Posts

Saat Aku Tak Merasa Puas dengan Kehidupanku

Oleh Karen Pimpo, Amerika Serikat
Artikel asli dalam bahasa Inggris: I’ve Arrived. Now What?

Sudah setahun lamanya sejak aku lulus kuliah, dan ada banyak hal yang terjadi! Aku diberkati dengan pekerjaan yang menyenangkan sekaligus menantang, yang berkaitan dengan bidang studiku. Aku tinggal di rumah yang bagus dengan dua temanku. Hidupku dilimpahi kesehatan, juga banyak hal yang baik dan menyenangkan—kebanyakan orang akan mengatakan kalau hidupku itu “sempurna”.

Tapi, sejujurnya aku malu untuk mengakui kalau aku masih bergumul dengan ketidakpuasan. Terlepas dari segala hal baik yang mengisi hidupku, ada masa-masa ketika semuanya itu terasa tidak cukup dan pikiran-pikiran ini memenuhi benakku: Apakah aku terlalu serakah hingga semua berkat ini tidak membuatku puas? Apa yang hilang dari hidupku? Dan pertanyaan yang paling buruk: Sedang menuju ke manakah aku?

Tanpa adanya tujuan yang jelas untuk diperjuangkan, hidupku sekarang ini menjadi stagnan dan tidak stabil. Ada begitu banyak jalan yang mungkin kutempuh di hidupku, tapi sekarang aku telah menyelesaikan kuliahku dan memilih pekerjaan dan kota untukku tinggal, aku berpikir apakah aku sudah membuat keputusan yang tepat. Perjalanan hidupku seolah membawaku kepada sesuatu yang membosankan—kehidupan yang normal sebagai warga kelas menengah di Amerika. Dengan cemas, aku bertanya-tanya apakah aku seharusnya melakukan sesuatu yang lebih luar biasa atau penting atau… berarti?

Penulis kitab Pengkhotbah pernah mengalami situasi yang serupa. Meski dia memiliki kebijaksanaan, status, kekayaan, dan pengaruh, terkadang dia masih saja merasa “segala sesuatu adalah sia-sia” (Pengkhotbah 1:2).

Jadi, apa yang harus kita lakukan ketika kita telah “mencapai segalanya” tapi masih merasa kosong dengan hidup kita?

1. Kembali kepada Dia yang telah mengasihi kita

Aku melihat sebuah iklan yang mengatakan, “Pengalaman adalah kekayaan hidup yang sejati.” Aku suka pengalaman. Aku menikmati perjalanan, konser, dan aktivitas baru. Tapi, beberapa orang yang sangat bijak dan saleh yang kukenal hanya memiliki sedikit pengalaman—namun hidup mereka tetap kaya. Mereka telah belajar bahwa kekayaan sejati dalam hidup ini hanya ditemukan di satu Pribadi yang bernama Yesus.

“Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau,” ungkap sang pemazmur. “Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, jiwaku melekat kepada-Mu” (Mazmur 63:4-7).

Ketika aku merasa khawatir, penghiburanku adalah dengan membaca Alkitab, terutama kitab Mazmur, di mana penulisnya berseru kepada Tuhan dengan rasa sukacita dan sakit yang dia alami. Melalui Alkitab, Tuhan menceritakan kepada kita sebuah kisah tentang kejatuhan manusia dan penebusan yang begitu agung dan indah yang akan membuat segala pengalaman duniawi kita tak sebanding dengannya.

Pengalaman-pengalaman kita mungkin baik, tapi pada akhirnya rasa tidak puas yang kita alami dengan segala pengalaman ini membawa kita kepada yang terbaik—Tuhan yang menciptakan segala pengalaman itu. Adalah Tuhan yang memberikan makna pada setiap hal yang kita lakukan. Dan ketika kita mendasarkan hidup kita pada kisah-Nya, kita tidak perlu lagi mengisi waktu-waktu kita dengar mengejar pengalaman.

2. Berikan kemudi hidupmu kepada Tuhan

Salah satu kekhawatiranku selama masa-masa yang stagnan ini adalah pemikiran bahwa aku mungkin lebih baik pindah mencari sesuatu yang lebih baik daripada diam di tempatku saat ini. Kebanyakan teman-teman kuliahku dulu mendapatkan pekerjaan di kota lain dan pindah merantau. Beberapa ada juga yang pergi ke luar negeri menjadi misionaris, atau mulai membangun keluarga. Mungkin aku juga harus mencari pekerjaan, rumah, atau mimpi baru?

Akulah yang mengendalikan hidupku, yang artinya aku bisa saja mengarahkannya pada arah yang salah. Bagaimana jika aku kehilangan sesuatu dengan hanya berdiam di sini?

Tapi pikiran-pikiran penuh kekhawatiran ini dapat dengan mudah teratasi ketika aku mengingat bahwa sesungguhnya bukan aku yang memegang kendali. Kita semua berkuasa untuk membuat keputusan, tapi tantangan kita sebagai orang Kristen adalah melepaskan kuasa itu. Biarkanlah Tuhan yang menentukan ke mana kamu pergi—Tuhanlah yang seharusnya ada di kursi kemudi!

