Posts

Ketika Tuhan Menjawab Doaku dengan 2 Buah Kentang

Ketika-Tuhan-Menjawab-Doaku-dengan-2-Buah-Kentang

Oleh Diana Yemima

Aku dan keluargaku bergumul dengan permasalahan ekonomi yang terjadi belakangan ini. Gaji ayahku yang diterima setiap bulan tidak mampu mencukupi semua kebutuhan keluarga. Melihat kondisi keluarga yang kekurangan, ibu berjualan kue di sekitar kompleks perumahan.

Kue yang dijual oleh ibu itu sangat sederhana, yaitu donat yang dibuat dari kentang dan ditaburi gula halus. Ibu memiliki masalah fisik sehingga tidak memungkinkan untuk berjualan setiap hari, jadi dalam satu minggu ia hanya berjualan tiga kali. Keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat ibu, malahan ia mengatakan kalau strateginya menjual donat tiga kali seminggu itu bagus karena membuat pelanggannya dilanda “rindu” terlebih dahulu.

Apa yang ibu lakukan itu ada benarnya juga. Setiap kali ia berjualan keliling komplek perumahan, para pelanggan membeli donat dalam jumlah banyak, ada yang membeli lima donat sekaligus bahkan lebih. Mungkin mereka membeli banyak karena tahu kalau tidak setiap hari bisa menyantap donat kentang buatan ibuku.

Tuhan Yesus memberkati usaha berjualan donat yang ibu kerjakan. Setiap kali ia berjualan, semua donat selalu habis terjual sehingga uang hasil penjualan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga kami.

Suatu hari tagihan listrik di rumah kami telah jatuh tempo, tapi kami tak punya cukup uang untuk melunasinya. Uang yang kami miliki saat itu seharusnya digunakan untuk berbelanja kebutuhan bahan-bahan membuat donat kentang.

Ayah berusaha mencari pinjaman uang untuk membayar tagihan listrik itu. Aku teringat kalau masih ada tabungan yang kusimpan di celengan. Kubongkar celengan itu dan kukumpulkan setiap keping uang logam. Setelah digabung dengan sisa uang yang ada, ternyata itu cukup untuk membayar tagihan listrik kami.

Aku teringat satu ayat yang tertulis dalam Lukas 3:14 tentang perkataan Yohanes Pembaptis kepada prajurit-prajurit yang bertanya kepadanya, “Cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” Ayat ini menguatkanku kalau Tuhan mencukupi kebutuhan keluargaku sehingga kami tidak harus berhutang kepada orang lain.

Aku berdoa sembari tanganku menggenggam uang. “Ya Bapa, Engkau tahu bahwa uang ini adalah uang terakhir yang ada di keluarga kami. Dan uang ini akan digunakan untuk membayar listrik. Aku menyerahkan uang ini ke dalam tangan kuasa-Mu. Biarlah dengan uang ini, kami dapat memenuhi setiap kebutuhan kami hingga akhir bulan nanti. Dalam nama Tuhan Yesus, amin,” ucapku pada-Nya.

Aku pikir masalah hari itu sudah selesai, tapi masih ada yang terjadi. Aku tidak melihat ibu menyiapkan bahan membuat donat kentang, padahal besok adalah hari Selasa yang semestinya ibu berjualan. Karena seluruh uang yang kami miliki, termasuk uang hasil penjualan donat ibu telah digunakan untuk melunasi tagihan listrik, maka kami tidak punya sisa uang lagi untuk membeli bahan-bahan membuat donat.

“Apakah tidak ada stok bahan yang tersisa di dapur?” tanyaku. Ibu menjawab kalau ia hanya memiliki dua buah kentang, padahal untuk satu kali adonan donat membutuhkan empat buah kentang.

Jika besok ibu tidak berjualan, kami tidak akan memiliki uang untuk makan karena penghasilan ibulah yang menjadi penyangga kehidupan sehari-hari kami. Aku masih tidak percaya kalau hanya tersisa dua kentang saja. Aku bergegas menuju dapur yang diterangi cahaya redup. Ternyata apa yang ibu katakan itu benar, hanya tersisa dua kentang saja di sana.

