Posts

Jurnal Doa

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Doa ibarat nafas hidup bagi orang Kristen. Kalimat ini mungkin terdengar tidak asing di telinga kita, bahwa orang Kristen harus berdoa. Bahkan sejak kecil, pesan untuk berdoa sudah disampaikan, baik oleh orang tua maupun guru sekolah Minggu. Belum lagi para hamba Tuhan di gereja yang terus mengingatkan kita untuk berdoa.

Kita tahu berdoa itu penting, tetapi ada kalanya kita merasa jenuh untuk berdoa. Kita ingin berdoa, tapi kita bosan melakukannya. Salah satu sebabnya mungkin karena cara doa kita yang tidak pernah berubah. Kita selalu memakai cara yang sama sehingga berdoa hanyalah sebatas rutinitas saja.

Ada banyak cara berdoa yang bisa kita jelajahi, yang sudah dikenal dan mungkin paling sering kita lakukan adalah berdoa dengan berbicara langsung pada Tuhan. Kita memejamkan mata lalu mengucapkan doa dalam hati maupun bersuara. Cara lain adalah dengan menyanyikan doa seperti yang dilakukan para pemazmur, misalnya menaikkan lagu ‘Tuhan adalah Gembalaku’ dari Mazmur 23. Variasi cara lain adalah kita dapat bergabung dalam persekutuan doa sehingga kita dapat berdoa bersama teman-teman lain.

Nah, dari cara-cara itu, ada cara lain yang mungkin terdengar tidak biasa dan jarang dilakukan, yaitu menuliskan doa. Ada yang menyebut cara ini sebagai jurnal doa. Atau bisa juga disebut sebagai prayer diary, atau sebutan lainnya.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan jurnal doa itu?

Jika teman-teman pernah menuliskan jurnal harian, maka jurnal doa itu mirip-mirip kok. Biasanya dimulai dengan menulis tanggal lalu kita menulis isi doa kita.

Apa isi jurnal doa?

Isi jurnal doa boleh apa saja. Mulai dari mencurahkan perasaan yang sedang kita alami, permohonan kita, pengucapan syukur, memuji Tuhan, atau yang lainnya. Isi jurnal doa sama seperti ketika kita berdoa, hanya dituliskan saja. Misalnya:

12 Juli.

Tuhan yang baik (atau panggilan yang biasanya ditujukan kepada Tuhan)
Hari ini aku merasa sedih. Tadi pagi papa memarahiku karena aku terlambat bangun dari biasanya. Padahal hal itu disebabkan karena sepanjang malam aku harus menyelesaikan tugas kuliah. Tetapi papa tidak memberikan kesempatan bagiku untuk menjelaskannya. Tuhan, aku merasa kesal dan marah, sekaligus sedih. Tolong aku, Tuhan, untuk menjelaskan kepada papa apa yang terjadi. Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amin.

Berapa panjangnya?

Tidak ada ketentuan khusus untuk panjangnya tulisan dalam jurnal doa. Jika kita ingin menulis sepanjang satu halaman karena mungkin pada hari itu ada banyak hal yang ingin kita sampaikan kepada Tuhan, maka dipersilakan saja. Tetapi ada kalanya kita tidak tahu harus bicara apa kepada Tuhan karena kondisi atau suasana hati yang tidak enak, maka menulis hanya satu kalimat pun tidak masalah. Misalnya:

13 Juli
Tuhan, aku merasa bingung dengan apa yang terjadi hari ini. Amin.

Apakah harus menulis setiap hari?

Tidak harus, karena jurnal doa hanyalah salah satu cara kita berdoa kepada Tuhan, maka kita diberi kebebasan untuk melakukannya. Hanya, semakin sering kita menulis maka kita akan semakin terbiasa.

Jika tidak bisa menulis, bagaimana?

Salah satu keunikan sekaligus kesulitan dalam jurnal doa memang ada dalam hal menulis. Bagi teman-teman yang tidak terbiasa menulis, mungkin menulis jurnal doa adalah cara yang sulit dilakukan. Tetapi cara ini boleh tetap dicoba, karena sebenarnya mengasyikkan.

Ketika kita menulis, kita melatih otak kita untuk berpikir lebih terstruktur dan sistematis. Berbeda dengan bicara yang biasanya berlangsung spontan, menulis membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir, atau juga merenung.

Apa manfaatnya menulis jurnal doa?

Di zaman ketika kita lebih terbiasa menyaksikan tayangan audio-video, menulis bisa jadi terkesan kuno dan ribet. Tetapi, menulis jurnal doa bisa memberikan beberapa manfaat buat kita, seperti mengatasi kejenuhan kita dalam berdoa sekaligus juga mengasah kemampuan menulis kita.

Doa-doa yang kita tulis menolong kita untuk tidak lupa akan pergumulan yang sedang kita hadapi hari itu. Kelak di masa depan, saat kita melihat kembali jurnal itu, iman kita akan dikuatkan karena kita melihat pertolongan dan jawaban Tuhan atas doa-doa yang kita naikkan.

Menulisnya di mana?

Kita bisa menulis di mana saja yang kita suka. Di buku tulis biasa, maupun buku tulis khusus, atau pada aplikasi note yang tersedia di gawai kita masing-masing. Kita bebas memilih media yang paling nyaman untuk kita masing-masing.

Jadi, mengapa kita tidak mencoba untuk menuliskan doa? Yuk, kita mencobanya. Siapa tahu cara ini dapat menambah keasyikan kita untuk berdoa, dan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan.

Baca Juga:

2 Hal yang Perlu Kita Pahami Saat Berdoa

Jika ada doa yang dijawab dan tidak, lantas, bagaimana isi doa yang berkenan kepada Tuhan sehingga kita dapat selalu bersukacita di dalam-Nya walaupun Dia tidak menjawab doa-doa kita?

“Dengan Segenap Keberadaan”: Mengenal Tuhan Lewat Disiplin Rohani Belajar

Oleh Jefferson

Setahun lalu, aku menulis tentang bagaimana aku belajar mengikut Kristus dari menggemari klub sepak bola Liverpool. Saking gemarnya aku terhadap Liverpool, aku pun hafal berbagai prestasi, strategi perekrutan, taktik permainan mereka, dll. Meskipun begitu, relasiku dengan Liverpool berhenti hanya pada “sebatas tahu”; aku tidak mengenal pemain-pemain maupun staf kepelatihan Liverpool secara pribadi.

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa kita akan mencari tahu, mempelajari, dan mengingat hal-hal yang menarik perhatian kita, mungkin bahkan dengan antusiasme yang melebihi gairah kita terhadap Tuhan Allah sendiri.

“Bukannya tidak antusias, Jeff, tapi aku takut akan jadi sombong kalau tahu terlalu banyak,” mungkin respons ini muncul di benakmu.

Memang benar bahwa “[p]engetahuan membuat sombong…” (1 Kor. 8:1), tetapi balasan di atas yang terkesan rendah hati pun adalah bentuk arogansi yang terselubung: Aku terlalu “rendah” untuk kebenaran Allah. Arogansi inilah yang Paulus saksikan dalam orang-orang sebangsanya yang tidak mau percaya kepada Yesus. Mereka memiliki semangat untuk Allah, tetapi tidak berdasarkan pengertian; mereka hanya peduli dengan kebenaran versi mereka sendiri (Rom. 10:2-3). Ilusi pengetahuan inilah yang menghasilkan kesombongan.

Namun, jika kita menilik pada surat Paulus yang lain dalam 1 Korintus 8, ada jenis pengetahuan yang tidak menghasilkan kesombongan. Pengetahuan ini tidak hanya membuat kita menjadi rendah hati (ay. 2), tetapi juga melahirkan kasih yang membangun orang lain (ay. 1). Dari manakah asalnya? Allah yang adalah kasih (1 Yoh. 4:8) yang lebih dulu (1 Yoh. 4:19) mengenal dan mengasihi kita (ay. 3). Pemahaman “belajar” dalam konteks kasih Allah inilah yang akan kita pelajari lebih dalam.

Ketika membicarakan tentang “mengasihi Allah”, rasanya tidak mungkin kita tidak kembali kepada pernyataan Tuhan Yesus tentang kedua hukum yang pada mana “tergantung semua hukum Taurat dan kitab para nabi”. Kamu tentu tahu perikop mana yang kumaksud, bukan?

Belajar dari Tuhan Yesus tentang Belajar sebagai Penerapan Hukum yang Terutama

Matius 22:15–46 mencatat peristiwa yang kusebut “pertandingan intelektual empat ronde” antara Yesus dengan beberapa kaum cendekiawan pada masa-Nya. Dari pengalamanku mengikuti lomba debat Inggris SMA, pihak yang bergerak pertama biasanya memiliki kans menang yang lebih tinggi. Itulah yang “lawan tanding” Yesus coba lakukan dalam tiga babak pertama. Dengan maksud untuk “menjerat Yesus dengan ucapan-Nya” (ay. 15), mereka mengambil inisiatif serangan. Sayangnya, setiap peluru yang mereka tembakkan tidak sanggup untuk membuat lubang sekecil ujung jarum pun pada tembok pertahanan Yesus:

  1. Tentang hal membayar pajak kepada kaisar (ay. 15–21), Ia menjawab, “[B]ayarlah kepada kaisar hal-hal milik kaisar, dan kepada Allah hal-hal yang adalah milik Allah” (ay. 21);
  2. Terhadap pertanyaan orang Saduki tentang kebangkitan dari kematian (ay. 23–33), Yesus menghardik, “Kamu tersesat, tidak mengerti Kitab Suci ataupun kuasa Allah” (ay. 29) sebelum menjelaskan lebih lanjut tentang kebangkitan orang mati; dan
  3. Terakhir, seorang ahli Taurat menguji Tuhan dengan satu pertanyaan sulit, “[P]erintah manakah yang terpenting dalam Hukum Taurat?” (ay. 36). Maka keluarlah Hukum yang Terutama itu dari mulut Yesus (ay. 37–39 TB):Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Inilah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Tuhan Yesus tidak hanya dapat melawan semua serangan yang datang kepada-Nya dengan penuh hikmat, Ia bahkan balik menyerang orang-orang Farisi pada ronde terakhir tentang hubungan Mesias dengan Raja Daud (ay. 41–46). Poin penting dari perikop ini bukanlah tentang Yesus yang menang telak dalam debat intelektual dengan orang Farisi dan ahli Taurat. Sebaliknya, perikop ini menunjukkan bagaimana Yesus dalam keilahian-Nya sebagai Anak Allah pun memberikan diri-Nya untuk mempelajari Taurat Bapa-Nya sebagai seorang pembelajar yang intensional (bdk. Yoh. 7:15–16; Luk. 24:25–27). Meskipun Alkitab tidak mencatat tentang masa kecil Tuhan dengan lengkap, satu peristiwa yang Lukas catat terjadi ketika Yesus berumur 12 tahun berakhir begini: “Yesus pun bertumbuh semakin besar dan semakin bijaksana. Ia juga semakin disukai Allah dan manusia” (Luk. 2:52).

