Posts

Bagaimana Merespons Teman yang Mengakui Dosanya pada Kita

Oleh Joanna Hor
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How To Respond When A Friend Confess Their Sin

Jam 1 dini hari. Seorang temanku mengirim chat panjang, meminta didoakan karena dia sedang bergumul dengan ketertarikan fisik dengan rekan kerjanya, padahal dia sendiri sudah terikat dalam relasi yang serius.

Beberapa minggu sebelumnya, seorang temanku yang lain bercerita dengan sedih tentang rasa bersalahnya pada Tuhan setelah dia melampaui batasan fisik yang wajar dalam relasi dengan pacarnya. Sebelum itu, temanku yang lainnya lagi juga bercerita tentang kurangnya sikap disiplin dan semangat untuk hadir ke gereja dan kelas Alkitab.

Mungkin kamu pun pernah menerima pesan berisikan pengakuan dan curhatan seperti di atas. Kita semua bergumul dengan pencobaan dan dosa setiap hari (Roma 3:23), dan kita tahu hal apa yang benar untuk dilakukan—mengakui dosa kita (1 Yoh 1:9), mematikan hal-hal duniawi, dan berpaling pada Allah (Yakobus 4:8). Tapi, mengucapkan itu semua lebih mudah daripada melakukannya. Seringkali, kita bergulat dengan dosa-dosa kita untuk waktu yang lama, menganggapnya enteng atau tidak mempermasalahkannya sama sekali. Mengakui dosa kita kepada orang lain mungkin jadi hal terakhir yang ada di pikiran.

Jadi, ketika kita seorang teman membagikan kisah dosanya pada kita, bisa jadi kita merasa gamang untuk merespons. Kita mungkin tidak merasa kompeten untuk menolongnya, apalagi kalau kita sendiri juga bergumul dengan dosa yang sama (Mat 7:3-5). Atau mungkin, kita memilih untuk pura-pura menutup mata karena kita tidak ingin terlihat benar sendiri, sombong, atau terlalu terlibat dalam kekacauan hidup orang lain.

Ibrani 3:12-13 dengan jelas mengatakan kita punya tanggung jawab sebagai komunitas untuk ‘menasihati seorang akan yang lain, selama masih dapat dikatakan ‘hari ini’, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa’. Yakobus 5:19-20 juga mendorong kita semua untuk berperan aktif untuk ‘membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat’ karena tindakan itu ‘akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa’.

Lalu, bagaimana seharusnya kita menghidupi instruksi dari ayat ini, ketika kita sendiri pun adalah orang berdosa?

1. Jangan merasa benar sendiri dan menghakimi

Mungkin naluri alami kita merespons teman yang terjatuh ke dalam dosa—terkhusus jika itu adalah dosa perzinahan, pembunuhan, atau pencurian—adalah mundur dan menghakimi mereka dalam diri kita sendiri. Alih-alih meratapi dosa dan menjangkau mereka, kita menarik diri, masuk ke dalam kelompok kecil yang beranggotakan teman-teman kita, lalu membicarakan si pendosa yang dari luar tampak baik tapi ternyata melakukan hal-hal buruk.

Aku sendiri pernah bersikap seperti itu pada beberapa kesempatan.

Salah satu cara yang baik untuk mengetahui apakah kita telah bersikap menghakimi atau sok benar sendiri adalah melihat bagaimana respons pertama kita ketika kita mendengar orang tersebut jatuh ke dalam dosa. Apakah kita segera memandang rendah dia, lalu buru-buru mengabari teman yang lain untuk menceritakan masalah ini? Atau, apakah kita berpaling pada Allah, berdoa memohon belas kasih dan anugerah-Nya—bukan cuma bagi orang itu, tapi bagi umat manusia, termasuk diri kita sendiri?

Sebelum kita jadi orang pertama yang melempar batu, ingatlah bahwa kita semua berdosa (Yoh 8:7). Upayakanlah untuk memberi sesuatu daripada menghakimi dan menghukum mereka (Lukas 6:37-38).

Satu cara yang baik untuk memulai adalah dengan mengajukan pertanyaan pada teman kita yang bisa menolong kita untuk mengerti bagaimana kisah mereka, dan alasan mengapa mereka melakukan itu. Pertanyaannya bisa berupa: ‘Bagaimana perasaanmu selama ini?’, ‘Bagaimana perjuanganmu untuk mengatasinya?’, ‘Apa yang membuatmu berpikir untuk melakukan itu?’

2. Marah dan sedihlah terhadap dosa

Kecenderungan lain yang muncul adalah aku mudah bersimpati kepada teman ketika mereka bercerita tentang pergumulan dosa—terkhusus apabila pergumulan itu mirip-mirip denganku (kesombongan dan ketamakan). Di saat seperti itu, aku mungkin meremehkan dampak buruk dosa dengan berpikir, “Ya, setidaknya semua orang bergumul dengan itu, dan dosa itu tidak lebih buruk daripada dosa yang [dosa-dosa lain].”

Ketika hal itu terjadi, aku tanpa sadar menilai dosa berdasarkan standar kesalahanku sendiri tentang benar dan salah daripada melihat dosa itu dari kacamata Tuhan.

Namun, dosa adalah dosa—tidak ada tingkatan di dalamnya—dan setiap dosa membangkitkan murka Allah. Jika kita mendapati diri kita pernah mengesampingkan dan meremehkan dosa, berdoalah pada Roh Kudus untuk menegur hati kita kembali dengan mengingat harga mahal yang Yesus bayarkan di atas kayu salib (Yesaya 53:5-6). Mari kita kembali pada Alkitab dan baca kembali ayat-ayat yang menyingkapkan tentang sifat-sifat dosa (Roma 6:23, Galatia 5:19-21, 1 Kor 6:9-10).

Hanya ketika kita menyadari apa itu dosa: ketidaktaatan kepada Allah (Roma 5:19), barulah kita mampu meratap dengan benar atasnya, dan menolong teman kita dengan cara yang benar pula agar mereka mampu bangkit dari keterpurukan dosanya.

3. Saling mendukung satu sama lain untuk bertobat

Ketika aku lebih muda, aku membayangkan Allah itu kaku, pemimpin totaliter yang segera menghukumku setiap kali aku tersandung. Pemahaman itu membuatku mengakui dosa setiap malam sebelum tidur (takut kalau-kalau aku mati saat tidur dan lupa mengakui dosa membuatku tidak bisa masuk surga). Syukurlah, pemahaman itu pudar seiring aku mengenal Dia semakin dalam dan mengerti tentang kecukupan anugerah Kristus dan kasih Allah.

Melihat ke belakang, aku pun menyadari bahwa ‘doa pengakuan dosaku’ dulu tidak berisi langkah nyata untuk berbalik dari dosa. Ketika kita mengakui dosa, mengakui apa yang kita lakukan adalah salah, kita didorong untuk bertobat (1 Yoh 1:9, Yak 5:19). Pertobatan inilah yang akan menghasilkan perubahan pada hati dan tindakan kita (Kis 26:20).

Mazmur 32:1-2 mengatakan orang yang dosanya diampuni sebagai orang yang ‘berbahagia’. Tim Chester, seorang pendeta dan penulis dari Inggris menyelidiki kata ‘berbahagia’ itu disematkan kepada orang yang telah bertobat, bukan untuk orang yang terbebas dari dosa, karena orang seperti itu tidaklah eksis. Dan, ini menjadi penting, karena seperti tertulis dalam bukunya yang berjudul Enjoying God, itu berarti “kamu tidak perlu menanti sampai kamu mencapai level kesalehan yang lebih tinggi supaya bisa menikmati berkat Ilahi”.

Marilah saling mendorong satu sama lain untuk tidak cuma mengakui dosa, tapi juga berpaling dari dosa itu. Inilah gerbang menuju berkat Ilahi. Seorang profesor teologi Amerika, Stephen Wellum menyimpulkan dengan indah pada sebuah artikel, “Ketika kita berdosa, kita kehilangan kesadaran akan pengampunan dan damai sejahtera Allah. Jadi, ketika kita mengakui dosa kita, dengan pertolongan Roh, kita disadarkan kembali pada apa yang Kristus telah lakukan bagi kita, dan Allah membangkitkan kepercayaan kita pada jaminan keselamatan-Nya.”

4. Berdoa untuk dan dengan teman kita

Alkitab mendesak kita untuk saling mengaku dosa (Yak 5:16). Kita sering berpikir ayat ini berbicara dalam konteks penyembuhan fisik, tapi ini juga berbicara tentang kesembuhan rohani dari dosa.

