Posts

Kedamaian di Tengah Ketidakpastian

Oleh Vika Vernanda, Depok

Sebuah dokumen berisi kalender akademis baru saja dikirim oleh temanku. Salah satu poinnya menyatakan bahwa batas akhir pengumpulan tugas akhir diundur hingga akhir bulan Juli. Aku mulai menghitung waktu yang kuperlukan untuk menyelesaikan penelitian tugas akhir, hinga kudapatkan kesimpulan bahwa aku harus memulai penelitian lagi di awal bulan Mei.

Pandemi yang menjangkiti dunia dan Indonesia berdampak besar pada semua bidang, salah satunya pendidikan. Semua jenjang pendidikan melakukan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sehingga setiap siswa dan mahasiswa bisa tetap mengerjakan bagiannya untuk menuntut ilmu, namun penerapan PJJ menjadi kesulitan tersendiri bagi sebagian mahasiswa tingkat akhir. Mereka yang awalnya bisa melakukan penelitian langsung di laboratorium dan di lapangan, kali ini tidak bisa melakukannya. Akibatnya penulisan tugas akhir dan waktu kelulusan jadi terhambat. Aku adalah salah seorang di antara mereka.

Pengumpulan tugas akhir yang diundur merupakan kabar baik bagi beberapa temanku, namun tidak bagiku. Penelitian untuk tugas akhirku rencananya dilakukan di rumah sakit, tapi saat ini sangat berisiko untuk pergi kesana. Pihak universitas dan rumah sakit juga tidak memberikan izin untuk melakukan penelitian. Rencana penelitianku di awal bulan Mei jadi sangat tidak mungkin kulakukan. Padahal, aku sudah merencanakan dengan rapi studiku supaya aku bisa lulus tepat waktu. Sekarang, semua rencanaku terancam berantakan. Aku sangat khawatir jika aku tidak bisa lulus tepat waktu.

Ketika aku menyampaikan kekhawatiranku pada temanku, aku teringat pada firman yang dibahas dalam kelompok tumbuh bersama yang kuikuti kemarin.

Kami membahas tentang surat Paulus bagi jemaat Filipi yang berisi tentang permintaan agar sehati sepikir dalam Kristus. Pada Filipi 4:6-7 ditulis demikian:

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

David Sanford pada bukunya Journey Through Philippians, menuliskan bahwa berdoa dalam segala sesuatu dengan ucapan syukur memberikan implikasi seperti pada ayat 7, yaitu damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiran kita. Damai ini hadir bukan karena kita memiliki kontrol, punya rencana, atau tahu jelas berbagai pilihan yang ada dalam hidup kita. Damai ini juga bukan merupakan sesuatu yang kita pikirkan dan kehendaki. Itu semua adalah kedamaian Allah— kedamaian yang terjadi bukan karena kita mengetahui semua hal dengan pasti sesuai rencana, namun ketika kita mempercayakan setiap hal kepada Allah.

Kalimat itu sangat menegurku. Aku tahu, mungkin sulit bagi kita untuk berpegang pada damai sejahtera Allah di tengah kondisi yang sangat tidak sesuai harapan. Banyak harapan dan rencana yang gagal akibat pandemi yang sedang kita alami bersama. Aku mengalaminya, dan untuk sesaat, itu menjauhkanku dari damai-Nya.

Menikmati firman ini membuatku tenang. Namun terkadang perasaan khawatir itu kembali muncul, dan ketika itu datang aku mencoba mengingat lagi bahwa Allah memegang masa depanku. Bagianku saat ini adalah tetap mengerjakan tugas akhir yang bisa dikerjakan dari rumah, dengan perasaan damai sejahtera karena mengetahui bahwa Allah bekerja. Terkait lulus tepat waktu, saat ini aku sudah lebih tenang jika bukan itu yang Allah mau; tapi aku percaya bahwa aku akan lulus pada waktu-Nya.

Pemahaman akan damai sejahtera Allah yang tidak kita dapatkan karena pengertian kita, mengingatkanku untuk tetap berdoa dan meyerahkan kekhawatiranku kepada-Nya. Maka, mari tetap berpengharapan dan menyandarkan kekuatan kita pada Allah, yang sudah menyiapkan rencana terbaik dalam hidup kita.

Untukmu yang juga sedang harap-harap cemas menanti kebijakan terkait tugas akhir, mari percaya bahwa Allah tetap bekerja. Bahwa di tengah kondisi yang terjadi, Allah tetap menjaga, dan itu membuat kita menikmati kedamaian dari-Nya. Lulus pada waktu-Nya juga adalah hal yang indah bukan?

Baca Juga:

Tuhan, Alasanku Bersukacita di Dalam Penderitaan

Habakuk dengan jujur dan berani bertanya kepada Tuhan mengapa ada jurang yang begitu lebar antara apa yang dia percayai dengan situasi yang ada di sekelilingnya. Mungkin kita pun punya pertanyaan yang sama seperti Habakuk. Apakah jawaban Tuhan terhadapnya?

Yuk baca artikel ini.

Virus Corona: Takut itu Manusiawi, Tapi Jangan Biarkan Kepanikan Menguasai

Oleh Daniel Ryan Day, Amerika Serikat
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Coronavirus Pandemic: I’m Afraid, And I Don’t Even Know Why

Sebulan terakhir aku merasa biasa-biasa saja. Aku malah membuat beberapa lelucon dan video pendek mengolok-olok orang-orang yang takut dengan virus corona. Tapi, sekarang pertandingan olahraga ditunda, presiden berpidato mendadak dan serius, rumor-rumor beredar kalau perusahaanku akan tutup sementara, penerbangan-penerbangan akan dibatalkan, kampus-kampus mulai kuliah online, dan larangan bepergian ke banyak negara diberlakukan.