Kemudian aku masuk ke dalam kamar dan berdoa. “Tuhan terimakasih atas berkat-Mu karena akhirnya kami dapat membayar listrik tanpa meminjam uang. Tapi, Tuhan, ibu kehabisan kentang untuk membuat donat, sedangkan besok kami membutuhkan uang untuk makan. Bapa, aku yakin bahwa Engkau tak pernah membiarkan anak-Mu terlantar dan kelaparan. Engkau pasti memberi jalan keluar untuk segala permasalahan kami. Kami serahkan segalanya ke dalam tangan kuasa-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, amin.”

Seusai berdoa aku keluar dari kamar dan tiba-tiba ibu menghampiriku dengan raut wajah penuh syukur. Ia mengatakan kalau ayah menemukan dua buah kentang lagi yang tersembunyi di bawah tangga. Tangan ayah mampu merogoh hingga ke ujung dan ternyata ada dua buah kentang yang tersimpan di bawah sana. Awalnya ibu berpikir kalau kentang yang ditemukan itu pastilah sudah busuk karena itu kentang sisa dari minggu sebelumnya. Tapi, kentang itu masih dalam kondisi baik, tidak busuk.

Aku terharu melihat pertolongan Tuhan karena aku tahu kentang itu tidak datang tiba-tiba dari langit. Tuhan menjawab doaku dan membuatku menangis penuh ucapan syukur. Aku menyadari kalau pertolongan Tuhan itu selalu tepat waktu. Tidak lebih cepat, tapi juga tidak terlambat.

Ketika kita dihadapkan pada keadaan di mana segala sesuatunya seolah buntu, Tuhan tahu jalan keluar terbaik untuk setiap persoalan anak-anak-Nya. Kisahku bersama Tuhan menjadi suatu bukti kalau Dia tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya kelaparan.

Firman Tuhan dalam Lukas 12:22-24 menguatkanku karena Tuhan berjanji selalu memelihara anak-anak-Nya, bahkan menyediakan setiap detail kebutuhan kita. Tuhan Yesus memberi perumpamaan tentang burung-burung di udara yang tidak menabur atau menuai, tetapi tetap dipelihara oleh-Nya. Jika Tuhan sanggup memelihara burung-burung itu, terlebih lagi Ia juga memelihara kita. Tuhan tidak pernah lalai menepati janji-Nya, namun yang perlu kita lakukan adalah setia melakukan bagian kita dengan baik.

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu,” (1 Petrus 5:7). Seberat apapun pergumulan yang kamu alami, kamu tidak pernah berjalan sendirian. Tuhan Yesus menemani langkah perjalananmu, bahkan Ia juga akan menggendongmu ketika kamu lemah. Ketika kita mengakui kelemahan kita dan merendahkan diri di hadapan-Nya, di situlah kita akan merasakan penyertaan-Nya.

Menutup kesaksianku, ada satu ayat yang diambil dari 1 Korintus 10:13b, “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

Jadi, seberat apapun pergumulan yang kamu alami, janganlah menyerah pada keadaan, tetapi berserahlah kepada Tuhan.

Baca Juga:

Ketika Tuhan Berkata Pria Itu Bukan Untukku

Sakit. Sedih. Kecewa. Itulah yang kurasakan ketika aku akhirnya putus dari pacarku setelah kami menjalin hubungan selama 3 tahun 7 bulan. Di saat aku telah mendoakan hubungan ini dan membayangkan akan menikah dengannya, ternyata hubungan kami harus kandas di tengah jalan.

Ketika Tuhan Berkata Pria Itu Bukan Untukku

ketika-tuhan-berkata-pria-itu-bukan-untukku

Oleh Ruth Theodora, Jakarta

Sakit. Sedih. Kecewa. Itulah yang kurasakan ketika aku akhirnya putus dari pacarku setelah kami menjalin hubungan selama 3 tahun 7 bulan. Di saat aku telah mendoakan hubungan ini dan membayangkan akan menikah dengannya, ternyata hubungan kami harus kandas di tengah jalan. “Aku rasa aku tidak sungguh-sungguh mencintaimu,” begitulah alasan yang diucapkannya ketika memintaku untuk putus.

Tiga bulan berikutnya menjadi hari-hari terberat dalam hidupku. Aku bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, kenapa ini harus terjadi?” Aku pun menjadi takut menghadapi masa depan. “Kalau hubungan yang telah kudoakan ini saja bisa kandas di tengah jalan, bagaimana dengan masa depanku?” begitu pikirku.