Ketika teman kita membagikan kisah dosanya, kita perlu berdoa seperti Yesus berdoa bagi para murid—agar Allah melindungi kita dari yang jahat (Yoh 17:15). Kita harus berdoa seperti ini baik saat teman kita hadir, atau pun dalam saat teduh pribadi kita. Kita bahkan bisa mengetik teks doa di chat lalu mengirimkannya pada mereka. Aku ingat betapa aku ditolong ketika aku tahu kalau keluarga dan teman-temanku mendoakanku setiap kali aku jatuh dalam dosa yang aku telah berkomitmen untuk lepas darinya.

Peperangan melawan dosa adalah pertempuran spiritual, jadi datanglah selalu pada Tuhan untuk mengakui perjuangan yang kita hadapi dan mohonlah kekuatan dari-Nya.

5. Arahkan satu sama lain kepada Kristus

Mungkin satu hal terpenting yang harus dilakukan ketika kita berdosa adalah membawa kembali diri kita kepada hati Kristus. Dane Ortlund, pendeta dan penulis Amerika mengingatkan kita dalam bukunya yang berjudul Gently and Lowly bahwa Yesus adalah kawan bagi para pendosa. Artinya, dalam ‘Yesus Kristus, kita diberikan seorang kawan yang selalu menikmati kehadiran kita daripada menolaknya.’

Bagi siapa pun kita yang (seperti aku pada waktu lebih muda) cenderung melihat Allah sebagai sosok yang kaku dan otoriter, yang selalu marah atau kecewa, penghiburan sejati kita terdapat pada kebenaran bahwa tak peduli seberapa banyak kita telah berdosa dan gagal, Yesus selalu siap menerima dan memulihkan kita jika kita berpaling pada-Nya.

Selama kita hidup di bumi, kita akan terus bergulat dengan dosa dan pencobaan setiap hari. Jangan pernah berpikir kalau kita telah menang atas dosa untuk selamanya. Alih-alih, marilah kita saling mendoakan, saling bertanggung jawab, dan menjadikan titik pertobatan kita saat ini untuk selalu mengingat Yesus.

Baca Juga:

Bolehkah Aku Mengakui Sesuatu?

Membuka diri untuk mengakui dosa memalukan yang pernah diperbuat itu susah. Ada rasa takut, juga malu. Bagaimana jika orang-orang malah jadi memandang rendah kita?

Bolehkah Aku Mengakui Sesuatu?

Oleh Jane Lim
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Can I Confess Something?

Sekitar lima tahun lalu, aku akhirnya menemukan kelompok studi Alkitab wanita di satu gereja. Sudah sekian lama memang aku tidak tergabung dengan komunitas rohani seperti itu. Di salah satu pertemuanku bersama mereka, sesi pembahasan Alkitab sudah selesai dan kami hendak membagikan pokok doa masing-masing. Seorang temanku lalu berkata:

“Tolong doakan aku, aku seperti kecanduan belanja. Rasanya aku menghabiskan terlalu banyak uang buat beli barang-barang yang sebenarnya nggak dibutuhin.”

Ketika mendengar itu, aku tercenung. Bukan karena ada yang salah dari pokok doa itu, tapi aku merasa aku tidak bisa sejujur itu mengakui dosaku sendiri. Bagaimana caranya beralih dari “tolong doakan aku, aku kecanduan belanja” ke “tolong doakan aku karena… aku kecanduan pornografi dan masturbasi”?

Dosa terhormat vs dosa yang tidak terhormat

Ada sebuah buku berjudul “Respectable Sins” yang ditulis oleh Jerry Bridges. Aku belum membaca bukunya, tapi aku selalu ingat judulnya karena rasanya itu sangat cocok untuk sebagian besar dosa-dosa yang kita akui—tidak sabar, membicarakan orang lain, menikmati software bajakan, kerja berlebihan—pada dasarnya adalah dosa-dosa yang dilakukan setiap orang.

Namun, ada hal lain yang terkait dengan mengakui dosa ‘terhormat’. Ketika aku merenungkan bagaimana mengaku dosa kepada orang lain, yang pasti aku lakukan adalah bagaimana menyusun kata-kata supaya pengakuan itu tidak membuatku tampak jelek. Jadi, alih-alih mengatakan, “Aku membentak mamaku tadi pagi”, aku akan berkata, “Aku sedikit bertengkar dengan mama.” Alih-alih berkata, “Kemarin malam aku nonton film porno”, aku berkata, “Aku bergumul dengan pikiran yang tidak murni.” Atau, kalaupun aku tidak menemukan kata-kata yang terasa pas, aku akan memilih dosa yang lebih ‘ringan’ untuk diakui. Atau, lebih baik tidak berkata apa-apa.

Terkadang, keengganan kita untuk jujur dalam pengakuan dosa kita merupakan tanda dari hal-hal berikut ini:

  • Kita terlalu bangga untuk mengakui kalau kita sungguh bercela dan sangat membutuhkan anugerah;
  • Kita lebih takut akan apa yang orang lain pikirkan daripada apa yang Allah pikirkan; atau,
  • Kita tidak sungguh-sungguh ingin mengakui kesalahan kita pada Allah, sehingga kita enggan mengakuinya pada sesama. Kita takut apabila tidak terlihat penyesalan atau rasa takut yang nyata dalam ucapan kita, sehingga kita pikir cukuplah ‘memberi tahu’ Tuhan saja.

Semua ini kukatakan bukan supaya kita mengakui dosa tanpa pandang bulu kepada siapa pun, tentang apa pun; hanya saja, ketika kita memikirkan dosa-dosa dan kita merasa butuh untuk mengakuinya, kita harus kembali kepada apa yang Alkitab katakan dan menguji hati kita. Apakah kita sedang mencoba merasionalisasi dosa-dosa kita dan berupaya menjaga muka kita agar tetap terlihat baik, atau kita sedang merendahkan diri untuk melihat apa yang sungguh jadi kebutuhan kita di hadapan Allah?

Manfaat mengakui dosa

Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk hidup sebagai ‘anak-anak terang’ agar segala sesuatu yang telah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak (Efesus 5:8-13).

Namun, bagi sebagian dari kita yang bergumul dengan dosa-dosa rahasia dan memalukan, kita tahu betapa sulitnya mengumpulkan keberanian untuk mengakuinya—meskipun kita tahu dampak buruk dari menyembunyikan dosa seperti tertulis dalam Mazmur 32:3-4:

Selama aku berdiam diri,
tulang-tulangku menjadi lesu
karena aku mengeluh sepanjang hari;
sebab siang malam
tangan-Mu menekan aku dengan berat,
sumsumku menjadi kering,
seperti oleh teriknya musim panas.

Ketika aku bergumul dengan kecanduanku akan pornografi, itu sungguh menguras energiku dan membuatku enggan melakukan hal lain, terkhusus melakukan hal-hal yang akan menusuk hatiku seperti membaca Alkitab, berdoa, mendengar khotbah.

Hari-hari yang kulalui kulakukan dengan upaya paling minimum—kerja, makan, dan mandi—lalu naik ke atas kasur bercengkrama dengan laptop, berharap aku bisa merasa lega. Tapi, tak peduli seberapa banyak upaya yang kulakukan untuk melegakan diri, aku selalu capek. Semakin lama kebiasaan buruk ini dipelihara, semakin susah ia dilepaskan. Semakin lama aku menjadikannya rahasia, semakin dosa itu berkuasa mengendalikanku.

Firman Tuhan berkata bahwa dalam pengakuan dosa yang sejati, kita mengakui dosa yang adalah tindakan melawan Allah dan konsekuensi dari menyembunyikannya, sehingga kita tidak menganggap enteng dosa itu. Kita menerima keburukan dalam diri kita, dan kita berhenti berusaha untuk membuat sikap atau diri kita tampak lebih baik daripada yang sebenarnya, karena kita tahu Tuhan melihat dan mengetahui segalanya. Lebih lagi, kita percaya bahwa hanya Tuhan sajalah yang bisa mengangkat kita dari jurang kelam dosa.

Selain mengakui dosa kepada Allah, Alkitab juga menunjukkan pada kita pentingnya mengakui dosa pada sesama. Sebagai anggota dari satu tubuh, itu menunjukkan kebergantungan satu sama lain. Ketika satu bagian tubuh sakit, sakit pulalah seluruh tubuh itu (1 Korintus 12:26). Yakobus 5:16 mengatakan. “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh.”

1 Tesalonika 5:12-14 dan Galatia 6:1 mengingatkan kita bahwa saling mengakui dosa menolong kita membangun gereja, saling mengingatkan dan menuntun seseorang kembali ke jalan yang benar.

Bagaimana mengakui dosamu

Lalu, bagaimana kita bisa membentuk kebiasaan akan pengakuan dosa yang sehat dalam komunitas kita?

Pertama, kita perlu menemukan orang percaya yang dewasa dalam iman dan pengertiannya akan firman Tuhan, yang bisa menyampaikan kebenaran dalam kasih dan bertanggung jawab atas pengakuan kita.

