Posts

Jika Semuanya Mudah Kuraih

Oleh Jesica Rundupadang

Beberapa minggu terakhir ini, aku kadang berbicara dengan diriku sendiri. Aku kembali memikirkan segala sesuatu yang telah lewat. Aku berandai-andai… “Jika saja…”

“Jika saja, aku betul-betul mempergunakan waktu yang ada sebaik mungkin.”

“Jika saja, aku aku tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang terbuka lebar.”

“Tapi, jika saja aku tidak melewati proses ini.”

Ada begitu banyak pertanyaan di dalam benakku, tapi aku bersyukur dapat memikirkan hal ini bahkan di saat-saat aku juga senantiasa menanti dan berharap. Begitu banyak momen yang telah terlewat dan aku semakin hari semakin menaruh pengharapanku pada Kristus Yesus.

Jika seandainya saja aku langsung bisa mendapatkan pekerjaan yang kuinginkan setelah lulus kuliah. Aku berpikir jika semua berjalan mudah, kemungkinan besar aku akan sombong dengan membangga-banggakan diriku sendiri. Aku merasa aku dapat mencapai apa yang kumau. Karena jujur saja, setelah lulus SMP dan ingin masuk ke SMA favorit di kotaku, aku diterima dan yang tidak lulus terpaksa harus pergi mendaftar ke sekolah lain. Selepas itu, aku mendaftar di salah satu perguruan tinggi negeri, dan aku pun diterima jalur SBMPTN. Aku memudahkan segala hal, mengatakan dalam hati bahwa aku bisa mencapai semuanya bahkan tanpa usaha yang keras sekalipun.

Namun, kurasa Tuhan menegurku lewat proses yang kujalani saat ini. Aku yang awalnya berpikir mencari pekerjaan adalah hal yang mudah, semudah setiap penerimaan yang kudapat, ternyata tidak. Setelah lewat 1 tahun lebih, aku baru mendapatkan pekerjaan sebagai tenaga kontrak di sebuah instansi pemerintah dan pernah hampir menjadi karyawan pada sebuah perusahaan di Kalimantan, namun karena aku bersikeras tidak mau melanjutkan akhirnya aku pulang ke kotaku.

Dalam benakku, aku harus bisa mencari pekerjaan tanpa bantuan orang lain. Aku harus mandiri. Saat itulah, rekrutmen CPNS terbuka dan aku belajar dengan sungguh dan lolos hingga tahap SKB, meskipun rencana Tuhan berbeda dengan yang kuingini.

Sedih ada. Tapi diberi kesempatan sejauh itu, aku sangat bersyukur.

Di hari-hari penantian dan juga mencari pekerjaan, aku kembali mengenang masa-masa yang lampau. Jika saja Tuhan selalu meloloskanku untuk memenuhi keinginanku, aku tidak akan paham akan rasanya berjuang dengan sebaik mungkin, aku tidak akan paham akan rasanya penolakan, aku tidak akan paham akan rasanya kekecewaan. Karena dari rasa-rasa pahit inilah aku belajar untuk lebih berusaha dan sungguh menaruh pengharapan hanya kepada Yesus.

Meskipun saat ini aku belum mengerti akan sesuatu di balik ini semua. Satu yang kupercaya, tangan Tuhan yang membawaku sejauh ini, tidak akan meninggalkanku. Bahkan saat rasa khawatir mulai datang, ada bisikan dalam hatiku… “Tenang, semua indah pada waktu-Nya.”

Di tengah-tengah penantianku, aku tetap menyuarakan kepada kalian semua yang mungkin ada dalam masalah yang sama untuk terus berpegang teguh pada Tuhan. Aku juga ingin membagikan ayat firman yang tetap menguatkan, kiranya ini pun dapat menguatkan kalian.

Di balik setiap air matamu, Tuhan terus memprosesmu. Mungkin sekarang kamu hanya seekor ulat, besok akan jadi kupu-kupu. Setiap orang punya proses berbeda. Berhenti membandingkan dirimu dengan pencapaian orang lain.

Matius 6:26: “Lihatlah burung di udara. Mereka tidak menanam, tidak menuai, dan tidak juga mengumpulkan hasil tanamannya di dalam lumbung. Meskipun begitu Bapamu yang di surga memelihara mereka! Bukankah kalian jauh lebih berharga daripada burung?”

20 Tahun Menanti Jawaban Doa

Oleh Raganata Bramantyo

Saat aku masih berusia 9 tahunan, guru-guru sekolah Minggu di gerejaku selalu menasihatiku begini, “Doain papah terus ya, jangan nyerah.”

Di usiaku yang masih kecil dengan pikiran yang belum terbuka, aku menganggap sumber permasalahan dan keributan dalam keluargaku adalah sosok papaku. Setiap hari dia kerjanya marah-marah, memukuli mamaku, mengumpat kasar, berjudi, juga selingkuh dengan wanita lain. Saking seringnya aku melihat keburukan, aku hampir tak bisa melihat sisi baiknya, padahal ada momen-momen ketika papaku bersikap begitu manis dan baik.

Nasihat untuk mendoakan papa tak pernah kubantah. Setiap hari, sejak ingatanku mulai tumbuh aku selalu berdoa untuknya. Tapi, aku sendiri tak terlalu paham detail doanya. Perubahan seperti apa yang aku dambakan pada papa? Aku cuma ingin papaku seperti papa-papa lainnya, sosok papa yang tak cuma memberi nafkah keluarga, tapi juga memberi curahan kasih sayang dan bersikap lemah lembut.

Tahun demi tahun, aku beranjak menjadi remaja hingga dewasa dan mapan bekerja, tetapi perubahan yang kudambakan itu malah semakin jauh terwujud. Di tahun 2014 papaku akhirnya menikahi wanita lain dan merahasiakannya dariku, juga dari mamaku yang relasi dengannya sudah amat renggang tapi tak pernah secara resmi bercerai.

Memberi apa yang tak dimiliki

Kekalutan keluarga itu mendorongku untuk pergi menjauh. Selepas SMA, aku pergi merantau ke kota lain, tetapi di antara jarak jauh yang membentang itu Tuhan perlahan menumbuhkan benih-benih rekonsiliasi.

Aku masih tetap berdoa untuk papaku, memohon hal yang sama agar dia berubah, hingga suatu ketika aku mendapat kesempatan untuk pergi ke sebuah pulau kecil di Sumatra, tempat kelahiran papaku. Di sana, aku mengobrol dengan banyak kerabat dan mendapati cerita akan kelamnya masa lalu papaku. Cerita-cerita itu menohokku. Jika papaku sejak lahir berjibaku dengan kerasnya hidup, tak mengenal kasih Tuhan, dan tak pernah menerima kasih sayang berupa kata-kata manis dan sentuhan lembut, bagaimana dia dapat memberikannya buatku? Toh kita tak mungkin memberikan sesuatu yang tak kita punya.

Sejak saat itu, tumbuhlah sebuah pemahaman baru dalam hatiku akan papaku. Aku mengubah isi doaku. Bukan lagi meminta agar Tuhan mengubah papaku, tetapi aku memohon agar Tuhan mengubah hatiku untuk bisa memahami dan menerima perangai serta pribadi papaku. Doa itu kulanjutkan dengan tindakan meminta maaf. Melalui pesan SMS, aku tanya apa kabarnya dan kumintakan maaf. Pesan itu tak dijawab hangat. Mungkin dia gengsi. Tetapi, setahun dan dua tahun setelahnya, relasi antara ayah dan anak yang semula amat dingin dan kaku perlahan berubah. Setelah aku lulus dan kerja, aku sering pulang. Dalam setiap pulangku, papaku berkenan menjemputku dan setiap pertemuan jadi terasa akrab meskipun aku sendiri tak banyak tahu tentang kehidupan papaku sebenarnya, tentang di mana rumah barunya, siapa gerangan istri keduanya, bagaimana usaha dia, dan sebagainya. Yang kutahu dari cerita yang disampaikannya dengan singkat dan tertutup adalah dia mencoba membangun kehidupannya dengan iman dan lingkungan yang baru, bukan lagi iman Kristen. Aku mencoba menghormati keputusannya dengan tidak banyak melakukan interogasi.

Keakraban di ujung nafas

Meskipun aku merasa sudah cukup dekat dengan papaku, tetapi hatiku tetap merasa tidak puas. Dalam doaku kutambah lagi permohonan agar aku bisa mengenalnya lebih erat dan membawa papaku kembali pada Kristus.