Aku pun merasa lelah sendiri. Aku merasa tidak bisa hidup seperti ini terus-menerus. Aku berdoa kepada Tuhan setiap hari agar aku bisa terlepas dari semua perasaan ini. Tuhan menjawabku melalui kakak rohaniku, mamaku, saat teduhku, firman Tuhan di gerejaku, bahkan juga melalui media sosial Instagram, Path, dan Facebook yang kugunakan. Pesan itu terangkum dalam tiga kata: Let it go (Lepaskan saja).

Meskipun pesan untuk melepaskan itu begitu kuat, tapi aku masih takut untuk melepaskan mantan pacarku. Aku takut aku tidak bisa mendapat pria yang sebaik dia. Aku takut mempunyai masa depan yang suram. Aku takut aku tidak bisa masuk dalam suatu hubungan lagi. Namun, semakin besar perasaan takut yang aku rasakan, semakin keras juga pesan “let it go” itu kutemukan dalam keseharianku. Entah mengapa, setiap kali aku membuka media sosial, banyak sekali postingan yang kutemukan itu berbicara tentang melepaskan masa lalu.

Akhirnya, pada minggu kedua bulan Januari 2017, saat aku pergi ke gereja, Tuhan kembali mengatakan kepadaku lewat khotbah yang kudengar, “Jangan mau dihantui masa lalu, karena Aku menyiapkan masa depan yang penuh harapan untukmu.” Kata-kata itu begitu menguatkanku, dan di saat itu juga aku mengambil komitmen untuk tidak takut lagi. Aku mulai mengatakan kepada diriku, “Kalau Tuhan berkata pria itu bukan untukku berarti Tuhan sudah menyiapkan yang lebih baik untukku.”

Puji Tuhan, pengalamanku ini akhirnya dapat membuatku mengenal Tuhan lebih baik lagi.

1. Aku percaya Tuhan punya rencana yang terbaik untukku

Jangan lagi terpaku dengan kesedihan masa lalu. Percayalah bahwa Tuhan memiliki rencana yang luar biasa yang sedang Dia siapkan buat kita, meskipun saat ini kita belum dapat melihatnya. Percayalah bahwa apapun yang terjadi saat ini memang Tuhan izinkan terjadi untuk mempersiapkan kita untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik di masa depan kita. Dalam Yeremia 29:11, Dia mengatakan bahwa Dia mempunyai rencana, dan rencana-Nya itu adalah untuk mendatangkan kebaikan dan masa depan yang penuh harapan.

2. Aku percaya dengan proses dan waktu yang ditentukan Tuhan

Ketika Tuhan mengizinkan hubunganku dengan mantan pacarku kandas, aku tidak tahu apa maksud Tuhan. Yang aku tahu adalah aku mengalami proses yang luar biasa yang menjadikanku semakin dewasa baik secara rohani maupun karakter. Aku jadi bisa melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda, yang mengubah hidupku. Aku juga menjadi percaya bahwa waktu-Nya Tuhan tidak pernah terlambat dan tidak pernah terlalu cepat, sama seperti matahari yang setiap hari terbit dan tenggelam tepat pada waktunya.

Proses yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidupku membuatku semakin kuat dan mempersiapkan diriku untuk masa depanku. Ketika aku berumah tangga kelak, tentu akan ada lebih banyak tantangan. Tapi aku percaya pada saat itu tiba, aku telah siap untuk menghadapinya karena Tuhan telah membentukku melalui proses-Nya.

3. Aku percaya Tuhan mengetahui isi hatiku dan peduli kepadaku

Ketika aku baru putus, setiap hariku terasa berat dan hampir setiap saat aku menangis. Hatiku begitu hancur sampai-sampai aku tidak tahu bagaimana aku harus berdoa dan mengutarakan isi hatiku kepada Tuhan. Tapi kemudian aku membaca firman Tuhan berikut ini.

“Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN” (Mazmur 139:4).

Firman Tuhan itu memberitahuku bahwa Tuhan sangat mengerti isi hatiku, bahkan sebelum itu terucap di bibirku. Dia amat mengenalku, bahkan lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri. Dan Dia juga peduli kepadaku. Buat apa lagi aku takut? (Matius 10:31).

“Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5).

Baca Juga:

Tuhan, Mengapa Aku Harus Masuk Sekolah Farmasi?