Kemarin malam, kepanikan segera menyebar setelah gubernur di tempat tinggalku meminta semua sekolah ditutup selama tiga minggu penuh. Paginya, aku bangun dengan informasi tiga orang positif terkena virus di kota tempat tinggalku.

Semua kabar itu merasuk ke benakku. Aku jadi sakit kepala. Otakku terus berpikir, “Gimana kalau?”. Sekarang, aku 100 persen bisa berkata…

Aku takut, dan aku sendiri tidak tahu kenapa!

Apakah karena anak-anakku akan sakit? Atau mungkin aku yang terjangkit? Atau karena pekerjaanku jadi terancam? Atau karena aku tidak bisa nonton pertandingan basket NBA? Atau, karena aku ikut merasakan histeria ketakutan yang juga dirasakan orang-orang sejak Januari? Atau, karena semuanya itu menumpuk di satu momen?

Aku tahu hidupku masih muda, tapi aku belum pernah merasakan pengalaman seperti ini sebelumnya. Miliaran dolar hilang akibat kerugian ekonomi. Pemerintah melarang pertemuan di atas 100 orang. Industri-industri utama terhenti. WHO sudah mendeklarasikan pandemi global. Dan sekarang, semua orang yang kutahu (termasuk aku) tidak bisa berhenti membicarakan virus ini. Ia dibicarakan di mana-mana: di depanku, di depanmu, di depan siapa pun, selama 24 jam 7 hari.

Aku menebak, mungkin kamu juga merasa takut. Atau, kamu cuma “mengamati”.

Jadi, bagaimana seharusnya?

Mungkin ini momen yang tepat buat kita mengambil waktu sejenak. Tarif nafas. Hembuskan. Tenang dan fokuskan diri pada salah satu halaman yang kita tak asing dalam Alkitab:

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:6-7).

Langkah pertama: naikkanlah doa

Kita bisa bilang pada Tuhan kalau kita memang takut, dan kita tak tahu kenapa. Kita bisa menuliskan hal-hal buruk yang mungkin menurut kita bisa terjadi dan meminta Tuhan untuk menguji hati kita mengapa kita merasa gundah. Alih-alih panic buying atau share banyak informasi yang tidak jelas di media sosial, kita bisa berhenti untuk berdoa, mendekat pada Pertolongan yang Sejati.

Langkah kedua: ucapkanlah syukur

Kitab Filipi tidak cuma bilang bahwa kita perlu menyampaikan kekhawatiran pada Tuhan, tapi sampaikanlah kekhawatiran itu dengan ucapan syukur. Kita bisa melihat kembali hari-hari kita dahulu dan memuji-Nya atas kebaikan yang disediakan-Nya bagi kita sampai saat ini. Mengucap syukur mendorong kita untuk melihat kesetiaan Tuhan, sehingga kita dapat percaya bahwa Dia pun memegang masa depan kita.

Langkah ketiga: bacalah Mazmur

Mazmur 27 bisa jadi bagian yang baik untuk memulai. Lihatlah bagaimana para pemazmur bergumul dengan hal-hal yang terjadi di luar kendali mereka, tapi lihatlah juga berapa kali mereka kembali memuji Allah karena pertolongan-Nya.

Langkah keempat: carilah cara untuk melayani orang lain

Ingatkah kisah tentang Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta? Pengikut Kristus sepanjang sejarah telah menunjukkan kasih dan perhatian yang sama seperti yang Yesus lakukan. Virus corona adalah salah satu kesempatan bagi kita untuk menunjukkan kasih itu.

Kita bisa memulainya dengan menanyakan kabar teman kita dan menyemangatinya. Jika kamu mengenal seseorang yang berisiko, atau berada di area rawan, cobalah hubungi mereka dan tanyakan bila ada hal yang dapat kamu bantu. Dan, jika kamu mengenal orang-orang yang tak mampu pergi ke luar untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, kamu bisa membelikan makanan-makanan beku yang bisa mereka simpan di rumah dan konsumsi dengan cepat (Tapi, yakinkan dulu bahwa dirimu tidak terjangkit virus). Yang paling penting, tanyalah Tuhan apa yang Dia ingin kamu lakukan dan ikutilah pimpinan-Nya.

Langkah kelima: tetaplah bergerak

Bagian ini adalah poin yang kutambahkan secara personal. Kamu tidak akan menemukannya di Alkitab, tapi inilah yang menolongku. Jika selama masa social distancing atau pembatasan sosial kamu merasa stres, kamu bisa berjalan-jalan di rumahmu, melakukan olahraga kecil, atau sekadar pemanasan.

Lima langkah sederhana ini tidak dapat mengentaskan virus corona, juga bukanlah obat untuk menuntaskan khawatirku dan khawatirmu. Kekhawatiran akan datang kembali, tapi ketika ia datang, kita bisa mengulangi langkah-langkah ini lagi. Kitab Filipi berjanji, ketika kita membawa kekhawatiran kita kepada-Nya, damai sejahtera Allah yang melampaui segala akan akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus.

