Posts

Saat Aku Menjadikan Pelayananku Sebagai Pelarian

Oleh Peregrinus Roland Effendi, Cilacap

Masa-masa kuliah adalah masa yang berharga sekaligus menyenangkan. Aku tahu kuliah itu hanya berlangsung sekitar delapan semester saja, jadi aku pun bertekad untuk menjadikan masa-masa kuliahku berkesan.

Di semester kedua, aku bergabung dengan pelayanan persekutuan doa di kampusku. Awalnya aku hanya datang sebagai simpatisan saja, tanpa ada niatan untuk terlibat menjadi pengurus. Tapi, karena aku selalu datang di tiap minggunya, tim pengurus menawarkanku untuk bergabung dengan tim pelayanan mereka. Aku tertarik dengan tawaran ini, dan singkat cerita setelah aku melewati seleksi wawancara, aku diterima sebagai tim pengurus inti.

Sejak saat itu, di samping kuliah, kegiatanku jadi bertambah banyak. Aku mengikuti persekutuan doa, komsel, fellowship, retret, dan seminar kerohanian yang wajib diikuti oleh tim pengurus. Kadang, aku juga diminta untuk melayani di persekutuan doa lain. Meskipun sibuk, tapi segudang aktivitas ini membuatku nyaman. Ada banyak teman-teman baru yang kudapat di persekutuan ini, dan kupikir tema-tema yang dibahas tiap minggunya pun menarik dan sangat cocok dengan kehidupanku sebagai mahasiswa.

Tapi, tanpa kusadari, pelayanan yang kulakukan ini membuatku abai dari apa yang seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab utamaku di kampus, yaitu menyelesaikan kuliah. Selama aku melayani sebagai tim pengurus, aku lebih mementingkan persekutuan dan kegiatan yang kelihatannya rohani dibandingkan dengan tugas-tugas kuliahku.

Acara persekutuan berlangsung sampai malam. Tak jarang saat pulang ke kos tubuhku sudah capek dan aku langsung tertidur tanpa menyelesaikan tugas-tugas kuliahku. Alhasil, nilai-nilai kuliahku banyak yang jelek. Saat teman-temanku menikmati liburan semesteran, aku malah harus kembali ke kampus untuk remedial atau bahkan mengulang mata kuliah yang gagal itu di semester depan.

Saat kuliahku tiba di semester tujuh, aku sempat merasa putus asa. Teman-temanku sudah menyelesaikan laporan akhir kuliah kerja lapangan mereka, aku malah seperti jalan di tempat. Aku butuh waktu sembilan bulan untuk menyelesaikannya, padahal temanku banyak yang sanggup menuntaskan laporan itu hanya dalam waktu satu atau dua bulan saja.

Sampai di titik ini, aku mulai berpikir sepertinya ada yang salah dengan diriku. Namun, aku belum tahu apa dan tidak berusaha mencari tahu lebih lanjut. Bukannya segera menyelesaikan kuliahku yang tertinggal dan belajar membagi waktu dengan bijak, aku malah meninggalkan kuliahku dan meluangkan sebagian besar waktuku untuk mengurusi persekutuan doa. Dalam pikiranku, lebih baik aku melayani Tuhan saja daripada aku stres karena kuliahku yang sulit.

Teguran yang mengubahkanku

Hingga suatu ketika, ada seorang pembicara berkhotbah di persekutuan doaku. Beliau mengatakan bahwa ada empat tingkatan prioritas dalam hidup mahasiswa yang sedang merantau untuk kuliah atas biaya orangtua. Prioritas pertama adalah Tuhan, yang kedua adalah keluarga, yang ketiga adalah kuliah, dan yang keempat adalah pelayanan.

Aku tertegun mendengar khotbah ini. Aku mulai sadar di mana letak kesalahanku selama ini. Aku menempatkan pelayanan di posisi pertama seolah-olah inilah aktivitas yang membuat Tuhan berkenan padaku. Padahal, melayani Tuhan adalah aktivitas yang tidak terbatas pada lingkup organisasi saja. Aku bisa melayani dan memuliakan Tuhan di manapun, dan melalui berbagai cara. Bahkan, jika aku menekuni kuliahku dengan bertanggung jawab pun sebenarnya itu sudah merupakan sebuah pelayanan juga wujud komitmenku kepada Tuhan dan orangtuaku.

Kolose 3:23 mengatakan, “Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”Ayat ini menamparku. “Kuliah adalah salah satu bentuk pelayanan kita kepada orangtua kita yang telah membiayai kita, dan itu juga dapat menyenangkan hati Tuhan. Maka tidak ada alasan untuk kita meninggalkan tugas dan tanggung jawab kita hanya karena alasan pelayanan,” tambah pembicara itu.

Dengan malu aku harus mengakui bahwa selama ini aku telah salah dalam memaknai pelayanan. Alih-alih menjadikan pelayananku di dalam tim pengurus sebagai ekspresi kasihku kepada Tuhan, aku malah menjadikan aktivitas ini sebagai pelarian dari kemalasanku mengikuti kuliah. Pelayananku bukanlah benar-benar ditujukan untuk melayani Tuhan, melainkan hanya melayani egoku saja. Aku seorang yang malas, dan aku menjadikan pelayanan sebagai tameng untuk menutupi kemalasanku.

