Posts

Ikutlah Aku

Kamis, 31 Maret 2016

Ikutlah Aku

Baca: Markus 2:13-17

2:13 Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka.

2:14 Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia.

2:15 Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia.

2:16 Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

2:17 Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”

Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. —Markus 2:17

Ikutlah Aku

Pusat-pusat kebugaran menawarkan berbagai program bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan dan tetap bugar. Salah satu pusat kebugaran hanya melayani mereka yang ingin menurunkan berat badan setidaknya 22 kg dan mengembangkan kebiasaan hidup sehat. Seorang anggota dari pusat kebugaran itu berkata bahwa ia berhenti menjadi anggota di pusat kebugaran sebelumnya karena ia merasa anggota-anggota lainnya yang langsing dan bugar terus menatapnya dan menghakimi bentuk tubuhnya yang tidak ideal. Kini ia berolahraga lima hari dalam seminggu dan berhasil mencapai berat badan yang sehat dalam lingkungan yang positif dan mau menerimanya.

Dua ribu tahun yang lalu, Yesus datang untuk memanggil mereka yang lemah imannya supaya mengikut Dia. Salah satunya adalah Lewi. Yesus melihatnya sedang duduk di rumah cukai dan berkata, “Ikutlah Aku” (Mrk. 2:14). Kata-kata-Nya menggerakkan hati Lewi dan ia segera mengikut Yesus. Pemungut cukai sering bertindak serakah dan tidak jujur dalam pekerjaan mereka. Karena itu mereka dianggap najis secara agamawi. Ketika para ahli Taurat melihat Yesus makan di rumah Lewi bersama para pemungut cukai lainnya, mereka bertanya, “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” (2:16). Yesus menjawab, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (2:17).

Yesus datang untuk menyelamatkan orang berdosa, termasuk kita semua. Dia mengasihi kita, menyambut kita masuk dalam hadirat-Nya, dan memanggil kita untuk mengikut-Nya. Dengan berjalan bersama-Nya, iman kita semakin bertambah kuat dan sehat. —Marvin Williams

Bacalah Kisah Para Rasul 9:10-19 dan lihatlah bagaimana seseorang menaati Allah dan menyambut seseorang yang dianggap lemah iman. Apakah hasilnya? Bagaimana kamu bisa menjangkau mereka yang memerlukan Juruselamat? Bagaimana kamu dapat menolong gerejamu untuk lebih terbuka dalam menerima mereka yang lemah iman?

Tangan Yesus selalu terbuka menyambut kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Hakim-Hakim 11-12; Lukas 6:1-26

Keseluruhan Cerita

Sabtu, 27 Juni 2015

Keseluruhan Cerita

Baca: Kisah Para Rasul 8:26-37

8:26 Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: “Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza.” Jalan itu jalan yang sunyi.

8:27 Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah.

8:28 Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya.

8:29 Lalu kata Roh kepada Filipus: “Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!”

8:30 Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: “Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?”

8:31 Jawabnya: “Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya.

8:32 Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya.

8:33 Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi.

8:34 Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: “Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?”

8:35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya.

8:36 Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?”

8:37 (Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.”)

Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. —Kisah Para Rasul 8:35

Keseluruhan Cerita

Baru-baru ini Dallas, cucu laki-laki saya yang berusia 5 tahun, bertanya, “Mengapa Yesus mati di kayu salib?” Jadi kami membahasnya sejenak. Saya menjelaskan kepadanya tentang dosa dan kerelaan Yesus menjadi korban bagi kita. Setelah itu ia lari ke luar untuk bermain.

Tidak lama kemudian, saya mendengar Dallas berbicara dengan Katie, sepupunya yang sebaya dengannya. Ia menjelaskan kepada Katie mengapa Yesus mati. Katie berkata, “Tetapi Yesus tidak mati.” Dallas menjawab, “Ya, Dia sudah mati. Kakek yang bilang begitu. Dia mati di kayu salib.”

