Posts

‘Kesombongan’ Terselubung di Balik Bersyukur

Oleh Paramytha Magdalena

Suatu ketika aku mendengar seseorang berkata, “Aku bersyukur karena keadaanku tidak seperti si A atau si B. Aku bersyukur masih diberikan kesehatan, setidaknya nggak pernah mengalami sakit yang separah itu.”

Di media sosial pun serupa. Di postingan yang bernada penderitaan dan pilu, beberapa warganet mengetikkan, “Ya ampun, lihat postingan ini membuatku jadi lebih banyak bersyukur karena aku masih berkecukupan dan tidak kekurangan.”

Kupikir cuma orang lain saja yang bersyukur dengan cara tersebut, sampai suatu ketika aku dan suamiku sedang berkendara di atas sepeda motor. Di sudut jalan, tampak seorang ibu dan anak yang sedang berjalan kaki sambil meminta-minta di tengah cuaca yang panas. Tanpa sadar, aku berkata, “Puji Tuhan ya, kita masih diberi kecukupan sampai sekarang.” Ucapan syukur sejenis ini pun rupanya terucap lagi ketika aku melihat salah satu anggota dari keluarga besarku mengalami kekacauan rumah tangga yang mengakibatkan anak mereka terlantar secara finansial. “Puji Tuhan ya, kita masih diberi kerukunan.”

Setelah reflek ucapan itu keluar dari mulutku, aku terdiam sejenak. Aku merasa ada yang salah di balik ungkapan syukur itu.

Secara sekilas, mungkin perkara ucapan syukur ini bukan menjadi masalah yang berarti. Bukankah sudah sewajarnya orang bersyukur atau berterima kasih pada Tuhan? Dan bukankah pula bersyukur itu hal yang baik dan positif untuk dilakukan?

Namun, tujuan yang baik bila dilakukan dengan cara yang salah bisa saja hasilnya pun jadi melenceng. Merenungkan pertanyaan itu, aku mendapat teguran keras dari firman Tuhan. Ada banyak nats yang mengatakan tentang ucapan syukur. Salah satunya dari 1 Tesalonika 5:18 yang berkata, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Kita tidak diminta mengucap syukur karena suatu hal, semisal karena kita melihat orang lain lebih kurang beruntung daripada kita. Kita diminta mengucap syukur dalam segala hal. Artinya, kita mengucap syukur secara otentik, suatu ucapan syukur yang seharusnya datang dari hati atas setiap berkat, sekecil apa pun itu yang diberikan Tuhan bagi kita.

Terkadang kita tak mampu menyelami misteri kasih Ilahi. Allah, dalam hikmat dan kebijaksanaan-Nya pastilah memberikan berkat dan mengizinkan tantangan yang sesuai dengan kemampuan anak-anak-Nya. Adalah hal yang ganjil apabila kita menjadikan penderitaan orang lain sebagai alasan kita bersyukur, sebab itu justru malah melahirkan kontradiksi: di satu sisi kita seolah ‘mendekat’ pada Tuhan, tapi di sisi yang lain itu menjauhkan kita dari sesama.

Kuakui bahwa motivasiku ketika mengucap syukur tidaklah tepat, dan syukur kepada Allah atas teguran yang Dia berikan bagiku. Kekurangan orang lain tidak seharusnya kita jadikan bahan perbandingan, tetapi dengan mengikuti teladan Kristus, kita bisa menyelidiki bagian apakah yang bisa kita lakukan untuk menolong mereka?

Kita mengucap syukur bukan karena hidup kita lebih baik daripada orang lain.

Kita mengucap syukur karena Allah itu baik. Pribadi-Nya selalu hadir dan ada bagi kita.

Kita mengucap syukur karena kita ada oleh perkenanan-Nya.

Mengucap syukur yang berpusat pada Allah, itulah yang dikehendaki-Nya.

Aku pun mulai belajar bersyukur dengan cara yang tepat, meskipun masih jatuh dan bangun.

Baca Juga:

Bukan dengan Amarah, Ini Seharusnya Cara Kita Menghadapi Komentar Jahat di Media Sosial

Komentar-komentar jahat yang dilontarkan di medsos seringkali membuat kita tergoda ingin membalas atau mengumpat. Namun, itu bukanlah cara yang paling tepat untuk menanggapinya.

Resolusiku: Belajar Mengapresiasi Diri

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Novita, terima kasih sudah tampil perkasa di dalam menjalani dan mengakhiri tahun 2019.
Terima kasih boleh tetap kuat dan teguh dalam menjalani setiap peran yang Dia percayakan.
Terima kasih sudah mau berjuang melawan kebobrokan-kebobrokanmu yang terus terulang.
Terima kasih Novita, sampai bertemu di tahun 2020.
Tetaplah menjadi Novita yang mau berjuang!

Pernyataan di atas adalah pernyataan yang sering aku katakan kepada diriku akhir-akhir ini. Mungkin bagi beberapa orang pernyataan di atas seperti sedang membanggakan diri sendiri, merasa bahwa apa yang telah terjadi di 2019 atas hidupku karena kekuatanku sendiri.

Tapi, tentu bukan itu yang dimaksud. Menyatakan hal-hal di atas tujuannya bukan untuk membanggakan diriku yang ada bisa tiba sampai di titik ini. Bagiku sendiri ungkapan di atas tentunya bukan hal yang mudah untuk aku katakan di awal. Melihat perjalanan selama 2019, banyak hal yang telah gagal aku lakukan untuk menyenangkan hati-Nya, banyak pergumulan yang aku coba selesaikan sendiri, banyak dosa yang aku toleransi. Sungguh sebenarnya di tahun 2019 seperti tahun yang sangat berat bagiku.

Aku berani untuk menyatakan hal-hal di atas ketika Tuhan menyapaku lewat saat teduhku di suatu pagi.