Beberapa tahun lalu aku pernah kewalahan karena pekerjaanku. Aku berdiri di tepi pantai dan berdoa seraya melihat ombak. Aku sadar, ombak-ombak itu cukup besar untuk berpindah-pindah, dan tiba-tiba sepenggal lirik lagu mengalun di benakku. Lagu yang muncul saat itu rasanya lagu yang cocok pula untuk situasi kita hari ini:

Kiranya ombak kedamaian dari Allah menerpaku
Membawaku ke tempat di mana seharusnya aku berada

Kedamaian Allah berkuasa untuk memindahkan kita dari tempat yang penuh rasa khawatir, kepada tempat yang penuh percaya. Ini tidak berarti kita tidak akan takut lagi, tapi kita dapat menempatkan ketakutan kita pada konteks yang tepat, ketakutan yang membawa kita mendekat pada Tuhan yang mengasihi kita.

Baca Juga:

Aku Lupa, Yesus Juga Kawanku

Yesus tahu betapa mudahnya kita terjebak dalam kewajiban-kewajiban agamai ketimbang dalam relasi. Aku pun begitu. Aku melayani-Nya tapi tak merasa dekat dengan-Nya.

Konflik Ada untuk Dihadapi dan Diatasi

Hari ke-20 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 4:2-3

4:2 Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan.

4:3 Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.

Aku pernah pergi jalan-jalan bersama beberapa teman baikku. Aku menganggap mereka punya pemikiran yang sama denganku. Tapi, tak butuh waktu lama, mereka yang kuanggap sepemikiran ini malah berdebat hal-hal yang kecil, mulai dari urusan selera, kebiasaan pribadi, sampai kepada masalah tentang keputusan apa yang terbaik buat kelompok kami.

Perdebatan ini melukai relasiku dengan seseorang dalam kelompok itu. Sebelumnya kami tak pernah bertengkar hebat, tapi semenjak itu, kami jadi merasa sensi satu sama lain dan tidak bahagia. Rasanya mustahil untuk meluangkan waktu 24 jam seminggu bersamanya dengan kondisi seperti ini.

Hingga akhirnya, temanku itu memberanikan diri untuk mengutarakan apa perasaannya terhadapku. Proses ini membutuhkan waktu dan tentunya melibatkan rasa sakit di hati kami berdua. Tetapi, setelah amarah kami mereda, aku mulai menyadari betapa konyolnya sikapku selama ini dalam menghadapi perbedaan pendapat yang ada. Kami pun berdamai. Melihat ke belakang, aku bisa mengatakan sejujurnya bahwa perselisihan itu berubah menjadi hal yang baik buat kami berdua: kami jadi lebih mengerti satu sama lain, bahkan pada akhirnya berteman lebih akrab.

Dalam bagian terakhir dari kitab Filipi, Paulus menggiring perhatian kita kepada sebuah situasi yang serupa ketika ia memohon dengan sangat pada dua orang wanita, Euodia dan Sintikhe, untuk menerima perbedaan yang ada di antara mereka.

Tidak banyak hal yang diketahui tentang kedua wanita ini. Tetapi dalam Filipi 4:3, Paulus berkata bahwa kedua wanita ini “berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil” dan “yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan” bersama-sama dengan teman sekerja Paulus lainnya. Penjelasan Paulus mengindikasikan bahwa kedua wanita ini ada dalam satu pihak, bekerja untuk sebuah maksud yang sama, dan mengarah ke satu tujuan akhir yang sama—surga.

Ketika kita berada di tengah-tengah konflik, seringkali lebih mudah bagi kita untuk menonjolkan perbedaan. Tetapi, menyadari bahwa kita adalah anak-anak dari Tuhan yang sama, rekan sekerja untuk sebuah maksud yang sama, dan penduduk surga di masa depan akan membantu kita untuk tidak membesar-besarkan perbedaan-perbedaan yang sepele. Akan menjadi lebih baik bagi kita untuk memfokuskan diri pada hal yang benar-benar penting, yaitu apa yang mempersatukan kita di dalam Kristus.

Dalam ayatnya yang ketiga, Paulus meminta temannya yang setia, Sunsugos, untuk membantu proses perdamaian kedua wanita tersebut. Ayat ini menggarisbawahi peran penting yang dapat kita lakukan untuk mempertahankan kesatuan tubuh Kristus. Meskipun kita tidak terlibat secara langsung dalam konflik yang ada, sudah sepatutnya kita peduli terhadap saudara-saudara kita di dalam Kristus dengan berusaha untuk menguatkan mereka dan melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka berdamai.

Paulus mendambakan perdamaian sejati untuk kedua wanita ini. Ia tidak ingin mereka hanya berdamai seadanya, tetapi lebih dari itu “supaya sehati sepikir dalam Tuhan” (ayat 2). Kata dalam bahasa Yunani yang digunakan di sini adalah “phroneo” yang bermakna “melatih pikiran” atau “untuk membuat seseorang tertarik”. Artinya, kita tidak dipanggil untuk sekadar mengucapkan permintaan maaf di bibir saja. Sebaliknya, kita harus meluangkan waktu dan tenaga untuk mengatasi perbedaan yang ada dengan berkomunikasi satu sama lain, bersedia untuk saling mendengarkan, serta mengimplementasikan pengampunan dan cinta kasih.

Konflik adalah hal yang tidak terhindarkan. Seringkali bahkan menimbulkan rasa tidak nyaman dan menyakitkan, dan untuk mengatasinya pun memakan waktu. Meskipun begitu, konflik itu diperlukan untuk membantu kita semakin bertumbuh dalam kasih yang lebih besar bagi satu sama lain. Kapan pun konflik menghadang, kiranya kita mengingat nasihat Paulus kepada jemaat Filipi. Dengan fokus pada identitas kita di dalam Kristus dan apa yang dapat kita bagikan sebagai saudara seiman, kita dimampukan untuk mengatasi konflik dan memperoleh kesatuan sejati di dalam-Nya.—Chong Shou En, Singapura

Handlettering oleh Novelia Damara

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Mengapa perdamaian dan kesatuan teramat penting dalam tubuh Kristus?