Aku perlu menyerahkan hidupku kepada Tuhan dengan mengaku kalau aku tidak bisa melakukan ini sendirian. Aku perlu terus-menerus memilih untuk berdiam dalam janji Tuhan daripada ketakutanku. Menyerahkan hidupku pada Tuhan tidak membuatku jadi kurang berdaya. Malahan, itulah yang membawa penghiburan yang besar. Jika Tuhan yang memegang kendali—bukan aku—maka yang seharusnya kulakukan adalah mendengarkan suara-Nya dan mengikuti arahan-Nya.

Mazmur 37:23 mengingatkan kita bahwa, “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya.” Jika aku harus pindah, atau aku harus menetap, Tuhan akan memberitahukannya kepadaku. Tapi, itu tidak berarti kalau Tuhan akan selalu memberikan jawaban yang jelas ketika aku menginginkannya. Aku ingat berapa lama aku mengkhawatirkan saat aku dalam proses memilih mau kuliah di mana; aku marah pada Tuhan karena tidak memberiku kejelasan. Tapi, di waktu yang tepat, Tuhan menolongku melihat bahwa apa yang kupilih itu sesungguhnya adalah baik, dan aku mendapatkan kedamaian atas keputusan yang kuambil. Tuhan membuat langkahku teguh.

3. Santai dan nikmati pemandangan

Ada sebuah adegan dari film The Shack (2017) di mana Mack, si tokoh utamanya, sedang berjalan bersama Tuhan melalui padang rumput yang di sisinya terdapat pohon-pohon. Matahari sedang terbenam dan pemandangannya sangat damai dan indah.

Mack telah berjalan bersama Tuhan selama beberapa lama, dan tidaklah jelas apakah mereka sudah mendekati tujuan akhir atau tidak. Mack merasa sedikit khawatir dan tidak pasti. “Adakah yang mau memberitahuku ke mana kita sedang pergi?” dia bertanya.

“Lihatlah sekelilingmu, Mack,” Tuhan menjawab, menunjuk ke arah pemandangan yang indah. “Jangan lupa untuk nikmati perjalanan.”

Kata-kata itu terasa kuat. Seolah Tuhan sedang berkata, Bisakah kamu menikmati setiap langkah dari perjalanan bersama-Ku? Inilah yang paling sulit buat kulakukan. Aku suka mengendalikan, mengetahui, dan menyiapkan diri. Aku mau melihat peta yang utuh sebelum kita memulai perjalanan. Tapi, itu bukanlah cara Tuhan biasanya bekerja. Dia meminta kita untuk percaya pada-Nya untuk setiap langkah kita.

Aku telah belajar bahwa lebih mudah untuk menemukan sukacita di hal-hal indah dalam kehidupan ini ketika aku percaya Tuhanlah yang menuntunku ke tujuan akhirnya. Ketika aku melakukannya, berkat-berkat yang kutuliskan di awal tulisan ini—pekerjaan yang luar biasa, rumah yang nyaman, teman yang baik—menjadi lebih hidup. Aku menghargai apa yang ada dalam musim hidupku, bukannya merasa khawatir tentang perubahan apa yang akan terjadi di musim mendatang.

Jadi ketika aku merasa khawatir atau gelisah, aku mengingatkan diriku untuk berhenti, melihat sekeliling, dan menikmati perjalanan. Bahkan penulis kitab Pengkhotbah pun menyadarinya, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Ada waktu untuk maju ke depan, dan ada waktu juga untuk berdiam di mana kita berada. Mari kembali kepada Dia, berikanlah kursi kemudi hidupmu pada Tuhan, dan nikmati pemandangan selama perjalanan itu berlangsung.

Baca Juga:

3 Hal untuk Kita Pikirkan Saat Kita Selalu Merasa Tidak Cukup Baik

“Aku tidak cukup baik,” kalimat ini serng jadi reaksi spontan ketika kita diberi pujian atau pengakuan. Kita seolah percaya kalau inilah cara yangsehat untuk menangkal kebanggaan diri atau kesombongan. Tapi, apakah itu benar?

3 Hal Tentang Bersyukur yang Harus Kamu Ketahui

Oleh Stacy Joy, Amerika Serikat
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Thank God I’ve got Fingers and Toes

Pengalaman bertemu dengan orang-orang kusta di India Selatan pada musim panas tahun 2013 adalah kenangan yang tidak akan pernah kulupakan. Waktu itu aku baru berumur 13 tahun dan baru saja membantu keluargaku melaksanakan ibadah bagi beberapa orang Kristen di sana.

Saat mobil yang kutumpangi berguncang di sepanjang jalan pegunungan yang mengerikan, aku memperhatikan jari-jari tanganku dengan detail. Kemudian tatapanku jatuh ke kaki, dan ke jari-jariku. Selama beberapa saat aku berdiam diri dan membiarkan diriku larut dalam lamunan. Aku berbisik lirih, “Terima kasih Tuhan, aku mempunyai jari-jari di tangan dan kaki”

Hari itu, pandanganku tentang bersyukur berubah secara drastis.