Kesalahan pemahamanku terhadap pelayanan inilah yang membuatku mengkotak-kotakkan mana yang merupakan aktivitas rohani dan mana yang tidak. Aku menganggap kalau banyak beraktivitas di persekutuan adalah sesuatu yang rohani, sedangkan kuliah itu tidak. Padahal, Rasul Paulus dalam 1 Korintus 10:31 dengan jelas mengatakan:

“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”

Paulus tidak mengatakan bahwa untuk memuliakan Tuhan kita perlu melakukan aktivitas yang spektakuler. Tuhan bisa dimuliakan lewat banyak hal, bahkan lewat aktivitas terkecil yang sudah menjadi bagian dari keseharian kita.

Hari itu, aku berdoa memohon ampun kepada Tuhan. Aku menyesali motivasiku yang salah dalam melayani. Aku pun belajar untuk mengatur waktuku dengan bijak. Setiap hari aku selalu meluangkan waktuku selama tiga jam untuk membaca buku dan mengerjakan skripsi, dan tak lupa aku juga selalu berdoa sebelum memulai aktivitasku.

Puji Tuhan, Dia memberkatiku dan pada bulan November lalu aku lulus dan diwisuda sebagai sarjana.

Lewat peristiwa ini, aku sadar bahwa pelayanan seharusnya bukanlah sebuah pelarian dari tanggung jawab utamaku. Kristus dimuliakan ketika aku mengerjakan tanggung jawab yang sudah Dia berikan padaku dengan hati yang bersungguh-sungguh.

Baca Juga:

Kamu Berharga di Mata Tuhan

Pernahkah kamu bertanya-tanya tentang apakah yang membuatmu begitu spesial buat Tuhan? Adakah waktu-waktu di mana kamu bertanya, “Apakah aku benar-benar berharga di mata Tuhan? Mengapa?”

Hari di mana Aku Tidak Lagi Bisa Menolak Yesus

Oleh Jefferson, Singapura

“Apakah kamu ingin mengetahui Kebenaran?” tanya guru pelajaran agama Kristen kepadaku dan seorang teman. Waktu itu sedang jam istirahat siang dan kami sedang berada di ruang guru untuk suatu alasan yang tidak bisa kuingat.

“Tentu, pak,” balasku.

Guruku mengajak kami ke perpustakaan, dan segera setelah kami menemukan tempat duduk, dia bertanya, “Siapa Yesus?”

“Dia adalah Juruselamat,” jawabku tanpa pikir panjang.

“Betul, tapi tidak lengkap,” balasnya.

Aku melirik kepada temanku untuk meminta bantuan, tapi dia sama bingungnya sepertiku. Aku mencoba mengingat-ingat bahan pelajaran agama dari kelas-kelas sebelumnya—tidak ada jawaban lain yang muncul.

Puas dengan kebingungan kami, guru kami menyuruh kami untuk mengambil Alkitab dari rak buku dan membaca Roma 10:9.

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan,” baca kami serentak.

“Jadi, siapa itu Yesus?” tanya guruku sekali lagi.

Jawabannya sudah jelas; namun, rencana Tuhan yang memimpinku kepada momen ini tidak sejelas itu.

Meragukan Kekristenan

Sejak aku masih kecil, aku sudah tertarik pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial. “Siapa diriku? Apakah arti hidup? Apa yang akan terjadi setelah aku meninggal?” Seiring umurku bertambah, aku mulai mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu.

Perhentian pertamaku adalah iman Katolik. Ketika aku dan adikku masih balita, orangtua kami sering mengajarkan kami tentang Yesus yang mati di atas kayu salib untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa sehingga mereka bisa masuk surga setelah meninggal. Mereka juga membawa kami ke ibadah misa mingguan.

Namun, sebagai seorang anak kecil, aku tidak mengerti apa itu keselamatan. Aku pun tidak menikmati ibadah yang kuikuti. Yang aku tahu adalah gereja itu membosankan dan ritualistik. Kalau bisa memilih, aku lebih baik tinggal di rumah dan menonton kartun daripada pergi ke gereja. “Kalau keselamatan berarti mengikuti ibadah yang membosankan setiap Minggu, aku tidak mau diselamatkan,” pikirku. Setelah menghadapi begitu banyak keluhan dan gerutuan dariku dan adikku, orangtuaku, yang ketika itu cukup acuh tak acuh terhadap agama, memutuskan untuk berhenti menghadiri ibadah sama sekali ketika aku berumur delapan tahun.

Perhentianku berikutnya adalah Agnostisme dan Ateisme. Waktu itu aku baru melanjutkan sekolah ke sebuah SMP Kristen Protestan. Kupikir orang-orang Protestan akan berbeda dari orang Katolik. Dugaanku dibantahkan oleh teman-temanku yang mengaku dirinya “Kristen” tapi tidak serupa Kristus sama sekali. Dalam pandanganku saat itu, tampaknya Yesus, yang mengklaim dirinya adalah Tuhan, tidak mampu sama sekali untuk mengubah orang menjadi baik. Kesimpulanku adalah iman Protestan sama tak berdayanya. Aku mulai mengembangkan filosofiku sendiri—hal-hal dan pemikiran-pemikiran yang kuanggap dapat membantuku untuk hidup dengan baik—yang sangat dipengaruhi oleh paham Panteisme dari Timur dan Humanisme Sekuler dari Barat.

Filosofiku hanya bertahan selama tiga tahun. Pada saat aku masuk SMA, kepercayaan-kepercayaanku telah menghadapi banyak tantangan dan kemunduran. Misalnya, dulu aku percaya bahwa dengan kemauanku semata aku bisa memfokuskan diri pada hal-hal filosofis yang kupandang lebih bermakna dari pengejaran akan kesenangan duniawi. Tetapi pikiranku tidak bisa fokus dan aku sering menemukan diriku teralihkan oleh hiburan-hiburan yang kuanggap “duniawi” seperti komik dan film. Kejadian yang terus berulang ini membuktikan bahwa aku tidak bisa melakukan hal baik apapun dengan kekuatanku atau kemauanku sendiri.

Setelah dikecewakan oleh filosofiku sendiri, dan, mengetahui dari pengalamanku bahwa cara manusia selalu berakhir dalam kesia-siaan, aku berpaling kepada iman yang dulu kupandang rendah: Kekristenan.

Mengapa iman Kristen? Tiga tahun mempelajarinya dalam pelajaran agama di SMP membukakan mataku kepada keunikannya dibandingkan dengan kepercayaan-kepercayaan lain. Kekristenan berkata bahwa aku diselamatkan oleh Allah hanya karena Allah mau menyelamatkanku, bukan karena aku orang yang baik atau berhak mendapatkannya atau karena usahaku sendiri. Sambil aku melihat bagaimana kasih-Nya memenuhi dan meresapi setiap sudut ciptaan-Nya, aku mulai menemukan jawaban-jawaban terhadap keberatan-keberatanku terhadap Kekristenan, termasuk tentang teman-teman “Kristen” ku.

Selama beberapa bulan aku bermain mata dengan Kekristenan melalui iman Katolikku yang tidak pernah kupegang dengan sungguh-sungguh. Aku mulai berdoa tapi tidak menganggap Allah sebagai Tuhan. Aku juga mulai membaca Alkitab tapi tidak mempercayai otoritas serta klaim-klaim teologisnya.

Situasi ini berlanjut hingga aku bertemu dengan guruku yang dalam pelajaran pertamaku bersamanya membicarakan akhir zaman sebagaimana tercatat dalam kitab Wahyu. Karena aku baru menonton film dokumentasi tentang topik tersebut beberapa minggu sebelumnya, aku berbincang dengannya di akhir pelajaran untuk memperjelas beberapa kebingunganku. Jawaban-jawabannya yang logis selama diskusi singkat kami membangkitkan rasa ingin tahuku. Aku tidak pernah menyangka bahwa teologi Kekristenan memiliki kerangka yang sangat rasional. Perbincangan ini memimpinku kepada beberapa diskusi lanjutan dengannya tentang hubungan antara iman dan rasio.

Walaupun tarikan untuk percaya kepada Tuhan semakin kuat, aku terus menemukan cara untuk mengelak. Aku tidak mau hidupku diatur oleh Allah yang keberadaan dan otoritas-Nya tidak bisa kuterima. Sampai akhirnya pertanyaan itu tiba.

“Siapa itu Yesus?”

Bergumul dengan Kebenaran

Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan. . .

“Oke, aku bisa mengaku demikian, kemudian hidup seolah-olah Yesus bukan Tuhan. Karena dia bukanlah Tuhanku. Bukankah aku adalah penguasa diriku sendiri?!” pikirku.

. . . dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

Aku merasa dipojokkan. Ayat ini membawaku tepat kepada inti daripada Kekristenan, di mana aku melihat Yesus yang telah bangkit berdiri memandangku dalam kemuliaan-Nya, telapak tangan dan kaki-Nya masih berlubang dari penyaliban, lambung-Nya dari tusukan tombak, tangan-Nya terentang kepadaku, memanggilku kembali kepada-Nya.

Mekanisme pertahananku langsung aktif, pikiranku mencoba membuktikan bahwa ini tidak mungkin benar. Menariknya, setiap argumen yang keluar malah mendukung lebih jauh klaim bahwa Yesus adalah Tuhan. Salah satu bantahan terkuatku terhadap Kekristenan sudah kusebut, yaitu “ketidakmampuan” Yesus untuk mengubah teman-temanku untuk hidup dengan benar. Namun, setelah merenungkan ayat ini dan pengalamanku sendiri, aku menyadari bahwa hidup dengan benar memerlukan iman kepada Tuhan yang benar: ketika seseorang percaya bahwa Yesus benar-benar adalah Tuhan yang Allah telah bangkitkan dari kematian di atas kayu salib, kasih Allah akan memenuhi dan memampukan orang itu untuk hidup memuliakan dan menikmati-Nya.

Aku mulai melihat bahwa setiap detik keberadaanku di dunia dan setiap hal yang dapat kutemukan di dunia ini menunjuk kepada keberadaan Allah dan kedaulatan-Nya sebagai Tuhan. Fakta bahwa Ia, Yesus, telah mati dan bangkit kembali memberiku pengharapan bahwa sekalipun aku telah pergi begitu jauh dari Tuhan, aku masih bisa diselamatkan dan kembali kepada-Nya. Tidak ada jalan lain. Aku harus percaya.

Memandang guruku, aku menemukan diriku sendiri berkata, “Tuhan.”

Hidup dalam kedaulatan Tuhan Yesus

Lima belas tahun pertama kehidupanku diwarnai dengan banyak kekecewaan dan penyesalan. Segala usahaku untuk “hidup dengan baik dan benar” gagal total. Hanya setelah pertobatanku aku bisa merasakan sukacita dan damai yang sejati dari penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan yang memberitahukan jalan kehidupan kepadaku (Mazmur 16:11).