“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar” (1 Korintus 6:20).

Di buku renungan itu disampaikan, mungkin saat ini aku merasa hidupku penuh cela, lapuk, tua, atau tidak berguna lagi. Tapi, Allah tetap memandang diriku bernilai. Sang Pencipta alam semesta ini menginginkanku—bukan karena pikiran, tubuh, pakaian, pencapaian, kepandaian, atau kepribadianku, melainkan karena diriku sendiri. Dia rela menempuh apa pun dan membayar harga berapa pun untuk mendapatkanku.

Tuhan sungguh telah melakukannya. Dari surga, Dia datang ke dunia untuk menebusku dengan darah-Nya sendiri (Roma 5:6,8-9). Sedemikian besar keinginan-Nya untuk memilikiku. Aku sungguh berharga di mata-Nya, dan Dia mengasihiku.

Saat teduhku pagi itu menyapaku sangat tajam dan meneguhkan aku kembali, bahwa aku sangat berharga bagi-Nya. Mungkin saat itu banyak hal yang aku lakukan mendukakan hati-Nya, tetapi Dia tidak membiarkan aku begitu saja. Dia tetap menganggap aku berharga di mata-Nya, Dia tetap mengasihiku. Itulah yang membuat aku pun harus mengasihi diriku.

Saat itu hal yang aku pilih untuk mengasihi diriku adalah dengan mengatakan hal-hal di awal tadi. Bagiku, dengan menyatakannya aku sedang mengapresiasi diriku sendiri. Sederhana dan menguatkan.

Dengan mengapresiasi diriku yang telah dibayar lunas dan berharga di mata-Nya, itu memudahkanku untuk mengucap syukur kepada Allah atas orang-orang yang sudah hadir di dalam kehidupanku.

Orang-orang yang hadir di dalam kehidupanku tentu sangat beragam dan mereka pun sama berharganya di mata Allah. Apa pun latar belakang, kondisi, karakter mereka, mereka punya porsinya masing-masing memberi peran di dalam hidupku. Sehingga ketika aku pun dikecewakan oleh mereka, aku juga harus sadar bahwa aku pun pernah mengecewakan mereka bahkan Allah sendiri.

Sahabat, memulai tahun yang baru ini, sudahkah kamu mengapresiasi dirimu yang sudah dimampukan Tuhan untuk tangguh melewati tahun yang telah berlalu? Atau kamu sedang sibuk menyalahkan dirimu untuk kesalahan-kesalahan yang telah kamu lakukan di tahun yang lalu?

Mari bersama memilih untuk mengapresiasi diri sendiri sebagai rasa ungkapan syukur kita kepada Allah sehingga kita juga dimampukan untuk mengapresiasi orang disekitar kita.

“Engkau berharga di mata-Ku, Aku menghargai dan mengasihi engkau” (Yesaya 43:4a, BIS).

Baca Juga:

Bukan Resolusi Kembang Api

Semangat memulai sesuatu yang baru sering mirip kembang api. Heboh dan meriah, tapi cuma sesaat. Lantas, bagaimana supaya resolusi tahun baru bisa terlaksana?

Sudahkah Kamu Merasa Cukup?

Hari ke-26 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi
Baca Konteks Historis Kitab Filipi di sini

Baca: Filipi 4:10-12

4:10 Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.

4:11 Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

4:12 Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.

Ketika anakku mulai belajar berkomunikasi, aku mengajarinya bahasa isyarat untuk menolongnya menyampaikan kebutuhannya. Ada satu isyarat yang berarti “minta lagi”. Kalau ia menggunakan isyarat ini, artinya ia mau makan lebih banyak, dan aku pun memberinya.

Suatu ketika, ia tidak mendapatkan apa yang ia mau. Jika makanannya telah habis, aku akan membalasnya dengan isyarat, “tidak ada.” Awalnya, ia tidak mengerti mengapa aku melakukan hal itu. Ia menangis dan minta, “Lagi! Lagi! Lagi!” Dan aku harus menunjukkan piring kosong sebagai buktinya.

Sebagai orang dewasa, kita suka berpikir kalau kita adalah orang yang rasional. Tapi, seringkali kita cenderung menyikapi masalah kehidupan seperti apa yang anakku lakukan. Kita merasa kurang secara finansial, atau merasa tak sanggup menghadapi tantangan seperti kehilangan pekerjaan, atau sulit mendapatkan kebutuhan-kebutuhan pokok kita. Atau, bahkan ketika segalanya baik: kita punya pekerjaan yang mapan, rumah yang nyaman, mobil bagus, tabungan yang memadai, kita masih saja merasa itu semua tidak cukup. Kita berpikir semua akan baik-baik saja ketika kita bisa memiliki lebih, lebih, dan lebih lagi.

Ketika Paulus menuliskan suratnya kepada jemaat Filipi, ia sedang berada dalam penjara. Orang-orang Filipi terus mendukung dan peduli pada Paulus, dan ia bersyukur atas bantuan mereka. Namun, Paulus juga mengatakan bahwa entah bantuan tersebut datang atau tidak, ia telah belajar untuk berpuas diri, apapun kondisinya (ayat 11).

Paulus dapat mengatakan hal ini dengan yakin karena apa yang telah ia alami. Ia ditangkap, dipenjara, disiksa, terombang-ambing dan diadili. Tetapi ada juga saat-saat di mana ia lebih tenteram—aman, terpelihara, dan dikelilingi oleh orang-orang percaya. Mengalami hal-hal baik dan buruk, Paulus belajar bahwa ia dapat berpuas diri bagaimanapun kondisinya.

Apa rahasianya?