Kedua, kita juga perlu berupaya untuk menjadi orang percaya yang dewasa, untuk menciptakan ruang aman dalam gereja kita, tempat bagi orang lain untuk juga mengakui dosanya. Kadang, itu berarti kita menjadi orang pertama yang berani untuk menjadi rentan. Di lain kesempatan, itu bisa berarti kita berhati-hati akan apa yang kita ucapkan atau penghakiman yang kita berikan pada orang lain. Dan yang paling pasti ialah kita menjadi rendah hati dan bersyukur, mengetahui bahwa kita telah diampuni dengan sangat besar.

Terakhir, pengakuan dosa yang alkitabiah tidak cuma berakhir di mengakui kesalahan, tapi bergerak menuju pertobatan. Satu bahaya dari tidak memahami pengakuan dosa yang alkitabiah adalah kita bisa berakhir jatuh ke dalam ritme yang tidak sehat: bersimpati dan berempati tanpa benar-benar mengupayakan pengampunan, penyembuhan, dan pemulihan.

Ketika kita mengakui dosa, kita harus menyiapkan diri kita ditegur. Kita harus berjuang melawan naluri untuk mempertahankan atau merasionalisasi dosa kita. Dalam prosesnya, kita juga perlu mengundang orang lain yang dipimpin Roh Kudus untuk menanyakan pada kita pertanyaan-pertanyaan sulit, untuk berdoa bersama kita dan menegur kita dengan firman Tuhan, untuk memantau kita sesuai kapasitas mereka.

Membuka diri untuk mengakui dosa

Kembali ke cerita di awal tulisan ini, aku memutuskan sejak aku bergabung dengan kelompok itu, rasanya kurang tepat membagikan pergumulan dosaku pada mereka. Namun, Roh Kudus terus mendorongku untuk mengakuinya kepada seseorang, membuatku memahami bahwa aku tak bisa melawan dosa ini sendirian secara diam-diam.

Jadi, aku melakukan dua hal:

Pertama, aku mengakuinya kepada sahabatku yang juga seorang percaya, yang mengerti pergumulanku. Aku bertanya apakah dia bisa menyimpan dan bertanggung jawab atas pengakuanku, dan dia bersedia. Sejak saat itu, kami lebih sering berkontak. Dia akan bertanya bagaimana prosesku, atau aku akan memberi tahu dia bilamana aku tergoda, dan dia segera juga berdoa buatku.

Kedua, aku mengikuti kelas tentang doa yang memulihkan di gerejaku, dan setelah beberapa sesi, aku menyadari kalau perjuanganku untuk pulih membutuhkan doa yang khusus. Setiap minggu, ketua dari kelompok doa itu mengundang orang-orang untuk membuat janji pertemuan jika memang mereka sungguh butuh didoakan. Aku memutuskan untuk ikut. Para fasilitator di pertemuan doa itu sungguh terlatih, mereka punya pengukuran yang pas untuk menciptakan zona aman bagi pengakuan dosa dan doa. Sesi-sesi itu menjadi sungguh berguna dan memulihkan buatku.

Mengakui dosa kepada sesama orang percaya menolongku melihat bahwa perjuangan melawan dosa bukanlah perjuangan seorang diri, atau perjuangan yang sia-sia. Meskipun masih ada hari-hari di mana aku jatuh dalam pencobaan dan berupaya menyembunyikan apa yang kulakukan, masa-masa rahasia itu menjadi lebih singkat seiring waktu karena aku tahu aku tak bisa menyembunyikannya lama-lama. Semakin segera aku mengakui dosa, semakin lekas pula aku didoakan dan ditarik kembali ke dalam terang.

Tidak semua cerita pengakuan dosa dan perjuangan lepas darinya memiliki proses yang sama, tapi kebutuhan akan pengakuan dosa yang sesuai Alkitab tetap menjadi dasar kita. Sebagai gereja, marilah kita berdoa untuk keberanian dan kerendahan hati agar kita bersedia mengakui dosa-dosa kita. Carilah juga kebijaksanaan dan kepekaan untuk memilah dan memilih, agar kita menjadi orang-orang percaya yang dewasa yang bisa menerima pengakuan dosa orang lain dan saling membangun satu sama lain dalam iman.

Baca Juga:

Berhasil atau Gagal, Ingatlah Bahwa Tuhanlah yang Menulis Cerita Hidupmu

Cepat atau lambat, sengaja atau tidak, hidup akan mengantar kita untuk menjumpai kegagalan dalam aneka bentuk. Tetapi, sekali lagi, ingatlah bahwa dalam berhasil atau gagal, Tuhanlah yang menulis cerita hidup kita.

Perjumpaan dengan-Nya, Mengubah Segalanya

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Bertahun-tahun lalu hiduplah seorang remaja yang sikapnya kasar dan tak punya tujuan hidup. Dia bukan hanya sering membentak dan menghina orang tuanya, dia bahkan tidak percaya kepada Tuhan. Ketika masih SMA, dia terkenal karena suka mengejek kepercayaan teman-temannya. Dia pernah juga menantang gurunya dengan cara yang tidak sopan untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Tak heran, dengan sikap demikian, dia seringkali mendengar kalimat keluhan bernada putus asa dari orang-orang di sekitarnya.

“Mau jadi apa anak ini?”

“Kelihatannya dia akan jadi seorang penjahat.”

“Tidak ada harapan untuk manusia seperti ini.”

Itulah beberapa “ramalan” yang paling santer mampir di telinga remaja itu. Tahukah kamu siapa dia? Akulah sang remaja itu.

Tak seorang pun menyangka, Tuhan yang selama bertahun-tahun kuhina menjadi Tuhan yang kini aku layani. Banyak orang terheran-heran, menggelengkan kepala seolah tak percaya ketika melihatku berdiri di sebuah mimbar dan berbicara tentang kasih Tuhan Yesus dan kuasa-Nya yang mampu mengubahkan manusia.

Begitulah kehidupan, penuh dengan kejutan. Manusia bisa menduga-duga, namun Allah mengetahui dengan jelas dan pasti masa depan seseorang.

Aku tidak akan menceritakan detail kisahku, namun seperti yang terjadi padaku, itu jugalah yang terjadi kepada seseorang bernama Paulus. Dahulu, Paulus adalah seorang yang membenci Yesus dan pengikut-Nya. Paulus adalah teror yang amat mengerikan bagi jemaat Tuhan. Mereka menghindari dan menjauhinya. Sebelum berjumpa dengan Tuhan Yesus seperti dikisahkan di Kisah Para Rasul 9, siapa yang menyangka Saulus akan menjadi salah satu pemberita Injil yang paling berani? Siapa yang mengira dia akan menjadi penulis kitab terbanyak dalam Perjanjian Baru?

Mungkin atas apa yang telah dilakukannya, Paulus bisa disebut sebagai “mantan penjahat”, sebuah istilah yang hari ini masih sering disematkan orang padaku. Jujur, mendengarnya membuatku malu dan menangis. Tapi, di balik semua itu, aku juga bersyukur karena saat ini aku dapat dengan yakin berteriak nyaring bahwa, “Tidak ada seorang pun yang terlalu kotor dan hancur yang tidak bisa diubahkan oleh Allah.”

Rasul Paulus, St. Agustinus, dan banyak lagi tokoh lainnya telah menjadi bukti nyata. Perjumpaan dengan Kristus sungguh-sungguh dapat mengubahkan siapa saja. Aku tidak berkata, setelah aku mengenalnya, aku lalu menjadi sempurna. Sama sekali tidak. Rasul Paulus pun tidak sempurna, apalagi aku. Aku berulang kali jatuh dan gagal. Tetapi, aku bisa bangkit. Bukan karena aku hebat, tetapi karena perjumpaanku dengan-Nya itu telah menyadarkanku bahwa aku berharga di mata-Nya. Jika Dia mau mati bagiku, maka aku mau hidup bagi-Nya. Dan dengan segala keterbatasanku, Dia terus memperbaharuiku hari demi hari dan menyembuhkan luka masa laluku. Itu jugalah yang akan terjadi padamu jika kamu mau menerima-Nya sebagai satu-satunya Tuhan dan Penyelamat pribadimu.

Setiap kita punya kelemahan dan kekurangan. Di antara kita, ada yang punya bercak-bercak masa lalu yang kelam, bahkan sangat memalukan dan mungkin tergolong menjijikkan. Kita pernah bertindak ceroboh dan memilih hal konyol yang akhirnya mencelakai kita. Kita pernah melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Mungkin sempat terpikir di benak kita, bahwa sudah terlambat bagi kita untuk memperbaiki semua yang rusak yang telah terjadi di masa lalu. Mungkin orang lain telah memasang stigma “hitam” atas diri kita. Mungkin sebuah julukan buruk telah mereka gantungkan di leher kita. Lalu dengan mengingat semuanya itu, kecewalah kita dan harapan kita pun meleleh bak lilin yang terbakar.

