Posts

Cerpen: Rapat Kedua

Oleh Meili Ainun

“Gak bisa begini. Kalian datang telat!” suara Vika memenuhi ruangan rapat. Siang itu, panitia kebaktian padang yang dipimpin Vika melangsungkan rapat kedua. Sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, Vika membuka aplikasi WA di HPnya. Dengan kesal, HP itu dia tunjukkan ke semua anggota yang hadir.

“Jelas-jelas dalam WA grup udah diingatkan kalau kita ada rapat hari ini jam 2 siang. Dan aku juga udah minta kalian untuk email rencana tiap divisi sebelum rapat hari ini. Tapi sampai sekarang, aku belum terima laporan apa-apa dari kalian.”

“Vik, santai sedikitlah. Ini kan baru rapat kedua. Kita masih punya banyak waktu,” Benny menyahut sambil menyengir.

Vika melirik Benny kesal lalu berdiri dari kursinya. Dengan cepat dia berjalan ke papan kaca yang dipasang di tembok ruangan. Jarinya menunjukkan selembar karton lebar yang tertulis ‘Kebaktian Padang’. “Lihat nih, timeline yang kita susun. Hari ini seharusnya kalian semua sudah lapor rencana masing-masing divisi.”

Semua bergeming. Tidak ada yang bersuara memberikan komentar, saling menunggu ada yang berbicara. Sebenarnya tidak ada yang meragukan kemampuan Vika memimpin rapat. Setiap acara yang dipimpinnya berjalan baik dan sesuai rencana. Tapi, saking terobsesinya dia pada kesuksesan sebuah acara, Vika menuntut kesempurnaan dari setiap anggota timnya. Lebih dari itu, dia juga sulit dikritik, selalu merasa kalau cara dan idenya adalah yang paling benar. Alhasil, di balik acara yang tampak sukses terselip banyak luka hati antara dia dengan anggota panitianya.

Dua menit berlalu dengan lambat. Tak ada yang bersuara. Barulah suara Benny memecah keheningan.

Sorry, Vik. Kami gak sengaja datang telat tadi. Kamu kan tau, kebaktian selesai lebih lama dari biasanya hari ini. Dan.. Ya… Soal email, kalau aku memang lupa buat. Kantor lagi sibuk, nih. Tiba-tiba ada yang mengundurkan diri. Jadi pekerjaanku dobel. Sorry, ya. Aku usahakan susun acara secepatnya. Terus langsung email kamu, deh.” Nada bicara Benny ramah tetapi jelas. Yang lain mengangguk setuju dengan komentar Benny karena mereka semua juga sibuk dengan pekerjaan yang tidak jarang mengharuskan mereka bekerja lembur. Kebanyakan anggota panitia ini baru lulus dan masuk kerja, jadi masih kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan pelayanan.

Masih dengan wajah kesal, Vika berkata, “Oke. Kalau kalian tidak sempat email, kalian bisa ceritakan rencana kalian sekarang.” Kemudian Vika memulai pertanyaan pada Siska yang menundukkan kepalanya. “Kamu gimana, Siska? Apa rencanamu untuk transportasi?”

“Eh..Hmm… Aku kepikiran mau pinjam beberapa mobil teman-teman. Kalau gak cukup, baru pesan online,” Siska menjawab dengan terbata-bata. Dia gemetar, takut kalau jadi sasaran murkanya Vika. “Ta-tapi… aku..aku… gak berani tanya ke mereka, apakah mereka bersedia pinjamkan mobil atau gak. Belum tentu juga mereka akan ikut. Yaa.. aku gak tau, sih. Gimana, ya?”

“Aduh! Kamu gimana, sih? Kenapa kamu tanya aku? Itu tugasmu. Kamulah yang harus tanya ke mereka, memastikan mereka bersedia atau tidak meminjamkan mobilnya. Masa aku yang harus turun tangan? Buat apa ada divisi transportasi kalau gitu?”

Siska yang tadinya berusaha menatap Vika, kembali menundukkan kepalanya. Terlihat butiran air mengalir di pipinya. Suasana rapat siang itu semakin jauh dari kondusif. Alih-alih sebuah rapat anak muda gereja yang asyik, banyak canda, dan bisa sambil ngemil, rapat itu ibarat sesi interogasi di pengadilan dengan Vika yang berlagak hakim.

“Tenang. Tenang, Vika. Sabar. Berikan waktu pada Siska untuk memikirkan caranya. Aku yakin dia pasti bisa. Ya kan, Sis?” Benny mengarahkan wajahnya ke Siska dengan seberkas senyum.

Siska mengangguk pelan. Dia tidak biasa dibentak juga diinterogasi. Tak semua teman terbiasa dengan gaya rapat yang penuh ketegangan seperti ini. Untunglah Benny bisa hadir menengahi. Tak terbayangkan bila di rapat hari ini Benny absen. Mungkin akan lebih banyak lagi yang menangis.

“Oke. Mari kita lanjutkan. Bagaimana dengan konsumsi?” Nada bicara Vika makin ketus.

Meski sudah membuat Siska menangis, Vika bersikukuh rapat ini harus dilanjutkan. Lagi-lagi, Vika memang tak terlalu peduli dengan perasaan orang lain. Yang tertanam di benaknya selalu tentang bagaimana mencapai target tepat waktu. Minggu kedua sudah harus ada progress ini dan itu, maka harus mutlak tercapai. Alasan apa pun bagi Vika dianggap sebagai alibi semata.

Mori, dari divisi konsumsi mengangkat tangannya. Dia sudah menyusun rencana, tetapi karena ini baru minggu kedua, rencana ini belum sempat dibedah detail. Rencananya simpel. Karena kebaktian padangnya di sebuah taman wisata yang ada restorannya, makan langsung di sana jadi opsi yang gampang.

“Kedengarannya cukup bagus untuk pesan makanan di tempatnya langsung. Tapi. Tunggu dulu. Kebaktian Padang kita kan tanggal merah, hari libur. Kamu yakin kita bisa dapat tempat?”

“Ng… Yah… Gimana, ya?” Bagai tersambar petir di siang bolong, Mori lupa kalau taman wisata itu pasti ramai di tanggal merah. “Benar juga, aku gak kepikiran. Aku sempat nanya, restoran itu tidak menerima reservasi sebelumnya. Jadi kita harus datang langsung. Aduh.. Gimana dong? Apa lebih baik nasi kotak saja ya?”

Lagi-lagi Vika dibuat kesal. “Mori, Mori, seharusnya ini semua sudah kamu pikirkan sebelum kita rapat. Kalau seperti ini kan jadi buang-buang waktu. Kamu langsung putuskan saja, maunya divisi konsumsi apa?”

Mori bingung. Dia berharap kalau langsung ditembak gitu, ya Vika sendiri saja yang putuskan. Memutuskan hal penting dalam hitungan detik itu bukan sifat Mori. Untuk mengambil satu keputusan dia butuh waktu lama buat merenung dan menganalisa. Tapi, setelah keputusan diambil, dia tidak serta merta yakin. Ragu masih terus ada dan diam-diam dia akan menceritakannya ke orang lain, berharap mereka akan membantunya memberi pertimbangan.

Sesi rapat yang tak kunjung menunjukkan hasil ini terus dilanjutkan Vika. Setiap divisi dicecarnya. “Kurang detail. Harus lebih spesifik! Lumayan, tapi cari alternatif lain. Catat semuanya, bla bla bla.”

Tak ada pujian yang keluar dari ucapan Vika. Setelah semua divisi tuntas dikritiknya, dia menutup rapat dengan doa. Tak ada tawa riang. Semua buru-buru keluar ruangan. Hanya satu orang yang tinggal tetap sembari menatap Vika yang membereskan catatan rapatnya.

“Kenapa? Ada yang masih mau dibicarakan?” Vika sadar kalau ada satu orang yang belum keluar dan terus menatapnya.

“Vika, aku tahu kamu itu seorang ketua yang baik. Acara yang kamu pimpin biasanya berjalan baik,” dengan nada santun Benny menyusun kata-kata ini. Tapi, belum juga tuntas, sudah dipotong duluan oleh Vika.

“Langsung saja deh Ben. Kamu mau bicara apa?”

“Oke, aku langsung to the point. Tolong dengarkan dulu dan jangan marah,” Benny mengambil jeda untuk mengambil napas dan menghembuskannya pelan. “Aku pikir kamu perlu mengubah sedikit gaya kepemimpinanmu. Aku tahu kamu adalah orang yang teratur, terencana, dan rapi. Tapi tidak semua orang seperti kamu. Teman-teman yang ada dalam tim kita, misalnya. Masing-masing memiliki cara kerja yang berbeda. Aku pikir ada baiknya kamu mencoba memahami keadaan mereka.”

“Jadi maksudmu aku harus mengalah? Membiarkan mereka melakukan segala sesuatu seenaknya saja?”

“Bukan. Bukan itu maksudku. Tetap perlu ada disiplin, tapi dengan lebih ramah, misalnya,” ucap Benny. Tanpa dicerna, nasihat ini langsung ditentang. “Aku gak bisa bersikap ramah. Itu bukan aku. Kalau mereka tidak suka, aku bisa kok kerjakan semua ini sendirian.”

“Aduh.. Kamu ini gampang marah, deh. Dengarkan dulu. Aku tahu kamu bisa mengerjakan semua ini sendirian. Tapi kita semua kan dalam satu tubuh Kristus. Paulus saja bilang ada banyak anggota, tetapi satu tubuh. Tiap anggota itu berbeda, tapi saling membutuhkan satu sama lain…” Benny menghentikan sejenak ucapannya. Ditatapnya Vika yang tak mau menatap balik, malah tangannya sibuk mengayun-ayunkan bolpen. Benny melanjutkan wejangannya, “Gak ada yang bisa kerja sendirian karena kita adalah satu dalam tubuh Kristus. Percaya atau tidak, kamu juga membutuhkan orang lain.”.

Hening menyebar di seantero ruangan. Hanya suara AC yang bisa terdengar jelas diiringi suara bolpen yang masih diayun-ayun Vika. Dalam hatinya, Vika pun sebenarnya sadar bahwa caranya memimpin itu lebih banyak melukai orang lain ketimbang menyemangati mereka. Tapi, jika bicara soal perubahan sikap, Vika selalu gagal mewujudkannya. Setiap kali dia berdiri di depan banyak orang, detak jantungnya berdegup lebih kencang. Bukan karena takut, tetapi dia terpacu untuk menjadikan semua target tercapai. Empatinya seolah menguap. Yang terlintas di pikirannya hanya: sukses, sukses, dan suksesnya acara. Namun, untaian kata-kata Benny yang lembut siang itu menembus benteng hatinya.

“Vik… I know you’re a good leader. Tapi, pemimpin yang baik itu gak cuma yang tegas dan disiplin, tapi juga yang punya hati, Vik,” kata-kata ini membuat Vika menurunkan tatapannya menuju lantai, pun tangannya berhenti mengayun bolpen. “Hati…” dia membatin.

Benny melanjutkan ucapannya, “Yang perlu diubah hanya cara kamu memimpin saja, Vika. Buka hatimu dengan cara cobalah untuk mendengarkan kesulitan mereka. Siska, misalnya. Kamu kan tau dia memang pemalu. Untuk berbicara seperti tadi saja dia butuh keberanian yang besar. Jadi untuk bertanya kepada teman-teman lain, dia memang butuh bantuan.”

Ucapan Benny sebenarnya ingin membuat Vika membela diri, tapi dia tidak menanggapi. Semenit lebih Vika diam. Matanya terpejam. Teringat lagi adegan ketika Siska menangis, ketika nada bicaranya meninggi. “Ya… Aku rasa kamu ada benarnya, Ben. Tapi itu sulit. Seperti kamu bilang, aku ini memang sangat terencana dan ingin semuanya berjalan baik. Aku gak bisa mengubah diriku begitu saja.”