2. Apakah Roh Kudus tengah mendorongmu untuk berdamai dengan seseorang? Siapakah yang dapat membantu kalian untuk mengadakan perdamaian?

3. Apakah Tuhan sudah menunjukkan kepadamu orang yang perlu kamu bantu untuk berdamai dengan orang lain?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Chong Shou En, Singapura | Proyek besar Shou En selanjutnya adalah mengalahkan kebiasaan menunda-nunda. Shou juga menyukai musik, olahraga, dan menikmati waktu luangnya bersama keluarga dan teman-teman. Yang paling penting, dia rindu untuk menyenangkan hati Tuhan lebih lagi.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

3 Hal yang Harus Orang Kristen Lakukan di Media Sosial

Oleh Jasmin Patterson, Amerika Serikat
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How To Disagree on Facebook

Waktu kuliah dulu aku membantu pelayanan di kampus dengan menjadi ketua. Suatu ketika, aku berselisih pendapat dengan ketua lainnya. Entah bagaimana, aku kehilangan kendali dan berteriak padanya. Saat itu, rekan-rekan pelayanan kami dan mahasiswa lainnya menonton kami dari dalam ruangan. (Ya, aku tahu, ini tindakan yang buruk. Aku meminta maaf dan kami menyelesaikan masalah itu. Kami tetap berteman sampai hari ini.)

Aku membayangkan apa yang mahasiswa lainnya pikirkan. Mereka mungkin merasa aneh melihat dua orang berdebat di muka umum. Apa yang mereka pikirkan? Dan teladan apakah yang kami tunjukkan kepada mereka?

Aku pun berpikir hal yang sama ketika aku melihat bagaimana orang-orang Kristen bertindak di dunia maya.

Di dalam budaya kita yang dibuat jenuh oleh media sosial, kita kehilangan kemampuan untuk menyatakan ketidaksetujuan dengan cara yang sopan. Kita kehilangan kemampuan untuk dengan hormat menghargai setiap pendapat yang berbeda. Sebagian besar masyarakat kita tampaknya berpikir bahwa kita tidak bisa mengungkapkan ketidaksetujuan kita kepada seseorang tanpa menggunakan kata-kata dan sikap kita untuk menyerang mereka. Sebagai pengikut Kristus, kita pun bisa saja jatuh ke dalam pemikiran seperti itu.

Media sosial adalah alat dan wadah luar biasa untuk saling terhubung yang aku syukuri. Mungkin kamu pun sama. Media seperti Facebook dan Twitter menolongku tetap terhubung dengan teman-temanku, kelompok musik yang kusukai, dan konten-konten yang membangun imanku. Namun, dengan kita menggunakan media sosial, kita pun bertanggung jawab untuk memastikan bagaimana cara kita berinteraksi di dalamnya itu menghormati orang lain dan menunjukkan Kristus.

Di media sosial, sebuah pendapat publik antara pemimpin-pemimpin dapat disaksikan oleh lebih dari sekadar beberapa pengamat. Lewat apa yang kita lakukan di media sosial, kita mungkin sedang memberi contoh bagi seluruh dunia untuk melihat dan menarik kesimpulan tentang kita ataupun Juruselamat kita. Risikonya cukup tinggi.

Bagaimana kita menjaga karakter Kristen dan kesaksian kita di dalam dunia maya, terutama saat kita merasa tidak setuju? Inilah beberapa hal yang bisa membantu:

1. Hargailah lawan bicaramu

Setiap orang yang kita ajak bicara adalah orang-orang yang diciptakan Allah seturut rupa-Nya, yang dicintai oleh-Nya, dan yang sangat berharga bagi Allah hingga Dia mengutus Anak-Nya untuk mati bagi mereka, untuk memulihkan relasi mereka dengan-Nya.

“Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yohanes 4:20).

Ketika kita berbicara dengan orang lain di dunia maya, apakah kita menghargai mereka seperti yang Tuhan lakukan? Apa yang Tuhan rasakan kalau Dia melihat cara kita memperlakukan orang lain yang juga adalah anak-anak-Nya yang dikasihi-Nya? (Tuhan tentu melihat).

Kadang, berada di balik layar memberi kita keberanian untuk mengatakan hal-hal yang tidak akan kita katakan kepada seseorang secara pribadi dan langsung. Sebelum kita mengunggah sesuatu, kita bisa menanyakan diri kita sendiri apakah kita akan mengatakan ini kepada orang itu kalau kita bertemu muka dengannya? Akankah kita memanggil nama mereka? Akankah kita menganggap remeh pandangan mereka? Akankah kita bicara kasar dan merendahkannya?

Ingatlah ini: cara kita memperlakukan orang lain adalah ekspresi kasih kita kepada Tuhan, dan Tuhan dapat menunjukkan kasih-Nya kepada orang lain melalui cara kita memperlakukan mereka. Berinteraksi secara baik dengan orang lain di dunia maya bisa menjadi salah satu tindakan penyembahan kita kepada Tuhan, serta menjadi suatu kesaksian yang berbicara kuat untuk orang lain.

2. Dengar dulu, bicara kemudian

Aku telah memperhatikan hal ini, mungkin kamu juga. Ketika seseorang memiliki pengalaman atau sudut pandang yang berbeda dari orang lain, mereka sering memulai percakapan dengan cara mempertahankan sudut pandang mereka sendiri. Mereka pun mungkin dapat meremehkan pendapat dan pengalaman orang lain bahkan sebelum mereka mendengarkannya.