Pada akhir Maret 2022, jantungku serasa berhenti ketika aku mendapat kabar bahwa papaku mengalami kecelakaan. Dia jatuh ke sungai saat berjalan kaki. Bonggol sendi antara paha dan panggulnya patah, namun di awal-awal kejadian dia menolak untuk dioperasi. Setelah dibiarkan tanpa pengobatan medis selama enam hari, kondisi fisik papaku semakin menurun hingga dia pun nyaris kehilangan kesadaran dan masuk ICU.

Mendapati kabar tragedi ini aku segera pulang menuju kota kelahiranku tengah malam. Saat paginya aku tiba di rumah sakit, betapa kaget aku melihat sosok wanita lain yang menjadi ibu tiriku. Mengetahui kalau aku pulang dan menunggui di rumah sakit, mama kandungku menentangku. Pikirnya, biarlah papaku dan keluarga barunya yang mengurusi semuanya, jangan aku.

“Mah, aku paham maksud hati mama bahwa mama tidak ingin aku direpotkan… tapi, aku mau merawat papaku. Bagiku gak ada istilah mantan anak dan bapak,” kutenangkan mamaku dengan argumen itu. Lalu tambahku, “Lagian, mama juga pasti pengen kan kalau papa bisa kenal Tuhan Yesus lagi? Kalau iya, siapa dong yang bisa kenalin Yesus ke papa kalau bukan aku, anaknya?”

Tiga hari pasca dirawat di ICU, papaku berhasil melewati masa kritisnya. Jam satu dini hari, bersama seorang suster kudorong ranjangnya menuju bangsal perawatan biasa. Lega hatiku, karena maut tak jadi menjemput. Hari-hari setelahnya operasi dilakukan dan keadaan papaku pun semakin baik. Selama dua belas hari di RS, aku benar-benar mengalami keakraban antara ayah dan anak yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Aku menyanyi bersamanya, mendoakannya, menyuapinya, bercanda, hingga membersihkan kotorannya.

Di malam kesekian, saat kesadaran papaku sedang prima, kutanya begini: “Pah, papa percaya gak kalau Tuhan Yesus menuntun dan memberkati langkah kita?”

“Iya, nak, papa percaya semua ini karena Tuhan baik,” jawabnya sambil memegang pundakku.

“Papa mau gak kembali lagi beriman sama Tuhan Yesus?”

Tak kuduga, jawaban papaku penuh semangat. “Iya! Papa mau beriman serius sama Yesus.”

Malam itu, kutuntun papaku dalam doa untuk mendeklarasikan iman percayanya. Papaku pun bernazar bahwa setelah sembuh dia akan menanggalkan cara hidupnya yang lama dan hidup serius bagi Tuhan.

Sukacitaku membuncah. Di hari ke-12, papaku akhirnya diperbolehkan pulang dan aku pun kembali ke kota perantauanku. Namun, sukacita itu tak berlangsung lama. Tak sampai 12 jam, papaku kembali masuk rumah sakit dengan kendala sulit buang air dan sesak nafas. Awalnya kupikir tidak ada yang serius, tetapi kenyataan berkata lain. Aku kembali pulang dan menemaninya di rumah sakit, sementara keadaannya semakin memburuk.

Hari ke-13 dan seterusnya, terjadi pendarahan hebat yang sungguh menyiksa papaku. Dalam sehari, puluhan kali darah segar mengalir dari anusnya. Dokter mendiagnosis ini sebagai kanker pada usus, namun betapa leganya kami setelah dilakukan endoskopi ternyata tak ditemukan adanya kanker.

“Ini mah disentri aja karena ususnya lecet,” ucapan dokter ini melegakanku.

Antibiotik diberikan dan selang tiga hari tak ada lagi pendarahan. Tapi… di hari ke 27 perawatan papaku di RS, pendarahan yang sempat terhenti itu terjadi lagi, malah lebih masif. Darah encer dan segar tak bisa berhenti mengalir. Sambil terisak, aku berlari ke ruangan suster dan meminta pertolongan segera. Dokter jaga melarikan papaku ke ICU dan sebelum ranjangnya dipindah, dia merintih kesakitan.

“Saya gak kuat lagi, gak kuat lagi…” ucapan ini menggetarkan hatiku. Papaku berulang kali menegaskan bahwa penyakit yang tak jelas ini begitu berat untuk ditanggungnya. Maka, meskipun aku sangat ingin melanjutkan kisah kasihku bersamanya, aku belajar untuk menerima kemungkinan melepasnya.

“Pah, jika memang sakit ini terlalu berat untuk dilalui dan papa mau berpulang, aku menerima keputusan ini. Di dalam Kristus, papa telah diampuni dan beroleh keselamatan sejati,” kubisikkan ucapan ini di telinga papaku sesaat sebelum dia koma.

Dua puluh empat jam kemudian menjadi pertarungan antara hidup dan mati. Setelah papaku dimasukkan ke ICU, kesadarannya hilang total. Di dalam tenggorokannya tertanam ventilator. Di lehernya tertusuk jarum infus. Kedua tangannya diikat. Yang bisa kulihat hanyalah denyut jantungnya pada monitor. Operasi pun dilakukan. Hasilnya sudah bisa ditebak: papaku tak mampu diselamatkan. Pada ususnya terjadi autoimun yang mengakibatkan seluruh dinding usus hancur, tak lagi bisa diselamatkan. Jikalaupun ada mukjizat untuk hidup, akan sangat sulit bagi papaku hidup tanpa usus besar.

Aku, jam tiga pagi, sendirian di ruangan ICU menerima kabar itu dengan kaki bergetar. Air mataku berderai. “Tuhan, mengapa secepat ini Engkau panggil papaku? Tidakkah aku diberikan kesempatan untuk mengasihinya lebih lagi di usianya yang enam dekade pun belum?”

Isakanku tak berjawab. Ia memantul di antara dinding-dinding rumah sakit yang dingin. Jelang sore hari, akhirnya nafas papaku pun terhenti sepenuhnya, dengan aku terduduk sayu di sampingnya, memegangi tangannya sembari mulutku tak henti-hentinya menyanyikan ratusan kidung pujian.

Sedih dan hancur hatiku. Aku bingung memaknai cara kerja Tuhan, tetapi ketika kantung air mataku mulai mengering, kurasakan ketenangan di jiwaku. Betapa 29 hari di rumah sakit ini Tuhan menjawab penantian doaku selama 20 tahun. Aku ingin keakraban, diberinya lebih dari sekadar akrab. Diberi-Nya rahmat yang tak berkesudahan, yang mengikat aku dan papaku dengan ikatan kasih yang tak terputuskan—kasih dari Kristus, Sang Ilahi yang telah mati bagi setiap orang berdosa. Sepanjang hari-hari ke belakang, terkhusus selama masa perawatan papaku, Tuhan telah menunjukkan jejak kasih-Nya, sekalipun itu tak menjawab keinginanku tetapi selalu mencukupi kebutuhanku.

Jika akhirnya papaku berpulang dalam keadaan telah memegang teguh imannya pada Kristus, bukankah itu sebuah kemenangan? Jika aku sebagai anak bisa mendapat kesempatan untuk senantiasa hadir di sisinya sampai ujung nafasnya, bukankah itu sebuah momen yang terlampau mahal? Jika segala kebutuhan finansial yang jumlahnya luar biasa besar ini bisa tercukupi dengan uluran tangan dari banyak sekali orang, bukankah itu bukti bahwa aku tidak sendirian?

Di hadapan peti jenazah papaku, kumenangis keras. Bukan sebagai tangisan kecewa, tetapi tangisan syukur betapa Tuhan menjawab doaku dan memulihkan papaku dengan pemulihan yang sejati.

Meskipun jawaban doa itu tidak terwujud pada tempat yang kudambakan, tetapi atas kasih setia dan rahmat-Nya, diberikan-Nya sesuatu yang jauh lebih baik dari harapanku. Jika aku sebagai manusia mendambakan perubah sikap, Tuhan Sang Ilahi dalam kedaulatan-Nya tak hanya mengubahkan sikap papaku menjadi lembut, tetapi juga meneguhkan jiwa dan rohnya untuk beroleh keselamatan kekal, tinggal damai bahagia dalam rumah Bapa Surgawi, pada sebuah tempat dan keadaan yang penuh damai sejahtera di mana tak akan ada lagi kesakitan, ratap, dan kertak gigi (Wahyu 21:4).