“Siapa juga yang ingin mengubah Vika? Siapa yang berani?” Benny tertawa. Dalam hati dia senang kalau Vika dapat menerima pendapatnya. “Kamu tidak perlu berubah jadi orang lain. Jadi dirimu sendiri saja. Hanya cobalah lebih sabar, dan tolong teman-teman yang butuh bantuanmu. Kepantiaan ini, kebaktian padang ini, semua kita lakukan buat Tuhan kan, Vik? Dialah yang seharusnya disenangkan dalam semuanya.”

Ucapan Benny ada benarnya. Kali ini Vika tak punya amunisi untuk membantah. Buat Tuhan, frasa ini sering didengar dan diucapnya dalam doa, tapi pada praktiknya Vika lupa akan sosok utama ini. Sungguhkah Tuhan berkenan pada caranya memimpin? Jikalaupun acara sukses tetapi kepanitiaan ini menjadi lahan subur tumbuhnya kepahitan, sungguhkah Tuhan dimuliakan?

Ditelannya ceramah singkat itu ke dalam hati dan pikirannya, yang memunculkan segaris tipis senyum dari bibirnya. Tiada kesal pun benci pada Benny. “Yah…akan kucoba. Kamu bersedia kan menolongku?”

“Tentu saja. Aku siap untuk menolong. Semua anggota panitia siap, mau, dan dengan senang hati menolong, Vik. Bukankah kita sama-sama anggota tubuh Kristus?”

Vika berdiri dengan semangat dan bersiap keluar dari ruangan. “Thanks, Benny. Tapi laporan acaramu tetap kutunggu, ya. Gak boleh telat lagi kayak tadi.”

Benny tersenyum lebar sembari melakukan sikap “hormat grak” pada Vika. “Siap, bu ketua! Ayo, kita pulang.”

***

Dunia kita bukanlah dunia yang seragam. Dalam satu gereja yang berisi kumpulan orang percaya pun tetap kita jumpai berjuta perbedaan, sebab memang begitulah Allah menciptakan dunia dengan penuh keragaman. Segala sifat, watak, juga latar belakang yang berbeda inilah yang menjadikan tubuh Kristus itu kaya.

Dengan adanya perbedaan, di sinilah kita belajar untuk membangun sinergi, saling menopang dan melengkapi satu dengan lainnya. Jika semua sama, di manakah tantangannya?

“Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain” (Roma 12:4-5).

Suatu Sore, Saat Aku Pulang Kampung

Sebuah cerpen oleh Santi Jaya Hutabarat

Dret! Dret! Dret! Aku membiarkan ponselku terus bergetar.

Entah panggilan keberapa yang kulewatkan di hari ini. Panggilan berulang dari Ito, adik perempuanku.

Tadi malam, ia masih saja berusaha membujuk aku pulang. Padahal sudah beberapa kali kukatakan, aku tidak pulang Natal tahun ini. Ya, pulang. Kembali ke rumah setelah sekian lama merantau menjadi hal asing bagiku sejak papa menikah lagi.

Ito memintaku pulang agar bisa ziarah ke makam mama untuk merayakan kelulusannya.

“Sudah lima tahun abang tidak kumpul dengan kami. Nggak kangen ya?” tanya Ito dari seberang.

“Nanti pulang nyekar, kita sama-sama merayakan kelulusanku. Tante Yose jago lho masak ayam pinadar kesukaan abang” sambungnya.

Aku diam saja, tidak mengiyakan, tidak pula menolak.

“Aku tahu abang enggan pulang karena ada tante Yose dan Yosafat di rumah, tapi kali ini pulang ya. Please!!” terdengar nada memelas dari Ito.

“Abang coba ajukan cuti ya, kan masih pandemi,” aku mencari alasan menutup pembicaraan.

Lima kali merayakan Natal dan tahun baru di perantauan biasanya aku habiskan di kosan. Meski hanya 55 menit naik pesawat, aku malas pulang. Padahal saat kuliah, tidak jarang aku mengalami homesick, rindu rumah dan mau pulang. Now, it doesn’t feel like home anymore.

Belum setahun kematian mama, papa memutuskan menikah lagi dengan Tante Yose, single parent 1 anak, teman sekantor papa. Agar ada sosok mama yang mengurus kami katanya.

Aku menentang rencana papa, aku merasa papa hanya memikirkan kepentingannya. Lebih dari itu, aku sulit menerima ada yang menggantikan mama.

Aku tidak siap menerima orang baru di rumah, apalagi jadi pengganti mama. Meski sudah beranjak dewasa, rumor kengerian hidup bersama ibu tiri pun mengganggu pikiranku. Lagipula, aku menaruh sedikit curiga kalau papa dan tante Yose sudah mulai berhubungan saat mama masih hidup.

“Bagaimana mungkin bisa menggantikan mama secepat itu,” batinku membenarkan.

Aku kecewa dengan keputusan papa. Menurutku, papa harusnya mendampingi aku yang masih berduka dengan kematian mama.

Setahun berlalu hidup dengan tante Yose dan anaknya di rumah kami, aku akhirnya punya alasan meninggalkan rumah. Meski gaji dan posisinya belum sesuai harapanku, aku menerima tawaran jadi asisten guru di tempat temanku mengajar.

Sejak hari itu, hubunganku dengan papa semakin berjarak. Aku memang terus berkabar dengan Ito, tapi tidak dengan papa.

“Bang, jadi pulang kan?” Ito menanyai lagi dari chat.

Aku mengirimkan capture tiket yang aku pesan setelah mendapat izin pulang dari tempatku bekerja.

Aku akhirnya memutuskan pulang, hitung-hitung jadi hadiah wisuda untuk Ito. Rencananya, aku akan tiba sehari sebelum Natal dan langsung ke makam mama. Ikut ibadah perayaan Natal sekaligus syukuran wisuda Ito di tanggal 25 lalu langsung balik esok harinya. Aku tidak ingin berlama-lama di sana. Syukur-syukur kalau Ito mau kuajak tahun baruan di Medan.

Can’t wait to see you soon brother,” ketiknya disertai foto selfie di depan rumah.

Aku melihat beberapa gambar serta papan penunjuk nama pantai atau pulau tempat wisata di sepanjang perjalanan menuju rumah dari bandara. Sibolga merupakan pesisir yang membentang antara utara dan selatan, tidak heran jika tanah kelahiranku ini memiliki banyak pantai dan pulau yang memukau.

Hari belum terlalu siang saat aku tiba di rumah. Papa, Ito, Tante Yose, dan Yosafat sudah berdiri menyambutku di teras. Meski sedikit canggung, aku menyalam mereka. Kuserahkan juga kardus berisi Bika Ambon oleh-olehku.

“Kamu makan dulu ya mang, tante Yose sudah masak ayam pinadar untukmu,” ujar papa.

“Nanti aja pa,” balasku datar.

“Ito, berangkat yuk. Biar bisa lama-lama di sana” ajakku mencari celah menghindari kikuk yang kurasa.

“Daud mau langsung ke makam mama ya?” Tanya Tante Yose.

“Perlu ditemani? Di hari Ibu kemarin, kami sudah kesana sekalian bersih-bersih tapi…”

“Aku sama Ito aja.” Ucapku memotong Tante Yose.

Ito mengeluarkan sepeda motornya lalu kami berboncengan menuju makam mama.

Di sana, air mata tak bisa kubendung. Aku menangis sejadi-jadinya. Duka beberapa tahun silam rasanya terulang lagi.

Ito sepertinya lebih tenang dariku, meski sesekali kudengar ia sesenggukan.

Kenangan tentang mama memenuhi pikiranku. Terlebih masa-masa pengobatannya. Gagal ginjal dengan risiko tinggi terkena serangan jantung membuat mama harus cuci darah, setidaknya satu kali setiap tiga minggu. Kami tidak tahu mengapa tensi mama bisa sampai di angka 160/100 mmHg di hari itu. Saat itu, Ito yang menemani papa membawa mama ke rumah sakit. Besoknya papa menelepon memintaku pulang, karena mama sudah berpulang.

Di pusara mama, selama beberapa waktu aku dan Ito duduk tanpa bicara.

“Bang, kita sudah boleh pulang? Aku ada kegiatan untuk persiapan ibadah nanti malam di gereja.” Tanya Ito menepuk pundakku.

Aku mengangguk sembari mengusap air mataku.

“Langsung mandi ya, biar segar.” Kata papa, saat aku dan Ito sampai di rumah.

Ito mengantarku ke kamar. Ruangan yang dulu kutempati itu tidak banyak berubah.

“Bang, sudah selesai mandi kan? Aku tunggu di meja makan ya.” Seru Ito mengetuk pintu.

Saat itu sudah hampir jam 3 sore, aku menghampiri Ito di meja makan. Kami sempat bercerita meski sebentar.

Bosan bermain gawai setelah ditinggal Ito, aku berjalan mengelilingi rumah. Setiap sudut rumah membawaku pada kenangan saat mama masih ada. Tak lupa aku menuju taman belakang. Aku melihat masih ada beberapa jenis tanaman herbal yang dulu dipakai untuk pengobatan mama di sana. Sepertinya papa menambahkan gazebo kayu di sudutnya. Aku berjalan kesana dan duduk bersandar di tiangnya.

“Mungkin bagimu terlalu cepat atau papa seharusnya tidak usah menikah lagi, tapi sudah lama papa menunggu kepulanganmu. Seperti kehilangan mama, papa juga sedih saat kamu meninggalkan rumah. Ia sering menanyai kamu pada Ito.” terangnya.

Aku masih terdiam mencerna kata-kata Tante Yose.

I am really sorry, Daud. Tante minta maaf untuk semua hal yang sulit tante jelaskan, terkhusus tentang pernikahan kami.”

I feel blessed through our wedding and I thank God for my new family.

Aku mendengar suara Tante Yose bergetar di pernyataannya yang terakhir.

Aku tidak bersuara sama sekali. Aku sibuk mempertanyakan banyak hal dalam hatiku.

Adakah berkat Tuhan hadir untukku? Should I thank God for all these, like she does?

Dulu, duka kematian mama masih menyesakkanku saat aku juga harus kembali kecewa dengan pernikahan papa. Lalu, di mana Tuhan saat ini semua terjadi?

“Oh iya ini sudah lewat jam 5, kamu ikut ibadah Malam Natal kan, mang? Ibadah memang mulai jam 8, tapi biasanya ramai, karena banyak anak rantau sepertimu yang hadir.” Tante Yose mengingatkanku.

Aku meringis, tidak nyaman mendengar panggilan Tante Yose. Di tempatku, kadang orang Batak Toba memanggil anak lelakinya amang atau mang.

Aku kembali ke kamar meninggalkan Tante Yose tanpa kata, namun di hati aku terus menimbangi yang ia sampaikan.

Kuputuskan untuk tidak ikut ibadah. Hati dan pikiranku masih kacau. Kususun pakaian yang kubawa tadi di lemari. Tidak sengaja aku melihat tumpukan file-file lamaku. Ada rapot, buku tahunan saat kuliah dan beberapa berkas penting lainnya.

Aku terdiam melihat surat katekisasiku saat SMA. Aku membaca ayat alkitab yang menjadi peneguhan sidiku.

“Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu,” (Yohanes 15:12).

Awalnya aku merasa ini hanya kebetulan atau karena aku lagi mellow. Namun aku coba membacanya kembali, merenungkan setiap kata demi kata.

Dulu saat peneguhan sidiku, papa dan mama membuat acara kecil-kecilan, mengundang beberapa kerabat. Ada juga penatua gereja yang sengaja diminta mama menjelaskan ayat peneguhan sidiku, katanya agar lebih kena di hati.