Bersekolah hingga meniti karier di dunia farmasi bukanlah cita-cita yang dulu kuinginkan. Dalam pandanganku dulu, dunia kesehatan itu punya banyak aturan dan pantangan sedangkan aku ingin hidup bebas. Tetapi, rencanaku bukanlah yang terbaik dan lewat pengalaman inilah Tuhan hendak memberiku pelajaran-pelajaran berharga.

Tuhan, Mengapa Aku Harus Masuk Sekolah Farmasi?

tuhan-mengapa-aku-harus-masuk-sekolah-farmasi

Oleh Lovesa Oktaviana, Bandung

Ketika anak-anak seusiaku dulu begitu antusias bercita-cita ingin menjadi dokter, aku malah sama sekali tidak tertarik untuk bekerja di dunia kesehatan. Sewaktu kecil dulu aku pernah melakukan tes kesehatan, tapi dokter yang memeriksaku itu galak dan kasar sehingga aku takut untuk menjadi dokter. Tapi, yang lebih mendasar adalah aku ingin hidup bebas, sedangkan dalam pandanganku dunia kesehatan itu memiliki banyak aturan dan pantangan.

Tiba saatnya aku akan melanjutkan studi ke sekolah menengah atas dan aku mendaftar di sebuah sekolah swasta. Aku sudah merencanakan untuk masuk ke program IPS saja supaya saat lulus nanti aku bisa melanjutkan kuliah ke jurusan Sastra Prancis. Itulah tekadku dulu, dan aku sendiri pun tidak tahu nantinya akan bekerja sebagai apa. Aku hanya ingin mengikuti jejak ibuku yang waktu itu pandai berbahasa Prancis.

Saat waktu pendaftaran semakin dekat, ibuku membujukku untuk masuk ke sekolah farmasi. Ibuku berkata kalau sekolah farmasi itu belum banyak diminati orang sehingga saat lulus nanti pasti banyak orang yang membutuhkan lulusan farmasi. Aku tahu kalau sebenarnya itu bukanlah satu-satunya alasan ibuku membujukku. Aku adalah anak pertama dari empat bersaudara sehingga aku punya tanggung jawab terhadap masa depan adik-adikku nanti. Jika nanti aku bisa bekerja mapan tentu aku dapat meringankan beban orangtuaku.

Aku tidak tahu jelas tentang dunia farmasi. Yang aku tahu sekolah farmasi itu nantinya mirip dengan sekolah kejuruan. Aku pun menurut bujukan ibuku untuk mendaftar. “Toh hanya mendaftar, lagian belum tentu juga diterima,” ucapku dalam hati. Aku masih mendambakan masa putih abu-abuku diisi di sekolah SMA umum, sehingga selain di sekolah farmasi aku juga mendaftar di SMA swasta lainnya.

Singkatnya aku mengikuti tes di dua sekolah tersebut. Aku tidak menaruh rasa curiga apapun karena setiap soal tes bisa kukerjakan dengan mudah. Aku yakin kalau akan diterima di SMA biasa, bukan di sekolah farmasi. Tapi, aku kaget karena hasil tes menunjukkan bahwa aku lebih direkomendasikan untuk masuk ke sekolah farmasi! Aku merasa tidak terima dengan hasil itu dan kupikir kalau ibuku telah menjebak dan menipuku.

Malam itu aku berdoa kepada Tuhan supaya aku bisa menggagalkan rencana untuk sekolah farmasi. “Masa aku harus menjalani sesuatu yang aku tidak suka?” doaku pada Tuhan. Tetapi, kemudian aku berpikir bagaimana jika seandainya doaku justru dijawab terbalik oleh Tuhan? Aku bingung harus berbuat apa.

Sembari menunggu pengumuman kelulusan, perlahan Tuhan membukakan pikiranku tentang masa depan. Aku belajar untuk mencari tahu lebih banyak tentang dunia farmasi, tentang peluang dan tantangannya hingga aku menyadari bahwa melanjutkan ke sekolah farmasi juga bukanlah pilihan yang buruk. Aku menyadari bahwa dulu aku bukanlah orang Kristen yang sungguh-sungguh. Aku belum mengalami lahir baru, tidak terlibat pelayanan, dan hanya jemaat simpatisan. Aku belum memahami indahnya panggilan Tuhan. Aku masih berfokus pada diri sendiri karena aku belum jadi orang yang peka.