1. Bersyukur adalah sebuah cara hidup

Bersyukur kepada Allah bukanlah sekadar doa sebelum makan; mengucap syukur adalah cara hidup. Aku menyadari bahwa di dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang benar-benar terjamin, termasuk juga kedua lenganku. Ketika kami berjalan di antara orang-orang kusta di India, pandanganku tertuju kepada orang-orang yang masih hidup walaupun banyak anggota badannya membusuk. Apa yang kulihat itu menyadarkanku bahwa selama ini aku telah berpikir terlalu sempit. Aku menyadari bahwa aku tidak pernah bersyukur kepada Allah atas hal-hal sederhana, dan berkat-berkat-Nya yang mengelilingiku setiap hari.

Kita bisa mengucap syukur kepada Tuhan atas hal-hal sederhana, seperti: angin sepoi-sepoi, pepohonan, sinar matahari, kaki untuk berjalan, juga mata untuk melihat. Rasa syukur kita atas hal-hal sederhana ini adalah disiplin spiritual. Akan tetapi, sayangnya kita dapat dengan mudah mengabaikan ini. Chuck Swindoll, seorang pendeta yang cukup dikenal di Amerika berkata bahwa mengucap syukur adalah sebuah keputusan yang harus diambil seseorang, dan keputusan ini membutuhkan usaha.

Allah menciptakan kita untuk menghidupi kehidupan yang penuh ucapan syukur. Rasul Paulus dalam tulisannya di 1 Tesalonika 5 memanggil orang-orang percaya untuk mengucap syukur dalam segala keadaan. Panggilan ini bukan sekadar gagasan untuk menolong diri sendiri. Paulus tahu bahwa rasa syukur memiliki dampak yang besar untuk jiwa kita. Secara psikologis maupun spiritual, rasa syukur dapat mengurangi stres, kegelisahan, dan juga kekhawatiran.

2. Bersyukur dapat menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran

Saat ini aku sedang berusaha untuk meraih gelar yang lebih tinggi dalam bidang konseling. Semakin aku belajar, semakin aku menyadari bahwa melatih diri untuk menjalani kehidupan yang penuh rasa syukur adalah salah satu cara terbaik untuk menghilangkan kekhawatiran, ketakutan, dan kegelisahan. Rasa syukur bukanlah sekadar alat psikologis. Akan tetapi, rasa syukur adalah sebuah realitas spiritual yang dibahas oleh Rasul Paulus dalam Filipi 4:6: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

Ayat tersebut tidak berakhir berakhir begitu saja. Setelah kita menyatakan segala keinginan dan kekhawatiran kita kepada Allah, serta menunjukkan kepercayaan kita akan kedaulatan Allah, maka damai sejahtera yang melampaui segala akal akan diberikan kepada kita! (Filipi 4:7). Ini adalah janji yang indah, janji yang begitu kuat.

3. Bersyukur mengubah cara kita memaknai tantangan hidup

Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta dan teolog Jerman yang dibunuh di kamp konsentrasi Nazi karena melawan Hitler pernah berkata, “Hanya oleh rasa syukur saja kehidupan ini menjadi kaya.” Jika seorang seperti Bonhoeffer yang hidup dan disiksa di kamp penyiksaan bisa berkata-kata demikian, maka terlebih lagi kita semua. Kita diminta untuk mengingat semua hal—baik itu besar ataupun kecil—yang telah Allah berikan kepada kita, dan mengucap syukur kepada Allah atas segala hal tersebut.

John MacArthur, seorang pendeta dan penulis merangkumnya dengan tepat: “Hati yang bersyukur…sangat berbeda dengan kebanggaan, keegoisan, dan kekhawatiran. Hati yang bersyukur itu menolong orang-orang percaya untuk bersandar sepenuhnya pada Tuhan, bahkan dalam masa-masa yang paling berat sekalipun. Tak peduli seberapapun berombaknya lautan, hati orang percaya dapat tetap tenang karena pujian dan rasa syukur yang tulus kepada Tuhan.”

Di bulan ini, maukah kamu bergabung denganku untuk mengucap syukur kepada Allah atas hal-hal yang berbeda setiap harinya? Cobalah ikuti tantangan ini sejenak. Aku percaya bahwa dengan mengucap syukur kamu dapat melihat keindahan di tengah rasa sakit, penderitaan, bahkan dalam hidup sehari-hari yang terasa membosankan.

Baca Juga:

Aku Merasa Cacat Karena Kelainan Mata, Namun Inilah Cara Tuhan Memulihkan Gambar Diriku

Tumbuh besar sebagai seorang perempuan dengan kelainan mata sempat membuatku minder dan bertanya-tanya: Jika Tuhan mengasihi anak-Nya, apakah mungkin Dia memberikan sesuatu yang begitu pahit untuk ditelan?