Kita lupa, bahwa terlepas dari segala perlakuan dan pandangan dunia atas segala kegagalan kita, ada satu kasih yang tak terbatas yang sepanjang hari berdiri menunggu di depan pintu hati kita. Jari jemari-Nya tak lelah mengetok pintu itu. Dia menanti dengan kesabaran yang tak terukur namun disertai kerinduan yang besar. Dialah Yesus Kristus. Dialah Tuhan yang pernah berkata kepada jemaat di Laodikia:

“Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan mebukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Wahyu 3:19).

Cobalah diam sebentar. Dengarkan suara-Nya. Dia tepat berada di depan pintu hatimu. Suara ketokan-Nya semakin keras. Suara lembut-Nya memanggil namamu berkali-kali. Pergilah temui Dia.

Perjumpaanmu dengan-Nya akan mengubah segalanya.

Baca Juga:

Melihat Jelas Batas Antara Hidup dan Mati, Ini Kisahku Menjadi Perawat di Masa Pandemi Covid-19

Aku bertugas di ICU. Bersama timku kami merawat pasien-pasien yang terindikasi COVID-19. Pandemi virus corona ini hadir secara nyata di tengah kita, namun kita pun yakin bahwa Tuhan turut berkarya di tengah-tengah pandemi ini.

Menyikapi Fenomena Public Figure yang Mendadak Kristen

Oleh Vidia Liu

Photo credit: Carl Bjorklund / Shutterstock.com

Jika kamu mengikuti informasi terkini tentang Kim Kardashians atau berita-berita tentang pop culture, kamu mungkin mengetahui kabar tentang Kanye West yang mendeklarasikan diri sebagai orang Kristen. Yes, Kanye West!

Kanye West ialah seorang selebriti dan rapper yang terkenal karena kontroversinya. Dia sering dikritik karena lirik lagunya yang misoginis dan provokatif. Tanpa diduga, dia memimpin pujian di kebaktian-kebaktian Minggu yang diselenggarakannya di beberapa tempat di Amerika, dan baru-baru ini bahkan merilis album rohani berjudul Jesus is King.

Deklarasi iman Kanye West memancing reaksi publik, ada yang mendukungnya, ada pula yang menganggapinya sinis. Pandanganku sendiri mengenai perpindahannya kepada iman Kristen rasanya campur aduk. Bagaimana seharusnya kita merespons? Apakah dia sungguh menjadi orang Kristen? Apakah dia sungguh-sungguh mengalami transformasi spiritual terlepas dari caranya menjalani hidup? Atau, apakah itu hanya akal-akalan dia saja untuk mendongkrak popularitas?

Respons awalku

Aku berbohong jika aku mengatakan aku optimis ketika membaca berita tentang Kanye West lahir baru. Kesan pertamaku adalah mempertanyakan dan menghakimi, yang aku sendiri tidak banggakan. Aku meragukan bahwa Tuhan bisa bekerja dalam kehidupan tiap orang tak peduli seberapa ‘rusaknya’ orang itu terlihat.

Aku masih berjuang untuk memahami kebaikan-kebaikan maupun keburukan-keburukan apa yang mungkin terjadi setelah seseorang berpindah iman. Aku bisa membayangkan bagaimana seseorang yang terkenal seperti Kanye bisa dengan positif membentuk budaya kita, kalau kesaksian hidupnya baik. Tetapi jika tidak, aku khawatir orang-orang akan salah mengerti kekristenan, berpikir bahwa kamu bisa tetap jadi Kristen meskipun hidupmu jauh dari kesalehan. Pemikiran ini selalu ada di benakku setiap kali aku mendengar para public figure seperti Kanye West, Justin Bieber, dan Selena Gomez yang mendeklarasikan iman mereka kepada Yesus.

Bagaimana pemikiranku berubah

Syukurlah, Roh Kudus menolongku untuk melihat dari sisi yang berbeda. Aku pun punya kekurangan dan sikapku yang menghakimi itu muncul karena aku menilai diriku lebih baik dari mereka. Alkitab mengingatkanku bahwa tidak ada dosa kecil atau besar di mata Tuhan. Segala jenis kejahatan memisahkan kita dari Allah (Yesaya 59:2).

Aku juga diingatkan akan kisah bagaimana Paulus mengenal Kristus. Dari seorang penganiaya umat Kristen, Paulus malah menjadi orang yang berjasa besar membangun gereja mula-mula. Paulus berubah menjadi orang yang berpengaruh dalam Alkitab. Kisah ini menolongku melihat kembali kepada Tuhan, Pribadi yang tidak pernah terbatas oleh keadaan dan dapat bekerja dalam hidup siapa pun, tak peduli betapa hancur, berdosa, atau mengerikannya mereka. Tuhan itu Mahakuasa dan bukanlah hal yang mustahil bagi-Nya untuk mengubah hidup seseorang seperti Kanye.

Setelah menyadari ini, aku merasa tertegur bahwa alih-alih mendoakan agar Tuhan bekerja dalam hidup Kanye, aku malah skeptis. Aku bukan mengatakan bahwa kita seharusnya tidak waspada dan tidak jeli, atau secara buta merayakan perpindahan Kanye sebagai orang Kristen. Aku mengerti ada banyak pertanyaan mengenai motivasi Kanye. Jika kesaksian Kanye itu murni, kita bisa melihatnya nanti melalui buah-buah rohani yang dia hasilkan, yang tentunya akan disertai juga dengan perubahan besar dalam hidupnya (Matius 12:33). Namun, kita tidak dipanggil untuk menghakimi dan merendahkan seseorang yang mencari Tuhan (Matius 7:1-6).

Kesimpulan

Pada intinya, kita tidak pernah tahu apakah seseorang sungguh-sungguh menghidupi imannya atau tidak, dan itu bukanlah tugas kita untuk menghakimi. Kita pun mungkin tidak akan pernah tahu apakah seorang public figure yang menjadi Kristen itu sungguh-sungguh perbuatan yang berasal dari hatinya atau hanya sekadar strategi marketing. Yang sepenuhnya kita tahu adalah Alkitab dipenuhi kisah-kisah akan orang-orang yang hidup dalam dosa atau berbuat kesalahan (Rasul Paulus, Raja Daud, penyamun di salib di sisi Yesus, dan sebagainya) tetapi mendapatkan kasih karunia dan hidupnya diubahkan untuk menyebarkan kabar keselamatan kepada dunia. Jadi, alih-alih mempertanyakan dan menghakimi, marilah kita berdoa dan berharap kiranya melalui kesaksian dan album rohani dari Kanye, orang-orang dapat mendengar Injil (Filipi 1:18).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


 

Baca Juga:

Digitalkan Kabar Baikmu!

Penginjilan di era sekarang tak melulu bicara tentang pergi ke tempat yang terpencil. Dengan segala kemudahan era digital yang ada, sudahkah kita memanfaatkan peluang ini untuk memberitakan Kabar Baik?

Belajar dari Daud: Bukan Kekuatan Kita Sendiri yang Mampu Mengubah Kita

Oleh Christine Emmert
Artikel asli dalam bahasa Inggris: I Learned The Secret To Time Management

Hari sudah terlampau siang. Aku masih duduk di depan komputerku, mengedit sebuah artikel yang harus segera ditayangkan. Anak lelakiku duduk di lantai dan bermain mobil-mobilan dengan berisik—sebuah pengingat bagiku kalau siang itu aku tidak punya waktu untuk bermain dengannya. Selain itu, aku pun masih harus memasak makan malam sebelum suami dan saudariku pulang ke rumah.

Tapi, bukannya memperhatikan kata-kata dan tanda baca di artikel, atau mengerjakan aktivitas lain yang harus segera kukerjakan, aku malah mencari tahu buku-buku apa yang baru temanku baca di postingannya di media sosial.

Itu terjadi ketika sebuah notifikasi muncul di layarku, memberitahuku kalau setahun lalu aku telah membaca 19 buku.

Sebagai seorang kutu buku, angka itu membuatku merasa tidak percaya. Biasanya aku bisa membaca buku dua kali lipat dari angka itu. Mengapa sangat sedikit buku yang kubaca saat ini?

Selama beberapa minggu setelahnya, pertanyaan ini menggantung di benakku. Aku mulai memerhatikan bagaimana caraku meluangkan waktuku. Tidak butuh lama untuku menyadari bahwa pekerjaanku mengambil jatah waktu lebih lama daripada seharusnya. Bukan karena beban kerja yang meningkat tajam, tapi karena aku sering mengambil waktu “break” untuk scrolling media sosial atau situs berita daripada berfokus ke pekerjaanku. Waktu-waktu jeda ini seringkali memakan waktu lebih lama dari yang kurencanakan, dan membuatku jadi lupa akan pekerjaan utamaku.