Hari yang ditunggu pun tiba dan aku harus menerima kenyataan kalau hasil final dari tes itu menunjukkan aku diterima di sekolah farmasi. Perasaanku campur aduk, entah aku harus merasa senang atau sedih. Aku tidak protes kepada ibuku, tapi berdiam diri sejenak dan bertanya dalam hati apakah aku siap untuk menjalani hari-hariku nanti.

Di masa awal sekolah aku berjuang membuat diriku terlarut dalam ritme sekolah farmasi yang padat. Aku tidak terlalu suka pelajaran-pelajaran yang diberikan dan juga sering mengeluh karena jam sekolah yang dimulai pukul 07:15 dan baru berakhir pukul 17:00 setiap hari! Ketika hasil ujian tengah semester keluar, nilaiku hanya pas-pasan. Melihat nilai itu, aku menjadi khawatir.

Sekolah tempatku belajar termasuk dalam sekolah unggulan yang memiliki segudang peraturan ketat. Ketika nilai-nilaiku tidak mencapai standar yang ditetapkan sekolah, besar kemungkinan nanti aku akan dikeluarkan. Terlepas dari ketidaksukaanku dengan dunia farmasi, aku teringat perjuangan kedua orangtuaku yang membiayai sekolahku dengan susah payah. Bagaimana perasaan mereka jika nanti aku dikeluarkan dari sekolah? Aku tidak boleh egois. Hanya karena aku tidak suka farmasi bukan berarti aku bisa bertingkah semau diriku sendiri.

Aku belajar untuk yakin bahwa Tuhan punya rencana. Dengan berdoa, aku datang dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Tuhan membuka pandanganku tentang dunia farmasi. Aku tahu bahwa Dia menempatkanku di sekolah ini bukan semata-mata karena aku adalah anak pertama yang nanti harus segera mendapatkan pekerjaan, tapi lebih dari itu, Tuhan ingin aku melayani Dia.

Saat aku mulai menikmati kehidupanku sebagai seorang siswa farmasi, aku menyadari bahwa menjadi seorang farmasis itu adalah pekerjaan yang mulia. Seorang farmasis dituntut untuk teliti, karena kesalahan sedikit saja ketika menerjemahkan isi resep dokter bisa berakibat fatal! Tapi, farmasis tidak hanya berurusan dengan obat, bisa juga berinteraksi dengan orang-orang dan memberi konsultasi.

Dari sinilah aku belajar bahwa terkadang yang orang butuhkan bukanlah obat jasmani semata, tapi juga obat rohani. Amsal mengatakan kalau hati yang gembira adalah obat yang manjur (Amsal 17:22). Aku bisa memberi mereka obat rohani dengan menjadi teman curhat mereka. Sikapku ketika melayani pasien mungkin akan mempengaruhi kesembuhannya juga. Ketika pasien yang kulayani merasa puas dan gembira, tentu itu akan membantu mengurangi sakitnya walaupun hanya sedikit.

Akhirnya aku menemukan jawaban dari pergumulanku selama ini, yaitu Tuhan mau aku melayani Dia lewat pasien-pasien yang kelak akan kutemui dalam pekerjaanku.

Tiga tahun studi di sekolah farmasi memberiku gelar AA (Asisten Apoteker) di belakang namaku, dan itu membuatku bersyukur karena Tuhanlah yang membawaku ke sana. Singkat cerita, setelah tamat dari sekolah farmasi, aku melanjutkan studi sarjanaku di Sekolah Tinggi Farmasi di kota Bandung dan sekarang kembali melanjutkan studi ke jenjang profesi apoteker.

Seringkali apa yang kita inginkan seolah tidak senada dengan apa yang Tuhan inginkan. Tetapi, percayalah bahwa ada sukacita ketika kita mau hidup di dalam rencana-Nya. Sekalipun awalnya mungkin terasa berat, tetapi kelak ketika kita setia menjalani panggilan-Nya, suatu saat kita akan beroleh sukacita dan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mengapa yang kita ajukan.

“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23).