Karena tujuan kita mempraktikkan disiplin rohani adalah agar kita menjadi semakin serupa dengan Kristus, adalah wajar bagi kita untuk bertanya, “Bagaimanakah aku dapat belajar sebagaimana Tuhan Yesus belajar?” Tentunya tidak dengan cara yang persis sama dengan bangsa Yahudi 2000 tahun lalu. Kita yang hidup di abad ke-21 dapat belajar seperti Kristus belajar dengan menarik prinsip-prinsip yang Ia praktikkan, yang lalu kita kontekstualisasikan untuk kehidupan masa kini. Itulah yang aku lakukan ketika membagikan tentang 7 tindakan menebus waktu dalam artikel ketiga.

Jadi, apakah prinsip pembelajaran yang Tuhan Yesus pegang?

Dari kehidupan Tuhan, penjelasan-Nya tentang Hukum yang Terutama, dan bagian-bagian Alkitab yang kukutip di awal, aku mendapati bahwa disiplin rohani belajar dapat diterapkan lewat dua tindakan:

LEARN (belajar) = Love + EARN

#1. Love (Mengasihi) Allah dengan segenap keberadaan kita (ay. 37)

Kalau kamu pernah membaca kitab-kitab Musa dengan saksama, kamu pasti bisa langsung menyadari bahwa kedua Hukum yang Terutama dikutip Yesus dari sana. Hukum pertama bisa kita temukan di Ulangan 6:4–5:

Dengarlah, hai Israel. TUHAN adalah Allah kita. TUHAN adalah satu. Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu.

Perhatikan bahwa Tuhan Yesus tidak sedang salah mengutip ketika Ia hanya mengurutkan hati, jiwa, dan akal budi (ay. 37). Sementara bahasa Yunani (yang lazim dipakai oleh orang Yahudi di masa Yesus) dan modern menggunakan dua kata terpisah untuk emosi (“hati”) dan penalaran (“akal budi”) manusia, keduanya adalah satu dalam bahasa Ibrani (“hati” / lêbâb). Di sisi lain, “jiwa” berarti “energi kehidupan” sementara “kekuatan” digunakan dalam artian “sangat”, derajat superlatif yang menerangkan kata kerja utama “kasihilah”. Dengan kata lain, hukum pertama memerintahkan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap keberadaan kita: dengan setiap perbuatan, pikiran, dan perasaan kita, setiap saat, tanpa terkecuali. Dalam pengertian ini, tindakan kita mengasihi Allah dapat diwujudkan dengan mendisiplinkan diri untuk semakin mengenal Dia yang telah mengenal dan mengasihi kita (1 Kor. 8:3) bahkan sejak sebelum kita dikandung dalam rahim ibu (Mzm. 139:14–17). Kamu tidak sedang salah baca: salah satu cara kita mengasihi Kristus adalah dengan belajar.

Sayangnya, mungkin belajar—yang identik dengan membaca buku—adalah kegiatan yang (paling) kita benci sambil bertumbuh dewasa. Apa daya, sistem pendidikan masa kini pada umumnya memang berfokus hanya pada melatih nalar tanpa memperhatikan pertumbuhan perasaan dan kejiwaan. C. S. Lewis dalam bukunya The Abolition of Man memperingatkan bahwa menganakemaskan pertumbuhan nalar serta mengucilkan perkembangan emosi dan mental pada akhirnya hanya akan menghasilkan “manusia-manusia tanpa dada”. Sekitar 80 tahun setelah peringatan Lewis, kita mengamati dua hasil perkembangan yang kusebut di awal: antara kita menjadi sombong karena merasa tahu segala sesuatu (1 Kor. 8:1–2) atau karena merasa terlalu “rendah” untuk tahu lebih dalam tentang Allah (Rom. 10:2–3).

Puji Tuhan, kuasa keselamatan Kristus mengisi lubang di dada kita itu lewat berbagai cara belajar dan juga lewat praktik disiplin rohani! Belajar dalam terang Kristus (Mzm. 36:10) tidak selalu dilakukan dengan membaca buku; setiap orang memiliki gaya belajar dan metode masing-masing yang paling pas untuknya, e.g. mempraktikkan teori langsung di lapangan, mendengarkan podcast, merenung dalam jurnal, dan berdiskusi dengan sesama. Selain itu, kesembilan praktik disiplin rohani yang lain adalah cara-cara langsung dari Allah untuk kita belajar makin mengenali dan mengasihi-Nya. Ketika kita menyediakan waktu untuk belajar dengan berbagai metode, seluruh keberadaan kita bersekutu dengan Allah (1 Kor. 13:12) yang memenuhi alam semesta dengan kemuliaan-Nya (Hab. 2:14), yang mengasihi dengan mengirimkan Anak-Nya yang tunggal sebagai ganti korban dosa (Yoh. 1:29).

Ketika akal budi, jiwa, dan hati kita berpadanan dan saling melengkapi untuk mengenal dan mengasihi Allah dengan segenap kekuatan, kita tahu pasti bahwa kita tidak akan pernah bisa mengenal Allah yang mulia sebagaimana mestinya di masa kini. Bukannya menjadi sombong, kita malah menjadi rendah hati dan bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus (2 Pet. 3:18, bdk. Ams. 9:9–10). Lebih lagi, lewat pembelajaran dari berbagai sumber, baik dari pengalaman kita sendiri maupun buku dan kesaksian orang lain, akal budi kita diperbaharui sehingga “dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna” (Rom. 12:1–2). Menjadi semakin serupa Kristus lewat pembelajaran berarti bertumbuh dalam hikmat Tuhan sehingga kita dapat menavigasi hidup seturut dengan kehendak-Nya, baik dalam membuat keputusan, menunggu Tuhan, maupun setia dalam melayani-Nya.

Inilah kebenaran mendasar tentang disiplin rohani belajar: pengetahuan yang benar, jika dipadankan dengan perasaan dan tindakan yang benar, akan menghasilkan kasih kepada Allah yang membangun sesama dan memberikan sukacita terbesar dengan “dikenal oleh Allah” (1 Kor. 8:3).

Tetapi bagaimanakah kasih kita kepada Allah lewat disiplin rohani belajar dapat membangun sesama?

#2. EARN the favour of men / “Disukai… manusia” (Luk. 2:52; bdk. ay. 39, Yoh. 7:15)

Dalam kitab Injil, terkesan bahwa banyak orang berbondong-bondong datang kepada Tuhan Yesus terutama untuk disembuhkan. Meskipun begitu, kesembuhan bukanlah alasan utama orang-orang mencari dan mengikuti Yesus. Matius 4:23 mencatat urutannya dengan jelas: mereka datang kepada Yesus terutama untuk mendengar-Nya mengajar dan memberitakan Injil Kerajaan Allah. Dapat dikatakan bahwa pengetahuan dan pengenalan Yesus akan Allah Bapa merupakan bahan bakar-Nya untuk mengasihi dan menyembuhkan orang-orang yang datang kepada-Nya.

Lewat peristiwa kehidupan Tuhan Yesus di atas, kita melihat bahwa tindakan mengenal dan mengasihi Allah dengan benar akan menumbuhkan kasih kepada orang-orang yang Ia kasihi. Imamat 19:18 yang dikutip Tuhan Yesus di Matius 22:39 menegaskan mengapa Allah memerintahkan kita untuk mengasihi sesama seperti diri kita sendiri: “[Dialah] TUHAN”. Apa maksudnya? atau, lebih tepatnya, siapakah TUHAN ini? Semua buku yang ada di dunia tidak bisa mendeskripsikan-Nya: Ia yang adalah empunya alam semesta (Mzm. 24:1), yang menciptakan manusia menurut rupa-Nya (Kej. 1:26–27), yang menebus dosa seluruh dunia dengan darah-Nya (1 Yoh. 1:17) dan menyambut mereka yang kembali kepada-Nya (Luk. 15:20).

Jadi Allah mau kita mengasihi sesama supaya kita, orang-orang yang telah ditebus-Nya dari dosa (2 Kor. 5:21), menjadi serupa dengan Kristus dalam kasih-Nya (Ef. 5:1–2). Lebih lagi, kita mengasihi seperti Kristus mengasihi supaya orang lain pun dapat mengenal dan mengasihi Yesus (1 Kor. 9:19–23) yang pada-Nya ada “ada kepenuhan sukacita” dan “kebahagiaan selama-lamanya” (Mzm. 16:11). Tapi bagaimana caranya orang lain dapat mengenal Tuhan Yesus lewat kita kalau kita sendiri tidak mengenal-Nya secara pribadi? Di sinilah pentingnya disiplin rohani belajar.

Sekali lagi, kita belajar bukan untuk menyombongkan diri atau dikagumi orang-orang, tetapi supaya bisa menjangkau orang lain lewat pengetahuan kita dan membagikan Injil kepada mereka. Dari pengalaman pribadiku, aku belajar bahwa dalam pelaksanaannya kita tidak bisa hanya memiliki pengetahuan yang bertambah; kita perlu menumbuhkan kasih dan kepedulian yang tulus kepada sesama (1 Kor. 13:1–2). Pemimpin kelompok pemuridanku dulu sering mengingatkan kami, Orang-orang tidak akan memperdulikan seberapa banyak yang kamu tahu sampai mereka tahu seberapa dalam kamu memperdulikan mereka.

Pengetahuan yang tunduk pada kasih Kristus: inilah yang aku coba terapkan dalam pekerjaanku sebagai konsultan lingkungan hidup, memimpin kelompok pemuridan, ketika memfasilitasi kelompok baca buku, dalam berelasi dengan teman-teman dan kolega-kolega, serta lewat berbagai tulisanku. Sangatlah mudah bagi kita untuk terlarut dalam seluk-beluk doktrin Tritunggal, argumen apologetis, dan pengalaman rohani sehingga kita melupakan tujuan akhir dari semuanya itu: kasih yang membangun (1 Kor. 8:1), yang mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri (Mat. 22:39), yang merendahkan diri sebagaimana Tuhan Yesus telah merendahkan diri-Nya (Flp. 2:1–8) agar orang-orang di sekitar kita memberikan diri “diperdamaikan dengan Allah” demi Kristus (2 Kor. 5:20b).

“Jadi [kita] ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati [sesama kita] dengan perantaraan [kita]” (2 Kor. 5:20a TB).

Belajar adalah Sebuah Disiplin

Untuk menutup seri disiplin rohani ini, aku ingin mengingatkanmu bahwa disiplin rohani pada dasarnya adalah sebuah “disiplin”. Untuk mempraktikkan disiplin rohani, kita perlu meminta kasih karunia dari Allah supaya kita dapat mengingini maupun mengerjakan hal-hal yang menyenangkan-Nya (Flp. 2:13). Don Whitney dalam buku “10 Pilar Penopang Kehidupan Kristen” mengingatkan, Mereka yang tidak mencoba untuk belajar hanya akan mendapatkan pengetahuan rohani dan alkitabiah secara kebetulan atau karena kemudahan. Kita harus menjadi pelajar yang disiplin dan intensional kalau kita ingin menjadi serupa dengan Yesus.

Tanpa disiplin dalam mempraktikkan disiplin rohani, hubungan kita dengan Tuhan tak akan pernah melebihi relasiku dengan para pemain Liverpool: tahu tentang, tetapi tidak mengenal.