“Mengasihi, hal yang sering kita dengar bukan? Bentuk nyatanya juga banyak ya.” Penatua itu memulai penjelasannya.

Penuturannya ia lanjutkan dengan bercerita tentang penentuan ayat peneguhan sidi. Konon, pendeta akan berpuasa dan mendoakan si calon penerima sidi lalu membuka Alkitab dan menunjuk satu ayat dengan mata tertutup. Ayat yang ditunjuk akan menjadi ayat peneguhan sidi dari nama yang didoakan.

“Saat ini, kita belum tau bagaimana kehidupan Daud selanjutnya. Bisa jadi merantau, bertemu orang baru atau tetap tinggal di sini bersama orang-orang yang sudah dikenal. Ke depan, suasana dan mereka yang kamu temui bisa saja berganti, namun kasih-Nya bagimu tidak akan berubah. Ia mengasihimu dan dengan kasih-Nya itu juga, Daud diminta untuk selalu mengasihi ya nak,” tutupnya menepuk pundakku.

Aku memalingkan pandanganku ke luar jendela, berusaha menepis pikiranku. Hatiku berdebar tidak karuan. Aku lama termenung.

“Mengasihi sebagaimana aku dikasihi-Nya,” batinku mulai menyerah.

Aku mengingat kembali hari-hariku sejak kepergian mama. Aku mengakui saat itu aku hanya sibuk dengan pikiranku sendiri, hanya peduli pada lukaku sendiri. Aku lupa bahwa benar aku kehilangan mama tapi tidak dengan Tuhanku (Mazmur 27:10).

Perlahan, aku merasa Tuhan sedang menjelaskan kalut yang kurasa. Ia sepertinya menjawab aku yang meragukan penyertaan-Nya. Padahal, sebelum dan setelah kematian mama sekalipun, Tuhan tetap ada untukku. Kasihnya mengalir melalui orang-orang yang kutemui di perantauan bahkan lewat tante Yose dan Yosafat yang menemani papa dan Ito selama aku meninggalkan rumah.

Aku juga menyalahkan papa untuk semua hal yang terjadi bahkan tante Yose dan Yosafat. Aku alpa menyadari kalau papa juga berduka dan perlu dukungan. Harusnya aku belajar menerima keputusan papa dan tetap mengasihinya sebagaimana ia tetap ada bagiku. Terlebih dari itu karena Tuhan juga sudah dulu mengasihiku (1 Yohanes 4:19).

Dari depan, aku mendengar derit pintu, aku segera keluar kamar. Ternyata ada papa dan tante Yose yang akan berangkat ibadah.

“Eh, kamu ikut ibadah mang?” tanya tante Yose tersenyum kearahku.

Aku langsung memeluk papa dan tante Yose dalam diam dengan tubuh gemetaran. Kurasakan damai yang tidak bisa dideskripsikan saat di dekapan mereka.

Ahk, rasanya aku beruntung bisa memiliki sore tadi, suatu sore saat aku memutuskan pulang kampung.

Thank God, I found my way back home,” gumamku penuh syukur.

Soli Deo Gloria

Aku Suka Kamu, Tapi…

Sebuah cerpen oleh Meili Ainun

Aini melirik ponselnya untuk kesekian kali. Tidak ada notifikasi. Dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 23.12, dan rasa kantuk mulai menyerangnya.

“Ku tunggu sebentar lagi,” ucapnya dalam hati.

Aini mengambil salah satu novel, membolak-baliknya tanpa niat. Sekali lagi melirik ponselnya, memastikan baterainya masih ada.

Tit…tit… Terdengar bunyi notifikasi pesan.

Lagi ngapain?

Aini tersenyum lebar.

Siap-siap mau tidur.
Aku ganggu kamu ya?
Ah…nggak kok. Kamu ngapain aja hari ini?
Biasa. Sibuk kerja. Kamu?
Sibuk kerja juga.
Sudah malam. Kamu tidur dulu deh. Besok kita sambung lagi.
Okay. Sampai besok ya.

Aini meletakkan ponselnya di atas meja. Setelah mengucapkan doa singkat, dia berbaring, memejamkan mata sambil membayangkan sosok yang menghiasi hidupnya belakangan ini.

Beberapa minggu yang lalu…

Aini sedang membaca novel ketika ponselnya berdering. Dia melirik dan merasa heran melihat nama yang tertera di sana. “Tumben, tante Mona menelepon. Tidak biasanya.” Aini mengangkat ponselnya sambil membayangkan wajah kakak kandung papa yang tinggal di Medan itu.

Halo, tante. Apa kabar?
Halo, Aini. Bagaimana kabarmu?
Baik, tante. Tante gimana? Sehat kan ya?
Iya. Sehat. Kamu sendiri gimana? Sibuk kerja ya?
Iya. Lumayan, tante.
Begini…Aini. Tante rencananya mau kenalin kamu dengan seseorang.
Hmm…siapa ya, tante?
Dia itu anak dari sahabat baik tante. Orangnya baik. Jujur dan rajin kayak kamu. Usia kalian juga hampir sama. Kamu sudah hampir 30 tahun kan, ya?
Iya, tante. 29 tahun.
Nah…usia dia 30 tahun. Cocoklah sama kamu. Kamu mau kenalan ama dia?
Yah…untuk teman, boleh, tante.
Iya, kenalan dulu saja. Siapa tahu nanti cocok.
Iya, tante. Dia orang Kristen, bukan?
Bukan sepertinya. Ah…agama nggak pentinglah. Usia yang paling penting. Kamu sudah nggak muda lagi, lho. Jadi tante kasih nomor kamu ke dia ya. Oh ya, nama dia Albert. Nanti tante kirimkan foto dia.
Hm…iya, Ok, tante. Terima kasih banyak.
Semoga kalian cocok ya. Bye…Aini.
Bye…Tante.

Tidak lama kemudian, ada pesan masuk dari Tante Mona disertai foto seseorang.

Aini, ini Albert.

Aini memperhatikan foto itu, sesosok pria ramping, tinggi, sedang tersenyum lebar.

“Kelihatannya dia lebih tinggi dariku,” pikir Aini.

Aini tidak lagi terlalu mengingat pembicaraan itu sampai seminggu kemudian, ada bunyi notifikasi pesan di ponselnya. Aini membaca pesan yang muncul.

Hai, aku Albert. Salam kenal ya. Aku dapat nomor kamu dari tante Mona.

“Oh, iya. Dia yang mau dikenalin tante waktu itu.”

Hai juga. Aku Aini. Salam kenal juga.
Apa aku lagi ganggu kamu?
Oh…nggak kok. Aku lagi santai saja.
Kamu kerja apa?
Aku guru. Ngajar anak-anak TK. Kalau kamu apa?
Aku kerja di IT. Programmer. Kamu senang anak-anak ya? Pasti kamu orangnya sabar deh.
Hahahahaha…nggak juga. Kadang aku bisa marah juga kok.
Sudah lama ya kerja jadi guru?
Iya. Sejak lulus sampai sekarang. Kamu gimana?
Iya. Aku juga, sejak lulus kuliah, sudah kerja di sini. Kita banyak kesamaan ya?
Iya, sepertinya.

Aini tidak menyangka percakapan pertama itu menjadi awal dari percakapan rutin yang mengisi hari-harinya. Albert akan mengirimkan pesan setiap hari kepada Aini. Biasanya menanyakan apa yang Aini lakukan, mengirim foto makanan, atau tempat-tempat yang sedang dikunjunginya. Aini merasa hidupnya menjadi berbeda. Kebosanan akibat pandemi yang membatasi ruang gerak, rutinitas pekerjaan dan kesepian yang kadang dia rasakan, menjadi tidak lagi mengganggunya karena kehadiran Albert. Meski hanya lewat chat, atau kadang video-call, perhatian Albert terasa sangat menyenangkan. Albert menanyakan kabarnya, memintanya menceritakan kegiatannya bersama anak-anak, memberikan semangat bila Aini merasa sedang putus asa, bahkan mengirimkan hadiah ulang tahun.

Memang mereka belum pernah bertemu karena Albert tinggal di Medan sedangkan Aini di Jakarta, dan juga karena larangan bepergian akibat pandemi, namun tiada hari terlewati tanpa obrolan lewat ponsel. Suara Albert yang menentramkan sanggup membuat rasa lelah Aini karena bekerja sepanjang hari, menjadi hilang.

Meski Aini merasa hidupnya sekarang menyenangkan, namun, dia juga merasakan kegelisahan. Beberapa kali ayat Alkitab 2 Korintus 6:14 tergiang di kepalanya. “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya…” Aini berusaha menyakinkan dirinya bahwa dia dan Albert hanya berteman saja. Tetapi perasaan suka yang dia rasakan dari hari ke hari semakin kuat. Aini selalu menunggu Albert mengirimkan pesan atau meneleponnya. Pernah Albert tidak memberi kabar sepanjang hari, Aini merasa cemas berpikir hal buruk mungkin sudah terjadi. Ternyata kesibukan kerja membuat Albert tidak bisa memberi kabar. Aini baru merasa lega setelah Albert mengirimkan pesan keesokan harinya.

Aini menyadari perasaan suka yang mengetuk pintu hatinya, namun terselip juga perasaan bersalah karena Albert bukan orang Kristen. Karena itu Aini memutuskan untuk mendoakan Albert agar dapat percaya kepada Tuhan Yesus. Aini menyakinkan dirinya bahwa dia sedang menginjili. Bukankah penginjilan itu perintah Tuhan?

Maka suatu kali Aini menanyakan kepada Albert mengenai Tuhan.

Bert, kamu percaya ada Tuhan?
Iya…aku percaya ada Tuhan. Kalau tidak, bumi tidak mungkin tercipta seperti ini.
Kamu pernah dengar Tuhan Yesus?
Iya, pernah. Aku pernah diajak teman ke gereja beberapa kali.
Menurutmu, gimana?
Yah…menurutku. Setiap orang boleh saja memilih agamanya. Dan semua agama sama kan? Masing-masing mengajarkan yang baik. Mungkin selera saja, masing-masing pilih agamanya.
Tidak sama. Tuhan Yesus berbeda. Dia satu-satunya Juruselamat.
Aini, kita jangan bicarakan ini ya. Aku nggak suka dengar kamu bicara soal Tuhan Yesus. Aku tahu siapa itu Tuhan Yesus. Aku sudah sering dengar tentang Dia. Kita bicarakan yang lain saja deh.

Setiap kali Aini mencoba bercerita mengenai Tuhan Yesus, tanggapan Albert menjadi dingin. Beberapa kali Aini pun sempat mengirim ayat-ayat Alkitab seperti Yohanes 3:16 dengan harapan agar Albert mau membacanya. Tetapi pesan-pesan itu tidak digubris. Akhirnya Aini tidak pernah lagi membicarakan tentang Tuhan Yesus, tetapi dia masih terus mendoakan agar suatu hari nanti Albert dapat menjadi orang percaya.

Suatu kali, tanpa sengaja, Aini menemukan video khotbah dengan judul Putus Atau Terus. Pembicaraan yang berkisar sekitar 30 menit itu membekas di hati Aini. Dia teringat pembicara itu menanyakan “Are you dating the right person?” Sudahkah kamu bertanya kepada Tuhan, apakah dia orang yang cocok untukku? Apakah dia seiman dan sepadan untukku?” Aini memikirkan pertanyaan itu selama berhari-hari. Dia memikirkan relasinya dengan Albert selama ini, percakapan mereka, hal-hal yang disukainya dari diri Albert, termasuk tanggapan Albert jika diajak berdiskusi mengenai iman. Aini bergumul di hadapan Tuhan, sungguhkah dia menginginkan Albert menjadi pasangan hidupnya? Aini kembali teringat akan 2 Korintus 6:14, perintah Tuhan yang dengan jelas melarangnya berpasangan dengan orang yang tidak seiman. Pada akhirnya, Aini pun mengambil keputusan.