Menanggapi fakta yang baru kutemukan ini, aku memutuskan untuk membuat pagi hariku lebih bermakna. Aku pergi ke kedai kopi yang mahal di kotaku, dan memikirkan cara terbaik apa yang bisa kulakukan untuk ‘menyelamatkan’ waktu-waktuku di masa depan. Aku merasa senang dengan langkah-langkah praktis yang telah kupikirkan. Lalu, untuk mengingatkan diriku tentang langkah-langkah yang bisa ditindaklanjuti ini, aku menuliskannya di sticky notes, dan menempelnya di komputer.

Hari pertama, strategi ini berhasil. Aku bisa menggunakan waktuku dengan maksimal. Tapi, seminggu berselang, aku kembali berjuang melawan kebiasaan lamaku. Aku lupa untuk mengendalikan waktuku atau menggunakan waktu jedaku jauh dari komputer. Aku tergoda dan mulai menjelajahi Internet ketika seharusnya aku mengerjakan beberapa riset untuk pekerjaanku. Ada beberapa hari yang kurasa aku bisa kembali menjalankan manajemen waktuku, tapi di hari-hari lainnya, kupikir aku tidak jauh lebih baik dari sebelumnya.

Tak peduli seberapa keras aku berjuang, rasanya aku masih menjadi hamba dari tiap-tiap distraksi yang muncul. Dan segala perenungan dan langkah-langkah praktis yang sudah kususun tidak banyak membuatku berubah.

Hingga akhirnya, ketika aku membaca Alkitabku, aku membuka Mazmur 51. Pasal ini bercerita tentang mazmur pertobatan Daud setelah dia berbuat zinah dan membunuh (2 Samuel 11-12). Ada satu ayat yang menyentakku:

“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” (Mazmur 51:12).

Apa yang menegurku adalah ketika menyesali perbuatannya dan memperbaiki diri, Daud tidak fokus kepada bagaimana memperbaiki dirinya sendiri yang berdosa. Dia tidak mengucap janji untuk menjadi lebih baik di masa depan. Daud berbalik kepada Tuhan dan belas kasihan-Nya, dan meminta Tuhan untuk memperbarui hatinya.

Dalam perjuanganku mengatur manajemen waktu yang baik, aku telah menuliskan tujuan-tujuan dan langkah-langkah yang bisa kulakukan—mempercayai kekuatanku sendiri untuk membuat perubahan dan menjadikan pekerjaanku berhasil. Tapi, tak ada satupun yang berhasil! Aku melupakan apa yang Daud ketahui dengan sangat baik—Tuhan tidak hanya mampu mengampuni, tetapi Dia juga mampu untuk menjadikan hati kita murni dan memperbaruinya dengan roh yang teguh!

Siang itu, aku menempelkan sticky notes yang baru di depan komputerku. Bukan catatan tentang langkah-langkah praktis yang kupikir sendiri, aku hanya menuliskan ayat Mazmur 51:12, dan menjadikan ayat itu sebagai doa pribadiku. Ketika aku duduk untuk bekerja, ketika aku menikmati waktu jeda, dan bahkan ketika aku tergoda untuk terlarut dalam Internet, aku memandang kepada catatan kecil itu dan berdoa, “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!”

Kamu tahu bagaimana dampaknya? Siang itu pun terasa luar biasa. Aku bisa bekerja dengan fokus, sesuatu yang jarang terjadi di tahun-tahun belakangan. Dan, bukan hanya aku bisa mengerjakan pekerjaanku secara cepat, tapi juga dengan baik. Aku bahkan punya waktu lebih untuk mencuci baju, merapikan rumah lebih rapi daripada biasanya, dan mengajak anakku bermain—semua itu kulakukan sebelum aku memasak makan malam untuk keluargaku.

Dua minggu pun berlalu setelah hari itu. Ada hari-hari di mana aku merasa kurang fokus dan bekerja lebih lama dari waktu yang seharusnya. Kadang pula makan malam kusajikan sedikit terlambat. Tapi, secara keseluruhan, aku merasa punya waktu lebih dan pekerjaan yang kulakukan hasilnya jauh lebih baik.

Yang menjadi inti adalah, aku telah mencoba mengatur waktuku dengan kekuatanku sendiri, dan aku gagal. Ketika aku menyadari bahwa aku tidak bisa melakukannya sendiri, aku memohon pertolongan Tuhan. Aku berdoa agar Dia mengubah hatiku supaya aku tidak dengan mudah terdistraksi, dan bisa lebih fokus pada pekerjaanku. Aku memohon Tuhan untuk memampukanku melakukan apa yang kuanggap sebagai kemustahilan untuk kucapai.

Dan, Tuhan dengan murah hati menjawab doaku. Dengan anugerah-Nya saja, aku dimampukan-Nya untuk bekerja dengan baik dan bertanggung jawab atas waktu-waktuku.

Pengalamanku ini adalah sebuah pengingat bahwa Tuhan mampu mengubah hati. Dia menciptakan hati yang murni untuk Daud. Dia telah memperbarui hatiku di masa lalu, dan melakukannya kembali secara ajaib di dalam dua minggu yang lalu. Dan aku tahu, Tuhan akan terus memperbarui hatiku di masa depan, menolongku untuk mengalahkan dosa-dosa dan kesalahanku ketika aku tak dapat melakukannya. Hingga suatu hari, aku kelak akan menghadap-Nya dengan penuh kegembiraan dan tak bernoda di hadapan kemuliaan-Nya (Yudas 1:24).

Temanku, saat ini adakah suatu hal yang sedang kamu gumulkan dalam hidupmu? Adakah tujuanmu yang ingin kamu capai namun kamu belum mampu mewujudkannya? Mohonlah supaya Tuhan memberimu hati yang baru.

Perubahan mungkin tidak terjadi dalam semalam. Beberapa doaku ada yang dijawab Tuhan setelah bertahun-tahun. Tapi, meskipun di dalam masa kita menanti, ktia dapat memohon Tuhan untuk menolong kita mempercayai-Nya dan bersandar pada kekuatan-Nya. Bahkan ketika kita tersandung dan jatuh lagi, kita tahu bahwa Tuhan terus membentuk dan menguduskan kita. Ketika kita terus berdoa dan percaya, Tuhan memperbarui kita dari hari ke hari. Tuhan sedang bekerja untuk mengubah hati. Tuhan ingin memberikan kita hati yang baru dan Dia pun memperbarui roh kita; yang perlu kita lakukan adalah meminta kepada-Nya.

Baca Juga:

Ketika Tuhan Mengizinkanku untuk Menunggu dalam Masa Mencari Pekerjaan

Aku melamar kerja ke banyak perusahaan, menanti, dan berharap hingga akhirna mendapatkan pekerjaan. Mungkin kisah seperti ini terdengar klise, tapi ada pelajaran berharga yang Tuhan ajarkan kepadaku.

Momen Natal yang Membuatku Mengenang Perjumpaan Pertamaku dengan Kristus

Oleh Putra, Jakarta

Memasuki bulan Desember, memoriku mengingat kembali kenangan yang terjadi bertahun-tahun lalu. Waktu itu aku masih duduk di bangku SD dan salah satu hal yang paling kusukai tentang Natal adalah hari liburnya. Di pagi hari aku bisa duduk di depan televisi dan menonton film Home Alone. Film itu membuatku jadi ingin ikut merayakan Natal. Tapi, aku bukanlah orang Kristen, demikian juga kedua orang tuaku.

Keluargaku tidak mengenal siapa itu Tuhan Yesus. Kami sangat memegang tradisi leluhur. Keluargaku percaya bahwa berbakti kepada leluhur—dengan cara sembahyang kepada arwah mereka—adalah cara untuk mendapatkan berkat semasa hidup dan juga keselamatan kelak setelah kehidupan ini berakhir.

Perkenalan pertamaku dengan sosok Juruselamat

Aku bersekolah di sekolah negeri. Saat duduk di kelas 6, untuk pelajaran agama, aku mengikuti kelas agama Kristen sebab di sekolahku tidak ada guru yang mengajar kepercayaanku. Guruku menerangkan tentang apa itu iman Kristen. Dia mengatakan bahwa sembahyang kepada leluhur itu tidak dapat menyelamatkan kita dari kematian kekal. Aku tidak setuju dengannya. Tapi, kembali dia menegaskan pernyataannya: leluhur tidak bisa menyelamatkan, hanya Tuhan Yesus yang bisa.