Karena Yesus adalah Tuhan atas segala ciptaan, tidak ada orang yang bisa berkata, mengklaim, atau bahkan membuktikan kalau mereka berkuasa atas hidup mereka sendiri. Kita hanya bisa memilih antara menghidupi seluruh keberadaan kita dalam pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan atau melewati setiap momen kehidupan dalam penyangkalan akan kedaulatan-Nya. Seorang misionaris bernama Hudson Taylor merangkum kebenaran ini dengan sangat baik, “Antara Kristus adalah Tuhan atas segalanya atau dia bukanlah Tuhan sama sekali.” Dan jika kita memang mengakui Kebenaran ini, segala hal yang kita lakukan, setiap detik keberadaan kita harus menunjuk kepada-Nya dan kemuliaan-Nya, bahkan dalam hal-hal paling sepele seperti membersihkan kamar kita (1 Korintus 10:31).

Sekarang sudah enam tahun sejak aku mengakui Yesus sebagai Tuhanku. Hidupku berubah total sejak saat itu dan aku bisa berkata kalau pengakuan dan pengenalan akan Kristus itu jauh lebih baik dan berharga dibandingkan dengan ketika aku hidup sebagai penguasa atas diriku sendiri.

Soli Deo gloria.

Baca Juga:

Bagaimana Seharusnya Kita Merespons Sakit Penyakit?

Sebagai seorang pekerja medis yang menangani pasien dengan beragam keluhan, aku mendapati bahwa respons seseorang terhadap penyakitnya itu bisa saja membuat situasi menjadi lebih buruk atau membaik.

Roh Kudus dan Indikator Tangki Bensin

Oleh Raganata Bramantyo, Jakarta

Saat berkunjung ke Yogyakarta minggu lalu, ada peristiwa tidak terduga yang kualami.

Sebelum malam harinya kembali ke Jakarta, aku menyempatkan diri untuk berbelanja di pasar terlebih dulu. Hari itu, aku tidak sendirian, seorang sahabatku bersedia mengantar dan menemaniku. Setelah proses berbelanja usai, kami pun kembali ke rumah menaiki sepeda motor.

Sedari di parkiran, indikator tangki bensin motor sudah berkedip-kedip, pertanda tangki harus segera diisi. Aku pun menepuk pundak sahabatku dan mengingatkannya supaya nanti mampir sejenak di SPBU. Tapi, dia menolak. “Masih cukup ini, selow aja,” katanya meyakinkanku bahwa kapasitas bensin dalam tangkinya masih cukup untuk mengantar kami tiba di rumah. Ya sudah, aku pun tidak memaksanya untuk mampir ke SPBU, karena mungkin saja sahabatku itu lebih paham kemampuan motornya. Kami pun mengobrol asyik sepanjang jalan.

Tapi, baru setengah perjalanan pulang, motor yang kami tumpangi mendadak tak bertenaga, lalu segera mati mesinnya.

Loh, waduh, abis ini bensinnya,” kata sahabatku.

Lah, gimana? Tadi kusuruh mampir pom bensin katanya nggak usah,” timpalku.

Akhirnya, di siang hari yang terik, kami pun harus turun dari motor dan berjalan kaki mencari penjual bensin eceran seraya menenteng belanjaan. Melelahkan sekali rasanya. Lalu, timbul pula rasa menyesal, mengapa tadi kami tidak mampir saja ke pom bensin, toh kan tidak akan makan waktu lama juga. Tapi, penyesalan di akhir memang sudah terlambat. Kami tetap harus berjalan hingga menemukan penjual bensin eceran.

Peristiwa yang terjadi siang itu jelas bukanlah peristiwa yang kami harapkan. Tapi, ada satu pelajaran yang dapat kami petik.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, sebenarnya ada indikator-indikator yang Tuhan berikan untuk mengingatkan kita; kapan kita harus berhenti, kapan kita harus memulai, kapan kita harus berdoa, kapan kita harus melepaskan pengampunan, dan lain-lainnya. Namun, seringkali, kita malah mengabaikan indikator-indikator tersebut dengan asumsi bahwa tanda yang diberikan itu bukan sesuatu yang mendesak, persis seperti apa yang aku dan sahabatku lakukan tatkala menyikapi indikator tangki bensin yang berkedip-kedip.

Dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen, indikator yang selalu berkedip-kedip mengingatkan kita itu adalah Roh Kudus. Roh Kudus memiliki peranan untuk menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, penghakiman, juga memimpin hidup kita kepada kebenaran (Yohanes 16:7-11). Dengan pertolongan Roh Kuduslah kita dimampukan untuk menjalani kehidupan yang berkenan kepada Allah.

Namun, pada praktiknya, dalam kehidupan kita, kita seringkali mengabaikan suara Roh Kudus itu. Sewaktu duduk di bangku SMA dulu, aku sempat terjebak ke dalam dosa pornografi. Pertama kali aku membuka situs-situs dewasa tersebut, ada perasaan takut yang bergejolak. Roh Kudus dengan jelas mengatakan dalam hatiku bahwa apa yang kulakukan itu adalah dosa dan berpotensi merusak diriku. Tapi, roh kedagingan yang berbentuk penasaran yang juga bicara sama kuatnya. Aku pun mengabaikan suara Roh Kudus dan terus melanjutkan penjelajahanku di dunia pornografi tersebut.