Baca Juga:

4 Pertanyaan yang Perlu Dijawab Jika Kamu Jatuh Cinta pada yang Berbeda Iman

Aku telah beberapa kali menyukai laki-laki yang berbeda iman dan dua kali berpacaran dengan mereka. Lingkungan sosial membuatku secara alami mempunyai banyak kenalan laki-laki yang berbeda iman denganku. Aku bersekolah di sekolah negeri sejak taman kanak-kanak hingga kuliah. Oleh karena itu, mayoritas teman-temanku berbeda iman denganku.

Mengapa Aku Selalu Menolak Pertolongan dari Orang Lain

mengapa-aku-selalu-menolak-pertolongan-dari-orang-lain

Oleh Kim Cheung, Tiongkok
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: 只付出不接受的做法真的是上帝喜悦的么?

Beberapa hari yang lalu saat sedang makan malam, ayahku berkomentar tentang zaman yang telah banyak berubah. Dulu, biasanya atasan-atasan di tempat kerja itu peduli dengan pekerja di bawahnya. Ketika kakekku bekerja di sebuah perusahaan arsitektur, manajernya selalu mengunjungi keluarganya setiap tahun baru Imlek sambil membawa serta sejumlah uang dan menanyakan apakah keluarga kami membutuhkan sesuatu untuk dibantu.

Suatu ketika keluarga kami membutuhkan bantuan untuk membangun sebuah rumah, lalu manajer itu mengirimkan beberapa orang pekerja bangunan untuk menolong kami. Awalnya kakekku menolak bantuan itu. Bagi orang-orang pada masa itu, menerima pertolongan dari orang lain itu dianggap bisa menghilangkan “harga diri”.

Aku pikir keadaan hari ini pun tidak banyak berubah. Ada banyak orang yang ingin menolong orang lain tapi dirinya sendiri tidak mau ditolong.

Banyak dari kita diajar untuk tidak hidup egois. Kita diajar untuk memiliki hati yang tulus menolong tanpa mengharapkan balasan, dan itu sungguh mulia. Dulu aku juga berpikir seperti itu. Ketika aku masih sekolah, aku dengan senang hati menolong teman sekelasku. Tapi, sangat sulit bagiku ketika aku harus meminta pertolongan dari orang lain. Prinsip ini terus kupegang bahkan sampai aku lulus sekolah. Sebenarnya di lubuk hatiku terdalam aku tahu kalau aku butuh pertolongan. Namun aku tidak mau meminta pertolongan itu. Dan, ketika ada orang lain yang menawarkan pertolongan untukku dengan tangan terbuka, aku malah sulit untuk menerimanya.

Haruskah kita berlaku seperti itu? Apakah Tuhan berkenan jika kita menolong orang lain tapi kita sendiri tidak mau ditolong?

Tuhan mengajar kita untuk saling menanggung beban satu sama lain (Galatia 6:2). Alkitab juga mengingatkan kita bahwa di dalam Kristus kita semua adalah satu tubuh (1 Korintus 12:12-27). Tolong menolong baru bisa terjadi ketika ada dua pihak yang saling terlibat. Jika setiap orang menolak untuk ditolong, lalu siapa yang bisa kita tolong? Bagaimana kita bisa hidup dalam satu tubuh Kristus?

Ada rasa gengsi di balik penolakan pertolongan

Tuhan mau supaya kita menerima dan memberi dengan sukacita. Jadi, mengapa ada orang-orang yang sangat sulit untuk menerima? Kalau kamu bertanya padaku, aku akan menjawab kalau kesulitan itu terjadi karena rasa gengsi.

Kita seringkali tidak mau mengakui kelemahan-kelemahan kita. Dan salah satu yang kita lakukan agar kelemahan itu tidak dilihat orang adalah meninggikan ego dengan tidak mau menerima pertolongan orang lain. Aku menyadari hal ini ketika aku mulai berpikir lebih dalam tentang esensi dari memberi dan menerima. Rasa gengsiku adalah kelemahanku dan alasan utama di balik prinsipku untuk tidak mau menerima pertolongan.

Mempercayai Tuhan itu sulit ketika kamu menolak untuk ditolong

Kita sulit untuk mempercayai Tuhan seutuhnya ketika kita hanya mau memberi tanpa mau menerima. Tuhan mau supaya kita mengakui bahwa kita adalah ciptaan yang rapuh. Dan dari situlah kita bisa menanggalkan segala beban kita kepada Tuhan dan percaya kepada-Nya. Rasul Paulus mengatakan, “Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat“ (2 Korintus 12:9-10). Bagaimana kita dapat berserah dan percaya kepada Tuhan seutuhnya jika kita menolak pertolongan dan bersandarkan hanya pada diri kita sendiri? Kita tidak bisa mengenal Tuhan seutuhnya jika kita tidak mengakui kerapuhan kita.