Beberapa hari kemudian ponsel Aini berdering ketika dia sedang mengerjakan materi ajar.

Hai.
Hai.
Sedang apa?
Lagi persiapan ngajar untuk minggu depan.
Oh….
Ada apa? Kamu kedengarannya serius sekali.
Gini…Aini. Aku sedang berpikir tentang kita. Sepertinya kita sudah berteman cukup lama ya. Sudah 4 bulan ya kalau ngak salah. Aku ingin kita lebih dari teman. Aku suka kamu, Aini. Dan kita juga cocok. Aku senang ngobrol sama kamu, kita punya banyak kesamaan juga. Gimana menurut kamu?
Aku juga suka berteman denganmu, tetapi….aku nggak bisa lebih dari teman.
Kenapa nggak?
Karena kamu bukan orang Kristen. Aku tidak bisa pacaran dengan orang yang tidak seiman. Itu melanggar perintah Tuhan. Maaf ya, aku nggak bisa.
Yah…aku ngerti sih. Aku tahu juga soal itu. Yah…aku sedih, tetapi aku ngerti alasan itu.
Kita berteman saja ya. Bye..Albert.
Bye…Aini.

Aini meletakkan ponselnya. Dia merasakan matanya basah. Aini tahu mungkin dia tidak akan bertemu lagi dengan orang seperti Albert. Bahwa dia telah melewati kesempatan yang mungkin dia tidak akan pernah dapatkan lagi. Usianya yang hampir menginjak 30 tahun membuat peluang bertemu dengan pria baik seperti Albert semakin kecil. Aini juga berpikir tentang reaksi Tante Mona bila dia tahu keputusan yang telah diambilnya. Mungkin Tante Mona akan menganggapnya bodoh dengan melepaskan Albert. Aini tahu dia perlu menyesuaikan diri lagi dengan kehidupannya tanpa Albert sekarang. Mungkin rasa kesepian akan datang kembali seperti yang dia rasakan dulu sebelum bertemu Albert. Namun, semua itu tidak lagi menjadi penting karena Tuhan sudah menunggunya untuk kembali. Damai sejahtera kembali mengisi hatinya. Bukankah menyenangkan Tuhan adalah hal yang paling penting?

Aini tahu dia sudah membuat keputusan yang benar. “Terima kasih, Tuhan telah menolongku. Maafkan aku yang butuh waktu lama untuk menyadarinya. Tolong aku untuk tidak terlalu bersedih. Tuhan akan sediakan seseorang untukku bila Tuhan ingin aku menikah nanti.”

Aku dan Seisi Rumahku Beribadah Kepada Tuhan

Sebuah cerpen oleh Meili Ainun

“Cuma 3,65? Kamu nggak bisa lebih dari itu? Kenapa harus ada nilai B?” Suara papi terdengar dingin.

Yosua menjawab papinya dengan menunduk diam.

“Bagaimana kalau ada yang tahu? Apa yang akan mereka pikirkan? Papi selalu membanggakan kamu itu akan lulus dengan nilai sempurna. Apa susahnya dapat IP 4.00?” Suara papi semakin meninggi.

Yosua semakin menundukkan kepalanya. Wajahnya pucat.

“Kamu selalu saja mengecewakan. Sudah sana, siap-siap untuk kelas Pemahaman Alkitab. Jangan sampai terlambat. Dan berpakaianlah rapi sedikit,” rasa kecewa pun tertuang dalam nada bicara papi.

Yosua melangkah perlahan menuju ke kamarnya.

“Apa salahku? Begitu pentingkah nilai itu? Kuliah kedokteran kan susah. Lagipula aku tidak ingin jadi dokter. Aku ingin jadi guru. Tetapi papi beranggapan tidak ada gunanya menjadi guru. Menjadi dokter menjaga nama baiknya,” gumam Yosua dalam hati. Dia membatin mengapa papinya begitu memaksa dia untuk meraih prestasi sempurna di bidang yang sejatinya bukanlah pilihan hatinya.

Meski begitu, Yosua tetap belajar untuk menghormati papinya. Dengan hati yang sendu, dia menyiapkan diri untuk ikut kelas PA.

“Mengapa baru datang sekarang? Sudah papi bilang jangan terlambat,” tegur papi sambil melihat jam tangannya. “Kamu tahu, untuk menjadi orang yang berhasil, kamu harus selalu tampil sempurna. Dulu orang tua papi juga mendidik papi dengan disiplin keras, sehingga papi bisa berhasil seperti sekarang. Kamu juga harus seperti itu,” lanjut papi dengan tegas.

“Maaf, papi,” jawab Yosua pelan. “Padahal masih ada 15 menit sebelum kelas dimulai,” gumamnya dalam hati.

“Konsentrasilah mendengar kelas hari ini. Minggu lalu, kamu sampai tidak bisa menjawab pertanyaan yang mudah itu. Memalukan sekali!” Suara papi terdengar kesal.

“Baik, papi. Akan kucoba,” jawab Yosua sambil melirik pada mami yang duduk di sebelahnya.

Mami tidak memperhatikan Yosua. Matanya fokus pada Alkitab yang sedang dia pegangi. Dia tampak tenggelam dalam bacaannya.

Percuma berharap pada mami. Dia tidak akan menolongku. Dia hanya sibuk dengan dirinya.

Setelah beberapa waktu setelah kelas PA pun dimulai, tiba-tiba Yosua mendengar namanya dipanggil.

“Yosua, senang melihatmu hari ini. Bagaimana pendapatmu tentang perikop yang kita baca hari ini?” tanya hamba Tuhan itu dengan antusias. Dia memajukan wajahnya ke depan layar menunggu jawaban Yosua.

Melalui pandangan matanya, papi memperingatkan Yosua untuk menjawab dengan benar.

“Tuhan telah menolak Saul menjadi raja karena ketidaktaatannya kepada Tuhan. Dan Tuhan telah memilih orang lain yaitu Daud, menjadi raja menggantikan Saul,” jawab Yosua dengan ragu. Semoga jawabanku tidak salah.

“Bagus sekali, Yosua. Pak Hartono, tentu senang sekali memiliki anak sepintar Yosua. Saya dengar dia kuliah kedokteran. Bapaknya dokter, anaknya juga. Luar biasa sekali, pak,” puji hamba Tuhan itu dengan tersenyum lebar.

Papi Yosua mengangguk-angguk dan tersenyum bangga.

Yosua hanya tersenyum tipis mendengar pujian itu. Andaikata hamba Tuhan itu tahu yang sebenarnya.

Malam itu, ketika Yosua berbaring di atas tempat tidurnya, dia membolak-balikkan tubuhnya dengan gelisah. Dia tahu dia lelah, tetapi dia tidak dapat memejamkan matanya. Selama beberapa bulan terakhir ini, Yosua hanya tidur selama 3-4 jam saja. Badannya terasa lelah dan sakit. Tetapi dia tidak pernah mengeluh kepada orang tuanya. Paling-paling mereka hanya akan menganggap aku mencari alasan untuk menghindari tanggung jawab. Mereka tidak mengerti. Mereka hanya sibuk dengan diri mereka sendiri. Tiba-tiba Yosua teringat akan sebuah botol obat yang dia temukan di lemari beberapa hari lalu. Dia mengeluarkan botol itu dari laci mejanya, dan dengan cepat dia menenggak 2 pil tidur sekaligus.

Yosua terlihat menjalani hari-harinya seperti biasa. Sibuk dengan kuliah dan kegiatan gereja. Orang tuanya selalu menekankan pentingnya untuk beribadah bersama-sama. Bahkan di ruang tamu, ada lukisan dinding yang bertuliskan ayat yang diambil dari Yosua 24:15b: Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan. Orang tuanya bahkan memberikan nama Yosua kepadanya karena terinspirasi oleh ayat itu.

Sepanjang ingatan Yosua, tiada hari yang dilewati tanpa kegiatan gereja meskipun masih dilakukan daring selama pandemi. Tanpa perlu jadwal, Yosua sudah menghafal semua kegiatan yang harus diikutinya. Kelas Pemahaman Alkitab, komsel keluarga, Persekutuan Doa, komsel remaja dimana Yosua adalah ketua remajanya, dan kelas Pemahaman Alkitab remaja. Setiap hari Sabtu, Yosua ikut kegiatan bakti sosial yang diketuai oleh maminya.Pada hari Minggu, karena gereja sudah mulai dapat dikunjungi, maka Yosua akan pergi beribadah bersama-sama kedua orang tuanya.

Pernah Yosua meminta izin untuk tidak ikut kelas Pemahaman Alkitab karena harus menyelesaikan tugas kuliah yang banyak. Papinya menjawab dengan ketus,”Salah kamu sendiri yang tidak bisa mengatur waktu dengan baik. Papi juga sibuk. Tetapi bisa mengatur waktu untuk kerja dan gereja. Kamu juga seharusnya bisa. Kamu kan tidak lebih sibuk daripada papi. Apa kata orang kalau kamu tidak ikut? Jangan pernah coba merusak image baik keluarga kita!” Sejak itu, Yosua tidak pernah lagi meminta izin sekalipun dia merasa lelah atau tidak enak badan.

Yosua sering mendengar orang-orang memuji keluarganya. “Wah…hebat sekali. Tentu membanggakan memiliki anak yang kuliah kedokteran seperti Yosua. Satu-satunya keluarga dokter di gereja kita.”

“Keluarga teladan. Selalu ada di setiap kegiatan gereja. Tidak pernah absen sekalipun.”

“Sungguh keluarga harmonis. Tidak pernah bertengkar. Selalu akur setiap waktu. Mengagumkan sekali.”

Bahkan para hamba Tuhan di gereja juga ikut berkomentar. “Luar biasa keluarga Yosua itu. Itu baru namanya keluarga yang menyembah Tuhan. Setiap keluarga harus belajar dari keluarga Yosua.”

“Nama gereja kita mulai dikenal masyarakat sejak istrimu aktif dalam kegiatan bakti sosial. Banyak orang tertolong. Apalagi pak Hartono ikut memberikan pelayanan kesehatan gratis. Tanpa keluarga bapak, gereja kita tidak bisa seperti sekarang.”

Pujian-pujian itu tidak hanya dikatakan orang-orang di gereja, tetapi juga oleh teman-teman maupun kerabat orang tuanya. Bahkan sosial media mereka pun dibanjiri pujian seperti itu.

Apakah pentingnya pujian itu? Andai mereka tahu yang sebenarnya. Yosua tertawa sinis. Papi sendiri tidak pernah terlihat berdoa atau membaca Alkitab. Mami membaca Alkitab tetapi tidak mengerti apa-apa. Papi menyuruhnya maka dia harus ikuti. Segala sesuatu di rumah ini harus ikut perkataan papi. Tidak boleh ada yang membantah. Untuk apa hidup seperti ini? Semua orang mengatakan kami adalah keluarga Kristen yang menyembah Tuhan. Apakah orang yang hidupnya menyembah Tuhan itu seperti papi? Munafik. Apakah Tuhan juga seperti papi? Apakah Dia sungguh ada? Kalau Dia ada, mengapa Dia tidak menolongku? Kegelisahan itu kembali menghampiri Yosua. Dia meraih botol obat yang ada di mejanya, dan kali ini dia menelan lebih banyak pil lebih dari seharusnya.

***

Ruangan tunggu rumah sakit terasa dingin dan sunyi. Papi dan mami Yosua duduk di salah satu pojok. Bahu mereka merosot turun. Rasa tidak percaya terpancar di wajah keduanya. Kenyataan bahwa Yosua mencoba membunuh dirinya tidak pernah terbayang dalam benak keduanya.