Tanpa disiplin dalam mempraktikkan disiplin rohani, hubungan kita dengan Tuhan tak akan pernah melebihi relasiku dengan para pemain Liverpool: tahu tentang, tetapi tidak mengenal.

Akhir kata, doa Paulus dalam Efesus 3:16–21 menjadi doaku bagi kita semua yang berjuang untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus lewat berlatih “hidup dalam kesalehan” (1 Tim. 4:7):

Aku berdoa supaya sesuai dengan kekayaan kemuliaan-Nya, Ia berkenan mengaruniakan kepadamu kekuatan di dalam batinmu, dengan kuasa melalui Roh-Nya, sehingga Kristus berkenan tinggal di dalam hatimu melalui iman sehingga kamu berakar dan berdasar dalam kasih, dan agar kamu bersama semua orang kudus dapat memahami betapa lebar, dan panjang, dan tinggi, dan dalamnya kasih Kristus. Dengan demikian, kamu dapat mengenal kasih Kristus yang melampaui pengetahuan sehingga kamu dipenuhi dengan seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dia, yang sanggup melakukan jauh lebih melimpah daripada semua yang kita minta atau pikirkan, sesuai dengan kuasa yang bekerja di dalam kita. Bagi Dialah kemuliaan dalam jemaat dan dalam Yesus Kristus bagi seluruh generasi sampai selama-lamanya. Amin.

Tuhan Yesus menyertai kamu dalam setiap pembelajaran dan pekerjaan baik (2 Kor. 9:8), soli Deo Gloria.

Pertanyaan refleksi:

  1. Bagaimanakah kamu memandang pengetahuan dan aktivitas belajar selama ini? Sebagai jalan untuk mengenal Allah lebih dalam atau pemicu kesombongan?
  2. Pembelajaran apa saja yang kamu dapatkan dari penjelasan di atas tentang Hukum yang Terutama (Mat. 22:37–40)?
  3. Bagaimanakah kamu akan mulai mempraktikkan disiplin rohani belajar sebagai L + EARN?

4 Fondasi Disiplin Rohani

Oleh Yosheph Yang

Jika seseorang bertanya, “Mengapa kamu melakukan disiplin rohani?” Mungkin jawaban yang diberikan kebanyakan orang Kristen bernada positif: ingin bertumbuh dalam iman, ingin berelasi erat dengan Tuhan, dan sebagainya.

Namun, melakukan disiplin rohani itu tidak selalu mudah. Salah satu tantangan yang terjadi ialah kita mudah jenuh. Melalui tulisan ini, aku mengajakmu untuk menggali empat fondasi kita berdisiplin rohani. Seperti orang yang membangun rumah di atas fondasi batu yang kuat (Lukas 6:48), memiliki fondasi disiplin rohani yang benar menolong kita untuk tetap semangat dan konsisten.

Empat fondasi ini terambil dari Kitab Yudas yang pesan utamanya ditujukan kepada kita yang terpanggil, yang dikasihi dalam Allah Bapa, dan yang dipelihara untuk Yesus Kristus.

“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal (Yudas 1:20-21).

1. Membangun diri di atas dasar iman yang paling suci

Nasihat Yudas pada frasa ini mengajak kita untuk tidak hanya beriman di dalam hati dan perkataan, tetapi juga mengungkapkannya melalui tindakan sehari-hari. Iman yang terpaut kuat pada Kristus menolong kita untuk selalu bisa merasakan hadirat Tuhan di setiap waktu dan tempat. Ketika kita percaya bahwa hadirat Tuhan ada dalam setiap langkah kaki kita, inilah yang akan menolong kita untuk hidup kudus, menjauhi dosa, merasakan damai sejahtera dan sukacita dalam hidup kita.

Iman juga berarti kita sungguh-sungguh mencari Kristus. Yeremia 29:13 berkata jika kita sungguh-sungguh mencari Tuhan, maka kita akan menemukan-Nya.

Mengapa iman menjadi fondasi yang penting? Jawabannya dapat kita lihat dalam Ibrani 11:6, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”

2. Berdoa dalam Roh Kudus

Salah satu wujud dari disiplin rohani adalah berdoa. Dulu, aku tidak menganggap doa sebagai bagian yang penting. Jika aku ingin rohaniku bertumbuh, kupikir aku bisa melakukannya dengan fokus menumbuhkan pengetahuan agamaku. Membaca Alkitab dan buku-buku rohani rasanya sudah cukup untuk membantuku mengerti siapa Kristus. Namun, di sini aku lupa bahwa Tuhan ingin aku tidak hanya bertumbuh dalam pengetahuanku, tetapi juga di dalam kasih karunia-Nya (2 Petrus 3:18). Dan, pertumbuhan dalam kasih karunia ini hanya bisa dialami ketika kita benar-benar berserah pada Kristus dan datang kepada-Nya dalam doa.

Paulus menuliskan suatu doa yang indah kepada jemaat di Filipi, beginilah isinya: “Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah” (Filipi 1:9-11).

Isi doa Paulus di atas yang memohon “kepenuhan dengan buah kebenaran” sejatinya hanya dapat dikerjakan oleh Yesus saja untuk kemuliaan Allah. Doa-doa Paulus kepada jemaat lainnya (Efesus 3:16-19; 2 Tesalonika 2:16-17; Kolose 1:9-12) juga berisikan bagaimana pentingnya peran Roh Kudus dalam kehidupan rohani kita. Tanpa bantuan Roh Kudus, semangat kita berdisiplin rohani tidak akan bertahan lama.

Salah satu caraku membangun kehidupan doaku adalah dengan mendoabacakan Mazmur setiap hari. Melalui puji-pujian dari Mazmur, aku bisa melihat lebih jelas siapa Tuhan di dalam kehidupanku dan bagaimana ajaibnya kasih karunia Tuhan di kehidupanku. “Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau” (Mazmur 63:4).

3. Memelihara diri dalam kasih Allah

“Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Korintus 5:14-15).

Ayat di atas ialah isi hati Paulus terhadap apa yang telah Kristus lakukan dalam kehidupannya. Paulus benar-benar paham betapa besarnya kasih Kristus. Walaupun Paulus dalam pelayanannya telah melakukan memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus, dia tetap menanggap dirinya adalah orang yang paling berdosa di antara orang berdosa (1 Timotius 1:15). Paulus tahu dengan benar betapa berdosanya hidupnya sebelum mengenal Kristus dan bagaimana besarnya kasih Kristus untuk memakai dia buat kemuliaan Kritus. Paulus diselamatkan dan juga hidup oleh kasih karunia Tuhan.

Ketika kita melihat dan memahami betapa berdosanya kita dan betapa lebar, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Kristus di kayu salib bagi kita (Efesus 3:18), kita akan merasakan bahwa tidak ada hal yang sia-sia bila dilakukan untuk Kristus. Kegiatan disiplin rohani yang kita lakukan tidak akan kita lihat sebagai kewajiban yang menyusahkan hidup kita, melainkan sebagai ucapan syukur kita kepada kasih Kristus yang begitu besar bagi kita yang berdosa ini. Memelihara diri di bawah kasih karunia Allah akan membebaskan kita dari motivasi disiplin rohani yang keliru. Kita akan lebih terfokus hanya untuk mengasihi Tuhan melalui disiplin rohani kita. Kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi bagi Kristus yang telah mati dan dibangkitkan untuk kita.

4. Menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal

“Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia” (2 Petrus 3:13-14).

Kita tahu bahwa kemuliaan Tuhan dan hidup yang kekal bersama Kristus nantinya adalah sesuatu yang tidak pernah kita lihat oleh mata kita (1 Korintus 2:9). Tetapi, kita juga tahu bahwa semua ini disediakan kepada kita yang mengasihi Tuhan dan percaya kepada Kristus sebagai pemilik sejati hidup kita.

Kita tidak akan bisa menikmati hidup kekal bersama Kristus apabila kita selama di dunia ini tidak menikmati hidup bersama Kristus. Persekutuan bersama Kristus melalui disiplin rohani selama kita hidup di dunia ini adalah persiapan untuk tujuan hidup kita. Tanpa ada persekutuan yang dalam bersama Kristus, kita tidak akan bisa memahami betapa indah dan berharganya hidup kekal bersama Kristus.

Seiring kita bertumbuh dalam pengertian tentang hidup kekal bersama Kristus, harapan akan hidup kekal ini juga akan membantu kita untuk menjadi mempelai Kristus yang tak bercacat dan bercela di hadapan-Nya. Kasih karunia Tuhan yang memberikan kita hidup kekal kepada kita yang tidak layak ini harus menjadi fondasi yang kuat di dalam kehidupan disiplin rohani kita.

Sebagai penutup, upaya kita bertumbuh menyerupai Kristus melalui disiplin rohani adalah proses yang tidak akan pernah selesai selama kita hidup di dunia ini. Jerry Bridges di dalam bukunya “The Discipline of Grace” berkata Hari-hari terburuk kita tidak pernah seburuk itu sehingga kita berada di luar jangkauan kasih karunia Tuhan. Dan hari-hari terbaik kita tidak pernah begitu baik sehingga kita berada di luar kebutuhan kasih karunia Tuhan. Bagaimanapun baik atau buruknya kondisi ketaatan atau disiplin rohani kita saat ini, kita memerlukan kasih karunia Tuhan untuk hidup hari lepas hari. Aku berharap dan berdoa agar aku dan teman-teman selalu hidup di bawah kasih karunia Tuhan dan terus bertumbuh untuk menyerupai Kristus melalui disiplin rohani.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Salah Kaprah Tentang Kasih

Aku pernah berelasi hangat dengan seseorang, tapi relasi itu kandas karena kekecewaan yang berujung pada munculnya trust-issue dalam diriku.

Sekaranglah Kesempatan Kedua Itu!: Disiplin Rohani Menebus Waktu

Oleh Jefferson

“Apakah halangan terbesarmu untuk berdisiplin rohani?”

Aku tidak tahu apa jawabanmu untuk pertanyaan di atas, tetapi kebanyakan responden dari surveiku menjawab “keterbatasan waktu” sebagai halangan terbesar mereka untuk rutin mempraktikkan disiplin rohani. Sambil merenungkan realita ini, kata-kata Paulus terngiang dalam benakku:

“Jadi, perhatikan dengan saksama bagaimana kamu hidup, jangan seperti orang bebal,…” (Efesus 5:15).

Apa maksud di balik perkataan Paulus? Penggalian perikop besarnya menuntunku untuk melihat penatalayanan waktu sebagai salah satu disiplin rohani terpenting di zaman ini, “terlebih lagi karena kamu tahu bahwa Hari Tuhan sudah semakin dekat” (Ibr. 10:25; bdk. Mat. 24:42, 44).

Belajar Menebus Waktu dari Efesus 5:1–20

Latar belakang kitab Efesus sudah pernah kugali dalam satu tulisanku sebelumnya, jadi di sini kita langsung fokus pada perikopnya. Paulus memulai dengan satu perintah utama di ayat 1–2, di mana sekali lagi kita melihat sasaran daripada disiplin rohani, yaitu keserupaan dengan Yesus:

1) Sebab itu, jadilah peniru-peniru Allah sebagaimana anak-anak yang terkasih.
2) Hiduplah dalam kasih, sama seperti Kristus mengasihi kita dan memberikan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan kurban yang harum bagi Allah.