1 Perjalanan yang Menginspirasiku untuk Berkarya bagi Indonesia

Satu-Perjalanan-yang-Menginspirasiku-untuk-Berkarya-bagi-Indonesia

Oleh Claudya Tio Elleossa, Surabaya
Foto oleh Aryanto Wijaya

Suatu ketika, tatkala aku sedang menjelajah media sosialku, ada seorang teman yang mengungkapkan kekecewaannya dengan mengumbar kritik-kritik tak sedap. Nama “Indonesia” pun dia pelesetkan dengan ejaan yang salah. Ketika kutanya mengapa, dia berkata bahwa kritikan pedas itu adalah satu-satunya cara berkontribusi bagi negeri ini. Jawaban itu kemudian membuatku terdiam tak habis pikir. Jika memang kita “hanya bisa bersuara”, mengapa tidak kita berikan saran dan bukan kecaman?

Momen ini mengingatkanku kembali akan pergumulanku dulu ketika memulai karier sebagai seorang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN). Sebagai seorang guru, aku ingin mengemas pelajaran PKN supaya murid-muridku nantinya tidak sekadar menghafal, tetapi juga belajar untuk memiliki hati yang mau mencintai tanah airnya. Oleh karena itu, sebelum aku benar-benar mengajar mereka, aku memutuskan untuk terlebih dahulu belajar mengenal negeriku Indonesia lebih dekat.

Bak gayung bersambut, tepat di bulan Juni 2015, aku diterima menjadi seorang relawan dalam sebuah program pelayaran. Tugasku waktu itu adalah mengajar di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Program ini diprakarsai oleh pemerintah Indonesia untuk menumbuhkan semangat dan rasa cinta tanah air bagi tiap pesertanya. Bersama 9 orang relawan lainnya, aku ditempatkan di sebuah pulau kecil bernama Keramian yang membutuhkan waktu tempuh selama 22 jam berlayar dari daratan Jawa.

Tidak ada dermaga di pulau itu. Jadi, kapal besar yang kami tumpangi harus membuang sauh di tengah-tengah lautan, kemudian kapal-kapal kecil milik nelayan setempat menjemput kami. Satu per satu logistik dan relawan berhasil dipindahkan dari kapal besar ke perahu nelayan. “Ini baru namanya perjuangan orang pulau terluar!” gumamku dalam hati.

Dokumentasi oleh Claudya Elleossa

Dokumentasi oleh Claudya Elleossa

Selama mengajar di sana, segala kenyamanan yang biasa aku temui di Jawa harus kutinggalkan. Jika di Jawa listrik bisa menyala kapanpun, di sini listrik hanya berfungsi selama 4 jam saja dalam sehari. Tak ada bahan pangan yang melimpah, dan juga kondisi sekolah-sekolah memprihatinkan. Apa yang kulihat di depan mataku adalah sebuah ironi. Di negeri yang kutinggali ini, ada terlalu banyak kondisi yang tidak ideal. Lalu, siapa yang dapat membenahinya? Aku rasa orang hebat atau pejabat pun tidak akan bisa membenahi permasalahan ini. Saat itu aku melamun, merasa amat kecewa dan tidak tahu apa yang harus kuperbuat.

Di tengah lamunanku, ada sekelompok anak mendekatiku dan mengajakku berbincang-bincang. Dengan antusias, mereka bertanya tentang banyak hal: Apa itu kuliah? Bagaimana kondisi sekolah di pulau Jawa? Setelah aku menjawab mereka dengan bercerita, sekarang giliran mereka yang bercerita. Kata mereka, setiap kali menjelang Ujian Nasional, mereka akan menabung hingga beberapa bulan sebelumnya untuk menyewa kapal penjemput soal-soal agar mereka dapat mengikuti Ujian Nasional. “Yang penting kami bisa lanjut sekolah kak, kalau harus sewa kapal, ya udah sewa aja,” kata mereka dengan polosnya. Cerita mereka membuatku terdiam. Di tengah keterbatasan akan akses pendidikan, alih-alih berdiam diri, mereka rela menabung dan menyewa kapal demi bisa mengikuti Ujian Nasional.

Dokumentasi oleh Claudya Elleossa

Dokumentasi oleh Claudya Elleossa

Potongan percakapanku dengan anak-anak di Pulau Keramian ini membuatku akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaanku selama ini: Bagaimana cara mencintai negeri ini? Jawabannya adalah dengan berani bertindak. Sebenarnya, dengan keterbatasan akses pendidikan, mereka bisa saja tidak mengikuti Ujian Nasional. Mereka bisa saja menyalahkan pihak lain atas keterbatasan akses yang mereka miliki. Tapi, alih-alih melakukan itu semua, mereka lebih memilih untuk bertindak. Alih-alih mengutuki kegelapan, mereka memilih untuk menyalakan sebuah lilin untuk mengusir kegelapan itu.

Dokumentasi oleh Claudya Elleossa

Dokumentasi oleh Claudya Elleossa

Di banyak seminar-seminar motivasi tentang kesuksesan, mungkin kita tidak asing dengan saran dan dorongan untuk bertindak. Tapi, siapa sangka bahwa motivasi untuk mau bertindak ini juga berlaku untuk mengungkapkan bahasa cinta kita kepada tanah air?

Pengkhotbah 11:4 berkata, “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.” Sikap yang kita butuhkan saat ini adalah kemauan untuk bertindak. Daripada melontarkan kritik-kritik pedas penuh kutuk tanpa aksi, lebih baik kita mulai melakukan satu tindakan nyata.

Sumbangsih yang bisa kita lakukan bisa kita mulai dari talenta yang Tuhan telah berikan kepada kita dan juga dimulai dari tempat di mana kita berada saat ini. Aku yakin bahwa Tuhan tidak pernah meminta apa yang tidak Dia berikan pada kita. Dengan talenta yang Dia sudah percayakan, Dia ingin kita mengusahakan kesejahteraan negeri tempat kita tinggal sekarang (Yeremia 29:7). Jika talenta kita adalah menulis, Tuhan tidak akan meminta kita untuk merancang sebuah pesawat terbang. Jika talenta kita adalah di bidang Arsitektur, Tuhan tidak akan menuntut kita untuk merancang pakaian layaknya desainer terkenal. Lakukanlah apa yang memang kita bisa.

Perjalanan yang kulakukan selama beberapa waktu di Pulau Keramian itu menginspirasiku untuk mulai melakukan tindakan-tindakan kecil tetapi nyata sebagai wujud kontribusiku untuk Indonesia.

1. Aku jadi lebih giat mendidik generasi muda melalui profesiku sebagai guru

Pengalaman mengajar anak-anak di sana membuatku jadi lebih lagi menghayati profesiku sebagai seorang guru. Jika dahulu aku mengaggap guru sebagai pekerjaan yang biasa saja, sekarang aku menyadari bahwa pekerjaan ini adalah ladang yang memang Tuhan percayakan kepadaku—ladang untukku menunjukkan cinta dan mengusahakan kesejahteraan bangsaku dengan mengajari anak didikku. Sebagai seorang guru, aku tahu betul bahwa aku sedang berinvestasi pada generasi muda penerus bangsa. Kepada merekalah masa depan bangsa ini dipercayakan.

2. Aku giat menulis

Selain mengajar, salah satu talenta yang Tuhan berikan kepadaku adalah menulis. Melalui menulis, aku belajar untuk mengungkapkan opini serta saranku atas suatu fenomena yang terjadi lewat tulisan-tulisan. Dengan menulis, aku juga belajar melatih diriku untuk berpikir kritis serta menggugah semangatku untuk mencintai Indonesia.

3. Aku bergabung dengan komunitas dan menjadi relawan

Belakangan ini, aku juga bergabung dengan komunitas pembuat video yang bergerak menyebarluaskan pesan positif melalui karya audio visual. Caraku lainnya untuk bersumbangsih bagi Indonesia adalah melalui keikutsertaan sebagai relawan. Beberapa waktu lalu, aku mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi non-pemerintah (NGO) dari Singapura. Organisasi itu menugaskanku untuk menyebarluaskan kesadaran atau awareness terhadap pemberdayaan wanita di daerah pelosok Indonesia, serta mengedukasi mereka untuk beralih menggunakan lampu hemat energi daripada lampu pijar minyak.

4. Aku membuat proyek sosial

Dalam lingkup yang lebih kecil, aku membuat konsep proyek sosial yang kuberi judul “As Their Wish”. Melalui proyek ini, aku berusaha memberikan barang-barang yang memang dibutuhkan oleh para lansia di sana. Proyek kecil yang kulakukan di sini adalah salah satu upayaku untuk berlatih peka terhadap lingkungan sosial di sekitarku. Tuhan sudah menempatkanku di Indonesia. Oleh karena itu, sudah selayaknya aku mencintai negeri ini lewat hal-hal kecil yang bisa kulakukan sesuai dengan kapasitasku saat ini.

Mungkin tindakan-tindakan yang kita lakukan terlihat remeh, tetapi aku selalu yakin bahwa tugas kita adalah untuk melakukan sesuatu. Selama itu positif dan sesuai dengan kehendak Tuhan, kita dapat percaya bahwa ada daya guna di baliknya. Walaupun signifikansinya kecil, walaupun lingkupnya hanya lokal, tetapi—sekali lagi, itu lebih baik dari sikap berpangku tangan.

Mungkin saat ini kita memiliki banyak harapan terhadap bangsa kita. Di saat yang sama, kita tidak menutup mata bahwa masih banyak hal yang perlu dibenahi dari Indonesia. Mungkin kita bisa saja merasa kesal dan kecewa. Tetapi, seperti pesan dari kitab Pengkhotbah: Marilah kita berhenti sekadar memperhatikan dan mulailah bertindak. Mulailah satu langkah kecil sesuai dengan apa yang Tuhan sudah percayakan pada kita. Jangan sampai kita piawai berekspektasi tetapi lumpuh dalam mengeksekusi.

Baca Juga:

Ketika Tuhan Mengizinkan Hal-hal yang Kurang Baik Terjadi

Aku mengernyit ketika seorang temanku berkata bahwa dia tidak pernah mengalami momen menyedihkan di hidupnya. Dalam hati, aku jadi bertanya, “Luar biasa sekali jika hidupnya selalu bahagia. Tapi, masa sih? Atau, mungkin memang ada orang yang hidupnya seperti itu ya, Tuhan?”

Bersyukur Untuk Indonesia

bersyukur-untuk-indonesia-instagram

Hai, Sobat Muda!