“Selamat malam, pak dan bu Hartono.” Tiba-tiba terdengar suara yang menyapa keduanya.

Orang tersebut mengulurkan tangannya. “Saya mendengar apa yang terjadi. Saya ikut prihatin dengan kondisi Yosua.”

“Oh…pak Kristanto. Selamat malam,” jawab papi dengan kikuk. “Iya…kami…tidak menyangka sama sekali. Kami berpikir selama ini Yosua dalam keadaan baik. Dia mengikuti semua kegiatan dengan baik. Tidak pernah terpikir oleh kami. Kami…kami…tidak mengerti. Apa salah kami? Kami mengikuti kegiatan gereja setiap hari. Tidak pernah kami absen sekalipun. Kami bahkan tidak pergi berlibur. Kami memberikan persembahan. Kami sekeluarga beribadah kepada Tuhan. Mengapa ini terjadi pada kami?” keluh papi.

Penatua gereja yang dipanggil pak Kristanto itu menepuk-nepuk pundak papi. “Iya, semua ini terjadi di luar dugaan kita ya. Kita berpikir kita sudah melakukan yang terbaik bagi keluarga kita, bahkan juga telah menjadi contoh buat mereka. Tapi ternyata…apa yang kita pikir belum tentu seperti yang terlihat ya, pak.”

Papi terdiam sejenak. Wajahnya tampak serius. “Saya…saya tidak pernah berpikir seperti itu. Saya berpikir selama ini kami sudah setia beribadah kepada Tuhan. Tetapi…ya benar. Kalau dipikir-pikir, saya rasa saya belum contoh yang baik bagi Yosua. Saya…saya…bahkan jarang sekali berdoa dan membaca Alkitab. Mungkin yang saya lakukan selama ini hanyalah kegiatan saja. Saya…saya… tidak punya relasi dengan Tuhan.”

Pak Kristanto tersenyum hangat. “Selalu ada kesempatan untuk berubah. Tuhan selalu menunggu kita untuk bertobat.”

Papi menganggukkan kepalanya dengan perlahan. “Terima kasih, pak. Saya akan berbicara kepada Yosua. Saya perlu meminta maaf kepadanya. Saya sadar selama ini kami belum sungguh-sungguh beribadah kepada Tuhan. Kami akan mencoba mulai dari awal lagi.”

Apa yang Harus Aku Lakukan Ketika Menyukai Seseorang?

Sebuah cerpen oleh Noni Elina

Suara pintu kamar terbuka, Obed dengan seragam SMP-nya memasuki ruangan dengan lunglai. Dia menatap sayu sesosok manusia yang sedang asik main game online di atas kasur miliknya, dia adalah kakak laki-lakinya. Setelah menaruh tas sekolah di atas meja belajar, Obed duduk di atas karpet dan bersandar pada dipan.

“Hmmmh.”

“Kenapa, Bed? Laper?” Tanya Timo pada adiknya. Tidak ada jawaban. Hanya keheningan dan suara permainan dari handphone yang terdengar. Timo menatap Obed, kemudian menutup aplikasi permainan online di handphonenya. Ia memegang pundak Obed dan bertanya, “Kamu marah kakak main di sini? Pinjam kasur sebentar soalnya AC di kamar kakak rusak.”

“Main aja kak, kan biasanya juga gitu,” sahut Obed dengan enggan.

“Terus kamu kenapa kok murung?” Belum juga adiknya menjawab, Timo bertanya lagi, “Kamu di-bully di sekolah? Siapa yang berani ngelakuin itu? Kamu nggak kenapa-napa?” Tatapan mata Timo khawatir. Obed hanya menggeleng kepala.

“Cerita dong, Bed. Sekarang banyak kasus tentang bullying dikalangan siswa. Kalau itu terjadi sama kamu, jangan disimpan sendiri. Harus cerita sama orang dewasa ya.” Timo menyenggol bahu Obed, memberi isyarat supaya adiknya berbicara.

Timothy adalah seorang mahasiswa semester akhir berusia 22 tahun, sedangkan Obed siswa SMP berusia 15 tahun. Meski rentang usia mereka cukup jauh, 7 tahun, kedua saudara ini memiliki hubungan yang sangat dekat. Obed menatap kakaknya, lalu kembali menunduk.

“Aku suka sama seseorang, sejak kelas 7,” kata Obed kemudian. Timo berusaha mencerna kalimat tersebut, “Sekarang kamu kelas berapa?”

“Kelas 9, masa kakak lupa adiknya kelas berapa?” Tanya Obed sedikit kesal.

“Oh iya, iya… Sekarang kamu sudah kelas 9 ya. Ya memang sudah waktunya suka sama lawan jenis,” sahut Timo kemudian.

“Jangan bilang sama Papa Mama.” Obed mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan hidung Timo dengan tatapan mengancam. “Iya, iya… Tenang, kakakmu ini bisa dipercaya.” Disambut dengan senyum di bibir Obed.

Timo melingkarkan tangannya di pundak Obed sambil menggodanya, “Terus gimana, kamu mau nyatain cinta?”

“Kan, Papa Mama bilang anak SMP belum boleh pacaran.” Obed menatap Timo dengan penuh tanya, “Kakak waktu SMP pacaran?” Timo menggeleng-geleng kepalanya untuk menjawab pertanyaan itu.

“Kalau sekarang kakak punya pacar?” Tanya Obed lagi. Mereka saling menatap, satu menit berlalu terasa begitu lama. Timo menggelengkan kepala lagi. “Bah…” diikuti dengan tawa kecil Obed.

“Tapi kakak pernah pacaran, kan?” Tanya Obed lagi, masih dengan senyum di bibirnya. Timo bergeming, dia hanya mendesah panjang dan berdiri dari duduknya.

“Jadi selama 22 tahun ini Kak Timo belum pernah punya pacar?” Obed tidak bisa bisa menahan tawanya lagi. Timo tampak kesal karena apa yang dikatakan adiknya benar, dia memang belum pernah berpacaran.

“Tapi kakak hampir berpacaran!” Kata Timo menatap adiknya dengan jengkel.

“Oh ya?” Tanya Obed dengan memasang wajah konyol ciri khasnya sehingga membuat Timo ingin menggelitiknya. Terjadilah ‘pertikaian’ sengit yang singkat siang itu.

“Jadi kakak punya beberapa tips buat kamu, ya. Kakak ingin kamu bisa lebih baik dari kakak.” Sembari membetulkan bajunya setelah ‘bertikai’ dengan Obed, Timo memasang wajah serius.

“Maksudnya, kakak mau ngasih tips supaya aku bisa pacaran sekarang?”

“Bukan gitu juga!” Jawab Timo cepat, dia menatap ke luar jendela kamar. Suara bising jalanan sayup-sayup terdengar.

“Nggak ada yang salah dengan menyukai seseorang. Kenapa kamu harus pasang wajah murung begitu?” Timo menatap Obed, yang sedang menunduk. Lalu remaja itu menceritakan kisahnya…

***

Di sekolah…

Sedang ada pertandingan basket antar kelas di sekolah Obed, dia duduk di tribun penonton bersama teman laki-lakinya yang lain. Lalu, dari jauh Obed melihat Rachel bersama satu teman perempuannya datang mendekat. Mereka berdua sempat beradu pandang selama sedetik, Obed langsung mengalihkan pandangannya ke pertandingan yang sedang berlangsung. Lalu Rachel duduk tepat di sampingnya. Rachel duduk di sampingnya! Obed dapat mengetahui hal itu dari gelak tawa Rachel yang khas. Posisi duduk Obed mulai gelisah, lalu akhirnya dia bangkit berdiri dan melangkah ke arah yang berlawanan dengan Rachel. Setelah 5 langkah, lalu dia kembali duduk dan menikmati pertandingan. Rachel yang menyadari hal itu, menatap ke arah Obed dari kejauhan.

Sepulang sekolah di depan kelas, Ezer dan Obed sedang mendiskusikan siapa yang perlu bergabung di kelompok kesenian mereka. “Menurutku, Rachel sama Lulu cocok banget buat gabung dengan kelompok kita. Gimana?” Ketika mendengar hal itu, Obed terdiam. Dia tampak sensitif ketika nama Rachel disebut, “Kalau Lulu sih oke, tapi kalau Rachel menurutku…”

“Hei, Rachel!” Teriak Ezer sambil melambaikan tangan. Obed belum menyelesaikan kalimatnya, namun Ezer telah memanggil Rachel yang kebetulan sedang lewat di depannya.

“Kamu mau gabung sama kelompok kesenian kami nggak?” Tanya Ezer. Obed mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Hai Ezer, hai Obed…” Rachel nampak kebingungan menatap Ezer dan Obed satu persatu. Tapi Obed tidak menatapnya. “Boleh… aku mau.” Sahut Rachel kemudian sembari tersenyum.

“Sorry aku nggak bisa gabung dengan kelompok ini.” Lalu Obed beranjak pergi meninggalkan kedua orang temannya yang kebingungan. Rachel menatap kepergian Obed dengan raut wajah sedih.

***

“Kamu pergi gitu aja?” Tanya Timo tidak percaya. Obed mengangguk pelan. Timo mendesah panjang lalu melipat kedua tangannya di dada.
“Kalau kamu suka sama dia, kenapa kamu bersikap seolah-olah dia tidak menarik?” Tanyanya lagi.

“Karena aku terlalu gugup.” Suara Obed terdengar lirih. Tatapan matanya begitu sayu, tidak seperti biasanya. Obed merupakan anak laki-laki yang cukup pintar karena masuk ke peringkat 5 besar di kelas, namun kali ini Timo melihat adiknya tersebut seakan-akan tidak mampu menjawab soal yang begitu sulit.

“Dengar ya dik, menyukai seseorang di usiamu, itu normal.”

“Aku tahu, tapi aku takut tidak bisa mengendalikan diri ketika ada di sekitarnya.”

“Seperti apa misalnya?”

“Ingin menjadikan dia pacar. Kakak tahu kan, di masa sekarang anak SD aja sudah ada yang pacaran. Kadang, aku ingin sama seperti teman-temanku yang lain. Tapi Papa Mama selalu mengingatkan kita waktu persekutuan doa keluarga, batasan relasi sama lawan jenis, kan.” Papa Mama mereka selalu memiliki kebiasaan untuk melakukan persekutuan doa sebelum tidur. Papa merupakan ketua majelis di Gereja, sedangkan Mama guru sekolah Minggu.

“Kakak setuju kalau anak di usiamu belum waktunya pacaran, tapi apa salahnya dengan berteman? Dengar ceritamu tadi, malah terlihat seperti kamu membenci Rachel.”

“Aku nggak benci Rachel.”

“Tapi sikapmu mengatakan itu.”

“Aku sedang lari dari pencobaan seperti Yusuf!” Kata Obed sambil mengerutkan keningnya dan menatap Timo dengan putus asa.

“Tapi Rachel tidak sedang menggodamu seperti istri Potifar, kan?” Mendengar jawaban kakaknya Obed termenung.

“Itu soal pengendalian diri dan sudut pandangmu yang perlu diubah.” Setelah melihat tidak ada perlawanan dari ekspresi Obed, Timo melanjutkan, “Jadi, kita perlu lihat perempuan, apalagi yang seiman dengan kita sebagai seorang saudara. Kamu nggak mungkin berbuat macam-macan sama Naomi, kan?” Timo menyebutkan nama sepupu mereka yang usianya sama dengan Obed.

“Macam-macam gimana?”

“Yah, you know… Seperti ciuman dan perbuatan lainnya yang biasa dilakukan suami istri.” Jelas Timo. Obed nampak membayangkan maksud perkataan Timo barusan lalu raut wajahnya berubah kaget.