Saya sadar belum menyelesaikan ceritanya. Jadi saya mengajak Dallas bicara lagi untuk menjelaskan bahwa Yesus telah bangkit dari kematian. Kami membahas segalanya dari awal lagi sampai ia mengerti bahwa saat ini Yesus hidup, meskipun memang Dia pernah mati bagi kita. Ini mengingatkan kita bahwa orang perlu mendengar Injil secara utuh. Ketika seorang pria asal Etiopia bertanya kepada Filipus tentang satu bagian Kitab Suci yang tidak ia mengerti, Filipus “berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya” (Kis. 8:35).

Bagikanlah kepada orang lain kabar baik tentang Yesus: bahwa kita semua adalah orang berdosa yang memerlukan keselamatan, bahwa Anak Allah yang sempurna telah mati untuk menyelamatkan kita; dan bahwa Dia telah bangkit dari kubur dan membuktikan kuasa-Nya atas kematian. Yesus, Juruselamat kita, kini hidup dan rindu menyatakan hidup-Nya itu melalui diri kita.

Ketika seseorang ingin mengetahui tentang Yesus, pastikan bahwa kamu membagikan kisah tentang Dia secara utuh. —Dave Branon

Tuhan, kisah-Mu sungguh menakjubkan. Tolonglah kami untuk membagikannya secara utuh sehingga orang lain dapat percaya kepada-Mu dan menikmati keselamatan yang Engkau tawarkan bagi semua orang yang mau percaya.

Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” —Yohanes 11:25

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 8–10; Kisah Para Rasul 8:26-40

Pusatkan Perhatianmu

Rabu, 20 Mei 2015

Pusatkan Perhatianmu

Baca: 1 Korintus 3:1-9

3:1 Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.

3:2 Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya.

3:3 Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?

3:4 Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos," bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani?

3:5 Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya.

3:6 Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.

3:7 Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.

3:8 Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.

3:9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.

Dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan. —Ibrani 12:2

Pusatkan Perhatianmu

“Itu muridku, lho,” demikian ujar seorang wanita tentang seseorang yang sedang dibantunya. Sebagai murid-murid Kristus, kita semua menerima tanggung jawab untuk memuridkan—membagikan kabar baik tentang Kristus kepada orang lain dan menolong iman mereka bertumbuh. Namun kita bisa dengan mudah memusatkan perhatian itu kepada diri kita dan bukan kepada Yesus.

Rasul Paulus mengkhawatirkan jemaat di Korintus yang telah mengalihkan perhatian mereka dari Kristus. Paulus dan Apolos adalah dua pengkhotbah paling terkenal di masa itu. Jemaat pun terpecah antara yang mengikuti Paulus dan yang mengikuti Apolos. Mereka memusatkan perhatian kepada pribadi yang salah, dengan mengikuti para pengajar dan bukan Sang JuruselaMat. Paulus menegur mereka. Kita ini “kawan sekerja Allah”. Tidak penting siapa yang menanam atau menyiram, karena hanya Allah yang bisa memberikan pertumbuhan. Umat Kristen adalah “ladang Allah, bangunan Allah” (1Kor. 3:6-9). Jemaat Korintus bukan milik Paulus ataupun Apolos.

Yesus memerintahkan kita untuk pergi dan memuridkan orang dan mengajar mereka tentang diri-Nya (Mat. 28:20). Penulis kitab Ibrani juga mengingatkan kita untuk terus memandang kepada Yesus yang memimpin dan menyempurnakan iman kita (12:2). Kristus dimuliakan ketika kita memusatkan perhatian kita pada-Nya; Dia jauh lebih agung daripada manusia mana pun dan Dia akan memenuhi kebutuhan kita. —C. P. Hia

Bapa, aku mengakui, begitu mudahnya perhatianku teralih dari-Mu kepada hal yang kurang penting. Terima kasih Engkau menempatkan orang-orang dalam hidupku yang mengarahkanku kepada-Mu. Tolong aku mengarahkan orang lain kepada-Mu sehingga Engkau semakin bertambah dan aku semakin berkurang.

Utamakan Yesus.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Tawarikh 10-12; Yohanes 6:45-71

Photo credit: chase_elliott / Foter / CC BY

Ceritakan Kisahmu

Senin, 11 Mei 2015

KomikStrip-WarungSaTeKaMu-20150511-Ceritakan-Kisahmu

Baca: 1 Timotius 1:12-20

1:12 Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku–

1:13 aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.

1:14 Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus.

1:15 Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa.

1:16 Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.

1:17 Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin.

1:18 Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni.

1:19 Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka,

1:20 di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.

Kekuatan perbuatan-perbuatan-Mu yang dahsyat akan diumumkan mereka, dan kebesaran-Mu hendak kuceritakan. —Mazmur 145:6

Ceritakan Kisahmu

Michael Dinsmore, seorang mantan narapidana dan petobat baru, diminta untuk bersaksi di sebuah penjara. Setelah ia berbicara, sejumlah narapidana mendatanginya dan berkata, “Ini pertemuan paling menarik yang pernah kami hadiri!” Michael pun takjub karena Allah dapat memakai kisahnya yang sederhana.

Dalam 1 Timotius, setelah Paulus menugasi Timotius untuk tetap tinggal dan mengabarkan Injil (1:1-11), ia membagikan kesaksian pribadinya untuk menyemangati pemuda itu (ay.12-16). Ia berbicara tentang belas kasihan Allah yang dialaminya sendiri. Paulus berkata bahwa ia pernah menghujat Tuhan, tetapi Dia telah mengubah hidupnya. Dalam belas kasihan- Nya, Allah bukan saja menganggapnya setia dan mempercayakan pelayanan kepadanya, Dia juga memampukan Paulus untuk melakukan pelayanan itu (ay.12). Paulus memandang dirinya sebagai orang yang paling berdosa, tetapi Allah menyelamatkan dirinya (ay.15). Tuhan sanggup! Itulah yang Paulus ingin Timotius mengerti, dan yang perlu kita mengerti juga. Melalui kesaksian Paulus, kita melihat belas kasihan Allah. Jika Allah bisa memakai seseorang seperti Paulus, Dia juga bisa memakai kita. Jika Allah bisa menyelamatkan orang yang paling berdosa, tak seorang pun yang tidak terjangkau oleh-Nya.

Kesaksian tentang karya Allah dalam hidup kita dapat menguatkan orang lain. Kiranya orang-orang di sekitarmu tahu bahwa Allah yang tercatat dalam Alkitab itu masih berkarya hingga hari ini! —Poh Fang Chia

Bapa, terima kasih untuk keselamatan dari-Mu dan bahwa tak seorang pun, termasuk diriku, berada di luar jangkauan belas kasihan, anugerah, dan kuasa perubahan-Mu. Tolong aku untuk membagikan kisahku kepada orang lain agar mereka bisa melihat kasih-Mu.

Tak seorang pun yang berada di luar jangkauan kasih Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 13-14; Yohanes 2

Peribahasa Tiongkok

Selasa, 3 Februari 2015

Peribahasa Tiongkok

Baca: 2 Timotius 2:1-6

2:1 Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.

2:2 Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.

2:3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.

2:4 Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.

2:5 Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.

2:6 Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya.

Giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. —1 Korintus 15:58

Peribahasa Tiongkok

Peribahasa Tiongkok pada umumnya sering mempunyai latar belakang kisah yang menarik. Peribahasa yang berbunyi “menarik tanaman untuk membantunya bertumbuh” mengisahkan tentang seseorang yang tidak sabar pada masa Dinasti Song. Ia ingin segera melihat tanaman padinya bertumbuh dengan cepat. Maka terpikir olehnya sebuah solusi. Ia akan menarik tiap batang tanamannya beberapa centimeter saja. Setelah bersusah payah seharian penuh, ia pun memandangi sawahnya. Ia merasa senang karena tanaman padinya kelihatannya telah “tumbuh” lebih tinggi. Namun sukacitanya tak berlangsung lama. Keesokan harinya, tanaman padi di sawahnya tersebut telah menjadi layu karena tidak lagi berakar dengan dalam.

Dalam 2 Timotius 2:6, Rasul Paulus menyamakan pelayanan seorang pemberita Injil dengan pekerjaan seorang petani. Dalam suratnya untuk menguatkan Timotius itu, ia menulis, bahwa seperti proses bertani, pemuridan merupakan tugas yang membutuhkan kerja keras dan ketekunan. Kita membajak, kita menabur, kita menunggu, kita berdoa. Kita memang ingin melihat buah pelayanan kita sesegera mungkin, tetapi pertumbuhan butuh waktu. Seperti peribahasa tadi, setiap upaya yang dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan itu tidak akan bermanfaat. Penafsir Alkitab William Hendriksen mengatakan: “Bila Timotius . . . mengerahkan seluruh usahanya untuk melakukan pelayanan yang Allah tugaskan, ia . . . akan melihat dalam hidup orang lain . . . benih-benih dari buah roh yang indah, yang disebutkan dalam Galatia 5:22-23.”

Sembari melayani dengan setia, marilah kita sabar menantikan Tuhan yang memberi pertumbuhan (1Kor. 3:7). —PFC

Ya Tuhan sumber tuaian, tolonglah kami untuk melayani dengan setia
sembari dengan sabar kami menanti Engkau menumbuhkan buahnya.
Kobarkanlah semangat saat kami kecewa dan kuatkanlah saat kami
lemah. Tolong kami untuk bertahan, karena Engkau setia.

Kita menabur benih—Allah yang menghasilkan tuaian.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 31-33; Matius 22:1-22

Seorang Pencerita

Senin, 12 Januari 2015

Seorang Pencerita

Baca: Kolose 1:13-23

1:13 Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;

1:14 di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.

1:15 Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan,

1:16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.

1:17 Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.

1:18 Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.

1:19 Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia,

1:20 dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.

1:21 Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat,

1:22 sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.

1:23 Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.

Kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah . . . sekarang diperdamaikan-Nya. —Kolose 1:21-22

Seorang Pencerita

Pada masa pasca Perang Saudara Amerika Serikat (1861-1865), Mayor Jenderal Lew Wallace, seorang pemimpin dari pihak Perserikatan, menjabat sebagai gubernur dari wilayah New Mexico. Pada saat itu, New Mexico belum ditetapkan menjadi sebuah negara bagian. Tugas yang dilakukan Wallace di wilayah tersebut membuatnya sering bersentuhan dengan banyak tokoh berpengaruh dalam sejarah yang nyaris berbau mitos dari dunia Wild West (mengacu pada teritori di sepanjang Barat Amerika yang belum terjamah oleh hukum), termasuk di antaranya Billy the Kid dan Sheriff Pat Garrett. Di tempat itulah Wallace menulis sebuah buku, yang dianggap oleh sejumlah orang sebagai “buku Kristen paling berpengaruh” pada abad ke-19, berjudul Ben Hur: A Tale of the Christ (Ben Hur: Kisah tentang Kristus).

Wallace menjadi saksi atas dampak dosa yang teramat keji atas hidup umat manusia ketika ia melihat pelbagai kekerasan yang terjadi selama Perang Saudara dan di era Wild West. Baik dalam kehidupannya maupun dalam buku terlarisnya tersebut, Wallace mengerti betul bahwa hanya kisah tentang Yesus Kristus yang mempunyai kuasa untuk menebus dan mendamaikan manusia.

Bagi para pengikut Kristus seperti kita, kehidupan ini mencapai puncaknya ketika Allah “melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa” (Kol. 1:13-14). Sekarang kita mempunyai hak istimewa untuk menjadi pencerita yang membawa kabar tentang karya penebusan Allah yang luar biasa itu kepada sesama. —RKK

Tuhan, tolong kuasailah lidahku hari ini. Penuhi aku dengan
kata-kata kasih dan rahmat. Gunakan perkataanku untuk
membawa hati seseorang berbalik kepada-Mu.
Tanpa-Mu, aku tak dapat melakukan apa pun.

Perubahan yang Kristus berikan dalam hidupmu adalah kisah yang layak kamu ceritakan kepada sesama.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 29-30, Matius 9:1-17

Aku Sudah Ditebus!

Sabtu, 3 Januari 2015

Aku Sudah Ditebus!

Baca: Mazmur 40:9-11

40:9 aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku."

40:10 Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN.

40:11 Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan kepada jemaah yang besar.

Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. —Mazmur 96:2

Aku Sudah Ditebus!

Suatu hari, ketika mengunjungi suaminya di rumah sakit, Ann mengobrol dengan seorang perawat pria yang sedang melayani suaminya. Ann senang bercakap-cakap dengan siapa saja di mana pun ia berada, dan selalu berusaha mencari celah untuk berbicara tentang Yesus kepada mereka. Ann bertanya apakah perawat itu tahu apa yang ingin dilakukannya di masa depan. Ketika perawat itu menjawab bahwa ia masih ragu, Ann menyebut tentang pentingnya mengenal Allah terlebih dahulu, agar Allah bisa menolongnya mengambil keputusan tentang masa depannya. Perawat pria itu lalu menggulung lengan bajunya dan menunjukkan tato di sepanjang lengannya yang bertuliskan, “Aku sudah ditebus!”

Mereka menyadari bahwa mereka sama-sama mengasihi Tuhan Yesus Kristus! Dan keduanya punya cara masing-masing untuk menunjukkan keyakinan iman mereka di dalam satu Pribadi yang telah mati demi memberi hidup bagi kita.

Judul sebuah lagu lama karya Steve Green menyatakan dengan tepat, “People need the Lord” (Mereka Perlukan). Kita bebas memilih cara untuk memberitakan “kabar gembira” kepada mereka (Mzm. 40:10 BIS). Tidak setiap orang merasa nyaman bercakap-cakap dengan orang yang tidak mereka kenal, dan tidak semua metode yang cocok untuk segala keadaan. Namun Allah akan memakai kepribadian kita dan terang-Nya dalam diri kita untuk menyebarkan kasih-Nya.

“Aku sudah ditebus!” Kiranya Allah membimbing kita untuk menemukan cara yang terbaik dalam memberitakan tentang Yesus Kristus, Penebus kita, kepada sesama kita! —JDB

Kusuka mengundangkan s’lamat
Dari Anak Domba kudus.
Oleh Tuhan yang penuh rahmat—
Kami ‘ni telah tertebus. —Crosby
(Puji-Pujian Kristen Pemuda/Remaja, No. 29)

Kabar baik Injil terlalu indah untuk kita simpan sendiri.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 7-9, Matius 3

Allah Berbisik, “Ikan”

Rabu, 26 November 2014

Allah Berbisik, “Ikan”

Baca: Lukas 5:1-10

5:1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.

5:2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya.

5:3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.

5:4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."

5:5 Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."

5:6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.

5:7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.

5:8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."

5:9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap;

5:10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."

Mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia. —Lukas 5:10

Allah Berbisik, “Ikan”

Beberapa tahun yang lalu, saya dan anak-anak saya menikmati kebersamaan selama beberapa hari dengan menyusuri dan memancing di sungai Madison di Montana. Kami ditemani oleh dua pemandu memancing yang juga menjadi awak dari perahu kami.

Pemandu yang saya ajak adalah seorang pria yang sepanjang hidupnya memang tinggal di kawasan sungai. Ia tahu betul lokasi tempat ikan trout besar hidup. Ia seorang pendiam yang jarang berbicara dan rasanya hanya mengeluarkan dua lusin kata di sepanjang perjalanan. Namun kata-katanya yang sedikit itu telah mencerahkan hari-hari saya.

Kami memancing dengan umpan serangga kecil pada sungai yang berombak. Penglihatan saya tidak sebaik dahulu, dan pancingan saya sering gagal. Pemandu saya yang sangat sabar itu memberikan tanda kepada saya dengan menggumamkan kata “ikan” apabila ia melihat seekor ikan trout meloncat di bawah umpan. Mengikuti isyaratnya, saya pun mengangkat ujung pancing saya dan . . . benar saja, seekor ikan trout berhasil saya pancing!

Saya sering teringat akan pemandu itu dan panggilan Yesus pada murid-murid-Nya yang adalah nelayan, “Mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia” (Luk. 5:10). Ada banyak peluang emas yang hadir dalam hidup kita tiap hari—orang-orang di sekitar kita yang sedang mencari pemuas dahaga jiwa mereka—kesempatan untuk menunjukkan kasih Kristus dan membagikan pengharapan yang kita miliki. Kita mungkin meluputkan peluang itu bila kita tidak waspada.

Kiranya sang Penjala Agung, yang mengenal setiap hati manusia, membisikkan kata “ikan” di telinga kita, dan kiranya kita punya telinga yang peka untuk mendengar bisikan-Nya. —DHR

Sepanjang hari ini, ya Tuhan, kiranya aku dapat menjangkau
sebanyak mungkin jiwa bagi-Mu—melalui perkataan yang
kuucapkan, doa yang kupanjatkan, surat yang kutulis,
dan hidup yang kujalani.

Ketika Roh Kudus mendorongmu, bertindaklah.

Pujian Yang Tak Layak Diterima

Selasa, 21 Oktober 2014

Pujian Yang Tak Layak Diterima

Baca: Lukas 5:27-32

5:27 Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!"

5:28 Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

5:29 Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia.

5:30 Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: "Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"

5:31 Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;

5:32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat."

Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat. —Lukas 5:32

Pujian Yang Tak Layak Diterima

Bahkan sebelum saya mampu membeli oven dengan pembersih otomatis, saya berhasil menjaga oven saya tetap bersih. Tamu-tamu yang pernah makan di rumah kami pun memberikan komentar, “Wah, ovenmu bersih sekali. Masih terlihat seperti baru.” Saya menerima pujian tersebut meski saya tahu saya tidak layak menerimanya. Oven saya bersih bukan karena saya rajin menggosok dan membersihkannya; oven itu bersih justru karena saya jarang menggunakannya.

Saya lalu merenungkan, seberapa sering saya telah menerima pujian yang sebenarnya tidak layak saya terima ketika orang memuji kehidupan saya yang “bersih”? Alangkah mudahnya bagi saya untuk memberikan kesan bahwa hidup saya saleh; cukup dengan melakukan hal-hal yang enteng, yang tidak memicu kontroversi, atau yang tidak menyinggung orang lain. Namun Yesus mengatakan bahwa kita harus mengasihi orang-orang yang tidak sependapat dengan kita, yang menganut nilai hidup yang berbeda, dan yang bahkan tidak menyukai kita. Kasih menuntut kita untuk turun tangan dan memperhatikan hidup orang lain dengan segala kerumitannya. Yesus berulang kali menegur para pemuka agama yang lebih memilih untuk menjaga reputasi daripada membangun iman umat yang seharusnya mereka perhatikan. Mereka menganggap Yesus dan murid-murid- Nya najis karena bergaul dengan para pendosa, padahal Yesus sebenarnya sedang berupaya menyelamatkan orang-orang tersebut dari jalan hidup mereka yang bobrok (Luk. 5:30-31).

Murid-murid Yesus yang sejati bersedia mempertaruhkan reputasi mereka demi menolong sesamanya keluar dari jerat dosa. —JAL

Ya Tuhanku, berilah aku hati yang berbelas kasih kepada mereka
yang terhilang dalam dosa. Tolonglah aku untuk tidak terlalu
memperhatikan apa pandangan orang lain atas diriku,
tetapi hanya agar nama-Mu saja yang dimuliakan.

Kristus mengutus kita ke tengah dunia untuk membawa orang lain masuk dalam hubungan pribadi dengan Dia.