Tapi bagaimana cara kita dapat hidup serupa dengan Yesus? Paulus menjawab lewat 18 ayat berikutnya, yang ia kemas dalam tiga bagian (yang dibatasi oleh “Jadi” di ayat 7 dan 15) yang membandingkan antara kehidupan dalam kegelapan dunia dan dalam terang Kristus. Bagian pertama (ay. 3–6) mencatat berbagai larangan bagi jemaat Efesus (dan kita) agar tidak menjadi serupa dengan dunia ini. Mengapa begitu? Alasannya ada di bagian kedua (ay. 7–14): karena kita adalah “anak-anak terang” (ay. 8) yang telah dibangkitkan oleh Allah dari kegelapan dosa dan maut (ay. 14) agar kita “mencari tahu apa yang menyenangkan Tuhan” (ay. 10). Paulus lalu menjelaskan hal-hal apa saja yang menyukakan Tuhan dalam bagian terakhir lewat empat pasang perintah–larangan (ay. 15–18), yang ia kemudian akhiri dengan beberapa perintah penutup (ay. 19–20):

Ayat Perintah (+) Larangan (–)
15 Jadi, perhatikan dengan saksama bagaimana kamu hidup, …, jadilah bijak. … jangan seperti orang bebal…
16 Pergunakanlah waktu yang ada dengan sebaik-baiknya …  … karena hari-hari ini adalah jahat. 
17 Karena itu, …, tetapi mengertilah apa itu kehendak Tuhan.  … janganlah menjadi bodoh… 
18 … sebaliknya penuhlah dengan Roh. Jangan mabuk oleh anggur karena hal itu tidak pantas,…  

Dari keempat ayat di atas, aku ingin menyorot dua kata yang makna aslinya dalam bahasa Yunani mungkin hilang dalam proses penerjemahan. 

Pertama-tama, frasa “Pergunakanlah […] dengan sebaik-baiknya” di ayat 16 aslinya hanya satu kata, exagorazō, yang bisa berarti “dibeli” atau “ditebus”. Lewat pilihan kata ini, Paulus sedang mendorong jemaat Efesus (dan kita) untuk menebus waktu yang biasanya dipakai untuk “perbuatan kegelapan” (ay. 11) dengan hal-hal yang “menyenangkan Tuhan” (ay. 10) dan membuat kita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Di akhir hayat, banyak orang mengharapkan kesempatan kehidupan kedua, tetapi bagi kita yang telah ditebus Kristus, sekaranglah kesempatan kedua itu (bdk. 2 Kor. 5:17; Gal. 2:20), apalagi kita tidak tahu kapan kedatangan-Nya yang kedua (Mat. 24:44).

Kata kedua yang ingin kusorot adalah “penuhlah” (plērousthe, ay. 18). Kata ini menurut tata bahasa Yunani mengambil bentuk tensa imperatif masa kini sehingga memiliki makna tidak hanya dilakukan satu kali, tetapi terus-menerus. Pilihan gramatika ini menyatakan perintah Paulus dengan gamblang: janganlah hidup sembarangan menurut hawa nafsu kita layaknya orang mabuk, tetapi berikanlah hidup kita untuk terus-menerus dipenuhi oleh Roh (ay. 18) yang salah satu bentuk buah-Nya adalah penguasaan diri (Gal. 5:22–23; bdk. Mat 24:42). Lewat semuanya ini kita dimampukan untuk beribadah kepada Allah, baik secara pribadi maupun dengan sesama orang percaya (ay. 19), mengucapkan “syukur senantiasa atas segala sesuatu kepada Allah Bapa dalam nama Tuhan kita, Kristus Yesus” (ay. 20).

Dari penguraian di atas, jelaslah hubungan antara keserupaan dengan Kristus dan disiplin rohani menebus waktu: menjadi serupa dengan Yesus (ay. 1–2) berarti menjalani setiap detik kehidupan (ay. 8) yang telah ditebus oleh-Nya dari kegelapan dosa dan maut (ay. 14, 16) di dalam Roh Kudus (ay. 18) agar kita dapat memahami dan mengerjakan kehendak Allah dalam kehidupan kita (ay. 15, 17) demi kemuliaan-Nya dan sukacita kita (ay. 19–20).

7 Tindakan Menebus Waktu di Zaman Akhir

Ketika mengetahui berbagai tanggung jawabku di kantor maupun pelayanan, umumnya aku akan ditanya, “Bagaimana caranya kamu bisa mengerjakan semuanya itu?”

Setelah membaca dan merenungkan perikop di atas, tepatnya ayat 13–20, aku melihat paling tidak ada tujuh tindakanku yang lewatnya Tuhan memenuhiku dengan Roh-Nya (ay. 18) untuk menatalayani waktuku yang telah Ia tebus di zaman akhir ini.

#1. Mulailah hari dengan Firman Tuhan (ay. 13–14) 

Bisa kamu tebak dari artikel yang kukutip di awal bahwa aku adalah pendukung garis keras saat teduh di pagi hari. Walaupun wajar-wajar saja kalau kita bersaat teduh di malam hari, menurutku melakukannya tepat setelah bangun tidur adalah praktik terbaik. Seperti matahari pagi yang membangunkan dunia dari kegelapan malam, begitu juga Firman Allah lewat saat teduh pagi “membangkitkan” kita untuk hidup dalam terang-Nya (ay. 13–14). Menjadikan persekutuan pribadi dengan Tuhan sebagai hal pertama yang kita lakukan di pagi hari mengingatkan bahwa Ialah pusat kehidupan kita yang mendikte tempo kita menjalani hari, bukan relasi maupun kesibukan kita. Saat teduh pagi layaknya briefing dari Tuhan yang mengarahkan bagaimana kita akan menjalankan aktivitas-aktivitas pada hari itu. 

Tetapi bagaimana kalau jadwal kita mengharuskan kita untuk mulai beraktivitas sejak fajar? Usahakan untuk tidur dan bangun lebih awal. Sebagai seorang konsultan lingkungan hidup, tidak jarang aku sudah harus berada di lokasi survei supaya dapat mengamati satwa-satwa yang menjadi aktif bersamaan dengan terbitnya sang surya. Awalnya memang berat, tetapi lewat persekutuan dengan sang Firman sebelum masuk ke hutan, aku jadi lebih siap untuk menikmati kemuliaan-Nya lewat alam yang kujelajahi.

#2. Pastikan urutan prioritas-prioritas yang ada benar (ay. 15, 17)

Setelah menikmati hadirat Tuhan sebagai pusat kehidupan, kita perlu melakukan tindakan kedua ini. Mengapa begitu? Karena kita pasti selalu menyediakan waktu untuk hal-hal yang kita prioritaskan, sekecil apapun hal itu. Prioritas-prioritas inilah yang menyingkapkan siapa yang sebenarnya kita sembah dalam kehidupan. Oleh karena itu, mintalah hikmat dari Allah (Yak. 1:5) agar kita dapat mencari dahulu kerajaan dan kebenaran-Nya (Mat. 6:33) dalam segala hal yang kita prioritaskan sehingga kita tidak hidup “seperti orang bebal” (ay. 15, 17).

Sebagai seorang perantau di Singapura, aku bisa saja memilih untuk bersantai tiap malam setelah seharian bekerja tanpa memperdulikan keluargaku di Indonesia maupun tanggung jawabku yang lain. Lagipula aku berhak beristirahat, bukan? Kalau urutan prioritasku begitu, kamu tidak akan sedang membaca tulisan ini. Puji Tuhan, aku tahu urutan prioritasku yang semestinya untuk bisa menjadi serupa dengan Kristus, bahkan di waktu malam yang sangat mudah disia-siakan. Perhatikan bahwa aku tidak sedang berdalih untuk menyibukkan diri setiap malam; ada waktu-waktu khusus yang kuprioritaskan untuk beristirahat, menonton serial drama, dan, tentu saja, menelpon keluargaku dan bersekutu dengan teman.

#3. Kenali serta kelola batasan-batasan dan pengalih perhatian yang ada (ay. 16, 18)

Selain mengenali bagaimana kita sebaiknya mengurutkan prioritas-prioritas kita, kita perlu mengenali dan mengelola hal-hal yang dapat mengancam susunan prioritas itu. Kita semua memang dianugerahkan Tuhan dengan jumlah waktu yang sama (24 jam), tetapi setiap kita memiliki batasan dan pengalih perhatian yang berbeda-beda. Sekali lagi, butuh hikmat dari Allah (Yak. 1:5) untuk dapat mengenali dan mengelola jenis-jenis anggur yang bisa memabukkan serta mengalihkan kita dari mengerjakan kehendak-Nya (ay. 18).

Batasan utamaku adalah tendensi untuk memikul tanggung jawab lebih dari yang bisa aku pikul. Di tahun-tahun awalku di Singapura, aku kesulitan dalam mengenali dan mengelola batasanku ini, tapi sekarang aku lebih mengenali diriku sendiri dan lebih bisa berkata tidak terhadap berbagai tawaran pekerjaan dan pelayanan yang ada. Hampir semua orang di sekelilingku bilang kalau aku sibuk, tapi nyatanya aku selalu punya waktu untuk bersekutu dengan dan mendengarkan mereka. Di sisi lain, pengalih perhatian utamaku adalah game; kalau ada di gadget, aku pasti kecanduan dan bermain setiap saat. Solusinya hanya satu: menghapus game dari gawai supaya bisa fokus pada prioritas-prioritasku.

#4. Buatlah jadwal dengan “spasi” (ay. 16)

Di minggu terakhir tahun 2020, aku bertemu dengan beberapa kelompok teman yang sudah lama tidak kujumpai karena kesibukan kami masing-masing. Sebagai seorang ekstrovert, aku seharusnya tidak mudah kelelahan ketika berinteraksi dengan banyak orang selama beberapa hari berturut-turut, walaupun beberapa di antaranya memang terjadi dadakan. Kamu bisa bayangkan betapa anehnya perasaanku ketika memutuskan untuk beristirahat di rumah di akhir minggu pertama tahun ini. Ayat 16 menyadarkanku bahwa waktu itu aku tidak menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya karena tidak meluangkan “spasi” dalam jadwal lewat mana kasih karunia Tuhan dapat bekerja lewat rehat dan hal-hal dadakan

Pembelajaran di akhir 2020 ini lalu aku praktikkan pada Jumat terakhir di bulan Januari, di mana aku sengaja mengambil cuti untuk mengerjakan seri tulisan ini. Apa daya, aku gagal memenuhi target untuk menyelesaikan dua artikel tetapi memiliki cukup waktu luang untuk sisa hari itu. Melihat “spasi” ini sebagai anugerah dari Tuhan, aku menggunakannya untuk mempersiapkan bahan kelompok pemuridan yang baru bertemu dua minggu kemudian supaya ke depannya ada waktu lebih untuk mengerjakan sisa tulisan dan kalau-kalau ada kebutuhan mendadak. Benar saja, minggu depannya satu lembaga misi memintaku untuk berkontribusi untuk satu tulisan singkat, yang kemudian dapat kuselesaikan karena ada sejumlah “spasi” dalam jadwalku. Begitulah pentingnya “spasi” dalam jadwal kita sehari-hari.

#5. Libatkan sesama untuk akuntabilitas (ay. 19)

Elemen komunitas tidak bisa dipungkiri dan hampir pasti muncul dalam setiap pembahasan tentang pelaksanaan disiplin rohani, termasuk penatalayanan waktu. Adalah seorang teman kos yang mengingatkanku bahwa masih ada hari esok ketika aku “hanya” menyelesaikan satu tulisan dalam kesaksianku di tindakan #4. Tidak heran kalau Paulus mendorong jemaat Efesus untuk berbicara “satu sama lain dalam mazmur, kidung pujian, dan nyanyian rohani” di ayat 19, karena lewat persekutuan dengan sesama anggota tubuh Kristuslah kita dapat memuji Tuhan “dengan segenap hati [kita]”. 

#6. Naikkan syukur setiap saat kepada Allah dalam nama Tuhan Yesus (ay. 20)

Kata “setiap saat” (“senantiasa” menurut ayat 20) mungkin membingungkanmu. “Maksudnya bahkan ketika kita sedang mandi pun kita mengucapkan syukur kepada Tuhan? dan bahkan ketika kita sedang menghadapi situasi yang buruk?” Ya, kalau kamu melakukannya dalam nama Tuhan Yesus.

John Piper dalam salah satu podcast-nya menjelaskan bahwa kata “Teruslah” (adialeiptōs) di 1 Tesalonika 5:17 (“Teruslah berdoa!”) memiliki arti berulang kali dan sering, bukan setiap detik. Walaupun frasa “setiap saat” di Efesus 5:20 bukanlah adialeiptōs melainkan pantote, keduanya memiliki kemiripan sehingga konotasi “berulang kali dan sering” bisa dibilang berlaku untuk tindakan keenam ini. Dan ya, kita melakukannya atas segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan. Mengapa begitu? Karena pengucapan syukur “senantiasa atas segala sesuatu” menyelaraskan kita dengan kehendak Allah (ay. 10) untuk melihat bahwa Allah bekerja di dalam setiap momen kehidupan, baik yang baik maupun yang buruk, untuk kebaikan kita dan rencana-Nya untuk menjadikan kita serupa Anak-Nya (Rom. 8:28–29).

Tindakan ini mungkin adalah yang paling mudah dilakukan dibandingkan dengan yang lain. Selain doa pagi, makan, dan malam, aku biasanya memakai waktu commuting dari dan menuju kantor, sewaktu rehat dalam pekerjaan, dan bahkan ketika mandi untuk mengingat dan mengucapkan syukur atas setiap hal yang Tuhan biarkan terjadi sepanjang hari itu.

#7. Ingat: yang lalu tidak bisa kembali, tapi yang akan datang telah Yesus tebus (ay. 15–20)

Di akhir hari, kita mungkin menyesali keputusan dan tindakan yang kita ambil hari itu. “Coba tadi aku makan lebih cepat, pasti tidak akan telat untuk rapat dengan klien!” “Kenapa aku bisa lupa lihat jam, jadi kelamaan bersantai nonton drama Korea!” Oleh karena itu, sambil memejamkan mata sebelum tidur, kita perlu berpegang pada satu kebenaran penting, yang herannya kutemukan dalam baris-baris puisi mini drama AADC yang kemudian kugubah:

Adalah [Allah yang adalah Kasih] yang mengubah jalannya waktu.

Karena [Kasih], waktu terbagi dua:

[tanpa-Nya dan rindu akan hadirat-Nya]

Detik tidak pernah melangkah mundur

tapi [rahmat-Nya] selalu ada;

waktu tidak pernah berjalan mundur

dan hari tidak pernah terulang,

tetapi pagi selalu menawarkan cerita yang baru

untuk semua pertanyaan yang belum sempat terjawab (Rat. 3:22–23).

Ya, pada akhirnya bukanlah kita yang “mengubah jalannya waktu”, tetapi Tuhan (ay. 17–18, bdk. Kej. 50:20). Dalam keberdosaan kita, segala prioritas dan jadwal yang telah kita rencanakan lewat tindakan #1–6 mungkin malah akan kita gunakan untuk melawan Tuhan, secara sadar maupun tidak sadar. Meskipun begitu, di penghujung hari-hari yang jahat (ay. 16), kita bisa berserah kepada Allah dan tidur dengan nyenyak, mengetahui bahwa “Yesus Kristus tetap sama kemarin, hari ini, dan sampai selama-lamanya” (Ibr. 13:8). Lebih lagi, kita bisa terlelap dengan harapan bahwa Kristus akan membangunkan kita besok pagi dan mengaruniakan satu lagi hari untuk ditebus di dalam-Nya (bdk. Rat. 3:22–23; Flp. 3:13–14) “menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibr. 10:25 TB).

Meneladani Sang Penebus dalam Menebus Waktu

Sebagai penutup, sambil mengembangkan satu gagasan dalam tindakan #7, aku ingin mengarahkan pandanganmu kepada Tuhan Yesus sendiri. Perhatikan bahwa dalam setiap momen kehidupan-Nya, Yesus tidak pernah terburu-buru sama sekali. Dia selalu tahu waktu yang paling tepat untuk bertindak (e.g. peristiwa kebangkitan Lazarus di Yohanes 11:1–44, panggilan-Nya kepada Zakheus di Lukas 19:1–10) karena Ia menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Allah Bapa dan mencari kehendak-Nya walaupun Ia baru saja melayani seharian (Mrk. 1:35). Dan “[k]etika waktunya semakin dekat bagi Yesus untuk ditinggikan, Ia meneguhkan hati untuk pergi ke Yerusalem” (Luk. 9:51) untuk mati menebus umat-Nya.

Mengetahui bahwa Roh Kristus memenuhi diri kita (ay. 18), kita dapat berjuang untuk hidup dalam kasih karunia-Nya yang memampukan kita untuk “[menggunakan] waktu yang ada dengan sebaik-baiknya” (ay. 16), menatalayani setiap detik kesempatan kedua ini “dalam kesalehan” (1 Tim. 4:7) sambil menyambut kedatangan Kristus yang kedua (Why. 22:20).

Seperti yang Anthony Hoekema katakan dalam The Bible and The Future, “Hiduplah seolah-olah Kristus baru mati kemarin, bangkit pagi ini, dan akan kembali lagi besok.

Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu, soli Deo gloria.

Pertanyaan refleksi

  1. Bagaimanakah kamu selama ini memahami dan menggunakan waktu yang ada?
  2. Luangkan waktu ~10–15 menit untuk membaca Efesus 5:1–20. Apa saja yang kamu pelajari dari perikop ini, terutama tentang disiplin rohani menatalayani waktu?
  3. Di antara ketujuh tindakan menebus waktu yang sudah dijelaskan, mana saja yang sudah dan/atau akan kamu mulai praktikkan?
  4. Adakah peristiwa(-peristiwa) lain dalam kehidupan Tuhan Yesus yang dapat kamu teladani dalam menggunakan kesempatan kedua yang telah Ia anugerahkan dengan sebaik-baiknya?

Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Ketika Metode Bertemu Realita: Bagaimana Melakukan Disiplin Rohani

Tulisan ini akan menjelaskan tiga prinsip yang menolong kita untuk mempraktikkan disiplin rohani dalam kesalehan Kristiani.

Yuk baca artikel kedua dari #SeriDisiplinRohani ini.

5 Tips Saat Teduh Anti Mager!

Bulan ketiga di tahun 2021 sudah hampir berlalu, adakah yang saat teduhnya masih konsisten dan tidak absen?

Menjaga kekonsistenan saat teduh kadang terasa sulit. Kadang kita terjebak dalam kesibukan, atau tak jarang juga rasa malas yang kita pelihara membuat kita jadi lupa dan enggan bersaat teduh. Yuk kita bangun kembali semangat untuk berelasi erat dengan Tuhan!

Apa saja tipsmu untuk tetap semangat bersaat teduh?

Studi Alkitab, Yuk!

Oleh Adiana Yunita, Yogyakarta

Kapan terakhir kali kamu melakukan pemahaman Alkitab (PA) atau studi Alkitab?

Mungkin ada yang menjawab, “Studi Alkitab kan tugasnya pendeta, pemimpin pelayanan, atau mereka yang kuliah di teologia atau di seminari. Memangnya kita harus ya?” Atau mungkin jawaban lainnya, “Aku sering sih nonton atau dengar khotbah tentang studi Alkitab di channel-channel YouTube atau podcast oleh pembicara-pembicara favoritku. Bukannya itu sudah termasuk memahami Alkitab?”

Jawaban itu mungkin mewakili kita yang jarang atau enggan membaca Alkitab. Namun, di tengah dunia yang semakin maju, apakah penting untuk membaca Alkitab yang tulisannya sudah berusia ribuan tahun itu?

Alkitab bukan sekadar buku atau kitab. Ketika kita membaca dan belajar memahaminya, itu menjadi salah satu disiplin rohani bagi semua orang Kristen, termasuk aku dan kamu. Kata ‘disiplin’ dalam bahasa Inggris ditulis ‘discipline’. Dalam kamus Merriam-Webster, ‘discipline’ diartikan sebagai pola perilaku atau latihan yang teratur untuk memperbaiki, membentuk, dan menyempurnakan karakter mental dan moral kita. Jadi, disiplin rohani merupakan latihan yang dilakukan secara teratur untuk memperbaiki, membentuk, dan menyempurnakan kerohanian kita.

Untuk memudahkan kita memahami pentingnya disiplin rohani, kita bisa analogikan dengan para binaragawan atau atlet yang setiap hari melakukan latihan fisik supaya otot-otot mereka terbentuk dan terlatih sehingga siap menghadapi lawan. Begitu juga disiplin rohani akan melatih mental rohani kita supaya siap menghadapi lawan kita, yaitu si Iblis yang berjalan di sekeliling kita seperti singa yang mengaum-aum mencari mangsanya (1 Petrus 5:8). Tuhan Yesus pun mengingatkan murid-muridnya untuk, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah (Matius 26:41).” Mengapa? “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera… keinginan daging adalah perseteruan dengan Allah… Mereka (yang menuruti keinginan daging) tidak mungkin berkenan kepada Allah (Roma 8:6-8).“

Karena tubuh kita ini lemah dan berdosa, kita harus rajin melatihnya dan membentuknya semakin kuat melalui disiplin rohani. Nah, salah satunya adalah melalui studi Alkitab mandiri. Lalu, bagaimana cara memulainya? Tenang, studi Alkitab sebenarnya bisa dimulai dengan beberapa langkah sederhana kok.

  1. Mulailah dengan menemukan ayat berkesan

    Menemukan ayat berkesan adalah cara pertama yang diajarkan kepadaku untuk studi Alkitab waktu duduk di bangku SMA. Kita hanya perlu memilih satu ayat yang paling berkesan dan alasannya. Cara ini cukup sederhana dan mudah. Namun, dari satu ayat berkesan ini, kita masih bisa memahami bagian tersebut dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut, 1) Apa fakta tentang Allah yang didapat dari ayat tersebut?; 2) Apa fakta tentang manusia yang didapat dari ayat tersebut?, 3) Apa hal baru yang dipelajari?; 4) Apa penerapan dalam kehidupan sehari-hari?; 5) Pertanyaan apa yang muncul dari ayat/perikop ini? Jika ada pertanyaan yang muncul, kita bisa menanyakan kepada kakak rohani atau mendiskusikannya dengan peer study kita.