“Ya nggak mungkin! Aku sama Naomi??” Membayangkannya saja membuat Obed ngeri, karena Naomi adalah saudara sepupunya, anak dari adik Papanya. Timo mengangguk, lalu melanjutkan penjelasannya.

“Ya, kan? Semua perempuan yang seiman dengan kita adalah saudara. Seperti kamu nggak mungkin melakukan hal ‘macam-macam’ dengan Naomi, seperti itu juga seharusnya sama Rachel. Selayaknya seorang saudara, kita bisa bersikap ramah, saling menolong, menghibur, hal semacam itu. Itu tidak dilarang di Alkitab, jadi meskipun kamu suka sama Rachel dan memandang dia spesial, it’s okay. Jadilah saudara seiman yang baik buat dia. Suatu saat kalau kamu sudah cukup dewasa dan siap ke hubungan yang serius, baru deh bisa pacaran. Cuma ya itu tadi, sewaktu pacaran pun, dia masih saudara. Setelah menikah, baru deh boleh ‘macam-macam’.”

Obed termangu mendengar penjelasan kakaknya itu. Dia kemudian bertanya, “Kakak belajar dari mana kalimat itu?”

Timo menghela nafasnya panjang, “Kakak berharap ada yang bilang semuanya itu waktu kakak umur 15 tahun.”

“Jadi, dulu kakak seperti aku? Makanya nggak pernah pacaran sampai umur segini?” Pertanyaan Obed membuat Timo tertawa.

“Setiap orang prosesnya beda-beda. Jadi, jangan malah cuek sama perempuan. Belajar jadi saudara yang baik. Kita juga perlu doa minta hikmat dan pengendalian diri sama Tuhan. Bersikap cuek dan menjauhkan diri itu bukan pengendalian diri, jatuhnya kamu jadi seperti nggak ramah. Oke?” Timo menepuk pundak Obed lalu berdiri. “Yuk kita makan siang bareng, kamu ganti baju sana.” Ajak Timo kemudian dan melangkah ke luar kamar. Sebelum Timo membuka pintu, Obed menyela “Kak ada satu pertanyaan lagi.” Timo menoleh ke belakang sedang tangannya memegang gagang pintu kamar.

“Kalau aku sudah jadi saudara yang baik buat Rachel, tapi dianya malah baper, gimana?”

Timo tersenyum dan berkata, “Itu tanggung jawab dia sendiri untuk mengendalikan perasaannya. You do you.” Lalu dia pun keluar kamar. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan Timo menunjukkan wajahnya kembali dan berkata, “Oh ya, satu lagi. Baca Kidung Agung 2:7.” Dengan senyum lebarnya.

Obed berdiri menatap kepergian kakaknya dan meraih handphone di tasnya. Lalu dia membuka aplikasi Alkitab dan membaca Kidung Agung 2:7 “…jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya!

Berkat di Balik Tirai Kesuraman

Oleh Antonius Martono, Jakarta

Baru saja Ianuel pulang memimpin sebuah kelompok pendalaman Alkitab, Benu sudah menunggunya di taman tempat mereka biasa mengobrol. Benu bilang penting, ingin bicara. Segera Ian beranjak dari kamarnya menuju teras. Setelah berpamitan dengan Ibu, Ian menyalakan motornya.

“Baru pulang sudah pergi lagi. Mau ke mana kamu?”

“Hmm… pelayanan, Pah. Tadi sudah pamit Ibu,” kata Ian ragu.

“Pelayanan mulu. Waktu buat keluarga kapan? Ini, kan, weekend.”

“Sebentar, kok, Pah. Ke taman biasa,” Ianuel berusaha menenangkan ayahnya.

“Sebentar tapi, sampai malam. Pulang cepet. Kalau sudah pada tidur, tidak ada yang akan bukain pintu,” ayah Ian memunggunginya menuju ruang TV.

Telah satu tahun Ian tidak mendengar ayahnya berbicara seperti itu. Terakhir kali, pada hari Ian terkunci di luar rumah karena pulang hampir tengah malam. Sejak saat itu Ian mulai mengatur waktu kegiatannya dengan teliti. Dia tahu, jika ayahnya mengucapkannya lagi, berarti sang ayah benar-benar memaksudkannya. Mengganjal. Namun, Ian harus pergi.

Bagi Ian bertemu Benu adalah sebuah bagian dari panggilannya. Panggilan yang dimulai dari keputusan Ian satu setengah tahun lalu untuk bekerja di suatu lembaga Kristen yang melayani kaum muda. Lembaga ini baru saja membuka pos rintisan di kota kecil tempat Ian tinggal. Sedangkan pusat lembaganya berada 2 jam jauhnya dari kota ini. Capek, kehabisan ide, tertekan, sedih adalah teman pelayanan Ianuel, sebab belum ada orang yang bersedia menemani pelayanannya. Ian melayani seorang diri di pos kecil tersebut. Meskipun begitu, dia mengerti bahwa lewat pos pelayanan inilah dia mengabdi kepada Tuhan.

Ayahnya sendiri sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Ian. Dia tidak bisa memahami pekerjaan Ian dan pertimbangannya. Ayahnya hanya tahu kalau anaknya suka kerja sebar-sebar ajaran Alkitab. Namun, menurut hemat ayahnya, pekerjaan tersebut sulit untuk membeli sebuah rumah untuk anak istri Ian kelak. Terang-terangan atau sindiran halus sudah dilakukannya tapi, Ian tetap tidak mengubah pilihan pekerjaanya.

Sesampainnya di taman, Ianuel menemui Benu di bangku taman. Dari bangku itulah Benu bercerita bahwa ia baru saja berkonflik hebat dengan ayahnya yang dominan lantaran ia kelupaan mematikan lampu kamar. Keduanya terlibat adu mulut dan saling merendahkan satu sama lain. Ketika konflik semakin menegang, Benu mengakhirinya dengan keluar rumah. Sambil menghisap rokoknya, Benu mengatakan bahwa ia tidak ingin lagi pulang ke rumah.

Hari itu malam Minggu dan matahari sudah semakin gelap. Taman semakin dipenuhi pengunjung dan para penjaja makanan mulai membuka lapaknya.

“Makan, yuk. Gue traktir,” ajak Ian.

Ian sudah biasa melakukan hal ini kepada para pemuda tanggung yang dilayaninya. Hanya ingin berbagi dan meringankan beban mereka yang dia layani. Mereka melipir ke tenda pecel ayam tak jauh dari taman itu. Percakapan terus mengalir tanpa ujung bersamaan dengan perut mereka yang semakin penuh. Waktu berlalu hingga pukul delapan lewat. Dalam hatinya Ian bertekad untuk pulang sebelum jam sembilan malam, sebab ia teringat pesan ayahnya. Percakapan masih berlanjut beberapa menit sebelum akhirnya Ian memberikan saran-saran praktis untuk masalah Benu dengan ayahnya.

“Memang sih, Ben, disalah mengerti oleh orang yang kita harapkan sebagai yang pertama kali memahami kita itu menyakitkan. Tapi, lari dari tanggung jawab untuk saling mencari pengertian justru akan melahirkan kesalahpahaman lainnya. Usahakan tidak mengoleksi luka sebab semua luka sudah ditanggung Yesus di atas kayu salib, Ben,” kata Ian.

“Jadi, kalau menurut Abang. Sebaiknya kamu pulang dan meminta maaf. Siapa tau dengan begitu terjadi rekonsiliasi. Abang yakin Tuhan akan bekerja. Soalnya Dia yang paling mau relasi kalian membaik. Jadi segera balik, yak, tidak perlu kelayapan lagi,” bujuk Ian sambil menepuk pundak Benu.

Benu merasa pita suaranya kusut. Dia tidak menjawab bujukan Ian yang telah pulang dengan motornya. Di taman itu Benu masih mempertimbangkan saran dari Ian sebelum akhirnya dia memutuskan pulang pada dini hari.

Di tengah perjalanan Ian terus bertanya mengapa ia perlu mengurusi anak orang lain jika relasinya sendiri dengan orang tuanya masih berjarak. Ian merasa jago bicara tapi, gagal dalam praktiknya. Dia juga ingin agar Tuhan memperbaiki relasinya dengan sang ayah. Itulah mengapa Ian memacu motornya secepat mungkin supaya sampai tepat sebelum jam 9. Dia berharap agar tidak terjadi lagi konflik pada hari ini. Namun, di jalan motornya malah menabrak sebuah roda truk.

Truk tersebut sedang menepi mengganti salah satu roda kanannya. Badan truk menghalangi lampu penerangan jalan sehingga Ian tak dapat melihat sebuah roda besar di sisi kanan truk. Ianl tak sempat lagi mengelak dan hantaman itu terjadi.

“Brakk!”

Setang motornya bengkok dan sebagian lampu depannya pecah. Ian sendiri terlempar dari motornya. Tulang tangan kirinya patah dan dahinya berdarah. Banyak orang langsung berkerumun dan segera melarikannya ke rumah sakit.

Tiga hari lamanya Ian berada di rumah sakit sebelum ia pulang diantarkan sang ibu. Keningnya dijahit dua kali dan tangannya telah dirawat dengan tepat. Untuk beberapa hari Ian perlu beristirahat menunggu luka-lukanya untuk pulih. Ayahnya tidak menyalahkan Ian atas kecelakaan tersebut. Dia hanya masih belum mengerti masa depan seperti apa yang sedang dibangun oleh anaknya. Dari ambang pintu kamar Ian sang ayah memperhatikan keadaan anaknya.

“Memang kamu kerja untuk apa, sih? Bukan apa-apa, papa cuma pikirin masa depan kamu. Kamu kan kelak jadi kepala keluarga.”

Di tempat tidur Ianuel hanya mendengarkan tegang.

“Nanti kalau sudah sembuh kamu kerja aja sama anak teman papa. Bilang ke bos kamu mau keluar. Mau cari pengalaman baru.”

Ian diam saja. Ian tahu komitmennya sedang diuji kembali. Hanya saja kali ini Ian tidak bisa menjawab. Kejadian ini membuat Ian merasa seperti kalah perang. Berkorban nyawa untuk sebuah negara yang kalah.

“Kamu keluar biaya berapa? Ditanggung sama tempat kerjamu?”

“Sekitar enam jutaan, Pah.”

Ian berhenti sampai situ dan tidak berniat menjawab pertanyaan kedua.

“Itu diganti semua?”

“Tidak tahu, Pah. Kantor juga masih kurang bulan ini.”

Ayah Ian menghela napas, semakin prihatin dengan masa depan anaknya.

“Ya, sudah kamu pikirin deh, nanti kalau kamu mau papa telepon temen papa, biar kamu kerja di tempat anaknya. Papa keluar dulu ketemu mama.”

Selonjoran di dipan, Ian masih memproses kata-kata ayahnya. Ada benarnya maksud sang ayah. Memang bujukan itu belum pernah berhasil membuat Ian mencari pekerjaan lain, tapi bukan berarti tidak pernah membuat dia ragu. Dari celah pintu, Ian dapat mengintip kedua orang tuanya sedang berdiskusi.

Tak lama kemudian ibunya melangkah menuju kamar. Nampaknya ayah Ianuel masih mencoba membujuknya kali ini lewat sang ibu. Ia lelah untuk berdiskusi tapi, sekali lagi dia harus berusaha menguatkan tekadnya kembali.

“Ian ini ada parsel. Tadi ada ojek online yang kirim.”

Ianuel tak menduga sama sekali ibunya datang hanya untuk mengantarkan parsel buah segar. Di atas keranjang anyaman bambu buah-buah tersebut disusun. Ian menerimanya. Wajahnya masih kaget tapi, hatinya tersenyum.

“Itu dari siapa ?”

“Gak tau, Mah. Tapi ini kayaknya ada suratnya deh.”

“Coba dibaca dulu.”