Roh Kudus telah memberitahuku supaya aku berhenti dan berbalik dari perbuatan berdosa itu. Tapi, aku memilih untuk mengabaikan suara-Nya hingga pada akhirnya, sampai aku berada di titik hampir kecanduan, aku merasa begitu menyesal karena telah terjebak di dalam dosa ini. Jika saja sedari dulu aku mengikuti suara Roh Kudus, tentu aku tidak akan terjebak terlalu dalam. Singkat cerita, aku bersyukur karena melalui perjalanan panjang dan perjuangan berat, aku pun bisa dilepaskan dari perbuatan tercela itu.

Jika aku merenung dan menelaah kehidupan ini lebih dalam lagi, sebenarnya Roh Kudus bicara dalam berbagai cara dan dalam banyak peristiwa. Ketika kita berbuat dosa dan muncul rasa takut, itu adalah indikator supaya kita berhenti dan memohon pertobatan kepada Allah. Ketika hati terasa begitu jengkel dan dipenuhi amarah dan kita menjadi stres, itu adalah indikator untuk kita berdoa sejenak, melepaskan pengampunan, dan bersandar pada Allah yang Mahakuat. Mengabaikan indikator yang diberikan Roh Kudus ini bisa jadi malah membawa kita kepada kerusakan yang lebih buruk, yang jikalaupun kita menyesal, butuh upaya ekstra untuk kembali pulih.

Kita memiliki dua pilihan yang bisa kita ambil tatkala Roh Kudus berbicara pada kita: menaati-Nya, atau malah mengabaikan-Nya. Ketika kita memilih untuk taat pada suara-Nya, saat itulah Roh Kudus akan mengajarkan segala sesuatu kepada kita dan mengingatkan kita akan segala hal yang telah Yesus ajarkan kepada kita (Yohanes 14:26).

Baca Juga:

Belajar dari Albert McMakin, Tokoh di Balik Transformasi Billy Graham

Billy Graham memang dipakai Tuhan dengan luar biasa dan kita pun mengenalnya sebagai pribadi yang hebat. Namun, tidak banyak dari kita tahu bahwa di balik nama Billy Graham itu ada seseorang yang amat berjasa bagi hidup Billy. Siapakah orang itu?

Ketika Hal-hal Kecil Menjerat Kita dalam Dosa

Ketika-Hal-hal-Kecil-Menjerat-Kita-dalam-Dosa

Oleh Fuye Ongko, Jakarta

Beberapa tahun yang lalu, aku pernah mengikuti pelatihan di mana salah satu kegiatannya adalah memanjat tebing di daerah gunung Bromo. Saat itu, tiap peserta diharuskan mendaki tebing curam tanpa menggunakan peralatan apapun. Panitia hanya menyediakan beberapa penunjuk arah pada bagian-bagian tertentu dari rute yang harus kami lalui.

Untuk mencapai puncak tebing itu, kami berjuang dengan susah payah dan penuh kewaspadaan sampai-sampai sandal gunung yang kukenakan pun rusak. Usaha keras itu membuahkan hasil. Aku berhasil menyelesaikan pendakian tanpa mengalami cedera.

Ketika menghadapi medan pendakian yang berat, aku mengerahkan segenap tenaga dan kewaspadaan supaya tidak terjadi cedera. Tapi, setelah aku kembali ke kota untuk melakukan aktivitas sehari-hari, aku malah terjatuh. Waktu itu aku sedang berjalan melewati tangga yang biasa kulalui di gereja. Anak tangga itu sama sekali tidak tampak berbahaya karena sudah ratusan kali aku naik turun melewatinya. Tapi, di tangga itulah aku terjatuh hingga kaki kananku mengalami keseleo yang cukup parah. Rasanya sakit sekali, sampai-sampai aku harus dibantu untuk berjalan pulang ke rumah.

Kejadian jatuh dari tangga itu membuatku berpikir. Aku bisa melalui jalur pendakian yang berat tanpa cedera sedikit pun, namun malah terjatuh dari tangga yang ada di gereja, sesuatu yang tampaknya tidak berbahaya. Kejadian jatuh dari tangga ini mengingatkanku bahwa seringkali ketika sesuatu tampak baik-baik saja, di situlah aku menjadi lengah. Jika dibandingkan dengan tebing curam yang kudaki, tentu anak tangga di gerejaku bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Tapi, siapa menyangka bahwa di tempat yang seolah begitu aman untuk kulalui, aku malah terjatuh di sana.

Seperti pengalamanku ketika berusaha mendaki puncak tebing, seringkali ketika kita dihadapkan dengan masa-masa yang sulit, kita akan berjuang dengan susah payah dan penuh kewaspadaan. Kita berdoa dan membaca Alkitab supaya jangan sampai kita mengalami celaka atau jatuh di dalam dosa. Bahkan, mungkin juga kita melatih diri untuk berpuasa dengan harapan kita bisa mengetahui apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam masa-masa sulit itu.

Namun, sebaliknya ketika situasi sedang biasa-biasa saja, seringkali aku dan mungkin juga kita sekalian sama sekali tidak berusaha untuk waspada hingga mudah untuk terjatuh ke dalam dosa. Kita mulai malas berdoa, bersaat teduh, atau membaca Alkitab hanya sekadarnya saja tanpa berusaha merenungkan apa maksud dan bagaimana aplikasinya dalam kehidupan kita.