Berulang kali kita melihat hal ini ketika orang berbicara tentang masalah ras, politik, teologi, dan lain-lain. Daftar ini terus berlanjut.

Alkitab memanggil pengikut Kristus untuk melakukan hal yang sangat berbeda.

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yakobus 1:19-20).

Dengarkanlah dulu, bicara kemudian. Dengarkan orang-orang. Pikirkan yang terbaik tentang mereka. Dengarkanlah untuk memahami, bukan sekadar menanggapi. Dengarkanlah tanpa menyela mereka.

Di dalam budaya kita, kita cenderung memutuskan bahwa orang yang kita ajak bicara itu tidak memiliki sesuatu yang penting untuk dibagikan kepada kita, bahkan sebelum kita mendengarkan mereka bicara. Kita segera menyimpulkan bahwa kita tidak peduli dengan mereka. Kita secara tidak sadar berpikir bahwa apa yang harus kita katakan itu lebih penting daripada apa yang mereka katakan. Tetapi, janganlah kita hidup menurut standar budaya kita—mari kita hidup menurut standar Alkitab.

Ketika aku memberikan komentar di dunia maya, aku suka menyebut nama mereka ketika aku membalas komentar-komentar mereka. Aku juga tidak sungkan untuk mengakui apabila aku setuju dengan apa yang mereka katakan atau malah jadi merasa tertantang untuk berpikir lebih lanjut. Aku tetap melakukan hal-hal ini meski kemudian aku mengutarakan apa yang jadi ketidaksetujuanku di komentar. Menjalin relasi secara personal dan memulai dengan meneguhkan orang lain adalah cara untuk menunjukkan kebaikan, kerendahan hati, dan bukti nyata bahwa kita benar-benar membaca dan menghargai komentar mereka.

Kita bisa menghindari banyak amarah di dalam masyarakat kita, di dalam percakapan kita, dan di media sosial kalau saja kita belajar untuk “cepat mendengar, lambat bicara.” Aku percaya Tuhan bisa memakai kita untuk membawa pemulihan dan kedamaian di media sosial jika kita mau belajar merendahkan diri, menghormati sesama kita, mendengarkan terlebih dulu dan berbicara kemudian.

3. Gunakanlah kata-kata yang membangun

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29).

Sebelum kita berkomentar, berkicau di Twitter, atau meng-update status, kita bisa bertanya kepada diri kita: Apakah yang akan aku katakan itu bermanfaat untuk membangun orang lain dan sesuai dengan yang mereka butuh dengarkan? Apakah caraku mengatakannya dapat membawa manfaat buat mereka yang membacanya? Apakah kata-kata ini menunjukkan kualitas diriku bahkan ketika aku mengungkapkan ketidaksetujuanku?

Aku pernah menerima beberapa komentar kasar di postingan blog yang kutulis dan sesuatu yang aku pelajari dari ini adalah untuk memperkatakan hal-hal penuh kasih daripada membalasnya dengan amarah. Ketika seseorang memberi komentar dengan sarkas atau amarah, abaikan saja jika percakapan itu tidak bermanfaat, atau tanggapilah dengan semangat kebaikan. Kalau kita berhenti meletakkan kayu di atas api, api itu perlahan-lahan akan mati.

Sejalan dengan hal itu, ketahuilah juga kapan harus menarik diri dengan penuh kasih. Kadang percakapan kita di grup-grup media sosial melampaui batasan untuk disebut sebagai percakapan yang sehat dan menolong. Dalam kasus ini, cobalah untuk bercakap secara lebih personal, misalkan lewat chat personal atau berdiskusi tatap muka, atau dengan hormat undur diri dari grup itu.

Selama kita melakukan apa yang Alkitab katakan, kita bisa hadir di media sosial, memiliki percakapan bermakna, dan menjaga karakter Kristen kita. Mari kita jadikan kehadiran kita di dunia maya sebagai teladan buat orang lain. Aku siap. Bagaimana denganmu?

Baca Juga:

Doaku untuk Hari Ulang Tahunku

Terima kasih Tuhan untuk 24 tahun yang Kau percayakan kepadaku. Aku tidak tahu berapa tahun lagi yang Kau sediakan bagiku, tapi biarlah Tuhan sampai akhirnya nanti, Kau temukan aku tetap setia.

Doa yang Sulit

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Kawan, sepanjang perjalananmu menjadi orang Kristen, adakah doa yang mudah kamu ucapkan tapi sulit untuk kamu lakukan?

Buatku sendiri, ada sebuah doa yang menggugah hatiku. Kata-katanya terasa lembut, merenungkannya terasa damai, tapi jika harus melakukannya rasanya suliittt.

Doa ini adalah “Doa Damai” yang diucapkan oleh Fransiskus dari Asisi, seorang saleh dari Italia yang hidup pada tahun 1181-1226. Sedikit cerita, Fransiskus dilahirkan dalam sebuah keluarga yang kaya raya. Dalam usia mudanya dia gemar berpesta, juga pergi berperang ke medan laga untuk meraih gelar kehormatan. Akan tetapi, Allah memanggil Fransiskus untuk menjadi alat-Nya. Kehidupan Fransiskus berubah total. Dia menanggalkan kekayaannya, menghidupi kehidupan yang sederhana, juga merawat penderita lepra yang kala itu dipandang rendah oleh masyarakat.

Dalam perjalanannya bersama Tuhan, Fransiskus berdoa demikian:

TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian
Bila terjadi keputusasaan, jadikanlah aku pembawa harapan
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita

Ya Tuhan Allah,
Ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur
Mengerti daripada dimengerti
Mengasihi daripada dikasihi
Sebab dengan memberi kita menerima
Dengan mengampuni kita diampuni
Dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam hidup kekal

Amin

Berkali-kali aku membaca tiap-tiap kata dalam doa itu dan memikirkan bagaimana aplikasinya dalam kehidupanku. Sungguhkah aku mau menjadi pembawa damai? Sungguhkah aku berkenan menjadi seorang yang mau dipakai Allah dan kehilangan kenyamanan diri sendiri? Aku menghela nafas panjang.

Dalam kenyataannya, sepertinya aku masih jauh dari kategori pembawa damai tersebut. Ketika ada kebencian, bukannya menghadirkan cinta kasih, kadang aku malah membiarkan diriku diselimuti dendam. Ketika ada perselisihan, bukannya menghadirkan kerukunan, kadang aku malah membiarkan diriku dihinggapi amarah. Ketika ada keputusasaan, bukannya menghadirkan harapan, kadang aku malah meliputi diriku dalam kepahitan.

Rasa-rasanya aku tidak mampu mengaplikasikan apa yang kudoakan itu, standarnya terlalu tinggi. Namun, aku tahu kalau doa ini bukanlah sekadar bunga kata yang diuntai rapi. Bukan pula sebuah puisi yang mendayu-dayu. Doa ini adalah ungkapan komitmen penyerahan diri untuk dibentuk sepenuhnya oleh Allah dengan meneladani pelayanan yang sudah Kristus lakukan kepadaku.

Aku tahu bahwa dalam perjalanannya, menjadi seorang pembawa damai itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada kenyamanan diri yang harus ditanggalkan. Ada luka yang mungkin menyayat hati. Dan, mungkin juga ada air mata yang harus menetes.

Tapi…

Aku juga tahu bahwa di balik segala kesulitan itu, ada kebahagiaan kekal yang menantiku, sebab Yesus sendiri berkata:

“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9).

Tuhan, jadikanlah kami pembawa damai-Mu.

Baca Juga:

Saat Kehidupan Menjelang Kesudahannya

Nenekku terbaring sekarat unuk menghadapi masa-masa terakhir dalam hidupnya. Dia terlihat sangat kesakitan. Di balik pembawaanku yang tenang, perasaanku jadi campur aduk: bagaimana aku bisa menghiburnya di tengah situasi ini?

Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Bayi Yesus?

Oleh Charmain S.
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why I’m In Awe Of Baby Jesus

Di bulan ini, aku merayakan setahun perjalananku menjadi seorang ibu. Ya, itu artinya bayiku sekarang usianya sudah genap setahun, dan sungguh luar biasa perjalanan selama setahun belakangan ini. Mungkin ungkapan bahwa menjadi ibu itu begitu melelahkan terdengar klise, tapi di balik segala kelelahannya, setiap detik yang berlalu adalah kesempatan yang begitu berharga.

Salah satu sukacita terbesarku adalah ketika aku bisa menyaksikan sendiri perkembangan anak lelakiku sedikit demi sedikit. Aku begitu girang saat dia belajar duduk, berdiri, bertepuk tangan, dan mengucapkan kata pertamanya. Sungguh menakjubkan melihat anakku bertumbuh.

Namun, ada hal lain yang jauh lebih menakjubkan, yaitu pemahamanku akan Allah yang juga semakin bertumbuh seiring dengan perjalananku sebagai seorang ibu. Ada beberapa pelajaran berharga dan bernilai rohani yang kudapat. Tapi, hari ini aku hanya akan membicarakan tentang satu hal.

Seperti kita semua tahu, Natal adalah masa ketika kita merayakan kelahiran Yesus. Salah satu cerita Natal yang paling familiar adalah cerita tentang kelahiran Yesus itu sendiri. Maria dan Yusuf berlutut; para gembala dan orang-orang Majus berdiri di belakang mereka; dan mereka semua berkumpul di sekitar palungan, mengitari bayi Yesus yang tertidur nyenyak.

Tapi, apa yang terjadi setelahnya?

Setiap kali anakku berhasil melakukan sesuatu, aku jadi bertanya-tanya: Apakah Yesus juga dulu seperti ini? Seberapa sering Dia menangis? Apakah Dia juga pernah muntah saat minum susu? Apakah Dia juga sulit tidur? Berapa bulan yang Dia butuhkan untuk belajar merangkak atau berjalan? Makanan padat apakah yang pertama kali Dia makan? Kata pertama apakah yang Dia ucapkan? Karena Yesus adalah manusia dan Tuhan yang sejati, apakah Dia sadar bahwa saat itu adalah seorang bayi?

Injil mencatat bahwa ketika sudah dewasa, Yesus pun pernah merasa lapar, lelah, bahkan Dia juga pernah menangis layaknya manusia biasa. Oleh karena itu, aku pun percaya bahwa ketika Dia masih seorang bayi, terlepas dari kesempurnaan-Nya, Dia pun turut merasakan apa yang bayi manusia rasakan.

Memiliki kesempatan istimewa untuk membesarkan sendiri bayiku membuatku jadi berpikir: rasanya sulit dimengerti, mengapa Seorang yang Agung sudi membuat diri-Nya menjadi tak berdaya. Yesus bisa saja dengan mudah menarik diri-Nya, naik ke atas kayu salib, dan menyelesaikan penebusan dosa itu. Akan tetapi, Dia memilih untuk datang sebagai seorang bayi. Yesus menundukkan diri-Nya untuk menjadi manusia yang adalah ciptaan-Nya! Dia melewati setiap tahapan dalam kehidupan sehingga Dia dapat sepenuhnya merangkul peran seorang imam besar yang mampu berempati dengan segala kelemahan kita.

Tapi, lebih dari sekadar empati, Filipi 2:6-8 memberikan kita pemahaman yang luar biasa tentang Kristus dan bagaimana Dia menyerahkan segalanya demi kita:

Yang walaupun dalam rupa Allah,
tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri,
dan mengambil rupa seorang hamba,
dan menjadi sama dengan manusia.
Dan dalam keadaan sebagai manusia,
Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati,
bahkan sampai mati di kayu salib.

Di tahun ini, aku sadar bahwa pelayanan Yesus tidak dimulai ketika Dia berusia 30 tahun. Pelayanan-Nya dimulai tepat saat Dia dilahirkan, ketika Dia merendahkan diri-Nya untuk menjadi seorang manusia yang terbatas. Melalui peristiwa Natal, ayat yang dituliskan oleh Paulus di atas menjadi nyata.

Sekarang aku memiliki pemahaman yang lebih dalam akan kedatangan Tuhan kita. Imanuel, “Allah beserta kita”, memiliki makna yang jauh lebih dalam. Jadi, di Natal kali ini, seiring dengan kita merayakan kelahiran Yesus, aku juga mau memuji Dia atas kasih-Nya yang ditunjukkan-Nya kepada kita. Yesus layak menerima segala kemuliaan, dan aku mau berdoa:

“Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi” (Filipi 2:10).

Baca Juga:

Selamat Hari Ibu, Ayah!

Selama bertahun-tahun, aku selalu ingin menghindari tanggal 22 Desember. Aku tidak pernah bisa memberi hadiah ataupun ucapan “selamat hari ibu” pada ibuku, karena sejak aku berusia 5 tahun, ibuku telah tiada. Namun, ada sesuatu yang berbeda di hari ibu tahun ini, dan aku ingin membagikannya kepadamu.

Wallpaper: Roma 12:18

“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.” (Roma 12:18)

Yuk download dan pakai wallpaper bulan ini!

Dipulihkan Karena Doa

Dipulihkan-karena-doa

Oleh Katarina Tathya Ratri, Jakarta

Hari itu adalah hari terakhir di tahun 2011 ketika aku berjalan menyusuri jalanan di kota kecil tempat kelahiranku. Berbeda dari malam tahun baru sebelumnya yang aku lewati dengan berhura-hura, hari itu aku berjalan sendirian tanpa tujuan yang jelas. Aku tak peduli dengan orang-orang yang memadati jalanan untuk melihat kembang api, aku hanya ingin sesuatu yang berbeda untuk melewatkan tahun baru.

Langkah kakiku terhenti di depan sebuah jalan kecil yang menuju sebuah gereja. Hati kecilku bicara supaya aku melangkah ke dalam gereja itu. Tapi, aku merasa enggan karena itu bukan gereja yang pernah kusinggahi sebelumnya. Lagipula sejak duduk di bangku SMP, aku jarang pergi beribadah ke gereja. Namun, suara hatiku semakin keras dan aku memutuskan masuk ke dalam gereja itu.

Ketika aku tiba di dalam gereja, satu hal yang kuingat adalah berdoa. Sudah lama aku tidak berdoa, dan malam itu aku mau kembali berdoa. Kupejamkan mata dan mengarahkan hati kepada hadirat-Nya. Aku merasakan damai yang melingkupi hatiku dan tak mampu kujelaskan dengan kata-kata. Malam itu aku berdoa dengan khusyuk karena aku begitu rindu untuk bertemu Sang Pencipta.

Aku percaya bahwa rasa damai yang melingkupiku waktu itu mengingatkanku kalau Tuhan ingin aku kembali pada-Nya. Dalam keheningan itu aku menyadari kalau selama ini aku menganggap doa hanya sebagai kewajiban saja sehingga aku tidak memiliki kerinduan untuk melakukannya.

Doa yang kunaikkan malam itu mengubahkan hidupku. Selama ini aku mencari pelarian dari situasi rumah yang membuatku muak. Aku pergi bersama teman-teman untuk merokok, menonton video porno, hingga pulang larut malam. Hari itu Tuhan menegurku untuk kembali pada-Nya. Lewat doa, aku mengucap janji untuk berbalik pada-Nya dan meninggalkan cara hidupku yang lama.

Aku berusaha menjaga komitmenku untuk setia pada Tuhan walaupun godaan untuk kembali ke kehidupan yang lama terus datang. Setiap hari aku terus berdoa pada-Nya memohon kekuatan, dan seiring berjalannya waktu aku menjadi semakin senang berdoa. Doa adalah nafas hidupku sehingga aku akan merasa sesak jika aku melewatkannya.

Setiap kali aku berdoa, aku tidak hanya melaporkan pada-Nya masalah-masalah yang kualami, tapi lebih dari sekadar melapor, aku mendiskusikan masalahku dengan Tuhan, mengucap syukur atas pemeliharaan-Nya, dan berdoa juga untuk orang-orang lain. Aku percaya kalau Tuhan maha mengetahui, tapi aku merasa perlu untuk mengungkapkan isi hatiku kepada-Nya supaya hati dan cara pikirku berubah sesuai dengan kehendak Tuhan.