Ianuel membaca surat itu dan tahulah ia bahwa parsel itu berasal dari adik-adik pemuda yang selama ini dilayaninya.

“Semoga Tuhan memulihkan kondisi kak Ian seperti kami yang dipulihkan Tuhan lewat kak Ian. Kak, kami sudah urunan dan transfer. Tidak seberapa tapi semoga dapat meringankan beban Kak Ian.”

Kemudian dalam surat itu mereka mengutip penggalan ayat dari Mazmur 23. Ianuel tak tahu dari mana anak-anak itu mendapatkan dana yang jumlahnya cukup untuk mengganti biaya perawatannya dan perbaikan motornya, tapi ini menghibur hatinya. Memang perjalanan pelayanan Ian cukup terjal. Namun, dia semakin yakin bahwa dia tidak pernah ditinggal sendiri. Kekuatan dan penghiburan diberikan di saat perlu. Mengimbangi duka dengan suka. Di dalam pengabdian untuk nama Tuhan.

Baca Juga:

Mengerjakan Misi Allah melalui Pekerjaan Kita

Kita tidak dipanggil dalam kenyamanan dan kemudahan. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil ke dalam dunia yang rusak karena dosa yang merajalela. Kita diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala.

Cerpen: Menyenangkan Hati Orang Lain

Oleh Desy Dina Vianney, Medan

Aku dan Ica sedang asyik menikmati bakso kuah di kantin kampus ketika dua orang temanku datang menghampiri meja kami.

“Eh, Dian, makan di sini juga,” seru salah seorang dari mereka.

Aku menoleh dan tersenyum.

“Di, kamu sudah selesai print paper buat mata kuliah sore ini?” tanya temanku.

Aku mengangguk. “Iya, sudah.”

“Yah, sayang banget.”

“Memangnya kenapa?”

“Begini, Di. Kita berdua mau balik sebentar ke kos, mau ambil buku yang ketinggalan. Tapi, kita belum print paper, sepertinya tidak sempat kalau harus print dulu,” keluh temanku.

“Iya, Di. Kita pikir kamu belum print jadi bisa sekalian, mau nitip tadinya. Tetapi karena kamu sudah selesai, kita coba minta bantuan teman lain saja,” jawab teman di sebelahnya. Dan mereka pun siap-siap untuk beranjak pergi.

“Eh, nggak apa-apa. Biar aku saja yang print, aku juga gak ada kegiatan lain setelah ini.”

“Wah, serius, Di?” sahut mereka hampir bersamaan. Aku mengangguk. Mereka buru-buru meletakkan flash disk dan beberapa lembar uang di atas meja.

“Terima kasih banyak, Di. Kamu memang orang yang baik,” puji mereka sebelum beranjak ke pintu keluar kantin.

Aku memasukkan flash disk dan uang itu ke dalam tas lalu melanjutkan makan. Aku melirik Ica sekilas, tetapi dia tidak berkata apa-apa.

Ica adalah temanku sejak SMP. Kami bersekolah di tempat yang sama dan sekarang kuliah di kampus yang sama juga meski dengan jurusan yang berbeda. Awalnya aku ingin mengambil jurusan yang sama dengan Ica, karena kami memang punya minat yang sama. Tetapi tahun lalu ketika mengisi daftar pilihan jurusan, Bapak memintaku untuk memilih jurusan yang sekarang aku jalani ini. Alasan yang diberikan Bapak adalah jurusan ini memiliki prospek pekerjaan yang lebih luas di masa depan. Sebenarnya aku tidak terlalu menikmati belajar di jurusan ini, tetapi aku tidak ingin mengecewakan Bapak. Aku ingin menjadi anak yang menyenangkan hati orang tuaku.

Drrrt…drrrt…

Aku merogoh ponsel di dalam tas lalu berbicara selama beberapa menit.

“Siapa, Di?” tanya Ica.

“Teman kelompok. Dia minta tolong aku membuat materi presentasi buat besok, dia sedang ada urusan,” jawabku santai.

“Kamu mau?”

Aku mengangguk. “Aku tidak enak menolak. Dia ‘kan minta tolong. Aku juga yang bikin makalahnya, jadi seharusnya tidak begitu susah untuk membuat materi presentasinya.”

“Bukannya kamu ada jadwal pelayanan nanti malam?” Ica mengingatkanku.

“Oh, iya!” seruku menepuk jidat. Aku berpikir sejenak.

“Sepertinya aku akan lembur, nih,” kataku akhirnya.

Ica menghembuskan napas kesal. “Mau sampai kapan kamu berusaha menyenangkan hati semua orang, Di? Apalagi sepertinya hanya membebani diri kamu sendiri saja.”

Aku menanggapinya dengan meringis.

“Kita tidak akan bisa menyenangkan hati semua orang, Di, karena manusia itu tidak akan pernah merasa puas. Dan juga kamu bukan penyedia jasa untuk menyenangkan hati orang lain, kan?” lanjutnya dengan pelan dan lembut, memandangku dengan penuh perhatian.

Aku terdiam.

Aku memang selalu suka membantu orang lain. Sampai kadang-kadang dalam beberapa kasus, aku merasa lelah sendiri. Aku jadi berpikir apa motivasiku menolong orang lain. Apakah aku melakukan semua itu karena aku memang ingin melakukannya, atau karena aku ingin punya citra yang baik di mata orang-orang sekitarku, supaya aku dapat diterima oleh mereka?

Ica sudah sering mengingatkanku akan hal ini tetapi baru sekarang kupikirkan dengan serius. Mungkinkah selama ini Tuhan berusaha mengingatkanku lewat Ica, tetapi aku sengaja mengabaikan-Nya?

Aku tersadar, adalah hal baik untuk menolong orang lain dan melakukan sesuatu yang menyenangkan mereka, tetapi bila hal itu kemudian membuatku mengejar penerimaan dari mereka, apakah Tuhan senang kalau aku melakukannya?

Aku pun perlu berhikmat dan belajar memeriksa motivasiku sebelum menolong orang lain.

Kita tidak akan bisa menyenangkan hati semua orang, dan hal itu tidak salah. Bukankah hanya ada Satu Pribadi yang harus kita senangkan hati-Nya? (Kolose 3:23).

Baca Juga:

Doa: Sebuah Usaha Bergantung Pada Kebaikan Hati Bapa

Semakin sering aku melihat teman-temanku berdoa, maka semakin sering aku merasa ada yang salah dengan relasiku dengan Tuhan, khususnya dalam hal berdoa.

Cerpen: Ngobrol Dengan Tuhan Itu Asyik

Oleh Meili Ainun

Aku mendengar pintu depan terbuka.

“Lima…Empat…Tiga…Dua…Satu.”

“Dewi…Dewi…Kamu ada di mana?”

“Nah, dia pasti menuju dapur, lalu ke ruang tamu, dan sekarang ke kamar.”

Pintu kamar terbuka dan muncullah wajah manis sahabatku sejak kecil. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Begitu masuk, Yenny langsung mengambil posisi berbaring di ranjang.

“Ada apa?” tanyaku. Pertanyaan yang kutanyakan setiap kali bertemu Yenny.

“Biasa, mau ngobrol saja.” jawab Yenny. Jawaban yang sama juga sepanjang yang aku ingat.

“OK, mulailah,” ajakku santai.

Yenny tertawa kecil, dan mengambil posisi duduk di tepi ranjang.

“Gini, Wi. Kamu tahu kan si Adi, itu yang sekelas dengan kita di kelas Manajemen Umum. Aku baru tahu lho, ternyata dia suka traveling juga, sama seperti aku. Rencananya kelompok travel kampus akan pergi ke Bali saat liburan. Aku akan ajak Adi ikut, ah… Sekalian kenalan lebih dekat,” Yenny memulai ceritanya dengan bersemangat.

Aku mengangguk tersenyum.

“Terus…kamu tahu kan si Camalia. Bunga kampus kita. Aku baru tahu ternyata rumahnya tidak jauh dari rumah kita, Wi. Bayangkan kalau kita bisa mengajak dia main juga, Wi. Asyik juga kan ya, bisa bersahabat dengan orang terkenal.”

Yenny terus bercerita mengenai adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMA, kedua orang tuanya yang masih sibuk bekerja bahkan juga di akhir pekan, keinginannya untuk bekerja di perusahaan terkenal setelah lulus, dan berbagai hal lain.

“Eh..Wi. Kamu dengerin aku nggak, sih? Kok kamu diam saja?” tanya Yenny tiba-tiba.

“Aku dengerin kamu kok,” jawabku.

“Kamu bosan ya?” tanya Yenny dengan serius.

“Ngak, aku sudah terbiasa mendengarkan kamu bercerita sampai berjam-jam,” kataku sambil nyengir. “Hanya saja…”

“Apa?” tanya Yenny waspada.

“Aku lagi berpikir mengapa kamu senang ngobrol dengan aku? Padahal kan aku lebih banyak diamnya daripada menanggapi kamu,” jawabku.

“Karena itulah kita cocok. Aku bicara, kamu mendengarkan. Iya kan?” katanya sambil memelukku. “Juga karena kamu memperhatikan saat aku berbicara. Aku kesepian, selain kamu, tidak ada orang yang dapat aku ajak ngobrol seperti ini. Kadang mereka suka memotong pembicaraan, ada juga yang menghakimiku sebelum aku selesai cerita, macam-macam deh sikapnya. Jadi aku lebih senang mengobrol sama kamu.”

“Oh..gitu ya? Sebenarnya kamu tahu nggak, ada teman ngobrol yang lebih asyik daripada aku,” kataku.

“Masa? Siapa? Beneran ada? Atau kamu bosan jadi kamu bilang seperti itu?” sahut Yenny.

“Beneran ada. Aku saja ngobrol sama Dia setiap hari. Bukan hanya setiap hari, satu hari bisa beberapa kali,” terangku.

“Hah? Siapa Dia? Aku jadi ingin tahu. Kamu ngobrol dengan Dia melalui apa? Telepon? Apa Dia datang ke rumahmu? Atau apa?” Yenny terlihat penasaran dan terus mengajukan pertanyaan.

“Dengan Tuhan, Yen. Ngobrol dengan Tuhan itu ternyata asyik, lho,” jawabku bersemangat.

Yenny menatapku tidak percaya. “Masa sih?”

“Ngobrol dengan teman itu memang asyik. Tetapi dengan Tuhan lebih asyik lagi. Teman nggak bisa selalu ada buat kita. Tetapi Tuhan selalu ada. Kapan pun kita mau ngobrol dengan Dia, langsung ngobrol saja. Di mana pun, dalam situasi apa pun, Dia siap mendengarkan. Dan kamu bisa ngobrolin apa saja termasuk rahasia hatimu. Mau kamu lagi susah, lagi senang, langsung ngobrol saja. Asyik kan?” jelasku.

“Hm… itu benar. Tetapi Tuhan kan tidak bicara langsung begitu kalau kita sedang ngobrol dengan Dia. Darimana kita tahu Dia sedang mendengarkan? Terus darimana kita tahu juga jawaban Dia?” tanya Yenny mempertahankan pendapatnya.

Melihat sahabatku tertarik, aku lebih bersemangat.

“Tuhan pasti mendengar ketika kita sedang berbicara dengan Dia. Dan bukan hanya ngobrol dengan Tuhan itu asyik. Jawaban Tuhan itu tidak kalah asyiknya. Karena Dia bisa menjawab dengan berbagai cara. Nggak hanya lewat satu cara. Macam-macam caranya. Bahkan yang tidak terpikir sebelumnya.”

“Misalnya apa?” Yenny masih menatapku heran.

Baru kali ini aku berbicara serius soal Tuhan dengan Yenny. Meskipun kami bersahabat sejak kecil, tetapi aku merasa sulit berbicara mengenai imanku. Hari ini aku melihat Tuhan membuka jalan.