Empat tahun setelahnya, saat aku duduk di bangku SMK, aku ikut kelompok persekutuan Kristen. Meski bukan orang Kristen, aku tidak merasa asing dengan Kekristenan. Sejak SD aku sudah mengikuti pelajaran agama ini dan aku juga berteman dengan teman-teman yang Kristen. Pertemuan awal di kelompok itu adalah acara ulang tahun temanku dan kami mengisinya dengan makan-makan.

Suatu ketika, saat sedang berada di rumah, aku mendengar satu lagu rohani Kristen. Aku merasa hatiku tergerak dan aku menangis sendirian. Tanpa kusadari, aku pun mengucap, “Tuhan, tolong selamatkan aku.” Aku sendiri masih tidak paham betul mengapa hari itu aku menangis tiba-tiba. Sebelumnya aku memang sudah ikut komunitas rohani, tapi itu cuma buat nilai. Namun, setelah hari itu, aku tertarik untuk lebih tahu siapa itu Tuhan Yesus dan bagaimana cara hidup orang Kristen. Teman-temanku menyambut baik ketertarikanku ini, hingga lambat laun aku menjadi yakin bahwa apa yang dikatakan guru SDku dulu adalah benar.

Di kelas I SMK, aku memutuskan untuk menjadi orang Kristen dan ingin terlibat aktif dalam pelayanan. Aku pergi ke gereja temanku dan dilayani oleh hamba Tuhan di sana. Aku memberitahukan hal ini kepada orang tuaku. Mereka tidak menyetujui keiginanku. Namun, aku tidak dapat membendung kerinduanku untuk mengikut Tuhan Yesus. Aku tetap pergi ke gereja. Ketika hal ini ketahuan oleh ayahku, dia datang menghampiriku di gereja dan memaksaku pulang. Sampai di rumah, dia memukulku. Puncaknya, ketika aku bersikukuh untuk pergi ke gereja, ayah dan ibu hendak mengusirku dari rumah.

“Kamu ngapain sih ke gereja? Memangnya kamu dapat apa di gereja?” kata ibuku dengan nada tinggi.

Aku membalasnya, “Saudara kita yang lain aja boleh ke gereja, kenapa aku nggak?”

“Leluhur kita semuanya sembahyang!”

Dia pun lalu mengeluarkan semua kekesalannya kepadaku. Jika aku bersikukuh tetap pergi ke gereja dan kelak mengganti imanku, dia akan menyesal menjadikanku sebagai anaknya. Kekhawatiran terbesar ayah dan ibuku adalah jika aku menjadi orang Kristen dan meninggalkan tradisi yang selama ini selalu mereka junjung.

Peristiwa itu mengguncangku. Namun, entah mengapa aku tidak menyimpan perasaan benci kepada orang tuaku. Malah, aku merasa sedih karena mereka belum mengenal Tuhan Yesus. Waktu itu, aku mendengar siaran radio Kristen yang mengajak pendengarnya untuk berdoa. Aku ikut berdoa, aku mendoakan supaya kedua orang tuaku mau membuka hati mereka buat Tuhan Yesus. Sejak saat itu, aku selalu berdoa untuk mereka. Namun, masalah terus saja datang, sampai akhirnya aku hampir merasa putus asa dan tidak lagi berdoa. “Terserah Tuhan saja!”

Meski demikian, aku masih rutin datang ke gereja setiap minggunya. Dalam hatiku, masih tersimpan setitik kerinduan agar kedua orang tuaku juga mengenal Tuhan, aku tidak ingin hanya menikmati keselamatan yang sudah Tuhan berikan sendirian. Hanya, aku merasa itu semua rasanya seperti mustahil.

Satu orang diselamatkan, seisi rumah diselamatkan

Hingga akhirnya, di tahun 2010, ayahku didiagnosis menderita kanker kelenjar getah bening. Ketika berita itu datang, aku tersentak. Aku teringat lagi doa yang dulu pernah rutin kunaikkan. Hatiku lalu berbisik, “Mana kerinduanmu buat ngenalin Tuhan ke orang tua?” Aku berusaha untuk mendoakan mereka lagi. Tapi, semakin hari kondisi ayahku semakin drop. Segala pengobatan alternatif telah dijalani, namun tak membuahkan hasil sampai suatu ketika, pamanku yang adalah orang Kristen datang ke rumah. Dia mengajak ayahku datang ke gereja untuk memohon mukjizat dari Tuhan. Ayahku mengelak, tapi ibuku yang hampir putus asa merawat ayah mengiyakan ajakan itu. “Apapun, yang penting sembuh.” katanya.

Keesokan harinya setelah ke gereja, ibuku bertanya pada Ayah, “Bisa tidur gak?”

“Iya,” ayahku mengangguk.

“Nanti mau ke gereja lagi?”

“Mau.”

Sejak saat itu, ayah dan ibuku datang ke gereja setiap minggu. Ada satu momen yang bagiku dulu terasa sangat mustahil. Saat tengah berada di rumah, ayahku memutar lagu rohani. Dia mengangkat tangannya, menyembah Tuhan, lalu memintaku untuk mengajarinya berdoa. Aku mengajarkan doa-doa sederhana kepadanya, seperti: “Tuhan, berkati makanan ini, minuman ini, obat-obatan ini, supaya bisa menjadi kesembuhan.”

Proses itu berlangsung beberapa waktu, sampai akhirnya Ayah memutuskan untuk percaya sungguh-sungguh pada Tuhan Yesus. Ayah menanggalkan segala kepercayaan lama yang dianutnya dan kemudian dibaptis. Kondisi fisik Ayah tidak banyak berubah, dia tetap berjuang melawan kankernya. Kurang dari setahun setelah ayah menyerahkan dirinya pada Kristus, Ayah meninggal dunia.

Satu kesedihanku ketika Ayah berpulang adalah kami tidak sempat merayakan Natal bersama-sama, sekali saja. Namun, aku tidak kecewa kepada Tuhan, karena aku percaya ayahku sudah mendapatkan yang terbaik dan sudah bersama dengan Tuhan Yesus di surga. Ayahku sudah sembuh secara total dari penyakit kankernya. Aku bersyukur, peristiwa sakitnya Ayah menjadi momen yang membawa seisi keluargaku mengenal Tuhan Yesus. Sekarang, ibuku tidak lagi menutup diri dari Kekristenan. Aku masih mendoakannya untuk menjadi orang percaya yang mengimani imannya kepada Kristus dengan sungguh-sungguh.

Momen Natal tahun ini mengingatkanku kembali bahwa kedatangan Kristus ke dunia memberikan kita sebuah jaminan yang pasti, yaitu jaminan akan keselamatan. Dan, aku pun mengimani apa yang Alkitab katakan dalam Kisah Para Rasul 16:31: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”

Adakah nama seseorang yang kamu rindukan agar dia dapat mengenal Tuhan Yesus? Marilah kita berdoa bagi mereka. Kiranya di Natal tahun ini, Kristus dapat hadir di dalam hati mereka.

“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10).

Baca Juga:

Natal Bukanlah Sekadar Perayaan

Seorang temanku mengatakan bahwa mengadakan Christmas Dinner menjelang tanggal 25 Desember itu membuat suasana Natal lebih seru dan lebih bersama. Tapi, apakah benar demikian? Apakah Natal dimaknai hanya dengan perayaan, kumpul, dan makan bersama?

Tuhan Yesus Menyelamatkanku dengan Cara-Nya yang Tak Terduga

Oleh Aisha*, Jakarta

Aku bukanlah orang Kristen sejak lahir. Orang tua dan keluarga besarku pun tidak ada yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Keluargaku melarangku berteman dengan orang yang tidak seiman dengan kami. Sampai aku duduk di kelas 2 SMP, aku tidak pernah tahu Yesus itu siapa. Hingga akhirnya aku pun pindah sekolah ke Jakarta dan di sekolah itu aku memiliki teman-teman yang beraneka ragam.

Suatu ketika, aku berdiskusi dengan temanku yang Kristen. Dia bercerita kepadaku tentang Tuhan, dan itu membuatku sangat penasaran. Katanya, Tuhannya itu bernama Yesus yang sangat penuh kasih. Yesus rela mati di kayu salib demi menebus dosa manusia. Tapi, aku merasa apa yang disampaikan temanku itu berbeda dengan apa yang disampaikan oleh guruku dulu dan aku malah ngotot bahwa apa yang temanku percayai itu salah. Namun, aku merasa ada sebuah pertanyaan besar mengganjal di hatiku, “Siapakah Yesus sebenarnya?”

Diselamatkan melalui tragedi

Saat itu aku adalah orang yang suka tidak bersyukur dan hidup tanpa hikmat. Ayah dan ibuku telah bercerai sejak aku masih bayi dan aku pun dirawat oleh nenekku. Latar belakangku dari keluarga broken-home membuatku sering berpikir pendek atas masalah-masalah yang kuhadapi. Aku sering merasa lelah dengan hidupku dan sempat beberapa kali mencoba bunuh diri.