Alkitab menuliskan kisah tentang Daud, raja Israel yang jatuh ke dalam dosa bukan di masa-masa yang sulit, tapi di masa-masa yang nyaman. Mungkin saja waktu itu pun Daud tidak menduga kalau hal ini akan membawa dia jatuh ke dalam dosa. Ketika Daud tengah berperang melawan Filistin, dia begitu mengandalkan Tuhan. Kepada musuhnya, Daud berkata, “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu” (1 Samuel 17:45). Dengan pertolongan Tuhan, Daud dan pasukan Israel berhasil mengalahkan orang-orang Filistin. Setelahnya, dalam pelariannya dari usaha pembunuhan oleh Saul dan peperangan-peperangan yang berlangsung setelahnya, Daud tetap mengandalkan Tuhan. “Tuhan memberi kemenangan ke mana pun ia pergi berperang” (2 Samuel 8:14).

Daud berjaya dalam banyak pertempuran, namun ketika suasana kehidupan Daud berubah menjadi lebih nyaman, di sanalah dia terjatuh dalam dosa. Ketika Daud sedang berjalan-jalan di atas sotoh istananya, dia melihat seorang perempuan jelita bernama Batsyeba yang tengah mandi. Daud tergoda dan tidur dengan perempuan itu (2 Samuel 11:1-5). Tak berhenti sampai di situ, Daud bahkan memerintahkan Uria yang adalah suami dari Batsyeba untuk pergi berperang di garis depan hingga ia mati terbunuh. Alkitab mencatat perbuatan Daud ini sebagai sesuatu yang jahat di mata Tuhan (2 Samuel 11:27).

Bukan pertempuran besar yang membuat Daud terjatuh ke dalam dosa, tetapi dalam kenyamanan dan rutinitas sehari-harilah Daud terjerat dosa dan melanggar perintah Tuhan.

Bukankah kondisi ini juga sering kita alami?

Tidak mengherankan kalau dalam suratnya, Rasul Petrus mengingatkan kita untuk selalu berjaga-jaga. “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Petrus 5:8).

Kita perlu mengingat bahwa Iblis tidak pernah libur untuk mencari celah di mana kita lengah dan bisa ditarik ke dalam dosa. Iblis bisa menggunakan cobaan yang berat, namun dia juga bisa menggunakan hal-hal kecil yang menurut kita tidak mengganggu tapi perlahan dapat membuat kita menjauh dari Tuhan.

Oleh karena itu, kita perlu terus membangun kedekatan dengan Tuhan dalam situasi apapun, entah itu saat-saat sulit, senang, ataupun situasi yang menurut kita biasa-biasa saja. Bangun kedekatan kita dengan Allah dengan senantiasa berdoa, mengucap syukur, membaca, dan merenungkan firman-Nya setiap hari.

Baca Juga:

Janelle: Melawan Rasa Sakit dengan Goresan Pena

Sulit untuk membayangkan bahwa di balik senyum hangat yang selalu terhias di wajah Janelle, terdapat penyakit yang sedang menggerogoti tubuhnya. Namun, penyakit itu bukan menjadi alasan untuk Janelle tidak berkarya bagi Tuhan.

5 Alasan Kamu Perlu Bertobat Lagi dan Lagi

5-Alasan-Kamu-Perlu-Bertobat-Lagi-dan-Lagi

Oleh Raphael Z.
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 5 Reasons You Should Repent – Again and Again

Apakah pertobatan itu? Apakah orang-orang Kristen perlu bertobat? Kapan terakhir kali kamu bertobat?

Sebagai orang percaya, kita tahu bahwa Yesus memanggil orang-orang yang belum percaya kepada-Nya dan orang-orang Kristen untuk bertobat ketika mereka jatuh ke dalam dosa (Matius 4:17; Wahyu 2:5,16,21; 3:3,19).

Namun, pertobatan terlihat seperti sebuah hal tidak menyenangkan dan kita harus memaksa diri kita untuk melakukannya. Itu seperti minum obat yang pahit ketika kita sakit. Kita tidak menginginkannya, tapi kita dipaksa untuk menelan obat yang pahit itu, karena kita tahu obat itu baik bagi kita.

Dulu aku memandang pertobatan seperti itu, hingga suatu kali aku menyadari apa makna pertobatan yang sesungguhnya. Singkatnya, ada 3 hal yang terjadi dalam pertobatan: Mengakui dosa kita, menolak dosa kita, dan berbalik kepada Allah.

Semakin aku mengerti makna pertobatan yang sesungguhnya, semakin aku menyadari bahwa sesungguhnya pertobatan adalah sebuah hadiah yang indah dari Allah untuk kita. Mengapa? Inilah beberapa alasannya.

1. Pertobatan memungkinkan Tuhan memulihkan, mengampuni, dan menyucikan kita

Dulu aku merasa tidak layak untuk mendapatkan pengampunan Allah ketika aku jatuh dalam dosa. Aku pikir, “Aku sudah menjadi orang Kristen dan sekarang aku masih mengecewakan Allah seperti ini. Bagaimana mungkin aku bisa berharap Dia mengampuniku?”

Syukurlah, Allah meyakinkanku dengan mengingatkanku kebenaran ini: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:9).

Sejak saat itu, aku memutuskan untuk mengakui dosa-dosaku kepada Tuhan, tidak peduli betapa aku merasa diriku “tidak layak” atau “tidak bersih”, karena aku tahu Dia akan mengampuniku dan menyucikanku, sehingga aku menjadi benar kembali di hadapan-Nya.

Sama seperti Allah datang kepada kita sebelum kita mengenal-Nya, Dia juga masih datang kepada kita dan memanggil kita untuk kembali kepada-Nya sekarang jika kita telah jatuh ke dalam dosa. “Kembalilah kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN semesta alam, maka Akupun akan kembali kepadamu” (Zakharia 1:3; Maleakhir 3:7). Allah berjanji akan memulihkan kita ketika kita mengakui dosa-dosa kita (Yeremia 15:9).

