata mereka?

Namun sebagai anggota keluarga Allah, kita mempunyai tanggung jawab untuk saling menolong dalam pertumbuhan iman. Kita diminta untuk “saling mendorong dan saling menguatkan” (1Tes. 5:11 BIS), dan “sabar . . . [menunjukkan kasih] dalam hal saling membantu” (Ef. 4:2).

Ketika kita jujur dan membuka diri kepada saudara seiman kita, kita mungkin menemukan bahwa orang lain pun mengalami pergumulan serupa dalam melawan pencobaan atau belajar untuk hidup taat. Namun jauh melebihi itu semua, kita dapat saling bersaksi tentang keajaiban kasih karunia Allah yang dialami dalam hidup kita. —Cindy Hess Kasper

Ya Tuhan, sering rasa takut terluka menghalangiku untuk berterus terang tentang pergumulanku. Tolonglah aku untuk mengingat betapa Engkau mengasihiku, dan tolonglah aku untuk bisa sabar dan mengasihi sesamaku.

Berterus terang tentang pergumulan kita akan memampukan kita untuk menolong satu sama lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 43-45; Kisah Para Rasul 27:27-44

Artikel Terkait:

Saat Sahabat Tidak Sependapat

Saat sahabat tidak sependapat, apa yang dapat kita lakukan? Temukan kesaksian Olivia dalam artikel ini.

Romawi yang Indah

Minggu, 5 Juni 2016

Romawi yang Indah

Baca: Yohanes 17:1-5

17:1 Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: “Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau.

17:2 Sama seperti Engkau telah memberikan kepada-Nya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya.

17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.

17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar. —Yohanes 17:3

Romawi yang Indah

Kemegahan kekaisaran Romawi Romawi, melatarbelakangi peristiwa kelahiran Yesus. Pada tahun 27 sm, Kaisar Agustus, kaisar pertama Romawi, mengakhiri perang saudara yang telah berlangsung 200 tahun dan mulai membangun banyak monumen, kuil, gelanggang, dan kompleks pemerintahan di atas wilayah-wilayah yang terbengkalai. Menurut Plinius Tua, seorang sejarawan, semua itu merupakan “bangunan-bangunan terindah yang pernah ada di dunia”.

Namun, meskipun indah, kota Roma dan kekaisarannya menorehkan sejarah kekejaman yang terus berlangsung sampai pada masa Kejatuhannya. Ribuan budak, orang asing, kaum pemberontak, dan tentara yang membelot disalibkan pada tiang-tiang di pinggir jalan sebagai peringatan keras bagi siapa saja yang mencoba-coba menentang kekuasaan Romawi.

Maka alangkah ironisnya ketika kematian Yesus di atas kayu salib justru menyingkapkan suatu kemuliaan abadi yang membuat kemegahan Romawi terlihat begitu fana!

Adakah yang pernah membayangkan bahwa di dalam kutukan orang dan kesengsaraan penyaliban, kita menemukan kemuliaan abadi dari kasih, kehadiran, dan kerajaan Allah kita?

Adakah yang pernah menyangka bahwa suatu hari kelak, seluruh isi surga dan bumi akan bernyanyi, “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!” (Why. 5:12). —Mart DeHaan

Bapa di surga, tolonglah kami untuk mencerminkan hati-Mu yang rela berkorban bagi dunia. Kiranya kasih-Mu menjadi kasih kami, hidup-Mu menjadi hidup kami, dan kemuliaan-Mu menjadi sukacita kami yang kekal.

Anak Domba yang mati itu adalah Tuhan yang hidup!

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 23-24; Yohanes 15

Artikel Terkait:

Apakah Kekristenan Itu Hanyalah Sebuah Garansi “Bebas dari Neraka”?

Seorang Kristen hanya perlu percaya kepada Tuhan, dan kelak saat meninggal kita akan masuk surga, bukan neraka. Benarkah demikian? Bukankah kekristenan pada dasarnya adalah semacam asuransi kehidupan yang dampaknya baru akan kita rasakan suatu hari kelak setelah hidup kita di dunia ini berakhir? Temukan jawabannya dalam artikel ini.

Berbagi Pergumulan

Senin, 16 November 2015

Berbagi Pergumulan

Baca: Galatia 6:1-10

6:1 Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.

6:2 Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

6:3 Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.

6:4 Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.

6:5 Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.

6:6 Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.