Akhir-akhir ini, anakku mengerti dan menerima ‘penolakan’ dariku. Ia menerimanya karena ia mengenal dan memercayaiku. Ia tahu bahwa sebagai ibunya, aku mengutamakan kebaikannya dan tidak akan menjauhkannya dari apa yang benar-benar ia butuhkan.

Begitupun dengan Paulus, Ia mengenal Allah dan percaya Allah memiliki rencana yang dahsyat untuknya. Ia tahu, apapun yang ia miliki, banyak atau sedikit, merupakan pemberian Allah—bahkan bantuan dari orang-orang Filipi sekalipun. Jadi, meskipun keadaan sekitarnya mungkin terlihat sebaliknya, Paulus tahu bahwa Allah Bapa memeliharanya, dan ia akan berkecukupan.

Yesus sendiri menunjukkan pada kita kebaikan Allah Bapa dalam Matius 7:11, “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Melalui Alkitab, kita dapat melihat para penulis menegaskan kepercayaan mereka dalam pemeliharaan Allah. Ayat favoritku adalah: “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran” (Yakobus 1:17).

Sesungguhnya, rahasia Paulus tertulis dalam Filipi 4:13, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan padaku.” Hidup Paulus yang berkecukupan bukan berdasarkan keadaan materinya—melainkan daripada hubungannya dengan Allah, Allah yang “tidak berubah seperti bayangan”, namun yang kebaikannya terhadap anak-Nya dapat selalu dipercaya dan dipegang teguh.

Betapa besar iman yang dimiliki Paulus! Marilah kita menjalankan hubungan dengan Allah seperti yang Paulus lakukan, percaya kepada karakter-Nya dan kebaikan-Nya. Marilah kita berpuas diri, mengakui bahwa Allah akan menyediakan semua keperluan kita, bahkan jika apa yang Ia sediakan mungkin terlihat kecil di mata kita.

Karena sebenarnya Allah telah memberikan diri-Nya. Dan itu sudah lebih dari cukup.—Charmain Sim, Malaysia

Handlettering oleh Naomi Prajogo Djuanda

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Adakah suatu hal dalam hidupmu yang kamu rasa kurang memuaskan? Bagaimana renungan hari ini menberanikanmu untuk melihatnya dengan kacamata yang berbeda?

2. Bagaimana orang lain menunjukkan kepeduliannya padamu pada saat kamu membutuhkannya?

3. Apakah ada orang yang membutuhkan yang dapat kamu pedulikan saat ini?

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Charmain Sim, Malaysia | Charmain menyukai coklat, kue-kue, dan cerita-cerita luar biasa dari orang biasa. Charmain juga menyukai kejutan-kejutan kecil namun berarti yang Tuhan berikan untuknya setiap hari.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Filipi

Jangan Sekadar Mengeluh!

Oleh Ari Setiawan, Yogyakarta

“Ya Gusti, cepet banget ya dari hari Minggu ke hari Senin, tapi dari Senin ke Minggu lama banget. Coba jarak Senin ke Minggu kita sama kaya Pasar Minggu sama Pasar Senen di Jakarta, kan bolak-balik gak beda jauh.”

Pernahkah teman-teman mengeluh seperti itu? Mungkin sebagian besar dari kita juga pernah mengeluh karena weekend kita berlalu dengan cepat. Baik yang pelajar maupun pekerja, mungkin pernah mengeluh saat Minggu malam untuk menyambut hari esok, hari Senin.

Aku pun juga pernah mengeluh, baik ketika menjadi pelajar S1, maupun ketika menjadi pekerja dan bahkan kini kembali menjadi pelajar S2. Saat menjadi pekerja, Senin pagi adalah waktu mengeluhku, “Hadeuh, kerja lagi, cari uang lagi, meeting lagi.” Ketika kini aktif pelayanan di hari Sabtu dan Minggu yang menyita waktu relatif banyak, lalu hari Senin kembali kuliah, aku pun mengeluh lagi, “Aduh, kapan badan ini istirahat? Senin sampai Jumat kuliah kerja tugas, akhir pekan capek pelayanan.”

Kurasa tak hanya aku, sebagian besar dari kita pun pernah mengeluh. Sebuah alasan yang mendasari kita mengeluh adalah karena ada sebuah penderitaan yang akan atau sedang kita hadapi. Banyak hal yang bisa menjadi penderitaan bagi kita, entah itu sekolah, kuliah, pekerjaan, relasi dengan siapapun, bahkan pelayanan kita sekalipun. Penderitaan itu terlihat dari keluhan yang keluar dari bibir kita.

Tetapi, sebelum kita lanjut mengeluhkan berbagai penderitaan yang kita hadapi dalam hidup ini, ada hal-hal yang perlu kita pahami nih. Yuk kita cek.

Kita tidak sendirian dalam menghadapi penderitaan

Kita, segenap manusia yang ada di bumi, bahkan Yesus semasa hidup-Nya di dunia pun pernah melontarkan keluhan. Dalam Injil Lukas 13:34 misalnya, ketika Yesus berada di Perea, wilayah Galilea, Ia hendak memasuki Kota Yerusalem. Yesus pun mengeluh dengan kenyataan tentang kota tersebut:

“Yerusalem, Yerusalem, engkau membunuh nabi-nabi dan melempari denga batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.”

Ketika Yesus berdoa di Taman Getsemani di malam sebelum Dia ditangkap, Yesus pun sempat mengatakan:

“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku…” (Matius 26:39a).

Dua ayat di atas merupakan ucapan keluhan Yesus ketika diri-Nya diperhadapkan pada penderitaan, yaitu penderitaan di mana Dia akan diangkap, disiksa, disalibkan, dan mati. Penderitaan Yesus tentu jauh lebih besar daripada derita yang kita hadapi. So, jangan pernah merasa diri kita sendirian dalam menghadapi penderitaan. Yesus juga turut menderita, bahkan lebih menderita daripada kita.

Yesus memilih menderita sebagai tanggung jawabnya

Jika Yesus sudah tahu akan menderita, dan Dia mengeluh, yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah: mengapa Dia tetap memilih menderita? Di sinilah kita perlu memaknai ulang kata “derita”. Kita mungkin memahami “menderita” sebagai kondisi sengsara, susah, dan mengenaskan. Tetapi, kata derita memiliki makna lebih daripada itu secara etimologi.

Kata “derita” dalam bahasa Inggris yaitu “suffer”, yang merupakan sebuah serapan dari bahasa Latin, “sufferire”. Kata “sufferire” ini berarti menanggung, menjalani, membawa sebuah tugas tanggung jawab. Maka kita bisa memahami bahwa penderitaan merupakan sebuah konsekuensi yang harus ditanggung dan dijalani ketika seseorang bertindak suatu hal.

Maka, yang jadi pertanyaan, tanggung jawab apakah yang dilakukan Yesus sehingga Dia harus menderita? Tanggung jawab Yesus ialah menyatakan kasih Allah kepada ciptaan-Nya dengan hidup di dunia, mengajar dan menyatakan mukjizat serta melakukan penebusan di kayu salib. Yohanes 15:13 menyatakan:

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Yesus memilih melaksanakan tanggung jawab untuk mengasihi manusia secara total dan Dia memahami konsekuensinya atau derita yang Dia jalani, yaitu disiksa dan mati disalibkan.

Dari penjelasan logis tentang Yesus yang menderita ini, kita juga bisa melihat penderitaan dalam hidup kita. Kita menderita dalam sekolah dan kuliah, dengan harus giat belajar dan mengerjakan tugas, karena itulah konsekuensi dari kita yang ingin menjadi lebih cerdas. Begitupun ketika kita bekerja, kadang lembur dan pulang malam karena itulah konsekuensi untuk mendapatkan penghasilan. Juga dalam pelayanan, kita merasa lelah secara pikiran, meluangkan waktu, mengeluarkan biaya dan tenaga, itulah konsekuensi ketika kita melayani Tuhan dan sesama kita.

Ubahlah keluhan menjadi berkat

Setiap tokoh-tokoh Alkitab juga tidak lepas dari mengeluh. Contohnya ketika harta dan anak-anak Ayub diambil oleh Tuhan, Ayub mengutuki hari kelahirannya. Contohnya lagi seruan Daud dalam Mazmur 22:1-9, dia menyatakan, “Ya Allahku, mengapa Kau tinggalkanku…” Begitu pun Yesus, yang juga turut menderita sebagai manusia seratus persen.

Beruntung, setiap tokoh-tokoh Alkitab tersebut belajar untuk berproses melihat rencana Allah dalam hidup mereka. Begitu pula dengan Yesus, ketika Dia mengeluhkan Yerusalem dalam Lukas 13:34, Dia tetap melanjutkan perjalanan-Nya. Ataupun dalam doa-Nya di Taman Getsemani, Dia berseru kepada Allah dalam Matius 26:39b,

“…melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Yesus mengubah keluhan yang terucap oleh-Nya sebagai bentuk berserah kepada maksud Allah, yaitu agar Yesus bisa menyatakan kasih Allah bagi ciptan. Yesus pun melaksanakan tanggung jawab-Nya sehingga menjadi berkat bagi kita semua, yaitu berkat keselamatan.

Kita pun pasti juga tidak bisa lepas sepenuhnya dari mengeluh, tetapi apakah kita hanya melihat penderitaan yang akan atau sedang kita jalani dari sisi negatif melulu?

Mari kita belajar, bahwa Yesus juga turut menderita bersama kita. Yesus ingin mengajarkan bahwa ada sebuah tanggung jawab yang perlu kita laksanakan walaupun memiliki konsekuensi derita, dan jadilah berkat dengan menyatakan kasih Allah lewat melaksanakan tanggung jawab kita sebaik mungkin.

Baca Juga:

Ketika Kisah Cinta Kami Berjalan Keliru

Adalah hal yang sangat menakutkan ketika aku memilih untuk menghabiskan malamku dengan tunanganku dibandingkan meluangkan waktu menyendiri dengan Tuhan, ketika hatiku lebih mendapat kepuasan di dalamnya dibanding di dalam Tuhan, ketika aku lebih mengkhususkan perhatianku untuk kebutuhan dan keinginannya, bukan untuk mengenal dan mematuhi Tuhan.

Belajar Bersyukur

Ilustrasi oleh: Chin

Aku pernah kehilangan sukacita dalam hidupku. Aku merasa hidupku kelabu. Pekerjaan yang kugeluti tidak memuaskan, kondisi keuanganku terguncang, dan… aku pun tidak memiliki pasangan hidup.

Aku tidak berasal dari keluarga berada. Penampilanku pun biasa-biasa saja. Kupikir, semua hal itulah yang membuat hidupku terasa sulit. Hingga suatu hari, aku menemukan ayat ini di dalam Alkitab:

Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus (Efesus 5:20-21).

Aku pun tersadar. Seorang pemenang dalam hidup bukanlah orang yang memiliki segalanya, melainkan orang yang mengerti kehendak Tuhan, yang menghargai waktu-waktu pemberian-Nya, dan yang mengucap syukur kepada-Nya di dalam nama Tuhan Yesus! Aku menutup mataku dan berterima kasih kepada Tuhan atas segalanya yang Dia telah berikan buatku. Karena Tuhan begitu mengasihiku, tantangan hidup yang Dia izinkan untuk kuhadapi tentu adalah bagian dari rencana-Nya yang baik.

Kunyalakan komputerku dan kukerjakan kembali pekerjaan yang sempat membuatku pening. Sekarang, meski aku tidak menyukainya, aku bersemangat untuk menyelesaikan pekerjaan ini karena aku mau memuliakan Tuhan Yesus. Dan, meskipun aku juga belum memiliki pasangan hidup, kupikir ini adalah waktu berharga yang Tuhan berikan kepadaku untuk menjalin persahabatan. Inilah waktu yang tepat untukku menuliskan pesan kepada mereka bahwa aku bersyukur atas kehadiran mereka.

Keadaanku mungkin tidak berubah dalam sekejap. Namun, hidupku dapat lebih berwarna. Karena ucapan syukur, aku dapat merasakan kasih yang Tuhan nyatakan dengan lebih dalam.

Terima Kasih Matt Kecil

Oleh Maria Felicia, Surakarta

Aku bekerja sebagai seorang pengajar. Suatu kali, dalam sebuah jadwal les di sore hari aku mendapatkan suatu pengalaman yang mengajariku tentang bersyukur dan tersenyum. Cerita pengalaman ini kudapat dari interaksiku dengan Matt, seorang murid les sekaligus teman kecilku yang manis.

“Miss,” demikian Matt memanggilku. “Aku mau poop,” katanya sambil memandangku dengan tatapan aneh.

“Hah? Kamu mau poop?” Aku menjawabnya sembari ternganga. Aku tidak mau menolong Matt melakukan buang air besar di tempatku. Jadi aku berusaha menghindarinya.

“Ditahan bentar ya Matt. Bentar lagi selesai, pulang deh. Nanti kamu poop-nya di rumah saja.”

“Ya, miss,” jawab Matt. Aku tidak tahu apakah itu jawaban pasrah atau taat. Tapi, sesaat kemudian Matt memandangiku lagi dengan tatapan yang semakin memelas. Matt berusia empat tahun. Tatapan itu memberitahuku bahwa Matt sudah tidak tahan lagi. Mau tak mau aku harus membawanya ke toilet.

“Miss, bantuin Matt ya,” dia berkata. Kalimat ini membuat hatiku yang semula enggan menolongnya menjadi luluh.

Menolong anak didikku untuk buang air di toilet bukanlah hal yang ahli kulakukan. Biasanya di sekolah kami ada helper yang menolong Matt dan murid lainnya untuk urusan di toilet. Tapi, kejadian ini sekarang berlangsung di tempat lesku, di mana tidak ada helper yang bertugas menolong.

Saat menemaninya, Matt memegang erat pundakku. Dia lalu menatap setiap inci langit-langit dan dinding kamar mandiku, tempat yang kuanggap tidak istimewa sama sekali di rumah.

“Miss, kok kamar mandinya miss bagus banget?” tanya Matt.

“Hah?” aku menjawab Matt dengan heran. Jawaban itu membuat Matt kembali mengamati kamar mandiku dengan detail hingga dia pun berkata lagi, “Miss, kamar mandi miss kok bagus banget sih?”

Di usianya yang masih balita, aku yakin apa yang terucap dari mulut Matt adalah sesuatu yang juga berasal dari hatinya. Buat Matt, kamar mandi ini tampak sangat bagus, sedangkan bagiku kamar mandi ini biasa saja, tidak bagus. Atap dan pintunya tampak usang, juga reyot dimakan rayap. Tapi, sepenggal kalimat yang diucapkan Matt itu kemudian membuatku tersenyum dan mengajariku untuk mengucap syukur. Bahwa hal sederhana yang sepertinya tidak istimewa bagiku bisa dipandang begitu bagus dan istimewa bagi orang lain.

Seringkali dalam kehidupan ini aku merasa bahwa rumput tetangga lebih hijau. Aku melihat kepada orang lain yang kuanggap memiliki lebih dariku hingga aku tidak lagi menemukan keistimewaan dari apa yang ada padaku. Meski sebenarnya ada banyak alasan untuk mengucap syukur, aku seringkali hanya berfokus pada masalah-masalahku saja. Namun puji Tuhan, karena Allah Bapa adalah Pribadi yang begitu setia dan sabar. Dia menuntun, mengajar, dan mendidikku lewat banyak hal, termasuk melalui hal sederhana yang terjadi dalam keseharianku.

Aku lalu teringat akan firman Tuhan dari 1 Tesalonika 5:16-18 yang berkata, “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Dalam perenungan itu, aku merasa seolah Tuhan berkata kepadaku:

“Anakku, ingatlah selalu, apapun keadaan hidupmu, tidaklah perlu membandingkan diri dan merasa iri dengan orang lain. Lihatlah penyertaan-Ku. Tidakkah setiap berkat-Ku cukup bagimu untuk selalu membuatmu tersenyum dan bersyukur? Lihatlah kamar mandi ini, dan ingatlah perkataan Matt tentang kamar mandi sederhana ini, bersyukurlah. Lihatlah rumah ini, meski bukan sebuah kastil megah dan mewah, bukankah rumah ini kokoh dan tegap menaungimu dan keluargamu?”

Hari itu aku bersyukur karena melalui Matt kecil Tuhan telah mengajariku sesuatu yang berharga. Aku mau mengucap syukur kepada Tuhan untuk kamar mandiku, untuk rumahku, untuk keluargaku, untuk teman-teman kecil yang mengajariku banyak hal luar biasa, dan untuk setiap berkat-berkat yang Tuhan telah berikan buatku.

Apapun keadaan dalam hidupku, aku mau selalu tersenyum bagi Bapa. Aku berharap agar hatiku terus meluap dengan segala ucapan syukurku bagi-Nya, sebab itulah yang Tuhan kehendaki bagiku di dalam Yesus Kristus, sahabat kekalku.

Baca Juga:

3 Hal yang Kupikirkan Sebelum Memposting di Media Sosial

Meskipun kita punya kebebasan untuk mengekspresikan diri, kita juga seharusnya bertanggung jawab atas apa yang kita ekspresikan atau unggah di ruang publik. Inilah tiga pertanyaan yang sering kuajukan kepada diriku sendiri sebelum aku memposting sesuatu.

Doaku untuk Indonesia

Oleh Agustinus Ryanto, Jakarta

Tuhan, aku bersyukur atas bangsa Indonesia yang hari ini memperingati kemerdekaan-Nya.
Aku bersyukur atas segala kekayaan alam yang Kau limpahkan di negeri ini.
Pun, aku bersyukur atas segala keragaman yang Kau karuniakan di bangsa ini.

Namun, Tuhan, di balik segala hal baik yang tampak menghiasi negeriku, aku melihat ada banyak hal buruk yang tidak berkenan kepada-Mu terjadi di sini. Di balik kekayaan alamnya, ada orang-orang yang hidupnya terjerat dalam kemiskinan. Di balik keragaman yang menjadikan bangsa ini kaya, ada perseteruan-perseteruan yang meruncing karena tidak ada saling pengertian.

Tuhan, kadang aku merasa sedih dan ingin menutup mataku dari segala hal yang tampak buruk tersebut.

Tapi, ingatkan aku Tuhan, bahwa Engkau tidak pernah berhenti mengasihi Indonesia. Maka, sudah seharusnya pula aku terus belajar untuk mengasihi bangsaku.

Ajar aku untuk selalu mendoakan bangsaku, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanku (Yeremia 29:7).

Ajar aku untuk menghormati pemimpin-pemimpinku, sebab merekalah yang Engkau tetapkan untuk memerintah bangsa ini (Roma 13:1).

Aku percaya, Tuhan, bahwa ketika aku dan umat-Mu bersama-sama bertekun mencari wajah-Mu dan merendahkan diri di hadapan-Mu, serta berbalik dari jalan-jalan kami yang jahat, Engkau mendengar seruan kami dan kiranya Engkau berkenan untuk memulihkan negeri kami.

Terima kasih ya Tuhan. Dalam nama Yesus.

Amin.

Baca Juga:

Sekelumit Kisahku Ketika Menghadapi Depresi dalam Pekerjaan

Aku sadar bahwa tak peduli seberapa banyak uang yang bisa kuraih, atau seberapa potensial pekerjaan yang kugeluti, aku telah tiba di titik di mana kalau aku melanjutkannya, aku akan melukai kesehatan mentalku.

Teguran dari Tuhan Saat Aku Bertemu Temanku yang Pernah Sakit Kanker

Oleh Anne Grace, Medan

Beberapa bulan lalu aku dan teman-temanku sedang berada di kantin. Buat kami, kantin adalah tempat yang menyenangkan. Sembari menunggu mata kuliah selanjutnya, kami bisa saling bercanda sambil internetan, apalagi di sana ada fasilitas wifi.

Suatu ketika, dua orang lelaki melintas di depan kami. Salah satu dari mereka menarik perhatian kami.

“Astaga, lihat tuh botak. Lucu ya,” celetuk temanku.

“Haha, dia kok pede ya?” sambung yang lain.

Aku menanggapi teman-temanku dengan tersenyum. Aku tidak mengenal siapa lelaki botak itu, dan kupikir dia berpenampilan seperti itu karena dia sedang mengikuti tes masuk kerja.

Peristiwa itu pun berlalu. Sampai suatu ketika, aku menemui seorang teman dekatku di pojokan kampus. Rupanya saat itu temanku itu tidak sendiri, lelaki botak yang dulu kulihat dari kantin ada bersamanya. Tapi, kali ini lelaki itu sudah tidak botak lagi. Temanku berkata kepadanya, “Rambutmu sekarang udah panjang aja ya.”

Aku langsung menatap ke arah lelaki yang tak lagi botak itu. “Hah? Memangnya waktu itu sengaja dibotakin ya?”

“Aku baru sembuh dari kanker,” jawabnya perlahan.

Tiba-tiba aku merinding dan penasaran. “Kanker? Kok bisa? Serius? Eh cerita dong,” tanyaku dengan nada tinggi sehingga membuatnya enggan bercerita. Aku merendahkan nada suaraku dan mencoba memberikan pertanyaan dengan lebih lembut. Dia pun akhirnya bersedia menceritakan pengalamannya.

Suatu ketika dia merasa ada yang tidak beres dengan mulutnya. Ada gigi yang busuk dan gusi yang membengkak. Dia pikir itu hanya sakit biasa yang akan segera sembuh. Tapi, keadaan makin memburuk hingga akhirnya dia dan orang tuanya memeriksakan diri ke rumah sakit. Setelah mengikuti serangkaian pemeriksaan, dokter mendiagnosis bahwa dia terkena kanker kelenjar getah bening. Awalnya dia tidak percaya. Dia berusaha mengelak dari kenyataan ini. Tapi, ayahnya menyadarkannya bahwa penyakit kankernya itu bisa saja merenggut nyawanya dan sesegera mungkin dia harus menjalani perawatan. Saat itu kedua orang tuanya menangis. Mereka tidak menyangka bahwa anaknya bisa terkena penyakit ini, padahal tidak ada riwayat kanker dalam keluarga mereka.

Kedua orang tuanya kemudian membawanya berobat ke luar negeri. Dokter mengatakan kankernya sudah memasuki stadium dua, namun masih ada peluang sembuh asalkan mengikuti semua perintah dan ketentuan dari dokter. Dia harus dikemoterapi. Rasa takut pun memenuhinya, apalagi setelah mendengar cerita dari orang-orang yang berkata kemoterapi itu adalah proses yang menyakitkan. Efek samping yang ditimbulkannya pada pasien bisa berupa rasa sakit, mual, dan pusing yang luar biasa.

Namun saat itu dia merenung. Di satu sisi dia sangat ketakutan. Tapi, di sisi lainnya dia tidak tahan melihat orang tuanya yang bersedih karena penyakitnya. Dia pun akhirnya belajar untuk menyerahkan apa yang akan terjadi kepada tangan Tuhan seraya memohon supaya Tuhan memberinya kekuatan untuk menjalani proses kemoterapi itu.

Proses kemoterapi pun dimulai. Kedua orang tuanya tak pernah berhenti memberinya dorongan, semangat, dan doa. Hingga singkat cerita, melalui proses pengobatan itu, Tuhan memberinya kesembuhan. Dokter menyatakan dia sembuh dan sekarang rambut-rambut kecil mulai tumbuh di kepalanya.

Aku membayangkan bagaimana rasanya menanggung penyakit itu, apalagi di usia yang masih muda. Aku pun bertanya bagaimana responsnya ketika dia divonis terkena kanker.

“Saat itu aku cuma bisa pasrah. Yah kalau memang waktunya dari Tuhan, mau bilang apa,” tuturnya.

Dia pun melanjutkan bahwa sekarang dia bersyukur buat kesempatan yang Tuhan berikan padanya karena tidak banyak orang yang seberuntung dirinya, yang bisa sembuh dari penyakit mematikan ini. Saat ini dia belajar untuk menggunakan hari-harinya sebaik mungkin selagi masih diberi kesempatan untuk hidup dan berbakti kepada orang tua.

Kata-kata yang keluar dari mulutnya itu membuat batinku terguncang. Aku diam membisu. Aku merasa apa yang baru saja kudengar itu seperti sebuah kisah novel yang nyata. Aku malu tatkala mendengar bahwa dia masih bisa bersyukur untuk beban berat yang dia alami. Aku merasa ditegur hebat.

Mungkin aku harus mengatakan bahwa aku adalah orang yang bebal di mata Tuhan. Seringkali aku menuntut supaya kehendakku saja yang harus dituruti. Aku kehilangan ayahku saat aku masih kecil, dan sejak saat itu tertanam pemikiran di hatiku bahwa aku bukanlah anak yang beruntung. Aku selalu merasa iri hati saat aku bertemu dengan orang lain yang hidupnya tampak sempurna di mataku. Aku pun merasa Tuhan tidak mengasihiku.

Hingga akhirnya, melalui pertemuanku dengan seorang mantan penderita kanker, aku merasa Tuhan seperti berbicara langsung kepadaku. Aku disadarkan bahwa selama ini aku tidak pernah ingat untuk bersyukur. Aku jadi teringat kata-kata yang guru agamaku ucapkan waktu aku SMA dulu:

“Kalau kamu ingin bahagia, jadilah orang yang bersyukur. Bersyukurlah untuk setiap hal kecil dalam hidupmu. Ketika kamu baru mulai membuka mata, mintalah hati yang bersyukur, mintalah dengan hati yang tulus bukan untuk kesenanganmu semata.”

Aku menangis, namun aku merasa lega karena Tuhan menyadarkanku apa yang salah dalam diriku. Sejak saat itu, aku belajar berdoa dan selalu menyempatkan diri untuk mengucap syukur terlebih dulu kepada Tuhan dan membiarkan Tuhan mengisi ruang kosong dalam hatiku.

Memang kehidupanku saat ini tidak pernah lepas dari masalah dan mungkin juga beban hidup akan bertambah berat. Tapi, aku percaya bahwa Tuhan tidak pernah mengizinkan masalah terjadi di luar kemampuan hamba-Nya. Dan yang pasti, Tuhan berjanji akan selalu mendampingi melewati setiap masalah yang ada. Aku bersyukur bahwa Tuhan selalu mengajariku dengan cara-Nya yang tak terduga. Sekarang, aku tidak lagi memandang masalah-masalahku sebagai sesuatu yang teramat besar. Masalahku hanyalah hal kecil jika dibandingkan dengan Tuhanku yang Mahabesar. Alih-alih khawatir akan masalah, aku sadar inilah waktunya untukku bersyukur dan memuji Tuhan.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristu Yesus bagi kamu” (1 Tesalonika 5:18).

Baca Juga:

3 Hal yang Harus Orang Kristen Lakukan di Media Sosial

Bagaimana kita menjaga karakter Kristen dan kesaksian kita di dalam dunia maya, terutama saat kita merasa tidak setuju? Inilah tiga hal yang bisa membantu kita.

Ketika Aku Merasa Tidak Puas dengan Keluargaku

Oleh Sharon Audry, Bandung

Pernahkah kamu merasa tidak puas dengan keluargamu sekarang? Mungkin kamu merasa bahwa keluarga yang kamu miliki sekarang bukanlah suatu berkat. Mungkin kamu berandai-andai kalau saja kamu dilahirkan di keluarga yang lebih baik daripada keluargamu yang sekarang. Aku pun pernah merasakan yang sama. Aku pernah merasa tidak puas dengan keluargaku.

Aku tidak terlahir dari keluarga yang kaya raya, artis terkenal, keluarga pejabat, ataupun konglomerat. Aku lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja. Semakin aku beranjak dewasa dan semakin mengenal dunia luar, aku melihat kalau ada banyak keluarga lain yang kelihatannya jauh lebih baik. Saat aku menonton acara infotainment yang menayangkan seorang anak artis yang baru lahir, aku pun berpikir: “Ah, sepertinya enak sekali ya kalau terlahir dari keluarga artis terkenal. Baru lahir saja followers di Instagramnya sudah jutaan. Hidupnya pasti mewah banget!”

Jujur aku iri melihat kehidupan artis-artis itu. Mereka tampak begitu hebat dan dikagumi masyarakat. Kehidupan mereka pun seolah begitu menyenangkan; bisa jalan-jalan ke luar negeri, juga beli sepatu mahal dan tas branded. Ah, seandainya saja aku dilahirkan di keluarga seperti itu, pasti kalau ingin apa pun akan dibelikan.

Hingga suatu hari, aku bertemu dengan teman-temanku. Seorang temanku memulai obrolan dengan menceritakan masalah keluarga yang dia alami. Kedua orang tuanya telah bercerai sejak dia kecil dan sekarang dia tinggal bersama neneknya. Tapi, sang nenek sering berlaku kasar kepadanya. Dia pun akhirnya benci kepada keluarganya. Jujur, aku terkejut mendengarnya. Aku tak pernah tahu kalau ada masalah seperti itu.

Sesi curhat pun berlanjut, temanku yang lain gantian bercerita. Kali ini dia bertutur kalau keluarganya broken-home. Aku tak pernah tahu bagaimana menjadi anak yang hidup di keluarga broken-home dan bagaimana rasanya kurang kasih sayang dari orang tua karena memang aku tak pernah mengalaminya dan jangan sampai mengalaminya. Cerita pun dilanjutkan oleh temanku yang lain, yang menceritakan masalah yang berbeda.

Sesi curhat itu membuatku berpikir. Ternyata di luar sana ada banyak temanku yang memiliki masalah yang berat di keluarganya, sedangkan aku bahkan tak pernah merasakan punya masalah berat di keluargaku seperti yang mereka alami. Aku jadi malu pada diriku sendiri yang pernah meminta pada Tuhan untuk menggantikan keluargaku yang sekarang dengan keluarga yang baru.

Singkat cerita, giliranku untuk bercerita tentang masalah keluarga apa yang kupunya. Tapi, jujur aku tak tahu mau bercerita apa karena menurutku aku tak punya masalah keluarga. Aku tidak bermaksud sombong, tapi aku memang tak tahu masalah keluarga apa yang harus kuceritakan. Hubungan komunikasiku dengan kedua orang tuaku berjalan baik. Mereka selalu meluangkan waktunya untukku sehingga aku tidak kekurangan kasih sayang. Aku tak pernah melihat mereka berantem sampai melempar perabotan rumah tangga seperti yang sering terlihat di tayangan-tayangan televisi.

Meski begitu, masalah-masalah kecil tetaplah ada. Orang tuaku sudah biasa berbeda pendapat, tapi mereka tidak pernah berantem lama-lama. Mereka selalu rukun dan terlihat romantis lagi setelah beberapa waktu. Hubunganku dengan adik-adikku pun baik-baik saja.

Dan, di sinilah akhirnya aku sadar bahwa sebenarnya satu-satunya yang bermasalah dalam keluargaku adalah diriku sendiri. Aku marah pada Tuhan dan meminta keluarga yang sempurna, padahal Tuhan sudah memberikanku keluarga yang terbaik.

Dulu aku marah pada Tuhan karena ingin punya keluarga yang selalu menuruti keinginanku, yang mengizinkanku pulang malam. Sekarang, aku sadar. Keluarga yang seperti itu justru hanya akan menjerumuskanku dan menjadikanku anak yang manja. Mana mungkin ada orang tua yang mengizinkan anaknya pulang larut malam tanpa alasan yang jelas? Orang tua pasti ingin memastikan anak-anaknya selalu aman.

Aku pun mencabut pemikiran-pemikiranku dahulu yang ingin mengganti keluargaku dengan keluarga yang baru. Kupikir, tak ada keluarga yang sempurna di dunia ini. Aku yakin bahwa keluarga yang Tuhan berikan pada kita saat ini adalah keluarga yang terbaik. Mungkin kita merasa tidak puas dengan orang tua kita ataupun saudara-saudari kita, tapi satu hal yang perlu kita tahu adalah mereka pun sama dengan kita, sama-sama manusia yang tidak luput dari kesalahan. Aku percaya bahwa ketika Tuhan mengizinkan masalah-masalah terjadi dalam keluarga kita, itu bisa dipakai-Nya untuk mendewasakan dan memurnikan karakter kita. Tuhan ingin kita menjadi anak-Nya yang setia.

Aku jadi ingat sebuah kutipan berbahasa Inggris yang isinya demikian:

Fri(end)
Girlfri(end)
Boyfri(end)
Bestfri(end)

Everything has an end, except family,

Fam(ily) has 3 letters that says I Love You.

Teman, pacar, sahabat, suatu saat bisa saja tidak lagi menjadi teman, pacar, atau sahabat buatku. Tapi, tidak dengan keluarga. Tidak pernah ada istilah bahwa “dia dulu ayah/ibuku”, atau “mereka mantan orang tuaku”.

Keluarga adalah rumahku
Keluarga adalah tempatku berbagi suka dan duka.
Keluarga adalah saksi perjalanan hidupku dari aku bayi hingga aku dewasa.
Keluarga adalah orang pertama yang akan senang ketika aku berhasil, dan orang yang akan mendekapku erat ketika aku gagal.
Keluarga adalah orang yang tetap bersamaku ketika seluruh dunia membenciku.
Keluarga adalah orang yang berdiri paling depan ketika ada orang yang menyakitiku, dan keluarga adalah segalanya.

Menutup tulisan ini, aku berdoa untukmu supaya kamu pun dimampukan Tuhan untuk mengasihi keluargamu. Kiranya kehadiranmu menjadi berkat untuk keluargamu.

“Di atas semuanya itu: Kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kolose 3:14).

Baca Juga:

Sebuah Pulang yang Mengubahkanku

Pulang bukanlah pilihan yang mudah buatku karena keluargaku yang broken-home. Namun melalui sebuah peristiwa yang aku sendiri tidak menduganya, Tuhan menolongku untuk memaknai keluargaku dari cara pandang yang baru.