Bulan ini, Indonesia kita tercinta akan genap 72 tahun merdeka. Di tengah segala permasalahan yang ada di negeri ini, sebenarnya ada banyak hal baik yang ada di negeri ini yang patut kita syukuri. Bagimu, apakah satu hal yang kamu syukuri dari Indonesia?

Yuk bagikan kesaksianmu dalam kampanye #BersyukurUntukIndonesia

Bagaimana caranya?

Pikirkan satu hal yang kamu syukuri dari Indonesia.
Unggah foto hasil jepretanmu yang berkaitan dengan hal yang kamu syukuri tersebut ke akun Instagrammu (contoh: foto keindahan alam Indonesia, ragam budaya, lingkungan sekitarmu, dan lain-lain).
Ceritakan hal yang kamu syukuri tersebut di bagian caption.
– Sertakan hashtag #BersyukurUntukIndonesia dan #WarungSaTeKaMu
– Di akhir caption, mention 3 orang temanmu dan ajak mereka melakukan hal yang sama.
Follow dan tag akun Instagram @warungsatekamu.

Foto dan caption yang terpilih akan direpost oleh akun Instagram @WarungSaTeKaMu.

Syarat foto & caption:
– Bukan foto gabungan (photo collage).
– Bukan foto selfie.
– Orisinal.
– Sopan dan sesuai dengan nilai firman Tuhan.
– Setiap foto yang diunggah merupakan tanggung jawab masing-masing pengunggah.
– Boleh unggah lebih dari satu foto / post.

Mari kita #BersyukurUntukIndonesia !

bersyukur-untuk-indonesia-writers

Di usia negeri kita yang ke-72 tahun, apa yang sudah kamu perbuat untuk Indonesia? Ayo, tuliskan cerita tentang harapan dan kontribusimu bagi tanah air dalam bentuk artikel sepanjang 600-800 kata. Kirim tulisanmu ke kirim@warungsatekamu.org, cantumkan hashtag #BersyukurUntukIndonesia di subjek emailmu. Batas akhir pengumpulan tulisan sampai hari Jumat, 11 Agustus 2017.

Ketentuan umum:
– Semua tulisan yang dikirimkan harus merupakan karya pengirim sendiri. Kami menerima kiriman artikel yang sudah pernah dikirimkan atau dimuat di media lain, namun perlu diingat bahwa semua kontribusi yang masuk akan melewati proses penyuntingan sebelum dimuat di situs web kami.
– Gunakan nada tulisan yang bersahabat. Hindari nada yang mengkhotbahi, merendahkan, memojokkan orang lain. Tulisan yang menyinggung orang lain, tidak sopan, dan kasar, tidak akan dimuat.
– Tulisan harus menceritakan karya apa yang sudah kamu perbuat dan apa harapanmu untuk Indonesia
– Tulisan harus memberi semangat, dorongan, inspirasi, atau menantang dan menggugah pemikiran kritis dengan cara yang penuh kasih.

Ketentuan khusus:
– Panjang tulisan berkisar 600-800 kata.
– Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
– Tulisan harus mengaitkan kebenaran Alkitab dengan pengalaman penulis. Ditulis dengan sudut pandang orang pertama (aku) atau ketiga (kita).
– Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu tulisan.
– Setiap karya akan ditampung dahulu dan melalui penyuntingan seperlunya sebelum ditampilkan di situs ini.

Tulisan terpilih akan dimuat di situs WarungSaTeKaMu.org.

Ayo, bagikan kisahmu dan jadilah inspirasi bagi bangsa kita.

Mengapa Aku Tidak Puas dengan Hidupku?

Mengapa-Aku-Tidak-Puas-dengan-Hidupku-

Oleh Priscilla Stevani
Artikel asli dalam bahasa Inggris: A Life Lesson in an Elevator

Suatu pagi, aku sedang turun dari lantai 27 menggunakan lift.

Di lantai 19, lift itu berhenti. “Selamat pagi,” sapa seorang turis kepadaku sembari membawa segala barang bawaannya. “Selamat pagi” jawabku sambil tersenyum. “Andai saja aku bisa seceria turis ini dan libur seharian,” pikirku saat itu.

Lift yang kutumpangi berhenti lagi di lantai 15. Seorang anak sekolah dan ibunya memasuki lift. “Andai saja aku bisa bertukar posisi dengan anak sekolah ini,” pikirku kembali. Aku yakin bahwa setidaknya hidup anak ini masih lebih mudah dibandingkan hidupku. Toh, yang perlu dikhawatirkan anak ini kurasa hanya hal-hal sepele seperti pekerjaan rumah, ujian, dan pacar mereka.

Lift yang kutumpangi kembali berhenti untuk ketiga kalinya. Kali ini lift berhenti di lantai 10. Seorang pria yang memakai jas memasuki lift. Pria ini membawa koper dan ekspresi wajahnya terlihat lelah. Aku berpikir bahwa mungkin hidup pria ini masih lebih baik dibandingkan hidupku. Sudah lama sebenarnya aku ingin menjadi seorang pegawai kantoran yang punya jam kerja tetap, cukup duduk di kursi sambil menatap layar komputer. “Setidaknya pria ini tidak usah bekerja ketika shift malam di rumah sakit atau bekerja 24 jam tanpa henti dalam sekali waktu,” pikirku.

Tidak pernah ada hari yang santai apabila kamu bekerja di rumah sakit. Aku merasa sangat stres karena pekerjaanku ini berhubungan dengan keselamatan nyawa manusia. Sebagai dokter, aku harus mengambil keputusan yang menyangkut nyawa seseorang, dan akupun harus bertanggungjawab atas keputusan itu. Kadang, ketika aku sudah sampai di rumah, aku masih bertanya-tanya di dalam hati apakah aku sudah membuat keputusan yang tepat? Apakah aku sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawa mereka? Adakah kesalahan yang kubuat? Pikiran-pikiran seperti ini seringkali membuatku merasa semakin lelah.

Tidak biasanya lift yang kutumpangi begitu ramai. Di tengah kepadatan itu, aku mengamati orang-orang di sekitarku dan membayangkan apabila aku berada di posisi mereka. Tapi, aku bertanya-tanya, apakah mereka juga berpikir sepertiku? Bisa saja anak sekolah itu berpikir bahwa hidup orang lain masih lebih baik dari hidupnya sendiri. Atau mungkin saja pegawai kantoran itu berharap untuk menjadi seperti diriku.

Lalu aku pun terpikir: Apakah aku tidak bersukacita karena aku terus membandingkan hidupku dengan hidup orang lain? Di dalam Amsal 14:30 tertulis: Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang. Suka membanding-bandingkan malah membuatku merasa tidak pernah puas dengan hidupku. Bukan manfaat yang kudapat, tapi hanya rasa lelah yang semakin menjadi. Ketika kita tidak puas dengan hidup kita dan terus-menerus membandingkannya dengan hidup orang lain, kita malah akan semakin tidak bersukacita. Kita akan gagal menyadari bahwa Tuhan memberikan kepada setiap orang masing-masing salib yang harus ditanggungnya.

Pada saat itulah aku sadar bahwa aku harus berhenti membanding-bandingkan hidupku dengan hidup orang lain. Aku cukup fokus menanggung beban yang telah Tuhan berikan kepadaku. Memang tidak mudah, tapi aku tahu bahwa Tuhan pasti menolongku. Aku juga menyadari bahwa ketika aku berhenti mengecek akun media sosialku serta berhenti membandingkan hidupku dengan apa yang kulihat di sana, itu menolongku untuk berhenti membanding-bandingkan diriku dengan orang lain.

Ketika pintu lift terbuka di lantai dasar, suara langkah kaki dari orang-orang yang keluar membuatku melirik ke sepatu yang tengah kupakai. Ada tanggung jawab yang harus kuemban. Ada salib yang harus kupikul. Namun, aku bersyukur karena aku tahu aku tidak akan pernah sendiri. Ada Yesus yang selalu menyertaiku.

Baca Juga:

Tantangan Mengasihi Keluargaku yang Berbeda Denganku

Kita tidak bisa memilih untuk dilahirkan oleh siapa dan dari keturunan apa. Akupun demikian. Aku tidak pernah memilih untuk lahir dari kedua orangtua yang memiliki keyakinan iman berbeda. Awalnya, kehidupan keluarga kami baik-baik saja hingga terjadilah sebuah peristiwa yang mengubahkan kehidupan kami.

Waktu Terbaikku

Oleh: Dewi Simanungkalit

Waktu-Terbaikku

Kala pagi menjelang, ku buka jendela
rasakan hangatnya sinar surya
terpesona kunaikkan doa
memuji-Mu, Sang Pencipta
atas karya-Mu yang luar biasa

Kala senja menjelang, ku teduhkan kalbu
renungkan hari yang baru berlalu
terkagum kunaikkan syukurku
memuji-Mu ya Tuhanku
atas penyertaan-Mu setiap waktu

Ahhhhh… betapa berharganya
kesempatan-kesempatan dalam genggaman
menikmati indah-Mu
berbincang akrab dengan-Mu
waktu-waktu terbaikku
adalah waktu dekat-Mu

Pikiran Orang yang Selamat

Jumat, 15 Mei 2015

Pikiran Orang yang Selamat

Baca: Roma 9:1-5

9:1 Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus,

9:2 bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati.

9:3 Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.

9:4 Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji.

9:5 Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!

Aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku. —Roma 9:3

Pikiran Orang yang Selamat

Setelah seorang wanita asal Korea Selatan yang telah berusia 71 tahun diselamatkan dari sebuah kapal feri yang sedang tenggelam, ia bergumul dengan rasa bersalah karena berhasil selaMat. Saat masih berbaring di rumah sakit, ia mengatakan bahwa ia tidak merasa pantas selamat dari sebuah kecelakaan yang telah merenggut jiwa banyak orang yang lebih muda darinya. Ia juga menyesal karena tidak mengetahui nama seorang pria muda yang telah menariknya keluar dari air setelah ia merasa putus asa. Ia menambahkan, “Aku ingin membelikannya makanan, atau menggenggam tangannya, atau sekadar memeluknya.”

Wanita yang memiliki hati untuk memperhatikan orang lain tersebut mengingatkan saya akan Rasul Paulus. Paulus begitu peduli pada keadaan sesama dan kaum sebangsanya sehingga ia berharap bisa menukar hubungan pribadinya dengan Kristus demi keselamatan mereka. “Aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani” (Rm. 9:2-3).

Paulus juga mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam. Ia sadar bahwa ia tidak memahami jalan dan maksud Allah (ay.14-24). Jadi, di tengah usahanya untuk terus-menerus mengabarkan Injil kepada semua orang, ia juga menikmati damai sejahtera dan sukacita dalam mempercayai maksud hati Allah yang jauh mengasihi seluruh isi dunia melebihi kasih yang dapat kita berikan. —Mart DeHaan

Tuhan Allah, cara-cara-Mu jauh melampaui pemahaman kami. Namun kami tahu pasti bahwa Engkau mengasihi kami. Tolong kami untuk mempercayai maksud hati-Mu yang penuh kasih untuk hal-hal yang tidak kami mengerti.

Sikap yang penuh syukur kepada Allah membawa kita bertumbuh dalam
kekudusan.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 22-23; Yohanes 4:31-54

Bersyukur untuk Anugerah-Nya

Seri Kesaksian Atlet

Cyrille Domoraud
 

Terlahir di Pantai Gading, Cyrille Domoraud besar di tengah budaya perdukunan yang sangat pekat. Saat ia muda, ia sering bertanding dengan mengenakan cincin sebagai jimat keberuntungan—satu dari banyak jimat yang dimilikinya—dengan harapan bisa memberinya perlindungan bagi jiwanya dan mengusir roh-roh jahat. Namun lewat kesaksian dari saudara perempuannya, Domoraud menjadi seorang pengikut Kristus dan melepaskan diri dari masa lalunya yang penuh takhyul.

Pada saat itu karirnya di lapangan hijau sedang menanjak. Setelah bermain bagi beberapa klub di Perancis, ia kemudian menghabiskan satu musim bersama raksasa Seri A Italia, Inter Milan, sebelum bermain bagi beberapa klub lain di Perancis, Spanyol, Turki, dan akhirnya kembali ke Pantai Gading. Musim profesionalnya yang terakhir dihabiskan bersama klub Africa Sports Abidjan.

Bagi Domoraud, Piala Dunia 2006 di Jerman memberikan pengalaman yang terhebat sekaligus tantangan tersulit yang pernah dialaminya dalam karir di lapangan hijau. Sebagai seorang pemain belakang dan kapten dari tim nasional Pantai Gading, ia berhasil membawa tim yang dijuluki Les Éléphants (Para Gajah) menuju ke Piala Dunia mereka yang pertama, suatu peristiwa bersejarah yang mendorong terjadinya gencatan senjata dalam perang bersaudara yang telah berlangsung enam tahun di negaranya.

Namun, Domoraud justru tidak dimainkan dalam dua pertandingan pertama—dua kekalahan tipis dari Argentina dan Belanda—lalu harus menerima kartu merah dalam pertandingan grup mereka yang terakhir, sebuah kemenangan atas Serbia dan Montenegro.

“Benar-benar suatu pukulan telak, ketika sepertinya semua kerja kerasku tidak menghasilkan apa-apa,” ujar Domoraud. Tetapi kemudian ia tersadar bahwa keberadaannya dalam kejuaraan itu sendiri adalah anugerah Allah. Sebab itu, daripada marah atau mengeluh, Domoraud lebih memilih untuk bersyukur: “Aku bahagia bisa bermain di Piala Dunia dan bersyukur pada Allah yang telah mengizinkanku mengambil bagian dalam perhelatan itu, karena Dialah yang memampukan aku untuk bermain di sana.”

Belakangan, pemain kawakan ini memberikan waktu yang lebih banyak kepada Pusat Pelatihan Cyrille Domoraud di Abidjan yang telah menghasilkan banyak pesepakbola andal. Salah satu jebolan pusat pelatihan ini adalah penyerang Wilfried Bony (Swansea City, Liga Primer Inggris). Sekalipun kejadian yang dialami Domoraud pernah membuatnya frustrasi untuk sementara waktu, namun ia akan selalu diingat oleh warga Pantai Gading sebagai bagian dari tim hebat yang pernah bertanding dalam Piala Dunia di Jerman.

“Sungguh ajaib—suatu momen luar biasa yang diberikan-Nya dalam hidupku dan karirku,” kata Domoraud mengenang ajang Piala Dunia tersebut. Baginya, itu adalah bagian dari rencana Allah membentuk dirinya.

“Aku tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang pemain sepakbola profesional,” tuturnya. “Ini semua karena pimpinan Allah saja. Jadi daripada mempertanyakan segala hal negatif yang telah terjadi, aku mau mengucap syukur kepada Allah untuk kesempatan menjadi bagian dari Kerajaan-Nya dan bermain di Piala Dunia.”

Sumber: Sports Spectrum

 

🙂 Untuk direnungkan

1. Apa yang menjadi momen paling sulit dalam hidupmu?

2. Bagaimana kamu melihat Allah membentuk hidupmu melalui pengalaman itu?