Aku ingat suatu masa ketika aku mengikuti sebuah persekutuan dengan beban hidup yang begitu berat. Saat itu aku merasa lelah dan tak sanggup lagi menanggung beban hidupku, tapi aku berpura-pura seolah aku baik-baik saja. Ketika tiba giliranku untuk membagikan kesaksian, aku berencana hanya akan berbicara hal-hal kecil saja. Namun, suara hati kecilku mengingatkanku kalau aku perlu datang di hadapan Tuhan dalam kebenaran. Hatiku luluh, aku menangis di depan teman-teman seimanku dalam Yesus. Aku mengakui bahwa aku butuh ditolong. Aku mengakui kalau aku tidak bisa mengandalkan kekuatanku sendiri.

Aku mengucap syukur karena Tuhan menegurku, mengizinkanku untuk melihat bahaya dari memupuk gengsi, dan mengizinkan aku untuk kembali membentuk imanku lewat persekutuan. Sekarang aku sering datang di hadapan Tuhan dalam keadaan tidak berdaya, memohon pertolongan-Nya. Aku tahu kalau aku tidak punya apa-apa. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Jika bukan karena kekuatan Tuhan, setiap langkah yang kuambil tentu terasa sulit.

Aku juga mencari pertolongan dari saudara-saudara seiman dalam Kristus. Ketika masalah-masalah kehidupan menghampiriku, aku tidak hanya meminta mereka berdoa untukku, tapi aku juga meminta nasihat dari mereka. Kasih dan pertolongan dari saudara-saudara seiman telah memberkatiku dan menolongku untuk merasakan kasih setia Tuhan. Aku juga merasakan hubungan yang dekat dengan sesama anggota tubuh Kristus.

Terimalah pertolongan itu dengan sukacita

Ketika aku melepaskan segala gengsiku, tentu aku merasa lebih bebas. Aku bisa menerima pertolongan dari orang lain dengan sukacita. Aku tahu kalau aku punya kelemahan dan bukanlah manusia yang sempurna. Tapi, ketika aku berserah sepenuhnya kepada Tuhan, Dia yang memegang kendali atas hidupku. Ketika aku menaati kehendak-Nya maka di dalam kelemahankulah kuasa Tuhan akan dinyatakan.

Saudara-saudaraku dalam Kristus, Tuhan mau supaya kamu juga mendapatkan kebebasan ini. Apakah kamu mau untuk menanggalkan rasa banggamu supaya Tuhan bisa berkuasa?

Baca Juga:

4 Pertanyaan yang Perlu Dijawab Jika Kamu Jatuh Cinta pada yang Berbeda Iman

Aku telah beberapa kali menyukai laki-laki yang berbeda iman dan dua kali berpacaran dengan mereka. Lingkungan sosial membuatku secara alami mempunyai banyak kenalan laki-laki yang berbeda iman denganku. Aku bersekolah di sekolah negeri sejak taman kanak-kanak hingga kuliah. Oleh karena itu, mayoritas teman-temanku berbeda iman denganku.

Dunia yang Mencuri Perhatian

Sudah siap untuk sebuah tantangan sederhana? Cobalah duduk diam selama 15-30 detik dari sekarang… tanpa bicara, tanpa mengecek HP, juga tanpa bergerak. Sudah coba?

Apa yang terjadi? Mungkin pikiranmu mulai berkelana. Pikiran apa yang mencuri perhatianmu? Mungkin kamu berpikir untuk mengecek akun Instagrammu. Atau mungkin kamu memikirkan daftar pekerjaan yang harus kamu lakukan yang semakin lama semakin banyak saja. Atau mungkin kamu berpikir betapa sulitnya duduk diam selama lebih dari 10 detik. Bagaimana dengan Tuhan? Apakah kamu memikirkan-Nya?

Betapa mudahnya perhatian kita dicuri oleh kekhawatiran dunia atau oleh hal-hal yang kita sukai. Namun, ketika kita mengisi hari kita sedemikian rupa dengan berbagai hal, dan hanya memberikan apa yang tersisa kepada Tuhan, kita sesungguhnya kehilangan sebuah kesempatan untuk membangun sebuah relasi dengan-Nya. Sebuah relasi yang dapat memberikan kita sebuah kedamaian dan jaminan yang kita butuhkan.

Jadi, apa saja yang mencuri perhatianmu saat ini?

dunia-yang-mencuri-perhatian-01

Jam wekermu berbunyi dan kamu langsung mengecek media sosialmu untuk melihat apa yang teman-temanmu lakukan.

Ponselmu berbunyi ketika kamu sedang kumpul dengan teman-temanmu dan kamu merasa harus tahu ada update apa.

Kamu mengunggah sebuah foto di Instagram dan setelah itu berkali-kali mengecek berapa likes yang kamu dapatkan.

Apakah keinginanmu untuk tahu hal-hal terbaru dan terbaik telah mencuri perhatianmu dari Tuhan?

dunia-yang-mencuri-perhatian-02

Kamu merasa teman-temanmu akan melupakanmu jika kamu tidak mengisi semua waktu luangmu untuk bertemu mereka.

Kamu merasa kamu harus selalu bertemu seorang teman setiap malam.

Kamu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk ngobrol dengan orang-orang melalui ponselmu daripada ngobrol langsung.

Apakah keinginanmu untuk selalu terhubung di dunia maya telah mencuri perhatianmu dari membangun relasi di dunia nyata?

dunia-yang-mencuri-perhatian-03

Daftar hal-hal yang harus kamu lakukan semakin banyak saja dan kamu merasa kekurangan waktu setiap hari.

Sebuah kesempatan yang menyenangkan mulai terlihat sebagai sebuah beban karena terlalu banyak yang harus kamu lakukan.

Kamu mengambil cuti sehari untuk beristirahat, tapi kemudian merasa tidak tenang karena kamu tidak bekerja.

Apakah kesibukanmu telah mencuri perhatianmu dari menemukan ketenangan dalam firman Tuhan?

dunia-yang-mencuri-perhatian-04

Kamu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengecek toko online favoritmu.

Kamu melihat seorang teman mempromosikan produk barunya, dan kamu merasa harus memilikinya.

Barang yang ingin kamu miliki minggu lalu sudah tidak terlalu menarik lagi sekarang.

Kamu berusaha menetapkan budget pengeluaranmu tapi sales itu memanggilmu dan kamu merasa harus membeli “barang-barang penting” yang ditawarkannya.

Kamu menilai seberapa berharga dirimu berdasarkan barang-barang yang kamu miliki.

Apakah keinginanmu untuk memiliki barang-barang terbaik telah mencuri perhatianmu dari apa yang telah Tuhan berikan kepadamu?

dunia-yang-mencuri-perhatian-05

Kamu tidak pernah puas dengan wajahmu yang kamu lihat di cermin.

Kamu khawatir tidak terlihat sempurna setiap saat dan teman-temanmu akan berkomentar tentang hal itu.

Seseorang memberikanmu pujian dan kamu tidak dapat benar-benar menerimanya karena suara di kepalamu berkata bahwa apa yang dikatakannya itu tidak benar.

Apakah keinginanmu untuk memiliki rupa yang indah telah mencuri perhatianmu dari kenyataan bahwa identitas sejatimu ada di dalam Tuhan?

dunia-yang-mencuri-perhatian-06

Teman-temanmu membagikan foto-foto liburan mereka dan kamu merasa iri. Kamu merasa takkan pernah bisa melihat keindahan dunia seperti mereka.

Kamu selalu ingin berada di tempat-tempat yang baru dan menyenangkan.

Pekerjaan dan kehidupanmu di rumah membuatmu jenuh dan kamu hanya ingin keluar dan berlibur ke suatu tempat lain.

Apakah keinginanmu untuk berlibur telah mencuri perhatianmu sehingga kamu tidak fokus mengerjakan apa yang Tuhan percayakan padamu saat ini?

Sharing: Dilema Apa yang Pernah Kamu Hadapi Saat Kamu Mengikut Tuhan?

WarungSaTeKaMu-Sharing-201703

Dilema apa yang pernah kamu hadapi saat kamu mengikut Tuhan? Bagikan sharing kamu di dalam kolom komentar.