Hingga suatu ketika, saat aku berusia 14 tahun, suatu hal yang tidak kuinginkan terjadi kepadaku. Aku divonis menderita sakit kanker darah stadium dua. Untuk mengobati penyakit itu seharusnya aku menjalani operasi pencangkokan sumsum tulang belakang. Tapi, karena tidak mendapat pendonor sumsum tulang belakang yang cocok, akhirnya aku hanya menjalani pengobatan kemoterapi dan radioterapi selama beberapa kali.

Penyakit ini membuatku merasa menjadi beban buat keluargaku. Nenekku tidak dapat membiayai pengobatanku, jadi ibukulah yang bertanggung jawab untuk masalah keuanganku. Tapi, saat itu ternyata ibuku sedang kesulitan ekonomi. Kalau sebelumnya aku pernah ingin bunuh diri, saat itu aku ingin bertahan hidup. Aku ingin sembuh supaya bisa membalas budi perjuangan ibuku. Tapi, melihat keadaan yang sepertinya tidak baik itu, aku jadi sangat sedih dan aku pun pasrah atas hidupku, mungkin sudah waktunya aku pulang ke pangkuan Tuhan.

Hari-hariku kemudian terasa berat. Rasa sakit yang timbul dari sakit kanker itu luar biasa. Hingga suatu ketika, saat aku sedang kesakitan di rumah sakit, tanpa sadar aku teringat akan Tuhan Yesus, nama yang dahulu pernah temanku ceritakan kepadaku.

“Aku sakit, aku sesak, tolong aku! Tolong aku, Yesus! Jikalau memang Engkau adalah Tuhan, aku mohon pulihkan aku!” kataku pada Tuhan.

Air mataku pun jatuh membasahi pipiku. Aku masih tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidupku, tapi saat itu aku merasakan ada kedamaian yang tak biasa. Aku merasa seperti ada harapan dan kekuatan untuk berjuang melawan penyakit kankerku.

Singkat cerita, aku pun terus melanjutkan proses pengobatan radioterapiku. Hingga suatu ketika, saat dokter melakukan pemeriksaan kembali, hasilnya mengejutkanku. Dokter melihat bahwa sel-sel kankerku hilang, dan aku dapat dinyatakan sembuh. Dokter dan orang tuaku yakin bahwa kesembuhan ini terjadi sebagai buah dari pengobatan rutin yang kulakukan. Tapi, buatku pribadi, aku merasa yakin bahwa kesembuhan ini adalah anugerah dari Tuhan Yesus yang telah mendengarkan seruan minta tolongku.

Menjalani hidup yang baru bersama Tuhan Yesus

Saat itu usiaku 14 tahun, tapi aku begitu yakin untuk memantapkan imanku kepada Tuhan Yesus. Lewat bantuan beberapa temanku yang percaya pada Yesus, aku pun bertemu dengan seorang hamba Tuhan dan mengucapkan pengakuan iman percayaku dengan lidahku sendiri. Aku melakukan semuanya itu secara sembunyi-sembunyi, sebab aku tidak ingin menimbulkan kegaduhan dalam keluargaku.

Sekarang, sudah tiga tahun berlalu sejak Yesus masuk ke dalam hidupku. Selama waktu inilah aku mendapati bahwa mengikut Kristus bukanlah hal yang mudah. Berbagai masalah tetap ada dalam hidupku. Namun, di balik semua masalah itu, Tuhan tidak pernah meninggalkanku. Di malam sebelum Paskah, aku teringat akan betapa beratnya proses yang Tuhan Yesus lakukan sampai Dia disalib di Golgota. Aku pun merasa tertegur. Tuhan Yesus sudah begitu baik buatku. Dia tidak hanya menyembuhkanku dari sakit fisik di dunia, melainkan juga menyelamatanku dari kesakitan kekal akibat dosa. Aku pun menangis, bukan karena sedih, tapi tangis bahagia karena aku punya Tuhan yang sangat mengasihiku yang hina ini.

Melalui ujian-ujian dalam hidupku, imanku semakin kuat dan semakin besar juga keinginanku untuk lebih mengenal dan dekat dengan Tuhan. Aku mengenal Tuhan Yesus sebagai Pribadi yang penuh kasih. Dia adalah Tuhan yang ingin agar kita, ciptaan-Nya kelak tinggal bersama-sama dengan Dia di surga. Dan, untuk itulah Dia rela disiksa dan disalib. Aku bersyukur kepada Tuhan atas iman yang Dia berikan padaku. Sekarang hidupku sudah terjamin, karena aku tahu ke mana tujuanku kelak setelah kehidupan ini berakhir.

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Roma 10:9).

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Belajar dari Kisah Aldi, Yang Kita Butuhkan Bukan Hanya Makanan Jasmani Saja

49 hari terkatung-katung di laut, Aldi putus asa dan hampir saja mengakhiri hidupnya. Namun, ada satu yang membuatnya kembali menemukan harapan: firman Tuhan.

Saat Pikiranku Terjerat Fantasi Seksual

Oleh Steviani*, Sulawesi Selatan

Ketika aku menulis artikel ini, aku sedang mengevaluasi diriku. Saat aku menoleh ke belakang, aku mendapati kalau hidup yang kujalani dulu bukanlah kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Meski sejak kecil aku sudah ikut sekolah Minggu dan diajar untuk percaya kepada Yesus, tapi itu tidak menjamin bahwa aku bisa mengendalikan diriku dari dosa.

Sepuluh tahun lalu aku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku. Sejak saat itu aku berusaha menghidupi iman percayaku dengan sungguh-sungguh. Aku berdoa, membaca firman Tuhan, juga melayani di gereja. Tapi, ada satu hal dalam hidupku yang sulit aku kendalikan: pikiranku.

Pikiranku begitu mudah tertuju kepada hal-hal yang berbau seksual. Saat aku sedang sendirian, atau ketika ada temanku datang dan mereka menyinggung sedikit saja tentang seks, imajinasiku langsung berkembang. Waktu SMA dulu aku pernah belajar tentang seksualitas dalam pelajaran Biologi, tapi imajinasi yang ada dalam pikiranku bukanlah imajinasi tentang seks yang ilmiah. Pikiranku berisikan fantasi-fantasi seksual.

Mungkin berimajinasi tentang sesuatu yang berbau pornografi terlihat tidak ‘membahayakan’ jika dibandingkan dengan melakukan hubungan seks bebas. Akan tetapi aku ingat bahwa dalam kitab Matius 5:28 Yesus pernah berkata kalau “memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Dari ayat ini, aku mendapati bahwa fantasi seksualku itu merupakan sesuatu yang menjijikkan di hadapan Tuhan.

Meski aku tahu bahwa apa yang kulakukan ini tidak menyenangkan Tuhan, tapi aku merasa sulit sekali untuk melepaskan diriku dari fantasi seksual yang muncul di pikiranku. Berulang kali aku membiarkan diriku jatuh ke dalam kedagingan, memuaskan nafsu di dalam pikiranku. Lama-lama aku lelah. Aku berusaha sekuat tenaga, tapi tetap saja aku jatuh. Aku takut apabila kejatuhanku dalam dosa fantasi seks ini dapat menyeretku kepada perbuatan-perbuatan yang tidak kuinginkan. Hingga suatu ketika, aku mendapati sebuah ayat dari 1 Petrus 1:14-16 yang berkata demikian:

“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Ayat ini menyentakku. Sebagai anak Tuhan, firman-Nya dengan jelas berkata kalau aku tidak boleh hidup menuruti hawa nafsuku. Tapi aku malah membiarkan hawa nafsu itu menguasai pikiranku dengan anggapan kalau fantasi burukku itu masih jauh lebih baik daripada aku melakukan dosa seksual langsung secara fisik. Namun, kembali Allah menegurku. Gary Inrig dalam bukunya yang berjudul “Pursue Desire” berkata: dosa selalu meyakinkan kita untuk bertindak demi kebaikan kita, sekalipun itu berarti melawan firman Allah. Aku pun tersadar kalau selama ini aku tidak melibatkan Tuhan sungguh-sungguh dalam perjuangan ini. Aku membiarkan dosa mengakar dalam diriku hingga lama-lama aku semakin berkompromi dengan dosa ini.

Dosa tetaplah dosa. Yesus menegaskan bahwa perzinahan bahkan sudah dilakukan ketika hawa nafsu itu baru muncul di pikiran, dan bila aku membiarkan pikiranku terus menerus berimajinasi tentang seks, maka artinya aku tidak benar-benar mengindahkan apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan mengabaikan pengorbanan-Nya di kayu salib.