  2. Kembangkan dengan metode “OIA” (“Observasi, Interpretasi, dan Aplikasi”)

    Setelah kita sudah mulai terbiasa merefleksikan satu ayat Firman Tuhan, kita tentu tidak puas hanya mendalami satu ayat saja. Karena itu, kita akan mulai belajar memahami satu perikop di dalam Alkitab. Nah, pertama-tama mulailah dengan melakukan pengamatan (observasi). Caranya adalah dengan mengamati hal-hal yang tersurat (tertulis) secara jelas di Alkitab melalui pertanyaan-pertanyaan 5W1H (what, where, when, who, why, dan how). Misal, apa peristiwa yang terjadi di perikop tersebut? Di mana dan kapan peristiwa tersebut berlangsung? Siapa saja tokoh yang terlibat? Mengapa ia melakukan hal itu? Bagaimana ia merespons kejadian itu? Dst.. Kemudian, kita bisa mulai memberikan kesan atau pendapat (interpretasi) berupa makna-makna tersirat dari perikop tersebut. Misalnya, Petrus dan murid-murid Yesus yang pertama segera meninggalkan jala mereka, lalu mengikut Yesus (Markus 1:18), itu berarti ketaatan harus dilakukan dengan segera. Terakhir, buatlah penerapan (aplikasi). Penerapan yang jelas atau konkret harus selalu dibuat di akhir studi Alkitab karena Allah memanggil kita untuk menjadi pelaku Firman, bukan pendengar saja (Yakobus 1:22).

  3. Pahami konteks bacaan

    Memahami konteks bacaan sebenarnya adalah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam studi Alkitab. Secara sederhana, memahami konteks bacaan adalah mengenal segala latar belakang yang “membersamai” penulisan teks yang kita baca, misalnya siapa penulisnya kitab/surat yang dibaca, latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya ketika teks tersebut ditulis, atau pun konflik yang mungkin terjadi pada saat itu. Misalnya, ketika dikatakan bahwa Yusuf hendak menceraikan Maria dengan diam-diam (Matius 1:19) padahal mereka belum menikah. Perlu dipahami bahwa konteks pada waktu itu di budaya orang Yahudi, pasangan yang sudah bertunangan sudah berada dalam satu ikatan atau komitmen pernikahan, tetapi mereka belum tinggal satu rumah. Memahami konteks akan sangat berguna ketika kita menginterpretasikan makna bacaan. Informasi mengenai konteks bacaan dapat kita akses di web/aplikasi/Alkitab cetak yang dilengkapi dengan studi Alkitab, kamus Alkitab, konkordansi, dan jangan lupa untuk juga membandingkan teks dengan versi terjemahan Alkitab lainnya.

  4. Ajaklah teman atau partner

    Memiliki kelompok studi Alkitab juga penting sebagai teman diskusi untuk lebih memahami bagian yang dipelajari. Namun, perlu diperhatikan bahwa studi Alkitab ini pada dasarnya adalah disiplin rohani kita secara mandiri. Jadi, fungsi kelompok atau partner adalah mendiskusikan hasil studi Alkitab pribadi masing-masing. Anggota kelompok studi Alkitab akan saling belajar mendengarkan dan memperkaya hasil PA satu sama lain.

Studi Alkitab pribadi akan sangat berbeda dengan (hanya) menjadi pendengar saja dan “menelan” hasil interpretasi orang lain. Ketika kita melakukan studi Alkitab mandiri, kita akan berjumpa secara langsung dengan kebenaran Firman Tuhan, kemudian mencecap, mengunyah, dan menikmati setiap sari-sari yang terkandung di dalam firman tersebut. Jadi, sudah siapkah kamu untuk memulai studi Alkitab mandirmu? Mulailah merencanakan jadwal yang teratur untuk mendalami firman-Nya, ajak beberapa teman untuk melakukan proyek yang sama, dan saling berbagilah serta saling mendorong dalam kasih dan dalam setiap pekerjaan baik (Ibrani 10:24).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Apakah Kesepian itu Dosa?

Apakah merasa kesepian itu dosa? Atau, apakah dosa itu hanya berkaitan dengan apa yang kita lakukan untuk merespons kesepian itu? Dan, jika tidak baik bagi seorang pria atau wanita untuk sendiri, apakah dosa jika memang mereka memilih untuk hidup sendiri?

Ketika Metode Bertemu Realita: Bagaimana Melakukan Disiplin Rohani

Oleh Jefferson

Dalam artikelku sebelumnya, aku telah membagikan kepadamu apa yang kupelajari selama 10 tahun terakhir tentang disiplin rohani: kaitannya dengan “kesalehan”, bagaimana definisi “kesalehan” menurut Kekristenan jauh berbeda dengan yang dunia pahami, serta berbagai bentuk praktik disiplin rohani menurut Firman Tuhan.

Melanjutkan pembahasan di atas, tulisan ini akan menjelaskan tiga prinsip yang menolong kita untuk mempraktikkan disiplin rohani dalam kesalehan Kristiani, sebelum mengarahkan kita kepada satu janji Allah yang menopang kita untuk terus melatih diri kita “untuk hidup dalam kesalehan” (1 Tim. 4:7b).

“Bagaimanakah seharusnya melakukan disiplin rohani?”

Inilah prinsip pelaksanaan disiplin rohani pertama dariku: kita “berlatih dalam kesalehan” lewat disiplin-disiplin rohani dalam Alkitab agar dapat semakin mengenal, mengasihi, dan menyerupai Kristus. Seperti yang telah dijelaskan dalam jawaban untuk pertanyaan pertama di artikel sebelumnya, sasaran inilah yang harus menjadi fokus kita, bukan praktik disiplin rohani itu sendiri. Kalau kita berfokus pada praktik dan kesalehan moral semata, antara kita akan larut dalam kegagalan berdisiplin karena natur dosa kita atau akan bermegah di luar Allah karena “kesuksesan” kita berdisiplin rohani. Jelas keduanya bukan hasil yang kita inginkan, apalagi Tuhan! Oleh karena itu, “berlari[lah] dengan tekun pada perlombaan yang disediakan di hadapan kita” dengan mata yang “tertuju pada Yesus, Sang Pencipta dan Penyempurna iman kita” (Ibr. 12:1–2).

Prinsip kedua kurumuskan berdasarkan satu kata kunci dalam ayat yang kukutip dalam pembuka tulisan ini, “latihlah dirimu untuk hidup dalam kesalehan” (1 Tim. 4:7b). Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “latihlah” adalah gymnaze. Terdengar familiar? Betul, ini adalah akar kata dari gymnasium, yang selama pandemi COVID-19 mungkin pindah ke ruang tamu atau kamar tidurmu dalam rangka menjaga kebugaran tatkala tidak bisa keluar rumah. Paulus memakai analogi perlombaan untuk menjelaskan proses pertumbuhan rohani dan kesalehan dalam beberapa suratnya karena analogi ini memang tepat: atlet-atlet berlatih menguasai diri dengan keras untuk mengejar mahkota kemenangan yang fana, tetapi pengikut-pengikut Kristus berlari untuk mendapatkan mahkota yang abadi (1 Kor. 9:25). Lebih lagi, dalam arena kehidupan di mana semua orang berlari menurut jalan pilihan masing-masing, hanya sedikit yang akan menemukan gerbang sempit yang menuju kepada kehidupan (Mat. 7:14, bdk. 1 Kor. 9:24), jadi kita perlu mempraktikkan disiplin rohani hari demi hari dengan intensional dan disiplin (1 Kor. 9:27). Berdisiplin rohani tanpa disiplin pada dasarnya adalah seperti berlari tanpa tujuan dan meninju angin (1 Kor. 9:26); kita tidak akan pernah mencapai sasaran daripada disiplin rohani, yaitu keserupaan dengan Kristus.

Terakhir, kita perlu melakukan disiplin rohani baik secara pribadi maupun secara komunal bersama saudara-saudari seiman. Senada dengan dorongan Paulus kepada Timotius untuk tidak hanya bertekun dalam Firman tetapi juga mengajarkannya kepada jemaat Efesus (1 Tim. 4:6–7), penulis surat Ibrani mendorong kita untuk “saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik” (10:24 TB). Bagaimana caranya? Lewat persekutuan dan pertemuan ibadah, di mana kita “saling menguatkan, terlebih lagi karena kamu tahu bahwa Hari Tuhan sudah semakin dekat” (Ibr. 10:25). Ya, karena kedatangan Tuhan Yesus yang kedua pasti segera terjadi, marilah kita semakin giat bertemu dan bersekutu dengan-Nya, baik secara pribadi maupun dengan orang-orang percaya lainnya.

Aku bersyukur kepada Tuhan atas saudara-saudari yang Ia telah tempatkan dalam hidupku untuk bersama-sama berdisiplin rohani. Lewat berbagai sharing dan diskusi, rencana baca Alkitab dan saat teduh tahunan yang biasanya kujalani sendiri jadi lebih berwarna dan berbobot. Melanjutkan analogi perlombaan, kehadiran rekan-rekan yang berlatih bersama kita pastinya akan meningkatkan semangat dan memperluas pemahaman kita sendiri.

Itulah ketiga prinsip yang kupelajari dan terapkan dalam sepuluh tahun terakhir. Di atas kertas kelihatannya mudah, namun ada kenyataan yang perlu kita sadari dan ingat agar dalam “berlatih dalam kesalehan” kita tidak menjadi tawar hati (bdk. 2 Kor. 4:16).

“Bukan sekarang, tapi 60 tahun lagi”

Kata-kata itu keluar dari mulut kakak pembina di persekutuan kampusku dulu dalam perjalanan kami kembali ke kantor masing-masing sehabis makan siang. Pertemuan ini kami adakan setelah sekitar 2 tahun tidak bertemu satu sama lain karena kesibukan kami masing-masing.

Aku sedang bersiap-siap turun di stasiun MRT berikutnya ketika beliau berkata kepadaku dengan setengah bercanda, “Jangan lupa keep in touch ya, jangan sampai ketika aku ketemu kamu lagi, kamu malah sudah punya anak.”

“Tenang saja Kak, aku akan kabari kalau sudah punya pasangan,” jawabku geli.

“Ya, ya,” balasnya. Ada keheningan selama beberapa detik sebelum beliau melanjutkan begini, “Ingat ya Jeff, aku tidak akan menilai kamu berdasarkan siapa kamu sekarang, tetapi siapa kamu 60 tahun lagi, itu yang menentukan.”

Kebingungan menerima kata-kata tersebut, aku bertanya, “Maksudnya gimana, Kak?”

“Iya, kerohanianmu dan semangatmu melayani saat ini mungkin baik, tapi siapa yang tahu hubunganmu dengan Tuhan 60 tahun lagi, apakah masih baik atau tidak? Di tengah dunia yang berdosa, kita hanya bisa berharap kepada Tuhan bahwa Dia akan terus menjaga iman kita sampai akhir.”