Hari ini, papaku telah menang atas segala sakit dan deritanya.

Cara Tuhan mengubah pandanganku adalah salah satu cara-Nya juga mengasihiku.

Terpujilah Tuhan, kini dan sepanjang segala masa.

“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Petrus 4:8).

Sikap Hati dalam Bergumul

Oleh Toar Taufik Inref Luwuk, Minahasa

Setiap orang pasti memiliki masalah, termasuk aku dan kamu. Sebagai orang percaya, kita menghadapi masalah dengan cara bergumul kepada Tuhan. Bergumul adalah proses mencari kehendak Tuhan dalam masalah yang sementara kita hadapi.

Biasanya pergumulan diawali dengan kebingungan, atau kadang juga perasaan dilematis dalam menentukan sesuatu. Contohnya: pergumulan pasangan hidup, atau memilih pekerjaan sebagai panggilan Allah. Dua topik ini biasanya jadi pergumulan yang paling sering muncul di hidup anak-anak muda. .

Tidak sedikit orang yang putus asa dalam menanti jawaban atas permasalahan yang ada dan tidak sedikit juga orang yang kecewa hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi, sama seperti pengalaman pribadiku.

Aku adalah seorang mahasiswa yang berada pada semester akhir. Teringat sewaktu masih semester 3 aku pernah menyukai seorang wanita yang ada dalam tim pelayanan bersama denganku. Aku pun beberapa kali coba untuk mendekatinya dan dia cukup memberikan respon yang baik terhadapku, sehingga aku memutuskan untuk “menggumuli” dia sebagai pasangan hidup. Baik, rendah hati, dan sama-sama mengerjakan visi Allah dalam pelayanan mahasiswa menjadi alasan mengapa memutuskan hal itu. Cukup lama dan serius aku mendoakan bagian itu bahkan hingga rela tidak mau dekat dengan wanita lain karena sangat mengharapkannya jadi pasangan hidup. Seiring berjalannya waktu aku tahu ternyata temanku juga menyukai dan mendekatinya. Tapi, karena sama-sama sudah dewasa, kami bertiga memutuskan untuk bertemu membicarakan hal ini. Alhasil ternyata temanku dan wanita itu sudah saling mendoakan yang berarti keduanya sudah saling menyukai. Kecewa dan sakit hati mendominasi perasaanku waktu itu.

Ini menandakan sikap hati juga penting dalam bergumul, kita terus berusaha mempersiapkan diri serta hati untuk hasil apapun, bahkan bisa jadi hal yang kita anggap paling buruk sekalipun. Pernyataan ini juga didukung oleh kutipan yang sempat aku baca di Facebook.

“Keberanian iman kita untuk berdoa meminta hal besar kepada Tuhan harus sejalan dengan kebesaran hati untuk menerima apapun keputusan Tuhan atas doa kita.” –Hammy Lasut

Andaikata ini adalah sebuah pertandingan berarti ada yang menang dan ada yang kalah. Bergumul berarti diri kita harus siap menang ataupun kalah. Tetap rendah hati jika menang, lapang dada jika kalah. Jangan sombong saat kita meraih kemenangan dan jangan putus asa saat menerima kekalahan. Dengan bergumul kita sudah memegang keyakinan bahwa sesungguhnya, yang memegang kendali dalam kehidupan kita adalah Allah yang Mahakuasa yang mengetahui mana terbaik bagi kita selaku umat-Nya.

Dalam bergumul, kualitas yang juga dibentuk adalah ketekunan dan sikap yang mau menyerahkan segala sesuatu kepada Allah. Membangun serta menjaga relasi yang intim dengan Allah adalah hal utama dan prinsip yang harus dipenuhi. Pergumulan yang bukan sekedar meminta jawaban akan tetapi juga disertai dengan pengenalan akan Allah.
Apapun hasilnya, keyakinan kita tetap pada satu pribadi yaitu Allah karena kita percaya sesuai janji-Nya Ia tidak akan pernah meninggalkan kita meskipun dalam kondisi yang sukar.

“Ketika kudengar berita ini, duduklah aku menangis dan berkabung selama beberapa hari. Aku berpuasa dan berdoa ke hadirat Allah semesta langit.” (Nehemia 1:4)

Ayat ini memperlihatkan suatu respon peduli dari Nehemia setelah mendengar berita yang menimpa bangsanya, Nehemia dengan perasaan dukacita yang mendalam, dia mengambil langkah awal sebagai murid Kristus yaitu dengan berdoa dan berpuasa kepada Allah.

Padahal di sisi lain Nehemia sendiri punya posisi yang penting dalam kerajaan, bahkan orang kepercayaan raja. Dengan jabatan dan kepercayaan tersebut bisa saja Nehemia langsung meminta pertolongan kepada raja untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi bangsanya, tapi karena Nehemia percaya dan meyakini bahwa satu-satunya yang pasti dan bisa diandalkan hanya Allah saja sebagai pribadi yang berdaulat atas kehidupannya dan kepada seluruh umat manusia. Inilah sikap yang telah diubahkan, orang yang telah mengenal Allah. Ketika kita benar-benar mengenal Allah jabatan penting sekalipun tidak akan membuat hati kita buta. Hati yang benar-benar tertuju pada Allah. Sikap yang patut diteladani dan harus kita miliki ketika bergumul.

Ketika Tuhan Memulihkan Keluargaku Lewat Covid-19

Oleh Mary Anita, Surabaya

Awalnya, kuharap pandemi Covid-19 yang telah terjadi lebih dari setahun ini tidak akan menimpa keluargaku. Tetapi, yang kuharapkan tak selalu sejalan dengan cara Tuhan. Ada kalanya Tuhan memakai hal yang paling tidak kita inginkan untuk mendatangkan kebaikan.

Cerita ini dimulai pada awal Mei. Seorang pendeta kenalan papa mengontak kami. Dia mengajak kami untuk berdoa puasa memohon pemulihan hubungan bagi keluarga kami. Sudah lebih dari 10 tahun kami mendoakan kakak laki-lakiku yang akrab kami panggil ‘koko’. Koko dulu begitu mencintai Tuhan, tetapi karena kecewa dalam pelayanan di gereja dan kepahitan pada papa sejak remaja, dia perlahan undur. Selama beberapa waktu, doa puasa kami berlangsung baik, tetapi kemudian tanda tanya pun menggantung. Kami tak kunjung melihat adanya pemulihan keluarga yang akan terjadi.

Bulan Juli, saat PPKM diberlakukan, rumah sakit di mana-mana membeludkan dan kabar dukacita datang silih berganti. Di momen itulah diketahui kalau empat orang dalam keluarga—termasuk koko—positif terinfeksi Covid-19, menyisakan aku dan papa saja yang negatif. Kata dokter, virus yang menjangkit ini adalah varian delta. Kami harus bergerak cepat, dari berburu tabung oksigen, menebus obat-obatan yang sudah langka di banyak apotek, hingga antre untuk mendapatkan kamar inap di rumah sakit.

Di dalam tekanan besar itu, aku tak lagi bisa berpikir jernih. Sebuah firman Tuhan yang kudapat dalam saat teduhku malam sebelumnya terlintas di pikiran:

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yesaya 41:10).

Firman itu kurenungkan berulang kali dan selalu menguatkan imanku, terutama dalam waktu-waktu genting. Tuhan menyentuh hatiku dengan kasih-Nya dan menolongku untuk menguasai diri, serta mengingatkanku untuk bersandar hanya pada-Nya, satu-satunya Pribadi yang bisa diandalkan.

Puji syukur, Tuhan perlahan menuntun jalan kami di waktu yang tepat. Kami mendapatkan kamar inap, tapi kenyataan pahit harus kami terima karena dari hasil pemeriksaan dokter, koko mengalami Pneumonia di paru-parunya. Koko membutuhkan plasma kovalesen ketika stok di PMI kosong. Aku menangis, sampai tak lagi bisa menangis karena kadar saturasi oksigennya terus turun ke angka 77 meskipun telah dibantu dengan ventilator.

Aku berdoa, “Tuhan, jujur aku belum siap untuk kehilangan koko. Aku memang memohon kesembuhan untuknya, tapi yang terpenting dari itu adalah berikan ia kesempatan untuk bertobat dan mempercayai-Mu sekali lagi, walau di akhir hidupnya.” Roh Kudus pun menolongku untuk melanjutkan doaku dan mengakhirinya dengan berserah seperti yang Yesus doakan pada Lukas 22:42, “…tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Ada rasa damai dan tenang dalam hatiku walaupun kami belum menemukan donor plasma. Dan, siapa sangka malam itu mukjizat terjadi. Seorang teman sepelayanan koko yang hampir satu dekade hilang kontak malahan tiba-tiba membantu memberi donor plasma. Perlahan keadaan koko mulai pulih dan dua minggu setelahnya dia dinyatakan sembuh. Tak berhenti di situ, sakit ini pun memberinya pengalaman pribadi dengan Tuhan yang kemudian membuatnya bertobat, mengampuni papa, dan kembali aktif digembalakan di gereja.

Peristiwa yang terjadi ini bak mimpi bagiku. Tuhan memulihkan kami tidak hanya melalui kesembuhan fisik, tetapi mengubah setiap pribadi kami sekeluarga untuk saling mengasihi satu sama lain, mengandalkan dan memprioritaskan Tuhan selagi hidup, dan mau menjadi perpanjangan tangan-Nya bagi orang lain sama seperti orang-orang yang telah menolong dan bermurah hati pada kami. Tuhan juga membuka mata kami bahwa semua itu terjadi semata karena kasih kemurahan Tuhan.

Kiranya kesaksian singkat ini boleh mengingatkanku selalu bahwa Tuhan selalu mendengar setiap doa dan Dia bekerja di balik layar untuk mendatangkan kebaikan bagi kita anak-anak-Nya. Amin.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).

Baca Juga:

4 Hal Istimewa dari Kisah Yesus dan Perempuan Samaria

Pertemuan Yesus dengan seorang perempuan Samaria bukan sekadar kisah obrolan biasa, ada 4 hal menarik yang bisa kita temukan dari kisah ini.

Doa: Sebuah Usaha Bergantung Pada Kebaikan Hati Bapa

Oleh Antonius Martono, Jakarta

Aku setuju dengan apa yang dikatakan Martyn Lloyd-Jones tentang doa. Hamba Tuhan tersebut mengatakan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan Kristen jauh lebih mudah dikerjakan daripada berdoa. Aku pun mengalaminya karena aku punya ribuan alasan untuk tidak berdoa.

Sebenarnya bercerita tentang doa bagiku sama seperti membuka sebuah aib, sebab aku adalah seorang pelayan Tuhan yang tidak gemar berdoa. Aku selalu merasa kesulitan untuk memulai dan bertahan dalam doa. Aku pun mulai merasa seperti orang munafik, mengajak orang lain untuk berdoa padahal aku sendiri kesulitan dalam berdoa. Sekalinya aku berdoa, isinya hanyalah permohonan dan itupun kulakukan saat situasi tidak dapat lagi kutangani.

Perasaan kurang rohani

Kesulitanku dalam berdoa membuatku merasa kurang rohani. Aku suka menepis perasaan ini dengan mengatakan bahwa aku adalah anak Tuhan. Aku dikasihi bukan karena seberapa rajinnya aku berdoa, melainkan karena pekerjaan Yesus di atas kayu salib. Memang hal itu benar adanya, tapi aku malah menjadikan itu sebagai sebuah pembenaran untuk lalai berdoa.

Hatiku juga semakin ciut jika melihat kehidupan doa teman-teman sepelayananku yang begitu hidup. Semakin sering aku melihat teman-temanku berdoa, maka semakin sering aku merasa ada yang salah dengan relasiku dengan Tuhan, khususnya dalam hal berdoa.

Aku pun mulai terdorong untuk mengubah kehidupan doaku. Aku mulai mencari tahu apa yang kurang dari kehidupan doaku. Selama ini aku mengira bahwa aku kurang jam doa dan disiplin. Walaupun itu mungkin benar, tapi ternyata aku kekurangan hal yang jauh lebih serius dari dua hal tersebut. Selama ini aku kurang mau bergantung pada Tuhan karena aku telah salah memahami Tuhan. Maka tak heran jika kehidupan doaku berjalan di tempat.

Sikap ini semakin berkembang ketika dulu doaku tidak dikabulkan Tuhan. Saat itu aku berdoa agar dapat diterima di salah satu SMA yang kuinginkan, tapi Tuhan tidak mengabulkannya. Kejadian tersebut terulang ketika aku ujian masuk perguruan tinggi negeri. Kembali Tuhan tidak mengabulkan doa sesuai dengan kehendakku. Di saat itu aku mengerti bahwa doa bukanlah sebuah tombol darurat pengontrol situasi.

Namun, kendati aku tahu doa bukanlah tombol darurat, aku malah menjadi ragu untuk berdoa. Aku takut mengalami kekecewaan kembali jika doaku tidak dikabulkan lagi. Aku lebih memilih bergantung pada diri sendiri dan menerima apapun situasi yang akan aku hadapi.

Salah paham tentang Tuhan

“Toh, Tuhan Mahatahu. Kalau Dia mau tolong pasti akan menolong. Kenapa harus serius berdoa? Semakin serius, malah semakin kecewa kalau tidak dikabulkan.”

Di sinilah letak kesalahpahamanku tentang Tuhan. Aku menilai kemurahan hati Tuhan hanya dari jawaban doa yang Dia berikan padaku. Jika Dia mengabulkan doaku maka Dia murah hati dan patut dipercaya, jika tidak dikabulkan maka lebih baik aku mempercayai diri sendiri saja.

Pandangan ini tidaklah tepat dan aku perlu mengubahnya sesuai dengan apa yang Alkitab katakan. Aku teringat akan sebuah bagian firman Tuhan dari Lukas 11:9-13 yang menolongku untuk mengenal Tuhan lebih baik lagi.

“Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Ada banyak alasan kita berdoa. Kita bisa berdoa karena digerakkan oleh perasaan bersalah, atau karena kewajiban semata. Bisa juga kita berdoa karena tidak lagi menemukan solusi lain untuk masalah kita. Namun, dari bagian ini aku belajar bahwa landasan kita berdoa adalah karena kemurahan hati dari Bapa di sorga.

Dia berjanji setiap doa akan didengarkan (Mazmur 116:1-2). Dia berjanji setiap yang meminta tidak akan pulang dengan tangan kosong. Dia tidak pernah menahan-nahan berkat-Nya jika itu memang yang terbaik untuk kita. Dia mau agar kita bergantung penuh dan percaya akan pemeliharaan-Nya.

“Aku mengasihi Tuhan, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohohanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya” (Mazmur 116:1-2).

Terkadang kita sendiri pun tidak tahu apa yang terbaik bagi kita. Kita berdoa meminta sesuatu pada Tuhan tapi, kita tidak benar-benar tahu apakah hal itu baik untuk kita. Namun, Bapa yang di sorga tahu apa yang terbaik bagi kita. Kita tidak perlu memaksakan kehendak doa kita sebab Bapa sudah memilah doa mana yang baik dan yang tidak baik untuk dikabulkan.

Jujur, mengetahui hal ini memotivasiku untuk berani berdoa. Sebab jika sekalipun aku salah berdoa, Bapa tidak akan mengabulkannya. Bahkan Dia akan mengajariku berdoa lewat Roh Kudus yang berdiam dalam hatiku .

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Roma 8:26).

Namun, doa bukanlah selalu tentang apakah keinginan kita terkabul atau tidak. Doa bukanlah sekadar cara untuk memperoleh sesuatu dari Tuhan, melainkan cara untuk memperoleh Tuhan sendiri. Doa adalah kerja keras bergantung kepada Tuhan sehingga kita dapat semakin mengenal dan menikmati pribadi-Nya.

Thomas Manton mengatakan bahwa doa adalah sebuah percakapan jiwa yang mengasihi Tuhan. Tindakan persahabatan dan persekutuan seharusnya dilakukan secara konstan dan sering. Jika kita mengasihi Tuhan, kita tidak bisa lama-lama jauh dari Tuhan, tetapi akan terus rindu bersama-Nya dan mencurahkan isi hati kita.

Saat merenungkan semua kebenaran di atas aku semakin sadar bahwa doa perlu kedisiplinan dan cinta kepada Tuhan. Ketika aku merasa baik-baik saja tanpa berdoa, sebenarnya solusinya bukan hanya sekedar menambah jadwal berdoa atau membulatkan tekad untuk rajin berdoa. Melainkan perlu kembali mengorientasikan ulang hati dan pikiranku menuju Tuhan. Jangan-jangan kasihku pada Tuhan saat itu sedang kritis.

Namun, aku juga setuju kita perlu disiplin dalam berdoa. Sehingga kita tidak perlu menunggu-nunggu hati kita untuk kembali berapi-api kepada Tuhan untuk memulai berdoa. Sebab terkadang ketika kita berdoa, Tuhan bisa memakai saat itu untuk mengobarkan kembali cinta kita pada-Nya. Jadi keduanya memang diperlukan baik disiplin ataupun cinta.

Pada akhirnya doa merupakan sebuah kerja keras. Mungkin justru karena itulah, lewat janji-Nya, Tuhan telah menyediakan upah melimpah bagi mereka yang mencari dan bergantung pada-Nya.

Baca Juga:

Dengan Berhenti, Maka Kamu Bisa Berjalan

Ketika relasi yang kami bangun akhirnya kandas, aku pun bertanya: mengapa Tuhan menghentikan langkahku?

4 Langkah untuk Mendoakan Temanmu

Oleh Sarah Tso
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 4 Ways to Pray God-Centered Prayers For Your Friends

Ketika berada dalam satu komunitas orang percaya, aku percaya tiada hal yang paling berkesan selain berdoa bersama. Tapi seringkali, ketika kita menjalani jadwal yang sibuk, kita mungkin tidak terpikir untuk mendoakan teman kita.

Di awal Januari lalu, aku ikut persekutuan bersama temanku. Kami menulis lagu dan mengakhirinya dengan berdoa. Namun, setelah persekutuan itu selesai aku malah merasa kecewa. Aku datang terlambat, dan kurasa aku jadi berdoa dengan terburu-buru. Padahal, seharusnya dalam doa itu aku bisa menaikkan doa yang berfokus pada Tuhan—menyoroti apa yang Tuhan ingin lakukan melalui temanku itu. Berkaca dari pengalaman itu dan pengalaman doa lainnya, aku berpikir bagaimana caranya berdoa dengan lebih efektif, doa yang bersifat Allah-sentris (berpusat pada Allah) bagi teman-temanku.

Beberapa hari kemudian, di reading-plan aku menemukan ayat dari 2 Timotius. Paulus menuliskan doa dan penguatan untuk Timotius dari ayat 3 sampai 7 yang isinya berfokus pada Tuhan:

Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

Dalam doanya, Paulus pertama-tama mengucap syukur pada Allah (ayat 3), mengingat pergumulan Timotius (ayat 4), mendoakan dengan spesifik atas situasi yang Timotius sedang hadapi (ayat 6), dan mengingatkan Timotius akan janji dan pemeliharaan Allah. Kata-kata Paulus terasa meyakinkan sekaligus juga hangat.

Berdasarkan bacaan itu, aku menemukan empat cara kita bisa mendoakan teman kita dengan lebih baik—meletakkan fokus doa kita kepada Allah, bukan pada kata-kata dan hikmat kita sendiri.

1. Ambil waktu untuk memahami pokok doa mereka

Paulus bisa berdoa secara spesifik buat Timotius karena pertemanan dan komunikasi yang mereka jalin, yang terus berlanjut meskipun Paulus mendekam di penjara. Hal ini menunjukkan ketika kita membagikan apa yang jadi pokok doa kita, itu dapat menolong orang lain untuk mendoakan kita dengan lebih spesifik.

Memang lebih mudah untuk berdoa secara ‘default’, alias doa-doa rutin yang tanpa sadar seperti sudah jadi template bagi kita. Semisal, doa sebelum makan. Namun, doa seperti itu bisa jadi tidak relevan untuk mendoakan kebutuhan teman kita yang spesifik. Adalah baik jika memungkinkan untuk kita mendengar lebih dulu cerita dari teman kita terkait apa yang jadi pokok doanya. Ini beberapa pertanyaan untuk memulai:

  • Apa yang bisa aku doakan buatmu?
  • Apa yang kamu pikirkan atau khawatirkan belakangan ini? Dan bagaimana caramu menyerahkan semua ini pada Tuhan?

Setelah mendapat jawaban temanku, aku akan menuliskannya entah di kertas atau di HP, sehingga kami punya catatan tentang pokok doa kami. Kelak ketika doa-doa itu terjawab, dokumentasi ini menolong kita untuk melihat kembali pertolongan Allah dan tentunya membuat kita bersyukur.

2. Akuilah Tuhan dan mintalah hikmat-Nya

Paulus membuka doanya untuk Timotius dengan mengucap syukur. Betapa menakjubkannya Tuhan kita yang dalam segala kebesaran-Nya menerima setiap doa-doa kita melalui Yesus (Ibrani 4:14-15), dan Dia pun selalu menyediakan anugerah dan belas kasih bagi kita (4:16).

Inilah beberapa doa sederhana yang bisa menolongmu untuk menempatkan Tuhan sebagai pusat doamu:

  • “Tuhan, berbicaralah melalui aku. Apa yang ingin Engkau katakan untuk temanku melalui aku?” Memberi jeda sejenak setelah berdoa menolong kita untuk berdoa secara dengan lebih luwes.
  • “Tuhan, kiranya apa yang jadi kerinduan hati-Mu untuk temanku juga dapat kurasakan.”
  • “Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mengasihi dan menyelamatkan kami. Terima kasih Engkau selalu mendengarkan kami dan tahu apa yang hendak kami ucapkan. Karena kasih-Mu, Engkau pun mengerti apa yang jadi pokok doa kami. Kami percaya di dalam kuasa-Mu, Engkau akan menjawab doa kami seturut hikmat dan waktu-Mu.”

Ketika aku menyerahkan doa-doaku pada Tuhan, Dia menolongku juga untuk berdoa sesuai kehendak-Nya (Roma 8:27).

3. Carilah firman Tuhan

Ketika Paulus berdoa agar Timotius mengobarkan kasih karunia Allah, itu mengingatkanku akan apa yang Alkitab katakan tentang Roh Kudus yang digambarkan seperti api (Matius 3:11). Mungkin Paulus sedang mengucapkan kembali firman Tuhan dalam doanya.

  • Kita bisa membaca Alkitab lebih dulu sebelum berdoa.
    Menuliskan atau menemukan ayat-ayat rujukan dari Alkitab akan lebih menolong kita.

    Inilah beberapa ayat yang sering kugunakan:

    Efesus 6 untuk perlindungan spiritual
    Filipi 4 untuk pikiran yang saleh
    Roma 8 untuk melawan rasa bersalah, malu, dan perasaan tidak berharga
    Mazmur juga menyediakan contoh-contoh doa yang baik. Alkitab akan selalu mengingatkan kita akan kebaikan Tuhan dan bagaimana Dia menjagai iman kita. Kita dapat mendeklarasikan janji-janji Tuhan dengan yakin atas teman kita.

  • Bergabunglah atau mulailah komunitas doa.
    Menghadiri persekutuan doa di gereja atau mengajak sesama teman untuk saling mendoakan adalah awal yang baik. Beberapa orang menganggap doa itu ibarat otot yang akan semakin kuat ketika kita sering melatihnya.


4. Dengar-dengaranlah akan bisikan Tuhan dan bersyukurlah atas doa-doa yang dijawab

Terakhir, jika ada sesuatu yang Tuhan letakkan dalam hatimu untuk kamu sampaikan pada temanmu, lakukanlah. Temanmu akan merasa tertolong untuk melangkah di jalan yang tepat. Kamu bisa mendorong mereka untuk menemukan pertolongan dari orang yang profesional, merekomendasikan bacaan atau konten lainnya yang berguna buat dia, atau sesederhana mengingatkan mereka akan janji Tuhan.

Kadang ketika kita mendoakan teman kita, Tuhan menggunakan diri kita sendiri sebagai bagian dari jawaban-Nya. Jadi, janganlah kita mengabaikan bisikan Tuhan dan tetaplah mendoakan teman kita. Tanyakan apakah mereka butuh untuk ditolong lebih lanjut dan seberapa sering, karena masing-masing kita punya cara sendiri-sendiri untuk menerima kasih dan dukungan dari saudara seiman.

Terakhir, ingatlah untuk berbagi sukacita atas tiap doa yang dijawab. Lihatlah kembali catatan doamu dan ingatlah bagaimana Tuhan bekerja. Bersukacita dan mengucap syukur adalah hal yang berkenan bagi Dia—seperti kisah seorang kusta yang disembuhkan oleh Tuhan (Lukas 17:7-18).

Kembali ke malam sepulang dari persekutuan, aku bersyukur karena saat di perjalanan pulang aku teringat untuk berdoa, “Tuhan, kiranya apa yang jadi kerinduan-Mu buat temanku itu jadi kerinduanku juga.” Roh Kudus seolah memberiku inspirasi kata-kata di pikiranku, lalu kukirim chat kepada temanku itu tentang apa yang kurasa Tuhan ingin katakan padanya, dan dia berkata kalau doa yang kuucapkan itu pas dengan keadaan yang memang sedang dia hadapi. Setelah itu, kurasa kedamaian memenuhi hatiku.

Doa adalah disiplin rohani sepanjang waktu. Sangat penting untuk berdoa dalam komunitas, agar kita bisa saling mendukung satu sama lain sepanjang waktu. Dalam perjalananku sendiri, aku mendapati sungguh berharga apabila kita bisa saling mendoakan, menaikkan apa yang jadi kebutuhan kita bersama-sama kepada Allah yang mendengar dan menjawab kita.

Menjadikan Allah sebagai pusat dari doa-doa kita sebagai resolusi kita di sisa tahun ini, mengapa tidak? Saat kita makin sering mengizinkan diri dipakai Tuhan untuk menyampaikan isi hati-Nya bagi orang lain, kita akan berdoa lebih giat daripada sebelumnya, dan lihatlah iman kita bertumbuh melampaui ekspektasi kita.

Baca Juga:

Jurnal Doa

Kita tahu berdoa itu penting, tetapi ada kalanya kita merasa jenuh untuk berdoa. Kita ingin berdoa, tapi kita bosan melakukannya. Salah satu sebabnya mungkin karena cara doa kita yang tidak pernah berubah.

Jurnal Doa

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Doa ibarat nafas hidup bagi orang Kristen. Kalimat ini mungkin terdengar tidak asing di telinga kita, bahwa orang Kristen harus berdoa. Bahkan sejak kecil, pesan untuk berdoa sudah disampaikan, baik oleh orang tua maupun guru sekolah Minggu. Belum lagi para hamba Tuhan di gereja yang terus mengingatkan kita untuk berdoa.

Kita tahu berdoa itu penting, tetapi ada kalanya kita merasa jenuh untuk berdoa. Kita ingin berdoa, tapi kita bosan melakukannya. Salah satu sebabnya mungkin karena cara doa kita yang tidak pernah berubah. Kita selalu memakai cara yang sama sehingga berdoa hanyalah sebatas rutinitas saja.

Ada banyak cara berdoa yang bisa kita jelajahi, yang sudah dikenal dan mungkin paling sering kita lakukan adalah berdoa dengan berbicara langsung pada Tuhan. Kita memejamkan mata lalu mengucapkan doa dalam hati maupun bersuara. Cara lain adalah dengan menyanyikan doa seperti yang dilakukan para pemazmur, misalnya menaikkan lagu ‘Tuhan adalah Gembalaku’ dari Mazmur 23. Variasi cara lain adalah kita dapat bergabung dalam persekutuan doa sehingga kita dapat berdoa bersama teman-teman lain.

Nah, dari cara-cara itu, ada cara lain yang mungkin terdengar tidak biasa dan jarang dilakukan, yaitu menuliskan doa. Ada yang menyebut cara ini sebagai jurnal doa. Atau bisa juga disebut sebagai prayer diary, atau sebutan lainnya.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan jurnal doa itu?

Jika teman-teman pernah menuliskan jurnal harian, maka jurnal doa itu mirip-mirip kok. Biasanya dimulai dengan menulis tanggal lalu kita menulis isi doa kita.

Apa isi jurnal doa?

Isi jurnal doa boleh apa saja. Mulai dari mencurahkan perasaan yang sedang kita alami, permohonan kita, pengucapan syukur, memuji Tuhan, atau yang lainnya. Isi jurnal doa sama seperti ketika kita berdoa, hanya dituliskan saja. Misalnya:

12 Juli.

Tuhan yang baik (atau panggilan yang biasanya ditujukan kepada Tuhan)
Hari ini aku merasa sedih. Tadi pagi papa memarahiku karena aku terlambat bangun dari biasanya. Padahal hal itu disebabkan karena sepanjang malam aku harus menyelesaikan tugas kuliah. Tetapi papa tidak memberikan kesempatan bagiku untuk menjelaskannya. Tuhan, aku merasa kesal dan marah, sekaligus sedih. Tolong aku, Tuhan, untuk menjelaskan kepada papa apa yang terjadi. Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amin.

Berapa panjangnya?

Tidak ada ketentuan khusus untuk panjangnya tulisan dalam jurnal doa. Jika kita ingin menulis sepanjang satu halaman karena mungkin pada hari itu ada banyak hal yang ingin kita sampaikan kepada Tuhan, maka dipersilakan saja. Tetapi ada kalanya kita tidak tahu harus bicara apa kepada Tuhan karena kondisi atau suasana hati yang tidak enak, maka menulis hanya satu kalimat pun tidak masalah. Misalnya:

13 Juli
Tuhan, aku merasa bingung dengan apa yang terjadi hari ini. Amin.

Apakah harus menulis setiap hari?

Tidak harus, karena jurnal doa hanyalah salah satu cara kita berdoa kepada Tuhan, maka kita diberi kebebasan untuk melakukannya. Hanya, semakin sering kita menulis maka kita akan semakin terbiasa.

Jika tidak bisa menulis, bagaimana?

Salah satu keunikan sekaligus kesulitan dalam jurnal doa memang ada dalam hal menulis. Bagi teman-teman yang tidak terbiasa menulis, mungkin menulis jurnal doa adalah cara yang sulit dilakukan. Tetapi cara ini boleh tetap dicoba, karena sebenarnya mengasyikkan.

Ketika kita menulis, kita melatih otak kita untuk berpikir lebih terstruktur dan sistematis. Berbeda dengan bicara yang biasanya berlangsung spontan, menulis membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir, atau juga merenung.

Apa manfaatnya menulis jurnal doa?

Di zaman ketika kita lebih terbiasa menyaksikan tayangan audio-video, menulis bisa jadi terkesan kuno dan ribet. Tetapi, menulis jurnal doa bisa memberikan beberapa manfaat buat kita, seperti mengatasi kejenuhan kita dalam berdoa sekaligus juga mengasah kemampuan menulis kita.

Doa-doa yang kita tulis menolong kita untuk tidak lupa akan pergumulan yang sedang kita hadapi hari itu. Kelak di masa depan, saat kita melihat kembali jurnal itu, iman kita akan dikuatkan karena kita melihat pertolongan dan jawaban Tuhan atas doa-doa yang kita naikkan.

Menulisnya di mana?

Kita bisa menulis di mana saja yang kita suka. Di buku tulis biasa, maupun buku tulis khusus, atau pada aplikasi note yang tersedia di gawai kita masing-masing. Kita bebas memilih media yang paling nyaman untuk kita masing-masing.

Jadi, mengapa kita tidak mencoba untuk menuliskan doa? Yuk, kita mencobanya. Siapa tahu cara ini dapat menambah keasyikan kita untuk berdoa, dan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan.

Baca Juga:

2 Hal yang Perlu Kita Pahami Saat Berdoa

Jika ada doa yang dijawab dan tidak, lantas, bagaimana isi doa yang berkenan kepada Tuhan sehingga kita dapat selalu bersukacita di dalam-Nya walaupun Dia tidak menjawab doa-doa kita?

2 Hal yang Perlu Kita Pahami Saat Berdoa

Oleh Yosheph Yang, Korea Selatan

“Tuhan, jika Engkau berkenan, tembuskanlah pendaftaranku sebagai dosen tetap di universitas tersebut.”

Begitulah kurang lebih isi doaku setiap hari, memohon agar aku diterima menjadi dosen tetap. Setelah kurang lebih satu bulan aku mengirimkan lamaran, aku dinyatakan tidak lolos dalam seleksi dokumen. Aku berpikir: apakah ada yang salah dengan isi doaku sehingga Tuhan tidak menjawab doaku?

Apakah ada yang salah dengan isi doaku? Pertanyaan seperti ini gampang masuk ke pikiranku ketika doa-doaku tidak dijawab oleh Tuhan. Jika ada doa yang dijawab dan tidak, lantas, bagaimana isi doa yang berkenan kepada Tuhan sehingga aku dapat selalu bersukacita di dalam-Nya walaupun Dia tidak menjawab doa-doaku?