Saat itu aku berdoa, memohon ampun, dan meminta supaya Tuhan memimpin langkahku untuk keluar dari jeratan dosa ini. Aku sadar bahwa aku adalah manusia yang lemah, mudah jatuh ke dalam dosa. Aku butuh pegangan yang kuat, yaitu Allah sendiri. Salah satu strategi yang kulakukan adalah belajar mengisi pikiranku dengan hal-hal yang positif, seperti yang Rasul Paulus katakan:

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Filipi 4:8).

Ketika teman-temanku mulai berbicara sesuatu yang berhubungan seks, aku menjauhkan diri sejenak dari obrolan mereka. Kalau aku sedang sendiri, aku berusaha tidak melamun dan menyibukkan diriku dengan aktivitas lainnya seperti membaca buku, Alkitab ataupun berdoa.

Sekarang, aku tidak lagi mudah terjatuh ke dalam dosa tersebut. Semua karena anugerah-Nya. Ketika aku mengakui dosa-dosaku, menyesal, dan berkomitmen untuk bertobat di hadapan-Nya, maka Allah akan memampukanku untuk melakukannya.

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Sungguh, Allah Kita Mahaagung!

Suatu hari, kami belajar tentang Human Genome Project, atau Proyek Genom Manusia. Para peneliti membutuhkan waktu 13 tahun untuk memecahkan keseluruhan informasi genetik manusia yang rumit. Tapi kemudian kusadari bahwa ada sesuatu yang jauh lebih mengagumkan.

Pertolongan Pertama Ketika Kita Jatuh dalam Dosa

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Dosa. Kata ini tidak asing di telinga kita sebagai orang Kristen. Karena dosa, manusia diusir dari taman Eden. Karena dosa, maut pun datang. Dosa membawa akibat buruk.

Kendati demikian, sebagai manusia biasa, berulang kali kita mendekati dosa. Tak jarang terjun pula ke dalamnya. Seorang temanku pernah curhat dengan nada putus asa. Dia kecanduan masturbasi. Dia tahu kalau aktivitas ini adalah dosa dan setiap kali usai melakukannya, dia selalu diliputi rasa penyesalan yang hebat. “Gue harus gimana?” keluhnya. Rasa penyesalan yang sering diikuti janji “ini terakhir kalinya”, seringkali tak cukup kuat untuk mencegah kita kembali jatuh ke dalam dosa, entah itu dosa yang sama atau beda.

Pertanyaan gue harus gimana yang diajukan temanku itu menjadi titik pembahasan yang menarik. Tak hanya temanku, aku pun pernah berada di posisi itu. Ketika dosa meninggalkan kita dalam perasaan tak berdaya dan hancur, apa yang seharusnya kita lakukan? Adakah pertolongan pertama untuk menyelamatkan diri saat kita terjatuh ke dalam jurang dosa?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menyelediki kebenaran apa yang Alkitab tuliskan untuk kita. Mari kita bahas secara perlahan.

Pertama, kita perlu tahu bahwa Allah sesungguhnya tidak pernah menjauh dari kita.

“Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu” (Yesaya 59:1-2)

Dua ayat pertama dari Yesaya 59 memberi kita gambaran jelas akan di mana peranan dosa dalam kehidupan kita. Dosa menciptakan jurang antara kita dengan Allah. Semakin kita bertekun dengan dosa, semakin dalam pula jurang tercipta. Kendati demikian, dari ayat pertama kita tahu bahwa Tuhan adalah Mahakuasa. Tangan-Nya tidak kurang panjang untuk menolong dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar.

Hanya, di ayat kedua dituliskan, kitalah yang melarikan diri dari-Nya. Ketika terjatuh ke dalam dosa, kita membiarkan dosa itu menguasai diri kita dengan cepat. Lewat rasa penyesalan yang tidak terkontrol, lewat rasa takut, atau bahkan lewat rasa nikmat, kita membiarkan jurang dosa semakin dalam. Kemudian pikiran kita berkata kalau Allah itu terasa jauh, atau mungkin juga kita merasa jijik dengan diri sendiri hingga kita takut untuk datang kepada-Nya.

Di sini, kita mendapati bahwa sebenarnya kita memiliki peranan aktif dalam menentukan respons seperti apa yang mau kita berikan dalam menyikapi kejatuhan dalam dosa. Seringkali, kita merespons kejatuhan kita dalam dosa dengan menjauh dari Allah, bergumul sendirian, dan berpikir kalau inilah respons yang paling baik. Namun, Alkitab memberitahu kita bahwa ini bukanlah cara yang dapat membawa kita kepada kemerdekaan dari dosa.

Alkitab mencatat kisah tentang Daud. Jika kita menilik kembali kisahnya dalam 2 Samuel 11:1-5, kita mendapati bahwa Daud telah berdosa di hadapan Allah karena dia berzinah dengan Batsyeba. Lalu, demi memperistri Batsyeba, Daud berbuat jahat kepada Uria dengan cara menempatkannya di garis depan pertempuran supaya dia mati terbunuh (2 Samuel 11:14). Daud tahu apa yang dia lakukan itu jahat, namun dia menyembunyikannya hingga akhirnya firman Tuhan datang menegur.

Proses pemulihan Daud dari dosa tidak dia jalani sendirian. Allah tahu bahwa Daud membutuhkan orang lain untuk menolongnya bangkit dari jurang dosa. Oleh karena itu Allah mengutus Nabi Natan untuk menegur Daud dan memberitahukan hukuman Allah kepadanya (ayat 11-12). Di titik ini Daud sadar dan dia berkata, “Aku sudah berdosa kepada Tuhan” (ayat 13). Daud berani membuka diri dengan mengakui dosanya dan menanggung hukuman yang Allah berikan kepadanya.

Perjalanan Daud untuk pulih itu kemudian dia tuliskan dalam mazmur-mazmurnya. Salah satu mazmur yang menggambarkan pergumulan Daud akan dosa-dosanya dapat kita lihat di kitab Mazmur 51.

“Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku” (ayat 3-5).

Mazmur ini diawali dengan seruan: “Kasihanilah aku ya Allah,” Daud menyadari betul bahwa dia hanya bisa pulih oleh belas kasihan Allah. Oleh karena itu dia berseru nyaring kepada Allah untuk mencurahkan belas kasih kepadanya. Kesadaran Daud akan kasih setia Allah itulah yang kemudian membuatnya berani untuk meminta ampun dan memohon Allah menghapuskan segala pelanggarannya seturut kasih setia-Nya.

Dari Daud, kita dapat belajar bahwa ketika kita terjatuh ke dalam dosa, pertolongan pertama dan terbaik adalah mendekat pada Allah dan orang percaya yang dapat membimbing kita. Kita mungkin merasa malu dan jijik, tetapi ingatlah bahwa Allah adalah Allah yang penuh dengan kasih setia dan belas kasih. Dia ingin kita berbalik kepada-Nya karena hanya inilah yang mampu menolong kita lepas dari jeratan dosa.

Seperti Daud yang membutuhkan kehadiran Nabi Natan untuk menegur dan membimbingnya pulih dari dosa, kita pun tidak dapat berjalan sendirian untuk pulih dari dosa. Mungkin Tuhan tidak mengirmkan orang seperti Nabi Natan yang datang dan langsung menegur kita, namun kita bisa membuka diri kita kepada sesama orang percaya yang memiliki kapasitas untuk mendukung kita.

Ketika aku berkomitmen untuk pulih dari dosa, kuakui proses itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Ada rasa malu ketika aku harus berkata jujur tentang dosa-dosaku di hadapan Allah dan saudara seimanku. Namun, proses inilah yang akhirnya menolongku untuk pulih dari jeratan dosa.

Satu hal yang perlu kita ingat: menjauhi Allah dan menyembunyikan dosa itu berbahaya karena kita akan semakin rawan diserang oleh dosa. Namun, kita juga perlu tahu bahwa berbalik kepada Allah membutuhkan kebesaran hati untuk jujur di hadapan-Nya dan sesama orang percaya akan keberdosaan kita, seperti Daud yang bersedia jujur di hadapan Allah dan Nabi Natan. Dari titik inilah perjalanan pemulihan kita akan dimulai.

Jika hari ini kamu sedang terjerembab dalam dosa dan merasa Allah telah menjauh darimu, berdoalah dan nyatakanlah kesungguhan hatimu untuk pulih kepada Allah juga kepada orang percaya yang dapat membimbingmu.

Baca Juga:

3 Alasan untuk Tidak Melakukan Hubungan Seks Sebelum Menikah

Hari-hari ini, bahkan orang Kristen sendiri pun tidak mengerti mengapa—selain “karena sebuah buku kuno berkata tidak”—seseorang memilih untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah.