cita-cita

Meski Kuanggap Diriku Gagal, Tuhan Punya Alur Cerita yang Berbeda

Meski Kuanggap Diriku Gagal, Tuhan Punya Alur Cerita yang Berbeda

Oleh Tri Nurdiyanso, Surabaya.

Aku, salah satu siswa kelas 12 IPA di salah satu SMA Negeri di Jawa Tengah. Tahun 2010 merupakan tahun yang penting bagiku, itu tahun kelulusanku. Untuk merayakan kelulusan, teman-temanku melakukan konvoi dan corat-coret seragam. Tapi, berbeda dari teman-temanku, aku malah bingung dengan kelulusanku sendiri.

Belajar Menerima Hal Buruk, Sebagaimana Aku Menerima Hal Baik dari Tuhan

Belajar Menerima Hal Buruk, Sebagaimana Aku Menerima Hal Baik dari Tuhan

Oleh Debora Asima Rohayani, Jakarta.

17 September 2015, tanggal yang tidak bisa aku lupakan sampai saat ini. Hari itu rumah uwak, kakak dari mamaku mengalami musibah kebakaran. Rumah kami bersebelahan sehingga sebagian rumahku pun terkena kobaran api.

Benang Merah Hidup

Benang Merah Hidup

Oleh Vina Agustina Gultom, Bekasi.

Aku yang duduk di bangku kelas 4 SD 14 tahun silam, pernah bercita-cita untuk membuat sebuah novel ciptaanku sendiri. Saking besarnya cita-citaku tersebut, aku pun langsung menyicilnya perlahan. Menulis setiap apa yang aku rasakan tiap harinya.

Jangan Membuat Resolusi

Jangan Membuat Resolusi

Oleh Jeffrey Siauw, Jakarta.

Ada banyak orang yang sering membuat resolusi di awal tahun yang baru. Aku salah satunya. Tapi, tahun ini aku tidak melakukannya.

Mengapa banyak orang yang membuat resolusi di tahun baru? Kukira ada dua alasan besar.

Satu Hal yang Kulupakan Ketika Semua Impianku Tidak Terwujud

Satu Hal yang Kulupakan Ketika Semua Impianku Tidak Terwujud

Oleh Evant Christina, Jakarta.

Setiap orang boleh memiliki keinginan dan cita-cita. Tetapi, pada kenyataannya, terlepas dari sekeras apapun upaya kita untuk mewujudkannya, tidak semua yang kita harapkan bisa terjadi sesuai keinginan kita. Inilah realita kehidupan. Pernahkah kamu mengalaminya? Aku pernah.

Berkali-kali Gagal Mencari Pekerjaan, Tuhan Membawaku pada Rencana-Nya yang Tak Terduga

Berkali-kali Gagal Mencari Pekerjaan, Tuhan Membawaku pada Rencana-Nya yang Tak Terduga

Oleh Aryanto Wijaya

Satu hari setelah dinyatakan lulus sebagai Sarjana, aku pikir kehidupan akan menjadi lebih mudah. Aku tidak perlu lagi berpikir keras untuk merangkai kata-kata dalam skripsi, ataupun memikirkan tugas-tugas kuliah lainnya. Tapi, semua itu hanya sementara hingga sebuah pertanyaan menyergapku, “Habis lulus mau ngapain dan kerja di mana?”

Menikmati Anugerah Tuhan dalam Cacat Fisik yang Kualami

Menikmati Anugerah Tuhan dalam Cacat Fisik yang Kualami

Oleh Novianne Vebriani, Bandung

Terdiam sejenak aku menikmati dinginnya malam, ditemani oleh bunyi detik jam di kamarku. Aku sedang mempersiapkan tugas akhirku untuk mendapatkan gelar Sarjana Psikologi. Jika aku mengingat kembali bagaimana akhirnya aku bisa kuliah Psikologi, aku menyadari bahwa itu semua hanya karena anugerah Tuhan. Perjalananku untuk menggapai cita-cita ini tidaklah mudah, terlebih karena sebuah cacat fisik yang kupunya sejak lahir.

Tuhan, Mengapa Aku Harus Masuk Sekolah Farmasi?

Tuhan, Mengapa Aku Harus Masuk Sekolah Farmasi?

Oleh Lovesa Oktaviana, Bandung

Ketika anak-anak seusiaku dulu begitu antusias bercita-cita ingin menjadi dokter, aku malah sama sekali tidak tertarik untuk bekerja di dunia kesehatan. Sewaktu kecil dulu aku pernah melakukan tes kesehatan, tapi dokter yang memeriksaku itu galak dan kasar sehingga aku takut untuk menjadi dokter.

Ketika Tuhan Menghancurkan Mimpiku Dua Kali

Ketika Tuhan Menghancurkan Mimpiku Dua Kali

Oleh: Ian Tan

Aku tidak tahu harus bagaimana, rasanya tidak ada lagi yang layak diperjuangkan. Mengapa Tuhan mengizinkan aku mengalami momen-momen yang hebat, membiarkan aku meraih prestasi, lalu mengambil kembali semuanya?