6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

6:8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

6:10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. —Galatia 6:2

Berbagi Pergumulan

Tanggal 25 April 2015 adalah Peringatan Hari ANZAC ke-100. Peringatan itu dirayakan setiap tahunnya oleh Australia dan Selandia Baru untuk menghormati para anggota Kesatuan Angkatan Darat Australia dan Selandia Baru (ANZAC) yang berjuang bersama dalam Perang Dunia I. Kerja sama itu menandai suatu masa ketika masing-masing negara tersebut tidak perlu menghadapi kengerian perang itu sendirian, dan para tentara dari kedua negara itu turun tangan untuk berjuang bersama.

Berbagi pergumulan hidup merupakan sikap mendasar yang dituntut dari para pengikut Kristus dalam hidup mereka. Rasul Paulus menantang kita, “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (Gal. 6:2). Dengan bergandengan tangan dalam melewati berbagai tantangan hidup, kita dapat menolong untuk saling menguatkan dan mendukung satu sama lain di tengah masa-masa yang sulit. Melalui kepedulian dan kasih Kristus yang ditunjukkan kepada sesama, kesulitan-kesulitan hidup yang dialami sepatutnya mendekatkan kita kepada Kristus dan kepada satu sama lain—dan bukannya membuat kita terkucil sendirian di tengah penderitaan.

Sesungguhnya kita sedang meneladani kasih Kristus saat kita ikut merasakan pergumulan orang lain. Kita membaca dalam kitab Yesaya, “Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya” (Yes. 53:4). Sebesar apa pun pergumulan yang kita hadapi, kita takkan pernah menghadapinya sendirian. —Bill Crowder

Terima kasih, ya Bapa, karena aku tidak harus menjalani hidupku sendirian. Engkau sungguh dekat kepadaku.

Kita dapat berjalan lebih jauh bersama-sama daripada ketika berjalan sendiri.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 3-4; Ibrani 11:20-40

Perlombaan Johnny

Minggu, 7 Desember 2014

Perlombaan Johnny

Baca: Ibrani 10:19-25

10:19 Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,

10:20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,

10:21 dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.

10:22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.

10:23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.

10:24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.

10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah. —1 Tesalonika 5:11

Perlombaan Johnny

Ketika Johnny Agar yang berusia 19 tahun menyelesaikan perlombaan lari 5 km, ada banyak orang yang mendukungnya. Mereka adalah anggota keluarga dan para sahabat yang ikut berbahagia atas keberhasilannya.

Johnny adalah penderita cerebral palsy (gangguan pada perkembangan otak) yang membuatnya sulit beraktivitas secara fisik. Namun bersama ayahnya, Jeff, mereka bersatu untuk menyelesaikan banyak perlombaan—dengan Jeff biasanya mendorong kursi roda yang diduduki Johnny. Namun suatu hari, Johnny ingin menyelesaikan perlombaannya sendiri. Di pertengahan lomba, sang ayah mengeluarkan Johnny dari kursi rodanya, membantunya memakai alat bantu jalan, dan mendampingi Johnny yang kemudian menyelesaikan perlombaan itu dengan berjalan di atas kakinya sendiri. Keberhasilan itu membuat para sahabat dan keluarga begitu bergembira. “Aku lebih mudah melakukannya berkat dukungan mereka semua,” kata Johnny pada seorang wartawan. “Dorongan semangat mereka itulah yang menguatkanku.”

Bukankah itu yang seharusnya dilakukan para pengikut Kristus? Ibrani 10:24 mengingatkan kita, “Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.” Ketika kita meneladan kasih Juruselamat kita (Yoh. 13:34-35), alangkah luar biasanya pengaruh yang akan dialami apabila kita semua bertekad untuk menguatkan satu sama lain—ketika kita yakin bahwa sahabat-sahabat kita akan selalu mendukung di belakang kita. Ketika kita sungguh-sungguh menghayati perintah berikut, “nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah” (1Tes. 5:11), perlombaan hidup ini akan kita jalani bersama dengan lebih mudah. —JDB

Tolong kami, Tuhan, untuk tak berpikir dapat menjalani hidup ini
tanpa kehadiran orang lain. Jauhkan kami dari ketidakpedulian.
Pakailah kami untuk memberkati orang lain, dan rendahkanlah diri
kami untuk mau menerima dorongan semangat dari sesama.

Perkataan yang memberi semangat dapat mendorong orang yang putus asa untuk bangkit dan terus maju.