Komitmenku untuk meninggalkan cara hidup yang lama seringkali membuatku khawatir. Aku takut jika harus kehilangan teman-teman sepermainan, tapi firman Tuhan dalam Filipi 4:6-7 mengingatkanku, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Aku mengalami sendiri bagaimana damai sejahtera Tuhan turun atas diriku. Ketika aku harus menghadapi ujian sidang skripsi, aku sangat takut karena ada mahasiswa sebelumku yang dinyatakan gagal. Aku khawatir kalau-kalau aku akan dinyatakan gagal juga. Alih-alih rasa khawatir semakin menguasai diriku, aku berdoa dan mengucap syukur atas proses yang bisa kulalui. Damai sejahtera Tuhan memenuhiku, dan aku yakin kalau Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk studiku.

Sejatinya, bukan Tuhanlah yang membutuhkan doa kita, tetapi kita yang butuh berdoa kepada Tuhan. Apapun kekhawatiranmu, ungkapkanlah kepada-Nya, sebab ada tertulis, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7).

Baca Juga:

Ketika Membaca Alkitab Terasa Membosankan

“Sebenarnya membaca Alkitab itu hanya persoalan waktu. Kalau aku bisa membaca tiga atau empat pasal dalam sehari, aku dapat membaca seluruh Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu dalam waktu setahun. Sederhana, bukan? Tapi tidak sesederhana itu. Sudah 14 bulan melakukannya, dan aku bahkan belum menyelesaikan setengahnya. Apa yang salah?”

Damai Natal di Media Sosial

damai-di-media-sosial

Oleh Ruth Lidya Panggabean, Depok

Selama bertahun-tahun umat Kristiani di Indonesia merayakan Natal dengan berbagai semaraknya, namun di penghujung tahun ini kita cukup diguncang. Menjelang Natal, sempat terjadi pengeboman sebuah gereja di Samarinda, yang kemudian disusul kasus pembubaran ibadah Natal di Sabuga. Wacana pelarangan ucapan Natal beserta pembatasan ornamen khas Natal juga menyebar di mana-mana.

Tidak hanya di media massa, pembahasan mengenai isu ini bahkan berlangsung lebih panas di media sosial. Masyarakat Indonesia yang sejak dulu sepakat mengenai toleransi beragama sesuai sila pertama Pancasila, kini seolah terbagi menjadi kubu-kubu yang mendefinisikan toleransi dengan versi masing-masing. Tak jarang, sesama rekan seiman juga ikut-ikutan reaktif terlibat dalam perdebatan ini dan hanya berujung pada distorsi makna Natal yang sebenarnya.

Apa sih arti Natal sehingga kita sebegitu ngotot membelanya? Kalau Natal bagi kita adalah selebrasi untuk senang-senang, ramai-ramai, dan ngumpul-ngumpul, berarti Natal yang kita bela tidak lebih dari sepaket acara hiburan. Kalau Natal bagi kita merupakan sebuah ritual agama tahunan yang wajib diikuti, berarti Natal yang kita bela hanyalah program institusi gerejawi belaka.

Bila merujuk pada makna Natal dalam Alkitab, kelahiran Kristus tidak pernah tentang ornamen dan hingar-bingar perayaan, melainkan demonstrasi kasih Allah dan turunnya damai sejahtera di atas bumi. Ketika kita membahas mengenai Natal di media sosial maupun saat menanggapi komentar orang lain yang tidak sepaham, sudahkah kita memegang teguh motif damai tersebut?

Kita seringkali lupa bahwa di balik setiap akun media sosial ada seorang manusia, yang punya perasaan, pemikiran, martabat dan nilai-nilainya sendiri. Terlepas dari apa kepercayaan mereka, mereka juga membutuhkan Kristus. Jika kita ikut-ikutan tersulut provokasi lalu merespons berbagai komentar seputar Natal tanpa intensi mengasihi, maka kita sudah menutup jalan bagi pemberitaan kabar baik.

Dalam pergumulan bangsa kita mengenai Natal, pertama-tama hendaklah kita juga mengambil waktu untuk refleksi pribadi dan menggumulkan, sudahkah Juruselamat itu hadir dalam hati kita dan tercermin melalui kehidupan kita? Puluhan kali mengikuti perayaan Natal selama hidup kita, kiranya kita tidak hanya mengulang-ulang aktivitas rohani tanpa berjumpa dengan Tuhan secara pribadi.

Dalam harapan kita akan suasana Natal yang kondusif dan hangat di Indonesia, hendaklah kita tidak hanya berkomentar di media sosial, namun juga mendoakan keamanan bangsa ini. Karena surga bersorak sorai bukan ketika kita merayakan Natal dengan gegap gempita, tetapi ketika melalui kita, ada orang yang menjadi percaya. Kiranya damai dan sukacita Natal itu tidak hanya benderang di lingkup gereja dan persekutuan, tetapi bahkan terpancar juga di tiap-tiap akun media sosial kita.

Selamat merayakan Natal bagi teman-teman di seluruh Indonesia.

Baca Juga:

Kisah Orang Majus Keempat

Ketika aku merenungkan kembali tentang Natal, aku teringat akan sebuah kisah fiksi yang pernah aku baca beberapa tahun lalu tentang kisah orang Majus keempat, yang bernama Artaban. Kisah ini dimuat pada sebuah majalah rohani yang tergeletak di ruangan kelasku di SMA. Aku membacanya beberapa kali dan kemudian menulisnya kembali dalam secarik kertas dan kusimpan baik-baik. Kisah ini mengingatkanku untuk belajar dari teladan yang diberikan oleh Artaban.