2. Pertobatan membantu kita untuk menjadi rendah hati

Aku menyadari bahwa ketika aku mengalami kesulitan untuk bertobat, seringkali itu karena ada masalah kesombongan dalam diriku. Kesombongan adalah kebutaan rohani yang menyebabkan kita berpikir bahwa standar kita lebih baik dari standar Allah.

Lawan dari kesombongan adalah kerendahan hati. Ada sebuah definisi kerendahan hati yang sangat aku sukai, “Rendah hati berarti setuju dengan kebenaran.” Mungkin itulah mengapa Paulus mengatakan bahwa pertobatan membuat kita mengenal kebenaran sehingga kita dapat menjadi sadar (2 Timotius 2:25-26). Ketika aku bertobat dan belajar untuk setuju dengan kebenaran standar Allah tentang kebenaran dan dosa, aku bertumbuh dalam kerendahan hati.

Allah menghargai kerendahan hati: Dia mengasihani orang yang rendah hati, dan menentang orang yang congkak (Amsal 3:34; Yakobus 4:6). Jadi lekaslah bertobat agar kita dapat bertumbuh dalam kerendahan hati dan menerima serta menikmati belas kasihan Allah.

3. Pertobatan menjauhkan Iblis dari kita

Pada masa-masa ketika aku dengan sengaja tidak menaati Allah, aku merasa jauh lebih sulit untuk percaya akan kebenaran-Nya. Sebaliknya, rasa bersalah, rasa ragu, dan rasa takutlah yang bersuara nyaring dalam hatiku. Pemikiran seperti, “Allah tidak mengasihimu lagi,” “Habislah kamu. Allah takkan memberikanmu kesempatan lagi,” dan “Allah sudah tidak peduli lagi denganmu sekarang” terus-menerus memojokkanku dan membuatku menjadi tidak damai sejahtera.

Namun ketika aku bertobat dan berbalik kepada Allah, bisikan-bisikan Iblis yang menyesatkan ini mulai menghilang dan aku mulai bisa merasakan dan menerima kebenaran Allah lagi.

Alkitab mengatakan kepada kita, “Tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (Yakobus 4:7). Dalam ayat ini, tunduk kepada Allah berarti membersihkan tangan kita dan menyucikan hati kita dari dosa dan hati yang mendua (Yakobus 4:8).

Ketika kita berdosa, sesungguhnya kita sedang memberikan izin kepada Iblis untuk mendekat kepada kita, sebab “barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya” (1 Yohanes 3:8). Iblis itu dekat dengan mereka yang melakukan apa yang Iblis lakukan (Yohanes 8:44). Dan ketika Iblis dekat dengan kita, dia “datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan” (Yohanes 10:10).

Ketika kita tunduk kepada Allah dengan bertobat, kita sedang menyatakan bahwa kita adalah milik Allah dan kita dapat melawan Iblis dan pengaruhnya di dalam hidup kita.

4. Pertobatan membebaskan kita dari kuasa dosa

Aku benar-benar merasakan ini dalam hidupku. Ketika aku bersikeras melakukan cara-caraku yang berdosa, yang paling rugi adalah diriku sendiri. Meskipun dosa itu terasa manis, pada akhirnya itu amatlah merusak.

Dan ketika aku tidak mau mengakui dosa-dosaku kepada Allah karena kesombongan dan rasa maluku, aku akhirnya tetap berkubang dalam dosa-dosaku karena Iblis telah berkuasa di dalam hidupku. Hanya ketika aku mengakui dosa-dosa ini kepada Allah dan orang-orang yang aku percaya, dosa-dosa ini akan kehilangan kuasa untuk menipuku dan menyakitiku lebih lagi.

Aku bersyukur karena Allah memberikan kita jalan pengakuan dan pertobatan sebagai cara untuk mendapatkan belas kasih-Nya. Karena Yesus adalah Imam Besar Agung kita yang senantiasa menjadi pengantara kita dengan Allah (Ibrani 4:14, 7:25), kita dapat “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibrani 4:16).

Alkitab memberi kita janji ini: “Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan” (Kisah Para Rasul 3:19). Jika kita tidak bertobat, kita takkan mampu menerima pertolongan dan kebebasan dari kuasa dosa.

5. Pertobatan membawa kita kepada kepenuhan hidup bersama Yesus

Dosa akan membawa kita kepada kematian rohani. Firman Tuhan memberitahu kita bahwa “upah dosa ialah maut” (Roma 6:23) dan Yesus berkata, “jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa” (Lukas 13:3). Sebaliknya, pertobatan membawa kita kepada hidup (Kisah Para Rasul 11:18) dan keselamatan (2 Korintus 7:10).

Sesungguhnya, ketika kita bertobat, kita mengundang Yesus untuk bersekutu dengan kita. Setelah mengingatkan orang-orang Kristen untuk “merelakan hati kita dan bertobat”, Yesus berkata, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Wahyu 3:19-20).

Sukacita yang tidak terukur dari memiliki hubungan yang erat dengan Allah adalah apa yang telah Yesus berikan kepada kita melalui kematian dan kebangkitan-Nya, sehingga kita “mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10). Itu akan mengalahkan segala tipuan dan “sukacita palsu” yang ditawarkan oleh dosa apapun!

Kekekalan tidaklah dimulai ketika kita sudah ada di surga. Kekekalan itu telah dimulai sekarang dengan mengalami kepenuhan hidup bersama Allah, dan pertobatan memampukan kita untuk mendapatkannya.

Akankah kamu bertobat dan kembali mendekat kepada Allah sekarang?

Baca Juga:

Ketika Doaku Hanyalah Berisi Kata-Kata yang Indah

Telapak tanganku berkeringat. Jantungku berdegup kencang. Pikiranku kacau. Bukan, aku bukan sedang gugup karena akan menghadapi ujian atau menyampaikan presentasi. Aku gugup karena harus berdoa bersama. Meskipun aku tumbuh di lingkungan keluarga Kristen, aku belum pernah benar-benar berdoa bersama dalam sebuah kelompok sebelumnya.

Dipulihkan Karena Doa

Dipulihkan-karena-doa

Oleh Katarina Tathya Ratri, Jakarta

Hari itu adalah hari terakhir di tahun 2011 ketika aku berjalan menyusuri jalanan di kota kecil tempat kelahiranku. Berbeda dari malam tahun baru sebelumnya yang aku lewati dengan berhura-hura, hari itu aku berjalan sendirian tanpa tujuan yang jelas. Aku tak peduli dengan orang-orang yang memadati jalanan untuk melihat kembang api, aku hanya ingin sesuatu yang berbeda untuk melewatkan tahun baru.

Langkah kakiku terhenti di depan sebuah jalan kecil yang menuju sebuah gereja. Hati kecilku bicara supaya aku melangkah ke dalam gereja itu. Tapi, aku merasa enggan karena itu bukan gereja yang pernah kusinggahi sebelumnya. Lagipula sejak duduk di bangku SMP, aku jarang pergi beribadah ke gereja. Namun, suara hatiku semakin keras dan aku memutuskan masuk ke dalam gereja itu.

Ketika aku tiba di dalam gereja, satu hal yang kuingat adalah berdoa. Sudah lama aku tidak berdoa, dan malam itu aku mau kembali berdoa. Kupejamkan mata dan mengarahkan hati kepada hadirat-Nya. Aku merasakan damai yang melingkupi hatiku dan tak mampu kujelaskan dengan kata-kata. Malam itu aku berdoa dengan khusyuk karena aku begitu rindu untuk bertemu Sang Pencipta.

Aku percaya bahwa rasa damai yang melingkupiku waktu itu mengingatkanku kalau Tuhan ingin aku kembali pada-Nya. Dalam keheningan itu aku menyadari kalau selama ini aku menganggap doa hanya sebagai kewajiban saja sehingga aku tidak memiliki kerinduan untuk melakukannya.

Doa yang kunaikkan malam itu mengubahkan hidupku. Selama ini aku mencari pelarian dari situasi rumah yang membuatku muak. Aku pergi bersama teman-teman untuk merokok, menonton video porno, hingga pulang larut malam. Hari itu Tuhan menegurku untuk kembali pada-Nya. Lewat doa, aku mengucap janji untuk berbalik pada-Nya dan meninggalkan cara hidupku yang lama.

Aku berusaha menjaga komitmenku untuk setia pada Tuhan walaupun godaan untuk kembali ke kehidupan yang lama terus datang. Setiap hari aku terus berdoa pada-Nya memohon kekuatan, dan seiring berjalannya waktu aku menjadi semakin senang berdoa. Doa adalah nafas hidupku sehingga aku akan merasa sesak jika aku melewatkannya.

Setiap kali aku berdoa, aku tidak hanya melaporkan pada-Nya masalah-masalah yang kualami, tapi lebih dari sekadar melapor, aku mendiskusikan masalahku dengan Tuhan, mengucap syukur atas pemeliharaan-Nya, dan berdoa juga untuk orang-orang lain. Aku percaya kalau Tuhan maha mengetahui, tapi aku merasa perlu untuk mengungkapkan isi hatiku kepada-Nya supaya hati dan cara pikirku berubah sesuai dengan kehendak Tuhan.

Komitmenku untuk meninggalkan cara hidup yang lama seringkali membuatku khawatir. Aku takut jika harus kehilangan teman-teman sepermainan, tapi firman Tuhan dalam Filipi 4:6-7 mengingatkanku, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Aku mengalami sendiri bagaimana damai sejahtera Tuhan turun atas diriku. Ketika aku harus menghadapi ujian sidang skripsi, aku sangat takut karena ada mahasiswa sebelumku yang dinyatakan gagal. Aku khawatir kalau-kalau aku akan dinyatakan gagal juga. Alih-alih rasa khawatir semakin menguasai diriku, aku berdoa dan mengucap syukur atas proses yang bisa kulalui. Damai sejahtera Tuhan memenuhiku, dan aku yakin kalau Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk studiku.

Sejatinya, bukan Tuhanlah yang membutuhkan doa kita, tetapi kita yang butuh berdoa kepada Tuhan. Apapun kekhawatiranmu, ungkapkanlah kepada-Nya, sebab ada tertulis, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7).

Baca Juga:

Ketika Membaca Alkitab Terasa Membosankan

“Sebenarnya membaca Alkitab itu hanya persoalan waktu. Kalau aku bisa membaca tiga atau empat pasal dalam sehari, aku dapat membaca seluruh Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu dalam waktu setahun. Sederhana, bukan? Tapi tidak sesederhana itu. Sudah 14 bulan melakukannya, dan aku bahkan belum menyelesaikan setengahnya. Apa yang salah?”