Bersamaan dengan balasan beliau, aku pun tiba di tempat tujuan. Setelah bertukar “Sampai jumpa” dengan kakak pembinaku, aku bergegas turun dari kereta. Sambil berjalan kembali ke kantor, aku larut dalam perenungan, memikirkan kata-katanya.

Perihal pembahasan kita dalam dua tulisan ke belakang, kurasa kata-kata kakak pembinaku sangatlah tepat. Berdisiplin rohani untuk hidup dalam kesalehan, dalam keserupaan dengan Yesus Kristus, terdengar mudah ketika dibaca di atas gadget. Namun pengalaman mengajarkanku bahwa disiplin dan kesetiaan kepada Tuhan tidak mungkin dilakukan secara konsisten oleh usaha manusia semata, apalagi di tengah-tengah dunia yang berdosa dan membenci Tuhan yang kita sembah (Yoh. 15:18). Berbagai perlawanan akan kita hadapi dalam mempraktikkan disiplin rohani, baik dari dalam diri kita sendiri (e.g. keengganan kita membaca Alkitab yang begitu tebal) maupun dari luar (e.g. daya tarik Netflix ketika kita seharusnya doa malam, sindiran teman ketika kita memilih untuk menghadiri persekutuan doa gereja ketimbang pergi hang out bersama mereka). Kata-kata tekad mudah diucapkan, tapi apakah kata-kata itu akan dipegang atau tidak sampai kita bertemu dengan Tuhan Yesus muka dengan muka, semuanya hanya bergantung pada kasih karunia Allah yang menyelamatkan dan memampukan (1 Tim. 4:10).

Oleh karena itu, aku ingin mengarahkanmu kepada Filipi 1:6 yang memberikan kita pengharapan bahwa bukan kita yang memampukan diri kita untuk berdisiplin rohani untuk menjadi serupa Tuhan Yesus, melainkan Allah sendiri:

Aku sungguh yakin bahwa Ia yang telah memulai pekerjaan baik di antara kamu, Ia juga yang akan menyempurnakannya sampai hari Yesus Kristus.

Akhir kata, kejarlah Kristus, kejarlah Dia dengan penuh disiplin dan bersemangat, kejarlah Dia bersama saudara-saudari seiman lainnya hingga bertemu dengan-Nya muka dengan muka di akhir kehidupan kita di dunia ini.

Tuhan Yesus menyertai kamu dalam latihan “untuk hidup dalam kesalehan”, soli Deo Gloria.

Pertanyaan refleksi

  1. Bagaimanakah kamu berdisiplin rohani selama ini? dengan mata tertuju pada usaha sendiri atau pada Tuhan Yesus (Ibr. 12:2)?
  2. Bagaimanakah kamu berdisiplin rohani selama ini? seperti berlari tanpa tujuan dan meninju angin, atau “melatih tubuh[mu] dengan keras dan menguasainya” (1 Kor. 9:27)?
  3. Bagaimanakah kamu dapat mulai berdisiplin rohani bersama dengan orang-orang percaya lainnya?

Catatan:
kecuali bagian-bagian yang memiliki singkatan TB / ESV, kutipan-kutipan Alkitab dalam tulisan ini memakai terjemahan Alkitab Yang Terbuka (AYT).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Disiplin Rohani: Perlukah Menjadi Orang Saleh di Abad Ke-21?

Disiplin rohani dan kesalehan, kita mungkin tidak asing dengan dua istilah ini, tapi sejauh mana kita memahami keduanya sebagai sebuah cara hidup orang Kristen? Yuk temukan jawabannya di artikel pertama dari #SeriDisiplinRohani ini.

Disiplin Rohani: Perlukah Menjadi Orang Saleh di Abad Ke-21?

Oleh Jefferson

Pada 2 November yang akan datang, secara rohani aku akan genap berusia satu dekade. Sepuluh tahun yang berlalu sejak pertobatanku terasa begitu panjang dan singkat; panjang, karena ada begitu banyak pengalaman hidup yang telah kulalui (dan segelintir darinya aku bagikan lewat tulisan); singkat, karena rasanya baru kemarin aku menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatku.

Rasanya baru kemarin juga aku menerima undangan untuk menulis tentang disiplin rohani. Topik ini cukup familiar karena pernah kubahas dalam beberapa tulisan terdahulu. Melihat kesempatan ini sebagai anugerah dari Tuhan untuk sekali lagi membagikan pembelajaranku bersama-Nya lewat tulisan, keempat artikel dalam seri ini kutulis sebagai kristalisasi dari pengalamanku “berlatih dalam kesalehan” selama ~10 tahun terakhir.

Untuk memulai penjelajahan kita tentang disiplin rohani selama beberapa minggu ke depan, kita perlu pertama-tama mempelajari dasar-dasar daripada disiplin rohani itu sendiri, yang kurangkum dalam dua pertanyaan besar.

“Apa itu ‘disiplin rohani’ menurut Kekristenan?”

Walaupun istilah “disiplin rohani” tidak pernah disebut secara eksplisit dalam Alkitab, konsep ini tersirat dalam berbagai bagiannya, terutama di Perjanjian Baru. Perumusan terjelasnya terkandung dalam 1 Timotius 4:7b, “latihlah dirimu untuk hidup dalam kesalehan”. Dari ayat ini, kita memahami bahwa “disiplin rohani” pada dasarnya diartikan menurut tujuan yang ingin dicapai, yaitu “kesalehan” atau godliness (ESV). Dengan kata lain, disiplin rohani hanyalah cara untuk mencapai kesalehan dan bukanlah kesalehan itu sendiri.

Mendengar kalimat di atas, kamu mungkin berpikir, “Jadi apa bedanya disiplin rohani Kristen dengan tindakan agamawi kepercayaan lain kalau tujuan akhirnya sama, yaitu kesalehan?”

Untuk menjawab keberatan di atas, kita perlu mengklarifikasi apakah definisi “kesalehan” yang dimaksud Paulus dalam 1 Timotius 4:7b sama dengan pemahaman pada umumnya, yaitu “sikap hidup pribadi yang tidak berdosa/bercela”. Pembacaan ayat-ayat sebelum (ay. 1–7a) dan sesudahnya (ay. 8–10) membantu kita menguraikan kebingungan ini.

Pertama-tama, 1 Timotius 1:1–7a menjelaskan latar belakang ayat 7b: akan ada sebagian jemaat Efesus yang meninggalkan iman mereka “dengan menyerahkan diri kepada roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan” (ay. 1). Orang-orang ini mengharamkan hal-hal baik yang diciptakan oleh Allah, seperti pernikahan dan makanan tertentu (ay. 3–5), dan mempercayai berbagai takhayul (ay. 7a). Terhadap latar kebejatan inilah Paulus mengarahkan Timotius untuk tidak hanya mengajarkan “perkataan-perkataan iman dan ajaran sehat” kepada gereja di Efesus (ay. 6), tetapi juga melatih dirinya “untuk hidup dalam kesalehan” (ay. 7b). Dari ayat-ayat ini, kita mempelajari bahwa disiplin rohani dipraktikkan agar kesalehan dapat dihidupi baik secara pribadi maupun komunal; kita berlatih untuk hidup menurut “perkataan-perkataan iman dan ajaran sehat” dalam Firman Tuhan agar dapat mengenali dan menjauhi berbagai ajaran yang menyimpang dari kebenaran Kristus serta membantu sesama orang percaya melakukan hal serupa untuk mencapai kesalehan.

Ayat 8 memperjelas alasan di balik dorongan Paulus: karena kesalehan “mengandung janji untuk kehidupan sekarang dan juga kehidupan yang akan datang”. Don Whitney dalam bukunya “10 Pilar Penopang Kehidupan Kristen” mengidentifikasi janji tersebut sebagai keserupaan dengan Kristus, baik di masa kini maupun di masa depan. Rasul Yohanes menulis dengan yakin bahwa ketika Kristus datang kedua kalinya, “kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya” (1 Yoh. 3:2). Perintah Tuhan dalam Ibrani 12:14 lebih lanjut menjangkarkan janji itu di masa sekarang, “kejarlah kekudusan [yang berhubungan erat dengan “kesalehan”], sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan”. Jadi kita berdisiplin rohani, melatih diri untuk hidup serupa dengan Kristus, supaya dapat melihat kehadiran Kristus secara nyata dalam kehidupan kita di masa kini dan mempersiapkan diri menikmati kekekalan bersama dengan-Nya ketika Ia nanti datang yang kedua kali.

Faktor pembeda terakhir yang perlu kita perhatikan adalah peranan manusia dalam praktik agamawi. Kepercayaan-kepercayaan lain pada umumnya mengajarkan praktik agamawi sebagai jalan untuk mendapatkan keselamatan. Implikasinya adalah manusia harus secara aktif mengejar keselamatan lewat berbagai bentuk kesalehan; kesalehan hanyalah hasil dari praktik agamawi. Keyakinan ini bertolak belakang dengan Kekristenan, yang percaya bahwa kesalehan yang sempurna telah dihidupi oleh Yesus Kristus sehingga orang-orang yang percaya kepada-Nya mempraktikkan disiplin rohani untuk menjadi serupa dengan-Nya, bukan untuk memperoleh keselamatan (bdk. 1 Kor. 1:30–31). Kesalehan yang merupakan keserupaan dengan Kristus adalah penyebab sekaligus sasaran dari disiplin rohani, bukan hasil usaha manusia berdosa, “supaya tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri” (Ef. 2:9). Karena keselamatan diberikan Allah kepada kita oleh karunia-Nya semata, kita mempraktikkan disiplin rohani dengan sepenuhnya “menaruh pengharapan kepada Allah yang hidup” (ay. 10), yang telah membuat Kristus “yang tidak mengenal dosa… menjadi dosa karena kita supaya kita dibenarkan Allah di dalam Dia” (2 Kor. 5:21). Ya, untuk janji di kehidupan sekarang dan yang akan datang “itulah kita bekerja keras dan berjuang” (ay. 10), “tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1 Kor. 15:10 TB).

Jadi, apa itu ‘disiplin rohani’ menurut Kekristenan? Secara singkat, “praktik-praktik pribadi dan komunal yang melatih setiap pengikut Kristus untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya dan mempersiapkan kita menikmati kekekalan bersama-Nya”.

Definisi ini jelas berbeda dari tindakan agamawi kepercayaan-kepercayaan lainnya bukan?

“Apa saja bentuk-bentuk disiplin rohani?”

Sebelum sepenuhnya bergeser dari konsep disiplin rohani menuju bentuk-bentuk praktiknya, kita perlu menyadari adanya bahaya dari ketiadaan batasan bentuk disiplin rohani. Kalau kita “kecanduan” pada perasaan dekat dengan Allah lewat aktivitas-aktivitas tertentu—yang mungkin hanya berlaku untuk diri kita saja—seperti berkebun dan berolahraga, kita dapat melabeli setiap hal sebagai “disiplin rohani”. Don Whitney melanjutkan dalam “10 Pilar Penopang Kehidupan Kristen”, … lebih parahnya lagi, ini berarti bahwa kita sendirilah yang menentukan praktik-praktik mana saja yang paling baik untuk kesehatan dan kedewasaan rohani kita, bukannya menerima dan melakukan praktik-praktik yang telah Allah ungkapkan dalam Alkitab; dengan kata lain, kita mencoba menggeser Allah dari tempat-Nya sebagai Tuhan atas hidup kita.