“Kamu ingat ngak baju hijau yang aku pakai kemarin?”

Yenny mengangguk.

“Aku sudah lama sekali menaksir baju hijau itu, Yen. Tetapi aku nggak tega mengeluarkan uang untuk beli karena harganya mahal. Ketika aku lagi ngobrol sama Tuhan, aku ingat baju hijau itu. Aku bilang aku ingin menginginkan baju hijau itu sebagai kado ulang tahunku nanti. Begitu saja. Aku tidak ingat lagi dengan baju hijau itu sampai di hari ulang tahunku. Kamu tahu apa yang terjadi? Tiba-tiba saja aku mendapat hadiah dari sepupuku. Coba tebak? Iya, benar. Baju hijau itu. Luar biasa, kan? Cara Tuhan menjawab nggak terduga sama sekali. Asyik banget. Memang sih Tuhan tidak selalu mengabulkan yang kita doakan. Tetapi kalau kamu pikirkan dengan serius, Tuhan sudah menjawab. Hanya biasanya kita tidak menyadarinya.”

“Wah…luar biasa, Wi. Ternyata Tuhan bisa menjawab dengan cara seperti itu, ya?” Yenny berdecak kagum.

“Cobain deh. Beneran. Asyik banget. Kamu harus coba supaya tahu asyiknya,” kataku memberikan senyum terbaikku.

“Ok deh. Aku akan coba. Tetapi aku masih boleh kan ngobrol dengan kamu? Siapa tahu Tuhan menjawab doaku nanti lewat kamu,” goda Yenny mengedipkan mata.

“Ha…ha…ha…ha…tentu saja. Iya, siapa tahu ya?”

“Yesus kawan yang sejati bagi kita yang lemah.
Tiap hal boleh dibawa dalam doa pada-Nya.”

-Kidung Jemaat 453, Yesus Kawan yang Sejati-

Baca Juga:

3 Sifat Anak Kecil yang Perlu Kita Contoh

Anak kecil sering dianggap sebagai sosok yang lemah dan penuh ketergantungan. Lantas, apa yang sebenarnya bisa kita pelajari dari mereka?

Suka, Cinta, dan Penantian

Oleh Noni Elina Kristiani, Banyuwangi

Langit sore tampak cerah. Matahari bersinar di balik awan putih dan angin pantai menyapu wajah muda-mudi yang bersemangat . Setelah melangkahkan kaki ke luar dari parkiran, mereka pun berjalan menuju pantai. Tiga orang remaja SMP bersama seorang kakak pembinanya berniat untuk melakukan pendalaman Alkitab di alam terbuka. Tempat yang berbeda untuk melakukan kegiatan mingguan mereka.

Sembari berjalan, Gracia membuka obrolan, “Kak, kakak tahu Dery nggak?”

Kak Nindy, nama kakak pembina rohani para remaja ini menatap Gracia. “Iya, tahu. Kenapa?”

“Kemarin dia confess ke aku,” lanjut Gracia sambil terus berjalan.

Kak Nindy memasang wajah kaget, kemudian memandang ke belakang sambil memberi isyarat tangan pada Luke dan Bisma yang jauh tertinggal di belakang untuk lebih mendekat. Ternyata kedua laki-laki itu sedang bermain adu gulat sambil berjalan.

“Memangnya dia bilang gimana?” Kak Nindy menatap Gracia yang terus memandangi jalan setapak di hadapan mereka.

“Dia bilang: ‘Gracia, aku mau bilang sesuatu sama kamu. I like you.’ Udah gitu aja,” Jawab Gracia.

“Terus kamu bilang apa sama dia?” tanya kak Nindy lagi.

“Ya udah, he is just like me kan, not love me.” Kak Nindy tertawa geli mendengar jawaban itu. Anak SMP berusia 13 tahun pun tahu bedanya dicintai dan disukai ya?

“Memangnya kenapa kalau dia suka sama kamu bukan cinta sama kamu?” Belum sempat Gracia menjawab, Kak Nindy segera berteriak, “Hai gaes, Gracia baru dapat pernyataan cinta nih!” “Wah tunggu, kita juga mau dengar!” Luke dan Bisma antusias lalu berlari mendekat.

“Ya kan cuma suka kak, kayak nge-fans gitu kan. Kalau cinta berarti dia kan lebih dalam lagi perasaannya,” jelas Gracia lagi. Kak Nindy mengangguk-angguk.

“Ceritanya waktu kita sudah sampai tempat tujuan aja,” saran Luke.

“Enak sekarang aja, sambil jalan biar nggak kerasa capeknya,” sahut Gracia.

Mereka berempat terus berjalan menuju gubuk di tepi pantai, bagian paling favorit versi mereka dari tempat wisata ini. Bersyukur sore ini tidak banyak pengunjung yang datang, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

“Terus, terus, kakak tahu Michael? Dia chatting aku lagi, panjang lebar.” Mata Gracia tampak berbinar mengucapkannya.

“Ehem, chatting gimana?” Tanya kak Nindy mempersiapkan hati untuk mendengar ceritanya lagi.

“Intinya dia mau bilang, I still love you.” Kali ini Gracia menatap Kak Nindy yang memasang wajah pura-pura kaget. Bahkan sampai menutup mulut. Gracia tahu itu berlebihan, tetapi dia nampak senang dengan reaksi itu.

“Wow!” Teriak Bisma dari belakang sambil bertepuk tangan. Kak Nindy lalu menggeleng-gelengkan kepala. Sungguh anak SMP zaman sekarang bisa dengan mudah mengekspresikan perasaan mereka. Entah apakah di balik pernyataan itu mereka sudah tahu makna sesungguhnya.

“Aneh kan kak? Padahal kita sudah lama lost kontak lho,” lanjut Gracia. Jadi, Gracia pernah berpacaran dengan Michael selama beberapa hari (iya, hari). Jangan heran, bahkan Kak Nindy pernah mendengar anak kelas 5 SD sudah berpacaran.

“Lalu, kamu senang dia bilang begitu?” Tanya kak Nindy lagi. Dia ingin membiarkan Gracia untuk bercerita banyak terlebih dahulu.

“Ya…” Gracia memainkan tangannya. Ragu-ragu mau bilang apa.

“Tapi, kayaknya aku cuma dijadikan pelarian deh. Jadi aku biasa aja,” lanjut gadis itu kemudian.

“Kamu masih suka ya, sama Michael?” Pertanyaan ini mendapat respon dengan nada yang cukup ngegas. “Ya nggak lah kak, ngapain.”

“Hemm, okay,” Kak Nindy tersenyum kecil.

Mereka pun tiba di gubuk yang menghadap ke pantai. Setelah duduk di lantai kayu tanpa beralaskan apapun, mereka mengeluarkan Alkitab dan buku PA (pendalaman Alkitab) mereka. “Wah indah ya, pemandangannya,” seru kak Nindy sembari menatap garis pantai yang ada di hadapan mereka.

“Kak aku mau tanya deh. Nggak papa kan?” Luke menatap Kak Nindy.

“Oke, kita sharing dulu sebelum masuk ke bahan PA. Mau tanya apa dek?”

“Kak Nindy pernah bilang, kalau kita boleh pacaran waktu kita sudah siap. Nah itu biasanya umur berapa sudah siapnya?” Tanya laki-laki berusia 13 tahun itu. Ya, tiga remaja ini baru berusia 13 tahun. Namun, nampaknya mereka sudah penuh dengan gejolak cinta remaja.

“Sebenernya nggak ada umur yang pasti, kapan kita bisa dikatakan siap pacaran. Karena siap itu bukan bicara soal umur, tapi kedewasaan seseorang. Nah, mereka yang sudah berumur 20 tahun tapi masih egois dan nggak tahu tujuan hidupnya, kayaknya juga belum siap buat pacaran.” Jelas Kak Nindy.

“Berarti, nanti kalau SMA aku sudah dewasa dan tahu tujuan hidup, aku boleh pacaran?” Sahut Gracia.

“Ngebet amat lu.” Celetuk Bisma sambil melirik pada Gracia, gadis itu memukul pelan paha Bisma dengan buku di tangannya.

“Ya, kalau kalian sudah merasa siap dan sudah mendoakan dengan sungguh-sungguh, silahkan pacaran. Tapi ingat ya, pacaran itu bukan untuk anak-anak, karena ada banyak hal yang akan kalian usahakan dan berikan. Seperti emosi, perhatian, saling melayani, saling mengenal lebih dalam. Nah, kalau kalian nggak siap, terus putus, itu bisa bikin kalian kalang kabut. Bahkan ada yang berpikiran ingin mengakhiri hidup karena putus cinta. Makanya, kakak bilang: kenallah Tuhan dan dirimu sendiri dengan baik, sebelum mau memulai relasi dengan lawan jenis.”

“Kalau kakak, kenapa belum pacaran? Kakak kan sudah dewasa, sudah tahu tujuan hidupnya, kayaknya kakak juga sudah siap. Nunggu apa coba?” Gracia menatap kakak rohaninya itu yang sudah setahun ini menemani mereka dalam kelompok kecil.

“Iya, kakak sudah 27 tahun kan,” Tambah Luke.

Kak Nindy tersenyum mendengar pertanyaan itu sambil menatap mereka satu per-satu, “Kalau kita merasa siap, bukan berarti Tuhan juga menilai demikian. Karena rencana kita bukan rencana Allah.” Lalu pandangannya beralih pada laut di hadapannya, bau air laut dibawa oleh angin memecah keheningan di antara mereka.

“Kalau kita hidup dengan sebuah tujuan, kakak yakin pacaran dan pernikahan seharusnya juga punya tujuan. Bukan hanya karena cinta, ya meskipun itu juga penting. Tapi menurut kakak, ada yang jauh lebih penting dari itu.” Kak Nindy berhenti lagi menunggu reaksi dari ketiga adiknya.

“Apa?” Tanya Gracia.

“Pernikahan itu alat yang dipakai Tuhan untuk membentuk kita menjadi semakin serupa dengan Kristus. Pernikahan itu juga untuk menggenapi rencana Tuhan bagi dunia ini. Apa coba, rencana Tuhan bagi dunia ini?” Kak Nindy menyipitkan matanya sambil melayangkan telunjuknya kepada wajah para remaja itu.

“Nggak tau kak,” rengek Gracia.

“Kak Nindy sudah pernah bilang lho padahal.” Wanita itu meraih Alkitabnya, “Coba baca Wahyu 7:9…” Mereka pun memulai diskusi tentang salah satu bagian perikop tersebut, bahkan juga membuka beberapa bagian kitab lain.

Ada yang berbicara tentang rasa suka terhadap lawan jenis atau tentang cinta yang tumbuh entah sejak kapan, tetapi juga ada yang masih tetap berbicara tentang penantiannya. Bukankah kita semua adalah kekasih-kekasih Allah yang telah ditebus dan dimerdekakan-Nya?

Kiranya mata kita senantiasa tertuju kepada Kristus. Hingga suatu saat kau temukan orang lain yang juga berlari ke arah yang sama, beririsan dengan hidupmu. Jika penantian akan pasangan hidup seakan selamanya, sesungguhnya Kekasih Jiwa kita tetap sama. Penantian kita tidak akan sia-sia.

Dan jika dirimu adalah jiwa yang terluka karena cinta yang sebelumnya, mungkin ini waktu yang tepat untuk datang ke pelukan Bapa. Dia peduli dan akan membalut setiap luka.

Baca Juga:

Pendeta yang Tidak Aku Sukai

Siapa pendeta yang akan berkhotbah sering jadi motivasiku untuk ikut ibadah. Kalau pendeta X yang khotbahnya menurutku tidak bagus, aku pun malas ke gereja. Tapi, ini pemikiran yang salah, dan aku bersyukur Roh Kudus menolongku.