cerpen

Cerpen: Bekerja Sama dalam Perbedaan

Cerpen: Bekerja Sama dalam Perbedaan

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Di hari-hari pengujung semester ini, aku sedikit lebih sibuk dari biasanya. Pembelajaran dan ujian sudah selesai, aku tinggal menyelesaikan penilaian dan hal-hal yang perlu untuk pembagian rapor peserta didik di minggu mendatang.

Meminta dan Menerima Pertolongan Bukanlah Tanda bahwa Kamu Lemah: Sebuah Pelajaran dari Galon Air

Meminta dan Menerima Pertolongan Bukanlah Tanda bahwa Kamu Lemah: Sebuah Pelajaran dari Galon Air

Sebuah cerpen karya Tabita Davinia Utomo

“Jadi perempuan itu harus mandiri, jangan mengharapkan orang lain mengasihani kamu.”

Mama sering berkata begitu karena sejak kecil beliau sudah terbiasa untuk jadi anak yang mandiri. Orang tuanya (khususnya Nenek yang cukup dominan) yang sibuk bekerja tidak memiliki banyak waktu untuk berdialog dengan keempat anak mereka secara pribadi.

Cerpen: Memaafkan Papa Mengikuti Teladan Bapa

Cerpen: Memaafkan Papa Mengikuti Teladan Bapa

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Aku menghela napas panjang mendengar keputusan mama. Permintaannya kali ini sungguh di luar dugaanku.

“Kak, kamu harus menemui papamu dulu, baru kamu bisa pergi sama Daniel!” tegas mama.

“Mama, please! I just need you and I am happy,” pintaku sedikit memelas.

Cerpen: Setoples Nastar di Pergantian Tahun

Cerpen: Setoples Nastar di Pergantian Tahun

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Wangi lelehan mentega bercampur sirup gula dan serbuk vanilla memenuhi udara saat jemari Chesa sibuk menguleni adonan. Jika kemarin ia sibuk membuat nastar pesanan pelanggan, petang ini ia akan membuat setoples nastar untuknya dan kedua adiknya di malam nanti.

Cerpen: Hanya Sepasang Sepatu

Cerpen: Hanya Sepasang Sepatu

Oleh Tri Nurdiyanso, Surabaya.

Dua puluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 2000, aku masih duduk kelas 2 SD Negeri di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Satu kelas hanya diisi dengan 22 siswa, termasuk aku. Bangunanya juga tidak sebagus sekarang. Dulu, temboknya bisa mengelupas sendiri karena termakan usia.

CerpenKaMu: Penyembahan Puja

CerpenKaMu: Penyembahan Puja

Oleh: Yohana P.D.Utami

Biasanya aku sangat sibuk di akhir tahun. Mempersiapkan acara Natal dan tahun baru di gerejaku. Tetapi, tidak tahun ini. Aku lebih banyak berdiam diri di rumah. Kudapati memang aku letih, lesu, dan berbeban berat. Hatiku jauh dari hening, apalagi bening. Perasaan gagal dan marah membuatnya kian keruh.