Melalui persekutuan bersama mentor rohaniku, aku diajarkan akan beberapa hal yang sering dilupakan ketika aku meminta sesuatu kepada Tuhan di dalam doa. Hal-hal inilah yang aku akan bagikan kepada teman-teman sekalian.

1. Kita berdoa bukan hanya untuk meminta sesuatu pada Tuhan, tapi juga meminta-Nya mengubah hati kita, agar kita bisa menerima sepenuhnya kehendak-Nya

Walaupun aku tahu bahwa Tuhan berdaulat penuh atas hidupku, acap kali aku tidak berdoa agar Tuhan mengubah hatiku supaya aku bisa menerima apa pun pemberian-Nya. Malahan, isi-isi doaku kebanyakan diisi dengan banyak permintaan, terutama yang berkaitan dengan masa depan pekerjaanku.

Kita boleh meminta sesuatu dalam doa, tetapi kita juga tidak boleh lupa ada hal yang perlu kita sampaikan dalam doa. Mentor rohaniku selalu mengajariku untuk berdoa agar Tuhan memberikan kedamaian atas hasil apa pun yang diberikan-Nya. Ia memberikan contoh tentang Tuhan Yesus yang berdoa di taman Getsemani (Matius 26:36-46, Markus 14:32-42, Lukas 22:39-46). Tuhan Yesus memang berdoa meminta kepada Allah Bapa untuk mengambil cawan dari pada-Nya, tetapi Dia juga berdoa agar kehendak Allah Bapa yang tergenapi di dalam kehidupan-Nya. Walaupun Allah Bapa tidak mengambil cawan itu, Allah Bapa memberikan kekuatan kepada Yesus terhadap penderitaan yang akan dialami-Nya. Kita tahu dengan jelas bahwa ada rencana Allah mengenai keselamatan semua orang melalui penyaliban Yesus.

Lukas 22:42-43
Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.

Isi doa Tuhan Yesus di taman Getsemani mengajariku betapa pentingnya iman di dalam doa. Iman yang benar tidak hanya percaya bahwa Tuhan sanggup mengabulkan doa-doa kita, tetapi Tuhan juga berkuasa sepenuhnya atas kehidupan kita. Ketakutan yang dialami Tuhan Yesus menjelang penyaliban di kayu salib membuat-Nya lebih bersungguh-sungguh berdoa (Lukas 22:44).

Ketika kita berdoa kepada Tuhan untuk memberikan kita kekuatan terhadap ketakutan, kelemahan, dan kekhawatiran di dalam kehidupan, kita akan bertumbuh di dalam iman kita kepada-Nya. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan akan membuat kita mengalami apa makna sesungguhnya kasih karunia Tuhan di dalam kehidupan kita. Paulus yang menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan tahu dengan jelas makna hidup di bawah kasih karunia Tuhan.

2 Korintus 12:8-9
Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.

Terhadap pengajaran yang aku terima dari mentorku, aku berusaha mengaplikasikannya di kehidupanku dengan berdoa agar aku selalu bisa bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepadaku dan tidak membandingkan diriku dengan orang lain di sekitarku.

2. Kita berdoa bukan hanya untuk hal-hal besar, tetapi juga mencurahkan segala isi hati kita kepada Tuhan

Orang percaya yang benar-benar berserah kepada Tuhan selalu menceritakan kepada Tuhan segala pergumulan di dalam hatinya. Ia berterus terang tentang apa isi hatinya dan mencurahkan segala pikirannya kepada Tuhan (Mazmur 62:9).

Filipi 4:6-7
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Perkataan “segala hal” di Filipi 4:6-7 dengan jelas mengajar kita untuk mengucapkan kepada Tuhan apa pun yang kita khawatirkan—dari hal-hal yang terkecil sampai yang terbesar di dalam kehidupan kita. Ketika kita terbiasa berdoa dari hal-hal terkecil, banyak hal dapat kita alami di dalam kehidupan kita. Kita bertumbuh di dalam iman, dan kita akan bergantung lebih pada-Nya. Amsal 3:5-6 menasihati kita untuk mengakui Dia dalam segala langkah kita. Melibatkan Tuhan dalam urusan-urusan kecil dalam hidup kita akan menolong kita untuk tidak bersandarkan pada pengertian kita sendiri. Kita akan lebih memahami makna sesungguhnya dari ‘aku ada saat ini karena kasih karunia Tuhan, dan tanpa Tuhan aku bukan apa-apa’ (1 Korintus 15:10).

Doa adalah bentuk kita berkomunikasi bersama Tuhan. Dengan membiasakan diri berdoa dari hal-hal kecil, kita membangun interaksi yang erat bersama Tuhan. Seiring dengan kita bertumbuh di dalam kehidupan doa, kita akan mampu memprioritaskan Tuhan sebagai yang paling penting di dalam kehidupan kita.

Tuhan Yesus selalu memprioritaskan hubungan-Nya bersama Allah Bapa melalui doa. Ketika Tuhan Yesus akan memilih dua belas rasul, Ia berdoa semalaman kepada Allah Bapa (Lukas 6:12-13). Apa yang di doakan Yesus selama Ia berdoa semalaman kepada Allah Bapa?
Pemilihan dua belas rasul adalah salah satu hal penting di dalam pelayanan Kristus di dunia. Ketika Yesus berdoa semalaman, walaupun tidak tertulis secara eksplisit di Alkitab, aku percaya bahwa Yesus mencurahkan segala isi hati-Nya kepada Allah Bapa dan berusaha memilih rasul berdasarkan kehendak Allah Bapa.

Apakah kita mau mencurahkan segala isi hati kita dan berdoa kepada Tuhan untuk bisa membedakan kehendak Tuhan di dalam kehidupan kita?

Lukas 6:12-13
Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul.

Kekhawatiranku terhadap pekerjaan dan masa depanku sering membuatku lupa untuk melihat hal-hal kecil yang terjadi di kehidupanku sehari-hari. Melalui pembelajaran yang aku terima, aku berusaha untuk menyelidiki bagaimana isi hatiku sehari-hari dan menuangkan semuanya di hadapan Tuhan. Keluhan-keluhan seperti urusan administrasi sekolah, interaksi dengan mahasiswa, penelitian yang tidak berjalan mulus aku berusaha membawa semuanya kepada Tuhan di dalam doa.

Sebagai penutup, walaupun kita tahu apa isi doa yang berkenan kepada Tuhan, kehidupan doa kita tidak akan bertumbuh kalau tidak melatih diri kita untuk berdoa. Kita bisa memulainya dengan menentukan terlebih dahulu waktu yang sesuai untuk berdoa dan selalu memohon kepada Tuhan untuk memberikan kita semangat untuk tetap berdoa.

Andrew Murray dalam bukunya tentang doa menulis, “Tanpa pengaturan waktu doa, semangat berdoa akan tumpul dan lemah. Tanpa doa yang terus-menerus, waktu doa yang ditentukan tidak akan berhasil.”

Aku berharap dan berdoa aku dan teman-teman selalu bertumbuh di dalam kehidupan doa. Tetaplah berdoa (1 Tesalonika 5:17).

Baca Juga:

Tentang Doa yang Tidak Terkabul: Apakah Kita Kurang Sungguh Berdoa?

Seseorang telah gigih berdoa, tapi jawaban doanya tidak sesuai harapannya. Padahal, Alkitab bilang bila doa orang benar itu besar kuasanya. Apa yang bisa kita gali dari fenomena ini?

Tentang Doa yang Tidak Terkabul: Apakah Kita Kurang Sungguh Berdoa?

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Ada seseorang yang telah berdoa dengan bersungguh-sungguh dan meneteskan banyak sekali air mata. Dia berseru kepada Tuhan bagai pengemis kurus kelaparan yang sedang meminta-meminta, memohon belas kasihan dari Tuhan yang kuasanya tak terbatas.

Namun, sayang sekali, kegigihannya berdoa itu tidak memberikan hasil yang diinginkannya. Orang yang amat dia cintai berakhir tak berdaya, tanpa nyawa dalam sebuah ruangan di rumah sakit. Tindakan operasi tidak menyelamatkan anaknya dari penyakit mematikan yang telah menyiksa selama bertahun-tahun. Singkat kata, perjuangan bertahan hidup diakhiri dengan getir.

Penyakit kronis itu telah merusak kondisi tubuh sang anak. Kepalanya membengkak. Tanpa terganggu dengan penampakan jenazah, dengan wajah datar sang ibu memandangi tubuh anaknya tercinta yang telah kaku.

Setelah upacara pemakaman selesai, dia berteriak keras, menembakkan ribuan peluru keluhan yang menghujam hati para pelayat. “Aku telah berdoa pada Allah yang Mahakuasa. Aku tahu tentang kisah-Nya yang mengubah air dalam tempayan menjadi anggur dengan kualitas nomor satu hanya untuk sebuah pesta, dan aku tidak meminta lebih. Aku hanya meminta-Nya setetes belas kasihan.” Lanjutnya lagi, “Aku mau menagih sebuah janji yang disampaikan ribuan tahun lalu oleh Dia yang tak pernah ingkar melalui hamba-Nya, ‘Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya’” (Yakobus 5:16b).

* * *

Kisah pilu di atas berbicara tentang seorang Kristen yang telah menghabiskan begitu banyak energi saat dia berjuang demi kesembuhan orang terkasihnya. Dia membeli obat yang mahal, mengunjungi dokter terbaik, memanjatkan doa bertubi-tubi. Namun, ketika pada akhirnya keadaan berkata lain, jauh dari apa yang diharapkan, dia, dan juga banyak orang percaya menjadi kebingungan.

Fenomena ini membangkitkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang terkesan usang tetapi terus bergema di sepanjang zaman bagi para pengikut Kristus. Apakah tidak terkabulnya doa itu karena seseorang kurang bersungguh-sungguh? Apakah perkataan Yakobus dapat dipercaya?

Suka atau tidak suka, tentu saja pada saat kita melihat ayat-ayat dalam Alkitab kita tidak bisa sembarangan mengartikannya sesuai dengan kemauan kita. Sebenarnya, bukan hanya Alkitab, prinsip yang sama juga berlaku pada semua tulisan di mana konteks harus benar-benar diperhatikan. Kegagalan melihat konteks dapat membuat kita gagal paham, atau tragisnya: tersesat. Sampai di sini, aku harap kamu tidak bingung atau takut, lalu berhenti membaca tulisan ini. Aku tidak akan mengajakmu untuk mempelajari Hermeneutika (ilmu menafsir Alkitab) sebanyak tiga sampai empat SKS.

Aku ingin mengajakmu menaruh perhatian lebih serius pada isu krusial ini. Jika kamu belum berdoa saat membaca tulisan ini, adalah baik untuk berdoa memohon hikmat dari-Nya.

Menelaah maksud tulisan Yakobus

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16b).

Ada satu hal yang harus kita ketahui terlebih dulu saat membaca perkataan Yakobus ini. Di sana, setelah ayat 16, Yakobus turut menyertakan kisah tentang Elia yang berdoa agar langit menahan dan menurunkan hujan yang dikutip dari 1 Raja-raja 8:41-46. Bagi kita yang telah membaca kisah itu, secara cepat kita mungkin langsung tahu bahwa tujuan utama dari mukjizat Elia bukanlah untuk dirinya sendiri. Elia tidak meminta Allah mengendalikan langit agar dia dipuji oleh mereka yang menyaksikannya, atau sekadar demi kepuasan hati Elia semata. Semua hal menakjubkan yang dilakukan Elia ditujukan bagi kemuliaan Allah yang mengasihi umat-Nya. Hal ini mungkin terasa asing bagi sebagian orang yang pemahamannya tentang doa adalah mengenai pemenuhan dan pemuasan bagi si pendoa. Dari kisah Elia, kita mendapati bahwa fokus utama dari doa Kristen bukanlah untuk itu, melainkan untuk kemuliaan Allah.

Maksud dari pernyataanku pada paragraf di atas bukan berarti kita tidak boleh mencurahkan isi hati dan permohonan kita kepada Allah. Aku dan kamu dapat menangis di hadapan-Nya. Allah adalah sahabat kita. Namun di sini, aku mendorong kita untuk memusatkan segala kerinduan hati kita kepada kemuliaan-Nya ketika kita sedang berdoa. Mungkin pandangan ini terkesan keras, tetapi kita perlu mengingat bahwa ketika kita memiliki fokus lain selain Allah dalam hidup kita—termasuk di dalam doa—itu dapat dikategorikan sebagai ‘pemujaan berhala’. Hal-hal baik yang kita lakukan, jika didasari pada pandangan kita yang keliru bisa menuntun kita kepada dosa.

Itulah sebabnya, Yakobus menekankan kebenaran di dalam doa. Dia dengan jelas berkata tentang doa orang yang benar. Kata-kata ini tidak bisa kita sepelekan. Kata ‘benar’ menentukan begitu banyak hal yang telah dan yang akan kita definisikan dalam hidup kita.

Jika kita melihat secara keseluruhan pasal dalam ayat ini, sebenarnya ada banyak hal yang dibicarakan oleh Yakobus, tetapi perhatian kita akan kita arahkan secara khusus untuk ayat yang sering disalahpahami ini.

Jadi, apa yang dimaksud dengan “orang yang benar” oleh Yakobus?

Ada tiga hal yang sebenarnya sangat erat yang kita akan bedah bersama agar lebih mudah dipahami.

1. Orang yang benar adalah orang yang dibenarkan oleh darah Kristus

Orang yang benar adalah orang yang telah beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan satu-satunya Juru selamat, yang telah memberinya jaminan keselamatan melalui pengorbanan-Nya di Kalvari, sebagaimana tertulis “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Roma 5:1). Yesus memberikan kepastian akan hari esok, bukan teka-teki.

2. Orang yang benar adalah orang beriman yang hidup benar di hadapan Allah

Poin kedua ini tidak sedang berkata bahwa ada manusia yang dapat hidup sempurna tanpa cacat. Yang kumaksudkan di sini adalah orang yang telah dibenarkan karena beriman kepada Kristus yang akan berjuang hidup benar bagi-Nya. Dengan kata lain, imannya diwujudnyatakan dalam perjuangan hidupnya (Yakobus 2:14).

3. Orang yang benar adalah orang yang doanya benar

Poin ketiga ini sebenarnya mengembalikan kita pada poin yang sudah kita bicarakan sebelumnya mengenai fokus doa. Mungkin kita adalah orang yang telah dibenarkan oleh darah Kristus dan sedang berjuang hidup benar bagi kemuliaan-Nya, tetapi dalam motivasi berdoa, kita terkadang salah. Dan, sebenarnya inilah yang telah Yakobus bahas dalam pasal sebelumnya (Yakobus 4:3). Doa orang yang besar kuasanya bukan sekadar siapa pendoanya, melainkan juga apa isi doanya.

Allah tidak mengabulkan doa yang didasari atas motivasi yang salah, segigih apa pun itu.

Beberapa tahun yang lalu, seseorang memberikan kesaksian padaku saat dia kehilangan anaknya. Hatinya hancur. Dia telah berdoa agar anaknya selamat, namun hal yang diinginkannya tidak terkabul. Lalu, di suatu momen, dia mengubah isi doanya. Dia ingin agar nama Tuhan dimuliakan.

Dengan tersenyum, dia memandangku dan berkata, “Tahukah kau, Fandri, pada saat upacara pemakaman anakku, ada banyak orang dengan dengan latar belakang yang berbeda datang. Dan hari itu, mereka mendengarkan kisah kasih Injil keselamatan, kasih Tuhan melalui pengorbanan Kristus lewat sang pengkhotbah.”

Iman Kristen sejatinya bukanlah iman yang sadis, yang seolah Allah hanya bisa dimuliakan ketika kita mengalami penderitaan berat. Tapi, bukan juga iman yang dangkal, yang hanya mengharap hal-hal baik dan takut terhadap penderitaan. Dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, rupa-rupa kemalangan seringkali tidak terelakkan dalam kehidupan kita, tetapi dalam segalanya: entah baik atau buruk, Allah dapat memakai kita sebagai alat-Nya untuk memberi kebaikan bagi kita (Roma 8:28), sekaligus membawa kemuliaan bagi nama-Nya (Roma 11:36).

Kuasa kebenaran di dalam doa terjadi ketika kita telah jujur tentang apa yang kita inginkan, tetapi tetap berani berkata, “Jadilah kehendak-Mu untuk kemuliaan-Mu.”

Baca Juga:

Melajang di Usia 30+: Menyerah atau Bertahan dengan Pendirian?

Melepaskan seseorang yang cukup layak dalam standar masyarakat zaman ini menjadi sangat susah saat berada di usiaku. Aku bisa merasakan pikiranku bergulat untuk menemukan semacam kompromi.