Kalau begitu, apa saja bentuk-bentuk disiplin rohani yang Alkitabiah? Don Whitney mencatat paling tidak ada 10 praktik yang paling menonjol dalam Alkitab, sebagai berikut:

  1. Bergaul dengan Firman / Bible intake (2 Tim. 3:14–17; Ez. 7:10; Mzm. 119)
  2. Berdoa (Mat. 6:5–9; 1 Tes. 5:17; Lk. 11:1; Mrk. 1:35–39; Mzm. 19)
  3. Beribadah (Yoh. 4:23–24; Ibr. 10:24–25; Mrk. 12:30; Why. 4:8)
  4. Memberitakan Injil (Mat. 28:18–20; Mrk. 16:15; Yoh. 20:21; Kis. 1:8)
  5. Melayani (Ibr. 9:14; Mzm. 100:2; 1 Sam. 12:24; Yoh. 13:12–16)
  6. Penatalayanan / stewardship (Ef. 5:15–16; Yoh. 9:4; 1 Tim. 5:8; 2 Kor. 9:7)
  7. Berpuasa (Mat. 6:16–18, 9:14–15; Ez. 8:23; Kis. 14:23; Mzm. 35:13)
  8. Bersaat teduh / silence and solitude (Kol. 3:2; Mat. 14:23; Lk. 4:42; Yes. 30:15)
  9. Menulis jurnal (Mzm. 86:1, 62:8, 102:18; Rom. 12:3; Ul. 17:18)
  10. Pembelajaran / learning (Mat. 22:37–39; Ams. 10:14, 18:15; Rom. 12:1–2)

Kamu mungkin sangat familiar dengan beberapa praktik di atas dan merasa bisa bertumbuh tanpa perlu mempraktikkan semua yang ada dalam daftar, namun aku ingin mendorongmu untuk mencoba melakukan semuanya, satu demi satu. Mengapa begitu? Karena kesepuluh praktik ini adalah jalan-jalan yang Tuhan rancang sendiri dan berikan kepada kita agar kita dapat bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Anak-Nya (bdk. 2 Tim. 3:16–17). Kalau misalkan ada aktivitas-aktivitas lain yang telah dirancang Allah untuk melakukan tujuan yang sama, tentunya mereka pasti dicatat oleh Firman-Nya, bukan?

Masih ada satu pertanyaan besar lagi yang karena keterbatasan waktu tidak bisa kujawab sekarang, yaitu tentang bagaimana melakukan disiplin rohani. Tenang saja, pertanyaan itu akan kubahas minggu depan, beserta dengan catatan satu percakapanku dengan seorang kakak pembina, yang tanpa kuduga-duga merangkum dengan sangat baik realita manusia yang mempraktikkan disiplin rohani.

Semoga artikel ini membantu kamu dalam mulai berdisiplin rohani di dalam Kristus. Sampai jumpa dalam tulisan berikutnya, Tuhan Yesus menyertai kamu, soli Deo Gloria.

Pertanyaan refleksi:

  1. Apa pengertianmu tentang disiplin rohani sebelum membaca tulisan ini?
  2. Apa motivasimu mempraktikkan disiplin rohani selama ini? untuk menjadi saleh dan mendapat pahala dari Allah, atau untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus?
  3. Disiplin-disiplin rohani mana saja yang telah kamu praktikkan selama ini? Adakah disiplin tertentu yang belum pernah kamu telusuri dan bisa kamu lakukan dalam waktu dekat, baik secara pribadi maupun bersama orang lain, untuk dapat semakin mengenal dan mengasihi Tuhan Yesus?

Catatan:
kecuali bagian-bagian yang memiliki singkatan TB / ESV, kutipan-kutipan Alkitab dalam tulisan ini memakai terjemahan Alkitab Yang Terbuka (AYT).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

3 Manfaat Melakukan Disiplin Rohani

Jika kita ingin sungguh-sungguh hidup dalam Tuhan, kita tidak boleh menghindar dari disiplin rohani. Ketika kita melatih diri lewat berdoa, saat teduh, dan bersekutu, di situlah kita membangun relasi yang erat dengan-Nya. Sekalipun tantangan dan godaan selalu datang, tetapi Tuhan sendirilah yang memampukan kita.

Kecenderungan Buruk yang Hadir Saat Berbuat Baik

Oleh Antonius Martono

Ada dua kecenderungan buruk yang mungkin muncul saat manusia berbuat baik. Kecenderungan yang pertama adalah menyangka bahwa mereka adalah orang baik. Sedangkan kecenderungan kedua adalah menyangka bahwa mereka bukanlah orang jahat. Manusia sering terjebak di antara dua kecenderungan ini. Mereka bisa saja menolak disebutkan sebagai orang baik, tapi mereka juga tidak mau disebut sebagai orang jahat. Kondisi ini dapat menjebak manusia untuk puas dengan kebenaran moralnya sendiri.

Pada suatu hari terjadi konflik antara aku dan adikku. Dalam konflik itu dia berkata bahwa kakak yang baik adalah kakak yang mau mengalah pada adiknya. Mendengar hal itu, aku tersinggung dan merasa direndahkan, sebab selama ini rasanya aku telah menjadi kakak yang baik. Aku telah banyak bersikap sabar terhadap karakternya yang keras. Aku juga telah banyak mengalah, berkorban, dan berbuat baik untuknya. Memang ada kekurangan sedikit, tetapi timbangan moralku mengatakan bahwa lebih banyak hal baik yang telah dinikmatinya dariku. Aku mau membuktikan bahwa aku telah berhasil menjadi seorang kakak yang baik, oleh sebab itu aku mulai mengingatkan padanya sekumpulan jasa yang telah kuberikan padanya. Konflik kami memang tak berlangsung lama. Kami segera berdamai dan memperbaiki relasi kami. Namun, kejadian itu mengejutkanku dan mendorongku untuk merenung.

Mengapa aku perlu memberikan bukti bahwa aku adalah seorang kakak yang baik? Mengapa aku perlu membela diri dengan menyebutkan sederetan jasa yang telah kulakukan? Mengapa aku merasa tersinggung dan direndahkan dengan pernyataan tersebut? Apakah selama ini aku tidak tulus berkorban bagi adikku?

Akhirnya aku menemukan bahwa aku telah merasa menjadi orang yang lebih baik dibandingkan dengan adikku yang keras itu. Sehingga harga diriku seperti dicoreng ketika adikku tidak mengakui kebaikan yang telah aku lakukan. Aku baru menyadari bahwa selama ini aku telah menjadikan perbuatan baik sebagai mata uang untuk “membeli” citra sebagai kakak yang baik.

Dalam perenunganku, aku teringat akan orang Farisi dalam perumpamaan Yesus di Lukas 18: 10 – 14.

“Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Orang Farisi itu begitu bangga dengan dirinya. Dia merasa telah menjadi orang baik karena keberhasilannya melakukan perbuatan baik. Bahkan dia berani menyebutkan prestasi perbuatan-perbuatan baiknya kepada Allah. Dia merasa lebih bermoral ketika membandingkan dirinya dengan sang pemungut cukai. Di hadapan Allah, orang Farisi ini mengira dirinya memiliki kualitas yang berbeda dari pemungut cukai. Dia tidak mau menyamakan dirinya dengan pemugut cukai yang penuh dosa itu. Sedangkan sang pemungut cukai sadar bahwa dirinya adalah orang berdosa. Dia meminta belas kasihan Allah untuk dirinya dan Allah membenarkannya.

Dalam bukunya The Righteous Mind, Jonathan Haidt yang adalah seorang psikolog sosial mengatakan bahwa: self-righteousness is the normal human condition. Manusia cenderung merasa dirinya lebih bermoral atau tidak lebih jahat dibandingkan dengan sesamanya. Akhirnya manusia cenderung membagi sesamanya dengan kategori orang jahat dan orang baik, sehingga sangat sulit bagi mereka yang merasa bermoral untuk bergabung dengan mereka yang dianggap kurang bermoral. Padahal sejak manusia jatuh dalam dosa, mereka semua telah menjadi musuh Allah. Semua manusia adalah orang berdosa, itu faktanya. Hanya saja ada orang berdosa yang telah dibenarkan dan ada yang belum. Namun, perbedaan ini bukanlah kriteria untuk memilih teman melainkan menjadi sebuah bukti bahwa Allah mau membenarkan mereka.

Kecenderungan manusia untuk merasa lebih benar dapat melemahkan pertahanan mereka terhadap dosa. Dengan berpikir bahwa mereka adalah orang baik, mereka cenderung melegalkan dosa kecil yang akan diperbuat. “Ah, ini hanya dosa kecil. Toh, saya orang baik, tidak sejahat itu.” Padahal Tuhan tidak suka dengan dosa sekecil apapun. Bahkan lebih buruk lagi, kecenderungan ini dapat membuat mereka merasa lebih kebal dosa daripada orang lain, merasa mampu mengalahkan godaan dosa dengan kekuatan sendiri, dan cenderung beranggapan tidak akan jatuh ke dalam dosa yang sama seperti orang lain.

Oleh sebab itu kita perlu terus waspada untuk tidak menilai diri berdasarkan perbuatan baik. Kita perlu berfokus kepada perbuatan yang telah Yesus lakukan beserta anugerah-Nya. Pada akhirnya manusia sanggup berbuat baik karena anugerah Allah yang memampukannya. Sedangkan bagi mereka yang merasa lebih bermoral, perbuatan baik itu bergantung pada usaha keras diri sendiri, bukan bersandar pada anugerah Allah.

Pernahkah kita merenung, berapa banyak perbuatan jahat yang dapat kita lakukan hari ini jika Allah tidak memberikan anugerah-Nya? Sejahat apakah perbuatan yang mungkin dapat kita lakukan, jika Allah tidak menjaga kita? Pertanyaan ini dapat mengevaluasi diri kita, sehingga kita dapat waspada untuk tidak terlalu bangga dengan pencapaian moral kita.

Tidak ada manusia yang kebal dan mampu menang dari dosa dengan kekuatan sendiri. Merasa telah menjadi orang baik dapat menjebak kita besar kepala dan merasa tidak memerlukan pertolongan Allah. Ketika seseorang jatuh dalam dosa, kita sama rentannya dengan mereka. Kita sangatlah mungkin melakukan dosa yang sama seperti mereka. Mengingat hal ini dapat membuat kita semakin rendah hati dan mendorong kita terus bergantung pada Allah. Kita perlu bergantung dalam doa, meminta Tuhan agar menjaga hati kita yang lemah. Pada akhirnya kita butuh kesetiaan Allah yang memampukan kita untuk setia.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Cerpen: Memaafkan Papa Mengikuti Teladan Bapa

Aku menghela napas panjang mendengar keputusan mama. Permintaannya kali ini sungguh di luar dugaanku.

“Kak, kamu harus menemui papamu dulu, baru kamu bisa pergi sama Daniel!” tegas mama.

“Mama, please! I just need you and I am happy,” pintaku sedikit memelas.